Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab
Dakwah Salafiyah adalah dakwah yang menyeru untuk kembali
kepada petunjuk generasi salaf yang saleh sejak masa risalah yang gemilang.
Dakwah ini mengajak untuk mengembalikan akidah Islam kepada sumber-sumbernya
yang murni, serta menekankan pemurnian konsep tauhid dari berbagai bentuk
bid‘ah yang melekat padanya. Sebagian orang—secara keliru—menyebutnya dengan
nama “Wahhabiyah” yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab.
Padahal, dakwah ini bukanlah mazhab baru atau metode yang diada-adakan, melainkan
kelanjutan dan pembaruan dari dakwah salafiyah. Ia merupakan manhaj dan dakwah
untuk mengikuti jejak generasi salaf yang saleh dan meneladani jalan mereka,
sebagaimana firman Allah سبحانه
وتعالى:
“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk
Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti
mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya,
dan Dia menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya
sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang
besar.”
[Surah At-Taubah, ayat: 100]
Dan sabda Nabi ﷺ dalam hadis sahih tentang golongan yang selamat:
“Mereka adalah orang-orang yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku
berada di atasnya hari ini.”
Pendirian dan Tokoh-Tokoh Utama:
Di antara tokoh utama dakwah salafiyah pada masa modern
adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Musharrafi at-Tamimi an-Najdi
(1115–1206 H / 1703–1791 M).
- Beliau
lahir di kota Al-‘Uyaynah dekat Riyadh, dan menerima pendidikan awal dari
ayahnya dengan mempelajari sebagian fiqh mazhab Hanbali, tafsir, dan
hadis. Ia telah menghafal Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun.
- Beliau
pergi ke Makkah untuk menunaikan haji dan belajar kepada para ulama di
sana, kemudian melanjutkan ke Madinah untuk memperdalam ilmu syariat. Di
sana ia bertemu dengan gurunya Muhammad Hayat as-Sindi (w. 1165 H), yang
sangat memengaruhinya. Ia juga belajar kepada Syaikh Abdullah bin Ibrahim
Alu Saif.
- Ia
kembali ke Al-‘Uyaynah, kemudian pergi ke Irak pada tahun (1136 H / 1724
M) untuk mengunjungi Basrah, Baghdad, dan Mosul. Di setiap kota tersebut,
ia bertemu dengan para ulama dan mengambil ilmu dari mereka.
- Ia
terpaksa meninggalkan Basrah menuju Al-Ahsa’, kemudian ke Huraymila,
tempat ayahnya pindah sebagai seorang hakim. Di sana ia mulai menyebarkan
dakwah tauhid secara terang-terangan pada tahun (1143 H / 1730 M), namun
kemudian terpaksa meninggalkannya karena adanya upaya dari sebagian orang
bodoh untuk membunuhnya.
- Ia
kemudian menuju Al-‘Uyaynah dan menyampaikan dakwahnya kepada penguasanya,
Utsman bin Mu‘ammar, yang bersama beliau menghancurkan kuburan dan
bangunan kubah, serta membantu pelaksanaan hukuman rajam terhadap seorang
wanita pezina yang datang mengakui perbuatannya.
- Penguasa
Al-Ahsa’, ‘Uray‘ir bin Dujain, mengirim surat kepada penguasa Al-‘Uyaynah
yang memerintahkan agar membunuh Syaikh. Para ulama yang buruk juga
menulis surat kepada Ibn Mu‘ammar untuk menimbulkan keraguan terhadap
dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka Ibn Mu‘ammar mendesak Syaikh untuk
meninggalkan wilayah tersebut, dan akhirnya beliau keluar dari
Al-‘Uyaynah.
- Ia
menuju Dir‘iyah, pusat kekuasaan keluarga Al Saud, dan singgah sebagai
tamu Muhammad bin Suwailim al-‘Arini pada tahun (1158 H). Para murid pun
datang kepadanya dan memuliakannya.
- Amir
Muhammad bin Saud, yang memerintah pada periode (1139–1179 H), mengetahui
kedatangan Syaikh, lalu datang menyambutnya dan berjanji untuk melindungi
serta mendukungnya. Terjadi dialog penting antara keduanya yang memiliki
nilai historis:
Amir: Bergembiralah dengan negeri yang lebih baik dari negerimu, dan bergembiralah dengan kemuliaan dan kekuatan.
Syaikh: Dan aku memberi kabar gembira kepadamu dengan kemuliaan dan kemenangan. Inilah kalimat “La ilaha illa Allah”; siapa yang berpegang teguh padanya, mengamalkannya, dan membelanya, maka ia akan menguasai negeri dan manusia. Ini adalah kalimat tauhid yang diserukan oleh semua rasul Allah, dan bumi akan diwarisi oleh hamba-hamba-Nya yang Muslim. - Kemudian
Amir mengajukan dua syarat kepada Syaikh:
Agar Syaikh tidak meninggalkan mereka dan tidak mengganti mereka dengan yang lain.
Agar Syaikh tidak menghalangi penguasa dalam mengambil bagian hasil panen sebagaimana kebiasaan dari penduduk Dir‘iyah. - Mengenai
syarat pertama, Syaikh berkata: “Bentangkan tanganmu, aku akan berbaiat
kepadamu. Darah dibalas darah dan kehancuran dibalas kehancuran.”
- Mengenai
syarat kedua, Syaikh berkata: “Semoga Allah membukakan bagimu berbagai
kemenangan sehingga engkau mendapatkan dari harta rampasan sesuatu yang
lebih baik dari itu.”
- Syaikh
meyakini bahwa kebenaran membutuhkan kekuatan untuk melindunginya, karena
Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak dapat dicegah dengan
Al-Qur’an semata.
- Syaikh
dan Amir terus menyebarkan dakwah di wilayah Najd. Ketika Amir wafat, ia
digantikan oleh putranya Abdul Aziz bin Muhammad (111–1218 H) yang
melanjutkan dukungan terhadap dakwah bersama Syaikh, hingga Syaikh wafat
di Dir‘iyah dan dimakamkan di sana.
- Syaikh
memiliki banyak karya tulis, yang paling penting di antaranya adalah Kitab
at-Tauhid, Al-Iman, Kasyf asy-Syubuhat, Adab al-Masyi
ila as-Shalah, Masail al-Jahiliyah, serta sejumlah ringkasan
dan risalah yang berkisar pada masalah fiqh dan ushul, yang sebagian besar
berfokus pada tauhid.
Banyak orang belajar kepada Syaikh. Di antara murid-muridnya
dan murid dari murid-muridnya adalah:
- Saud
bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, yang selalu bersama Syaikh, belajar
darinya, dan membaca di hadapannya.
- Husain
bin Muhammad bin Abdul Wahhab, hakim di kota Dir‘iyah.
- Ali
bin Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama besar yang sangat wara‘ dan
takut kepada Allah; ia pernah ditawari jabatan hakim namun menolaknya.
- Abdullah
bin Muhammad bin Abdul Wahhab (1165–1242 H), yang menjadi hakim Dir‘iyah
pada masa Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud; ia dikenal memiliki
pemahaman yang mendalam dan pengetahuan yang luas, dan wafat di Mesir.
- Ibrahim
bin Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama yang mulia dan teliti.
Pemikiran dan Keyakinan:
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bermazhab Hanbali dalam studinya, namun ia
tidak selalu berpegang pada mazhab tersebut dalam fatwa-fatwanya jika dalil
yang lebih kuat menurutnya bertentangan dengannya. Oleh karena itu, dakwahnya
bercirikan mengikuti dalil sesuai dengan pemahaman salafus shalih.
- Ia
menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta
menghidupkan kembali ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah yang telah pudar.
- Ia
berpegang pada metode Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam memahami dalil dan
membangun hukum berdasarkan dalil tersebut.
- Ia
menyeru untuk memurnikan konsep tauhid dan menuntut kaum Muslimin agar
kembali kepada keadaan tauhid seperti pada masa awal Islam.
- Tauhid
Asma’ dan Sifat adalah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang Allah
tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya ﷺ
tanpa penyerupaan, tanpa menanyakan bagaimana, tanpa penyimpangan, dan
tanpa penolakan.
- Menekankan
konsep tauhid ibadah: “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” [Surah
An-Nahl, ayat: 36].
- Menghidupkan
kewajiban jihad, di mana Syaikh merupakan contoh seorang mujahid yang
bergerak dalam pembukaan wilayah, menyebarkan dakwah, dan menghilangkan
berbagai bentuk bid‘ah yang telah dilakukan oleh masyarakat.
- Memberantas
khurafat yang tersebar saat itu akibat kebodohan dan keterbelakangan,
seperti:
mengunjungi kubur yang diklaim sebagai kubur sahabat Dhirar bin al-Azwar dan meminta pemenuhan kebutuhan kepadanya,
mengunjungi kubah yang dikatakan milik Zaid bin al-Khattab,
mendatangi pohon yang disebut sebagai pohon Abu Dujanah dan pohon lain yang disebut ath-Tharfiyah,
serta mengunjungi gua yang disebut Gua Putri Amir. - Membagi
tawassul menjadi dua jenis berdasarkan kajian dalil-dalil syar‘i:
tawassul yang disyariatkan, yaitu bertawassul kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah, dengan amal saleh, atau dengan doa seorang Muslim,
dan tawassul yang bid‘ah dan dilarang, yaitu yang tidak memiliki dalil sahih, seperti bertawassul dengan zat orang saleh, “dengan kedudukan Rasul” atau “dengan kehormatan syaikh tertentu,” dan semisalnya. - Melarang
pembangunan kuburan, menghiasinya, memberi penerangan, dan berbagai bid‘ah
lain yang menyertainya.
- Menentang
penyimpangan sebagian tarekat sufi serta hal-hal yang mereka masukkan ke
dalam agama yang sebelumnya tidak ada.
- Mengharamkan
berbicara tentang Allah tanpa ilmu: “Dan janganlah kamu mengatakan
terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” [Surah Al-A‘raf, ayat: 33].
- Memerangi
thaghut, yang menurutnya adalah “segala sesuatu yang membuat seorang hamba
melampaui batasnya, baik yang disembah, diikuti, atau ditaati.”
Pokok-pokok thaghut ada lima: Iblis—semoga Allah melaknatnya—, orang yang
disembah dan ridha, orang yang mengajak manusia menyembah dirinya, orang
yang mengaku mengetahui perkara gaib, dan orang yang berhukum dengan
selain apa yang diturunkan Allah. Seseorang tidak akan menjadi mukmin
kepada Allah kecuali setelah mengingkari thaghut.
- Segala
sesuatu yang tidak dijelaskan oleh syariat adalah perkara yang dimaafkan,
dan tidak boleh bagi siapa pun untuk mengharamkan, mewajibkan,
menganjurkan, atau membencinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah
kamu menanyakan hal-hal yang jika dijelaskan kepadamu akan menyusahkanmu.”
[Surah Al-Ma’idah, ayat: 101].
- Meninggalkan
dalil yang jelas dan menggunakan dalil yang samar adalah jalan orang-orang
yang menyimpang seperti Rafidhah dan Khawarij: “Adapun orang-orang yang
dalam hatinya terdapat penyimpangan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang
samar darinya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.”
[Surah Ali ‘Imran, ayat: 7].
- Nabi ﷺ
telah menjelaskan bahwa yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan
di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar. Siapa yang tidak
memahami kaidah ini lalu ingin berbicara secara pasti dalam setiap
masalah, maka ia telah sesat dan menyesatkan.
Syaikh menjelaskan dalam penjelasannya tentang jenis-jenis
syirik dan tingkatannya bahwa:
- Syirik
besar, yaitu syirik dalam ibadah, niat, ketaatan, dan kecintaan.
- Syirik
kecil, yaitu riya’, sebagaimana sabda Nabi ﷺ dalam hadis yang
diriwayatkan oleh al-Hakim: “Sedikit riya’ adalah syirik.”
- Syirik
tersembunyi, yang dapat terjadi pada seorang mukmin tanpa disadari,
sebagaimana sabda Nabi ﷺ:
“Syirik dalam umat ini lebih tersembunyi daripada jejak semut hitam di
atas batu hitam dalam kegelapan malam.”
- Ia
sangat menaruh perhatian pada penegasan tauhid ibadah dan penjelasan
hal-hal yang bertentangan dengannya, karena tauhid ibadah adalah kewajiban
pertama bagi seorang mukallaf, dan karena penyimpangan yang banyak terjadi
di lingkungannya saat itu berada pada aspek ini. Ketika dakwah ini
menyebar ke luar negeri, muncul kebutuhan untuk penjelasan lebih rinci
dalam pembahasan nama dan sifat, karena penolakan dan penyimpangan dalam
masalah ini tampak di banyak negeri Muslim.
- Membuka
wawasan kaum terpelajar, mendorong mereka untuk mencari dalil, dan
mengajak mereka untuk meneliti kitab-kitab induk dan referensi sebelum
menerima suatu gagasan apalagi menerapkannya.
Akar Pemikiran dan Akidah:
Dakwah ini merupakan upaya untuk mengikuti apa yang dianut oleh generasi salaf
umat dan masa-masa terbaik, sehingga merupakan seruan untuk mengikuti Al-Qur’an
dan Sunnah sesuai pemahaman salafus shalih. Namun, dakwah ini membatasi ijtihad
pada masa mereka, sehingga memberikan kesan kaku.
Penyebaran dan Wilayah Pengaruh:
Dakwah salafiyah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebar sebagai dakwah umum
dan gerakan masyarakat yang mencakup mayoritas penduduk Najd. Dakwah ini
mencapai puncak kekuasaan bersama pemerintahan Saudi di Makkah al-Mukarramah
pada tahun 1219 H dan di Madinah al-Munawwarah pada tahun 1220 H. Dakwah ini
hidup berdampingan dengan kekuasaan Saudi, yang mendukungnya dengan dana,
melindunginya, mendidik para dai untuknya, dan memberikan mereka dukungan yang
besar.
Dan telah diketahui bahwa dakwah salafiyah Ibnu Abdul Wahhab
tidak luput dari para penentang yang mencela dan menyebarkan berbagai
kebohongan tentangnya setelah mereka merasa bahwa dakwah ini mengancam mereka,
khususnya kalangan ahli bid‘ah, kaum sufi, dan kelompok-kelompok sesat. Hal ini
merupakan sesuatu yang dapat diperkirakan dan wajar terjadi. Di sisi lain,
sebagian pengikut dakwah Syaikh Ibnu Abdul Wahhab juga mendapat kritik dalam
beberapa hal yang mungkin benar adanya.
Di antaranya adalah bahwa sebagian pengikut dakwah tersebut
bersikap keras dalam mengingkari kemungkaran, serta terlalu fokus pada masalah
bid‘ah dan syirik dengan mengabaikan aspek-aspek lain dalam Islam yang
berkaitan dengan ekonomi, sosial, dan politik. Namun, keadaan ini telah berubah
pada sebagian besar pengikut generasi baru, di mana perhatian terhadap
masyarakat dan sifat menyeluruh Islam mulai mendapat porsi yang jelas dalam
aktivitas dakwah. Sebagian dari mereka juga mulai mengambil inisiatif dalam
kegiatan sosial, bantuan kemanusiaan, dan dakwah yang bersifat menyeluruh di
banyak negara di dunia. Dalam hal ini, mereka banyak terpengaruh oleh dakwah
Ikhwanul Muslimin dan metode dakwah mereka. Hal ini pada hakikatnya merupakan
sesuatu yang positif karena secara bertahap menghilangkan kesan kekakuan dari
dakwah tersebut. Kekakuan tersebut sebelumnya telah menyebabkan banyak
kesulitan, karena terlihat dalam penolakan terhadap setiap bentuk ijtihad dan
pandangan yang sejalan dengan esensi agama. Selain itu, sebagian pengikut juga
berlebihan dalam menuduh bid‘ah dan mengkafirkan banyak dai yang ikhlas dan
inovatif. Akibat dari hal ini sangat merusak, memecah barisan, serta menjauhkan
kemungkinan untuk menegakkan hukum Allah. Hal ini juga menyebabkan perpecahan
di antara para pengikutnya sehingga mereka menjadi kelompok-kelompok dan
partai-partai. Kepada Allah kita memohon agar Dia menyatukan hati, menerangi
pandangan dan pemahaman, sehingga umat terhindar dari pemahaman yang sempit
yang dapat merusak citra Islam dan kaum Muslimin.
Dan dari uraian sebelumnya dapat dipahami bahwa dakwah
salafiyah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah dakwah yang menyeru untuk
kembali kepada akidah tauhid yang murni dan berpegang teguh pada petunjuk
salafus shalih sejak masa risalah yang gemilang. Dakwah ini berlandaskan
Al-Qur’an dan Sunnah, serta metode Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam memahami dalil
dan kembali kepadanya. Dakwah ini juga mengajak untuk memurnikan tauhid dari
segala bentuk kesyirikan dan menutup segala jalan yang dapat mengantarkan kepada
syirik. Oleh karena itu, seorang Muslim harus menggabungkan dalam akidah tauhid
antara tauhid rububiyah—bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemberi rezeki—dan
tauhid uluhiyah atau ilahiyah—yaitu mentauhidkan Allah dalam ibadah, sehingga
manusia hanya menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Allah
adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, tempat bergantung, tidak beranak dan tidak
diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. Hal ini juga
mengharuskan penetapan tauhid dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah tanpa
penyerupaan, tanpa menanyakan bagaimana, tanpa penyimpangan, dan tanpa
penolakan, disertai dengan menghidupkan jihad serta memberantas segala bentuk
bid‘ah, khurafat, dan kesyirikan yang tersebar dalam masyarakat Islam. Oleh
karena itu, seharusnya dakwah ini membatasi dirinya pada tujuan awalnya dan
bersatu dengan dakwah-dakwah lain yang bersifat menyeluruh, sehingga usaha para
dai yang ikhlas dalam menegakkan hukum Allah di bumi dan mengembalikan kejayaan
Islam dan kaum Muslimin dapat menjadi sempurna.
Di antara hal-hal yang menjadi kritik terhadapnya adalah:
- Sikapnya
yang memerangi negara Utsmaniyah serta tidak berusaha memperbaiki
kesalahan-kesalahannya, padahal negara Utsmaniyah masih merupakan negara
Islam yang membutuhkan perbaikan, dukungan, dan bantuan dari gerakan ini,
terutama ketika menghadapi konspirasi Barat, Rusia, Yahudi, dan Freemason
di pusat wilayahnya.
- Sebagian
pengikutnya bersikap keras dan mudah mengkafirkan, serta tidak menggunakan
metode yang tepat dan sah untuk mendekatkan masyarakat kepada dakwah tanpa
menggunakan kekerasan.
- Tidak
adanya perencanaan bertahap yang mengarahkan dakwah menuju tujuan gerakan
tertentu.
- Terburu-buru
dalam menggunakan kekuatan terhadap negara Utsmaniyah, padahal gerakan ini
hanya memiliki jumlah pasukan yang sedikit dibandingkan dengan tentara
Utsmaniyah yang terlatih dan dilengkapi dengan persenjataan. Setelah
Muhammad Ali menghancurkan gerakan Wahhabi, berakhirlah peran politiknya,
dan para pengikutnya kemudian beralih kepada penyebaran dakwah melalui
nasihat dan bimbingan, serta berinteraksi dengan para jamaah haji di
Makkah dan Madinah. Muhammad bin Ali as-Sanusi juga terpengaruh oleh mereka,
mempelajari ilmu dan sejarah mereka, kemudian kembali ke Libya pada tahun
1843 M untuk memimpin gerakan Sanusiyah dengan mengambil pelajaran dari
apa yang terjadi pada pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab serta menghindari
kesalahan mereka. Ia mendirikan gerakan yang serupa dengan mereka tanpa
sikap fanatik atau tergesa-gesa hingga wafat pada tahun 1850 M, dan
digantikan oleh putranya Muhammad al-Mahdi as-Sanusi yang mengorganisasi
kabilah-kabilah dalam bentuk zawiyah-zawiyah.
Referensi untuk Pembelajaran Mandiri dan Pendalaman:
- “Unwan
al-Majd fi Tarikh Najd” karya Syaikh Utsman bin Abdullah bin Bisyir
al-Hanbali, cetakan Kementerian Pendidikan Arab Saudi.
- “Raudhat
al-Afkar” karya Syaikh Husain bin Ghannam, tahqiq Dr. Nashiruddin al-Asad,
percetakan al-Madani, Mesir.
- “Atsar
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab” karya Dr. Ahmad Muhammad adh-Dhabib,
percetakan al-Ahliyah Offset, Riyadh, 1397 H.
- “Imam
Muhammad bin Abdul Wahhab: Kemenangan Mazhab Salafi” karya Abdul Halim
al-Jundi, Dar al-Ma‘arif, Mesir.
- “Fi
Sirah Muhammad bin Abdul Wahhab” tahqiq dan komentar Syaikh Abdurrahman
bin Abdurrahman bin Abdul Latif Alu Syaikh, terbitan Darah Raja Abdul
Aziz.
- “Penyebaran
Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Luar Jazirah Arab” karya
Muhammad Kamal Jum‘ah, cetakan kedua, terbitan Darah Raja Abdul Aziz,
Riyadh, 1401 H / 1981 M.
- “Bagaimana
Munculnya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab” karya penulis anonim,
penelitian dan komentar Dr. Abdullah ash-Shalih al-Utsaimin, terbitan
Darah Raja Abdul Aziz, Riyadh, 1403 H / 1983 M.
- “Klaim
Para Penentang Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab” karya Abdul Aziz
al-Abd al-Latif, Dar al-Wathan.
Tulislah sebuah artikel yang menjelaskan hakikat dakwah
Muhammad bin Abdul Wahhab, kelebihan-kelebihannya, serta kritik terhadapnya
berdasarkan kaidah-kaidah Islam.
Evaluasi dan Pengukuran Diri:
- Jelaskan
dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab.
- Jelaskan
kondisi yang melatarbelakangi munculnya dakwah ini.
- Apa
saja kesulitan yang dihadapi Muhammad bin Abdul Wahhab dalam dakwahnya?
- Sebutkan
syarat-syarat yang diajukan oleh Ibnu Saud untuk mendukung Muhammad bin
Abdul Wahhab.
- Negara
Saudi yang berdiri berdasarkan dakwah Ibnu Abdul Wahhab melalui tiga
tahap, jelaskan tahap-tahap tersebut dan ciri masing-masing tahap.
- Sebutkan
kelebihan utama dakwah Ibnu Abdul Wahhab.
- Apa
saja kritik utama terhadap dakwah ini, terutama pada masa modern?
No comments:
Post a Comment