Musykilat Al-Usrah (Problematika Usrah)
Problematika
usroh dan kiat beriteraksi dengannya
Dengan
menyebut nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang.
Segala
puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Selawat serta salam semoga senantiasa
tercurahkan kepada penutup para nabi, juga kepada keluarga, para sahabatnya,
serta orang-orang yang mengikuti jalannya hingga hari kiamat. Adapun setelah
itu:
Mengingat
bahwa keluarga merupakan mata air yang jernih (sumber yang murni) bagi umat
Islam secara umum, dan bagi aktivitas dakwah secara khusus, maka menjadi sebuah
keharusan bagi Islam untuk memberikan perhatian yang sangat besar kepadanya,
serta membentenginya dengan segala hal yang dapat menghindarkannya dari bahaya
(gangguan) dan penyimpangan.
Begitu
pula bagi gerakan/aktivitas Islam, wajib kiranya untuk menyingkirkan berbagai
penyakit (masalah) dari keluarga dan membimbingnya ke jalan yang lurus. Dan
kami, di dalam daurah (pelatihan/kursus) ini, akan mendiagnosis
penyakit-penyakit yang melanda keluarga, meneliti faktor-faktor penyebabnya,
kemudian meresepkan solusi (pengobatan) yang diperlukan untuknya.
(Hal-hal
tersebut) bisa saja berkurang, bertambah, berubah, dan berganti seiring dengan
perubahan waktu, tempat, dan kondisi. Akan tetapi, cukuplah bagi kami bahwa
kami telah merumuskan kerangka-kerangka acuan yang dapat diikuti polanya dalam
mendiagnosis masalah, menangani faktor-faktor penyebabnya, kemudian memberikan
pengobatan/solusi. Dan kepada Allah-lah kami memohon agar memberikan taufik
kepada semuanya menuju kebaikan. Dan apa yang disajikan ini tidaklah dianggap
mencakup segala sesuatu dalam urusan ini, melainkan hanyalah contoh-contoh
semata untuk hal tersebut, serta faktor-faktor penyebab yang tampak bagi kami
dan jawaban-jawaban (solusi) yang kami pandang tepat.
Dan
semoga keselamatan, rahmat Allah, serta keberkahan-Nya senantiasa tercurah
kepada kalian.
Problema
pertama: Lemah komitmen terhadap
kehadiran
Fenomenanya
a.
Telat hadir
b.
Sesekali melanggar atau
sering
c.
Terputus komunikasi
d.
Sering izin sebelum
waktunya
e.
Selalu tergesa-gesa sebelum
waktunya
f.
Terlalu dini yang
berlebihan
g.
Tidak momitmen dengan waktu
hingga selesai
Sebab-sebabnya
1)
Tidak berkesusaian antara
waktu dengan kondisi kerja
2)
Terlalu mendahulukan
kewajiban individu atau keluarga daripada kewajiban
3)
Tidak memiliki kesemangatan
untuk hadir oleh sebab
a. lemah dalam natijah
b. tidak ada yang baru (tidak ada
inovasi)
c. susah berinteraksi
d. tidak memiliki kebersamaan
dengan yang lain
4)
Tidak mampu memanaj waktu
dengan baik
a.
Kendala pribadi
b.
Tidak memulai acara tepat
waktu
c.
Sering berubah tempat tanpa
pemberitahuan
d.
Tidak adanya muhasabah yang
kontinyu
e.
Tidak mampu melaksanakan
kewajiban-hafalan
f.
Lemah perasaan ikatan dan
kasih sayang
g.
Lemah perasaan
tanggungjawab kerja
h.
Tidak memiliki perasaan
manfaat dari liqo
i.
Secara psikologis-umur-
pebedaan umum secara fisik dan disiplin ilmu.
j.
Kurang pemantauan secara
langsung atau yang lebih tinggi
k.
Kurangnya ziarah
l.
Sedikitnya pengetahuan tentang contoh yangbaik alam bekerja
m.
Memperbanyak beban
sesuaidengan kemampun aktu dan kesungguhannya
n.
Lemah perasaanurgensi liqo
dalam secara tandzim
o.
Perasaan sulit mengambil
manfaat dari kemampuan
p.
Lupa dengan janji secara
terus menerus
q.
Tidak memiliki sarana
pemindahan
r.
Kurangnya penegenalan
terhadap kondisi yang ada-
Cara
penyelesaian
a.
Menghilangkan bentrokan
waktu
b.
Memahami prioritas
kewajiban
c.
Yakin akan urgensi komitmen
kehadiran
d.
Evaluasi kelompok,
menentukan negetaifnya dan cara penyelesaiannya
e.
Mempelajari kendala pribadi
dan keluarga dan cara penyelesaiannya
f.
Komitmen dengan permulaan
acara tepat waktu begitupan penutupannya
g.
Mengingatkan dengan tegas
terhadap anggota yang pelupa
h.
Mengingatkan sebelum
bubaran dengan waktu dan tempat
i.
Melakukan introspeksi
(tentang keukhuwahan dan etika-etikanya)
j.
Memberikan tugas sesuai
dengan kemampuan
k.
Membantunya jika
mendapatkan kesulitan dalam pemahaman -
presentasi dan penyampaian
l.
Memberikan wasiat dengan
saling tolong menolong dalam riset dan presentasi
m.
Sering mengadakan pertemuan
dan kunjungan yang melahirkan kasih sayang
n.
Perhatian dengan agenda
kerja dan ragamnya
o.
Bekerja dalam memfungsikan
potensi dan skill
p.
Bekerja dalam mewujudkan
persatuan
q.
Membuat alat pemantau
r.
Membuat program untuk
menerima para pengunjung dan kunjungan lain
s.
Meringankan beban dan
mendistribusikannya
t.
Menegaskan akan urgensi
komitmen dan pertemuan
u.
Membuat alat yang cepat
untuk pemberian dan penerimaan serta mutabaah
v.
Mengenalkan dengan jelas
dan bercampur dengan setiap utusan -pindahan
w.
Komitmen penanggungjawab
dan memberikan qudwah dari dirinya
x.
Membuat ringkasan hasil
liqo
y.
Memutabaah lapangan dari
para penanggungjawab
z.
Memberikan kesempatan
kepada naqib mendapatkan dan melihat sebagian permasalahan dan solusi
aa. Mereview titik kelemahan dan mengumpulkan para pemiliki
kebutuhan dan melakukan pelatihan sesuai dengan kebutuhan mereka
Permasalahan
kedua: Lemah dalam komitmen Secara finansial
Fenomenanya:
a.
Tidak memberikan kontribusi
secara penuh
b.
Acuh dengan sebagaina
cicilan
c.
Sedikit memberikan
kontribusi yang wajib tanpa alasan
d.
Terlambat dalam membayar
e.
Meminta pinjaman tanpa ada
keperluan
Penyebabnya:
a.
Cenderung pada tabdzir dan
tidak memahami bagaimana membuat planning keuangan
b.
Cinta harta tanpa memandang
tuntunan syar’i
c.
Lemahnya perasaan berkorban
dijalan Allah
d.
Tidak memahami dasar-dasar
kontribusi
e.
Tidak memahami hukum syar’I
kontribusi
f.
Lemahnya tsiqoh terhadap
kebaikan berinfaq
g.
Lemahnya pemantauan
langsung dari atas
h.
Tidak memiliki batasa waktu
yang tetap sehingga membuat lupa
i.
Banyaknya alasan dalam
memberi
j.
Kurangnya metode dalam
memberikan solusi permasalahan komitmen
Cara
Penyelesaiannya:
a.
Menegaskan akan bahaya
berlebih-lebihan tanpa aturan yang jelas
b.
Menguatkan perasaan jiwa
berkorban
c.
Mengiklankan hasil
pengeluaran
d.
Menjelaskan alasan syar’I
berkontribusi dan hukumnya
e.
Memperkokoh tisqoh
f.
Memberikan permahaman yang
jelas dan berulang tentang proyek
g.
Memberikan batasan waktu
yang tepat dan memutabaah komitmen dengannya
h.
Tidak punya halangan
meminta kontribusi
Permasalahan
ketiga: Lemah dalam komitmen terhadap manhaj
Fenomenanya:
a.
Tidak mau mengambil manhaj
b.
Lemah dalam mengambol
manhaj
c.
Lemah dalam
mempresentasikan
d.
Lemah dalam pemahaman
e.
Ada permasalahan internal
pribadi - materi
f.
Lupa dengan sebagian materi
g.
Tidak mau tahu dengan
sebagian materi
h.
Lemah dalam mengamalkan apa
yang dipelajari
i.
Lemah dalam menselaraskan
antara ilmu dengan kondisi kekinian
Sebab-sebabnya:
a.
Sulit mendapatkan materi
b.
Kurang pengalaman dengan
buku-buku – pengambilan - pengadaan
c.
Banyak beban –waktu kurang
d.
Membuang kesempatan
penyampaian pada orang yang datang
e.
Lalai dalam mendiskusikan
materi
f.
Tanggapan yang bertele-tele
dan tidak penting
g.
Dzalim terhadap meteri
terhadap waktu lain
h.
Mempermasalahkan problem
yang tidak senang dibicarakan
i.
Menafikan talaqqi yang baik
untuk dipresentasikan
j.
Kritik yang tajam dan
melukai
k.
Perasaan lemah saat
berhadapan dengan banyak orang
l.
Tanggungjawab sendirian
dalam pengadaan dan presentasi
m.
Banyak terputus saat
presentasi
n.
Perasaan tidak – lemah
memanfaatkan pengadaan
o.
Tidak memiliki cukup buku
yang ditetapkan
p.
Tidak memahami kaidah
pengadaan – presentasi yang diwajibkan
q.
Tidak pandai dalam membagi
waktu terhadap materi – tema-tema
r.
Membagi materi tanpa
memperhatikan kemampuan
Cara
Penyelesaiannya:
a.
Pelatihan bagaimana
mengadakan dan presentasi yang sesuai dengan yang diwajibkan
b.
Memperhatikan dalam
keringanan beban – penambahan waktu
c.
Komitmen dengan waktu yang
telah ditentukan setiap saat
d.
Pembatasan waktu dalam
diskusi dan tanggapan
e.
Pembatasan waktu
penyampaian permasalahan yang terjadi selama tidak penting
f.
Berusaha menyampaiakan
dengan baik dan memotivasi orang yang menyampaikan
g.
Menjauhi sikap keras dan
melukai dalam mengkritik
h.
Memberikan setiap individu
materi yang sesuai dengan tingkatannya
i.
Jangan memberikan pengaruh
kepada penanggungjawab dan terhadap yang lainnya dalam pengadaan materi
j.
Hindari terputus-putus
dalam penyampaian
k.
Urgensi melengkapi
buku-buku yang telah ditetapkan pada setiap individu
l.
Melakukan evaluasi dan
menganalisa yang positif dan negatif
m.
Menentukan konsep yang
dibutuhkan untuk disampaikan kepada peserta dengan bentuk yang memungkinkan
Permasalahan
keempat: Lemah dalam Melaksanakan tugas
Fenomenanya:
a.
Tidak komitmen dengan
seluruh atau sebagian agenda personal (wirid- berjamaah dimasjid)
b.
Tidak disiplin dengan
kehadiran pada agenda jamaah (lailatul katibah, muhadloroh, olah raga,
daurah-daurah, rihlah, refresing)
c.
Tidak memiliki agenda
jamaah
d.
Tidak memiliki nasihat
dengan kehadiran agenda
e.
Tidak memutabaah
pelaksanaan agenda
f.
Lemah kesadaran dengan
tanggungjawab dakwah
g.
Kurang pertemuan mingguan
terhadap pelajaran
h.
Tidak memiliki konsep
agenda aksi
i.
Tidak memilih agenda yang sesuai dengan
individu
j.
Tidak memiliki agenda
alternatif yang memungkinkan diikutkan
Penyebabnya:
a.
Tidak memiliki perhatian
terhadap usroh atau daerah kerja
b.
Tidak melakukan mutabaah
langsung atau yang lebih tinggi terhadap agendanya
c.
Lemah pengadaan agenda atau
tidak memiliki keselarasan
d.
Lemah dalam kontribusi hati
e.
Lemah dalam pemahaman
tabiat agenda dan peranannya
f.
Tidak memberikan kepuasan
dengan agenda yang dilaksanakan
g.
Salah memilih tempat dan
waktu
h.
Tidak mengkhususkan waktu
secara individu terhadap agenda
i.
Tidak membuat konsep
pelaksanaan bagi setiap agenda dan mendistribusikannya
j.
Tidak menentukan pelaksana
mutabaah untuk agenda
k.
Adanya benturan antar waktu
kegiatan
l.
Kurangnya tempat yang
sesuai untuk dilaksanakan
m.
Tidak adanya keselarasan
antara peserta karena penyebab pribadi atau keluarga
n.
Tidak adanya peran bagi
individu untuk berpartisipasi dalam kegiatan
o.
Banyaknya bebas pekerjaan
p.
Tidak menentukan prioritas
kerja
Cara
Penyelesaiannya:
a.
Membantu mentazkiyah iman
b.
Menegaskan secara
berkesinambungan akan urgensi agenda
aksi
c.
Mutabaah secara aktif untuk
agenda kerja planning dan ekskusi dan evaluasi
d.
Menegaskan kewajiban
partisipasi dan pengeruhnya
e.
Menentukan penanggungjawab
setiap kegiatan dan memutabaahnya secara kontinyu
f.
Melakukan pelatihan secara
profesional guna menjadikan agenda lebih menarik dan memberikan hasil
g.
Megnkalkulasi bentuk
kekurangan dan kelemahan terhadap agenda dan membuat planning yang cocok untuk
menutupi dan mencari solusinya
h.
Mengumumkan tujuan yang
jelas terhadap setiap agenda dan bekerja untuk merealisasikannya dan memutabaah
pengaruhnya dalam prilaku
i.
Menghilangkan bentrokan
antar kegiatan
j.
Melengkapi agenda
alternatif yang sesuai dengan umur dan kondisi: nasihat-nasihat, dialog-dialog
dan tekaman
k.
Menyelaraskan agenda aksi
dan teori dalam manhaj
l.
Menumbuhkan skill individu
dan mengekplorasinya
m.
Membuat titik permulaan
agenda, kebutuhan manusia pada sisi tsaqofah dan hubungan sosial
n.
Hadirnya para
penanggungjawab kegiatan
Permasalahan
kelima: Lemah dalam komitnen menjaga rahasia
Fenomenanya:
a.
Terlalu banyaknya
permasalahan yang harus ditinjau
b.
Cara mencapai kepada tempat
atau keluar yang perlu ditinjau
c.
Bertambahnya waktu-waktu
yang tidak biasa
d.
Ngobrol didepan pintu,
dimobil yang perlu ditinjau
e.
Membawa-bawa buku catatan
penting
f.
Berbicara ditelepon dengan
bahasa yang gamblang atau ungkapan yang berkobar
g.
Banyaknya orang didalam
mobil
h.
Banyaknya mobil dalam satu
tempat
i.
Menetapkan tempat dan waktu
j.
Berpelukan dan ciuman
dikeramaian
k.
Terlalu sering datang pada
berbagai pertemuan/rapat
l.
Lalai dalam menutup hijab
atau jendela bersamaan dengan berbicara dengan suara yang keras
m.
Lemah dalam menjaga rahasia
dan lemah dalam mengantisipasinya
n.
Tidak puas dengan urgensi
kehati-hatian dalam menjaga rahasia
o.
Lengah dalam menjaga kertas
catatan dan kaset rekaman
p.
Hidup bermasyarakat dan
hubungan dengan orang lain secara terbuka
q.
Kurang perhatian dengan
tarbiyah sensitipas rahasia terhadap keluarga dan anak-anak (akhlak tidak
membicarakan apa yang dilihat atau didengar menurut kita atau selain kita)
r.
Berlebihan dan semangat
dalam mendapatkan informasi
s.
Banyak inovasi dan kerja
terhadap apa yang diketahui tanpa eprhitungan walaupun bersama ikhwah
t.
Pertanyaan perjaga pintu
rumah tentang tempat
u.
Pemilihan tema yang sama
seperti menutup rahasia untuk liqo
v.
Tidak memahami pemilik
tempat pada sebagian pengunjung
w.
Kunjungan mendadak sebagian
kerabat atau teman
Penyebabnya
a.
Lemahnya perasaan
kehati-kehatian
b.
Sedikitnya nasihat yang
berkaitan dengan nilai-nilai rahasia
c.
tolong menolong pada
sebagian orang dengan dalil kami tidak melakukan kemungkaran atau kami berjihad
di jalan Allah
d.
Menyatunya kelalaian
menjaga rahasia pada orang lain khususnya yang menjadi qudwah
e.
Tidak bisa membedakan
antara kondisi setiap jenjang dan tempat
f.
Tolong menolong dalam
melaksanakan wasiat
g.
Terbiasa dalam melakukan
rahasia yang salah
h.
Tidak memahami cara menjaga
dan merahasiakan informasi
i.
Tidak bisa membedakan
antara yang diketahui dan yang diucapkan, kapan dan bagaimana serta untuk siapa
j.
Wanita
Cara
Penyelesaiannya
a.
Menumbuhkan perasaan
tanggungjawab dalam menjaga jamaah dan anggotanya
b.
Menumbuhkan perasaan
menjaga rahasia
c.
Menumbuhkan komitmen
terhadap apa yang dikeluarkan oleh jamaah sekalipun bertentangan dengan kita
selam tidak mengandung dosa
d.
Bekerja untuk mengubah
tsaqofah berbentuk keilmuan menjadi kerja nyata dan kebiasan yang terus menerus
e.
Mencari pengalaman dengan
sarana yang baru untuk menjaga rahasia informasi
f.
Membersihkan dari segala
informasi yang tidak penting
g.
Pertanyaan dan meminta
ketegasan terhadap sesuatu yang meragukan dirinya
h.
Mengganti penyebaran
informasi dengan hal-hal yang banyak dipakai ( buku-buku
i.
Pembiasaan dan pelatihan
atas ketelitian dan memantau perubahan
j.
Melakukan introspeksi pada
setiap hubungan dengan orang lain
k.
Membiasa kebiasaan menjaga
rahasia pada keluarga dan anak-anak
l.
Berhati-hati terhadap
penipuan dengan tampilan orang lain
m.
Pembiasaan pada penggunaan
sarana hubungan yang aman
n.
Tidak menyimpan buku-buku
atau kumpulan dari jamaah lain
o.
Hati-hati dari pembicaraan
terbuka dan terlalu keras jika melalui telepon
Permasalahan
keenam: Mengkritik agenda kerja dan jamaah
Fenomenanya:
a.
Banyak mengkritik agenda
kerja
b.
Mengeluarkan resolusi yang
anti kritik
c.
Mengkritik personal atau
sikap jamaah
d.
Mengarahkan tuduhan tanpa
dalil atau klarifikasi
e.
Mengkritik kadang diarahkan
ke usroh atau jamaah atau pada sikap tertentu
f.
Mengkritik dengan alasan
atau melanggarnya
Penyebabnya:
a.
Waktu kosong dan sibuk
dengan urusan dakwah dan kepentingannya
b.
Terlalu berambisi dalam
menutup kelemahannya dengan mengkritik orang lain
c.
Kurang informasi atau
pemahaman syari atau haraki
d.
Kebiasaan personal atau
diri dengan mengkritik pada setiap aktivitas
e.
Lemah dalam pelaksanaan dan
aktivitas
f.
Terpengaruh dengan sudut
pendang yang menyimpang dengan kebenaran atau tidak benar
g.
Tidak memahami ideologi
jamaah dan manhajnya
h.
Mengambil pendapat mas’ul
bahwa itu merupakan pendapat jamaah
i.
Tidak memahami atau
memenuhi hubungan syari dalam mengkritik
j.
Krisis kepercayaan dari
sisi kebenaran dan kesalahan
k.
Beragamnya pendapat atau
fanatisme dan tidak menerima pendapat orang lain
l.
Suka pamer
m.
Tidak bisa memberdakan
antara kritik dan menghancurkan
n.
Tidak memiliki kemampuan
pada sebagian perkara rahasia
o.
Menjaga kehormatan pribadi
atau mas’ul
Solusinya:
a.
Kritik harus dari yang atas
dan menjaga rahasia
b.
Penasihat lebih mengedankan
nasihat sebagai jalan terbaik dan yang dinasihati menerimanya dengan lapang
dada
c.
Membiasakan sisi positif
dalam menyelesaikan masalah dengan mengedepankan solusi terbaik
d.
Memperhatikan komitmen
dengan nilai-nilai syari dalam mengkritik
e.
Memiliki perasaan
tanggungjawab dihadapan Allah dan memahami pengaruhnya dalam persatuan barisan
f.
Harus ada penguatat
terhadap apa yang diasampaikan
g.
Melengkapi yang kurang dari
informasi pada batasan yang dibolehkan atau pelurusan pemahaman
h.
Jika belum puas dengan
jawaban penanggungjawab maka baginya boleh duduk
i.
Menjelaskannya dengan cara
yang baik dan meluruskan ijtihadnya
j.
Mencarikan alternatif dan
saluran yang disyariatkan (halaqah kritik, jalasat evaluasi dan pembenaran)
k.
Tidak boleh melarang kritik
atau mencela orang yang melakukannya
Permasalahan
ketujuh: Bingunng menampakan diri dihadapan aib orang lain(khusus para
penanggungjawab)
Fenomenanya:
a.
Perasaan kurang komitmen
b.
Perasaan kurang ilmu pada
satu sisi atau kadang banyak
c.
Perasaan sempit dada
d.
Kurangnya tsiqoh
e.
Terlalu berliebihan dalam
mengkritik, secara terang-terangan atau sindiran
f.
Memberikan vonis pada
pemilik aib
g.
Pengaruh negatif terhadap
aib
h.
Mendengarkan ghibah
Penyebabnya:
a.
Melihat aib secara langsung
atau mendengar
b.
Terlalu berlebih dalam
memandang orang lain : “perasaan sempit dada, tidak mampu menghadapi
pertanyaan”.
c.
Tidak faham dengan etika
syar’I dalam menyelesaikan suatu aib
d.
Lemah pemahaman atau
komitmen
e.
Menyepelekan komitmen
akhlak
Penyelesaiannya:
a.
Memahami tipe manusia
sekalipun mereka sempurna namun memiliki kekurangan dan salah
b.
Mericek adanya aib yang
dimaksud
c.
Mendahulukan interpretasi
yang memuaskan jika ada
d.
Mengenalkan pemiliki ain
dengan bentuk yang tidak menyakitkan dan meminta untuk ditafsirkan atau
diperhatikan dari kelalaian
e.
Tanggungjawab personal
dalam kesalahan dan memberikan kebebasan dalam suatu kesalahan
Permasahalah
kedelapan: Kerancuan dalam manajemen usrah
Fenomenanya:
a.
Single feghter dalam
melakukan solusi permasalahan
b.
Tidak melakukan pelatihan
lainnya dalam manajemen
c.
Kurang semangat dalam
bermusyawarah
d.
Tidak disiplin pada waktu
e.
Tidak memberikan kesempatan
yang cukup untuk anggotanya
f.
Banyaknya cabang dalam
tanggungjawab atau individu pada waktu yang bersamaan
g.
Tidak berusaha
mengekplorasi, mengembangkan dan menjadikan investasi terhadap potensi anggota
h.
Menggunakan cara militer
dalam manajemen
i.
Tidak menghadirkan contoh
yang bagus dalam penyampaian
j.
Berlebihan dalam adab liqo
(menyimak, dialid, izin, bicara)
k.
Terlalu cepat dalam
mengambil keputusan sehingga menyebabkan keputusan yang salah
l.
Lemah pada sisi kerja
terhadap naqib yang berseberangan dengan tidak adanya kejelasan wawasan dan
pada selanjutnya pada manajemen
Sebab-sebabnya:
a.
Tidak memahami tugas dan
pentingnya tanggungjawab dan jangkauan kekuasaannya terhadap individu
b.
Tidak adanya kedisiplinan
pada manejemen usrah
c.
Tidak memiliki perasaan
eksistensi syura pada tingkat tinggi
d.
Tidak adanya mutaba’ah dari
tingkat atas dalam penerapan syura
e.
Distribusi materi yang
sesuai dengan individu kecuali jika tujuannya adalah pelatihan
f.
Banyaknya kesibukan
penanggungjawab terhadap kesiapan yang baik
g.
Ditolaknya sebagian ahli
untuk mengurus perkara
h.
Tidak adanya penyampaian
pelatihan-pelatihan khusus sehingga mengakibatkan kurangnya kesiapan para
nuqoba
i.
Tidak adanya kelengkapan
contoh yang baik terhadap usrah
j.
Tidak adanya susunan yang
cocok terhadap usrah
k.
Umur naqib lebih muda
terhadap sebagian anggota
l.
Kurangnya pengalaman kerja
naqib
m.
Khawatir adanya marah
anggota
n.
Kebutuhan ketangkasan dan
prilaku yang baik
Sarana
solusi
a.
Memahami hak dan kewajiban
b.
Memahami tugas dan faedah
mempelajari materi dan cara yang baik sehingga menjadikan anggota memiliki
peran serta dalam mutabaah kerja
c.
Penyiapan pelatihan untuk
keahlian
d.
Memperbanyak waktu
persiapan dan meringankan tanggungjawab
e.
Pandai memilih naqib yang
cocok dengan usrah
f.
Bersungguh-sungguh dalam
komitmen
g.
Memberikan sebagian contoh
sebagai pengalaman sebelumnya
h.
Konfirmasi
Permasalahan
kesembilan: Adanya arus ideologi dan fiqih di dalam jama’ah
Fenomenanya:
a.
Banyaknya perselisihan dan
debat yang sengit
b.
Fanatik terhadap pendapat
sendiri dan merendahkan orang lain
c.
Jumud ideologi
d.
Taqlid buta tanpa dhawabit
e.
Lemah peran serta anggota
dalam aktivitas kerja
f.
Sempit wawasan dan tidak
mengikuti perkembangan zaman
g.
Cinta pamor
h.
Tenggelam pada permasalahan
yang terbatas pada fiqih dan ideologi
Sebab-sebabnya:
a.
Lemah memberikan warisan
pada tsaqofah dan pengaruhnya terhadap lingkungan sosial yang dirinya
berkembang di dalamnya
b.
Tidak jelasnya wawasan dan
potensi kerja dalam pemikiran yang berakibat pada hilangnya manhaj
c.
Jumud ideologi dan tidak
memahami dalil-dalilnya secara baik
d.
Sombong dan angkuh terhdap
diri sendiri
e.
Lemah dalam tarbiyah
ilmiyah dan tsaqofah dengan dasar-dasar ijtihad dan peninjauan
f.
Banyaknya serangan dari
kalangan bawah
g.
Tidak memahami dengan
akibat-akibat ragamnya arus ideologi di dlaam jamaah yang aktif dan tidak
adanya telaah yang menimpa umat Islam dari kelompok dalam berbagai perkara yang
tidak memiliki dasarkan kerja
h.
Tidak memahami fiqih
realita dan prioritas
i.
Tidak adanya perhatian yang
baik dan dini terhadap arus yang masuk ke dalam jamaah
j.
Tidak adanya cara yang
bagus dalam membuat solusi yang nyata
Solusi:
a.
Memberikan pelatihan dalam
melakukan telaah yang berhubungan dengan warisan lingkungan dan ideologi
b.
Memberikan pelatihan
manhaji fikri dan telaah yang baik dalam berbagai dalil dan menurunkan pada
kondisi realita umat Islam
c.
Membuat hukum pada urutan
dan aspek-aspeknya yang benar
d.
Memberikan penjelasan
wawasan yang benar terhadap tsawabit dan mutaghayyirat
e.
Menelaah permasalahan yang
baru (konteporer)
f.
Memanfaatkan ijtihad
kontemporer para ulama ikhwan
g.
Pelatihan terhadap komitmen
dengan etika berbeda pendapat dan dhowabit kerja jama’i
h.
Melakukan pelatihan
pemahaman maslahat dan mafasid dan membuat pilihan mana yang kuat dan yang
tidak kuat
i.
Mebersihkan diri dengan
menelaah kondisi para shalihin
j.
Kesadaran para
penanggungjawab terhadap kerja dengan jamaah dari pengalaman ideologi
k.
Melakukan pembenahan
tatanan dan retorikan tabiyah dan imunisasi untuk penanggulangan terhadap
dampak-dampaknya pada permulaannya
Permasalahan
kesepuluh: Kerancuan dalam manajemen naqib usrah dan lemah dan keras
Fenomena
Kelemahan:
a.
Tidak adanya kedisiplinan
usrah dalam kehadiran dan bubaran
b.
Lemahnya kesungguhan saat
menghadiri usrah (seperti: bicara tanpa izin, melakukan pelecehan terhadap
sebagian pendapat..)
c.
Melecehkan pelaksanaan
program agenda tsaqofi dan praktek
d.
Lemahnya mutaba’ah terhadap
agenda anggota usrah
e.
Menyerahkan salah seorang
anggota usrah terhadap manejemen liqo sebelumnya waktunya
f.
Tidak memiliki kemampuan
merealisasikan rukun-rukun usrah
g.
Lemahnya ikatan antara
individu usrah
h.
Kerancuan dalam
menyampaikan tempat dan waktu liqo
i.
Tidak teliti dalam
memberikan tugas
j.
Acuh terhadap komitmen
keuangan
k.
Tidak adanya realisasi dari
tujuan dan misi usrah dan agenda-agendanya
Fenomena
Kekerasan
a.
Memberikan kepada anggota
diluar batas kemampuan
b.
Pemahaman yang salah
terhadap dhawabit pengasing (ta’zir) dan fiqhnya
c.
Tidak ditemukan permohonan
maaf dan tidak menerima jika ada izin
d.
Penerapan secara harfi dan
tidak adanya keluwesan dalam manajemen liqo
e.
Tidak adanya izin terhadap
anggota dalam debat terhadap beberapa permasalahan kerja
f.
Tidak adanya izin terhadap
anggota pada debat dengan naqib atau memberikan tanggapan pendapat
g.
Penerapan yang salah
terhadap konsep gerakan
h.
Kurangnya penggunaan rukun
Tha’at
Sebab-seba:
a.
Tidak mendalami pemahaman
wastiah (keadilan) dalam Islam
b.
Menyandarkan tanggungjawab
kepadanya sebelum memiliki keahlian
c.
Lemah kepribadian dan
kekosongan ruhiyah
d.
Tidak memahami tujuan dan
misi usrah
e.
Tidak adanya mutaba’ah
f.
Diktator dan pemahaman yang
salah terhadap qiyadah
g.
Kurang pengalamah dalam
manajemen (cenderugn pada individu dan acuh terhadap yang lainnya)
h.
Tidak memahami tabiat jiwa
dan perbedaan invidu antar anggota
Solusi:
a.
Detil terhadap orang yagn
memimpin manajemen usrah
b.
Memberikan keahlian
terhadap para nuqoba secara maksimah (manajemen, keilmuan dan ruh)
c.
Bertahap dalam memberikan
tanggungjawab kepada para nuqoba
d.
Teliti dalam mutaba’ah
tanggungjawab secara teori dan praktek
e.
Tajdid (memperbaharui)
pembekalan nuqoba terhadap ilmu manajemen dan tarbiyah
f.
Saling bertukar pengalaman
antar nuqoba melalui silaturrahim
g.
Melaksanakan pelatihan
ektivitas antara satu dengan yang lainnya
h.
Memotivasi naqib secara
kontinyu terhadap tarbiyah dzatiyah
Permasalahan
kesebelas: Kurang semangat dalam syura
Fenomenanya:
a.
Single fighter naqib
terhadap pendapat dalam setiap masalah
b.
Tidak melakukan muraja’ah
anggota naqib terhadap perkara mereka secara khusus
c.
Terdapatnya qiyadah urusan
yang tidak matang dalam berbagai masalah yang menimpa jamaah
d.
Munculnya ketidak ragaman
pendapat terhadap sesama anggota
e.
Munculnya pertikaian
individu dalam kerja dan gerak
Sebab-sebabnya:
a.
Tidak terbinanya anggota
pada syura
b.
Tidak memahami prinsip
syura dalam Islam baik individu dan nuqoba
c.
Tidak adanya semangat dalam
syura pada tingkat tinggi untuk memberikan pelajaran dalam usar mereka cara
motivasi
d.
Perselisihan individu
terhadap sebagian nuqoba
e.
Ketsiqohan naqib terhadap
dirinya lebih dari kelaziman
Solusinya:
a.
Melakukan riset tentang
syura dalam Islam dan menelaahnya sesama anggota
b.
Menampilkan contoh-contoh
syura pada masa Islam pertama dari harakah
c.
Mewajinkan seluruh nuqoba
untuk semangat dalam syuri bersama ikhwan mereka
d.
Membersihkan diri dan
memberikan potensi tsiqoh
Permasalahan
kedua belas: Melakukan pengasingan dan hukuman terhadap pelanggaran
Fenomenanya:
a.
Naqib cenderung
mengasingkan ikhwannya jika tidak mendapatkan alasan terhadap mereka
b.
Tidak adanya ukhuwah dan
kasih sayang sesama anggota dalam mu’amalah mereka
c.
Terpisahnya sebagian
anggota pada barisan
Sebab-sebabnya:
a.
Naqib tidak memahami
tentang hukuman
b.
Naqib menyangka bahwa
dengan cara itu dapat meluruskan program usrah
c.
Tidak adanya perbedaan
terhadap anggota oleh naqib
d.
Hilangnya prinsip mencari
alasan antar anggota dan naqib
e.
Karakter naqib yang tegas
membuatnya cenderung pada pelaksanaan perintah dengan strong
Solusinya:
a.
Menelaah pemahaman tentang
ta’zir dan adab-adabnya
b.
Memuraja’ah naqib dalam
prilaku bersama ikhwannya
c.
Menambah pil tazkiyah nafs
untuk nuqoba yang memiliki tabiat galak
Permasalahan
ketiga belas: Cuek dalam tarbiyah ukhuwah dan anak-anak mereka
Fenomenanya:
a.
Tidak adanya komitmen
anak-anak terhadap kewajiban dan sunnah-sunnah
b.
Acuhnya anak-anak terhadap
hafalan Al-Quran dan hafalan mereka terhadap lagu-lagu yang hina
c.
Penyerupaan anak laki-laki
dan perempuan dengan para aktris dan pemain bola
d.
Terlambatnya anak-anak pada
sisi pendidikan
Sebab-sebabnya:
a.
Banyaknya tugas al-akh
dalam dakwah dan pekerjaan
b.
Al-akh tidak memahami
perannya sebagai murabbi terhadap keluarganya (istri dan anak-anaknya)
c.
Tidak memliki pemahaman
yang baik terhadap peran rumah terhadap al-akh
d.
Sedikitnya pil iman oleh
Al-akh (setiap kalian adalah pemimpin dan bertanggungjawab terhadap
kepemimpinan kalian)
e.
Penyampaian tanggungjawah
terhadap generasi dan bagian akhwat dalam tarbiyah
Solusinya:
a.
Maktab idari (manajemen)
hendaknya meletakkan permasalahan ini dihadapannya langsung kemudian
mengintensifkan program dan melakukan mutaba’ah untuk pergi ke rumah-rumah
ikhwan
b.
Meningkatkan kesadaran
kepada setiap orang bahwa mereka bertanggungjawab terhadap keluarga
masing-masing pada hari kiamat
Permasalahan
keempat belas: Naqib atau penanggujawab berjalan sendiri dalam menyelesaikan
masalah
Fenomenanya:
a.
Terlalu cepat membuat
solusi masalah tanpa melakukan pembahasan yang mendalam
b.
Memutuskan suatu masalah
tanpa peninjauan mendalam
c.
Tidak mengambil pendapat
orang lain dalam suatu usrah
d.
Bangga terhadap diri
sendiri bukan pada tempatnya
e.
Tidak perhatian terhadap
kemampuan orang lain dan jiwa mereka
f.
Khawatir terhadap
penanggungjawab ketidak mampuannya dalam manajemen usrah
Sebab-sebabnya:
a.
kurangnya pengalaman
tarbiyah
b.
Kurangnya tsaqofah
ijtima’iyah, dan tidak mendalami karakter seseorang
c.
Tidak jelasnya batasan
tanggungjawab umum dan khusus
d.
Tergesa-gesa dalam
peningkatannya hingga ketingkat yang tidak ahli padanya
e.
Kurangnya mutaba’ah para
penanggungjawab
f.
Terputusnya hubungan antara
dirinya dengan qiyadah
g.
Bangga dengan kemampuan
pribadi
h.
Terpengaruh dengan ketaatan
buta seperti uslub qiyadah
Solusinya:
a.
Naqib melakukan pelatihan
tentang terkhnik manajemen dalam tarbiyah
b.
Ikut serta dalam kegiatan
sosial yang beragam dalam berinteraksi yang benar bersamanya
c.
Memberikan pemahaman
tentang batasan-batasan tanggungjawab
d.
Tidak menyandarkan
tanggungjawab pada seseorang
e.
Melakukan mutaba’ah yang
detail terhadap penanggungjawab
f.
Mentaqwim naqib dari waktu
ke waktu dengan mengambil pendapat penanggungjawab terhadap dan penanggungjawab
darinya
g.
Membuka saluran komunikasi
dengan para penanggungjawab
h.
Memberikan pil yang paten
dalam hal tazkiyatunnafs
i.
Melatihanya dlaam hal
methode syura dalam qiyadah dan manajemen
Permasalahan
kelima belas: Permasalahan yang terkait dengan penerapan hukuman
Fenomenanya:
a.
Sarana yang tidak
disyariatkan
b.
Tidak menggunakan sarana
yang menerapkan hukuman
c.
Tidak mendalam dalam
membahas solusi suatu masalah
d.
Acuh dalam menggunakan
administrasi yang cocok
Sebab-sebabnya:
a.
tidak memahami permasalahan
syar’I
b.
Tergesa-gesa dalam
mengambil solusi
c.
Meremehkan perasaan manusia
d.
Tidak mau mengembangkan
perasaan cinta
Solusinya:
a.
Lapang dada seorang
penanggungjawab
b.
Memahami kejiwaan orang
lain
c.
Jangan jadikan hukuman
perbudakan
d.
Jadikan hukuman sesuai
dengan jiwa seseorang setelah menerapkan sarana
yang ada
e.
Tidak boleh menggunakan
pelarangan pada suatu kegiatan karena hal itu bagian dari tajmid
f.
Tidak menghina dan
meremehkan
g.
Apakah melakukan
pengasingan dengan cara terang-terangan?
h.
Apakah naqib meminta maaf
jika melakukan kesalahan?
Permasalahan
keenam belas: Lemah dalam menunaikan ibadah sunnah dan komitmen syar’i
Fenomenanya:
a.
Tidak datang ke masjid yang
ada di kampung
b.
Dusta dalam canda atau
untuk menyelesaikan suatu sikap
c.
Prilaku: jidal (debat),
bakhil, ghibah, berlebih-lebihan, pemilihan kata, berlebihan dalam pertikaian,
tidak tatsabbut dan ragu, kesaksian palsu
d.
Menghalalkan harta umum
(transportasi, lembaran-lembaran, hak-hak orang lain, upah tanpa usaha (upah
buta, …)
e.
Membela yang dekat dan
akrab dalam bentuk hak atau lainnya
f.
Percampuran antara ghibah
dan jarh wa ta’dil
g.
Banyak senda gurau yang
dibolehkan dan tidak dibolehkan, dan mengungjungi tempat senda gurau
h.
Membuat tanda tangan
kehadiran dan pergi walaupun tidak disiplin didalam keduanya
Jika
seorang penanggung jawab
a.
Saat terjadi perbedaan
pendapat dengan seseorang yang tidak memiliki pengaruh dengan perkhilafan ini
b.
Tidak disiplin dengan
syar’i saat mencalonkan seseorang
Pada
tingkat keluarga
a.
Tidak mentarbiyah
anak-anak, tidak mengajak mereka keluar untuk ke masjid
b.
Rumah kosong dari buku-buku
Islam
c.
Tidak memahami dengan
menemani anak-anaknya
d.
Mentaqlid kaum muslimin
dalam kebiasaan dan perayaan hari raya mereka
e.
Tidak memutaba’ah anak-anak
dalam menunaikan shalat khususnya saat bermain
f.
Keluarga tidak komitmen
dengan pakaian syar’I
g.
Kongkalikong dengan guru
untuk memberikan kepada anak nilai yang tidak berhak diterima atau memudahkan
melakukan contekan
h.
Menggunakan kata yang tidak
layak dalam canda atau marah
Sebab-sebabnya:
a.
Pemahaman yang salah
terhadap kedudukan sunnah dalam ibadah
b.
Tidak menelaah dalam sirah
para shalihin
c.
Memperluas mubah yang
terkait dengan syahwat dan melemahkan kehendak dan wara’
d.
Berteman dengan para
pemalas dan culas
e.
Tidak memahami dhawabit
syar’iyah pada aktivitas kehidupan umum
f.
Taklid buta terhadap orang
lain dan prilaku mereka
g.
Pemahaman yang salah
terhadap sirah Islam dan toleransinya
h.
Ambisi pada dunia
Solusi:
a.
Memahami dengan urgensi
sunnah dan kedudukannya dalam Islam
b.
Menelaah sirah nabi saw,
sahabat dan tabi’in
c.
Duduk bersama orang-orang
salih dan teman-teman mereka
d.
Memperkokoh kehendak dalam
mengambil keputusan
e.
Mengoreksi pemahaman
tentang kemudahan Islam dan toleransinya
f.
Mentarbiyah tentang izzah
Islam dan tidak menjadi plin plan
g.
Memahami pentingnya shalat
jamaah dan menjadikannya qudwah untuk anak-anaknya
h.
Perhatian dengan wirid
muhasabah
Permasalahan
ketujuh belas: Menelaah tentang berita dan rahasia jamaah
Fenomenanya:
a.
Berusaha bertemu
penangjawab dan melakukan dialog seputar permasalahan
b.
Menginvestasikan informasi
untuk mendapatkan informasi lainnya
c.
Merasa cukup pada kata dan
isyarat yang mengungkapkan terhadap adanya masalah
Sebab-sebabnya:
a.
Terlalu berlebihan dalam
memenuhi keinginan
b.
Menampakkan diri dihadapan
umum bahwa dirinya mengetahui urusan yang paling rahasia
c.
Memberikan kepuasan
dihadapan orang lain bahwa dirinya berada pada tingkat mas’ul
d.
Menampakkan diri dengan
bentuk pemilik pendapat
e.
Menelaah untuk menjadi
penanggungjawab
Solusi:
a.
Perhatian dengan
pembentukan diri lebih dahulu
b.
Mendalami pemahaman dengan
ilmu-ilmu syar’I, ideologi dakwah, usul harakah dan memahami pertikaian dakwah
c.
Memahami bahwa orang yagn
meminta tanggungjawab adalah pemberian dari Allah kepada dirinya dan bagi yang
diberikan beban akan diberikan pertolongan
d.
Memahami bahwa banyaknya
informasi yang diterima akan membahayakan dirinya dan dakwah saat tertimpa
musibah
Permasalahan
kedelapan belas: Meminta menjadi penanggungjawab
Fenomenanya:
a.
Aktivitas harakhah yang
banyak
b.
Terlalu banyak bergaul
dengan penanggungjawab
Sebab-sebabnya:
a.
Merupakan hal yang fitrah
cinta jabatan dan kepemimpinan
b.
Perasaan diri labih pintar
dan baik
c.
Memilijki kesempurnaan sisi
kepemimpinan yang dipandang oleh orang karena ceramah yang baik dan banyak
geraknya
Solusi
a.
Muraja’ah niat
b.
Apakah kerja saya ikhlas
karena Allah atau melihat kedudukan saya?
Ringkasnya
Ringkasan
tema manajemen usrah adalah beberapa hal berikut:
1.
Urusan peran tandzimi dan
tarbawi dalam usrah
2.
Pemahaman manajemen usrah
3.
Hal-hal yang menuntut
manajemen bersih usrah, yaitu mencakup 7 point:
a.
Pertama: pemahaman yang
penuh terhadap tujuan usrah yang berhubungan dengan individu, rumah tangga,
jamaah dan masyarakat
b.
Kedua: membuat program yang
dapat mewujudkan unsur-unsur program, jangkauan waktu untuknya dan arahnya
c.
Ketiga: komitmen dengan
syarat-syarat yang layak diperhatikan saat membentuk usrah dalam bentuk
pendekatan pada tingkat ideologi, umur dan senioritas dalam jamaah, kondisi
jiwa, sensitivitas kemudian pendekatan tempat tinggal
d.
Keempat: mewujudkan
rukun-rukun usrah, yaitu ta’aruf, tafahum dan takaful
e.
Kelima: mewujudkan etika
dan kewjiban melaksanakan program usrah, yaitu yang berhubungan dengan
rapat/pertemuan usrah, etika dan kewajiban individu, sosial dan finansial
terhadap anggota
f.
Keenam: memperhatikan ragam
dan sarana untuk mewujudkan tujuan usrah
g.
Ketujuh: komitmen dengan
amniyah saat melaksanakan terhadap apa yang diberikan
Comments
Post a Comment