MAKNA MUJAHADATUN NAFSI SECARA ETIMOLOGIS (لُغَةً)
Mujahadatun nafsi adalah susunan
idlofah (kata majmu’), yang terdiri dari mudlaf (kata yang disandarkan),
yaitu mujahadah dan mudlaf
ilahi (kata yang dijadikan sandaran), yaitu an-nafsi.
Mujahadah menurut Ibnu Manzhur dalam Lisanul
‘Arab adalah: Menyapih jiwa dari syahwat dan melepaskan hati dari
angan-angan rusak serta syahwat.
Nafs dalam Bahasa Arab bermakna ruh, hati, hakikat, dzat
sesuatu (Lisanul Arab), kebesaran, kesombongan, kebanggaan, obsesi, inti, dan
harga diri.
MAKNA MUJAHADATUN
NAFS SECARA TERMINOLOGIS (اِصْطِلاَحاً)
Memerangi jiwa yang selalu menyuruh berbuat buruk dengan
cara memaksanya melakukan hal-hal yang berat, namun diperintahkan dalam
syari’at. (Dikutip dari At-Ta’rifat: 263 secara ringkas dan dengan sedikit
perubahan.
Al-Munawi berkata, “Dinyatakan bahwa mujahadah adalah
memaksa jiwa melakukan hal-hal yang memberatkan fisik dan menentang hawa nafsu.
Juga dinyatakan bahwa mujahadah adalah mencurahkan hal yang dimampui
untuk melakukan perintah Dzat Yang ditaati; Allah azza wa jalla.”
(At-Tauqif: 297)
Ibnu ‘Alan berkata, “Mujahadah adalah bentuk mufa’alah
dari kata al-juhdu yang bermakna kemampuan. Maka manusia
bermujahadah terhadap jiwanya dengan menggunakannya dalam hal-hal yang memberi
manfaat, baik saat ini atau yang akan datang. Dan, jiwa pun berjihad padanya
untuk melakukan apa yang diinginkannya.” (Dalilul Falihin, 1: 302)
Ibnu Hajar –rahimahullah- mengomentari
ungkapan Bukhari, “Bab siapa yang berjihad terhadap jiwanya dalam mentaati
Allah azza wa jalla.” Ini merupakan penjelasan keutamaan orang yang
bermjahadah. Dan, yang dimaksud mujahadah adalah: Menahan jiwa dari
kehendak-kehendaknya yang dapat menyibukkannya dengan selain ibadah (kepada
Allah).
MACAM-MACAM JIWA
1. Jiwa
yang sangat menyuruh pada kejahatan (اَلنَّفْسُ اْلأَمَّارَةُ), yaitu yang
cenderung pada tabi’at fisik, menyuruh pada kelezatan dan syahwat indrawi, dan
menarik hati menuju arah kerendahan. Dengan demikian jiwa ini merupakan rumah
kejahatan dan sumber akhlak tercela. Dan, jiwa inilah yang harus diperangi.
2. Jiwa
yang sangat mencela (اَلنَّفْسُ اللَّوَّامَةُ), yaitu jiwa yang
memantulkan sinar hati seukuran yang menyebabkanya tersadar dari kelupaan.
Sehingga setiap kali terjadi kejahatan karena tabi’at jiwa, ia mencela dirinya
sendiri.
3.
Jiwa yang tenang (اَلنَّفْسُ
الْمُطْمَئِنَّةُ), jiwa yang benar-benar tersinari oleh cahaya hati, sehingga
terlepas dari siafat-sifat tercela dan terhiasi akhlak-akhlak mulia.
AYAT-AYAT TENTANG MUJAHADATUN NAFS
1. Allah
swt. berfirman, “Aku bersumpah dengan hari kiamat, dan aku bersumpah dengan
jiwa yang amat menyesali dirinya sendiri. Apakah manusia mengira, bahwa kami
tidak akan mengumpulkan (kembali) tulang belulangnya? Bukan demikian,
sebenarnya Kami kuasa menyusun (kembali) jari jemarinya dengan sempurna.” (Al-Qiyamah:
1-4)
2. Allah
swt. berfirman, “Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya
dan menahan diri dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah
tempat tinggal (nya).” (An-Nazi’at: 40 – 41)
3. Allah
swt. berfirman, “Dan jiwa serta penyempurnaannya (ciptaannya), maka Allah mengilhamkan kepada jiwa itu
(jalan) kefasikan dan ketakwaannya, sesungguhnya beruntunglah orang yang
menyucikan jiwa itu.” (Asy-Syams: 7 – 9)
4.
Allah swt. berfirman, “Dan
wanita (Zulaikha) yang Yusuf tinggal di rumahnya menggoda Yusuf untuk
menundukkan dirinya (kepadanya) dan dia menutup pintu-pintu, seraya berkata, ’Marilah ke sini.’ Yusuf berkata, ’Aku
berlindung kepada Allah, sungguh tuanku telah memperlakukan aku dengan baik.’ Sesungguhnya
orang-orang yang lalim tiada akan beruntung. Sesungguhnya wanita itu telah
bermaksud (melakukan perbuatan itu) dengan Yusuf, dan Yusuf pun bermaksud
(melakukan pula) dengan wanita itu andaikata dia tiada melihat tanda (dari)
Tuhannya. Demikianlah, agar Kami memalingkan daripadanya kemungkaran dan
kekejian. Sesungguhnya Yusuf itu termasuk hamba-hamba Kami yang terpilih. Dan
keduanya berlomba-lomba menuju pintu dan wanita itu menarik baju gamis Yusuf
dari belakang hingga koyak dan kedua-duanya mendapati suami wanita itu di muka
pintu. Wanita itu berkata, ’Apakah pembalasan terhadap orang yang bermaksud
berbuat serong dengan istrimu, selain dipenjarakan atau (dihukum) dengan azab
yang pedih?’ Yusuf berkata, ’Dia menggodaku untuk menundukkan diriku
(kepadanya),’ dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan
kesaksiannya, ’Jika baju gamisnya koyak di muka, maka wanita itu benar dan
Yusuf termasuk orang-orang yang dusta. Dan jika baju gamisnya koyak di
belakang, maka wanita itulah yang dusta, dan Yusuf termasuk orang-orang yang
benar.’ Maka tatkala suami wanita itu melihat baju gamis Yusuf koyak di
belakang berkatalah dia, ’Sesungguhnya (kejadian) itu adalah di antara tipu
daya kamu, sesungguhnya tipu daya kamu adalah besar.’ (Hai) Yusuf, ’Berpalinglah
dari ini dan (kamu hai istriku) mohon ampunlah atas dosamu itu, karena kamu
sesungguhnya termasuk orang-orang yang berbuat salah.’ Dan wanita-wanita di
kota berkata, ‘Istri Al Aziz menggoda bujangnya untuk menundukkan dirinya
(kepadanya), sesungguhnya cintanya kepada bujangnya itu adalah sangat mendalam.
Sesungguhnya kami memandangnya dalam kesesatan yang nyata.” (Yusuf: 23 – 30)
HADITS-HADITS MENGENAI MUJAHADATUN NAFS
1.
Fudlalah bin Ubaid meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda,
كُلُّ
مَيِّتٍ يُخْتَمُ عَلَى عَمَلِهِ إِلاَّ الَّذِي مَاتَ مُرَابِطاً فِي سَبِيْلِ
اللهِ، فَإِنَّهُ يُنْمَي لَهُ عَمَلُهُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ، وَيَأْمَنُ مِنْ
فِتْنَةِ الْقَبْرِ" وَسَمِعْتُ رَسُوْلَ اللهِ r
يَقُوْلُ : " اَلْمُجَاهِدُ مَنْ جَاهَدَ نَفْسَهُ"
”Setiap orang yang
mati ditutup (pahala) amalnya, kecuali orang yang (mati) dalam keadaan berjaga
di jalan Allah; maka (pahala) amalnya dikembangkan hingga hari kiamat dan
mendapatkan keamanan dari fitnah kubur.” Dan, saya juga mendengar Rasulullah saw.
bersabda, ”Mujahid adalah orang yang berjihad terhadap jiwanya.” (HR. Ahmad dalam Al-Musnad 6/20-22, Turmudzi 1612 dan
redaksi di atas dari riwayat beliau. Dan, ia berkata Hadits ini Hasan Shahih.
Juga diriwayatkan oleh Abu Daud 2500, hingga lafal ”Fitnah kubur.” Muhaqqiq
Jami’ul ushul mengatakan bahwa sanadnya baik 11/21)
2.
Sabrah bin Abu Fakihah ra. meriwayatkan bahwa ia mendengar Rasulullah saw.,
إِنَّ الشَّيْطَانَ قَعَدَ
لِابْنِ آدَمَ بِأَطْرُقِهِ فَقَعَدَ لَهُ بِطَرِيقِ الْإِسْلَامِ فَقَالَ تُسْلِمُ
وَتَذَرُ دِينَكَ وَدِينَ آبَائِكَ وَآبَاءِ أَبِيكَ فَعَصَاهُ فَأَسْلَمَ ثُمَّ قَعَدَ
لَهُ بِطَرِيقِ الْهِجْرَةِ فَقَالَ تُهَاجِرُ وَتَدَعُ أَرْضَكَ وَسَمَاءَكَ وَإِنَّمَا
مَثَلُ الْمُهَاجِرِ كَمَثَلِ الْفَرَسِ فِي الطِّوَلِ فَعَصَاهُ فَهَاجَرَ ثُمَّ قَعَدَ
لَهُ بِطَرِيقِ الْجِهَادِ فَقَالَ تُجَاهِدُ فَهُوَ جَهْدُ النَّفْسِ وَالْمَالِ فَتُقَاتِلُ
فَتُقْتَلُ فَتُنْكَحُ الْمَرْأَةُ وَيُقْسَمُ الْمَالُ فَعَصَاهُ فَجَاهَدَ فَقَالَ
رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فَمَنْ فَعَلَ ذَلِكَ كَانَ حَقًّا
عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَمَنْ قُتِلَ كَانَ حَقًّا
عَلَى اللَّهِ عَزَّ وَجَلَّ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ وَإِنْ غَرِقَ كَانَ حَقًّا
عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ أَوْ وَقَصَتْهُ دَابَّتُهُ كَانَ حَقًّا
عَلَى اللَّهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الْجَنَّةَ
”Sesungguhnya
syetan duduk di jalan-jalan yang dilalui manusia; ia mengganggu manusia di
jalan Islam, ia berkata, ’Engkau masuk Islam, meninggalkan agamamu, agama
ayahmu, dan agama nenek moyangmu?’ Maka manusia pun mendurhakainya dan masuk
Islam. Kemudian ia duduk mengganggu di jalan hijrah; ia berkata, ’Engkau
berhijrah meninggalkan tanah airmu. Padahal perumpamaan orang yang hijrah itu
seperti kuda yang diikat dengan tali.’ Maka manusia pun mendurhakainya dan
berhijrah. Kemudian ia menggoda manusia di jalan jihad, ia berkata, ’Engkau
berjihad, padahal jihad itu memberatkan jiwa dan harta; engkau berperang dan
akan terbunuh, lantas istrimu dinikahi orang dan hartamu dibagi-bagi?’ Maka
manusia pun mendurhakainya dan berjihad. Rasulullah saw. bersabda, ’Siapa yang
melakukan hal itu, maka ia Allah akan memasukkannya ke surga. Siapa yang
terbunuh, maka Allah akan memasukkannya ke surga. Apabila ia tenggelam, maka
Allah akan memasukkannya ke surga, atau jika kendaraannya membawanya ke tempat
jauh, maka Allah akan memasukkannya ke surga.” (HR. An-Nasai 6/21 – 22 dalam
bab Jihad. Muhaqqiq jami’ul ushul mengatakan (9/540-541) bahwa sanad Hadits ini
Shahih. Dianggap shahih oleh Ibnu Hibba serta di anggap hasan oleh Al-Hafizh
Ibnu Hajar dalam Al-Ishabah 3/64)
3.
Anas ra. berkata, ”Pamanku Anas bin Nadlor tidak ikut serta dalam perang
Badr. Maka ia berkata kepada Rasulullah saw., ’Wahai Rasulullah saw., saya
tidak ikut serta dalam peperangan engkau yang pertama melawan kaum musyrikin.
Apabila Allah memberi kesempatan padaku untuk memerangi kaum musyrikin, maka Ia
akan melihat apa yang akan aku perbuat.’ Ketika perang Uhud terjadi dan kaum
muslimin terkalahkan, ia berdoa, ’Ya Allah, aku mohon ampun kepada-Mu dari apa
yang dilakukan oleh mereka (kaum muslimin yang melarikan diri) dan aku berlepas
diri kepada-Mu dari apa yang dialkukan oleh mereka (kaum musyrikin).’ Kemudian
ia maju dan bertemu Sa’d bin Mu’adz, ia berkata, ’Wahai Sa’d, surga demi Tuhan
Nadlor. Sesungguhnya saya mencium baunya di balik Uhud.’ Sa’d berkata, ’Aku
tidak mampu melakukan seperti apa yang dilakukannya, wahai Rasulullah saw.”
Anas ra. berkata,
”Kami menjumpai delapan puluh lebih luka ditubuhnya, baik karena sabetan
pedang, tusukan tombak, atau lemparan anak panah. Kami menjumpainya telah
terbunuh dan tubuhnya dipotong-potong
oleh kaum musyrikin. Sehingga tiada seorang pun yang mengenalinya,
kecuali saudarinya melalui jari jemarinya.”
Anas ra.
melanjutkan penuturannya, ”Kami beranggapan bahwa karena dia dan orang-orang
sepertinyalah ayat berikut diturunkan, ”Di antara orang-orang mukmin itu ada
orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di
antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang
menunggu-nunggu dan mereka sedikit pun tidak mengubah (janjinya). (Al-Ahzab:
23).” (HR. Bukhari, Fathul Bari 6/2805 dan Muslim 1903. Redaksi di atas dari
riwayat Bukhari)
4.
Rabi’ah bin Ka’b Al-Aslami ra. berkata, ”Aku bermalam bersama Rasulullah
saw., kemudian aku membawakan air wudlu dan kebutuhan beliau. Beliau berkata
kepadaku, ’Ajukan permintaan!’ Aku pun berkata, ’Aku mohon bisa menemanimu di
surga.’ Beliau bertanya, ’Apa ada selain itu?’ Aku menjawab, ’Hanya itu.’ Beliau bersabda, ’
فَأَعِنيِّ
عَلىَ نَفْسِكَ بِكَثْرَةِ السُّجُوْدِ
’Bantulah aku
untuk kepentingan dirimu dengan memperbanyak sujud (shalat).’ (HR. Muslim 489)
5.
Mughirah bin Syu’bah ra. meriwayatkan,
أَنَّ
النَّبِيَّ r
صَلَّى حَتَّى اِنْتَفَخَتْ قَدَمَاهُ . فَقِيْلَ لَهُ : أَتُكَلِّفُ هَذَا وَقَدْ
غَفَرَ اللهُ لَكَ مَا تَقَدَّمَ مِنْ ذَنْبِكَ وَمَا تَأَخَّرَ. فَقَالَ :
"أَفَلاَ أَكُوْنَ عَبْداً شَكُوْراً ؟"
”Sesungguhnya
Rasulullah saw. melakukan shalat hingga dua telapak kaki beliau bengkak. Maka
ditanyakan kepada beliau, ”Apakah engkau memaksakan seperti ini, padahal Allah
telah mengampuni dosamu yang telah lalu dan yang akan datang?” beliau menjawab,
”Tidakkah aku menjadi hamba yang sangat bersyukur?” (Fathul Bari 1130 dan
Muslim 2819. Redaksi di atas dari riwayat Muslim)
UNGKAPAN
PARA ULAMA MENGENAI MUJAHADATUN NAFS
1. Isa as. berkata,
طُوْبَى
لِمَنْ تَرَكَ شَهْوَةً حَاضِرَةً لِمَوْعِدٍ غَائِبٍ لَمْ يَرَهُ
”Berbahagialah
orang yang meninggalkan syahwat yang nyata (di dunia) untuk janji yang masih
ghaib, yang belum dilihatnya.” (Ihya’ ulumuddin 3/71)
2. Abu Bakar Ash-Shiddiq ra. memberi wasiat kepada Umar ra.
saat melantiknya sebagai penggantinya,
إِنَّ
أَوَّلَ مَا أُحَذِّرُكَ: نَفْسَكَ الَّتِي بَيْنَ جَنْبَيْكَ
”Hal pertama
yang aku peringatkan padamu adalah jiwamu yang berada di antara dua lambungmu.”
(Jami’ul ulum wal hikam 172)
3. Umar bin Khathab ra. berkata,
حَاسِبُوْا
أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُحَاسَبُوْا، وَزِنُوْا أَنْفُسَكُمْ قَبْلَ أَنْ تُوْزَنُوْا ، وَتَزَيَّنُوْا
لِلْعَرْضِ اْلأَكْبَرِ عَلَى مَنْ لاَ تَخْفَى عَلَيْهِ أَعْمَالُكُمْ. }يَوْمَئِذٍ تُعْرَضُوْنَ
لاَ تَخْفَى مِنْكُمْ خَافِيَةٌ{
”Hisablah
(koreksilah) diri kalian, sebelum kalian dihisab (oleh Allah), timbanglah diri
kalian sebelum kalian ditimbang (oleh Allah), dan berhiaslah untuk menyambut
hari pertemuan terbesar di hadapan Dzat yang tiada tersembunyi dari-Nya
amal-amal kalian.” ”Pada hari itu kamu dihadapkan (kepada Tuhanmu), tiada
sesuatu pun dari keadaanmu yang tersembunyi (bagi Allah).” (Al-Haqqah: 18).
(Madarijus salikin, 1/189-190)
KEDUDUKAN MUJAHADATUN NAFS
Ibnu Bathal berkata, ”Jihad seseorang
terhadap jiwa adalah jihad yang paling sempurna, sebagaimana firman Allah swt.,
’Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri
dari keinginan hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal (nya).’
(An-Nazi’at: 40 – 41) Jihad tersebut dapat dilakukan dengan mencegah jiwa dari
melakukan maksiat, hal-hal yang syubhat, dan memperbanyak melakukan syahwat
yang diperbolehkan, untuk menabung di akhirat.” Ia melanjutkan ungkapannya, ”Agar
manusia tidak biasa memperbanyak yang mubah, hingga menjadi kebiasaan yang
dapat menyeretnya pada hal-hal syubhat, hingga dihawatirkan terjatuh pada yang
haram.”
HAL-HAL YANG PERLU DIKETAHUI MENGENAI
JIHAD TERHADAP JIWA
Ibnu
Jauzi berkata, ”Aku merenungkan jihad terhadap jiwa, maka aku memandang bahwa
ia merupakan jihad yang paling agung. Aku memandang bahwa ada beberapa ulama
dan ahli zuhud yang kurang memahami maknanya. Sebab di antara mereka ada yang
memahami bahwa jihad terhadap jiwa adalah menahan jiwa dari segala keinginannya
secara muthlak. Dan, anggapan tersebut salah karena dua aspek:
Pertama: Terkadang
orang yang mencegah syahwat dapat memperoleh kesenangan lebih sempurna dengan
mencegahnya daripada memberinya. Misalnya ia mencegahnya dari yang mubah,
hingga ia terkenal dengan sifat tersebut. Maka jiwanya puas dengan pencegahan
itu, sebab mendapatkan pujian sebagai penggantinya. Bahkan yang lebih lembut
dari itu adalah, bahwa sikapnya menahan jiwa itu menjadikannya memandang
dirinya lebih utama dari orang lain yang belum mencegahnya. Dan, ini merupakan sifat tersembunyi yang membutuhkan
pemahaman cermat untuk melepaskannya.
Kedua: Kita diperintahkan untuk menjaga jiwa. Dan, di antara sebab terjaganya jiwa
adalah kecenderungannya pada hal-hal yang dapat menjaga eksistensinya. Karena
itu jiwa harus diberi hal-hal yang dapat menjaga eksistensinya. Di mana
kebanyakannya, atau bahkan seluruhnya berasal hal-hal yang disukai jiwa.
Kita hanyalah orang-orang diserahi
untuk menjaga jiwa, sebab ia bukanlah milik kita. Ia hanyalah titipan yang
diserahkan kepada kita. Maka menghalanginya mendapatkan haknya secara muthlak
adalah berbahaya.
Di samping itu, terkadang penahanan
memberikan kenyamanan dan terkadang mempersempit jiwa merupakan cermin sikap
menghindarkan diri darinya. Karena itu ia akan kesulitan menghindari
tindakan-tindakan tersebut. (Dalam hadits disebutkan, ”Sesungguhnya agama ini
sangat kokoh, masuklah di dalamnya dengan lemah lembut. Sebab yang memaksakan
diri tidak dapat melintasi bumi dan tidak menyisakan kendaraan.” HR. Bazzar
1/57 (74). Juga diriwayatkan oleh Al-Qudla’i dalam Musnad Asy-Syhab 2/184 (1147
– 1148) dari Jabir bin Abdullah. Lihat juga Al-Maqashid Al-Hasanah, hal. 391
(1403))
Jihad terhadap jiwa itu seperti
jihadnya orang sakit yang cerdas. Ia berupaya memaksa jiwanya melakukan hal
yang dibencinya, yaitu mengkonsumsi obat yang diharapkan dapat menyembuhkannya.
Namun di sela-sela pahitnya obat terdapat sedikit rasa manis. Ia pun
mengkonsumsi makanan seukuran yang ditentukan oleh dokter dan tidak mungkin ia
terbawa syahwatnya untuk memenuhi segala keinginannya, bahkan terkadang ia rela
lapar.
Demikian juga mukmin yang berakal; ia
tidak mungkin melepaskan kendali jiwanya dan juga mengikatnya kuat-kuat.
Sesekali waktu ia melonggarkan kendali, tetapi tali kendali masih ada di
tangannya. Karena itu, selama jiwa masih berada dalam kesungguhan, ia tidak
akan mempersempitnya. Apabila ia melihat jiwanya mulai condong, maka ia
mengembalikannya dengan lembut. Tetapi jika jiwa itu merasa berat dan enggan,
maka ia memaksanya.
Dalam hal rayuan, jiwa itu seperti
seorang istri yang akalnya dibangun di atas kelemahan dan keterbatasan.
Karenanya ia harus dirayu dengan nasihat saat membangkang. Jika tidak dapat
dinasehati, maka dijauhi. Dan, jika masih juga tidak berubah, maka dipukul.
Cambuk pemberian sangsi tidak lebih
bagus dari cambuk tekad.
Hal-hal di atas adalah aspek aplikatif.
Sedangkan dari aspek nasihat dan kritikan, maka setiap orang yang melihat jiwa
tengah cenderung dan nyaman pada makhluk, serta melakukan akhlak-akhlak rendah,
maka ia harus mengenalkan jiwa tersebut pada Penciptanya, dengan mengatakan,
”Bukankah engkau (wahai jiwa) yang
dinyatakan oleh Pencipta, ”Aku telah menciptakanmu dengan kedua tangan-Ku,
memerintahkan malaikat untuk memberi penghormatan padamu, meridlaimu sebagai
khalifah di bumi, memberikan pinjaman padamu, dan memberi darimu?”
Apabila jiwa menyombongkan diri, maka
hendaknya dikatakan padanya, ”Bukankah engkau hanyalah setetes air yang hina;
Kamu dapat terbunuh oleh sinar mentari dan merasa sakit disengat serangga?”
Apabila jiwa terlihat teledor, maka
hendaknya dikenalkan dengan kewajiban-kewajiban hamba terhadap tuannya.
Apabila jiwa terlihat lemah dalam
beramal, maka hendaknya diberitahu mengenai pahala yang besar.
Apabila jiwa
cenderung pada nafsu, maka hendaknya ditakuti dengan besarnya dosa, kemudian
diingatkan dengan siksa indrawi yang dapat disegerakan, sebagaimana firman
Allah swt.,
قُلْ
أَرَءَيْتُمْ إِنْ أَخَذَ ٱللَّهُ سَمْعَكُمْ وَأَبْصَـٰرَكُمْ وَخَتَمَ عَلَىٰ
قُلُوبِكُم مَّنْ إِلَـٰهٌ غَيْرُ ٱللَّهِ يَأْتِيكُم بِهِ ۗ ٱنظُرْ كَيْفَ
نُصَرِّفُ ٱلْـَٔايَـٰتِ ثُمَّ هُمْ يَصْدِفُونَ ٤٦
’Terangkanlah kepadaku jika Allah
mencabut pendengaran dan penglihatan serta menutup hatimu, siapakah Tuhan
selain Allah yang Kuasa mengembalikannya kepadamu?’ perhatikanlah bagaimana
Kami berkali-kali memperlihatkan tanda-tanda kebesaran (Kami), kemudian mereka
tetap berpaling (juga).” (Al-An’am: 46)
Juga siksaan
mental, seperti firman Allah swt.,
سَأَصْرِفُ
عَنْ ءَايَـٰتِىَ ٱلَّذِينَ يَتَكَبَّرُونَ فِى ٱلْأَرْضِ بِغَيْرِ ٱلْحَقِّ وَإِن
يَرَوْا۟ كُلَّ ءَايَةٍۢ لَّا يُؤْمِنُوا۟ بِهَا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلرُّشْدِ
لَا يَتَّخِذُوهُ سَبِيلًۭا وَإِن يَرَوْا۟ سَبِيلَ ٱلْغَىِّ يَتَّخِذُوهُ
سَبِيلًۭا ۚ ذَٰلِكَ بِأَنَّهُمْ كَذَّبُوا۟ بِـَٔايَـٰتِنَا وَكَانُوا۟ عَنْهَا
غَـٰفِلِينَ ١٤٦
”Aku akan memalingkan orang-orang
yang menyombongkan dirinya di muka bumi tanpa alasan yang benar dari
tanda-tanda kekuasaan-Ku. mereka jika melihat tiap-tiap ayat(Ku), mereka tidak
beriman kepadanya. dan jika mereka melihat jalan yang membawa kepada petunjuk,
mereka tidak mau menempuhnya, tetapi jika mereka melihat jalan kesesatan,
mereka terus memenempuhnya. yang demikian itu adalah karena mereka mendustakan
ayat-ayat Kami dan mereka selalu lalai dari padanya.” (Al-A’raf: 146)
Ini adalah jihad
dengan ucapan, sementara sebelumnya adalah jihad dengan perbuatan.
MENGENDALIKAN JIWA
DENGAN BAIK
Hal yang paling mengagumkan adalah
mujahadah terhadap jiwa. Sebab ia membutuhkan kreasi yang menakjubkan, di mana
beberapa orang memberinya kebebasan sesukanya, sehingga ia mengantarkan mereka
pada hal-hal yang mereka benci. Sebagian lagi memasungnya secara berlebihan,
sehingga mengharamkannya mendapatkan hak-haknya dan menzhaliminya. Dan,
kezhaliman mereka kepadanya berpengaruh pada ibadah-ibadah mereka. Sebagian
dari mereka tidak memberinya gizi dengan baik, sehingga fisiknya tidak mampu
melaksanakan kewajiban. Sebagian yang lain mengisolasinya dalam kesendirian,
sehingga ia terasing di kalangan umat manusia, akibatnya ia meninggalkan yang
diwajibkan atau yang utama, misalnya menjenguk orang sakit, berbakti kepada
ibu, atau lainnya.
Orang yang kuat tekad adalah yang
mendidik jiwanya untuk bersungguh-sungguh dan menjaga prinsip. Apabila ia
memberi peluang luas pada jiwa untuk menikmati yang mubah, maka ia tidak
membiarkannya melampui batas. Ia dan jiwanya ibarat raja yang bergurau dengan
sebagian prajuritnya; Ia tidak terbuka luas dengan budak. Jika ia telah
berlebihan dalam bergurau dengan budak, maka ia diingatkan dengan wibawa
kerajaan. Demikian juga orang cerdik, ia akan memberikan kepada jiwa akan
hak-haknya dan menuntutnya melakukan kewajiban-kewajibannya.
Orang yang berakal tidak akan melakukan
hal-hal yang berat, hingga mengukur jiwanya, apakah jiwanya kuat? Ia juga
mencoba jiwanya untuk melakukannya tanpa sepengetahuan orang lain, sebab boleh
jadi ia terlihat oleh orang lain dalam keadaan tidak sabar melakukan hal yang
berat tersebut, sehingga ia kembali dalam keadaan dipermalukan.
Misalnya seseorang mendengar sebutan
ahli zuhud, lantas ia membuang pakaiannya yang bagus, mengenakan pakaian yang
lebih jelek, menyendiri di pojok, dan hatinya dipenuhi dengan dzikrul maut
serta akhirat. Namun tidak seberapa lama tuntutan tabi’atnya muncul dan
terus-menerus mengajaknya kembali ke kebiasaannya, akhirnya ia pun kembali ke
kondisi semula.
Sebagian orang kembali lagi ke
penyakitnya, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Seperti orang yang banyak
makan daging unta, setelah sembuh dari sakit.
Sebagian lagi ada yang kondisinya di
tengah-tengah, hingga ia tetap berada dalam keragu-raguan.
Orang cerdas berupaya mengenakan
pakaian pertengahan saat tampil di tengah manusia; ia tidak keluar dari
kebiasaan orang-orang baik dan tidak masuk dalam kelompok orang-orang yang
mengenakan pakaian kaum miskin. Apabila tekadnya kuat, maka ia beramal di rumahnya
sesuai kemampuan, tidak mengenakan pakaian perhiasan untuk menutupi kondisi
sebenarnya dan tidak memamerkan sesuatu pada orang lain. Ini lebih jauh dari
sikap riyaa’ dan lebih terhindar dari keadaan dipermalukan.
Di antara manusia ada yang pendek
angan-angan dan selalu ingat akhirat, hingga menelantarkan buku-buku tentang
keilmuan. Menurutku, tindakan ini salah besar, meski telah dilakukan oleh
sekelompok tokoh terkenal. Saya pernah menyebut tindakan seperti itu kepada
sebagian guru kita, lantas ia berkata, ”Mereka semua keliru.”
Saya mengira sebagian mereka berasal
dari cerita kaum yang lemah, tanpa diseleksi. Sebagaimana diriwayatkan bahwa
Sufyan telah mengubur buku-bukunya. Atau hanya sekedar pendapat yang tidak
boleh dianut, seperti tindakan Utsman bin ’Affan ra. membakar seluruh mushaf,
agar tidak terjadi perselisihan setelah ada kesepakatan.
Adapun mengenai tindakan Ahmad bin Abi
Al-Hawari dan Ibnu Asbath yang mencuci buku-bukunya, maka itu semata-mata
keteledoran dari mereka berdua.
Oleh karena itu, hendaklah setiap
muslim waspada terhadap amal yang dilarang syrai’at, melakukan hal-hal yang
diduga merupakan kewajiban, namun ternyata salah, atau menampakkan sesuatu yang
tidak dimampui, sehingga kembali ke belakang.
Rasulullah saw. Bersabda, ”Hendaklah
kalian mengerjakan apa yang kalian mampui.” (h.r. Bukhari, Kitabul Iman, 1/17,
Muslim, Kitab Shalatul Lail, 3/208. Dan Ibnu Majah, Kitabuz Zuhdi, 1415 (4238)
Ibnul Jauzi berkata, “Aku merenungkan
hal yang mengherankan dan prinsip yang baik, yaitu bertubi-tubinya ujian pada
mukmin. Namun ia mengingat Allah, padahal ia mempu meraihnya. Bahkan dapat
meraihnya dengan mudah, tanpa kesusahan. Seperti cinta yang disambut untuk
berduaan di tempat yang aman.”
Setelah itu saya (Ibnul Jauzi)
berkomentar, “Mahasuci Allah! Di situlah nampak pengaruh iman, bukan sekedar
pada shalat dua rakaat.
Demi Allah, Nabi Yusuf tidak mencapai
ketinggian dan kebahagiaan kecuali karena situasi seperti di atas. Maka demi
Allah, wahai saudaraku, renungkanlah situasi yang menyertai Yusuf; andaikan ia
menuruti hawa nafsunya, maka bagaimana jadinya?
Analogikan situasi
tersebut dengan situasi yang menyertai Adam as. Kemudian timbanglah dengan
timbangan akal untuk mengetahui akibat kekeliruan Adam dan buah kesabaran
Yusuf. Dan, jadikan pemahaman kalian terhadap situasi itu sebagai bekal untuk
menghadapi segala yang menggoda jiwa.”
DIALOG DENGAN
KELEZATAN MENGENDALIKAN NAFSU
Ibnul Jauzi berkata, “Menurutku,
kecenderungan jiwa pada syahwat telah melewati batas, hingga hati, akal, dan
pikirannya ikut cenderung. Akhirnya seseorang tidak lagi dapat mengambil
manfaat dari nasihat.
Suatu hari, aku berteriak pada pada
jiwa yang telah cenderung secara total kepada syahwat, ‘Celaka engkau,
berhentilah sejenak untuk mendengarkan beberapa ungkapanku. Setelah itu,
lakukan apa saja yang kamu sukai.”
Jiwaku berkata, ‘Katakanlah, saya akan
mendengarkan.’
Aku berkata, ‘Engkau telah terbiasa
cenderung pada berbagai syahwat yang diperbolehkan. Namun seluruh
kecenderunganmu kepada hal-hal yang diharamkan. Aku menunjukkan padamu dua hal;
mungkin engkau mengganggapnya sebagai dua hal yang manis sekaligus pahit.
Mengenai syahwat-syahwat yang
diperbolehkan (mubah), maka engkau mendapatkan kebebasan penuh. Tetapi jalan
untuk meraihnya sulit. Sebab boleh jadi kekayaan tidak mampu meraihnya, kerja
keras tidak dapat menghasilkan sebagian besar darinya, waktu yang mulia dapat
habis percuma untuk hal-hal di atas, dan hati akan sibuk dengannya saat
berupaya meraihnya, ketika sudah meraihnya, serta ketika takut ia hilang.
Di samping itu, kenikmatan syahwat yang
mubah pasti terganggu dengan kekurangan; apabila syahwat itu berupa makanan,
maka kekenyangan dapat menimbulkan berbagai penyakit. Apabila berupa seseorang,
maka dapat muncul kebosanan, perpisahan, atau perilaku yang buruk. Bahkan,
pernikahan yang paling nikmat dapat melemahkan fisik. Dan, masih banyak lagi
contoh yang sangat panjang kalau dibicarakan.
Mengenai syahwat yang diharamkan, maka
sudah tercakup dalam penjelasan mengenai syahwat yang mubah. Ditambah, bahwa
syahwat yang diharamkan dapat merusak kehormatan, mengundang siksa di dunia,
mempermalukan, ancaman di akhirat, dan dapat menimbulkan kesedihan setiap orang
yang bertaubat mengingatnya.
Kekuatan mengekang nafsu adalah
kelezatan yang melebihi setiap kelezatan. Tidakkah anda memperhatikan nasib
orang yang terkalahkan oleh nafsunya? Bukankah ia terhina, sebab ia
terkalahkan? Berbeda dengan orang yang dapat mengalahkan nafsunya, ia memiliki
hati yang kuat dan meraih kemuliaan, sebab ia menjadi pemenang.
Karena itu waspadalah, jangan melihat
hal-hal yang menyenangkan nafsu dengan pandangan baik, sebagaimana seorang
pencuri memandang lezatnya mengambil harta dari brangkas. Bukalah mata hati
untuk merenungkan berbagai akibatnya, tercampurnya kelezatan dengan gangguan,
dan perubahan rasa lezat karena kejenuhan, karena berbagai penyakit, atau
karena hilang. Sebab maksiat yang pertama ibarat suapan pertama yang ditelan
oleh orang yang lapar.
Hendaklah setiap
manusia mengingat lezatnya mengendalikan nafsu serta merenungkan berbagai
manfaat kesabaran menahan nafsu. Apabila manusia terbimbing melakukan hal
tersebut, maka jalan keselamatan selalu dekat padanya.
CARA BERMUJAHADAH
Ibnul Jauzi berkata, “Menurutku,
seluruh makhluk dalam pertempuran. Di mana syetan-syetan menghujani mereka
dengan panah nafsu dan menyabet mereka dengan pedang kelezatan. Orang-orang
yang mencampur kebaikan dengan kejahatan akan terkapar di awal pertempuran.
Sedangkan orang-orang yang bertaqwa terus berjihad. Dan, jihad ini membutuhkan
waktu yang lama; mereka terluka dan melakukan pengobatan. Mereka terhindar dari
kematian, namun luka di wajah dapat memperburuk muka, karena itu para mujahid
harus selalu waspada.
Abu Amr bin Bujaid meriwayatkan, “Siapa
menganggap mulia agamanya, maka ia akan menganggap hina jiwanya.”
Al-Qusyairi berkata, “Pokok mujahadah
terhadap jiwa adalah menyapihnya dari hal-hal yang menjadi kebiasaannya dan
memaksanya pada hal-hal yang tidak disukai nafsunya. Jiwa itu ada dua macam:
Jiwa yang tenggelam dalam syahwat dan jiwa yang enggan melakukan ketaatan.
Mujahadah berada sesuai kondisi masing-masing.”
Sebagian ulama mengatakan, “Jihad
terhadap jiwa masuk dalam kategori jihad terhadap musuh. Sebab musuh itu ada
tiga: Pimpinan mereka adalah syetan, kemudian jiwa karena ia mengajak kepada
kelezatan yang mengantar kepada keharaman yang dimurkai oleh Allah. Dan, syetan
adalah pembantu dan penghias jiwa agar melakukannya. Karena itu siapa yang
menentang hawa nafsunya, berarti telah mengalahkan syetan yang menyertainya.
Dengan demikian, mujahadah terhadap jiwa adalah memaksanya untuk mengikuti
perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-larangan-Nya. Apabila seorang
hamba telah mendapat kekuatan dalam hal tersebut, maka sangat mudah baginya
berjihad melawan musuh-musuh agama.
Jihad pertama (jihad terhadap syetan
dan jiwa) adalah jihad batin. Sedangkan jihad yang kedua (jihad terhadap musuh
agama) adalah jihad lahir.
Jihad terhadap jiwa itu memiliki empat
tingkatan:
1.
Memaksanya untuk mempelajari urusan-urusan agama
2.
Memaksanya untuk mengamalkan apa yang dipelajari
3.
Memaksanya untuk mengajarkan apa
yang diketahui kepada orang yang belum mengetahui
4.
Menyeru kepada keesaan Allah dan
memerangi orang yang menyimpang dari agama-Nya serta mengingkari nikmat-Nya.
Pembantu
yang paling kuat untuk berjihad melawan jiwa adalah jihad terhadap syetan,
dengan cara membuang semua syubhat dan keraguan yang dibisikkannya, membentengi
diri dari hal-hal haram yang dihiasi oleh syetan, dan mencegah diri dari
memperbanyak hal-hal mubah yang dapat menjerumuskan pada syubhat. Untuk
kesempurnaan mujahadah, hendaknya hamba selalu waspada pada jiwa dalam semua
keadaannya. Sebab jika ia melupakannya, maka syetan dan jiwanya akan
mengajaknya melakukan hal-hal yang dilarang. Dan, hanya Allah yang memberi
pertolongan.” (Fathul Bari, 11/345-346)
Al-Ghazali
–rahimahullah- berkata, “
Pada dasarnya, setiap orang perlu
meninggalkan kegembiraan yang terkait dengan urusan dunia. Misalnya, orang yang
gembira pada harta, kedudukan, simpati orang saat memberi nasihat, kemuliaan
dalam peradilan atau kekuasaan, atau banyaknya pengikut saat mengajar.
Hendaknya ia meninggalkan kegembiraan itu. Tetapi ketika dia meninggalkan
kegembiraan itu, kemudian dikatakan padanya, “Pahalamu di akhirat tidak akan
berkurang dengan sikap meninggalkan itu.” Apabila ia benci ungkapan tersebut
dan merasa sakit hati, maka itu salah satu tanda bahwa ia gembira dengan
kehidupan dunia dan merasa nyaman dengannya. Dan, ini merupakan hal yang dapat
membinasakannya. Karena itu, sebaiknya ia menyendiri untuk mengevaluasi hatinya
dan menyibukkannya hanya dengan dzikir kepada Allah serta memikir
makhluk-makhluk-Nya. Kemudian hendaklah mengawasi syahwat dan bisikan yang
muncul dalam jiwanya, sehingga dapat mengikatnya, meski telah nampak jelas.
Setiap bisikan pasti ada sebabnya, dan bisikan tidak akan hilang kecuali dengan
meninggalkan penyebabnya. Setelah itu hendaklah mengulangi tindakan-tindakan di
atas sepanjang sisa usia, sebab jihad tidak akan berakhir, kecuali bila
kematian telah tiba.” (Ihyaa ulumud din, 3/67)
Ibnu Hajar –rahimahullah-
menyatakan dalam kitabnya, syarah al-Misykat, ketika menjelaskan
Hadits dari Rabi’ah bin Ka’ab ra. yang memohon pada Nabi saw. agar dapat
menemani beliau di surga, “Berjihad pada jiwanya dengan memperbanyak
sujud.” Maka ia pun mendapatkan derajat
yang tinggi itu, di mana tiada lagi harapan kecuali semakin dekat pada Allah di
dunia dengan memperbanyak sujud, sebagaimana yang diisyaratkan dalam
firman-Nya,
كَلَّا
لَا تُطِعْهُ وَٱسْجُدْ وَٱقْتَرِب ۩ ١٩
“Dan, sujudlah dan dekatkanlah (dirimu
kepada Tuhan).” (Al-‘Alaq: 19)
Setiap sujud
adalah pendekatan tertentu yang dapat mengantar pelakunya menaiki tangga
kedekatan (pada Allah), sehingga berakhir pada tingkatan menjadi teman Rasul
tercinta saw. Dan, dengan begitu ia mendapatkan seperti yang difirmankan Allah
swt.,
قُلْ
إِن كُنتُمْ تُحِبُّونَ ٱللَّهَ فَٱتَّبِعُونِى يُحْبِبْكُمُ ٱللَّهُ وَيَغْفِرْ
لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ ۗ وَٱللَّهُ غَفُورٌۭ رَّحِيمٌۭ ٣١
“Katakanlah, ‘Jika kamu
(benar-benar) mencintai Allah, ikutilah Aku, niscaya Allah mengasihi dan
mengampuni dosa-dosamu.’ Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (Ali Imran:
31)
Dekat dengan Rasulullah saw. tidak
mungkin tercapai kecuali dengan mendekatkan diri kepada Allah swt. Dan,
kedekatan dengan Allah swt. tidak mungkin tercapai kecuali dengan kedekatan
dengan Rasulullah saw.
Dua kedekatan itu saling mempengaruhi,
satu tidak mungkin dipisahkan dari yang lainnya. Karena itulah, Allah
menempatkan tindakan mengikuti Rasul-Nya di antara dua kecintaan untuk
mengajarkan kepada kita, bahwa cinta hamba kepada Allah dan cinta Allah kepada
hamba-Nya sangat tergantung pada tindakan mengikuti RAsulullah saw.” (Dalilul
falihin, 1/318)
Ibnu Hajar menambahkan, “Berjihadlah
pada jiwamu dengan pedang-pedang latihan. Dan, latihan itu ada empat macam;
makan yang hanya sekedar menghilangkan lapar, sedikit tidur, sedikit bicara,
dan menanggung gangguan dari seluruh manusia. Sedikit makan dapat menyebabkan
kematian syahwat, sedikit tidur dapat menjernihkan kehendak, sedikit bicara
dapat menyelamatkan dari berbagai penyakit, dan kemampuan menanggung derita
dapat mengantar pada tujuan. Tiada yang berat bagi seorang hamba melebihi sikap
santun saat diperlakukan kasar dan sabar saat mendapatkan gangguan.
Apabila kehendak syahwat dan keinginan
berbuat dosa mulai bergerak dalam jiwa, hingga kata-kata pun keluar secara
berlebihan, maka pedang ssedikit makan terhunus dari sarung tahajjud dan
sedikit tidur, lalu menebas keinginan tersebut dengan menggunakan tangan
sedikit bicara, sehingga jiwa terhindar dari kezhaliman, aman dari berbagai
bahaya, tercerahkan dari kegelapan syahwatnya, selamat dari gangguan
penyakitnya, dan ia menjadi bersih, bercahaya, serta ringan mengarungi berbagai
kebaikan, dan menapaki jalan-jalan ketaatan, seperti kuda yang berlari kencang
di lapangan dan seperti raja yang rekreasi di kebun.” (Ihyaa ulumud din, 3/66)
Malik bin Dinar jalan-jalan di pasar.
Apabila ia melihat sesuatu yang diinginkan oleh jiwanya, maka ia berkata kepada
jiwanya, “Bersabarlah, demi Allah aku tidak mencegahmu kecuali karena
kemuliaanmu atas diriku.” (Ihyaa ulumud din, 3/67)
Ahnaf bin Qais tidak berpisah dengan
lampu di malam hari; ia meletakkan jarinya pada lampu itu seraya berkata kepada
jiwanya, “Apa yang menyebabkanmu melakukan ini dan itu pada hari ini dan itu.”
Umar bin Khathab ra. memberi sangsi
pada dirinya saat tertinggal jamaah shalat Ashar, dengan cara menshodaqahkan
tanahnya yang senilai dua ratus ribu Dirham.
Apabila Ibnu Umar tertinggal shalat
jamaah, maka ia menghidupkan seluruh malamnya. Dan, suatu ketika ia mengundur
shalat Maghrib, hingga dua bintang terbit, maka ia memberi sangsi dengan
memerdekakan budak.
Ibnu Abi Rabi’ah (al-Harits bin
Abdullah bin Abi Rabi’ah; gubernur Bashrah dan salah satu tokoh tabi’in,
Tahdzibut Tahdzib, Al-Ishabah 2039) tertinggal dari dua rakaat sebelum shubuh,
maka ia memerdekakan budak.
Sebagian ulama memaksa dirinya untuk
shaum selama setahun, menunaikan haji dengan berjalan kaki, dan bershodaqah
dengan seluruh hartanya. Itu semua sebagai pengikat jiwa dan pemberian sangsi
kepadanya demi keselamatannya.
Dikisahkan bahwa ada sekelompok orang
yang menjenguk Umar bin Abdul Aziz yang sedang sakit. Di antara mereka terdapat
seorang pemuda yang badannya kurus. Umar berkata kepadanya, “Wahai pemuda, apa
yang membuatmu menjadi seperti yang aku lihat?”
Ia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin,
karena sakit.”
Umar berkata, “Saya bersumpah dengan
Nama Allah, bicaralah dengan jujur padaku.”
Ia menjawab, “Wahai Amirul Mukminin,
saya mencicipi manisnya dunia, tapi saya rasakan pahit. Saya menganggap sepele
bunga duna dan kelezatannya. Menurutku sama saja emas dunia dan batunya. Dan,
seolah-olah saya melihat Arsy Allah serta melihat manusia digiring ke surga dan
ke neraka. Karena itu, siang hari aku dahaga, malam hari aku begadang, dan
segala apa yang aku miliki hanya sedikit serta hina bila dibanding pahala dan
siksa Allah.
Abu Darda’ berkata, “Andai tidak ada
tiga hal, maka tidak ingin hidup sehari pun; Dahaga karena Allah di siang hari,
sujud untuk Allah di tengah malam, dan duduk bersama orang-orang yang memilih
ucapan baik, sebagaimana mereka memilih buah-buahan yang baik.”
Al-Aswad bin Yazid serius dalam
beribadah dan shaum pada hari yang panas, sehingga badannya membiru. Maka
Al-Qamah bin Qais menegurnya, “Mengapa engkau menyiksa diri?” Ia menjawab, “Aku
menginginkan kemuliaannya.”
Kurz bin Wabrah berjihad terhadap
dirinya dengan maksimal untuk melakukan ibadah. Maka seseorang berkata
kepadanya, “Engkau telah melelahkan dirimu.” Ia menjawab dengan balik bertanya,
“Berapa usia dunia?” Dijawab, “Tujuhpuluh ribu tahun.” Ia bertanya, “Berapa
ukuran sehari di hari kiamat?” Dijawab, “Limapuluh ribu tahun.” Ia bertanya,
“Bagaimana mungkin seorang dari kalian merasa tidak mampu beramal selama tujuh
hari untuk mendapatkan keamanan pada hari akhir?”
Apabila jiwamu membisikimu, “Mereka
adalah tokoh-tokoh yang kuat, kita tidak dapat menteladani mereka.” Maka
kajilah kehidupan para wanita mujahidah, kemudian katakanlah kepada jiwamu,
“Wahai jiwa, apa kamu tidak malu lebih kecil dari kamu wanita?” Sungguh hina
laki-laki yang lebih lemah dari wanita dalam urusan agama dan dunia.
Sekarang, mari kita kenang kehidupan
para wanita mujahidah:
Diriwayatkan bahwa Apabila Habibah
Al-‘Adawiyah hendak melaksanakan shalat Isya’, maka ia berdiri di bagian atas
rumahnya, seraya mengikat pakaian dan kerudungnya, kemudian ia berkata, “Ya
Tuhan-ku, bintang-gemintang telah telah tenggelam, beberapa mata telah
terlelap, para raja telah menutup pintu-pintunya, dan setiap kekasih telah
menyendiri bersama kekasihnya. Inilah posisiku di hadapan-Mu!” Setelah itu ia
melaksanakan shalat. Apabila fajar telah terbit, ia berkata, “Ya Tuhan-ku,
malam telah berlalu dan siang telah datang menjelang. Maka alangkah senangnya
andai malamku kembali lagi kepadaku.”
Diriwayatkan bahwa ‘Ajrodah
menghidupkan malam, padahal ia buta. Apabila datang waktu sahur, maka ia
berseru dengan suara sedih, “Untuk-Mu (ya Allah) Para ahli ibadah menyusuri
kegelapan malam. Mereka berlomba untuk mendapatkan rahmat-Mu dan karunia ampunan-Mu.
Kepada-Mu aku memohon, wahai Tuhan-ku, tidak kepada selain-Mu, jadikanlah aku
di kelompok pertama orang-orang yang mendapatkan kemenangan. Tinggikanlah
derajatku di sisi-Mu di kalangan orang-orang yang mulia dan orang-orang yang
dekat dengan-Mu. Sampaikanlah aku untuk bersama hamba-hamba-Mu yang shalih.
Sebab Engkau adalah Yang Maha Kasih di antara yang punya kasih, Yang Maha Agung
di antara yang agung, dan Yang Maha Mulia di antara yang mulia! Setelah itu, ia
tersungkur sujud hingga hidangan sahur. Kemudian ia terus- menerus berdoa dan
menangis hingga shubuh.”
Yahya bin Bustham berkata, “Saya
menyaksikan majlisnya Sya’wanah dan melihatnya menangis.” Maka saya katakan
kepada sahabatku, “Alangkah baiknya kalau kita mendatanginya saat sendirian,
kemudian menyuruhnya untuk belas kasihan pada dirinya?” Sahabatku menjawab,
“Ok. Setuju dengan pendapatmu.” Maka kami pun datang kepadanya kemudian saya
berkata kepadanya, “Apa tidak sebaiknya kalau kamu belas kasihan pada dirimu
dan mengurangi tangisanmu ini. Sebab itu dapat lebih menguatkanmu untuk
mencapai apa yang kamu inginkan?” Sya’wanah semakin menangis, kemudian berkata,
“Demi Allah, aku ingin menangis hingga air mataku kering, kemudian aku menangis
mengeluarkan darah hingga tiada setetes pun darah di tubuhku! Bagaimana aku
tidak menangis! Bagaimana aku tidak menangis!” Ia terus-menerus mengulang
kata-kata itu, hingga pingsan.
Apabila engkau termasuk orang-orang
yang mengawasi dirinya, maka hendaklah mengkaji kehidupan tokoh-tokoh yang
bermujahadah, baik laki-laki maupun perempuan. Sebab hal itu dapat
membangkitkan semangat dan menguatkan tekad. Jangan memperhatikan orang-orang
yang sezaman denganmu, sebab apabila engkau mengikuti kebanyakan orang yang ada
di muka bumi, maka mereka akan menyesatkanmu dari jalan Allah.
Kisah mengenai
orang-orang yang melakukan mujahadah tidak terhingga. Dan, apa yang kami
sebutkan di atas sudah memadai untuk orang yang dapat mengambil pelajaran.
Tetapi jika anda ingin tambahan, maka silahkan membaca kitab, “Hilayatul
auliyaa”. Sebab kitab tersebut memuat penjelasan
mengenai kehidupan para shahabat, tabi’in, dan generasi setelah mereka. Dengan
mengkaji kitab tersebut, anda akan mengerti perbedaan ahli agama pada
generasimu dan generasi setelahmu.
JIWA YANG HARUS
DIPERANGI
Tidak diragukan bahwa jiwa muthmainnah
dan jiwa lawwamah adalah sumber mata air akhlak terpuji. Jiwa pertama
adalah mata air keyakinan, ketenteraman, kekhusyu’an, ketundukan, dan
sifat-sifat terpuji lainnya. Sedang jiwa lawwamah membangkitkan taubat,
istigfar, kesadaran untuk kembali kepada Allah swt., dan lain sebagainya.
Dengan demikian tinggal jiwa ammaroh bis suuk, ia adalah jiwa yang
menjadi sumber mata air kejahatan dan landasan akhlak tercela, misalnya dengki,
sombong, marah, permusuhan, dan lain sebagainya.
Potensi marah, syahwat, dan kecerdasan
juga dinamakan jiwa, di mana kesemuanya perlu menjadi sasaran mujahadah. Sebab
semuanya dapat mempengaruhi akhlak; baik yang terpuji maupun yang tercela.
Potensi syahwat itu amat kuat. Apabila
tidak ditaklukkan dan dididik oleh manusia, maka syahwat akan menguasai dan
mengendalikannya, sehingga ia tunduk pada syahwat tersebut. Apabila itu
terjadi, manusia lebih mirip binatang ternak. Dan, jika ini benar-benar nyata,
maka manusia akan menjadi jahat, terkalahkan oleh kesia-siaan, suka main-main,
dan melakukan berbagai kemungkaran.
Potensi marah harus diperangi dan
dikuasai. Jika tidak, maka manusia akan sering marah, nampak jelas
kedunguannya, selalu dengki, dan cenderung ingin membalas dendam. Tindakan-tindakan tersebut dapat mencelakakan pelakunya
dan menceburkannya ke jurang kebinasaan. Sebab ia terkuasai oleh kedengkian,
kedunguan, dan luapan emosi.
Potensi kecerdasan
adalah tempat berfikir dan berdzikir. Dan, ini merupakan sifat-sifat terpuji.
Akan tetapi, potensi ini juga mempunyai aspek negatif yang harus diperangi,
misalnya kelicikan, tipu daya, riyaa, rayuan, dan lain sebagainya. (Tahdzibul
akhlak, Al-Jahizh 20015)
JIHAD TERHADAP
JIWA DAPAT MENGANTAR PADA AKHLAK MULIA
Jihad terhadap jiwa adalah pondasi
utama bagi kesiapan manusia memegang kekhalifahan di bumi. Karena itu ia harus
disucikan dengan melakukan mujahadah. Dan, mujahadah memiliki beberapa sebab
dan faktor penunjang. Ar-Raghib berkata, “Yang dapat mensucikan jiwa adalah
ilmu, ibadah, dan kesabaran yang menjadi sebab baiknya kehidupan akhirat.
Sebagaimana penyucian badan dengan air yang menjadi sumber kehidupan dunia.
Karena itulah Allah menamai ilmu dan ibadah sebagai kehidupan dan menamai wahyu
yang diturunkan dalam Kitab-Nya sebagai air.
Allah swt.
berfirman,
يَـٰٓأَيُّهَا
ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱسْتَجِيبُوا۟ لِلَّهِ وَلِلرَّسُولِ إِذَا دَعَاكُمْ لِمَا
يُحْيِيكُمْ ۖ وَٱعْلَمُوٓا۟ أَنَّ ٱللَّهَ يَحُولُ بَيْنَ ٱلْمَرْءِ وَقَلْبِهِۦ
وَأَنَّهُۥٓ إِلَيْهِ تُحْشَرُونَ ٢٤
“Hai orang-orang yang beriman,
penuhilah seruan Allah dan seruan Rasul apabila Rasul menyeru kamu kepada suatu
yang memberi kehidupan kepada kamu.” (Al-Anfal: 24)
Allah swt. menamai ilmu dan ibadah
sebagai kehidupan. Sebab jika jiwa tidak mendapatkannya, maka ia akan binasa
untk selamanya.
Allah swt. juga
menjelaskan sifat air dalam firman-Nya,
أَوَلَمْ
يَرَ ٱلَّذِينَ كَفَرُوٓا۟ أَنَّ ٱلسَّمَـٰوَٰتِ وَٱلْأَرْضَ كَانَتَا رَتْقًۭا
فَفَتَقْنَـٰهُمَا ۖ وَجَعَلْنَا مِنَ ٱلْمَآءِ كُلَّ شَىْءٍ حَىٍّ ۖ أَفَلَا
يُؤْمِنُونَ ٣٠
“Dan, dari air Kami jadikan
segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman?” (Al-Anbiyaa:
30)
Kesucian
jiwa dapat diraih dengan:
ü Memperbaiki
pemikiran dan proses belajar, sehingga seseorang dapat membedakan keyakinan
yang haq dan yang batil, ungkapan yang jujur dan yang dusta, tindakan yang baik
dan yang buruk.
ü Memperbaiki
syahwat dengan sifat iffah (menjaga diri), agar ia terbiasa dermawan dan
suka menolong dengan cara terpuji sebatas kemampuannya.
ü Meluruskan
emosi dengan cara melenturkannya, agar dapat dikendalikan. Dan, ini dapat
dilakukan dengan menahan jiwa dari menuruti kebutuhan rasa takut dan ambisi
yang tercela.
Dengan meluruskan tiga kekuatan
tersebut, jiwa akan seimbang dan menjadi baik. (Adz-Dzari’ah, Ar-Raghib, 38, 48)
TINGKATAN MUJAHADAH TERHADAP JIWA
Ibnul
Qayyim –semoga Allah swt. merahmatinya- mengatakan bahwa jihad terhadap jiwa
itu mempunyai empat tingkatan:
Pertama : Berjihad padanya agar mempelajari
petunjuk dan agama yang benar.
Kedua : Berjihad padanya agar
mengamalkan petunjuk dan agama yang benar, setelah mengetahuinya.
Ketiga : Berjihad kepadanya agar menyeru
ke kebenaran.
Keempat : Berjihad kepadanya agar sabar
menanggung beratnya dakwah menuju Allah swt. dan gangguan makhluk. Ia
menanggung semua itu karena Allah swt.
Setelah itu Ibnul Qayyim –semoga Allah
swt. merahmatinya- berkomentar, “Apabila seorang muslim menyempurnakan empat
tingkatan jihad pada jiwa tersebut, maka ia menjadi orang-orang rabbani.
PENUTUP
Ketahuilah
bahwa musuhmu yang sesungguhnya adalah jiwamu yang ada dalam dirimu. Sebab jiwa
diciptakan dengan membawa sifat menyuruh pada kejahatan, cenderung pada
keburukan, dan menjauh dari kebaikan. Karena itu, ia harus disucikan,
diluruskan, dikendalikan dengan rantai pemaksaan agar beribadah kepada Tuhan
dan Penciptanya, dicegah dari keinginan syahwatnya, serta disapih dari berbagai
kelezatan yang diinginkannya. Apabila jiwa dibiarkan, maka akan semakin liar
dan mengalahkan pemiliknya. Tetapi jika ia selalu dikritik dan dicela, maka ia
akan menjadi jiwa lawwamah yang dipergunakan sumpah oleh Allah swt. Dan, saya berharap semoga jiwa seperti itu
akan menjadi jiwa muthma’innah yang diseru untuk bergabung dalam
kelompok hamba-hamba Allah swt. yang ridla dan diridlai.
Jangan lalaikan jiwamu meski hanya
sesaat. Berilah ia peringatan dan kritikan setiap waktu. Jangan
sibukkan diri memberi nasihat pada orang lain sebelum menasihati jiwamu
sendiri.
Allah swt. mewahyukan kepada Isa as.,
“Wahai putera Maryam, nasihati jiwamu. Apabila ia dapat menerima nasihat, maka
mulailah menasihati orang lain. Tetapi jika ia tidak menerima nasihat, maka
hendaklah engkau malu pada-Ku.
Allah swt.
berfirman,
وَذَكِّرْ
فَإِنَّ ٱلذِّكْرَىٰ تَنفَعُ ٱلْمُؤْمِنِينَ ٥٥
“Dan tetaplah memberi peringatan,
karena Sesungguhnya peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang yang beriman.”
(Adz-Dzariyat: 55)
Cara memberi nasihat padanya adalah
berbicara padanya dan menegaskan kebodohan serta kedunguannya. Sebab ia amat
cerdik dan menyombongkan diri jika dinyatakan bodoh. Katakan padanya, “Wahai
jiwa, betapa bodohnya engkau. Engkau mengklaim bijaksana, cerdas, dan cerdik,
padahal engkau adalah manusia yang paling bodoh dan dungu. Apakah engkau tidak
menyadari bahwa di hadapanmu ada surga dan neraka. Dan, engkau pasti segera
masuk ke salah satunya? Mengapa engkau bergembira, tertawa-tawa, dan sibuk
menuruti nafsu, padahal engkau menghadapi bahya besar. Boleh jadi hari ini atau
besuk engkau diculik kematian. Mengapakah aku melihatmu memandang kematian itu
jauh, padahal menurut Allah swt. sangat dekat?
Tidakkah engkau mengetahui bahwa setiap
yang akan datang itu sangat dekat dan yang jauh itu tidak mungkin akan datang?
Tidakkah engkau mengetahui bahwa
kematian itu datang secara tiba, tanpa pemberitahuan, tanpa perjanjian, dan
tanpa kesepakatan. Ia datang tanpa pilih-pilih; hanya di musim dingin tidak di
musim panas, hanya di musim panas tidak di musim dingin, hanya di siang hari
tidak di malam hari, hanya di malam hari tidak di siang hari, hanya mendatangi
orang tua tidak anak muda, atau hanya mendatangi anak muda dan tidak mendatangi
orang tua. Tetapi, setiap jiwa pasti akan didatangi kematian secara mendadak.
Apabila kematian tidak datang secara mendadak, maka sakit akan datang secara
tiba-tiba, kemudian sakit itu mengantarkan pada kematian. Mengapa engkau tidak
bersiap-siap menghadapi kematian, padahal ia lebih dekat padamu daripada
orang-orang terdekatmu?
Apakah engkau
tidak merenungkan firman Allah swt.,
ٱقْتَرَبَ
لِلنَّاسِ حِسَابُهُمْ وَهُمْ فِى غَفْلَةٍۢ مُّعْرِضُونَ ١
مَا
يَأْتِيهِم مِّن ذِكْرٍۢ مِّن رَّبِّهِم مُّحْدَثٍ إِلَّا ٱسْتَمَعُوهُ وَهُمْ
يَلْعَبُونَ ٢
لَاهِيَةًۭ
قُلُوبُهُمْ ۗ وَأَسَرُّوا۟ ٱلنَّجْوَى ٱلَّذِينَ ظَلَمُوا۟ هَلْ هَـٰذَآ إِلَّا
بَشَرٌۭ مِّثْلُكُمْ ۖ أَفَتَأْتُونَ ٱلسِّحْرَ وَأَنتُمْ تُبْصِرُونَ ٣
“Telah dekat kepada manusia hari
menghisab segala amalan mereka, sedang mereka berada dalam kelalaian lagi
berpaling (daripadanya). Tidak datang kepada mereka suatu ayat Al Quran pun
yang baru (di-turunkan) dari Tuhan mereka, melainkan mereka mendengarnya,
sedang mereka bermain-main, (lagi) hati mereka dalam Keadaan lalai. dan mereka
yang zalim itu merahasiakan pembicaraan mereka: "Orang ini tidak lain
hanyalah seorang manusia (jua) seperti kamu, Maka Apakah kamu menerima sihir
itu, Padahal kamu menyaksikannya?” (Al-Anbiyaa: 1-3)
Celaka engkau wahai jiwa, dtk
sepatutnya engkau tertipu oleh kehidupan dunia dan tertipu oleh syetan yang
menipu, hingga lupa Allah swt.! Perhatikanlah dirimu, sungguh engkau tidak
penting bagi orang lain! Janganlah engkau menyia-nyiakan waktumu, sebab nafasmu
dapat dihitung. Apabila sebagian nafas telah keluar darimu, maka sebagian
dirimu telah hilang. Karena itu gunakan masa sehat sebelum sakit, masa luang
sebelum masa sibuk, masa kaya sebelum masa miskin, masa muda sebelum masa tua,
dan hidup sebelum mati. Persiapkanlah diri untuk hari akhirat seukuran
kekekalanmu di dalamnya.
Celaka engkau wahai jiwaku, apakah
engkau mengetahui bahwa orang yang tertarik pada dunia dan merasa nyaman
dengannya, sementara kematian selalu mengntainya dari belakang, adalah orang
yang akan memperbanyak penyesalan saat berpisah dengan dunia? Sesungguhnya,
orang tersebut membekali diri dengan racun, tanpa ia sadari. Tidakkah engkau
memperhatikan orang-orang yang telah berlalu; bagaimana mereka membangun dan
meninggikan banguan, kemudian mereka pergi dan berlalu. Juga bagaimana Allah
swt. mengguncangkan bumi, kampung, dan perbekalan mereka? Apakah engkau tidak
mengetahui bagaimana mereka mengumpulkan harta yang tidak mereka makan,
membangun rumah yang tidak mereka huni, dan mengharapkan sesuatu yang tidak
diraih. Masing-masing mereka membangun istana menjulang ke langit, namun tempat
tinggalnya kubur yang digali di dalam tanah? Adakah kebodohan dan kedunguan di
dunia melebihi hal tersebut? Seseorang memakmurkan dunianya, padahal ia pasti
meninggalkannya, dan menghancurkan akhiratnya, padahal ia pasti akan memasukinya.
Celaka engkau wahai jiwa, apakah engkau
tidak malu? Engkau menghias lahirmu untuk mendapat simpati makhluk, namun
engkau menantang Allah swt. secara sembunyi-sembunyi dengan melakukan dosa-dosa
besar. Apakah engkau malu kepada makhluk, tetapi tidak malu kepada Pencipta?
Celaka engkau, apakah engkau menganggap pandangan Pencipta lebih ringan
daripada pandangan makhluk?
Wahai jiwa, apakah engkau memerintahkan
yang baik, sementara dirimu berlumur kehinaan. Engkau mengajak manusia kepada
Allah swt., namun engkau justeru lari dari-Nya. Engkau mengingatkan hamba pada
Allah swt., sementara engkau sendiri lupa pada-Nya?
Sungguh engkau amat mengherankan, wahai
jiwa! Meski itu semua engkau lakukan, namun engkau mengklaim cerdik dan sangat
paham. Di antara tanda kecerdikanmu adalah engkau senang setiap hartamu
bertambah, namun tidak bersedih setiap usiamu berkurang! Padahal apa manfaat
penambahan harta, jika usia terus berkurang?
Celaka engkau wahai jiwa, engkau
berpaling dari akhirat padahal ia pasti datang padamu. Sebaliknya engkau serius
menghadap dunia, padahal ia pasti berpaling darimu! Betapa banyak orang yang
menghadap satu hari, namun tidak sempat menyempurnakan hari itu. Dan, betapa
banyak orang yang mengharapkan sesuatu, namun tidak pernah sampai padanya.
Ketahuilah wahai jiwaku, bahwa agamaku
tidak dapat ditukar, imanku tidak dapat diganti, dan fisikku tidak mempunyai
cadangan. Karena itu sadarlah dengan nasihat ini dan terimalah wejangan ini.
Sebab siapa yang berpaling dari nasihat, maka ia telah ridla masuk neraka.
MANFAAT
MUJAHADAH TERHDAP JIWA
1.
Menundukkan jiwa dan nafsu agar
taat kepada Allah swt.
2.
Menjauhkan jiwa dari syahwat
serta mencegah hati agar tidak hanya berangan-angan dan berni’mat-nikmat dengan
dunia.
3.
Membiasakan sabar menghadapi
berbagai kesulitan, melakukan ketaatan, dan menjauhi kemaksiatan.
4.
Jalan lurus yang mengantarkan pada keridlaan Allah swt. dan surga.
5.
Memasung syetan dan
bisikan-bisikannya.
6.
Mencegah jiwa dari mengikuti
nafsu itu merupakan kebaikan dunia dan akhirat.
7.
Siapa yang berjihad pada
jiwanya, maka akan mulia di kalangan rekan sebayanya di masyarakatnya.
8.
Siapa yang berjihad pada
jiwanya, maka telah memegang kunci kebaikan dan akhlaknya menjadi baik.
9.
Kebanggaan pada diri akan
terkikis dan jamaah akan terbebas dari egoisme yang membahayakan jamaah serta
masyarakat.
EVALUASI
PERTAMA: ESSAY TEST
- Sebutkan
definisi mujahadataun nafs secara bahasa maupun istilah!
- Sebutkan
3 ayat mengenai mujahadataun nafs!
- Sebutkan
sebagian hadits yang membicarakan mujahadataun nafs!
- Sebutkan
ungkapan sebagian salaf mengenai mujahadataun nafs!
- Jelaskan
cara mujahadataun nafs! Dengan menyertakan bukti-bukti dari perilaku
orang-orang bijak sebelum kita yang paham dengan kondisi jiwa
- Di
antara pengendalian yang baik terhadap jiwa adalah mencegahnya dari
mendapatkan haknya dan tidak memberinya kebebasan sesukanya. Jelaskan!
- Bagiamana
kondisi jiwa saat menyendiri dalam rangka menghindari apa yang
dicintainya?
- Apa
yang engkau lakukan untuk mendidik jiwamu saat malas melakukan ketaatan?
- Bagaimana
caranya mujahadataun nafs mengantar pemiliknya pada akhlak terpuji?
- Apa
saja yang dapat mensucikan jiwa?
- Ibnul
Qayyim menyebutkan tingkatan mujahadataun nafs. Sebutkan!
- Sebutkan
macam-macam jiwa dan jelaskan sikap yang tepat dalam menghadapi setiap
macam jiwa.
- Apa
yang akan anda lakukan pada moment-moment berikut:
-
Anda tidak melaksanakan shalat
shubuh berjamaah, karena lama begadang.
-
Seseorang menyebutkan aibmu
dengan cara kasar, lantas engkau menyebutkan aibnya sebagai balasan.
-
Engkau terjangkiti sedikit
kesombongan saat diberi nasihat
-
Engkau kagum pada dirimu dalam
suatu peristiwa, karena engkau mampu memberi pelayanan, atau engkau kelihatan
berilmu, atau kreatif.
-
Engkau memberi nasihat dengan
kasar atau memberi pengarahan dengan cara yang buruk.
-
Engkau sibuk mengurusi kekayaan,
hingga tertinggal shalat jamaah.
KEDUA: OBYEKTIF TEST
1.
Isilah titik berikut dengan kata yang anda pahami
Ibnul Qayyim
mengatakan mengenai tingkatan mujahadataun nafs
Pertama : Berjihad padanya agar mempelajari
petunjuk dan agama yang benar.
Kedua : Berjihad padanya agar
mengamalkan petunjuk dan agama yang benar, setelah mengetahuinya.
Ketiga : Berjihad kepadanya agar menyeru
ke kebenaran.
Keempat : Berjihad kepadanya agar sabar
menanggung beratnya dakwah menuju Allah swt. dan gangguan makhluk. Ia
menanggung semua itu karena Allah swt.
Setelah itu Ibnul Qayyim –semoga Allah
swt. merahmatinya- berkomentar, “Apabila seorang muslim menyempurnakan empat
tingkatan jihad pada jiwa tersebut, maka ia menjadi orang-orang ………..
No comments:
Post a Comment