Iman Kepada Malaikat

BERIMAN KEPADA MALAIKAT

Ibnu Hajar berkata mengenai makna malaikat: “Merupakan bentuk jamak dari 'malak' dengan fathah pada huruf lam. Ada yang berpendapat lafaz ini diringankan dari kata 'ma'lak', dan ada yang berpendapat ia berakar dari kata 'al-alukah' yang berarti risalah (pesan). Ini adalah pendapat Sibawayh dan mayoritas ulama, di mana asal katanya adalah 'la-aka'. Ada pula yang berpendapat asal katanya adalah 'al-malku' dengan fathah pada huruf mim dan sukun pada huruf lam yang berarti memegang dengan kuat. Sementara timbangan asal lafaznya adalah 'muf'al', kemudian hamzahnya dihilangkan karena seringnya penggunaan, lalu hamzah tersebut tampak kembali pada bentuk jamaknya... Mayoritas ahli kalam dari kalangan kaum muslimin berpendapat: Malaikat adalah jisim yang halus (tidak padat) yang diberikan kemampuan besar untuk menjelma dalam berbagai bentuk yang berbeda-beda, dan tempat tinggal mereka adalah di langit.” (Lihat: Fath al-Bari, Juz 1, hlm. 232) .

Di antara rukun iman adalah beriman kepada malaikat. Yang dimaksud di sini adalah keyakinan yang bulat dan pasti bahwa Allah memiliki malaikat-malaikat yang nyata ada, diciptakan dari cahaya, mereka tidak pernah mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan, dan mereka senantiasa melaksanakan tugas-tugas yang diperintahkan kepada mereka.

Malaikat merupakan salah satu jenis makhluk Allah Azza wa Jalla, di mana keimanan seorang hamba tidak akan sah hingga ia mengimani keberadaan mereka beserta sifat-sifat dan amal perbuatan yang ditujukan bagi mereka di dalam Kitabullah Subhanahu dan Sunah Rasul-Nya, tanpa menambahi, mengurangi, ataupun mengubahnya.

Allah Ta'ala berfirman: “Rasul (Muhammad) beriman pada apa (Al-Qur’an) yang diturunkan kepadanya dari Tuhannya, demikian pula orang-orang yang beriman. Semua beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, dan rasul-rasul-Nya.” (QS. Al-Baqarah: 285).

Di dalam hadis yang dikeluarkan oleh Imam Muslim dari Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu dan juga dikeluarkan oleh Imam al-Bukhari, ketika Jibril Alaihis Salam bertanya kepada beliau mengenai iman, Rasulullah bersabda kepadanya:

 أَنْ تُؤْمِنَ بِاللَّهِ، وَمَلَائِكَتِهِ، وَكُتُبِهِ، وَرُسُلِهِ، وَالْيَوْمِ الْآخِرِ، وَتُؤْمِنَ بِالْقَدَرِ خَيْرِهِ وَشَرِّهِ

“Engkau beriman kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, hari akhir, dan engkau beriman kepada takdir yang baik maupun yang buruk.” (HR. Muslim dan al-Bukhari) .

Maka dari itu, keberadaan malaikat telah ditetapkan dengan dalil qath'i (pasti) yang tidak mungkin dihinggapi keraguan. Berdasarkan hal ini, mengingkari keberadaan mereka merupakan kekufuran menurut ijmak (kesepakatan) kaum muslimin, bahkan berdasarkan teks Al-Qur'an yang agung. Allah Azza wa Jalla telah berfirman: “Barangsiapa yang kufur kepada Allah, malaikat-malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, rasul-rasul-Nya, dan hari akhir, sungguh dia telah tersesat sangat jauh.” (QS. An-Nisa': 136).

Siapa saja yang menelusuri ayat-ayat Al-Qur'an yang mulia serta hadis-hadis nabawi yang mulia yang membicarakan tentang malaikat, sifat-sifat, tugas, dan keadaan mereka, niscaya akan mendapati bahwa teks-teks tersebut secara umum membahas perkara yang menjelaskan hubungan mereka dengan Sang Pencipta Subhanahu, dengan alam semesta, dan dengan manusia. Melalui penjelasan tersebut, Allah Subhanahu mengenalkan kepada kita hal-hal yang bermanfaat dalam membersihkan akidah kita, menyucikan hati kita, serta meluruskan amal perbuatan kita.

Adapun hakikat sejati malaikat, bagaimana detail cara Allah menciptakan mereka, serta perincian menyeluruh tentang keadaan mereka, maka Allah Subhanahu mengkhususkan hal tersebut hanya untuk diri-Nya sendiri. Ini merupakan karakteristik umum dari karakteristik akidah Islam yang menjelaskan hakikat-hakikat alam semesta dan mengenalkannya dalam batas-batas yang dibutuhkan oleh manusia, yang membawa kebaikan bagi urusan kehidupan dunia (kehidupan sekarang) dan akhirat (tempat kembali) mereka, serta dalam batas yang mampu dijangkau oleh akal mereka. Allah Jalla wa Ala tidak memperlihatkan seluruh perkara gaib kepada kita, baik yang berkaitan dengan keagungan, sifat, dan nama-nama-Nya, maupun yang berkaitan dengan makhluk-makhluk gaib ciptaan-Nya.

Seorang mukmin yang jujur akan mengikrarkan dan membenarkan setiap hal yang dikabarkan oleh Sang Pencipta, baik secara global maupun terperinci, tanpa menambahi ataupun menguranginya. Ia juga tidak akan membebani diri untuk mencari-cari tahu atau menyelami perkara yang tidak diperlihatkan oleh Allah kepadanya.

Sifat-Sifat Fisik (al-Khaliqiyah) Mereka:

Berdasarkan hal tersebut, Sang Pencipta Azza wa Jalla tidak mengabarkan kepada kita mengenai sifat-sifat fisik mereka melainkan hanya sedikit saja. Allah Subhanahu mengabarkan kepada kita bahwa mereka diciptakan sebelum penciptaan Adam. Hal itu dikarenakan terdapat keterangan di dalam Al-Qur'an bahwa Allah mengabarkan kepada mereka bahwa Dia akan menciptakan manusia dan menjadikannya di bumi. Allah Ta'ala berfirman: “Ingatlah ketika Tuhanmu berfirman kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku hendak menjadikan seorang khalifah di bumi.” Mereka berkata, “Apakah Engkau hendak menjadikan orang yang merusak dan menumpahkan darah di sana, sedangkan kami bertasbih memuji-Mu dan menyucikan nama-Mu?” Dia berfirman, “Sesungguhnya Aku mengetahui apa yang tidak kamu ketahui.”” (QS. Al-Baqarah: 30).

Adapun mengenai unsur atau bahan dasar penciptaan mereka, Rasulullah telah mengabarkan kepada kita bahwa Allah menciptakan mereka dari cahaya. Imam Muslim telah mengeluarkan riwayat dari Aisyah radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah bersabda:

 خُلِقَتِ الْمَلَائِكَةُ مِنْ نُورٍ، وَخُلِقَ الْجَانُّ مِنْ مَارِجٍ مِنْ نَارٍ، وَخُلِقَ آدَمُ مِمَّا وُصِفَ لَكُمْ

“Malaikat diciptakan dari cahaya, jin diciptakan dari nyala api tanpa asap, dan Adam diciptakan dari apa yang telah disifatkan kepada kalian.” (HR. Muslim) .

Secara keseluruhan, nash-nash (teks dalil) menunjukkan bahwa malaikat adalah makhluk-makhluk nurani (berunsur cahaya) yang tidak memiliki tubuh fisik kebendaan yang dapat dijangkau oleh pancaindra manusia. Mereka tidak sama seperti manusia; mereka tidak makan, tidak minum, tidak tidur, dan tidak menikah. Mereka suci dari syahwat-syahwat hewani serta bersih dari dosa dan kesalahan. Mereka tidak disifati dengan satu pun sifat-sifat kebendaan (madiyah) yang melekat pada diri anak cucu Adam.

Kendati demikian, mereka memiliki kemampuan untuk menjelma ke dalam wujud manusia dengan izin Allah Ta'ala. Sebagaimana yang dikabarkan oleh Allah Azza wa Jalla mengenai Jibril Alaihis Salam bahwa ia mendatangi Maryam dalam wujud manusia yang sempurna. Allah Ta'ala berfirman: “Ceritakanlah (Muhammad) kisah Maryam di dalam Kitab (Al-Qur’an) ketika dia menjauhkan diri dari keluarganya ke suatu tempat di sebelah timur (Baitulmaqdis). Lalu, dia memasang tabir (yang melindunginya) dari mereka. Kemudian, Kami mengutus roh Kami (Jibril) kepadanya, lalu dia menampakkan diri di hadapannya dalam bentuk manusia yang sempurna.” (QS. Maryam: 16-17).

Di dalam hadis Jibril yang masyhur, saat ia datang untuk mengajarkan kepada para sahabat mengenai makna Islam, Iman, Ihsan, dan tanda-tanda hari kiamat, Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu menceritakan bahwa ia datang dalam wujud seorang laki-laki yang berpakaian sangat putih dan berambut sangat hitam, tidak terlihat padanya tanda-tanda bekas perjalanan jauh, dan ia duduk di hadapan Nabi lalu menyandarkan kedua lututnya ke lutut beliau serta meletakkan kedua telapak tangannya di atas kedua paha beliau, kemudian ia mulai mengajukan pertanyaan.

Di antara sifat fisik mereka yang dikabarkan oleh Allah kepada kita adalah bahwa Dia menjadikan bagi mereka sayap-sayap yang jumlahnya berbeda-beda. Allah Subhanahu berfirman: “Segala puji bagi Allah, Pencipta langit dan bumi, yang menjadikan malaikat sebagai utusan-utusan (untuk mengurus berbagai macam urusan) yang mempunyai sayap, masing-masing (ada yang) dua, tiga, dan empat. Dia menambahkan pada ciptaan-Nya apa yang Dia kehendaki. Sesungguhnya Allah Mahakuasa atas segala sesuatu.” (QS. Fatir: 1). Imam Muslim dan al-Bukhari telah mengeluarkan riwayat dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu bahwa Rasulullah pernah melihat Jibril Alaihis Salam dalam keadaan memiliki enam ratus sayap (HR. al-Bukhari dan Muslim) .

Inilah hal-hal yang dikabarkan oleh Tuhan kita Tabaraka wa Ta'ala mengenai makhluk-makhluk yang mulia ini dari sisi penciptaan mereka, dan kita mengimaninya sebagaimana adanya tanpa mempertanyakan hal-hal di luar itu. Sekiranya penjelasan yang lebih detail mengandung manfaat bagi hamba-hamba Allah, niscaya Allah tidak akan menyembunyikan pengetahuan tersebut dari mereka. Dia Maha Lembut lagi Maha Penyayang kepada mereka, senantiasa mengajarkan kepada mereka kebenaran dan kebaikan.

Hamba-Hamba yang Dimuliakan (Ibadun Mukramun):

Adapun hubungan mereka dengan Allah adalah hubungan ubudiyah (penghambaan) yang murni, ketaatan, kepatuhan, serta ketundukan mutlak terhadap perintah-perintah-Nya Azza wa Jalla. Mereka tidak menyandarkan diri kepada-Nya Subhanahu kecuali dengan penisbatan penghambaan ini. Mereka bukanlah tuhan-tuhan selain Dia Subhanahu, bukan pula keturunan-Nya, dan bukan anak-anak perempuan-Nya sebagaimana yang pernah diucapkan oleh kaum musyrik terdahulu. Sebagaimana firman Allah Ta'ala: “Sebaliknya, (malaikat-malaikat itu) adalah hamba-hamba yang dimuliakan. Mereka tidak berbicara mendahului-Nya dan mereka bertindak dengan perintah-Nya. Dia (Allah) mengetahui apa yang di hadapan mereka (yang akan datang) dan apa yang di belakang mereka (yang telah lalu). Mereka tidak memberi syafaat, kecuali kepada orang yang diridai-Nya dan mereka selalu berhati-hati karena takut kepada-Nya.” (QS. Al-Anbya': 26-28).

Allah Ta'ala juga berfirman: “Mereka takut kepada Tuhan mereka yang (berkuasa) di atas mereka dan melaksanakan apa yang diperintahkan (kepada mereka).” (QS. An-Nahl: 50).

Dia juga berfirman: “...mereka tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6).

Malaikat adalah bagian dari makhluk Allah yang sangat banyak jumlahnya, mereka menaati-Nya Subhanahu dan tidak mampu melakukan sesuatu pun atas kemauan diri mereka sendiri. Mereka tidak bisa mengusulkan sesuatu kepada Allah dengan mengandalkan kekuatan yang mereka miliki, dan mereka senantiasa mendedikasikan diri sepenuhnya untuk beribadah kepada Allah serta menaati perintah-Nya. Allah Ta'ala berfirman: “Tidak ada seorang pun di antara kami (malaikat), melainkan masing-masing mempunyai kedudukan tertentu. Sesungguhnya kami benar-benar berbaris (dalam menunaikan perintah Allah). Sesungguhnya kami benar-benar bertasbih (menyucikan Allah).” (QS. As-Saffat: 164-166).

Apabila demikian hakikat keadaan mereka, maka termasuk perbuatan syirik kepada Allah jika mereka disembah, atau dimintai pertolongan [istigatsah/meminta bantuan gaib], atau diyakini bahwa mereka memiliki otoritas mengatur sesuatu di alam semesta ini. Allah Ta'ala berfirman: “Dia (Allah) tidak menyuruh kamu menjadikan para malaikat dan para nabi sebagai tuhan. Apakah (pantas) Dia menyuruh kamu menjadi kafir setelah kamu menjadi muslim?” (QS. Ali 'Imran: 80).

Hubungan Mereka dengan Alam Semesta dan Manusia:

Jika demikian hubungan mereka dengan Tuhannya, yaitu berupa ubudiyah yang sempurna kepada-Nya Subhanahu serta ketaatan yang total kepada perintah-perintah-Nya Azza wa Jalla, maka hubungan mereka dengan alam semesta dan manusia merupakan cabang dari bentuk ubudiyah dan ketaatan tersebut. Hal itu karena ibadah mereka kepada Allah—sebagaimana dikabarkan oleh-Nya Subhanahu—tidak terbatas pada bertasbih memuji-Nya dan mengagungkan-Nya semata. Ibadah mereka juga mencakup pelaksanaan kehendak Allah Jalla wa Ala dalam mengatur urusan-urusan alam semesta dan merawatnya, beserta seluruh makhluk di dalamnya, pergerakan, aktivitas, benda hidup maupun benda mati, serta hukum-hukum alam yang berlaku. Mereka juga bertugas menjalankan takdir-Nya sesuai dengan ketetapan-Nya pada seluruh makhluk ini, serta melaksanakan kehendak-Nya Subhanahu dalam mengawasi dan mencatat segala hal yang terjadi di alam semesta berupa gerakan yang disengaja (iradiyah) maupun yang tidak disengaja (ghairu iradiyah).

Malaikat adalah makhluk yang diserahi tugas (al-muwakkalun) mengurus langit dan bumi, dan setiap pergerakan di alam semesta ini masuk ke dalam wilayah tugas mereka sesuai dengan apa yang dikehendaki oleh Sang Pencipta Tabaraka wa Ta'ala. Sebagaimana firman Allah Subhanahu: “Demi (malaikat) yang mengatur urusan.” (QS. An-Nazi'at: 5) , dan firman-Nya: “Demi (malaikat) yang membagi-bagi urusan.” (QS. Az-Zariyat: 4). Mereka itulah para malaikat menurut keyakinan ahli iman dan para pengikut rasul Alaihimus Salam.

Al-Kitab dan As-Sunah telah menunjukkan adanya bermacam-macam kelompok malaikat yang diserahi tugas mengurus berbagai jenis makhluk. Allah Subhanahu menugaskan malaikat untuk mengurus matahari dan bulan, malaikat untuk mengurus cakrawala/orbit bintang, malaikat untuk mengurus gunung-gunung, malaikat untuk mengurus awan, malaikat untuk mengurus hujan, serta malaikat untuk mengurus rahim yang bertugas mengatur fase-fase air mani hingga penciptaannya menjadi sempurna. Terdapat pula malaikat yang ditugaskan mengurus kematian, malaikat yang ditugaskan mendampingi setiap hamba untuk menjaga mereka, serta malaikat yang ditugaskan mengurus setiap makhluk, setiap kejadian, dan fenomena alam di semesta ini.

Hal ini sama sekali tidak bertentangan dengan adanya hukum-hukum alam (qawanin) dan sebab-akibat (asbab) yang saling berkaitan satu sama lain di alam semesta. Sebab, hukum alam dan sebab-akibat tersebut pada hakikatnya juga merupakan bagian dari makhluk-makhluk ciptaan Allah, di mana malaikat pun ditugaskan untuk mengurus dan menjaganya sebagaimana mereka menjaga makhluk-makhluk lainnya. Kalaulah bukan karena kehendak Allah dalam menjaga sebab dan hukum alam ini, serta ketentuan-Nya dalam menundukkan malaikat untuk memeliharanya, niscaya akal pun tidak akan mengharuskan hukum alam tersebut dapat bertahan dalam keteraturan dan keselarasan yang konsisten selama berabad-abad.

Adapun manusia, ia masuk ke dalam cakupan perawatan yang Allah tugaskan kepada malaikat tersebut melalui kehidupan alaminya (fithriyah), karena manusia adalah salah satu makhluk Allah di alam semesta ini. Bahkan, manusia adalah makhluk yang sengaja Allah tundukkan baginya segala apa yang ada di alam semesta ini seluruhnya. Sebagaimana firman-Nya Ta'ala: “Tidakkah kamu memperhatikan bahwa Allah telah menundukkan untukmu apa yang ada di langit dan apa yang ada di bumi...” (QS. Luqman: 20). Dengan demikian, penjagaan dan perawatan malaikat terhadap langit dan bumi beserta isinya merupakan bentuk perawatan bagi manusia, sekaligus bantuan baginya untuk dapat menunaikan hak kekhalifahan beserta tanggung jawabnya.

Di samping itu, malaikat memiliki tugas-tugas lain dalam kehidupan manusia yang bersifat pilihan (iradiyah). Tujuan dari tugas tersebut—sebagaimana yang digariskan oleh Allah untuk mereka—adalah untuk memberikan petunjuk kepada manusia, membahagiakan mereka, membantu mereka dalam beribadah kepada Allah, serta menolong mereka untuk memilih jalan hidayah dan kebaikan, sekaligus menjauhi keburukan, kerusakan, dan kesesatan. Malaikat adalah pihak yang dipilih oleh Tuhan semesta alam untuk menyampaikan petunjuk-Nya kepada penduduk bumi melalui perantara para rasul-Nya yang mulia. Malaikat yang dipilih untuk mengemban tugas krusial ini adalah Jibril Alaihis Salam. Allah Ta'ala berfirman: “Sesungguhnya ia (Al-Qur’an) benar-benar penurunan dari Tuhan semesta alam. Ia dibawa turun oleh Al-Ruh Al-Amin (Jibril), ke dalam hatimu (Muhammad) agar engkau menjadi salah seorang di antara para pemberi peringatan.” (QS. Asy-Syu'ara': 192-194).

Malaikat senantiasa menyertai manusia di sepanjang hidupnya. Seluruh kebersamaan mereka dengan manusia adalah demi kebahagiaan dan hidayah bagi manusia tersebut; mereka membisikkan kebenaran dan kebaikan ke dalam hati manusia serta mendorongnya untuk melakukan kedua hal tersebut. Al-Musthafa telah bersabda:

 إِنَّ لِلشَّيْطَانِ لَمَّةً بِابْنِ آدَمَ وَلِلْمَلَكِ لَمَّةً، فَأَمَّا لَمَّةُ الشَّيْطَانِ فَإِيعَاذٌ بِالشَّرِّ، وَتَكْذِيبٌ بِالْحَقِّ، وَأَمَّا لَمَّةُ الْمَلَكِ فَإِيعَاذٌ بِالْخَيْرِ وَتَصْدِيقٌ بِالْحَقِّ، فَمَنْ وَجَدَ مِنْ ذَلِكَ شَيْئًا فَلْيَعْلَمْ أَنَّهُ مِنَ اللَّهِ وَمَنْ وَجَدَ الْأُخْرَى فَلْيَتَعَوَّذْ مِنَ الشَّيْطَانِ

“Sesungguhnya setan memiliki bisikan [lintasan pikiran] pada diri anak cucu Adam, dan malaikat pun memiliki bisikan. Adapun bisikan setan adalah menjanjikan keburukan dan mendustakan kebenaran. Sedangkan bisikan malaikat adalah menjanjikan kebaikan dan membenarkan kebenaran. Barangsiapa yang mendapati hal tersebut [bisikan kebaikan], ketahuilah bahwa itu bersumber dari Allah. Dan barangsiapa yang mendapati yang lainnya [bisikan keburukan], hendaklah ia memohon perlindungan kepada Allah dari setan.” kemudian beliau membaca ayat: “Setan menjanjikan (menakut-nakuti) kamu dengan kemiskinan dan menyuruh kamu berbuat keji, sedangkan Allah menjanjikan ampunan dan karunia-Nya kepadamu. Allah Mahaluas lagi Maha Mengetahui.” (HR. At-Tirmidzi, ia menilai hadis ini hasan gharib, serta diriwayatkan pula oleh an-Nasa'i dan Ibnu Hibban dari Ibnu Mas'ud) .

Allah Azza wa Jalla juga mengabarkan kepada kita bahwa Dia menundukkan malaikat untuk mendoakan orang-orang mukmin dan memohonkan ampunan bagi mereka. Allah Subhanahu berfirman: “(Malaikat-malaikat) yang memikul 'Arsy dan yang berada di sekelilingnya bertasbih dengan memuji Tuhannya, mereka beriman kepada-Nya, dan memohonkan ampunan bagi orang-orang yang beriman (seraya berkata), “Wahai Tuhan kami, rahmat dan ilmu-Mu meliputi segala sesuatu, maka berilah ampunan kepada orang-orang yang bertobat dan mengikuti jalan-Mu serta jagalah mereka dari azab neraka Jahiim. Wahai Tuhan kami, masukkanlah mereka ke dalam surga 'Adn yang telah Engkau janjikan kepada mereka, dan orang yang saleh di antara nenek moyang mereka, istri-istri mereka, dan keturunan mereka. Sesungguhnya Engkaulah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana. Jagalah mereka dari (balasan) keburukan-keburukan. Orang yang Engkau jaga dari (balasan) keburukan-keburukan pada hari itu, sungguh telah Engkau beri rahmat kepadanya. Demikian itulah kemenangan yang agung.”” (QS. Gafir: 7-9). Rasulullah juga bersabda:

 مَا مِنْ يَوْمٍ يُصْبِحُ الْعِبَادُ فِيهِ إِلَّا مَلَكَانِ يَنْزِلَانِ فَيَقُولُ أَحَدُهُمَا: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُنْفِقًا خَلَفًا، وَيَقُولُ الْآخَرُ: اللَّهُمَّ أَعْطِ مُمْسِكًا تَلَفًا

“Tidak ada satu hari pun yang dilewati oleh para hamba di pagi hari melainkan ada dua malaikat yang turun, salah satunya berdoa: “Ya Allah, berikanlah ganti bagi orang yang berinfak.” Sedangkan malaikat yang satunya lagi berdoa: “Ya Allah, berikanlah kehancuran bagi orang yang menahan hartanya.””.

Malaikat pun memberikan dorongan bagi seorang hamba untuk menaati Tuhannya, beribadah kepada-Nya, menjadikan dirinya cinta terhadap zikir dan Al-Qur'an, memotivasi dirinya untuk menuntut ilmu dan berbuat kebaikan, serta menghadiri salat dan bacaan Al-Qur'annya. Mengenai hal tersebut, terdapat hadis-hadis yang sahih. Di antaranya adalah hadis yang dikeluarkan oleh al-Bukhari dan Muslim dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu bahwa Nabi bersabda:

 صَلَاةُ الرَّجُلِ فِي جَمَاعَةٍ تَزِيدُ عَلَى صَلَاتِهِ فِي بَيْتِهِ وَصَلَاتِهِ فِي سُوقِهِ بِضْعًا وَعِشْرِينَ دَرَجَةً، وَذَلِكَ أَنَّ أَحَدَهُمْ إِذَا تَوَضَّأَ فَأَحْسَنَ الْوُضُوءَ ثُمَّ أَتَى الْمَسْجِدَ، لَا يَنْهَزُهُ إِلَّا الصَّلَاةُ، لَا يُرِيدُ إِلَّا الصَّلَاةَ، لَمْ يَخْطُ خَطْوَةً، إِلَّا رُفِعَ لَهُ بِهَا دَرَجَةٌ وَحُطَّ عَنْهُ بِهَا خَطِيئَةٌ، حَتَّى يَدْخُلَ الْمَسْجِدَ، فَإِذَا دَخَلَ الْمَسْجِدَ كَانَ فِي الصَّلَاةِ مَا كَانَتِ الصَّلَاةُ تَحْبِسُهُ، وَالْمَلَائِكَةُ يُصَلُّونَ عَلَى أَحَدِكُمْ مَا دَامَ فِي مَجْلِسِهِ الَّذِي صَلَّى فِيهِ، ثُمَّ يَقُولُونَ: اللَّهُمَّ ارْحَمْهُ، اللَّهُمَّ اغْفِرْ لَهُ، اللَّهُمَّ تُبْ عَلَيْهِ، مَا لَمْ يُؤْذِ فِيهِ، مَا لَمْ يُحْدِثْ فِيهِ

“Salat seorang laki-laki secara berjemaah melampaui salatnya di rumahnya atau di pasarnya sebanyak dua puluh sekian derajat. Hal itu karena apabila salah seorang di antara mereka berwudu lalu membaguskan wudunya kemudian mendatangi masjid, di mana tidak ada yang menggerakkannya keluar kecuali salat, dan ia tidak menginginkan kecuali salat, maka tidak ada satu langkah kaki pun yang ia ayunkan melainkan akan ditinggikan baginya satu derajat dan dihapuskan darinya satu kesalahan, hingga ia masuk ke dalam masjid. Apabila ia telah masuk ke dalam masjid, maka ia dihitung berada dalam keadaan salat selama salat tersebut menahannya [untuk pulang], dan para malaikat senantiasa berselawat [mendoakan] salah seorang di antara kalian selama ia berada di tempat duduk yang ia gunakan untuk salat, seraya mereka berdoa: “Ya Allah, sayangilah dia. Ya Allah, ampunilah dia. Ya Allah, terimalah tobatnya.” Selama ia belum berbuat syirik/menyakiti orang lain di tempat tersebut, dan selama belum berhadas di situ.” (Muttafaq 'Alaih) .

Diriwayatkan dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi :

 الْمَلَائِكَةُ يَتَعَاقَبُونَ، مَلَائِكَةٌ بِاللَّيْلِ، وَمَلَائِكَةٌ بِالنَّهَارِ، وَيَجْتَمِعُونَ فِي صَلَاةِ الْفَجْرِ وَفِي صَلَاةِ الْعَصْرِ، ثُمَّ يَعْرُجُ إِلَيْهِ الَّذِينَ بَاتُوا فِيكُمْ، فَيَسْأَلُهُمْ وَهُوَ أَعْلَمُ: كَيْفَ تَرَكْتُمْ عِبَادِي؟ فَقَالُوا: تَرَكْنَاهُمْ يُصَلُّونَ وَأَتَيْنَاهُمْ يُصَلُّونَ

“Malaikat-malaikat silih berganti mendatangi kalian; ada malaikat malam dan ada malaikat siang. Mereka berkumpul pada waktu salat Fajar [Subuh] dan salat Asar. Kemudian naiklah malaikat yang telah bermalam bersama kalian kepada Allah, lalu Allah bertanya kepada mereka padahal Dia lebih mengetahui keadaan para hamba-Nya: “Dalam keadaan bagaimana kalian tinggalkan hamba-hamba-Ku?” Malaikat menjawab: “Kami meninggalkan mereka dalam keadaan sedang salat, dan kami mendatangi mereka pun dalam keadaan sedang salat.”” (Muttafaq 'Alaih, dan lafaz ini milik Imam Muslim) .

Mengenai kehadiran mereka di majelis-majelis zikir, Rasulullah bersabda:

 إِنَّ لِلَّهِ مَلَائِكَةً يَطُوفُونَ فِي الطُّرُقِ، يَلْتَمِسُونَ أَهْلَ الذِّكْرِ، فَإِذَا وَجَدُوا قَوْمًا يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَنَادَوْا: هَلُمُّوا إِلَى حَاجَتِكُمْ، قَالَ فَيَحُفُّونَهُمْ بِأَجْنِحَتِهِمْ إِلَى السَّمَاءِ الدُّنْيَا، قَالَ: فَيَسْأَلُهُمْ رَبُّهُمْ عَزَّ وَجَلَّ وَهُوَ أَعْلَمُ بِهِمْ: مَا يَقُولُ عِبَادِي؟ قَالَ: تَقُولُ: يُسَبِّحُونَكَ وَيُكَبِّرُونَكَ وَيَحْمَدُونَكَ قَالَ: فَيَقُولُ: هَلْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: فَيَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ مَا رَأَوْكَ. قَالَ: فَيَقُولُ: كَيْفَ لَوْ رَأَوْنِي؟ قَالَ: يَقُولُونَ لَوْ رَأَوْكَ كَانُوا أَشَدَّ لَكَ عِبَادَةً وَأَشَدَّ لَكَ تَمْجِيدًا وَأَكْثَرَ لَكَ تَسْبِيحًا. قَالَ: يَقُولُ: فَمَا يَسْأَلُونِي؟ قَالَ: فَيَقُولُونَ: يَسْأَلُونَكَ الْجَنَّةَ، قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا قَالَ: فَيَقُولُونَ: فَكَيْفَ لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ أَنَّهُمْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ عَلَيْهَا حِرْصًا وَأَشَدَّ لَهَا طَلَبًا وَأَعْظَمَ فِيهَا رَغْبَةً قَالَ: فَمِمَّ يَتَعَوَّذُونَ؟ قَالَ: يَقُولُونَ: مِنَ النَّارِ قَالَ: يَقُولُ: وَهَلْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَا وَاللَّهِ يَا رَبِّ مَا رَأَوْهَا. قَالَ: يَقُولُ: فَكَيْفَ لَوْ رَأَوْهَا؟ قَالَ: يَقُولُونَ: لَوْ رَأَوْهَا كَانُوا أَشَدَّ مِنْهَا فِرَارًا وَأَشَدَّ لَهَا مَخَافَةً، قَالَ: فَيَقُولُ فَأُشْهِدُكُمْ أَنِّي قَدْ غَفَرْتُ لَهُمْ قَالَ: يَقُولُ مَلَكٌ مِنَ الْمَلَائِكَةِ فِيهِمْ فُلَانٌ لَيْسَ مِنْهُمْ، إِنَّمَا جَاءَ لِحَاجَةٍ، قَالَ: هُمُ الْجُلَسَاءُ لَا يَشْقَى جَلِيسُهُمْ

“Sesungguhnya Allah memiliki malaikat-malaikat yang berkeliling di jalan-jalan mencari ahli zikir. Apabila mereka mendatangi suatu kaum yang mengingat Allah, mereka saling berseru: “Kemarilah menuju apa yang kalian cari!” Beliau bersabda: “Lalu malaikat-malaikat tersebut menaungi mereka dengan sayap-sayapnya hingga ke langit dunia.” Beliau bersabda: “Kemudian Tuhan mereka Azza wa Jalla bertanya kepada mereka padahal Dia lebih mengetahui tentang mereka: “Apa yang diucapkan oleh hamba-hamba-Ku?” Malaikat menjawab: “Mereka menyucikan-Mu (tasbih), mengagungkan-Mu (takbir), dan memuji-Mu (tahmid).” Allah bertanya: “Apakah mereka melihat-Ku?” Malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah, mereka tidak melihat-Mu.” Allah bertanya: “Bagaimana sekiranya mereka melihat-Ku?” Malaikat menjawab: “Sekiranya mereka melihat-Mu, niscaya mereka akan lebih bersungguh-sungguh dalam beribadah kepada-Mu, lebih mengagungkan-Mu, dan lebih banyak menyucikan-Mu.” Beliau bersabda: “Allah bertanya: “Lalu apa yang mereka minta kepada-Ku?” Malaikat menjawab: “Mereka meminta surga kepada-Mu.” Allah bertanya: “Apakah mereka sudah melihatnya?” Malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah, wahai Tuhan kami, mereka belum melihatnya.” Allah bertanya: “Bagaimana sekiranya mereka melihatnya?” Malaikat menjawab: “Sekiranya mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih tamak terhadapnya, lebih kuat mencarinya, dan lebih besar hasratnya kepada surga tersebut.” Allah bertanya: “Dari hal apa mereka memohon perlindungan?” Malaikat menjawab: “Dari api neraka.” Allah bertanya: “Apakah mereka sudah melihatnya?” Malaikat menjawab: “Tidak, demi Allah, wahai Tuhan kami, mereka belum melihatnya.” Allah bertanya: “Bagaimana sekiranya mereka melihatnya?” Malaikat menjawab: “Sekiranya mereka melihatnya, niscaya mereka akan lebih kuat lari darinya dan lebih besar rasa takutnya terhadap neraka tersebut.” Beliau bersabda: “Allah berfirman: “Maka Aku persaksikan kepada kalian bahwa Aku telah mengampuni mereka.” Beliau bersabda: “Salah satu malaikat berkata: “Di antara mereka ada si Fulan, ia bukan bagian dari mereka, sesungguhnya ia datang hanya karena ada suatu keperluan.” Allah berfirman: “Mereka adalah orang-orang yang duduk bersama, di mana tidak akan sengsara orang yang duduk bersama mereka.”” (Muttafaq 'Alaih, dan lafaz ini milik al-Bukhari) .

Mengenai dorongan mereka bagi para penuntut ilmu, Rasulullah bersabda:

 مَا مِنْ خَارِجٍ خَرَجَ مِنْ بَيْتِهِ فِي طَلَبِ الْعِلْمِ إِلَّا وَضَعَتْ لَهُ الْمَلَائِكَةُ أَجْنِحَتَهَا رِضًا بِمَا يَصْنَعُ

“Tidak ada seorang pun yang keluar dari rumahnya dalam rangka menuntut ilmu melainkan malaikat akan meletakkan sayap-sayapnya untuknya karena rida terhadap apa yang ia lakukan.” (HR. At-Tirmidzi dan ia mensahihkannya, Ibnu Majah—dan lafaz ini miliknya—serta Ibnu Hibban di dalam kitab Shahihnya, dan al-Hakam yang mengatakan sanadnya sahih) .

Mereka pun meneguhkan hati seorang hamba di atas amal saleh, khususnya saat berjihad di jalan Allah Ta'ala. Sebagaimana firman Allah Azza wa Jalla: “(Ingatlah) ketika Tuhanmu mewahyukan kepada para malaikat, “Sesungguhnya Aku bersamamu, maka teguhkanlah (hati) orang-orang yang telah beriman.” Kelak akan Aku jatuhkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir. Maka, tebaslah bagian atas leher mereka dan potonglah tiap-tiap ujung jari mereka.” (QS. Al-Anfal: 12).

Di antara tugas mereka yang dikabarkan oleh Tuhan semesta alam kepada kita—di mana hal ini memiliki pengaruh yang amat besar dalam meluruskan kehidupan para hamba dan menjaga mereka dari perbuatan maksiat serta keburukan—adalah tugas yang diserahkan kepada mereka untuk mengawasi amal perbuatan para hamba dan mencatatnya setelah menghitungnya secara saksama. Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman: “Sungguh, Kami benar-benar telah menciptakan manusia dan mengetahui apa yang dibisikkan oleh hatinya. Kami lebih dekat kepadanya daripada urat lehernya. (Ingatlah) ketika dua malaikat mencatat (perbuatannya), yang satu duduk di sebelah kanan dan yang lain di sebelah kiri. Tidak ada suatu kata pun yang terucap melainkan di sisinya ada (malaikat) pengawas yang selalu siap.” (QS. Qaf: 16-18).

Allah berfirman pula: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas, yang mulia (di sisi Allah), dan yang mencatat (perbuatanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infitar: 10-12). Dan Dia berfirman: “Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Jelas (mendengar) dan utusan-utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80).

Sebagai penutup pembahasan mengenai hubungan malaikat dengan manusia, serta pengaruh mereka terhadap amal perbuatan manusia baik yang disengaja maupun yang tidak disengaja, kami ketengahkan penuturan yang komprehensif dari Ibnu Qayyim al-Jauziyyah Rahimahullah mengenai tema ini. Beliau menyatakan di dalam kitabnya (Ighatsah al-Lahfan min Masha'id al-Syaitan):

“Malaikat yang ditugaskan mendampingi manusia sejak ia berwujud air mani hingga akhir urusannya, memiliki keterkaitan tugas yang mendalam dengan manusia tersebut. Mereka diserahi tugas untuk membentuknya, memindahkannya dari satu fase ke fase berikutnya, membentuk rupa fisiknya, menjaganya di dalam tiga lapisan kegelapan, mencatat rezekinya, amal perbuatannya, ajalnya, apakah ia termasuk orang yang sengsara atau bahagia. Mereka senantiasa menyertainya dalam segala keadaan, menghitung ucapan dan perbuatannya, menjaganya selama hidupnya, mencabut ruhnya ketika ia wafat , lalu menghadapkan ruh tersebut kepada Pencipta dan Pembuatnya. Mereka pula yang ditugaskan untuk mengurus azab dan nikmatnya di alam barzakh serta setelah hari kebangkitan. Mereka ditugaskan membuat sarana nikmat dan sarana azab. Mereka adalah pihak yang meneguhkan hamba yang mukmin dengan izin Allah, mengajarkan hal-hal yang bermanfaat baginya, serta ikut berperang membelanya; mereka adalah penolongnya di dunia dan di akhirat. Mereka menjanjikan kebaikan kepadanya, mengajaknya menuju kebaikan tersebut , melarangnya dari keburukan serta memperingatkannya dari bahaya keburukan itu. Mereka adalah pelindungnya, penolongnya, penjaganya, gurunya, pemberi nasihat untuknya, yang berdoa untuknya , serta yang memohonkan ampunan baginya. Mereka senantiasa berselawat mendoakannya selama ia berada dalam ketaatan kepada Tuhannya, dan selama ia mengajarkan kebaikan kepada manusia. Mereka memberikan kabar gembira kepadanya berupa kemuliaan dari Allah di dalam tidurnya, di saat kematiannya, dan pada hari ia dibangkitkan. Mereka yang menjadikannya zuhud terhadap dunia dan membuatnya cinta terhadap akhirat. Mereka yang mengingatkannya apabila ia lupa, menggelorakan semangatnya jika ia malas, dan meneguhkannya tatkala ia berkeluh kesah. Mereka senantiasa mengusahakan kemaslahatan dunia dan akhiratnya; mereka adalah utusan-utusan Allah bagi makhluk dan urusan-Nya, serta duta-duta pemisah antara Allah dengan hamba-hamba-Nya, turun membawa perintah dari sisi-Nya ke segenap penjuru alam, lalu naik kembali kepada-Nya membawa urusan tersebut.” (Lihat: Ighatsah al-Lahfan min Masha'id al-Syaitan, Juz 2, hlm. 125-126) .

Jumlah Malaikat:

Jumlah mereka sangatlah banyak, tidak ada yang dapat menghitung jumlah mereka melainkan hanya Allah semata. Allah Ta'ala berfirman: “Kami tidak menjadikan penjaga neraka itu, melainkan malaikat dan Kami tidak menentukan bilangan mereka, melainkan sebagai cobaan bagi orang-orang kafir agar orang-orang yang diberi Al-Kitab menjadi yakin, orang-orang yang beriman bertambah imannya, orang-orang yang diberi Al-Kitab dan orang-orang mukmin itu tidak ragu-ragu, dan agar orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit dan orang-orang kafir berkata, “Apakah yang dikehendaki Allah dengan (bilangan) ini sebagai perumpamaan?” Demikianlah Allah membiarkan sesat siapa yang Dia kehendaki dan memberi petunjuk kepada siapa yang Dia kehendaki. Tidak ada yang mengetahui bala tentara Tuhanmu, kecuali Dia sendiri. Dan (neraka Saqar) itu tidak lain hanyalah peringatan bagi manusia.” (QS. Al-Mudassir: 31).

Imam at-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan al-Bazzar telah mengeluarkan riwayat dari hadis Abu Dzar secara marfu': “Langit merintih dan layak baginya untuk merintih, karena tidak ada satu ruang seukuran empat jari melainkan di situ ada malaikat yang sedang bersujud.”. Di dalam hadis Mikraj, Rasulullah bersabda: “Lalu ditampakkan Baitulmakmur kepadaku, maka aku bertanya kepada Jibril, lalu ia menjawab: “Ini adalah Baitulmakmur, di mana setiap harinya ada tujuh puluh ribu malaikat yang mendirikan salat di dalamnya...”” (HR. al-Bukhari dan Muslim) .

Beriman kepada Malaikat Secara Terperinci (Tafsili) dan Garis Besar (Ijmali):

Wajib hukumnya beriman secara terperinci kepada malaikat-malaikat yang namanya disebutkan di dalam Al-Qur'an maupun As-Sunah. Di antara mereka adalah tiga pemimpin utama malaikat: Jibril, Mikail, dan Israfil. Jibril adalah malaikat yang diserahi tugas mengurus wahyu, di mana wahyu tersebut merupakan sumber kehidupan bagi hati dan ruh. Keterangan mengenai dirinya dan Mikail telah termaktub di dalam Al-Qur'anul Karim.

Allah Ta'ala berfirman: “Katakanlah (Muhammad), “Barangsiapa menjadi musuh Jibril, sesungguhnya dialah yang telah menurunkan (Al-Qur’an) ke dalam hatimu dengan izin Allah sebagai pembenar bagi apa (kitab-kitab) yang terdahulu, serta menjadi petunjuk dan kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.” Barangsiapa menjadi musuh Allah, malaikat-malaikat-Nya, rasul-rasul-Nya, Jibril, dan Mikail, sesungguhnya Allah adalah musuh bagi orang-orang kafir.” (QS. Al-Baqarah: 97-98).

Allah Subhanahu telah memuji Jibril di dalam Al-Qur'an dengan pujian yang terbaik, serta menyifatinya dengan sifat-sifat yang paling indah. Sebagaimana firman-Nya Ta'ala: “Aku bersumpah demi bintang-bintang (yang beredar), yang berjalan surut dan terbenam, demi malam apabila telah larut, dan demi subuh apabila (fajarnya) mulai menyingsing, sesungguhnya (Al-Qur’an) itu benar-benar firman (Allah yang dibawa oleh) utusan yang mulia (Jibril), yang memiliki kekuatan, memiliki kedudukan tinggi di sisi (Allah) yang memiliki ‘Arsy, yang ditaati di sana (di alam malaikat) lagi dipercaya.” (QS. At-Takwir: 15-21). Allah Ta'ala juga berfirman saat menyifati dirinya: “Yang diajarkan kepadanya oleh (Jibril) yang sangat kuat, yang mempunyai keteguhan ; maka ia (Jibril) menampakkan diri dengan rupa yang asli.” (QS. An-Najm: 5-6).

Adapun Mikail, ia adalah malaikat yang ditugaskan mengurus tetesan hujan, yang dengannya bumi, tumbuh-tumbuhan, dan binatang dapat hidup. Sementara Israfil adalah malaikat yang ditugaskan meniup sangkakala, yang dengannya makhluk hidup kembali setelah kematian mereka.

Di antara malaikat yang disebutkan namanya di dalam Al-Qur'an adalah Malik, sang penjaga neraka. Allah Ta'ala berfirman: “Mereka berseru, “Wahai (Malaikat) Malik, biarlah Tuhanmu mematikan kami saja.”...” (QS. Az-Zukhruf: 77). Keterangan mengenai dirinya juga terdapat di dalam hadis yang sahih (HR. al-Bukhari) .

Maka, terhadap mereka ini beserta malaikat lain yang namanya valid disebutkan di dalam hadis-hadis yang sahih, kita wajib mengimani nama mereka beserta fungsi tugas dan amal perbuatan yang disangkutkan kepada mereka. Adapun malaikat yang tidak disebutkan namanya secara spesifik, kita wajib mengimaninya secara garis besar (ijmali), serta mengimani kelompok-kelompok beserta amal perbuatan mereka yang disebutkan di dalam Al-Qur'an dan Sunah. Kita mengimani adanya Al-Kiram al-Katibin [malaikat pencatat yang mulia] yang Allah jadikan sebagai pengawas atas diri kita. Sebagaimana firman-Nya Ta'ala: “Padahal sesungguhnya bagi kamu ada (malaikat-malaikat) pengawas, yang mulia (di sisi Allah), dan yang mencatat (perbuatanmu). Mereka mengetahui apa yang kamu kerjakan.” (QS. Al-Infitar: 10-12).

Sebagaimana firman-Nya pula: “Bagi manusia ada (malaikat-malaikat) yang selalu menyertainya berurutan, di depan dan di belakangnya. Mereka menjaganya atas perintah Allah...” (QS. Er-Ra'd: 11) , dan firman-Nya: “Apakah mereka mengira bahwa Kami tidak mendengar rahasia dan bisikan-bisikan mereka? Jelas (mendengar) dan utusan-utusan Kami (malaikat) selalu mencatat di sisi mereka.” (QS. Az-Zukhruf: 80).

Terdapat keterangan di dalam beberapa kitab tafsir bahwa malaikat pencatat amal tersebut berjumlah dua malaikat yang berada di sebelah kanan dan sebelah kiri. Malaikat di sebelah kanan mencatat amal kebaikan, sedangkan malaikat di sebelah kiri mencatat amal keburukan. Ada pula dua malaikat lain yang bertugas menjaga dan melindunginya; satu berada di depannya dan satu lagi berada di belakangnya. Dengan demikian, manusia berada di antara empat malaikat.

Imam Muslim dan Imam Ahmad meriwayatkan dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

مَا مِنْكُمْ مِنْ أَحَدٍ إِلَّا وَقَدْ وُكِّلَ بِهِ قَرِينُهُ مِنَ الْجِنِّ وَقَرِينُهُ مِنَ الْمَلَائِكَةِ قَالُوا: وَإِيَّاكَ يَا رَسُولَ اللَّهِ؟ قَالَ: وَإِيَّايَ لَكِنَّ اللَّهَ أَعَانَنِي عَلَيْهِ، فَأَسْلَمَ، فَلَا يَأْمُرُنِي إِلَّا بِخَيْرٍ

“Tidak ada seorang pun di antara kalian melainkan telah ditugaskan bersamanya seorang qarin (pendamping) dari golongan jin dan seorang qarin dari golongan malaikat.” Para sahabat bertanya: “Apakah termasuk engkau juga, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab: “Termasuk aku juga, akan tetapi Allah menolongku melawannya sehingga ia berserah diri [tunduk] , maka ia tidak memerintahkan kepadaku kecuali kebaikan.” (HR. Muslim) .

Kita pun mengimani adanya Malaikat Maut yang ditugaskan untuk mencabut ruh makhluk di alam semesta. Allah Ta'ala berfirman: “Katakanlah, “Malaikat maut yang diserahi tugas untuk (mencabut nyawa)mu akan mematikanmu, kemudian hanya kepada Tuhanmu kamu akan dikembalikan.”” (QS. As-Sajdah: 11). Al-Qur'an tidak menegaskan namanya secara eksplisit, demikian pula hadis-hadis yang sahih. Namun terdapat penamaan di dalam beberapa riwayat atsar dengan nama Izrail. Hanya Allah yang lebih mengetahui hakikatnya.

Kita mengimani adanya malaikat pemikul 'Arsy (Hamalah al-'Arsy) yang dikabarkan oleh Allah di dalam Al-Qur'an melalui firman-Nya: “...Dan pada hari itu delapan malaikat menjunjung ‘Arsy Tuhanmu di atas (kepala) mereka.” (QS. Al-Haqqah: 17). Di antara mereka adalah Israfil yang bertugas meniup sangkakala.

Kita juga mengimani adanya malaikat-malaikat yang ditugaskan mengurus neraka—semoga Allah melindungi kita darinya—yaitu malaikat Zabaniyah, yang dipimpin oleh sembilan belas malaikat. Allah Ta'ala berfirman: “Orang-orang yang ada di dalam neraka berkata kepada penjaga-penjaga neraka Jahanam, “Mohonkanlah kepada Tuhanmu agar Dia meringankan azab dari kami sehari saja.”” (QS. Gafir: 49). Allah berfirman pula: “...di atasnya ada malaikat-malaikat yang kasar lagi keras, yang tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang Dia perintahkan kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS. At-Tahrim: 6). Serta firman-Nya: “Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga). Kami tidak menjadikan penjaga neraka itu, melainkan malaikat...” (QS. Al-Mudassir: 30-31).

Kita pun mengimani adanya malaikat yang ditugaskan mengurus surga, yang bertugas mempersiapkan jamuan bagi para penghuninya, baik berupa pakaian, makanan, minuman, istana, serta sarana lainnya yang belum pernah dilihat oleh mata, belum pernah didengar oleh telinga, dan belum pernah terlintas di dalam hati manusia.

Pengaruh Beriman kepada Malaikat dalam Kehidupan Manusia:

Telah dijelaskan sebelumnya bahwa Allah Subhanahu tidak memperlihatkan sedikit pun dari perkara gaib-Nya melainkan di dalamnya terkandung nikmat yang amat besar bagi makhluk. Di antara bentuk karunia Allah Jalla wa Ala kepada kita adalah Dia memperkenalkan makhluk-makhluk yang mulia ini kepada kita, di mana beriman kepada mereka merupakan bagian dari beriman kepada perkara gaib yang menjadi sifat bagi orang-orang yang bertakwa. Allah Ta'ala berfirman: “Alif Lām Mīm. Kitab (Al-Qur’an) ini tidak ada keraguan di dalamnya; (ia merupakan) petunjuk bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang beriman pada hal yang gaib, menegakkan salat, dan menginfakkan sebagian rezeki yang Kami anugerahkan kepada mereka.” (QS. Al-Baqarah: 1-3).

Beriman kepada malaikat memiliki pengaruh yang sangat agung dalam kehidupan seorang mukmin:

Pertama: Melalui pengetahuan yang Allah perlihatkan kepada kita mengenai urusan dan aktivitas ruh-ruh mukmin ini, Allah menghindarkan kita dari terjerumus ke dalam khurafat (mitos) dan khayalan palsu (al-auham). Khayalan tersebut sering kali menimpa orang-orang yang tidak beriman kepada perkara gaib serta tidak menerima pengetahuan mereka dari sumber wahyu Ilahi.

Kedua: Istikamah di atas perintah Allah Azza wa Jalla. Sesungguhnya orang yang merasakan di dalam hatinya akan keberadaan malaikat sebagai bala tentara Ar-Rahman, serta mengimani pengawasan mereka terhadap amal perbuatan dan ucapannya, berikut kesaksian mereka atas setiap hal yang keluar dari dirinya, niscaya ia akan merasa malu kepada Allah dan kepada bala tentara-Nya. Ia tidak akan menyelisihi perintah-Nya dan tidak akan bermaksiat kepada-Nya, baik dalam keadaan terang-terangan maupun sembunyi-sembunyi. Bagaimana mungkin ia berani melakukannya, sementara ia mengetahui bahwa segala sesuatu dihitung, dicatat, dan disaksikan atas dirinya?

Ketiga: Memiliki kesabaran, kelangsungan dalam berjihad di jalan Allah Ta'ala, tidak berputus asa, serta merasakan kehangatan (al-uns) dan ketenteraman. Nilai-nilai mulia ini merupakan konsekuensi logis dari beriman kepada malaikat beserta apa yang dikabarkan oleh Allah mengenai tugas dan keadaan mereka. Ketika kafilah manusia tersesat dari jalan yang benar, ketika kejahiliahan yang pekat merajalela, dan ketika seorang mukmin merasa terasing di tanah airnya sendiri, di tengah keluarga serta kaumnya, mendapati penolakan, olok-olok, pelemahan semangat, dan hambatan dari mereka untuk menaati Allah serta beristiqamah di atas perintah-Nya ; di tengah keterasingan inilah seorang mukmin menemukan sosok pelipur lara dan teman karib yang menyertai, mendampingi, menghibur, membuat dirinya sabar, tenteram, serta mendorongnya untuk terus melanjutkan perjalanan di atas jalan hidayah.

Sebab, bala tentara Allah ini senantiasa bersamanya; mereka beribadah kepada Allah sebagaimana ia beribadah, menghadap kepada Pencipta langit dan bumi sebagaimana ia menghadap, memberkahi langkah-langkahnya, menguatkan kedudukannya, dan mengingatkan kebaikannya di sisi Tuhannya. Dengan demikian, ia tidak sendirian di jalan menuju Allah, melainkan berjalan bersama kafilah yang agung dan bersama mayoritas makhluk Allah Azza wa Jalla ; berjalan bersama para malaikat yang mulia, para nabi Alaihimus Salam, serta bersama langit dan bumi. Mukmin tersebut menjadi pihak yang paling banyak temannya dan paling kuat sandarannya. Perasaan yang jujur ini menjadikannya penyabar lagi tenteram, di mana penolakan manusia tidak menambah apa pun baginya melainkan keteguhan dan perjuangan.

Maka perhatikanlah, wahai saudaraku, betapa besar nikmat yang Allah anugerahkan kepada kita dengan menciptakan malaikat, dan betapa besar nikmat-Nya dengan mewajibkan iman kepada mereka, di mana hal tersebut memberikan pengaruh yang sangat kuat di dalam hati kita, amal perbuatan kita, serta kelurusan hidup kita. Beriman kepada mereka merupakan bentuk pembenaran terhadap Al-Qur'an Allah serta rasul-Nya yang jujur lagi terpercaya, semoga selawat yang paling utama dan salam yang paling sempurna senantiasa tercurah kepadanya.

Catatan Kaki (Footnote) / Penjelasan Istilah Teknis:

  • Al-alukah [الألوكة]: Secara etimologis dalam bahasa Arab kuno bermakna risalah atau pesan yang dikirimkan. Oleh karena itu, malaikat dinamakan demikian karena mereka mengemban risalah atau tugas-tugas ketuhanan dari Allah menuju makhluk-Nya.
  • Lammah [اللمة]: Bermakna ketukan, lintasan pikiran, atau kecenderungan kuat yang singgah di dalam hati. Teks asli membedakan antara lammah al-malak yang berupa ilham kebaikan, dengan lammah al-syaitan yang berupa waswas keburukan.
  • As-Safar [السفر] / Duta: Teks menyebutkan malaikat sebagai sufara' (bentuk jamak dari safir), yang berarti duta atau perantara yang mendamaikan dan menghubungkan perintah Sang Pencipta kepada para hamba-Nya.
  • Atsar [الآثار]: Istilah dalam ilmu hadis untuk merujuk pada riwayat-riwayat yang disandarkan kepada para sahabat Nabi (radhiyallahu 'anhum) atau generasi tabiin, bukan langsung dari lisan Rasulullah .

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat