Tuesday, March 17, 2026

Musa dengan Bani Israil

 Bacalah ayat ini : - surat Al-Qashash

وَدَخَلَ الْمَدِيْنَةَ عَلٰى حِيْنِ غَفْلَةٍ مِّنْ اَهْلِهَا فَوَجَدَ فِيْهَا رَجُلَيْنِ يَقْتَتِلٰنِۖ هٰذَا مِنْ شِيْعَتِهٖ وَهٰذَا مِنْ عَدُوِّهٖۚ فَاسْتَغَاثَهُ الَّذِيْ مِنْ شِيْعَتِهٖ عَلَى الَّذِيْ مِنْ عَدُوِّهٖ ۙفَوَكَزَهٗ مُوْسٰى فَقَضٰى عَلَيْهِۖ قَالَ هٰذَا مِنْ عَمَلِ الشَّيْطٰنِۗ اِنَّهٗ عَدُوٌّ مُّضِلٌّ مُّبِيْنٌ ١٥ قَالَ رَبِّ اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ فَاغْفِرْ لِيْ فَغَفَرَ لَهٗ ۗاِنَّهٗ هُوَ الْغَفُوْرُ الرَّحِيْمُ ١٦ قَالَ رَبِّ بِمَآ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ فَلَنْ اَكُوْنَ ظَهِيْرًا لِّلْمُجْرِمِيْنَ ١٧ فَاَصْبَحَ فِى الْمَدِيْنَةِ خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ فَاِذَا الَّذِى اسْتَنْصَرَهٗ بِالْاَمْسِ يَسْتَصْرِخُهٗ ۗقَالَ لَهٗ مُوْسٰٓى اِنَّكَ لَغَوِيٌّ مُّبِيْنٌ ١٨ فَلَمَّآ اَنْ اَرَادَ اَنْ يَّبْطِشَ بِالَّذِيْ هُوَ عَدُوٌّ لَّهُمَاۙ قَالَ يٰمُوْسٰٓى اَتُرِيْدُ اَنْ تَقْتُلَنِيْ كَمَا قَتَلْتَ نَفْسًاۢ بِالْاَمْسِۖ اِنْ تُرِيْدُ اِلَّآ اَنْ تَكُوْنَ جَبَّارًا فِى الْاَرْضِ وَمَا تُرِيْدُ اَنْ تَكُوْنَ مِنَ الْمُصْلِحِيْنَ ١٩ وَجَاۤءَ رَجُلٌ مِّنْ اَقْصَى الْمَدِيْنَةِ يَسْعٰىۖ قَالَ يٰمُوْسٰٓى اِنَّ الْمَلَاَ يَأْتَمِرُوْنَ بِكَ لِيَقْتُلُوْكَ فَاخْرُجْ اِنِّيْ لَكَ مِنَ النّٰصِحِيْنَ ٢٠ فَخَرَجَ مِنْهَا خَاۤىِٕفًا يَّتَرَقَّبُ ۖقَالَ رَبِّ نَجِّنِيْ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ࣖ ٢١

15.  Dan Musa masuk ke kota (Memphis) ketika penduduknya sedang lengah [1115], Maka didapatinya di dalam kota itu dua orang laki-laki yang berkelahi; yang seorang dari golongannya (Bani Israil) dan seorang (lagi) dari musuhnya (kaum Fir'aun). Maka orang yang dari golongannya meminta pertolongan kepadanya, untuk mengalahkan orang yang dari musuhnya lalu Musa meninjunya, dan matilah musuhnya itu. Musa berkata: "Ini adalah perbuatan syaitan [1116] Sesungguhnya syaitan itu adalah musuh yang menyesatkan lagi nyata (permusuhannya).

16.  Musa mendoa: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah menganiaya diriku sendiri, karena itu ampunilah aku". Maka Allah mengampuninya, Sesungguhnya Allah dialah yang Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.

17.  Musa berkata: "Ya Tuhanku, demi nikmat yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku, Aku sekali-kali tiada akan menjadi penolong bagi orang-orang yang berdosa".

18.  Karena itu, jadilah Musa di kota itu merasa takut menunggu-nunggu dengan khawatir (akibat perbuatannya), Maka tiba-tiba orang yang meminta pertolongan kemarin berteriak meminta pertolongan kepadanya. Musa Berkata kepadanya: "Sesungguhnya kamu benar-benar orang sesat yang nyata (kesesatannya)".

19.  Maka tatkala Musa hendak memegang dengan keras orang yang menjadi musuh keduanya, musuhnya berkata: "Hai Musa, apakah kamu bermaksud hendak membunuhku, sebagaimana kamu kemarin telah membunuh seorang manusia? kamu tidak bermaksud melainkan hendak menjadi orang yang berbuat sewenang-wenang di negeri (ini), dan tiadalah kamu hendak menjadi salah seorang dari orang-orang yang mengadakan perdamaian".

20.  Dan datanglah seorang laki-laki dari ujung kota bergegas-gegas seraya berkata: "Hai Musa, sesungguhnya pembesar negeri sedang berunding tentang kamu untuk membunuhmu, sebab itu keluarlah (dari kota ini). Sesungguhnya Aku termasuk orang-orang yang memberi nasehat kepadamu".

21.  Maka keluarlah Musa dari kota itu dengan rasa takut menunggu-nunggu [1117] dengan khawatir, dia berdoa: "Ya Tuhanku, selamatkanlah Aku dari orang-orang yang zalim itu". (QS. Al-Qashash: 15-21)

[1115]  Maksudnya: tengah hari, di waktu penduduk sedang istirahat.

[1116]  Maksudnya: Musa menyesal atas kematian orang itu disebabkan pukulannya, Karena dia bukanlah bermaksud untuk membunuhnya, Hanya semata-mata membela kaumnya.

[1117]  Maksudnya: merasa sangat khawatir, kalau-kalau ada orang yang menyusul untuk menangkapnya.

Allah berfirman dalam surat Thaha :

اِذْ تَمْشِيْٓ اُخْتُكَ فَتَقُوْلُ هَلْ اَدُلُّكُمْ عَلٰى مَنْ يَّكْفُلُهٗ ۗفَرَجَعْنٰكَ اِلٰٓى اُمِّكَ كَيْ تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ ەۗ وَقَتَلْتَ نَفْسًا فَنَجَّيْنٰكَ مِنَ الْغَمِّ وَفَتَنّٰكَ فُتُوْنًا ەۗ فَلَبِثْتَ سِنِيْنَ فِيْٓ اَهْلِ مَدْيَنَ ەۙ ثُمَّ جِئْتَ عَلٰى قَدَرٍ يّٰمُوْسٰى ٤٠

40.  (yaitu) ketika saudaramu yang perempuan berjalan, lalu ia Berkata kepada (keluarga Fir'aun): "Bolehkah saya menunjukkan kepadamu orang yang akan memeliharanya?" Maka kami mengembalikanmu kepada ibumu, agar senang hatinya dan tidak berduka cita. dan kamu pernah membunuh seorang manusia [917], lalu kami selamatkan kamu dari kesusahan dan kami Telah mencobamu dengan beberapa cobaan; Maka kamu tinggal beberapa tahun diantara penduduk Madyan[918], Kemudian kamu datang menurut waktu yang ditetapkan[919] Hai Musa, (QS. Thaha: 40)

[917]  yang dibunuh Musa a.s. Ini ialah seorang bangsa Qibthi yang sedang berkelahi dengan seorang Bani Israil, sebagaimana yang dikisahkan dalam surat Al Qashash ayat 15.

[918]  nabi Musa a.s. datang ke negeri Mad-yan untuk melarikan diri, di sana dia dikawinkan oleh nabi Syu'aib a.s. dengan salah seorang puterinya dan menetap beberapa tahun lamanya.

[919]  Maksudnya: nabi Musa a.s. datang ke lembah Thuwa untuk menerima wahyu dan kerasulan.

Nabi Musa dibesarkan di Istana Fir’aun, menjadi pemuda yang kuat dan perkasa, Ia tidak khawatir menjadi orang dalamnya Fir’aun. Ia berasal dari bangsa Isra’il, bangsa yang ditindas oleh Fir’aun dan balatentaranya,. Di dalam kitab At-Thabary disebutkan bahwa  Nabi Musa pada usia mudanya pernah mencegah permusuhan bangsa Mesir terhadap Bani Isr’ail, maka secara tabi’i bangsa Israil mulai memahami tentang eksistensi dan kemenangan, yang akan selalu dialami oleh orang-orang yang tertindas di kalangan mereka.

Pada suatu hari Musa AS ke luar ke kota (Memphis) di saat penduduknya lengah, lalu Ia mendapatkan seorang berkebangsaan Mesir tengah melakukan kerja paksa kepada seorang berkebangsaan Ibrani, kemudian Ia segera meminta tolong kepada Nabi Musa, beliaupun lansung mendatang bangsa mesir tersebut dan meninjunya hingga mati, kemudian Nabi Musa segera menguburnya. Tidak ada yang mengetahui hal ini, kecuali laki-laki Ibrani yang ditolongnya tersebut.

Nabi Musa menyesali perbuatannya, Ia berkata dalam hatinya : “apa yang telah aku lakukan adalah perbuatanh syeitan, sesungghnya ia adalah musuh yang nyata-nyata menyesatkan”, kemudian beliau bersimpuh kepada Allah seraya bertaubat kepada-NYA dan memohon agar Ia tidak dijadikan sebagai orang membela orang yang berdosa dan menolong pelaku kejahatan.

Pada keesokan harinya Nabi Musa keluar lagi ke kota dibarengi dengan rasa takut dan khawatir kalau perbuatannya terbongkar demikian disebutkan oleh At-Thabary melalui sanad Ibnu Abbas. Lebih lanjut dikisahkan bahwa bangsa Mesir tatkala mereka menemukan mayat yang telah dibunuh oleh Nabi Musa, tidak tahu siapa pembunh sebenarnya, mereka menduga Bangsa Isra’illah pembunuhnya. Lalu mereka mengadukan hal tersebut kepada Fir’aun bahwasanya Bani israil telah membunuh salah seorang kaumnya. Mereka meminta agar Fir’aun tidak bersikap tenggang rasa dan  memberikan toleransi dalam hal ini. Fir’aun merespon tunututan mereka seraya meminta untuk segera mengakap pembunuhnya dan menghadirkan seorang saksi agar dapat dijatuhkan vonis hukum kepada pelakunya.

Tatkala mereka sedang mencari siapa pembunuhnya, tiba-tiba Nabi Musa lewat di sekitar mereka, dan bertemu dengan seorang Israil yang telah ditolongnya kemarin, kemudian beliau berkata kepadanya dengan nada marah : }إنك لغوي مبين{, Iapun ketakutan melihat amarahnya dan khawatir akan dibunuh seperti orang yang dibunuhnya kemarin, lalu Ia berkata : }أتريد أن تقتلني كما قتلت نفساً بالأمس{ ؟  “hai Musa, apakah engkau akan membunuhku sebagaiman engkau telah membunuh seseorang kemarin?”.

Orangnya Fir’aunpun segera memberitahu kaumnya dan membawa perkara ini kepada Fir’aun serta memberitahukan kepadanya bahwa pembunuhnya adalah Musa. Fir’aunpun memerintahkan para algojonya untuk segera menagkapnya. Pada saat itu juga seorang berhati mulia dari keluarga Fir’aun dari kota yang cukup jauh datang tergesa-gesa menemui Musa, agar dapat mendahului para algojo Fir’aun yang tengah memburunya dengan melalui jalan pintas. Ia memberitahukan kepada Musa apa yang tengah dilakukan oleh Fir’aun terhadapnya. Hal ini merupakan cobaan dari Allah bagi Musa. Lalu laki-laki mulia tersebut menasehati Musa agar segera menyelamatkan dirinya dengan secepatnya meninggalkan Mesir agar tidak tertangkap oleh para algojonya Fir’aun. Musa pun menerima nasehat mahal tersebut, lalu beliaupun bergegas menuju negeri Madyan. Laki-laki tadi disebut  mulia karena dua hal :

Pertama : pribahasa mengatakan "الأطراف سكنى الإشراف"yang demikian itu mereka telah memperoleh apa yang mereka butuhkan di kota dengan segala kelebihan yang mereka miliki berupa kekuasaan dan kekayaan, dan kehormatan dan kemuliaan mereka menjadi tumpuan orang-orang yang berhajat.

Kedua : Sesungguhnya Allah mengungkapkan nasehatnya kepada Musa dalam firman-NYA : }إن الملأ يأتمرون بك ليقتلوك{Al-Mala’ yang dimaksud adalah kelompok elit yang membuat orang yang melihatnya penuh dengan daya tarik dan kewibawaan, dan tidak ada yang dapat mengungkap rahasia kaum elit kecuali orang yang menjadi bagian darinya, dan rahasia mereka tidak ada yang tertutupi sedikitpun. Hal ini hanya dapat dilakukan oleh orang-orang yang berasal dari kalangan elit dan terhormat.

PERNIKAHAN MUSA AS DENGAN PUTRI NABI SYU’AIB, DAN PEKERJAANNYA SEBAGAI PENGGEMBALA KAMBING.

Kalimullah Nabi Musa keluar meninggalkan Mesir untuk menyelamatkan diri, Ia bergegas menuju negeri Madyan dengan berjalan kaki, sambil menengok ke segala arah, khawatir diketahui oleh orang-orangnya Fir’aun, Ia tidak membawa bekal apa-apa, selama perjalanan delapan hari delapan malam hanya memakan daun-daunan sampai tiba di negeri Madyan. Lalu Ia duduk beristirahat di bawah pohon sambil menahan lapar dan haus. Berkata Ibnu Abbas `: “Musa keluar dari Mesir menuju Madyan dengan menmpuh perjalanan selama delapan malam, tidak makan apa-apa kecuali kol dan daun-daunan. Ia berjalan dengan bertelanjang kaki (nyeker), lalu Ia istirahat sejenak di bawah pohon seraya menahan lapar. Di tengah istiraht Ia melihat dua orang wanita yang sedang menggembala kambing, mereka ingin memberi minum kepada kambing gembalaannya dari sebuah sumur besar, tetapi penggembala lainnya juga sedang berkerumun di sekitar sumur, karena mereka takut kambing-kambingnya tercampur, maka mereka memilih menunggu penggembala lain pergi. Musa merasa kasihan melihat mereka berdua, lalu bertanya kepadanya tentang sebab-sebab mereka sampai menggembala kambing. Keduanyapun memberitahu bahwa bapaknya sudah tua renta, dan tidak memiliki anak laki-laki yang dapat melakukan pekerjaan ini. Tanpa banyak kata Musa langsung membantu keduanya mengambil air dan meminumkan kambing gembalaannya. Setelah itu Ia duduk dibawah pohon seraya berdo’a kepada Allah SWT :

وَلَمَّا تَوَجَّهَ تِلْقَاۤءَ مَدْيَنَ قَالَ عَسٰى رَبِّيْٓ اَنْ يَّهْدِيَنِيْ سَوَاۤءَ السَّبِيْلِ ٢٢ وَلَمَّا وَرَدَ مَاۤءَ مَدْيَنَ وَجَدَ عَلَيْهِ اُمَّةً مِّنَ النَّاسِ يَسْقُوْنَ ەۖ وَوَجَدَ مِنْ دُوْنِهِمُ امْرَاَتَيْنِ تَذُوْدٰنِۚ قَالَ مَا خَطْبُكُمَا ۗقَالَتَا لَا نَسْقِيْ حَتّٰى يُصْدِرَ الرِّعَاۤءُ وَاَبُوْنَا شَيْخٌ كَبِيْرٌ ٢٣ فَسَقٰى لَهُمَا ثُمَّ تَوَلّٰىٓ اِلَى الظِّلِّ فَقَالَ رَبِّ اِنِّيْ لِمَآ اَنْزَلْتَ اِلَيَّ مِنْ خَيْرٍ فَقِيْرٌ ٢٤

22.  Dan tatkala ia menghadap kejurusan negeri Madyan ia berdoa (lagi): "Mudah-mudahan Tuhanku memimpinku ke jalan yang benar".

23.  Dan tatkala ia sampai di sumber air negeri Mad-yan ia menjumpai di sana sekumpulan orang yang sedang meminumkan (ternaknya), dan ia men- jumpai di belakang orang banyak itu, dua orang wanita yang sedang menghambat (ternaknya). Musa berkata: "Apakah maksudmu (dengan berbuat at begitu)?" kedua wanita itu menjawab: "Kami tidak dapat meminumkan (ternak kami), sebelum pengembala-pengembala itu memulangkan (ternaknya), sedang bapak kami adalah orang tua yang Telah lanjut umurnya".

24.  Maka Musa memberi minum ternak itu untuk (menolong) keduanya, ke- mudian dia kembali ke tempat yang teduh lalu berdoa: "Ya Tuhanku Sesungguhnya Aku sangat memerlukan sesuatu kebaikan[1118] yang Engkau turunkan kepadaku".

[1118]  yang dimaksud dengan Khair (kebaikan) dalam ayat Ini menurut sebagian besar ahli tafsir ialah barang sedikit makanan.

Ibnu Katsir berkata dalam kitab Tarikhnya (Al-Bidayah wanihaayah), bahwasanya para penggembala bila telah selesai memberi minum hewan gembalaannya, mereka meletakkan batu-batu besar di bibir sumur, ketika dua penggembala wanita itu hendak meminumkan kambing gembalaannya, mereka menghadapi kesulitan, pada saat itulah Musa datang membantu kedua wanita tersebut dengan mengangkat batu-batu tersebut dan meminumkan gembalaannya, setelah selesai batu-batu tersebutpun dikembalikan ke tempat semula, padahal setiap batu biasanya hanya dapat diangkat oleh sepuluh orang, sedangkan Musa mampu mengangkatnya sendiri dan meletakannya kembali ke tempat semula sendiri.

Tatkala kedua wanita tersebut pulang ke rumahnya, mereka memberitahu orang tuanya tentang seorang pemuda (Musa) yang gagah perkasa, seraya meminta kepadanya agar pemuda tersebut dijadikan sebagai pekerja. Ternyata permintaannya dikabulkan, lalu datanglah salah seorang menghadap Musa untuk mengundangnya menghadap bapaknya, lebih lengkapnya dapat kita simak dalam surat  Al-Qashash ayat 25-30 :

فَجَاۤءَتْهُ اِحْدٰىهُمَا تَمْشِيْ عَلَى اسْتِحْيَاۤءٍ ۖقَالَتْ اِنَّ اَبِيْ يَدْعُوْكَ لِيَجْزِيَكَ اَجْرَ مَا سَقَيْتَ لَنَاۗ فَلَمَّا جَاۤءَهٗ وَقَصَّ عَلَيْهِ الْقَصَصَۙ قَالَ لَا تَخَفْۗ نَجَوْتَ مِنَ الْقَوْمِ الظّٰلِمِيْنَ ٢٥ قَالَتْ اِحْدٰىهُمَا يٰٓاَبَتِ اسْتَأْجِرْهُ ۖاِنَّ خَيْرَ مَنِ اسْتَأْجَرْتَ الْقَوِيُّ الْاَمِيْنُ ٢٦ قَالَ اِنِّيْٓ اُرِيْدُ اَنْ اُنْكِحَكَ اِحْدَى ابْنَتَيَّ هٰتَيْنِ عَلٰٓى اَنْ تَأْجُرَنِيْ ثَمٰنِيَ حِجَجٍۚ فَاِنْ اَتْمَمْتَ عَشْرًا فَمِنْ عِنْدِكَۚ وَمَآ اُرِيْدُ اَنْ اَشُقَّ عَلَيْكَۗ سَتَجِدُنِيْٓ اِنْ شَاۤءَ اللّٰهُ مِنَ الصّٰلِحِيْنَ ٢٧ قَالَ ذٰلِكَ بَيْنِيْ وَبَيْنَكَۗ اَيَّمَا الْاَجَلَيْنِ قَضَيْتُ فَلَا عُدْوَانَ عَلَيَّ ۗوَاللّٰهُ عَلٰى مَا نَقُوْلُ وَكِيْلٌ ࣖ ٢٨ ۞ فَلَمَّا قَضٰى مُوْسَى الْاَجَلَ وَسَارَ بِاَهْلِهٖٓ اٰنَسَ مِنْ جَانِبِ الطُّوْرِ نَارًاۗ قَالَ لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِخَبَرٍ اَوْ جَذْوَةٍ مِّنَ النَّارِ لَعَلَّكُمْ تَصْطَلُوْنَ ٢٩ فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ مِنْ شَاطِئِ الْوَادِ الْاَيْمَنِ فِى الْبُقْعَةِ الْمُبٰرَكَةِ مِنَ الشَّجَرَةِ اَنْ يّٰمُوْسٰىٓ اِنِّيْٓ اَنَا اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ ٣٠

25.  Kemudian datanglah kepada Musa salah seorang dari kedua wanita itu berjalan kemalu-maluan, ia berkata: "Sesungguhnya bapakku memanggil kamu agar ia memberikan balasan terhadap (kebaikan)mu memberi minum (ternak) kami". Maka tatkala Musa mendatangi bapaknya (Syu'aib) dan menceritakan kepadanya cerita (mengenai dirinya), Syu'aib berkata: "Janganlah kamu takut. kamu Telah selamat dari orang-orang yang zalim itu".

26.  Salah seorang dari kedua wanita itu berkata: "Ya bapakku ambillah ia sebagai orang yang bekerja (pada kita), Karena Sesungguhnya orang yang paling baik yang kamu ambil untuk bekerja (pada kita) ialah orang yang Kuat lagi dapat dipercaya".

27.  Berkatalah dia (Syu'aib): "Sesungguhnya Aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini, atas dasar bahwa kamu bekerja denganku delapan tahun dan jika kamu cukupkan sepuluh tahun Maka itu adalah (suatu kebaikan) dari kamu, Maka Aku tidak hendak memberati kamu. dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang- orang yang baik".

28.  Dia (Musa) berkata: "Itulah (perjanjian) antara Aku dan kamu. mana saja dari kedua waktu yang ditentukan itu Aku sempurnakan, Maka tidak ada tuntutan tambahan atas diriku (lagi). dan Allah adalah saksi atas apa yang kita ucapkan".

Ibnu Katsir menambahkan : “Para Mufassir berbeda pendapat tentang siapakah sebenarnya orang Tua tersebut?”. Ada yang mengatakan orang Tua tersebut adalah Nabi Syuaib AS, ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan kebanyakan para Mufasir, termasuk Hasan al-Basry yang mengutip dari Malik bin Anas bahwa Nabi syuaib masih diberikan umur panjang setelah kaumnya binasa, sampai bertemu Musa dan mennikahkan putrinya kepadanya. Pendapat lain mengatakan bahwa orang tua tersebut adalah anak saudaranya, juga ada yang mengatakan anak pamannya, jadi bukan Nabi Syuaib yang diutus ke negeri Madyan. Pendapat pertama lebih kuat karena sebagian besar mufasir berpendapat demikian.

Nabi Musa menetap di Madyan setelah menikah dengan putri Nabi Syuaib AS, Ia menggembala kambing hingga selesai batas waktunya (10 tahun), sebagai mahar yang dibayarkan Musa kepada putri Nabi Syuaib AS. Jika Nabi Musa saja menggembala kambing, maka tidaklah aib bila seseorang melakukan pekerjaan tersebut, sebagaimana terdapat dalam hadits shahih bahwa Rasullah SAW bersabda :

"ما من نبي إِلاَّ ورعى الغنم" قالوا: حتى أنت يا رسول الله ! قال: "حتى أنا كنت أرعاها لقريش على قراريط".

“Tidak ada seorang Nabi melainkan Ia telah menggembala kambing, para sahabat bertanya: “termasuk engkau ya Rasulallah!”, “Ya termasuk aku, aku telah menggembala kambing milik orang Quraisy dengan upah beberapa Qirath”, jawab beliau. Adapun hikmahnya para Nabi dan Rasul menggembala kambing adalah agar memiliki jiwa yang tenang dan tawadu, serta menjadi mukadimah bagi mereka dalam mengatur dan memimpin umat sebagaiman mereka mengatur gembalaannya. Begitulah para Nabi mereka beralih dari penggembala kambing menjadi pemimpin umat.

PERTANYAAN DAN DISKUSI

Allah berfirman : }ودخل المدينة على حين غفلةٍ من أهلها{ apakah makna ayat ini bahwasanya Musa yang tinggal di Istana Fir'aun apakah lokasinya berada di luar kota, sebagaiman Istana para pemimpin dan penguasa di berbagai negeri yang tinggal jauh dari rakyatnya, agar mereka tidak disibukan oleh keadaan dan kesulitan rakyatnya dan agar mereka dapat memuaskan hawanafsu dan kelezatan hidupnya.

}دخل المدينة على حين غفلة{  ayat ini menggambarkan penguasa yang takut dan khawatir kepada rakyatnya, karena mereka bila ingin turun ke kota mereka harus dikawal dan dijaga oleh balatentara, karena mereka takut menghadapi penganiayaan sehingga mereka menjauh dari rakyatnya, oleh karena menjadi tanda tanya besar mengapa Fir’aun dan semua Fir’aun di mana saja tidak mau tinggal dekat bersam rakyatnya. Tampaknya Musa jenuh tinggal dalam gemerlap kehidupan Istana, Ia ingin melihat realitas kehidupan nyata rakyatnya, Ia terpanggil hatinya untuk mengatur beberapa perkara kehidupan. Juga tampaknya Musa ingin menegaskan urusannya untuk memimpin rakyatnya, sehingga mereka tahu kedudukan Nabi Musa yang sebenarnya, meskipun Musa menyadari bahwa dirinya berasal dari Bani Israil bukan dari bangsanya Firaun, karena itula seorang bani Israil meminta tolong kepadanya ketika berurusan dengan seorang Mesir, itulah sebabnya bangsa Mesir sangat benci dan dendam kepada Musa karena pembelaannya kepada seorang bangsa Israil.

Padahal menyelasaikan pertikaian antara Bani Israil dan Bangsa Mesir dapat dilakukan tanpa harus terjadi pertumpahan darah dan melayangnya nyawa, akan tetapi syeitanlah seperti yang telah diakui Musa yang menanamkan kebencian yang besar sehingga nyawapun melayang. Pertanyaannya adalah apakah Syeitan dapat menguasai para Nabi? Apakah dengan istighfar saja cukup untuk menghindari sangsi membunuh? Ataukah makna Istighfarnya Nabi Musa adalah sikap berlepas diri dari pembunuhan tersebut? Nabi Musa lari karena tuntutan situasi dan kondisi yang dihadapinya, apakah pengertiannya bahwa lari dari para musuh dituntut secara khusus apabila musuh tersebut adalah seorang diktator dan rakyatnya zhalim.

Apakah Seorang laki-laki yang menasehati Musa agar keluar dari bangsanya Fir’aun adalah orang yang beriman, ataukah orang yang hanya tidak senang terhadap kezaliman, dan hanya memandang Musa sebagai orang yang mulia dan cerdas, sehingga Ia ingin menolongnya dan mengingatkannya? Ataukah ini sebuah kecenderungan bahwa di tengah masyarakat yang zhalim terdapat orang-orang yang memiliki prinsip dan keteladanan? Dan apakah hal ini menjadi bukti bahwa umat Islam di negeri yang zhalim perlu mewaspadai kezhaliman yang datang dari orang lain?

Apakah rencana Musa pergi ke Madyan karena ingin meninggalkan Mesir. Ataukah keluar dengan sengaja di atas hidayah Allah karena segala sesuatu datang secara tiba-tiba tanpa pendahuluan? Madyan cukup jauh jaraknya, ditempuh oleh Musa selama 8 malam dengan berjalan kaki, makan daun-daunanm padahal beliau seorang Nabi, apa hikmah dari peristiwa itu?

Apa yang menggerakan Musa berdoa kepada Allah ketika sampai di Madyan

 }ربِ إني لما أنزلت إليَّ من خيرٍ فقير{ 

Musa sebelum mendapat risalah adalah seorang Mu’min yang kuat, memohon pertolongan kepada Allah, siapa yang mengajarkannya?, padahal Ia jauh dari keluarganya dan jauh dari warisan nenek moyangnya, dan berada di istana pembesar-pembesar berhala?

Musa melihat orang-orang yang berkerumun di sekitar telaga Madyan, dan melihat dua orang wanita sedang menunggu, mengapa demikian? Musa bertanya kepada kedua wanita tersebut, apakah karena kasihan kepadanya ataukah karena ingin menunjukan kemuliaan dirinya? Apakah hal itu berarti boleh berbicara dengan wanita yang bukan mahramnya (ajnaby)? Juga apakah berarti boleh mengetahui rahasia kehidupan keluarganya? Atau apa?

Apa yang menyebabkan keduanya memberikan perhatian lebih kepada musa dengan menceritakannya kepada Ayahandanya Syuaib AS? Apakah karena kagum dengan kegagahannya, ataukah karena ketakjuban mereka berdua kepadanya? Mengapa salah seorang dari keduanya meminta kepada Ayahnya agar mengangkat Musa sebagai pekerja? Apakah hal itu menunjukan bahwa wanita memiliki pandangan yang dihormati?

Apakah salah seorang wanita yang datang menjumpai Musa datang seorang diri atau ada yang menemaninya? Syuaib menjadikan mahar putrinya dengan mempekerjakan Musa selama 8 tahun, apakah yang demikian itu diperbolehkan? Apakah Syuaib ridho putrinya dinikahi oleh laki-laki asing yang tidak diketahui asal-usulnya? Ataukah Syuaib menikahkan putrinya setelah berinteraksi dengan sifat dan akhlak Musa yang baik serta Imannya yang kokoh?

Setelah Musa menikah dengan putri Nabi Syuaib dan tinggal bersama keluarganya, apakah masa ini dapat disebut sebagai masa pembelajaran atau masa persiapan mengemban risalah? Atau apa?

Apakah Musa menggembala kambing? Kenapa? Kenapa pula setiap Nabi menggembala kambing? Apakah ada hubungan antara menggembala kambing dan membina umat?

Keluarnya Bani Israil di Mesir

Para Mufassir dan Ahli Kitab mengatakan: Bani Israil meminta ijin kepada Fir’aun untuk keluar di hari raya mereka, Firaunpun mengjinkannya meskipun dia tidak menyukainya, Bani Israil ternyata hanya memperdaya Fir’aun dan balatentaranya, agar mereka dapat keluar dengan selamat dari cengkraman penjajahannya. Allah SWT memerintahkan Bani israil untuk meminjam perhiasan kepada Fir’aun, dan merekapun meminjamkannya dalam jumlah yang cukup banyak.

Mulailah mereka keluar di waktu malam, terus menempuh perjalanan menuju ke negeri Syam. Tatkala Fir’aun menyadari bahwa dirinya telah tertipu, alangkah marahnya dan memerintahkan balatentaranya untuk mengejar Bani Israil.

Para Mufassir lebih jauh menjelaskan, bahwa bala tentara yang dikerahkan Fir’aun berjumlah sangat besar, disertai dengan 100.000 ekor kuda, dan 1.600.000 personil. Fir’aun terus mengejar Bani Israil hingga ke ufuk Timur, dan kedua pasukan telah saling melihat satu sama lain, tidak ada pilihan bagi Fir’an kecuali memerangi Bani Israil. Lalu pengikut-pengikut Nabi Musa berkata seraya ketakutan : إنا لمدركون, “kita pasti tertangkap!”, yang demikian itu karena mereka terpaksa menempuh jalan yang menuju ke tepi laut, karena tidak ada alternatif jalan yang lain, gunung berada di tangan kanan-kiri mereka. Fir’aun dan pasukannya sebentar lagi akan menerjang mereka, mereka merasa diliputi ketakutan yang mencekam bila membayangkan kejamnya siksaan Fir’aun. Mereka mengadukan perihal ketakutannya kepada Nabi Musa AS, karena dia diutus oleh Allah SWT untuk menyelamatkan mereka. Lalu Nabi Musa berkata kepada mereka :

{ كلا إن معي ربي سيهدين }

“Sekali-kali tidak, sesungguhnya bersamaku Rabbku akan memberi petunjuk”

Di antara pasukan Nabi Musa berada di barisan paling belakang, tatkala pasukan Bani Israil sampai ke tepi laut, Nabi Musa bergegas ke barisan yang paling depan dan menyaksikan gelombang lautan yang tampak jelas di depan mata. Lalu Musa berkata: “Disinilah aku diperintahkan!”. Bersama Nabi Musa saudaranya Harun AS, Yusa’bin Nun dan beberapa keluarga Fir’aun yang beriman. Kemudian merka berkata kepada Musa AS: “Wahai Nabi Allah, apakah di tempat ini engkau diperintahkan!” Musa berkata: “Ya”.

Keadaan semakin genting, Fir’aun dan bala tentaranya semakin dekat, pandangan mereka semakin menyalak penuh amarah. Pada saat itulah Allah yang Maha Kuasa Pemegang Arsy yang Mulia mewahyukan kepada Nabi Musa AS : إن اضرب بعصاك البحر, “pukullah laut dengan tongkatmu itu”. Maka Nabi Musa AS pun memukulnya seraya berkata: “Terbelahlah engkau dengan ijin Allah!”, maka terbelahlah lautan menjadi 12 jalur jalan. Dan air laut tegak berdiri seperti gunung menjulang, berkat kekuasan Allah SWT yang hanya mengatakan “Kun Fayakuun”. Kemudian Allah SWT juga memerintahkan angin debu bertiup ke arah lautan yang membelah sehingga jalannya menjadi kering, sehingga kuda-kuda yang berlari tidak akan terpeleset, sebagaimana Allah SWT berfirman :

وَلَقَدْ اَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْ فَاضْرِبْ لَهُمْ طَرِيْقًا فِى الْبَحْرِ يَبَسًاۙ لَّا تَخٰفُ دَرَكًا وَّلَا تَخْشٰى ٧٧ فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ بِجُنُوْدِهٖ فَغَشِيَهُمْ مِّنَ الْيَمِّ مَا غَشِيَهُمْ ۗ ٧٨

77.  Dan Sesungguhnya Telah kami wahyukan kepada Musa: "Pergilah kamu dengan hamba-hamba-Ku (Bani Israil) di malam hari, Maka buatlah untuk mereka jalan yang kering dilaut itu [933], kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan tenggelam)".

78.  Maka Fir'aun dengan bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang menenggelamkan mereka.

[933]  Membuat jalan yang kering di dalam laut itu ialah dengan memukul laut itu dengan tongkat. lihat ayat 63 surat Asy Syu'araa.

Tatkala Allah SWT memerintahkan lautnya dalam keadaan yang demikian itu, lalu Allah SWT memerintahkan kepada Nabi Musa AS, agar dirinya dan Bani israel segera melewati jalan tersebut, maka merekapun segeri melewatinya dengan langkah yang cepat seraya bergembira dengan apa yang baru saja mereka saksikan, yaitu sebuah peristiwa besar yang membuat heran siapa saja yang melihatnya dan menunjuki hati orang-orang yang beriman. Ketika mereka berhasil keluar dari belahan laut tersebut, dan buntut rombongan Bani israil telah berhasil naik ke darat, maka Fir’aun dan kaumnya baru mulai turun menyebrang lautan yang terbelah, dan pada saat seluruh pasukan Fir’aun berada di tengah-tengah lautan yang terbelah itulah Nabi Musa kembali memukulkan tongkatnya ke tepi lautan, dan lautan yang terbelah dengan ijin Allah menyatu kembali. Dan Musa AS diperintahkan Allah SWT untuk segera meninggalkan lautan tersebut seperti sediakala. Sebagaiman Allah SWT berfirman:

فَاَسْرِ بِعِبَادِيْ لَيْلًا اِنَّكُمْ مُّتَّبَعُوْنَۙ ٢٣ وَاتْرُكِ الْبَحْرَ رَهْوًاۗ اِنَّهُمْ جُنْدٌ مُّغْرَقُوْنَ ٢٤ كَمْ تَرَكُوْا مِنْ جَنّٰتٍ وَّعُيُوْنٍۙ ٢٥ وَّزُرُوْعٍ وَّمَقَامٍ كَرِيْمٍۙ ٢٦ وَّنَعْمَةٍ كَانُوْا فِيْهَا فٰكِهِيْنَۙ ٢٧ كَذٰلِكَ ۗوَاَوْرَثْنٰهَا قَوْمًا اٰخَرِيْنَۚ ٢٨ فَمَا بَكَتْ عَلَيْهِمُ السَّمَاۤءُ وَالْاَرْضُۗ وَمَا كَانُوْا مُنْظَرِيْنَ ࣖ ٢٩

23.  (Allah berfirman): "Maka berjalanlah kamu dengan membawa hamba-hamba-Ku pada malam hari, Sesungguhnya kamu akan dikejar,

24.  Dan biarkanlah laut itu tetap terbelah. Sesungguhnya mereka adalah tentara yang akan ditenggelamkan".

25.  Alangkah banyaknya taman dan mata air yang mereka tinggalkan,

26.  Dan kebun-kebun serta tempat-tempat yang indah-indah,

27.  Dan kesenangan-kesenangan yang mereka menikmatinya,

28.  Demikianlah. dan kami wariskan semua itu kepada kaum yang lain.

29.  Maka langit dan bumi tidak menangisi mereka dan merekapun tidak diberi tangguh. (QS. Ad-Dukhan: 23-29)

Tidak ada seorangpun dari Nabi Musa AS dan pengikutnya yang tenggelam, sementara tidak ada seorangpun dari Fir’aun dan balatentaranya yang dapat menyelamatkan diri, sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَاَنْجَيْنَا مُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗٓ اَجْمَعِيْنَ ۚ ٦٥ ثُمَّ اَغْرَقْنَا الْاٰخَرِيْنَ ۗ ٦٦

65.  Dan kami selamatkan Musa dan orang-orang yang besertanya semuanya.

66.  Dan kami tenggelamkan golongan yang lain itu. (QS. Asy-Syu’ara: 65-66)

PROSES BINASANYA FIR’AUN

۞ وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًا ۗحَتّٰىٓ اِذَآ اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٩٠ اٰۤلْـٰٔنَ وَقَدْ عَصَيْتَ قَبْلُ وَكُنْتَ مِنَ الْمُفْسِدِيْنَ ٩١ فَالْيَوْمَ نُنَجِّيْكَ بِبَدَنِكَ لِتَكُوْنَ لِمَنْ خَلْفَكَ اٰيَةً ۗوَاِنَّ كَثِيْرًا مِّنَ النَّاسِ عَنْ اٰيٰتِنَا لَغٰفِلُوْنَ ࣖ ٩٢

90.  Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, Karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)".

91.  Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal Sesungguhnya kamu Telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.

92.  Maka pada hari Ini kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu dan Sesungguhnya kebanyakan dari manusia lengah dari tanda-tanda kekuasaan kami. (QS. Yunus: 90-92)

[704]  yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir'aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir, Berhias, atau bepergian, atau menerima pinangan.

Dalam ayat tersebut Allah SWT menjelaskan tentang bagaimana tenggelamnya Fir’aun pemimpin kufur bangsa Qibty, ketika dirinya digulung ombak ke bawah dan ke atas, dan bani Israil menyaksikannya dari kejauhan. Namun saat-saat menjelang sakratul maut di tengah lautan, Ia baru menyatakan ingin kembali dan taubat kepada Allah SWT, dan menyatakan keimanannya pada saat tidak berguna lagi. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

فَلَمَّا رَاَوْا بَأْسَنَاۗ قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِاللّٰهِ وَحْدَهٗ وَكَفَرْنَا بِمَا كُنَّا بِهٖ مُشْرِكِيْنَ ٨٤ فَلَمْ يَكُ يَنْفَعُهُمْ اِيْمَانُهُمْ لَمَّا رَاَوْا بَأْسَنَا ۗسُنَّتَ اللّٰهِ الَّتِيْ قَدْ خَلَتْ فِيْ عِبَادِهٖۚ وَخَسِرَ هُنَالِكَ الْكٰفِرُوْنَ ࣖ ٨٥

84.  Maka tatkala mereka melihat azab kami, mereka berkata: "Kami beriman Hanya kepada Allah saja, dan kami kafir kepada sembahan-sembahan yang Telah kami persekutukan dengan Allah".

85.  Maka iman mereka tiada berguna bagi mereka tatkala mereka Telah melihat siksa kami. Itulah sunnah Allah yang Telah berlaku terhadap hamba-hamba-Nya. dan di waktu itu binasalah orang-orang kafir. (QS. Ghafir: 84-85)

Abu Daud At-Thayaalisy berkata, telah menyampaikan kepada kami, dari ’Adi bin Tsabit dan ’Atho bin Al-Saib, dari Said bin Jabir, dari Ibnu Abbas berkata :

لَوْ رَأَيْتَنِي وَأَنَا آَخِذٌ مِنْ حَالِ اْلبَحْرِ(طِيْنُهُ) فَأَدُسُّهُ فِي فَمِ فِرْعَوْنَ مَخَافَةً أَنْ يَنَالُهُ الرَّحْمَةُ" (رواه الترمذي)

”Rasulullah SAW bersabda : Jibril berkata kepadaku : Seandainya engkau melihatku waktu itu bagaiman aku mengambil debu dari lautan dan menyemburkannya ke mulut Fir’aun agar tidak mendapatkan rahmat dan kasih sayang Allah SWT” (HR. Tirmidzi). Imam Tirmidzi mengatakan : ”Hadits ini hasan, gharib dan shahih”

Tatkala Fir’aun menyatakaan keimannnya dalam keadaan terjepit seperti itu, Allah SWT berfirman:

91. Apakah sekarang (baru kamu percaya), padahal Sesungguhnya kamu Telah durhaka sejak dahulu, dan kamu termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan. (QS. Yunus: 91)

Ayat ini menggunakan kalimat bertanya dengan nada pengingkaran (Istifham inkary), yang artinya Allah SWT tidak menerima taubatnya, lagi pula seandainya Ia dikembalikan ke dunia seperti sediakala, pasti Ia kembali kepada kelakuannnya, sebagaimana Allah SWT berfirman tentang orang-orang kafir:

بَلْ بَدَا لَهُمْ مَّا كَانُوْا يُخْفُوْنَ مِنْ قَبْلُ ۗوَلَوْ رُدُّوْا لَعَادُوْا لِمَا نُهُوْا عَنْهُ وَاِنَّهُمْ لَكٰذِبُوْنَ ٢٨

28.  Tetapi (sebenarnya) Telah nyata bagi mereka kejahatan yang mereka dahulu selalu menyembunyikannya [466]. sekiranya mereka dikembalikan ke dunia, tentulah mereka kembali kepada apa yang mereka telah dilarang mengerjakannya. dan Sesungguhnya mereka itu adalah pendusta belaka. (QS. Al-An’am: 28)

[466]  Maksudnya: mereka Sebenarnya tidak bercita-cita ingin dikembalikan ke dunia untuk beriman kepada Allah, tetapi perkataan itu semata-mata diucapkan Karena melihat kedahsyatan neraka.

Allah SWT berfirman:

92.  Maka pada hari Ini kami selamatkan badanmu[704] supaya kamu dapat menjadi pelajaran bagi orang-orang yang datang sesudahmu (QS. Yunus: 92)

[704]  yang diselamatkan Allah ialah tubuh kasarnya, menurut sejarah, setelah Fir'aun itu tenggelam mayatnya terdampar di pantai diketemukan oleh orang-orang Mesir lalu dibalsem, sehingga utuh sampai sekarang dan dapat dilihat di musium Mesir, Berhias.

Ibnu Abbas berkata, sebagian Bani Israil ragu tentang kematian Fir’aun, sehingga sebagian mereka ada yang mengatakan bahwa fir’aun tidak mati, akan tetapi laut diperintahkan untuk mengambangkan tubuhnya dan menghempaskannya ke daratan, Fir’aun dikenal dari baju besi yang dikenakannya.

Kebinasaan Fir’aun dan balatentaranya terjadi pada bulan Asyura. Sebagaimana diriwayatkan ileh Imam Bukhary, dari Ibnu Abbas RA berkata: “Tatakala nabi baru tiba di madinah, dan orang-orang yahudi yang tengah berpuasa hari Asyura berkata: Hari ini adalah hari kemenangan nabi Musa AS terhadap Fir’aun”. Rasulullah SAW bersabda:

"أَنْتُمْ أَحَقُّ بِمُوْسَى مِنْهُمْ فَصُوْمُوْا".

“Kalian lebih berhak dari mereka, maka berpuasalah!”

KEMENANGAN BANI ISRAIL

Setelah bencana pedih menimpa Fir’aun dan kaumnya, setelah kaum tiran itu ditenggelamkan yang pernah membuat Bani Israil menderita panjang, mereka seluruhnya binasa meninggalkan berbagai kenikmatan dan kekuasaan, dan Bani Israilah pewaris segala sesuatunya dari Fir’aun dan kaumnya, sebagaimana Allah SWT berfirman:

وَاَوْرَثْنَا الْقَوْمَ الَّذِيْنَ كَانُوْا يُسْتَضْعَفُوْنَ مَشَارِقَ الْاَرْضِ وَمَغَارِبَهَا الَّتِيْ بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ الْحُسْنٰى عَلٰى بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَۙ بِمَا صَبَرُوْاۗ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهٗ وَمَا كَانُوْا يَعْرِشُوْنَ ١٣٧

137.  Dan kami pusakakan kepada kaum yang telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya [560] yang telah kami beri berkah padanya. dan telah sempurnalah perkataan Tuhanmu yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. dan kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah dibangun mereka [561]. (QS. Al-A’raf: 137)

[560]  Maksudnya: negeri Syam dan Mesir dan negeri-negeri sekitar keduanya yang pernah dikuasai Fir'aun dahulu. sesudah kerjaan Fir'aun runtuh, negeri-negeri Ini diwarisi oleh Bani Israil.

[561]  yang dimaksud dengan Bangunan-bangunan Fir'aun yang dihancurkan oleh Allah ialah Bangunan-bangunan yang didirikan mereka dengan menindas Bani Israil, seperti kota Ramses; menara yang diperintahkan Hamaan mendirikannya dan sebagainya.

ISRAEL DAN TANAH YANG DIJANJIKAN

Kenikmatan-kenikmatan Allah SWT terhadap Bani Israil

Setelah Allah SWT menyelamatkan Bani Israil dari Fir’aun dan hulu balangnya, mereka telah diistirahatkan dari kezaliman, kesewenang-wenangan dan arogansi Bani Israel. Mereka berjalan hingga sampai ke pantai Timur, namun mereka tidak mendapatkan air untuk minum mereka dan hewan tunggangan mereka, lalu mereka mengadu kepada Nabi Musa AS dan meminta Nabi Musa AS agar Allah SWT memberi mereka air. Kemudian Allah SWT memerintahkan Nabi Musa AS agar memukulkan tongkatnya ke sebuah batu, tatkala batu itu dipukul oleh tongkatnya Nabi Musa AS, muncratlah 12 mata air, masing-masing qabilah Bani Israil mendapat satu mata air yang mengalir.

Kemudian mereka meneruskan perjalanan ke Gurun Sinai, matahari menyegat tubuh mereka, mereka mencari naungan pepohonan dan rumah-rumah, lalu mereka mengadu kembali kepada Musa AS, lalu Allah mengirim mereka awan tebal yang menaungi mereka dari sengatan matahari yang membakar kuli mereka, berkat karunia Allah SWT dan kenikmatannya.

Tak lama kemudian ketika perbekalan mereka hampir habis, sedangkan mereka tidak membawa cadangan logistik, merekapun meminta pula kepada nabi Musa AS agar Allah SWT menurunkan untuk mereka makanan. Maka Allah SWT pun menurunkan dua jenis makanan yaitu “Al-Manna dan Salwa”. Manna adalah jenis makanan yang turun dari langit rasanya manis seperti madu. Dan salwa adalah sejenis burung puyuh yang jumlahnya sangat banyak hampir menutupi permukaan tanah mereka, sebagaimana Allah SWT berfirman :

وَقَطَّعْنٰهُمُ اثْنَتَيْ عَشْرَةَ اَسْبَاطًا اُمَمًاۗ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى اِذِ اسْتَسْقٰىهُ قَوْمُهٗٓ اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْحَجَرَۚ فَانْۢبَجَسَتْ مِنْهُ اثْنَتَا عَشْرَةَ عَيْنًاۗ قَدْ عَلِمَ كُلُّ اُنَاسٍ مَّشْرَبَهُمْۗ وَظَلَّلْنَا عَلَيْهِمُ الْغَمَامَ وَاَنْزَلْنَا عَلَيْهِمُ الْمَنَّ وَالسَّلْوٰىۗ كُلُوْا مِنْ طَيِّبٰتِ مَا رَزَقْنٰكُمْۗ وَمَا ظَلَمُوْنَا وَلٰكِنْ كَانُوْٓا اَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُوْنَ ١٦٠

160.  Dan mereka kami bagi menjadi dua belas suku yang masing-masingnya berjumlah besar dan kami wahyukan kepada Musa ketika kaumnya meminta air kepadanya: "Pukullah batu itu dengan tongkatmu!". Maka memancarlah dari padanya duabelas mata air. Sesungguhnya tiap-tiap suku mengetahui tempat minum masing-masing. dan kami naungkan awan di atas mereka dan kami turunkan kepada mereka manna dan salwa[576]. (Kami berfirman): "Makanlah yang baik-baik dari apa yang Telah kami rezkikan kepadamu". mereka tidak menganiaya kami, tapi merekalah yang selalu menganiaya dirinya sendiri.

[576]  salah satu nikmat Tuhan kepada mereka ialah: mereka selalu dinaungi awan di waktu mereka berjalan di panas terik padang pasir. manna ialah: makanan manis sebagai madu. Salwa ialah: burung sebangsa puyuh.

Semua itu adalah karunia dan kenikmatan dari Allah SWT terhadap bani israil sebagai ganti dari kezaliman Fir’aun yang telah menimpa mereka, ha lni semestinya disikapi dengan penuh ketundukan dan rasa syukur kepada Allah SWT, dengan sikap taat dan istiqamah terhadap segala perintahNYA. Hal ini sudah sepantasnya bagi mereka, sebab mereka melihat langsung berbagai mukjizat yang ada pada nabi musa AS dan merasakan langsung berbagai kenikmatan yang diturunkan oleh Allah SWT kepada mereka, secara langsung dan beruntun. Kapan saja mereka menginginkannya dan memintanya, Allah SWT langsung mengabulkannya dan menurunkannya kepada mereka. Akan tetapi sangat disayangkan kemidian merek kufur nikmat dengan melakukan perbuatan yang tidak pantas bagi orang yang beriman.

Kemaksiatan Pertama Bani Israil

Setelah Bani Israil melihat berbagai kenikmatan dengan mata kepala mereka, dan menyaksikan kekuasaan Allah SWT dan karunianya, dalam perjalanan mereka melihat satu kaum menyembah berhala, lalu dengan bodohnya mereka meminta kepada Nabi Musa AS agar membuatkan berhala untuk mereka. Nabi Musa memberikan peringatan keras kepada Bani Israil, terkait dengan apa yang mereka minta, Nabi Musa menjelaskan bahwa para penyembah berhala itu adalah orang-orang yang sesat, agama mereka batil dan akhir kehidupan merka akan merugi dan binasa, lalu mengingatkan mereka seraya mengatakan bahwa bagaimana mungkin kalian akan meninggalkan begitu saja penghambaan kepada Allah SWT Yang Maha Esa, Yang Kuat dan perkasa, Yang telah memberikan nikmat dan karunianya kepada kalian, yang telah menyelamatkan kalian, lalu kalian dengan seenaknya minta sesembahan berhala dari batu yang tidak memberikan mudarat dan manfaat, yang tidak dapat mendengar dan melihat, yang tidak dapat menolong kalian dan menolak mudarat yang datang kepada kalian. Dan kalian telah menyaksikan dengan mata kepala kalian sendiri kasih sayang Allah SWT dan karuniaNYA. Peristiwa ini terekan jelas dalam Al-Qur’an, sebagaimana Allah SWT berfirman :

وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ الْبَحْرَ فَاَتَوْا عَلٰى قَوْمٍ يَّعْكُفُوْنَ عَلٰٓى اَصْنَامٍ لَّهُمْ ۚقَالُوْا يٰمُوْسَى اجْعَلْ لَّنَآ اِلٰهًا كَمَا لَهُمْ اٰلِهَةٌ ۗقَالَ اِنَّكُمْ قَوْمٌ تَجْهَلُوْنَ ١٣٨ اِنَّ هٰٓؤُلَاۤءِ مُتَبَّرٌ مَّا هُمْ فِيْهِ وَبٰطِلٌ مَّا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَ ١٣٩ قَالَ اَغَيْرَ اللّٰهِ اَبْغِيْكُمْ اِلٰهًا وَّهُوَ فَضَّلَكُمْ عَلَى الْعٰلَمِيْنَ ١٤٠

138.  Dan kami seberangkan Bani Israil ke seberang lautan itu[562], Maka setelah mereka sampai kepada suatu kaum yang tetap menyembah berhala mereka, Bani lsrail berkata: "Hai Musa. buatlah untuk kami sebuah Tuhan (berhala) sebagaimana mereka mempunyai beberapa Tuhan (berhala)". Musa menjawab: "Sesungguh-nya kamu Ini adalah kaum yang tidak mengetahui (sifat-sifat Tuhan)".

139.  Sesungguhnya mereka itu akan dihancurkan kepercayaan yang dianutnya dan akan batal apa yang seIalu mereka kerjakan.

140.  Musa menjawab: "Patutkah Aku mencari Tuhan untuk kamu yang selain dari pada Allah, padahal dialah yang Telah melebihkan kamu atas segala umat[563]. (QS. Al-A’raf:138-140)

[562]  Maksudnya: bagian utara dari laut Merah.

[563]  Bani Israil yang Telah diberi rahmat oleh Allah dan dilebihkannya dari segala ummat ialah nenek moyang mereka yang berada di masa nabi Musa a.s.

Nabi Musa AS pergi meninggalkan Bani Isaril untuk berjumpa dengan Allah SWT

Allah SWT mewasiatkan Nabi Musa AS untuk mendaki sebuah bukit dan berdiam di sana selama 30 malam, setelah selesai 30 malam Allah SWT akan memberikan kepadanya lempengan batu tulis dan mencatatkan untuknya di atas lempengan tersebut beberapa wasiat yang ditujukan kepada Bani Israil agar berpegang teguh kepada wasiat tersebut.

Imam Baidhawy, An-Nasfy, Al-Khatib dan Al-Alusy menyebutkan bahwa Nabi Musa AS menjanjikan kaumnya Bani Israil, saat mereka berada di Mesir, jika Allah membinasakan Fir’aun Allah akan mendatangkan untuk mereka catatan peringatan dan wasiat yang harus mereka jalankan. Tatkala hal itu terjadi Musa As memenuhi janjinya, Iapun meminta kepada Allah SWT catatan tersebut. Kemudian Allah SWT memerintahkannya untuk berpuasa 30 hari pada bulan dzul qa’dah, setelah tuntas menjalankannya, Nabi Musa As menghadap Allah SWT, namun para malaikat menghadangnya, mereka mencium bau mulut Nabi Musa yang tidak enak, Musa AS mengakui telah memakanan tumbuhan tertentu yang menimbulkan bau, lalu Allah SWT memerintahkannya kembali untuk berpuasa 10 hari di bulan Dzul Hijjah.

Imam Al-Dailamy mentakhrij dari ibnu Abbas, juga meriwayatkan hal yang sama. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

۞ وَوٰعَدْنَا مُوْسٰى ثَلٰثِيْنَ لَيْلَةً وَّاَتْمَمْنٰهَا بِعَشْرٍ فَتَمَّ مِيْقَاتُ رَبِّهٖٓ اَرْبَعِيْنَ لَيْلَةً ۚوَقَالَ مُوْسٰى لِاَخِيْهِ هٰرُوْنَ اخْلُفْنِيْ فِيْ قَوْمِيْ وَاَصْلِحْ وَلَا تَتَّبِعْ سَبِيْلَ الْمُفْسِدِيْنَ ١٤٢

142.  Dan Telah kami janjikan kepada Musa (memberikan Taurat) sesudah berlalu waktu tiga puluh malam, dan kami sempurnakan jumlah malam itu dengan sepuluh (malam lagi), Maka sempurnalah waktu yang Telah ditentukan Tuhannya empat puluh malam. dan Berkata Musa kepada saudaranya yaitu Harun: "Gantikanlah Aku dalam (memimpin) kaumku, dan perbaikilah[564], dan janganlah kamu mengikuti jalan orang-orang yang membuat kerusakan". (QS. Al-A’raf:142)

[564]  Maksudnya: perbaikilah dirimu dan kaummu serta hal ihwal mereka.

Sebelum Nabi Musa meninggalkan kaumnya untuk bertemu dengan Rabbnya, Ia menitipkan amanat dakwahnya kepada saudaranya Harun AS, seraya mengingatkan agar Harun senantiasa memperhatikan kemaslahatan kaumnya, dan senantiasa mengawasi gerak-gerik dan prilakunya.

Setelah tuntas Nabi Musa berpuasa 40 hari, Ia bergegas berbicara kepada Rabbnya agar diperboleh melihatnya, akan tetapi Allah SWT menegaskan bahwa Ia tak akan dapat melihat-NYA, sebagaimana Allah SWT berfirman :

وَلَمَّا جَاۤءَ مُوْسٰى لِمِيْقَاتِنَا وَكَلَّمَهٗ رَبُّهٗۙ قَالَ رَبِّ اَرِنِيْٓ اَنْظُرْ اِلَيْكَۗ قَالَ لَنْ تَرٰىنِيْ وَلٰكِنِ انْظُرْ اِلَى الْجَبَلِ فَاِنِ اسْتَقَرَّ مَكَانَهٗ فَسَوْفَ تَرٰىنِيْۚ فَلَمَّا تَجَلّٰى رَبُّهٗ لِلْجَبَلِ جَعَلَهٗ دَكًّا وَّخَرَّ مُوْسٰى صَعِقًاۚ فَلَمَّآ اَفَاقَ قَالَ سُبْحٰنَكَ تُبْتُ اِلَيْكَ وَاَنَا۠ اَوَّلُ الْمُؤْمِنِيْنَ ١٤٣

143.  Dan tatkala Musa datang untuk (munajat dengan kami) pada waktu yang Telah kami tentukan dan Tuhan Telah berfirman (langsung) kepadanya, berkatalah Musa: "Ya Tuhanku, nampakkanlah (diri Engkau) kepadaku agar Aku dapat melihat kepada Engkau". Tuhan berfirman: "Kamu sekali-kali tidak sanggup melihat-Ku, tapi Lihatlah ke bukit itu, Maka jika ia tetap di tempatnya (sebagai sediakala) niscaya kamu dapat melihat-Ku". tatkala Tuhannya menampakkan diri kepada gunung itu[565], dijadikannya gunung itu hancur luluh dan Musa pun jatuh pingsan. Maka setelah Musa sadar kembali, dia berkata: "Maha Suci Engkau, Aku bertaubat kepada Engkau dan Aku orang yang pertama-tama beriman". (QS. Al-A’raf: 143)

[565]  para Mufassirin ada yang mengartikan yang nampak oleh gunung itu ialah kebesaran dan kekuasaan Allah, dan ada pula yang menafsirkan bahwa yang nampak itu hanyalah cahaya Allah. Bagaimanapun juga nampaknya Tuhan itu bukanlah nampak makhluk, hanyalah nampak yang sesuai sifat-sifat Tuhan yang tidak dapat diukur dengan ukuran manusia.

Di sini menjadi bahan diskusi yang luas antara Ahlussunnah yang memungkinkan melihat Allah SWT dan Mu’tazilah yang menentangnya. Akan tetapi hal itu tidak akan dibahas disini. Para Mufasssir berpendapat bagaimana mungkin nabi Musa minta agar ia dapat melihat Allah SWT, kalau Ia tahu hal itu tidak mungkin? Dari sinilah dalil memungkinkan melihat Allah SWT, jika tidak, Musa tidak akan memintanya. Seakan-akan Musa AS dengan nubuwwahnya semata telah mengetahui segala sesuatu.

MAKSIAT BANI ISRAEL KEDUA: PENYEMBAHAN ANAK SAPI

Bani Israel sebenarnya telah lama menyembah berhala sejak tinggal di Mesir, tatkala mereka beriman kepada nabi Musa AS, mereka tidak memiliki wawasan yang memadai untuk membentengi mereka dari nilai-nilai Fir’aun yang musyrik. Dahulu mereka di Mesir memuja sapi dan mengabadikannya pada lukisan-lukisan di dinding-dinding rumah mereka. Dari sini Para Ulama  berpendapat: ”termasuk bid’ah yang tidak disukai menggambar masjid dan mengukir mihran, karena hal itu tidak ada pada masa Rasulullah SAW. Umar bin Khattab RA berkata kepada tukang bangunan masjid : ”buatlah bangunan yang dapat melindungi manusia dari hujan, jangan engkau merahkan atau kuningkan!”.

Adalah seorang tokoh bani Israel yang bernama Samiry, sepeninggalnya nabi Musa AS menghadap Rabbnya di bukit Tursina, samiry memperkenalkan sesembahan baru anak sapi kepada kaumnya, seraya berkata : ”Inilah Tuhan kalian dan Tuhannya Nabi Musa”. Tatkala Nabi Musa AS kembali dan diberitakan perihal kaumnya, Ia langsung marah dan sedih seraya memperingatkan kaumnya : ”Bukankah Rabb kalian telah menjanjikan kebaikan bahwa kalian akan diberikan Taurat yang berisi petunjuk dan cahaya?”. Kaumnya pun berkata : ”Kami tidak pernah mengingkari janjimu, hanya saja kami diperdaya oleh Samiry”. Kemudian Musa AS menemui saudaranya Harun AS, sambil marah dan menarik janggutnya : ”Mengapa engkau tidak mengambil tindakan terhadap mereka yang telah menyembah sapi, atau menyusulku dan memberitahukan kepadaku tentang mereka?”. Harun berkata : ”Aku takut engkau mengatakan bahwa aku membuat Bani Israel terpecah, sebagian ikut aku dan sebagian lagi ikut samiry, juga bahwa aku menyusul engkau, padahal aku diperintahkan untuk tetap di tempat menunggumu kembali!”

Musa langsung menemui Samiry, ketika ditanya Ia beralasan bahwa kembali menyembah sapi karena Musa AS tidak berada di jalan yang benar. Lalu Musa AS berkata kepadanya: ”Pergilah engkau!, sesungguhnya Allah SWT telah menghukummu, dimana engkau hanya dapat berkata : ”jangan kau sentuh aku!”, akhirnya Ia stress karena stiap ada orang yang mendekat ia selalu mengatakan seperti itu, sampai akhirnya tiada seorangpun yang menghampirinya dan menyanjungnya. Lebih jelasnya simaklah ayat berikut ini:

قَالَ فَاِنَّا قَدْ فَتَنَّا قَوْمَكَ مِنْۢ بَعْدِكَ وَاَضَلَّهُمُ السَّامِرِيُّ ٨٥ فَرَجَعَ مُوْسٰٓى اِلٰى قَوْمِهٖ غَضْبَانَ اَسِفًا ەۚ قَالَ يٰقَوْمِ اَلَمْ يَعِدْكُمْ رَبُّكُمْ وَعْدًا حَسَنًا ەۗ اَفَطَالَ عَلَيْكُمُ الْعَهْدُ اَمْ اَرَدْتُّمْ اَنْ يَّحِلَّ عَلَيْكُمْ غَضَبٌ مِّنْ رَّبِّكُمْ فَاَخْلَفْتُمْ مَّوْعِدِيْ ٨٦ قَالُوْا مَآ اَخْلَفْنَا مَوْعِدَكَ بِمَلْكِنَا وَلٰكِنَّا حُمِّلْنَآ اَوْزَارًا مِّنْ زِيْنَةِ الْقَوْمِ فَقَذَفْنٰهَا فَكَذٰلِكَ اَلْقَى السَّامِرِيُّ ۙ ٨٧ فَاَخْرَجَ لَهُمْ عِجْلًا جَسَدًا لَّهٗ خُوَارٌ فَقَالُوْا هٰذَآ اِلٰهُكُمْ وَاِلٰهُ مُوْسٰى ەۙ فَنَسِيَ ۗ ٨٨ اَفَلَا يَرَوْنَ اَلَّا يَرْجِعُ اِلَيْهِمْ قَوْلًا ەۙ وَّلَا يَمْلِكُ لَهُمْ ضَرًّا وَّلَا نَفْعًا ࣖ ٨٩ وَلَقَدْ قَالَ لَهُمْ هٰرُوْنُ مِنْ قَبْلُ يٰقَوْمِ اِنَّمَا فُتِنْتُمْ بِهٖۚ وَاِنَّ رَبَّكُمُ الرَّحْمٰنُ فَاتَّبِعُوْنِيْ وَاَطِيْعُوْٓا اَمْرِيْ ٩٠ قَالُوْا لَنْ نَّبْرَحَ عَلَيْهِ عٰكِفِيْنَ حَتّٰى يَرْجِعَ اِلَيْنَا مُوْسٰى ٩١ قَالَ يٰهٰرُوْنُ مَا مَنَعَكَ اِذْ رَاَيْتَهُمْ ضَلُّوْٓا ۙ ٩٢ اَلَّا تَتَّبِعَنِۗ اَفَعَصَيْتَ اَمْرِيْ ٩٣ قَالَ يَبْنَؤُمَّ لَا تَأْخُذْ بِلِحْيَتِيْ وَلَا بِرَأْسِيْۚ اِنِّيْ خَشِيْتُ اَنْ تَقُوْلَ فَرَّقْتَ بَيْنَ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ وَلَمْ تَرْقُبْ قَوْلِيْ ٩٤ قَالَ فَمَا خَطْبُكَ يٰسَامِرِيُّ ٩٥ قَالَ بَصُرْتُ بِمَا لَمْ يَبْصُرُوْا بِهٖ فَقَبَضْتُ قَبْضَةً مِّنْ اَثَرِ الرَّسُوْلِ فَنَبَذْتُهَا وَكَذٰلِكَ سَوَّلَتْ لِيْ نَفْسِيْ ٩٦ قَالَ فَاذْهَبْ فَاِنَّ لَكَ فِى الْحَيٰوةِ اَنْ تَقُوْلَ لَا مِسَاسَۖ وَاِنَّ لَكَ مَوْعِدًا لَّنْ تُخْلَفَهٗۚ وَانْظُرْ اِلٰٓى اِلٰهِكَ الَّذِيْ ظَلْتَ عَلَيْهِ عَاكِفًا ۗ لَنُحَرِّقَنَّهٗ ثُمَّ لَنَنْسِفَنَّهٗ فِى الْيَمِّ نَسْفًا ٩٧

85.  Allah berfirman: "Maka Sesungguhnya kami Telah menguji kaummu sesudah kamu tinggalkan, dan mereka telah disesatkan oleh Samiri[937].

86.  Kemudian Musa kembali kepada kaumnya dengan marah dan bersedih hati. Berkata Musa: "Hai kaumku, bukankah Tuhanmu telah menjanjikan kepadamu suatu janji yang baik? Maka apakah terasa lama masa yang berlalu itu bagimu atau kamu menghendaki agar kemurkaan dari Tuhanmu menimpamu, dan kamu melanggar perjanjianmu dengan aku?".

87.  Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak melanggar perjanjianmu dengan kemauan kami sendiri, tetapi kami disuruh membawa beban-beban dari perhiasan kaum itu, Maka kami Telah melemparkannya, dan demikian pula Samiri melemparkannya[938]",

88.  Kemudian Samiri mengeluarkan untuk mereka (dari lobang itu) anak lembu yang bertubuh dan bersuara[939], Maka mereka berkata: "Inilah Tuhanmu dan Tuhan Musa, tetapi Musa Telah lupa".

89.  Maka apakah mereka tidak memperhatikan bahwa patung anak lembu itu tidak dapat memberi jawaban kepada mereka, dan tidak dapat memberi kemudharatan kepada mereka dan tidak (pula) kemanfaatan?

90.  Dan Sesungguhnya Harun Telah Berkata kepada mereka sebelumnya: "Hai kaumku, Sesungguhnya kamu Hanya diberi cobaan dengan anak lembu. itu dan Sesungguhnya Tuhanmu ialah (Tuhan) yang Maha pemurah, Maka ikutilah Aku dan taatilah perintahku".

91.  Mereka menjawab: "Kami akan tetap menyembah patung anak lembu ini, hingga Musa kembali kepada kami".

92.  Berkata Musa: "Hai Harun, apa yang menghalangi kamu ketika kamu melihat mereka Telah sesat,

93.  (sehingga) kamu tidak mengikuti Aku? Maka apakah kamu Telah (sengaja) mendurhakai perintahku?"

94.  Harun menjawab' "Hai putera ibuku, janganlah kamu pegang janggutku dan jangan (pula) kepalaku; Sesungguhnya Aku khawatir bahwa kamu akan Berkata (kepadaku): "Kamu telah memecah antara Bani Israil dan kamu tidak memelihara amanatku".

95.  Berkata Musa: "Apakah yang mendorongmu (berbuat demikian) Hai Samiri?"

96.  Samiri menjawab: "Aku mengetahui sesuatu yang mereka tidak mengetahuinya, Maka Aku ambil segenggam dari jejak rasul[940] lalu Aku melemparkannya, dan Demikianlah nafsuku membujukku".

97.  Berkata Musa: "Pergilah kamu, Maka Sesungguhnya bagimu di dalam kehidupan di dunia Ini (hanya dapat) mengatakan: "Janganlah menyentuh (aku)"[941]. dan Sesungguhnya bagimu hukuman (di akhirat) yang kamu sekali-kali tidak dapat menghindarinya, dan Lihatlah Tuhanmu itu yang kamu tetap menyembahnya. Sesungguhnya kami akan membakarnya, Kemudian kami sungguh-sungguh akan menghamburkannya ke dalam laut (berupa abu yang berserakan). (QS. Thaha: 85-97)

[937]  Samiri ialah seorang dan Bani Israil dari suku Assamirah.

[938]  Maksudnya: mereka disuruh membawa perhiasan dari emas kepunyaan orang-orang Mesir. lalu oleh Samiri dianjurkan agar perhiasan itu dilemparkan ke dalam api yang Telah dinyalakannya dalam suatu lobang untuk dijadikan patung berbentuk anak lembu. Kemudian mereka melemparkannya dan diikuti pula oleh Samiri. lihat selanjutnya not. 570.

[939]  mereka membuat patung anak lembu dari emas. para Mufassirin berpendapat bahwa patung itu tetap patung tidak bernyawa dan suara yang seperti lembu itu hanyalah disebabkan oleh angin yang masuk ke dalam rongga patung itu dengan tekhnik yang dikenal oleh Samiri waktu itu dan sebagian Mufassirin ada yang menafsirkan bahwa patung yang dibuat dari emas itu Kemudian menjadi tubuh yang bernyawa dan mempunyai suara lembu.

[940]  yang dimaksud dengan jejak rasul di sini ialah ajaran-ajarannya. menurut faham Ini Samiri mengambil sebahagian dari ajaran-ajaran Musa Kemudian dilemparkannya ajaran-ajaran itu sehingga dia menjadi sesat. menurut sebahagian ahli tafsir yang dimaksud dengan jejak rasul ialah jejak telapak kuda Jibril a.s. artinya Samiri mengambil segumpal tanah dari jejak itu lalu dilemparkannya ke dalam logam yang sedang dihancurkan sehingga logam itu berbentuk anak sapi yang mengeluarkan suara.

[941]  Maksudnya: supaya Samiri hidup terpencil sendiri sebagai hukuman di dunia. dan sebagai hukuman di akhirat, ia akan ditempatkan di didalam neraka.

Penyesalan Bani Israil

Bani Israil menyesal atas keteledoran mereka, merekapun memohon ampun kepada Allah SWT, lalu Nabi Musa AS menyampaikan wahyu bahwa taubat mereka akan diterima bila mereka mau membunuh diri mereka sendiri, sebagai puncak menghancurkan syahwatnya dan mensucikannya dari kejahatan dan dosa. Pada saat itulah Allah menerima taubat mereka. Allah SWT berfirman :

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اِنَّكُمْ ظَلَمْتُمْ اَنْفُسَكُمْ بِاتِّخَاذِكُمُ الْعِجْلَ فَتُوْبُوْٓا اِلٰى بَارِىِٕكُمْ فَاقْتُلُوْٓا اَنْفُسَكُمْۗ ذٰلِكُمْ خَيْرٌ لَّكُمْ عِنْدَ بَارِىِٕكُمْۗ فَتَابَ عَلَيْكُمْ ۗ اِنَّهٗ هُوَ التَّوَّابُ الرَّحِيْمُ ٥٤

54.  Dan (ingatlah), ketika Musa Berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, Sesungguhnya kamu Telah menganiaya dirimu sendiri Karena kamu Telah menjadikan anak lembu (sembahanmu), Maka bertaubatlah kepada Tuhan yang menjadikan kamu dan Bunuhlah dirimu[49]. hal itu adalah lebih baik bagimu pada sisi Tuhan yang menjadikan kamu; Maka Allah akan menerima taubatmu. Sesungguhnya dialah yang Maha Penerima Taubat lagi Maha Penyayang." (QS. Al-Baqarah: 54)

[49]  Membunuh dirimu ada yang mengartikan: orang-orang yang tidak menyembah anak lembu itu membunuh orang yang menyembahnya. Adapula yang mengartikan: orang yang menyembah patung anak lembu itu saling bunuh-membunuh

MAKSIAT KEEMPAT: MENGANGKAT GUNUNG DI ATAS BANI ISRAEL                 

Musa AS terus memperbaiki Bani Israil, akan tetapi Musa AS melihat mereka tetap keras dan membandel, saat itu Allah SWT mengancam mereka dengan mengangkat sebuah gunung  ke atas mereka, mereka ketakutan dan meminta belas kasihan. Lalu Allah SWT memerintahkan kepada mereka agar komitmen dengan hukum-hukum Taurat, mempelajarinya dan tidak melalaikannya, agar merka benar-benar menjadi orang yang bertaqwa. Namun tetap saja ketika ketakutan itu telah hilang mereka kembali berpaling dari hidayah Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman :

وَاِذْ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهٖ يٰقَوْمِ اذْكُرُوْا نِعْمَةَ اللّٰهِ عَلَيْكُمْ اِذْ جَعَلَ فِيْكُمْ اَنْۢبِيَاۤءَ وَجَعَلَكُمْ مُّلُوْكًاۙ وَّاٰتٰىكُمْ مَّا لَمْ يُؤْتِ اَحَدًا مِّنَ الْعٰلَمِيْنَ ٢٠ يٰقَوْمِ ادْخُلُوا الْاَرْضَ الْمُقَدَّسَةَ الَّتِيْ كَتَبَ اللّٰهُ لَكُمْ وَلَا تَرْتَدُّوْا عَلٰٓى اَدْبَارِكُمْ فَتَنْقَلِبُوْا خٰسِرِيْنَ ٢١

20.  Dan (Ingatlah) ketika Musa Berkata kepada kaumnya: "Hai kaumku, ingatlah nikmat Allah atasmu ketika dia mengangkat nabi nabi diantaramu, dan dijadikan-Nya kamu orang-orang merdeka, dan diberikan-Nya kepadamu apa yang belum pernah diberikan-Nya kepada seorangpun diantara umat-umat yang lain".

21.  Hai kaumku, masuklah ke tanah Suci (Palestina) yang Telah ditentukan Allah bagimu[409], dan janganlah kamu lari kebelakang (karena takut kepada musuh), Maka kamu menjadi orang-orang yang merugi.

[409]  Maksudnya: tanah Palestina itu ditentukan Allah bagi kaum Yahudi selama mereka iman dan taat kepada Allah.

Terkatung-katungnya Bani Israil

Bani Israel tidak menuruti nasehat Nabi Musa AS, bahkan dengan nada meremehkan mereka berkata kepada Nabi Musa AS, padahal sesungguhnya mereka membangkang dan penakut:

قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَا ۖفَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ ٢٤

24.  Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya kami Hanya duduk menanti disini saja". (QS. Al-Maidah: 24)

Sekian lama Musa AS mendakwahkan bani Israel dan memperbaiki akhlak dan kelakuan mereka, ternyata hanya seperti itu tanggapannya. Nabi Musa hanya dapat mengadu kepada Allah SWT seraya berkata :

رَبِّ لاَ سُلْطَانَ لِي إِلاَّ عَلَى نَفْسِي وَأَخِي فَاقْضِِ بِعَدْلِكَ بَيْنَنَا وَبَيْنَ هَؤُلاَءِ اْلفَاسِقِيْنَ

“Ya Rabb! Aku tidak memiliki kemampuan lagi untuk mengendalikan kecuali terhadapp diriku sendiri dan saudaraku (Harun AS), maka putuskanlah Ya Rabb dengan keadilanMU antara kami dan orang-orang yang fasik itu”

Allah SWT mengabulkan pengaduan Nabi Musa AS dan memberitahukan kepadanya bahwa Bumi Suci telah diharamkan dari bani Israil, dan mereka akan terkatung_katung di gurun sina selama 40 tahun, dan mengingatkan nabi Musa agar tidak peduli dengan orang-orang yang tidak taat kepada Allah SWT. Sebagaimana Allah SWT berfirman:

قَالَ رَجُلَانِ مِنَ الَّذِيْنَ يَخَافُوْنَ اَنْعَمَ اللّٰهُ عَلَيْهِمَا ادْخُلُوْا عَلَيْهِمُ الْبَابَۚ فَاِذَا دَخَلْتُمُوْهُ فَاِنَّكُمْ غٰلِبُوْنَ ەۙ وَعَلَى اللّٰهِ فَتَوَكَّلُوْٓا اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ٢٣ قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِنَّا لَنْ نَّدْخُلَهَآ اَبَدًا مَّا دَامُوْا فِيْهَا ۖفَاذْهَبْ اَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَآ اِنَّا هٰهُنَا قٰعِدُوْنَ ٢٤ قَالَ رَبِّ اِنِّيْ لَآ اَمْلِكُ اِلَّا نَفْسِيْ وَاَخِيْ فَافْرُقْ بَيْنَنَا وَبَيْنَ الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ ٢٥ قَالَ فَاِنَّهَا مُحَرَّمَةٌ عَلَيْهِمْ اَرْبَعِيْنَ سَنَةً ۚيَتِيْهُوْنَ فِى الْاَرْضِۗ فَلَا تَأْسَ عَلَى الْقَوْمِ الْفٰسِقِيْنَ ࣖ ٢٦

23.  Berkatalah dua orang diantara orang-orang yang takut (kepada Allah) yang Allah Telah memberi nikmat atas keduanya: "Serbulah mereka dengan melalui pintu gerbang (kota) itu, Maka bila kamu memasukinya niscaya kamu akan menang. dan Hanya kepada Allah hendaknya kamu bertawakkal, jika kamu benar-benar orang yang beriman".

24.  Mereka berkata: "Hai Musa, kami sekali sekali tidak akan memasuki nya selama-lamanya, selagi mereka ada didalamnya, Karena itu pergilah kamu bersama Tuhanmu, dan berperanglah kamu berdua, Sesungguhnya kami Hanya duduk menanti disini saja".

25.  Berkata Musa: "Ya Tuhanku, Aku tidak menguasai kecuali diriku sendiri dan saudaraku. sebab itu pisahkanlah antara kami dengan orang-orang yang fasik itu".

26.  Allah berfirman: "(Jika demikian), Maka Sesungguhnya negeri itu diharamkan atas mereka selama empat puluh tahun, (selama itu) mereka akan berputar-putar kebingungan di bumi (padang Tiih) itu. Maka janganlah kamu bersedih hati (memikirkan nasib) orang-orang yang fasik itu." (QS. Al-Maidah: 23-26)

 

No comments:

Post a Comment

Wahyu