Monday, March 23, 2026

Tafsir Surah Al Mulk

Pengantar

Juz 29 ini seluruhnya terdiri dari surah-surah Makkiyyah, sebagaimana juz sebelumnya semuanya terdiri dari surah-surah Madaniyyah, yang masingmasing memiliki tabiat tersendiri dan memiliki nuansa khusus. Sebagian dari surah-surah dalam juz ini termasuk surah-surah awal dari AI-Qur'an yang turun, seperti surah al-Muddatstsir dan surah al-Muzzammil.

Dalam juz ini juga terdapat surah-surah yang turun kurang lebih figa tahun setelah Nabi Muhammad saw. diutus oleh Allah, seperti surah al-QaIam. Juga ada yang sekitar sepuluh tahun seperti surah al-Jin yang menurut suatu riwayat ia turun pada waktu Nabi saw. kembali dari Thaif, setelah disakiti oleh suku TsaqiL Kemudian Allah mendatangkan segolongan jin kepada beliau, lalü mereka mendengarkan beliau ketika sedang membacaAI-Qur' an, sebagaimana diceritakan oleh surah al-Jin dalam juz ini. Perisüwa ini terjadi setelah wafatnya Khadijah dan Abu Thalib sekitar satu atau dua tahun sebelum hijrah, meskipun terdapat riwayat lain yang lebih kuat yang mengatakan bahwa surah ini turun pada masa-masa awal setelah beliau diutus sebagai Rasul.

Ayat-ayatAl-Qur' an yang turun di Mekah biasanya membicarakan pembentukan akidah, tentang Allah, wahyu, dan hari kemudian. Juga tentang pembentukan pola pikir dan tata pandang yang bersumber dari akidah ini terhadap alam semesta beserta hubungannya dengan Penciptanya. Dan, memperkenalkan kepada al-KhaIiq dengan pengenalan yang menjadikan perasaan hati ini hidup, terkesan, dan terarah dengan perasaan-perasaan yang sesuai sebagai seorang hamba yang sedang menghadap kepada Tuhan, dengan adab-adab sebagaimana lazimnya seorang hamba menghadap Tuhan. Juga dengan tata nilai dan norma-norma yang dapat digunakan oleh seorang muslim untuk menimbang  segah sesuatu, segala peristiwa, dan semua orang. Contoh-contoh mengenai ini dapat kita lihat dalam surah-surah Makkiyyah terdahulu, dan akan dapat kita lihat pula contoh-contohnya dalam juz ini.

Sedangkan, ayat-ayat Al-Qur'an Madaniyyah (yang turun di Madinah) biasanya membicarakan implementasi akidah dan pola pandang serta tata nilai tersebut di dalam kehidupan nyata. Juga menguatkan jiwa untuk memikul amanat akidah dan syariah ini di dalam pertarungan hidup, dan supaya bersemangat di dalam mengemban tugas-tugasnya secara lahir dan batin. Contoh-contoh yang demikian ini dapat kita lihat dalam surah-surah Madaniyyah terdahulu, di antaranya pada juz sebelum ini.

Surah pertama ini (yakni surah Tabaarak) membicarakan pembentukan tashawwur (pandangan, pemikiran) baru terhadap alam dan hubungannya dengan Pencipta alam ini. Tashawwur yang luas dan komprehensif yang melampaui alam ardhi yang sempit dan alam dunia yang terbatas, ke alam-alam di langit, hingga kepada kehidupan di akhirat. Juga kepada alam-alam makhluk lain selain manusia di bumi, seperti jin dan burung-burung. Dan, alam seperti neraka Jahannam dan penjaga-penjaganya, dan alam-alam gaib di luar alam nyata ini yang punya hubungan dengan hati dan perasaan manusia. Maka, surah ini bukan hanya meliputi kehidupan nyata sekarang di muka bumi saja, melainkan ia juga memberikan pengaruh terhadap perasaannya untuk merenungkan apa yang akan mereka hadapi, di sarnping realitas kehidupan yang mereka lalui yang sering dilupakan orang.

Surah ini juga mengusik dan menggerakkan di dalam jiwa semua gambaran, watak, serta endapan-endapan yang beku, padam, dan kolot dari pola pikir jahiliah dengan segala kotorannya. Juga membukakan jendela-jendela di sana-sini, menyapu debu-debu, serta melepaskan perasaan, pikiran, dan pandangan untuk melihat dan memperhatikan alam semesta, lubuk dan relung jiwa, lapisan-lapisan udara, sumber-sumber air, dan hal-hal yang tersembunyi dalam kegaiban. Jika demikian, niscaya dia akan melihat di sana ada tangan Allah yang berbuat. Juga akan merasakan gerak alam semesta yang bersumber dari kekuasaan Allah. Dia (jiwa manusia) akan kembali dari perjalanannya dişertai perasaan bahwa urusan ini sangat agung, dan lapangannya sangat luas. Kemudian dia berpindah dari bumi yang demikian luas ke alam langit, dan dari dunia nyata kepada hakikat, dan dari yang beku  kepada yang bergerak bersama gerak kekuasaan İlahi, gerak kehidupan, dan gerak makhluk hidup. Kematian dan kehidupan adalah dua hal yang biasa terjadi berulang-ulang. Akan tetapi, surah ini menggerakkan hati untuk merenungkan apa yang ada di balik kematian dan kehidupan ini. Juga untuk memikirkan dan merenungkan qadar (takdir) dan cobaan Allah, hikmah dan pengaturan-Nya,  

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa lagi Maha Pengampun." (al-MuIk: 2)

Langit adalah makhluk yang tetap di depan mata yang jahil yang pandangannya tidak sampai melampaui tangan yang menciptakannya dan tidak menengok kesempurnaannya. Tetapi, surah ini membangkitkan serta menggerakkan pikiran dan renungan terhadap keindahan dan kesempurnaan ini beserta gerakan dan tujuan yang ada di balik semua itu.

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-Iapis, kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka, lihatlah berulang-ulang, adakah kamu Iihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang. Kami jadikan bintang-bintang itu alat-alat pelempar setan..” (al-Mulk: 3-5)

Kehidupan dunia, dalam pandangan jahiliah, tampak sebagai tujuan keberadaan manusia dan akhir perjalanan. Akan tetapi, surah ini menyingkap tabir yang menutupnya dari alarn lain, yang akan dihuni oleh setan dan orang-orang kafir. Yaitu, makhluk lain yang sarat dengan gerakan, kebinasaan, dan penantian.

 “… Dan Kami sediakan bagi mereka neraka yang menyala-nyala. Orang-orang yang kafir kepada Tühannya, memperoleh azab Jahannam. Dan, itulah seburuk-buruk tempat kembali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu mengelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan ?' Mereka menjawab, 'Benar ada. Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar. "Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. 'Mereka mengakui dosa mereka. Maka, kebinasaanlah bagi Penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. " (al-Mulk: 5-11)

Jiwa manusia pada zaman jahiliah hampir tidak melampaui alam Iahir tempat mereka hidup ini saja, tidak sampai memikirkan perkara gaib dengan segala kandungannya. Jiwa manusia hanya tenggelam dalam kehidupan dunia saja, tertahan dalam sangkar bumi tempat tinggalnya. Maka, surah ini membawa hati dan pandangan mereka untuk memperhatikan alarn gaib, langit, dan kekuasaan yang tidak terlihat oleh mata, tetapi ia mampu berbuat menurut apa yang ia kehendaki dan kapan saja ia berkehendak. Surah ini mengguncangkan di dalam perasaan mereka bumi yang mereka merasa tenang dan mantap hidup di dalamnya ini.

"Sesunguhnya orang-orangyang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. Rahasiakanlah perkataanmu atau IahirkanIah, sesunguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan); dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui? Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkirbalikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Atau, apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Maka, kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku. "(al-Mulk: 12-17)

Burung-burung, mereka adalah makhluk yang sering mereka lihat, tetapi tidak pernah mereka renungkan segi mukjizatnya (keluarbiasaannya) melainkan sedikit sekali. Akan tetapi, surah ini menahan pandangan mereka untuk memperhatikan. Juga menahan hati mereka untuk merenungkan dan melihat kekuasaan Allah yang telah membuat bentuk dan menentukan.

"Dan apakah mereka tidak memperhatikan burung-burungyang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka ? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu. " (al-MuIk: 19)

Mereka merasa aman di kampung halaman dan negeri mereka. Juga merasa tenang berdiam di tempat tinggal mereka, tetapi ketenangan yang lalai terhadap kekuasaan dan qadar Allah. Maka, surah ini menggoyang mereka dari ketenangan dan kebekuan jiwanya itu, setelah mengguncang bumi dari bawah mereka dan menebarkan udara di sekitar mereka. Juga setelah diguncangnya perasaan mereka terhadap kekuasaan Allah yang tidak pernah mereka perhitungkan perhitungan-Nya. "Atau, siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain daripada AlIah Yang Maha Pemurah ? Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu." (al-Mulk: 20)

Rezeki yang mereka raih dengan tangan-tangan mereka, yang mereka kira sebab-sebab rezeki itu dekat dan mereka perebutkan. Akan tetapi, surah ini mengarahkan pandangan mereka ke tempat yang jauh di langit sana. Juga untuk melihat apa yang ada di belakang sebab-sebab yang tampak kepada mereka sebagaimana persangkaan mereka. "Atau, siapakah dia ini yang memberi kamu rezeki jika Allah menahan rezeki-Nya? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri?" (al-Mulk: 21)

Mereka berjalan di dalam kesesatan, namun mereka mengira bahwa mereka berada di jalan yang benar. Maka, surah ini menggambarkan kepada mereka keadaan mereka yang sebenarnya dan keadaan orang-orang yang benar-benar mendapat petunjuk, dengan gambaran yang hidup, bergerak, dan mengesankan.

"Maka, apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orangyang berjalan tegap di atas jalan yang lurus?"(al-Mulk: 22)

Namun, mereka tidak dapat memanfaatkan apa yang telah diberikan Allah pada diri mereka yang berupa berbagai macam persediaan dan potensi. Mereka tidak sampai melampaui apa yang terlihat oleh indra mereka untuk memikirkan apa yang ada di balik kenyataan yang selalu berdekatan dengan mereka. Maka, surah ini mengingatkan mereka terhadap nikmat yang telah diberikan Allah kepada mereka. Juga mengarahkan mereka agar mempergunakan karunia ini untuk menerangi masa depan yang tersembunyi di balik apa yang tampak secara lahir ini, dan supaya merenungkan tujuan dari semua yang tampak ini.

"Katakanlah, 'Dialah Yang menciptakan kamu dan  menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati.' (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. KatakanIah, 'Dialah Yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-NyaIah kamu kelak dikumpulkan. "' (al-Mulk: 23-24)

Mereka mendustakan adanya kebangkitan dari kubur dan pengumpulan manusia di padang mahsyar, serta meminta didatangkannya ancaman yang disampaikan kepada mereka. Maka, surah ini menggambarkan kepada mereka realitas yang menakutkan serta sudah dekat masanya (pasti terjadi) , yang kedatangannya sangat menyusahkan dan menakutkan mereka.

"Dan mereka berkata, 'Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar ?' Katakanlah, 'Sesungguhnya ilmu (tentang hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan. ' Ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafir itu menjadi muram. Dan dikatakan (kepada mereka), 'Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.” (al-Mulk: 25-27)

Mereka senantiasa menantikan kebinasaan Nabi saw. dan para pengikut beliau. Sehingga, mereka akan merasa aman dari suara yang mengguncangkan tempat tidur mereka dengan peringatan-peringatan dan teguran-teguran serta penyadaran dari kebekuan berpikir. Maka, surah ini mengingatkan mereka bahwa kebinasaan golongan orang-orang yang beriman atau keberadaannya tidak berpengaruh terhadap azab Allah yang akan menimpa mereka karena pengingkaran dan pendustaan mereka. Maka, yang lebih layak mereka lakukan adalah memikirkan urusan dan keadaan mereka sebelum datangnya hari yang gawat itu.

"Katakanlah, ‘Terangkanlnh kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama dengan aku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yangpedih ?' Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nyalah kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatan yang nyata. "' (al-MuIk: 28-29)

Pada ayat terakhir, surah ini mengingatkan mereka terhadap kemungkinan lenyapnya air yang menjadi unsur penting penghidupan mereka. Sedangkan, yang mengeluarkan dan memancarkan air itu adalah Allah yang mereka ingkari tersebut. "Katakanlah, Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu ?"' (al-MuIk: 30)

Sungguh ini adalah gerakan pada indra, serta gerakan di dalam perasaan, pikiran, dan angan-

Kata Kunci Pembuka Surah Ini

Kunci seluruh surah ini dan poros gerakannya adalah ayat pertama yang simpel dan mengesankan.

تَبٰرَكَ الَّذِيْ بِيَدِهِ الْمُلْكُۖ وَهُوَ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌۙ ١

"Mahasuci Allah Yang di tangan-Nyalah segala kerajaan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu, " (al-Mulk: 1)

Dari hakikat kerajaan dan hakikat kekuasaan ini, bercabanglah semua lukisan yang dibentangkan oleh surah ini dan semua gerakan yang tersembunyi dan yang tampak, yang menyadarkan hati kepadanya.

Maka, dari kerajaan dan kekuasaan inilah diciptakannya kematian dan kehidupan serta ujian dengan keduanya. Karenanya, diciptakanlah langit dan dihiasi dengan bintang-bintang, dan dijadikannya bintang-bintang itu sebagai alat pelempar setan. Karenanya, disediakanlah neraka Jahannam dengan sifat-sifatnya, keadaannya, dan penjaga-penjaganya. Karenanya, diketahui segala yang rahasia dan yang tampak nyata. Karenanya, dijadikanlah bumi itu mudah bagi manusia. Karenanya, dijungkirbalikkan bumi dan dikirimkannya badai yang berbatu yang diiringi dengan kemurkaan Allah kepada orang-orang yang mendustakan para rasul terdahulu.

Karenanya, burung ditahan di langit. Karenanya, Dia menekan dan meninggikan. Karenanya, Dia memberi rezeki sebagaimana yang Dia kehendaki. Karenanya, Dia memberi pendengaran, penglihatan, dan hati. Karenanya, Dia mengembangkan manusia di bumi dan mengumpulkannya di akhirat nanti. Karenanya, Dia mengkhususkan pengetahuan tentang hari kiamat ini hanya untuk Dia saja. Karenanya, azab disediakan bagi orang-orang kafr. Dan, kerajaan dan kekuasaan-Nya, diciptakanlah air untuk menjadi unsur penting kehidupan. Karena kekuasaan-Nya itu, Dia dapat saja melenyapkan air itu kalau Dia menghendaki.

Maka, semua hakikat surah dan temanya, semua gambaran dan pengarahannya bersumber dari pengarah yang terdapat pada ayat pertama dengan petunjuknya yang sangat komplit, "Mahasuci Allah Yang di tangan-NyaIah segala kerajaan, dan Dia Maha kuasa atas segala sesuatu. "

Hakikat-hakikat dan pengarahan-pengarahan surah ini disebutkan secara berurutan dalam rangkaian ayat-ayatnya, yang terus memancar tiada henti, yang menafsirkan kandungan petunjuk ayat pertama yang global dan lengkap, yang sulit membagi-baginya ke dalam beberapa poin! Oleh karena itu, alangkah baiknya kalau ayat ayat-ayat itu ditampilkan sesuai urutannya dengan sedikit penjelasan yang agak rinci.

"Mahasuci Allah yang di tangan-Nyalah segala kerajaan, dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. " (al-Mulk: 1)

Tasbih yang terdapat pada awal surah ini mengesankan pertambahan dan peligatgandaan barakah Allah. Juga menunjukkan mulianya berkah yang subur dan melimpah ini. Disebutkannya "kerajaan" di sampingnya memberikan kesan melimpahnya barakah ini kepada kerajaan tersebut, dan menunjukkan mulianya berkah ini pada alam semesta sesudah menunjukkan kemuliaannya di sisi Zat Ilahiah. Ini adalah sebuah senandung yang dengannya segala harapan semesta saling merespons, dan dengannya menjadi semarak hati semua yang maujud. Dan, ia bertolak dari firman Ilahi di dalam kitab-Nya yang mulia, dari kitab yang tersembunyi, kepada alam yang dapat diketahui, "Mahasuci Allah yang di tangan-NyaIah segala kerajaan… “

Maka, Dialah yang menguasai kerajaan itu, yang memeliharanya, yang memegang ubun-ubunnya, yang melaksanakannya. Ini adalah suatu hakikat. Apabila hakikat ini sudah bersemayam di dalam hati, maka dia akan mengendalikan arahnya dan menunjukkan tempat kembalinya. Juga akan menjauhkannya dari semua arahan, pegangan, atau pencarian kepada selain Yang Mahakuasa, Yang Maha Memelihara, dan Yang Mengatur kerajaanNya dengan tiada sekutu bagi-Nya, sebagaimana ia akan menjauhkannya dari melakukan pengabdian dan peribadatan kepada selain Yang Mahakuasa Iagi Maha Esa, Yang Dipertuan Iagi Mahatunggal. “… Dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. "

Sehingga, tidak ada sesuatu pun yang lepas dari kekuasaan-Nya; tidak ada sesuatu pun yang luput dari-Nya; tidak ada sesuatu pun yang dapat menghalangi kehendak-Nya; dan tidak ada sesuatu pun yang membatasi kemauan-Nya. Dia menciptakan apa saja yang dikehendak-Nya. Dia berbuat apa saja yang diinginkan-Nya. Dia Mahakuasa atas apa saja yang dikehendaki-Nya dan Mahakuasa atas segala urusan-Nya. Iradah-Nya tidak bergantung pada batas dan ikatan-ikatan tertentu.

Ini adalah suatu hakikat, yang apabila sudah mantap di dalam hati, maka ia akan melepaskan gambaran hati itu terhadap kehendak Allah dan perbuatan-Nya dari segala jenis ikatan, baik ikatan indrawi, ikatan pikiran, maupun ikatan angan-angan. Maka, kekuasaan Allah berada di balik segala sesuatu yang tergetar pada manusia dalam kondisi apa pun. Dan, ikatan-ikatan yang membatasi pandangan manusia menurut hukum buatan mereka yang terbatas, akan menjadikan mereka tertawan oleh kebiasaan mereka sendiri di dalam menentukan segala sesuatu yang mereka hadapi, yang berupa perubahan dan pergantian pada apa yang ada di balik masa kini dan kenyataan yang terbatas ini.

Maka, hakikat ini melepaskan perasaan mereka dari ketertawanan. Sehingga, karena meyakini kekuasaan Allah, mereka dapat mengharapkan segala sesuatu dengan tidak terbatas. Dan, mereka serahkan segala sesuatu tanpa syarat kepada kekuasaan Allah. Maka, terbebaslah mereka dari tawanan masa kini dan realitas yang terbatas ini.

Mati dan Hidup sebagai Ujian

الَّذِيْ خَلَقَ الْمَوْتَ وَالْحَيٰوةَ لِيَبْلُوَكُمْ اَيُّكُمْ اَحْسَنُ عَمَلًاۗ وَهُوَ الْعَزِيْزُ الْغَفُوْرُۙ ٢

"Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dia Mahaperkasa Iagi Maha Pengampun. "(al-MuIk:2)

Di antara bekas-bekas kemantapan kerajaan-Nya dan tindakan-Nya yang mutlak, dan di antara bekas-bekas kekuasaan-Nya terhadap segala sesuatu dan kemutlakan kehendak-Nya... ialah Dia menciptakan kematian dan kehidupan. Kematian ini mencakup kematian yang mendahului kehidupan dan kematian sesudah kehidupan. Kehidupan ini juga mencakup kehidupan yang pertama dan kehidupan yang terakhir. Semuanya adalah ciptaan Allah sebagaimana ditetapkan oleh ayat ini, yang melahirkan hakikat ini di dalam pandangan manusia. Di samping itu, ia menimbulkan kesadaran terhadap maksud dan ujian yang ada di baliknya.

Maka, persoalannya bukanlah masalah kebetulan dengan tanpa direncanakan, bukan permainan tanpa tujuan. Tetapi, semua itu adalah ujian untuk menampakkan apa yang tersembunyi dalam ilmu Allah mengenai perilaku manusia di muka bumi dan keberhakan mereka terhadap balasan amal mereka. "…Supaya Dia menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya... “

Penetapan hakikat ini di dalam hati menjadikan hati ini senantiasa sadar, hati-hati, memperhatikan, dan merenungkan segala sesuatu yang kecil dan yang besar, di dalam niat yang tersembunyi dan di dalam perbuatan nyata. Juga tidak membiarkan hati lalai dan lengah, tidak pula santai dan bersenang-senang belaka. Oleh karena itu, datanglah ujung ayat yang mengatakan, “…Dia Mahaperkasa Iagi Maha Pengampun "

Ujung ayat ini untuk menuangkan ketenangan di dalam hati yang selalu memperhatikan Allah dan takut kepada-Nya Karena, Allah Mahaperkasa Iagi Maha Pemenang. Tetapi, Dia juga Maha Pengampun Iagi Mahatoleran. Apabila hati telah menyadari dan merasa bahwa semua ini sebagai ujian dan cobaan, lantas dia berhati-haü dan menjaga diri, maka dia merasa tenang untuk mendapatkan pengampunan Allah dan rahmat-Nya, merasa mantap dan senang dengan rahmat Allah itu.

Sesungguhnya Allah menurut hakikat yang dilukiskan Islam dan dimantapkan di dalam hati, tidaklah mengusir manusia, tidak menyulitkan mereka, dan tidak suka menyiksa mereka. Akan tetapi, Dia ingin agar mereka senantiasa menyadari tujuan keberadaan mereka, dan agar mereka meningkatkan derajatnya kepada kedudukan yang sebenarnya. Juga agar mereka merealisasikan pemberian kemuliaan Allah kepada mereka dengan meniupkan roh ciptaan-Nya di dalam eksistensinya sebagai manusia, dan dimuliakannya mereka di atas kebanyakan makhIuk-Nya. Apabila hal ini telah sempurna bagi mereka, maka di sanalah terdapat rahmat yang banyak, pertolongan yang besar, toleransi yang luas, dan pemaafan dari banyak kesalahan.

Fenomena Alam Semesta dan Pembalasan di Akhirat

Selanjutnya, dihubungkanlah hakikat ini dengan alam seluruhnya dalam lapangan yang lebih beşar dan lebih tinggi, sebagaimana pada sisi lain dihubungkan dengan hakikat pembalasan di akhirat sesudah diuji dengan kematian dan kehidupan.

الَّذِيْ خَلَقَ سَبْعَ سَمٰوٰتٍ طِبَاقًاۗ مَا تَرٰى فِيْ خَلْقِ الرَّحْمٰنِ مِنْ تَفٰوُتٍۗ فَارْجِعِ الْبَصَرَۙ هَلْ تَرٰى مِنْ فُطُوْرٍ ٣ ثُمَّ ارْجِعِ الْبَصَرَ كَرَّتَيْنِ يَنْقَلِبْ اِلَيْكَ الْبَصَرُ خَاسِئًا وَّهُوَ حَسِيْرٌ ٤ وَلَقَدْ زَيَّنَّا السَّمَاۤءَ الدُّنْيَا بِمَصَابِيْحَ وَجَعَلْنٰهَا رُجُوْمًا لِّلشَّيٰطِيْنِ وَاَعْتَدْنَا لَهُمْ عَذَابَ السَّعِيْرِ ٥ وَلِلَّذِيْنَ كَفَرُوْا بِرَبِّهِمْ عَذَابُ جَهَنَّمَۗ وَبِئْسَ الْمَصِيْرُ ٦ اِذَآ اُلْقُوْا فِيْهَا سَمِعُوْا لَهَا شَهِيْقًا وَّهِيَ تَفُوْرُۙ ٧ تَكَادُ تَمَيَّزُ مِنَ الْغَيْظِۗ كُلَّمَآ اُلْقِيَ فِيْهَا فَوْجٌ سَاَلَهُمْ خَزَنَتُهَآ اَلَمْ يَأْتِكُمْ نَذِيْرٌۙ ٨ قَالُوْا بَلٰى قَدْ جَاۤءَنَا نَذِيْرٌ ەۙ فَكَذَّبْنَا وَقُلْنَا مَا نَزَّلَ اللّٰهُ مِنْ شَيْءٍۖ اِنْ اَنْتُمْ اِلَّا فِيْ ضَلٰلٍ كَبِيْرٍ ٩ وَقَالُوْا لَوْ كُنَّا نَسْمَعُ اَوْ نَعْقِلُ مَا كُنَّا فِيْٓ اَصْحٰبِ السَّعِيْرِ ١٠ فَاعْتَرَفُوْا بِذَنْۢبِهِمْۚ فَسُحْقًا لِّاَصْحٰبِ السَّعِيْرِ ١١

"Yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tühan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka, lihalah berulang-ulang, adakah kamu lihat sesuatu yang tidak seimbang? Kemudian pandanglah sekali lagİ niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukun suatu cacat dan penglihatanmu itü pun dalam keadaan payah. Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang. Kami jadikan bintang-bintang İtü alat-alat pelempar setan, dan Kami sediakan bagİ mereka siksa neraka yang menyala-nyala. Orang-orang yang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. Dan, itulah seburuk-buruk tempat kcmbali. Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka İtü menggelegak, hampir-hampir (neraka) İtü terpecah-pecah lantaran marah. Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga (neraka itu) bertanya kepada mereka, 'Apakah belumpemah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberi peringatan?'Mereka menjawab, 'Benar ada. Sesunguhnya telah datang kepada kami seorang pemberi peringatan, maka kami mendustakan (nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar.” Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. ' Mereka mengakui dosa mereka. Maka, kebinasaanlah bagi penghuni-pcnghuni neraka yang menyala-nyala. " (al-Mulk: 3-11)

Segala sesuatu yang ada di dalam ayat-ayat ini merupakan bekas-bekas dari apa yang ditunjuki ayat pertama tadi dan lambang-lambang pemeliharaan yang dilakukan di dalam kerajaan tersebut. Juga sebagai lambang kekuasaan yang tidak terikat oleh suatu ikatan. Kemudian sebagai pembuktian bagi ayat kedua yang menyatakan bahwa diciptakannya kematian dan kehidupan adalah sebagai ujian. Sesudah itü mereka akan mendapatkan balasan.

Tujuh langit yang berlapis-lapis yang diisyaratkan oleh ayat ini tidak mungkin dapat ditetapkan materi nya oleh manusia, dengan mengambil keputusan induktif dengan teori-teori ilmu falak, karena teori-teori ini masih senantiasa dapat dibenahi dan direvisi. Cukuplah bagi kita untuk mengerti bahwa di sana terdapat tujuh langit yang berlapis-lapis, dalam arti bertingkat-tingkat dengan jarak yang amat jauh antara yang satu dengan yang lain.

AI-Qur'an mengarahkan pandangan untuk memperhatikan makhluk Allah, kepada langit dengan sifat khususnya dan kepada semua makhluk dengan sifat umumnya. Dia mengarahkan pandangan untuk memperhatikan makhluk Allah. Karena kesempurnaannya, dia menantang manusia untuk mencari ketidakseimbangan pada ciptaan Allah di langit ini. Tetapi, kemudian pandangan itü kembali dengan tidak menemukan suatu cacat dan ia kembali dalam keadaan payah, lemah, dan Ioyo.

"Kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tühan Yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang... ‘

Maka, di sana tidak ada cacat, tidak ada kekurangan, dan tidak ada kelabilan.

" . .Maka, lihatlah berulang-ulang!..

Lihatlah sekali lagi, untuk menegaskan dan memantapkan.

".. .Adakah kamu lihat sesuatu Yang tidakseimbang?" (al-Mulk: 3)

Apakah pandanganmu melihat sesuatu yang berantakan, retak, atau rusak?

Kemudian Pandanglah sekali lagi…”

Barangkali pandangan pertamamu kurang jeli sehingga masih ada yang terluput. Siapkanlah penglihatanmu, kemudian ulangi pandanganmu,

“…Niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan suatu cacat dan penglihatanmu itu pun dalam keadaan payah. " (al-Mulk: 4)

Metode tantangan ini akan menimbulkan perhatian dan keseriusan di dalam memperhatikan langit dan semua makhluk ciptaan Allah. Pandangan yang tajam dan penuh perhatian inilah yang dikehendaki Al-Qur’an untuk dikembangkan dan dilestarikan. Karena kebebalan dan kebodohan dapat menyebabkan orang tidak mau memperhatikan dengan serius terhadap alam semesta yang indah menakjubkan, bagus dan lembut ini. Alam yang tidak ada mata yang merasa kekenyangan karena memandang keindahan dan kebagusannya, hati tidak pernah merasa kenyang menerima arahan dan isyarat-isyaratnya, dan akal tidak pernah merasa puas dan kenyang memikirkan keteraturan dan kecermatannya. Juga yang menjadikan hidup jiwa orang yang mau merenungkannya dengan pandangannya ini kepada pameran Ilahi yang bagus dan indah, yang tak pernah lapuk inovasi-inovasinya, karena ia senantiasa baru bagi mata, hati, dan pikiran.

Orang yang mengerti sedikit tentang tabiat alam ini dan keteraturannya sebagaimana yang diungkapkan oleh ilmu pengetahuan modern tentang beberapa seginya, maka ia akan semakin kagum dan tercengang. Akan tetapi, keindahan alam ini tidak memerlukan ilmu pengetahuan. Pasalnya, sudah termasuk kenikmatan dari Allah kepada manusia di mana Dia telah memberikan kepada mereka kemampuan untuk bertanya-jawab dengan alam ini dengan semata-mata memperhatikan dan merenungkan. Maka, hati itu akan dapat menerima pengarahan-pengarahan alam yang besar dan indah ini secara langsung manakala hati itu terbuka dan siap siaga. Kemudian terjadilah tanya jawab dengan arahan-arahan dan kesan-kesan alami ini seperti tanya jawab antara makhluk hidup dengan sesama makhluk hidup Iainnya, sebelum dia mengetahui dengan pikirannya dan perangkat deteksinya tentang sesuatu dari makhluk yang agung dan mengagumkan ini.

Karena itulah, AI-Qur’an menugasi manusia untuk memandang alam semesta ini dan memperhatikan pemandangan-pemandangan dan keajaiban-keajaibannya Hal itu disebabkan Al-Qur' an senantiasa berbicara kepada seluruh manusia, dan pada semua masa. la berbicara kepada penghuni hutan dan penghuni padang pasir, sebagaimana ia berbicara kepada penghuni kota dan penjelajah samudera. la berbicara kepada orang ummi (buta huruf) yang tidak tahu tulis baca, sebagaimana ia berbicara kepada astronom, fisikawan, dan ilmuwan-ilmuwan Iainnya. Masing-masing bisa mendapatkan sesuatu dalam Al-Qur'an yang berhubungan dengan alam ini, dan sesuatu yang dapat menimbulkan renungan dalam hati, respons, dan kesenangan.

Keindahan dalam susunan alam yang rapi ini juga dimaksudkan seperti penampilan kesempurnaannya. Bahkan, keduanya (keindahan dan kesempurnaan) diperuntukkan buat sebuah hakikat, karena kesempurnaan itu untuk mencapai tingkat keindahan. Oleh karena itu, Al-Qur'an mengarahkan pandangan kepada keindahan langit setelah mengarahkan untuk melihat kesempurnaannya. "Sesungguhnya Kami telah menghiasi langit yang dekat dengan bintang-bintang. “

Apakah langit dunia, langit yang dekat itu? Barangkali ia adalah langit yang paling dekat dengan bumi dan penghuninya yang dibicarakan oleh Al-Qur'an ini. Mungkin bintang-bintang yang diisyaratkannya di sini adalah bintang-bintang dan planet-planet yang tampak oleh mata, yang dapat kita lihat ketika kita memandang ke langit. Karena yang demikian ini sesuai dengan arahan kepada yang diajak bicara supaya memandang ke langit.  Mereka tidak dapat melihat kecuali dengan mata mereka, dan mata mereka pun melihat benda-benda (bintang-bintang) yang bersinar yang menghiasi langit.

Bintang-bintang di langit adalah suatu pemandangan yang indah, tanpa diragukan lagi. Keindahan yang menarik hati. Keindahan yang senantiasa terasa baru dan beraneka warnanya sesuai dengan saat-saat memandangnya, yang berbeda antara pagi dan sore, ketika terbit dan ketika tenggelam, ketika malam berbulan dan ketika gelap gulita, ketika jernih dan ketika berkabut.... Bahkan, ia terasa berbeda dari waktu ke waktu, dari satu tempat ke tempat lain, dan dari satu sudut dan sudut lain. Akan tetapi, semuanya indah dan mengesankan.

Nun di sana sebuah bintang yang berkelap-kelip, seakan sebuah mata yang indah, yang memancarkan sinar kecintaan dan memanggil-manggil. Dua buah bintang yang menyendiri di sana, yang menyisih dari kerumunan bintang yang berdesak-desakan, seakan mereka berdua sedang berbisik-bisik (sambil berkedip-kedip).

İni, gugusan-gugusan bintang yang berserakan di sana-sini, seakan-akan rombongan-rombongan yang berparade dalam festival langit, yang berkumpul dan berpisah seakan-akan klub malam dalam festival. Dan, ini bulan yang santun dan tenang pada suatu malam, yang bersinar cemerlang pada suatu malarn, yang kemudian redup cahayanya dan menurun letaknya pada suatu malam. la seperti yang baru lahir dan membuka kehidupan pada suatu malam, dan yang seolah berjalan tertatih-tatih menuju kelenyapan pada suatu malam. Juga angkasa yang luas membentang ini, yang tak bosan-bosannya mata memandang, dan pandangan tak dapat mencapai jangkauannya.

Semuanya sungguh indah. Keindahan yang manusia hidup dan bersenang-senang dengannya, tetapi tak dapat menyifatinya dengan kata-kata dan kalimat-kalimat!

AI-Qur'an mengarahkan jiwa manusia kepada keindahan langit dan keindahan seluruh alam semesta. Karena, memahami keindahan alam merupakan jalan terdekat dan terbaik untuk memahami kebagusan Pencipta alam ini. Pemahaman seperti inilah yang dapat mengangkat derajat manusia ke ufuk yang sangat tinggi yang dapat mereka capai. Karena, pada saat itü ia sampai ke suatu titik yang disiapkan untuk kehidupan yang abadi, di dunia yang bebas dan indah, yang bersih dari kotoran-kotoran bumi dan kehidupan dunia. Dan, saat-saat yang paling berbahagia bagi manusia adalah saat-saat yang pada waktu itü ia menerima keindahan ciptaan ilahi di alam ini, karena saat-saat itü merupakan saat yang disediakan baginya untuk berhubungan dengan keindahan İlahi dan bersenang-senang dengannya.

Di sini, nash Al-Qur’an menyebutkan bahwa bintang-bintang yang dijadikan Allah sebagai hiasan bagi langit juga memiliki fungsi lain.

“…Kami jadikan bintang-bintang.itu alat-alat pelempar setan…”

  Dalam tafsir azh-Zhilal ini, kami memberlakukan kaidah dengan tidak menambah sesuatu pun atas perkara-perkara gaib yang diinformasikan Allah kepada kita. Kami berhenti pada batas-batas nash AI-Qur’an tanpa melampauinya, karena Al-Qur'an itü sendiri sudah cukup untuk menetapkan urusan apa saja yang ditampilkannya.

Maka, kita percaya bahwa di sana ada sejenis makhluk yang bernama setan, yang sebagian sifat-sifatnya disebutkan di dalam Al-Qur'an, dan sudah diisyaratkan di muka di dalam tafsir azh-ZhilaI ini. Kami tidak menambah-nambahinya sedikitpun, dan kami percaya bahwa Allah telah menjadikan sebagian dari bintang-bintang yang menghiasi langit dunia ini sebagai alat-alat pelempar setan, dalam bentuk nyala api sebagaimana disebutkan dalam surah lain.

"Sesungguhnya Kami telah menghiasİ langİt yang terdekat dengan hiasan, yaitu bintang-bintang, dan telah memeliharanya (sebenar-benarnya) dari setiap setan yang sangat durhaka. ” (ash-Shaaffat: 6-7)

"Akan tetapi, barangsiapa (di antara mereka) yang mencuri-curi (pcmbicaraan), maka dikejar oleh suluh  api yang cemerlang. ” (ash-Shaaffat: 10)

 Bagaimana caranya? Dari unsur apa bodinya? Dalam bentuk apa? Semua itü tidak diinformasikan oleh Allah kepada kita, dan kita tidak mendapatkan sumber lain yang dapat digunakan menjawab pertanyaan dalam masalah ini. Maka, demikian sajalah yang kita ketahui dan harus kita percayai terjadinya. Dan, inilah yang dimaksud. Sebab, kalau Allah mengetahui bahwa di dalam memberikan tambahan, penjelasan, dan perincian tentang masalah ini terdapat kebaikan, sudah tentü Dia menjelaskannya kepada kita. Maka, untuk apa kita mencoba mengetahui sesuatu yang Allah tidak melihat ada kebaikan di dalamnya? Yakni dalam urusan ini, urusan melempari setan?

Kemudian ayat berikutnya membeberkan apa yang disediakan Allah kepada setan, selain mereka dilempari itu.

"… Kami sediakan bagi mereka siksa neraka yang menyala-nyala. ” (al-MuIk: 5)

Maka, lemparan di dunia dan siksa neraka yang menyala-nyala di akhirat disediakan bagi setan-setan itu. Barangkali relevansi penyebutan apa yang disediakan Allah bagi setan di dunia dan akhirat ialah disebutkannya langit pertama kali, kemudian disebutkanlah orang-orang yang kafir. Hubungan antara setan dan orang-orang kafir adalah hubungan implisit. Maka, setelah disebutkan bintang-bintang di langit, disebutkanlah bahwa ia juga dijadikan alat pelempar setan. Dan, ketika disebutkan apa yang disediakan bagi setan yang berupa azab neraka yang menyala-nyala, disebutkanlah sesudah itu apa yang disediakan bagi orang-orang kafir pengikut setan tersebut.

Dan orang-orangyang kafir kepada Tuhannya, memperoleh azab Jahannam. Dan itulah seburuk-buruk tempat kembali. " (al-Mulk: 6)

Kemudian dilukiskanlah pemandangan tentang neraka Jahannam ini, ketika ia menyambut orang-orang kafir dengan marah dan geram.

"Apabila mereka dilemparkan ke dalamnya, mereka mendengar suara neraka yang mengerikan, sedang neraka itu mengelegak, hampir-hampir (neraka) itu terpecah-pecah lantaran marah.. " (al-Mulk: 7-8)

Jahannam di sini digambarkan sebagai makhluk hidup. la menahan marah, hingga napasnya turun naik ngos-ngosan, bergejolak dan menggelegak, dan seluruh sisinya dipenuhi dengan kemarahan. Sehingga, hampir-hampir ia terpecah-pecah berantakan karena menahan marah, la menyimpan ke marahan dan kebencian hingga merasa sangat geram terhadap orang-orang kafir.

Pernyataan ini secara Iahiriah tampak sebagai kiasan dan lukisan terhadap neraka Jahannam. Akan tetapi, kami rasa dia menetapkan suatu hakikatyang sesungguhnya. Karena, setiap ciptaan Allah memiliki ruh yang sesuai dengan jenis fisiknya, setiap makhluk mengenal Tuhannya dan bertasbih dengan memuji-Nya, dan dia jengkel ketika melihat manusia kufur kepada Penciptanya, serta marah terhadap keingkaran yang mungkar dan bertentangan dengan fitrah dan ruhnya ini. Hakikat ini disebutkan di dalam Al-Qur'an pada beberapa tempat yang berbeda-beda yang memberikan kesan bahwa ayat-ayat itu menetapkan suatu hakikat yang tersimpan pada setiap sesuatu di alam ini.

Terdapat pernyataan yang transparan di dalam Al-Qur'an yang berbunyi,

"Langit yang tujuh, bumi, dan semua yang ada di dalamnya bertasbih kepada Allah. Dan, tak ada suatu pun melainkan bertasbih dengan memuji-Nya, tetapi kamu sekalian tidak mengerti tasbih mereka. " (al-Israa': 44)

"Hai gunung-gunung dan burung-burung bertasbihlah berulang-ulang bersama Dawud!' (Saba’: 10)

Ayat-ayat ini merupakan pernyataan yang transparan dan langsung, yang tidak perlu ditakwilkan lagi.

"Kentudian Dia menuju langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi, 'Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau lerpaksa. ' Keduanya menjawab, 'Kami datang dengan sukahati. '"(Fushshilat: 11)

Mungkin saja ada yang mengatakan bahwa ayat ini adalah majazi untuk melukiskan ketundukan langit dan bumi kepada peraturan Allah. Akan tetapi, takwil semacam ini tidak diperlukan, bahkan sangat berjauhan dengan makna yang jelas yang langsung dapat ditangkap.

Neraka Jahannam disifati seperti ini, sebagaimana disebutkan di tempat lain tentang kegeraman dan kemurkaan benda-benda terhadap kemusyrikan yang dilakukan orang terhadap Tuhannya. “Sesungguhnya kamu telah mendatangkan sesuatu perkara yang sangat mungkar, hampir-hampir langit pecah karena ucapan itu, bumi belah, dan gunung-gunung runtuh, karena mereka mendakwa Allah Yang Maha Pemurah mempunyai anak Dan, tidak layak bagi Tuhan Yang Maha Pemurah mengambil (mempunyai) anak." (Maryam: 89-92)

Semua nash ini menunjukkan hakikat. Yaitu, hakikat keimanan semua makhluk kepada Khaliknya, hakikat tasbih segala sesuatu dengan memuji-Nya, dan hakikat kegeraman dan kebencian makhluk-makhluk ini terhadap keganjilan manusia ketika mereka berbuat kufur dan menyempal dari sikap semua makhluk ini. Juga hakikat hendak meIompatnya makhluk-makhluk ini untuk menerkam manusia karena marah dan geram. Pasalnya, dengan kekafirannya itu manusia menodai kemuliaan dan kehormatannya, sehingga ia marah dan geram. Karena kemarahan dan kegeramannya itu seakan-akan ia hendak pecah, sebagaimana keadaan neraka Jahannam, ketika "ia menggelegak, hampir-hampir ia terpecah-pecah karena marah

Fenomena ini juga kita temukan pada penjagapenjaga neraka, "Setiap kali dilemparkan ke dalamnya sekumpulan (orang-orang kafir), penjaga-penjaga neraka itu bertanya kepada mereka, 'Apakah belum pernah datang kepada kamu (di dunia) seorang pemberiPeringatan ?"' (al-Mulk: 8)

Jelaslah bahwa pertanyaan ini di sini adalah untuk mengingatkan kernbali dan untuk menghinakan mereka. Hal ini sesuai dengan kemarahan dan kegeraman neraka Jahannam itu, sebagaimana Iayaknya ia mengiringi siksaan. Dan, hal ini tidak lebih pahit daripada penghinaan dan pengenangan kembali bagi orang yang sedang dalam kesempitan dan kesedihan!

Jawabannya pun diberikan dengan penuh kehinaan dan kesedihan serta pengakuan tentang kebodohan dan kelengahannya, sesudah melakukan kesombongan dengan membual dan pengingkaran serta menuduh para rasul sebagai orang-orang yang sesat.

"Mereka menjawab, 'Benar ada. Sesungguhnya telah datang kepada kami seorang pemberiperingatan, maka kami mendustakan(nya) dan kami katakan, 'Allah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besan " Dan mereka berkata, 'Sekiranya kami mendengarkan atau memikirkan (peringatan itu), niscaya tidaklah kami termasuk penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala.” (al-MuIk: 9-10)

Maka, orang yang mau mendengar dan memikirkan peringatan, niscaya dia tidak akan mencampakkan dirinya ke tempat yang menyengsarakan ini. Dia tidak akan melakukan pengingkaran dan penentangan sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang bernasib malang itu. Juga tidak akan buru-buru menuduh para rasul tersesat dengan tuduhan yang penuh bualan dan tak tahu malu, dengan tidak berpijak pada dalil sama sekali seraya mengatakan, "Allah tidak menurunkan sesuatu pun. Kamu tidak lain hanyalah di dalam kesesatan yang besar. "

"Mereka mengakui dosa mereka. Maka, kebinasaanlah bagi penghuni-penghuni neraka yang menyala-nyala. " (al-Mulk: 11)

"As-Suhq" berarti al-bu'd 'jauh'. Ini merupakan doa jelek (kutukan) dari Allah atas mereka setelah mereka mengakui dosa-dosa mereka karena mereka tidak beriman dan tidak mempercayai apa yang seharusnya diimani dan dipercayai. Doa jelek (kutukan) dari Allah berarti keputusan. Maka, mereka dijauhkan dari rahmat-Nya, tidak ada harapan untuk mendapatkan pengampunan Allah, dan tidak ada pembebasan dari azab. Mereka adalah penghuni neraka yang menyala-nyala, senantiasa menetap di sana. Wahai, betapa buruknya berteman dengan neraka! Wahai, betapa buruknya neraka sebagai tempat kembali!

Azab ini, azab yang menyala-nyala, di dalam neraka Jahannam yang suara napasnya terengah-engah dengan mengerikan dan menggelegak, adaIah azab yang pedih dan sangat menakutkan.

Allah tidak berbuat zalim kepada seorang pun. Kami kira bahwa jiwa yang kafir kepada Tuhannya adalah jiwa yang kosong dari semua macam kebaikan, dan kosong dari semua sifat yang mau mengambil pelajaran terhadap alam semesta, sehingga ia bagaikan batu yang menjadi bahan bakar neraka jahanam. Mereka terjungkal hingga ke neraka ini, tidak akan bisa selamat dan tidak bisa berlari darinya!

Jiwa yang kafir kepada Allah di bumi ini, menjadi serba terbalik kehidupannya setiap hari... hingga gambaran yang buruk, bopeng, sangat jelek, mungkar, jahanam, mengerikan. Suatu gambaran yang tidak ada sesuatu pun di alam ini yang menjadi padanannya tentang keburukan dan kejelekannya. Segala sesuatu ruhnya beriman, segala sesuatu bertasbih memuji Tuhannya, segala sesuatu terdapat kebaikan di dalamnya, dan terdapat jalinan hubungan dengan sumber dan asal-usul alam semesta ini... kecuali jiwa yang binal dan melepaskan hubungan dari unsur-unsur alam wujud ini, yang menyeramkan Iagi jahat, kasar, rusak, dan menjijikkan.

Maka, di tempat manakah di alam ini ia akan berkesudahan, sedangkan dia sudah putus hubungan dengan segala sesuatu di alam wujud ini? Ia akan berakhir di neraka Jahannam yang marah dan murka, yang membakar, serta yang menghancurkan segala makna, hak, dan kemuliaan. Apalagi, sebelumnya jiwa yang demikian itu tidak memiliki makna, hak, dan kemuliaan di dunia.

Sudah menjadi tradisi Al-Qur’an membentangkan dua lembaran yang bertentangan di dalam melukiskan pemandangan-pemandangan hari kiamat. Maka, di sini ia membentangkan lembaran orang-orang mukmin yang berhadapan dengan lembaran orang-orang kafir, untuk melengkapi materi yang ditunjuki oleh ayat kedua dalam surah ini, "Supaya menguji kamu, siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya.... " Dengan menyebutkan pembalasan sesudah menyebutkan ujian.

اِنَّ الَّذِيْنَ يَخْشَوْنَ رَبَّهُمْ بِالْغَيْبِ لَهُمْ مَّغْفِرَةٌ وَّاَجْرٌ كَبِيْرٌ ١٢

"Sesungguhnya orang-orang yang takut kepada Tuhannya Yang tidak tampak oleh mereka, mereka akan memperoleh ampunan dan pahala yang besar. " (al-MuIk: 12)

Kegaiban yang diisyaratkan di sini mencakup ketakutan mereka kepada tuhan mereka yang tidak mereka lihat. Ini sebagaimana ia juga mencakup ketakutan mereka kepada Tuhannya ketika mereka sedang berada di tempat terpisah yang jauh dari pandangan orang lain. Keduanya mengandung makna yang besar. perasaan yang halus, dan pemahaman yang cerdas. Pelakunya layak mendapatkan pembalasan agung yang disebutkan ayat ini secara global. Yaitu, pengampunan dan penghapusan dosa serta pahala yang besar.

Hubungan hati dengan Allah secara rahasia dan tersembunyi, dan berhubungannya dengan perkara gaib yang tidak terlihat oleh mata, merupakan ukuran sensitivitas hati manusia dan jaminan hidup nya nurani. Dalam musnadnya, al-Hafizh Abu Bakar al-Bazzar mengatakan bahwa telah diinformasikan dari Thalut bin Abbad, dari al-Harits bin Ubaid, dari Tsabit, dari Anas bahwa para sahabat berkata, 'Wahai Rasulullah, kami berada di sisi engkau dalam suatu kondisi. Tetapi, apabila kami berpisah darimu, maka kami berada pada kondisi yang lain." Beliau bertanya, "Bagaimana kamu dengan Tuhanmu?" Mereka menjawab, "Allah adalah Tuhan karni, baik ketika kami jauh dari orang banyak maupun di tengah orang banyak." Beliau bersabda, "Yang demikian itu bukan nifak."'

Maka, berhubungan dengan Allah itu merupakan pokok. Apabila hubungan ini telah terpatri di dalam hati, maka yang bersangkutan adalah orang yang beriman, shaadiq 'jujur’, dan senantiasa berhubungan dengan-Nya.

Pengetahuan Allah terhadap Segala yang Tersembunyi dan yang Tampak

Ayat di atas menghubungkan ayat sebelumnya dengan ayat sesudahnya, di dalam menetapkan pengetahuan Allah terhadap sesuatu yang tersembunyi dan yang tampak nyata. Dia menantang manusia Sedangkan, Dialah yang menciptakan jiwa mereka, dan mengetahui tempat-tempat masuknya dan tempat-tempat persembunyiannya, yang Dia letakkan padanya.

وَاَسِرُّوْا قَوْلَكُمْ اَوِ اجْهَرُوْا بِهٖۗ اِنَّهٗ عَلِيْمٌ ۢبِذَاتِ الصُّدُوْرِ ١٣ اَلَا يَعْلَمُ مَنْ خَلَقَۗ وَهُوَ اللَّطِيْفُ الْخَبِيْرُ ࣖ ١٤

"Rahasiakanlah perkataanmu atau lahirkanlah, sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati. Apakah Allah Yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu lahirkan dan rahasiakan), dan Dia Maha halus lagi Maha Mengetahui?" (al-Mulk: 13-14)

Rahasiakanlah atau tampakkanlah! Maka, semua itu akan tampak oleh Allah, karena pengetahuan Allah sama saja. dan Dia mengetahui apa yang lebih tersembunyi dari apa yang tampak dan yang "Sesungguhnya Dia Maha Mengetahui segala isi hati”, segala sesuatu yang tidak berpisah dari hati. Dia mengetahuinya, karena Dialah yang menciptakannya di dalam hati, sebagaimana Dia juga yang menciptakan hati itu sendiri.

"Apakah Allah yang menciptakan itu tidak mengetahui (yang kamu Iahirkan dan rahasiakan) ? "Apakah Dia tidak mengetahui, padahal Dia yang menciptakan? "Dan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui?" Yang pengetahuannya mencapai segala yang halus dan kecil, tersembunyi dan tertutup.

Sesungguhnya orang-orang yang mencoba menyembunyikan dari Allah gerakannya, atau niatnya di dalam hati itu tampak menggelikan. Karena hati tempat mereka menyembunyikan niat itu adalah ciptaan Allah, Yang mengetahui segala gerak-geriknya dan sudut relungnya; dan niat yang mereka sembunyikan itu juga ciptaan Allah, sedang Dia mengetahuinya dan mengetahui di mana ia berada. Maka, apakah yang mereka sembunyikan? Dan, di manakah mereka bersembunyi?

Al-Qur'an bermaksud menetapkan dan memantapkan hakikat ini di dalam hati, kemantapannya di dalam hati akan menimbulkan pengetahuan yang benar terhadap segala urusan. Lebih-lebih lagi di sana terdapat kesadaran, sensitivitas, dan ketakwaan, yang karenanyalah disandarkan amanat yang dibebankan kepada orang mukmin di muka bumi ini. Yaitu, amanat akidah dan amanat keadilan, juga amanat keikhlasan karena Allah di dalam amal dan niat. Semua ini tidak akan terwujud kecuali jika hati itu meyakini bahwa dia dan apa yang tersimpan di dalamnya yang berupa rahasia dan niat itu adalah termasuk ciptaan Allah yang diketahui oleh-Nya, sedangkan Dia Mahahalus lagi Maha Mengetahui.

Dengan demikian, si mukmin akan senantiasa menjaga niatnya dan suara hatinya yang tersembunyi, sebagaimana dia akan selalu menjaga gerak-geriknya yang terlihat dan suaranya yang terucapkan. Dia akan bergaul secara yang semestinya dengan Allah yang mengetahui segala sesuatu yang rahasia dan yang tampak. Allah yang telah menciptakan hati yang notabene mengetahui apa yang ada di dalamnya.

Allah Menjadikan Bumi Mudah Bagimu

Ayat berikutnya membawa mereka pindah dari membicarakan diri mereka yang diciptakan Allah, kepada bumi yang diciptakan Allah untuk mereka, dimudahkannya, dan dijadikannya sebab-sebab kehidupan.

هُوَ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ ذَلُوْلًا فَامْشُوْا فِيْ مَنَاكِبِهَا وَكُلُوْا مِنْ رِّزْقِهٖۗ وَاِلَيْهِ النُّشُوْرُ ١٥

Dialah Yang menjadikan bumi itu mudah bagi kamu, maka berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya. Dan, hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. " (al-Mulk: 15)

Karena lamanya bergelut dengan kehidupan di muka bumi ini, mudahnya mereka bertempat tinggal di atasnya, berjalan padanya, mempergunakan tanahnya, airnya, udaranya, simpanannya, kekuatannya, dan rezekinya semuanya, maka manusia melupakan nikmat Allah yang telah memudahkan dan menundukkan bumi itu bagi mereka. AI-Qur'an mengingatkan mereka kepada nikmat yang besar ini dan menyadarkan mereka terhadapnya, dalam ungkapan kalimat yang dapat dimengerti oleh setiap orang dan setiap generasi sesuai dengan pengetahuan mereka terhadap bumi yang mudah ini.

Bumi yang mudah ini dimaksudkan buat pikiran orang-orang yang dibicarakan ayat ini tempo dulu. Bumi yang mudah bagi manusia untuk berjalan dengan kaki dan dengan kendaraan di atasnya, serta dengan kapal yang membelah lautan. Bumi yang mudah untuk ditanami, dipetik, dan dipanen hasilnya. Mudah untuk hidup di atasnya dengan udaranya, airnya, dan tanahnya yang baik untuk tanarnan dan tetumbuhan.

Ayat ini mengandung petunjuk umum yang dapat dirinci oleh ilmu pengetahuan, sebatas yang dicapainya hingga hari ini, dengan perincian sepanjang pemahaman manusia terhadap keluwesan dan keIuasan nash Al-Qur'an.

Apa kata ilmu pengetahuan tentang pengertian bumi yang mudah ini? Sesungguhnya sifat "mudah" yang biasanya diperuntukkan buat binatang ternak ini, dipergunakan untuk bumi! Maka, bumi yang kita lihat tetap, mandeg, dan diam itu adalah makhluk yang bergerak juga. Bahkan, ia berjalan dan berlari. Namun, pada waktu yang sama bumi itu mudah, penurut, tidak melemparkan orang yang berada di atasnya, tidak menggelincirkan langkahnya, dan tidak menggoncang-goncangkan penunggangnya seperti binatang yang tidak penurut. Kemudian ia juga banyak mengeluarkan hasil (sebagaimana binatang menghasilkan susu) dengan mudah.

Sesungguhnya binatang (yakni bumi) yang kita naiki ini berputar pada dirinya (rotasi) dengan kecepatan seribu mil tiap jam. Di samping itu, ia berputar mengelilingi matahari (revolusi) dengan kecepatan sekitar 1.065 mil per jam. Kemudian ia berjalan sebagaimana halnya matahari dan planet-planet masing-masing sekitar 20.000 mil tiap jam, menjauhi buruj al-Jubar di langit. Dengan perjalanannya seperti ini, manusia bisa tetap berada di atasnya dengan aman, nyaman, dan tenang. Juga tetap sehat tanpa remuk tulang-belulangnya, tanpa berserakan tubuhnya, tanpa berceceran sungsumnya, dan tidak pernah jatuh terlempar dari atas punggung bumi yang penurut ini.

Ketiga gerakan (rotasi, revolusi, serta gerakan matahari dan tata surya) ini memiliki hikmah tersendiri. Kita telah mengetahui bekas dari dua macam gerakan itu bagi kehidupan manusia, bahkan bagi seluruh kehidupan di muka bumi ini. Maka, perputaran bumi pada porosnya sendiri (rotasi) inilah yang menimbulkan malam dan siang. Seandainya malam itu berlangsung terus-menerus, niscaya kehidupan akan menjadi beku karena kedinginan. Seandainya siang itu berlangsung terus-menerus, niscaya seluruh kehidupan akan terbakar karena panasnya.

Perputaran bumi mengelilingi matahari menyebabkan terjadinya beberapa musim. Seandainya hanya ada satu musim saja di bumi ini, niscaya kehidupan tidak akan dapat berlangsung dalam bentuknya sedemikian ini sebagaimana yang dikehendaki oleh Allah. Adapun gerakan ketiga, maka hingga sekarang belum tersingkap hikmahnya yang tersembunyi dalam kegaiban ini. Akan tetapi, sudah barang tentu ada hubungan yang erat dengan keteraturan alam semesta yang besar ini.

Makhluk yang penurut ini, yang bergerak dengan gerakan-gerakan besar dalam satu waktu, ia tetap mantap dalam satu posisi di tengah-tengah pergerakannya (perputarannya). Yakni, dengan batas kemiringan porosnya 23,5 derajat. Karena, kemiringan inilah yang menyebabkan terjadinya empat musim seiring dengan gerakan bumi mengelilingi matahari. Seandainya terjadi kerusakan di tengah perputarannya itu, niscaya akan terjadi kerusakan pada pergantian musim yang akan berpengaruh terhadap perputaran tumbuh-tumbuhan bahkan perputaran seluruh kehidupan di dunia ini.

Allah menjadikan bumi mudah bagi manusia dengan menjadikan untuknya gaya tarik (gravitasi) yang mengikat (menarik) mereka ke bumi di tengah-tengah gerakannya yang sangat besar, sebagaimana Dia menjadikan untuknya tekanan udara dalam kadar tertentu yang memudahkan gerakan di atasnya. Seandainya tekanan udara ini lebih berat dari yang ditetapkan, niscaya akan menimbulkan kesulitan bagi manusia untuk berjalan dan berpindah-pindah (sesuai dengan tingkat tekanan udaranya) yang mungkin akan melemparkannya ke tempat yang jauh atau menghambatnya. Seandainya lebih ringan dari itu, niscaya akan menyebabkan langkah-langkah manusia tidak stabil, senantiasa goyah, dan sempoyongan. Atau, akan muncul lubang-lubang karena bertambahnya tekanannya atas tekanan udara di sekitarnya, sebagaimana yang terjadi pada tingkatan udara yang tinggi dengan tanpa ada pengaturan tekanan udara.

Allah menjadikan bumi ini mudah dengan membentangkan hamparannya dan membuat tanahnya demikian lunak di atas permukaannya. Seandainya permukaan bumi ini berupa batu yang keras sebagaimana diperkirakan oleh ilmu pengetahuan setelah dinginnya dan membekunya, niscaya akan sulit bagi manusia berjalan di atasnya dan sulit bagi tumbuh-tumbuhan untuk tumbuh. Akan tetapi, unsur-unsur udara, hujan, dan Iain-lainnya menggemburkan kerak bumi yang keras ini. Dengan demikian, Allah menjadikan tanah ini subur dan layak bagi kehidupan. Lalu, ditumbuhkannya tumbuh-tumbuhan dan rezeki-rezeki yang dapat dinikrnati oleh para penumpang kendaraan yang penurut (penghuni bumi) ini.

Allah menjadikan bumi ini mudah dengan menjadikan angkasa yang melingkupinya mengandung unsur-unsur yang dibutuhkan oleh kehidupan, dengan neraca yang amat halus. Seandainya hal ini mengalami kerusakan, niscaya tidak akan dapat berlangsung kehidupan yang sudah ditentukan harus sesuai dengan ketentuan pokok ini (yakni dengan komposisi udara yang sudah baku ini). Yaitu, dengan kadar oksigen 21%, nitrogen 78 %, dan sisanya yang terdiri dari karbondioksida 3/10.000 dan unsur-unsur Iainnya Komposisi ini merupakan suatu ketetapan baku bagi berlangsungnya kehidupan di muka bumi.

Allah menjadikan bumi ini mudah dengan beribu-ribu kesesuaian unsur penting bagi keberlangsungan kehidupan. Di antaranya adalah ukuran fisik bumi, matahari, dan bulan, jarak jauhnya bumi dari matahari dan bulan, derajat panasnya matahari, kondisi kulit bumi yang demikian, tingkat kecepatannya, kemiringan porosnya, perbandingan airnya dan kekeringannya, tebal tipisnya udara yang menyelimutinya dan sebagainya. Keserasian komposisi semua inilah yang menjadikan bumi ini mudah, menjadi sumber rezeki, dan mentolerir adanya kehidupan — kehidupan manusia secara khusus.

Nash Al-Qur' an mengisyaratkan hakikat-hakikat ini supaya dapat direnungkan oleh setiap orang dan setiap generasi menurut kadar kemampuannya. Juga menurut kadar pengetahuan dan percobaan yang dapat dicapainya, untuk merasakan adanya tangan Allah yang mengaturnya dan mengendalikan segala sesuatu di sekitarnya. Karenanya, bumi menjadi mudah, dan saling memelihara antara satu unsur dengan unsur yang Iain. Seandainya tertunda sebentar saja pemeliharaan itu, niscaya akan rusakIah seluruh alam ini dan hancurlah siapa dan apa saja yang ada padanya.

Apabila hati manusia telah menyadari hakikat yang besar ini, maka al-Khaliq Yang Maha Pemurah lagi Maha Penyayang memperkenankannya berjalan di segala penjurunya dan memakan rezeki-Nya yang ada padanya

".. .Maka, berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya.... " Penjuru-penjuru yang mendaki atau yang mendatar. Apabila Allah telah mengizinkannya untuk berjalan di semua penjurunya, berarti Dia telah mengizinkannya untuk berjalan di rendahnya dan padang luasnya. Apabila Dia telah mengizinkan berjalan di tempat-tempat yang terang, maka Dia juga mengizinkan di tempat-tempat yang mudah.

Rezeki yang ada di bumi, semuanya adalah ciptaan-Nya dan termasuk di dalam kerajaan-Nya. Materi rezeki itu Iebih Iuas jangkauannya di dalam pikiran manusia daripada kata "rezeki" itu sendiri. Maka, rezeki itu bukanlah hanya harta yang diperoleh seseorang di tangannya yang dipergunakan untuk memenuhi kebutuhannya dan dinikrnatinya Tetapi, rezeki itu adalah segala sesuatu yang ditaruh Allah di bumi ini, termasuk sarana prasarana rezeki dan kandungan-kandungannya, yang pada dasarnya kembali kepada tabiat pembuatan bumi dari unsur-unsurnya dan tabiat pembagian unsur-unsur ini dengan komposisinya tersebut Ditambah Iagi dengan potensi yang diberikan Allah kepada tumbuh-tumbuhan, binatang, termasuk manusia untuk memanfaatkan unsur-unsur ini.

Secara ringkas dapat kami kemukakan mengenai poin-poin hakikat rezeki dalam pengertian ini, sebagai berikut.

Kehidupan setiap tumbuhan, seperti sudah diketahui, bertumpu pada kadar-kadar yang hampir paling kecil dari karbondioksida yang ada di udara, dan dapat dikatakan bahwa ia bernapas dengannya. Akan tetapi, dapat kami jelaskan proses kimiawi tentang pencampuran zat-zat ini dengan sinar matahari dengan penjelasan di bawah ini.

"Daun-daun pohon adalah sebagai paru-paru, dan dengan sinar matahari ia dapat membagi karbondioksida yang keras itu menjadi karbon dan oksigen. Dengan kata lain, ia mengeluarkan oksigen dan menyerap karbon. la menyatu dengan hidrogen yang diperoleh tumbuhan dari akar-akarnya (karena air sampai ke hidrogen dan oksigen). Dengan proses kimiawi yang menakjubkan, unsur-unsur ini diubah menjadi zat gula atau seliloza dan materi-materi kimiawi lain yang bermacam-macam, buah, dan bunga-bunga. Tumbuhan itu menyerap makanan untuk dirinya dan menghasilkan makanan bagi binatang-binatang di muka bumi. Pada waktu yang sama, tumbuhan itu mengeluarkan oksigen yang digunakan bernapas dan yang tanpa adanya oksigen ini maka kehidupan hanya akan berlangsung tidak lebih dari lima menit.

Kta dapati juga bahwa segala tumbuhan, hutan belukar, rerumputan, tiap-tiap potongan lumut, dan segala sesuatu yang berhubungan dengan air tanaman, terbentuk dari karbon dan zat air secara khusus. Makhluk-makhluk hidup mengeluarkan karbondioksida, sedangkan tumbuh-tumbuhan mengeluarkan oksigen. Kalau proses ini tidak berlangsung, maka kehidupan makhluk-makhluk hidup dan tumbuh-tumbuhan itu pada akhirnya akan kehabisan oksigen atau karbondioksida. Apabila keseimbangan ini telah hilang total, maka musnahlah tumbuh-tumbuhan dan matilah manusia dalam waktu dekat. Dengan demikian, akhirnya terungkap Iah bahwa keberadaan karbondioksida dengan kadarnya yang kecil itu merupakan sesuatu yang sangat vital bagi kehidupan sebagian besar makhluk hidup, sebagaimana juga terungkap bahwa tumbuh-tumbuhan juga memerlukan sebagian oksigen.

Juga tentang hidrogen, meskipun kita tidak bernapas dengannya. Akan tetapi, tanpa adanya hidrogen maka tidak akan ada air. Bagi makhluk hidup atau tumbuh-tumbuhan, air itu sangat diperlukan, tidak dapat tidak." (al-llmu Yad'uu lil-lmam 70-71)

Kemudian, peranan azote atau nitrogen di dalam kerezekian bumi ini juga sangat penting.

“Tanpa nitrogen, dalam bentuk apa pun, tidak akan dapat tumbuh tanaman pangan apa pun. Salah satu sarana masuknya nitrogen ke dalam tanah pertanian ialah melalui aktivitas jasad-jasad renik "bakteri" tertentu yang bertempat pada akar tumbuhan kacang-kacangan seperti pada semanggi, himmash (chickpea Ing), kacang polong hijau, kacang tanah, dan  Bakteri-bakteri ini menyerap nitrogen udara dan mengubahnya menjadi senyawa nitrogen yang dapat diserap oleh tumbuhan. Apabila tumbuhan itu mati, maka sebagian dari senyawa nitrogen ini masih tinggal di tanah.

Ada cara lain masuknya nitrogen ke dalam tanah, yaitu melalui embusan halilintar. Setiap kali cahaya bersinar di celah-ceIah udara, maka ia mempersatukan sedikit oksigen dan nitrogen, kemudian diturunkan oleh hujan ke bumi seperti senyawa nitrogen." (al-llmu Yad'uu lil-lmam 76-77)

(Yakni dalam bentuk yang dapat diserap oleh tumbuh-tumbuhan, karena tumbuh-tumbuhan tidak dapat menyerap nitrogen yang murni dari udara yang kadarnya sekitar 78% sebagaimana sudah kami kemukakan).

Rezeki-rezeki yang tersimpan di dalam perut bumi seperti tambang-tambang, semua medianya kembali kepada tabiat pembuatan bumi beserta kondisi yang menyelimutinya. Kami tidak akan menguraikannya panjang lebar, karena rezeki dalam penjelasan sepintas ini lebih luas wujudnya daripada apa yang dipahami manusia dari kata ini sendiri. Juga lebih dalam sebab-sebabnya di dalam sistem kejadian bumi dan sistem alam itu sendiri. Ketika Allah mengizinkan manusia untuk memakannya, maka Dia mengaruniai mereka dengan menundukkannya buat mereka dan memudahkan pencarian rezeki itu, sebagaimana Dia memberikan kepada mereka kemampuan untuk mendapatkan dan memanfaatkannya. ".. .Maka, berjalanlah di segala penjurunya dan makanlah sebagian dari rezeki-Nya..”

Akan tetapi, rezeki ini terbatas masanya dengan ketentuan yang ditetapkan dalam ilmu Allah dan di pengaturan-Nya, sebagai masa ujian dengan kematian dan kehidupan. Juga terbatas oleh segala yang dimudahkan Allah bagi manusia dalam kehidupan ini. Apabila masa ujian ini telah habis, maka datanglah kematian dengan segala rangkaian kejadiannya setelah itu.

"..Dan hanya kepada-Nyalah kamu (kembali setelah) dibangkitkan. " (al-Mulk: 15)

Hanya kepada-Nya... hanya kepada Allah... Nah, ke mana Iagi kalau bukan kepada-Nya? Sedangkan, segala kerajaan ada di tangan-Nya. Tidak ada tempat lari dari-Nya melainkan kepadaNya. Dan, Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Jangan Terlena

Sekarang bumi yang tenang ini dapat saja bergerak dari bawah kaki mereka dengan berbagai guncangan, dan udara yang ada sekitar mereka dapat saja berubah menjadi badai yang menerpa wajah dan dada mereka. Goncangan bumi ini terasakan dalam perasaan mereka dan angin badai pun terasa terpaannya dalam pandangan dan pikiran mereka. Hal ini supaya mereka sadar dari kelengahannya karena keamanan dan kestabilan yang mereka rasakan selama ini. Juga agar mereka mengarahkan pandangannya ke langit dan ke alam gaib, dan supaya menggantungkan hatinya kepada qadar

ءَاَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَاۤءِ اَنْ يَّخْسِفَ بِكُمُ الْاَرْضَ فَاِذَا هِيَ تَمُوْرُۙ ١٦ اَمْ اَمِنْتُمْ مَّنْ فِى السَّمَاۤءِ اَنْ يُّرْسِلَ عَلَيْكُمْ حَاصِبًاۗ فَسَتَعْلَمُوْنَ كَيْفَ نَذِيْرِ ١٧ وَلَقَدْ كَذَّبَ الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِهِمْ فَكَيْفَ كَانَ نَكِيْرِ ١٨

"Apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan menjungkir balikkan bumi bersama kamu, sehingga dengan tiba-tiba bumi itu berguncang? Atau, apakah kamu merasa aman terhadap Allah yang di langit bahwa Dia akan mengirimkan badai yang berbatu? Maka, kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku. Sesunguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka, alangkah hebatnya kemurkaan-Ku.” (al-Mulk: 16-18)

Manusia yang hidup di punggung makhluk yang penurut ini, dan mengais rezeki Allah padanya untuk mendapatkan bagian tertentu, tentunya mereka mengerti bagaimana makhluk (bumi) ini bisa berubah menjadi makhluk yang tidak mudah dan tidak produktif lagi, pada suatu waktu. Yakni ketika Allah mengizinkannya untuk bergoncang sedikit, Ialu berantakanlah segala sesuatu yang ada di atasnya!

Bergoncanglah segala sesuatu yang ada di atasnya, dan tidak ada satu pun kekuatan yang dapat menahannya. Misalnya saja dengan gempa bumi dan gunung meletus, yang memunculkan binatang liar (Kata kiasan untuk makhluk-makhluk, seperti Iahar. lava. lapili. dan sebagainya Yang ada di dalam perut bumi. Yang dilukiskan Oleh penulis sebagai binatang. - Perj) yang tersembunyi dalam bumi yang mudah dan penurut selama ini. Bumi yang dikendalikan kekangnya oleh Allah hingga tidak binal kecuali kalau sudah ditakdirkan, dan tidak meronta-ronta kecuali hanya beberapa menit saja yang sudah dapat menghancurkan segala sesuatu yang menenggeIarnkan manusia yang ada di atasnya, atau menelannya ke dalam perutnya ketika ia sudah membuka salah satu mulutnya dan melongsorkan sebagian darinya. Bumi bergoncang. Manusia tidak memiIiki kekuasaan dan kemampuan sedikit pun untuk mencegah dan menghalanginya.

Dalam menghadapi gempa bumi, gunung meletus, dan tanah longsor ini, manusia bagaikan tikus tikus kecil yang terperangkap dalam sangkar ketakutan. Padahal, ketika suasananya aman, mereka lupa dan Ialai terhadap kekuasaan besar yang memegang kendalinya!

Manusia juga menyaksikan topan dan badai yang merusak dan menghancurkan, membakar dan menyambar-nyambar, yang dalam menghadapi semua ini tampaklah mereka sebagai makhluk yang Iemah tak berdaya, dengan segenap pengetahuan dan tindakan mereka. Ketika topan dan angin badai itu menerpa dan menerbangkan batu-batu kerikil, dan menyapu segala sesuatu yang ada di darat dan di laut atau udara, maka manusia berhenti di hadapannya sebagai makhluk yang kecil, kerdil, dan tak berdaya hingga Allah memegang kendalinya (bumi) sehingga ia reda dan lemah!

Al-Qur'an mengingatkan manusia yang tertipu oleh ketenangan bumi dan kepenurutannya, dan keterpedayaan mereka oleh keamanannya hingga melupakan Yang Menciptakannya dan Yang Menjinakkannya. Al-Qur'an mengingatkan mereka akan kebinalan-kebinalannya yang mereka sama sekali tidak berkuasa mengendalikannya. Bumi yang tenang di bawah kaki mereka ini dapat saja bergoyang dan bergoncang, menyemburkan air panas dan pijaran api. Angin yang sepoi-sepoi di sekitar mereka bisa saja berubah menjadi topan dan badai yang tidak satu pun kekuatan dan sarana buatan manusia yang dapat menghentikannya dan mencegahnya dari merusak dan menghancurkan sesuatu. ... Mereka diingatkan dengan sesuatu yang menakutkan yang dapat mengguncangkan saraf dan persendian.

“…Maka, kelak kamu akan mengetahui bagaimana (akibat mendustakan) peringatan-Ku ?" (al-Mulk: 17)

Dibuatnya beberapa contoh bagi mereka mengenai realitas manusia dan realitas orang-orang terdahulu yang mendustakan rasul-rasul-Nya dan agama-Nya.

"Sesungguhnya orang-orang yang sebelum mereka telah mendustakan (rasul-rasul-Nya). Maka, alangkah hebatnya kemurkaan-Ku. " (al-Mulk: 18)

Nakiir adalah keingkaran dan kemurkaan dengan segala rangkaian yang mengikutinya. Allah telah murka kepada orang-orang sebelum mereka yang mendustakan agama-Nya. Dia bertanya kepada mereka, "Maka, bagaimana hebatnya kemurkaan-Ku?" karena mereka sudah mengerti apa yang pernah terjadi itu. Kehancuran dan kerusakan itulah yang menjelaskan kepada mereka bagaimana hebatnya kemurkaan Allah, dan bagaimana kehancuran dan kebinasaan yang diakibatkannya.

Keamanan yang diingkari (tidak disukai) Allah atas manusia itu adalah keamanan yang menjadikan mereka lupa kepada Allah, kekuasaan-Nya, dan qadar-Nya. Bukan keamanan yang membawa ketenteraman dan kemantapan hati terhadap Allah, perneIiharaan-Nya, dan rahmat-Nya. Jadi, bukan ini keamanan yang dimurkai-Nya itu. Karena seorang mukmin merasa tenteram hatinya kepada Tuhannya, dia selalu mengharapkan kasih sayang-Nya dan karunia-Nya. Yang demikian ini tidak menjadikannya lengah, lupa, dan tenggelam di dalam gemerlapnya dunia dan kesenangannya, melainkan mengajaknya untuk selalu memperhatikan, malu kepada Allah, takut terhadap kemurkaan-Nya, dan berhati-hati terhadap segala sesuatu yang tersembunyi di dalam qadar-Nya, disertai dengan kepatuhan dan ketenangan jiwa.

Imam Ahmad meriwayatkan dengan isnadnya dariAisyah r.a., bahwa dia berkata, "Aku tidak pernah melihat Rasulullah tertawa lepas hingga kulihat anak lidahnya, tetapi beliau hanya tersenyum." Kata Aisyah lagi, "Adalah Rasulullah apabila melihat mendung atau angin, maka tampaklah perubahan di wajahnya. Lalu aku bertanya 'Wahai Rasulullah, sesungguhnya orang-orang itu apabila melihat mendung, mereka bergembira karena mengharapkan turun hujan. Tetapi, aku Iihat engkau apabila melihat mendung itu justru tampak ketidaksenangan di wajahmu?' Lalu Rasulullah menjawab,

يَا عَائِشَةُ، مَا يُؤْمِنُنِي أَنْ يَكُونَ فِيهِ عَذَابٌ؟ قَدْ عُذِّبَ قَوْمٌ بِالرِّيحِ، وَقَدْ رَأَى قَوْمٌ الْعَذَابَ فَقَالُوا: هَذَا عَارِضٌ مُمْطِرُنَا.

Wahai Aisyah, apakah gerangan yang dapat memberi jaminan kepadaku bahwa di dalam mendung itu tidak terdapat azab ? Dahulu pernah ada kaum yang diazab dengan angin, dan adapula kaum yang melihat azab tetapi mereka mengatakan, 'Ini adalah mendung yang akan menurunkan hujan kepada kita. ""(HR Bukhari dan Muslim)

Inilah perasaan yang senantiasa sadar terhadap Allah dan kekuasaan-Nya, dan terhadap kisah-kisah kehidupan yang diceritakan oleh Al-Qur'an. Akan tetapi, hal ini tidak menghilangkan ketenteraman dan harapannya terhadap rahmat Allah dan karunia-Nya.

Kemudian dikembalikanlah semua sebab lahiriah ini kepada sebab yang pertama, dan dikembalikanlah urusan ini dengan segala persoalannya kepada Tuhan yang di tangan-Nyalah berada segala kekuasaan, sedang Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Tanah longsor, angin topan, gunung meletus, gempa bumi, badai, dan segala kekuatan dan fenomena-fenomena alam lainnya sama sekali di Iuar kekuasaan manusia. Tetapi, semua itu adalah urusan Allah.

Manusia dapat saja mencoba memprediksinya, tetapi mereka sama sekali tidak dapat mencampurinya. Bahkan, mereka sendiri tidak dapat melindungi dirinya darinya. Dan, apa yang mereka bangun di muka bumi dapat saja dimusnahkan oleh guncangan gempa dan longsoran atau angin badainya, seperti mempermainkan dedaunan.

Karena itu, yang lebih baik adalah menghadapkan seluruh urusan ini kepada Pencipta alam ini dan Pembuat undang-undangnya yang mengatur fenomena-fenomena ini, dan Yang Memberinya potensi-potensi untuk muncul di samping peristiwa-peristiwa ini. Hendaklah mereka memperhatikan langit sebagai simbol ketinggian, lantas mengingat Allah yang di tangan-Nyalah segala kekuasaan berada, sedang Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.

Manusia itu adalah makhluk yang kuat menurut kadar kekuatan yang diberikan Allah kepadanya; dan mereka adalah makhluk yang pandai sesuai dengan kadar pengetahuan yang diberikan Allah kepadanya. Akan tetapi, alam semesta yang besar kendalinya berada di tangan Penciptanya, hükum alam adalah buatan-Nya, dan potensi-potensinya adalah ciptaan-Nya. Potensi-potensi ini berjalan sesuai dengan hukum-hukumnya dalam batas takdirNya.

Apa yang diperoleh manusia darinya itü memang sudah ditakdirkan dan ditentukan. Pengetahuan yang diperolehnya pun sudah ditakdirkan dan dimengerti. Peristiwa-peristiwa yang terjadi di hadapan manusia dari waktu ke waktu di depan kekuatan alam yang sangat besar ini tidak lain adalah agar manusia mengingat Pencipta dan Pengatur alam semesta ini. Juga agar mereka memohon pertolongan kepadanya di dalam menghadapinya, dan supaya Allah memudahkannya menghadapi segala sesuatu yang ditentukan untuknya.

Ketika manusia melupakan hakikat ini, tertipu dan teperdaya oleh ilmu pengetahuan dan kemampuan yang diberikan Allah kepadanya untuk menundukkan dan mempergunakan sebagian potensi alam, maka pada saat itu mereka menjadi makhluk yang terputus dan terjauhkan dari ilmu yang sebenarnya yang dapat mengangkat ruh kepada sumbernya yang tinggi, dan menukik ke bumi dengan tetap menjaga jarak dari ruh alam semesta. Sedangkan, orang berilmu yang beriman maka ia akan selalu merendahkan diri di dalam arak-arakan alam yang indah ini, dan akan selalu berhubungan dengan Pencipta wujud yang agung ini. Nah, ini adalah kesenangan yang tidak dimengerti kecuali oleh orang yang merasakan manisnya ketika menuliskannya untuknya.

Akan tetapi, kekuatan alam yang beşar ini membawa manusia untuk bersikap pasrah dan menyerah, baik mereka yang merasakan manisnya maupun yang tidak. Manusia dapat saja menyingkapkan apa yang disingkapkan, menciptakan apa yang diciptakan, dan mencapai sesuatu dengan kekuatannya. Tetapi, kemudian mereka menghadapi kekuatan-kekuatan alam dengan penuh kelemahan, ketidak berdayaan, dan kekerdilan.

Kadang-kadang mereka bisa melindunğ diri dari badai, tetapi badai itu berjalan pula dijalannya tanpa ada seorang pun yang mampu menghentikannya. Yah, mereka tidak bisa menghentikan embusan badai itu. Paling-paling yang dapat mereka capai dengan usaha dan ilmunya ialah berlindung dari terpaan badai itu. Akan tetapi, kadang-kadang... dan kadang-kadang... mereka mati tertimpa reruntuhan dinding dan bangunan-bangunannya.

Di laut, dapat saja mereka dipukul gelombang dan diterpa badai, sehingga kapal yang paling besar pun menjadi seperti mainan anak kecil yang ditiup angin.

Adapun gempa bumi dan gunung berapi, maka ia senantiasa ada sejak permulaan zaman hingga akhir zaman. Maka, üdak ada lain kecuali kebutaan hatilah yang menjadikan manusia diterpa peristiwa yang menyedihkan ini, karena mereka merasa "berdiri sendiri" di alam semesta ini, atau sebagai "tuan" bagi alam ini.

Sesungguhnya manusia menjadi khalifah di burni ini dengan izin Allah. la diberi kekuatan, kemampuan, dan pengetahuan sesuai dengan yang dikehendaki Allah. Sedangkan, Allah yang menjaganya dan melindunginya, yang memberinya rezeki dan karunia. Kalau tangan Allah lepas darinya sedetik saja, maka akan menjauh darinya segala kekuatan yang ditundukkan untuknya, dan dia akan dimakan lalat dan binatang-binatang yang lebih kecil lagi. Akan tetapi, dengan izin Allah dan pemeliharaan-Nya, maka dia terjaga dan terpelihara serta dimuliakan. Oleh karena itu, hendaklah dia mengerti dari mana datangnya kemuliaan ini dan karunia yang agung.

Burung-Burung di Angkasa Patut Juga Direnungkan

Setelah itü mereka diajak berpindah dari sentuhan ancaman dan peringatan kepada sentuhan perenungan dan pemikiran, di arena pemandangan yang sering mereka saksikan, tetapi tidak mereka renungkan kecuali sedikit saja. İni adalah salah satu lambang kekuasaan, salah satu bekas pengaturan İlahi yang halus lembut.

اَوَلَمْ يَرَوْا اِلَى الطَّيْرِ فَوْقَهُمْ صٰۤفّٰتٍ وَّيَقْبِضْنَۘ مَا يُمْسِكُهُنَّ اِلَّا الرَّحْمٰنُۗ اِنَّهٗ بِكُلِّ شَيْءٍۢ بَصِيْرٌ ١٩

"Apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka? Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah. Sesungguhnya Dia Maha Melihat segah sesuatu.” (al-MuIk: 19)

İni adalah peristiwa luar biasa yang terjadi setiap saat, yang kita lalaikan karena terjadi berulang-ulang, padahal ia sebagai Iambang kekuasaan dan keagungan. Maka, pikirkanlah burung-burung ini, yang mengangkat kedua sayapnya dan mengembangkannya, kemudian mengatupkannya kembali. la membuka dan mengatupkan kedua sayapnya di udara, terbang melayang-layang dengan mudah, dan melakukan gerakan-gerakan yang kadang-kadang tampak oleh orang yang memandang sebagai atraksi yang indah dengan berputar-putar dan turun naik.

Renungkanlah pemandangan ini dan ikutilah setiap jenis burung dengan gerakan-gerakannya yang khusus sesuai dengan jenisnya, yang tidak membosankan mata memandang dan tidak menjenuhkan hati merenung. Ini adalah suatu kesenangan yang menebar ketika memikirkan dan merenungkan ciptaan Allah Sang Maha Pencipta, yang di dalamnya terkumpul kesempurnaan dan keindahan.

Al-Qursan mengisyaratkan agar memperhatikan pemandangan yang mengesankan ini. "Apakah mereka tidak memperhatikan burung-burung yang mengembangkan dan mengatupkan sayapnya di atas mereka?"

Kemudian ditunjukkannya kepada mereka penataan dan kekuasaan yang ada di baliknya. “…Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah..”

Yang Maha Pemurah menahannya dengan hukum alamnya yang rapi yang sesuai dengan keteraturan yang menakjubkan itu, yang meliputi segenap yang kecil dan yang besar, dengan perhitungan yang sangat jeli dan teliti. Peraturan yang mengandung beribu-ribu kesesuaian dan keserasian di bumi, udara, dan penciptaan burung-burung. Sehingga, peristiwa Iuar biasa ini menjadi sempurna dan terjadi berulang-ulang, yang ternyata memang terjadi berulang-ulang secara teratur.

Yang Maha Pemurah menahannya dengan kekuasaan-Nya yang tak kenal lelah, dan pemeliharaan-Nya yang selalu hadir dan tak pernah hilang. Kekuasaan dan pemeliharaan inilah yang senantiasa memelihara undang-undang dan peraturan ini di dalam aktivitasnya, kerapiannya, dan keteraturannya. la tak pernah penat, tak pernah rusak, dan tak pernah guncang sedetik pun mengikuti apa yang dikehendaki Allah. “Tidak ada yang menahannya (di udara) selain Yang Maha Pemurah.” Yah, dengan ungkapan langsung yang menunjukkan adanya tangan Yang Maha Pemurah, yang menahan setiap burung dan setiap sayap, ketika si burung mengembangkan sayapnya dan mengatupkannya, sambil menggantung di udara! “…Sesungguhnya Dia Maha Melihat segala sesuatu.“ (al-Mulk: 19)

Dia melihat dan memandangnya. Melihat urusan-Nya dan mengawasinya. Karena itu, Dia menyiapkannya dan mengaturnya, memberi kemampuan, dan memelihara segala sesuatu setiap saat dengan pemeliharan Zat Yang Mahawaspada lagi Maha Melihat.

Menahan burung di udara, seperti menahan binatang-binatang di atas bumi yang terbang di angkasa, seperti menahan segala sesuatu yang tidak ada yang dapat menahannya di tempatnya kecuali Allah. Akan tetapi, Al-Qur’an membawa pandangan dan hati manusia untuk memperhatikan pemandangan yang dapat mereka lihat dan saksikan, dan disentuhnya hati mereka dengan pengarahan-pengarahan dan iramanya. Memang, ciptaan Allah semuanya mukjizat (luar biasa) dan indah, semuanya mengandung arahan dan harmonis. Setiap hati dan setiap generasi dapat memahaminya sesuai dengan kemampuannya, dan dapat memperhatikan apa yang dilihatnya sesuai dengan taufik Allah.

Hanya Allah yang Dapat Menolong

Selanjutnya disentuhlah hati mereka dengan sentuhan Iain dengan membawa mereka kepada pemandangan yang menakutkan dan menyedihkan, seperti gempa bumi dan angin badai, setelah mereka dibawa berjalan-jalan bersama burung burung yang terbang di udara dengan aman. Maka, digoyanglah hati mereka di antara berbagai macam sentuhan dengan dibawanya kembali ke permulaan, karena Allah tahu pengaruhnya di dalam hati hambahamba-Nya,

اَمَّنْ هٰذَا الَّذِيْ هُوَ جُنْدٌ لَّكُمْ يَنْصُرُكُمْ مِّنْ دُوْنِ الرَّحْمٰنِۗ اِنِ الْكٰفِرُوْنَ اِلَّا فِيْ غُرُوْرٍۚ ٢٠

"Atau siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu selain dari AIIah Yang Maha Pemurah? Orang-orang kafir itu tidak Iain hanyalah dalam (keadaan) tertipu. " (al-Mulk: 20)

Al-Qur' an telah menakut-nakuti mereka dengan gempa bumi, menakut-nakuti mereka dengan badai, dan mengingatkan mereka terhadap akibat yang diterima orang-orang terdahulu yang dimurkai Allah, lalu mereka dihancurkan. Maka, di sini Dia kembali bertanya kepada mereka, ”Siapakah dia yang menjadi tentara bagimu yang akan menolongmu dan melindungimu dari siksaan Allah, selain Allah? Siapakah dia yang akan membela mereka dan melindungi mereka dari azab Yang Maha Pemurah selain Yang Maha Pemurah sendiri?”

“…Orang-orang kafir itu tidak lain hanyalah dalam (keadaan) tertipu.” Tipuan yang meninabobokan mereka bahwa mereka berada dalam keadaan aman, terlindungi, dan tenang, padahal sebenarnya mereka sangat rentan untuk mendapat kemurkaan dan siksaan Tuhan Yang Maha Pemurah. Tidak ada yang bisa menolong mereka kecuali keimanannya sendiri dan amal salehnya yang dapat mengundang datangnya rahmat Alah Yang Maha Pemurah.

Sentuhan lain adalah mengenai rezeki yang mereka nikmati selama ini, tetapi mereka lupakan sumbernya. Kemudian mereka tidak merasa khawatir akan lenyapnya rezeki itu, Iantas mereka terus saja menyombongkan dili dan berpaling.

اَمَّنْ هٰذَا الَّذِيْ يَرْزُقُكُمْ اِنْ اَمْسَكَ رِزْقَهٗ ۚ بَلْ لَّجُّوْا فِيْ عُتُوٍّ وَّنُفُوْرٍ ٢١

Atau, siapakah dia ini yang memberi kamu rezeki jika AIlah menahan rezeki-Nya ? Sebenarnya mereka terus menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri.” (al-Mulk: 21)

Rezeki seluruh manusia terikat pada kehendak Allah sebagai sebab pertamanya, di dalam proyek alam semesta, dan pada unsur-unsur bumi dan udara. Yaitu, sebab-sebab yang manusia tidak memiliki kekuasaan atasnya secara mutlak, dan tidak bergantung pada ilmu pengetahuan mereka sama sekali. Pasalnya, ia lebih dahulu ada daripada keberadaan mereka di alam semesta ini, lebih besar kekuatannya daripada mereka, dan lebih mampu dańpada mereka untuk menghapuskan segala sesuatu yang mempengaruhi kehidupan jika Allah menghendakinya.

Maka, siapakah gerangan yang dapat memberikan rezeki kepada manusia jika Allah menahan sumber air, atau menahan angin, atau menahan unsur-unsur utama yang darinyalah muncul wujud manusia?

Sesungguhnya ruang lingkup rezeki itu lebih luas jangkauannya, lebih dahulu masanya, dan lebih dalam akarnya daripada apa yang terpikirkan oleh manusia sewaktu mendengar kata ”rezeki” itu sendiri. Tempat kembali segala sesuatu yang kecil dan yang besar dalam urusan rezeki ini adalah kepada kekuasaan dan ketentuan Allah, dan pengiriman-Nya dan penahanan-Nya terhadap sebab-sebabnya kalau Dia menghendaki.

Di dalam ruang lingkup yang besar, luas, dan dalam ini terlipatlah seluruh lingkup materi yang dekat bagi kata yang dikira oleh manusia sebagai hasil usahanya dan dalam jangkauan kemampuannya, seperti bekerja, berkreasi, dan memproduksi. Semuanya berhubungan dengan adanya sebab-sebab dan unsur-unsur pertama dilihat dari satu segi, dan bergantung pada karunia Allah pada seseorang atau kepada umat atau bangsa dilihat dari segi lain.

Maka, manakah napas yang dihirup dan dikeluarkan oleh seorang pekerja, atau gerakan yang dilakukannya, kalau bukan dari rezeki Allah, yang telah menciptakannya, dan memberinya kemampuan dan potensi, menciptakan napas untuknya, dan memberinya materi yang melakukan pembakaran di dalam tubuhnya sehingga mampu bergerak? Manakah pemikiran yang dicurahkan seorang kreator selain dari rezeki Allah yang telah memberinya kemarnpuan untuk berpikir dan berkreasi? Dan, manakah hasil yang diproduksi oleh seorang karyawan atau pencipta sesuatu melainkan materinya itu pada mulanya adalah ciptaan Allah, dan pada dasarnya sebab-sebab alamiah dan sebab-sebab insaniahnya adalah rezeki dari Allah?

“…Sebenarnya mereka terus-menerus dalam kesombongan dan menjauhkan diri.” (al-Mulk: 21)

Ungkapan ini melukiskan pipi yang berpaling dan sikap yang penuh kesombongan, setelah dalam kalimat sebelumnya ditetapkan hakikat rezeki, dan bahwa mereka berada dalam tanggungan Allah mengenai rezeki ini. Ditunjukkannya keburukan sikap sombong, menjauhkan diri, dan berpaling - yang mestinya tidak pantas dilakukan oleh orang-orang yang hidup di dalam tanggungan - terhadap Zat yang memberi makan, yang memberi pakaian, yang memberi rezeki, dan yang menanggung kebutuhan hidup mereka. Namun, setelah itu mereka tetap sombong, berpaling, dan tak tahu malu!

Ini adalah lukisan terhadap hakikat jiwa manusia yang berpaling dan menjauh dari seruan ke jalan Allah. Mereka melampaui batas dan sombong, berpaling dan menjauhkan diri, dan lupa bahwa mereka ciptaan Allah, dapat hidup karena karuniaNya. Juga lupa bahwa mereka tidak punya kekuasaan sedikit pun untuk mewujudkan dirinya, kehidup annya, dan rezekinya.

Perbandingan Orang yang Mendapat Petunjuk dan yang Tersesat

Di samping itu, mereka menuduh Nabi saw. dan para pengikutnya sebagai orang yang sesat Mereka menganggap diri mereka lebih mendapat petunjuk jalan hidupnya, sebagaimana yang dilakukan oleh orang-orang yang seperti mereka terhadap para penyeru ke jalan Allah di setiap zaman. Oleh karena itu, dilukiskanlah kepada mereka kenyataan kondisi mereka dan kondisi kaum mukminin dalam pemandangan yang hidup yang memproyeksikan keadaan yang sebenarnya.

اَفَمَنْ يَّمْشِيْ مُكِبًّا عَلٰى وَجْهِهٖٓ اَهْدٰىٓ اَمَّنْ يَّمْشِيْ سَوِيًّا عَلٰى صِرَاطٍ مُّسْتَقِيْمٍ ٢٢

"Maka, apakah orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya itu lebih banyak mendapat petunjuk ataukah orang.yang berjalan tegap di atas jalan yang Iurus.” (al-Mulk: 22)

Orang yang berjalan terjungkal di atas mukanya” itu boleh jadi memang benar-benar berjalan terjungkal dengan muka di bawah, bukan dengan kakinya yang berdiri lurus sebagaimana wajarnya ciptaan Allah. Atau, mungkin ia tergelincir di jalan lalu terjungkal di atas mukanya, kemudian bangkit lalu tergelincir lagi. Baik yang ini maupun yang itu adaIah kondisi yang menyakitkan, menyengsarakan, sulit, dan membahayakan, tidak menyampaikan kepada petunjuk, kebaikan, dan tujuan. Nah, apa artinya kondisi orang yang jalannya demikian dibandingkan dengan kondisi orang yang berjalan tegak Iurus di jalan yang tidak bengkok dan tidak menggelincirkan, sedang sasarannya jelas terpampang di hadapannya?

Kondisi pertama adalah kondisi orang yang celaka, sengsara, dan tersesat dari jalan Allah, terjauh dari petunjuk-Nya, bertabrakan dengan undang-undang-Nya dan makhIuk-makhIuk-Nya. Karena, mereka berpaling dari jaIan-Nya dan mengambil jalan Iain yang bukan jaIan-Nya. Karena itu, mereka selalu tergelincir, menderita, dan tersesat.

Kondisi kedua adalah jalan yang bahagia, beruntung, terbimbing kepada Allah, dan bersenangsenang menikmati petunjuk-Nya. Mereka berjalan sesuai dengan peraturan-Nya di jalan yang lapang dan makmur, yang dilalui oleh konvoi iman, pujian, dan kemuliaan. Dan, inilah sebenarnya jalan alam semesta dengan makhluk hidup dan benda-benda Iain yang ada di dalamnya.

Sesungguhnya kehidupan iman itu mudah, lurus, dan sederhana. Sedangkan, kehidupan kafir itu sulit, melarat, dan sesat.

Maka, manakah di antara keduanya itu yang lebih mendapat petunjuk? Apakah pertanyaan ini memerlukan jawaban? Ini adalah pertanyaan retoris (pertanyaan yang sudah mengandung ketetapan dan jawaban) !

Akan tetapi, pertanyaan dan jawaban ini tersembunyi, agar tampak oleh hati pemandangan yang hidup, berkepribadian, dan bergerak ini.... Pemandangan yang berupa rombongan manusia yang berjalan di atas wajahnya, terpeleset atau terjungkaJ, tanpa tujuan dan tidak ada jalan. Juga pemandangan yang berupa rombongan Iain yang berjalan dengan cita-cita yang tinggi dan langkah yang lurus di jalan yang lempang, menuju tujuan yang pasti.

Inilah fisikalisasi hakikat dan penggambaran kehidupan dalam lukisan, yang diungkapkan oleh Al-Qur'an dengan metode deskripsinya. (Silakan baca pasal "Thariqatul Qur’an” dan pasal "At-Takhyiilul Hissiy wat-Tajsiim" dalarn kitab At-Tashwiirul-Fanniy fil Qur’an, terbitan Darusy Syuruq)

Perangkat Petunjuk

Setelah menyebutkan petunjuk dan kesesatan, Allah mengingatkan mereka terhadap perangkat-perangkat petunjuk yang telah diberikan-Nya kepada mereka dan perangkat-perangkat pemahaman, tetapi tidak mereka manfaatkan, dan tidak mereka syukuri.

قُلْ هُوَ الَّذِيْٓ اَنْشَاَكُمْ وَجَعَلَ لَكُمُ السَّمْعَ وَالْاَبْصَارَ وَالْاَفْـِٕدَةَۗ قَلِيْلًا مَّا تَشْكُرُوْنَ ٢٣

Katakanlah, 'Dialah Yang menciptakan kamu dan menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati. (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur. " (al-MuIk: 23)

Hakikat bahwa Allah yang menciptakan manusia adalah hakikat yang menghentikan akal manusia (untuk membantahnya) dan sebagai penegasan yang sulit ditolak. Manusia terwujud sebagai makhluk yang paling tinggi, paling mengerti, dan paling mampu dibandingkan makhluk lainnya. Sedangkan, dia tidak dapat mewujudkan dirinya sendiri. Karena itu, pasti ada yang lebih tinggi, lebih mengerti, dan lebih berkuasa daripada dirinya, yang berkuasa untuk mewujudkannya. Tidak ada jalan untuk tidak mengakui adanya Yang Maha Pencipta. Keberadaan manusia itu sendiri menghadapi hakikat ini, dan membantahnya adalah suatu Ielucon yang tidak layak dihormati.

Al-Qur'an mengingatkan hakikat ini di sini. Karena, untuk mengingatkan perangkat-perangkat pengetahuan yang telah diberikan Allah kepada manusia. “…Dan, menjadikan bagi kamu pendengaran, penglihatan, dan hati..”

Akan tetapi, bagaimana sikap manusia terhadap kenikmatan ini. nikmat penciptaan, nikmat pendengaran, penglihatan, dan hati ? "... (Tetapi) amat sedikit kamu bersyukur." (al-MuIk: 23)

Pendengaran dan penglihatan adalah dua mukjizat besar yang dapat dimengerti keajaiban-ajaibannya yang menakjubkan. Hati yang diungkapkan oleh Al-Qur'an sebagai kekuatan untuk memahami dan mengetahui, adalah suatu mukjizat (keluarbiasaan) yang lebih menakjubkan dan lebih aneh, yang tidak dimengerti kecuali oleh sedikit orang saja. Dan, ini merupakan rahasia Allah pada makhIuk yang unik tersebut....

Ilmu pengetahuan modern mencoba menguak sedikit tentang keluarbiasaan pendengaran dan penglihatan ini secara sepintas.

"Indra pendengaran dimulai pada telinga luar, dan tidak ada yang mengetahui sampai di mana ia berkesudahan kecuali Allah. Ilmu pengetahuan mengatakan, 'Sesungguhnya getaran yang ditimbulkan oleh suara di udara berpindah ke telinga, yang sudah diatur sedemikian rupa bagian-bagian dalamnya, supaya dapat sampai ke gendang telinga. Dan, getaran-getaran ini dipindahkan ke labirin di dalam telinga. labirin ini mengandung semacam saluran antara spiral dan setengah lingkaran. Pada bagian spiral ini terdapat empat ribu busur kecil yang bersambung dengan saraf pendengaran di kepala.'

Nah, berapakah panjang busur dan besarnya? Bagaimana cara menyusun busur-busur yang jurnlahnya beribu-ribu pada masing-masing bagian dengan susunan yang khusus ini? Dan, alat apakah gerangan yang diletakkan padanya? Belum Iagi jaringan tulang-tulang lain yang halus dan bergelombang. Semua ini berada pada labirin yang hampir tak terlihat. Di dalam telinga juga terdapat ratusan ribu sel-sel pendengaran, dan saraf-sarafnya berkesudahan pada bulu-bulu yang halus, lembut, dan kuat, yang membingungkan (mengagumkan) orang-orang yang berakal sehat.

Pusat indra penglihatan adalah mata, yang mengandung seratus tiga puluh juta saraf penerima cahaya. Dan, mata itu terdiri dari selaput mata keras, kornea, placenta, dan retina... yang semua itu berbeda dengan saraf-saraf lain yang banyak jumlahnya" (Allah wal Ilmu Hadits 57-58)

"Retina atau selaputj ala itu terdiri dari sembilan tingkat yang terpisah-pisah. Tingkatan pertama yang terdapat di bagian dalam paling ujung terdiri dari batang-batang dan kerucut-kerucut. Ada yang mengatakan bahwa yang pertama itu berjumlah tiga puluh juta batang, dan yang kedua berjumlah tiga juta kerucut. Semuanya tersusun dengan rapi dan sangat teratur dalam hubungannya antara sebagian terhadap sebagian yang lain dan dalam hubungannya dengan lensa.... Itulah lensa mata Anda yang berbeda-beda ketebalannya. Karena itu, berkumpullah semua cahaya di titik api, dan manusia tidak akan dapat melakukan yang demikian itu dalam benda apa pun dari satu jenis, seperti kaca misalnya." (al-llmu Yad'uu lil-lmam 113)

Adapun hati, maka dia adalah unsur khusus yang dengannyalah manusia menjadi manusia. la adalah kekuatan untuk memahami, membedakan, dan mengerti sesuatu, yang karenanyalah manusia menjadi khalifah di dalam kerajaan yang luas ini. Karenanya pula mereka dibebani memikul amanat yang langit, bumi, dan gunung-gunung enggan memikulnya, yaitu amanat iman ikhtiyari 'yang berdasarkan kesadaran', petunjuk diri, dan istiqamah berdasarkan kemauan terhadap manhaj Allah (Silakan periksa penafsiran terhadap ayat "Innaa ‘aradhnaa al-amaanata ‘alas-samaawaati wal-ardhi wal-jibaali " dalam Tafsir azh-Zhilal juz 22.) . Tidak ada seorang pun yang mengetahui materi kekuatan ini, pusatnya di mana, di dalam tubuh atau di luarnya! Karena ia adalah rahasia Allah pada manusia yang tidak ada seorang pun yang mengetahuinya.

Penciptaan Manusia dan Pertanggungjawabannya

Selanjutnya, diingatkanlah mereka bahwa Allah tidak menciptakan manusia dan diberinya keistimewaan-keistimewaan ini secara sia-sia dan kebetulan belaka, tanpa maksud dan tujuan apa-apa. Sesungguhnya masa hidup ini hanyalah untuk menerima ujian, kemudian akan diberi balasan pada hari pembalasan.

قُلْ هُوَ الَّذِيْ ذَرَاَكُمْ فِى الْاَرْضِ وَاِلَيْهِ تُحْشَرُوْنَ ٢٤

"Katakanlah, Dialah yang menjadikan kamu berkembang biak di muka bumi, dan hanya kepada-Nyalah kamu kelak dikumpulkan. " (al-Mulk: 24)

"Adz-dzara” berarti memperbanyak, juga mengandung arti mengembangbiakkan. Dan, "al-hasyr" adalah mengumpulkan sesudah bertebaran ke berbagai penjuru. Keduanya merupakan gerakan yang berlawanan dilihat dari sudut pelukisan dan maknanya. Yang satu merupakan pemandangan yang melukiskan perkembangbiakan dan penyebaran manusia ini di muka bumi, dan yang satu adalah pemandangan yang melukiskan pengumpulan kembali mereka setelah dikembangbiakkan dan disebarkan.

Keduanya disebut dalam satu ayat untuk menghadapkan kedua pemandangan ini pada perasaan dan bayangan, menurut metode Al-Qur'an, dan untuk mengingatkan manusia yang bertebaran di muka bumi ini bahwa di sana ada kesudahan yang mereka pasti sarnpai di sana. Yaitu, berkumpul dan berhimpun menjadi satu. Di sana terdapat urusan di balik urusan kehidupan ini, di balik ujian dengan kematian dan kehidupan ini.

Kemudian diceritakanlah keraguan mereka terhadap pengumpulan ini dan kebimbangan mereka terhadap ancarnan ini.

وَيَقُوْلُوْنَ مَتٰى هٰذَا الْوَعْدُ اِنْ كُنْتُمْ صٰدِقِيْنَ ٢٥

"Dan, mereka berkata, 'Kapankah datangnya ancaman itu jika kamu adalah orang-orang yang benar?"' (al-Mulk: 25)

Ini adalah pertanyaan orang yang ragu-ragu dan bimbang, dan dapat juga sebagai pertanyaan orang yang mempermainkan dan melecehkan. Karena pengetahuan terhadap waktunya dan kapan terjadinya apa yang diancamkan ini tidak akan dapat mengajukan atau menunda kejadiannya, dan tidak ada hubungannya dengan hakikatnya. Hari itu adalah hari pembalasan sesudah diuji. Sama saja bagi mereka, apakah hari berkumpul (kiamat) itu akan datang besok pagi atau jutaan tahun Iagi…, yang penting dia pasti datang, mereka akan dikumpulkan pada hari itu, dan akan diberi pembalasan terhadap apa yang mereka lakukan dalam kehidupannya dulu.

Oleh karena itu, Allah tidak menunjukkan kepada seorang pun dari makhIuk-Nya kapan waktu terjadinya. Karena, tidak ada kemaslahatannya bagi mereka kalau mengetahui, tidak ada hubungannya dengan sifat hari itu dan hakikatnya, dan tidak ada pengaruhnya bagi tugas-tugas yang manusia dituntut melakukannya sebagai persiapan untuk menghadapinya. Bahkan, yang maslahah dan yang bijaksana ialah menyembunyikan waktunya kepada semua makhluk, dan hanya Allah saja yang mengetahuinya, tanpa satu pun makhluk yang mengetahuinya.

قُلْ اِنَّمَا الْعِلْمُ عِنْدَ اللّٰهِ ۖوَاِنَّمَآ اَنَا۠ نَذِيْرٌ مُّبِيْنٌ ٢٦

"Katakanlah, 'Sesungguhnya ilmu (tentang hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Sesungguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan. "' (al-Mulk: 26)

Di sini, tampaklah dengan jelas perbedaan antara Khaliq dengan makhluk, dan murnilah zat Allah dan keesaan-Nya dengan tanpa ada yang menyerupainya dan bersekutu dengan-Nya Juga murnilah pengetahuan tentang hari Kiamat itu hanya kepunyaan Allah. Berhentilah makhluk di tempat mereka dengan sikap sopan di hadapan posisi ketuhanan yang agung.

"Katakanlah, 'Sesungguhnnya ilmu (tentang hari Kiamat itu) hanya pada sisi Allah. Dan sesunguhnya aku hanyalah seorang pemberi peringatan yang menjelaskan. "'.... Tugasku hanya memberi peringatan, kepentinganku hanyalah memberi penjelasan. Ada pun pengetahuan tentang waktu terjadi hari Kiamat itu hanya ada pada pemilik pengetahuan itu saja, tanpa ada yang bersekutu dengan-Nya.

Ketika mereka bertanya dengan penuh keraguan dan mendapat jawaban yang pasti, maka AI-Qur’an menimbulkan bayangan dalam hati mereka seakan-akan hari Kiamat yang mereka tanyakan itu sudah datang, dan ancaman yang mereka ragukan sudah tiba waktunya. Juga seakan-akan mereka sedang menghadapinya sekarang, dan terjadilah apa yang terjadi.

فَلَمَّا رَاَوْهُ زُلْفَةً سِيْۤـَٔتْ وُجُوْهُ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا وَقِيْلَ هٰذَا الَّذِيْ كُنْتُمْ بِهٖ تَدَّعُوْنَ ٢٧

"Ketika mereka melihat azab (pada hari Kiamat) sudah dekat, muka orang-orang kafr itu menjadi muram. Dan, dikatakan (kepada mereka), 'Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya.” (al-Mulk: 27)

Mereka melihatnya dari dekat, di hadapan mereka, bukan angan-angan lagi dan bukan pendahuluan. Maka, muramlah wajah mereka, tampaklah keputusasaan mereka, dan dihadapkanlah kepada mereka celaan ini, "Inilah (azab) yang dahulunya kamu selalu meminta-mintanya. "

Inilah dia, sudah datang, ada di dekatrnu. Dan, inilah yang kamu anggap tidak akan terjadi itu!

Demikian metode di dalam memaparkan apa yang akan terjadi secara berulang-ulang di dalam AI-Qur'an, untuk menghadapi pendustaan atau keraguan dengan secara spontan membangkitkan perasaan dengan memberikan suatu gambaran ketika menghadapi orang yang mendustakan atau meragukan azab. Caranya dengan membentangkan pemandangan mengenai azab yang mereka dustakan atau mereka ragukan itu.

Kemudian, pada waktu yang sama digambarkanIah sebuah hakikat bahwa hari Kiamat ini (seluk beluknya) ada dalam pengetahuan Allah. Adapun soal waktu yang dihitung manusia, maka itu hanya perhitungan manusia saja. Perhitungan manusia tentang masih lama atau tidaknya datangnya hari Kiamat itu adalah relatif, tidak mencerminkan hakikat yang sebenarnya sebagaimana hitungan Allah. Kalau Allah menghendaki, maka mereka akan memandang jangka waktunya itu cuma sekejap saja sebagaimana dalam pengetahuan Allah.

Maka, perpindahan lukisan dari dunia ke akhirat dan dari keragu-raguan dan kebimbangan kepada realitas yang di hadapan mata dan sangat tiba-tiba, hal itu mengisyaratkan kepada suatu hakikat yang ada. Seandainya Allah mengizinkan, niscaya tersingkaplah hal itu bagi mereka, pada saat Dia melukiskan hakikat ini kepada mereka dengan lukisan yang mengguncangkan perasaan mereka.

Kuasa Mutlak Allah

Mereka senantiasa menunggu-nunggu kebinasaan Nabi saw. dan golongan yang beriman bersama beliau, sehingga mereka dapat istirahat dan bebas berbuat segalanya. Mereka saling berpesan agar bersabar hingga beliau dijemput ajal. Sehingga, badai yang menimpa barisan mereka yang diakibatkan oleh dakwah itu segera berlalu, sebagaimana mereka juga sering membual dengan mengira bahwa Allah akan membinasakan Nabi Muhammad saw. dan orang-orang yang bersama beliau karena mereka anggap sesat dan berbuat dusta atas nama Allah.

Maka di sini, di hadapan pemandangan yang berupa mahsyar dan pembalasan ini, diingatkanlah kepada mereka bahwa khayalan mereka itu tidak akan dapat melindungi mereka dari siksaan akibat kekafiran dan kesesatan mereka. Oleh karena itu, yang lebih utama bagi mereka adalah merenungkan urusan mereka sebelum datangnya ancaman yang ditujukan kepada mereka yang kini seakanakan sudah datang menimpa mereka itu.

قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَهْلَكَنِيَ اللّٰهُ وَمَنْ مَّعِيَ اَوْ رَحِمَنَاۙ فَمَنْ يُّجِيْرُ الْكٰفِرِيْنَ مِنْ عَذَابٍ اَلِيْمٍ ٢٨

"Katakanlah, Terangkanlah kepadaku jika Allah mematikan aku dan orang-orang yang bersama dengan aku atau memberi rahmat kepada kami, (maka kami akan  masuk surga), tetapi siapakah yang dapat melindungi orang-orang yang kafir dari siksa yang pedih ?"' (al-Mulk: 28)

Ini adalah per tanyaan yang mendorong mereka untuk merenungkan keadaan mereka dan memikirkan urusan mereka sendiri. Inilah yang lebih utama mereka lakukan. Maka, tidak ada manfaatnya bagi mereka seandainya khayalan mereka terwujud di mana Allah mewafatkan Nabi saw. dan para pengikutnya, sebagaimana halnya mereka tidak akan diselamatkan kalau Allah memberi rahmat kepada nabi-Nya dan para pengikutnya. Sedangkan, Allah itu Mahakekal, tidak akan meninggal. Dialah yang mengembangbiakkan mereka di muka bumi dan kepada-Nya mereka akan dikembalikan.

Akan tetapi, pada kalimat berikutnya Al-Qur'an tidak mengajukan pertanyaan kepada mereka dengan mengatakan, "Siapakah yang dapat melindungi kamu dari azab yang pedih?" Dan, tidak pula menetapkan dalam nash itu bahwa mereka adalah orang-orang yang kafir. Tetapi, diisyaratkanIah kepada mereka azab yang sedang menantikan orang-orang kafir. "Siapakah yang dapat melindungi orang-orang kafir dari siksa yang pedih?"

Ini adalah metode dakwah yang bijaksana. Pada satu sisi ditakut-takutinya mereka, dan pada sisi Iain diberinya mereka kesempatan untuk memperbaiki pandangan dan sikap mereka. Seandainya dinyatakan secara langsung kepada mereka bahwa mereka kafir dan tidak ada tempat lagi bagi mereka dari azab yang pedih, maka boleh jadi mereka bersikap masa bodoh dan bangkitlah kesombongan mereka untuk semakin nekat berbuat dosa di depan ancaman langsung ini.

Maka, pada kondisi tertentu metode talmih 'isyarat sepintas' itu lebih mengena pada jiwa daripada metode tashrih 'transparan'.

Kemudian ditingkatkanlah persoalannya dari menyamakan antara kedua hal ini, dengan menetapkan bagaimana sikap kaum mukminin terhadap Tuhannya, kepercayaannya kepada-Nya, dan tawakalnya kepada-Nya, yang disertai dengan isyarat terhadap ketenangan hati mereka karena keimanannya, dan kepercayaan mereka terhadap petunjuk Tuhannya, sementara orang-orang kafir berada di dalam kesesatan yang nyata.

قُلْ هُوَ الرَّحْمٰنُ اٰمَنَّا بِهٖ وَعَلَيْهِ تَوَكَّلْنَاۚ فَسَتَعْلَمُوْنَ مَنْ هُوَ فِيْ ضَلٰلٍ مُّبِيْنٍ ٢٩

"Katakanlah, 'Dialah Allah Yang Maha Penyayang, kami beriman kepada-Nya dan kepada-Nyalah kami bertawakal. Kelak kamu akan mengetahui siapakah dia yang berada dalam kesesatanyang nyata.” (al-Mulk: 29)

Disebutkannya sifat "Ar-Rahman" di sini mengisyaratkan kepada rahmat-Nya yang dalam dan besar kepada RasuI-Nya dan orang-orang yang beriman kepada-Nya. Ini berarti bahwa Dia tidak akan membinasakan mereka sebagaimana khayalan dan anggapan orang-orang kafir itu.

Nabi saw. diarahkan untuk menampakkan jalinan yang menghubungkan mereka dengan Tuhan mereka Yang Maha Pemurah, yaitu jalinan iman "Kami beriman kepada-Nya" dan jalinan tawakal "Dan kepada-Nyalah kami bertawakal"... Hanya kepadaNya saja.... Kalimat ini juga menunjukkan betapa dekatnya hubungan mereka dengan Tuhan Yang Maha Pemurah.

Allahlah yang memberikan karunia kepada Rasul-Nya dan kepada orang-orang mukmin. Lalu mengizinkan beliau untuk menyatakan kedekatan dan mengarahkannya untuk menyampaikan pernyataan ini, seakan-akan Dia berfirman kepada beliau, "Jangan takut terhadap apa yang dikatakan orangorang kafir itu, karena engkau dan orang-orang yang bersamamu itu berhubungan dengan-Ku dan ber nisbat kepada-Ku. Engkau telah mendapat dari-Ku untuk menyatakan kehormatan dan kedudukan ini. Maka, katakanlah kepada mereka....!" Dan, ini adalah kasih sayang dan penghormatan dari Allah..„ Setelah itu dikemukakanlah ancaman yang berlipat-lipat "Kelak kamu akan mengetahui siapa dia yang berada dalam kesesatan yang nyata. "

Ini adalah suatu metode untuk mengguncang orang yang bandel melakukan pengingkaran, dan menyeru mereka untuk menarik kembali sikap mereka itu agar tidak bersikap begitu Iagi karena khawatir akan termasuk dalam kesesatan. Kesesatan yang akibatnya mereka akan menghadapi azab yang pedih sebagaimana disebutkan dalam ayat sebelumnya, "Siapakah yang dapat melindungi orang-orang kafir dari siksa yang pedih ?"

Pada waktu yang sama mereka tidak langsung dituding sebagai orang-orang yang sesat, supaya tidak bangkit kesombongan mereka untuk berbuat dosa lagi.

Demikianlah metode dakwah yang sesuai dengan kondisi jiwa yang bersangkutan.

Pentingnya Air bagi Kehidupan

Akhirnya, datanglah kesan terakhir dalam surah ini yang mengisyaratkan azab dunia kepada mereka sebelum azab akhirat. Yaitu, dengan dihalangi mereka dari mendapatkan sebab utama kehidupan yang berupa air.

قُلْ اَرَءَيْتُمْ اِنْ اَصْبَحَ مَاۤؤُكُمْ غَوْرًا فَمَنْ يَّأْتِيْكُمْ بِمَاۤءٍ مَّعِيْنٍ ࣖ ٣٠

"Katakanlah, ‘Terangkanlah kepadaku jika sumber air kamu menjadi kering, maka siapakah yang akan mendatangkan air yang mengalir bagimu? (al-Mulk: 30)

"Al-maaul ghaur", kata ghaair artinya hilang Ienyap di dalam bumi, dan mereka tidak mampu memperolehnya lagi. Dan, 'maiin"artinya bersumber, melimpah, memancar. Ini adalah sentuhan yang dekat sekali dengan kehidupan mereka, jika mereka masih menganggap jauh kemungkinan terjadinya hari Kiamat itu dan meragukannya.

Segala kekuasaan itu ada di tangan Allah, sedang Dia Mahakuasa atas segala sesuatu. Maka, bagai mana jadinya kalau Dia menghendaki untuk menyetop mereka dari mendapatkan sumber kehidupan yang dekat (yang berupa air) ini? Kemudian mereka dibiarkan merenungkan apa yang bakal terjadİ seandainya Allah mengİzİnkan terjadinya apa yang diancamkan ini!

Khatimah

Demikianlah surah ini berakhir. Selesailah pemaparan kesan-kesan dan sentuhan-sentuhan, perjalanan dan pengembaraan ini, dalam berbagai ufuk, Iorong, dan wİIayah-wİIayah yang sangat jauh ujung-ujungnya. Setiap ayat dengan mendekatkan satu sama lain, memberikan nuansa khusus. Atau, ia membawa pembaca ke alam misteri yang gaib, atau sesuatu yang dinantikan kedatangannya yang tidak berpaling kepadanya pandangan dan hati.

Surah ini adalah surah yang besar, surah yang lebih besar daipada bodİnya, bingkainya, dan jumlah ayatnya. Seakan-akan ia adalah anak-anak panah yang menuju ke sasaran yang jauh, yang masingmasing anak panahnya hampir-hampir berdiri sendili di dalam menguak alam yang baru.

Dengan berpijak pada kaidah-kaidah tashawwur Islami, ia membangun sisi-sisi fundamental yang sangat penting. la menetapkan di dalam hati hakikat kekuasaan yang mutlak, hakikat pemeliharaan yang mutlak, dan hakikat ujian yang berupa kematian dan kehidupan sebagaİ pengantar untuk menghadapi hai berkumpulnya semua manusia di padang mahsyar dan untuk mendapatkan pembalasan. Juga hakikat kesempurnaan dan keindahan pada ciptaan Allah, hakikat pengetahuan yang mutlak terhadap terhadap semua rahasia dan bisikan-bisikan, hakikat sumber rezeki, hakikat pemeliharaan Allah terhadap semua makhluk, dan kehadiran-Nya menyertai semua makhluk.... Juga sejumlah hakikat yang menjadi dasar berpijaknya tashawwur seorang muslim terhadap Tuhannya, dan tashawwurnya terhadap alam semesta beserta hubungannya dengan Pencipta alam semesta ini.

Tashawwur inilah yang menjadi sumber manhaj kehidupan orang mukmin secara keseluruhan, dalam berhubungan dengan Tuhannya, dengan dirinya, dengan sesama manusia, dengan makhluk hidup lainnya, dan dengan semua makhluk baik makhluk hidup maupun benda-benda lain. Tashawwur ini pulalah yang membentuk perasaannya, nuraninya, kepribadiannya, tata nilainya, tata normanya, dan sikapnya dalam menghadapi kehidupan....

No comments:

Post a Comment

Tafsir Surah Al Mulk