Berlomba Melakukan Kebaikan
[Bersegera dalam Kebaikan (Al-Musāra‘ah fi al-Khairāt)]
[Definisi
Bersegera (Al-Musāra‘ah) secara Bahasa:]
merupakan
bentuk masdar dari ungkapan kita: sāra‘a fulānun ilā kadzā (si Fulan
bersegera menuju sesuatu). Kata ini diambil dari akar kata (s-r-‘) yang
menunjukkan makna kebalikan dari lambat (al-but’). Di antara
penggunaannya dalam bahasa Arab adalah ungkapan: Li sur‘āna mā shana‘ta
kadzā, artinya alangkah cepatnya apa yang telah engkau lakukan. Adapun kata
as-sara‘ pada pohon anggur merujuk kepada bagian yang paling cepat
tumbuh darinya. [Maqāyīs al-Lughah karya Ibn Faris (3/153).]
Al-Jauhari
berkata: Dikatakan saru‘a – sar‘an (lambat/cepat) sebagaimana shaghura
– shighran (kecil), maka ia adalah sarī‘ (yang cepat). Ungkapan
mereka: sur‘āna dzā khurūjan (alangkah cepatnya ia keluar), memiliki
tiga dialek pelafalan (lughāt), yaitu sur‘āna, sar‘āna,
dan sir‘āna, yang bermakna alangkah cepatnya ia keluar. Dan dikatakan asra‘a
al-qaumu apabila hewan tunggangan mereka berjalan dengan cepat. [Ash-Shiḥāḥ karya Al-Jauhari
(3/1228).]
Al-Fairuzabadi
berkata: Al-Sur‘ah (kecepatan) adalah lawan dari al-but’
(kelambatan). Kata ini digunakan pada benda fisik (al-ajsām) maupun
perbuatan (al-af‘āl). Dikatakan: saru‘a maka ia sarī‘, dan
asra‘a maka ia musri‘. Sebagaimana dikatakan: sairun sarī‘un
(perjalanan yang cepat) dan farasun sarī‘un (kuda yang cepat). Bentuk
masdar dari saru‘a adalah al-sur‘ah, as-sarā‘ah, dan as-sar‘
[Ibn Mandzhur menambahkan tiga bentuk masdar lainnya, yaitu: as-sar‘u,
as-sur‘u, dan as-sir‘u, lihat Al-Lisān (8/151).]. Kalimat sāra‘a
ilā al-khairi dan tasāra‘a bermakna sama [Bashā’ir Dzawī
at-Tamyīz (3/214).]. Allah Ta'ala berfirman:
"Mereka
itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih
dahulu memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 61)
|
Ayat |
Hadis |
Atsar |
|
18 |
20 |
28 |
Makna
yusāri‘ūna yaitu mereka berlomba-lomba mendahului orang yang mengajak
mereka berlomba menuju kebaikan tersebut [Ungkapan ini memberikan pemahaman
bahwa bentuk al-mufā‘alah di sini sesuai dengan kaidah asalnya, yaitu
menunjukkan adanya persekutuan/saling berlomba (al-musyārakah).]. Dalam
riwayat bacaan lain (qirā’ah) dibaca yusri‘ūna fī al-khairāt,
artinya mereka menjadi orang-orang yang cepat menuju kebaikan. Adapun kata sābiqūn
dalam ayat yang mulia tersebut, Al-Qurthubi menyebutkan bahwa yang dimaksud
adalah mendahului menuju waktu-waktunya (waktu pelaksanaan kebaikan). Setiap
orang yang mendahului dalam suatu hal, maka ia adalah sābiq (orang yang
mendahului) menuju hal tersebut, dan barang siapa yang terlambat darinya, maka
hal itu telah mendahuluinya dan luput darinya. Oleh karena itu, huruf lām
pada kata lahā bermakna ilā (menuju), sebagaimana terdapat dalam
firman Allah 'Azza wa Jalla: "Bahuwa bi-anna rabbaka awḥā lahā" (QS.
Az-Zalzalah: 5), yaitu ilāhā (kepadanya). [Tafsīr Al-Qurṭubī (12/133) dengan
sedikit penyesuaian]
Kata
sur‘ānu an-nās bermakna: barisan paling awal dari manusia yang bersegera
menuju sesuatu dan menyambutnya dengan cepat. Huruf rā’ pada kata
tersebut boleh dibaca sukun (sur‘n). Kata al-masārī‘ adalah
bentuk jamak dari misrā‘, yaitu orang yang sangat cepat dalam segala
urusan, dan ini termasuk bentuk kata hiperbola (abniyat al-mubālaghah). [Lihat
An-Nihāyah karya Ibn Al-Atsir (2/361).] Adapun al-mutasarri‘
adalah orang yang bersegera menuju keburukan, dikatakan: tasarra‘a ilā
asy-syarr. Sedangkan al-musri‘ adalah orang yang cepat menuju
kebaikan atau keburukan. Ungkapan sāra‘a ilā al-amr sama seperti asra‘a
ilaih. Demikian pula sāra‘a ilā kadzā dan tasarra‘a ilaih
memiliki makna yang sama [Penulis kitab Al-Lisān mengisyaratkan dengan
ungkapan ini bahwa kata tasarra‘a digunakan dengan arti bersegera menuju
suatu perkara secara mutlak, baik perkara itu berupa kebaikan maupun keburukan.].
Adapun al-masāra‘ah ilā asy-syai’ bermakna bergegas/meprakarsai (al-mubādarah)
menuju sesuatu tersebut [Lisān al-‘Arab (8/151) cet. Beirut]. Perbedaan
antara as-sur‘ah dan al-isrā‘ adalah bahwa al-isrā‘ di
dalamnya upaya (thalab) dan pemaksaan diri (takalluf). Sedangkan as-sur‘ah
(kecepatan dasar) seolah-olah merupakan perangai bawaan (gharīzah).
Dikatakan: asra‘a (dia mempercepat), artinya dia mengupayakan hal itu
dari dirinya dan memaksakannya, seolah-olah dia mempercepat jalannya (asra‘a
al-maysya), yaitu menyegerakannya. Adapun ungkapan saru‘a fulānun
(si Fulan cepat), maka maknanya adalah bahwa kecepatan tersebut telah menjadi
sifat pembawaan (thaba‘) dan karakter (sajiyyah) pada dirinya [Lisān
al-‘Arab (8/151) cet. Beirut. Perbedaan ini dinukil dari Imam Sibawaih].
Adapun
firman Allah 'Azza wa Jalla:
"Dan
bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu..." (QS. Ali 'Imran: 133)
Maka
maknanya adalah: bersegeralah kamu menuju hal-hal yang mendatangkan ampunan,
yaitu ketaatan. Ada yang berpendapat: menunaikan kewajiban-kewajiban (adā’
al-farā’idh). Ada yang berpendapat: keikhlasan. Ada yang berpendapat:
bertaubat dari riba. Ada pula yang berpendapat: keteguhan dalam berperang,
serta ada pendapat-pendapat lainnya selain ini. Al-Qurthubi berkata: "Ayat
ini bersifat umum mencakup semuanya, dan maknanya setara dengan makna
firman-Nya: Lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan (QS. Al-Baqarah:
148), yang mengandung dorongan dan anjuran untuk menyegerakan seluruh bentuk
ketaatan secara umum." [Tafsīr Al-Qurṭubī (4/203), dan mengenai makna "Istabiqū
al-khairāt" lihat (2/165).]
[Definisi
Bersegera dalam Kebaikan (Al-Musāra‘ah fi al-Khairāt) secara Istilah:]
Kitab-kitab
peristilahan (kutub al-mushthalahāt)—yang kami teliti—tidak mencantumkan
"Bersegera dalam Kebaikan" (Al-Musāra‘ah fi al-Khairāt)
sebagai suatu istilah khusus secara definitif. Namun, kita dapat merumuskan
definisinya melalui penjelasan para ahli bahasa dan ahli tafsir, sehingga kita
katakan:
Bersegera
dalam kebaikan (Al-Musāra‘ah fi al-Khairāt) adalah: Bersegera (al-mubādarah)
menuju ketaatan, berlomba-lomba (as-sabq) kepadanya, menyegerakan
pelaksanaan ketaatan tersebut, serta tidak lambat atau menunda-nundanya.
[Bersegera
(Al-Musāra‘ah), Berlomba (Al-Musābaqah), dan Mengambil Prakarsa (Al-Mubādarah):]
Ketiga
lafaz ini memiliki makna yang sangat berdekatan (mutaqāribah al-ma‘nā).
Meskipun di antara ketiganya terdapat perbedaan penggunaan dalam banyak
konteks, namun di antaranya terdapat apa yang dinamakan oleh sebagian ahli
bahasa sebagai sinonim parsial (at-tarāduf al-juz’ī). Yang dimaksud
dengannya adalah penggunaan dua lafaz atau lebih dalam penggunaan yang sama
pada sebagian konteks, tetapi tidak pada sebagian konteks yang lain.
Ketiga
lafaz ini (al-musāra‘ah, al-musābaqah, dan al-mubādarah)
termasuk dalam kategori ini; yaitu ketika disandingkan dengan kebaikan-kebaikan
(al-khairāt) atau amal saleh, maka ketiganya memiliki arti yang sama.
Lafaz al-mubādarah banyak digunakan dalam hadis-hadis syarif, sedangkan
lafaz al-musāra‘ah banyak digunakan dalam Al-Qur'an al-Karim. Adapun
lafaz al-musābaqah digunakan pada keduanya secara seimbang. Di antara
lafaz-lafaz hadis yang memberikan makna al-musāra‘ah atau al-mubādarah
adalah lafaz at-tabkīr (datang/berbuat lebih awal), khususnya apabila
disandingkan dengan pelaksanaan shalat.
[Untuk
Pendalaman Lebih Lanjut, Lihat Sifat-sifat Berikut:]
- Pertolongan (Al-Ighātsah)
- Kebajikan (Al-Birr)
- Berbakti kepada kedua orang
tua (Birr al-Wālidain)
- Tolong-menolong dalam
kebajikan dan takwa (At-Ta‘āwun ‘alā al-birr wa at-taqwā)
- Ketaatan (Ath-Thā‘ah)
- Ibadah (Al-‘Ibādah)
- Berbuat baik (Al-Iḥsān)
- Kedermawanan (Al-Karam)
- Keluhuran budi (Al-Murū’ah)
[Dan
pada Sifat Kebalikannya, Lihat Sifat-sifat Berikut:]
- Kelalaian (Al-Ihmāl)
- Kebanyakan/Kikir (Al-Bukhl)
- Ketiadaan
pembelaan/Penelantaran (At-Takhādzul)
- Kelalaian dan melampaui batas
(At-Tafriṭ
wa al-Ifrāṭ)
- Meremehkan (At-Tahāwun)
- Pelit/Kikir yang teramat
sangat (Asy-Syuhh)
- Berpaling (Al-I‘rāḍ)
- Menuruti hawa nafsu (Ittibā‘
al-hawā)
[Ayat-ayat
yang Terkandung Mengenai "Bersegera dalam Kebaikan" (Al-Musāra‘ah
fi al-Khairāt)]
- "Mereka itu tidak
seluruhnya sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur. Mereka
membaca ayat-ayat Allah pada malam hari dan mereka pun bersujud. Mereka
beriman kepada Allah dan hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf,
mencegah dari yang mungkar, dan bersegera (mengerjakan) berbagai
kebaikan. Mereka itu termasuk orang-orang saleh." (QS. Ali
'Imran: 113-114) [Madaniyyah]
- "Wahai orang-orang yang
beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah
kepada Allah agar kamu beruntung. Peliharalah dirimu dari api neraka yang
disediakan bagi orang-orang kafir. Taatilah Allah dan Rasul (Muhammad)
agar kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari
Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan
bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menginfakkan
(hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang
menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai
orang-orang yang berbuat kebaikan. Demikian (juga) orang-orang yang
apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka
segera ingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa lagi
yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan
perbuatan tercela itu, sedangkan mereka mengetahui. Mereka itu balasannya
ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi
orang-orang yang beramal." (QS. Ali 'Imran: 130-136) [Madaniyyah]
- "Dan (ingatlah) Zakaria
ketika dia berdoa kepada Tuhannya, 'Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan
aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang
terbaik.' Maka, Kami memperkenankan doanya, menganugerahkan Yahya
kepadanya, dan menjadikan istrinya (dapat mengandung) setelah sebelumnya
mandul. Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan)
kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka
adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya': 89-90)
[Makkiyyah]
- "Sesungguhnya
orang-orang yang karena takut akan (azab) Tuhan mereka, mereka sangat
berhati-hati, orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Tuhan mereka,
orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka, dan orang-orang yang
memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena
mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka
itulah orang-orang yang bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan
dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya." (QS.
Al-Mu'minun: 57-61) [Makkiyyah]
[Ayat-ayat
yang Terkandung Mengenai Makna "Bersegera dalam Kebaikan" (Al-Musāra‘ah
ilā al-Khairāt)]
- "Bagi setiap umat ada
kiblat yang dia menghadap kepadapunya. Maka, berlomba-lombalah kamu
dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan
mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 148) [Madaniyyah]
- "Kami telah menurunkan
kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran,
membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan bertindak sebagai
pemelihara atasnya. Maka, putuskanlah perkara mereka menurut apa yang
diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan
meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di
antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah
menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja). Akan tetapi,
Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah dianugerahkan-Nya
kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Hanya kepada
Allah tempat kembalimu semuanya, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang
dahulu kamu perselisihkan." (QS. Al-Ma'idah: 48) [Madaniyyah]
- "Katakanlah (Muhammad),
'Apakah aku akan menjadikan pelindung selain Allah yang Pencipta langit
dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan?'
Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintahkan agar menjadi orang yang
pertama berserah diri (masuk Islam) dan jangan sekali-kali kamu masuk
golongan orang-orang musyrik.'" (QS. Al-An'am: 14) [Makkiyyah]
- "Dialah yang menjadikan
kebun-kebun yang terbebat dan yang tidak terbebat, pohon kurma, tanaman
yang beraneka ragam rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa (bentuk
dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila berbuah
dan berikanlah haknya (zakatnya) pada hari memetiknya (panen).
Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang
yang berlebih-lebihan." (QS. Al-An'am: 141) [Makkiyyah]
- "Katakanlah (Muhammad),
'Sesungguhnya Tuhanku telah memberi petunjuk kepadaku ke jalan yang lurus,
agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk
orang-orang musyrik.' Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya shalatku,
ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.
Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan
aku adalah orang yang pertama berserah diri (Muslim).'" (QS.
Al-An'am: 161–163) [Makkiyyah]
- "Ketika Musa datang
untuk (munajat pada) waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah
berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, 'Ya Tuhanku, perlihatkanlah
(diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.' Dia (Allah) berfirman,
'Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu.
Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat
melihat-Ku.' Ketika Tuhannya menampakkan keagungan-Nya kepada gunung itu,
Dia menjadikannya hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa
sadar, dia berkata, 'Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku
adalah orang yang pertama beriman.'" (QS. Al-A'raf: 143) [Makkiyyah]
- "Orang-orang yang
terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang
Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik,
Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah
menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan
yang agung." (QS. At-Taubah: 100) [Madaniyyah]
- "Ketika para pesihir
datang, mereka berkata kepada Firaun, 'Apakah kami benar-benar akan
mendapat imbalan jika kamilah yang menang?' Dia (Firaun) menjawab, 'Ya,
dan sesungguhnya kamu pasti akan termasuk orang-orang yang terdekat
(kepadaku).' Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak
kamu lemparkan!' Lalu, mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat
mereka seraya berkata, 'Demi kekuasaan Firaun, pasti kamilah yang menang.'
Kemudian, Musa melemparkan tongkatnya, maka seketika itu tongkat itu menelan
apa yang mereka ada-adakan. Lalu, para pesihir itu menyungkur bersujud.
Mereka berkata, "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu)
Tuhan Musa dan Harun." Dia (Firaun) berkata, "Apakah kamu
beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia
adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Nanti kamu pasti akan
mengetahui (akibat perbuatanmu). Sungguh, aku akan memotong tangan dan
kakimu bersilang dan sungguh, aku akan menyalib kamu semuanya."
Mereka berkata, "Tidak ada masalah (bagi kami). Sesungguhnya kami
akan kembali kepada Tuhan kami. Sesungguhnya kami sangat berharap bahwa
Tuhan kami akan mengampuni kesalahan-kesalahan kami karena kami menjadi
orang-orang yang pertama-tama beriman." (QS. Asy-Syu'ara: 45–51)
[Makkiyyah]
- "Kemudian, Kitab itu
Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba
Kami. Lalu, di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang
pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan
izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar." (QS.
Fatir: 32) [Makkiyyah]
- "Katakanlah (Muhammad),
'Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan
ketaatan kepada-Nya. Dan aku diperintahkan agar menjadi orang yang
pertama-tama berserah diri (masuk Islam).' Katakanlah, 'Sesungguhnya
aku takut akan azab hari yang besar jika mendurhakai Tuhanku.'" (QS.
Az-Zumar: 11–13) [Makkiyyah]
- "Mengapa kamu tidak
menginfakkan (hartamu) di jalan Allah, padahal milik Allah-lah warisan
langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menginfakkan
(hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka itu lebih
tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan
berperang setelah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka
(balasan) yang terbaik. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu
kerjakan." (QS. Al-Hadid: 10) [Madaniyyah]
- "Ketahuilah bahwa
kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, dan saling
membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak
cucu, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian
tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi
hancur. Di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta
keridaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. Berlomba-lombalah
kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit
dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan
rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang
Dia kehendaki. Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Hadid:
20–21) [Madaniyyah]
- "(Harta rampasan perang
itu juga) bagi orang-orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung
halaman dan harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan
keridaan-(Nya) serta membantu (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah
orang-orang yang benar. Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota
(Madinah) dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin)
mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak mendapati
sesuatu keinginan pun dalam dada mereka terhadap apa yang diberikan
(kepada orang-orang Muhajirin). Mereka mengutamakan (orang-orang
Muhajirin) daripada diri mereka sendiri, meskipun mereka memerlukan. Siapa
yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang
beruntung." (QS. Al-Hasyr: 8–9) [Madaniyyah]
- "Sesungguhnya
orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh)
kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan. Engkau
dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan.
Mereka diberi minum dari khamar murni yang (tempatnya) masih dimeterai.
Meterainya adalah kasturi. Untuk yang demikian itu hendaknya orang
berlomba-lomba." (QS. Al-Mutaffifin: 22–26) [Makkiyyah]
[Hadis-hadis
yang Terkandung Mengenai (Bersegera dalam Kebaikan)]
- Dari Ibnu 'Umar radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata:
Nabi
shallallāhu 'alaihi wa sallam datang pada tahun Penaklukan Kota Mekah
(Fathu Makkah) dalam keadaan memboncengkan Usamah di atas unta bernama
Al-Qashwa'—bersama beliau terdapat Bilal dan 'Utsman bin Thalhah—hingga beliau
menderumkan untanya di dekat Baitullah (Ka'bah). Kemudian beliau berkata kepada
'Utsman: "Bawakan kunci itu kepada kami." Maka 'Utsman
membawakan kunci tersebut lalu membuka pintu Ka'bah untuk beliau. Nabi shallallāhu
'alaihi wa sallam, Usamah, Bilal, dan 'Utsman pun masuk, kemudian mereka
menutup pintunya dari dalam. Beliau berdiam di dalamnya cukup lama pada siang
hari itu, lalu keluar. Orang-orang pun bersegera (ibtadara) untuk masuk,
maka aku mendahului mereka dan mendapati Bilal sedang berdiri di belakang
pintu. Aku bertanya kepadanya: "Di manakah Rasulullah shallallāhu
'alaihi wa sallam shalat?" Bilal menjawab: "Beliau shalat di
antara dua tiang depan." Saat itu Ka'bah memiliki enam tiang yang terbagi
dalam dua baris. Beliau shalat di antara dua tiang dari baris depan, menjadikan
pintu Ka'bah berada di belakang punggung beliau, dan menghadap dengan wajahnya
ke arah dinding yang ada di hadapanmu ketika engkau memasuki Ka'bah, antara
beliau dan dinding tersebut. Ibnu 'Umar berkata: Aku lupa tidak menanyakan
berapa rakaat beliau shalat. Dan di tempat beliau shalat tersebut terdapat
marmer merah. [HR. Bukhari – Fath al-Bari (7/4400).
- Dari Abu Musa radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya ketika Asma' datang, 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu
'anhu menemuinya di salah satu jalan di Madinah, lalu 'Umar berkata:
"Apakah ini wanita Habasyah [Etiopia] itu?"
Asma'
menjawab: "Ya."
'Umar
berkata: "Sebaik-baik kaum adalah kalian, seandainya saja kalian tidak
terdahulu (sabaqtum) dalam berhijrah."
Maka
Asma' berkata kepada 'Umar: "Kalian dahulu bersama Rasulullah shallallāhu
'alaihi wa sallam, beliau memberi makan orang yang berjalan di antara
kalian dan mengajari orang jahil di antara kalian, sedangkan kami melarikan
diri demi mempertahankan agama kami. Ingatlah, demi Allah, aku tidak akan
kembali sampai aku menyebutkan hal ini kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa
sallam." Maka Asma' kembali kepada beliau dan menceritakannya.
Lalu
Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
»بَلْ
لَكُمْ الْهِجْرَةُ مَرَّتَيْنِ؛ هِجْرَتُكُمْ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَهِجْرَتُكُمْ
إِلَى الْحَبَشَةِ«
"Bahkan
bagi kalian Pahala Hijrah dua kali; hijrah kalian ke Madinah, dan hijrah kalian
ke Habasyah." [HR. Bukhari – Fath al-Bari (7/4230), dan Muslim
(2503)]
- Dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu
'anhu, ia berkata:
Rasulullah
shallallāhu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bersedekah, dan
hal itu bertepatan dengan harta yang sedang kumiliki. Maka aku berkata (dalam
hati): "Hari ini aku akan mengungguli/mendahului Abu Bakar jika aku bisa
mengunggulinya pada suatu hari."
Ia
berkata: Maka aku membawa separuh dari hartaku.
Lalu
Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apa yang
engkau tinggalkan untuk keluargamu?"
Aku
menjawab: "Semisal dengannya (separuh lagi)."
Kemudian
Abu Bakar datang membawa seluruh harta yang dimilikinya.
Maka
beliau bersabda:
يَا أَبَا بَكْرٍ: مَا
أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟
"Wahai
Abu Bakar, apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?"
Abu
Bakar menjawab: "Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya."
'Umar
berkata: "Demi Allah, aku tidak akan pernah bisa mengunggulinya dalam
sesuatu apa pun selamanya." [HR. Tirmidzi no. (3675), dan beliau berkata:
Hadis ini hasan shahih]
- Dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu
'anhu, ia berkata:
Rasulullah
shallallāhu 'alaihi wa sallam berjalan melewati 'Abdullah bin Mas'ud
yang sedang membaca Al-Qur'an, sedangkan aku dan Abu Bakar bersamanya. Beliau
pun berdiri dan mendengarkan bacaannya. Kemudian 'Abdullah ruku' dan sujud.
'Umar
berkata: Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mintalah,
niscaya engkau diberi!"
Kemudian
Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam berlalu seraya bersabda:
مَنْ سَرَّهُ أَنْ
يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ مِنْ ابْنِ أُمِّ
عَبْدٍ
"Barang
siapa yang merasa senang untuk membaca Al-Qur'an secara segar (murni)
sebagaimana saat diturunkan, hendaklah ia membacanya sesuai bacaan Ibnu Ummi
'Abd ('Abdullah bin Mas'ud)."
'Umar
berkata: Maka aku berangkat di akhir malam (adlaktu) menuju tempat
'Abdullah bin Mas'ud untuk memberitahukan berita gembira kepadanya tentang apa
yang disabdakan Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam.
Ia
berkata: Ketika aku menggetuk pintu—atau ia berkata: ketika ia mendengar
suaraku—ia berkata: "Apa yang membuatmu datang pada jam segini?"
Aku
menjawab: "Aku datang untuk memberitahukan berita gembira kepadamu tentang
apa yang disabdakan Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam."
Ia
berkata: "Abu Bakar telah mendahulumu."
Aku
berkata: "Jika ia melakukannya, memang dia adalah orang yang sangat selalu
bersegera dalam kebaikan (sabbāq bi al-khairāt). Tidaklah kami
berlomba-lomba dalam suatu kebaikan sama sekali melainkan Abu Bakar selalu
mendahului kami menuju kebaikan tersebut." [HR. Musnad Ahmad (1/38, 1/26),
cetakan Syaikh Ahmad Syakir no. (265) dan beliau berkata: Isnadnya shahih,
demikian pula pada no. (175).]
- Dari Ibnu 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata: Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
»عُرِضَتْ
عَلَيَّ الْأُمَمُ فَأَخَذَ النَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْأُمَّةُ، وَالنَّبِيُّ
يَمُرُّ مَعَهُ الْعَشَرَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْخَمْسَةُ،
وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ وَحْدَهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قُلْتُ: يَا
جِبْرِيلُ هَؤُلَاءِ أُمَّتِي؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ
فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قَالَ: هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ، وَهَؤُلَاءِ
سَبْعُونَ أَلْفًا قُدَّامَهُمْ لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلَا عَذَابَ، قُلْتُ:
وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرِقُونَ، وَلَا
يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ، فَقَامَ إِلَيْهِ عُكَّاشَةُ
بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ:
«اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ»، ثُمَّ قَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ:
ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: «سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ»«
"Umat-umat
telah diperlihatkan kepadaku, maka ada seorang nabi yang lewat bersama umatnya,
ada nabi yang lewat bersama sepuluh orang, ada nabi yang lewat bersama lima
orang, dan ada nabi yang lewat seorang diri. Lalu aku melihat dan ternyata ada
kumpulan orang yang sangat banyak. Aku bertanya: 'Wahai Jibril, apakah mereka
ini umatku?' Jibril menjawab: 'Bukan, tetapi lihatlah ke ufuk!' Maka aku
melihat dan ternyata ada kumpulan orang yang sangat banyak. Jibril berkata:
'Mereka ini adalah umatmu, dan tujuh puluh ribu orang di depan mereka tidak ada
hisab (perhitungan dosa) atas mereka dan tidak pula azab.' Aku bertanya:
'Mengapa begitu?' Jibril menjawab: 'Mereka adalah orang-orang yang tidak
meminta di-kai [pengobatan dengan besi panas], tidak meminta diruqyah, tidak
mempercayai mitos/sial (tatayuyur), dan hanya kepada Tuhan merekalah mereka
bertawakal.' Kemudian 'Ukkasyah bin Mihshan berdiri menghadap beliau lalu
berkata: 'Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk bagian dari
mereka!' Beliau berdoa: 'Ya Allah, jadikanlah dia termasuk bagian dari mereka.'
Kemudian berdiri seorang laki-laki lain seraya berkata: 'Berdoalah kepada Allah
agar Dia menjadikanku termasuk bagian dari mereka!' Beliau bersabda: 'Engkau
telah didahului oleh 'Ukkasyah dalam hal itu.'" [HR. Bukhari – Fath
al-Bari (11/6541) dan lafaz ini miliknya, serta HR. Muslim (367).]
- Dari Sahl, dari ayahnya,
dari Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau
memerintahkan para sahabatnya untuk berperang. Lalu ada seorang laki-laki
yang tertinggal (tidak langsung berangkat) dan berkata kepada keluarganya:
"Aku akan tertinggal sejenak hingga aku melaksanakan shalat Dzuhur
bersama Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam, kemudian aku
mengucapkan salam kepada beliau dan berpamitan, lalu beliau mendoakan aku
dengan doa yang dapat menjadi pemberi syafaat pada hari Kiamat." Maka
ketika Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam selesai shalat, laki-laki
itu datang dan mengucapkan salam kepada beliau. Lalu Rasulullah shallallāhu
'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:
»وَالَّذِي
نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ سَبَقُوكَ بِأَبْعَدِ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقَيْنِ
وَالْمَغْرِبَيْنِ فِي الْفَضِيلَةِ«
"Demi
Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh mereka (yang langsung berangkat)
telah mendahulumu dalam keutamaan sejauh jarak antara dua timur dan dua
barat." [HR. Musnad Ahmad (3/438), dan ini termasuk musnad Sahl bin
Mu'adz; di dalamnya terdapat perawi bernama Ibnu Lahi'ah dan hadisnya
berderajat hasan.]
[Hadis-hadis
yang Terkandung Mengenai Makna (Bersegera dalam Kebaikan)]
- Dari Yazid bin Al-Akhnas
bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
»لَا
تَنَافُسَ بَيْنَكُمْ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ عَزَّ
وَجَلَّ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ
وَيَتَّبِعُ مَا فِيهِ فَيَقُولُ رَجُلٌ: لَوْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَعْطَانِي
مِثْلَ مَا أَعْطَى فُلَانًا فَأَقُومَ بِهِ كَمَا يَقُومُ بِهِ. وَرَجُلٌ
أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُ وَيَتَصَدَّقُ فَيَقُولُ رَجُلٌ: لَوْ
أَنَّ اللَّهَ أَعْطَانِي مِثْلَ مَا أَعْطَى فُلَانًا فَأَتَصَدَّقَ بِهِ ...
الْحَدِيثَ«
"Tidak
ada persaingan/perlombaan (tanāfus) di antara kalian kecuali dalam dua hal:
Seorang laki-laki yang dikaruniai Al-Qur'an oleh Allah 'Azza wa Jalla, lalu dia
mengamalkannya sepanjang malam dan siang serta mengikuti apa yang ada di
dalamnya, kemudian seseorang berkata: 'Seandainya Allah Ta'ala memberiku
seperti apa yang diberikan kepada Fulan, niscaya aku akan mengamalkannya
sebagaimana dia mengamalkannya.' Dan seorang laki-laki yang dikaruniai harta
oleh Allah, lalu dia menginfakkan dan bersedekah dengannya, kemudian seseorang
berkata: 'Seandainya Allah memberiku seperti apa yang diberikan kepada Fulan,
niscaya aku akan bersedekah dengannya ... (al-hadits)." [HR. Bukhari –
Fath al-Bari (9/5025), HR. Muslim (815), dan Musnad Ahmad (4/105) dan
lafaz ini miliknya]
- Dari Ibnu 'Umar radhiyallāhu
'anhumā, bahwasanya Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
بَادِرُوا الصُّبْحَ
بِالْوِتْرِ
"Bersegeralah
kalian menunaikan shalat Witir sebelum datang waktu Subuh." [Sumber yang sama (Musnad Ahmad 2/37), Syaikh
Ahmad Syakir berkata (4952): Isnadnya shahih.]
- Dari 'Abdullah bin Syafiq,
ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu 'Umar tentang shalat malam, maka Ibnu
'Umar menjawab: Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallāhu
'alaihi wa sallam tentang shalat malam sedangkan aku berada di antara
keduanya, lalu beliau bersabda:
"Shalat
malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika engkau khawatir datangnya waktu Subuh,
maka bersegeralah mendahului Subuh dengan satu rakaat (Witir), dan dua rakaat
sebelum shalat Pagi (Subuh)." [Sumber yang sama (Musnad Ahmad 2/71),
Syaikh Ahmad Syakir berkata (5399): Isnadnya shahih]
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
»بَادِرُوا
بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا: هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا مُنْسِيًا، أَوْ غِنًى
مُطْغِيًا، أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا، أَوْ هَرَمًا مُفْنِدًا، أَوْ مَوْتًا
مُجْهِزًا، أَوْ الدَّجَّالَ، فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ، أَوْ السَّاعَةَ
فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ«
"Bersegeralah
kamu sekalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh perkara: Apakah kamu
sekalian hanya menunggu kemiskinan yang membuat lupa, atau kekayaan yang
membuat melampaui batas, atau penyakit yang merusak kesehatan, atau kelanjutan
usia tua yang melemahkan akal/pembicaraan, atau kematian yang menyergap dengan
cepat, atau Dajjal—maka ia adalah seburuk-buruk makhluk gaib yang ditunggu—,
atau hari Kiamat—maka hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit?" [HR. Tirmidzi (2307) dan beliau berkata: Hasan.
Disebutkan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhīb wa at-Tarhīb (4/250) dan ia
berkata: Hadis hasan.]
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, dari Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau
bersabda:
»بَادِرُوا
بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ
مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا،
يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا«
"Bersegeralah
kamu sekalian untuk beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti
potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di mana seorang laki-laki pada pagi
hari dalam keadaan beriman dan pada sore harinya menjadi kafir, atau pada sore
hari dalam keadaan beriman dan pada pagi harinya menjadi kafir, ia menjual
agamanya dengan sedikit kenikmatan dunia." [HR. Muslim (186).]
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
تَبَادَرُوا
بِالْأَعْمَالِ سِتًّا: طُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَالدَّجَّالَ،
وَالدُّخَانَ، وَدَابَّةَ الْأَرْضِ، وَخُوَيْصَةَ أَحَدِكُمْ، وَأَمْرَ
الْعَامَّةِ
"Bersegeralah
kamu sekalian untuk beramal sebelum datangnya enam perkara: Terbitnya matahari
dari tempat tenggelamnya (barat), Dajjal, dukhan (asap/kabut), binatang melata
dari bumi (dābbat al-arḍ),
perkara khusus pada diri salah seorang di antara kamu (kematian), dan perkara
umum (kiamat)."
'Affan
berkata dalam hadisnya: Qatadah apabila menyebutkan "perkara umum"
(amr al-‘āmmah), maksudnya adalah perkara Kiamat (amr as-sā‘ah).
[HR. Musnad Ahmad (2/324), Syaikh Ahmad Syakir berkata (8286): Isnadnya shahih.
Dan dinisbatkan dalam At-Tahdzīb (3/366) kepada Shahih Muslim dan Ibnu
Majah no. (4056) dan ia berkata dalam Az-Zawā'id: Isnadnya hasan.
Serta Al-Mundziri dalam At-Targhīb wa at-Tarhīb (4/250).]
- Dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu, ia berkata:
Dahulu
apabila muazin telah mengumandangkan azan, orang-orang di antara sahabat Nabi shallallāhu
'alaihi wa sallam berdiri dan bersegera menuju tiang-tiang masjid (yabtadirūna
as-sawārī) hingga Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam keluar
sementara mereka dalam keadaan demikian shalat dua rakaat sebelum Maghrib, dan
tidak ada selang waktu antara azan dan ikamah melainkan sedikit sekali. 'Utsman
bin Jabalah dan Abu Dawud meriwayatkan dari Syu'bah: "Tidak ada selang
waktu di antara keduanya melainkan hanya sebentar." [HR. Bukhari – Fath al-Bari (2/625).]
- Dari Ibnu 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, ia berkata:
Rasulullah
shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda kepada seorang laki-laki saat
beliau menasihatinya:
اغْتَنِمْ خَمْسًا
قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ،
وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ
مَوْتِكَ
"Manfaatkanlah
lima perkara sebelum datangnya lima perkara: Masa mudamu sebelum masa tuamu,
sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu
sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu." [Al-Mundziri dalam At-Targhīb wa at-Tarhīb
(4/251) dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan ia berkata: Shahih
sesuai syarat keduanya (Bukhari dan Muslim).]
- Dari Mus'ab bin Sa'd, dari
ayahnya; Al-A'masy berkata: Dan aku tidak mengetahuinya kecuali bersumber
dari Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:
»التُّؤَدَةُ
فِي كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ«
"Sikap
perlahan-lahan/hati-hati (At-Tu’adah: Dibaca dengan sukun atau fathah huruf
hamzahnya, artinya: bersikap pelan-pelan, tenang, penuh pertimbangan, dan
anggun (at-ta’annī, at-tamahhuk, wa ar-razānah).) itu ada pada segala
sesuatu kecuali dalam amalan akhirat." [HR. Abu Dawud no. (4811) dan lafaz ini
miliknya, Al-Hakim (4/306) dan ia berkata: Sesuai syarat keduanya (Bukhari dan
Muslim) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Disebutkan pula oleh Al-Mundziri dalam
At-Targhīb wa at-Tarhīb (4/252) dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Abu
Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi]
- Dari Abu 'Abdirrahman
As-Sulami, ia berkata:
Ketika
'Utsman dikepung, ia muncul dan melihat kepada mereka dari atas rumahnya, lalu
ia berkata: "Aku ingatkan kalian demi Allah, apakah kalian mengetahui
bahwa ketika gunung Hira bergetar, Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda: 'Tenanglah wahai Hira, karena tidak ada di atasmu kecuali seorang
Nabi, seorang Siddiq, atau seorang Syahid'?"
Merekajawab:
"Ya."
Ia
berkata: "Aku ingatkan kalian demi Allah, apakah kalian mengetahui bahwa
Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda mengenai Pasukan
Kesulitan (Jaīsy al-‘Usrah): 'Barang siapa yang menginfakkan infak
yang diterima (oleh Allah)' padahal manusia sedang dalam kondisi amat sulit
dan miskin, lalu aku menyiapkan perbekalan pasukan tersebut?"
Merekajawab:
"Ya."
Kemudian
ia berkata: "Aku ingatkan kalian demi Allah, apakah kalian mengetahui
bahwa sumur Ruma tidak ada seorang pun yang minum darinya melainkan dengan
membayar, lalu aku membelinya lalu aku menjadikannya bagi orang kaya, orang
miskin, dan Ibnu Sabil [musafir]?"
Mereka
menjawab: "Ya Allah, benar." Dan 'Utsman menyebutkan beberapa hal
lainnya.* [HR. Tirmidzi no. (3699), dan
beliau berkata: Hadis ini hasan shahih gharib.]
- Dari Muhammad bin Sa'd,
dari ayahnya, ia berkata:
'Umar
bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu meminta izin untuk menemui
Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam, sementara di sisi beliau
terdapat wanita-wanita dari suku Quraisy yang sedang bertanya dan meminta
banyak hal kepada beliau dengan suara yang keras meninggi melebihi suara
beliau. Ketika 'Umar meminta izin masuk, wanita-wanita itu pun bergegas (tabādarna)
masuk ke balik tabir (hijab). Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam pun
memberi izin kepadanya lalu 'Umar masuk, sedangkan Nabi shallallāhu 'alaihi
wa sallam dalam keadaan tertawa.
'Umar
berkata: "Semoga Allah senantiasa membuatmu tersenyum wahai Rasulullah,
demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu."
Beliau
bersabda: "Aku kagum terhadap wanita-wanita yang berada di sisiku tadi,
ketika mereka mendengar suaramu, mereka bergegas masuk ke balik tabir."
Maka
'Umar berkata: "Engkau lebih berhak untuk mereka takuti wahai
Rasulullah." Kemudian 'Umar menghadap ke arah wanita-wanita tersebut
seraya berkata: "Wahai wanita-wanita yang memusuhi diri mereka sendiri,
apakah kalian takut kepadaku dan tidak takut kepada Rasulullah shallallāhu
'alaihi wa sallam?"
Mereka
menjawab: "Sesungguhnya engkau lebih keras dan lebih kasar daripada
Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam."
Rasulullah
shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:
»إِيهِ
يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ
سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ«
"Cukuplah
wahai Ibnu Al-Khaththab, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah
setan menemuimu sedang melintasi suatu jalan melainkan ia akan melintasi jalan
lain yang bukan jalanmu." [HR.
Bukhari – Fath al-Bari (10/6085, 7/3683) dan Musnad Ahmad (1/171),
cetakan Syaikh Ahmad Syakir no. (1472).]
- Dari Abu Hurairah radhiyallāhu
'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam
bersabda:
»مَنْ
اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ
بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ
بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا
أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ
دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ
بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ
الذِّكْرَ«
"Barang
siapa mandi pada hari Jumat seperti mandi junub kemudian berangkat (ke masjid
pada waktu pertama), maka seakan-akan ia berkurban seekor unta. Barang siapa
yang berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor sapi.
Barang siapa yang berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan ia berkurban
seekor domba jantan yang bertanduk. Barang siapa yang berangkat pada waktu
keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam. Dan barang siapa yang
berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan ia berkurban sebutir telur.
Apabila imam telah keluar (naik mimbar), maka para malaikat hadir mendengarkan
khutbah/peringatan." [HR.
Bukhari – Fath al-Bari (2/881).]
- Dari Abu Qilabah, dari Abu
Al-Malih, ia berkata:
Kami
pernah bersama Buraidah dalam suatu peperangan pada hari yang mendung, lalu ia
berkata:
"Bersegeralah
(bakkirū) menunaikan shalat Asar (di awal waktunya), karena Nabi shallallāhu
'alaihi wa sallam bersabda:
»مَنْ
تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ«
'Barang
siapa yang meninggalkan shalat Asar, maka sungguh telah gugur/hapus
amalnya.'" [Sumber yang sama
(Bukhari – Fath al-Bari 2/553).]
[Contoh
Teladan Praktis dari Kehidupan Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam dalam
(Bersegera dalam Kebaikan)]
- Dari Anas radhiyallāhu
'anhu, ia berkata:
Nabi
shallallāhu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik, paling
pemberani, dan paling dermawan. Penduduk Madinah pernah terkejut (karena adanya
suara panik/bahaya), maka Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam mendahului
mereka (sabaqahum) dengan menunggangi kuda, lalu beliau bersabda: "Kami
mendapatinya (kuda ini) sangat cepat bagaikan lautan." [Sumber yang sama (Bukhari – Fath al-Bari
6/2820).]
[Antara
Atsar, Pertemuan Kata Para Ulama, dan Tafsir Mengenai (Bersegera dalam
Kebaikan)]
- Dari 'Ali radhiyallāhu
'anhu, ia berkata:
"Ketakwaan
kepada Allah adalah kunci kebenaran (As-Sudād: Sesuatu yang digunakan
untuk menyumbat/menutup sesuatu, dan darinya diambil istilah sudād
atms-tsaghr (penjaga celah benteng).), simpanan untuk hari kembali
(akhirat), pembebas dari setiap perbudakan, dan penyelamat dari setiap
kebinasaan. Maka bersegeralah kalian beramal sebelum datang usia tua
yang melenyapkan kekuatan (‘umran nākisan) [An-Nākis: Orang yang
kembali mundur/melemah], penyakit yang menghalangi (maradhan ḥābisan) [Al-Ḥābis: Sesuatu yang
menghalangi pemiliknya dari beramal], atau kematian yang menyergap tiba-tiba (mautan
khālisan) [Al-Maut al-Khālis: Kematian yang mengambil pemiliknya
dalam keadaan lalai/tiba-tiba]. Karena sesungguhnya kematian adalah penghancur
kelezatan kalian, pemutus niat dan cita-cita kalian (mubā‘id ṭiyyātikum) [Ath-Thiyyāt:
Bentuk jamak dari thiyyah, yaitu niat atau tujuan], tamu yang tidak
disukai, dan penuntut darah yang tidak pernah diminta. Sungguh jerat-jeratnya
telah mengikat kalian, bahaya-bahayanya telah mengepung kalian (takannafatkum)
[At-Takannuf: Singgah di pinggiran/daerah sekitar (al-aknāf).],
dan anak panahnya yang lebar (ma‘ābiluh) [Al-Ma‘ābil: Bentuk
jamak dari mi‘balah, yaitu mata anak panah yang lebar dan panjang] telah
membidik kalian secara tepat. Maka hampir saja kegelapan naungannya yang pekat,
kepungan penyakitnya, kegelapan malam dari penderitaannya (ḥanādis) [Al-Ḥanādis: Kegelapan malam
yang pekat], selubung mabuk kepayang sakaratulmautnya, rasa sesak bebannya yang
menyakitkan, kegelapan kuburnya yang tertutup rapat, serta rasa getirnya yang
kasar (jasūbah) [Al-Jasūbah: Kasarnya rasa/makanan] bakal
meliputi kalian. Lalu ia akan membungkam pembicaraan rahasia kalian (najiyyakum)
[An-Najiy: Orang-orang/kelompok yang saling berbisik atau berbincang
rahasia] dan membubarkan majelis perkumpulan kalian. Maka jangan sekali-kali
dunia menipu kalian sebagaimana ia telah menipu umat-umat terdahulu dan
generasi-generasi sebelum kalian yang telah memerah susu kelezatannya (iḥtalabū durratahā) [Ad-Durrah:
Air susu], meraih kemuliaannya, menghabiskan bekalnya, dan meluputkan
kebaruannya. Kini tempat tinggal mereka telah berubah menjadi kuburan, dan
harta benda mereka menjadi warisan. Karena sesungguhnya dunia itu sangat menipu
(gharārah) [Gharārah: Bentuk fi‘ālah dari kata al-ghurūr
(penipuan/perdayaan).] lagi memperdaya, memberi namun menghalangi kembali,
kemudahannya tidak berlangsung lama, kepayahannya tidak pernah usai, dan
ujiannya tidak pernah reda." [Manāhil ath-Thālib karya Ibn Al-Atsir
(hal. 364).]
- Dari Ibnu 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā mengenai firman Allah: "Mereka itu bersegera dalam
kebaikan-kebaikan" (QS. Al-Mu'minun: 61), ia berkata:
"Telah
terdahulu bagi mereka kebahagiaan dari Allah." [Ad-Durr al-Mantsūr
(5/22).]
- Dari Abu Zaid mengenai
firman Allah Ta'ala: "Maka berlomba-lombalah kamu dalam
kebaikan" (QS. Al-Baqarah: 148), ia berkata:
"Maka
bersegeralah kamu sekalian dalam melakukan kebaikan-kebaikan." [Rujukan
yang sama (Ad-Durr al-Mantsūr 1/272).]
- Dari Sa'id bin Jubair
mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan bersegeralah kamu menuju
ampunan dari Tuhanmu" (QS. Ali 'Imran: 133), ia berkata:
"Dia
(Allah) berfirman: Bersegeralah kamu sekalian dengan amal-amal saleh
menuju ampunan dari Tuhanmu." [Rujukan yang sama (Ad-Durr al-Mantsūr
2/128).]
- Dan dari Anas bin Malik radhiyallāhu
'anhu mengenai ayat tersebut, ia berkata:
"Yang
dimaksud (bersegera menuju ampunan) adalah mendapati takbir pertama (takbīratul
iḥrām bersama
imam)." [Rujukan yang sama (Ad-Durr al-Mantsūr 2/128) dan Tafsīr
Al-Qurṭubī
(4/203).]
- Dari Ibnu Mas'ud radhiyallāhu
'anhu mengenai ayat: "Dan di antara mereka ada yang lebih
dahulu berbuat kebaikan" (QS. Fatir: 32), ia berkata:
"Mereka
adalah orang-orang yang masuk surga tanpa hisab (perhitungan dosa)." [Rujukan
yang sama (Ad-Durr al-Mantsūr 5/473).]
- Dan dari 'Umar bin
Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu mengenai ayat: "Dan di
antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan" (QS. Fatir:
32), ia berkata: "Orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan (sābiq)
di antara kita adalah benar-benar orang yang terdahulu (sābiq)."
[Ad-Durr al-Mantsūr (5/473).]
- Dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallāhu
'anhumā, mengenai ayat yang sama (Dan di antara mereka ada yang
lebih dahulu berbuat kebaikan), ia berkata:
"Orang
yang lebih dahulu berbuat kebaikan (as-sābiq bi al-khairāt) akan masuk surga
tanpa hisab (perhitungan dosa)." [Rujukan yang sama, halaman yang
sama.]
- Dari Qatadah mengenai ayat:
"Dan di antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan",
ia berkata:
"Orang
ini adalah orang yang didekatkan (al-muqarrab) kepada Allah." [Rujukan
yang sama, halaman yang sama.]
- Dari Ibnu Zaid mengenai
firman Allah Ta'ala: "Karena kami menjadi orang-orang yang
pertama-tama beriman" (QS. Asy-Syu'ara: 51), ia berkata:
"Mereka
memang demikian pada hari itu, menjadi orang-orang yang paling pertama beriman
kepada ayat-ayat-Nya ketika mereka melihatnya." [Rujukan yang sama
(5/156).]
- Al-Qurthubi berkata
mengenai ayat: "Dan mereka bersegera dalam (mengerjakan)
kebaikan" (QS. Ali 'Imran: 114):
"Yaitu
kebaikan yang mereka kerjakan dengan bergegas (mubādirīn) tanpa berat
hati/malas (ghaira mutatsāqilīn), karena mereka mengetahui kadar pahalanya. Ada
pula yang berpendapat: Mereka bergegas mengerjakan amal sebelum luputnya
waktu." [Tafsīr Al-Qurṭubī
(4/113).]
- Al-Qurthubi berkata
mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan bersegeralah kamu menuju
ampunan dari Tuhanmu" (QS. Ali 'Imran: 133):
"Al-Musāra'ah
(bersegera) bermakna al-mubādarah (bergegas/memprakarsai), yaitu bersegeralah
menuju hal-hal yang mendatangkan ampunan, yaitu ketaatan." [Rujukan
yang sama, halaman yang sama.]
- Dan disebutkan dari 'Ali
bin Abi Thalib mengenai ayat di atas: "Menuju penunaian
kewajiban-kewajiban (adā' al-farā'idh)." Dan dari 'Utsman bin
'Affan: "Menuju keikhlasan." Dari Al-Kalbi: "Menuju
taubat dari riba." Serta ada yang berpendapat: "Menuju
keteguhan dalam berperang." [Rujukan yang sama, halaman yang sama]
- Al-Qurthubi berkata
mengenai firman Allah Ta'ala: "Maka berlomba-lombalah kamu dalam
kebaikan" (QS. Al-Baqarah: 148):
"Maksudnya
adalah menuju kebaikan-kebaikan, yaitu bergegaslah menuju apa yang
diperintahkan Allah 'Azza wa Jalla kepada kalian berupa menghadap ke Baitullah
Al-Haram, meskipun ayat ini juga mengandung dorongan untuk bergegas dan
menyegerakan seluruh ketaatan secara umum. Beliau berkata: Dan makna yang
dimaksud adalah bergegas menunaikan shalat di awal waktunya." [Rujukan
yang sama (2/112).]
- Abu Hayyan Al-Andalusi
berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Maka berlomba-lombalah kamu
dalam kebaikan" (QS. Al-Baqarah: 148):
"Ini
adalah perintah untuk menyegerakan (at-tabkīr) perbuatan baik dan amal saleh.
Dan merupakan hal yang serasi bahwa barang siapa yang telah Allah tetapkan
baginya suatu syariat, kiblat, atau shalat, maka hendaknya ia memiliki
perhatian untuk bersegera menuju kepadanya." [Al-Baḥr al-Muḥīṭ (1/612).]
- Qatadah berkata: "Perlombaan
(al-istibāq) dalam urusan Ka'bah ini adalah sebagai bentuk penentangan
terhadap kaum Yahudi dengan cara menyelisisi mereka." [Rujukan
yang sama (1/612).]
- Ibnu Zaid berkata: "Maknanya
adalah bersegeralah menuju amal-amal saleh, baik berupa menghadap ke
kiblat maupun selainnya." [Rujukan yang sama (1/612).]
- Az-Zamakhsyari berkata: "Boleh
jadi maknanya adalah: Maka berlomba-lombalah menuju arah-arah yang utama
(al-fādhilāt min al-jihāt), yaitu arah-arah yang berhadapan lurus dengan
Ka'bah meskipun berbeda-beda." [Rujukan yang sama (1/612).]
- Abu Hayyan berkata mengenai
firman Allah Ta'ala "Dan mereka bersegera dalam (mengerjakan)
kebaikan-kebaikan" (QS. Ali 'Imran: 114): "Bersegera
dalam kebaikan timbul dari besarnya keinginan terhadap kebaikan tersebut.
Karena barang siapa yang menginginkan suatu perkara, ia akan bergegas
menuju kepadanya dan melaksanakannya, serta lebih memilih menyegerakannya
(al-faur) daripada menunda-nundanya (at-tarākhi)." [Tafsīr
al-Baḥr al-Muḥīṭ (3/38).]
- Dari Anas, ia berkata: "Kami
dahulu menyegerakan shalat Jumat (nubakkiru bi al-jumu‘ah) dan kami tidur
siang (naqīlu) setelah shalat Jumat." [HR. Bukhari – Fath
al-Bari (2/905, 2/940).]
- Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu
'anhu, ia berkata: "Sesungguhnya hati itu memiliki masa
bersemangat (syahwah) dan masa berpaling/lelah (idbār). Maka manfaatkanlah
ia ketika sedang bersemangat dan menghadap (pada ketaatan), serta
biarkanlah/istirahatkah ia ketika sedang letih dan berpaling." [Al-Fawā’id,
hal. 202.]
- Ahmad bin Hanbal rahimahullāhu
Ta'ala berkata: "Segala sesuatu yang berupa kebaikan hendaknya
disegerakan." [Al-Ādāb asy-Syar‘iyyah karya Ibn Muflih
(2/239).]
- Muhammad bin Nashr Al-'Abid
berkata: "Aku bermusyawarah dengannya (yaitu Imam Ahmad) mengenai
keinginan keluar menuju benteng pertahanan perbatasan (at-tsaghr), maka
beliau berkata: 'Bersegeralah, bersegeralah!'" [Rujukan yang
sama, halaman yang sama]
- Imam Al-Junaid dahulu
membaca Al-Qur'an pada saat ruhnya hendak keluar (sakaratulmaut). Lalu
dikatakan kepadanya: "Pada saat seperti ini?!" Maka
beliau menjawab: "Aku sedang bersegera menutup lembaran amalku
(thayyi shaḥīfatī)."
[Ṣayd al-Khāṭir,
hal. 372]
- Ibn Al-Jauzi berkata: "Barang
siapa yang mengetahui makin dekatnya waktu kepindahan/keberangkatan dari
Mekah, ia akan memperbanyak tawaf; khususnya jika ia tidak berharap bisa
kembali lagi karena usianya yang sudah tua dan fisiknya yang melemah. Maka
demikian pula hendaknya bagi orang yang telah mendekati tepi ajalnya
karena usianya yang sudah tinggi, ia harus menyergap setiap detik
kesempatan dan bersiap menyambut penyergap (kematian) dengan amal yang
layak baginya. Sungguh, kesempatan menarik anak panah usia muda telah
berlalu." [Rujukan yang sama, hal. 354]
- Dan Ibn Al-Jauzi juga
berkata: "...Betapa banyak manusia menyia-nyiakan waktu-waktu yang
di dalamnya ia kehilangan pahala yang sangat besar. Hari-hari ini ibarat
ladang bercocok tanam; seolah-olah dikatakan kepada manusia: 'Setiap kali
engkau menanam satu benih, Kami akan mengeluarkan untukmu seribu kurr [Al-Kurr:
Takaran timbangan/volume yang sangat besar, setara dengan enam puluh qafīz]
(takaran yang sangat besar)'. Lantas, apakah masuk akal bagi orang yang
berakal untuk berhenti menanam benih dan
berhalang-halang/menunda-nunda?!" [Ṣayd al-Khāṭir, hal. 603]
- Dan Ibn Al-Jauzi juga
berkata: "Di antara keajaiban yang aku lihat dari diriku sendiri
dan dari seluruh makhluk adalah kecenderungan pada kelalaian terhadap apa
yang ada di tangan kita, padahal kita mengetahui pendeknya umur, dan
bahwasanya bertambahnya pahala di sana (akhirat) bergantung pada kadar
amal di sini (dunia). Wahai orang yang pendek umurnya, manfaatkanlah
harimu dariku, dan tunggulah saat-saat keberangkatan. Jangan sekali-kali
engkau sibukkan hatimu dengan selain tujuan ia diciptakan, paksakan dirimu
menghadapi kepahitan (penderitaan ketaatan), kekanglah ia jika menolak,
dan jangan engkau biarkan ia bebas di padang pengembalaan, karena engkau
tidak lain hanyalah berada di padang rumput. Sungguh sangat buruk bagi
orang yang sedang berada di antara dua barisan tempur untuk sibuk dengan
hal lain di luar urusannya." [Rujukan yang sama, hal. 492]
- Beliau juga berkata: "...Bersegeralah,
bersegeralah wahai orang-orang yang berakal (arbāb al-fuhūm)! Sesungguhnya
dunia adalah tempat penyeberangan menuju negeri kediaman yang kekal, dan
perjalanan menuju tempat menetap serta mendekat kepada Sang Penguasa dan
berdekatan dengan-Nya. Maka bersiaplah untuk duduk bersama-Nya, bersiaplah
untuk bercakap dengan-Nya, dan bersungguh-sungguhlah dalam menerapkan adab
agar kalian layak untuk dekat dengan Kehadiran-Nya. Jangan sampai kalian
disibukkan oleh kemalasan dari melatih kuda perang (tadhmīr
al-khail). Hendaknya ingatan kalian akan hari perlombaan mendorong
kalian untuk bersungguh-sungguh dalam hal itu... Maka hendaknya orang yang
berusaha senantiasa mengingat manisnya penyerahan pahala kepada Yang Maha
Tepercaya, hendaknya ia mengingat indahnya pujian pada hari perlombaan,
dan hendaknya peserta lomba mewaspadai kelalaian yang tidak mungkin bisa
diperbaiki lagi." [Ṣayd al-Khāṭir, hal. 372]
[Di
Antara Manfaat (Bersegera dalam Kebaikan)]
- Bersegera dalam
kebaikan-kebaikan dan amal-amal saleh merupakan sarana mendatangkan
keridaan Rabb 'Azza wa Jalla serta menimbulkan kemurkaan bagi setan.
- Bersegera dalam kebaikan
melambungkan derajat pelakunya menuju Surga 'Adn, tempat kenikmatan yang
kekal dan karunia yang sangat besar.
- Terdepan (as-sabq)
menuju kebaikan-kebaikan menjadikan pelakunya termasuk orang-orang yang
beruntung di dunia dan akhirat.
- Bergegas (al-mubādarah)
menuju amal saleh menciptakan sejenis persaingan terpuji (at-tanāfus
al-ḥamīd)
yang meninggikan derajat masyarakat.
- Orang yang terdepan menuju
kebaikan-kebaikan akan diiri secara positif (yughbathu) oleh
kawan-kawannya; mereka bercita-cita menjadi seperti dirinya dan memujinya
atas keunggulannya ini.
- Orang-orang yang terdepan
menuju kebaikan-kebaikan akan mencapai cita-cita/tujuan mereka dan tidak
akan pernah kembali dalam keadaan kecewa/gagal.
- Bergegas menuju shalat pada
waktunya dan tidak tertinggal dari jamaah pertama memberikan keutamaan
bagi pelakunya yang mengungguli orang-orang yang tertinggal sejauh jarak
yang lebih jauh daripada antara timur dan barat. [Hadis-hadis (6/18).]
- Bergegas melakukan
amal-amal saleh menjadikan pelakunya berada dalam jaminan keamanan dari
fitnah-fitnah atau hal-hal yang dapat menyibukkan dan melalaikan manusia,
seperti penyakit, kefakiran, kekayaan yang menyesatkan, atau usia tua
bangka.
- Bersegera menuju shalat
Jumat dan berangkat menuju ke sana pada waktu/jam pertama memperbesar
pahala dan melipatgandakan ganjaran.
- Orang-orang yang terdepan
menuju kebaikan-kebaikan akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan dosa).
Sumber:
Ibn Humayd, Ṣāliḥ
ibn ‘Abdullāh (ed./supervisor), dkk. Mawsū‘at Naḍrat
an-Na‘īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm. Jeddah: Dār al-Wasīlah li
an-Nashr wa at-Tawzī‘
Comments
Post a Comment