Tuesday, March 3, 2026

Risalah Munajat

 Pendahuluan

Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.”

Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, imam orang-orang yang bertakwa, beserta keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti petunjuknya serta menyeru dengan dakwahnya hingga hari kiamat. Amma ba‘du:

Karena telah menjadi salah satu kebiasaan (wirid) Ikhwanul Muslimin untuk berkumpul pada suatu malam dalam setiap pekan dalam suasana saling mengenal, mempererat persaudaraan, berzikir, dan berdoa, maka aku ingin menyampaikan kepada mereka risalah singkat ini tentang keutamaan qiyamullail, doa, istighfar, dan amalan-amalan sejenisnya.

Di dalamnya juga terdapat beberapa doa ma’tsur yang dipilih, kiranya dapat menjadi pengingat akan adab-adab yang diajarkan sunnah serta bimbingan mengenai tata cara yang dianjurkan. Aku tidak bermaksud untuk menghimpun semuanya secara lengkap dan menyeluruh, melainkan sekadar mengingatkan dan memberi contoh. Hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya lebih halus dan mendalam daripada dapat dibatasi oleh sebuah kitab.

Kepada Allah aku memohon untuk diriku dan untuk mereka kesempurnaan keikhlasan, petunjuk yang baik, serta taufik. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad, beserta keluarga dan para sahabatnya.

Keutamaan Qiyamullail dan Waktu Sahur

Wahai saudaraku, mungkin saat paling indah untuk bermunajat adalah ketika engkau menyendiri bersama Tuhanmu, sementara manusia terlelap dan orang-orang yang lalai tertidur; ketika alam semesta hening, malam membentangkan tirainya, dan bintang-bintang pun tenggelam.

Pada saat itu engkau menghadirkan hatimu, mengingat Tuhanmu, menyadari kelemahan dirimu dan keagungan Pelindungmu. Engkau merasakan keakraban di hadirat-Nya, hatimu menjadi tenteram dengan mengingat-Nya, bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya, menangis karena takut kepada-Nya, serta merasakan pengawasan-Nya.

Engkau pun bersungguh-sungguh dalam berdoa, tekun dalam memohon ampun, menyampaikan segala kebutuhanmu kepada Dzat yang tidak melemahkan-Nya sesuatu pun dan tidak disibukkan oleh satu urusan dari urusan lainnya. Perintah-Nya apabila menghendaki sesuatu hanyalah berkata: “Jadilah,” maka jadilah ia.

Mintalah kepada-Nya untuk urusan duniamu dan akhiratmu, untuk jihad dan dakwahmu, untuk cita-cita dan harapanmu, untuk negerimu dan keluargamu, untuk dirimu dan saudara-saudaramu. Dan kemenangan itu tidak lain hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.

Karena itu, wahai saudaraku, banyak ayat Al-Qur’an dan hadis mutawatir yang menyebutkan keutamaan saat-saat ini, memuliakan waktu-waktu tersebut, serta menganjurkan hamba-hamba yang saleh agar memanfaatkan pahala ketaatan di dalamnya. Oleh sebab itu pula, para salaf saleh sangat menjaga agar tidak kehilangan keutamaan agung ini. Pada saat-saat tersebut mereka bertaubat, beribadah, memuji Allah, berzikir, rukuk, dan sujud; mereka mencari karunia dan keridaan-Nya, bertambah keyakinan dan iman, serta memohon karunia kepada Allah—Dzat yang paling mulia untuk diminta dan sebaik-baik tempat berharap.

Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan hal itu adalah firman Allah Ta‘ala:

  • “Di antara Ahli Kitab ada golongan yang lurus; mereka membaca ayat-ayat Allah pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. Mereka beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh kepada yang makruf dan mencegah dari yang mungkar, serta bersegera dalam berbagai kebajikan; mereka termasuk orang-orang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak akan diingkari (pahalanya), dan Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (Ali ‘Imran: 113–115)
  • “Bagi orang-orang yang bertakwa di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya; dan pasangan-pasangan yang disucikan serta keridaan dari Allah. Allah Maha Melihat hamba-hamba-Nya, (yaitu) orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan lindungilah kami dari azab neraka.’ (Mereka adalah) orang-orang yang sabar, benar, taat, menafkahkan hartanya, dan memohon ampun pada waktu sahur.” (Ali ‘Imran: 15–17)
  • “Dirikanlah shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikan pula) shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh malaikat). Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah sebagai ibadah tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji.” (Al-Isra’: 78–79)
  • “Dan hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang-orang yang melalui malam hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (Al-Furqan: 63–64)
  • “Sesungguhnya yang beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila diperingatkan dengannya mereka menyungkur bersujud, bertasbih memuji Tuhan mereka, dan tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat tidurnya; mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap, dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk mereka sebagai penyejuk mata sebagai balasan atas apa yang telah mereka kerjakan.” (As-Sajdah: 15–17)
  • “(Apakah kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, ia takut kepada akhirat dan mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” (Az-Zumar: 9)
  • “Sesungguhnya orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan mata air; mereka menerima apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur pada waktu malam, dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (Adz-Dzariyat: 15–18)
  • “Dan bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya engkau berada dalam pengawasan Kami; dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu ketika engkau bangun. Dan pada sebagian malam hari bertasbihlah kepada-Nya dan pada waktu terbenamnya bintang-bintang.” (Ath-Thur: 48–49)
  • “Wahai orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) pada malam hari kecuali sedikit; (yaitu) separuhnya atau kurangilah sedikit dari itu, atau lebihkan atasnya dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil. Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di waktu malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan lebih tepat bacaan.” (Al-Muzzammil: 1–6)
  • “Sesungguhnya Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga malam, atau separuhnya atau sepertiganya, dan (demikian pula) segolongan dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang. Dia mengetahui bahwa kamu tidak dapat menghitungnya, maka Dia memberi keringanan kepadamu. Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari Al-Qur’an.” (Al-Muzzammil: 20)
  • “Sesungguhnya Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu secara berangsur-angsur. Maka bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah engkau mengikuti orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian malam hari bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang panjang.” (Al-Insan: 23–26)

Di antara Hadis-Hadis Nabi

  • Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, bahwa Rasulullah bersabda:
    “Tuhan kita Tabaraka wa Ta‘ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni.”
    (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Malik, Muslim, at-Tirmidzi, dan lainnya).

Dalam riwayat Muslim:
“Sesungguhnya Allah menangguhkan hingga berlalu sepertiga pertama malam, lalu Dia turun ke langit dunia dan berfirman: Akulah Raja, siapa yang berdoa kepada-Ku…”

  • Dari ‘Amr bin ‘Abasah رضي الله عنه, bahwa ia mendengar Rasulullah bersabda:
    “Saat paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah di tengah malam. Jika engkau mampu menjadi orang yang mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah.”
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi—lafaz ini miliknya—dan ia berkata: hadis hasan sahih; al-Hakim mensahihkannya sesuai syarat Muslim).
  • Dari Abu Umamah رضي الله عنه, ketika ditanya: “Wahai Rasulullah, doa manakah yang paling didengar (dikabulkan)?” Beliau menjawab:
    “(Doa pada) sepertiga malam terakhir dan setelah shalat-shalat wajib.”
    (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata: hadis hasan sahih).
  • Dari Bilal رضي الله عنه, bahwa Rasulullah bersabda:
    “Hendaklah kalian melaksanakan qiyamullail, karena itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, pendekatan diri kepada Allah, pencegah dari dosa, penghapus kesalahan, dan penolak penyakit dari tubuh.”
    (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi).
  • Dari al-Mughirah bin Syu‘bah رضي الله عنه, ia berkata: Nabi berdiri (shalat malam) hingga kedua kakinya bengkak. Lalu dikatakan kepada beliau: “Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” Beliau menjawab:
    “Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”
    (Diriwayatkan oleh lima imam selain Abu Dawud).
  • Dari ‘Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:
    “Rasulullah tidak pernah meninggalkan qiyamullail. Jika beliau sakit atau merasa berat, beliau shalat sambil duduk.”
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud).
  • Dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه, disebutkan di hadapan Nabi seorang lelaki yang tidur hingga pagi dan tidak bangun untuk shalat. Beliau bersabda:
    “Itu adalah orang yang setan telah kencing di telinganya.”
    (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i).
  • Dalam hadis Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما, Rasulullah bersabda:
    “Sebaik-baik lelaki adalah ‘Abdullah (bin ‘Umar) jika ia melaksanakan shalat malam.”
    Sejak itu ia senantiasa melaksanakan qiyamullail. Nafi‘ berkata:
    “Ia biasa shalat malam dan berkata: ‘Wahai Nafi‘, apakah kita sudah masuk waktu sahur?’ Aku menjawab: ‘Belum.’ Lalu ia bertanya lagi hingga aku menjawab: ‘Ya.’ Maka ia duduk dan beristighfar kepada Allah hingga terbit fajar.”
    (Makna “as-harna”: telah masuk waktu sahur; tampaknya ini terjadi setelah beliau lanjut usia dan penglihatannya melemah).
  • Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah qiyamullail.”
    (Diriwayatkan oleh Muslim).
  • Dari ‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash رضي الله عنهما, Rasulullah bersabda:
    “Barang siapa berdiri (shalat malam) dengan membaca sepuluh ayat, ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai; barang siapa membaca seratus ayat, ia dicatat sebagai orang yang taat; dan barang siapa membaca seribu ayat, ia dicatat sebagai orang yang memperoleh pahala berlipat (al-muqanthirin).”
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud).

Dalam riwayat lain: ketika ditanya amalan apa yang paling utama, beliau menjawab:
“Lama berdiri (dalam shalat).”

  • Dari ‘Aisyah رضي الله عنها:
    “Shalat malam Rasulullah adalah sepuluh rakaat dan beliau witir dengan satu rakaat, serta dua rakaat fajar; maka semuanya berjumlah tiga belas rakaat.”
    (Diriwayatkan oleh enam imam; lafaz ini milik Muslim).
  • Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Apabila salah seorang di antara kalian bangun pada malam hari, hendaklah ia memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan.”
    (Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud; Abu Dawud menambahkan: “Kemudian setelah itu ia boleh memanjangkan sesuai kehendaknya.”)

Riwayat dari Salafush Shalih

  • Diriwayatkan dari Dhirar ash-Shada’i dalam menggambarkan ‘Ali رضي الله عنه:
    “Ia merasa asing terhadap dunia dan perhiasannya, namun merasa tenteram dengan malam dan kesendiriannya. Aku bersaksi, sungguh aku pernah melihatnya ketika malam telah membentangkan tirainya dan bintang-bintang telah tenggelam, ia berdiri di mihrabnya, memegang janggutnya, berguncang seperti orang yang tersengat, menangis seperti orang yang berduka, dan berkata: ‘Wahai dunia, tipu selain aku! Kepadaku engkau menampakkan diri? Kepadaku engkau merindu? Jauh, jauh! Aku telah menceraikanmu tiga kali tanpa rujuk. Umurmu pendek, hisabmu berat, nilaimu hina. Ah, betapa sedikit bekal, betapa jauh perjalanan, dan betapa sunyi jalan.’”
  • Diriwayatkan bahwa ‘Umar رضي الله عنه terkadang melewati satu ayat dalam wirid malamnya, lalu ia sangat terpengaruh hingga seakan-akan ia termasuk orang sakit.
  • ‘Abdullah bin Mas‘ud رضي الله عنه apabila mata-mata telah terlelap, ia bangun dan terdengar suaranya membaca Al-Qur’an seperti dengungan lebah. Demikian pula kebiasaan seluruh sahabat رضي الله عنهم.

Ketika al-Hasan ditanya: “Mengapa wajah orang-orang yang bertahajud tampak paling indah?” Ia menjawab:
“Karena mereka menyendiri bersama Ar-Rahman, maka Allah memakaikan kepada mereka cahaya dari cahaya-Nya.”

  • Ar-Rabi‘ berkata:
    “Aku bermalam di rumah asy-Syafi‘i رضي الله عنه beberapa malam; ia hampir tidak tidur kecuali sedikit.” Demikian pula kebiasaan para imam lainnya.
  • Malik bin Dinar pernah membaca dalam wiridnya ayat:
    “Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka putuskan.” (Al-Jatsiyah: 21).
    Ia terus mengulanginya hingga pagi.

Al-Mughirah bin Habib berkata:
“Aku pernah menemani Malik bin Dinar suatu malam. Ia berdiri shalat, memegang janggutnya, tersedu-sedu, dan berkata: ‘Ya Allah, haramkan uban Malik dari api neraka. Wahai Tuhanku, Engkau telah mengetahui siapa penghuni surga dan siapa penghuni neraka. Maka Malik termasuk yang mana dan di negeri mana?’ Ia terus seperti itu hingga fajar terbit.”

  • Diceritakan bahwa al-Junaid setelah wafatnya terlihat dalam mimpi dan ditanya: “Apa yang Allah perbuat terhadapmu, wahai Abu al-Qasim?” Ia menjawab:
    “Telah lenyap segala bentuk dan sirna segala ilmu; isyarat-isyarat pun hilang. Tidak ada yang bermanfaat bagi kami kecuali beberapa rakaat yang dahulu kami dirikan di tengah malam.”
  • Di antara wasiat Luqman kepada putranya:
    “Wahai anakku, janganlah ayam jantan lebih cerdas darimu; ia berkokok pada waktu sahur sementara engkau tidur.”
  • Mereka—semoga Allah meridhai mereka—merasakan dalam banyaknya qiyam dan manisnya munajat suatu keakraban dan ketenangan yang melupakan mereka dari letih badan dan payah kaki.

Abu Sulaiman ad-Darani berkata:
“Orang-orang yang bangun malam lebih menikmati malam mereka daripada para pencinta dunia dalam kesenangan mereka. Seandainya bukan karena qiyamullail, aku tidak ingin tetap hidup di dunia. Jika Allah tidak memberi pahala kepada ahli qiyam selain kenikmatan yang mereka rasakan, niscaya itu sudah lebih besar daripada amal itu sendiri.”

Sebagian mereka berkata:
“Tidak ada di dunia sesuatu yang menyerupai kenikmatan akhirat kecuali apa yang dirasakan oleh ahli qiyam dalam hati mereka dari manisnya munajat.”

Muhammad bin al-Munkadir berkata:
“Tidak tersisa dari kenikmatan dunia kecuali tiga: qiyamullail, bertemu saudara-saudara (seiman), dan shalat berjamaah.”

Ada pula yang berkata:
“Sejak empat puluh tahun tidak ada yang menyedihkanku kecuali terbitnya fajar (karena berakhirnya qiyam).”

Sebagian lagi berkata:
“Sesungguhnya Allah memandang hati orang-orang yang bangun pada waktu sahur, lalu Dia memenuhinya dengan cahaya; kemudian limpahan itu mengalir ke hati orang-orang yang lalai.”

  • Dalam salah satu wasiat ‘Ali رضي الله عنه tentang sifat orang bertakwa:
    “Adapun malam hari, mereka berdiri di atas kaki-kaki mereka membaca bagian-bagian Al-Qur’an dengan tartil; mereka menyedihkan hati mereka dengannya dan mencari obat bagi penyakit mereka. Jika mereka melewati ayat tentang harapan, mereka condong kepadanya dengan penuh kerinduan, seakan-akan ia berada di hadapan mata mereka. Jika mereka melewati ayat tentang ancaman, mereka memasang pendengaran hati mereka, seakan-akan suara neraka ada di telinga mereka. Mereka membungkuk, bersujud dengan dahi, telapak tangan, dan ujung kaki mereka. Mereka tidak merasa amal mereka banyak dan tidak pula merasa puas dengan yang sedikit; mereka menuduh diri mereka sendiri dan khawatir terhadap amal mereka.”
  • Ibnu al-Hajj berkata dalam al-Madkhal:
    “Dalam qiyamullail terdapat banyak faedah, di antaranya: ia menggugurkan dosa sebagaimana angin kencang menggugurkan daun kering dari pohon; ia menerangi hati; memperindah wajah; menghilangkan kemalasan dan menguatkan tubuh; tempatnya terlihat oleh para malaikat di langit sebagaimana bintang bercahaya terlihat oleh penduduk bumi. Satu hembusan dari hembusan qiyamullail kembali kepada pelakunya dengan keberkahan, cahaya, dan karunia yang tak terlukiskan.”

Nabi bersabda:
“Sesungguhnya bagi Allah hembusan-hembusan (rahmat), maka hadapkanlah diri kalian kepada hembusan-hembusan Allah.”

Demikianlah keadaan mereka, wahai saudaraku. Maka tempuhlah jalan mereka dan ikutilah jejak mereka—mereka itulah orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah, maka dengan petunjuk mereka ikutilah.

Janganlah qiyamullailmu terbatas pada malam pertemuan bersama saudara-saudaramu saja, tetapi jadikan ia kebiasaan di seluruh malammu semampumu. Sebab amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling terus-menerus meskipun sedikit.

Ketahuilah bahwa di antara hal yang membantumu untuk qiyamullail adalah keikhlasan niat, tekad yang kuat, pembaruan taubat, menjauhi maksiat pada siang hari, tidur lebih awal, dan tidur siang jika memungkinkan. Mintalah pertolongan kepada Allah, niscaya Dia menolongmu; mendekatlah kepada-Nya, niscaya Dia mendekat kepadamu; dan mohonlah karunia-Nya, niscaya Dia memberimu.

Keutamaan Doa dan Istighfar

Telah banyak ayat dan hadis yang menerangkan keutamaan istighfar dan doa. Berikut kami sebutkan sebagian di antaranya sebagai pengingat.

Ayat-ayat Al-Qur’an

Di antaranya firman Allah Ta‘ala:

  • “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 186)
  • “Dan (juga) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas dosa-dosanya—dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?—dan mereka tidak terus-menerus dalam perbuatan dosa itu, sedang mereka mengetahui. Mereka itulah yang balasannya ampunan dari Tuhan mereka dan surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di dalamnya. Dan itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.” (Ali ‘Imran: 135–136)
  • “Dan mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’: 32)
  • “Dan barang siapa berbuat kejahatan atau menzalimi dirinya, kemudian ia memohon ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (An-Nisa’: 110)
  • “Berdoalah kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut. Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya. Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A‘raf: 55–56)
  • “Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sementara engkau (Muhammad) berada di tengah-tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sementara mereka memohon ampun.” (Al-Anfal: 33)
  • “Maka berdoalah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya. (Dia) Mahatinggi derajat-Nya, Pemilik ‘Arsy…” (Ghafir: 14–15)
  • “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.” (Ghafir: 60)
  • “Maka ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun atas dosamu serta (atas dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah mengetahui tempat kalian berusaha dan tempat kalian kembali.” (Muhammad: 19)
  • “Maka aku (Nuh) berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha Pengampun; niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat, memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan menjadikan untukmu kebun-kebun serta menjadikan untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10–12)
  • “Maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya. Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.” (An-Nashr: 3)

Hadis-hadis Nabi

  • Dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Barang siapa dibukakan baginya pintu doa, maka dibukakan baginya pintu-pintu rahmat. Tidaklah Allah diminta sesuatu yang lebih Dia cintai daripada dimintai keselamatan (‘afiyah). Sesungguhnya doa bermanfaat terhadap apa yang telah turun maupun yang belum turun. Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa. Maka hendaklah kalian—wahai hamba-hamba Allah—memperbanyak doa.”
    (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
  • Dari ‘Ubadah bin ash-Shamit رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Tidak ada seorang Muslim di muka bumi yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, melainkan Allah akan memberinya (apa yang ia minta) atau memalingkan darinya keburukan yang semisal dengan itu, selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutus silaturahim.”
    (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
  • Dari an-Nu‘man bin Basyir رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Doa itu adalah ibadah.”
    Kemudian beliau membaca: “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu...”
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
  • Dari Anas رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Hendaklah salah seorang dari kalian meminta kepada Rabbnya seluruh kebutuhannya, sampai-sampai meminta tali sandalnya apabila putus.”
    (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
    Dalam riwayat mursal dari Tsabit al-Bunani: “...hingga ia meminta garam dan tali sandalnya apabila putus.”
  • Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Barang siapa tidak meminta kepada Allah, Allah murka kepadanya.”
    (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
  • Dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Mintalah kepada Allah dari karunia-Nya, karena Allah mencintai untuk diminta. Dan seutama-utama ibadah adalah menantikan kelapangan.”
    (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
  • Dari Abu ad-Darda’ رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Tidaklah seorang hamba Muslim berdoa untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat berkata: ‘Dan bagimu yang semisal.’”
    (Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud; dan dalam tambahan riwayat: “Para malaikat berkata: Amin, dan bagimu yang semisal.”)
  • Dari Abu Bakr ash-Shiddiq رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Tidaklah seseorang dianggap terus-menerus (dalam dosa) apabila ia beristighfar, meskipun ia mengulanginya dalam sehari tujuh puluh kali.”
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
  • Dari (seorang sahabat) رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Sesungguhnya hatiku terkadang tertutup (oleh sesuatu), sehingga aku memohon ampun kepada Allah dalam sehari seratus kali.”
    (Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud)

Dalam riwayat Muslim juga:
“Bertobatlah kepada Rabb kalian; demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar bertobat dalam sehari seratus kali.”

Dan dalam riwayat al-Bukhari dan at-Tirmidzi dari Abu Hurairah رضي الله عنه:
“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar beristighfar kepada Allah dan bertobat kepada-Nya dalam sehari tujuh puluh kali.”

  • Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, dari Rasulullah bersabda:
    “Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka ditorehkan pada hatinya satu titik hitam. Jika ia berhenti, beristighfar, dan bertobat, maka hatinya kembali bersih. Jika ia mengulangi, titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ‘ran’ yang Allah sebutkan: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka.’”
    (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi—ia berkata: hasan sahih—an-Nasa’i, dan lainnya)

Adab-adab Berdoa

Di antara adab berdoa sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat Al-Qur’an adalah tunduk (tadharru‘), rasa takut, ketenangan, dan beradab dengan Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Hadis-hadis sahih juga memberi isyarat akan hal itu. Di antaranya:

  • Mengangkat telapak tangan saat berdoa
    Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما, Rasulullah bersabda:
    “...Mintalah kepada Allah dengan telapak tangan kalian, jangan dengan punggungnya. Apabila kalian selesai, usapkanlah ke wajah kalian.”
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
  • Menghadirkan hati dan yakin akan dikabulkan
    Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan bermain-main.”
    (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
  • Membuka doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat atas Nabi , menyelipkan shalawat di dalamnya, dan menutupnya dengan shalawat
    Dari Fadhalah bin ‘Ubaid رضي الله عنه: Rasulullah mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya tanpa bershalawat kepada Nabi. Beliau bersabda: “Orang ini tergesa-gesa.” Lalu beliau memanggilnya dan bersabda:
    “Jika salah seorang di antara kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bershalawat kepada Nabi, lalu setelah itu berdoa dengan apa yang ia kehendaki.”
    (Diriwayatkan oleh para penyusun Sunan)

Dari ‘Umar رضي الله عنه:
“Doa itu tertahan antara langit dan bumi, tidak naik hingga bershalawat kepadaku...”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi sebagai mauquf dari ‘Umar; dan Rizain meriwayatkannya secara marfu‘)

  • Menutup doa dengan “Amin”
    Dari Abu Mushbih al-Qurra’i dari Abu Zuhair an-Numairi رضي الله عنه:
    “Kami keluar bersama Nabi pada suatu malam, lalu kami menemui seorang lelaki yang bersungguh-sungguh meminta. Rasulullah berhenti mendengarnya, lalu beliau bersabda: ‘Pasti (dikabulkan) jika ia menutupnya.’ Ditanyakan: ‘Dengan apa ia menutupnya, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Dengan Amin.’”
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
  • Berdoa dengan tenang dan tidak mengeraskan suara
    Dari Abu Musa رضي الله عنه: Kami dalam perjalanan, lalu orang-orang mengeraskan takbir. Nabi bersabda:
    “Wahai manusia, sayangilah diri kalian. Kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli dan jauh. Kalian berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan Dia bersama kalian. Dzat yang kalian seru lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada leher tunggangannya.”
    (Diriwayatkan oleh lima imam selain an-Nasa’i)
  • Memilih doa-doa jawami‘ al-kalim (doa yang ringkas tetapi menghimpun banyak kebaikan)
    Dari ‘Aisyah رضي الله عنها:
    “Rasulullah menyukai doa-doa yang menghimpun (kebaikan) dan meninggalkan selainnya.”
  • Mengulang doa dan istighfar tiga kali
    Dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه:
    “Rasulullah menyukai berdoa tiga kali dan beristighfar tiga kali.”
    Bahkan dalam sebagian keadaan, beliau memerintahkan untuk beristighfar hingga tujuh puluh kali.
  • Tidak tergesa-gesa menuntut jawaban
    Dari Abu Hurairah رضي الله عنه: Rasulullah bersabda:
    “Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, (yakni) ia berkata: ‘Aku telah berdoa kepada Rabbku tetapi belum dikabulkan.’”
    (Diriwayatkan oleh enam imam selain an-Nasa’i)
  • Tidak mendoakan keburukan atas diri, anak, dan harta
    Dari Jabir رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian, jangan pula atas anak-anak kalian, para pembantu kalian, dan jangan pula atas harta kalian. Bisa jadi doa itu bertepatan dengan suatu saat di mana Allah memberi pemberian, lalu Dia mengabulkannya untuk kalian.”
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud)
  • Mendahulukan diri sendiri ketika mendoakan orang lain
    Dari Ubay bin Ka‘b رضي الله عنه:
    “Nabi apabila mendoakan seseorang, beliau memulai dengan mendoakan dirinya sendiri.”
    (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)

Waktu-waktu Doa yang Diharapkan Mustajab

Imam Hasan al-Banna

Di antara waktu-waktu yang diharapkan terkabulnya doa adalah:

  • Antara azan dan iqamah
    Dari Anas رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Doa antara azan dan iqamah tidak ditolak.”
    Ditanyakan: “Apa yang kami ucapkan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
    “Mintalah kepada Allah keselamatan (al-‘afiyah) di dunia dan akhirat.”
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
  • Ketika sujud
    Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Saat paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa.”
    (Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i)
  • Ketika safar dan ketika dizalimi
    Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan pengabulannya: doa orang yang dizalimi, doa musafir, dan doa orang tua atas anaknya.”
    (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Dari ‘Amr bin al-‘Ash رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
“Tidak ada doa yang lebih cepat dikabulkan daripada doa seorang yang jauh (ghaib) untuk orang yang jauh (ghaib).”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan juga oleh Abu Dawud)

  • Saat panggilan (azan), ketika berhadapan (pertempuran) dan di bawah hujan
    Dari Sa‘d رضي الله عنه, Rasulullah bersabda:
    “Dua keadaan yang doanya tidak ditolak: ketika panggilan (azan) dan ketika kondisi genting saat sebagian mereka bercampur dengan sebagian yang lain (pertempuran).”
    (Diriwayatkan oleh Malik dan Abu Dawud; dan dalam salah satu riwayat ditambahkan: “di bawah hujan.”)

Maka bersungguh-sungguhlah, wahai saudaraku, untuk terus-menerus merendahkan diri dalam doa dan memperbanyak istighfar setiap waktu—terutama pada waktu-waktu tersebut, juga di tengah malam dan pada waktu sahur. Semoga engkau bertepatan dengan suatu saat keridaan Allah dan limpahan rahmat-Nya, sehingga engkau termasuk orang-orang yang beruntung di dunia dan akhirat.

Contoh-contoh Doa

Dari Al-Qur’an

ـ (رَبَّنَا آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ) (البقرة:201).

“Ya Tuhan kami, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (Al-Baqarah: 201)

ـ (رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ) (البقرة:286).

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Al-Baqarah: 286)

ـ (رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ) (آل عمران:8).

 

“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (Ali ‘Imran: 8)

ـ (رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ) (آل عمران:147).

“Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami dan sikap berlebihan kami dalam urusan kami, teguhkanlah pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Ali ‘Imran: 147)

ـ (رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِياً يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأَبْرَارِ , رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنَا يَوْمَ الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ) (آل عمران:193-194).

“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami telah mendengar penyeru yang menyeru kepada iman: ‘Berimanlah kepada Tuhanmu!’ Maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Engkau janjikan kepada kami melalui rasul-rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat. Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (Ali ‘Imran: 193–194)

ـ (رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ) (لأعراف:23).

“Ya Tuhan kami, kami telah menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A‘raf: 23)

ـ (رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ , رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ) (إبراهيم:40-41).

“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang yang tetap mendirikan shalat, dan (jadikan pula) sebagian keturunanku. Ya Tuhan kami, kabulkanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.” (Ibrahim: 40–41)

ـ (رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَاناً نَصِيراً) (الاسراء:80).

 

“Ya Tuhanku, masukkanlah aku dengan cara masuk yang benar, dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang benar; dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.” (Al-Isra’: 80)

ـ (رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً) (الكهف:10).

“Ya Tuhan kami, berilah kami rahmat dari sisi-Mu dan siapkanlah bagi kami petunjuk dalam urusan kami.” (Al-Kahf: 10)

ـ (أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ) (الانبياء:87).

“Tidak ada tuhan selain Engkau. Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.” (Al-Anbiya’: 87)

ـ (رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً) (الفرقان:74).

“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)

ـ (رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي بِالصَّالِحِينَ , وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الآخِرِينَ , وَاجْعَلْنِي مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ) (الشعراء:83-85).

“Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku hikmah dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh. Dan jadikanlah bagiku sebutan yang baik pada generasi yang datang. Dan jadikanlah aku termasuk pewaris surga yang penuh kenikmatan.” (Asy-Syu‘ara’: 83–85)

ـ (رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالأِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاً لِلَّذِينَ آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ) (الحشر:10).

“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)

ـ (رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِناً وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلا تَزِدِ الظَّالِمِينَ إِلا تَبَاراً) (نوح:28).

 

“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua orang tuaku, siapa saja yang masuk ke rumahku dalam keadaan beriman, dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan; dan janganlah Engkau tambahkan bagi orang-orang zalim selain kebinasaan.” (Nuh: 28)

Dalam Tahmid dan Pujian kepada Allah Ta‘ala

Dari Buraidah رضي الله عنه: Nabi mendengar seseorang berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ إِلَّا أَنْتَ، الْأَحَدُ الصَّمَدُ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan kesaksianku bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan selain Engkau, Yang Esa, tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
Maka Nabi bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung; apabila Dia diminta dengannya, Dia mengabulkan, dan apabila dimohon dengannya, Dia memberi.” (Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)

Dari Anas رضي الله عنه: ada seorang lelaki berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ، الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ

“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, bagi-Mu segala puji, tidak ada tuhan selain Engkau, al-Mannan, Pencipta langit dan bumi, Pemilik keagungan dan kemuliaan, Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha Berdiri Sendiri (al-Qayyum).”
Nabi bersabda:“Tahukah kalian dengan apa lelaki itu berdoa?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui.” Beliau bersabda:“Sungguh ia telah memohon kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung; apabila Dia diminta dengannya, Dia mengabulkan, dan apabila dimohon dengannya, Dia memberi.” (Diriwayatkan oleh para penyusun Sunan)

Dalam Shalawat kepada Rasulullah

Dari Abu Mas‘ud al-Anshari رضي الله عنه: Rasulullah datang kepada kami saat kami berada di majelis Sa‘d bin ‘Ubadah. Basyir bin Sa‘d berkata: “Allah memerintahkan kami untuk bershalawat kepadamu, wahai Rasulullah. Bagaimana kami bershalawat kepadamu?” Beliau bersabda:

“Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

“Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kemuliaan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan rahmat kepada keluarga Nabi Ibrahim. Dan berikanlah keberkahan kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada keluarga Nabi Ibrahim di seluruh alam. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan (ucapkanlah) salam sebagaimana telah diajarkan kepada kalian.” (Diriwayatkan oleh enam imam kecuali al-Bukhari)

Dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه:
“Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah, maka perbaguslah shalawat, karena kalian tidak tahu, barangkali hal itu akan disampaikan kepada beliau.” Lalu beliau mengajarkan: “Ucapkanlah:

اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَىٰ سَيِّدِ الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، إِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُولِ الرَّحْمَةِ. اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ بِهِ الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ.اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.

“Ya Allah, jadikanlah shalawat dan rahmat-Mu tercurah kepada junjungan para rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa, dan penutup para nabi, yaitu Muhammad, hamba-Mu dan rasul-Mu, pemimpin dalam kebaikan, penuntun kepada kebaikan, dan utusan pembawa rahmat. Ya Allah, bangkitkanlah beliau pada kedudukan yang terpuji, yang membuat orang-orang terdahulu dan yang kemudian merasa iri (karena kemuliaannya). Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia.”  (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah sebagai mauquf dengan sanad hasan)

اللَّهُمَّ دَاحِيَ الْمَدْحُوَّاتِ، وَدَاعِمَ الْمَمْسُوكَاتِ، وَجَابِلَ الْقُلُوبِ عَلَىٰ فِطْرَتِهَا شَقِيِّهَا وَسَعِيدِهَا، اجْعَلْ شَرَائِفَ صَلَوَاتِكَ، وَنَوَامِيَ بَرَكَاتِكَ، عَلَىٰ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، الْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، وَالْفَاتِحِ لِمَا انْغَلَقَ، وَالْمُعْلِنِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ.

“Ya Allah, Yang membentangkan hamparan-hamparan (bumi), yang menegakkan yang ditegakkan, dan yang membentuk hati di atas fitrahnya—yang celaka dan yang bahagia—jadikanlah shalawat-Mu yang paling mulia dan keberkahan-Mu yang terus berkembang tercurah kepada Muhammad, hamba dan rasul-Mu, penutup dari apa yang telah berlalu, pembuka bagi apa yang tertutup, dan yang menampakkan kebenaran dengan kebenaran.” (Dinukil dari Nahj al-Balaghah)

Doa Rasulullah dalam Tahajud

Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما: apabila Rasulullah bangun pada malam hari untuk bertahajud, beliau berdoa:

اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيُّومُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَالِكُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ.

اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ، وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ.

“Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkaulah Yang menegakkan langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji. Engkaulah cahaya langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji. Engkaulah Pemilik langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji. Engkaulah Yang Maha Benar; janji-Mu benar; perjumpaan dengan-Mu benar; firman-Mu benar; surga benar; neraka benar; para nabi benar; Muhammad benar; dan hari kiamat benar.

Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri; kepada-Mu aku beriman; kepada-Mu aku bertawakal; kepada-Mu aku kembali; dengan-Mu aku berdebat; dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah aku atas apa yang telah aku dahulukan dan apa yang telah aku akhirkan, yang aku rahasiakan dan yang aku tampakkan, serta apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkaulah Yang mendahulukan dan Engkaulah Yang mengakhirkan. Tidak ada tuhan selain Engkau.” (Diriwayatkan oleh enam imam; lafaz ini milik al-Bukhari dan Muslim)

Munajat Amirul Mukminin ‘Ali رضي الله عنه

“Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Manshur bin Sukban at-Tustari, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin al-Hasan bin Ghurab, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Qadhi Musa bin Ishaq, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Muhammad bin Abi Syaibah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Fudhail ‘Abdullah al-Asadi, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dahulu berkata dalam munajatnya (doa dan bisikan hatinya kepada Allah):”:

إِلٰهِي: لَوْلَا مَا جَهِلْتُ مِنْ أَمْرِي، مَا شَكَوْتُ عَثَرَاتِي، وَلَوْلَا مَا ذَكَرْتُ مِنَ الْإِفْرَاطِ مَا سَحَتْ عَبَرَاتِي.

إِلٰهِي: فَامْحُ مُثْبِتَاتِ الْعَثَرَاتِ بِمُرْسَلَاتِ الْعَبَرَاتِ، وَهَبْ كَثِيرَ السَّيِّئَاتِ لِقَلِيلِ الْحَسَنَاتِ.

إِلٰهِي: إِنْ كُنْتَ لَا تَرْحَمُ إِلَّا الْمُجِدَّ فِي طَاعَتِكَ، فَأَنَّى يَلْتَجِئُ الْمُخْطِئُونَ؟ وَإِنْ كُنْتَ لَا تُكْرِمُ إِلَّا أَهْلَ الْإِحْسَانِ، فَأَنَّى يَصْنَعُ الْمُسِيئُونَ؟ وَإِنْ كَانَ لَا يَفُوزُ يَوْمَ الْحَشْرِ إِلَّا الْمُتَّقُونَ، فَكَيْفَ يَسْتَغِيثُ الْمُذْنِبُونَ؟

إِلٰهِي: أَفْحَمَتْنِي ذُنُوبِي، وَانْقَطَعَتْ مَقَالَتِي، فَلَا حُجَّةَ لِي وَلَا عُذْرَ، فَأَنَا الْمُقِرُّ بِجُرْمِي، وَالْمُعْتَرِفُ بِإِسَاءَتِي، وَالْأَسِيرُ بِذَنْبِي، الْمُرْتَهَنُ بِعَمَلِي.

إِلٰهِي: فَصَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، وَارْحَمْنِي بِرَحْمَتِكَ، وَتَجَاوَزْ عَنِّي. اللَّهُمَّ إِنْ صَغُرَ فِي جَنْبِ طَاعَتِكَ عَمَلِي، فَقَدْ كَبُرَ فِي جَنْبِ رَجَائِكَ أَمَلِي.

إِلٰهِي: كَيْفَ أَنْقَلِبُ بِالْخَيْبَةِ عِنْدَكَ مَحْرُومًا، وَظَنِّي بِجُودِكَ أَنْ تَقْبَلَنِي مَرْحُومًا؟ فَإِنِّي لَمْ أُسَلِّطْ عَلَىٰ حُسْنِ ظَنِّي بِكَ قُنُوطَ الْآيِسِينَ، فَلَا تُبْطِلْ صِدْقَ رَجَائِي لَكَ بَيْنَ الْآمِلِينَ.

إِلٰهِي: عَظُمَ جُرْمِي إِذْ كُنْتَ الْمُتَطَالِبَ بِهِ.

إِلٰهِي: إِنْ أَوْحَشَتْنِي الْخَطَايَا مِنْ مَحَاسِنِ لُطْفِكَ، فَقَدْ آنَسَنِي الْيَقِينُ بِمَكَارِمِ عَطْفِكَ.

إِلٰهِي: إِنْ أَمَاتَتْنِي الْغَفْلَةُ عَنْ الِاسْتِعْدَادِ لِلِقَائِكَ، فَقَدْ أَنْبَهَتْنِي الْمَعْرِفَةُ بِكَرِيمِ آلَائِكَ.

إِلٰهِي: لَوْ لَمْ تَهْدِنِي إِلَى الْإِسْلَامِ مَا اهْتَدَيْتُ، وَلَوْ لَمْ تُطْلِقْ لِسَانِي بِدُعَائِكَ مَا دَعَوْتُ، وَلَوْ لَمْ تُعَرِّفْنِي حَلَاوَةَ نِعْمَتِكَ مَا عَرَفْتُ، وَلَوْ لَمْ يَتَبَيَّنْ لِي شَدِيدُ عِقَابِكَ مَا اسْتَجَرْتُ.

إِلٰهِي: إِنْ أَقْعَدَنِي التَّخَلُّفُ عَنِ السَّيْرِ مَعَ الْأَبْرَارِ، فَقَدْ أَقَامَتْنِي الثِّقَةُ بِكَ عَلَىٰ مَدَارِجِ الْأَخْيَارِ.

إِلٰهِي: نَفْسِي أَعْزَزْتَهَا بِتَأْيِيدِ إِيمَانِكَ، كَيْفَ تُذِلُّهَا بَيْنَ أَطْبَاقِ نِيرَانِكَ؟

إِلٰهِي: كُلُّ مَكْرُوبٍ فَإِلَيْكَ يَلْتَجِئُ، وَكُلُّ مَحْزُونٍ فَإِلَيْكَ يَرْتَجِي.

إِلٰهِي: سَمِعَ الْعَابِدُونَ بِجَزِيلِ ثَوَابِكَ فَخَشَعُوا، وَسَمِعَ الْمُذْنِبُونَ بِسَعَةِ غُفْرَانِكَ فَطَمِعُوا، حَتَّىٰ ازْدَحَمَتْ عَصَائِبُ الْعُصَاةِ بِبَابِكَ، وَعَجَّ مِنْهُمْ إِلَيْكَ الْعَجِيجُ وَالضَّجِيجُ بِالدُّعَاءِ فِي بِلَادِكَ.

إِلٰهِي: أَنْتَ دَلَلْتَنِي عَلَىٰ سُؤَالِكَ الْجَنَّةَ قَبْلَ مَعْرِفَتِهَا، فَأَقْبَلَتِ النَّفْسُ بَعْدَ الْعِرْفَانِ عَلَىٰ مَسْأَلَتِهَا؛ أَفَتَدُلُّ عَلَىٰ خَيْرٍ بِالسُّؤَالِ ثُمَّ تَمْنَعُهُ؟ وَأَنْتَ الْكَرِيمُ الْمَحْمُودُ فِي كُلِّ مَا تَصْنَعُهُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.

إِلٰهِي: إِنْ كُنْتُ غَيْرَ مُسْتَأْهِلٍ لِمَا أَرْجُو مِنْ رَحْمَتِكَ، فَأَنْتَ أَهْلٌ أَنْ تَجُودَ عَلَى الْمُذْنِبِينَ بِفَضْلِ سَعَتِكَ.

إِلٰهِي: نَفْسِي قَائِمَةٌ بَيْنَ يَدَيْكَ، وَقَدْ أَظَلَّهَا حُسْنُ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، فَاصْنَعْ بِي مَا أَنْتَ أَهْلُهُ، وَتَغَمَّدْنِي بِرَحْمَةٍ مِنْكَ.

إِلٰهِي: شَهِدَ جَنَانِي بِتَوْحِيدِكَ، وَانْطَلَقَ لِسَانِي بِتَمْجِيدِكَ، وَدَلَّنِي الْقُرْآنُ عَلَىٰ فَضْلِ جُودِكَ، فَكَيْفَ لَا يَتَحَقَّقُ رَجَائِي بِحُسْنِ مَوْعِدِكَ؟

إِلٰهِي: كَأَنِّي بِنَفْسِي وَقَدِ اضْطَجَعَتْ فِي حُفْرَتِهَا، وَانْصَرَفَ عَنْهَا الْمُشَيِّعُونَ مِنْ عَشِيرَتِهَا، وَرَحِمَهَا الْمُعَادِي لَهَا فِي الْحَيَاةِ عِنْدَ صَرْعَتِهَا، وَلَمْ يَخْفَ عَلَى النَّاظِرِينَ إِلَيْهَا ذُلُّ فَاقَتِهَا؛ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: غَرِيبٌ نَأَىٰ عَنْهُ الْأَقْرَبُونَ، وَبَعِيدٌ جَفَاهُ الْأَهْلُونَ، وَخَذَلَهُ الْمُؤَمِّلُونَ، نَزَلَ بِنَا قَرِيبًا فَأَصْبَحَ فِي اللَّحْدِ غَرِيبًا.

وَقَدْ كُنْتُ فِي دَارِ الدُّنْيَا دَاعِيًا، وَرَحْمَتَكَ إِيَّايَ فِي هٰذَا الْيَوْمِ رَاجِيًا، فَأَحْسِنْ ضِيَافَتِي، وَكُنْ أَشْفَقَ عَلَيَّ مِنْ أَهْلِي وَقَرَابَتِي.

إِلٰهِي: سَتَرْتَ عَلَيَّ فِي الدُّنْيَا ذُنُوبًا فَلَمْ تُظْهِرْهَا، فَلَا تَفْضَحْنِي يَوْمَ أَلْقَاكَ عَلَىٰ رُءُوسِ الْعَالَمِينَ بِهَا، وَاسْتُرْهَا عَلَيَّ هُنَالِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.

إِلٰهِي: مَسْكَنَتِي لَا يَجْبُرُهَا إِلَّا عَطَاؤُكَ، وَأُمْنِيَّتِي لَا يَفِي بِهَا إِلَّا نَعْمَاؤُكَ.

إِلٰهِي: أَسْتَوْفِقُكَ لِمَا يُدْنِينِي مِنْكَ، وَأَعُوذُ بِكَ مِمَّا يَصْرِفُنِي عَنْكَ.

إِلٰهِي: أَحَبُّ الْأُمُورِ إِلَىٰ نَفْسِي وَأَعُودُهَا عَلَيَّ مَنْفَعَةً مَا اسْتَرْشَدْتُهَا بِهِدَايَتِكَ إِلَيْهِ، وَدَلَلْتَهَا بِرَحْمَتِكَ عَلَيْهِ، فَاسْتَعْمِلْهَا بِذٰلِكَ عَنِّي، إِذْ أَنْتَ أَرْحَمُ بِهَا مِنِّي.

يَا أَنِيسَ كُلِّ غَرِيبٍ، آنِسْ فِي الْقَبْرِ وَحْشَتِي، وَارْحَمْ وَحْدَتِي.

وَيَا عَالِمَ السِّرِّ وَالْأَخْفَىٰ، وَيَا كَاشِفَ الضُّرِّ وَالْبَلْوَىٰ، كَيْفَ نَظَرُكَ لِي مِنْ بَيْنِ سَاكِنِي الثَّرَىٰ؟ وَكَيْفَ صَنِيعُكَ لِي فِي دَارِ الْوَحْشَةِ وَالْبِلَىٰ؟

قَدْ كُنْتَ بِي لَطِيفًا فِي حَيَاتِي، فَلَا تَقْطَعْ بِرَّكَ عَنِّي بَعْدَ وَفَاتِي.

يَا أَفْضَلَ الْمُنْعِمِينَ فِي آلَائِهِ، وَأَكْرَمَ الْمُتَفَضِّلِينَ فِي نَعْمَائِهِ، كَثُرَتْ عِنْدِي أَيَادِيكَ، فَعَجَزْتُ عَنْ إِحْصَائِهَا، وَضِقْتُ ذَرْعًا فِي شُكْرِي لِلْمَسَائِلِ بِجَزَائِهَا؛ فَلَكَ الْحَمْدُ عَلَىٰ مَا أَوْلَيْتَ، وَلَكَ الشُّكْرُ عَلَىٰ مَا أَبْلَيْتَ.

يَا خَيْرَ مَنْ دَعَاهُ دَاعٍ، وَأَفْضَلَ مَنْ رَجَاهُ رَاجٍ، يَا حَنَّانُ يَا مَنَّانُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ، يَا مَنْ لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ، تَبَارَكْتَ يَا أَحْسَنَ الْخَالِقِينَ، يَا رَحِيمُ يَا قَدِيرُ يَا كَرِيمُ، صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَآلِهِ الطَّيِّبِينَ. آمِينَ.

 

Ya Tuhanku, seandainya bukan karena apa yang tidak kuketahui dari urusanku, niscaya aku tidak akan mengeluhkan tergelincirnya langkahku. Dan seandainya bukan karena aku mengingat kelalaianku yang berlebihan, niscaya air mataku tidak akan mengalir.

Ya Tuhanku, maka hapuslah catatan-catatanku yang penuh kesalahan dengan derasnya air mata penyesalan, dan anugerahkanlah ampunan atas banyaknya keburukanku dengan sedikitnya kebaikanku.

Ya Tuhanku, jika Engkau tidak merahmati kecuali orang yang bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada-Mu, lalu ke mana orang-orang yang bersalah akan berlindung? Jika Engkau tidak memuliakan kecuali orang-orang yang berbuat ihsan, lalu bagaimana nasib orang-orang yang berbuat dosa? Jika pada hari kebangkitan tidak ada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa, maka bagaimana orang-orang yang berdosa akan memohon pertolongan?

Ya Tuhanku, dosa-dosaku telah membungkamku dan ucapanku terputus; aku tidak memiliki hujjah dan tidak pula alasan. Aku mengakui dosaku, mengakui kesalahanku, tertawan oleh dosaku, dan tergadai oleh amalanku.

Ya Tuhanku, maka limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga Muhammad, rahmatilah aku dengan rahmat-Mu dan maafkanlah aku. Ya Allah, jika amalanku kecil di sisi ketaatan kepada-Mu, maka harapanku besar di sisi pengharapanku kepada-Mu.

Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku kembali dalam keadaan kecewa dan terhalang dari-Mu, sementara prasangkaku terhadap kemurahan-Mu adalah bahwa Engkau akan menerimaku dengan kasih sayang? Aku tidak membiarkan keputusasaan menguasai baik sangkaku kepada-Mu, maka jangan Engkau sia-siakan harapanku yang tulus kepada-Mu.

Ya Tuhanku, besar dosaku karena Engkaulah yang menuntut pertanggungjawabannya.

Ya Tuhanku, jika dosa-dosaku membuatku merasa asing dari kelembutan-Mu, maka keyakinanku akan kemurahan-Mu telah membuatku tenteram.

Ya Tuhanku, jika kelalaianku mematikan persiapanku untuk bertemu dengan-Mu, maka pengetahuanku akan nikmat-Mu telah menyadarkanku.

Ya Tuhanku, seandainya Engkau tidak memberiku petunjuk kepada Islam, niscaya aku tidak mendapat petunjuk. Seandainya Engkau tidak membebaskan lisanku untuk berdoa kepada-Mu, niscaya aku tidak akan berdoa. Seandainya Engkau tidak memperkenalkanku pada manisnya nikmat-Mu, niscaya aku tidak mengenalnya. Seandainya tidak dijelaskan kepadaku dahsyatnya siksa-Mu, niscaya aku tidak akan berlindung.

Ya Tuhanku, jika aku tertinggal dari perjalanan bersama orang-orang saleh, maka kepercayaanku kepada-Mu telah menegakkanku di tangga orang-orang pilihan.

Ya Tuhanku, Engkau telah memuliakan jiwaku dengan penguatan iman kepada-Mu; bagaimana Engkau akan menghinakannya di antara lapisan-lapisan api-Mu?

Ya Tuhanku, setiap orang yang tertimpa kesusahan berlindung kepada-Mu, dan setiap yang bersedih berharap kepada-Mu.

Ya Tuhanku, para ahli ibadah mendengar besarnya pahala dari-Mu lalu mereka khusyuk. Para pendosa mendengar luasnya ampunan-Mu lalu mereka berharap. Hingga berdesak-desakan kelompok para pendosa di pintu-Mu, dan terdengar dari mereka rintihan dan tangisan doa di negeri-Mu.

Ya Tuhanku, Engkau telah membimbingku untuk memohon surga kepada-Mu bahkan sebelum aku mengenalnya. Maka setelah aku mengenalnya, jiwaku pun menghadap untuk memintanya. Apakah Engkau menunjukkan kebaikan dengan memerintahkan untuk memohon, lalu Engkau menahannya? Padahal Engkau Maha Mulia lagi Maha Terpuji dalam segala yang Engkau lakukan, wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia.

Ya Tuhanku, jika aku tidak layak mendapatkan apa yang kuharapkan dari rahmat-Mu, maka Engkaulah yang layak bermurah hati kepada para pendosa dengan keluasan karunia-Mu.

Ya Tuhanku, jiwaku berdiri di hadapan-Mu, dan telah dinaungi oleh indahnya tawakal kepada-Mu. Maka perlakukanlah aku sesuai dengan kelayakan-Mu, dan selimutilah aku dengan rahmat dari sisi-Mu.

Ya Tuhanku, hatiku telah bersaksi atas keesaan-Mu, lisanku telah memuji dan mengagungkan-Mu, dan Al-Qur’an telah menuntunku kepada luasnya kemurahan-Mu. Maka bagaimana mungkin harapanku tidak terwujud dengan janji-Mu yang baik?

Ya Tuhanku, seakan-akan aku melihat diriku telah berbaring di liang kuburku, para pengantar telah kembali meninggalkanku dari keluargaku, bahkan musuhku dalam hidup merasa iba saat kematianku. Orang-orang yang memandangku menyaksikan kehinaan dan kefakiranku. Para malaikat berkata: “Ia seorang asing, yang ditinggalkan kerabatnya; jauh, dijauhi keluarganya; yang diharapkan telah mengecewakannya. Ia datang kepada kami dahulu dekat, kini ia di liang lahat menjadi asing.”

Padahal dahulu di dunia aku berdoa kepada-Mu, dan aku berharap rahmat-Mu pada hari ini. Maka muliakanlah jamuanku (di alam kubur), dan jadilah Engkau lebih penyayang kepadaku daripada keluarga dan kerabatku.

Ya Tuhanku, Engkau telah menutup dosa-dosaku di dunia dan tidak menampakkannya. Maka jangan Engkau buka aibku pada hari aku bertemu dengan-Mu di hadapan seluruh manusia. Tutupilah itu untukku di sana, wahai Yang Maha Pengasih di antara para pengasih.

Ya Tuhanku, kefakiranku tidak ada yang dapat memperbaikinya selain pemberian-Mu, dan harapanku tidak akan terpenuhi kecuali dengan nikmat-Mu.

Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu taufik atas segala yang mendekatkanku kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari segala yang menjauhkanku dari-Mu.

Ya Tuhanku, perkara yang paling kucintai dan paling bermanfaat bagiku adalah apa yang Engkau bimbing aku kepadanya dengan petunjuk-Mu, dan Engkau tunjukkan dengan rahmat-Mu. Maka gunakanlah aku untuk itu, karena Engkau lebih menyayangi jiwaku daripada diriku sendiri.

Wahai Penghibur setiap orang asing, hiburkanlah kesepianku di dalam kubur dan kasihanilah kesendirianku.

Wahai Yang Maha Mengetahui rahasia dan yang lebih tersembunyi, wahai Penghilang kesulitan dan ujian, bagaimana pandangan-Mu kepadaku di antara para penghuni tanah? Dan bagaimana perlakuan-Mu kepadaku di negeri kesepian dan kehancuran?

Engkau dahulu Maha Lembut kepadaku semasa hidupku, maka jangan Engkau putuskan kebaikan-Mu dariku setelah kematianku.

Wahai sebaik-baik Pemberi nikmat dalam segala anugerah-Nya, wahai semulia-mulia Yang Maha Pemurah dalam segala karunia-Nya. Begitu banyak nikmat-Mu kepadaku hingga aku tak mampu menghitungnya, dan aku sempit dalam mensyukuri balasannya. Maka bagi-Mu segala puji atas apa yang Engkau anugerahkan, dan bagi-Mu segala syukur atas apa yang Engkau karuniakan.

Wahai sebaik-baik tempat berdoa bagi yang berdoa, wahai seutama-utama tempat berharap bagi yang berharap. Wahai Maha Pengasih, wahai Maha Pemberi, wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Wahai Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri. Wahai Yang memiliki penciptaan dan urusan. Maha Suci Engkau, sebaik-baik Pencipta. Wahai Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Mulia. Limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga beliau yang suci.

Amin.

(Diringkas dari kitab Latha’if Akhbar al-Aal)

Dari Munajat Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari

(Imam syahid—dalam sebuah konferensi di al-Azhar)

“Ya Tuhanku, bagaimana mungkin Engkau menyerahkanku kepada diriku sendiri, padahal Engkau telah menjamin urusanku? Bagaimana aku dapat terzalimi sementara Engkau penolongku? Atau bagaimana aku akan kecewa sementara Engkau penjagaku? Inilah aku bertawassul kepada-Mu dengan kefakiranku kepada-Mu.

Ya Tuhanku, setiap kali kehinaanku membuatku kelu, kemuliaan-Mu membuatku mampu berkata. Setiap kali sifat-sifatku membuatku putus asa, karunia-karunia-Mu kembali menumbuhkan harapanku. Siapa yang kebaikannya saja adalah keburukan, bagaimana mungkin keburukannya tidak menjadi keburukan? Siapa yang hakikatnya hanya pengakuan, bagaimana mungkin pengakuannya tidak sekadar pengakuan?

Kapan Engkau pernah ghaib sehingga membutuhkan dalil yang menunjukkan kepada-Mu? Kapan Engkau pernah jauh sehingga jejak-jejak (makhluk) yang mengantarkan kepada-Mu? Butalah mata yang tidak melihat Engkau sebagai Pengawasnya; rugilah perdagangan seorang hamba yang tidak menjadikan baginya bagian dari cinta kepada-Mu.

Ya Tuhanku, kehinaanku tampak nyata di hadapan-Mu; keadaanku tidak tersembunyi bagi-Mu. Dari-Mu aku memohon sampai kepada-Mu; dengan-Mu aku beristidlal menuju-Mu. Tunjukilah aku kepada-Mu dengan cahaya-Mu, dan tegakkan aku di hadapan-Mu dengan kejujuran penghambaan.

Ya Tuhanku, ajarkanlah aku dari ilmu-Mu yang tersimpan; lindungilah aku dengan rahasia nama-Mu yang terpelihara. Dengan-Mu aku menang, maka menangkanlah aku. Kepada-Mu aku bertawakal, maka jangan Engkau serahkan aku (kepada diriku). Kepada-Mu aku memohon, maka jangan Engkau mengecewakanku. Dalam karunia-Mu aku berharap, maka jangan Engkau haramkan aku. Kepada kemuliaan hadirat-Mu aku menisbatkan diri, maka jangan Engkau jauhkan aku. Di pintu-Mu aku berdiri, maka jangan Engkau usir aku.

Ya Tuhanku, Maha Suci keridaan-Mu dari memiliki sebab yang datang dari-Mu; bagaimana mungkin keridaan itu memiliki sebab dariku? Engkau Mahakaya dengan Dzat-Mu dari kemungkinan adanya manfaat yang sampai kepada-Mu; maka bagaimana mungkin Engkau tidak Mahakaya dariku?

Engkaulah yang menerbitkan cahaya dalam hati para wali-Mu hingga mereka mengenal-Mu dan menemukan-Mu. Engkaulah yang menyingkirkan segala selain-Mu dari hati kekasih-kekasih-Mu hingga mereka tidak mencintai selain-Mu dan tidak berlindung kepada selain-Mu. Engkaulah yang menghibur mereka ketika sebab-sebab membuat mereka merasa asing, dan Engkaulah yang memberi petunjuk kepada mereka hingga jelas bagi mereka jalan-jalan (menuju-Mu).

Maka siapa yang menemukan-Mu—apa yang ia kehilangan? Dan siapa yang kehilangan-Mu—apa yang ia dapatkan? Sungguh rugi orang yang ridha dengan pengganti selain Engkau, dan sungguh merugi orang yang mencari perpindahan dari Engkau.

Ya Tuhanku, bagaimana mungkin berharap kepada selain-Mu, sedangkan Engkau tidak pernah memutuskan kebaikan? Bagaimana mungkin meminta kepada selain-Mu, sedangkan Engkau tidak pernah mengubah kebiasaan kemurahan?

Wahai Dzat yang mengecapkan kepada kekasih-kekasih-Nya manisnya keakraban dengan-Nya sehingga mereka berdiri di hadapan-Nya dengan penuh merendah. Wahai Dzat yang mengenakan kepada para wali-Nya pakaian kewibawaan-Nya sehingga mereka berdiri dengan kemuliaan-Nya dalam keadaan mulia.

Engkaulah yang mengingat sebelum orang-orang mengingat. Engkaulah yang memulai kebaikan sebelum para ahli ibadah menghadap. Engkaulah yang memberi sebelum para peminta meminta. Dan Engkaulah Yang Maha Pemberi; lalu Engkau pula yang menampakkan (kedermawanan) ketika Engkau telah memberi kami.

Ya Tuhanku, carilah aku dengan rahmat-Mu hingga aku sampai kepada-Mu; dan tariklah aku dengan karunia-Mu hingga aku kembali kepada-Mu. Ya Tuhanku, harapanku tidak pernah terputus dari-Mu meskipun aku bermaksiat kepada-Mu, sebagaimana takutku tidak pernah menyertaiku meskipun aku taat kepada-Mu.

Ya Tuhanku, berbagai keadaan telah mendorongku kepada-Mu, dan pengetahuanku tentang kemurahan-Mu telah menegakkanku di hadapan-Mu. Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku kecewa sementara Engkau harapanku? Bagaimana mungkin aku terhina sementara kepada-Mu aku bersandar?

Wahai Dzat yang tertutup dalam tabir kemuliaan-Nya hingga penglihatan tidak mampu menjangkau-Nya; wahai Dzat yang menampakkan diri dengan kesempurnaan keindahan-Nya hingga rahasia-rahasia menjadi nyata—bagaimana mungkin (Engkau tertutup) padahal Engkaulah Yang Maha Tampak? Dan bagaimana mungkin Engkau ghaib padahal Engkaulah Pengawas yang hadir?”

(Selesai, dengan penyesuaian redaksi.)

Dari Doa-doa Sayyid Ahmad ar-Rifa‘i

“Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kami Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, pelapang kesusahan, penghilang kesedihan, pengabul doa orang-orang yang terpaksa; Yang Maha Pengasih di dunia dan akhirat serta Maha Penyayang keduanya. Engkau merahmati kami dengan rahmat yang mencukupkan kami dari rahmat selain-Mu. Tiada tuhan selain Engkau, wahai Tuhan segala sesuatu. Mahasuci Engkau, tiada tuhan selain Engkau. Wahai Pewaris segala sesuatu, Wahai Yang Maha Hidup, Maha Berdiri Sendiri, Pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Penyayang di antara para penyayang…

Kami memohon kepada-Mu tawakal yang murni kepada-Mu, kembali kepada-Mu dalam segala keadaan, bersandar pada karunia-Mu, dan berpaut pada pintu-Mu. Wahai Yang mengetahui rahasia dan bisikan, wahai Yang menyingkap mudarat dan bencana; wahai Dzat yang kepadanya hati orang-orang yang terdesak merendah dan kepadanya tekad orang-orang yang butuh bergantung.

Kami memohon kepada-Mu—Ya Allah—dengan ikatan-ikatan kemuliaan dari ‘Arsy-Mu, dengan puncak rahmat dari kitab-Mu, dengan nama-Mu Yang Mahatinggi lagi Mahaagung, dengan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna yang tidak dapat dilampaui oleh orang baik maupun fasik, dan dengan pancaran wajah-Mu: agar Engkau bershalawat atas junjungan kami Muhammad, keluarga, sahabat, serta keturunannya; dan agar Engkau meliputi kami dengan kelembutan-kelamutan-Mu yang tersembunyi, hingga kami berselimut pakaian keamanan dari guncangan zaman, keterikatan alam, rasa terhalang (dari karunia), sebab-sebab kegagalan, tipu daya setan, buruknya niat, dan gelapnya dosa.

Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku hati yang tidak berpaling dalam cita-citanya kecuali kepada-Mu; akal yang tidak bersandar dalam keadaannya kecuali kepada-Mu. Bolak-balikkanlah aku di atas hamparan ma‘rifat dengan kekuatan tauhid dan keyakinan. Kuatkan aku untuk-Mu dengan apa yang Engkau kuatkan para hamba saleh-Mu dengannya.

Ya Allah, tuntunlah aku menempuh jalan Nabi-Mu yang terpilih, pemimpin para kekasih yang didekatkan. Ilhamkanlah kepadaku untuk mensyukuri nikmat-Mu dengan mengikutinya dalam jalan kebenaran dan kelurusan. Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, amal yang tidak terangkat, hati yang tidak khusyuk, dan doa yang tidak didengar.

‘Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari sisi-Mu dan siapkanlah bagi kami petunjuk dalam urusan kami.’

Ya Allah, wujudkanlah aku pada hakikat “ash-shiddiqiyyah”, dan kecapkan kepadaku manisnya keyakinan dengan kejujuran niat dan kemurnian batin. Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri dan kepada seorang pun dari makhluk-Mu walau sekejap mata—wahai Yang Maha Penyayang. Tidak ada daya dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Salam bagi para rasul, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”

(Diambil dari Hizb al-Wasilah, dengan penyesuaian redaksi.)

Dari Doa-doa Sayyid Ahmad bin Idris

“Ya Allah, Engkaulah Allah, Raja Yang Benar lagi Maha Nyata; Yang Mahadulu, Yang Mahamulia dengan keagungan dan kebesaran; Yang Mahasendiri dalam kekekalan; Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri; Yang Mahakuasa, Mahaperkasa, Mahamenundukkan; tiada tuhan selain Engkau. Tuhanku, dan aku hamba-Mu. Aku telah berbuat buruk dan menzalimi diriku, dan aku mengakui dosaku; maka ampunilah seluruh dosaku, karena tidak ada yang mengampuni dosa selain Engkau.

Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhanku dan Tuhan segala sesuatu; Pencipta langit dan bumi; Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak; Yang Mahatinggi, Mahabesar, Mahamulya.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan, tekad di atas petunjuk, syukur atas nikmat-nikmat-Mu, dan baiknya ibadah kepada-Mu. Aku memohon kepada-Mu kebaikan dari segala yang Engkau ketahui, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala yang Engkau ketahui. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui perkara gaib.”

Dari Doa-doa Abu al-Hasan asy-Syadzili

“Ya Allah, wahai Yang Maha Lembut, Maha Pemberi rezeki, Maha Kuat, Maha Perkasa; milik-Mu kunci-kunci langit dan bumi. Engkau melapangkan rezeki bagi siapa yang Engkau kehendaki dan menyempitkannya. Maka lapangkanlah untuk kami rezeki yang dengannya Engkau menyampaikan kami kepada rahmat-Mu; dan dari rahmat-Mu sesuatu yang dengannya Engkau halangi kami dari murka-Mu; dan dari kelembutan-Mu sesuatu yang meluaskan bagi kami ampunan-Mu.

Akhirilah untuk kami dengan kebahagiaan yang Engkau akhiri dengannya bagi para wali-Mu. Jadikan hari terbaik dan paling bahagia bagi kami adalah hari perjumpaan dengan-Mu. Jauhkan kami di dunia dari api syahwat, masukkan kami dengan karunia-Mu ke lapangan-lapangan rahmat, pakaikan kepada kami dari cahaya-Mu jubah penjagaan, dan jadikan bagi kami penolong dari akal-akal kami, pengawas dari ruh-ruh kami, dan penunduk dari nafsu kami agar kami banyak bertasbih dan banyak berzikir kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha Melihat kami.

Ya Allah, aku memohon kepada-Mu lisan yang basah dengan zikir kepada-Mu, hati yang penuh dengan syukur kepada-Mu, tubuh yang tenang dan lunak dalam ketaatan kepada-Mu. Dan karuniakanlah kepada kami, di samping itu, apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak pernah terlintas dalam hati manusia—sebagaimana diberitakan oleh Rasul-Mu—sesuai dengan ilmu-Mu. Kayakanlah kami tanpa sebab, dan jadikan kami sebab kekayaan bagi wali-wali-Mu; jadikan kami penghubung antara mereka dan musuh-musuh-Mu. Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.

Ya Allah, kami memohon kepada-Mu iman yang sempurna, hati yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar, agama yang lurus, dan keselamatan dari setiap cobaan; serta kecukupan yang sempurna dari manusia. Ridha-kanlah kami dengan ketetapan-Mu, sabarkanlah kami dalam ketaatan kepada-Mu, menjauhi maksiat kepada-Mu, dan dari syahwat-syahwat yang menyebabkan rusak atau jauh dari-Mu.

Anugerahkan kepada kami hakikat iman kepada-Mu hingga kami tidak takut dan tidak berharap kecuali kepada-Mu, tidak menyembah selain Engkau. Ilhamkan kepada kami syukur atas nikmat-nikmat-Mu, selimuti kami dengan pakaian keselamatan-Mu, tolonglah kami dengan keyakinan dan tawakal kepada-Mu, terangkan wajah-wajah kami dengan cahaya sifat-sifat-Mu, gembirakan dan kabarkanlah kami pada hari kiamat bersama para wali-Mu. Bentangkanlah tangan (perlindungan dan karunia)-Mu atas kami, keluarga kami, anak-anak kami, dan siapa pun yang bersama kami dengan rahmat-Mu. Jangan Engkau serahkan kami kepada diri kami walau sekejap mata atau kurang dari itu. Wahai sebaik-baik Pengabul doa. Shalawat atas junjungan kami Nabi Muhammad yang mulia, beserta keluarga dan para sahabatnya seluruhnya.”

(Diambil dari Hizb al-Barr, dengan penyesuaian redaksi.)

Dari Doa Imam asy-Syafi‘i رحمه الله

أَعُوذُ بِكَ مِنْ مَقَامِ الْكَافِرِينَ، وَإِعْرَاضِ الْغَافِلِينَ.
اللَّهُمَّ لَكَ خَضَعَتْ نُفُوسُ الْعَارِفِينَ، وَدَنَتْ لَكَ رِقَابُ الْمُشْتَاقِينَ.
إِلٰهِي هَبْ لِي جُودَكَ، وَجَلِّلْنِي بِسِتْرٍ، وَاعْفُ عَنْ تَقْصِيرِي بِكَرَمِ وَجْهِكَ.

“Aku berlindung kepada-Mu dari kedudukan orang-orang kafir dan dari berpalingnya orang-orang yang lalai. Ya Allah, kepada-Mu tunduk jiwa-jiwa orang-orang arif, dan kepada-Mu merunduk leher-leher orang-orang yang rindu.

Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kemurahan-Mu, selimuti aku dengan tirai (perlindungan)-Mu, dan maafkan kekuranganku dengan kemuliaan wajah-Mu.”

(Dinukil dari Ihya’ ‘Ulum ad-Din.)

Contoh Doa dari Hadis-hadis Nabi

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه: Rasulullah berdoa:

اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي، وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ، وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ.

“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan penjaga urusanku; perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya tempat kehidupanku; dan perbaikilah untukku akhiratku yang kepadanya tempat kembaliku. Jadikan hidup sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan jadikan kematian sebagai istirahat bagiku dari setiap keburukan.” (Diriwayatkan oleh مسلم)

Dari Anas رضي الله عنه: doa yang paling sering dibaca Nabi adalah:

اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.

“Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan Abu Dawud)

Dari ‘Ali رضي الله عنه: Nabi mengajarkan kepada sebagian sahabatnya:

اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ

“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku tidak membutuhkan yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari selain-Mu.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Dari Abu Hurairah رضي الله عنه: Rasulullah bersabda: “Berlindunglah kepada Allah dari beratnya cobaan, mengejarinya kesengsaraan, buruknya ketetapan, dan kegembiraan musuh (atas musibah kita).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i)

Dari ‘Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنهما: Rasulullah berdoa:

اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ لَا يُسْمَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، أَعُوذُ بِكَ مِنْ هَؤُلَاءِ الْأَرْبَعِ

“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak khusyuk, doa yang tidak didengar, jiwa yang tidak pernah puas, dan ilmu yang tidak bermanfaat. Aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara ini.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)

Dari Syaddad bin Aus رضي الله عنه: Rasulullah berdoa:

يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ، وَالْعَزِيمَةَ فِي الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا سَلِيمًا، وَخُلُقًا مُسْتَقِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَأَسْأَلُكَ مِنْ خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ لِمَا تَعْلَمُ؛ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan, tekad di atas petunjuk; aku memohon kepada-Mu hati yang khusyuk lagi bersih, akhlak yang lurus, lisan yang jujur, amal yang diterima. Aku memohon kepada-Mu kebaikan dari segala yang Engkau ketahui, dan aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala yang Engkau ketahui. Aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang Engkau ketahui; sesungguhnya Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan Engkaulah Yang Maha Mengetahui perkara gaib.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)

Dari Mu‘adz رضي الله عنه: Rasulullah berdoa:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الطَّيِّبَاتِ، وَفِعْلَ الْخَيْرَاتِ، وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ.
أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ أَحَبَّكَ، وَحُبَّ كُلِّ عَمَلٍ يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ، وَأَنْ تَتُوبَ عَلَيَّ، وَتَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي.
وَإِذَا أَرَدْتَ بِقَوْمٍ فِتْنَةً، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ مَفْتُونٍ.

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan, melakukan kebajikan, meninggalkan kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Aku memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta setiap amal yang mendekatkan kepada cinta-Mu. Berilah aku tobat, ampunilah aku, dan rahmatilah aku. Jika Engkau menghendaki fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ath-Thabrani)

Dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه:

اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا لَا يَنْفَدُ، وَقُرَّةَ عَيْنِ الْأَبَدِ، وَمُرَافَقَةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ فِي جَنَّةِ الْخُلْدِ

“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang tidak kembali murtad, kenikmatan yang tidak habis, penyejuk mata yang abadi, dan kebersamaan dengan Nabi-Mu Muhammad di surga yang kekal.”

Penutup

Wahai saudaraku, mohonlah pertolongan kepada Tuhanmu, hadirkan hatimu, angkatlah kebutuhanmu kepada Allah. Akhiri dengan shalawat dan salam kepada Nabi dan keluarganya. Dan jadikanlah akhir ucapanmu—agar engkau menakar dengan takaran yang paling sempurna—firman Allah:

“Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang mempunyai kemuliaan, dari apa yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan atas para rasul. Dan segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam.”

Hamba yang fakir kepada Allah,
Hasan al-Banna

No comments:

Post a Comment

Daud AS dan Thalut