Berlomba Melakukan Kebaikan

[Bersegera dalam Kebaikan (Al-Musāra‘ah fi al-Khairāt)]

[Definisi Bersegera (Al-Musāra‘ah) secara Bahasa:]

merupakan bentuk masdar dari ungkapan kita: sāra‘a fulānun ilā kadzā (si Fulan bersegera menuju sesuatu). Kata ini diambil dari akar kata (s-r-‘) yang menunjukkan makna kebalikan dari lambat (al-but’). Di antara penggunaannya dalam bahasa Arab adalah ungkapan: Li sur‘āna mā shana‘ta kadzā, artinya alangkah cepatnya apa yang telah engkau lakukan. Adapun kata as-sara‘ pada pohon anggur merujuk kepada bagian yang paling cepat tumbuh darinya. [Maqāyīs al-Lughah karya Ibn Faris (3/153).]

Al-Jauhari berkata: Dikatakan saru‘a – sar‘an (lambat/cepat) sebagaimana shaghura – shighran (kecil), maka ia adalah sarī‘ (yang cepat). Ungkapan mereka: sur‘āna dzā khurūjan (alangkah cepatnya ia keluar), memiliki tiga dialek pelafalan (lughāt), yaitu sur‘āna, sar‘āna, dan sir‘āna, yang bermakna alangkah cepatnya ia keluar. Dan dikatakan asra‘a al-qaumu apabila hewan tunggangan mereka berjalan dengan cepat. [Ash-Shiā karya Al-Jauhari (3/1228).]

Al-Fairuzabadi berkata: Al-Sur‘ah (kecepatan) adalah lawan dari al-but’ (kelambatan). Kata ini digunakan pada benda fisik (al-ajsām) maupun perbuatan (al-af‘āl). Dikatakan: saru‘a maka ia sarī‘, dan asra‘a maka ia musri‘. Sebagaimana dikatakan: sairun sarī‘un (perjalanan yang cepat) dan farasun sarī‘un (kuda yang cepat). Bentuk masdar dari saru‘a adalah al-sur‘ah, as-sarā‘ah, dan as-sar‘ [Ibn Mandzhur menambahkan tiga bentuk masdar lainnya, yaitu: as-sar‘u, as-sur‘u, dan as-sir‘u, lihat Al-Lisān (8/151).]. Kalimat sāra‘a ilā al-khairi dan tasāra‘a bermakna sama [Bashā’ir Dzawī at-Tamyīz (3/214).]. Allah Ta'ala berfirman:

"Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan, dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 61)

Ayat

Hadis

Atsar

18

20

28

 

Makna yusāri‘ūna yaitu mereka berlomba-lomba mendahului orang yang mengajak mereka berlomba menuju kebaikan tersebut [Ungkapan ini memberikan pemahaman bahwa bentuk al-mufā‘alah di sini sesuai dengan kaidah asalnya, yaitu menunjukkan adanya persekutuan/saling berlomba (al-musyārakah).]. Dalam riwayat bacaan lain (qirā’ah) dibaca yusri‘ūna fī al-khairāt, artinya mereka menjadi orang-orang yang cepat menuju kebaikan. Adapun kata sābiqūn dalam ayat yang mulia tersebut, Al-Qurthubi menyebutkan bahwa yang dimaksud adalah mendahului menuju waktu-waktunya (waktu pelaksanaan kebaikan). Setiap orang yang mendahului dalam suatu hal, maka ia adalah sābiq (orang yang mendahului) menuju hal tersebut, dan barang siapa yang terlambat darinya, maka hal itu telah mendahuluinya dan luput darinya. Oleh karena itu, huruf lām pada kata lahā bermakna ilā (menuju), sebagaimana terdapat dalam firman Allah 'Azza wa Jalla: "Bahuwa bi-anna rabbaka awā lahā" (QS. Az-Zalzalah: 5), yaitu ilāhā (kepadanya). [Tafsīr Al-Qurubī (12/133) dengan sedikit penyesuaian]

Kata sur‘ānu an-nās bermakna: barisan paling awal dari manusia yang bersegera menuju sesuatu dan menyambutnya dengan cepat. Huruf rā’ pada kata tersebut boleh dibaca sukun (sur‘n). Kata al-masārī‘ adalah bentuk jamak dari misrā‘, yaitu orang yang sangat cepat dalam segala urusan, dan ini termasuk bentuk kata hiperbola (abniyat al-mubālaghah). [Lihat An-Nihāyah karya Ibn Al-Atsir (2/361).] Adapun al-mutasarri‘ adalah orang yang bersegera menuju keburukan, dikatakan: tasarra‘a ilā asy-syarr. Sedangkan al-musri‘ adalah orang yang cepat menuju kebaikan atau keburukan. Ungkapan sāra‘a ilā al-amr sama seperti asra‘a ilaih. Demikian pula sāra‘a ilā kadzā dan tasarra‘a ilaih memiliki makna yang sama [Penulis kitab Al-Lisān mengisyaratkan dengan ungkapan ini bahwa kata tasarra‘a digunakan dengan arti bersegera menuju suatu perkara secara mutlak, baik perkara itu berupa kebaikan maupun keburukan.]. Adapun al-masāra‘ah ilā asy-syai’ bermakna bergegas/meprakarsai (al-mubādarah) menuju sesuatu tersebut [Lisān al-‘Arab (8/151) cet. Beirut]. Perbedaan antara as-sur‘ah dan al-isrā‘ adalah bahwa al-isrā‘ di dalamnya upaya (thalab) dan pemaksaan diri (takalluf). Sedangkan as-sur‘ah (kecepatan dasar) seolah-olah merupakan perangai bawaan (gharīzah). Dikatakan: asra‘a (dia mempercepat), artinya dia mengupayakan hal itu dari dirinya dan memaksakannya, seolah-olah dia mempercepat jalannya (asra‘a al-maysya), yaitu menyegerakannya. Adapun ungkapan saru‘a fulānun (si Fulan cepat), maka maknanya adalah bahwa kecepatan tersebut telah menjadi sifat pembawaan (thaba‘) dan karakter (sajiyyah) pada dirinya [Lisān al-‘Arab (8/151) cet. Beirut. Perbedaan ini dinukil dari Imam Sibawaih].

Adapun firman Allah 'Azza wa Jalla:

"Dan bersegeralah kamu kepada ampunan dari Tuhanmu..." (QS. Ali 'Imran: 133)

Maka maknanya adalah: bersegeralah kamu menuju hal-hal yang mendatangkan ampunan, yaitu ketaatan. Ada yang berpendapat: menunaikan kewajiban-kewajiban (adā’ al-farā’idh). Ada yang berpendapat: keikhlasan. Ada yang berpendapat: bertaubat dari riba. Ada pula yang berpendapat: keteguhan dalam berperang, serta ada pendapat-pendapat lainnya selain ini. Al-Qurthubi berkata: "Ayat ini bersifat umum mencakup semuanya, dan maknanya setara dengan makna firman-Nya: Lombalah kamu (dalam berbuat) kebaikan (QS. Al-Baqarah: 148), yang mengandung dorongan dan anjuran untuk menyegerakan seluruh bentuk ketaatan secara umum." [Tafsīr Al-Qurubī (4/203), dan mengenai makna "Istabiqū al-khairāt" lihat (2/165).]

[Definisi Bersegera dalam Kebaikan (Al-Musāra‘ah fi al-Khairāt) secara Istilah:]

Kitab-kitab peristilahan (kutub al-mushthalahāt)—yang kami teliti—tidak mencantumkan "Bersegera dalam Kebaikan" (Al-Musāra‘ah fi al-Khairāt) sebagai suatu istilah khusus secara definitif. Namun, kita dapat merumuskan definisinya melalui penjelasan para ahli bahasa dan ahli tafsir, sehingga kita katakan:

Bersegera dalam kebaikan (Al-Musāra‘ah fi al-Khairāt) adalah: Bersegera (al-mubādarah) menuju ketaatan, berlomba-lomba (as-sabq) kepadanya, menyegerakan pelaksanaan ketaatan tersebut, serta tidak lambat atau menunda-nundanya.

[Bersegera (Al-Musāra‘ah), Berlomba (Al-Musābaqah), dan Mengambil Prakarsa (Al-Mubādarah):]

Ketiga lafaz ini memiliki makna yang sangat berdekatan (mutaqāribah al-ma‘nā). Meskipun di antara ketiganya terdapat perbedaan penggunaan dalam banyak konteks, namun di antaranya terdapat apa yang dinamakan oleh sebagian ahli bahasa sebagai sinonim parsial (at-tarāduf al-juz’ī). Yang dimaksud dengannya adalah penggunaan dua lafaz atau lebih dalam penggunaan yang sama pada sebagian konteks, tetapi tidak pada sebagian konteks yang lain.

Ketiga lafaz ini (al-musāra‘ah, al-musābaqah, dan al-mubādarah) termasuk dalam kategori ini; yaitu ketika disandingkan dengan kebaikan-kebaikan (al-khairāt) atau amal saleh, maka ketiganya memiliki arti yang sama. Lafaz al-mubādarah banyak digunakan dalam hadis-hadis syarif, sedangkan lafaz al-musāra‘ah banyak digunakan dalam Al-Qur'an al-Karim. Adapun lafaz al-musābaqah digunakan pada keduanya secara seimbang. Di antara lafaz-lafaz hadis yang memberikan makna al-musāra‘ah atau al-mubādarah adalah lafaz at-tabkīr (datang/berbuat lebih awal), khususnya apabila disandingkan dengan pelaksanaan shalat.

[Untuk Pendalaman Lebih Lanjut, Lihat Sifat-sifat Berikut:]

  • Pertolongan (Al-Ighātsah)
  • Kebajikan (Al-Birr)
  • Berbakti kepada kedua orang tua (Birr al-Wālidain)
  • Tolong-menolong dalam kebajikan dan takwa (At-Ta‘āwun ‘alā al-birr wa at-taqwā)
  • Ketaatan (Ath-Thā‘ah)
  • Ibadah (Al-‘Ibādah)
  • Berbuat baik (Al-Isān)
  • Kedermawanan (Al-Karam)
  • Keluhuran budi (Al-Murū’ah)

[Dan pada Sifat Kebalikannya, Lihat Sifat-sifat Berikut:]

  • Kelalaian (Al-Ihmāl)
  • Kebanyakan/Kikir (Al-Bukhl)
  • Ketiadaan pembelaan/Penelantaran (At-Takhādzul)
  • Kelalaian dan melampaui batas (At-Tafri wa al-Ifrā)
  • Meremehkan (At-Tahāwun)
  • Pelit/Kikir yang teramat sangat (Asy-Syuhh)
  • Berpaling (Al-I‘rā)
  • Menuruti hawa nafsu (Ittibā‘ al-hawā)

[Ayat-ayat yang Terkandung Mengenai "Bersegera dalam Kebaikan" (Al-Musāra‘ah fi al-Khairāt)]

  1. "Mereka itu tidak seluruhnya sama. Di antara Ahli Kitab ada golongan yang jujur. Mereka membaca ayat-ayat Allah pada malam hari dan mereka pun bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari Akhir, menyuruh (berbuat) yang makruf, mencegah dari yang mungkar, dan bersegera (mengerjakan) berbagai kebaikan. Mereka itu termasuk orang-orang saleh." (QS. Ali 'Imran: 113-114) [Madaniyyah]
  2. "Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kepada Allah agar kamu beruntung. Peliharalah dirimu dari api neraka yang disediakan bagi orang-orang kafir. Taatilah Allah dan Rasul (Muhammad) agar kamu diberi rahmat. Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang bertakwa, (yaitu) orang-orang yang menginfakkan (hartanya), baik di waktu lapang maupun sempit, dan orang-orang yang menahan amarahnya dan memaafkan (kesalahan) orang lain. Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan. Demikian (juga) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka segera ingat Allah, lalu memohon ampunan atas dosa-dosanya. Siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah? Mereka pun tidak meneruskan perbuatan tercela itu, sedangkan mereka mengetahui. Mereka itu balasannya ialah ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya. (Itulah) sebaik-baik pahala bagi orang-orang yang beramal." (QS. Ali 'Imran: 130-136) [Madaniyyah]
  3. "Dan (ingatlah) Zakaria ketika dia berdoa kepada Tuhannya, 'Ya Tuhanku, janganlah Engkau biarkan aku hidup seorang diri (tanpa keturunan) dan Engkaulah ahli waris yang terbaik.' Maka, Kami memperkenankan doanya, menganugerahkan Yahya kepadanya, dan menjadikan istrinya (dapat mengandung) setelah sebelumnya mandul. Sesungguhnya mereka selalu bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan, berdoa kepada Kami dengan penuh harap dan cemas, dan mereka adalah orang-orang yang khusyuk kepada Kami." (QS. Al-Anbiya': 89-90) [Makkiyyah]
  4. "Sesungguhnya orang-orang yang karena takut akan (azab) Tuhan mereka, mereka sangat berhati-hati, orang-orang yang beriman pada ayat-ayat Tuhan mereka, orang-orang yang tidak mempersekutukan Tuhan mereka, dan orang-orang yang memberikan apa yang telah mereka berikan dengan hati yang takut (karena mereka tahu) bahwa sesungguhnya mereka akan kembali kepada Tuhan mereka. Mereka itulah orang-orang yang bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan dan merekalah orang-orang yang lebih dahulu memperolehnya." (QS. Al-Mu'minun: 57-61) [Makkiyyah]

[Ayat-ayat yang Terkandung Mengenai Makna "Bersegera dalam Kebaikan" (Al-Musāra‘ah ilā al-Khairāt)]

  1. "Bagi setiap umat ada kiblat yang dia menghadap kepadapunya. Maka, berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan. Di mana saja kamu berada, pasti Allah akan mengumpulkan kamu semuanya. Sesungguhnya Allah Maha Kuasa atas segala sesuatu." (QS. Al-Baqarah: 148) [Madaniyyah]
  2. "Kami telah menurunkan kitab (Al-Qur'an) kepadamu (Muhammad) dengan membawa kebenaran, membenarkan kitab-kitab yang diturunkan sebelumnya dan bertindak sebagai pemelihara atasnya. Maka, putuskanlah perkara mereka menurut apa yang diturunkan Allah dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka dengan meninggalkan kebenaran yang telah datang kepadamu. Untuk setiap umat di antara kamu, Kami berikan aturan dan jalan yang terang. Seandainya Allah menghendaki, niscaya Dia menjadikan kamu satu umat (saja). Akan tetapi, Allah hendak menguji kamu terhadap karunia yang telah dianugerahkan-Nya kepadamu. Maka, berlomba-lombalah dalam kebaikan. Hanya kepada Allah tempat kembalimu semuanya, lalu Dia memberitahukan kepadamu apa yang dahulu kamu perselisihkan." (QS. Al-Ma'idah: 48) [Madaniyyah]
  3. "Katakanlah (Muhammad), 'Apakah aku akan menjadikan pelindung selain Allah yang Pencipta langit dan bumi, padahal Dia yang memberi makan dan tidak diberi makan?' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku diperintahkan agar menjadi orang yang pertama berserah diri (masuk Islam) dan jangan sekali-kali kamu masuk golongan orang-orang musyrik.'" (QS. Al-An'am: 14) [Makkiyyah]
  4. "Dialah yang menjadikan kebun-kebun yang terbebat dan yang tidak terbebat, pohon kurma, tanaman yang beraneka ragam rasanya, serta zaitun dan delima yang serupa (bentuk dan warnanya) dan tidak serupa (rasanya). Makanlah buahnya apabila berbuah dan berikanlah haknya (zakatnya) pada hari memetiknya (panen). Janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan." (QS. Al-An'am: 141) [Makkiyyah]
  5. "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya Tuhanku telah memberi petunjuk kepadaku ke jalan yang lurus, agama yang benar, agama Ibrahim yang lurus. Dia (Ibrahim) tidak termasuk orang-orang musyrik.' Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya. Demikian itulah yang diperintahkan kepadaku dan aku adalah orang yang pertama berserah diri (Muslim).'" (QS. Al-An'am: 161–163) [Makkiyyah]
  6. "Ketika Musa datang untuk (munajat pada) waktu yang telah Kami tentukan dan Tuhan telah berfirman (langsung) kepadanya, dia berkata, 'Ya Tuhanku, perlihatkanlah (diri-Mu) kepadaku agar aku dapat melihat Engkau.' Dia (Allah) berfirman, 'Engkau tidak akan (sanggup) melihat-Ku, tetapi lihatlah ke gunung itu. Jika ia tetap di tempatnya (seperti sediakala), niscaya engkau dapat melihat-Ku.' Ketika Tuhannya menampakkan keagungan-Nya kepada gunung itu, Dia menjadikannya hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Setelah Musa sadar, dia berkata, 'Mahasuci Engkau, aku bertobat kepada-Mu dan aku adalah orang yang pertama beriman.'" (QS. Al-A'raf: 143) [Makkiyyah]
  7. "Orang-orang yang terdahulu lagi yang pertama-tama (masuk Islam) di antara orang-orang Muhajirin dan Ansar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada Allah. Allah menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang agung." (QS. At-Taubah: 100) [Madaniyyah]
  8. "Ketika para pesihir datang, mereka berkata kepada Firaun, 'Apakah kami benar-benar akan mendapat imbalan jika kamilah yang menang?' Dia (Firaun) menjawab, 'Ya, dan sesungguhnya kamu pasti akan termasuk orang-orang yang terdekat (kepadaku).' Musa berkata kepada mereka, 'Lemparkanlah apa yang hendak kamu lemparkan!' Lalu, mereka melemparkan tali-tali dan tongkat-tongkat mereka seraya berkata, 'Demi kekuasaan Firaun, pasti kamilah yang menang.' Kemudian, Musa melemparkan tongkatnya, maka seketika itu tongkat itu menelan apa yang mereka ada-adakan. Lalu, para pesihir itu menyungkur bersujud. Mereka berkata, "Kami beriman kepada Tuhan semesta alam, (yaitu) Tuhan Musa dan Harun." Dia (Firaun) berkata, "Apakah kamu beriman kepadanya sebelum aku memberi izin kepadamu? Sesungguhnya dia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu. Nanti kamu pasti akan mengetahui (akibat perbuatanmu). Sungguh, aku akan memotong tangan dan kakimu bersilang dan sungguh, aku akan menyalib kamu semuanya." Mereka berkata, "Tidak ada masalah (bagi kami). Sesungguhnya kami akan kembali kepada Tuhan kami. Sesungguhnya kami sangat berharap bahwa Tuhan kami akan mengampuni kesalahan-kesalahan kami karena kami menjadi orang-orang yang pertama-tama beriman." (QS. Asy-Syu'ara: 45–51) [Makkiyyah]
  1. "Kemudian, Kitab itu Kami wariskan kepada orang-orang yang Kami pilih di antara hamba-hamba Kami. Lalu, di antara mereka ada yang menzalimi diri sendiri, ada yang pertengahan, dan ada (pula) yang lebih dahulu berbuat kebaikan dengan izin Allah. Yang demikian itu adalah karunia yang besar." (QS. Fatir: 32) [Makkiyyah]
  2. "Katakanlah (Muhammad), 'Sesungguhnya aku diperintahkan untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya. Dan aku diperintahkan agar menjadi orang yang pertama-tama berserah diri (masuk Islam).' Katakanlah, 'Sesungguhnya aku takut akan azab hari yang besar jika mendurhakai Tuhanku.'" (QS. Az-Zumar: 11–13) [Makkiyyah]
  3. "Mengapa kamu tidak menginfakkan (hartamu) di jalan Allah, padahal milik Allah-lah warisan langit dan bumi? Tidak sama di antara kamu orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang sebelum penaklukan (Mekah). Mereka itu lebih tinggi derajatnya daripada orang-orang yang menginfakkan (hartanya) dan berperang setelah itu. Allah menjanjikan kepada masing-masing mereka (balasan) yang terbaik. Allah Mahateliti terhadap apa yang kamu kerjakan." (QS. Al-Hadid: 10) [Madaniyyah]
  4. "Ketahuilah bahwa kehidupan dunia itu hanyalah permainan, kelalaian, perhiasan, dan saling membanggakan di antara kamu serta berlomba-lomba dalam kekayaan dan anak cucu, seperti hujan yang tanamannya mengagumkan para petani; kemudian tanaman itu menjadi kering dan kamu lihat warnanya kuning kemudian menjadi hancur. Di akhirat ada azab yang keras dan ampunan dari Allah serta keridaan-Nya. Kehidupan dunia tidak lain hanyalah kesenangan yang palsu. Berlomba-lombalah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi yang disediakan bagi orang-orang yang beriman kepada Allah dan rasul-rasul-Nya. Itulah karunia Allah yang diberikan-Nya kepada siapa yang Dia kehendaki. Allah mempunyai karunia yang besar." (QS. Al-Hadid: 20–21) [Madaniyyah]
  5. "(Harta rampasan perang itu juga) bagi orang-orang fakir yang berhijrah yang diusir dari kampung halaman dan harta benda mereka karena mencari karunia dari Allah dan keridaan-(Nya) serta membantu (agama) Allah dan Rasul-Nya. Mereka itulah orang-orang yang benar. Orang-orang (Ansar) yang telah menempati kota (Madinah) dan telah beriman sebelum (kedatangan) mereka (Muhajirin) mencintai orang yang berhijrah kepada mereka. Mereka tidak mendapati sesuatu keinginan pun dalam dada mereka terhadap apa yang diberikan (kepada orang-orang Muhajirin). Mereka mengutamakan (orang-orang Muhajirin) daripada diri mereka sendiri, meskipun mereka memerlukan. Siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, mereka itulah orang-orang yang beruntung." (QS. Al-Hasyr: 8–9) [Madaniyyah]
  6. "Sesungguhnya orang-orang yang berbakti benar-benar berada dalam (surga yang penuh) kenikmatan. Mereka (duduk) di atas dipan-dipan melepas pandangan. Engkau dapat mengetahui dari wajah mereka kesenangan hidup yang penuh kenikmatan. Mereka diberi minum dari khamar murni yang (tempatnya) masih dimeterai. Meterainya adalah kasturi. Untuk yang demikian itu hendaknya orang berlomba-lomba." (QS. Al-Mutaffifin: 22–26) [Makkiyyah]

[Hadis-hadis yang Terkandung Mengenai (Bersegera dalam Kebaikan)]

  1. Dari Ibnu 'Umar radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata:

Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam datang pada tahun Penaklukan Kota Mekah (Fathu Makkah) dalam keadaan memboncengkan Usamah di atas unta bernama Al-Qashwa'—bersama beliau terdapat Bilal dan 'Utsman bin Thalhah—hingga beliau menderumkan untanya di dekat Baitullah (Ka'bah). Kemudian beliau berkata kepada 'Utsman: "Bawakan kunci itu kepada kami." Maka 'Utsman membawakan kunci tersebut lalu membuka pintu Ka'bah untuk beliau. Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, Usamah, Bilal, dan 'Utsman pun masuk, kemudian mereka menutup pintunya dari dalam. Beliau berdiam di dalamnya cukup lama pada siang hari itu, lalu keluar. Orang-orang pun bersegera (ibtadara) untuk masuk, maka aku mendahului mereka dan mendapati Bilal sedang berdiri di belakang pintu. Aku bertanya kepadanya: "Di manakah Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam shalat?" Bilal menjawab: "Beliau shalat di antara dua tiang depan." Saat itu Ka'bah memiliki enam tiang yang terbagi dalam dua baris. Beliau shalat di antara dua tiang dari baris depan, menjadikan pintu Ka'bah berada di belakang punggung beliau, dan menghadap dengan wajahnya ke arah dinding yang ada di hadapanmu ketika engkau memasuki Ka'bah, antara beliau dan dinding tersebut. Ibnu 'Umar berkata: Aku lupa tidak menanyakan berapa rakaat beliau shalat. Dan di tempat beliau shalat tersebut terdapat marmer merah. [HR. Bukhari – Fath al-Bari (7/4400).

  1. Dari Abu Musa radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya ketika Asma' datang, 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu menemuinya di salah satu jalan di Madinah, lalu 'Umar berkata: "Apakah ini wanita Habasyah [Etiopia] itu?"

Asma' menjawab: "Ya."

'Umar berkata: "Sebaik-baik kaum adalah kalian, seandainya saja kalian tidak terdahulu (sabaqtum) dalam berhijrah."

Maka Asma' berkata kepada 'Umar: "Kalian dahulu bersama Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau memberi makan orang yang berjalan di antara kalian dan mengajari orang jahil di antara kalian, sedangkan kami melarikan diri demi mempertahankan agama kami. Ingatlah, demi Allah, aku tidak akan kembali sampai aku menyebutkan hal ini kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam." Maka Asma' kembali kepada beliau dan menceritakannya.

Lalu Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

»بَلْ لَكُمْ الْهِجْرَةُ مَرَّتَيْنِ؛ هِجْرَتُكُمْ إِلَى الْمَدِينَةِ، وَهِجْرَتُكُمْ إِلَى الْحَبَشَةِ«

"Bahkan bagi kalian Pahala Hijrah dua kali; hijrah kalian ke Madinah, dan hijrah kalian ke Habasyah." [HR. Bukhari – Fath al-Bari (7/4230), dan Muslim (2503)]

  1. Dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu, ia berkata:

Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam memerintahkan kami untuk bersedekah, dan hal itu bertepatan dengan harta yang sedang kumiliki. Maka aku berkata (dalam hati): "Hari ini aku akan mengungguli/mendahului Abu Bakar jika aku bisa mengunggulinya pada suatu hari."

Ia berkata: Maka aku membawa separuh dari hartaku.

Lalu Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?"

Aku menjawab: "Semisal dengannya (separuh lagi)."

Kemudian Abu Bakar datang membawa seluruh harta yang dimilikinya.

Maka beliau bersabda:

يَا أَبَا بَكْرٍ: مَا أَبْقَيْتَ لِأَهْلِكَ؟

"Wahai Abu Bakar, apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?"

Abu Bakar menjawab: "Aku tinggalkan untuk mereka Allah dan Rasul-Nya."

'Umar berkata: "Demi Allah, aku tidak akan pernah bisa mengunggulinya dalam sesuatu apa pun selamanya." [HR. Tirmidzi no. (3675), dan beliau berkata: Hadis ini hasan shahih]

  1. Dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu, ia berkata:

Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam berjalan melewati 'Abdullah bin Mas'ud yang sedang membaca Al-Qur'an, sedangkan aku dan Abu Bakar bersamanya. Beliau pun berdiri dan mendengarkan bacaannya. Kemudian 'Abdullah ruku' dan sujud.

'Umar berkata: Maka Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: "Mintalah, niscaya engkau diberi!"

Kemudian Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam berlalu seraya bersabda:

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يَقْرَأَ الْقُرْآنَ غَضًّا كَمَا أُنْزِلَ فَلْيَقْرَأْهُ مِنْ ابْنِ أُمِّ عَبْدٍ

"Barang siapa yang merasa senang untuk membaca Al-Qur'an secara segar (murni) sebagaimana saat diturunkan, hendaklah ia membacanya sesuai bacaan Ibnu Ummi 'Abd ('Abdullah bin Mas'ud)."

'Umar berkata: Maka aku berangkat di akhir malam (adlaktu) menuju tempat 'Abdullah bin Mas'ud untuk memberitahukan berita gembira kepadanya tentang apa yang disabdakan Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam.

Ia berkata: Ketika aku menggetuk pintu—atau ia berkata: ketika ia mendengar suaraku—ia berkata: "Apa yang membuatmu datang pada jam segini?"

Aku menjawab: "Aku datang untuk memberitahukan berita gembira kepadamu tentang apa yang disabdakan Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam."

Ia berkata: "Abu Bakar telah mendahulumu."

Aku berkata: "Jika ia melakukannya, memang dia adalah orang yang sangat selalu bersegera dalam kebaikan (sabbāq bi al-khairāt). Tidaklah kami berlomba-lomba dalam suatu kebaikan sama sekali melainkan Abu Bakar selalu mendahului kami menuju kebaikan tersebut." [HR. Musnad Ahmad (1/38, 1/26), cetakan Syaikh Ahmad Syakir no. (265) dan beliau berkata: Isnadnya shahih, demikian pula pada no. (175).]

  1. Dari Ibnu 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

»عُرِضَتْ عَلَيَّ الْأُمَمُ فَأَخَذَ النَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْأُمَّةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْعَشَرَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ مَعَهُ الْخَمْسَةُ، وَالنَّبِيُّ يَمُرُّ وَحْدَهُ، فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قُلْتُ: يَا جِبْرِيلُ هَؤُلَاءِ أُمَّتِي؟ قَالَ: لَا، وَلَكِنْ انْظُرْ إِلَى الْأُفُقِ فَنَظَرْتُ فَإِذَا سَوَادٌ كَثِيرٌ، قَالَ: هَؤُلَاءِ أُمَّتُكَ، وَهَؤُلَاءِ سَبْعُونَ أَلْفًا قُدَّامَهُمْ لَا حِسَابَ عَلَيْهِمْ وَلَا عَذَابَ، قُلْتُ: وَلِمَ؟ قَالَ: كَانُوا لَا يَكْتَوُونَ وَلَا يَسْتَرِقُونَ، وَلَا يَتَطَيَّرُونَ، وَعَلَى رَبِّهِمْ يَتَوَكَّلُونَ، فَقَامَ إِلَيْهِ عُكَّاشَةُ بْنُ مِحْصَنٍ فَقَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: «اللَّهُمَّ اجْعَلْهُ مِنْهُمْ»، ثُمَّ قَامَ إِلَيْهِ رَجُلٌ آخَرُ فَقَالَ: ادْعُ اللَّهَ أَنْ يَجْعَلَنِي مِنْهُمْ. قَالَ: «سَبَقَكَ بِهَا عُكَّاشَةُ»«

"Umat-umat telah diperlihatkan kepadaku, maka ada seorang nabi yang lewat bersama umatnya, ada nabi yang lewat bersama sepuluh orang, ada nabi yang lewat bersama lima orang, dan ada nabi yang lewat seorang diri. Lalu aku melihat dan ternyata ada kumpulan orang yang sangat banyak. Aku bertanya: 'Wahai Jibril, apakah mereka ini umatku?' Jibril menjawab: 'Bukan, tetapi lihatlah ke ufuk!' Maka aku melihat dan ternyata ada kumpulan orang yang sangat banyak. Jibril berkata: 'Mereka ini adalah umatmu, dan tujuh puluh ribu orang di depan mereka tidak ada hisab (perhitungan dosa) atas mereka dan tidak pula azab.' Aku bertanya: 'Mengapa begitu?' Jibril menjawab: 'Mereka adalah orang-orang yang tidak meminta di-kai [pengobatan dengan besi panas], tidak meminta diruqyah, tidak mempercayai mitos/sial (tatayuyur), dan hanya kepada Tuhan merekalah mereka bertawakal.' Kemudian 'Ukkasyah bin Mihshan berdiri menghadap beliau lalu berkata: 'Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk bagian dari mereka!' Beliau berdoa: 'Ya Allah, jadikanlah dia termasuk bagian dari mereka.' Kemudian berdiri seorang laki-laki lain seraya berkata: 'Berdoalah kepada Allah agar Dia menjadikanku termasuk bagian dari mereka!' Beliau bersabda: 'Engkau telah didahului oleh 'Ukkasyah dalam hal itu.'" [HR. Bukhari – Fath al-Bari (11/6541) dan lafaz ini miliknya, serta HR. Muslim (367).]

  1. Dari Sahl, dari ayahnya, dari Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam, bahwasanya beliau memerintahkan para sahabatnya untuk berperang. Lalu ada seorang laki-laki yang tertinggal (tidak langsung berangkat) dan berkata kepada keluarganya: "Aku akan tertinggal sejenak hingga aku melaksanakan shalat Dzuhur bersama Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam, kemudian aku mengucapkan salam kepada beliau dan berpamitan, lalu beliau mendoakan aku dengan doa yang dapat menjadi pemberi syafaat pada hari Kiamat." Maka ketika Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam selesai shalat, laki-laki itu datang dan mengucapkan salam kepada beliau. Lalu Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya:

»وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ لَقَدْ سَبَقُوكَ بِأَبْعَدِ مَا بَيْنَ الْمَشْرِقَيْنِ وَالْمَغْرِبَيْنِ فِي الْفَضِيلَةِ«

"Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh mereka (yang langsung berangkat) telah mendahulumu dalam keutamaan sejauh jarak antara dua timur dan dua barat." [HR. Musnad Ahmad (3/438), dan ini termasuk musnad Sahl bin Mu'adz; di dalamnya terdapat perawi bernama Ibnu Lahi'ah dan hadisnya berderajat hasan.]

[Hadis-hadis yang Terkandung Mengenai Makna (Bersegera dalam Kebaikan)]

  1. Dari Yazid bin Al-Akhnas bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

»لَا تَنَافُسَ بَيْنَكُمْ إِلَّا فِي اثْنَتَيْنِ: رَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ عَزَّ وَجَلَّ الْقُرْآنَ فَهُوَ يَقُومُ بِهِ آنَاءَ اللَّيْلِ وَآنَاءَ النَّهَارِ وَيَتَّبِعُ مَا فِيهِ فَيَقُولُ رَجُلٌ: لَوْ أَنَّ اللَّهَ تَعَالَى أَعْطَانِي مِثْلَ مَا أَعْطَى فُلَانًا فَأَقُومَ بِهِ كَمَا يَقُومُ بِهِ. وَرَجُلٌ أَعْطَاهُ اللَّهُ مَالًا فَهُوَ يُنْفِقُ وَيَتَصَدَّقُ فَيَقُولُ رَجُلٌ: لَوْ أَنَّ اللَّهَ أَعْطَانِي مِثْلَ مَا أَعْطَى فُلَانًا فَأَتَصَدَّقَ بِهِ ... الْحَدِيثَ«

"Tidak ada persaingan/perlombaan (tanāfus) di antara kalian kecuali dalam dua hal: Seorang laki-laki yang dikaruniai Al-Qur'an oleh Allah 'Azza wa Jalla, lalu dia mengamalkannya sepanjang malam dan siang serta mengikuti apa yang ada di dalamnya, kemudian seseorang berkata: 'Seandainya Allah Ta'ala memberiku seperti apa yang diberikan kepada Fulan, niscaya aku akan mengamalkannya sebagaimana dia mengamalkannya.' Dan seorang laki-laki yang dikaruniai harta oleh Allah, lalu dia menginfakkan dan bersedekah dengannya, kemudian seseorang berkata: 'Seandainya Allah memberiku seperti apa yang diberikan kepada Fulan, niscaya aku akan bersedekah dengannya ... (al-hadits)." [HR. Bukhari – Fath al-Bari (9/5025), HR. Muslim (815), dan Musnad Ahmad (4/105) dan lafaz ini miliknya]

  1. Dari Ibnu 'Umar radhiyallāhu 'anhumā, bahwasanya Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

بَادِرُوا الصُّبْحَ بِالْوِتْرِ

"Bersegeralah kalian menunaikan shalat Witir sebelum datang waktu Subuh."  [Sumber yang sama (Musnad Ahmad 2/37), Syaikh Ahmad Syakir berkata (4952): Isnadnya shahih.]

  1. Dari 'Abdullah bin Syafiq, ia berkata: Aku bertanya kepada Ibnu 'Umar tentang shalat malam, maka Ibnu 'Umar menjawab: Seorang laki-laki bertanya kepada Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam tentang shalat malam sedangkan aku berada di antara keduanya, lalu beliau bersabda:

"Shalat malam itu dua rakaat dua rakaat. Jika engkau khawatir datangnya waktu Subuh, maka bersegeralah mendahului Subuh dengan satu rakaat (Witir), dan dua rakaat sebelum shalat Pagi (Subuh)." [Sumber yang sama (Musnad Ahmad 2/71), Syaikh Ahmad Syakir berkata (5399): Isnadnya shahih]

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

»بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ سَبْعًا: هَلْ تَنْتَظِرُونَ إِلَّا فَقْرًا مُنْسِيًا، أَوْ غِنًى مُطْغِيًا، أَوْ مَرَضًا مُفْسِدًا، أَوْ هَرَمًا مُفْنِدًا، أَوْ مَوْتًا مُجْهِزًا، أَوْ الدَّجَّالَ، فَشَرُّ غَائِبٍ يُنْتَظَرُ، أَوْ السَّاعَةَ فَالسَّاعَةُ أَدْهَى وَأَمَرُّ«

"Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datangnya tujuh perkara: Apakah kamu sekalian hanya menunggu kemiskinan yang membuat lupa, atau kekayaan yang membuat melampaui batas, atau penyakit yang merusak kesehatan, atau kelanjutan usia tua yang melemahkan akal/pembicaraan, atau kematian yang menyergap dengan cepat, atau Dajjal—maka ia adalah seburuk-buruk makhluk gaib yang ditunggu—, atau hari Kiamat—maka hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit?"  [HR. Tirmidzi (2307) dan beliau berkata: Hasan. Disebutkan oleh Al-Mundziri dalam At-Targhīb wa at-Tarhīb (4/250) dan ia berkata: Hadis hasan.]

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, dari Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

»بَادِرُوا بِالْأَعْمَالِ فِتَنًا كَقِطَعِ اللَّيْلِ الْمُظْلِمِ، يُصْبِحُ الرَّجُلُ مُؤْمِنًا وَيُمْسِي كَافِرًا، أَوْ يُمْسِي مُؤْمِنًا وَيُصْبِحُ كَافِرًا، يَبِيعُ دِينَهُ بِعَرَضٍ مِنْ الدُّنْيَا«

"Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datangnya fitnah-fitnah seperti potongan-potongan malam yang gelap gulita. Di mana seorang laki-laki pada pagi hari dalam keadaan beriman dan pada sore harinya menjadi kafir, atau pada sore hari dalam keadaan beriman dan pada pagi harinya menjadi kafir, ia menjual agamanya dengan sedikit kenikmatan dunia."  [HR. Muslim (186).]

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

تَبَادَرُوا بِالْأَعْمَالِ سِتًّا: طُلُوعَ الشَّمْسِ مِنْ مَغْرِبِهَا، وَالدَّجَّالَ، وَالدُّخَانَ، وَدَابَّةَ الْأَرْضِ، وَخُوَيْصَةَ أَحَدِكُمْ، وَأَمْرَ الْعَامَّةِ

"Bersegeralah kamu sekalian untuk beramal sebelum datangnya enam perkara: Terbitnya matahari dari tempat tenggelamnya (barat), Dajjal, dukhan (asap/kabut), binatang melata dari bumi (dābbat al-ar), perkara khusus pada diri salah seorang di antara kamu (kematian), dan perkara umum (kiamat)."

'Affan berkata dalam hadisnya: Qatadah apabila menyebutkan "perkara umum" (amr al-‘āmmah), maksudnya adalah perkara Kiamat (amr as-sā‘ah). [HR. Musnad Ahmad (2/324), Syaikh Ahmad Syakir berkata (8286): Isnadnya shahih. Dan dinisbatkan dalam At-Tahdzīb (3/366) kepada Shahih Muslim dan Ibnu Majah no. (4056) dan ia berkata dalam Az-Zawā'id: Isnadnya hasan. Serta Al-Mundziri dalam At-Targhīb wa at-Tarhīb (4/250).]

  1. Dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu, ia berkata:

Dahulu apabila muazin telah mengumandangkan azan, orang-orang di antara sahabat Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam berdiri dan bersegera menuju tiang-tiang masjid (yabtadirūna as-sawārī) hingga Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam keluar sementara mereka dalam keadaan demikian shalat dua rakaat sebelum Maghrib, dan tidak ada selang waktu antara azan dan ikamah melainkan sedikit sekali. 'Utsman bin Jabalah dan Abu Dawud meriwayatkan dari Syu'bah: "Tidak ada selang waktu di antara keduanya melainkan hanya sebentar."  [HR. Bukhari – Fath al-Bari (2/625).]

  1. Dari Ibnu 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata:

Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda kepada seorang laki-laki saat beliau menasihatinya:

اغْتَنِمْ خَمْسًا قَبْلَ خَمْسٍ: شَبَابَكَ قَبْلَ هَرَمِكَ، وَصِحَّتَكَ قَبْلَ سَقَمِكَ، وَغِنَاكَ قَبْلَ فَقْرِكَ، وَفَرَاغَكَ قَبْلَ شُغْلِكَ، وَحَيَاتَكَ قَبْلَ مَوْتِكَ

"Manfaatkanlah lima perkara sebelum datangnya lima perkara: Masa mudamu sebelum masa tuamu, sehatmu sebelum sakitmu, kayamu sebelum miskinmu, waktu luangmu sebelum waktu sibukmu, dan hidupmu sebelum matimu."  [Al-Mundziri dalam At-Targhīb wa at-Tarhīb (4/251) dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Al-Hakim dan ia berkata: Shahih sesuai syarat keduanya (Bukhari dan Muslim).]

  1. Dari Mus'ab bin Sa'd, dari ayahnya; Al-A'masy berkata: Dan aku tidak mengetahuinya kecuali bersumber dari Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda:

»التُّؤَدَةُ فِي كُلِّ شَيْءٍ إِلَّا فِي عَمَلِ الْآخِرَةِ«

"Sikap perlahan-lahan/hati-hati (At-Tu’adah: Dibaca dengan sukun atau fathah huruf hamzahnya, artinya: bersikap pelan-pelan, tenang, penuh pertimbangan, dan anggun (at-ta’annī, at-tamahhuk, wa ar-razānah).) itu ada pada segala sesuatu kecuali dalam amalan akhirat."  [HR. Abu Dawud no. (4811) dan lafaz ini miliknya, Al-Hakim (4/306) dan ia berkata: Sesuai syarat keduanya (Bukhari dan Muslim) dan disepakati oleh Adz-Dzahabi. Disebutkan pula oleh Al-Mundziri dalam At-Targhīb wa at-Tarhīb (4/252) dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Abu Dawud, Al-Hakim, dan Al-Baihaqi]

  1. Dari Abu 'Abdirrahman As-Sulami, ia berkata:

Ketika 'Utsman dikepung, ia muncul dan melihat kepada mereka dari atas rumahnya, lalu ia berkata: "Aku ingatkan kalian demi Allah, apakah kalian mengetahui bahwa ketika gunung Hira bergetar, Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda: 'Tenanglah wahai Hira, karena tidak ada di atasmu kecuali seorang Nabi, seorang Siddiq, atau seorang Syahid'?"

Merekajawab: "Ya."

Ia berkata: "Aku ingatkan kalian demi Allah, apakah kalian mengetahui bahwa Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda mengenai Pasukan Kesulitan (Jaīsy al-‘Usrah): 'Barang siapa yang menginfakkan infak yang diterima (oleh Allah)' padahal manusia sedang dalam kondisi amat sulit dan miskin, lalu aku menyiapkan perbekalan pasukan tersebut?"

Merekajawab: "Ya."

Kemudian ia berkata: "Aku ingatkan kalian demi Allah, apakah kalian mengetahui bahwa sumur Ruma tidak ada seorang pun yang minum darinya melainkan dengan membayar, lalu aku membelinya lalu aku menjadikannya bagi orang kaya, orang miskin, dan Ibnu Sabil [musafir]?"

Mereka menjawab: "Ya Allah, benar." Dan 'Utsman menyebutkan beberapa hal lainnya.*  [HR. Tirmidzi no. (3699), dan beliau berkata: Hadis ini hasan shahih gharib.]

  1. Dari Muhammad bin Sa'd, dari ayahnya, ia berkata:

'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu meminta izin untuk menemui Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam, sementara di sisi beliau terdapat wanita-wanita dari suku Quraisy yang sedang bertanya dan meminta banyak hal kepada beliau dengan suara yang keras meninggi melebihi suara beliau. Ketika 'Umar meminta izin masuk, wanita-wanita itu pun bergegas (tabādarna) masuk ke balik tabir (hijab). Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam pun memberi izin kepadanya lalu 'Umar masuk, sedangkan Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam dalam keadaan tertawa.

'Umar berkata: "Semoga Allah senantiasa membuatmu tersenyum wahai Rasulullah, demi ayah dan ibuku sebagai tebusanmu."

Beliau bersabda: "Aku kagum terhadap wanita-wanita yang berada di sisiku tadi, ketika mereka mendengar suaramu, mereka bergegas masuk ke balik tabir."

Maka 'Umar berkata: "Engkau lebih berhak untuk mereka takuti wahai Rasulullah." Kemudian 'Umar menghadap ke arah wanita-wanita tersebut seraya berkata: "Wahai wanita-wanita yang memusuhi diri mereka sendiri, apakah kalian takut kepadaku dan tidak takut kepada Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam?"

Mereka menjawab: "Sesungguhnya engkau lebih keras dan lebih kasar daripada Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam."

Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

»إِيهِ يَا ابْنَ الْخَطَّابِ، وَالَّذِي نَفْسِي بِيَدِهِ مَا لَقِيَكَ الشَّيْطَانُ سَالِكًا فَجًّا إِلَّا سَلَكَ فَجًّا غَيْرَ فَجِّكَ«

"Cukuplah wahai Ibnu Al-Khaththab, demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, tidaklah setan menemuimu sedang melintasi suatu jalan melainkan ia akan melintasi jalan lain yang bukan jalanmu."  [HR. Bukhari – Fath al-Bari (10/6085, 7/3683) dan Musnad Ahmad (1/171), cetakan Syaikh Ahmad Syakir no. (1472).]

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallāhu 'anhu, bahwasanya Rasulullah shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

»مَنْ اغْتَسَلَ يَوْمَ الْجُمُعَةِ غُسْلَ الْجَنَابَةِ ثُمَّ رَاحَ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَدَنَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّانِيَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَقَرَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الثَّالِثَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ كَبْشًا أَقْرَنَ، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الرَّابِعَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ دَجَاجَةً، وَمَنْ رَاحَ فِي السَّاعَةِ الْخَامِسَةِ فَكَأَنَّمَا قَرَّبَ بَيْضَةً، فَإِذَا خَرَجَ الْإِمَامُ حَضَرَتْ الْمَلَائِكَةُ يَسْتَمِعُونَ الذِّكْرَ«

"Barang siapa mandi pada hari Jumat seperti mandi junub kemudian berangkat (ke masjid pada waktu pertama), maka seakan-akan ia berkurban seekor unta. Barang siapa yang berangkat pada waktu kedua, maka seakan-akan ia berkurban seekor sapi. Barang siapa yang berangkat pada waktu ketiga, maka seakan-akan ia berkurban seekor domba jantan yang bertanduk. Barang siapa yang berangkat pada waktu keempat, maka seakan-akan ia berkurban seekor ayam. Dan barang siapa yang berangkat pada waktu kelima, maka seakan-akan ia berkurban sebutir telur. Apabila imam telah keluar (naik mimbar), maka para malaikat hadir mendengarkan khutbah/peringatan."  [HR. Bukhari – Fath al-Bari (2/881).]

  1. Dari Abu Qilabah, dari Abu Al-Malih, ia berkata:

Kami pernah bersama Buraidah dalam suatu peperangan pada hari yang mendung, lalu ia berkata:

"Bersegeralah (bakkirū) menunaikan shalat Asar (di awal waktunya), karena Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam bersabda:

»مَنْ تَرَكَ صَلَاةَ الْعَصْرِ فَقَدْ حَبِطَ عَمَلُهُ«

'Barang siapa yang meninggalkan shalat Asar, maka sungguh telah gugur/hapus amalnya.'"  [Sumber yang sama (Bukhari – Fath al-Bari 2/553).]

[Contoh Teladan Praktis dari Kehidupan Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam dalam (Bersegera dalam Kebaikan)]

  1. Dari Anas radhiyallāhu 'anhu, ia berkata:

Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam adalah manusia yang paling baik, paling pemberani, dan paling dermawan. Penduduk Madinah pernah terkejut (karena adanya suara panik/bahaya), maka Nabi shallallāhu 'alaihi wa sallam mendahului mereka (sabaqahum) dengan menunggangi kuda, lalu beliau bersabda: "Kami mendapatinya (kuda ini) sangat cepat bagaikan lautan."  [Sumber yang sama (Bukhari – Fath al-Bari 6/2820).]

[Antara Atsar, Pertemuan Kata Para Ulama, dan Tafsir Mengenai (Bersegera dalam Kebaikan)]

  1. Dari 'Ali radhiyallāhu 'anhu, ia berkata:

"Ketakwaan kepada Allah adalah kunci kebenaran (As-Sudād: Sesuatu yang digunakan untuk menyumbat/menutup sesuatu, dan darinya diambil istilah sudād atms-tsaghr (penjaga celah benteng).), simpanan untuk hari kembali (akhirat), pembebas dari setiap perbudakan, dan penyelamat dari setiap kebinasaan. Maka bersegeralah kalian beramal sebelum datang usia tua yang melenyapkan kekuatan (‘umran nākisan) [An-Nākis: Orang yang kembali mundur/melemah], penyakit yang menghalangi (maradhan ābisan) [Al-ābis: Sesuatu yang menghalangi pemiliknya dari beramal], atau kematian yang menyergap tiba-tiba (mautan khālisan) [Al-Maut al-Khālis: Kematian yang mengambil pemiliknya dalam keadaan lalai/tiba-tiba]. Karena sesungguhnya kematian adalah penghancur kelezatan kalian, pemutus niat dan cita-cita kalian (mubā‘id iyyātikum) [Ath-Thiyyāt: Bentuk jamak dari thiyyah, yaitu niat atau tujuan], tamu yang tidak disukai, dan penuntut darah yang tidak pernah diminta. Sungguh jerat-jeratnya telah mengikat kalian, bahaya-bahayanya telah mengepung kalian (takannafatkum) [At-Takannuf: Singgah di pinggiran/daerah sekitar (al-aknāf).], dan anak panahnya yang lebar (ma‘ābiluh) [Al-Ma‘ābil: Bentuk jamak dari mi‘balah, yaitu mata anak panah yang lebar dan panjang] telah membidik kalian secara tepat. Maka hampir saja kegelapan naungannya yang pekat, kepungan penyakitnya, kegelapan malam dari penderitaannya (anādis) [Al-anādis: Kegelapan malam yang pekat], selubung mabuk kepayang sakaratulmautnya, rasa sesak bebannya yang menyakitkan, kegelapan kuburnya yang tertutup rapat, serta rasa getirnya yang kasar (jasūbah) [Al-Jasūbah: Kasarnya rasa/makanan] bakal meliputi kalian. Lalu ia akan membungkam pembicaraan rahasia kalian (najiyyakum) [An-Najiy: Orang-orang/kelompok yang saling berbisik atau berbincang rahasia] dan membubarkan majelis perkumpulan kalian. Maka jangan sekali-kali dunia menipu kalian sebagaimana ia telah menipu umat-umat terdahulu dan generasi-generasi sebelum kalian yang telah memerah susu kelezatannya (italabū durratahā) [Ad-Durrah: Air susu], meraih kemuliaannya, menghabiskan bekalnya, dan meluputkan kebaruannya. Kini tempat tinggal mereka telah berubah menjadi kuburan, dan harta benda mereka menjadi warisan. Karena sesungguhnya dunia itu sangat menipu (gharārah) [Gharārah: Bentuk fi‘ālah dari kata al-ghurūr (penipuan/perdayaan).] lagi memperdaya, memberi namun menghalangi kembali, kemudahannya tidak berlangsung lama, kepayahannya tidak pernah usai, dan ujiannya tidak pernah reda." [Manāhil ath-Thālib karya Ibn Al-Atsir (hal. 364).]

  1. Dari Ibnu 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā mengenai firman Allah: "Mereka itu bersegera dalam kebaikan-kebaikan" (QS. Al-Mu'minun: 61), ia berkata:

"Telah terdahulu bagi mereka kebahagiaan dari Allah." [Ad-Durr al-Mantsūr (5/22).]

  1. Dari Abu Zaid mengenai firman Allah Ta'ala: "Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan" (QS. Al-Baqarah: 148), ia berkata:

"Maka bersegeralah kamu sekalian dalam melakukan kebaikan-kebaikan." [Rujukan yang sama (Ad-Durr al-Mantsūr 1/272).]

  1. Dari Sa'id bin Jubair mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu" (QS. Ali 'Imran: 133), ia berkata:

"Dia (Allah) berfirman: Bersegeralah kamu sekalian dengan amal-amal saleh menuju ampunan dari Tuhanmu." [Rujukan yang sama (Ad-Durr al-Mantsūr 2/128).]

  1. Dan dari Anas bin Malik radhiyallāhu 'anhu mengenai ayat tersebut, ia berkata:

"Yang dimaksud (bersegera menuju ampunan) adalah mendapati takbir pertama (takbīratul irām bersama imam)." [Rujukan yang sama (Ad-Durr al-Mantsūr 2/128) dan Tafsīr Al-Qurubī (4/203).]

  1. Dari Ibnu Mas'ud radhiyallāhu 'anhu mengenai ayat: "Dan di antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan" (QS. Fatir: 32), ia berkata:

"Mereka adalah orang-orang yang masuk surga tanpa hisab (perhitungan dosa)." [Rujukan yang sama (Ad-Durr al-Mantsūr 5/473).]

  1. Dan dari 'Umar bin Al-Khaththab radhiyallāhu 'anhu mengenai ayat: "Dan di antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan" (QS. Fatir: 32), ia berkata: "Orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan (sābiq) di antara kita adalah benar-benar orang yang terdahulu (sābiq)." [Ad-Durr al-Mantsūr (5/473).]
  1. Dari 'Abdullah bin 'Abbas radhiyallāhu 'anhumā, mengenai ayat yang sama (Dan di antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan), ia berkata:

"Orang yang lebih dahulu berbuat kebaikan (as-sābiq bi al-khairāt) akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan dosa)." [Rujukan yang sama, halaman yang sama.]

  1. Dari Qatadah mengenai ayat: "Dan di antara mereka ada yang lebih dahulu berbuat kebaikan", ia berkata:

"Orang ini adalah orang yang didekatkan (al-muqarrab) kepada Allah." [Rujukan yang sama, halaman yang sama.]

  1. Dari Ibnu Zaid mengenai firman Allah Ta'ala: "Karena kami menjadi orang-orang yang pertama-tama beriman" (QS. Asy-Syu'ara: 51), ia berkata:

"Mereka memang demikian pada hari itu, menjadi orang-orang yang paling pertama beriman kepada ayat-ayat-Nya ketika mereka melihatnya." [Rujukan yang sama (5/156).]

  1. Al-Qurthubi berkata mengenai ayat: "Dan mereka bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan" (QS. Ali 'Imran: 114):

"Yaitu kebaikan yang mereka kerjakan dengan bergegas (mubādirīn) tanpa berat hati/malas (ghaira mutatsāqilīn), karena mereka mengetahui kadar pahalanya. Ada pula yang berpendapat: Mereka bergegas mengerjakan amal sebelum luputnya waktu." [Tafsīr Al-Qurubī (4/113).]

  1. Al-Qurthubi berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Dan bersegeralah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu" (QS. Ali 'Imran: 133):

"Al-Musāra'ah (bersegera) bermakna al-mubādarah (bergegas/memprakarsai), yaitu bersegeralah menuju hal-hal yang mendatangkan ampunan, yaitu ketaatan." [Rujukan yang sama, halaman yang sama.]

  1. Dan disebutkan dari 'Ali bin Abi Thalib mengenai ayat di atas: "Menuju penunaian kewajiban-kewajiban (adā' al-farā'idh)." Dan dari 'Utsman bin 'Affan: "Menuju keikhlasan." Dari Al-Kalbi: "Menuju taubat dari riba." Serta ada yang berpendapat: "Menuju keteguhan dalam berperang." [Rujukan yang sama, halaman yang sama]
  2. Al-Qurthubi berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan" (QS. Al-Baqarah: 148):

"Maksudnya adalah menuju kebaikan-kebaikan, yaitu bergegaslah menuju apa yang diperintahkan Allah 'Azza wa Jalla kepada kalian berupa menghadap ke Baitullah Al-Haram, meskipun ayat ini juga mengandung dorongan untuk bergegas dan menyegerakan seluruh ketaatan secara umum. Beliau berkata: Dan makna yang dimaksud adalah bergegas menunaikan shalat di awal waktunya." [Rujukan yang sama (2/112).]

  1. Abu Hayyan Al-Andalusi berkata mengenai firman Allah Ta'ala: "Maka berlomba-lombalah kamu dalam kebaikan" (QS. Al-Baqarah: 148):

"Ini adalah perintah untuk menyegerakan (at-tabkīr) perbuatan baik dan amal saleh. Dan merupakan hal yang serasi bahwa barang siapa yang telah Allah tetapkan baginya suatu syariat, kiblat, atau shalat, maka hendaknya ia memiliki perhatian untuk bersegera menuju kepadanya." [Al-Bar al-Muī (1/612).]

  1. Qatadah berkata: "Perlombaan (al-istibāq) dalam urusan Ka'bah ini adalah sebagai bentuk penentangan terhadap kaum Yahudi dengan cara menyelisisi mereka." [Rujukan yang sama (1/612).]
  2. Ibnu Zaid berkata: "Maknanya adalah bersegeralah menuju amal-amal saleh, baik berupa menghadap ke kiblat maupun selainnya." [Rujukan yang sama (1/612).]
  3. Az-Zamakhsyari berkata: "Boleh jadi maknanya adalah: Maka berlomba-lombalah menuju arah-arah yang utama (al-fādhilāt min al-jihāt), yaitu arah-arah yang berhadapan lurus dengan Ka'bah meskipun berbeda-beda." [Rujukan yang sama (1/612).]
  4. Abu Hayyan berkata mengenai firman Allah Ta'ala "Dan mereka bersegera dalam (mengerjakan) kebaikan-kebaikan" (QS. Ali 'Imran: 114): "Bersegera dalam kebaikan timbul dari besarnya keinginan terhadap kebaikan tersebut. Karena barang siapa yang menginginkan suatu perkara, ia akan bergegas menuju kepadanya dan melaksanakannya, serta lebih memilih menyegerakannya (al-faur) daripada menunda-nundanya (at-tarākhi)." [Tafsīr al-Bar al-Muī (3/38).]
  1. Dari Anas, ia berkata: "Kami dahulu menyegerakan shalat Jumat (nubakkiru bi al-jumu‘ah) dan kami tidur siang (naqīlu) setelah shalat Jumat." [HR. Bukhari – Fath al-Bari (2/905, 2/940).]
  2. Dari 'Abdullah bin Mas'ud radhiyallāhu 'anhu, ia berkata: "Sesungguhnya hati itu memiliki masa bersemangat (syahwah) dan masa berpaling/lelah (idbār). Maka manfaatkanlah ia ketika sedang bersemangat dan menghadap (pada ketaatan), serta biarkanlah/istirahatkah ia ketika sedang letih dan berpaling." [Al-Fawā’id, hal. 202.]
  3. Ahmad bin Hanbal rahimahullāhu Ta'ala berkata: "Segala sesuatu yang berupa kebaikan hendaknya disegerakan." [Al-Ādāb asy-Syar‘iyyah karya Ibn Muflih (2/239).]
  4. Muhammad bin Nashr Al-'Abid berkata: "Aku bermusyawarah dengannya (yaitu Imam Ahmad) mengenai keinginan keluar menuju benteng pertahanan perbatasan (at-tsaghr), maka beliau berkata: 'Bersegeralah, bersegeralah!'" [Rujukan yang sama, halaman yang sama]
  5. Imam Al-Junaid dahulu membaca Al-Qur'an pada saat ruhnya hendak keluar (sakaratulmaut). Lalu dikatakan kepadanya: "Pada saat seperti ini?!" Maka beliau menjawab: "Aku sedang bersegera menutup lembaran amalku (thayyi shaīfatī)." [Ṣayd al-Khāir, hal. 372]
  6. Ibn Al-Jauzi berkata: "Barang siapa yang mengetahui makin dekatnya waktu kepindahan/keberangkatan dari Mekah, ia akan memperbanyak tawaf; khususnya jika ia tidak berharap bisa kembali lagi karena usianya yang sudah tua dan fisiknya yang melemah. Maka demikian pula hendaknya bagi orang yang telah mendekati tepi ajalnya karena usianya yang sudah tinggi, ia harus menyergap setiap detik kesempatan dan bersiap menyambut penyergap (kematian) dengan amal yang layak baginya. Sungguh, kesempatan menarik anak panah usia muda telah berlalu." [Rujukan yang sama, hal. 354]
  7. Dan Ibn Al-Jauzi juga berkata: "...Betapa banyak manusia menyia-nyiakan waktu-waktu yang di dalamnya ia kehilangan pahala yang sangat besar. Hari-hari ini ibarat ladang bercocok tanam; seolah-olah dikatakan kepada manusia: 'Setiap kali engkau menanam satu benih, Kami akan mengeluarkan untukmu seribu kurr [Al-Kurr: Takaran timbangan/volume yang sangat besar, setara dengan enam puluh qafīz] (takaran yang sangat besar)'. Lantas, apakah masuk akal bagi orang yang berakal untuk berhenti menanam benih dan berhalang-halang/menunda-nunda?!" [Ṣayd al-Khāir, hal. 603]
  8. Dan Ibn Al-Jauzi juga berkata: "Di antara keajaiban yang aku lihat dari diriku sendiri dan dari seluruh makhluk adalah kecenderungan pada kelalaian terhadap apa yang ada di tangan kita, padahal kita mengetahui pendeknya umur, dan bahwasanya bertambahnya pahala di sana (akhirat) bergantung pada kadar amal di sini (dunia). Wahai orang yang pendek umurnya, manfaatkanlah harimu dariku, dan tunggulah saat-saat keberangkatan. Jangan sekali-kali engkau sibukkan hatimu dengan selain tujuan ia diciptakan, paksakan dirimu menghadapi kepahitan (penderitaan ketaatan), kekanglah ia jika menolak, dan jangan engkau biarkan ia bebas di padang pengembalaan, karena engkau tidak lain hanyalah berada di padang rumput. Sungguh sangat buruk bagi orang yang sedang berada di antara dua barisan tempur untuk sibuk dengan hal lain di luar urusannya." [Rujukan yang sama, hal. 492]
  9. Beliau juga berkata: "...Bersegeralah, bersegeralah wahai orang-orang yang berakal (arbāb al-fuhūm)! Sesungguhnya dunia adalah tempat penyeberangan menuju negeri kediaman yang kekal, dan perjalanan menuju tempat menetap serta mendekat kepada Sang Penguasa dan berdekatan dengan-Nya. Maka bersiaplah untuk duduk bersama-Nya, bersiaplah untuk bercakap dengan-Nya, dan bersungguh-sungguhlah dalam menerapkan adab agar kalian layak untuk dekat dengan Kehadiran-Nya. Jangan sampai kalian disibukkan oleh kemalasan dari melatih kuda perang (tadhmīr al-khail). Hendaknya ingatan kalian akan hari perlombaan mendorong kalian untuk bersungguh-sungguh dalam hal itu... Maka hendaknya orang yang berusaha senantiasa mengingat manisnya penyerahan pahala kepada Yang Maha Tepercaya, hendaknya ia mengingat indahnya pujian pada hari perlombaan, dan hendaknya peserta lomba mewaspadai kelalaian yang tidak mungkin bisa diperbaiki lagi." [Ṣayd al-Khāir, hal. 372]

[Di Antara Manfaat (Bersegera dalam Kebaikan)]

  1. Bersegera dalam kebaikan-kebaikan dan amal-amal saleh merupakan sarana mendatangkan keridaan Rabb 'Azza wa Jalla serta menimbulkan kemurkaan bagi setan.
  2. Bersegera dalam kebaikan melambungkan derajat pelakunya menuju Surga 'Adn, tempat kenikmatan yang kekal dan karunia yang sangat besar.
  3. Terdepan (as-sabq) menuju kebaikan-kebaikan menjadikan pelakunya termasuk orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat.
  4. Bergegas (al-mubādarah) menuju amal saleh menciptakan sejenis persaingan terpuji (at-tanāfus al-amīd) yang meninggikan derajat masyarakat.
  5. Orang yang terdepan menuju kebaikan-kebaikan akan diiri secara positif (yughbathu) oleh kawan-kawannya; mereka bercita-cita menjadi seperti dirinya dan memujinya atas keunggulannya ini.
  6. Orang-orang yang terdepan menuju kebaikan-kebaikan akan mencapai cita-cita/tujuan mereka dan tidak akan pernah kembali dalam keadaan kecewa/gagal.
  7. Bergegas menuju shalat pada waktunya dan tidak tertinggal dari jamaah pertama memberikan keutamaan bagi pelakunya yang mengungguli orang-orang yang tertinggal sejauh jarak yang lebih jauh daripada antara timur dan barat. [Hadis-hadis (6/18).]
  8. Bergegas melakukan amal-amal saleh menjadikan pelakunya berada dalam jaminan keamanan dari fitnah-fitnah atau hal-hal yang dapat menyibukkan dan melalaikan manusia, seperti penyakit, kefakiran, kekayaan yang menyesatkan, atau usia tua bangka.
  9. Bersegera menuju shalat Jumat dan berangkat menuju ke sana pada waktu/jam pertama memperbesar pahala dan melipatgandakan ganjaran.
  10. Orang-orang yang terdepan menuju kebaikan-kebaikan akan masuk surga tanpa hisab (perhitungan dosa).

 

Sumber:

Ibn Humayd, Ṣāli ibn ‘Abdullāh (ed./supervisor), dkk. Mawsū‘at Narat an-Na‘īm fī Makārim Akhlāq ar-Rasūl al-Karīm. Jeddah: Dār al-Wasīlah li an-Nashr wa at-Tawzī‘

 

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat