Bijak dalam Memberi Nasehat dan Siap Menerima Kritik dan Koreksi
Bijak dalam Memberi Nasihat – Siap Menerima Kritik dan Saran
Oleh
: Wido Supraha, M.Si.
Memberi
nasihat merupakan salah satu bentuk metodologi ta’lim. Memberi nasihat dalam
rangka memperbaiki seseorang dari kesalahan (tashhih al-akhta’), adalah
kewajiban muslim dan bagian dari manhaj Qur’ani. Nasihat diberikan pada umumnya
bersifat pencegahan, teguran, ataupun pelurusan terhadap suatu kesalahan. Cara
Nabi Saw. dalam memberikan nasihat adalah cara terbijak. Memahaminya akan
memberikan kesadaran atas kelemahan aturan buatan manusia, sehingga mampu
menggunakan cara yang terbaik sesuai kondisi, peristiwa, dan output yang
diinginkan.
Memberikan
nasihat bukanlah pekerjaan sederhana, namun ia menjadi karakter dasar dalam
ber-Islam. Namun tentu dalam pelaksanaannya membutuhkan pemahaman akan
prinsip-prinsip dasar, terutama mengikhlaskan diri hanya karena Allah dan
memahami bahwa berbuat kesalahan adalah tabiat manusia. Nasihat yang kita
berikan hendaknya berdasarkan dalil syar’i dan bukti kesalahan yang dilakukan.
Semakin besar kesalahan saudara kita, tentunya semakin besar pula perhatian
kita kepadanya. Namun penting untuk membedakan antara pelaku kesalahan yang
tahu bahwa ia salah dan tidak mengetahui bahwa ia salah, dan baru kemudian
membedakan jenis kesalahannya, apakah menyangkut syari’at ataukah pribadi atau
apakah termasuk dosa besar ataukah dosa kecil. Mengetahui maksud baik dari kesalahan
yang dibuat seseorang jangan sampai menghalangi upaya kita untuk meluruskannya.
Di
dalam memberikan nasihat kita harus adil dan tidak memilih-milih dalam hal
menegur satu jenis kesalahan yang sama, namun begitu perlu diperhatikan cara
yang digunakan agar tidak menyebabkan kesalahan yang lebih besar. Dalam hal ini
kita pun perlu membedakan antara orang yang bersalah namun memiliki segudang
kebaikan sebelumnya, dengan orang yang memang ahli maksiat, dan membedakan
antara orang yang melakukan kesalahan berkali-kali dengan orang-orang yang baru
sekali melakukannya, atau orang yang melakukan kesalahan secara berturut-turut
dengan orang yang jarang melakukannya, atau bahkan membedakan antara orang yang
melakukan kesalahan secara terang-terangan dengan orang yang melakukannya
secara sembunyi-sembunyi. Tentunya kekuatan internalisasi agama seseorang
mempengaruhi seberapa besar upaya kita untuk meluluhkan hatinya.
Nasihat
yang baik adalah nasihat yang dilakukan tanpa membuka aibnya ke publik. Tatkala
memberi nasihat kita harus mempertimbangkan kedudukan dan posisi seseorang.
Menasihati orang yang lebih tua, tentu berbeda dengan menasihati anak kecil
yang juga memiliki perbedaan psikologis dalam setiap jenjang usianya.
Menasihati lawan jenis yang bukan mahram pun membutuhkan kehati-hatian.
Upaya
kita dalam meluruskan berbagai kesalahan dan memperbaiki dampaknya jangan
sampai melupakan kita untuk memberikan terapi atas pokok kesalahannya. Maka
diperlukan kiat-kiat dalam memperbaikinya, di antaranya tidak mengada-ada dalam
membuktikan suatu kesalahan, atau tidak perlu memaksa untuk mendapat pengakuan
dari pelaku kesalahan atas kesalahannya. Kita perlu memberi waktu yang cukup
baginya untuk memperbaiki diri, dan tidak mengesankan bahwa ia adalah ‘musuh’.
Nabi
kita yang mulia memberikan banyak teladan dalam hal memberikan nasihat ini,
seperti bersegera setelah melihat suatu kesalahan dan menjelaskan hukumnya
dengan jelas, dan berkonsentrasi pada prinsip dasar yang dilanggar, baru
kemudian pemahaman akan prinsip tersebut yang diluruskan, dan melanjutkan
terapinya dengan mengulang-ulang dalam beberapa kesempatan. Beliau pun
membimbing ke arah pencegahan terjadinya kesalahan.
Untuk
hal-hal yang terkait dengan hubungan sesama manusia, Nabi Saw mendesak pelaku
kesalahan untuk bersegera meminta maaf, dan mengingatkan keutamaan orang yang
diperlakukan salah.
Menasihati
yang paling utama adalah mendahului dengan menasihati diri sendiri. Kritik atas
datang kepada diri kita hendaknya dianggap sebagai bagian dari skenario Allah
untuk menasihati diri kita, sehingga posisinya menjadi sesuatu yang sangat
ditunggu-tunggu. Bahkan jika tidak pernah muncul, perlu kita cari dan upayakan
agar dapat hadir. Maka sangat baik bagi seorang muslim menjadi sosok yang rindu
kritik dan nasihat, dan aktif mencari dan bertanya kepada orang lain, menikmati
setiap kritikan yang kita dapatkan, mensyukurinya,
Kadangkala
kritikan dan nasihat yang datang tidak sesuai dengan keinginan kita. Ada
kalanya isinya benar namun dengan cara yang salah. Nikmatilah kritikan yang
datang dengan tidak memotong pembicaraan, tidak berkomentar, apalagi membantah.
Sementara menjadi pendengar yang baik. Jangan lupa untuk mengucapkan terima
kasih sesudahnya, dan perdalam prinsip dasarnya jika dibutuhkan sebagai bahan
untuk mengevaluasi diri lebih komprehensif, dan membuat program perbaikan yang
sesuai. Jangan lupa jika telah diperbaiki untuk memberikan update kepada
pemberi nasihat atau ucapan terima kasih dalam bentuk material. Doakan ia tanpa
ia ketahui untuk dapat terus menjaga kita dalam kebaikan.
Kritik
adalah kunci kemajuan kita menuju kesuksesan. Ia akan disenangi karena sentiasa
berbuat kebaikan yang membuat masyarakat di sekitarnya menjadi senang dan
sayang. Ia akan disukai dan didekati karena jauh dari hal-hal yang dibenci.
Yakinlah bahwa upaya kita untuk mensyukuri setiap kritikan dan nasihat akan
meningkatkan kemuliaan kita.
Mereka
yang sering menganggap kritikan sebagai suatu penghinaan, hal yang menyakitkan
dan merendahkan, dan menganggap pengkritik adalah musuh, adalah mereka yang
nyaman berada di area comfort zone. Jika perasaan aman dan nyaman terganggu
maka akan muncul semangat perlawanan. Tabiatnya, kritikan tidak pernah muncul
pada saat yang tepat, karena kita
biasanya lebih siap untuk dipuji dibandingkan dikritik. Kalaulah mereka menyampaikan kritikan tidak
dengan cara yang baik, maka fahamilah bahwa kita tidak berhak mengatur orang
lain bertindak sesuai yang kita inginkan. Ambillah hikmah dari setiap peristiwa.
Orang
yang tidak pernah dikritik boleh jadi adalah orang yang tidak melakukan
apa-apa, tidak mengatakan apa-apa, tidak akan menjadi apa-apa, dan tidak akan
sukses. Maka terimalah kritik dengan tidak membawa ke ranah pribadi,
berpikirlah positif, dan terimalah dengan hati terbuka, karena yang kita
tunggu-tunggu telah didatangkan Allah J. (supraha@gmail.com)
Sumber
https://widosupraha.com/2011/11/03/bijak-dalam-memberi-nasihat-siap-menerima-kritik-dan-saran/
Comments
Post a Comment