Bacalah ayat ini : - surat Al-Qashash
وَدَخَلَ الْمَدِيْنَةَ عَلٰى حِيْنِ غَفْلَةٍ مِّنْ اَهْلِهَا فَوَجَدَ
فِيْهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلٰنِۖ هٰذَا مِنْ شِيْعَتِهٖ وَهٰذَا مِنْ عَدُوِّهٖۚ
فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِيْ مِنْ شِيْعَتِهٖ عَلَى الَّذِيْ مِنْ عَدُوِّهٖ
ۙفَوَكَزَهٗ مُوْسٰى فَقَضٰى عَلَيْهِۖ قَالَ هٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِۗ
اِنَّهٗ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِيْنٌ ١٥ قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ
فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ١٦ قَالَ
رَبِّ بِمَآ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ اَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِّلْمُجْرِمِيْنَ ١٧
فَاَصْبَحَ فِى الْمَدِيْنَةِ خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ فَاِذَا الَّذِى
اسْتَنْصَرَهٗ بِالْاَمْسِ يَسْتَصْرِخُهٗ ۗقَالَ لَهٗ مُوْسٰٓى اِنَّكَ لَغَوِيٌّ
مُّبِيْنٌ ١٨ فَلَمَّآ اَنْ اَرَادَ اَنْ يَّبْطِشَ بِالَّذِيْ هُوَ عَدُوٌّ
لَّهُمَاۙ قَالَ يٰمُوْسٰٓى اَتُرِيْدُ اَنْ تَقْتُلَنِيْ كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًاۢ
بِالْاَمْسِۖ اِنْ تُرِيْدُ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ جَبَّارًا فِى الْاَرْضِ وَمَا
تُرِيْدُ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْمُصْلِحِيْنَ ١٩ وَجَاۤءَ رَجُلٌ مِّنْ اَقْصَى
الْمَدِيْنَةِ يَسْعٰىۖ قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنَّ الْمَلَاَ يَأْتَمِرُوْنَ بِكَ
لِيَقْتُلُوْكَ فَاخْرُجْ اِنِّيْ لَكَ مِنَ النّٰصِحِيْنَ ٢٠ فَخَرَجَ مِنْهَا
خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ ۖقَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ
٢١
15. Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika
penduduknya sedang lengah [1115], Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang
laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan
seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya
meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu
Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah
perbuatan syaitan [1116] Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan
lagi nyata (permusuhannya).
16. Musa mendoa: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya
Aku Telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku". Maka Allah
mengampuninya, Sesungguhnya Allah dialah yang Maha Pengampun lagi Maha
Penyayang.
17. Musa berkata: "Ya Tuhanku, demi nikmat
yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku, Aku sekali-kali tiada akan menjadi
penolong bagi orang-orang yang berdosa".
18. Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa
takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), Maka tiba-tiba
orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya.
Musa Berkata kepadanya: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang
nyata (kesesatannya)".
19. Maka tatkala Musa hendak memegang dengan
keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: "Hai Musa,
apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah
membunuh seorang manusia? kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang
yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi
salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian".
20. Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung
kota bergegas-gegas seraya berkata: "Hai Musa, sesungguhnya pembesar
negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah
(dari kota ini). Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat
kepadamu".
21. Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa
takut menunggu-nunggu [1117] dengan khawatir, dia berdoa: "Ya Tuhanku,
selamatkanlah Aku dari orang-orang yang zalim itu". (QS. Al-Qashash: 15-21)
[1115] Maksudnya:
tengah hari, di waktu penduduk sedang istirahat.
[1116] Maksudnya:
Musa menyesal atas kematian orang itu disebabkan pukulannya, Karena dia
bukanlah bermaksud untuk membunuhnya, Hanya semata-mata membela kaumnya.
[1117] Maksudnya:
merasa sangat khawatir, kalau-kalau ada orang yang menyusul untuk menangkapnya.
Allah
berfirman dalam surat Thaha :
اِذْ تَمْشِيْٓ اُخْتُكَ فَتَقُوْلُ هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى مَنْ يَّكْفُلُهٗ
ۗفَرَجَعْنٰكَ اِلٰٓى اُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ەۗ وَقَتَلْتَ
نَفْسًا فَنَجَّيْنٰكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنّٰكَ فُتُوْنًا ەۗ فَلَبِثْتَ سِنِيْنَ
فِيْٓ اَهْلِ مَدْيَنَ ەۙ ثُمَّ جِئْتَ عَلٰى قَدَرٍ يّٰمُوْسٰى ٤٠
40. (yaitu) ketika saudaramu yang perempuan
berjalan, lalu ia Berkata kepada (keluarga Fir'aun): "Bolehkah saya
menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?" Maka kami
mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. dan
kamu pernah membunuh seorang manusia [917], lalu kami selamatkan kamu dari
kesusahan dan kami Telah mencobamu dengan beberapa cobaan; Maka kamu
tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan[918], Kemudian kamu datang
menurut waktu yang ditetapkan[919] Hai Musa, (QS. Thaha: 40)
[917] yang dibunuh
Musa a.s. Ini ialah seorang bangsa Qibthi yang sedang berkelahi dengan seorang
Bani Israil, sebagaimana yang dikisahkan dalam surat Al Qashash ayat 15.
[918] nabi Musa
a.s. datang ke negeri Mad-yan untuk melarikan diri, di sana dia dikawinkan oleh
nabi Syu'aib a.s. dengan salah seorang puterinya dan menetap beberapa tahun
lamanya.
[919] Maksudnya:
nabi Musa a.s. datang ke lembah Thuwa untuk menerima wahyu dan kerasulan.
Nabi
Musa dibesarkan di Istana Fir’aun, menjadi pemuda yang kuat dan perkasa, Ia
tidak khawatir menjadi orang dalamnya Fir’aun. Ia berasal dari bangsa Isra’il,
bangsa yang ditindas oleh Fir’aun dan balatentaranya,. Di dalam kitab
At-Thabary disebutkan bahwa Nabi Musa
pada usia mudanya pernah mencegah permusuhan bangsa Mesir terhadap Bani
Isr’ail, maka secara tabi’i bangsa Israil mulai memahami tentang eksistensi dan
kemenangan, yang akan selalu dialami oleh orang-orang yang tertindas di
kalangan mereka.
Pada
suatu hari Musa AS ke luar ke kota (Memphis) di saat penduduknya lengah, lalu
Ia mendapatkan seorang berkebangsaan Mesir tengah melakukan kerja paksa kepada
seorang berkebangsaan Ibrani, kemudian Ia segera meminta tolong kepada Nabi
Musa, beliaupun lansung mendatang bangsa mesir tersebut dan meninjunya hingga
mati, kemudian Nabi Musa segera menguburnya. Tidak ada yang mengetahui hal ini,
kecuali laki-laki Ibrani yang ditolongnya tersebut.
Nabi
Musa menyesali perbuatannya, Ia berkata dalam hatinya : “apa yang telah aku
lakukan adalah perbuatanh syeitan, sesungghnya ia adalah musuh yang nyata-nyata
menyesatkan”, kemudian beliau bersimpuh kepada Allah seraya bertaubat
kepada-NYA dan memohon agar Ia tidak dijadikan sebagai orang membela orang yang
berdosa dan menolong pelaku kejahatan.
Pada
keesokan harinya Nabi Musa keluar lagi ke kota dibarengi dengan rasa takut dan
khawatir kalau perbuatannya terbongkar demikian disebutkan oleh At-Thabary
melalui sanad Ibnu Abbas. Lebih lanjut dikisahkan bahwa bangsa Mesir tatkala
mereka menemukan mayat yang telah dibunuh oleh Nabi Musa, tidak tahu siapa
pembunh sebenarnya, mereka menduga Bangsa Isra’illah pembunuhnya. Lalu mereka
mengadukan hal tersebut kepada Fir’aun bahwasanya Bani israil telah membunuh
salah seorang kaumnya. Mereka meminta agar Fir’aun tidak bersikap tenggang rasa
dan memberikan toleransi dalam hal ini.
Fir’aun merespon tunututan mereka seraya meminta untuk segera mengakap
pembunuhnya dan menghadirkan seorang saksi agar dapat dijatuhkan vonis hukum
kepada pelakunya.
Tatkala
mereka sedang mencari siapa pembunuhnya, tiba-tiba Nabi Musa lewat di sekitar
mereka, dan bertemu dengan seorang Israil yang telah ditolongnya kemarin,
kemudian beliau berkata kepadanya dengan nada marah : }إنك لغوي مبين{, Iapun ketakutan
melihat amarahnya dan khawatir akan dibunuh seperti orang yang dibunuhnya
kemarin, lalu Ia berkata : }أتريد أن تقتلني كما قتلت نفساً بالأمس{
؟ “hai Musa, apakah engkau
akan membunuhku sebagaiman engkau telah membunuh seseorang kemarin?”.
Orangnya
Fir’aunpun segera memberitahu kaumnya dan membawa perkara ini kepada Fir’aun
serta memberitahukan kepadanya bahwa pembunuhnya adalah Musa. Fir’aunpun
memerintahkan para algojonya untuk segera menagkapnya. Pada saat itu juga
seorang berhati mulia dari keluarga Fir’aun dari kota yang cukup jauh datang
tergesa-gesa menemui Musa, agar dapat mendahului para algojo Fir’aun yang
tengah memburunya dengan melalui jalan pintas. Ia memberitahukan kepada Musa
apa yang tengah dilakukan oleh Fir’aun terhadapnya. Hal ini merupakan cobaan
dari Allah bagi Musa. Lalu laki-laki mulia tersebut menasehati Musa agar segera
menyelamatkan dirinya dengan secepatnya meninggalkan Mesir agar tidak
tertangkap oleh para algojonya Fir’aun. Musa pun menerima nasehat mahal
tersebut, lalu beliaupun bergegas menuju negeri Madyan. Laki-laki tadi
disebut mulia karena dua hal :
Pertama :
pribahasa mengatakan "الأطراف سكنى الإشراف"’ yang demikian itu mereka telah memperoleh apa yang mereka
butuhkan di kota dengan segala kelebihan yang mereka miliki berupa kekuasaan
dan kekayaan, dan kehormatan dan kemuliaan mereka menjadi tumpuan orang-orang
yang berhajat.
Kedua
: Sesungguhnya Allah mengungkapkan nasehatnya kepada Musa dalam firman-NYA : }إن
الملأ يأتمرون بك ليقتلوك{’ Al-Mala’ yang
dimaksud adalah kelompok elit yang membuat orang yang melihatnya penuh dengan
daya tarik dan kewibawaan, dan tidak ada yang dapat mengungkap rahasia kaum
elit kecuali orang yang menjadi bagian darinya, dan rahasia mereka tidak ada
yang tertutupi sedikitpun. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang
berasal dari kalangan elit dan terhormat.
PERNIKAHAN MUSA
AS DENGAN PUTRI NABI SYU’AIB, DAN PEKERJAANNYA SEBAGAI PENGGEMBALA KAMBING.
Kalimullah Nabi
Musa keluar meninggalkan Mesir untuk menyelamatkan diri, Ia bergegas menuju
negeri Madyan dengan berjalan kaki, sambil menengok ke segala arah, khawatir
diketahui oleh orang-orangnya Fir’aun, Ia tidak membawa bekal apa-apa, selama
perjalanan delapan hari delapan malam hanya memakan daun-daunan sampai tiba di
negeri Madyan. Lalu Ia duduk beristirahat di bawah pohon sambil menahan lapar
dan haus. Berkata Ibnu Abbas `: “Musa keluar dari Mesir menuju Madyan dengan
menmpuh perjalanan selama delapan malam, tidak makan apa-apa kecuali kol dan
daun-daunan. Ia berjalan dengan bertelanjang kaki (nyeker), lalu Ia istirahat
sejenak di bawah pohon seraya menahan lapar. Di tengah istiraht Ia melihat dua
orang wanita yang sedang menggembala kambing, mereka ingin memberi minum kepada
kambing gembalaannya dari sebuah sumur besar, tetapi penggembala lainnya juga
sedang berkerumun di sekitar sumur, karena mereka takut kambing-kambingnya
tercampur, maka mereka memilih menunggu penggembala lain pergi. Musa merasa
kasihan melihat mereka berdua, lalu bertanya kepadanya tentang sebab-sebab
mereka sampai menggembala kambing. Keduanyapun memberitahu bahwa bapaknya sudah
tua renta, dan tidak memiliki anak laki-laki yang dapat melakukan pekerjaan
ini. Tanpa banyak kata Musa langsung membantu keduanya mengambil air dan
meminumkan kambing gembalaannya. Setelah itu Ia duduk dibawah pohon seraya
berdo’a kepada Allah SWT :
وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاۤءَ مَدْيَنَ قَالَ
عَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يَّهْدِيَنِيْ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ ٢٢ وَلَمَّا وَرَدَ
مَاۤءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُوْنَ ەۖ وَوَجَدَ
مِنْ دُوْنِهِمُ امْرَاَتَيْنِ تَذُوْدٰنِۚ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۗقَالَتَا لَا
نَسْقِيْ حَتّٰى يُصْدِرَ الرِّعَاۤءُ وَاَبُوْنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ ٢٣ فَسَقٰى
لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ
اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ ٢٤
22. Dan tatkala ia
menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi): "Mudah-mudahan Tuhanku
memimpinku ke jalan yang benar".
23. Dan tatkala ia sampai di
sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang
meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua
orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah
maksudmu (dengan berbuat at begitu)?" kedua wanita itu menjawab:
"Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala
itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang Telah
lanjut umurnya".
24. Maka
Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian dia kembali
ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku sangat
memerlukan sesuatu kebaikan[1118] yang Engkau turunkan kepadaku".
[1118] yang dimaksud dengan Khair (kebaikan) dalam
ayat Ini menurut sebagian besar ahli tafsir ialah barang sedikit makanan.
Ibnu Katsir berkata dalam kitab Tarikhnya
(Al-Bidayah wanihaayah), bahwasanya para penggembala bila telah selesai memberi
minum hewan gembalaannya, mereka meletakkan batu-batu besar di bibir sumur,
ketika dua penggembala wanita itu hendak meminumkan kambing gembalaannya,
mereka menghadapi kesulitan, pada saat itulah Musa datang membantu kedua wanita
tersebut dengan mengangkat batu-batu tersebut dan meminumkan gembalaannya,
setelah selesai batu-batu tersebutpun dikembalikan ke tempat semula, padahal
setiap batu biasanya hanya dapat diangkat oleh sepuluh orang, sedangkan Musa
mampu mengangkatnya sendiri dan meletakannya kembali ke tempat semula sendiri.
Tatkala kedua wanita tersebut pulang ke rumahnya,
mereka memberitahu orang tuanya tentang seorang pemuda (Musa) yang gagah
perkasa, seraya meminta kepadanya agar pemuda tersebut dijadikan sebagai
pekerja. Ternyata permintaannya dikabulkan, lalu datanglah salah seorang
menghadap Musa untuk mengundangnya menghadap bapaknya, lebih lengkapnya dapat
kita simak dalam surat Al-Qashash ayat
25-30 :
فَجَاۤءَتْهُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ
ۖقَالَتْ اِنَّ اَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ اَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَاۗ فَلَمَّا
جَاۤءَهٗ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَۙ قَالَ لَا تَخَفْۗ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ
٢٥ قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ
الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ ٢٦ قَالَ اِنِّيْٓ اُرِيْدُ اَنْ اُنْكِحَكَ اِحْدَى ابْنَتَيَّ
هٰتَيْنِ عَلٰٓى اَنْ تَأْجُرَنِيْ ثَمٰنِيَ حِجَجٍۚ فَاِنْ اَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ
عِنْدِكَۚ وَمَآ اُرِيْدُ اَنْ اَشُقَّ عَلَيْكَۗ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ
مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٢٧ قَالَ ذٰلِكَ بَيْنِيْ وَبَيْنَكَۗ اَيَّمَا الْاَجَلَيْنِ قَضَيْتُ
فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى مَا نَقُوْلُ وَكِيْلٌ ࣖ ٢٨ ۞ فَلَمَّا قَضٰى
مُوْسَى الْاَجَلَ وَسَارَ بِاَهْلِهٖٓ اٰنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّوْرِ نَارًاۗ قَالَ
لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا
بِخَبَرٍ اَوْ جَذْوَةٍ مِّنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُوْنَ ٢٩ فَلَمَّآ اَتٰىهَا
نُوْدِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْاَيْمَنِ فِى الْبُقْعَةِ الْمُبٰرَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ
اَنْ يّٰمُوْسٰىٓ اِنِّيْٓ اَنَا اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ ٣٠
25. Kemudian datanglah
kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia
berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan
terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa
mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai
dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. kamu Telah selamat dari
orang-orang yang zalim itu".
26. Salah seorang dari kedua
wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja
(pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk
bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya".
27. Berkatalah dia (Syu'aib):
"Sesungguhnya Aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari
kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika
kamu cukupkan sepuluh tahun Maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka
Aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk
orang- orang yang baik".
28. Dia
(Musa) berkata: "Itulah (perjanjian) antara Aku dan kamu. mana saja dari
kedua waktu yang ditentukan itu Aku sempurnakan, Maka tidak ada tuntutan
tambahan atas diriku (lagi). dan Allah adalah saksi atas apa yang kita
ucapkan".
Ibnu Katsir menambahkan : “Para Mufassir berbeda
pendapat tentang siapakah sebenarnya orang Tua tersebut?”. Ada yang mengatakan
orang Tua tersebut adalah Nabi Syuaib AS, ini adalah pendapat yang masyhur di
kalangan kebanyakan para Mufasir, termasuk Hasan al-Basry yang mengutip dari
Malik bin Anas bahwa Nabi syuaib masih diberikan umur panjang setelah kaumnya
binasa, sampai bertemu Musa dan mennikahkan putrinya kepadanya. Pendapat lain
mengatakan bahwa orang tua tersebut adalah anak saudaranya, juga ada yang
mengatakan anak pamannya, jadi bukan Nabi Syuaib yang diutus ke negeri Madyan.
Pendapat pertama lebih kuat karena sebagian besar mufasir berpendapat demikian.
Nabi Musa menetap di Madyan setelah
menikah dengan putri Nabi Syuaib AS, Ia menggembala kambing hingga selesai
batas waktunya (10 tahun), sebagai mahar yang dibayarkan Musa kepada putri Nabi
Syuaib AS. Jika Nabi Musa saja menggembala kambing, maka tidaklah aib bila
seseorang melakukan pekerjaan tersebut, sebagaimana terdapat dalam hadits
shahih bahwa Rasullah SAW bersabda :
"ما من نبي إِلاَّ ورعى الغنم"
قالوا: حتى أنت يا رسول الله ! قال: "حتى أنا كنت أرعاها لقريش على قراريط".
“Tidak ada
seorang Nabi melainkan Ia telah menggembala kambing, para sahabat bertanya:
“termasuk engkau ya Rasulallah!”, “Ya termasuk aku, aku telah menggembala
kambing milik orang Quraisy dengan upah beberapa Qirath”, jawab beliau. Adapun
hikmahnya para Nabi dan Rasul menggembala kambing adalah agar memiliki jiwa
yang tenang dan tawadu, serta menjadi mukadimah bagi mereka dalam mengatur dan
memimpin umat sebagaiman mereka mengatur gembalaannya. Begitulah para Nabi
mereka beralih dari penggembala kambing menjadi pemimpin umat.
PERTANYAAN
DAN DISKUSI
Allah
berfirman : }ودخل المدينة على حين غفلةٍ من أهلها{
apakah makna ayat
ini bahwasanya Musa yang tinggal di Istana Fir'aun apakah lokasinya berada di
luar kota, sebagaiman Istana para pemimpin dan penguasa di berbagai negeri yang
tinggal jauh dari rakyatnya, agar mereka tidak disibukan oleh keadaan dan kesulitan
rakyatnya dan agar mereka dapat memuaskan hawanafsu dan kelezatan hidupnya.
}دخل المدينة على حين غفلة{
ayat
ini menggambarkan penguasa yang takut dan khawatir kepada rakyatnya, karena
mereka bila ingin turun ke kota mereka harus dikawal dan dijaga oleh
balatentara, karena mereka takut menghadapi penganiayaan sehingga
mereka menjauh dari rakyatnya, oleh karena menjadi tanda tanya besar mengapa
Fir’aun dan semua Fir’aun di mana saja tidak mau tinggal dekat bersam
rakyatnya. Tampaknya Musa jenuh tinggal dalam gemerlap kehidupan
Padahal
menyelasaikan pertikaian antara Bani Israil dan Bangsa Mesir dapat dilakukan
tanpa harus terjadi pertumpahan darah dan melayangnya nyawa, akan tetapi
syeitanlah seperti yang telah diakui Musa yang menanamkan kebencian yang besar
sehingga nyawapun melayang. Pertanyaannya adalah apakah Syeitan dapat menguasai
para Nabi? Apakah dengan istighfar saja cukup untuk menghindari sangsi
membunuh? Ataukah makna Istighfarnya Nabi Musa adalah sikap berlepas diri dari
pembunuhan tersebut? Nabi Musa lari karena tuntutan situasi dan kondisi yang
dihadapinya, apakah pengertiannya bahwa lari dari para musuh dituntut secara
khusus apabila musuh tersebut adalah seorang diktator dan rakyatnya zhalim.
Apakah
Seorang laki-laki yang menasehati Musa agar keluar dari bangsanya Fir’aun
adalah orang yang beriman, ataukah orang yang hanya tidak senang terhadap
kezaliman, dan hanya memandang Musa sebagai orang yang mulia dan cerdas,
sehingga Ia ingin menolongnya dan mengingatkannya? Ataukah ini sebuah
kecenderungan bahwa di tengah masyarakat yang zhalim terdapat orang-orang yang
memiliki prinsip dan keteladanan? Dan apakah hal ini menjadi bukti bahwa umat
Islam di negeri yang zhalim perlu mewaspadai kezhaliman yang datang dari orang
lain?
Apakah
rencana Musa pergi ke Madyan karena ingin meninggalkan Mesir. Ataukah keluar
dengan sengaja di atas hidayah Allah karena segala sesuatu datang secara
tiba-tiba tanpa pendahuluan? Madyan cukup jauh jaraknya, ditempuh oleh Musa
selama 8 malam dengan berjalan kaki, makan daun-daunanm padahal beliau seorang
Nabi, apa hikmah dari peristiwa itu?
Apa yang menggerakan Musa
berdoa kepada Allah ketika sampai di Madyan
}ربِ إني
لما أنزلت إليَّ من خيرٍ فقير{
Musa
sebelum mendapat risalah adalah seorang Mu’min yang kuat, memohon pertolongan
kepada Allah, siapa yang mengajarkannya?, padahal Ia jauh dari keluarganya dan
jauh dari warisan nenek moyangnya, dan berada di istana pembesar-pembesar
berhala?
Musa
melihat orang-orang yang berkerumun di sekitar telaga Madyan, dan melihat dua
orang wanita sedang menunggu, mengapa demikian? Musa bertanya kepada kedua
wanita tersebut, apakah karena kasihan kepadanya ataukah karena ingin
menunjukan kemuliaan dirinya? Apakah hal itu berarti boleh berbicara dengan
wanita yang bukan mahramnya (ajnaby)? Juga apakah berarti boleh mengetahui
rahasia kehidupan keluarganya? Atau apa?
Apa yang
menyebabkan keduanya memberikan perhatian lebih kepada musa dengan
menceritakannya kepada Ayahandanya Syuaib AS? Apakah karena kagum dengan
kegagahannya, ataukah karena ketakjuban mereka berdua kepadanya? Mengapa salah
seorang dari keduanya meminta kepada Ayahnya agar mengangkat Musa sebagai
pekerja? Apakah hal itu menunjukan bahwa wanita memiliki pandangan yang
dihormati?
Apakah
salah seorang wanita yang datang menjumpai Musa datang seorang diri atau ada
yang menemaninya? Syuaib menjadikan mahar putrinya dengan mempekerjakan Musa
selama 8 tahun, apakah yang demikian itu diperbolehkan? Apakah Syuaib ridho
putrinya dinikahi oleh laki-laki asing yang tidak diketahui asal-usulnya?
Ataukah Syuaib menikahkan putrinya setelah berinteraksi dengan sifat dan akhlak
Musa yang baik serta Imannya yang kokoh?
Setelah
Musa menikah dengan putri Nabi Syuaib dan tinggal bersama keluarganya, apakah
masa ini dapat disebut sebagai masa pembelajaran atau masa persiapan mengemban
risalah? Atau apa?
Apakah Musa menggembala kambing? Kenapa? Kenapa pula setiap Nabi menggembala kambing? Apakah ada hubungan antara menggembala kambing dan membina umat?
Keluarnya Bani Israil di Mesir
Para Mufassir dan Ahli Kitab
mengatakan: Bani Israil meminta ijin kepada Fir’aun untuk keluar di hari raya
mereka, Firaunpun mengjinkannya meskipun dia tidak menyukainya, Bani Israil
ternyata hanya memperdaya Fir’aun dan balatentaranya, agar mereka dapat keluar
dengan selamat dari cengkraman penjajahannya. Allah SWT memerintahkan Bani
israil untuk meminjam perhiasan kepada Fir’aun, dan merekapun meminjamkannya
dalam jumlah yang cukup banyak.
Mulailah mereka keluar di
waktu malam, terus menempuh perjalanan menuju ke negeri Syam. Tatkala Fir’aun
menyadari bahwa dirinya telah tertipu, alangkah marahnya dan memerintahkan
balatentaranya untuk mengejar Bani Israil.
Para Mufassir lebih jauh
menjelaskan, bahwa bala tentara yang dikerahkan Fir’aun berjumlah sangat besar,
disertai dengan 100.000 ekor kuda, dan 1.600.000 personil. Fir’aun terus
mengejar Bani Israil hingga ke ufuk Timur, dan kedua pasukan telah saling melihat
satu sama lain, tidak ada pilihan bagi Fir’an kecuali memerangi Bani Israil.
Lalu pengikut-pengikut Nabi Musa berkata seraya ketakutan : إنا لمدركون, “kita pasti tertangkap!”, yang demikian itu karena
mereka terpaksa menempuh jalan yang menuju ke tepi laut, karena tidak ada
alternatif jalan yang lain, gunung berada di tangan kanan-kiri mereka. Fir’aun
dan pasukannya sebentar lagi akan menerjang mereka, mereka merasa diliputi
ketakutan yang mencekam bila membayangkan kejamnya siksaan Fir’aun. Mereka
mengadukan perihal ketakutannya kepada Nabi Musa AS, karena dia diutus oleh
Allah SWT untuk menyelamatkan mereka. Lalu Nabi Musa berkata kepada mereka :
{ كلا إن معي ربي سيهدين
}
“Sekali-kali
tidak, sesungguhnya bersamaku Rabbku akan memberi petunjuk”
Di antara pasukan Nabi Musa berada di
barisan paling belakang, tatkala pasukan Bani Israil sampai ke tepi laut, Nabi
Musa bergegas ke barisan yang paling depan dan menyaksikan gelombang lautan
yang tampak jelas di depan mata. Lalu Musa berkata: “Disinilah aku
diperintahkan!”. Bersama Nabi Musa saudaranya Harun AS, Yusa’bin Nun dan
beberapa keluarga Fir’aun yang beriman. Kemudian merka berkata kepada Musa AS:
“Wahai Nabi Allah, apakah di tempat ini engkau diperintahkan!” Musa berkata:
“Ya”.
Keadaan semakin genting, Fir’aun dan
bala tentaranya semakin dekat, pandangan mereka semakin menyalak penuh amarah.
Pada saat itulah Allah yang Maha Kuasa Pemegang Arsy yang Mulia mewahyukan
kepada Nabi Musa AS : إن
اضرب بعصاك البحر, “pukullah laut dengan tongkatmu itu”. Maka Nabi Musa AS pun
memukulnya seraya berkata: “Terbelahlah engkau dengan ijin Allah!”, maka
terbelahlah lautan menjadi 12 jalur jalan. Dan air laut tegak berdiri seperti
gunung menjulang, berkat kekuasan Allah SWT yang hanya mengatakan “Kun
Fayakuun”. Kemudian Allah SWT juga memerintahkan angin debu bertiup ke arah
lautan yang membelah sehingga jalannya menjadi kering, sehingga kuda-kuda yang
berlari tidak akan terpeleset, sebagaimana Allah SWT berfirman :
وَلَقَدْ
اَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْ فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيْقًا
فِى الْبَحْرِ يَبَسًاۙ لَّا تَخٰفُ دَرَكًا وَّلَا تَخْشٰى ٧٧ فَاَتْبَعَهُمْ
فِرْعَوْنُ بِجُنُوْدِهٖ فَغَشِيَهُمْ مِّنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ ۗ ٧٨
77. Dan Sesungguhnya Telah kami wahyukan kepada
Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari,
Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu [933], kamu tak usah
khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)".
78. Maka Fir'aun
dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang
menenggelamkan mereka.
[933]
Membuat jalan yang kering di dalam laut itu ialah dengan memukul laut
itu dengan tongkat. lihat ayat 63 surat Asy Syu'araa.
Tatkala
Allah SWT memerintahkan lautnya dalam keadaan yang demikian itu, lalu Allah SWT
memerintahkan kepada Nabi Musa AS, agar dirinya dan Bani israel segera melewati
jalan tersebut, maka merekapun segeri melewatinya dengan langkah yang cepat
seraya bergembira dengan apa yang baru saja mereka saksikan, yaitu sebuah
peristiwa besar yang membuat heran siapa saja yang melihatnya dan menunjuki
hati orang-orang yang beriman. Ketika mereka berhasil keluar dari belahan laut
tersebut, dan buntut rombongan Bani israil telah berhasil naik ke darat, maka
Fir’aun dan kaumnya baru mulai turun menyebrang lautan yang terbelah, dan pada
saat seluruh pasukan Fir’aun berada di tengah-tengah lautan yang terbelah
itulah Nabi Musa kembali memukulkan tongkatnya ke tepi lautan, dan lautan yang
terbelah dengan ijin Allah menyatu kembali. Dan Musa AS diperintahkan Allah SWT
untuk segera meninggalkan lautan tersebut seperti sediakala. Sebagaiman Allah
SWT berfirman:
فَاَسْرِ بِعِبَادِيْ
لَيْلًا اِنَّكُمْ مُّتَّبَعُوْنَۙ ٢٣ وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًاۗ اِنَّهُمْ
جُنْدٌ مُّغْرَقُوْنَ ٢٤ كَمْ تَرَكُوْا مِنْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ ٢٥ وَّزُرُوْعٍ
وَّمَقَامٍ كَرِيْمٍۙ ٢٦ وَّنَعْمَةٍ كَانُوْا فِيْهَا فٰكِهِيْنَۙ ٢٧ كَذٰلِكَ ۗوَاَوْرَثْنٰهَا
قَوْمًا اٰخَرِيْنَۚ ٢٨ فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاۤءُ وَالْاَرْضُۗ وَمَا
كَانُوْا مُنْظَرِيْنَ ࣖ ٢٩
23. (Allah berfirman): "Maka berjalanlah
kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, Sesungguhnya kamu akan
dikejar,
24. Dan
biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang
akan ditenggelamkan".
25.
Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan,
26. Dan
kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah,
27. Dan
kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya,
28.
Demikianlah. dan kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.
29.
Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi
tangguh. (QS. Ad-Dukhan: 23-29)
Tidak ada seorangpun dari Nabi Musa AS dan
pengikutnya yang tenggelam, sementara tidak ada seorangpun dari Fir’aun dan
balatentaranya yang dapat menyelamatkan diri, sebagaimana Allah SWT berfirman:
وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۚ ٦٥ ثُمَّ اَغْرَقْنَا
الْاٰخَرِيْنَ ۗ ٦٦
65. Dan kami selamatkan Musa dan orang-orang yang
besertanya semuanya.
66. Dan kami tenggelamkan golongan yang lain itu.
(QS. Asy-Syu’ara: 65-66)
PROSES
BINASANYA FIR’AUN
۞ وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ
اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًا
ۗحَتّٰىٓ اِذَآ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ
اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٩٠ اٰۤلْـٰٔنَ
وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ٩١ فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ
بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ
اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ ࣖ ٩٢
90. Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi
laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, Karena hendak
menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir
tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan
Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang
berserah diri (kepada Allah)".
91. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal
Sesungguhnya kamu Telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang
yang berbuat kerusakan.
92. Maka pada hari Ini kami selamatkan
badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang
sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda
kekuasaan kami. (QS. Yunus: 90-92)
[704] yang diselamatkan Allah ialah
tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir'aun itu tenggelam mayatnya
terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga
utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir, Berhias, atau
bepergian, atau menerima pinangan.
Dalam
ayat tersebut Allah SWT menjelaskan tentang bagaimana tenggelamnya Fir’aun
pemimpin kufur bangsa Qibty, ketika dirinya digulung ombak ke bawah dan ke
atas, dan bani Israil menyaksikannya dari kejauhan. Namun saat-saat menjelang
sakratul maut di tengah lautan, Ia baru menyatakan ingin kembali dan taubat
kepada Allah SWT, dan menyatakan keimanannya pada saat tidak berguna lagi. Sebagaimana
Allah SWT berfirman:
فَلَمَّا رَاَوْا بَأْسَنَاۗ قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗ وَكَفَرْنَا
بِمَا كُنَّا بِهٖ مُشْرِكِيْنَ ٨٤ فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ اِيْمَانُهُمْ لَمَّا
رَاَوْا بَأْسَنَا ۗسُنَّتَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ فِيْ عِبَادِهٖۚ وَخَسِرَ
هُنَالِكَ الْكٰفِرُوْنَ ࣖ ٨٥
84. Maka tatkala mereka melihat azab kami, mereka
berkata: "Kami beriman Hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada
sembahan-sembahan yang Telah kami persekutukan dengan Allah".
85. Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka
tatkala mereka Telah melihat siksa kami. Itulah sunnah Allah yang Telah berlaku
terhadap hamba-hamba-Nya. dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. (QS.
Ghafir: 84-85)
Abu Daud
At-Thayaalisy berkata, telah menyampaikan kepada kami, dari ’Adi bin Tsabit dan
’Atho bin Al-Saib, dari Said bin Jabir, dari Ibnu Abbas berkata :
لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا آَخِذٌ مِنْ حَالِ اْلبَحْرِ(طِيْنُهُ) فَأَدُسُّهُ
فِي فَمِ فِرْعَوْنَ مَخَافَةً أَنْ يَنَالُهُ الرَّحْمَةُ" (رواه الترمذي)
”Rasulullah
SAW bersabda : Jibril berkata kepadaku : Seandainya engkau melihatku waktu itu
bagaiman aku mengambil debu dari lautan dan menyemburkannya ke mulut Fir’aun
agar tidak mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT” (HR. Tirmidzi). Imam
Tirmidzi mengatakan : ”Hadits ini hasan, gharib dan shahih”
Tatkala Fir’aun menyatakaan
keimannnya dalam keadaan terjepit seperti itu, Allah SWT berfirman:
91. Apakah sekarang (baru kamu
percaya), padahal Sesungguhnya kamu Telah durhaka sejak dahulu, dan kamu
termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Yunus: 91)
Ayat ini menggunakan kalimat bertanya
dengan nada pengingkaran (Istifham inkary), yang artinya Allah SWT tidak
menerima taubatnya, lagi pula seandainya Ia dikembalikan ke dunia seperti
sediakala, pasti Ia kembali kepada kelakuannnya, sebagaimana Allah SWT
berfirman tentang orang-orang kafir:
بَلْ بَدَا لَهُمْ مَّا
كَانُوْا يُخْفُوْنَ مِنْ قَبْلُ ۗوَلَوْ رُدُّوْا لَعَادُوْا لِمَا نُهُوْا عَنْهُ
وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ٢٨
28.
Tetapi (sebenarnya) Telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu
selalu menyembunyikannya [466]. sekiranya mereka dikembalikan ke dunia,
tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya.
dan Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. (QS. Al-An’am: 28)
[466] Maksudnya: mereka Sebenarnya tidak
bercita-cita ingin dikembalikan ke dunia untuk beriman kepada Allah, tetapi
perkataan itu semata-mata diucapkan Karena melihat kedahsyatan neraka.
Allah SWT berfirman:
92. Maka pada
hari Ini kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi
orang-orang yang datang sesudahmu (QS. Yunus: 92)
[704] yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya,
menurut sejarah, setelah Fir'aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai
diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang
dan dapat dilihat di musium Mesir, Berhias.
Ibnu
Abbas berkata, sebagian Bani Israil ragu tentang kematian Fir’aun, sehingga
sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa fir’aun tidak mati, akan tetapi laut
diperintahkan untuk mengambangkan tubuhnya dan menghempaskannya ke daratan,
Fir’aun dikenal dari baju besi yang dikenakannya.
Kebinasaan
Fir’aun dan balatentaranya terjadi pada bulan Asyura. Sebagaimana diriwayatkan
ileh Imam Bukhary, dari Ibnu Abbas RA berkata: “Tatakala nabi baru tiba di
madinah, dan orang-orang yahudi yang tengah berpuasa hari Asyura berkata: Hari
ini adalah hari kemenangan nabi Musa AS terhadap Fir’aun”. Rasulullah SAW
bersabda:
"أَنْتُمْ
أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْهُمْ فَصُوْمُوْا".
“Kalian lebih berhak dari mereka, maka berpuasalah!”
KEMENANGAN
BANI ISRAIL
Setelah
bencana pedih menimpa Fir’aun dan kaumnya, setelah kaum tiran itu
ditenggelamkan yang pernah membuat Bani Israil menderita panjang, mereka
seluruhnya binasa meninggalkan berbagai kenikmatan dan kekuasaan, dan Bani
Israilah pewaris segala sesuatunya dari Fir’aun dan kaumnya, sebagaimana Allah
SWT berfirman:
وَاَوْرَثْنَا
الْقَوْمَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُسْتَضْعَفُوْنَ مَشَارِقَ الْاَرْضِ
وَمَغَارِبَهَا الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ
الْحُسْنٰى عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۙ بِمَا صَبَرُوْاۗ وَدَمَّرْنَا مَا
كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهٗ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ ١٣٧
137.
Dan kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri
bahagian timur bumi dan bahagian baratnya [560] yang telah kami beri berkah
padanya. dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji)
untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. dan kami hancurkan apa yang telah
dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka [561]. (QS. Al-A’raf:
137)
[560]
Maksudnya: negeri Syam dan Mesir dan negeri-negeri sekitar keduanya yang
pernah dikuasai Fir'aun dahulu. sesudah kerjaan Fir'aun runtuh, negeri-negeri
Ini diwarisi oleh Bani Israil.
[561] yang dimaksud dengan Bangunan-bangunan
Fir'aun yang dihancurkan oleh Allah ialah Bangunan-bangunan yang didirikan
mereka dengan menindas Bani Israil, seperti kota Ramses; menara yang
diperintahkan Hamaan mendirikannya dan sebagainya.
ISRAEL DAN TANAH YANG DIJANJIKAN
Kenikmatan-kenikmatan Allah SWT
terhadap Bani Israil
Setelah Allah SWT menyelamatkan Bani
Israil dari Fir’aun dan hulu balangnya, mereka telah diistirahatkan dari
kezaliman, kesewenang-wenangan dan arogansi Bani Israel. Mereka berjalan hingga
sampai ke pantai Timur, namun mereka tidak mendapatkan air untuk minum mereka
dan hewan tunggangan mereka, lalu mereka mengadu kepada Nabi Musa AS dan
meminta Nabi Musa AS agar Allah SWT memberi mereka air. Kemudian Allah SWT
memerintahkan Nabi Musa AS agar memukulkan tongkatnya ke sebuah batu, tatkala
batu itu dipukul oleh tongkatnya Nabi Musa AS, muncratlah 12 mata air,
masing-masing qabilah Bani Israil mendapat satu mata air yang mengalir.
Kemudian mereka meneruskan perjalanan
ke Gurun Sinai, matahari menyegat tubuh mereka, mereka mencari naungan
pepohonan dan rumah-rumah, lalu mereka mengadu kembali kepada Musa AS, lalu
Allah mengirim mereka awan tebal yang menaungi mereka dari sengatan matahari
yang membakar kuli mereka, berkat karunia Allah SWT dan kenikmatannya.
Tak lama kemudian ketika perbekalan
mereka hampir habis, sedangkan mereka tidak membawa cadangan logistik,
merekapun meminta pula kepada nabi Musa AS agar Allah SWT menurunkan untuk
mereka makanan. Maka Allah SWT pun menurunkan dua jenis makanan yaitu
“Al-Manna dan Salwa”. Manna adalah jenis makanan yang turun dari langit rasanya
manis seperti madu. Dan salwa adalah sejenis burung puyuh yang jumlahnya sangat
banyak hampir menutupi permukaan tanah mereka, sebagaimana Allah SWT berfirman
:
وَقَطَّعْنٰهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ اَسْبَاطًا اُمَمًاۗ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى
مُوْسٰٓى اِذِ اسْتَسْقٰىهُ قَوْمُهٗٓ اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْحَجَرَۚ فَانْۢبَجَسَتْ
مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًاۗ قَدْ عَلِمَ كُلُّ اُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْۗ وَظَلَّلْنَا
عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَاَنْزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوٰىۗ كُلُوْا مِنْ
طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْۗ وَمَا ظَلَمُوْنَا وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ
١٦٠
160. Dan mereka kami bagi menjadi dua belas suku
yang masing-masingnya berjumlah besar dan kami wahyukan kepada Musa ketika
kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!".
Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku
mengetahui tempat minum masing-masing. dan kami naungkan awan di atas mereka
dan kami turunkan kepada mereka manna dan salwa[576]. (Kami berfirman):
"Makanlah yang baik-baik dari apa yang Telah kami rezkikan kepadamu".
mereka tidak menganiaya kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya
sendiri.
[576] salah satu nikmat Tuhan kepada
mereka ialah: mereka selalu dinaungi awan di waktu mereka berjalan di panas
terik padang pasir. manna ialah: makanan manis sebagai madu. Salwa ialah:
burung sebangsa puyuh.
Semua
itu adalah karunia dan kenikmatan dari Allah SWT terhadap bani israil sebagai
ganti dari kezaliman Fir’aun yang telah menimpa mereka, ha lni semestinya
disikapi dengan penuh ketundukan dan rasa syukur kepada Allah SWT, dengan sikap
taat dan istiqamah terhadap segala perintahNYA. Hal ini sudah sepantasnya bagi
mereka, sebab mereka melihat langsung berbagai mukjizat yang ada pada nabi musa
AS dan merasakan langsung berbagai kenikmatan yang diturunkan oleh Allah SWT
kepada mereka, secara langsung dan beruntun. Kapan saja mereka menginginkannya
dan memintanya, Allah SWT langsung mengabulkannya dan menurunkannya kepada
mereka. Akan tetapi sangat disayangkan kemidian merek kufur nikmat dengan
melakukan perbuatan yang tidak pantas bagi orang yang beriman.
Kemaksiatan
Pertama Bani Israil
Setelah
Bani Israil melihat berbagai kenikmatan dengan mata kepala mereka, dan
menyaksikan kekuasaan Allah SWT dan karunianya, dalam perjalanan mereka melihat
satu kaum menyembah berhala, lalu dengan bodohnya mereka meminta kepada Nabi
Musa AS agar membuatkan berhala untuk mereka. Nabi Musa memberikan peringatan
keras kepada Bani Israil, terkait dengan apa yang mereka minta, Nabi Musa
menjelaskan bahwa para penyembah berhala itu adalah orang-orang yang sesat,
agama mereka batil dan akhir kehidupan merka akan merugi dan binasa, lalu
mengingatkan mereka seraya mengatakan bahwa bagaimana mungkin kalian akan
meninggalkan begitu saja penghambaan kepada Allah SWT Yang Maha Esa, Yang Kuat
dan perkasa, Yang telah memberikan nikmat dan karunianya kepada kalian, yang
telah menyelamatkan kalian, lalu kalian dengan seenaknya minta sesembahan
berhala dari batu yang tidak memberikan mudarat dan manfaat, yang tidak dapat
mendengar dan melihat, yang tidak dapat menolong kalian dan menolak mudarat
yang datang kepada kalian. Dan kalian telah menyaksikan dengan mata kepala
kalian sendiri kasih sayang Allah SWT dan karuniaNYA. Peristiwa ini terekan
jelas dalam Al-Qur’an, sebagaimana Allah SWT berfirman :
وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتَوْا عَلٰى قَوْمٍ يَّعْكُفُوْنَ
عَلٰٓى اَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚقَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ
اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ ١٣٨ اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ مُتَبَّرٌ مَّا
هُمْ فِيْهِ وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٣٩ قَالَ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْكُمْ
اِلٰهًا وَّهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ١٤٠
138. Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang
lautan itu[562], Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap
menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk
kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan
(berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu Ini adalah kaum yang
tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)".
139. Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan
kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.
140. Musa menjawab: "Patutkah Aku mencari
Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal dialah yang Telah
melebihkan kamu atas segala umat[563]. (QS. Al-A’raf:138-140)
[562] Maksudnya: bagian utara dari
laut Merah.
[563] Bani Israil yang Telah diberi
rahmat oleh Allah dan dilebihkannya dari segala ummat ialah nenek moyang mereka
yang berada di masa nabi Musa a.s.
Nabi
Musa AS pergi meninggalkan Bani Isaril untuk berjumpa dengan Allah SWT
Allah
SWT mewasiatkan Nabi Musa AS untuk mendaki sebuah bukit dan berdiam di sana
selama 30 malam, setelah selesai 30 malam Allah SWT akan memberikan kepadanya
lempengan batu tulis dan mencatatkan untuknya di atas lempengan tersebut
beberapa wasiat yang ditujukan kepada Bani Israil agar berpegang teguh kepada
wasiat tersebut.
Imam
Baidhawy, An-Nasfy, Al-Khatib dan Al-Alusy menyebutkan bahwa Nabi Musa AS
menjanjikan kaumnya Bani Israil, saat mereka berada di Mesir, jika Allah
membinasakan Fir’aun Allah akan mendatangkan untuk mereka catatan peringatan
dan wasiat yang harus mereka jalankan. Tatkala hal itu terjadi Musa As memenuhi
janjinya, Iapun meminta kepada Allah SWT catatan tersebut. Kemudian Allah SWT
memerintahkannya untuk berpuasa 30 hari pada bulan dzul qa’dah, setelah tuntas
menjalankannya, Nabi Musa As menghadap Allah SWT, namun para malaikat
menghadangnya, mereka mencium bau mulut Nabi Musa yang tidak enak, Musa AS
mengakui telah memakanan tumbuhan tertentu yang menimbulkan bau, lalu Allah SWT
memerintahkannya kembali untuk berpuasa 10 hari di bulan Dzul Hijjah.
Imam
Al-Dailamy mentakhrij dari ibnu Abbas, juga meriwayatkan hal yang sama.
Sebagaimana Allah SWT berfirman :
۞ وَوٰعَدْنَا مُوْسٰى
ثَلٰثِيْنَ لَيْلَةً وَّاَتْمَمْنٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيْقَاتُ رَبِّهٖٓ اَرْبَعِيْنَ
لَيْلَةً ۚوَقَالَ مُوْسٰى لِاَخِيْهِ هٰرُوْنَ اخْلُفْنِيْ فِيْ قَوْمِيْ وَاَصْلِحْ
وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيْلَ الْمُفْسِدِيْنَ ١٤٢
142. Dan Telah kami janjikan kepada Musa
(memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan kami
sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), Maka sempurnalah
waktu yang Telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. dan Berkata Musa kepada
saudaranya yaitu Harun: "Gantikanlah Aku dalam (memimpin) kaumku, dan
perbaikilah[564], dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat
kerusakan". (QS. Al-A’raf:142)
[564] Maksudnya: perbaikilah dirimu
dan kaummu serta hal ihwal mereka.
Sebelum
Nabi Musa meninggalkan kaumnya untuk bertemu dengan Rabbnya, Ia menitipkan
amanat dakwahnya kepada saudaranya Harun AS, seraya mengingatkan agar Harun
senantiasa memperhatikan kemaslahatan kaumnya, dan senantiasa mengawasi
gerak-gerik dan prilakunya.
Setelah
tuntas Nabi Musa berpuasa 40 hari, Ia bergegas berbicara kepada Rabbnya agar
diperboleh melihatnya, akan tetapi Allah SWT menegaskan bahwa Ia tak akan dapat
melihat-NYA, sebagaimana Allah SWT berfirman :
وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ
اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ
اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ
دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ
وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ ١٤٣
143. Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan
kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung)
kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau)
kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman:
"Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu,
Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat
melihat-Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565],
dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah
Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada
Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman". (QS. Al-A’raf: 143)
[565] para Mufassirin ada yang
mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah,
dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah.
Bagaimanapun juga nampaknya Tuhan itu bukanlah nampak makhluk, hanyalah nampak
yang sesuai sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.
Di sini
menjadi bahan diskusi yang luas antara Ahlussunnah yang memungkinkan melihat
Allah SWT dan Mu’tazilah yang menentangnya. Akan tetapi hal itu tidak akan
dibahas disini. Para Mufasssir berpendapat bagaimana mungkin nabi Musa minta
agar ia dapat melihat Allah SWT, kalau Ia tahu hal itu tidak mungkin? Dari
sinilah dalil memungkinkan melihat Allah SWT, jika tidak, Musa tidak akan
memintanya. Seakan-akan Musa AS dengan nubuwwahnya semata telah mengetahui
segala sesuatu.
MAKSIAT
BANI ISRAEL KEDUA: PENYEMBAHAN ANAK SAPI
Bani
Israel sebenarnya telah lama menyembah berhala sejak tinggal di Mesir, tatkala
mereka beriman kepada nabi Musa AS, mereka tidak memiliki wawasan yang memadai
untuk membentengi mereka dari nilai-nilai Fir’aun yang musyrik. Dahulu mereka
di Mesir memuja sapi dan mengabadikannya pada lukisan-lukisan di
dinding-dinding rumah mereka. Dari sini Para Ulama berpendapat: ”termasuk bid’ah yang tidak
disukai menggambar masjid dan mengukir mihran, karena hal itu tidak ada pada
masa Rasulullah SAW. Umar bin Khattab RA berkata kepada tukang bangunan masjid
: ”buatlah bangunan yang dapat melindungi manusia dari hujan, jangan engkau
merahkan atau kuningkan!”.
Adalah
seorang tokoh bani Israel yang bernama Samiry, sepeninggalnya nabi Musa AS
menghadap Rabbnya di bukit Tursina, samiry memperkenalkan sesembahan baru anak
sapi kepada kaumnya, seraya berkata : ”Inilah Tuhan kalian dan Tuhannya Nabi
Musa”. Tatkala Nabi Musa AS kembali dan diberitakan perihal kaumnya, Ia
langsung marah dan sedih seraya memperingatkan kaumnya : ”Bukankah Rabb kalian
telah menjanjikan kebaikan bahwa kalian akan diberikan Taurat yang berisi
petunjuk dan cahaya?”. Kaumnya pun berkata : ”Kami tidak pernah mengingkari
janjimu, hanya saja kami diperdaya oleh Samiry”. Kemudian Musa AS menemui
saudaranya Harun AS, sambil marah dan menarik janggutnya : ”Mengapa engkau
tidak mengambil tindakan terhadap mereka yang telah menyembah sapi, atau menyusulku
dan memberitahukan kepadaku tentang mereka?”. Harun berkata : ”Aku takut engkau
mengatakan bahwa aku membuat Bani Israel terpecah, sebagian ikut aku dan
sebagian lagi ikut samiry, juga bahwa aku menyusul engkau, padahal aku
diperintahkan untuk tetap di tempat menunggumu kembali!”
Musa
langsung menemui Samiry, ketika ditanya Ia beralasan bahwa kembali menyembah
sapi karena Musa AS tidak berada di jalan yang benar. Lalu Musa AS berkata
kepadanya: ”Pergilah engkau!, sesungguhnya Allah SWT telah menghukummu, dimana
engkau hanya dapat berkata : ”jangan kau sentuh aku!”, akhirnya Ia stress
karena stiap ada orang yang mendekat ia selalu mengatakan seperti itu, sampai
akhirnya tiada seorangpun yang menghampirinya dan menyanjungnya. Lebih jelasnya
simaklah ayat berikut ini:
قَالَ فَاِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْۢ بَعْدِكَ وَاَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ
٨٥ فَرَجَعَ مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًا ەۚ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَمْ يَعِدْكُمْ
رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا ەۗ اَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ اَمْ اَرَدْتُّمْ اَنْ
يَّحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَخْلَفْتُمْ مَّوْعِدِيْ ٨٦ قَالُوْا
مَآ اَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا وَلٰكِنَّا حُمِّلْنَآ اَوْزَارًا مِّنْ
زِيْنَةِ الْقَوْمِ فَقَذَفْنٰهَا فَكَذٰلِكَ اَلْقَى السَّامِرِيُّ ۙ ٨٧ فَاَخْرَجَ
لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهٗ خُوَارٌ فَقَالُوْا هٰذَآ اِلٰهُكُمْ وَاِلٰهُ مُوْسٰى
ەۙ فَنَسِيَ ۗ ٨٨ اَفَلَا يَرَوْنَ اَلَّا يَرْجِعُ اِلَيْهِمْ قَوْلًا ەۙ وَّلَا يَمْلِكُ
لَهُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا ࣖ ٨٩ وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هٰرُوْنُ مِنْ قَبْلُ يٰقَوْمِ
اِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهٖۚ وَاِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمٰنُ فَاتَّبِعُوْنِيْ وَاَطِيْعُوْٓا
اَمْرِيْ ٩٠ قَالُوْا لَنْ نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عٰكِفِيْنَ حَتّٰى يَرْجِعَ اِلَيْنَا
مُوْسٰى ٩١ قَالَ يٰهٰرُوْنُ مَا مَنَعَكَ اِذْ رَاَيْتَهُمْ ضَلُّوْٓا ۙ ٩٢ اَلَّا
تَتَّبِعَنِۗ اَفَعَصَيْتَ اَمْرِيْ ٩٣ قَالَ يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِيْ
وَلَا بِرَأْسِيْۚ اِنِّيْ خَشِيْتُ اَنْ تَقُوْلَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ
وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِيْ ٩٤ قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يٰسَامِرِيُّ ٩٥ قَالَ بَصُرْتُ
بِمَا لَمْ يَبْصُرُوْا بِهٖ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ اَثَرِ الرَّسُوْلِ فَنَبَذْتُهَا
وَكَذٰلِكَ سَوَّلَتْ لِيْ نَفْسِيْ ٩٦ قَالَ فَاذْهَبْ فَاِنَّ لَكَ فِى الْحَيٰوةِ
اَنْ تَقُوْلَ لَا مِسَاسَۖ وَاِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَّنْ تُخْلَفَهٗۚ وَانْظُرْ اِلٰٓى
اِلٰهِكَ الَّذِيْ ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا ۗ لَنُحَرِّقَنَّهٗ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهٗ
فِى الْيَمِّ نَسْفًا ٩٧
85. Allah berfirman: "Maka Sesungguhnya kami
Telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh
Samiri[937].
86. Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan
marah dan bersedih hati. Berkata Musa: "Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah
menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang
berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu,
dan kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?".
87. Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak
melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa
beban-beban dari perhiasan kaum itu, Maka kami Telah melemparkannya, dan
demikian pula Samiri melemparkannya[938]",
88. Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka
(dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara[939], Maka mereka
berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa Telah lupa".
89. Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa
patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak
dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?
90. Dan Sesungguhnya Harun Telah Berkata kepada
mereka sebelumnya: "Hai kaumku, Sesungguhnya kamu Hanya diberi cobaan
dengan anak lembu. itu dan Sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) yang Maha
pemurah, Maka ikutilah Aku dan taatilah perintahku".
91. Mereka menjawab: "Kami akan tetap
menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami".
92. Berkata Musa: "Hai Harun, apa yang
menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka Telah sesat,
93. (sehingga) kamu tidak mengikuti Aku? Maka
apakah kamu Telah (sengaja) mendurhakai perintahku?"
94. Harun menjawab' "Hai putera ibuku,
janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; Sesungguhnya Aku
khawatir bahwa kamu akan Berkata (kepadaku): "Kamu telah memecah antara
Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku".
95. Berkata Musa: "Apakah yang mendorongmu
(berbuat demikian) Hai Samiri?"
96. Samiri menjawab: "Aku mengetahui sesuatu
yang mereka tidak mengetahuinya, Maka Aku ambil segenggam dari jejak rasul[940]
lalu Aku melemparkannya, dan Demikianlah nafsuku membujukku".
97. Berkata Musa: "Pergilah kamu, Maka
Sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia Ini (hanya dapat) mengatakan:
"Janganlah menyentuh (aku)"[941]. dan Sesungguhnya bagimu hukuman (di
akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan Lihatlah Tuhanmu
itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, Kemudian
kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang
berserakan). (QS. Thaha: 85-97)
[937] Samiri ialah seorang dan Bani
Israil dari suku Assamirah.
[938] Maksudnya: mereka disuruh
membawa perhiasan dari emas kepunyaan orang-orang Mesir. lalu oleh Samiri
dianjurkan agar perhiasan itu dilemparkan ke dalam api yang Telah dinyalakannya
dalam suatu lobang untuk dijadikan patung berbentuk anak lembu. Kemudian mereka melemparkannya dan diikuti pula oleh Samiri. lihat
selanjutnya not. 570.
[939] mereka membuat patung anak
lembu dari emas. para Mufassirin berpendapat bahwa patung itu tetap patung
tidak bernyawa dan suara yang seperti lembu itu hanyalah disebabkan oleh angin
yang masuk ke dalam rongga patung itu dengan tekhnik yang dikenal oleh Samiri
waktu itu dan sebagian Mufassirin ada yang menafsirkan bahwa patung yang dibuat
dari emas itu Kemudian menjadi tubuh yang bernyawa dan mempunyai suara lembu.
[940] yang dimaksud dengan jejak
rasul di sini ialah ajaran-ajarannya. menurut faham Ini Samiri mengambil
sebahagian dari ajaran-ajaran Musa Kemudian dilemparkannya ajaran-ajaran itu
sehingga dia menjadi sesat. menurut sebahagian ahli tafsir yang dimaksud dengan
jejak rasul ialah jejak telapak kuda Jibril a.s. artinya Samiri mengambil
segumpal tanah dari jejak itu lalu dilemparkannya ke dalam logam yang sedang
dihancurkan sehingga logam itu berbentuk anak sapi yang mengeluarkan suara.
[941] Maksudnya: supaya Samiri hidup
terpencil sendiri sebagai hukuman di dunia. dan sebagai hukuman di akhirat, ia
akan ditempatkan di didalam neraka.
Penyesalan Bani Israil
Bani Israil menyesal atas keteledoran
mereka, merekapun memohon ampun kepada Allah SWT, lalu Nabi Musa AS
menyampaikan wahyu bahwa taubat mereka akan diterima bila mereka mau membunuh
diri mereka sendiri, sebagai puncak menghancurkan syahwatnya dan mensucikannya
dari kejahatan dan dosa. Pada saat itulah Allah menerima taubat mereka. Allah
SWT berfirman :
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ
بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰى بَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْٓا
اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۗ
اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ٥٤
54. Dan (ingatlah), ketika Musa Berkata kepada
kaumnya: "Hai kaumku, Sesungguhnya kamu Telah menganiaya dirimu sendiri
Karena kamu Telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), Maka bertaubatlah kepada
Tuhan yang menjadikan kamu dan Bunuhlah dirimu[49]. hal itu adalah lebih baik
bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; Maka Allah akan menerima taubatmu.
Sesungguhnya dialah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS.
Al-Baqarah: 54)
[49] Membunuh dirimu ada yang
mengartikan: orang-orang yang tidak menyembah anak lembu itu membunuh orang
yang menyembahnya. Adapula yang mengartikan: orang yang menyembah patung anak
lembu itu saling bunuh-membunuh
MAKSIAT KEEMPAT: MENGANGKAT GUNUNG DI ATAS BANI ISRAEL
Musa AS terus memperbaiki Bani Israil,
akan tetapi Musa AS melihat mereka tetap keras dan membandel, saat itu Allah
SWT mengancam mereka dengan mengangkat sebuah gunung ke atas mereka, mereka ketakutan dan meminta
belas kasihan. Lalu Allah SWT memerintahkan kepada mereka agar komitmen dengan
hukum-hukum Taurat, mempelajarinya dan tidak melalaikannya, agar merka
benar-benar menjadi orang yang bertaqwa. Namun tetap saja ketika ketakutan itu
telah hilang mereka kembali berpaling dari hidayah Allah SWT. Sebagaimana Allah
SWT berfirman :
وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ
عَلَيْكُمْ اِذْ جَعَلَ فِيْكُمْ اَنْۢبِيَاۤءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوْكًاۙ
وَّاٰتٰىكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ ٢٠ يٰقَوْمِ ادْخُلُوا
الْاَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِيْ كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوْا
عَلٰٓى اَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ ٢١
20. Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada
kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika dia mengangkat
nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan
diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun
diantara umat-umat yang lain".
21. Hai kaumku, masuklah ke tanah Suci
(Palestina) yang Telah ditentukan Allah bagimu[409], dan janganlah kamu lari
kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang
merugi.
[409] Maksudnya: tanah Palestina itu
ditentukan Allah bagi kaum Yahudi selama mereka iman dan taat kepada Allah.
Terkatung-katungnya Bani Israil
Bani Israel tidak menuruti nasehat Nabi
Musa AS, bahkan dengan nada meremehkan mereka berkata kepada Nabi Musa AS,
padahal sesungguhnya mereka membangkang dan penakut:
قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَا
ۖفَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ ٢٤
24. Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali
sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya,
Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua,
Sesungguhnya kami Hanya duduk menanti disini saja". (QS. Al-Maidah: 24)
Sekian
lama Musa AS mendakwahkan bani Israel dan memperbaiki akhlak dan kelakuan
mereka, ternyata hanya seperti itu tanggapannya. Nabi Musa hanya dapat mengadu
kepada Allah SWT seraya berkata :
رَبِّ لاَ سُلْطَانَ لِي إِلاَّ عَلَى نَفْسِي وَأَخِي فَاقْضِِ بِعَدْلِكَ
بَيْنَنَا وَبَيْنَ هَؤُلاَءِ اْلفَاسِقِيْنَ
“Ya Rabb! Aku tidak memiliki kemampuan lagi untuk mengendalikan
kecuali terhadapp diriku sendiri dan saudaraku (Harun AS), maka putuskanlah Ya
Rabb dengan keadilanMU antara kami dan orang-orang yang fasik itu”
Allah
SWT mengabulkan pengaduan Nabi Musa AS dan memberitahukan kepadanya bahwa Bumi
Suci telah diharamkan dari bani Israil, dan mereka akan terkatung_katung di
gurun sina selama 40 tahun, dan mengingatkan nabi Musa agar tidak peduli dengan
orang-orang yang tidak taat kepada Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman:
قَالَ رَجُلَانِ مِنَ
الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ
الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ
فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ٢٣ قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ
نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَا ۖفَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ
فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ ٢٤ قَالَ رَبِّ اِنِّيْ لَآ اَمْلِكُ
اِلَّا نَفْسِيْ وَاَخِيْ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ
٢٥ قَالَ فَاِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۚيَتِيْهُوْنَ
فِى الْاَرْضِۗ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ ٢٦
23. Berkatalah dua orang
diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah Telah memberi nikmat
atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu,
Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan Hanya kepada Allah
hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".
24. Mereka
berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya
selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, Karena itu pergilah kamu bersama
Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya kami Hanya duduk menanti
disini saja".
25. Berkata Musa:
"Ya Tuhanku, Aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku.
sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu".
26. Allah
berfirman: "(Jika demikian), Maka Sesungguhnya negeri itu diharamkan atas
mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar
kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati
(memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." (QS. Al-Maidah: 23-26)
No comments:
Post a Comment