Friday, March 27, 2026

Salafy

 Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab

Dakwah Salafiyah adalah dakwah yang menyeru untuk kembali kepada petunjuk generasi salaf yang saleh sejak masa risalah yang gemilang. Dakwah ini mengajak untuk mengembalikan akidah Islam kepada sumber-sumbernya yang murni, serta menekankan pemurnian konsep tauhid dari berbagai bentuk bid‘ah yang melekat padanya. Sebagian orang—secara keliru—menyebutnya dengan nama “Wahhabiyah” yang dinisbatkan kepada Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab. Padahal, dakwah ini bukanlah mazhab baru atau metode yang diada-adakan, melainkan kelanjutan dan pembaruan dari dakwah salafiyah. Ia merupakan manhaj dan dakwah untuk mengikuti jejak generasi salaf yang saleh dan meneladani jalan mereka, sebagaimana firman Allah سبحانه وتعالى:

“Dan orang-orang yang terdahulu lagi pertama-tama (masuk Islam) dari golongan Muhajirin dan Anshar serta orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik, Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya, dan Dia menyediakan bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai, mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Itulah kemenangan yang besar.”
[Surah At-Taubah, ayat: 100]

Dan sabda Nabi dalam hadis sahih tentang golongan yang selamat:
“Mereka adalah orang-orang yang berada di atas apa yang aku dan para sahabatku berada di atasnya hari ini.”

Pendirian dan Tokoh-Tokoh Utama:

Di antara tokoh utama dakwah salafiyah pada masa modern adalah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab al-Musharrafi at-Tamimi an-Najdi (1115–1206 H / 1703–1791 M).

  • Beliau lahir di kota Al-‘Uyaynah dekat Riyadh, dan menerima pendidikan awal dari ayahnya dengan mempelajari sebagian fiqh mazhab Hanbali, tafsir, dan hadis. Ia telah menghafal Al-Qur’an pada usia sepuluh tahun.
  • Beliau pergi ke Makkah untuk menunaikan haji dan belajar kepada para ulama di sana, kemudian melanjutkan ke Madinah untuk memperdalam ilmu syariat. Di sana ia bertemu dengan gurunya Muhammad Hayat as-Sindi (w. 1165 H), yang sangat memengaruhinya. Ia juga belajar kepada Syaikh Abdullah bin Ibrahim Alu Saif.
  • Ia kembali ke Al-‘Uyaynah, kemudian pergi ke Irak pada tahun (1136 H / 1724 M) untuk mengunjungi Basrah, Baghdad, dan Mosul. Di setiap kota tersebut, ia bertemu dengan para ulama dan mengambil ilmu dari mereka.
  • Ia terpaksa meninggalkan Basrah menuju Al-Ahsa’, kemudian ke Huraymila, tempat ayahnya pindah sebagai seorang hakim. Di sana ia mulai menyebarkan dakwah tauhid secara terang-terangan pada tahun (1143 H / 1730 M), namun kemudian terpaksa meninggalkannya karena adanya upaya dari sebagian orang bodoh untuk membunuhnya.
  • Ia kemudian menuju Al-‘Uyaynah dan menyampaikan dakwahnya kepada penguasanya, Utsman bin Mu‘ammar, yang bersama beliau menghancurkan kuburan dan bangunan kubah, serta membantu pelaksanaan hukuman rajam terhadap seorang wanita pezina yang datang mengakui perbuatannya.
  • Penguasa Al-Ahsa’, ‘Uray‘ir bin Dujain, mengirim surat kepada penguasa Al-‘Uyaynah yang memerintahkan agar membunuh Syaikh. Para ulama yang buruk juga menulis surat kepada Ibn Mu‘ammar untuk menimbulkan keraguan terhadap dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab. Maka Ibn Mu‘ammar mendesak Syaikh untuk meninggalkan wilayah tersebut, dan akhirnya beliau keluar dari Al-‘Uyaynah.
  • Ia menuju Dir‘iyah, pusat kekuasaan keluarga Al Saud, dan singgah sebagai tamu Muhammad bin Suwailim al-‘Arini pada tahun (1158 H). Para murid pun datang kepadanya dan memuliakannya.
  • Amir Muhammad bin Saud, yang memerintah pada periode (1139–1179 H), mengetahui kedatangan Syaikh, lalu datang menyambutnya dan berjanji untuk melindungi serta mendukungnya. Terjadi dialog penting antara keduanya yang memiliki nilai historis:
    Amir: Bergembiralah dengan negeri yang lebih baik dari negerimu, dan bergembiralah dengan kemuliaan dan kekuatan.
    Syaikh: Dan aku memberi kabar gembira kepadamu dengan kemuliaan dan kemenangan. Inilah kalimat “La ilaha illa Allah”; siapa yang berpegang teguh padanya, mengamalkannya, dan membelanya, maka ia akan menguasai negeri dan manusia. Ini adalah kalimat tauhid yang diserukan oleh semua rasul Allah, dan bumi akan diwarisi oleh hamba-hamba-Nya yang Muslim.
  • Kemudian Amir mengajukan dua syarat kepada Syaikh:
    Agar Syaikh tidak meninggalkan mereka dan tidak mengganti mereka dengan yang lain.
    Agar Syaikh tidak menghalangi penguasa dalam mengambil bagian hasil panen sebagaimana kebiasaan dari penduduk Dir‘iyah.
  • Mengenai syarat pertama, Syaikh berkata: “Bentangkan tanganmu, aku akan berbaiat kepadamu. Darah dibalas darah dan kehancuran dibalas kehancuran.”
  • Mengenai syarat kedua, Syaikh berkata: “Semoga Allah membukakan bagimu berbagai kemenangan sehingga engkau mendapatkan dari harta rampasan sesuatu yang lebih baik dari itu.”
  • Syaikh meyakini bahwa kebenaran membutuhkan kekuatan untuk melindunginya, karena Allah mencegah dengan kekuasaan apa yang tidak dapat dicegah dengan Al-Qur’an semata.
  • Syaikh dan Amir terus menyebarkan dakwah di wilayah Najd. Ketika Amir wafat, ia digantikan oleh putranya Abdul Aziz bin Muhammad (111–1218 H) yang melanjutkan dukungan terhadap dakwah bersama Syaikh, hingga Syaikh wafat di Dir‘iyah dan dimakamkan di sana.
  • Syaikh memiliki banyak karya tulis, yang paling penting di antaranya adalah Kitab at-Tauhid, Al-Iman, Kasyf asy-Syubuhat, Adab al-Masyi ila as-Shalah, Masail al-Jahiliyah, serta sejumlah ringkasan dan risalah yang berkisar pada masalah fiqh dan ushul, yang sebagian besar berfokus pada tauhid.

Banyak orang belajar kepada Syaikh. Di antara murid-muridnya dan murid dari murid-muridnya adalah:

  • Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud, yang selalu bersama Syaikh, belajar darinya, dan membaca di hadapannya.
  • Husain bin Muhammad bin Abdul Wahhab, hakim di kota Dir‘iyah.
  • Ali bin Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama besar yang sangat wara‘ dan takut kepada Allah; ia pernah ditawari jabatan hakim namun menolaknya.
  • Abdullah bin Muhammad bin Abdul Wahhab (1165–1242 H), yang menjadi hakim Dir‘iyah pada masa Saud bin Abdul Aziz bin Muhammad bin Saud; ia dikenal memiliki pemahaman yang mendalam dan pengetahuan yang luas, dan wafat di Mesir.
  • Ibrahim bin Muhammad bin Abdul Wahhab, seorang ulama yang mulia dan teliti.

Pemikiran dan Keyakinan:
Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab bermazhab Hanbali dalam studinya, namun ia tidak selalu berpegang pada mazhab tersebut dalam fatwa-fatwanya jika dalil yang lebih kuat menurutnya bertentangan dengannya. Oleh karena itu, dakwahnya bercirikan mengikuti dalil sesuai dengan pemahaman salafus shalih.

  • Ia menekankan pentingnya kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, serta menghidupkan kembali ajaran Ahlus Sunnah wal Jamaah yang telah pudar.
  • Ia berpegang pada metode Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam memahami dalil dan membangun hukum berdasarkan dalil tersebut.
  • Ia menyeru untuk memurnikan konsep tauhid dan menuntut kaum Muslimin agar kembali kepada keadaan tauhid seperti pada masa awal Islam.
  • Tauhid Asma’ dan Sifat adalah menetapkan nama-nama dan sifat-sifat yang Allah tetapkan bagi diri-Nya atau yang ditetapkan oleh Rasul-Nya tanpa penyerupaan, tanpa menanyakan bagaimana, tanpa penyimpangan, dan tanpa penolakan.
  • Menekankan konsep tauhid ibadah: “Sembahlah Allah dan jauhilah thaghut.” [Surah An-Nahl, ayat: 36].
  • Menghidupkan kewajiban jihad, di mana Syaikh merupakan contoh seorang mujahid yang bergerak dalam pembukaan wilayah, menyebarkan dakwah, dan menghilangkan berbagai bentuk bid‘ah yang telah dilakukan oleh masyarakat.
  • Memberantas khurafat yang tersebar saat itu akibat kebodohan dan keterbelakangan, seperti:
    mengunjungi kubur yang diklaim sebagai kubur sahabat Dhirar bin al-Azwar dan meminta pemenuhan kebutuhan kepadanya,
    mengunjungi kubah yang dikatakan milik Zaid bin al-Khattab,
    mendatangi pohon yang disebut sebagai pohon Abu Dujanah dan pohon lain yang disebut ath-Tharfiyah,
    serta mengunjungi gua yang disebut Gua Putri Amir.
  • Membagi tawassul menjadi dua jenis berdasarkan kajian dalil-dalil syar‘i:
    tawassul yang disyariatkan, yaitu bertawassul kepada Allah dengan nama-nama-Nya yang indah, dengan amal saleh, atau dengan doa seorang Muslim,
    dan tawassul yang bid‘ah dan dilarang, yaitu yang tidak memiliki dalil sahih, seperti bertawassul dengan zat orang saleh, “dengan kedudukan Rasul” atau “dengan kehormatan syaikh tertentu,” dan semisalnya.
  • Melarang pembangunan kuburan, menghiasinya, memberi penerangan, dan berbagai bid‘ah lain yang menyertainya.
  • Menentang penyimpangan sebagian tarekat sufi serta hal-hal yang mereka masukkan ke dalam agama yang sebelumnya tidak ada.
  • Mengharamkan berbicara tentang Allah tanpa ilmu: “Dan janganlah kamu mengatakan terhadap Allah apa yang tidak kamu ketahui.” [Surah Al-A‘raf, ayat: 33].
  • Memerangi thaghut, yang menurutnya adalah “segala sesuatu yang membuat seorang hamba melampaui batasnya, baik yang disembah, diikuti, atau ditaati.” Pokok-pokok thaghut ada lima: Iblis—semoga Allah melaknatnya—, orang yang disembah dan ridha, orang yang mengajak manusia menyembah dirinya, orang yang mengaku mengetahui perkara gaib, dan orang yang berhukum dengan selain apa yang diturunkan Allah. Seseorang tidak akan menjadi mukmin kepada Allah kecuali setelah mengingkari thaghut.
  • Segala sesuatu yang tidak dijelaskan oleh syariat adalah perkara yang dimaafkan, dan tidak boleh bagi siapa pun untuk mengharamkan, mewajibkan, menganjurkan, atau membencinya: “Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menanyakan hal-hal yang jika dijelaskan kepadamu akan menyusahkanmu.” [Surah Al-Ma’idah, ayat: 101].
  • Meninggalkan dalil yang jelas dan menggunakan dalil yang samar adalah jalan orang-orang yang menyimpang seperti Rafidhah dan Khawarij: “Adapun orang-orang yang dalam hatinya terdapat penyimpangan, maka mereka mengikuti ayat-ayat yang samar darinya untuk menimbulkan fitnah dan untuk mencari-cari takwilnya.” [Surah Ali ‘Imran, ayat: 7].
  • Nabi telah menjelaskan bahwa yang halal itu jelas dan yang haram itu jelas, dan di antara keduanya terdapat perkara-perkara yang samar. Siapa yang tidak memahami kaidah ini lalu ingin berbicara secara pasti dalam setiap masalah, maka ia telah sesat dan menyesatkan.

Syaikh menjelaskan dalam penjelasannya tentang jenis-jenis syirik dan tingkatannya bahwa:

  • Syirik besar, yaitu syirik dalam ibadah, niat, ketaatan, dan kecintaan.
  • Syirik kecil, yaitu riya’, sebagaimana sabda Nabi dalam hadis yang diriwayatkan oleh al-Hakim: “Sedikit riya’ adalah syirik.”
  • Syirik tersembunyi, yang dapat terjadi pada seorang mukmin tanpa disadari, sebagaimana sabda Nabi : “Syirik dalam umat ini lebih tersembunyi daripada jejak semut hitam di atas batu hitam dalam kegelapan malam.”
  • Ia sangat menaruh perhatian pada penegasan tauhid ibadah dan penjelasan hal-hal yang bertentangan dengannya, karena tauhid ibadah adalah kewajiban pertama bagi seorang mukallaf, dan karena penyimpangan yang banyak terjadi di lingkungannya saat itu berada pada aspek ini. Ketika dakwah ini menyebar ke luar negeri, muncul kebutuhan untuk penjelasan lebih rinci dalam pembahasan nama dan sifat, karena penolakan dan penyimpangan dalam masalah ini tampak di banyak negeri Muslim.
  • Membuka wawasan kaum terpelajar, mendorong mereka untuk mencari dalil, dan mengajak mereka untuk meneliti kitab-kitab induk dan referensi sebelum menerima suatu gagasan apalagi menerapkannya.

Akar Pemikiran dan Akidah:
Dakwah ini merupakan upaya untuk mengikuti apa yang dianut oleh generasi salaf umat dan masa-masa terbaik, sehingga merupakan seruan untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salafus shalih. Namun, dakwah ini membatasi ijtihad pada masa mereka, sehingga memberikan kesan kaku.

Penyebaran dan Wilayah Pengaruh:
Dakwah salafiyah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab menyebar sebagai dakwah umum dan gerakan masyarakat yang mencakup mayoritas penduduk Najd. Dakwah ini mencapai puncak kekuasaan bersama pemerintahan Saudi di Makkah al-Mukarramah pada tahun 1219 H dan di Madinah al-Munawwarah pada tahun 1220 H. Dakwah ini hidup berdampingan dengan kekuasaan Saudi, yang mendukungnya dengan dana, melindunginya, mendidik para dai untuknya, dan memberikan mereka dukungan yang besar.


Dan telah diketahui bahwa dakwah salafiyah Ibnu Abdul Wahhab tidak luput dari para penentang yang mencela dan menyebarkan berbagai kebohongan tentangnya setelah mereka merasa bahwa dakwah ini mengancam mereka, khususnya kalangan ahli bid‘ah, kaum sufi, dan kelompok-kelompok sesat. Hal ini merupakan sesuatu yang dapat diperkirakan dan wajar terjadi. Di sisi lain, sebagian pengikut dakwah Syaikh Ibnu Abdul Wahhab juga mendapat kritik dalam beberapa hal yang mungkin benar adanya.

Di antaranya adalah bahwa sebagian pengikut dakwah tersebut bersikap keras dalam mengingkari kemungkaran, serta terlalu fokus pada masalah bid‘ah dan syirik dengan mengabaikan aspek-aspek lain dalam Islam yang berkaitan dengan ekonomi, sosial, dan politik. Namun, keadaan ini telah berubah pada sebagian besar pengikut generasi baru, di mana perhatian terhadap masyarakat dan sifat menyeluruh Islam mulai mendapat porsi yang jelas dalam aktivitas dakwah. Sebagian dari mereka juga mulai mengambil inisiatif dalam kegiatan sosial, bantuan kemanusiaan, dan dakwah yang bersifat menyeluruh di banyak negara di dunia. Dalam hal ini, mereka banyak terpengaruh oleh dakwah Ikhwanul Muslimin dan metode dakwah mereka. Hal ini pada hakikatnya merupakan sesuatu yang positif karena secara bertahap menghilangkan kesan kekakuan dari dakwah tersebut. Kekakuan tersebut sebelumnya telah menyebabkan banyak kesulitan, karena terlihat dalam penolakan terhadap setiap bentuk ijtihad dan pandangan yang sejalan dengan esensi agama. Selain itu, sebagian pengikut juga berlebihan dalam menuduh bid‘ah dan mengkafirkan banyak dai yang ikhlas dan inovatif. Akibat dari hal ini sangat merusak, memecah barisan, serta menjauhkan kemungkinan untuk menegakkan hukum Allah. Hal ini juga menyebabkan perpecahan di antara para pengikutnya sehingga mereka menjadi kelompok-kelompok dan partai-partai. Kepada Allah kita memohon agar Dia menyatukan hati, menerangi pandangan dan pemahaman, sehingga umat terhindar dari pemahaman yang sempit yang dapat merusak citra Islam dan kaum Muslimin.

Dan dari uraian sebelumnya dapat dipahami bahwa dakwah salafiyah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab adalah dakwah yang menyeru untuk kembali kepada akidah tauhid yang murni dan berpegang teguh pada petunjuk salafus shalih sejak masa risalah yang gemilang. Dakwah ini berlandaskan Al-Qur’an dan Sunnah, serta metode Ahlus Sunnah wal Jamaah dalam memahami dalil dan kembali kepadanya. Dakwah ini juga mengajak untuk memurnikan tauhid dari segala bentuk kesyirikan dan menutup segala jalan yang dapat mengantarkan kepada syirik. Oleh karena itu, seorang Muslim harus menggabungkan dalam akidah tauhid antara tauhid rububiyah—bahwa Allah adalah Pencipta dan Pemberi rezeki—dan tauhid uluhiyah atau ilahiyah—yaitu mentauhidkan Allah dalam ibadah, sehingga manusia hanya menyembah Allah tanpa menyekutukan-Nya dengan sesuatu pun. Allah adalah Yang Maha Esa, Maha Tunggal, tempat bergantung, tidak beranak dan tidak diperanakkan, serta tidak ada sesuatu pun yang setara dengan-Nya. Hal ini juga mengharuskan penetapan tauhid dalam nama-nama dan sifat-sifat Allah tanpa penyerupaan, tanpa menanyakan bagaimana, tanpa penyimpangan, dan tanpa penolakan, disertai dengan menghidupkan jihad serta memberantas segala bentuk bid‘ah, khurafat, dan kesyirikan yang tersebar dalam masyarakat Islam. Oleh karena itu, seharusnya dakwah ini membatasi dirinya pada tujuan awalnya dan bersatu dengan dakwah-dakwah lain yang bersifat menyeluruh, sehingga usaha para dai yang ikhlas dalam menegakkan hukum Allah di bumi dan mengembalikan kejayaan Islam dan kaum Muslimin dapat menjadi sempurna.

Di antara hal-hal yang menjadi kritik terhadapnya adalah:

  1. Sikapnya yang memerangi negara Utsmaniyah serta tidak berusaha memperbaiki kesalahan-kesalahannya, padahal negara Utsmaniyah masih merupakan negara Islam yang membutuhkan perbaikan, dukungan, dan bantuan dari gerakan ini, terutama ketika menghadapi konspirasi Barat, Rusia, Yahudi, dan Freemason di pusat wilayahnya.
  2. Sebagian pengikutnya bersikap keras dan mudah mengkafirkan, serta tidak menggunakan metode yang tepat dan sah untuk mendekatkan masyarakat kepada dakwah tanpa menggunakan kekerasan.
  3. Tidak adanya perencanaan bertahap yang mengarahkan dakwah menuju tujuan gerakan tertentu.
  4. Terburu-buru dalam menggunakan kekuatan terhadap negara Utsmaniyah, padahal gerakan ini hanya memiliki jumlah pasukan yang sedikit dibandingkan dengan tentara Utsmaniyah yang terlatih dan dilengkapi dengan persenjataan. Setelah Muhammad Ali menghancurkan gerakan Wahhabi, berakhirlah peran politiknya, dan para pengikutnya kemudian beralih kepada penyebaran dakwah melalui nasihat dan bimbingan, serta berinteraksi dengan para jamaah haji di Makkah dan Madinah. Muhammad bin Ali as-Sanusi juga terpengaruh oleh mereka, mempelajari ilmu dan sejarah mereka, kemudian kembali ke Libya pada tahun 1843 M untuk memimpin gerakan Sanusiyah dengan mengambil pelajaran dari apa yang terjadi pada pengikut Muhammad bin Abdul Wahhab serta menghindari kesalahan mereka. Ia mendirikan gerakan yang serupa dengan mereka tanpa sikap fanatik atau tergesa-gesa hingga wafat pada tahun 1850 M, dan digantikan oleh putranya Muhammad al-Mahdi as-Sanusi yang mengorganisasi kabilah-kabilah dalam bentuk zawiyah-zawiyah.

Referensi untuk Pembelajaran Mandiri dan Pendalaman:

  • “Unwan al-Majd fi Tarikh Najd” karya Syaikh Utsman bin Abdullah bin Bisyir al-Hanbali, cetakan Kementerian Pendidikan Arab Saudi.
  • “Raudhat al-Afkar” karya Syaikh Husain bin Ghannam, tahqiq Dr. Nashiruddin al-Asad, percetakan al-Madani, Mesir.
  • “Atsar Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab” karya Dr. Ahmad Muhammad adh-Dhabib, percetakan al-Ahliyah Offset, Riyadh, 1397 H.
  • “Imam Muhammad bin Abdul Wahhab: Kemenangan Mazhab Salafi” karya Abdul Halim al-Jundi, Dar al-Ma‘arif, Mesir.
  • “Fi Sirah Muhammad bin Abdul Wahhab” tahqiq dan komentar Syaikh Abdurrahman bin Abdurrahman bin Abdul Latif Alu Syaikh, terbitan Darah Raja Abdul Aziz.
  • “Penyebaran Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab di Luar Jazirah Arab” karya Muhammad Kamal Jum‘ah, cetakan kedua, terbitan Darah Raja Abdul Aziz, Riyadh, 1401 H / 1981 M.
  • “Bagaimana Munculnya Syaikhul Islam Muhammad bin Abdul Wahhab” karya penulis anonim, penelitian dan komentar Dr. Abdullah ash-Shalih al-Utsaimin, terbitan Darah Raja Abdul Aziz, Riyadh, 1403 H / 1983 M.
  • “Klaim Para Penentang Dakwah Syaikh Muhammad bin Abdul Wahhab” karya Abdul Aziz al-Abd al-Latif, Dar al-Wathan.

Tulislah sebuah artikel yang menjelaskan hakikat dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab, kelebihan-kelebihannya, serta kritik terhadapnya berdasarkan kaidah-kaidah Islam.

Evaluasi dan Pengukuran Diri:

  1. Jelaskan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab.
  2. Jelaskan kondisi yang melatarbelakangi munculnya dakwah ini.
  3. Apa saja kesulitan yang dihadapi Muhammad bin Abdul Wahhab dalam dakwahnya?
  4. Sebutkan syarat-syarat yang diajukan oleh Ibnu Saud untuk mendukung Muhammad bin Abdul Wahhab.
  5. Negara Saudi yang berdiri berdasarkan dakwah Ibnu Abdul Wahhab melalui tiga tahap, jelaskan tahap-tahap tersebut dan ciri masing-masing tahap.
  6. Sebutkan kelebihan utama dakwah Ibnu Abdul Wahhab.
  7. Apa saja kritik utama terhadap dakwah ini, terutama pada masa modern?

 

No comments:

Post a Comment

Ikhwanul Muslimin