Al-Ikhwanul
Muslimun" merupakan salah satu gerakan Islam yang terpenting di dunia saat
ini. Para pengikutnya tersebar di lebih dari 70 negara, termasuk di
Hasan
Al-Banna dan Kelahiran Al-Ikhwanul Muslimun
Setelah
runtuhnya kekhalifahan Turki Utsmani pada tahun 1924, pasca perang dunia
pertama, hampir semua negara Arab jatuh ke tangan penjajah Barat. Umat Islam
pun mulai tercabik-cabik oleh kekuatan imperialisme Barat. Dalam kondisi dunia
Islam seperti itulah, seorang pemuda bernama Hasan bersama beberapa orang
sahabatnya mendirikan cikal bakal gerakan "Ikhwanul Muslimun"
Hasan
Al-Banna lahir di Al-Mahmudiyah, sebuah
Hasan
kecil mendapat pendidikan awal melalui kedua orangtuanya. Ruh Alquran telah
tertanam dalam jiwanya sejak kecil. Sehingga keberanian untuk menyampaikan
sesuatu yang hak dan mencegah hal yang munkar telah tumbuh semenjak remajanya.
Di usianya yang masih remaja, Hasan telah menunjukkan kepiawaiannya dalam
memimpin dan berorganisasi. Bersama beberapa kawan sekolahnya, ia mendirikan
perkumpulan "Akhlaq Adabiyyah" yang tujuannya bagaimana
menjaga akhlak dan adab yang baik. Aktivitas mereka, yaitu saling menasihati di
antara sesama anggota untuk berakhlak mulia, di samping menghimpun dana bagi
kaum fakir miskin.
Setelah
menyelesaikan pendidikan menengahnya, Pemuda Hasan melanjutkan sekolahnya di
Perguruan Darul Ulum Kairo selama empat tahun. Sesudah lulus, ia ditugaskan
mengajar sekolah dasar di Ismailiyyah. Di
Pada
awalnya, gerakan dakwah Al-Banna dan Ikhwannya sama seperti gerakan lainnya,
yakni lebih terfokus pada pembinaan masyarakat untuk kembali kepada Islam
melalui mimbar mesjid dan sarana dakwah lainnya. Tapi gerakan Ikhwan mempunyai
keunikan tersendiri. Dakwah yang mereka lakukan tidak hanya kokoh di
mesjid-mesjid, tetapi melebar ke tempat-tempat umum, seperti sekolah-sekolah,
pasar-pasar, pabrik-pabrik, kantor-kantor bahkan di warung kopi (maqha) tempat
berkumpulnya orang-orang untuk melepas kepenatan.
Nama
Al-Banna yang melekat pada Hasan adalah pemberian sahabat-sahabatnya disebabkan
keutamaan pribadi beliau sebagai muassis dan pembangun jamaah dakwah. Nama
gerakan Al-Ikhwanul Muslimun lahir begitu saja. Ketika Imam Hasan Al-Banna
ditanya oleh para sahabatnya tentang nama gerakannya, beliau menjawab “Kita
semua adalah Umat Islam dan Umat Islam itu pada hakikatnya bersaudara, jadi
kita adalah “Al-Ikhwanul Muslimun (Persaudaraan Islam)”.
Sejak
saat itu, pengikut Hasan Al-Banna menamakan Al-Ikhwanul Muslimun bagi
organisasi mereka. Mereka tidak membangga-banggakan nama kelompoknya ini karena
tujuan mereka adalah mengajak kepada Islam. Imam Hasan Al-Banna sendiri pernah
berkata, “Kam minna wa laisa fiina wa kam fiina wa laisa minna” (Berapa
banyak orang dari kita tetapi tidak bersama kita dan berapa banyak orang yang
bersama kita, tetapi belum termasuk golongan kita). Hasan Al-Banna sendiri
sangat mengutamakan kesatuan Umat. Beliau selalu berpesan pada pengikutnya agar
berpegang pada prinsip, “Nata’awan fimaa ittaqnaa, wanataa’dzar fimaa
ikhtalafnaa” (Kita bekerja sama pada hal yang kita sepakati dan
bertoleransi terhadap hal-hal yang kita berbeda).
Hasan
Al-Banna dan Kharismanya
Bagi
para ikhwah, Hasan Al-Banna menjadi inspirator utama jamaah. Semua anggota IM
memperhatikan dan menaati wejangan dan pengarahan beliau. Pengajian Hari Selasa
yang secara rutin beliau berikan diikuti puluhan ribu orang. Demikian juga
khutbah-khutbah yang beliau sampaikan di berbagai kesempatan selalu dikenang
oleh segenap pengikutnya. Sebagai contoh, DR. Abbas As-Sisi yang semasa
remajanya berkali-kali mengikuti khutbah Imam Hasan Al-Banna sampai masa tuanya
(usia 90 tahun) selalu membayangkan saat-saat indah tatkala ruh ukhuwwah yang
mengalir dari jiwa Hasan Al-Banna mengalir ke hati para hadirin bagaikan arus
listrik yang menerangi hati mereka. Seorang muridnya yang lain mengatakan, “Aku
datang ke pengajian Imam Hasan Al-Banna dengan membawa masalah-masalah
keluarga. Aku tidak menyampaikan masalah itu kepada syekh tetapi isi pengajian
itu langsung memberikan jawaban terhadap persoalan-persoalan hidupku”. Perasaan
seperti ini dirasakan banyak orang.
Demikian
hebat kharisma yang dimiliki Imam Hasan Al-Banna. Sistem dan cara beliau
membina generasi penerusnya amat menakjubkan. Pernah ada dua orang anggota
Ikhwan saling ngotot masalah harga, yang satu adalah pembeli dan yang lain
penjual, keduanya anggota Ikhwan. Si pembeli ngotot ingin membayar di atas
harga bandrol, karena ia berpikir bahwa si penjual adalah saudara seperjuangan.
Sementara si penjual ngotot ingin menjual di bawah harga bandrol. Keduanya
tetap bertahan pada pendirian masing-masing, dan tidak ada yang mau mengalah.
Syukurlah, secara kebetulan Imam Al-Banna lewat di tempat mereka. Beliau lalu
mendamaikan. Sikap solidaritas anggotanya yang begitu menakjubkan itu rasanya
sulit ditemukan di abad yang serba materialistis seperti sekarang ini.
Ketika
Imam Al-Banna memutuskan untuk mendirikan "Darul Ikhwan",
banyak kisah yang unik. Sepasang suami istri berselisih hanya karena si suami
ingin menyumbang satu Jeneh (Pound Mesir), sementara si istri memaksa untuk
menyumbang tiga Jeneh. Akhirnya, Imam Al-Banna memutuskan agar mereka
menyumbang dua Jeneh. Bahkan seorang anggotanya rela menjual satu-satunya harta
yang dimilikinya hanya demi terwujudnya "Darul Ikhwan".
Adalagi seorang istri rela melepas gelangnya demi perjuangan.
Figur
Hasan Al-Banna sangat fenomenal. Bayangkan, beliau hafal satu persatu nama
anggota Al-Ikhwan yang jumlahnya puluhan ribu orang. Bila ada rapat besar,
beliau biasa memanggil nama sahabatnya satu persatu tanpa keliru sedikit pun.
Kemampuan ini ada pada Hasan Al-Banna karena kecintaannya kepada sesama muslim
khususnya para pengikut beliau, rasa ukhuwwah (persaudaraan), dan tanggung
jawabnya sebagai mursyid (pemimpin). Karena itu pula tidak seorang pun dari
pengikutnya yang ragu memanggil beliau dengan sebutan “Imam” (Pemimpin). Mereka
teramat mencintai pemimpin yang selalu menjadi teladan dan melayani ini. Hasan
Al-Banna adalah pemimpin abad 20 yang mencerminkan kebenaran firman Allah,
وَجَعَلْنَا
مِنْهُمْ أَئِمَّةً يَهْدُونَ بِأَمْرِنَا لَمَّا صَبَرُوا وَكَانُوا بِآيَاتِنَا
يُوقِنُونَ
“Dan
Kami jadikan mereka pemimpin-pemimpin yang menunjuki manusia dengan perintah
Kami ketika mereka bersabar dan mereka merupakan orang-orang yang yakin terhadap
ayat-ayat Kami.” (As-Sajdah: 24)
Dalam
kehidupannya, Hasan Al-Banna bukan hanya mengandalkan kekuatan kata-kata tetapi
menjalin erat setiap hati dengan kekuatan iman dan persaudaraan. Lebih dari
itu, jiwa kepemimpinan beliau bagaikan energi yang tidak ada habisnya mendorong
para ikhwah menyebarluaskan dakwah ke seluruh penjuru Mesir dan negara lainnya.
Bahkan meskipun beliau sudah tiada, tulisan-tulisan Imam Hasan Al-Banna yang
dibundel dalam kitab Majmu’atur Rasail serta ceramah-ceramah beliau yang
dirangkum dalam kitab Haditsuts Tsulasa sampai sekarang masih dibaca para
Ikhwah di seluruh Dunia dan dijadikan rujukan gerakan Dakwah mereka. Setiap
ceramah beliau ditulis ulang dan diterbitkan untuk menjadi bekal dakwah mereka.
Kegiatan
gerakan IM ini mencakup semua sisi: akidah, syariah, dan gaya hidup islami,
setelah sebelumnya hal-hal itu dianggap hilang. Gerakan ini pun mencoba untuk
ambil bagian dalam kegiatan sosial, pendidikan, dan perekonomian, sehingga
membuat para pengikutnya memiliki pengaruh kuat di masyarakat. Pada Tahun 1933,
Ikhwan mendirikan pabrik tenun dan pabrik permadani, di samping mendirikan
sebuah lembaga keuangan yang berlandaskan Islam. Sementara dalam dunia
pendidikan, Ikhwan mendirikan beberapa lembaga pendidikan.
Usaha
yang dikelola Ikhwan saat itu merupakan perusahaan-perusahaan besar berskala
nasional. Bahkan dalam dunia pers, Ikhwan mulai menerbitkan surat kabar
hariannya semenjak 5 Maret 1946. Saat itu harian ini tersebar di seluruh Mesir
dan negara-negara Arab lainnya. Sayangnya, pada 4 Desember 1948 harian tersebut
dibredel oleh pemerintah Mesir. Beberapa majalah resmi yang dikelola Ikhwan pun
mengalami nasib yang sama. Satu-satunya majalah Ikhwan yang terbit sampai saat
ini adalah majalah bulanan Ad-Dakwah yang diterbitkan dari London.
Politik
belum mewarnai gerakan Ikhwan di awal 1930-an. Semboyan yang dikumandangkan
oleh Imam Hasan Al-Banna adalah "kami menginginkan individu muslim,
keluarga muslim dan masyarakat muslim". Tapi kemudian Al-Banna
mengembangkan arti dan pemahaman masyarakat muslim, yaitu mencakup berdirinya
negara Islam dan penerapan hukum Islam. Maka, di pertengahan 1930-an, Hasan
Al-Banna dan gerakan Ikhwan mulai memasuki dunia politik. Dimulai dengan
surat-surat politik Al-Banna kepada Raja Farouk, lalu Perdana Menteri Mesir
Musthafa Nuhhas, juga para pemimpin dunia Arab, untuk menjadikan Islam sebagai
pedoman hidup muslim dalam segala bidang. Pembebasan negara Islam dari
kungkungan kekuasaan imperialis Barat juga merupakan terminologi yang
dikumandangkan gerakan Ikhwan saat itu.
Pada
awal Tahun 1940-an, Imam Al-Banna mencalonkan diri sebagai anggota parlemen
untuk daerahnya. Tapi ketakutan pemerintah memaksa Al-Banna untuk mengundurkan
diri dengan ancaman IM akan dibubarkan jika ia tidak mengundurkan diri dari
pemilu. Tahun 1948 Imam Syahid mengirim pasukan Ikhwan berjumlah 12 ribu orang
ke Palestina untuk berperang melawan Yahudi. Pasukan Yahudi yang dibantu
Inggris kalang kabut menghadapi kekuatan pemuda Ikhwan yang memiliki ruhul
jihad tinggi dan mencintai syahid di jalan Allah,.
Maka,
tak mengherankan jika pihak Zionis senantiasa merasa terancam oleh gerakan yang
diilhami oleh pemikiran Hasan Al-Banna. Pada perang Arab-Israel, IM mampu
mengerahkan pasukannya dari segala penjuru negeri-negeri Arab untuk berperang
melawan Yahudi. Tercatat, pasukan sukarelawan Ikhwan dari Mesir dipimpin
Abdurrahman, saudara lelaki Al-Banna. Dari Suriah dipimpin oleh Dr. Musthafa
As-Siba’i, dari Yordania dipimpin Abdurrahman Khalifah dan dari Irak dipimpin
Muhammad Mahmud Shawwaf.
Moshe
Dayyan, dalam memoarnya, mengakui keuletan dan kegigihan para pejuang Ikhwan,
sehingga daerah-daerah yang diduduki sukarelawan Ikhwan tak dapat direbut oleh
Yahudi. Sayang, ketika mereka pulang, para pejuang itu tak disambut dengan
kegembiraan. Sebaliknya, pintu penjaralah yang menanti kepulangan mereka.
Hasan
Al-Banna telah menjadikan Islam bukan semata teori dan pemikiran tetapi sebuah
realitas organisasi yang tangguh dan kuat. Kalau disimpulkan, gerakan IM
mencakup,
1.
Menghidupkan kembali konsep
"keuniversalan dan keintegralan Islam yang tercermin dalam semua aspek
aktivitas kehidupan".
2.
Menciptakan generasi muslim yang
memiliki keseimbangan antara akidah, pemikiran, spiritual, ritual, dan kiprah.
3.
Meyakinkan akan pentingnya makna
ukhuwah Islamiyyah, yang bukan sekadar teori -melainkan harus diamalkan. Juga
harus menghindari masalah yang akan mengarah pada perpecahan, dengan senantiasa
konsisten pada etika perbedaan pendapat.
4.
Seruan dakwah harus menyentuh
semua lapisan masyarakat, dari mulai tingkat yang terpelajar sampai lapisan
terbawah.
5.
Mencoba mengingatkan akan bahaya
gerakan Zionisme Yahudi yang didukung oleh Barat serta mengingatkan bahwa
masalah Palestina merupakan agenda umat Islam yang harus diselesaikan.
Syahidnya
Hasan Al-Banna dan Pemberangusan Jamaah
Karena
kesal dengan kemajuan dakwah Islam dan langkah politis IM, Raja Farouk
(Penguasa Mesir) berkonspirasi dengan Yahudi dan militer berusaha melenyapkan
Imam Hasan Al-Banna. Tanggal 12 Februari 1949, para agen Raja Farouk berhasil
menyelesaikan tugas mereka: menghabisi pendiri gerakan Ikhwanul Muslimun, Hasan
Al-Banna.
Sabtu
petang itu, sekitar pukul delapan lebih dua puluh menit, Hasan Al-Banna baru
saja keluar dari markas "Syubbanul Muslimin" yang terletak di
Jalan Malikah Nazili (sekarang Jalan Ramses), jantung Kairo. Beliau didampingi
sahabat sekaligus menantunya, Ustad Abdul Karim Mansur, yang juga seorang
pengacara. Abdul Karim Manshur mengungkap kembali detik-detik terakhir kehidupan
Imam Hasan Al-Banna. "Kami berdua keluar menuju Jalan Ramses. Di sana
taksi sudah menunggu. Kemudian Imam Hasan Al-Banna masuk ke dalam taksi dan
duduk di kursi belakang. Setelah itu saya menyusul masuk. Di dalam taksi kami
saling tukar tempat duduk, sehingga beliau duduk di sebelah kanan saya,"
ujarnya.
Belum
lagi taksi tersebut berjalan, tiba-tiba dua orang tak dikenal menghadang taksi
yang mereka tumpangi. "Salah seorang dari keduanya berusaha membuka
pintu yang ada di sebelah saya. Tapi saya berusaha untuk menahannya. Tiba-tiba
orang itu mengarahkan pistol ke arahku dan memuntahkan pelurunya. Satu peluru
mengenai dadaku, peluru selanjutnya mengenai tangan kananku yang berusaha untuk
meraih pistolnya. Sedangkan peluru ketiga mengenai kakiku, sehingga aku tak
mampu bergerak. Hal tersebut berlangsung dengan cepat," katanya.
"Setelah
melihat aku tak berdaya, ia menuju ke arah Imam Hasan Al-Banna, dan berusaha
membuka pintu taksi. Tapi tidak berhasil. Kemudian ia memuntahkan peluru
pistolnya ke arah Hasan Al-Banna. Pintu pun akhirnya terbuka. Sambil mundur, ia
menembaki Hasan Al-Banna. Tujuh peluru bersarang di tubuh Al-Banna, tapi beliau
masih mampu berdiri dan lari mengejar para penembak tersebut sekitar seratus
meter. Rupanya sebuah mobil telah menunggu mereka, dan akhirnya mereka kabur
menggunakan mobil tersebut," tutur Abdul Karim Manshur.
Tak
lama berselang, Hasan Al-Banna pun menemui panggilan Ilahi di rumah sakit
karena kehabisan darah. Dokter jaga pada malam itu dilarang merawat Al-Banna
oleh utusan khusus Raja Farouk demi meyakinkan bahwa Al-Banna memang telah
benar-benar tak bernyawa lagi.
Sejak
peristiwa keji itu seluruh dunia Islam berduka. Para ulama Mujahid sepakat
memberi tambahan gelar baru bagi Hasan Al-Banna dengan sebutan “Al-Imam
As-Syahid”. Semoga arwah beliau senantiasa dirahmati Allah Taala dan cita-cita
perjuangan beliau akan menjadi kenyataan. Sementara itu, semua kekayaan Ikhwan
disita oleh pemerintah Mesir. Para pimpinan Ikhwan ditangkapi dan dijebloskan
ke dalam penjara oleh PM Jamal Abdun Naser dan sejak itu IM dinyatakan sebagai
organisasi terlarang.
Pada
tahun 1951, pemerintah Mesir kembali memberi kesempatan kepada Ikhwan untuk
berdiri kembali serta mengembalikan kekayaan Ikhwan yang disita. Mulai tahun
itulah, Ikhwan kembali merekonstruksi organisasinya di bawah pimpinan Hasan
Hudhaibi, seorang pengacara terkenal Mesir saat itu. Ketika terjadi Revolusi
Mesir, 23 Juli 1953, dalam upaya meruntuhkan rezim Farouk, Ikhwan turut ambil
bagian. Bahkan pemimpin revolusi Mesir, Jenderal Muhammad Najib, sempat
menyampaikan sambutannya berkenaan dengan peringatan kematian Al-Banna dan
disiarkan langsung melalui radio. Pemerintahan pasca revolusi pun sempat
menawarkan kepada Ikhwan untuk bekerja sama dalam membentuk pemerintahan. Tapi
Ikhwan menolak selama Islam tidak dijadikan sebagai landasan hukum. Penolakan tersebut
merupakan awal retaknya hubungan Ikhwan dengan rezim baru.
Kesepakatan
Suez yang ditandatangani pemerintah Mesir dan Inggris semakin mendorong Ikhwan
menjadi oposisi pemerintah. Pada 1954, Ikhwan kembali diberangus. Bahkan
beberapa pemimpin Ikhwan dijatuhi hukuman mati di tiang gantungan. Salah
seorang di antaranya adalah Dr. Abdul Qadir Audah, seorang pakar hukum Mesir.
Sementara Hasan Hudhaibi, Mursyid Ikhwan dijatuhi hukuman seumur hidup. Penjara
sipil dan militer Mesir kembali dipenuhi para pejuang Ikhwan untuk kedua
kalinya, setelah peristiwa pemberangusan pertama pada 1948 di zaman rezim
Farouk.
Kalau
peristiwa pemberangusan sebelumnya diprakarsai oleh Barat, maka pemberangusan
anggota Ikhwan 1965-1966 boleh dikatakan atas prakarsa Rusia. Sebab rezim yang
dipimpin Naser saat itu mendapat dukungan penuh Soviet. Korban pemberangusan
gerakan Ikhwan kali ini adalah Sayyid Qutb, penulis karya monumental Tafsir Fi
Zhilalil Quran, yang sampai sekarang sudah dicetak ulang sampai edisi ketiga
puluh.
Pada
masa Anwar Sadat, tahanan Ikhwan mulai dibebaskan dan mereka diperkenankan
untuk bergerak atas nama pribadi. Bukan atas nama gerakan. Tapi gerakan Ikhwan
menolak hal tersebut dan ingin tetap berdiri di bawah pimpinan Hasan Hudhaibi.
Mereka juga terus mengajukan agar keputusan MPR tahun 1954 mengenai pelarangan
gerakan Ikhwan dicabut, sampai wafatnya Hudhaibi.
Barulah
pada 21 Januari 1983 permohonan Ikhwan terkabul. Saat itu pemimpin Ikhwan
dijabat oleh Umar Tilmitsani sampai beliau wafat pada 1986. Tampuk pimpinan
Ikhwan beralih kepada Muhammad Hamid Abu Nashir, sampai beliau wafat pada 1997.
Dan sekarang kepemimpinan Ikhwan dipegang oleh Ustadz Musthafa Masyhur, salah
seorang murid Hasan Al-Banna generasi pertama.
Walau
usia Al-Banna sangat pendek (43 tahun), keberadaannya telah membawa berkah bagi
umat. Beliau telah menanamkan bibit kebangkitan umat di abad XX ini.
pemikirannya bukan semakin pudar dengan terbunuhnya beliau, melainkan justru
tumbuh subur. Dengan syahidnya Imam Hasan Al-Banna Kaderisasi Dakwah tidak
lantas mati malah membuat anggota Ikhwan semakin kuat dan menyebar di seluruh
dunia.
Sistem
pembinaan Al-Banna telah diwariskan kepada para pengikutnya. Keluarga Qutb
adalah contoh keluarga yang dibina Ikhwan setelah syahidnya Hasan Al-Banna.
Sayyid Qutb masuk ke dalam jamaah ini justru setelah Hasan Al-Banna menemui
syahidnya. Ketika peristiwa pembunuhan keji itu terjadi Sayyid sedang sakit dan
dirawat di sebuah rumah sakit di AS. Sayyid tertarik dengan pribadi Hasan
Al-Banna karena melihat orang-orang Amerika, para dokter dan perawat begitu
senangnya mendengar wafatnya Hasan Al-Banna. Bagi Sayyid Qutb, pribadi yang
kewafatannya (kesyahidannya) membuat orang-orang kafir menjadi senang tentulah
pribadi mukmin sejati yang layak untuk diikuti.
Sepulangnya
dari Amerika Sayyid segera bergabung dengan IM. Beliau dan keluarganya terus
ditarbiyah oleh para sahabat Imam Syahid. Sayyid Qutb berdakwah melalui lisan
dan tulisan.. Selanjutnya, dalam kiprah dakwah, semua anggota keluarga Sayyid
Qutb pernah ditangkap tetapi mereka tetap istiqamah. Sayyid Qutub bahkan sampai
dihukum mati, sementara dua saudara perempuannya, Aminah dan Hamidah Qutub,
harus mendekam di dalam penjara. Hamidah Qutub ditangkap pada saat pesta
pernikahannya. Bukan karena tindak kriminal yang dilakukannya, melainkankan
karena membela satu prinsip yang memang tak bisa ditawar-tawar: prinsip akidah.
Hamidah baru dapat bertemu kembali dengan suaminya, Kamal As-Sananiry, setelah
20 tahun berlalu dari hari pernikahannya. Sebab si suami ini pun dijebloskan ke
dalam penjara.
Kisah-kisah
demikian bukan membuat orang semakin jauh dari IM. Melainkan justru semakin
mendekat dan tertarik untuk lebih tahu apa rahasia serta konsep pembinaan
Ikhwan, sehingga dapat menghasilkan generasi semacam itu. Generasi yang saling
mencintai, saling mementingkan kepentingan saudaranya. Generasi yang memiliki
pendirian yang tidak bisa dibeli dengan apa pun. Generasi yang lebih
mementingkan umat ketimbang kemaslahatan dirinya sendiri.
Pengaruh
Jamaah IM pada Pergerakan Islam lainnya
Gerakan
IM mampu menyedot banyak pengikut karena prinsip universal yang dianutnya.
Mereka juga mampu memenuhi keinginan para pengikutnya akan peningkatan
keimanan, keluasan wawasan, kenikmatan berukhuwah, berjamaah dan berdakwah di
jalan Allah. Maka, tidaklah mengherankan jika pengikut gerakan Ikhwan terdiri
atas kaum terpelajar sampai masyarakat berpendidikan rendah yang kesemuanya
bersatu padu dalam ikatan jihad fi sabilillah.
Perlu
diingat bahwa gerakan ini bukan sekadar gerakan sosial kemasyarakatan belaka.
Jamaah Ikhwan berkembang menjadi gerakan politik. Bahkan mereka mampu memberi
inspirasi bagi gerakan-gerakan Islam lain yang tumbuh di luar Mesir. Di luar
Mesir, IM diperkirakan tersebar sekitar 2.000 cabang lebih di 70 negara Islam.
Jumlah itu sebanding dengan jumlah yayasan-yayasan kebaikan yang mereka miliki.
Bahkan kelompok pejuang yang paling ditakuti oleh Yahudi saat perang
Palestina-Yahudi adalah milisi bersenjata yang dibina oleh Ikhwan. Hammas
merupakan sayap dari gerakan Ikwanul Muslimun Palestina.
Konspirasi
Yahudi, Barat, dan pemerintah Mesir kecele besar. Mereka menyangka dengan
dihabisinya Hasan Al-Banna dan diberangusnya gerakan tersebut di Mesir, akan
punahlah pengaruhnya. Nyatanya, setelah kematian Al-Banna, gerakan Ikhwan
bukannya kendur, malah semakin pesat perkembangannya di luar Mesir. Gerakan
tersebut tumbuh subur di Suriah, Palestina, Yordania, dan Sudan. Bahkan gerakan
mereka turut memberi andil besar bagi tumbangnya kekuasaan Yahya Hamiduddin di
Yaman pada 1948. Mereka juga mengilhami gerakan "An-Nahdhah" di Tunis
yang dipimpin Rasyid Ghannusi. Juga gerakan Islam yang ada di Aljazair. Pada
1982, Ikhwan Mesir menyempurnakan sistem keorganisasiannya dalam skala
internasional, dengan menjalin kerja sama dengan semua gerakan Ikhwan yang ada
di luar Mesir
Jihad
Afghanistan melawan Soviet, sampai jatuhnya Kabul, tak lepas dari andil gerakan
Ikhwan. IM mengirim perwakilan resminya, Ustad Kamal As-Sananiry untuk
mengikuti perjuangan jihad itu dari dekat. Cikal bakal gerakan Jihad
Afghanistan diprakarsai oleh para dosen Universitas Kabul yang sempat menuntut
ilmu di Mesir seperti Abdur Rabbi Rasul Sayyaf. Mereka berkenalan dengan para
murabbi Ikhwan dan mendapatkan tarbiyah yang membentuk mereka menjadi mujahid
dakwah.
Kabarnya,
Partai Masyumi merupakan gerakan Islam Indonesia yang punya hubungan baik
dengan IM. Beberapa tokoh Islam Indonesia sempat berjumpa dan berbincang dengan
Al-Banna. Bahkan gerakan IM mendorong pemerintahan Mesir untuk mengakui
kemerdekaan Indonesia. Jadilah Mesir sebagai negara asing pertama yang mengakui
kemerdekaan Indonesia. Dr. Said Ramadhan, salah seorang menantu Al-Banna, dalam
salah satu wawancaranya dengan majalah Ad-Dakwah, menjelaskan hubungan beliau
dengan tokoh Islam Indonesia, M. Natsir. Mereka sempat berjumpa dalam muktamar
pertama tentang Mesjidil Aqsa pada 1950.
Gerakan
IM dalam bentuk struktural baru menjejakkan kakinya di Indonesia pada 1983
setelah beberapa pelajar Islam dari Arab Saudi kembali ke Indonesia. Para
pendiri gerakan ini belajar kepada Syekh Ali Al-Juraisyah salah seorang tokoh
penting IM dan salah satu murid Imam Syahid Hasan Al-Banna. Gerakan IM di
Indonesia telah menyebar ke seluruh propinsi dan memberikan gairah baru dalam
dakwah di Nusantara. Peranannya dalam Reformasi di Indonesia sangat besar
melalui aktifitas dakwah kampus yang menjadi pelopor perubahan di negeri ini.
Pada tahun 1998 gerakan IM di Indonesia resmi memunculkan diri dalam bentuk
sebuah Partai terbuka yang menyebut diri mereka sebagai “Partai Dakwah”.
Dalam
perjalanannya yang sudah melampaui 70 tahun itu, gerakan Ikhwanul Muslimun
tampaknya masih belum berhasil merealisasikan apa yang mereka cita-citakan,
yaitu berdirinya kembali khilafah Islamiyyah. Apakah Ikhwan telah gagal? Ustadz
Said Hawwa, salah seorang tokoh Ikhwan Suriah generasi kedua menjawab,
"Keberhasilan Ikhwan sampai saat ini baru sampai taraf penyebaran fikrah
(pemikiran) dan membangkitkan kesadaran umat. Hal itu dapat terlihat dari
tersebarnya karya tokoh-tokoh Ikhwan ke seluruh penjuru dunia."
Walahu
a’lam
No comments:
Post a Comment