Negeri Islam di Eropa: Bosnia
Bosnia dan Herzegovina
Dari
Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Bosnia
dan Herzegovina, juga dikenal sebagai Bosnia, adalah sebuah negara di
semenanjung Balkan di selatan Eropa seluas 51.129 km² (19.741 mil2) dengan
jumlah penduduk sekitar empat juta jiwa. Negara Bosnia dikenal dalam bahasa
resminya sebagai Bosna i Hercegovina dalam huruf Latin dan Босна и Херцеговина
dalam huruf Kiril; tetapi biasanya, dipendekkan menjadi Bosnia, BiH atau БиХ.
Negara
ini didiami oleh tiga kelompok etnik yang utama: Bosnia, Serbia dan Kroasia.
Warga Bosnia secara umum dikenali sebagai Bosnians dalam bahasa Inggris tanpa
memandang bangsa mereka. Pemerintahan negara ini dilakukan secara terpencar,
dan negara Bosnia sebenarnya terdiri dari persekutuan dua buah wilayah yang
utama, yaitu, Federasi Bosnia dan Herzegovina dan Republika Srpska.
Dibatasi
oleh Kroasia di utara, barat, dan selatan, Serbia di timur, dan Montenegro di
selatan, Bosnia dan Herzegovina adalah sebuah negara yang dikelilingi oleh
daratan kecuali pesisir pantai Laut Adriatik yang sepanjang 20 km yang berpusat
di kota Neum. Pedalaman negara ini penuh dengan pegunungan, dan juga sungai
yang kebanyakan tidak bisa ditempuh. Ibu kota yang sekaligus kota terbesar
ialah Sarajevo.
Sejarah
Sejarah
awal
Bosnia
dan Herzegovina merupakan sebuah wilayah perbatasan antara Kebudayaan Barat,
dan Timur. Pada Abad Pertengahan, wilayah tersebut menjadi ajang pertikaian,
dan perebutan pengaruh antara Romawi Barat yang Katolik dan Romawi Timur yang
Ortodoks. Di tengah-tengah pergulatan tersebut, ikut pula sebuah kelompok
bid'ah Kristen yang disebut Bogomil. Sekte ini terutama beranggotakan
masyarakat kelas atas Bosnia.[10]
Kekuatan
ketiga yang berpengaruh dalam sejarah negeri itu muncul pada akhir abad ke-13,
ketika wilayah tersebut ditaklukkan oleh Turki Usmani yang beragama Islam.
Pengikut Bogomil berbondong-bondong pindah ke agama Islam sehingga agama
tersebut lenyap. Perpindahan agama tersebut kebanyakan terjadi persamaan
derajat yang ditawarkan oleh Islam. Jika mereka masuk Islam maka mereka akan
mendapatkan kedudukan yang sama tingginya dengan orang Islam lainnya, akan
tetapi bila mereka tetap pada agama agama leluhurnya maka mereka akan berstatus
sebagai orang -orang yang kalah dalam peperangan tunduk dalam aturan Islam.
Hal
itu bukan omong kosong belaka. Dalam perkembangannya, kaum Muslim Bosnia
mendapatkan status sama dengan orang Turki asli. Mereka menjadi tangan kanan
orang Turki untuk memerintah penduduk Bosnia yang tetap memeluk agama
leluhurnya.
Masuknya
pemikiran nasionalisme membawa perubahan besar, dan tajam di Bosnia. Apabila
sebelumnya secara umum penduduk wilayah itu disebut orang Bosnia, dan hanya
dibedakan menurut agamanya, kini mereka mengidentifikasikan diri dengan
tetangganya. Orang Bosnia yang menganut Kristen Ortodoks mengidentifikasikan
dirinya sebagai orang Serbia sementara penganut Katolik menjadi orang Kroasia.
Ketika
Turki melemah, negara-negara jajahannya di Balkan memerdekakan diri. Salah satu
di antaranya adalah Serbia. Negara yang baru merdeka ini berusaha menggabungkan
Bosnia tetapi ambisinya digagalkan oleh Kekaisaran Austria-Hungaria, yang
mencaplok wilayah tersebut pada tahun 1908. Hal tersebut kemudian mendorong
kaum nasionalis Serbia membunuh putera mahkota kekaisaran tersebut di Sarajevo
pada tahun 1914, yang kemudian menyebabkan pecahnya Perang Dunia I.
Setelah
PD I usai, Bosnia dan Herzegovina, bersama-sama dengan Kroasia, Slovenia, dan
Vojvodina, diserahkan oleh Austria kepada Kerajaan Serbia-Montenegro. Dari
penggabungan ini muncullah Kerajaan Yugoslavia (Slavia Selatan).
Akan
tetapi perpecahan segera melanda negeri itu akibat pertentangan dua etnis
utamanya. Orang Serbia berusaha membangun negara kesatuan sementara orang
Kroasia menginginkan federasi yang longgar. Kaum Muslim Bosnia terjebak dalam
pertikaian tersebut karena kedua pihak memperebutkan wilayah tersebut. Beberapa
kaum Muslim mendukung klaim Serbia, dan menyebut dirinya sebagai Muslim Serbia.
Namun lebih banyak lagi yang pro -Kroasia, dan menyebut dirinya sebagai orang
Muslim Kroasia. Pertentangan tersebut kemudian meledak menjadi kekerasan
setelah Jerman Nazi menguasai Yugoslavia tahun 1941.
Negeri
yang terkoyak
Setelah
menaklukkan Yugoslavia, Hitler menggabungkan bekas provinsi Kroasia, Bosnia dan
Herzegovina ke dalam negara boneka yang disebut sebagai Negara Kroasia Merdeka
(lebih dikenal dengan inisial Kroasianya, NDH). Negara tersebut dipimpin oleh
Ante Pavelic, pemimpin organisasi nasionalis ekstrem Kroasia, Ustasa
(pemberontak). Rezim NDH ini berusaha membersihkan wilayahnya dari orang
Serbia, Yahudi, dan Gipsi.
Oleh
karena besarnya jumlah penduduk Serbia di NDH, kaum Ustasa bersekutu dengan
kaum Muslim guna mengimbanginya. Banyak orang Muslim yang bergabung dengan
rezim tersebut, di mana bahkan wakil presiden, dan menlu NDH adalah tokoh-tokoh
Muslim.
Kaum
Muslim juga bergabung dengan Jerman dalam memerangi gerilyawan, baik Chetnik
maupun Partisan. Dua divisi SS (Schutzstaffel, pengawal elit Hitler yang
ditakuti) dibentuk dari kalangan kaum Muslim Bosnia, yaitu Divisi 'Handzar' dan
'Kama'.
Banyak
orang Serbia yang selamat bergabung dengan gerilyawan Chetnik yang pro-raja,
dan kemudian melancarkan pembantaian balasan terhadap orang Kroasia, dan
Muslim. Konflik etnis berdarah ini memberikan keuntungan bagi kelompok Partisan
pimpinan Tito. Oleh karena berhaluan komunis yang tidak membeda-bedakan latar
belakang etnis, dan agama, kelompok ini menarik pendukung dari berbagai latar
belakang yang tidak menyukai pertumpahan darah di antara sesama warga
Yugoslavia. Dengan demikian, kaum Partisan berhasil merebut kekuasaan di
seluruh Yugoslavia setelah usainya perang.
Zaman
Tito
Setelah
meraih kekuasaan atas Yugoslavia, Josip Broz Tito berusaha membangun kembali
persaudaran negeri itu di bawah bendera komunisme. Dalam upayanya untuk
mengatasi perselisihan antar kelompok etnis, dan agama, dia membentuk negeri
itu menurut sistem federal yang ditarik berdasarkan etnisitas.
Bosnia,
yang karena memiliki penduduk yang plural, merupakan ujian berat bagi Tito.
Orang Serbia menuntut penggabungan wilayah tersebut karena penduduk Serbia yang
hampir mencapai setengah dari total penduduk di sana pada masa itu. Akan tetapi
Tito menolaknya. Dia tidak ingin membuat Serbia menjadi kuat seperti
sebelumnya. Oleh karena itu, dia memutuskan untuk memecah belah orang Serbia.
Wilayah Serbia diperkecil dengan membentuk dua republik federal (yaitu
Montenegro, dan Makedonia) serta dua provinsi otonom (Vojvodina dan Kosovo).
Tito, sebagai seorang Kroasia-Bosnia, memutuskan bahwa wilayah Bosnia dan
Herzegovina harus menjadi sebuah republik federal. Dengan demikian, orang
Serbia dapat diimbangi oleh gabungan Muslim-Kroasia di wilayah tersebut.
Dalam
menghadapi ketidakpuasan atas keputusan tersebut, rezim Tito memakai tangan
besi untuk menghadapinya. Cara tersebut memang efektif tetapi hanya untuk
sementara waktu. Ketika Tito meninggal, pertikaian antar etnik, dan agama
kembali meletus di Yugoslavia, yang kemudian meruntuhkan negara tersebut.
Kemerdekaan
Bosnia dan Herzegovina
Yugoslavia
terpecah-belah pada tahun 1991 setelah runtuhnya rezim-rezim Komunis di Eropa
Timur. Mengikuti contoh Kroasia, dan Slovenia, pada bulan Maret 1992 Bosnia dan
Herzegovina menyatakan kemerdekaannya melalui referendum yang diikuti oleh
masyarakat Muslim, dan Kroasia Bosnia. Hal tersebut ditentang oleh penduduk
Serbia yang ingin menguasai seluruh wilayah eks-Yugoslavia.
Di
bawah pimpinan Radovan Karadzic, orang Serbia Bosnia memproklamasikan Republik
Srpska. Dengan bantuan pasukan federal pimpinan Jenderal Ratko Mladic, orang
Serbia Bosnia berhasil menguasai 70 persen wilayah negeri itu. Dalam konflik
ini, etnis Serbia yang mayoritas berusaha melenyapkan etnis Muslim, dan
Kroasia. Terjadilah pembantaian terbesar dalam sejarah yang jumlah korbannya
hanya kalah oleh Perang Dunia. Pembunuhan, penyiksaan, dan pemerkosaan olah
Kaum Serbia kemudian menyebabkan pemimpin-pemimpin Serbia ditetapkan sebagai
penjahat perang oleh PBB. Dalam perkembangan terakhirpun mereka menyatakan
tidak puas karena tidak berhasil membersihkan etnik Muslim-Bosnia.
Akhirnya,
setelah perang berdarah yang berlarut-larut, perdamaian di antara ketiga
kelompok tersebut berhasil dipaksakan oleh NATO. Sesuai dengan Kesepakatan
Dayton tahun 1995, keutuhan wilayah Bosnia dan Herzegovina ditegakkan tetapi
negara tersebut dibagi dalam dua bagian: 51% wilayah gabungan Muslim-Kroasia
(Federasi Bosnia dan Herzegovina) dan 49% Serbia (Republik Srpska).
Kini
negeri tersebut mulai menghirup perdamaian, dan ketiga belah pihak berusaha
membangun saling percaya. Akan tetapi memang perlu waktu lama untuk
menghapuskan permusuhan berabad-abad itu. Salah satu hal yang diusahakan untuk
membangun saling percaya tersebut adalah mengadili para penjahat perang. Mantan
Presiden Republik Srpska Radovan Karadžić berhasil ditangkap pada 21 Juli 2008,
sementara mantan Panglima Tentara Federal Jenderal Ratko Mladic tertangkap pada
bulan Mei 2011,[11] dan sedang menjalani proses pengadilan di Mahkamah
Internasional.
Geografi
Bosnia
dan Herzegovina berada di Balkan barat, berbatasan dengan Kroasia (932 km atau
579 mil) di utara dan barat, Serbia (302 km atau 188 mil) di timur, dan
Montenegro (225 km atau 140 mil) di tenggara. Ia memiliki garis pantai
sepanjang 20 kilometer (12 mil) yang mengelilingi kota Neum.[12][13] Itu
terletak di antara garis lintang 42° dan 46° LU, dan garis bujur 15° dan 20°
BT.
Negara
ini sebagian besar bergunung-gunung, meliputi Pegunungan Alpen Dinari tengah.
Bagian timur laut mencapai Cekungan Pannonia, sedangkan di selatan berbatasan
dengan Laut Adriatik. Pegunungan Alpen Dinarik umumnya membentang ke arah
tenggara-barat laut, dan semakin tinggi ke arah selatan. Titik tertinggi negara
adalah puncak Maglić di 2.386 meter (7.828,1 kaki), di perbatasan Montenegro.
Pegunungan besar lainnya termasuk Volujak, Zelengora, Lelija, Lebršnik, Orjen,
Kozara, Grmeč, Čvrsnica, Prenj, Vran, Vranica, Velež, Vlašić, Cincar, Romanija,
Jahorina, Bjelašnica, Treskavica dan Trebević. Komposisi geologis rantai
Dinarik pegunungan di Bosnia terutama terdiri dari batugamping (termasuk
batugamping Mesozoikum), dengan endapan besi, batu bara, seng, mangan, bauksit,
timbal, dan garam terdapat di beberapa daerah, terutama di Bosnia tengah dan
utara.[14]
Politik
Bosnia
dan Herzegovina terdiri dari Federasi Bosnia dan Herzegovina (FBiH), Republika
Srpska (RS) dan Distrik Brčko (BD)
Sebagai
hasil dari Perjanjian Dayton, implementasi perdamaian sipil diawasi oleh
Perwakilan Tinggi Bosnia dan Herzegovina yang dipilih oleh Dewan Pelaksana
Perdamaian (PIC). Perwakilan Tinggi adalah otoritas politik tertinggi di negara
ini. Perwakilan Tinggi memiliki banyak kekuasaan pemerintahan dan legislatif,
termasuk pemberhentian pejabat terpilih dan tidak terpilih. Karena kekuasaan
yang sangat besar dari Perwakilan Tinggi atas politik Bosnia dan hak veto yang
penting, posisinya juga disamakan dengan posisi raja muda.[15][16][17][18]
Politik
berlangsung dalam kerangka demokrasi perwakilan parlementer, di mana kekuasaan
eksekutif dijalankan oleh Dewan Menteri Bosnia dan Herzegovina. Kekuasaan
legislatif dipegang oleh Dewan Menteri dan Majelis Parlementer Bosnia dan
Herzegovina. Anggota Majelis Parlemen dipilih menurut sistem perwakilan
proporsional (PR).[19][20]
Pembagian
administratif
Bosnia
dan Herzegovina dibagi menjadi Federasi Bosnia dan Herzegovina dan Republika
Srpska. Distrik Brčko bukan bagian kedua entitas politik ini, tetapi diperintah
secara supranasional, dan dijaga oleh tentara internasional.
Federasi
Bosnia dan Herzegovina dibagi menjadi 10 kanton:
1.
Kanton Una-Sana
2.
Kanton Posavina
3.
Kanton Tuzla
4.
Kanton Zenica-Doboj
5.
Kanton Podrinje Bosnia
6.
Kanton Bosnia Tengah
7.
Kanton Herzegovina-Neretva
8.
Kanton Herzegovina Barat
9.
Kanton Sarajevo
10. Kanton Bosnia Barat
Militer
Angkatan
Bersenjata Bosnia dan Herzegovina (OSBiH) dipersatukan menjadi satu kesatuan
pada tahun 2005, dengan penggabungan Tentara Federasi Bosnia dan Herzegovina
dan Tentara Republika Srpska, yang telah mempertahankan wilayahnya
masing-masing.[21] Kementerian Pertahanan dibentuk pada tahun 2004.[22]
Militer
Bosnia terdiri dari Angkatan Darat Bosnia dan Angkatan Udara dan Pertahanan
Udara.[23] Angkatan Darat berjumlah 7.200 personel aktif dan 5.000 personel
cadangan.[24] Mereka dipersenjatai dengan campuran persenjataan, kendaraan, dan
peralatan militer buatan Amerika, Yugoslavia, Soviet, dan Eropa. Angkatan Udara
dan Angkatan Pertahanan Udara memiliki 1.500 personel dan sekitar 62 pesawat.
Pasukan Pertahanan Udara mengoperasikan rudal genggam MANPADS, peluru kendali
darat ke udara (SAM), meriam anti-pesawat, dan radar. Angkatan Darat baru-baru
ini mengadopsi seragam MARPAT yang telah direnovasi, yang digunakan oleh
tentara Bosnia yang bertugas dengan Pasukan Bantuan Keamanan Internasional
(ISAF) di Afghanistan. Sebuah program produksi dalam negeri sekarang sedang
dilakukan untuk memastikan bahwa unit-unit tentara dilengkapi dengan amunisi
yang tepat.[25]
Mulai
tahun 2007, Kementerian Pertahanan melakukan misi bantuan internasional pertama
angkatan darat, mendaftarkan militer untuk bertugas dengan misi perdamaian ISAF
ke Afghanistan, Irak, dan Republik Demokratik Kongo pada tahun 2007. Lima
perwira, bertindak sebagai perwira/penasehat, bertugas di Republik Demokratik
Kongo. 45 tentara, sebagian besar bertindak sebagai keamanan pangkalan dan
asisten medis, bertugas di Afghanistan. 85 tentara Bosnia bertugas sebagai
keamanan pangkalan di Irak, kadang-kadang juga melakukan patroli infanteri di
sana. Ketiga kelompok yang dikerahkan telah dipuji oleh pasukan internasional
masing-masing serta Kementerian Pertahanan Bosnia dan Herzegovina. Operasi
bantuan internasional masih berlangsung.[26]
Angkatan
Udara dan Pertahanan Anti-Pesawat Bosnia dan Herzegovina dibentuk ketika
unsur-unsur Angkatan Darat Federasi Bosnia dan Herzegovina dan Angkatan Udara
Republika Srpska digabung pada tahun 2006. Angkatan Udara telah mengalami
peningkatan dalam beberapa tahun terakhir dengan tambahan dana untuk perbaikan
pesawat dan peningkatan kerjasama dengan Angkatan Darat serta warga negara.
Kementerian Pertahanan sedang mengupayakan akuisisi pesawat baru termasuk
helikopter dan bahkan mungkin jet tempur.[27]
Hubungan
luar negeri
Integrasi
Uni Eropa adalah salah satu tujuan politik utama Bosnia dan Herzegovina; itu
memprakarsai Proses Stabilisasi dan Asosiasi pada tahun 2007. Negara-negara
yang berpartisipasi dalam SAP telah ditawarkan kemungkinan untuk menjadi Negara
Anggota UE setelah mereka memenuhi persyaratan yang diperlukan. Oleh karena
itu, Bosnia dan Herzegovina merupakan negara kandidat potensial untuk aksesi
UE.[28]
Implementasi
Perjanjian Dayton pada tahun 1995 telah memfokuskan upaya para pembuat
kebijakan di Bosnia dan Herzegovina, serta masyarakat internasional, pada
stabilisasi regional di negara-negara penerus bekas Yugoslavia.[29]
Di
Bosnia dan Herzegovina, hubungan dengan tetangganya Kroasia, Serbia, dan
Montenegro cukup stabil sejak penandatanganan Perjanjian Dayton. Pada tanggal
23 April 2010, Bosnia dan Herzegovina menerima Rencana Aksi Keanggotaan dari
NATO, yang merupakan langkah terakhir sebelum menjadi anggota penuh dalam
aliansi tersebut. Keanggotaan penuh awalnya diharapkan pada tahun 2014 atau
2015, tergantung pada kemajuan reformasi.[143] Pada bulan Desember 2018, NATO
menyetujui Rencana Aksi Keanggotaan Bosnia.[30] [31]
Ekonomi
Selama
Perang Bosnia, ekonomi menderita kerusakan material sebesar €200 miliar,
kira-kira €326,38 miliar pada tahun 2022 (disesuaikan dengan inflasi).[32][33]
Bosnia dan Herzegovina menghadapi masalah ganda untuk membangun kembali negara
yang dilanda perang dan memperkenalkan reformasi pasar liberal transisional ke
ekonomi campuran sebelumnya. Salah satu warisan dari era sebelumnya adalah
industri yang kuat; di bawah mantan presiden republik Džemal Bijedić dan
Presiden Yugoslavia Josip Broz Tito, industri logam dipromosikan di republik,
menghasilkan pengembangan sebagian besar pabrik Yugoslavia; SR Bosnia dan
Herzegovina memiliki ekonomi berorientasi ekspor industri yang sangat kuat pada
tahun 1970-an dan 1980-an, dengan ekspor skala besar bernilai jutaan dolar
Amerika Serikat.
Untuk
sebagian besar sejarah Bosnia, pertanian dilakukan di pertanian milik pribadi;
Makanan segar secara tradisional diekspor dari republik.[34]
Perang
tahun 1990-an menyebabkan perubahan dramatis dalam perekonomian Bosnia.[35] PDB
turun 60% dan kehancuran infrastruktur fisik menghancurkan perekonomian.[36]
Dengan sebagian besar kapasitas produksi yang belum pulih, perekonomian Bosnia
masih menghadapi banyak kesulitan. Angka menunjukkan PDB dan pendapatan per
kapita meningkat 10% dari tahun 2003 sampai 2004; ini dan utang nasional Bosnia
yang menyusut menjadi tren negatif, dan tingginya pengangguran 38,7% serta
defisit perdagangan yang besar tetap memprihatinkan.
Mata
uang nasional adalah Mark Konversi (dipatok Euro) (KM), yang dikendalikan oleh
dewan mata uang. Inflasi tahunan relatif terendah dibandingkan negara-negara
lain di kawasan ini sebesar 1,9% pada tahun 2004.[37] Utang internasional
adalah $5,1 miliar (per 31 Desember 2014). Tingkat pertumbuhan PDB riil adalah
5% untuk tahun 2004 menurut Bank Sentral Bosnia dan Herzegovina dan Kantor
Statistik Bosnia dan Herzegovina.
Bosnia
dan Herzegovina telah menunjukkan kemajuan positif di tahun-tahun sebelumnya,
yang secara meyakinkan memindahkan posisinya dari peringkat kesetaraan
pendapatan terendah dari peringkat kesetaraan pendapatan empat belas dari 193
negara.[38]
Menurut
data Eurostat, PDB per kapita PPS Bosnia dan Herzegovina mencapai 29 persen
dari rata-rata UE pada tahun 2010.[39]
Dana
Moneter Internasional (IMF) mengumumkan pinjaman ke Bosnia senilai US$500 juta
yang akan diberikan melalui Stand-By Arrangement. Ini dijadwalkan disetujui
pada bulan September 2012.[40]
Pada
tahun 2017, ekspor tumbuh sebesar 17% jika dibandingkan dengan tahun
sebelumnya, dengan total €5,65 miliar.[41] Total volume perdagangan luar negeri
pada tahun 2017 berjumlah €14,97 miliar dan meningkat sebesar 14% dibandingkan
tahun sebelumnya. Impor barang meningkat sebesar 12% dan berjumlah €9,32
miliar. Cakupan impor melalui ekspor meningkat 3% dibandingkan tahun sebelumnya
dan kini menjadi 61 persen. Pada 2017, Bosnia dan Herzegovina sebagian besar
mengekspor jok mobil, listrik, kayu olahan, aluminium, dan furnitur. Pada tahun
yang sama, sebagian besar mengimpor minyak mentah, mobil, oli motor, batu bara
dan briket.[42]
Pada
tahun 2018, Bank Sentral Bosnia dan Herzegovina memperoleh keuntungan sebesar
8.430.875 km (€4.306.347).[43]
Bank
Dunia memperkirakan bahwa ekonomi akan tumbuh 3,4% pada tahun 2019.[44] Bosnia
dan Herzegovina berada di peringkat ke-83 pada Indeks Kebebasan Ekonomi 2019.
Peringkat total untuk Bosnia dan Herzegovina adalah 61,9. Posisi ini mewakili
beberapa kemajuan relatif terhadap posisi ke-91 pada tahun 2018. Hasil ini
berada di bawah tingkat regional, tetapi masih di atas rata-rata global,
menjadikan Bosnia dan Herzegovina sebagai negara yang "cukup
bebas".[45]
Pada
31 Januari 2019, total simpanan di bank-bank Bosnia adalah KM 21,9 miliar
(€11,20 miliar), yang mewakili 61,15% dari PDB nominal.[46] Pada kuartal kedua
tahun 2019, harga rata-rata apartemen baru yang dijual di Bosnia dan
Herzegovina adalah 1.606 km2 (€821,47) per meter persegi.[47]
Dalam
enam bulan pertama tahun 2019, ekspor berjumlah 5,829 miliar KM (€2,98 miliar),
yang 0,1% lebih rendah dari pada periode yang sama tahun 2018, sementara impor
berjumlah 9,779 miliar KM (€5,00 miliar), yaitu sebesar 4,5 % lebih banyak dari
pada periode yang sama tahun sebelumnya.[48] Dalam enam bulan pertama tahun
2019, investasi asing langsung mencapai 650,1 juta KM (€332,34 juta).[49]
Bosnia dan Herzegovina menduduki peringkat ke-75 dalam Indeks Inovasi Global
pada tahun 2021.[50]
Demografi
Kelompok
etnis
Di
dalam Bosnia dan Herzegovina, terdapat tiga kelompok etnis yang dikenal dengan
nama "bangsa penyusun": Bosnia, Kroasia, dan Serbia. Bangsa penyusun
ini membentuk mayoritas pada ketiga daerah administratif yang memang dibentuk
pada Perjanjian Dayton untuk masing-masing kelompok etnis: bangsa Bosnia dan
Kroasia menduduki Federasi Bosnia dan Herzegovina, bangsa Serbia menduduki
Republika Srpska, dan Distrik Brčko dibagi rata untuk kedua entitas politik.
Walau begitu, bukan berarti tiap kelompok etnis menduduki daerah yang
ditetapkan secara eksklusif; sebagai contoh, beberapa kelompok bangsa Bosnia
yang terusir dari rumah mereka di Republika Srpska semasa Perang Bosnia telah
kembali lagi setelah perang berakhir.
Menurut
sensus Yugoslavia tahun 1991, negara bagian Bosnia dan Herzegovina memiliki
4.377.000 penduduk. Perang Yugoslavia pada tahun 1990-an menyebabkan perubahan
demografi besar; UNHCR melaporkan penurunan populasi menjadi 3.920.000 orang
pada tahun 1996. Sensus penduduk tidak dilakukan dari tahun 1991 hingga 2013
karena perdebatan politik yang menyusul pembentukan negara Bosnia dan
Herzegovina; sensus Oktober 2013 melaporkan populasi sejumlah 3.791.622 orang
dalam 1,16 juta rumah tangga, sebuah penurunan dari sensus resmi Yugoslavia
tahun 1991 maupun sensus tidak resmi UNHCR tahun 1996.[51]
Menurut
data tahun 2000 yang dikutip oleh Central Intelligence Agency, bangsa Bosnia,
Serbia, dan Kroasia, masing-masing membentuk 48%, 37.1%, dan 14.3% dari jumlah
populasi, dengan 0.6% sisanya dari bangsa-bangsa lain.[52]
Agama
Bosnia
merupakan salah satu negara paling multi-religius di Benua Eropa, dan Islam
merupakan agama mayoritas di negara ini. Dikenal sebagai tempat di mana
"Timur bertemu Barat", disinilah tempat di mana Kekaisaran Romawi
Kuno pecah menjadi Kekaisaran Romawi Barat yang menganut Kristen Katolik dan
Kekaisaran Romawi Timur (atau Bizantin) yang menganut Kristen Ortodoks.
Perbedaan kepercayaan ini ditambah dengan kedatangan bangsa Turki Utsmaniyah
pada abad ke-15 yang membawa Islam.[butuh rujukan] Sarajevo sebagai ibu kota
Bosnia dan Herzegovina,[53] dikenal sebagai "Yerusalem Eropa" karena,
sampai abad ke-20, merupakan satu-satunya tempat di Eropa di mana terdapat
Gereja, Masjid, dan Sinagoge yang berdiri berdampingan.
Identifikasi
keagamaan di Bosnia dan Herzegovina relatif penting karena masih hangatnya
keadaan politik antar-suku. Sejak kemerdekaan Balkan dari Kesultanan
Utsmaniyah, tiap suku sangat erat. Dalam Yugoslavia, tiap suku
diidentifikasikan sebagai berikut: bangsa Serbia, Montenegro, dan Makedonia,
menganut Kristen Ortodoks; bangsa Kroasia dan Slovenia menganut Kristen
Katolik; bangsa Slovenia menganut Kristen Protestan; dan bangsa Bosnia dan
Albania menganut Islam. Hal ini dibawa pada perpecahan Yugoslavia; faktanya,
Perang Yugoslavia selain disebabkan oleh konflik antar-etnik juga didorong oleh
konflik antar-agama berkepanjangan.
Diperkirakan
Komposisi afiliasi agama di negara Bosnia-Herzegovina sebagai berikut: 50.7%
Islam Sunni, 30.75% Ortodoks Timur, 15.19% Katolik Roma, 2.3%
Atheis/Agnostik/Tidak menyatakan, dengan 1.15% sisanya menganut agama lainnya
seperti Yahudi.
Bahasa
Konstitusi
Bosnia tidak menetapkan bahasa resmi untuk Bosnia dan Herzegovina. Walau
begitu, ditulisnya Perjanjian Dayton dalam bahasa Bosnia, Kroasia, dan Serbia
(serta bahasa Inggris) menetapkan ketiga bahasa sebagai bahasa resmi de facto
dalam tingkat negara. Pada tahun 2000, Mahkamah Konstitusi menetapkan bahwa
ketiga bahasa memiliki derajat sama dan ditetapkan sebagai bahasa resmi untuk
Federasi Bosnia dan Herzegovina dan Republika Srpska. Ketiga bahasa memiliki
kepahaman antar bahasa tinggi karena sebelum Perang Yugoslavia, ketiganya
dikenal sebagai satu bahasa, yaitu bahasa Serbo-Kroasia yang ditulis dengan
Kiril. Panasnya politik daerah Balkan pada tahun 1990-an menyebabkan tiap
kelompok etnis membentuk dialek berbeda, serta pergantian penulisan menggunakan
Alfabet Latin untuk bahasa Bosnia dan Kroasia. Hingga saat ini, penggunaan
dialek bahasa Serbo-Kroasia berbeda menjadi penunjuk identitas bangsa etnis
masing-masing.
Menurut
Piagam Eropa untuk Bahasa Regional dan Minoritas pada tahun 1992, Bosnia dan
Herzegovina mengakui beberapa bahasa minoritas sebagai berikut: Albania,
Montenegro, Ceko, Italia, Hungaria, Makedonia, Jerman, Polandia, Romani,
Rumania, Rysin, Slowakia, Slovenia, Turki, Ukraina, dan Israel. Minoritas
Jerman di Bosnia dan Herzegovina kebanyakan adalah sisa-sisa Donauschwaben
(Danube Swabians), yang menetap di daerah itu setelah monarki Habsburg
mengklaim Balkan dari Kekaisaran Ottoman. Karena pengusiran dan asimilasi paksa
setelah Perang Dunia II, jumlah etnis Jerman di Bosnia dan Herzegovina
berkurang drastis.
Budaya
Media
Beberapa
televisi, majalah, dan surat kabar di Bosnia dan Herzegovina adalah milik
negara, dan beberapa adalah perusahaan nirlaba yang didanai oleh iklan,
langganan, dan pendapatan terkait penjualan lainnya. Konstitusi Bosnia dan
Herzegovina menjamin kebebasan berbicara.
Sebagai
negara dalam transisi dengan warisan pascaperang dan struktur politik dalam
negeri yang kompleks, sistem media Bosnia dan Herzegovina sedang mengalami
transformasi. Pada awal periode pascaperang (1995–2005), pengembangan media
dipandu terutama oleh donor internasional dan lembaga kerjasama, yang
berinvestasi untuk membantu merekonstruksi, mendiversifikasi, mendemokratisasi,
dan memprofesionalkan outlet media.[54][55]
Perkembangan
pasca-perang termasuk pembentukan Badan Regulasi Komunikasi independen, adopsi
Undang-Undang Pers, pembentukan Dewan Pers, dekriminalisasi pencemaran nama
baik, pengenalan Undang-Undang Kebebasan Akses terhadap Informasi yang agak
maju, dan pembuatan Sistem Penyiaran Layanan Publik dari lembaga penyiaran
sebelumnya milik negara. Namun, perkembangan positif yang didukung secara
internasional sering kali dihalangi oleh elit domestik, dan profesionalisasi
media dan jurnalis berjalan lambat. Tingkat keberpihakan yang tinggi dan
hubungan antara media dan sistem politik menghalangi kepatuhan terhadap kode
etik profesional.[55]
Seni
Seni
Bosnia dan Herzegovina selalu berkembang dan berkisar dari batu nisan asli abad
pertengahan yang disebut Stećci hingga lukisan di istana Kotromanić. Namun,
hanya dengan kedatangan Austro-Hungaria, kebangkitan lukisan di Bosnia
benar-benar mulai berkembang. Seniman terpelajar pertama dari akademi Eropa
muncul pada awal abad ke-20. Diantaranya adalah: Gabrijel Jurkić, Petar Šain,
Roman Petrović dan Lazar Drljača.
Setelah
Perang Dunia II, seniman seperti Mersad Berber dan Safet Zec semakin populer.
Pada tahun 2007, Ars Aevi, sebuah museum seni kontemporer yang mencakup karya
seniman dunia terkenal, didirikan di Sarajevo.
Olahraga
Bosnia
dan Herzegovina telah menghasilkan banyak atlet, baik sebagai negara bagian di
Yugoslavia maupun secara mandiri setelah tahun 1992. Acara olahraga
internasional terpenting dalam sejarah Bosnia dan Herzegovina adalah Olimpiade
Musim Dingin ke-14, yang diadakan di Sarajevo dari tanggal 7 hingga 19 Februari
1984.
Klub
bola tangan Borac telah memenangkan tujuh Kejuaraan Bola Tangan Yugoslavia,
serta Piala Eropa pada tahun 1976 dan Piala Federasi Bola Tangan Internasional
pada tahun 1991.
Comments
Post a Comment