Sabar

Kesabaran Adalah Cahaya

Apabila krisis telah memuncak dan tali permasalahannya kian membelit, ketika kesempitan hidup datang bertubi-tubi dan malam kelam terasa begitu panjang, maka hanya kesabaranlah yang mampu memancarkan cahaya bagi seorang muslim—cahaya yang melindunginya dari kebingungan dan petunjuk yang menjaganya dari keputusasaan. Kesabaran merupakan sebuah keutamaan yang sangat dibutuhkan oleh seorang muslim, baik dalam urusan agama maupun dunianya. Setiap amal dan cita-citanya harus dibangun di atas kesabaran; jika tidak, ia hanya main-main belaka. Seorang muslim harus melatih dirinya untuk menanggung hal-hal yang tidak disukai tanpa keluh kesah, menantikan hasil meski terasa masih jauh, dan menghadapi berbagai beban betapa pun beratnya, dengan hati yang bersih dari keraguan dan akal yang tidak goyah oleh bencana. Ia wajib senantiasa memiliki kepercayaan yang penuh dan keteguhan yang nyata, tidak gentar oleh segumpal awan mendung yang muncul di ufuk meskipun disusul oleh awan-awan lainnya; sebaliknya, ia tetap meyakini bahwa tanda-tanda kecerahan pasti akan datang, dan merupakan bagian dari hikmah untuk menantikannya dalam ketenangan serta keyakinan.

Allah telah menegaskan bahwa cobaan bagi manusia adalah sesuatu yang tidak terelakkan, agar mereka mempersiapkan diri menghadapi musibah yang diperkirakan akan terjadi, sehingga kejutan-kejutan tersebut tidak membuat mereka terperanjat lalu tunduk menyerah kepadanya.

Allah Ta'ala berfirman:

"Sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sekalian agar Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu, serta agar Kami menguji perihal kamu." (QS. Muhammad: 31)

Hal itu sebagaimana diungkapkan oleh penyair:

Kami telah mengenali karakter malam-malam sebelum musibah itu menimpa kami,

Maka ketika musibah itu melanda, ia tidak menambah pengetahuan baru bagi kami!

Tidak diragukan lagi bahwa menghadapi berbagai peristiwa dengan mata hati yang terang dan persiapan yang sempurna jauh lebih bermanfaat bagi manusia serta lebih mendekatkan kepada keteraturan urusannya.

Allah Ta'ala berfirman:

"Jika kamu bersabar dan bertakwa, sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (QS. Ali 'Imran: 186)

Kesabaran bersandar pada dua hakikat yang sangat penting:

Adapun yang pertama: berkaitan dengan hakikat kehidupan dunia. Allah tidak menjadikan dunia ini sebagai negeri balasan dan kediaman yang abadi, melainkan menjadikannya sebagai negeri pembersihan dan ujian. Kurun waktu yang dihabiskan seseorang di dunia ini merupakan rangkaian ujian yang saling bersambung; ia keluar dari satu ujian hanya untuk masuk ke ujian lainnya, yang bisa jadi sangat berbeda dengan ujian pertama. Artinya, manusia dapat diuji dengan sesuatu sekaligus lawan darinya, sebagaimana besi dilebur dalam api lalu disiram dengan air, dan demikian seterusnya.

Nabi Sulaiman 'alaihissalam memahami betul hakikat dunia ini ketika beliau dianugerahi kekuasaan yang sangat agung, sehingga beliau berkata:

"Ini termasuk karunia Tuhanku untuk mengujiku apakah aku bersyukur atau mengingkari (nikmat-Nya). Siapa yang bersyukur, sesungguhnya dia bersyukur untuk (kebaikan) dirinya sendiri dan siapa yang kufur, sesungguhnya Tuhanku Mahakaya lagi Mahamulia." (QS. An-Naml: 40)

Ujian yang berupa kesedihan kerap kali samar sebab-sebabnya. Alangkah baiknya jika kita memahami bahwa kondisi manusia dalam kehidupan ini bagaikan pasukan perang yang telah disiapkan untuk bertempur, di mana sebagian pasukannya ditugaskan bertempur hingga mati demi menyelamatkan pasukan lainnya. Sementara penyelamatan pasukan yang tersisa itu bertujuan untuk diterjunkan ke dalam pertempuran-pertempuran baru yang dirancang oleh komando sesuai dengan maslahat yang lebih besar. Oleh karena itu, kedudukan seorang individu di tengah kecamuk gejolak ini tidaklah dipandang secara parsial, sebab perkaranya jauh lebih luas daripada sekadar terikat dengan keberadaan satu individu tertentu.

Demikian pula, takdir terkadang telah menetapkan bagi sebagian orang berbagai macam cobaan yang mungkin berakhir dengan kematian mereka. Tidak ada pilihan bagi seorang individu selain menyambut cobaan yang datang tersebut dengan kesabaran dan kepasrahan. Selama kehidupan ini adalah sebuah ujian, maka marilah kita curahkan segenap usaha untuk meraih keberhasilan di dalamnya.

Ujian kehidupan bukanlah sekadar kata-kata yang ditulis atau ucapan-ucapan yang disampaikan. Ujian itu adalah penderitaan yang menyeruak masuk ke dalam jiwa dan membuka jalan menuju rasa takut serta kesempitan. Ujian itu adalah ketimpangan-ketimpangan yang membuat dunia mengenyangkan perut anjing-anjing, sementara dua orang sahabat yang jujur tidur dalam keadaan lapar. Ujian itu adalah kezaliman-kezaliman yang membuat suatu kaum mengklaim ketuhanan, sedangkan kaum lainnya gugur sebagai syahid saat mempertahankan hak-hak mereka yang dirampas.

Sejarah kehidupan sejak awal penciptaan hingga hari ini sungguh memprihatinkan! Dan sudah sepatutnya seseorang meretas jalannya dalam kehidupan ini dengan keyakinan penuh bahwa jalan tersebut dipenuhi oleh duri dan kotoran.

Adapun hakikat yang kedua: berkaitan dengan hakikat iman.

Iman adalah ikatan antara manusia dengan Allah 'Azza wa Jalla. Apabila ikatan persahabatan di antara sesama manusia tidak diperhitungkan dan tidak dipandang bernilai melainkan setelah diuji oleh perjalanan hari, pergantian malam, dan perbedaan peristiwa, maka demikian pula halnya dengan iman. Ikatan iman harus tunduk pada ujian yang menyaringnya, sehingga terungkaplah apakah ia murni ataukah palsu.

Allah Ta'ala berfirman:

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami benar-benar telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka, Allah pasti mengetahui orang-orang yang jujur dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-'Ankabut: 2-3)

Tidak diragukan lagi bahwa ilmu Allah meliputi segala aspek yang lahir maupun yang batin, dan ujian ini tidaklah mendatangkan hal baru dalam hal pengetahuan Ilahi yang mencakup segala awal dan akhir. Akan tetapi, manusia tidak dihisab berdasarkan apa yang ada dalam ilmu Allah semata, melainkan dihisab berdasarkan amal perbuatannya sendiri. Jika sebagian pelaku kejahatan kelak akan mengingkari kejahatan yang telah mereka perbuat, lantas bagaimana hujjah [alasan/bukti hukum] dapat ditegakkan atas mereka tanpa adanya ujian yang disaksikan oleh anggota badan mereka dan disuarakan oleh segenap organ tubuh mereka?

Allah Ta'ala berfirman tentang mereka:

"(Ingatlah) hari (ketika) Kami mengumpulkan mereka semuanya, kemudian Kami berfirman kepada orang-orang yang mempersekutukan (Allah), 'Di manakah sembahan-sembahanmu yang dahulu kamu sangka (sebagai sekutu-sekutu Kami)?' Kemudian, tidaklah ada kesaksian palsu mereka, kecuali mengatakan, 'Demi Allah, Tuhan kami, kami bukanlah orang-orang yang mempersekutukan (Allah).' Lihatlah bagaimana mereka telah berbohong terhadap diri mereka sendiri dan hilanglah dari mereka apa yang dahulu mereka ada-adakan." (QS. Al-An'am: 22-24)

Lantas bagaimana mungkin hisab terhadap mereka cukup didasarkan pada pengetahuan Ilahi semata? Sesungguhnya balasan mereka yang adil tidaklah dijatuhkan kepada mereka melainkan berdasarkan amal perbuatan mereka yang membuktikan kepada diri mereka sendiri dan kepada orang lain atas kerusakan dan keburukan tindakan mereka.

Di atas dua hakikat inilah kesabaran itu berdiri, dan karena kedua hakikat itulah agama menuntut kehadiran kesabaran.

Namun, manusia—yang sudah menjadi kebiasaannya mengabaikan hakikat—merasa heran terhadap kesulitan-kesulitan apabila menimpanya, dan merasa jengkel terhadap penderitaan apabila menyentuhnya. Karakter dirinya yang keluh kesah membangkitkan keengganan terhadap kesabaran dan menjadikannya terasa pahit di kerongkongannya. Apabila suatu urusan menyudutkannya, atau kegagalan menghantamnya, atau musibah menimpanya, bumi terasa sempit baginya meskipun terbentang luas, dan hari-hari terasa menyiksanya betapa pun panjangnya!! Ia pun berusaha keluar dari kondisinya tersebut lebih cepat dari sekejap mata. Suatu upaya yang jarang sekali berhasil, karena hal itu bertentangan dengan tabiat agama dan dunia. Maka, sudah sepatutnya bagi seorang muslim untuk melatih dirinya agar bersabar dalam penantian yang panjang.

Allah Ta'ala berfirman:

"Manusia diciptakan (bersifat) terburu-buru. Kelak akan Aku perlihatkan kepadamu tanda-tanda (kekuasaan)-Ku. Maka, janganlah kamu meminta Aku menyegerakannya." (QS. Al-Anbiya': 37)

Dalam hadis disebutkan:

وَمَنْ يَتَصَبَّرْ يُصَبِّرْهُ اللَّهُ، وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ

"...Dan barangsiapa yang berusaha bersabar, maka Allah akan menjadikannya sabar. Serta tidak ada satu pun pemberian yang diberikan kepada seseorang yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (HR. Bukhari)

Kesabaran merupakan salah satu keagungan dan tanda kesempurnaan, serta termasuk bukti atas dominasi jiwa terhadap lingkungan sekitarnya. Oleh karena itu, Ash-Shabur (Maha Penyabar) merupakan salah satu dari Asmaul Husna Allah. Dia berpenangguhan dan tidak tergesa-gesa, menangguhkan hukuman meskipun manusia bergegas melakukan kejahatan, serta mengirimkan takdir-takdir-Nya untuk bekerja sepanjang lintasan abad, bukan dalam cakupan usia yang sempit, dan dalam rentang waktu yang luas, bukan dalam batas keinginan yang membual dan perasaan yang bergejolak:

"Minta disegerakan azab itu kepadamu (Nabi Muhammad). Padahal, Allah tidak akan pernah menyalahi janji-Nya. Sesungguhnya sehari di sisi Tuhanmu adalah seperti seribu tahun menurut perhitunganmu." (QS. Al-Hajj: 47)

Kesabaran juga merupakan bagian dari unsur kematangan jiwa laki-laki sejati dan kepahlawanan yang tinggi, sebab beban-beban kehidupan tidak akan sanggup dipikul oleh orang-orang yang lemah. Seseorang yang memiliki barang muatan berat yang ingin dipindahkan tidak akan menyewa anak-anak, orang sakit, atau orang-orang lemas untuk mengangkutnya; melainkan ia akan memilih orang-orang yang memiliki pundak yang kokoh dan bahu yang kuat! Demikian pula kehidupan, tidak ada yang sanggup mengemban risalah besarnya dan memindahkannya dari satu fase ke fase lainnya melainkan para lelaki raksasa dan pahlawan-pahlawan yang penyabar.

Oleh sebab itu, bagian penderitaan dan ujian yang dialami para pemimpin sebanding dengan bakat/potensi yang dikaruniakan kepada mereka dan amal perbuatan yang mereka lakukan.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pernah ditanya: "Siapakah manusia yang paling berat ujiannya?" Beliau menjawab:

الأَنْبِيَاءُ، ثُمَّ الأَمْثَلُ فَالأَمْثَلُ، يُبْتَلَى النَّاسُ عَلَى قَدْرِ دِينِهِمْ، فَمَنْ ثَخُنَ دِينُهُ اشْتَدَّ بَلاَؤُهُ، وَمَنْ ضَعُفَ دِينُهُ ضَعُفَ بَلاَؤُهُ، وَإِنَّ الرَّجُلَ لَيُصِيبُهُ البَلاَءُ حَتَّى يَمْشِيَ عَلَى الأَرْضِ مَا عَلَيْهِ خَطِيئَةٌ

"Para nabi, kemudian yang paling utama lalu yang paling utama berikutnya. Manusia diuji sesuai dengan kadar agamanya. Barangsiapa yang kokoh agamanya, maka kian berat ujiannya; dan barangsiapa yang lemah agamanya, maka lemah pula ujiannya. Dan sungguh, musibah akan terus menimpa seorang hamba hingga ia berjalan di muka bumi tanpa membawa satu dosa pun." (HR. Ibn Hibban)

Maka, perbedaan porsi yang diterima manusia dalam hal jerih payah, tanggung jawab, dan beban-beban besar kembali kepada tingkat kemampuan mereka dalam menanggung dan bertahan.

Sunnatullah tentang keagungan dan keteguhan inilah yang mengilhami seorang panglima besar Amerika untuk mengatakan: "Janganlah memohon kepada Allah untuk meringankan bebanmu, tetapi mohonlah kepada Allah untuk menguatkan punggungmu." Sesungguhnya beban yang ringan, tangan yang kosong, dan sedikitnya kepedulian adalah sifat-sifat yang mungkin dimiliki secara besar oleh anak-anak. Namun, kesibukan hidup, beban kewajiban, kepahitan perjuangan, dan kesungguhan yang berkesinambungan adalah akhlak para pejuang dan pembangun dalam kehidupan. Seseorang yang duduk di rumahnya tidak akan terkena debu jalanan, dan prajurit yang melarikan diri tidak akan tertusuk senjata serta tidak akan terkejut oleh serbuan musuh. Adapun mereka yang turut serta dalam kancah kehidupan dan mengarungi gejolaknya, maka debu kelelahannya akan mengotori mereka, luka-lukanya akan mengenai mereka, serta rasa letih dan payah akan menimpa mereka sebagaimana mestinya.

Dari situlah Islam memuliakan orang-orang yang siap menghadapi cobaan dunia, serta memberikan penghiburan kepada orang-orang yang lelah dengan penghiburan yang menenangkan hati mereka dan meringankan penderitaan mereka:

مَثَلُ الْمُؤْمِنِ كَمَثَلِ الْخَامَةِ مِنَ الزَّرْعِ تُفِيئُهَا الرِّيحُ، تَصْرُمُهَا مَرَّةً وَتَعْدِلُهَا أُخْرَى حَتَّى يَأْتِيَهُ أَجَلُهُ، وَمَثَلُ الْكَافِرِ كَمَثَلِ الأَرْزَةِ الْمُجْذِبَةِ عَلَى أَصْلِهَا لاَ يُصِيبُهَا شَيْءٌ حَتَّى يَكُونَ انْجِعَافُهَا مَرَّةً وَاحِدَةً

"Perumpamaan seorang mukmin adalah seperti tanaman muda yang lembut yang diombang-ambingkan oleh angin; terkadang angin merebahkannya dan di kali lain menegakkannya hingga datang ajalnya. Sedangkan perumpamaan orang kafir adalah seperti pohon cemara yang kaku berdiri tegak di atas akarnya, tidak digoyahkan oleh apa pun hingga tumbangnya terjadi sekaligus." (HR. Muslim)

Maka seorang mukmin yang mengarungi kehidupan menjadi sasaran bagi berbagai permasalahannya yang kompleks. Adapun orang yang lemah dan lari dari medan laga, apa yang akan menimpanya?

Dan itulah rahasia dari sabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُصِبْ مِنْهُ

"Barangsiapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan menimpakan musibah kepadanya." (HR. Bukhari)

Serta sabda beliau shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِذَا أَحَبَّ اللَّهُ قَوْمًا ابْتَلاَهُمْ، فَمَنْ رَضِيَ فَلَهُ الرِّضَا، وَمَنْ سَخِطَ فَلَهُ السَّخَطُ

"Apabila Allah mencintai suatu kaum, maka Dia akan menguji mereka. Barangsiapa yang ridha maka baginya keridhaan (Allah), dan barangsiapa yang murka maka baginya kemurkaan (Allah)." (HR. Tirmidzi)

Maka orang yang menghadapkan dirinya pada penderitaan hidup, menyergapnya dan disergap olehnya, memiliki derajat yang lebih tinggi di sisi Allah daripada orang yang kalah dan bersembunyi di kejauhan, tidak takut pada apa pun dan tidak ditakuti oleh apa pun.

Pahala besar yang disediakan Allah bagi orang-orang yang menderita dan bersabar tersebut melebihi pahala melimpah yang disediakan-Nya untuk berbagai jenis ibadah lainnya:

يَوَدُّ أَهْلُ الْعَافِيَةِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ حِينَيُعْطَى أَهْلُ الْبَلاَءِ الثَّوَابَ لَوْ أَنَّ جُلُودَهُمْ كَانَتْ قُرِضَتْ بِالْمَقَارِيضِ

"Pada hari kiamat, ketika orang-orang yang tertimpa musibah diberikan pahala, orang-orang yang hidup sehat walafiat (di dunia) berangan-angan seandainya kulit-kulit mereka di dunia dahulu dipotong-potong dengan gunting." (HR. Tirmidzi)

Termasuk hal yang aneh adalah sebagian orang memahami bahwa Islam mengagungkan penderitaan demi penderitaan itu sendiri, serta memuliakan rasa sakit dan kesakitan karena keduanya dianggap layak dimuliakan dan dicintai.

Ini adalah kekeliruan yang sangat jauh. Diriwayatkan dari Anas bin Malik radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam melihat seorang laki-laki tua yang berjalan dipapah di antara kedua anaknya. Beliau bertanya: "Ada apa dengan orang ini?" Mereka menjawab: "Ia bernazar untuk berjalan kaki (ke Ka'bah)!" Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ عَنْ تَعْذِيبِ هَذَا نَفْسَهُ لَغَنِيٌّ

"Sesungguhnya Allah Maha Kaya (tidak membutuhkan) penyiksaan orang ini terhadap dirinya sendiri." Dan beliau memerintahkannya untuk naik kendaraan. (HR. Tirmidzi)

Dan dari Ibn 'Abbas radhiyallahu 'anhuma, bahwa saudara perempuan 'Uqbah bernazar untuk menunaikan ibadah haji dengan berjalan kaki. 'Uqbah pun menceritakan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bahwa saudarinya tidak sanggup melakukan hal itu. Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ اللَّهَ لَغَنِيٌّ عَنْ مَشْيِ أُخْتِكَ، فَلْتَرْكَبْ وَلْتَهْدِ بَدَنَةً

"Sesungguhnya Allah tidak membutuhkan berjalan kakinya saudarimu. Hendaklah ia naik kendaraan dan menyembelih seekor unta (sebagai dam [denda/hewan kurban])." (HR. Bukhari dan Abu Dawud)

Allah Azza wa Jalla berfirman:

"Mengapa Allah akan menyiksamu jika kamu bersyukur dan beriman?" (QS. An-Nisa': 147)

Sesungguhnya Islam hanyalah memuji sikap keteguhan hati dan kebaikan keyakinan yang dimiliki oleh para penerima cobaan dan penderitaan. Ketika Islam menyebutkan penyakit-penyakit yang mereka derita atau kesempitan-kesempitan yang mereka hadapi, Islam tidak bermaksud mengagungkan rasa sakit itu sendiri, melainkan hanya memandang ujian yang terkandung di dalamnya—ujian yang harus dilalui dengan kekuatan dan kepasrahan, bukan dengan kelesuan dan kemurkaan terhadap takdir.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjenguk seorang wanita yang sedang sakit, lalu beliau mendapatinya sedang mengutuk penyakit dan memaki demam [yang dideritanya]. Beliau membenci tindakan wanita tersebut, seraya bersabda kepadanya untuk menghibur hatinya:

إِنَّهَا - أَيِ الْحُمَّى - تُذْهِبُ خَطَايَا بَنِي آدَمَ كَمَا يُذْهِبُ الْكِيرُ خَبَثَ الْحَدِيدِ

"Sesungguhnya demam itu menghilangkan dosa-dosa anak Adam sebagaimana al-kir [alat peniup api/pembakar besi] menghilangkan kotoran besi." (HR. Muslim)

Lantas, apakah hal itu berarti kita harus membudidayakan kuman penyakit lalu menyajikannya kepada orang-orang yang kita cintai?! Demikianlah sebagian orang hendak memahaminya... Sungguh, kegilaan itu bermacam-macam bentuknya!

Seseorang pada saat kecamuk pertempuran terkadang bergulingan di atas tanah, dan situasi yang sangat menyulitkan terkadang memaksanya untuk menempuh jalan-jalan yang penuh dengan kesukaran. Akan tetapi, dalam perbolak-balikan kondisinya di atas keadaan hidup yang keras tersebut, ia tidak bertambah melainkan semakin dekat kepada Allah, selama imannya tetap kokoh dan kepalanya tetap tegak mendongak.

Merupakan suatu kekeliruan jika seorang muslim menganggap bahwa bahaya yang datang bertubi-tubi kepadanya adalah tanda bahwa Allah telah melupakannya dan menjajauhkannya dari rahmat-Nya. Akan tetapi, pemahaman semacam ini sayangnya sempat mendominasi di antara kaum muslimin pada masa-masa kemunduran dan kejatuhan. Padahal telah kami sampaikan sebelumnya bahwa kesulitan-kesulitan hidup berjalan seiring dengan tingginya dan rendahnya cita-cita para lelaki.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

إِنَّ الْكَرِيمَ ابْنَ الْكَرِيمِ ابْنِ الْكَرِيمِ ابْنِ الْكَرِيمِ يُوسُفُ بْنُ يَعْقُوبَ بْنِ إِسْحَاقَ بْنِ إِبْرَاهِيمَ

"Sesungguhnya orang yang mulia, putra dari orang yang mulia, putra dari orang yang mulia, dan putra dari orang yang mulia adalah Yusuf bin Ya'qub bin Ishaq bin Ibrahim." (HR. Bukhari)

Beliau adalah seorang nabi yang dibesarkan di pangkuan para nabi, serta bertaut dari silsilah keturunan yang sangat terhormat. Beliau adalah sosok yang mulia di sisi Allah dengan adanya pemilihan (al-ijtiba') dan risalah. Maka perhatikanlah sosok yang mulia ini, bagaimana beliau menghabiskan fase-fase awal kehidupannya dengan keluar dari satu kesempitan hanya untuk masuk ke dalam kesempitan lainnya! Beliau kehilangan ibunya saat masih kanak-kanak, kemudian saudara-saudaranya bersekongkol melawannya, menculiknya dari dekapan ayahnya, dan melemparkannya ke dalam sumur hingga ia menghadapi takdirnya yang tidak menentu di kedalaman sumur yang gelap. Lalu para musafir menyelamatkannya untuk dimanfaatkan sebagai budak, kemudian menjualnya di pasar budak dengan harga yang sangat murah, yaitu beberapa dirham yang terhitung jumlahnya.

Kemudian penguasa Mesir membelinya. Namun belum lama ia memberinya tempat tinggal di istana, beliau sudah dihadapkan pada tipu daya yang licik. Beliau dituduh—padahal beliau adalah sosok yang suci lagi menjaga kehormatan—bahwa beliau hendak berbuat jahat. Meskipun kebebasannya dari tuduhan telah tampak nyata, beliau tetap dilemparkan ke dalam penjara bersama orang-orang jahat, bukan untuk beberapa hari atau beberapa bulan, melainkan selama beberapa tahun (bid'a sinin)!!

Seandainya orang lain melihat masa lalunya lalu mendapatinya sarat dengan penderitaan semacam ini, niscaya ia akan merasa sempit tinggal di bumi dan membelakangi langit [berputus asa dari rahmat Allah]. Namun Yusuf ash-Shiddiq tetap memancarkan cahaya keyakinan di balik dinding-dinding penjara, mengingatkan orang-orang yang jahil tentang Allah, serta membukakan mata orang-orang yang mengingkari-Nya akan karunia-Nya:

"Wahai kedua penghuni penjara, manakah yang lebih baik, tuhan-tuhan yang bermacam-macam itu atau Allah Yang Maha Esa lagi Mahaperkasa? Apa yang kamu sembah selain Dia, tidak lain hanyalah nama-nama yang kamu dan nenek moyangmu buat-buat. Allah tidak menurunkan suatu bukti pun tentangnya. Keputusan itu hanyalah milik Allah. Dia telah memerintahkan agar kamu tidak menyembah selain Dia. Itulah agama yang lurus, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui." (QS. Yusuf: 39-40)

Demikianlah keadaan orang-orang yang memiliki keutamaan; mereka tidak kehilangan kesucian agama mereka meskipun kehilangan kesucian dunia mereka, dan mereka tidak menjadi hina di hadapan diri mereka sendiri karena bencana yang menimpa mereka. Sungguh engkau dapat melihat seorang penyair dari kalangan orang-orang yang berambisi meraih keagungan dunia menolak kekurangan dengan cara berlebih-lebihan dalam mengagungkan dirinya, lalu ia berkata dengan bangga atas kedukaannya:

Orang-orang yang paling utama adalah sasaran bagi zaman ini,

Dan yang paling sepi dari duka adalah orang yang paling sepi dari kecerdasan.

Apa yang telah kita lihat dalam perjalanan hidup (siroh) para nabi, orang-orang yang jujur imannya (shiddiqin), para syahid, dan orang-orang saleh menegaskan bahwa keagungan kedudukan itu berbanding lurus dengan beratnya beban dan besarnya penderitaan yang dialami.

Diriwayatkan dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam:

إِنَّ الْعَبْدَ إِذَا سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ مَنْزِلَةٌ فَلَمْ يَبْلُغْهَا بِعَمَلٍ ، ابْتَلاَهُ اللَّهُ فِي جَسَدِهِ أَوْ مَالِهِ ، أَوْ فِي وَلَدِهِ ، ثُمَّ صَبَرَ عَلَى ذَلِكَ حَتَّى يُبَلِّغَهُ الْمَنْزِلَةَ الَّتِي سَبَقَتْ لَهُ مِنَ اللَّهِ عز وجل

"Sesungguhnya seorang hamba apabila telah ditetapkan baginya suatu kedudukan di sisi Allah yang tidak dapat dicapainya dengan amalnya, maka Allah akan mengujinya pada jasadnya, atau hartanya, atau anaknya, kemudian ia bersabar atas hal itu hingga Allah menyampaikannya pada kedudukan yang telah ditetapkan baginya dari Allah 'Azza wa Jalla." (HR. Ahmad)

Maka seolah-olah bertambah banyaknya musibah merupakan isyarat bagi hal kebaikan yang disiapkan untuk seseorang dan kemuliaan yang dikehendaki baginya. Betapa sering penderitaan menjadi sarana pembersih yang digiring oleh takdir kepada orang-orang beriman untuk menyita kelezatan-kelezatan dunia yang memikat hati mereka, sehingga mereka tidak terbuai terlalu lama oleh tipu dayanya atau tidak bergantung kepadanya. Boleh jadi sesuatu yang membahayakan itu justru membawa manfaat, dan betapa banyak cobaan yang di dalamnya terkandung pemberian (minah) serta rahmat!!

Sikap tenang/perlahan (at-tarayyuts), saling bersabar (al-mushobarah), dan menanti kesenangan (al-intizhar) merupakan sifat-sifat yang selaras dengan sunnatullah yang berlaku di alam semesta dan sistem-Nya yang bersifat abadi. Tanaman tidak tumbuh pada saat benih ditanam, dan tidak pula langsung matang saat tumbuh; melainkan harus mendekam selama berbulan-bulan hingga panen yang diharapkan dapat dipetik. Janin tetap berada di dalam perut ibu yang mengandungnya selama berbulan-bulan hingga bentuk ciptaannya menjadi sempurna. Allah 'Azza wa Jalla telah memberitahukan kepada kita bahwa Dia menciptakan alam semesta dalam enam masa, padahal Dia tidak akan lemah untuk menegakkan pilar-pilarnya dalam sekejap mata atau bahkan lebih cepat dari itu. Perlahan berlalunya hari dan malam bagi manusia merupakan rentang waktu yang darinya usia mereka dikikis, keadaan mereka diperjelas, dan tabiat mereka dimatangkan di atas apinya yang tenang. Kemudian setelah itu mereka kembali kepada Pencipta mereka:

"Sebagaimana Dia telah menciptakan kamu pada permulaan, kamu akan kembali (kepada-Nya). Sebagian diberi-Nya petunjuk dan sebagian lagi telah pasti kesesatan bagi mereka." (QS. Al-A'raf: 29-30)

Maka waktu melekat pada setiap gerakan dan diam di alam semesta ini. Jika kita tidak menghadapinya dengan kesabaran, niscaya kita akan terbakar oleh api keluh kesah, namun kita tidak akan dapat mengubah sedikit pun dari tabiat segala sesuatu yang pasti berjalan sesuai dengan kadar yang telah ditetapkan.

Kesabaran terdiri dari beberapa jenis: sabar dalam menjalankan ketaatan, sabar dalam menjauhi kemaksiatan, dan sabar dalam menghadapi musibah (an-nawazil).

Adapun sabar dalam menjalankan ketaatan, dasarnya adalah bahwa rukun-rukun Islam yang wajib membutuhkan daya tahan dan perjuangan dalam penegakan serta kelestariannya.

Shalat misalnya, adalah kewajiban yang berulang-ulang, yang tentangnya Allah berfirman:

"Perintahkanlah keluargamu melaksanakan shalat dan bersabarlah dalam mengerjakannya." (QS. Thaha: 132)

Dan Allah Ta'ala berfirman:

"Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'." (QS. Al-Baqarah: 45)

Pergaulan sesama mukmin, menjaga kasih sayang dengan mereka, serta memejamkan mata dari kesalahan-kesalahan mereka merupakan sifat-sifat yang bersandar pada kesabaran yang baik (ash-shabr al-jamil):

"Bersabarlah engkau (Nabi Muhammad) bersama orang-orang yang menyeru Tuhannya pada pagi dan petang hari dengan mengharap keridhaan-Nya." (QS. Al-Kahf: 28)

Saling menasihati dalam kesabaran berteman erat dengan saling menasihati dalam kebenaran, dan Allah 'Azza wa Jalla telah bersumpah bahwa keberuntungan manusia bergantung pada keduanya:

"Demi masa, sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati dalam kebenaran dan saling menasihati dalam kesabaran." (QS. Al-'Ashr: 1-3)

Adapun sabar dalam menjauhi kemaksiatan, ia merupakan unsur perlawanan terhadap penyesat-penyesat yang ditebarkan di jalan manusia dan dihias-hiasi agar mereka melakukan dosa-dosa yang dilarang.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

حُفَّتِ الْجَنَّةُ بِالْمَكَارِهِ، وَحُفَّتِ النَّارُ بِالشَّهَوَاتِ

"Surga itu diliputi oleh hal-hal yang tidak disukai, sedangkan neraka diliputi oleh syahwat (keinginan nafsu)." (HR. Muslim)

Menyongsong hal-hal yang tidak disukai dan berpaling dari syahwat tidak akan terlaksana kecuali bagi orang yang sangat penyabar. Kesabaran di sini merupakan buah dari keyakinan yang mantap dan sikap yang tegas menuju apa yang diridhai Allah... Ia adalah ruh kesucian diri (al-'affah) yang melindungi seorang mukmin dari noda-noda kehinaan dan tipu daya keburukan.

"Ya Tuhan kami, limpahkanlah kesabaran kepada kami dan matikanlah kami dalam keadaan berserah diri (muslim)." (QS. Al-A'raf: 126)

Dan di sana ada sabar atas apa yang menimpa seorang mukmin pada dirinya, hartanya, kedudukannya, atau keluarganya. Semua itu merupakan hal-hal yang diperkirakan terjadi, dan mustahil kehidupan sepi darinya. Jika seseorang tidak diterjang oleh jalurnya yang meluap, ia tetap akan terkena oleh percikan airnya yang tersebar.

Hanya saja, apabila seorang muslim berlindung kepada Allah dan kembali kepada-Nya, niscaya tumpul ketajaman musibah-musibah tersebut, sehingga berkuranglah goresan sakitnya pada jasadnya. Betapa sering keyakinan yang mendalam mampu mengalahkan rasa sakit yang menusuk layaknya efek obat bius (al-mughayyib) dalam operasi pembedahan yang berbahaya. Rahmat Allah tidak akan pernah berpisah dari seorang mukmin selama agamanya tidak rapuh dalam krisis dan keyakinannya tidak menyimpang saat menghadapi kesulitan.

"Kami pasti akan mengujimu dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, dan buah-buahan. Sampaikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar, (yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah, mereka mengucapkan 'Inna lillahi wa inna ilaihi raji'un' (sesungguhnya kami adalah milik Allah dan kepada-Nya kami kembali). Mereka itulah yang memperoleh ampunan dan rahmat dari Tuhannya dan mereka itulah orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. Al-Baqarah: 155-157)

Diriwayatkan dari Ummu al-'Ala'—beliau termasuk wanita yang ikut berbaiat—ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menjengukku ketika aku sedang sakit, lalu beliau bersabda:

يَا أُمَّ الْعَلاَءِ ، أَبْشِرِي فَإِنَّ مَرَضَ الْمُسْلِمِ يُذْهِبُ اللَّهُ بِهِ خَطَايَاهُ كَمَا تُذْهِبُ النَّارُ خَبَثَ الْحَدِيدِ وَالْفِضَّهِ

"Wahai Ummu al-'Ala', bergembiralah! Sebab sesungguhnya penyakit seorang muslim itu membuat Allah menghapuskan dosa-dosanya sebagaimana api menghilangkan kotoran besi dan perak." (HR. Abu Dawud)

Dalam hadis disebutkan:

إِنَّ اللَّهَ لاَ يَرْضَى لِعَبْدِهِ الْمُؤْمِنِ ، إِذَا ذَهَبَ بِصَفِيِّهِ مِنْ أَهْلِ الأَرْضِ فَصَبَرَ وَاحْتَسَبَ بِثَوَابٍ دُونَ الْجَنَّةِ

"Sesungguhnya Allah tidak ridha bagi hamba-Nya yang beriman—apabila Dia mengambil kekasihnya dari penduduk bumi lalu ia bersabar dan mengharapkan pahala—dengan pahala di bawah surga." (HR. An-Nasa'i)

Hendaklah tidak luput (ya'zub) dari ingatan bahwa segala sesuatu yang kita terikat padanya dan kita klaim memiliki hak di dalamnya, sesungguhnya ikatan Allah kepadanya jauh lebih kuat dan hak Allah di dalamnya jauh lebih terdahulu. Siapakah yang lebih dekat bagi seseorang daripada anaknya? Anak seseorang adalah sesuatu yang paling diutamakannya dan paling dicintainya; melalui perantara dirinya sang anak ada, dan di pangkuannyalah sang anak hidup. Sungguh ia melihat pada diri anaknya itu sebagai sambungan jiwanya dan bagian dari perasaannya. Maka apabila kematian menyergap sang anak, sang ayah yang berduka mendalam (atms-tsakil) berteriak: "Anakku!"

Akan tetapi, suara kebenaran sebelum teriak duka itu membuat kita berkata: Jika sang ayah kehilangan anaknya, maka Pemilik Kerajaan telah mengambil kembali hamba-Nya. Sesungguhnya Zat yang telah membukakan kedua mata ini menuju cahaya kehidupan dialah yang memejamkannya, dan Zat yang telah menumbuhkan jasad ini dengan berbagai bentuk kenikmatan dialah yang mengembalikannya ke unsur asalnya... yaitu tanah.

Apabila sang ayah berkata: "Anakku." Maka Sang Pencipta (Al-Muujid) berfirman: "Hamba-Ku, Aku—sebelum siapa pun—lebih berhak dan lebih memiliki hak atas dirinya."

Diriwayatkan dari Al-Qasim bin Muhammad, ia berkata: "Istriku meninggal dunia, lalu Muhammad bin Ka'ab al-Qurazhi datang kepadaku untuk mengucapkan belasungkawa atas wafatnya. Ia berkata: 'Sesungguhnya dahulu di kalangan Bani Israil ada seorang laki-laki yang faqih, alim, ahli ibadah, dan bersungguh-sungguh dalam beribadah. Ia memiliki seorang istri yang sangat dikaguminya, lalu istrinya itu meninggal dunia. Ia pun merasa sangat bersedih (wajad) atas kematitannya hingga ia masuk ke dalam rumah, mengunci pintu untuk dirinya sendiri, dan mengisolasi diri, sehingga tidak ada seorang pun yang boleh masuk menemui dirinya.

Hal itu didengar oleh seorang wanita dari Bani Israil, lalu wanita itu datang dan berkata: 'Sesungguhnya aku memiliki suatu keperluan kepadanya untuk meminta fatwa, tidak ada yang dapat mencukupiku selain mendengarnya langsung dari mulutnya!' Wanita itu pun terus bertahan di pintunya. Maka hal itu diberitahukan kepada laki-laki tersebut, lalu ia mengizinkannya masuk. Wanita itu berkata: 'Aku meminta fatwa kepadamu tentang suatu urusan.' Laki-laki itu bertanya: 'Apakah itu?' Wanita itu menjawab: 'Sesungguhnya aku meminjam perhiasan dari tetanggaku, lalu aku memakainya dalam jangka waktu yang lama. Kemudian ia mengutus utusan untuk memintanya kembali, apakah aku harus mengembalikannya kepadanya?' Laki-laki itu menjawab: 'Ya, demi Allah!!' Wanita itu berkata: 'Namun perhiasan itu telah tinggal padaku dalam waktu yang lama!!' Laki-laki itu berkata: 'Hal itu justru membuatmu lebih wajib untuk mengembalikannya!!'

Maka wanita itu berkata kepadanya: 'May Allah merahmatimu, apakah engkau merasa bersedih atas apa yang dipinjamkan Allah kepadamu kemudian Dia mengambilnya kembali darimu padahal Dia lebih berhak atasnya daripada engkau??' Maka laki-laki itu pun menyadari kekeliruan keadaannya, dan Allah memberinya manfaat dengan perkataan wanita tersebut." (HR. Malik)

Kesederhanaan (Al-Qashd) dan Menjaga Kehormatan Diri (Al-'Afaf)

Islam mencakup sekumpulan petunjuk yang berkaitan dengan kehidupan khusus kaum muslimin, yang dengannya bertujuan untuk mengatur urusan fisik dan jiwa mereka serta meletakkannya di atas landasan yang mulia.

Petunjuk-petunjuk tersebut merupakan adab-adab yang berkaitan dengan makanan, pakaian, tempat tinggal manusia, dan seluruh cita-cita yang diusahakannya dalam kehidupan ini, tanpa condong pada pola kerahibaan (arrohbaniyyah) yang berlebih-lebihan dan tidak pula pada materialisme (al-maddiyyah) yang rakus. Adab-adab tersebut berdiri di atas prinsip pertengahan dan moderasi (at-tawassuth wal-i'tidal), oleh karena itu, pelaksanaannya terasa mudah dan dekat.

Sesungguhnya Islam menyandingkan antara tuntutan jasad dan jiwa dalam ajaran-ajarannya, serta menahan kesewenang-wenangan salah satunya atas yang lain. Islam memandang bahwa penyelarasan kebutuhan keduanya merupakan penolong bagi seseorang dalam menunaikan risalahnya di kehidupan ini dan kehidupan setelahnya. Falsafah-falsafah yang tumbuh di bumi yang dibuat-buat oleh manusia untuk hidup dalam lingkupnya ketika petunjuk langit gaib dari mereka—falsafah-falsafah ini jarang sekali berhasil dalam mengompromikan antara dharurat jasad dan kerinduan ruh, serta antara jaminan akhirat yang akan kita tuju dan pemeliharaan dunia yang darinya kita memulai perjalanan!!

Sesungguhnya sebagian dari falsafah itu berdiri di atas penghancuran jasad dengan mengklaim bahwa ruh tidak akan terbang ke angkasa melainkan jika telah lepas dari belenggu-belenggunya. Sementara sebagian falsafah lainnya bertujuan pada kelezatan-kelezatan belaka dan berputar pada batasan-batasannya yang hina seraya mengejek apa yang ada di balik itu.

Adapun dalam Islam, engkau tidak akan mendapati pola kerahibaan yang membuat manusia merasa sempit dada karenanya dan merasa terbebani oleh kekakuannya. Sebagaimana engkau juga tidak akan mendapati di dalamnya kehewanan yang berdiri di atas kesia-siaan syahwat dan menuruti hawa nafsu.

Sumber:

Khuluq al-Muslim karya Syaikh Muhammad al-Ghazali

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat