Dialah Nabi
Ayyub as bin Maush bin Razih keturunan Al ’Ais bin Ishaq, anak cucu Nabi
Ibrahim as. Hal ini seperti yang disebutkan dalam firman Allah tentang Nabi
Ibrahim:
وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ كُلًّا هَدَيْنَا
وَنُوْحًا هَدَيْنَا مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهٖ دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ
وَاَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ وَمُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى
الْمُحْسِنِيْنَۙ ٨٤
84.
Dan kami Telah menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada
keduanya masing-masing Telah kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu
(juga) Telah kami beri petunjuk, dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh)
yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub, ... QS. Al An’am
Dengan
mengembalikan dhamir (kata ganti) yang ada pada kata ”dzurriyyah” kepada Nabi
Ibrahim bukan Nabi Nuh. Seperti yang ada dalam konteks ayat itu
Ibnu Ishaq
berkata: yang benar bahwa Nabi Ayyub berasal dari Bani Israil, tidak ada sumber
yang valid tentang nasabnya kecuali nama ayahnya adalah Amaush dan ibunya
–seperti yang ditulis At Thabariy dan Ibnu Asakir- adalah puteri Nabi Luth bin
Haran as. Dan isteri yang dipukul, seperti yang disebutkan dalam firman Allah:
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ
ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ ٤٤
44.
Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu
dan janganlah kamu melanggar sumpah. QS. Shaad
bernama LIYA, puteri Nabi Ya’qub bin Ishaq as. Ada
yang menyebut: Rahmah bin Afratsim bin Yusuf bin Ya’qub as –seperti yang
disebutkan dalam At Thabariy.
Ada
perbedaan pendapat tentang masa keberadaannya.
Ada yang
menyebutkan bahwa ia sezaman dengan Nabi Musa as. Dalam Tarikh At Thabariy
disebutkan bahwa ia adalah seorang Nabi pada masa Nabi Ya’qub –ayah Nabi
Yusuf-. Ada pula yang
mengatakan bahwa ia pada masa Nabi Sulaiman as. [1] Dalam Da’iratul Ma’arif Al Bistaniy: Ada yang
menyebutkan lebih dari seratus tahun sebelum Nabi Ibrahim as. Dan pendapat ini
tidak valid, karena yang jelas ia dari keturunan Ibrahim as seperti yang ada
dalam surah Al An’am.
Sedangkan
tempatnya ada yang menyebutkan: negeri Arab dan dia berkebangsaan Arab, atau
Hauran di Syam dan mengatakannya berkebangsaan Romawi, seperti yang
diriwayatkan dari Wahb bin Munabbih.[2]
Dalam salah satu kitab perjanjian lama, terdapat kisahnya dengan rinci. Dan
pada bagian kelima dan terakhir berisi ketundukannya kepada Allah, dan kesembuhannya
dari ujian, dan digantikannya harta dan keluarganya yang hilang. (Da’iratul
Ma’arif, Al Bustaniy)
Al Fakh Ar
Raziy dalam tafsirnya –At Tafsir Al Kabir dan Mafatihul Ghaib- mengatakan: Aku
mendengar sebagian Yahudi yang mengatakan: Sesungguhnya Musa bin Imran as
memiliki kitab tersendiri tentang peristiwa Ayyub. Dan kesimpulannya adalah
bahwa Nabi Ayyub adalah orang yang sangat taat kepada Allah, disiplin
beribadah, sangat mengagungkan perintah perintah Allah, dan sayang kepada
sesama makhluk Allah, kemudian ia mengalami ujian berat[3].
Para ulama
tafsir dan sejarah meriwayatkan bahwa Nabi Ayyub memiliki banyak macam harta
kekayaan, hewan ternak dan hamba sahaya, tanah yang luas di Hauran (Syam),
miliki keluarga dan keturunan yang banyak. Lalu semua itu hilang dan diuji
fisiknya dengan berbagai macam ujian, tidak ada oragn tubuh yang selamat dari
ujian itu kecuali hati dan lidahnya yang selalu berdzikir kepada Allah dengan
keduanya. Dalam keadaan demikian ia tetap bersabar dan berserah diri, berdzikir
kepada Allah malam dan siang, pagi dan petang. Sakitnya berkepanjangan sehingga
ia orang-orang menghindarinya, diusir dari kampung halamannya, dicampakkan di
tempat sampah di luar kampungnya, terkucil dari umat manusia, tidak ada
seorangpun yang mendekatinya kecuali isterinya yang masih menjaga hak-haknya
dan menghargai kebaikan yang pernah diberikan kepadanya, kasih sayangnya kepada
dirinya. Istirinya bolak-balik menghampirinya, merawatnya dan membantu memenuhi
kebutuhannya. Ketika istrinya semakin lemah, hartanya semakin habis ia bekerja membantu
orang lain untuk memberi makan Nabi Ayyub, wanita itu bersabar bersamanya atas
apa yang menimpanya, kehilangan harta kekayaan dan anak keturunan, musibah yang
menimpa suaminya, membantu orang untuk mendapatkan upah padahal sebelumnya orag
yang kaya dan penuh nikmat. Semua ini tidak menambah Nabi Ayyub kecuali semakin
sabar dan berserah diri kepada Allah, bertahmid dan bersyukur sehingga ia
menjadi simbol kesabaran. [4]
Para ahli
sejarah meriwayatkan tentang Nabi Ayyub dengan banyak sekali riwayat. Mayoritas
mereka mengambil dari Perjanjian Lama, Tafsir Taurat Yahudi, yang disebut
”Hajadah” seperti yang dikatakan Thabbarah dalam bukunya: Bersama dengan Para
Nabi, inilah yang tidak diambil oleh para ulama Islam yang tsiqah, karena
terlalu banyak intervensi dan perubahan.
Ada sebagian
ahli tafsir yang mengkritik jenis ujian yang menimpa Nabi Ayyub. Uatad Ahmad Al
Maraghi dalam tafsirnya mengatakan:
” riwayat
yang menjelaskan tentang ukuran penderitaan yang menimpanya sampai pada batas
yang dijauhi orang. Dan umat manusia secara umum menghindarinya dan mengusirnya
dari tempatnya ke pinggir kota, tidak ada yang menemuinya kecuali isterinya
yang membawakan bekal untuknya. Semua ini adalah israiliyyah yang wajib ditolak
secara i’tiqadiy, karena tidak bersandar pada sumber yang valid, dan karena
syarat kenabian adalah tidak memiliki cacat penyakit yang dijauhi orang. Dan
jika ada penyakit itu maka tidak memungkinkannya berkomunikasi dengan ummatnya,
menyampaikan syariat dan hukum agama kepada mereka”.
Diriwayatkan
dari Wahb bin Munabbih, dan lainnya dari kalangan ulama Bani Israil dalam kisah
Nabi Ayyub, cerita panjang tentang proses hilangnya harta dan anak-anaknya,
serta ujian yang menimpa fisiknya. Dan Allah Yang Maha Tahu keabsahannya.[5]
Nama Nabi
Ayyub as tercantum empat kali dalam Al Qur’an di tiga tempat, yaitu:
Pertama:
Teks tentang pemilihan Nabi Ayyub as menerima wahyu, hal ini dalam kontek
pemberitahuan bahwa wahyu Allah yang diberikan kepada Nabi Muhammad saw bukanlah
bid’ah, akan tetapi serupa dengan wahyu Allah yang pernah diberikan kepada
orang-orang pilihan sebelumnya, termasuk di dalamnya adalah Nabi Ayyub as.
۞ اِنَّآ اَوْحَيْنَآ اِلَيْكَ
كَمَآ اَوْحَيْنَآ اِلٰى نُوْحٍ وَّالنَّبِيّٖنَ مِنْۢ بَعْدِهٖۚ وَاَوْحَيْنَآ
اِلٰٓى اِبْرٰهِيْمَ وَاِسْمٰعِيْلَ وَاِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَ وَالْاَسْبَاطِ
وَعِيْسٰى وَاَيُّوْبَ وَيُوْنُسَ وَهٰرُوْنَ وَسُلَيْمٰنَ ۚوَاٰتَيْنَا دَاوٗدَ
زَبُوْرًاۚ ١٦٣
163. Sesungguhnya kami Telah memberikan wahyu
kepadamu sebagaimana kami Telah memberikan wahyu kepada Nuh dan nabi-nabi yang
kemudiannya, dan kami Telah memberikan wahyu (pula) kepada Ibrahim, Isma'il,
Ishak, Ya'qub dan anak cucunya, Isa, Ayyub, Yunus, Harun dan Sulaiman. dan kami
berikan Zabur kepada Daud. QS. An Nisa
Kedua:
Informasi bahwa Nabi Ayyub adalah keturunan Nabi Ibrahim as. Hal ini dalam
pemberitahuan tentang Nabi Ibrahim, dan Hujjah (argumentasi) yang kuat dan
kedudukan yang tinggi, keturuan yang shalih, seperti dalam firman Allah:
وَتِلْكَ حُجَّتُنَآ اٰتَيْنٰهَآ اِبْرٰهِيْمَ عَلٰى
قَوْمِهٖۗ نَرْفَعُ دَرَجٰتٍ مَّنْ نَّشَاۤءُۗ اِنَّ رَبَّكَ حَكِيْمٌ عَلِيْمٌ ٨٣
وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اِسْحٰقَ وَيَعْقُوْبَۗ كُلًّا هَدَيْنَا وَنُوْحًا هَدَيْنَا
مِنْ قَبْلُ وَمِنْ ذُرِّيَّتِهٖ دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ وَاَيُّوْبَ وَيُوْسُفَ
وَمُوْسٰى وَهٰرُوْنَ ۗوَكَذٰلِكَ نَجْزِى الْمُحْسِنِيْنَۙ ٨٤
83. Dan Itulah hujjah kami yang kami berikan
kepada Ibrahim untuk menghadapi kaumnya. kami tinggikan siapa yang kami
kehendaki beberapa derajat. Sesungguhnya Tuhanmu Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui.
84. Dan kami Telah
menganugerahkan Ishak dan Yaqub kepadanya. kepada keduanya masing-masing Telah
kami beri petunjuk; dan kepada Nuh sebelum itu (juga) Telah kami beri petunjuk,
dan kepada sebahagian dari keturunannya (Nuh) yaitu Daud, Sulaiman, Ayyub,
Yusuf, Musa dan Harun. Demikianlah kami memberi balasan kepada orang-orang yang
berbuat baik. QS. Al An’am
Ketiga: Informasi tentang doa Nabi Ayyub kepada Rabbnya
ketika mengalami penderitaan fisik, serta ujian harta dan keluarganya. Kemudian
Allah kabulkan doanya, dan dibersihkan sakitnya, dikembalikan harta dan
anaknya, sebagai bentuk kasih sayang. Hal ini terdapat dalam dua tempat:
۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ
اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ ٨٣ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ
فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً
مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ ٨٤
83. Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru
Tuhannya: "(Ya Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan
Engkau adalah Tuhan yang Maha Penyayang di antara semua penyayang".
84. Maka kamipun
memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan
kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka,
sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua
yang menyembah Allah. QS. Al Anbiya
وَاذْكُرْ عَبْدَنَآ اَيُّوْبَۘ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ
مَسَّنِيَ الشَّيْطٰنُ بِنُصْبٍ وَّعَذَابٍۗ ٤١ اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ
بَارِدٌ وَّشَرَابٌ ٤٢ وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً
مِّنَّا وَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ ٤٣ وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ
وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ
٤٤
41. Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia
menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan
siksaan".
42. (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu;
inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".
43. Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan
kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula
sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.
44. Dan ambillah
dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu
melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar.
dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). QS.
Shaad
Ayat-ayat ini dan ayat-ayat sebelumnya memberikan pesan:
Bahwa penyakit yang menimpa Nabi Ayyub terjadi karena
ulah syetan.
Jenis penyakit yang menimpa Nabi Ayyub dan cara
penyembuhannya. Dalam hal ini AL Maraghi mengatakan dalam tafsirnya: jenis
penyakit yang menimpanya adalah jenis penyakit kulit luar biasa seperti eksim
dan sejenisnya yang melemahkan fisik dan sangat menyakitkan, akan tetapi tidak
mematikan. ....
Sumpah Nabi Ayyub as yang hendak memukul isterinya dengan
cambuk ketika sembuh, dan arahan Allah agar mengambil seikat rumput ketika
mencambuk isterinya, agar tidak melanggar sumpahnya. Para ulama berbeda
pendapat tentang sebab sumpah ini. Dan yang paling mendekati adalah bahwa
ketika ia sakit, isterinya telat membantu keperluannya, lalu ia bersumpah akan
mencambuk isterinya jika ia sembuh nanti dengan seratus cambukan. Dan ketika
isterinya itu melayaninya dengan sangat baik maka Allah mengganti sumpahnya itu
dengan sesuatu yang paling ringan. Al Maraghi mengatakan dalam tafsirnya:
”Nabi Ayyub bersumpah ketika sedang sakit akan mencambuk
isterinya dengan seratus cambukan kalau ia sembuh, karena isterinya telat
memenuhi sebagian kebutuhannya. Dan ketika isterinya telah berubah menjadi
sangat baik pelayanannya maka Allah ganti sumpahnya itu dengan sesuatu yang
paling ringan bagi Nabi Ayyub dan isterinya. Yaitu dengan menyuruhnya mengambil
seikat rumput dan memukulnya sekali, menggantikan seratus kali cambukan. Hal
ini menjadi salah satu jalan keluar bagi orang yang bertaqwa dan taat kepada
Allah, terutama dalam hak wanita yang sabar dan baik. Inilah yang ditunjukkan
Allah dalam firmannya.
وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا
وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ ٤٤
44.
Dan ambillah dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu
dan janganlah kamu melanggar sumpah... QS. Shaad
Wallahu a’lam.
أيوب
- u -
عند أهل الكتاب
AYYUB AS MENURUT AHLI KITAB
An
Najjar mengatakan dalam kisah-kisah para nabi: Mereka yang mengatakan tentang
keberadaan Nabi Ayyub berbeda pendapat tentang zamannya, dalam tujuh pendapat:
- Sezaman dengan Nabi Musa as
- Sezaman dengan para qadhi
- Sezaman dengan Hasey roos, atau Azdasyir penguasa Iran
- Sezaman dengan Nabi Ya’qub as
- Sezaman dengan Nabi Sulaiman as
- Sezaman dengan Bukhtunashshar
- Sebelum masa kedatangan Nabi Ibrahim as ke Kan’an
Horn
salah seorang peneliti sekte protestan berkata: sesungguhnya adanya berbagai
macam anggapan ini sudah cukup menunjukkan lemahnya pendapat ini. Demikian juga
mereka berbeda pendapat tentang “Ghath” negeri yang disebutkan dalam ayat
pertama bab pertama buku mereka. Di wilayah mana nama negeri itu, ada tiga pendapat:
- Bogart, Asbahm, Kamt dll, mengatakan bahwa itu adalah wilayah Arab
- Mikayls dan Aljin mengatakan bahwa itu adalah lembah Damaskus
- Lood, Maji, Heylz, dan Kud dan generrasi berikutnya
mengatakan bahwa Ghath adalah nama Adumiyah
Demikian juga mereka berbeda pendapat tentang penulis
kitab ini ada yang mengatakan: orang Yahudi, atau Nabi Ayyub, atau Nabi
Sulaiman, atau orang yang tidak dikenal namanya sezaman dengan Sultan Mansa,
atau Hezqiyal, atau Azran, atau seorang dari keluarga Yahudi, atau Nabi Musa,
dst.
Kami katakan bahwa ia adalah seorang hamba Allah yang
shalih. Allah menguji harta, keluarga dan fisiknya, lalu ia bersabar dengan
sabar yang indah, lalu Allah berikan kesembuhan dan memberikan lebih banyak
lagi dari yang pernah hilang baik keluarga maupun harta benda. Allah memujinya
dengan pujian indah dalam Al Qur’an dan mengangkatnya menjadi Nabi.
CATATAN PENTING
Pertama: Banyak orang mengatakan tentang ujian Nabi Ayyub
as bahwasannya jenis penyakitnya adalah penyakit yang menjijikkan dan
menakutkan orang untuk mendekatinya.
Hal ini bertentangan dengan status kenabian. Para ulama
ilmu tauhid menetapkan bahwa para Nabi itu bersih dari berbagai penyakit yang
menyebabkannya jauh dari umat manusia. Maka bagaimana mungkin penyakit itu ada
dalam statusnya sebagai Nabi?
Jawaban hal ini dari dua sisi:
- Bahwa ujian sesuai dengan apa yang mereka katakan terjadi sebelum masa
kenabian, dan karunia kenabian itu diberikan ketika sudah terbukti sabar
dan ridha atas apa yang menimpanya.
- Orang- orang yang mengatakan dengan berlebihan
tentang penderitaan Nabi Ayyub hanya berpegang pada ungkapan Ahlulkitab.
Kedua: Bahwa Al Qur’an menyebutkan bahwa Allah swt
memerintahkan kepada Nabi Ayyub agar mengambil seikat rumput untuk memukul,
sehingga tidak melanggar sumpahnya. Peristiwa apakah ini?
Al Baidhawi meriwayatkan bahwa isterinya terlambat
memenuhi kebutuhannya lalu ia bersumpah kalau ia sembuh akan memukulnya seratus
kali, lalu Allah meluluskannya dari sumpahnya itu.
Al Alusi meriwayatkan bahwa isterinya –Rahmah binti
Afriym atau Mansa binti Yusuf, atau Liya bint Ya’qub- sebagaimana perbedaan
riwayat, terlambat memenuhi kebutuhannya, atau syetan sempat menggoda Nabi
Ayyub sehingga ia mengucapkan kalimat kurang baik. Isterinya mengatakan :
Sampai kapan bencana ini? Kalimat ini saja. Kemudian ia beristighfar kepada
Rabbnya. Atau isterinya membawakan tambahan roti melebih kebiasaannya, lalu ia
merasa telah berbuat dosa, lalu ia bersumpah jika sakit akan memukulnya seratus
kali. Kemudian Allah menyuruhnya untuk mengambil seikat rumput. Allah swt
menetapkan hal ini sebagai rahmat atas isteri Nabi Ayyub karena pelayanannya
yang sangat baik.
Kami katakan: Sesungguhnya Nabi Ya’kub as tidak memiliki
anak yang bernama Liya tetapi anaknya berama Dina.
Sedangkan kisah Nabi Ayyub yang ada dalam Al Qur’an,
dapat kami bacakan dalam ayat-ayat berikut ini:
۞ وَاَيُّوْبَ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ
اَنِّيْ مَسَّنِيَ الضُّرُّ وَاَنْتَ اَرْحَمُ الرّٰحِمِيْنَ ۚ ٨٣ فَاسْتَجَبْنَا لَهٗ
فَكَشَفْنَا مَا بِهٖ مِنْ ضُرٍّ وَّاٰتَيْنٰهُ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً
مِّنْ عِنْدِنَا وَذِكْرٰى لِلْعٰبِدِيْنَ ۚ ٨٤
83.
Dan (ingatlah kisah) Ayub, ketika ia menyeru Tuhannya: "(Ya
Tuhanku), Sesungguhnya Aku Telah ditimpa penyakit dan Engkau adalah Tuhan yang
Maha Penyayang di antara semua penyayang".
84. Maka kamipun
memperkenankan seruannya itu, lalu kami lenyapkan penyakit yang ada padanya dan
kami kembalikan keluarganya kepadanya, dan kami lipat gandakan bilangan mereka,
sebagai suatu rahmat dari sisi kami dan untuk menjadi peringatan bagi semua
yang menyembah Allah. QS. AL Anbiya
وَاذْكُرْ عَبْدَنَآ اَيُّوْبَۘ اِذْ نَادٰى رَبَّهٗٓ اَنِّيْ
مَسَّنِيَ الشَّيْطٰنُ بِنُصْبٍ وَّعَذَابٍۗ ٤١ اُرْكُضْ بِرِجْلِكَۚ هٰذَا مُغْتَسَلٌۢ
بَارِدٌ وَّشَرَابٌ ٤٢ وَوَهَبْنَا لَهٗٓ اَهْلَهٗ وَمِثْلَهُمْ مَّعَهُمْ رَحْمَةً
مِّنَّا وَذِكْرٰى لِاُولِى الْاَلْبَابِ ٤٣ وَخُذْ بِيَدِكَ ضِغْثًا فَاضْرِبْ بِّهٖ
وَلَا تَحْنَثْ ۗاِنَّا وَجَدْنٰهُ صَابِرًا ۗنِعْمَ الْعَبْدُ ۗاِنَّهٗٓ اَوَّابٌ
٤٤
41. Dan ingatlah akan hamba kami Ayyub ketika ia
menyeru Tuhan-nya: "Sesungguhnya Aku diganggu syaitan dengan kepayahan dan
siksaan".
42. (Allah berfirman): "Hantamkanlah kakimu;
inilah air yang sejuk untuk mandi dan untuk minum".
43. Dan kami anugerahi dia (dengan mengumpulkan
kembali) keluarganya dan (Kami tambahkan) kepada mereka sebanyak mereka pula
sebagai rahmat dari kami dan pelajaran bagi orang-orang yang mempunyai fikiran.
44. Dan ambillah
dengan tanganmu seikat (rumput), Maka pukullah dengan itu dan janganlah kamu
melanggar sumpah. Sesungguhnya kami dapati dia (Ayyub) seorang yang sabar.
dialah sebaik-baik hamba. Sesungguhnya dia amat taat (kepada Tuhan-nya). QS.
Shaad
Nabi Ayyub as hidup selama 93 (sembilan puluh tiga tahun).
Allah karuniakan harta dan keturunan. Memiliki 26 (duapuluh enam) anak
laki-laki, ada salah satunya yang bernama ”Basyar” yang sebagian ahli sejarah
menyebutnya ”Dzulkifli” yang Al Qur’an mencantumkannya dalam kelompok para
rasul yang mulia. Risalah Nabi Ayyub ditujukan kepada umat Romawi. Ada pula
yang mengatakan bahwa ia berada di Damaskus.
Al Laiyts meriwayatkan dari Mujahid yang isinya: Bahwa di
hari kiamat nanti Allah swt menjadikan Nabi Sulaiman sebagai hujjah atas para
nabi, Nabi Yusuf sebagai hujjah atas para hamba sahaya, dan Nabi Ayyub menjadi
hujjah atas para penerima bencana.
PERTANYAAN DAN DISKUSI
Sebutkan nasab Nabi Ayyub as, termasuk Nabi dari Bani
Israil, apa dalinya?
Dalam kisah Nabi Ayyub tampak peran isterinya, tahukah
antum akan nasabnya? Apakah lebih memprioritaskan kemuliaan nasab?
Ahlul kitab berbeda pendapat hingga tujuh pandangan
tentang zaman keberadaan Nabi Ayyub as. Kenapa terjadi demikian? Apakah hal ini
menunjukkan perbedaan pendapat mereka tentang kitab sucinya. Mengapa Al Qur’an
tidak menyebutkan zaman keberadaan Nabi Ayyub as secara definitif? Dan hanya
mengungkapkan tentang kejadian saja?
Terdapat persamaan kisah antara Nabi Ayyub as dan
kisah-kisah lain khususnya Nabi Yusuf as dalam Taurat dan Al Qur’an. Hal ini
menunjukkan kebenaran Al Qur’an, dan Al Qur’an melakukan koreksi penyimpangan
kisah mereka, menfokuskan pada nasehat, pelajaran, dakwah dan contoh hidup yang
layak diikuti.
Ujian Nabi Ayyub mencakup berbagai macam ujian yang ada,
harta, fisik, dan anak-anaknya, kehilangan orang-orang yang dicintainya, hingga
sikap isterinya. Banyak buku menulis tentang kondisinya yang mengenaskan, apa
yang anda ingat dari kisahnya? Apakah semua yang dikaitkan dengannya itu benar?
Apakah mungkin kisah Nabi Ayyub ini menjadi pelipur lara
bagi para penderita sakit sehingga mereka bisa bersabar dan ridha atas apa yang
menimpanya. Memotovasi mereka untuk kembali kepada Allah swt. Bisa saja ini
menyemangati para da’i dalam melipur orang yang sakit, mengangkat
maknawiyahnya, dengan bercerita kepada mereka. Kemungkinan besar hal ini
merupakan cara kaum muslimin di masa lalu sehingga mereka membuat tempat-tempat
untuk menyenangkan para penderita sakit
Wajib memperhatikan dengan seksama pada kesabaran Nabi
Ayyub as dan rasa malunya kepada Rabbnya, sikapnya kepada nikmat-nikmat Allah
swt atas dirinya, agar menjadi pelajaran bagi siapapun yang menerima ujian
seperti sakit, tekanan, penangkapan atau penjara.
Memperhatikan dengan serius doa Nabi Ayyub kepada Allah
swt, dengan tidak memperpanjang do’a tetapi cukup dengan mengungkapkan dirinya
(إني
مسني الضر ) dan menyebut Rabbnya dengan sifat (وأنت
أرحم الراحمين ) tidak memohon agar dirubah kondisinya,
tidak mengusulkan sesuatupun kepada Rabbnya. Kenapa demikian? Kemudian ada
pengkabulan.
Pengkabulan doa adalah rahmat Allah. Dan semua nikmat
dari Allah adalah rahmat yang harus diingat manusia (رحمة
من عندنا وذكرى للعابدين ) firman Allah (وذكرى
للعابدين ) apakah hal ini memperingatkan mereka akan Allah, ujian,
rahmat Allah dan ujian-Nya, dan bahwasannya Allah tidak akan meninggalkannya?
Dalam ujian Nabi Ayyub
terdapat teladan bagi manusia semua. Dalam kesabaran Nabi Ayyub menjadi
peringatan yang harus terus dikenang. Dan para ahli ibadah selalu dihadapkan
dengan ujian.beban ibadah, aqidah, iman, dan melintasi kebatilan. Dakwah dan
risalah adalah amanah yang tidak akan dibebankan kecuali kepada orang-orang
yang amanah, kokoh dan kuat, bukan sesuatu yang bisa sambil main-main, meraih
kedudukan dan posisi. Bukan sekedar kata-kata terucap tetapi jihad, kesungguhan,
dan amal yang membutuhkan kesabaran.
Dalam seruan doa Nabi Ayyub dapat dicatat tentang adab mulia, menisbatkan
mala petakan kepada syetan (إني مسني الشيطان
بنصبٍ وعذاب ) dapat anda terangkan tentang adab kepada Allah dan
menjadikannya sebagai pelajaran di masjid atau forum lain.
Para ahli tafsir berusaha mengungkapkan jenis penyakit
yang menimpa Nabi Ayyub as. Kenapa demikian dan Al Qur’an tidak menyebutkannya.
Apakah hal ini dianggap hanya akan membuang-buang waktu dan mengalihkan
perhatian dari hakekat yang sebenarnya?
Apakah boleh mengaitkan penyakit menjijikkan kepada
seorang nabi? Bukanlah hal ini bertentangan dengan status kenabian? Ataukah
ujian ini sebelum masa kenabian?
Kenapa Nabi Ayyub marah kepada isterinya? Apa pendapat
yang kuat dalam hal ini? Padahal isterinya adalah wanita shalihah dan penyabar.
Apakah ini pekerjaan syetan? Ini adalah jenis ujian kecumburuan yang Allah
timpakan kepadanya.
Nabi Ayyub bersumpah akan memukul isterinya, bagaimana
akhirnya? Apakah Al Qur’an menuturkannya? Apakah Nabi Ayyub benar dalam
sikapnya?
Firman Allah (وخذ بيدك ضغثاً فاضرب
به ولا تحنث ) ini adalah rukhshah (dispensasi) bagi Nabi Ayyub sehingga tidak melanggar sumpahnya. Apakah
hal ini diperbolehkan dalam syariat kita? Para ahli tafsir mengatakan: Allah
memerintahkan Nabi Ayyub agar mengambil seikat rumput untuk dipukulkan ke
isterinya karena bersumpah hendak memukul seratus kali, ataukah hal ini bentuk
kasih sayang kepada isterinya yang penyabar atas sakitnya. Apakah dalam
kesabaran isteri Nabi Ayyub ini bisa menjadi contoh teladan bagi wanita muslimah yang taat kepada
Rabbnya, dan contoh indah bagi seorang suami dalam menyikapi isterinya ketika
bersalah?
[2] Qishashul
Anbiya, Ibnu Katsir
[3] Tafsir
Surah Shaad
[4] Al
Bidayah wan Nihayah, Ibnu Katsir-J. 1
[5] Qishashul Anbiya, An Najjar
No comments:
Post a Comment