Sunday, March 15, 2026

Sakit dan Wafatnya Rasulullah

IBADAH haji perpisahan kini sudah selesai,  dan  sudah  tiba pula  saatnya  puluhan  ribu orang yang menyertai Nabi dalam ibadah ini akan pulang ke rumah masing-masing. Penduduk Najd pulang  mendaki  dataran  tinggi,  penduduk Tihama ke daerah pantai dan penduduk Yaman dan Hadzramaut serta daerah-daerah sekitarnya menuju arah selatan. Nabi dan sahabat-sahabat pun bertolak menuju Medinah.

Bila mereka sudah sampai  dan  menetap  lagi  di  kota  itu, keadaan  seluruh  semenanjung sudah aman. Tetapi, yang masih selalu menjadi pikiran buat  Muhammad  ialah  soal beberapa daerah  yang  masih  di bawah kekuasaan Rumawi dan Persia di daerah Syam, Mesir dan Irak. Dari pihak seluruh jazirah  itu kini   sudah   tidak   ada   apa-apa   lagi.   Orang  secara berbondong-bondong datang  memeluk  agama  Allah,  perutusan datang  berturut-turut  ke  Yathrib menyatakan kesetiaannya, menyatakan kehendaknya bernaung di bawah bendera Islam,  dan semua  orang sudah menggabungkan diri kepadanya ketika dalam ibadah haji perpisahan itu. Raja-raja Arab dengan  daerahnya masing-masing  itu  betapa  takkan  ikhlas  kepada  Nabi dan kepada  agamanya,  jika  oleh  Nabi  yang  ummi  itu  mereka dibiarkan tetap dengan kekuasaannya dan dalam kemerdekaannya sendiri pula! Bukankah Bad-han - Gubernur Persia di Yaman  - dibiarkannya  dalam  kekuasaan  itu  tatkala  ia  menyatakan keislamannya dan lebih menyukai kesatuan  wilayah  Arab  itu dan    membuang    penyembahan    api    Persia?   Timbulnya gerakan-gerakan semacam  pemberontakan  yang  diadakan  oleh beberapa  orang  di  sepanjang  jazirah,  tidak  sampai akan menghanyutkan Nabi dalam pemikirannya atau akan  menimbulkan rasa kuatir dalam  hati, setelah ternyata pengaruh agama baru ini sudah tersebar ke segenap penjuru, semua wajah menghadap hanya  kepada  Allah  Yang  Maha  Kuasa, kalbu beriman hanya kepada Allah Yang Maha Esa.

Itu sebabnya, tatkala ada tiga orang yang  mendakwakan  diri sebagai  nabi, oleh Muhammad tidak banyak dihiraukan. Memang ada beberapa kabilah yang  berjauhan  dari  Mekah  -  begitu mengetahui  Muhammad  mendapat sukses dengan ajarannya itu - cepat-cepat  pula  mereka  menyambut   orang   yang   datang mendakwakan  diri  nabi  dari  kabilah  mereka  itu,  dengan harapan mereka akan mendapatkan nasib seperti yang ada  pada Quraisy,  meskipun kabilah-kabilah ini, karena letaknya yang jauh dari pusat agama baru, tidak  mengetahui  keadaan  yang sebenarnya.  Akan  tetapi  ajakan kepada kebenaran Tuhan itu sudah benar-benar berakar di tanah Arab. Tidak  mudah  orang akan  dapat melawannya. Apa yang telah dialami Muhammad demi menyampaikan  ajaran  ini,   beritanya   sudah   sampai   ke mana-mana.  Kiranya  takkan  ada  orang yang sanggup memikul beban ini, selain putera  Abdullah  itu.  Setiap  ada  orang hendak   mendakwakan  diri  dengan  dasar  kepalsuan,  pasti kepalsuan itu akan segera terbongkar. Setiap ada orang  yang mendawakan  kenabian  tidak  pernah  ia  dalam nasibnya akan mendapat sukses secara berarti.

Datang Tulaiha - pemimpin Banu Asad, salah seorang  pahlawan Arab  dalam  perang  dan yang berkuasa di Najd - mendakwakan diri, bahwa dia seorang nabi dan rasul,  dan  ia  memperkuat dakwaannya itu dengan membuat ramalan mengenai sebuah tempat sumber air, ketika golongannya itu dalam  perjalanan  hampir mati  kehausan.  Tetapi selama Muhammad masih hidup ia tidak berani mengadakan "pemberontakan"  dan  baru  ia  mengadakan pemberontakan    itu   setelah   Rasulullah   berpulang   ke rahmatullah.   Pembangkangan   Tulaiha   ini   oleh   Khalid bin-'l-Walid  dihancurkan  dan  dia  sendiri kembali lagi ke pihak Muslimin dan menjadi orang Islam yang baik.

Juga Musailima, juga Aswad al-'Ansi, yang selama hidup Nabi, tidak  lebih  baik  daripada  nasib  Tulaiha.  Musailima ini pernah mengirim surat kepada Nabi  dengan  mengatakan  bahwa dia  nabi,  dan "Separoh bumi ini buat kami dan yang separoh lagi buat Quraisy; tapi Quraisy adalah golongan  yang  tidak suka berlaku adil."

Setelah  surat  itu  dibaca kedua orang utusan Musailima itu oleh Nabi ditatapnya, dan  hendak  memberikan  kesan  kepada mereka,  bahwa  Nabi  akan  menyuruh  supaya mereka dibunuh, kalau tidak karena memang adanya ketentuan bahwa para utusan harus  dijamin  keselamatannya. Kemudian Nabi membalas surat Musailima  dengan  mengatakan  ia  sudah  mendengarkan   isi suratnya dengan segala kebohongannya itu, dan bahwa bumi ini kepunyaan Allah yang akan  diwarisi  oleh  hamba-hamba  yang berbuat   kebaikan.  Dan  salam  bagi  orang  yang  mengikut bimbingan yang benar.

Adapun Aswad  al-'Ansi  -  penguasa  Yaman  sesudah  Bad-han meninggal  -  orang  ini  mendakwakan sebagai ahli sihir dan mengajak orang dengan sembunyi-sembunyi. Karena sudah merasa dirinya  sebagai  orang  penting  di  daerah  selatan, wakil Muhammad yang di Yaman diusirnya,  dan  dia  pergi  lagi  ke Najran,  anak Bad-han di sana dibunuhnya, isterinya dikawini dan   singgasana   diwarisinya.   Ia   hendak    menyebarkan pengaruhnya  di  kawasan  itu.  Tapi bahaya ini tidak banyak mempengaruhi pikiran Muhammad. Dalam hal ini tidak lebih  ia hanya  mengutus  orang  kepada  wakilnya1  di  Yaman  dengan perintah supaya Aswad dikepung  atau  dibunuh.  Sekali  lagi kaum  Muslimin  di  Yaman  berhasil  memalcsa Aswad, dan dia sendiri mati dibunuh isterinya sendiri sebagai balasan  atas dibunuhnya anak Bad-han suaminya yang dulu.

Sekembalinya   dari  ibadah  haji  perpisahan,  pikiran  dan perhatian Muhammad tertuju ke  bagian  utara,  sebab  daerahselatan sudah tidak perlu dikuatirkan lagi. Sebenarnya sejak terjadinya ekspedisi  Mu'ta,  dan  Muslimin  kembali  dengan membawa  rampasan  perang dan sudah merasa puas pula melihat kepandaian Khalid bin'l-Walid  menarik  pasukan,  sejak  itu pula    Muhammad    sudah   memperhitungkan   pihak   Rumawi matang-matang.  Ia   berpendapat   kedudukan   Muslimin   di perbatasan  Syam  itu  perlu sekali diperkuat, supaya mereka yang dulu pernah keluar dan jazirah ini ke Palestina,  tidak kembali  lagi  menghasut  perang  dan  mengerahkan  penduduk daerah itu. Oleh karena itu ia menyiapkan pasukan  perangnya yang cukup besar, seperti persiapannya yang dulu, tatkala ia mengetahui rencana Rumawi hendak menyerbu perbatasan jazirah itu  dan  dia sendiri yang memimpin pasukan sampai di Tabuk. Tetapi waktu  itu  pihak  Rumawi  sudah  menarik  pasukannya sampai  ke  perbatasan  dalam  negeri  dan  ke dalam benteng mereka sendiri. Sungguh pun begitu daerah  utara  ini  harus tetap  diperhitungkan,  kalau-kalau kenangan lama - di bawah lindungan Kristen dan pihak yang merasa  berkuasa  di  bawah Imperium  Rumawi  waktu  itu  -  akan  bangkit kembali dan mengumumkan perang kepada pihak  yang  pernah  mengeluarkan orang-orang Nasrani di Najran dan di luar Najran di bilangan Semenanjung Arab itu.

Oleh karena itu, selesai ibadah haji  perpisahan  di  Mekah, belum  lama  lagi  kaum  Muslimin  tinggal  di Medinah, Nabi mengeluarkan perintah supaya menyiapkan sebuah pasukan besar ke  daerah  Syam,  dengan  menyertakan  kaum  Muhajirin yang mula-mula, termasuk Abu Bakr dan Umar. Pasukan ini  dipimpin oleh  Usama  b.  Zaid b. Halitha. Usia Usama waktu itu masih muda sekali, belum melampaui  duapuluh  tahun.  Kalau  tidak karena   terbawa   oleh   kepercayaan   yang   teguh  kepada Rasulullah, pimpinan Usama atas orang-orang yang sudah lebih dahulu  dan  atas kaum Muhajirin serta sahabat-sahabat besar itu,  tentu   akan   sangat   mengejutkan   mereka.   Tetapi ditunjuknya Usama  b. Zaid  oleh  Nabi  dimaksudkan  untuk menempati tempat ayahnya yang sudah gugur dalam pertempuran di  Mu'ta dulu, dan akan menjadi kemenangan yang dibanggakan sebagai  balasan atas gugurnya ayahnya  itu,  di  samping semangat yang akan timbul  dalam iiwa pemuda-pemuda, juga untuk  mendidik  mereka membiasakan diri memikul beban tanggungjawab yang besar dan berat.

Muhammad   memerintahkan  kepada  Usama  supaya  menjejakkan kudanya di perbatasan  Balqa'  dengan  Darum  di  Palestina, tidak  jauh  dari  Mu'ta  tempat  ayahnya dulu terbunuh, dan supaya menyerang musuh Tuhan  itu  pada  pagi  buta,  dengan serangan  yang gencar, dan menghujani mereka dengan api. Hal ini supaya diteruskan tanpa berhenti sebelum  berita  sampai lebih   dulu  kepada  musuh.  Apabila  Tuhan  sudah  memberi kemenangan, tidak usah  lama-lama  tinggal  di  tempat  itu. Dengan  membawa  hasil  dan  kemenangan  itu ia harus segera kembali.

Sekarang Usama dan pasukannya berangkat ke Jurf (tidak  jauh dari  Medinah). Mereka mengadakan persiapan hendak berangkat ke Palestina. Tetapi, dalam pada mereka  sedang bersiap-siap itu  tiba-tiba  Rasulullah  jatuh  sakit, dan sakitnya makin keras juga, sehingga akhirnya tidak jadi mereka berangkat.

Bisa jadi orang akan bertanya: Bagaimana sebuah pasukan yang persiapan dan    keberangkatannya diperintahkan oleh Rasulullah, tidak  jadi  berangkat  karena  dia  sakit?  Ya, Perjalanan  pasukan  ke Syam yang akan mengarungi sahara dan daerah   tandus selama berhari-hari itu bukan soal ringan, dan tidak  pula  mudah  buat  kaum  Muslimin  - dengan Nabi yang sangat mereka  cintai  melebihi  cinta  mereka  kepada  diri sendiri  -  akan  meninggaIkan  Medinah  sedang  Nabi  dalam keadaan  sakit,  dan  yang  sudah  mereka  sadari  pula  apa sebenarnya dibalik sakitnya itu. Ditambah lagi mereka memang belum pernah melihat Nabi mengeluh karena  sesuatu  penyakit yang  berarti.  Penyakit yang pernah dideritanya tidak lebih dari kehilangan nafsu makan  yang  pernah  dialaminya  dalam tahun keenam Hijrah, tatkala ada tersiar berita bohong bahwa ia telah disihir oleh orang-orang Yahudi, dan satu  penyakit lagi yang pernah dideritanya sehingga karenanya ia berbekam, yaitu setelah termakan daging beracun  dalam  tahun  ketujuh Hijrah.  Cara hidupnya dan ajaran-ajarannya memang jauh dari gejala-gejala penyakit dan akibat-akibat  yang  akan  timbul karenanya.  Dalam membatasi diri dalam makanan, dan makannya yang hanya sedikit; kesederhanaannya  dalam  berpakaian  dan cara  hidup;  kebersihannya  yang  dipeliharanya  luar biasa dengan mengharuskan  wudu  yang  sangat  disukainya,  sampai pernah   ia   berkata:   kalau   tidak  karena  kuatir  akan memberatkan orang ia ingin mewajibkan penggunaan siwak2 lima kali  sehari,  -  kegiatannya  yang  tiada  pernah berhenti, kegiatan beribadat dari satu  segi  dan  kegiatan  olah-raga dari  segi  lain,  kesederhanaan  dalam segalanya - terutama dalam kesenangan; keluhurannya yang jauh  dari  segala  hawa nafsu,   dengan  jiwa  yang  begitu  tinggi  tiada  taranya; komunikasinya  dengan  kehidupan  dan  dengan  alam   dalam bentuknya yang sangat cemerlang, dan tiada putusnya, - semua itu menjauhkan dirinya dari penyakit  dan  dapat  memelihara kesehatan. Bentuk tubuh yang sempurna tiada cacat, perawakan yang tegap kuat, seperti halnya dengan Muhammad,  akan  jauh selalu dari penyakit.

Jadi  kalau  sekarang  ia  jatuh sakit, wajar sekali menjadi kekuatiran    sahabat-sahabat    dan    orang-orang     yang mencintainya.

Wajar  sekali  mereka  merasa  kuatir,  menyatakan betapa ia pernah mengalami kesulitan  dan  penderitaan  hidup  selarna duapuluh   tahun  terus-menerus.  Sejak  ia  terang-terangan berdakwah di Mekah mengajak orang menyembah Allah Yang tiada bersekutu   dan   meninggalkan  semua  berhala  yang  pernah disembah  nenek-moyang  mereka,  ia  sudah  mengalami  pahit getirnya  penderitaan-penderitaan yang sungguh menekan jiwa, sehingga ia terpisah dari sahabat-sahabatnya  yang  kemudian disuruhnya hijrah ke Abisinia, dan dia sendiri yang terpaksa berlindung  di  celah-celah  gunung  tatkala  pihak  Quraisy mengumumkan  pemboikotannya. Juga ketika ia berangkat hijrah

dari Mekah ke Medinah - setelah Ikrar  'Aqaba  -  ia  hijrah dalam  keadaan  yang  gawat  dan sangat berbahaya, ia hijrah tanpa ia ketahui lagi apa yang akan terjadi terhadap dirinya di  Medinah  kelak.  Pada  tahun-tahun pertama ia tinggal di sana, ia  telah  menjadi  sasaran  kongkalikong  dan  intrik orang-orang Yahudi.

Kemudian,  dengan  adanya pertolongan Tuhan orang di seluruh jazirah itu datang berbondong-bondong  menerima  agama  ini, tugas  dan  pekerjaannya telah bertambah jadi berlipat ganda banyaknya dan untuk penjagaannya  sangat  memerlukan  tenaga dan  daya  upaya  yang  sungguh berat. Begitu juga Nabi a.s. telah menghadapi sendiri beberapa  peperangan  yang  sungguh dahsyat  dan  mengerikan  sekali.  Mana pula saat yang lebih mengerikan daripada peristiwa  Uhud,  ketika  kaum  Muslimin dalam  keadaan  kucar-kacir,  ia  berJalan  mendaki  gunung, dengan terus-menerus  secara  ketat  diintai  oleh  Quraisy, dihujani  serangan sehingga gigi gerahamnya pecah! Mana pula saat yang lebih dahsyat kiranya daripada  peristiwa  Hunain, ketika  kaum Muslimin dalam pagi buta itu kembali mundur dan lari tunggang-langgang, sehingga kata Abu Sufyan: Hanya laut saja  yang akan menghentikan mereka. Sedang Muhammad berdiri tegak,  tidak  beranjak  surut  dari  tempatnya,  seraya  ia berseru  kepada  kaum-Muslimin:  Mau  ke  mana, mau ke mana! Kemarilah kemari! Kemudian mereka  kembali  sampai  mendapat kemenangan.  Tugas  risalah! Tugas wahyu! Dan itu daya upaya rohani  yang  sungguh  meletihkan  dalam  komunikasi   yang terus-menerus dengan rahasia alam nurani dan alam Ilahi. Itu daya upaya, yang oleh karenanya pernah  diceritakan  tentang Nabi  yang  berkata,  "Suruh Hud dan yang semacamnya membuat aku jadi tua."3

Semua itu disaksikan oleh sahabat-sahabat  Muhammad.  Mereka melihat  dia  memikul beban yang begitu berat tidak mengenal sakit. Apabila kemudian ia jatuh  sakit,  sudah  sepantasnya sahabat-sahabatnya  itu  jadi kuatir, dan menunda perjalanan dari markas mereka di Jurf ke  Syam,  sebelum  mereka  yakin benar  apa  yang  akan  terjadi dengan kehendak Tuhan kepada diri Nabi.

Ada suatu peristiwa yang membuat mereka  lebih  cemas  lagi. Pada malam pertama Muhammad merasa sakit ia tak dapat tidur, lama sekali tak dapat tidur. Dalam hatinya ia berkata, bahwa ia  akan  keluar  pada  malam  musim  itu,  musim panas yang disertai hembusan angin  di  sekitar  kota  Medinah.  Ketika itulah  ia  keluar,  hanya  ditemani  oleh  pembantunya, Abu Muwayhiba.  Tahukah  ke  mana  ia   pergi?   Ia   pergi   ke Baqi'l-Gharqad,   pekuburan   Muslim   di   dekat   Medinah. Sesampainya di pekuburan itu ia  berbicara  kepada  penghuni kubur,  katanya,  "Salam  sejahtera  bagimu,  wahai penghuni kubur! Semoga  kamu  selamat  akan  apa  yang  terjadi  atas dirimu,  seperti  atas  diri orang lain. Fitnah telah datang seperti malam  gelap-gulita,  yang  kemudian  menyusul  yang pertama, dan yang kemudian lebih jahat dari yang pertama."

Abu  Muwayhiba ini juga bercerita, bahwa ketika pertama kali sampai di Baqi'l-Gharqad Nabi berkata kepadanya:

"Aku mendapat perintah memintakan ampun untuk penghuni Baqi, ini. Baiklah engkau berangkat bersama aku!"

Setelah  memintakan  ampun dan tiba saatnya akan kembali, ia menghampiri Abu Muwayhiba seraya katanya:

"Abu Muwayhiba, aku telah diberi anak kunci  isi  dunia  ini serta  kekekalan  hidup  di dalamnya, sesudah itu surga. Aku disuruh memilih ini atau bertemu dengan Tuhan dan surga."

Kata Abu Muwayhiba:

 "Demi ayah bundaku! Ambil sajalah kunci isi  dunia  ini  dan hidup kekal di dalamnya, kemudian surga."

"Tidak,  Abu Muwayhiba," kata Muhammad. "Aku memilih kembali menghadap Tuhan dan surga."

Abu Muwayhiba bercerita apa yang telah dilihat dan apa  yang telah  didengarnya;  sebab  Nabi mulai menderita sakit ialah keesokan harinya setelah malam itu ia pergi ke Baqi'.  Orang jadi  makin  cemas,  dan pasukan tidak jadi bergerak. Memang benar, bahwa Hadis yang dibawa  melalui  Abu  Muwayhiba  ini oleh  beberapa  ahli  sejarah  diterima  dengan agak sangsi. Disebutkan bahwa bukan karena sakit Muhammad itu  saja  yang membuat  pasukan  tidak  jadi  bergerak ke Palestina, tetapi karena banyaknya orang yang menggerutu, yang disebabkan oleh penunjukan  Usama  dalam  usia  semuda  itu sebagai pemimpin pasukan yang terdiri dari orang-orang penting dalam kalangan Anshar  dan  Muhajirin  yang  mula-mula.  Itulah  yang lebih banyak mempengaruhi tidak berangkatnya pasukan itu  daripada sakitnya  Muhammad.  Dalam  memberikan pendapatnya ahli-ahli sejarah itu berpegang pada  peristiwa-peristiwa  yang  sudah pembaca  ikuti dalam bagian (bab) ini. Kalau kita tidak akan mendebat  mereka   yang   berpendapat   seperti   apa   yang diceritakan  oleh  Abu Muwayhiba secara terperinci itu, kita pun mendapat alasan  akan  menolak  dasar  kejadian-kejadian itu,  dan  menolak  kepergian  Nabi  ke Baqi'l-Gharqad serta memintakan ampunan buat penghuni kubur, juga adanya perasaan yang  kuat akan dekatnya waktu, yaitu waktu menghadap Tuhan. Ilmu pengetahuan masa kita sekarang ini  pun  tidak  menolak adanya   spiritisma   sebagai  salah  satu  gejala  psychis. Perasaan yang kuat  akan  dekatnya  ajal  itu  sudah  banyak dialami  orang, sehingga siapa saja tidak sedikit orang yang dapat   menceritakan   apa   yang    diketahuinya    tentang peristiwa-peristiwa  itu.  Juga  adanya hubungan antara yang hidup dengan yang mati, antara kesatuan masa  lampau  dengan masa  datang,  kesatuan  yang  tidak terbatas oleh ruang dan waktu, dewasa ini sudah pula dapat  ditentukan,  meskipun  - menurut  kodrat bentuk kita -masih terbatas sekali kita akan dapat mengungkapkan keadaan sebenarnya.

Kalau sudah itu yang dapat kita  lihat  sekarang  dan  sudah diakui  oleh  ilmu  pengetahuan,  tidak ada alasan kita akan menolak dasar peristiwa seperti apa  yang  diceritakan  oleh Abu  Muwayhiba  itu,  juga tak ada alasan kita dapat menolak adanya apa yang sudah dapat dipastikan  mengenai  komunikasi Muhammad dalam arti rohani dan spiritual dengan alam semesta ini demikian rupa, sehingga ia dapat menangkap persoalan itu sekian  kali  lipat  daripada yang biasa ditangkap oleh para ahli dalam bidang ini.

Keesokan harinya bila tiba waktunya  ia  ke  tempat  Aisyah, dilihatnya Aisyah sedang mengeluh karena sakit kepala: "Aduh kepalaku!" Tetapi ia berkata - sedang dia sudah mulai merasa sakit: "Tetapi akulah, Aisyah, yang merasa sakit kepala."

Tetapi  sakitnya  belum  begitu  keras  dalam  arti ia harus berbaring di tempat  tidur  atau  akan  merintanginya  pergi kepada  keluarga dan isteri-isterinya untuk sekedar mencumbu dan bergurau. Setiap didengarnya  ia  mengeluh  Aisyah  juga mengulangi lagi mengeluh sakit kepala.

Lalu  kata  Nabi, "Apa salahnya kalau engkau yang mati lebih dulu sebelum aku. Aku yang  akan  mengurusmu,  mengafanimu, menyembahyangkan kau dan menguburkan kau!"

Karena  senda-gurau  itu  cemburu kewanitaannya timbul dalam hati Aisyah yang masih muda  itu,  sekaligus  cintanya  akan gairah hidup ini, lalu katanya:

 "Dengan  begitu  yang  lain mendapat nasib baik. Demi Allah, dengan apa yang sudah kaulakukan itu seolah engkau  menyuruh aku pulang ke rumah dan dalam pada itu kau akan berpengantin baru dengan isteri-isterimu."

Nabi tersenyum, meskipun rasa sakitnya tidak mengijinkan  ia terus bergurau.

Setelah  rasa sakitnya terasa agak berkurang, ia mengunjungi isteri-isterinya seperti  biasa.  Tetapi  kemudian  sakitnya terasa  kambuh  lagi, dan terasa lebih keras lagi. Ketika ia sedang berada di rumah Maimunah ia sudah  tidak  dapat  lagi mengatasinya. Ia merasa perlu mendapat perawatan. Ketika itu dipanggilnya isteri-isterinya ke rumah Maimunah.  Dimintanya ijin kepada mereka, setelah melihat keadaannya begitu, bahwa ia  akan   dirawat   di   rumah   Aisyah.   Isteri-isterinya mengijinkan ia pindah.

Dengan  berikat  kepala,  ia  keluar  sambil bertopang dalam jalannya itu kepada Ali  b.  Abi  Talib  dan  kepada  'Abbas pamannya.  Ia  sampai di rumah Aisyah dengan kaki yang sudah terasa lemah sekali.

Pada hari-hari pertama ia jatuh sakit, demamnya sudah terasa makin  keras,  sehingga  ia  merasa  seolah seperti dibakar. Sungguh  pun  begitu,  ketika  demamnya  menurun  ia   pergi berjalan  ke  mesjid  untuk  memimpin  sembahyang.  Hal  ini dilakukannya selama  berhari-hari.  Tapi  tidak  lebih  dari sembahyang  saja.  Ia  sudah tidak kuat duduk bercakap-cakap dengan sahabat-sahabatnya. Namun begitu apa yang  dibisikkan orang  bahwa dia menunjuk anak yang masih muda belia di atas kaum Muhajirin dan Anshar  yang  terkemuka  untuk  menyerang Rumawi, terdengar juga oleh Nabi. Meskipun dari hari ke hari sakitnya bertambah  juga,  tapi  dengan  adanya  bisik-bisik demikian  itu  rasanya  perlu  ia bicara dan berpesan kepada mereka. Dalam hal ini ia berkata  kepada  isteri-isteri  dan keluarganya:

"Tuangkan  kepadaku  tujuh  kirbat  air dari pelbagai sumur, supaya  aku  dapat  menemui  mereka  dan  berpesan4   kepada mereka."

Lalu  dibawakan air dari  beberapa sumur, dan setelah oleh isteri-isterinya  ia  didudukkan  di  dalam  pasu  kepunyaan Hafsha,   ketujuh   kirbat  air  itu  disiramkan  kepadanya. Kemudian katanya: Cukup. Cukup

Lalu ia  mengenakan  pakaian  kembali,  dan  dengan  berikat kepala  ia pergi ke mesjid. Setelah duduk di atas mimbar, ia mengucapkan puji dan syukur kepada Allah, kemudian mendoakan dan  memintakan  ampunan  buat sahabat-sahabatnya yang telah gugur di  Uhud.  Banyak  sekali  ia  mendoakan  mereka  itu. Kemudian katanya :

"Saudara-saudara.  Laksanakanlah  keberangkatan  Usama  itu. Demi  hidupku.  Kalau  kamu  telah  banyak  bicara   tentang kepemirnpinnya,  tentang  kepemimpinan ayahnya dulu pun juga kamu banyak bicara.  Dia  sudah  pantas  memegang  pimpinan, seperti ayahnya dulu juga pantas memegang pimpinan."

Muhammad diam sebentar. Sementara itu orang-orang juga diam, tiada yang bicara. Kemudian ia meneruskan berkata lagi:

"Seorang hamba Allah oleh Tuhan telah disuruh memilih antara dunia  dan  akhirat  dengan  apa  yang  ada padaNya, maka ia memilih yang ada pada Tuhan."

Muhammad  diam  lagi,  dan  orang-orang  juga   diam   tidak bergerak.  Tetapi  Abu  Bakr  segera  mengerti,  bahwa  yang dimaksud oleh Nabi  dengan  kata-kata  terakhir  itu  adalah dirinya.  Dengan perasaannya yang sangat lembut dan besarnya persahabatannya dengan Nabi, ia tak dapat menahan  air  mata dan menangis sambil berkata:

"Tidak.  Bahkan  tuan  akan  kami tebus dengan jiwa kami dan anak-anak kami."

Kuatir rasa terharu Abu Bakr ini akan  menular  kepada  yang lain, Muhammad memberi isyarat kepadanya:

 "Sabarlah, Abu Bakr."

Kemudian dimintanya supaya semua pintu yang menuju ke mesjid ditutup, kecuali pintu yang  ke  tempat  Abu  Bakr.  Setelah semua pintu ditutup, katanya lagi:

"Aku  belum  tahu  ada  orang yang lebih bermurah hati dalam bersahabat dengan aku seperti  dia.  Kalau  ada  dari  hamba Allah  yang  akan  kuambil sebagai khalil (teman kesayangan) maka  Abu  Bakrlah   khalilku.   Tetapi   persahabatan   dan persaudaraan  ialah  dalam  iman,  sampai tiba saatnya Tuhan mempertemukan kita."

Bilamana Muhammad turun dari mimbar, sedianya  akan  kembali pulang  ke  rumah  Aisyah, tapi ia lalu menoleh kepada orang banyak itu dan kemudian katanya:

"Saudara-saudara  Muhajirin,   jagalah   kaum   Anshar   itu baik-baik;  sebab selama orang bertambah banyak, orang-orang Anshar akan seperti itu juga  keadaannya,  tidak  bertambah. Mereka  itu  orang-orang  tempat aku menyimpan rahasiaku dan yang telah memberi  perlindungan  kepadaku.  Hendaklah  kamu berbuat  baik  atas  kebaikan  mereka  itu  dan  maafkanlah5 kesalahan mereka."

Ia kembali ke rumah Aisyah. Tetapi energi yang  digunakannya selama  ia  dalam  keadaan sakit itu, telah membuat sakitnya terasa lebih berat  lagi.  Sungguh  suatu  pekerjaan  berat, terutama  buat  orang yang sedang menderita demam, ia keluar juga setelah disirami tujuh kirbat  air;  ia  keluar  dengan membawa  beban  pikiran  yang  sangat  berat: Pasukan Usama, nasib Anshar kemudian hari, nasib orang-orang Arab yang kini telah dipersatukan oleh agama baru itu dengan persatuan yang sangat kuat. Itu pula sebabnya, tatkala keesokan harinya  ia berusaha hendak bangun memimpin sembahyang seperti biasanya, ternyata ia sudah tidak kuat lagi. Ketika itulah ia berkata:

 "Suruh Abu Bakr memimpin orang-orang sembahyang."

Aisyah ingin sekali Nabi  sendiri  yang  melaksanakan  salat mengingat bahwa tampaknya sudah berangsur sembuh.

"Tapi  Abu  Bakr  orang yang lembut hati, suaranya lemah dan suka menangis kalau sedang membaca Qur'an," kata Aisyah.

Aisyah pun mengulangi kata-katanya itu. Tetapi dengan  suara lebih  keras  Muhammad berkata lagi, dengan sakit yang masih dirasakannya:

"Sebenarnya  kamu  ini  seperti  perempuan-perempuan  Yusuf. Suruhlah dia memimpin orang-orang bersembahyang!"

Kemudian   Abu   Bakr  datang  memimpin  sembahyang  seperti diperintahkan oleh Nabi.

Pada suatu hari karena Abu Bakr tidak ada di  tempat  ketika oleh Bilal dipanggil hendak bersembahyang, maka Umarlah yang dipanggil untuk memimpin orang-orang  bersembahyang  sebagai pengganti  Abu Bakr. Oleh karena Umar orang yang punya suara lantang, maka ketika mengucapkan takbir di mesjid,  suaranya terdengar oleh Muhammad dari rumah Aisyah.

"Mana  Abu  Bakr?"  tanyanya. "Allah dan kaum Muslimin tidak menghendaki yang demikian."

Dengan demikian orang dapat menduga, bahwa Nabi  menghendaki Abu  Bakr  sebagai  penggantinya  kemudian,  karena memimpin orang-orang  bersembahyang  sudah  merupakan  tanda  pertama untuk menggantikan kedudukan Rasulullah.

Tatkala  sakitnya  sudah  makin  keras, panas demamnya makin memuncak,   isteri-isteri   dan   tamu-tamu   yang    datang menjenguknya,  bila  meletakkan  tangan di atas selimut yang dipakainya, terasa sekali panas demam yang sangat meletihkan itu.  Dan Fatimah puterinya, setiap hari datang menengok. Ia sangat mencintai puterinya itu, cinta  seorang  ayah  kepada anak  yang  hanya  tinggal  satu-satunya  sebagai keturunan. Apabila  ia  datang  menemui  Nabi,  ia   menyambutnya   dan menciumnya,  lalu  didudukkannya  di tempat ia duduk. Tetapi setelah  sakitnya  demikian  payah,  puterinya  itu   datang menemuinya dan mencium ayahnya.

"Selamat  datang,  puteriku," katanya. Lalu didudukkannya ia disampingnya. Ada kata-kata yang dibisikkannya  ketika  itu, Fatimah lalu menangis. Kemudian dibisikkannya kata-kata lain Fatimah  pun  jadi  tertawa.  Bila  hal  itu   oleh   Aisyah ditanyakan, ia menjawab:

"Sebenarnya  saya  tidak  akan  membuka  rahasia  Rasulullah s.a.w.

Tetapi setelah Rasul wafat,  ia  mengatakan,  bahwa  ayahnya membisikkan kepadanya, bahwa ia akan meninggal oleh sakitnya sekali  ini.  Itu  sebabnya   Fatimah   menangis.   Kemudian dibisikkannya  lagi, bahwa puterinya itulah dari keluarganya yang pertama kali akan menyusul. Itu sebabnya ia tertawa.

Karena panas demam yang tinggi itu, sebuah bejana berisi air dingin  diletakkan disampingnya. Sekali-sekali ia meletakkan tangan ke dalam air itu lalu mengusapkannya ke muka.  Begitu tingginya  suhu  panas  demam  itu,  kadang  ia  sampai  tak sadarkan diri. Kemudian ia sadar kembali dengan keadaan yang sudah  sangat  payah  sekali.  Karena  perasaan  sedih  yang menyayat hati, pada  suatu  hari  Fatimah  berkata  mengenai penderitaan ayahnya itu:

"Alangkah beratnya penderitaan ayah!"

"Tidak.  Takkan  ada  lagi  penderitaan  ayahmu sesudah hari ini," jawabnya.

Maksudnya ia akan meninggalkan dunia  ini,  dunia  duka  dan penderitaan.

Suatu  hari  sahabat-sahabatnya  berusaha hendak meringankan penderitaannya    itu     dengan     mengingatkan     kepada nasehat-nasehatnya,  bahwa orang yang menderita sakit jangan mengeluh. Ia menjawab, bahwa apa yang dialaminya  dalam  hal ini  lebih  dari  yang  harus  dipikul oleh dua orang. Dalam keadaan sakit keras serupa itu dan  di  dalam  rumah  banyak orang, ia berkata:

"Bawakan  dawat dan lembaran, akan ku (minta) tuliskan surat buat kamu, supaya sesudah itu kamu tidak  lagi  akan  pernah sesat."

Dari  orang-orang  yang  hadir ada yang berkata, bahwa sakit Rasulullah s.a.w. sudah sangat gawat; pada  kita  sudah  ada Qur'an,  maka sudah cukuplah dengan Kitabullah itu. Ada yang menyebutkan, bahwa Umarlah yang mengatakan itu. Di  kalangan yang  hadir  itu terdapat perselisihan. Ada yang mengatakan: Biar dituliskan, supaya sesudah itu kita  tidak  sesat.  Ada pula yang keberatan karena sudah cukup dengan Kitabullah.

Setelah melihat pertengkaran itu, Muhammad berkata:

 "Pergilah  kamu  sekalian!  Tidak  patut  kamu berselisih di hadapan Nabi."

Tetapi Ibn 'Abbas masih berpendapat, bahwa  mereka  membuang waktu   karena  tidak  segera  menuliskan  apa  yang  hendak dikatakan oleh Nabi.  Sebaliknya  Umar  masih  tetap  dengan pendapatnya, bahwa dalam Kitab Suci Tuhan berfirman:

"Tiada  sesuatu yang Kami abaikan dalam Kitab itu." (Qur'an, 6:38)

Berita sakitnya Nabi yang bertambah keras itu telah  tersiar dari  mulut  ke  mulut,  sehingga  akhirnya  Usama  dan anak buahnya yang ada di Jurf itu turun pulang ke  Medinah.  Bila Usama  kemudian  masuk  menemui  Nabi  di rumah Aisyah, Nabi sudah  tidak  dapat  berbicara.  Tetapi  setelah  dilihatnya Usama,  ia  mengangkat tangan ke atas kemudian meletakkannya kepada Usama sebagai tanda mendoakan.

Melihat keadaannya  yang  demikian  keluarganya  berpendapat hendak  membantunya dengan pengobatan. Asma' - salah seorang kerabat Maimunah - telah menyediakan semacam  minuman,  yang pernah  dipelajari  cara  pembuatannya  selama ia tinggal di Abisinia. Tatkala Nabi sedang dalam keadaan  pingsan  karena demamnya itu, mereka mengambil kesempatan menegukkan minuman itu ke mulutnya. Bila ia sadar kembali ia bertanya:

 "Siapa yang membuatkan ini? Mengapa kamu melakukan itu?"

"Kami  kuatir  Rasulullah  menderita  sakit  radang  selaput dada," kata 'Abbas pamannya.

"Allah  tidak  akan  menimpakan  penyakit  yang demikian itu kepadaku."

Kemudian disuruhnya semua yang hadir dalam  rumah  -  supaya meminum  obat itu, tidak terkecuali Maimunah meskipun sedang berpuasa.

Muhammad memiliki harta tujuh dinar ketika penyakitnya mulai terasa  berat.  Kuatir  bila  ia  meninggal  harta  masih di tangan, maka dimintanya  supaya  uangnya  itu  disedekahkan. Tetapi  karena  kesibukan mereka merawat dan mengurus selama sakitnya dan penyakit yang masih terus memberat, mereka lupa melaksanakan perintahnya itu. Setelah hari Minggunya sebelum hari wafatnya ia sadar kembali dari pingsannya, ia  bertanya kepada  mereka:  Apa  yang  kamu lakukan dengan (dinar) itu? Aisyah menjawab, bahwa itu masih ada di tangannya.  Kemudian dimintanya   supaya   dibawakan.  Bilamana  uang  itu  sudah diletakkan di tangan Nabi, ia berkata:

"Bagaimanakah jawab  Muhammad  kepada  Tuhan,  sekiranya  ia menghadap Allah, sedang ini masih di tangannya."

Kemudian   semua   uang   dinar   itu   disedekahkan  kepada fakir-miskin di kalangan Muslimin.

Malam itu Muhammad  dalam  keadaan  tenang.  Panas  demamnya sudah   mulai   turun,  sehingga  seolah  karena  obat  yang diberikan keluarganya itulah yang sudah  mulai  bekerja  dan dapat melawan penyakitnya. Sampai-sampai karena itu ia dapat pula di waktu subuh keluar  rumah  pergi  ke  mesjid  dengan berikat  kepala  dan  bertopang  kepada Ali b. Abi Talib dan Fadzl bin'l-'Abbas. Abu  Bakr  waktu  itu  sedang  mengimami orang-orang bersembahyang. Setelah kaum Muslimin yang sedang melakukan salat itu melihat Nabi datang, karena rasa gembira yang   luarbiasa,  hampir-hampir  mereka  terpengaruh  dalam sembahyang itu. Tetapi Nabi memberi  isyarat  supaya  mereka meneruskan  salatnya.  Bukan  main  Muhammad  merasa gembira melihat semua itu.

Abu Bakr merasa apa yang telah  dilakukan  mereka  itu,  dan yakinlah  dia bahwa mereka tidak akan berlaku demikian kalau tidak karena Rasulullah. Ia surut dari tempat  sembahyangnya untuk  memberikan  tempat  kepada Muhammad. Tetapi Muhammad mendorongnya dari belakang seraya katanya Pimpin terus orang bersembahyang.  Dia  sendiri  kemudian  duduk di samping Abu Bakr dan sembahyang sambil duduk di sebelah kanannya

Selesai sembahyang ia menghadap  kepada  orang  banyak,  dan kemudian  berkata dengan suara agak keras sehingga terdengar sampai ke luar mesjid:

 "Saudara-saudara. Api (neraka)  sudah  bertiup.  Fitnah  pun datang  seperti  malam  gelap  gulita. Demi Allah, janganlah kiranya kamu  berlindung  kepadaku  tentang  apa  pun.  Demi Allah,  aku  tidak  akan  menghalalkan sesuatu, kecuali yang dihalalkan oleh Qur'an, juga  aku  tidak  akan  mengharamkan sesuatu,  kecuali  yang diharamkan oleh Qur'an. Laknat Tuhan kepada golongan yang mempergunakan pekuburan mereka  sebagai mesjid."

Melihat  tanda-tanda  kesehatan  Nabi  yang  bertambah maju, bukan main gembiranya kaum Muslimin, sampai-sampai Usama  b. Zaid  datang menghadap kepadanya dan minta ijin akan membawa pasukan ke Syam, dan Abu Bakrpun datang pula  menghadap dengan mengatakan:

"Rasulullah!6  Saya  lihat  tuan sekarang dengan karunia dan nikmat Tuhan sudah sehat kembali.  Hari  ini  adalah  bagian Bint Kharija. Bolehkah saya mengunjunginya?"

Nabi  pun  mengijinkan.  Abu  Bakr segera berangkat pergi ke Sunh di luar kota Medinah - tempat tinggal  isterinya.  Umar dan Ali juga lalu pergi dengan urusannya masing-masing. Kaum Muslimin sudah mulai  terpencar-pencar  lagi.  Mereka  semua dalam  suasana suka-cita dan gembira sekali, - sebab sebelum itu mereka semua dalam  kesedihan,  berwajah  suram  setelah mendapat  berita  bahwa  Nabi  dalam keadaan sakit, demamnya semakin keras sampai ia pingsan.

Sekarang ia kembali pulang ke rumah  Aisyah.  Senang  sekali hatinya  melihat  kaum Muslimin sudah memenuhi mesjid dengan hati bersemarak, meskipun ia masih merasakan badannya sangat lemah sekali.

Dipandangnya  laki-laki  itu  oleh Aisyah, dengan kalbu yang penuh pemujaan akan kebesaran orang itu, dan sekarang  penuh rasa  iba hati karena ia lemah, ia sakit. Ia ingin sekiranya ia dapat mencurahkan segala yang  ada  dalam  dirinya  untuk mengembalikan tenaga orang itu, mengembalikan hidupnya.

Akan  tetapi,  kiranya  perginya  Nabi  ke mesjid itu adalah suatu kesadaran batin,  yang  akan  disusul  oleh  kematian. Setelah  memasuki  rumah,  tiap sebentar tenaganya bertambah lemah juga. Ia melihat  maut  sudah  makin  mendekat.  Tidak sangsi  ia  bahwa  hidupnya hanya tinggal beberapa saat saja lagi.  Ya,  kiranya   apakah   yang   diperhatikannya   pada detik-detik  yang masih ada sebelum ia berpisah dengan dunia ini? Adakah ia  mengenangkan  hidupnya  sejak  diutus  Tuhan sebagai  pembimbing  dan  sebagai  nabi, mengenangkan segala yang pernah dialaminya selama itu, kenikmatan yang diberikan Tuhan  kepadanya  sampai  selesai, kemudian hati merasa lega karena kalbu orang-orang Arab  itu  sudah  terbuka  menerima agama  yang hak? Ataukah selama itu ia tinggal hanya membaca istighfar - meminta pengampunan  Tuhan  dan  dengan  seluruh jiwa  ia  menghadapkan  diri seperti yang biasanya dilakukan selama dalam hidupnya? Ataukah juga dalam saat-saat terakhir itu ia harus menahan penderitaan sakratulmaut sehingga tidak lagi punya tenaga akan mengingat?

Dalam hal ini beberapa sumber  masih  sangat  berlain-lainan sekali  keterangannya. Sebagian besar menyebutkan bahwa pada hari musim panas yang terjadi di seluruh semenanjung itu - 8 Juni  632  -  ia  minta  disediakan sebuah bejana berisi air dingin dan dengan meletakkan tangan ke dalam bejana  itu  ia mengusapkan air ke wajahnya; dan bahwa ada seorang laki-laki dari keluarga  Abu  Bakr  datang  ke  tempat  Aisyah  dengan sebatang  siwak di tangannya. Muhammad memandangnya demikian rupa, yang menunjukkan bahwa ia menginginkannya. Oleh Aisyah benda  yang di tangan kerabatnya itu diambilnya, dan setelah dikunyah (ujungnya) sampai lunak diberikannya  kepada  Nabi. Kemudian  dengan  itu ia menggosok dan membersihkan giginya. Sementara ia sedang dalam sakratulmaut, ia menghadapkan diri kepada  Allah  sambil berdoa, "Allahumma ya Allah! Tolonglah aku dalam sakratulmaut ini."

Aisyah berkata - yang pada waktu itu kepala Nabi  berada  di pangkuannya, "Terasa olehku Rasulullah s.a.w. sudah memberat di   pangkuanku.   Kuperhatikan   air   mukanya,    ternyata pandangannya  menatap  ke  atas  seraya  berkata, "Ya Handai Tertinggi7 dari surga."

"Kataku,  'Engkau  telah  dipilih  maka  engkau  pun   telah memilih.   Demi  Yang  mengutusmu  dengan  Kebenaran.'  Maka Rasulullah pun berpulang sambil bersandar antara  dada8  dan leherku  dan dalam giliranku. Aku pun tiada menganiaya orang lain. Dalam kurangnya pengalamanku9 dan  usiaku  yang  masih muda,  Rasulullah  s.a.w. berpulang ketika ia di pangkuanku. Kemudian kuletakkan kepalanya di atas  bantal,  aku  berdiri dan   bersama-sama   wanita-wanita  lain  aku  memukul-mukul mukaku."

Benarkah Muhammad sudah meninggal? Itulah yang masih menjadi perselisihan orang ketika itu, sehingga hampir-hampir timbul fitnah di kalangan mereka dengan  segala  akibat  yang  akan menjurus  kepada  perang  saudara,  kalau tidak karena Tuhan Yang menghendaki kebaikan juga untuk mereka dan  agama  yang sebenarnya ini.

Catatan kaki:

1  yaitu Mu'adh b. Jabal (A)

2  Siwak,  batang  kayu  kecil  dengan  dilunakkan  ujungnya dipakai menggosok dan membersihkan gigi (A)

3 Bandingkan: Al-Kasysyaf oleh Zamakhsyari (jilid 2 p.  117) dalam menafsirkan Surah Hud ayat 112 (11 : 112) dan Mufradat Raghib, sub verbo "dzall" (A).

4 Ahida ila, berarti 'berwasiat' (N), atau 'berpesan' (A).

5 Tayawaza 'an yakni 'afa 'an (N), 'memaafkan' (A).

6 Aslinya "Ya Nabiullah' (A)

7 Ar-Rafiq'-A'la pada umumnya ahli-ahli filologi mengartikan kata rafiq ini, dengan 'handai taulan;' 'yang lemah-lembut;' 'teman seperjalanan;' 'kawan hidup, suami atau isteri' (LA). Dalam istilah Hadis: rafiq berarti 'para nabi yang menempati tempat tertinggi,' untuk jamak dan tunggal (N);  kata  rafiq dalam  Qur'an  (4:  691 berarti 'teman  seperjalanan' (N) dan rafiq dalam doa di atas ada yang mengartikan  'Tuhan'  yakni 'Yang    lemah-lembut  kepada  hambaNya'  (N). Berarti 'teman' dalam  surga,  (Qur'an,  4:69)   demõkian   sebagian   besar ahli-ahli   tafsir   Qur'an.  Dalam  terjemahan  ini  dengan kira-kira dipergunakan kata 'Handai Tertinggi' (A).

8  Sahr  'berarti  paru-paru,  yakni  ia  meninggal   sedang bersandar di dadanya yang menjurus ke paru-paru' {N) (A).

9 Safah, harfiah: kebodohan (A). 


oleh Muhammad Husein

No comments:

Post a Comment

Perang Hunain