Pendahuluan
Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang
“Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku
kabulkan untukmu.”
Segala puji bagi Allah, Tuhan semesta alam. Shalawat dan
salam semoga tercurah kepada junjungan kita Nabi Muhammad, imam orang-orang
yang bertakwa, beserta keluarga, para sahabatnya, dan siapa saja yang mengikuti
petunjuknya serta menyeru dengan dakwahnya hingga hari kiamat. Amma ba‘du:
Karena telah menjadi salah satu kebiasaan (wirid) Ikhwanul
Muslimin untuk berkumpul pada suatu malam dalam setiap pekan dalam suasana
saling mengenal, mempererat persaudaraan, berzikir, dan berdoa, maka aku ingin
menyampaikan kepada mereka risalah singkat ini tentang keutamaan qiyamullail,
doa, istighfar, dan amalan-amalan sejenisnya.
Di dalamnya juga terdapat beberapa doa ma’tsur yang dipilih,
kiranya dapat menjadi pengingat akan adab-adab yang diajarkan sunnah serta
bimbingan mengenai tata cara yang dianjurkan. Aku tidak bermaksud untuk
menghimpun semuanya secara lengkap dan menyeluruh, melainkan sekadar
mengingatkan dan memberi contoh. Hubungan antara seorang hamba dan Tuhannya
lebih halus dan mendalam daripada dapat dibatasi oleh sebuah kitab.
Kepada Allah aku memohon untuk diriku dan untuk mereka
kesempurnaan keikhlasan, petunjuk yang baik, serta taufik. Semoga Allah
melimpahkan shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi Muhammad, beserta
keluarga dan para sahabatnya.
Keutamaan Qiyamullail dan Waktu Sahur
Wahai saudaraku, mungkin saat paling indah untuk bermunajat
adalah ketika engkau menyendiri bersama Tuhanmu, sementara manusia terlelap dan
orang-orang yang lalai tertidur; ketika alam semesta hening, malam
membentangkan tirainya, dan bintang-bintang pun tenggelam.
Pada saat itu engkau menghadirkan hatimu, mengingat Tuhanmu,
menyadari kelemahan dirimu dan keagungan Pelindungmu. Engkau merasakan
keakraban di hadirat-Nya, hatimu menjadi tenteram dengan mengingat-Nya,
bergembira dengan karunia dan rahmat-Nya, menangis karena takut kepada-Nya,
serta merasakan pengawasan-Nya.
Engkau pun bersungguh-sungguh dalam berdoa, tekun dalam
memohon ampun, menyampaikan segala kebutuhanmu kepada Dzat yang tidak
melemahkan-Nya sesuatu pun dan tidak disibukkan oleh satu urusan dari urusan
lainnya. Perintah-Nya apabila menghendaki sesuatu hanyalah berkata: “Jadilah,”
maka jadilah ia.
Mintalah kepada-Nya untuk urusan duniamu dan akhiratmu,
untuk jihad dan dakwahmu, untuk cita-cita dan harapanmu, untuk negerimu dan
keluargamu, untuk dirimu dan saudara-saudaramu. Dan kemenangan itu tidak lain
hanyalah dari Allah Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.
Karena itu, wahai saudaraku, banyak ayat Al-Qur’an dan hadis
mutawatir yang menyebutkan keutamaan saat-saat ini, memuliakan waktu-waktu
tersebut, serta menganjurkan hamba-hamba yang saleh agar memanfaatkan pahala
ketaatan di dalamnya. Oleh sebab itu pula, para salaf saleh sangat menjaga agar
tidak kehilangan keutamaan agung ini. Pada saat-saat tersebut mereka bertaubat,
beribadah, memuji Allah, berzikir, rukuk, dan sujud; mereka mencari karunia dan
keridaan-Nya, bertambah keyakinan dan iman, serta memohon karunia kepada
Allah—Dzat yang paling mulia untuk diminta dan sebaik-baik tempat berharap.
Di antara ayat-ayat Al-Qur’an yang menunjukkan hal itu
adalah firman Allah Ta‘ala:
- “Di
antara Ahli Kitab ada golongan yang lurus; mereka membaca ayat-ayat Allah
pada beberapa waktu di malam hari, sedang mereka juga bersujud. Mereka
beriman kepada Allah dan hari akhir, menyuruh kepada yang makruf dan
mencegah dari yang mungkar, serta bersegera dalam berbagai kebajikan;
mereka termasuk orang-orang saleh. Dan apa saja kebajikan yang mereka
kerjakan, maka sekali-kali mereka tidak akan diingkari (pahalanya), dan
Allah Maha Mengetahui orang-orang yang bertakwa.” (Ali ‘Imran: 113–115)
- “Bagi
orang-orang yang bertakwa di sisi Tuhan mereka ada surga-surga yang
mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya; dan
pasangan-pasangan yang disucikan serta keridaan dari Allah. Allah Maha
Melihat hamba-hamba-Nya, (yaitu) orang-orang yang berkata: ‘Ya Tuhan kami,
sesungguhnya kami telah beriman, maka ampunilah dosa-dosa kami dan
lindungilah kami dari azab neraka.’ (Mereka adalah) orang-orang yang
sabar, benar, taat, menafkahkan hartanya, dan memohon ampun pada waktu
sahur.” (Ali ‘Imran: 15–17)
- “Dirikanlah
shalat dari sesudah matahari tergelincir sampai gelap malam dan (dirikan
pula) shalat Subuh. Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan (oleh
malaikat). Dan pada sebagian malam hari bertahajudlah sebagai ibadah
tambahan bagimu; mudah-mudahan Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang
terpuji.” (Al-Isra’: 78–79)
- “Dan
hamba-hamba Tuhan Yang Maha Pengasih itu adalah orang-orang yang berjalan
di bumi dengan rendah hati, dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka,
mereka mengucapkan kata-kata yang baik. Dan orang-orang yang melalui malam
hari dengan bersujud dan berdiri untuk Tuhan mereka.” (Al-Furqan: 63–64)
- “Sesungguhnya
yang beriman kepada ayat-ayat Kami hanyalah orang-orang yang apabila
diperingatkan dengannya mereka menyungkur bersujud, bertasbih memuji Tuhan
mereka, dan tidak menyombongkan diri. Lambung mereka jauh dari tempat
tidurnya; mereka berdoa kepada Tuhan mereka dengan rasa takut dan harap,
dan mereka menafkahkan sebagian dari rezeki yang Kami berikan kepada
mereka. Maka tidak seorang pun mengetahui apa yang disembunyikan untuk
mereka sebagai penyejuk mata sebagai balasan atas apa yang telah mereka
kerjakan.” (As-Sajdah: 15–17)
- “(Apakah
kamu hai orang musyrik yang lebih beruntung) ataukah orang yang beribadah
pada waktu malam dengan sujud dan berdiri, ia takut kepada akhirat dan
mengharapkan rahmat Tuhannya? Katakanlah: ‘Apakah sama orang-orang yang
mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?’ Sesungguhnya hanya
orang-orang yang berakal yang dapat mengambil pelajaran.” (Az-Zumar: 9)
- “Sesungguhnya
orang-orang yang bertakwa berada dalam surga dan mata air; mereka menerima
apa yang diberikan Tuhan kepada mereka. Sesungguhnya mereka sebelum itu
adalah orang-orang yang berbuat baik. Mereka sedikit sekali tidur pada
waktu malam, dan pada waktu sahur mereka memohon ampun.” (Adz-Dzariyat:
15–18)
- “Dan
bersabarlah dalam menunggu ketetapan Tuhanmu, maka sesungguhnya engkau
berada dalam pengawasan Kami; dan bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu
ketika engkau bangun. Dan pada sebagian malam hari bertasbihlah kepada-Nya
dan pada waktu terbenamnya bintang-bintang.” (Ath-Thur: 48–49)
- “Wahai
orang yang berselimut, bangunlah (untuk shalat) pada malam hari kecuali
sedikit; (yaitu) separuhnya atau kurangilah sedikit dari itu, atau
lebihkan atasnya dan bacalah Al-Qur’an dengan tartil. Sesungguhnya Kami
akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat. Sesungguhnya bangun di
waktu malam itu lebih kuat (mengisi jiwa) dan lebih tepat bacaan.”
(Al-Muzzammil: 1–6)
- “Sesungguhnya
Tuhanmu mengetahui bahwa engkau berdiri (shalat) kurang dari dua pertiga
malam, atau separuhnya atau sepertiganya, dan (demikian pula) segolongan
dari orang-orang yang bersamamu. Allah menetapkan ukuran malam dan siang.
Dia mengetahui bahwa kamu tidak dapat menghitungnya, maka Dia memberi
keringanan kepadamu. Karena itu bacalah apa yang mudah (bagimu) dari
Al-Qur’an.” (Al-Muzzammil: 20)
- “Sesungguhnya
Kami telah menurunkan Al-Qur’an kepadamu secara berangsur-angsur. Maka
bersabarlah terhadap ketetapan Tuhanmu dan janganlah engkau mengikuti
orang yang berdosa dan orang yang kafir di antara mereka. Dan sebutlah
nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang. Dan pada sebagian malam hari
bersujudlah kepada-Nya dan bertasbihlah kepada-Nya pada malam yang
panjang.” (Al-Insan: 23–26)
Di antara Hadis-Hadis Nabi ﷺ
- Dari
Abu Hurairah رضي
الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tuhan kita Tabaraka wa Ta‘ala turun setiap malam ke langit dunia ketika tersisa sepertiga malam terakhir. Dia berfirman: Siapa yang berdoa kepada-Ku, maka Aku kabulkan; siapa yang meminta kepada-Ku, maka Aku beri; siapa yang memohon ampun kepada-Ku, maka Aku ampuni.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Malik, Muslim, at-Tirmidzi, dan lainnya).
Dalam riwayat Muslim:
“Sesungguhnya Allah menangguhkan hingga berlalu sepertiga pertama malam, lalu
Dia turun ke langit dunia dan berfirman: Akulah Raja, siapa yang berdoa
kepada-Ku…”
- Dari
‘Amr bin ‘Abasah رضي
الله عنه, bahwa ia mendengar Rasulullah ﷺ bersabda:
“Saat paling dekat antara seorang hamba dengan Rabbnya adalah di tengah malam. Jika engkau mampu menjadi orang yang mengingat Allah pada saat itu, maka lakukanlah.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi—lafaz ini miliknya—dan ia berkata: hadis hasan sahih; al-Hakim mensahihkannya sesuai syarat Muslim). - Dari
Abu Umamah رضي
الله عنه, ketika ditanya: “Wahai Rasulullah, doa manakah yang
paling didengar (dikabulkan)?” Beliau menjawab:
“(Doa pada) sepertiga malam terakhir dan setelah shalat-shalat wajib.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan ia berkata: hadis hasan sahih). - Dari
Bilal رضي
الله عنه, bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hendaklah kalian melaksanakan qiyamullail, karena itu adalah kebiasaan orang-orang saleh sebelum kalian, pendekatan diri kepada Allah, pencegah dari dosa, penghapus kesalahan, dan penolak penyakit dari tubuh.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi). - Dari
al-Mughirah bin Syu‘bah رضي
الله عنه, ia berkata: Nabi ﷺ berdiri (shalat
malam) hingga kedua kakinya bengkak. Lalu dikatakan kepada beliau:
“Bukankah Allah telah mengampuni dosa-dosamu yang telah lalu dan yang akan
datang?” Beliau menjawab:
“Tidakkah aku ingin menjadi hamba yang bersyukur?”
(Diriwayatkan oleh lima imam selain Abu Dawud). - Dari
‘Aisyah رضي
الله عنها, ia berkata:
“Rasulullah ﷺ tidak pernah meninggalkan qiyamullail. Jika beliau sakit atau merasa berat, beliau shalat sambil duduk.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud). - Dari
Ibnu Mas‘ud رضي
الله عنه, disebutkan di hadapan Nabi ﷺ seorang lelaki
yang tidur hingga pagi dan tidak bangun untuk shalat. Beliau bersabda:
“Itu adalah orang yang setan telah kencing di telinganya.”
(Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan an-Nasa’i). - Dalam
hadis Ibnu ‘Umar رضي
الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik lelaki adalah ‘Abdullah (bin ‘Umar) jika ia melaksanakan shalat malam.”
Sejak itu ia senantiasa melaksanakan qiyamullail. Nafi‘ berkata:
“Ia biasa shalat malam dan berkata: ‘Wahai Nafi‘, apakah kita sudah masuk waktu sahur?’ Aku menjawab: ‘Belum.’ Lalu ia bertanya lagi hingga aku menjawab: ‘Ya.’ Maka ia duduk dan beristighfar kepada Allah hingga terbit fajar.”
(Makna “as-harna”: telah masuk waktu sahur; tampaknya ini terjadi setelah beliau lanjut usia dan penglihatannya melemah). - Dari
Abu Hurairah رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik shalat setelah shalat wajib adalah qiyamullail.”
(Diriwayatkan oleh Muslim). - Dari
‘Abdullah bin ‘Amr bin al-‘Ash رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa berdiri (shalat malam) dengan membaca sepuluh ayat, ia tidak dicatat sebagai orang yang lalai; barang siapa membaca seratus ayat, ia dicatat sebagai orang yang taat; dan barang siapa membaca seribu ayat, ia dicatat sebagai orang yang memperoleh pahala berlipat (al-muqanthirin).”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud).
Dalam riwayat lain: ketika ditanya amalan apa yang paling
utama, beliau menjawab:
“Lama berdiri (dalam shalat).”
- Dari
‘Aisyah رضي
الله عنها:
“Shalat malam Rasulullah ﷺ adalah sepuluh rakaat dan beliau witir dengan satu rakaat, serta dua rakaat fajar; maka semuanya berjumlah tiga belas rakaat.”
(Diriwayatkan oleh enam imam; lafaz ini milik Muslim). - Dari
Abu Hurairah رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Apabila salah seorang di antara kalian bangun pada malam hari, hendaklah ia memulai shalatnya dengan dua rakaat yang ringan.”
(Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud; Abu Dawud menambahkan: “Kemudian setelah itu ia boleh memanjangkan sesuai kehendaknya.”)
Riwayat dari Salafush Shalih
- Diriwayatkan
dari Dhirar ash-Shada’i dalam menggambarkan ‘Ali رضي الله عنه:
“Ia merasa asing terhadap dunia dan perhiasannya, namun merasa tenteram dengan malam dan kesendiriannya. Aku bersaksi, sungguh aku pernah melihatnya ketika malam telah membentangkan tirainya dan bintang-bintang telah tenggelam, ia berdiri di mihrabnya, memegang janggutnya, berguncang seperti orang yang tersengat, menangis seperti orang yang berduka, dan berkata: ‘Wahai dunia, tipu selain aku! Kepadaku engkau menampakkan diri? Kepadaku engkau merindu? Jauh, jauh! Aku telah menceraikanmu tiga kali tanpa rujuk. Umurmu pendek, hisabmu berat, nilaimu hina. Ah, betapa sedikit bekal, betapa jauh perjalanan, dan betapa sunyi jalan.’” - Diriwayatkan
bahwa ‘Umar رضي
الله عنه terkadang melewati satu ayat dalam wirid malamnya, lalu ia
sangat terpengaruh hingga seakan-akan ia termasuk orang sakit.
- ‘Abdullah
bin Mas‘ud رضي
الله عنه apabila mata-mata telah terlelap, ia bangun dan terdengar
suaranya membaca Al-Qur’an seperti dengungan lebah. Demikian pula
kebiasaan seluruh sahabat رضي الله عنهم.
Ketika al-Hasan ditanya: “Mengapa wajah orang-orang yang
bertahajud tampak paling indah?” Ia menjawab:
“Karena mereka menyendiri bersama Ar-Rahman, maka Allah memakaikan kepada
mereka cahaya dari cahaya-Nya.”
- Ar-Rabi‘
berkata:
“Aku bermalam di rumah asy-Syafi‘i رضي الله عنه beberapa malam; ia hampir tidak tidur kecuali sedikit.” Demikian pula kebiasaan para imam lainnya. - Malik
bin Dinar pernah membaca dalam wiridnya ayat:
“Apakah orang-orang yang melakukan kejahatan itu mengira bahwa Kami akan menjadikan mereka seperti orang-orang yang beriman dan beramal saleh, sama antara kehidupan dan kematian mereka? Amat buruklah apa yang mereka putuskan.” (Al-Jatsiyah: 21).
Ia terus mengulanginya hingga pagi.
Al-Mughirah bin Habib berkata:
“Aku pernah menemani Malik bin Dinar suatu malam. Ia berdiri shalat, memegang
janggutnya, tersedu-sedu, dan berkata: ‘Ya Allah, haramkan uban Malik dari api
neraka. Wahai Tuhanku, Engkau telah mengetahui siapa penghuni surga dan siapa
penghuni neraka. Maka Malik termasuk yang mana dan di negeri mana?’ Ia terus
seperti itu hingga fajar terbit.”
- Diceritakan
bahwa al-Junaid setelah wafatnya terlihat dalam mimpi dan ditanya: “Apa
yang Allah perbuat terhadapmu, wahai Abu al-Qasim?” Ia menjawab:
“Telah lenyap segala bentuk dan sirna segala ilmu; isyarat-isyarat pun hilang. Tidak ada yang bermanfaat bagi kami kecuali beberapa rakaat yang dahulu kami dirikan di tengah malam.” - Di
antara wasiat Luqman kepada putranya:
“Wahai anakku, janganlah ayam jantan lebih cerdas darimu; ia berkokok pada waktu sahur sementara engkau tidur.” - Mereka—semoga
Allah meridhai mereka—merasakan dalam banyaknya qiyam dan manisnya munajat
suatu keakraban dan ketenangan yang melupakan mereka dari letih badan dan
payah kaki.
Abu Sulaiman ad-Darani berkata:
“Orang-orang yang bangun malam lebih menikmati malam mereka daripada para
pencinta dunia dalam kesenangan mereka. Seandainya bukan karena qiyamullail,
aku tidak ingin tetap hidup di dunia. Jika Allah tidak memberi pahala kepada
ahli qiyam selain kenikmatan yang mereka rasakan, niscaya itu sudah lebih besar
daripada amal itu sendiri.”
Sebagian mereka berkata:
“Tidak ada di dunia sesuatu yang menyerupai kenikmatan akhirat kecuali apa yang
dirasakan oleh ahli qiyam dalam hati mereka dari manisnya munajat.”
Muhammad bin al-Munkadir berkata:
“Tidak tersisa dari kenikmatan dunia kecuali tiga: qiyamullail, bertemu
saudara-saudara (seiman), dan shalat berjamaah.”
Ada pula yang berkata:
“Sejak empat puluh tahun tidak ada yang menyedihkanku kecuali terbitnya fajar
(karena berakhirnya qiyam).”
Sebagian lagi berkata:
“Sesungguhnya Allah memandang hati orang-orang yang bangun pada waktu sahur,
lalu Dia memenuhinya dengan cahaya; kemudian limpahan itu mengalir ke hati
orang-orang yang lalai.”
- Dalam
salah satu wasiat ‘Ali رضي
الله عنه tentang sifat orang bertakwa:
“Adapun malam hari, mereka berdiri di atas kaki-kaki mereka membaca bagian-bagian Al-Qur’an dengan tartil; mereka menyedihkan hati mereka dengannya dan mencari obat bagi penyakit mereka. Jika mereka melewati ayat tentang harapan, mereka condong kepadanya dengan penuh kerinduan, seakan-akan ia berada di hadapan mata mereka. Jika mereka melewati ayat tentang ancaman, mereka memasang pendengaran hati mereka, seakan-akan suara neraka ada di telinga mereka. Mereka membungkuk, bersujud dengan dahi, telapak tangan, dan ujung kaki mereka. Mereka tidak merasa amal mereka banyak dan tidak pula merasa puas dengan yang sedikit; mereka menuduh diri mereka sendiri dan khawatir terhadap amal mereka.” - Ibnu
al-Hajj berkata dalam al-Madkhal:
“Dalam qiyamullail terdapat banyak faedah, di antaranya: ia menggugurkan dosa sebagaimana angin kencang menggugurkan daun kering dari pohon; ia menerangi hati; memperindah wajah; menghilangkan kemalasan dan menguatkan tubuh; tempatnya terlihat oleh para malaikat di langit sebagaimana bintang bercahaya terlihat oleh penduduk bumi. Satu hembusan dari hembusan qiyamullail kembali kepada pelakunya dengan keberkahan, cahaya, dan karunia yang tak terlukiskan.”
Nabi ﷺ
bersabda:
“Sesungguhnya bagi Allah hembusan-hembusan (rahmat), maka hadapkanlah diri
kalian kepada hembusan-hembusan Allah.”
Demikianlah keadaan mereka, wahai saudaraku. Maka tempuhlah
jalan mereka dan ikutilah jejak mereka—mereka itulah orang-orang yang telah
diberi petunjuk oleh Allah, maka dengan petunjuk mereka ikutilah.
Janganlah qiyamullailmu terbatas pada malam pertemuan
bersama saudara-saudaramu saja, tetapi jadikan ia kebiasaan di seluruh malammu
semampumu. Sebab amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling
terus-menerus meskipun sedikit.
Ketahuilah bahwa di antara hal yang membantumu untuk
qiyamullail adalah keikhlasan niat, tekad yang kuat, pembaruan taubat, menjauhi
maksiat pada siang hari, tidur lebih awal, dan tidur siang jika memungkinkan.
Mintalah pertolongan kepada Allah, niscaya Dia menolongmu; mendekatlah
kepada-Nya, niscaya Dia mendekat kepadamu; dan mohonlah karunia-Nya, niscaya
Dia memberimu.
Keutamaan Doa dan Istighfar
Telah banyak ayat dan hadis yang menerangkan keutamaan
istighfar dan doa. Berikut kami sebutkan sebagian di antaranya sebagai
pengingat.
Ayat-ayat Al-Qur’an
Di antaranya firman Allah Ta‘ala:
- “Dan
apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, maka sesungguhnya
Aku dekat. Aku mengabulkan doa orang yang berdoa apabila ia berdoa
kepada-Ku. Maka hendaklah mereka memenuhi (perintah)-Ku dan beriman
kepada-Ku agar mereka mendapat petunjuk.” (Al-Baqarah: 186)
- “Dan
(juga) orang-orang yang apabila melakukan perbuatan keji atau menzalimi
diri sendiri, mereka ingat kepada Allah lalu memohon ampun atas
dosa-dosanya—dan siapa lagi yang dapat mengampuni dosa selain Allah?—dan
mereka tidak terus-menerus dalam perbuatan dosa itu, sedang mereka
mengetahui. Mereka itulah yang balasannya ampunan dari Tuhan mereka dan
surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; mereka kekal di
dalamnya. Dan itulah sebaik-baik balasan bagi orang-orang yang beramal.”
(Ali ‘Imran: 135–136)
- “Dan
mintalah kepada Allah sebagian dari karunia-Nya. Sesungguhnya Allah Maha
Mengetahui segala sesuatu.” (An-Nisa’: 32)
- “Dan
barang siapa berbuat kejahatan atau menzalimi dirinya, kemudian ia memohon
ampun kepada Allah, niscaya ia mendapati Allah Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.” (An-Nisa’: 110)
- “Berdoalah
kepada Tuhanmu dengan merendahkan diri dan dengan suara yang lembut.
Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang melampaui batas. Dan
janganlah kalian berbuat kerusakan di bumi setelah (Allah) memperbaikinya.
Berdoalah kepada-Nya dengan rasa takut dan harap. Sesungguhnya rahmat
Allah dekat kepada orang-orang yang berbuat baik.” (Al-A‘raf: 55–56)
- “Dan
Allah tidak akan mengazab mereka, sementara engkau (Muhammad) berada di
tengah-tengah mereka. Dan Allah tidak akan mengazab mereka, sementara
mereka memohon ampun.” (Al-Anfal: 33)
- “Maka
berdoalah kepada Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya, meskipun
orang-orang kafir tidak menyukainya. (Dia) Mahatinggi derajat-Nya, Pemilik
‘Arsy…” (Ghafir: 14–15)
- “Dan
Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu.
Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari beribadah kepada-Ku
akan masuk neraka Jahanam dalam keadaan hina.” (Ghafir: 60)
- “Maka
ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah, dan mohonlah ampun atas
dosamu serta (atas dosa) orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan. Allah
mengetahui tempat kalian berusaha dan tempat kalian kembali.” (Muhammad:
19)
- “Maka
aku (Nuh) berkata: Mohonlah ampun kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia Maha
Pengampun; niscaya Dia akan menurunkan hujan kepadamu dengan lebat,
memperbanyak harta dan anak-anakmu, dan menjadikan untukmu kebun-kebun
serta menjadikan untukmu sungai-sungai.” (Nuh: 10–12)
- “Maka
bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan mohonlah ampun kepada-Nya.
Sesungguhnya Dia Maha Penerima tobat.” (An-Nashr: 3)
Hadis-hadis Nabi ﷺ
- Dari
Ibnu ‘Umar رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa dibukakan baginya pintu doa, maka dibukakan baginya pintu-pintu rahmat. Tidaklah Allah diminta sesuatu yang lebih Dia cintai daripada dimintai keselamatan (‘afiyah). Sesungguhnya doa bermanfaat terhadap apa yang telah turun maupun yang belum turun. Tidak ada yang menolak takdir kecuali doa. Maka hendaklah kalian—wahai hamba-hamba Allah—memperbanyak doa.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi) - Dari
‘Ubadah bin ash-Shamit رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada seorang Muslim di muka bumi yang berdoa kepada Allah dengan suatu doa, melainkan Allah akan memberinya (apa yang ia minta) atau memalingkan darinya keburukan yang semisal dengan itu, selama ia tidak berdoa untuk dosa atau memutus silaturahim.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi) - Dari
an-Nu‘man bin Basyir رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Doa itu adalah ibadah.”
Kemudian beliau membaca: “Dan Tuhanmu berfirman: Berdoalah kepada-Ku, niscaya Aku kabulkan untukmu...”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud) - Dari
Anas رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Hendaklah salah seorang dari kalian meminta kepada Rabbnya seluruh kebutuhannya, sampai-sampai meminta tali sandalnya apabila putus.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
Dalam riwayat mursal dari Tsabit al-Bunani: “...hingga ia meminta garam dan tali sandalnya apabila putus.” - Dari
Abu Hurairah رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Barang siapa tidak meminta kepada Allah, Allah murka kepadanya.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi) - Dari
Ibnu Mas‘ud رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Mintalah kepada Allah dari karunia-Nya, karena Allah mencintai untuk diminta. Dan seutama-utama ibadah adalah menantikan kelapangan.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi) - Dari
Abu ad-Darda’ رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seorang hamba Muslim berdoa untuk saudaranya tanpa sepengetahuannya, melainkan malaikat berkata: ‘Dan bagimu yang semisal.’”
(Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud; dan dalam tambahan riwayat: “Para malaikat berkata: Amin, dan bagimu yang semisal.”) - Dari
Abu Bakr ash-Shiddiq رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidaklah seseorang dianggap terus-menerus (dalam dosa) apabila ia beristighfar, meskipun ia mengulanginya dalam sehari tujuh puluh kali.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi) - Dari
(seorang sahabat) رضي
الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya hatiku terkadang tertutup (oleh sesuatu), sehingga aku memohon ampun kepada Allah dalam sehari seratus kali.”
(Diriwayatkan oleh Muslim dan Abu Dawud)
Dalam riwayat Muslim juga:
“Bertobatlah kepada Rabb kalian; demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar
bertobat dalam sehari seratus kali.”
Dan dalam riwayat al-Bukhari dan at-Tirmidzi dari Abu
Hurairah رضي الله
عنه:
“Demi Allah, sesungguhnya aku benar-benar beristighfar kepada Allah dan
bertobat kepada-Nya dalam sehari tujuh puluh kali.”
- Dari
Abu Hurairah رضي
الله عنه, dari Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya seorang hamba apabila melakukan suatu kesalahan, maka ditorehkan pada hatinya satu titik hitam. Jika ia berhenti, beristighfar, dan bertobat, maka hatinya kembali bersih. Jika ia mengulangi, titik itu bertambah hingga menutupi hatinya. Itulah ‘ran’ yang Allah sebutkan: ‘Sekali-kali tidak! Bahkan apa yang mereka kerjakan telah menutupi hati mereka.’”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi—ia berkata: hasan sahih—an-Nasa’i, dan lainnya)
Adab-adab Berdoa
Di antara adab berdoa sebagaimana ditunjukkan oleh ayat-ayat
Al-Qur’an adalah tunduk (tadharru‘), rasa takut, ketenangan, dan beradab dengan
Allah Tabaraka wa Ta‘ala. Hadis-hadis sahih juga memberi isyarat akan hal itu.
Di antaranya:
- Mengangkat
telapak tangan saat berdoa
Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما, Rasulullah ﷺ bersabda:
“...Mintalah kepada Allah dengan telapak tangan kalian, jangan dengan punggungnya. Apabila kalian selesai, usapkanlah ke wajah kalian.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud) - Menghadirkan
hati dan yakin akan dikabulkan
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Berdoalah kepada Allah dalam keadaan yakin akan dikabulkan. Ketahuilah bahwa Allah tidak mengabulkan doa dari hati yang lalai dan bermain-main.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi) - Membuka
doa dengan pujian kepada Allah dan shalawat atas Nabi ﷺ,
menyelipkan shalawat di dalamnya, dan menutupnya dengan shalawat
Dari Fadhalah bin ‘Ubaid رضي الله عنه: Rasulullah ﷺ mendengar seseorang berdoa dalam shalatnya tanpa bershalawat kepada Nabi. Beliau bersabda: “Orang ini tergesa-gesa.” Lalu beliau memanggilnya dan bersabda:
“Jika salah seorang di antara kalian berdoa, hendaklah ia memulai dengan memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bershalawat kepada Nabi, lalu setelah itu berdoa dengan apa yang ia kehendaki.”
(Diriwayatkan oleh para penyusun Sunan)
Dari ‘Umar رضي الله
عنه:
“Doa itu tertahan antara langit dan bumi, tidak naik hingga bershalawat
kepadaku...”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi sebagai mauquf dari ‘Umar; dan Rizain
meriwayatkannya secara marfu‘)
- Menutup
doa dengan “Amin”
Dari Abu Mushbih al-Qurra’i dari Abu Zuhair an-Numairi رضي الله عنه:
“Kami keluar bersama Nabi pada suatu malam, lalu kami menemui seorang lelaki yang bersungguh-sungguh meminta. Rasulullah berhenti mendengarnya, lalu beliau bersabda: ‘Pasti (dikabulkan) jika ia menutupnya.’ Ditanyakan: ‘Dengan apa ia menutupnya, wahai Rasulullah?’ Beliau bersabda: ‘Dengan Amin.’”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud) - Berdoa
dengan tenang dan tidak mengeraskan suara
Dari Abu Musa رضي الله عنه: Kami dalam perjalanan, lalu orang-orang mengeraskan takbir. Nabi ﷺ bersabda:
“Wahai manusia, sayangilah diri kalian. Kalian tidak berdoa kepada Dzat yang tuli dan jauh. Kalian berdoa kepada Dzat Yang Maha Mendengar lagi Maha Melihat, dan Dia bersama kalian. Dzat yang kalian seru lebih dekat kepada salah seorang dari kalian daripada leher tunggangannya.”
(Diriwayatkan oleh lima imam selain an-Nasa’i) - Memilih
doa-doa jawami‘ al-kalim (doa yang ringkas tetapi menghimpun banyak
kebaikan)
Dari ‘Aisyah رضي الله عنها:
“Rasulullah ﷺ menyukai doa-doa yang menghimpun (kebaikan) dan meninggalkan selainnya.” - Mengulang
doa dan istighfar tiga kali
Dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه:
“Rasulullah ﷺ menyukai berdoa tiga kali dan beristighfar tiga kali.”
Bahkan dalam sebagian keadaan, beliau memerintahkan untuk beristighfar hingga tujuh puluh kali. - Tidak
tergesa-gesa menuntut jawaban
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه: Rasulullah ﷺ bersabda:
“Doa salah seorang di antara kalian akan dikabulkan selama ia tidak tergesa-gesa, (yakni) ia berkata: ‘Aku telah berdoa kepada Rabbku tetapi belum dikabulkan.’”
(Diriwayatkan oleh enam imam selain an-Nasa’i) - Tidak
mendoakan keburukan atas diri, anak, dan harta
Dari Jabir رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Janganlah kalian mendoakan keburukan atas diri kalian, jangan pula atas anak-anak kalian, para pembantu kalian, dan jangan pula atas harta kalian. Bisa jadi doa itu bertepatan dengan suatu saat di mana Allah memberi pemberian, lalu Dia mengabulkannya untuk kalian.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud) - Mendahulukan
diri sendiri ketika mendoakan orang lain
Dari Ubay bin Ka‘b رضي الله عنه:
“Nabi ﷺ apabila mendoakan seseorang, beliau memulai dengan mendoakan dirinya sendiri.”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
Waktu-waktu Doa yang Diharapkan Mustajab
Imam Hasan al-Banna
Di antara waktu-waktu yang diharapkan terkabulnya doa
adalah:
- Antara
azan dan iqamah
Dari Anas رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Doa antara azan dan iqamah tidak ditolak.”
Ditanyakan: “Apa yang kami ucapkan, wahai Rasulullah?” Beliau menjawab:
“Mintalah kepada Allah keselamatan (al-‘afiyah) di dunia dan akhirat.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi) - Ketika
sujud
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Saat paling dekat seorang hamba dengan Rabbnya adalah ketika ia sujud, maka perbanyaklah doa.”
(Diriwayatkan oleh Muslim, Abu Dawud, dan an-Nasa’i) - Ketika
safar dan ketika dizalimi
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tiga doa yang mustajab dan tidak diragukan pengabulannya: doa orang yang dizalimi, doa musafir, dan doa orang tua atas anaknya.”
(Diriwayatkan oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Dari ‘Amr bin al-‘Ash رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada doa yang lebih cepat dikabulkan daripada doa seorang yang jauh
(ghaib) untuk orang yang jauh (ghaib).”
(Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi, dan juga oleh Abu Dawud)
- Saat
panggilan (azan), ketika berhadapan (pertempuran) dan di bawah hujan
Dari Sa‘d رضي الله عنه, Rasulullah ﷺ bersabda:
“Dua keadaan yang doanya tidak ditolak: ketika panggilan (azan) dan ketika kondisi genting saat sebagian mereka bercampur dengan sebagian yang lain (pertempuran).”
(Diriwayatkan oleh Malik dan Abu Dawud; dan dalam salah satu riwayat ditambahkan: “di bawah hujan.”)
Maka bersungguh-sungguhlah, wahai saudaraku, untuk
terus-menerus merendahkan diri dalam doa dan memperbanyak istighfar setiap
waktu—terutama pada waktu-waktu tersebut, juga di tengah malam dan pada waktu
sahur. Semoga engkau bertepatan dengan suatu saat keridaan Allah dan limpahan
rahmat-Nya, sehingga engkau termasuk orang-orang yang beruntung di dunia dan
akhirat.
Contoh-contoh Doa
Dari Al-Qur’an
ـ (رَبَّنَا
آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً وَفِي الآخِرَةِ حَسَنَةً وَقِنَا عَذَابَ
النَّارِ) (البقرة:201).
“Ya Tuhan kami, berilah kami
kebaikan di dunia dan kebaikan di akhirat, dan lindungilah kami dari azab
neraka.” (Al-Baqarah: 201)
ـ (رَبَّنَا لا تُؤَاخِذْنَا إِنْ نَسِينَا أَوْ
أَخْطَأْنَا رَبَّنَا وَلا تَحْمِلْ عَلَيْنَا إِصْراً كَمَا حَمَلْتَهُ عَلَى
الَّذِينَ مِنْ قَبْلِنَا رَبَّنَا وَلا تُحَمِّلْنَا مَا لا طَاقَةَ لَنَا بِهِ
وَاعْفُ عَنَّا وَاغْفِرْ لَنَا وَارْحَمْنَا أَنْتَ مَوْلانَا فَانْصُرْنَا عَلَى
الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ) (البقرة:286).
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
hukum kami jika kami lupa atau kami bersalah. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
bebankan kepada kami beban yang berat sebagaimana Engkau bebankan kepada
orang-orang sebelum kami. Ya Tuhan kami, janganlah Engkau pikulkan kepada kami
apa yang tidak sanggup kami memikulnya. Maafkanlah kami, ampunilah kami, dan
rahmatilah kami. Engkaulah Pelindung kami, maka tolonglah kami terhadap kaum
yang kafir.” (Al-Baqarah: 286)
ـ (رَبَّنَا لا تُزِغْ قُلُوبَنَا بَعْدَ إِذْ
هَدَيْتَنَا وَهَبْ لَنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً إِنَّكَ أَنْتَ الْوَهَّابُ) (آل عمران:8).
“Ya Tuhan kami, janganlah Engkau
palingkan hati kami setelah Engkau beri petunjuk kepada kami, dan karuniakanlah
kepada kami rahmat dari sisi-Mu. Sesungguhnya Engkaulah Maha Pemberi.” (Ali
‘Imran: 8)
ـ (رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا ذُنُوبَنَا
وَإِسْرَافَنَا فِي أَمْرِنَا وَثَبِّتْ أَقْدَامَنَا وَانْصُرْنَا عَلَى
الْقَوْمِ الْكَافِرِينَ) (آل
عمران:147).
“Ya Tuhan kami, ampunilah
dosa-dosa kami dan sikap berlebihan kami dalam urusan kami, teguhkanlah
pendirian kami, dan tolonglah kami terhadap kaum yang kafir.” (Ali ‘Imran: 147)
ـ (رَبَّنَا إِنَّنَا سَمِعْنَا مُنَادِياً
يُنَادِي لِلإِيمَانِ أَنْ آمِنُوا بِرَبِّكُمْ فَآمَنَّا رَبَّنَا فَاغْفِرْ
لَنَا ذُنُوبَنَا وَكَفِّرْ عَنَّا سَيِّئَاتِنَا وَتَوَفَّنَا مَعَ الأَبْرَارِ ,
رَبَّنَا وَآتِنَا مَا وَعَدْتَنَا عَلَى رُسُلِكَ وَلا تُخْزِنَا يَوْمَ
الْقِيَامَةِ إِنَّكَ لا تُخْلِفُ الْمِيعَادَ) (آل عمران:193-194).
“Ya Tuhan kami, sesungguhnya kami
telah mendengar penyeru yang menyeru kepada iman: ‘Berimanlah kepada Tuhanmu!’
Maka kami pun beriman. Ya Tuhan kami, ampunilah dosa-dosa kami, hapuskanlah
kesalahan-kesalahan kami, dan wafatkanlah kami bersama orang-orang yang
berbakti. Ya Tuhan kami, berilah kami apa yang Engkau janjikan kepada kami
melalui rasul-rasul-Mu, dan janganlah Engkau hinakan kami pada hari kiamat.
Sesungguhnya Engkau tidak menyalahi janji.” (Ali ‘Imran: 193–194)
ـ (رَبَّنَا ظَلَمْنَا أَنْفُسَنَا وَإِنْ لَمْ
تَغْفِرْ لَنَا وَتَرْحَمْنَا لَنَكُونَنَّ مِنَ الْخَاسِرِينَ) (لأعراف:23).
“Ya Tuhan kami, kami telah
menzalimi diri kami sendiri. Jika Engkau tidak mengampuni kami dan tidak
merahmati kami, niscaya kami termasuk orang-orang yang rugi.” (Al-A‘raf: 23)
ـ (رَبِّ اجْعَلْنِي مُقِيمَ الصَّلاةِ وَمِنْ
ذُرِّيَّتِي رَبَّنَا وَتَقَبَّلْ دُعَاءِ , رَبَّنَا اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ
وَلِلْمُؤْمِنِينَ يَوْمَ يَقُومُ الْحِسَابُ) (إبراهيم:40-41).
“Ya Tuhanku, jadikanlah aku orang
yang tetap mendirikan shalat, dan (jadikan pula) sebagian keturunanku. Ya Tuhan
kami, kabulkanlah doaku. Ya Tuhan kami, ampunilah aku, kedua orang tuaku, dan
orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab.” (Ibrahim: 40–41)
ـ (رَبِّ أَدْخِلْنِي مُدْخَلَ صِدْقٍ
وَأَخْرِجْنِي مُخْرَجَ صِدْقٍ وَاجْعَلْ لِي مِنْ لَدُنْكَ سُلْطَاناً نَصِيراً) (الاسراء:80).
“Ya Tuhanku, masukkanlah aku
dengan cara masuk yang benar, dan keluarkanlah aku dengan cara keluar yang
benar; dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.”
(Al-Isra’: 80)
ـ (رَبَّنَا آتِنَا مِنْ لَدُنْكَ رَحْمَةً
وَهَيِّئْ لَنَا مِنْ أَمْرِنَا رَشَداً) (الكهف:10).
“Ya Tuhan kami, berilah kami
rahmat dari sisi-Mu dan siapkanlah bagi kami petunjuk dalam urusan kami.”
(Al-Kahf: 10)
ـ (أَنْ لا إِلَهَ إِلا أَنْتَ سُبْحَانَكَ
إِنِّي كُنْتُ مِنَ الظَّالِمِينَ) (الانبياء:87).
“Tidak ada tuhan selain Engkau.
Mahasuci Engkau. Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang zalim.”
(Al-Anbiya’: 87)
ـ (رَبَّنَا هَبْ لَنَا مِنْ أَزْوَاجِنَا
وَذُرِّيَّاتِنَا قُرَّةَ أَعْيُنٍ وَاجْعَلْنَا لِلْمُتَّقِينَ إِمَاماً) (الفرقان:74).
“Ya Tuhan kami, anugerahkanlah
kepada kami pasangan-pasangan dan keturunan kami sebagai penyejuk mata, dan
jadikanlah kami imam bagi orang-orang yang bertakwa.” (Al-Furqan: 74)
ـ (رَبِّ هَبْ لِي حُكْماً وَأَلْحِقْنِي
بِالصَّالِحِينَ , وَاجْعَلْ لِي لِسَانَ صِدْقٍ فِي الآخِرِينَ , وَاجْعَلْنِي
مِنْ وَرَثَةِ جَنَّةِ النَّعِيمِ) (الشعراء:83-85).
“Ya Tuhanku, anugerahkan kepadaku
hikmah dan gabungkanlah aku dengan orang-orang saleh. Dan jadikanlah bagiku
sebutan yang baik pada generasi yang datang. Dan jadikanlah aku termasuk
pewaris surga yang penuh kenikmatan.” (Asy-Syu‘ara’: 83–85)
ـ (رَبَّنَا اغْفِرْ لَنَا وَلإِخْوَانِنَا
الَّذِينَ سَبَقُونَا بِالأِيمَانِ وَلا تَجْعَلْ فِي قُلُوبِنَا غِلاً لِلَّذِينَ
آمَنُوا رَبَّنَا إِنَّكَ رَؤُوفٌ رَحِيمٌ) (الحشر:10).
“Ya Tuhan kami, ampunilah kami dan
saudara-saudara kami yang telah beriman lebih dahulu daripada kami, dan
janganlah Engkau jadikan dalam hati kami rasa dengki terhadap orang-orang yang
beriman. Ya Tuhan kami, sesungguhnya Engkau Maha Penyantun lagi Maha
Penyayang.” (Al-Hasyr: 10)
ـ (رَبِّ اغْفِرْ لِي وَلِوَالِدَيَّ وَلِمَنْ
دَخَلَ بَيْتِيَ مُؤْمِناً وَلِلْمُؤْمِنِينَ وَالْمُؤْمِنَاتِ وَلا تَزِدِ
الظَّالِمِينَ إِلا تَبَاراً) (نوح:28).
“Ya Tuhanku, ampunilah aku, kedua
orang tuaku, siapa saja yang masuk ke rumahku dalam keadaan beriman, dan
orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan; dan janganlah Engkau tambahkan bagi
orang-orang zalim selain kebinasaan.” (Nuh: 28)
Dalam Tahmid dan Pujian kepada Allah Ta‘ala
Dari Buraidah رضي الله عنه: Nabi ﷺ mendengar seseorang berdoa:
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنِّي أَشْهَدُ أَنَّكَ أَنْتَ اللَّهُ الَّذِي لَا إِلَهَ
إِلَّا أَنْتَ، الْأَحَدُ الصَّمَدُ، الَّذِي لَمْ يَلِدْ وَلَمْ يُولَدْ وَلَمْ
يَكُنْ لَهُ كُفُوًا أَحَدٌ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu dengan
kesaksianku bahwa Engkau adalah Allah, tidak ada tuhan selain Engkau, Yang Esa,
tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada
sesuatu pun yang setara dengan-Nya.”
Maka Nabi ﷺ
bersabda: “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, sungguh ia telah memohon
kepada Allah dengan nama-Nya yang paling agung; apabila Dia diminta dengannya,
Dia mengabulkan, dan apabila dimohon dengannya, Dia memberi.” (Diriwayatkan
oleh Abu Dawud dan at-Tirmidzi)
Dari Anas رضي الله
عنه: ada seorang lelaki berdoa:
اللَّهُمَّ
إِنِّي أَسْأَلُكَ بِأَنَّ لَكَ الْحَمْدَ، لَا إِلٰهَ إِلَّا أَنْتَ،
الْمَنَّانُ، بَدِيعُ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرْضِ، ذُو الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ،
يَا حَيُّ يَا قَيُّومُ
“Ya Allah, sesungguhnya aku memohon kepada-Mu, bagi-Mu
segala puji, tidak ada tuhan selain Engkau, al-Mannan, Pencipta langit dan
bumi, Pemilik keagungan dan kemuliaan, Wahai Yang Maha Hidup, Wahai Yang Maha
Berdiri Sendiri (al-Qayyum).”
Nabi ﷺ bersabda:“Tahukah
kalian dengan apa lelaki itu berdoa?” Mereka menjawab: “Allah dan Rasul-Nya
lebih mengetahui.” Beliau bersabda:“Sungguh ia telah memohon kepada Allah
dengan nama-Nya yang paling agung; apabila Dia diminta dengannya, Dia mengabulkan,
dan apabila dimohon dengannya, Dia memberi.” (Diriwayatkan oleh para penyusun
Sunan)
Dalam Shalawat kepada Rasulullah ﷺ
Dari Abu Mas‘ud al-Anshari رضي الله عنه: Rasulullah ﷺ datang kepada kami
saat kami berada di majelis Sa‘d bin ‘Ubadah. Basyir bin Sa‘d berkata: “Allah
memerintahkan kami untuk bershalawat kepadamu, wahai Rasulullah. Bagaimana kami
bershalawat kepadamu?” Beliau bersabda:
“Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ
صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ آلِ
إِبْرَاهِيمَ، وَبَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا
بَارَكْتَ عَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ فِي الْعَالَمِينَ، إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
“Ya Allah, limpahkanlah rahmat dan kemuliaan kepada Nabi
Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau telah
melimpahkan rahmat kepada keluarga Nabi Ibrahim. Dan berikanlah keberkahan
kepada Nabi Muhammad dan kepada keluarga Nabi Muhammad, sebagaimana Engkau
telah memberikan keberkahan kepada keluarga Nabi Ibrahim di seluruh alam.
Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha Mulia. Dan (ucapkanlah) salam
sebagaimana telah diajarkan kepada kalian.” (Diriwayatkan oleh enam imam
kecuali al-Bukhari)
Dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه:
“Jika kalian bershalawat kepada Rasulullah, maka perbaguslah shalawat, karena
kalian tidak tahu, barangkali hal itu akan disampaikan kepada beliau.” Lalu
beliau mengajarkan: “Ucapkanlah:
اللَّهُمَّ اجْعَلْ صَلَوَاتِكَ وَرَحْمَتَكَ عَلَىٰ سَيِّدِ
الْمُرْسَلِينَ وَإِمَامِ الْمُتَّقِينَ وَخَاتَمِ النَّبِيِّينَ مُحَمَّدٍ
عَبْدِكَ وَرَسُولِكَ، إِمَامِ الْخَيْرِ وَقَائِدِ الْخَيْرِ وَرَسُولِ
الرَّحْمَةِ. اللَّهُمَّ ابْعَثْهُ مَقَامًا مَحْمُودًا يَغْبِطُهُ بِهِ
الْأَوَّلُونَ وَالْآخِرُونَ.اللَّهُمَّ صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ
مُحَمَّدٍ، كَمَا صَلَّيْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ،
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.اللَّهُمَّ بَارِكْ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ
آلِ مُحَمَّدٍ، كَمَا بَارَكْتَ عَلَىٰ إِبْرَاهِيمَ وَعَلَىٰ آلِ إِبْرَاهِيمَ،
إِنَّكَ حَمِيدٌ مَجِيدٌ.
“Ya Allah, jadikanlah shalawat dan rahmat-Mu tercurah kepada
junjungan para rasul, pemimpin orang-orang yang bertakwa, dan penutup para
nabi, yaitu Muhammad, hamba-Mu dan rasul-Mu, pemimpin dalam kebaikan, penuntun
kepada kebaikan, dan utusan pembawa rahmat. Ya Allah, bangkitkanlah beliau pada
kedudukan yang terpuji, yang membuat orang-orang terdahulu dan yang kemudian
merasa iri (karena kemuliaannya). Ya Allah, limpahkanlah shalawat kepada
Muhammad dan kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah melimpahkan
shalawat kepada Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha
Terpuji lagi Maha Mulia. Ya Allah, berikanlah keberkahan kepada Muhammad dan
kepada keluarga Muhammad, sebagaimana Engkau telah memberikan keberkahan kepada
Ibrahim dan kepada keluarga Ibrahim. Sesungguhnya Engkau Maha Terpuji lagi Maha
Mulia.” (Diriwayatkan oleh Ibnu Majah
sebagai mauquf dengan sanad hasan)
اللَّهُمَّ دَاحِيَ الْمَدْحُوَّاتِ، وَدَاعِمَ الْمَمْسُوكَاتِ،
وَجَابِلَ الْقُلُوبِ عَلَىٰ فِطْرَتِهَا شَقِيِّهَا وَسَعِيدِهَا، اجْعَلْ
شَرَائِفَ صَلَوَاتِكَ، وَنَوَامِيَ بَرَكَاتِكَ، عَلَىٰ مُحَمَّدٍ عَبْدِكَ
وَرَسُولِكَ، الْخَاتِمِ لِمَا سَبَقَ، وَالْفَاتِحِ لِمَا انْغَلَقَ،
وَالْمُعْلِنِ الْحَقَّ بِالْحَقِّ.
“Ya Allah, Yang membentangkan hamparan-hamparan (bumi), yang
menegakkan yang ditegakkan, dan yang membentuk hati di atas fitrahnya—yang
celaka dan yang bahagia—jadikanlah shalawat-Mu yang paling mulia dan
keberkahan-Mu yang terus berkembang tercurah kepada Muhammad, hamba dan
rasul-Mu, penutup dari apa yang telah berlalu, pembuka bagi apa yang tertutup,
dan yang menampakkan kebenaran dengan kebenaran.” (Dinukil dari Nahj
al-Balaghah)
Doa Rasulullah ﷺ dalam Tahajud
Dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما: apabila Rasulullah ﷺ bangun pada malam
hari untuk bertahajud, beliau berdoa:
اللَّهُمَّ رَبَّنَا لَكَ الْحَمْدُ، أَنْتَ قَيُّومُ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ نُورُ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ مَالِكُ السَّمَاوَاتِ
وَالْأَرْضِ وَمَنْ فِيهِنَّ، وَلَكَ الْحَمْدُ أَنْتَ الْحَقُّ، وَوَعْدُكَ
الْحَقُّ، وَلِقَاؤُكَ حَقٌّ، وَقَوْلُكَ حَقٌّ، وَالْجَنَّةُ حَقٌّ، وَالنَّارُ
حَقٌّ، وَالنَّبِيُّونَ حَقٌّ، وَمُحَمَّدٌ حَقٌّ، وَالسَّاعَةُ حَقٌّ.
اللَّهُمَّ لَكَ أَسْلَمْتُ، وَبِكَ آمَنْتُ، وَعَلَيْكَ تَوَكَّلْتُ،
وَإِلَيْكَ أَنَبْتُ، وَبِكَ خَاصَمْتُ، وَإِلَيْكَ حَاكَمْتُ، فَاغْفِرْ لِي مَا
قَدَّمْتُ وَمَا أَخَّرْتُ، وَمَا أَسْرَرْتُ وَمَا أَعْلَنْتُ، وَمَا أَنْتَ
أَعْلَمُ بِهِ مِنِّي، أَنْتَ الْمُقَدِّمُ وَأَنْتَ الْمُؤَخِّرُ، لَا إِلٰهَ
إِلَّا أَنْتَ.
“Ya Allah, bagi-Mu segala puji. Engkaulah Yang menegakkan
langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji. Engkaulah
cahaya langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu segala puji.
Engkaulah Pemilik langit dan bumi dan siapa yang ada di dalamnya. Bagi-Mu
segala puji. Engkaulah Yang Maha Benar; janji-Mu benar; perjumpaan dengan-Mu
benar; firman-Mu benar; surga benar; neraka benar; para nabi benar; Muhammad
benar; dan hari kiamat benar.
Ya Allah, kepada-Mu aku berserah diri; kepada-Mu aku
beriman; kepada-Mu aku bertawakal; kepada-Mu aku kembali; dengan-Mu aku
berdebat; dan kepada-Mu aku berhukum. Maka ampunilah aku atas apa yang telah
aku dahulukan dan apa yang telah aku akhirkan, yang aku rahasiakan dan yang aku
tampakkan, serta apa yang Engkau lebih mengetahuinya daripadaku. Engkaulah Yang
mendahulukan dan Engkaulah Yang mengakhirkan. Tidak ada tuhan selain Engkau.” (Diriwayatkan
oleh enam imam; lafaz ini milik al-Bukhari dan Muslim)
Munajat Amirul Mukminin ‘Ali رضي الله عنه
“Telah mengabarkan kepada kami Abu ‘Abdullah Manshur bin
Sukban at-Tustari, ia berkata: telah mengabarkan kepada kami Muhammad bin
al-Hasan bin Ghurab, ia berkata: telah menceritakan kepada kami al-Qadhi Musa
bin Ishaq, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Abu ‘Abdullah Muhammad
bin Abi Syaibah, ia berkata: telah menceritakan kepada kami Muhammad bin
Fudhail ‘Abdullah al-Asadi, bahwa ‘Ali bin Abi Thalib رضي الله عنه dahulu berkata dalam
munajatnya (doa dan bisikan hatinya kepada Allah):”:
إِلٰهِي: لَوْلَا مَا جَهِلْتُ مِنْ أَمْرِي، مَا شَكَوْتُ
عَثَرَاتِي، وَلَوْلَا مَا ذَكَرْتُ مِنَ الْإِفْرَاطِ مَا سَحَتْ عَبَرَاتِي.
إِلٰهِي: فَامْحُ مُثْبِتَاتِ الْعَثَرَاتِ بِمُرْسَلَاتِ
الْعَبَرَاتِ، وَهَبْ كَثِيرَ السَّيِّئَاتِ لِقَلِيلِ الْحَسَنَاتِ.
إِلٰهِي: إِنْ كُنْتَ لَا تَرْحَمُ إِلَّا الْمُجِدَّ فِي طَاعَتِكَ،
فَأَنَّى يَلْتَجِئُ الْمُخْطِئُونَ؟ وَإِنْ كُنْتَ لَا تُكْرِمُ إِلَّا أَهْلَ
الْإِحْسَانِ، فَأَنَّى يَصْنَعُ الْمُسِيئُونَ؟ وَإِنْ كَانَ لَا يَفُوزُ يَوْمَ
الْحَشْرِ إِلَّا الْمُتَّقُونَ، فَكَيْفَ يَسْتَغِيثُ الْمُذْنِبُونَ؟
إِلٰهِي: أَفْحَمَتْنِي ذُنُوبِي، وَانْقَطَعَتْ مَقَالَتِي، فَلَا
حُجَّةَ لِي وَلَا عُذْرَ، فَأَنَا الْمُقِرُّ بِجُرْمِي، وَالْمُعْتَرِفُ
بِإِسَاءَتِي، وَالْأَسِيرُ بِذَنْبِي، الْمُرْتَهَنُ بِعَمَلِي.
إِلٰهِي: فَصَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ وَعَلَىٰ آلِ مُحَمَّدٍ،
وَارْحَمْنِي بِرَحْمَتِكَ، وَتَجَاوَزْ عَنِّي. اللَّهُمَّ إِنْ صَغُرَ فِي
جَنْبِ طَاعَتِكَ عَمَلِي، فَقَدْ كَبُرَ فِي جَنْبِ رَجَائِكَ أَمَلِي.
إِلٰهِي: كَيْفَ أَنْقَلِبُ بِالْخَيْبَةِ عِنْدَكَ مَحْرُومًا،
وَظَنِّي بِجُودِكَ أَنْ تَقْبَلَنِي مَرْحُومًا؟ فَإِنِّي لَمْ أُسَلِّطْ عَلَىٰ
حُسْنِ ظَنِّي بِكَ قُنُوطَ الْآيِسِينَ، فَلَا تُبْطِلْ صِدْقَ رَجَائِي لَكَ
بَيْنَ الْآمِلِينَ.
إِلٰهِي: عَظُمَ جُرْمِي إِذْ كُنْتَ الْمُتَطَالِبَ بِهِ.
إِلٰهِي: إِنْ أَوْحَشَتْنِي الْخَطَايَا مِنْ مَحَاسِنِ لُطْفِكَ،
فَقَدْ آنَسَنِي الْيَقِينُ بِمَكَارِمِ عَطْفِكَ.
إِلٰهِي: إِنْ أَمَاتَتْنِي الْغَفْلَةُ عَنْ الِاسْتِعْدَادِ
لِلِقَائِكَ، فَقَدْ أَنْبَهَتْنِي الْمَعْرِفَةُ بِكَرِيمِ آلَائِكَ.
إِلٰهِي: لَوْ لَمْ تَهْدِنِي إِلَى الْإِسْلَامِ مَا اهْتَدَيْتُ،
وَلَوْ لَمْ تُطْلِقْ لِسَانِي بِدُعَائِكَ مَا دَعَوْتُ، وَلَوْ لَمْ
تُعَرِّفْنِي حَلَاوَةَ نِعْمَتِكَ مَا عَرَفْتُ، وَلَوْ لَمْ يَتَبَيَّنْ لِي
شَدِيدُ عِقَابِكَ مَا اسْتَجَرْتُ.
إِلٰهِي: إِنْ أَقْعَدَنِي التَّخَلُّفُ عَنِ السَّيْرِ مَعَ
الْأَبْرَارِ، فَقَدْ أَقَامَتْنِي الثِّقَةُ بِكَ عَلَىٰ مَدَارِجِ الْأَخْيَارِ.
إِلٰهِي: نَفْسِي أَعْزَزْتَهَا بِتَأْيِيدِ إِيمَانِكَ، كَيْفَ
تُذِلُّهَا بَيْنَ أَطْبَاقِ نِيرَانِكَ؟
إِلٰهِي: كُلُّ مَكْرُوبٍ فَإِلَيْكَ يَلْتَجِئُ، وَكُلُّ مَحْزُونٍ
فَإِلَيْكَ يَرْتَجِي.
إِلٰهِي: سَمِعَ الْعَابِدُونَ بِجَزِيلِ ثَوَابِكَ فَخَشَعُوا،
وَسَمِعَ الْمُذْنِبُونَ بِسَعَةِ غُفْرَانِكَ فَطَمِعُوا، حَتَّىٰ ازْدَحَمَتْ
عَصَائِبُ الْعُصَاةِ بِبَابِكَ، وَعَجَّ مِنْهُمْ إِلَيْكَ الْعَجِيجُ
وَالضَّجِيجُ بِالدُّعَاءِ فِي بِلَادِكَ.
إِلٰهِي: أَنْتَ دَلَلْتَنِي عَلَىٰ سُؤَالِكَ الْجَنَّةَ قَبْلَ
مَعْرِفَتِهَا، فَأَقْبَلَتِ النَّفْسُ بَعْدَ الْعِرْفَانِ عَلَىٰ مَسْأَلَتِهَا؛
أَفَتَدُلُّ عَلَىٰ خَيْرٍ بِالسُّؤَالِ ثُمَّ تَمْنَعُهُ؟ وَأَنْتَ الْكَرِيمُ
الْمَحْمُودُ فِي كُلِّ مَا تَصْنَعُهُ، يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ.
إِلٰهِي: إِنْ كُنْتُ غَيْرَ مُسْتَأْهِلٍ لِمَا أَرْجُو مِنْ
رَحْمَتِكَ، فَأَنْتَ أَهْلٌ أَنْ تَجُودَ عَلَى الْمُذْنِبِينَ بِفَضْلِ سَعَتِكَ.
إِلٰهِي: نَفْسِي قَائِمَةٌ بَيْنَ يَدَيْكَ، وَقَدْ أَظَلَّهَا
حُسْنُ التَّوَكُّلِ عَلَيْكَ، فَاصْنَعْ بِي مَا أَنْتَ أَهْلُهُ، وَتَغَمَّدْنِي
بِرَحْمَةٍ مِنْكَ.
إِلٰهِي: شَهِدَ جَنَانِي بِتَوْحِيدِكَ، وَانْطَلَقَ لِسَانِي
بِتَمْجِيدِكَ، وَدَلَّنِي الْقُرْآنُ عَلَىٰ فَضْلِ جُودِكَ، فَكَيْفَ لَا
يَتَحَقَّقُ رَجَائِي بِحُسْنِ مَوْعِدِكَ؟
إِلٰهِي: كَأَنِّي بِنَفْسِي وَقَدِ اضْطَجَعَتْ فِي حُفْرَتِهَا،
وَانْصَرَفَ عَنْهَا الْمُشَيِّعُونَ مِنْ عَشِيرَتِهَا، وَرَحِمَهَا الْمُعَادِي
لَهَا فِي الْحَيَاةِ عِنْدَ صَرْعَتِهَا، وَلَمْ يَخْفَ عَلَى النَّاظِرِينَ
إِلَيْهَا ذُلُّ فَاقَتِهَا؛ قَالَتِ الْمَلَائِكَةُ: غَرِيبٌ نَأَىٰ عَنْهُ
الْأَقْرَبُونَ، وَبَعِيدٌ جَفَاهُ الْأَهْلُونَ، وَخَذَلَهُ الْمُؤَمِّلُونَ،
نَزَلَ بِنَا قَرِيبًا فَأَصْبَحَ فِي اللَّحْدِ غَرِيبًا.
وَقَدْ كُنْتُ فِي دَارِ الدُّنْيَا دَاعِيًا، وَرَحْمَتَكَ إِيَّايَ
فِي هٰذَا الْيَوْمِ رَاجِيًا، فَأَحْسِنْ ضِيَافَتِي، وَكُنْ أَشْفَقَ عَلَيَّ
مِنْ أَهْلِي وَقَرَابَتِي.
إِلٰهِي: سَتَرْتَ عَلَيَّ فِي الدُّنْيَا ذُنُوبًا فَلَمْ
تُظْهِرْهَا، فَلَا تَفْضَحْنِي يَوْمَ أَلْقَاكَ عَلَىٰ رُءُوسِ الْعَالَمِينَ
بِهَا، وَاسْتُرْهَا عَلَيَّ هُنَالِكَ، يَا أَرْحَمَ الرَّاحِمِينَ.
إِلٰهِي: مَسْكَنَتِي لَا يَجْبُرُهَا إِلَّا عَطَاؤُكَ،
وَأُمْنِيَّتِي لَا يَفِي بِهَا إِلَّا نَعْمَاؤُكَ.
إِلٰهِي: أَسْتَوْفِقُكَ لِمَا يُدْنِينِي مِنْكَ، وَأَعُوذُ بِكَ
مِمَّا يَصْرِفُنِي عَنْكَ.
إِلٰهِي: أَحَبُّ الْأُمُورِ إِلَىٰ نَفْسِي وَأَعُودُهَا عَلَيَّ
مَنْفَعَةً مَا اسْتَرْشَدْتُهَا بِهِدَايَتِكَ إِلَيْهِ، وَدَلَلْتَهَا
بِرَحْمَتِكَ عَلَيْهِ، فَاسْتَعْمِلْهَا بِذٰلِكَ عَنِّي، إِذْ أَنْتَ أَرْحَمُ
بِهَا مِنِّي.
يَا أَنِيسَ كُلِّ غَرِيبٍ، آنِسْ فِي الْقَبْرِ وَحْشَتِي، وَارْحَمْ
وَحْدَتِي.
وَيَا عَالِمَ السِّرِّ وَالْأَخْفَىٰ، وَيَا كَاشِفَ الضُّرِّ
وَالْبَلْوَىٰ، كَيْفَ نَظَرُكَ لِي مِنْ بَيْنِ سَاكِنِي الثَّرَىٰ؟ وَكَيْفَ
صَنِيعُكَ لِي فِي دَارِ الْوَحْشَةِ وَالْبِلَىٰ؟
قَدْ كُنْتَ بِي لَطِيفًا فِي حَيَاتِي، فَلَا تَقْطَعْ بِرَّكَ
عَنِّي بَعْدَ وَفَاتِي.
يَا أَفْضَلَ الْمُنْعِمِينَ فِي آلَائِهِ، وَأَكْرَمَ
الْمُتَفَضِّلِينَ فِي نَعْمَائِهِ، كَثُرَتْ عِنْدِي أَيَادِيكَ، فَعَجَزْتُ عَنْ
إِحْصَائِهَا، وَضِقْتُ ذَرْعًا فِي شُكْرِي لِلْمَسَائِلِ بِجَزَائِهَا؛ فَلَكَ
الْحَمْدُ عَلَىٰ مَا أَوْلَيْتَ، وَلَكَ الشُّكْرُ عَلَىٰ مَا أَبْلَيْتَ.
يَا خَيْرَ مَنْ دَعَاهُ دَاعٍ، وَأَفْضَلَ مَنْ رَجَاهُ رَاجٍ، يَا
حَنَّانُ يَا مَنَّانُ يَا ذَا الْجَلَالِ وَالْإِكْرَامِ، يَا حَيُّ يَا
قَيُّومُ، يَا مَنْ لَهُ الْخَلْقُ وَالْأَمْرُ، تَبَارَكْتَ يَا أَحْسَنَ
الْخَالِقِينَ، يَا رَحِيمُ يَا قَدِيرُ يَا كَرِيمُ، صَلِّ عَلَىٰ مُحَمَّدٍ
وَآلِهِ الطَّيِّبِينَ. آمِينَ.
Ya Tuhanku, seandainya bukan karena apa yang tidak kuketahui
dari urusanku, niscaya aku tidak akan mengeluhkan tergelincirnya langkahku. Dan
seandainya bukan karena aku mengingat kelalaianku yang berlebihan, niscaya air
mataku tidak akan mengalir.
Ya Tuhanku, maka hapuslah catatan-catatanku yang penuh
kesalahan dengan derasnya air mata penyesalan, dan anugerahkanlah ampunan atas
banyaknya keburukanku dengan sedikitnya kebaikanku.
Ya Tuhanku, jika Engkau tidak merahmati kecuali orang yang
bersungguh-sungguh dalam ketaatan kepada-Mu, lalu ke mana orang-orang yang
bersalah akan berlindung? Jika Engkau tidak memuliakan kecuali orang-orang yang
berbuat ihsan, lalu bagaimana nasib orang-orang yang berbuat dosa? Jika pada
hari kebangkitan tidak ada yang beruntung kecuali orang-orang yang bertakwa,
maka bagaimana orang-orang yang berdosa akan memohon pertolongan?
Ya Tuhanku, dosa-dosaku telah membungkamku dan ucapanku
terputus; aku tidak memiliki hujjah dan tidak pula alasan. Aku mengakui dosaku,
mengakui kesalahanku, tertawan oleh dosaku, dan tergadai oleh amalanku.
Ya Tuhanku, maka limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan
keluarga Muhammad, rahmatilah aku dengan rahmat-Mu dan maafkanlah aku. Ya
Allah, jika amalanku kecil di sisi ketaatan kepada-Mu, maka harapanku besar di
sisi pengharapanku kepada-Mu.
Ya Tuhanku, bagaimana mungkin aku kembali dalam keadaan
kecewa dan terhalang dari-Mu, sementara prasangkaku terhadap kemurahan-Mu
adalah bahwa Engkau akan menerimaku dengan kasih sayang? Aku tidak membiarkan
keputusasaan menguasai baik sangkaku kepada-Mu, maka jangan Engkau sia-siakan
harapanku yang tulus kepada-Mu.
Ya Tuhanku, besar dosaku karena Engkaulah yang menuntut
pertanggungjawabannya.
Ya Tuhanku, jika dosa-dosaku membuatku merasa asing dari
kelembutan-Mu, maka keyakinanku akan kemurahan-Mu telah membuatku tenteram.
Ya Tuhanku, jika kelalaianku mematikan persiapanku untuk
bertemu dengan-Mu, maka pengetahuanku akan nikmat-Mu telah menyadarkanku.
Ya Tuhanku, seandainya Engkau tidak memberiku petunjuk
kepada Islam, niscaya aku tidak mendapat petunjuk. Seandainya Engkau tidak
membebaskan lisanku untuk berdoa kepada-Mu, niscaya aku tidak akan berdoa.
Seandainya Engkau tidak memperkenalkanku pada manisnya nikmat-Mu, niscaya aku
tidak mengenalnya. Seandainya tidak dijelaskan kepadaku dahsyatnya siksa-Mu,
niscaya aku tidak akan berlindung.
Ya Tuhanku, jika aku tertinggal dari perjalanan bersama
orang-orang saleh, maka kepercayaanku kepada-Mu telah menegakkanku di tangga
orang-orang pilihan.
Ya Tuhanku, Engkau telah memuliakan jiwaku dengan penguatan
iman kepada-Mu; bagaimana Engkau akan menghinakannya di antara lapisan-lapisan
api-Mu?
Ya Tuhanku, setiap orang yang tertimpa kesusahan berlindung
kepada-Mu, dan setiap yang bersedih berharap kepada-Mu.
Ya Tuhanku, para ahli ibadah mendengar besarnya pahala
dari-Mu lalu mereka khusyuk. Para pendosa mendengar luasnya ampunan-Mu lalu
mereka berharap. Hingga berdesak-desakan kelompok para pendosa di pintu-Mu, dan
terdengar dari mereka rintihan dan tangisan doa di negeri-Mu.
Ya Tuhanku, Engkau telah membimbingku untuk memohon surga
kepada-Mu bahkan sebelum aku mengenalnya. Maka setelah aku mengenalnya, jiwaku
pun menghadap untuk memintanya. Apakah Engkau menunjukkan kebaikan dengan
memerintahkan untuk memohon, lalu Engkau menahannya? Padahal Engkau Maha Mulia
lagi Maha Terpuji dalam segala yang Engkau lakukan, wahai Dzat Yang Maha Agung
dan Maha Mulia.
Ya Tuhanku, jika aku tidak layak mendapatkan apa yang
kuharapkan dari rahmat-Mu, maka Engkaulah yang layak bermurah hati kepada para
pendosa dengan keluasan karunia-Mu.
Ya Tuhanku, jiwaku berdiri di hadapan-Mu, dan telah dinaungi
oleh indahnya tawakal kepada-Mu. Maka perlakukanlah aku sesuai dengan
kelayakan-Mu, dan selimutilah aku dengan rahmat dari sisi-Mu.
Ya Tuhanku, hatiku telah bersaksi atas keesaan-Mu, lisanku
telah memuji dan mengagungkan-Mu, dan Al-Qur’an telah menuntunku kepada luasnya
kemurahan-Mu. Maka bagaimana mungkin harapanku tidak terwujud dengan janji-Mu
yang baik?
Ya Tuhanku, seakan-akan aku melihat diriku telah berbaring
di liang kuburku, para pengantar telah kembali meninggalkanku dari keluargaku,
bahkan musuhku dalam hidup merasa iba saat kematianku. Orang-orang yang
memandangku menyaksikan kehinaan dan kefakiranku. Para malaikat berkata: “Ia
seorang asing, yang ditinggalkan kerabatnya; jauh, dijauhi keluarganya; yang
diharapkan telah mengecewakannya. Ia datang kepada kami dahulu dekat, kini ia
di liang lahat menjadi asing.”
Padahal dahulu di dunia aku berdoa kepada-Mu, dan aku
berharap rahmat-Mu pada hari ini. Maka muliakanlah jamuanku (di alam kubur),
dan jadilah Engkau lebih penyayang kepadaku daripada keluarga dan kerabatku.
Ya Tuhanku, Engkau telah menutup dosa-dosaku di dunia dan
tidak menampakkannya. Maka jangan Engkau buka aibku pada hari aku bertemu
dengan-Mu di hadapan seluruh manusia. Tutupilah itu untukku di sana, wahai Yang
Maha Pengasih di antara para pengasih.
Ya Tuhanku, kefakiranku tidak ada yang dapat memperbaikinya
selain pemberian-Mu, dan harapanku tidak akan terpenuhi kecuali dengan
nikmat-Mu.
Ya Tuhanku, aku memohon kepada-Mu taufik atas segala yang
mendekatkanku kepada-Mu, dan aku berlindung kepada-Mu dari segala yang
menjauhkanku dari-Mu.
Ya Tuhanku, perkara yang paling kucintai dan paling
bermanfaat bagiku adalah apa yang Engkau bimbing aku kepadanya dengan
petunjuk-Mu, dan Engkau tunjukkan dengan rahmat-Mu. Maka gunakanlah aku untuk
itu, karena Engkau lebih menyayangi jiwaku daripada diriku sendiri.
Wahai Penghibur setiap orang asing, hiburkanlah kesepianku
di dalam kubur dan kasihanilah kesendirianku.
Wahai Yang Maha Mengetahui rahasia dan yang lebih
tersembunyi, wahai Penghilang kesulitan dan ujian, bagaimana pandangan-Mu
kepadaku di antara para penghuni tanah? Dan bagaimana perlakuan-Mu kepadaku di
negeri kesepian dan kehancuran?
Engkau dahulu Maha Lembut kepadaku semasa hidupku, maka
jangan Engkau putuskan kebaikan-Mu dariku setelah kematianku.
Wahai sebaik-baik Pemberi nikmat dalam segala anugerah-Nya,
wahai semulia-mulia Yang Maha Pemurah dalam segala karunia-Nya. Begitu banyak
nikmat-Mu kepadaku hingga aku tak mampu menghitungnya, dan aku sempit dalam
mensyukuri balasannya. Maka bagi-Mu segala puji atas apa yang Engkau
anugerahkan, dan bagi-Mu segala syukur atas apa yang Engkau karuniakan.
Wahai sebaik-baik tempat berdoa bagi yang berdoa, wahai
seutama-utama tempat berharap bagi yang berharap. Wahai Maha Pengasih, wahai
Maha Pemberi, wahai Dzat Yang Maha Agung dan Maha Mulia. Wahai Yang Maha Hidup,
Maha Berdiri Sendiri. Wahai Yang memiliki penciptaan dan urusan. Maha Suci
Engkau, sebaik-baik Pencipta. Wahai Maha Penyayang, Maha Kuasa, Maha Mulia.
Limpahkanlah shalawat kepada Muhammad dan keluarga beliau yang suci.
Amin.
(Diringkas dari kitab Latha’if Akhbar al-Aal)
Dari Munajat Ibnu ‘Atha’illah as-Sakandari
(Imam syahid—dalam sebuah konferensi di al-Azhar)
“Ya Tuhanku, bagaimana mungkin Engkau menyerahkanku kepada
diriku sendiri, padahal Engkau telah menjamin urusanku? Bagaimana aku dapat
terzalimi sementara Engkau penolongku? Atau bagaimana aku akan kecewa sementara
Engkau penjagaku? Inilah aku bertawassul kepada-Mu dengan kefakiranku
kepada-Mu.
Ya Tuhanku, setiap kali kehinaanku membuatku kelu,
kemuliaan-Mu membuatku mampu berkata. Setiap kali sifat-sifatku membuatku putus
asa, karunia-karunia-Mu kembali menumbuhkan harapanku. Siapa yang kebaikannya
saja adalah keburukan, bagaimana mungkin keburukannya tidak menjadi keburukan?
Siapa yang hakikatnya hanya pengakuan, bagaimana mungkin pengakuannya tidak
sekadar pengakuan?
Kapan Engkau pernah ghaib sehingga membutuhkan dalil yang
menunjukkan kepada-Mu? Kapan Engkau pernah jauh sehingga jejak-jejak (makhluk)
yang mengantarkan kepada-Mu? Butalah mata yang tidak melihat Engkau sebagai
Pengawasnya; rugilah perdagangan seorang hamba yang tidak menjadikan baginya
bagian dari cinta kepada-Mu.
Ya Tuhanku, kehinaanku tampak nyata di hadapan-Mu; keadaanku
tidak tersembunyi bagi-Mu. Dari-Mu aku memohon sampai kepada-Mu; dengan-Mu aku
beristidlal menuju-Mu. Tunjukilah aku kepada-Mu dengan cahaya-Mu, dan tegakkan
aku di hadapan-Mu dengan kejujuran penghambaan.
Ya Tuhanku, ajarkanlah aku dari ilmu-Mu yang tersimpan;
lindungilah aku dengan rahasia nama-Mu yang terpelihara. Dengan-Mu aku menang,
maka menangkanlah aku. Kepada-Mu aku bertawakal, maka jangan Engkau serahkan
aku (kepada diriku). Kepada-Mu aku memohon, maka jangan Engkau mengecewakanku.
Dalam karunia-Mu aku berharap, maka jangan Engkau haramkan aku. Kepada
kemuliaan hadirat-Mu aku menisbatkan diri, maka jangan Engkau jauhkan aku. Di
pintu-Mu aku berdiri, maka jangan Engkau usir aku.
Ya Tuhanku, Maha Suci keridaan-Mu dari memiliki sebab yang
datang dari-Mu; bagaimana mungkin keridaan itu memiliki sebab dariku? Engkau
Mahakaya dengan Dzat-Mu dari kemungkinan adanya manfaat yang sampai kepada-Mu;
maka bagaimana mungkin Engkau tidak Mahakaya dariku?
Engkaulah yang menerbitkan cahaya dalam hati para wali-Mu
hingga mereka mengenal-Mu dan menemukan-Mu. Engkaulah yang menyingkirkan segala
selain-Mu dari hati kekasih-kekasih-Mu hingga mereka tidak mencintai selain-Mu
dan tidak berlindung kepada selain-Mu. Engkaulah yang menghibur mereka ketika
sebab-sebab membuat mereka merasa asing, dan Engkaulah yang memberi petunjuk
kepada mereka hingga jelas bagi mereka jalan-jalan (menuju-Mu).
Maka siapa yang menemukan-Mu—apa yang ia kehilangan? Dan
siapa yang kehilangan-Mu—apa yang ia dapatkan? Sungguh rugi orang yang ridha
dengan pengganti selain Engkau, dan sungguh merugi orang yang mencari
perpindahan dari Engkau.
Ya Tuhanku, bagaimana mungkin berharap kepada selain-Mu,
sedangkan Engkau tidak pernah memutuskan kebaikan? Bagaimana mungkin meminta
kepada selain-Mu, sedangkan Engkau tidak pernah mengubah kebiasaan kemurahan?
Wahai Dzat yang mengecapkan kepada kekasih-kekasih-Nya
manisnya keakraban dengan-Nya sehingga mereka berdiri di hadapan-Nya dengan
penuh merendah. Wahai Dzat yang mengenakan kepada para wali-Nya pakaian
kewibawaan-Nya sehingga mereka berdiri dengan kemuliaan-Nya dalam keadaan
mulia.
Engkaulah yang mengingat sebelum orang-orang mengingat.
Engkaulah yang memulai kebaikan sebelum para ahli ibadah menghadap. Engkaulah
yang memberi sebelum para peminta meminta. Dan Engkaulah Yang Maha Pemberi;
lalu Engkau pula yang menampakkan (kedermawanan) ketika Engkau telah memberi
kami.
Ya Tuhanku, carilah aku dengan rahmat-Mu hingga aku sampai
kepada-Mu; dan tariklah aku dengan karunia-Mu hingga aku kembali kepada-Mu. Ya
Tuhanku, harapanku tidak pernah terputus dari-Mu meskipun aku bermaksiat
kepada-Mu, sebagaimana takutku tidak pernah menyertaiku meskipun aku taat
kepada-Mu.
Ya Tuhanku, berbagai keadaan telah mendorongku kepada-Mu,
dan pengetahuanku tentang kemurahan-Mu telah menegakkanku di hadapan-Mu. Ya
Tuhanku, bagaimana mungkin aku kecewa sementara Engkau harapanku? Bagaimana
mungkin aku terhina sementara kepada-Mu aku bersandar?
Wahai Dzat yang tertutup dalam tabir kemuliaan-Nya hingga
penglihatan tidak mampu menjangkau-Nya; wahai Dzat yang menampakkan diri dengan
kesempurnaan keindahan-Nya hingga rahasia-rahasia menjadi nyata—bagaimana
mungkin (Engkau tertutup) padahal Engkaulah Yang Maha Tampak? Dan bagaimana
mungkin Engkau ghaib padahal Engkaulah Pengawas yang hadir?”
(Selesai, dengan penyesuaian redaksi.)
Dari Doa-doa Sayyid Ahmad ar-Rifa‘i
“Ya Allah, limpahkan shalawat dan salam kepada junjungan
kami Muhammad, beserta keluarga dan sahabatnya. Ya Allah, pelapang kesusahan,
penghilang kesedihan, pengabul doa orang-orang yang terpaksa; Yang Maha
Pengasih di dunia dan akhirat serta Maha Penyayang keduanya. Engkau merahmati
kami dengan rahmat yang mencukupkan kami dari rahmat selain-Mu. Tiada tuhan
selain Engkau, wahai Tuhan segala sesuatu. Mahasuci Engkau, tiada tuhan selain
Engkau. Wahai Pewaris segala sesuatu, Wahai Yang Maha Hidup, Maha Berdiri
Sendiri, Pemilik keagungan dan kemuliaan, wahai Yang Maha Penyayang di antara
para penyayang…
Kami memohon kepada-Mu tawakal yang murni kepada-Mu, kembali
kepada-Mu dalam segala keadaan, bersandar pada karunia-Mu, dan berpaut pada
pintu-Mu. Wahai Yang mengetahui rahasia dan bisikan, wahai Yang menyingkap
mudarat dan bencana; wahai Dzat yang kepadanya hati orang-orang yang terdesak
merendah dan kepadanya tekad orang-orang yang butuh bergantung.
Kami memohon kepada-Mu—Ya Allah—dengan ikatan-ikatan
kemuliaan dari ‘Arsy-Mu, dengan puncak rahmat dari kitab-Mu, dengan nama-Mu
Yang Mahatinggi lagi Mahaagung, dengan kalimat-kalimat-Mu yang sempurna yang
tidak dapat dilampaui oleh orang baik maupun fasik, dan dengan pancaran
wajah-Mu: agar Engkau bershalawat atas junjungan kami Muhammad, keluarga,
sahabat, serta keturunannya; dan agar Engkau meliputi kami dengan
kelembutan-kelamutan-Mu yang tersembunyi, hingga kami berselimut pakaian
keamanan dari guncangan zaman, keterikatan alam, rasa terhalang (dari karunia),
sebab-sebab kegagalan, tipu daya setan, buruknya niat, dan gelapnya dosa.
Ya Allah, anugerahkanlah kepadaku hati yang tidak berpaling
dalam cita-citanya kecuali kepada-Mu; akal yang tidak bersandar dalam
keadaannya kecuali kepada-Mu. Bolak-balikkanlah aku di atas hamparan ma‘rifat
dengan kekuatan tauhid dan keyakinan. Kuatkan aku untuk-Mu dengan apa yang
Engkau kuatkan para hamba saleh-Mu dengannya.
Ya Allah, tuntunlah aku menempuh jalan Nabi-Mu yang
terpilih, pemimpin para kekasih yang didekatkan. Ilhamkanlah kepadaku untuk
mensyukuri nikmat-Mu dengan mengikutinya ﷺ dalam jalan kebenaran dan kelurusan. Ya
Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat, amal yang
tidak terangkat, hati yang tidak khusyuk, dan doa yang tidak didengar.
‘Wahai Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami rahmat dari
sisi-Mu dan siapkanlah bagi kami petunjuk dalam urusan kami.’
Ya Allah, wujudkanlah aku pada hakikat “ash-shiddiqiyyah”,
dan kecapkan kepadaku manisnya keyakinan dengan kejujuran niat dan kemurnian
batin. Jangan Engkau serahkan aku kepada diriku sendiri dan kepada seorang pun
dari makhluk-Mu walau sekejap mata—wahai Yang Maha Penyayang. Tidak ada daya
dan kekuatan kecuali dengan Allah Yang Mahatinggi lagi Mahabesar. Salam bagi
para rasul, dan segala puji bagi Allah Tuhan semesta alam.”
(Diambil dari Hizb al-Wasilah, dengan penyesuaian
redaksi.)
Dari Doa-doa Sayyid Ahmad bin Idris
“Ya Allah, Engkaulah Allah, Raja Yang Benar lagi Maha Nyata;
Yang Mahadulu, Yang Mahamulia dengan keagungan dan kebesaran; Yang Mahasendiri
dalam kekekalan; Yang Maha Hidup lagi Maha Berdiri sendiri; Yang Mahakuasa,
Mahaperkasa, Mahamenundukkan; tiada tuhan selain Engkau. Tuhanku, dan aku
hamba-Mu. Aku telah berbuat buruk dan menzalimi diriku, dan aku mengakui
dosaku; maka ampunilah seluruh dosaku, karena tidak ada yang mengampuni dosa
selain Engkau.
Aku bersaksi bahwa Engkau adalah Tuhanku dan Tuhan segala
sesuatu; Pencipta langit dan bumi; Yang mengetahui yang gaib dan yang tampak;
Yang Mahatinggi, Mahabesar, Mahamulya.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan,
tekad di atas petunjuk, syukur atas nikmat-nikmat-Mu, dan baiknya ibadah
kepada-Mu. Aku memohon kepada-Mu kebaikan dari segala yang Engkau ketahui, dan
aku berlindung kepada-Mu dari keburukan segala yang Engkau ketahui.
Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mengetahui perkara gaib.”
Dari Doa-doa Abu al-Hasan asy-Syadzili
“Ya Allah, wahai Yang Maha Lembut, Maha Pemberi rezeki, Maha
Kuat, Maha Perkasa; milik-Mu kunci-kunci langit dan bumi. Engkau melapangkan
rezeki bagi siapa yang Engkau kehendaki dan menyempitkannya. Maka lapangkanlah
untuk kami rezeki yang dengannya Engkau menyampaikan kami kepada rahmat-Mu; dan
dari rahmat-Mu sesuatu yang dengannya Engkau halangi kami dari murka-Mu; dan
dari kelembutan-Mu sesuatu yang meluaskan bagi kami ampunan-Mu.
Akhirilah untuk kami dengan kebahagiaan yang Engkau akhiri
dengannya bagi para wali-Mu. Jadikan hari terbaik dan paling bahagia bagi kami
adalah hari perjumpaan dengan-Mu. Jauhkan kami di dunia dari api syahwat,
masukkan kami dengan karunia-Mu ke lapangan-lapangan rahmat, pakaikan kepada
kami dari cahaya-Mu jubah penjagaan, dan jadikan bagi kami penolong dari
akal-akal kami, pengawas dari ruh-ruh kami, dan penunduk dari nafsu kami agar
kami banyak bertasbih dan banyak berzikir kepada-Mu. Sesungguhnya Engkau Maha
Melihat kami.
Ya Allah, aku memohon kepada-Mu lisan yang basah dengan
zikir kepada-Mu, hati yang penuh dengan syukur kepada-Mu, tubuh yang tenang dan
lunak dalam ketaatan kepada-Mu. Dan karuniakanlah kepada kami, di samping itu,
apa yang tidak pernah dilihat mata, tidak pernah didengar telinga, dan tidak
pernah terlintas dalam hati manusia—sebagaimana diberitakan oleh
Rasul-Mu—sesuai dengan ilmu-Mu. Kayakanlah kami tanpa sebab, dan jadikan kami
sebab kekayaan bagi wali-wali-Mu; jadikan kami penghubung antara mereka dan musuh-musuh-Mu.
Sesungguhnya Engkau Mahakuasa atas segala sesuatu.
Ya Allah, kami memohon kepada-Mu iman yang sempurna, hati
yang khusyuk, ilmu yang bermanfaat, keyakinan yang benar, agama yang lurus, dan
keselamatan dari setiap cobaan; serta kecukupan yang sempurna dari manusia.
Ridha-kanlah kami dengan ketetapan-Mu, sabarkanlah kami dalam ketaatan
kepada-Mu, menjauhi maksiat kepada-Mu, dan dari syahwat-syahwat yang
menyebabkan rusak atau jauh dari-Mu.
Anugerahkan kepada kami hakikat iman kepada-Mu hingga kami
tidak takut dan tidak berharap kecuali kepada-Mu, tidak menyembah selain
Engkau. Ilhamkan kepada kami syukur atas nikmat-nikmat-Mu, selimuti kami dengan
pakaian keselamatan-Mu, tolonglah kami dengan keyakinan dan tawakal kepada-Mu,
terangkan wajah-wajah kami dengan cahaya sifat-sifat-Mu, gembirakan dan
kabarkanlah kami pada hari kiamat bersama para wali-Mu. Bentangkanlah tangan
(perlindungan dan karunia)-Mu atas kami, keluarga kami, anak-anak kami, dan
siapa pun yang bersama kami dengan rahmat-Mu. Jangan Engkau serahkan kami
kepada diri kami walau sekejap mata atau kurang dari itu. Wahai sebaik-baik
Pengabul doa. Shalawat atas junjungan kami Nabi Muhammad yang mulia, beserta
keluarga dan para sahabatnya seluruhnya.”
(Diambil dari Hizb al-Barr, dengan penyesuaian redaksi.)
Dari Doa Imam asy-Syafi‘i رحمه الله
أَعُوذُ بِكَ مِنْ مَقَامِ الْكَافِرِينَ، وَإِعْرَاضِ الْغَافِلِينَ.
اللَّهُمَّ لَكَ خَضَعَتْ نُفُوسُ الْعَارِفِينَ، وَدَنَتْ لَكَ
رِقَابُ الْمُشْتَاقِينَ.
إِلٰهِي هَبْ لِي جُودَكَ، وَجَلِّلْنِي بِسِتْرٍ، وَاعْفُ عَنْ
تَقْصِيرِي بِكَرَمِ وَجْهِكَ.
“Aku berlindung kepada-Mu dari kedudukan orang-orang kafir
dan dari berpalingnya orang-orang yang lalai. Ya Allah, kepada-Mu tunduk
jiwa-jiwa orang-orang arif, dan kepada-Mu merunduk leher-leher orang-orang yang
rindu.
Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku kemurahan-Mu, selimuti
aku dengan tirai (perlindungan)-Mu, dan maafkan kekuranganku dengan kemuliaan
wajah-Mu.”
(Dinukil dari Ihya’ ‘Ulum ad-Din.)
Contoh Doa dari Hadis-hadis Nabi ﷺ
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه: Rasulullah ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ أَصْلِحْ لِي دِينِيَ الَّذِي هُوَ عِصْمَةُ أَمْرِي،
وَأَصْلِحْ لِي دُنْيَايَ الَّتِي فِيهَا مَعَاشِي، وَأَصْلِحْ لِي آخِرَتِيَ
الَّتِي فِيهَا مَعَادِي، وَاجْعَلِ الْحَيَاةَ زِيَادَةً لِي فِي كُلِّ خَيْرٍ،
وَاجْعَلِ الْمَوْتَ رَاحَةً لِي مِنْ كُلِّ شَرٍّ.
“Ya Allah, perbaikilah untukku agamaku yang merupakan
penjaga urusanku; perbaikilah untukku duniaku yang di dalamnya tempat
kehidupanku; dan perbaikilah untukku akhiratku yang kepadanya tempat kembaliku.
Jadikan hidup sebagai tambahan bagiku dalam setiap kebaikan, dan jadikan
kematian sebagai istirahat bagiku dari setiap keburukan.” (Diriwayatkan oleh مسلم)
Dari Anas رضي الله
عنه: doa yang paling sering dibaca Nabi ﷺ adalah:
اللَّهُمَّ آتِنَا فِي الدُّنْيَا حَسَنَةً، وَفِي الْآخِرَةِ
حَسَنَةً، وَقِنَا عَذَابَ النَّارِ.
“Ya Allah, berilah kami kebaikan di dunia dan kebaikan di
akhirat, dan lindungilah kami dari azab neraka.” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari,
Muslim, dan Abu Dawud)
Dari ‘Ali رضي الله
عنه: Nabi ﷺ
mengajarkan kepada sebagian sahabatnya:
اللَّهُمَّ اكْفِنِي بِحَلَالِكَ عَنْ حَرَامِكَ، وَأَغْنِنِي
بِفَضْلِكَ عَمَّنْ سِوَاكَ
“Ya Allah, cukupkanlah aku dengan yang halal sehingga aku
tidak membutuhkan yang haram, dan kayakanlah aku dengan karunia-Mu dari
selain-Mu.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)
Dari Abu Hurairah رضي الله عنه: Rasulullah ﷺ bersabda: “Berlindunglah kepada Allah dari
beratnya cobaan, mengejarinya kesengsaraan, buruknya ketetapan, dan kegembiraan
musuh (atas musibah kita).” (Diriwayatkan oleh al-Bukhari, Muslim, dan
an-Nasa’i)
Dari ‘Abdullah bin ‘Amr رضي الله عنهما: Rasulullah ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ أَعُوذُ بِكَ مِنْ قَلْبٍ لَا يَخْشَعُ، وَمِنْ دُعَاءٍ
لَا يُسْمَعُ، وَمِنْ نَفْسٍ لَا تَشْبَعُ، وَمِنْ عِلْمٍ لَا يَنْفَعُ، أَعُوذُ
بِكَ مِنْ هَؤُلَاءِ الْأَرْبَعِ
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari hati yang tidak
khusyuk, doa yang tidak didengar, jiwa yang tidak pernah puas, dan ilmu yang
tidak bermanfaat. Aku berlindung kepada-Mu dari empat perkara ini.” (Diriwayatkan
oleh at-Tirmidzi dan an-Nasa’i)
Dari Syaddad bin Aus رضي الله عنه: Rasulullah ﷺ berdoa:
يَقُولُ: اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الثَّبَاتَ فِي الْأَمْرِ،
وَالْعَزِيمَةَ فِي الرُّشْدِ، وَأَسْأَلُكَ قَلْبًا خَاشِعًا سَلِيمًا، وَخُلُقًا
مُسْتَقِيمًا، وَلِسَانًا صَادِقًا، وَعَمَلًا مُتَقَبَّلًا، وَأَسْأَلُكَ مِنْ
خَيْرِ مَا تَعْلَمُ، وَأَعُوذُ بِكَ مِنْ شَرِّ مَا تَعْلَمُ، وَأَسْتَغْفِرُكَ
لِمَا تَعْلَمُ؛ فَإِنَّكَ تَعْلَمُ وَلَا أَعْلَمُ، وَأَنْتَ عَلَّامُ الْغُيُوبِ.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu keteguhan dalam urusan,
tekad di atas petunjuk; aku memohon kepada-Mu hati yang khusyuk lagi bersih,
akhlak yang lurus, lisan yang jujur, amal yang diterima. Aku memohon kepada-Mu
kebaikan dari segala yang Engkau ketahui, dan aku berlindung kepada-Mu dari
keburukan segala yang Engkau ketahui. Aku memohon ampun kepada-Mu atas apa yang
Engkau ketahui; sesungguhnya Engkau mengetahui dan aku tidak mengetahui, dan
Engkaulah Yang Maha Mengetahui perkara gaib.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi)
Dari Mu‘adz رضي الله عنه: Rasulullah ﷺ berdoa:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ الطَّيِّبَاتِ، وَفِعْلَ الْخَيْرَاتِ،
وَتَرْكَ الْمُنْكَرَاتِ، وَحُبَّ الْمَسَاكِينِ.
أَسْأَلُكَ حُبَّكَ، وَحُبَّ مَنْ أَحَبَّكَ، وَحُبَّ كُلِّ عَمَلٍ
يُقَرِّبُ إِلَى حُبِّكَ، وَأَنْ تَتُوبَ عَلَيَّ، وَتَغْفِرَ لِي، وَتَرْحَمَنِي.
وَإِذَا أَرَدْتَ بِقَوْمٍ فِتْنَةً، فَاقْبِضْنِي إِلَيْكَ غَيْرَ
مَفْتُونٍ.
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu segala kebaikan, melakukan
kebajikan, meninggalkan kemungkaran, dan mencintai orang-orang miskin. Aku
memohon cinta-Mu, cinta orang yang mencintai-Mu, dan cinta setiap amal yang
mendekatkan kepada cinta-Mu. Berilah aku tobat, ampunilah aku, dan rahmatilah
aku. Jika Engkau menghendaki fitnah pada suatu kaum, maka wafatkanlah aku
kepada-Mu dalam keadaan tidak terkena fitnah.” (Diriwayatkan oleh at-Tirmidzi
dan ath-Thabrani)
Dari Ibnu Mas‘ud رضي الله عنه:
اللَّهُمَّ إِنِّي أَسْأَلُكَ إِيمَانًا لَا يَرْتَدُّ، وَنَعِيمًا
لَا يَنْفَدُ، وَقُرَّةَ عَيْنِ الْأَبَدِ، وَمُرَافَقَةَ نَبِيِّكَ مُحَمَّدٍ فِي
جَنَّةِ الْخُلْدِ
“Ya Allah, aku memohon kepada-Mu iman yang tidak kembali
murtad, kenikmatan yang tidak habis, penyejuk mata yang abadi, dan kebersamaan
dengan Nabi-Mu Muhammad di surga yang kekal.”
Penutup
Wahai saudaraku, mohonlah pertolongan kepada Tuhanmu,
hadirkan hatimu, angkatlah kebutuhanmu kepada Allah. Akhiri dengan shalawat dan
salam kepada Nabi dan keluarganya. Dan jadikanlah akhir ucapanmu—agar engkau
menakar dengan takaran yang paling sempurna—firman Allah:
“Mahasuci Tuhanmu, Tuhan Yang mempunyai kemuliaan, dari apa
yang mereka sifatkan. Dan kesejahteraan atas para rasul. Dan segala puji bagi
Allah, Tuhan semesta alam.”
Hamba yang fakir kepada Allah,
Hasan al-Banna
No comments:
Post a Comment