Dialah Nabi Sulaiman as, seorang nabi dari Bani Israil, anak seorang nabi (Nabi Daud as) dan nasabnya berakhir sampai di Nabi Ya’qub as. Menerima kekuasaan kerajaan dari ayahnya (Nabi Daud), lalu ia perbaharui masjidil Aqsha. Bilqis (ratu Saba’) dan pengikutnya datang kepadanya dengan berserah diri dan taat. Membuat perjanjian dengan para raja sehingga tunduk pada kekuataannya dan mengikuti kekuasaannya. [1]
Allah swt telah mengkaruniakan kepadanya
sebagaimana telah mengkaruniakan kepada ayahnya nikmat yang banyak sekali.
Antara lain: Memahami bahasa burung, Tunduknya angin dan jin kepadanya, Tembaga
yang lunak di tangannya. Dll. Firman Allah:
وَوَرِثَ سُلَيْمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ الطَّيْرِ وَاُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍۗ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ ١٦
16. Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud....QS. An
Naml
Mewarisi
kenabian dan kekuasaan, bukan warisan kekayaan, sebab ada anak yang lain,
sehingga ia tidak dikhususkan dalam masalah harta. Dan juga karena adanya
hadits Shahih, dari banyak sahabat; bahwa Rasulullah saw bersabda:
"لا نورث، ما تركنا فهو صدقة" وفي
لفظ: "نحن معاشر الأنبياء لا نورث"
kami
tidak diwarisi, yang kami tinggalkan semuanya adalah shadaqah. Dalam kalimat
lain: Kami para nabi tidak diwarisi.
Rasulullah
saw memberitahukan bahwa para Nabi tidak diwarisi hartanya sebagaimana manusia
pada umumnya. Semua hartanya menjadi sadaqah bagi siapapun sesudahnya untuk
fakir miskin, dan orang yang membutuhkan, tidak dikhususkan bagi kerabatnya
saja. [2]
Nabi Sulaiman
disebutkan dalam AL Qur’an sebanyak 17 (tujuh belas) kali, tujuh di antaranya
disebutkan berbarengan dengan ayahnya (Nabi Daud as). 17 kali itu adalah
sebagai berikut: [3]
Sepuluh tempat disebutkan nama Nabi Sulaiman tidak
bersama dengan ayahnya itu berbicara tentang:
a. Yahudi mengikuti bacaan Syetan di masa kekuasaan Sulaiman
Hal ini
terdapat dalam firman Allah:
وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۚ وَمَا كَفَرَ
سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ
اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ ۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ
مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۗ فَيَتَعَلَّمُوْنَ
مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖ ۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ
بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا
يَنْفَعُهُمْ ۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ
خَلَاقٍ ۗ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
١٠٢
102. Dan mereka mengikuti apa[4] yang dibaca oleh
syaitan-syaitan[5]
pada masa kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu
mengerjakan sihir), padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir),
Hanya syaitan-syaitan lah yang kafir (mengerjakan sihir). mereka mengajarkan
sihir kepada manusia dan apa yang diturunkan kepada dua orang malaikat[6] di negeri Babil yaitu
Harut dan Marut, ...QS. Al Baqarah
b. Ilmu Nabi Sulaiman
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ عِلْمًاۗ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلّٰهِ
الَّذِيْ فَضَّلَنَا عَلٰى كَثِيْرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ ١٥
15. Dan Sesungguhnya kami Telah memberi ilmu
kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi
Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman".
QS. AN Naml.
Hal ini memberikan isyarat
permulaan kisah. Dan pembukaan kisah ini diawali dengan penetapan nikmat
terbaik yang Allah berikan kepada Nabi Daud dan Nabi Sulaiman as; yaitu nikmat
ilmu. Tentang ilmu Nabi Daud as telah diuraikan dalam ayat lain; antara lain:
- ilmu tentang zabur, cara membacanya, interaksi alam
di sekitarnya, terkesimanya gunung dan burung karena keindahan suaranya
dan kesegaran lantunannya juga kedalaman penghayatannya dalam bermunajat
kepada Rabbnya.
- Terbebasnya ia dari hambatan-hambatan dan sekat yang
memisahkan dirinya dengan alam raya ini.
- Kemampuannya membuat peralatan perang
- Lunaknya besi di tangannya untuk dibuat apa saja
- Ilmu tentang peradilan
sengketa.
Sedangkan
Nabi Sulaiman dalam surah ini terdapat rincian apa saja yang telah Allah
ajarkan kepadanya seperti: mengetahui bahasa burung, ditambahkan dengan ayat
lain, seperti ilmu peradilan, angin yang ditundukkan Allah baginya.
Kisah
Nabi Sulaiman diawali dari kalimat ini: (ولقد آتينا داود
وسليمان علما) dan sebelum
ayat ini selesai telah diungkapkan tentag syukur Nabi Daud as dan Nabi Sulaiman
atas nikmat itu. Pernyataan tentang nilai, dan kedudukannya yang besar. Segala
puji bagi Allah yang telah melebihkannya dari pada kebanyakan hamba-Nya yang
beriman. Maka nyatalah nilai ilmu, dan keberadaannya sebagai pemberian besar
dari Allah kepada hamba-Nya. Keutamaan orang yang dierinya dari pada kaum
mukminin pada umumnya.
Di sini
tidak disebutkan jenis ilmu dan tema apa yang diberikan, karena semua itulah
yang dimaksudkan dan yang hendak ditampilkan. Hal ini juga untuk mengesankan
bahwa semua ilmu itu adalah anugerah Allah, dan sebaiknya setiap orang yang
berilmu mengetahui dari mana sumber ilmu itu, dan menghadapkan diri kepada
Allah dengan bersyukur, serta memanfaatkannya dalam ridha Allah yang telah
memberinya nikmat itu. Sehingga ilmu tidak akan menajuhkan pemiliknya dari
Allah, tidak melupakan-Nya, karena memang ilmu adalah salah satu pemberian dan
karunia-Nya.
Dan ilmu
yang menjauhkan hati dari Rabbnya adalah ilmu yang rusak, menyimpang dari
sumbernya, melenceng dari arahnya dan tersesat jalannya.
Ummat
manusia hari ini telah sampai pada fase baru perkembangan ilmu, yaitu dengan
mengurai atom dan mendayagunakannya. Akan tetapi kejahatan macam yang dilakukan
oleh manusia hari ini dengan ilmunya ini, ketika pemilik ilmu itu tidak pernah
menyebutkan asma Allah, tidak takut kepada Allah, tidak bersyukur kepada Allah,
tidak menghadapkan dirinya kepada Allah dengan ilmunya itu. Tidak ada yang
mereka lakukan kecuali kekejaman yang mengerikan seperti di Heroshima dan
Nagasaki. Tidak ada yang mereka sajikan kecuali ketakutan, goncangan di timur
dan barat, mengancamnya dengan kehancuran dan kemusnahan.
Setelah
menunjukkan nikmat ilmu itu kepada Nabi Daud dan Sulaiman as, keduanya
mengungkapkan syukur atas karunia itu, mengakui kedudukan dan nilainya. Nabi
Sulaiman mengungkapkan syukurnya:
وَوَرِثَ سُلَيْمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ
الطَّيْرِ وَاُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍۗ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ
١٦
16. Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud[7], dan dia berkata:
"Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung dan kami
diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu kurnia yang
nyata". QS. An Naml.
Maka
yang tampak pada ayat ini adalah ilmu tentang bahasa burung. Ada kemungkinannya
pula nikmat-nikmat lain. Ia tidak mewarisinya dari Nabi Daud, demikian juga
pemberian Allah yang lainnya.
c. Nabi Sulaiman mengetahui bahasa burung
16. ....: "Hai manusia, kami Telah diberi
pengertian tentang suara burung dan kami diberi segala sesuatu. (QS. An-Naml:
16)
Nabi
Sulaiman mengumumkannya kepada umat manusia sebagai ungkapan syukur, dan
pengungkapan akan karunia Allah, bukan keangkuhan atas sesama manusia. Dan
kemudian meneruskannya dengan pengakuan (إن هذا لهو الفضل
المبين ) anugerah Allah yang nyata. Tidak ada yang mengetahui bahasa
burung kecuali Allah, demikian juga tidak ada yang bisa memberikan semua nikmat
ini kecuali Allah. Allah yang menciptakan semua alam ini, yang berfirman:
وَمَا مِنْ دَاۤبَّةٍ فِى الْاَرْضِ وَلَا طٰۤىِٕرٍ يَّطِيْرُ بِجَنَاحَيْهِ اِلَّآ
اُمَمٌ اَمْثَالُكُمْ ۗمَا فَرَّطْنَا فِى الْكِتٰبِ مِنْ شَيْءٍ ثُمَّ اِلٰى رَبِّهِمْ
يُحْشَرُوْنَ ٣٨
38. Dan tiadalah binatang-binatang yang ada di
bumi dan burung-burung yang terbang dengan kedua sayapnya, melainkan umat
(juga) seperti kamu. QS. Al An’am
Mereka
tidak akan menjadi umat ketika tidak ada keterikatan hubungan satu dengan yang
lain, dan komunikasi tertentu, sarana tertentu untuk saling memahami antara
mereka. Hal ini terlihat dalam kehipdupan burung, hewan dan serangga. Para ahli
bidang ini berusaha memahami bahasa dan sarana interaktif mereka dengan
memperhatikan indera dan menduga-duga, tidak bisa dengan meyakinkan. Sedangkan
yang telah Allah berikan kepada Nabi Sulaiman as adalah kondisi khusus yang
luar biasa yang berbeda dengan kebiasaan manusia pada umumnya, bukan dengan
usaha dan rekayasa untuk memahami sarana komunikasi burung dan lain-lainnya,
berdasarkan analisa dan pengamatan indera, seperti yang dilakukan para ahlu
hari ini.
Kami
ingin menegaskan hal ini karena ada
sebagian ahli tafsir masa kini, yang terkesima dengan ilmu-ilmu baru berusaha
menafsirkan kisah Al Qur’an tentang Nabi Sulaiman as dalam hal ini dengan
menganggapnya sebagai salah satu bentuk daya tangkap terhadap bahasa burung,
hewan dan serangga lewat usaha ilmiah masa kini. Hal ini menyebabkannya keluar
dari kejadian luar biasa (mu’jizat) dan merupakan salah satu dampak dari
keterkaguman terhadap ilmu manusia yang sangat sedikit.
Padahal
hal ini adalah sesuatu yang sangat mudah bagi Allah, untuk mengajarkan salah
seorang hamba-Nya tentang bahasa burung, hewan dan serangga, sebagai pemberian
langsung dari-Nya, tanpa usaha dan rekayasa. Hal ini tidak lain hanyalah salah
satu pengungkapan sekat dari berbagai macam sekat yang Allah ciptakan. Dialah
Allah yang telah menciptakan berbagai macam makhluk ini, dan kemampuan memahami
bahasa burung dan hewan hanyalah salah satu kejadian luar biasa yang Allah
berikan kepada Nabi Sulaiman as. Kejadian lainnya seperti tunduknya jin dan
burung yang berada di bawah perintahnya, seperti pasukan lainnya dari bangsa
manusia. Kelompok burung yang Allah tundukkan kepadanya memiliki kemampuan
khusus yang lebih tinggi daripada kemampuan burung pada umumnya. Hal tampak
jelas dalam kisah Hudhud yang mengungkapkan kondisi ratu Saba’ dan kaumnya,
seperti yang dapat difahami oleh manusia pintar. Hal juga merupakan kejadian
luar biasa (mukjizat)
Sayyid Quthb
mengatakan:
Faktanya,
sesungguhnya sunnatullah dalam alam semesta ini menyatakan bahwa burung itu memiliki kemampuan khusus
yang berbeda satu sama lain, akan tetapi kemampuan itu tidak akan sampai pada
level kemampuan manusia. Bentuk burung yang seperti kita lihat adalah lingkaran
mata rantai yang rapi dalam kehidupan secara umum –ia tunduk kepada kaidah
umum- yang menuntut keberadaannya seperti yang ada.
Faktanya
pula bahwa hudhud yang ada pada hari ini adalah hudhud yang juga sudah ada
sejak beribu atau berjuta tahun yang lalu, sejak adanya hudhud. Dan
sesungguhnya ada faktor genetika yang turun temurun menjadikan hudhud itu
seperti yang pertama. Kalau ada perubahan, maka perubahan itu tidak akan sampai
mengeluarkannya dari jenis burung pada umumnya. Inilah sisi lain sunnatullah
yang bisa kita lihat di alam raya ini. Fakta yang valid ini tidak menghalangi
kejadian luar biasa ketika Allah sudah menghendakinya. Demikianlah hudhud Nabi
Sulaiman .
d. Nabi Sulaiman dan Jin
Kembali
pada kisah Nabi Sulaiman setelah mewarisi dari ayahnya dan pernyataanya bahwa
Allah telah memilihnya mendapatkan ilmu dan kekuasaan di muka bumi
وَحُشِرَ لِسُلَيْمٰنَ جُنُوْدُهٗ مِنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ
يُوْزَعُوْنَ ١٧
17. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya
dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam
barisan). QS. An Naml.
Inilah
pasukan Nabi Sulaiman, terdiri dari jin, manusia dan burung. Kalau manusia
sudah kita kenal, dan jin tidak kita kenali kecuali sebatas yang dikisahkan Al-Qur’an
kepada kita, yaitu makhluk yang Allah ciptakan dari api, mereka bisa melihat
manusia dan manusia tidak bisa melihatnya.
يٰبَنِيْٓ اٰدَمَ لَا يَفْتِنَنَّكُمُ الشَّيْطٰنُ كَمَآ اَخْرَجَ اَبَوَيْكُمْ
مِّنَ الْجَنَّةِ يَنْزِعُ عَنْهُمَا لِبَاسَهُمَا لِيُرِيَهُمَا سَوْءٰتِهِمَا ۗاِنَّهٗ
يَرٰىكُمْ هُوَ وَقَبِيْلُهٗ مِنْ حَيْثُ لَا تَرَوْنَهُمْۗ اِنَّا جَعَلْنَا الشَّيٰطِيْنَ
اَوْلِيَاۤءَ لِلَّذِيْنَ لَا يُؤْمِنُوْنَ ٢٧
27. ....Sesungguhnya ia dan pengikut-pengikutnya
melihat kamu dan suatu tempat yang kamu tidak bisa melihat mereka. QS. Al A’raf
(tentang
iblis atau syetan, dan iblis berasal dari jin). Mereka mampu mengganggu hati
manusia dengan keburukan dan memberikan inspirasi untuk berbuat maksiat –dan
kita tidak tahu bagaimana ia melakukannya- Dan bahwa ada di antara mereka yang beriman
dengan Rasulullah saw tanpa Rasulullah saw melihat iman mereka. Hanya Allah
yang meberitahukan hal ini kepada Rasulullah saw
قُلْ اُوْحِيَ اِلَيَّ اَنَّهُ اسْتَمَعَ نَفَرٌ مِّنَ الْجِنِّ فَقَالُوْٓا اِنَّا
سَمِعْنَا قُرْاٰنًا عَجَبًاۙ ١ يَّهْدِيْٓ اِلَى الرُّشْدِ فَاٰمَنَّا بِهٖۗ وَلَنْ
نُّشْرِكَ بِرَبِّنَآ اَحَدًاۖ ٢
1. Katakanlah (hai Muhammad): "Telah
diwahyukan kepadamu bahwasanya: Telah mendengarkan sekumpulan jin (akan Al
Quran), lalu mereka berkata: Sesungguhnya kami Telah mendengarkan Al Quran yang
menakjubkan,
2. (yang) memberi petunjuk kapada jalan yang
benar, lalu kami beriman kepadanya. dan kami sekali-kali tidak akan
mempersekutukan seseorangpun dengan Tuhan kami, QS. Jin.
Kita
mengakui bahwa Allah swt menundukkan sebagian jin itu kepada Nabi Sulaiman
untuk membangun gedung-gedung tinggi, patung-patung, piring-piring besar,
menyelam ke dalam laut, melaksanakan perintahnya dengan izin Allah. Di antara
mereka ada yang menampakkan dirinya bersama dengan manusia dan burung.
Dapat kami
katakan bahwa Allah swt telah menundukkan kepada Nabi Sulaiman sekelompok jin
dan burung sebagaimana Allah tundukkan baginya sekelompok manusia. Sebagaimana
tidak semua yang ada di muka bumi itu menjadi tentara Nabi Sulaiman. Karena
kekuasaannya tidak melebihi yang sekarang dikenal dengan Palestina, Libanon,
Suriah, Iraq, sampai ke sungai Efrat. Demikian juga tidak semua jin dan burung
tunduk kepadanya, hanya sebagian saja. Argumentasi yang kami gunakan untuk
menyatakan bahwa iblis dan keturunannya itu berasal dari jin adalah firman
Allah:
وَاِذْ قُلْنَا لِلْمَلٰۤىِٕكَةِ اسْجُدُوْا لِاٰدَمَ فَسَجَدُوْٓا اِلَّآ اِبْلِيْسَۗ
كَانَ مِنَ الْجِنِّ فَفَسَقَ عَنْ اَمْرِ رَبِّهٖۗ اَفَتَتَّخِذُوْنَهٗ وَذُرِّيَّتَهٗٓ
اَوْلِيَاۤءَ مِنْ دُوْنِيْ وَهُمْ لَكُمْ عَدُوٌّۗ بِئْسَ لِلظّٰلِمِيْنَ بَدَلًا
٥٠
50. ...dia adalah dari golongan jin, Maka ia
mendurhakai perintah Tuhannya.QS. Al Kahfi.
الَّذِيْ يُوَسْوِسُ فِيْ صُدُوْرِ النَّاسِۙ ٥ مِنَ الْجِنَّةِ وَالنَّاسِ ࣖ
٦
5. Yang membisikkan (kejahatan) ke dalam dada
manusia, dari (golongan) jin dan manusia.
6. Dari (golongan) jin dan manusia. QS. An Nas
Mereka
ini selalu menggoda dan mengganggu manusia pada masa Nabi Sulaiman. Dan mereka
tidak mungkin terus mengganggu manusia, jika mereka tunduk dan terikat dengan
perintah Nabi Sulaiman. Maka yang bisa difahami adalah bahwa hanya sebagian jin
saja yang ditundukkan kepadanya.
Dalam
hal burung, kami bersandar kepada fakta bahwa Nabi Sulaiman ketika mengabsen
burung, menngetahui bahwa Hudhud tidak ada, jika semua burung itu tunduk
kepadanya dikerahkan dalam pasukannya, juga tidak semua hudhud. Jika semuanya
maka ia tidak akan mampu mengatahui ketidak hadiran hudhud, yang merupakan satu
dari sekian juta burung. Ketika ia mengatakan:
وَتَفَقَّدَ الطَّيْرَ فَقَالَ مَا لِيَ لَآ اَرَى الْهُدْهُدَۖ اَمْ كَانَ مِنَ
الْغَاۤىِٕبِيْنَ ٢٠
"Mengapa
Aku tidak melihat hud-hud, apakah dia termasuk yang tidak hadir. QS. An Naml:20
Hal ini
menunjukkan bahwa burung itu adalah burung hudhud khusus baik jenis maupun
bentuknya. Maka burung yang ditundukkan kepada Nabi Sulaiman adalah jenis
burung hudhud tertentu, tidak semua burung. Hal ini juga didukung oleh fakta
bahwa Hudhud itu memiliki kemampuan khusus yang tidak dimiliki oleh hudhud pada
umumnya. Kelebihan mengharuskannya hanya ada pada jenis hudhud tertentu yang
ditundukkan bagi Nabi Sulaiman, tidak untuk semua hudhud apalagi semua burung.
Karena kemampuan yang dimiliki hudhud itu menyamai kecerdasan manusia genius
dan bertaqwa.
e. Nabi Sulaiman dan Semut
Nabi
Sulaiman memilki pasukan besar yang terdiri dari jin, manusia dan burung.
Sebuah kesatuan pasukan yang sangat besar.
وَحُشِرَ لِسُلَيْمٰنَ جُنُوْدُهٗ مِنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ
يُوْزَعُوْنَ ١٧
17. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya
dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam
barisan). QS. An Naml
Agar
tidak berantakan maka diikatlah mereka itu dengan ikatan keprajuritan, sehingga
tertib, rapi dan disiplin.
حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا
النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ
وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ١٨ فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا وَقَالَ رَبِّ اَوْزِعْنِيْٓ
اَنْ اَشْكُرَ نِعْمَتَكَ الَّتِيْٓ اَنْعَمْتَ عَلَيَّ وَعَلٰى وَالِدَيَّ وَاَنْ
اَعْمَلَ صَالِحًا تَرْضٰىهُ وَاَدْخِلْنِيْ بِرَحْمَتِكَ فِيْ عِبَادِكَ الصّٰلِحِيْنَ
١٩
18. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut
berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu,
agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak
menyadari";
19. Maka dia tersenyum dengan tertawa Karena
(mendengar) perkataan semut itu. dan dia berdoa: "Ya Tuhanku berilah Aku
ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau anugerahkan kepadaku
dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan amal saleh yang Engkau
ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam golongan hamba-hamba-Mu
yang saleh". QS. An Naml.
Pasukan
itu berjalan, pasukan Nabi Sulaiman yang terdiri dari jin, manusia dan burung,
dengan rapi dan teratur, dari yang terdepan sampai yang terakhir, dalam satu
barisan, bersambung, sehingga ketika mereka menemui lembah yang banyak semutnya
–karena banyaknya semut di sana sehingga disebut lembah semut. Ada seekor semut
yang berkata –semut pemimpin, kerajaan semut itu mirip kerajaan lebah, sangat
rapi strukturnya- bermacam-macam tugasnya, dan semuanya melaksanakan tugas itu
dengan rapi dan menakjubkan, pada umumnya tidak mampu ditiru manusia berbuat
sepertinya. Mereka memiliki akal yang tinggi dan kemampuan yang membanggakan.
Semut itu mengatakan dengan cara yang dapat difahami oleh kaum semut, dengan
bahasa yang telah mereka biasa pergunakan:
”Hai
semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu, agar kamu tidak diinjak oleh
Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak menyadari";
Nabi
Sulaiman faham apa yang dikatakan semut itu, ia berlapang dada memahami apa
yang dikatakan. Ini adalah nikmat Allah atas dirinya dan menghubungkannya dengan
alam lain yang terisolir dari kebanyakan manusia. Nabi Sulaiman berlapang dada
kepadanya karena inilah keajaiban dari sekian banyak keajaiban. Semut memiliki
pemahaman seperti itu. Ketika Nabi Sulaiman memahaminya:
فَتَبَسَّمَ ضَاحِكًا مِّنْ قَوْلِهَا
Maka dia
tersenyum dengan tertawa Karena (mendengar) perkataan semut itu.
Dengan
cepat ia merespon kejadian itu, mengembalikan hatinya kepada Allah yang telah
memberinya nikmat yang luar biasa, membukakannya dengan alam lain yang
terisolir dari makhluk lain. Ia menghadapkan dirinya kepada Allah dengan
pengakuan:
19... dan dia berdoa: "Ya
Tuhanku berilah Aku ilham untuk tetap mensyukuri nikmat mu yang Telah Engkau
anugerahkan kepadaku dan kepada dua orang ibu bapakku dan untuk mengerjakan
amal saleh yang Engkau ridhai; dan masukkanlah Aku dengan rahmat-Mu ke dalam
golongan hamba-hamba-Mu yang saleh". (QS. An-Naml)
(رب ) panggilan
yang mengesankan kedekatan dan komunikasi langsung tanpa batas
(أوزعني ) kumpulkan
kami semua, kumpulkan seluruh anggota tubuh dan perasaanku
f. Nabi Sulaiman dan Ratu Saba’
AL Qur’an
menunjukkan bahwa Nabi Sulaiman memahami keinginan burung, baik lewat suara
maupun hatinya. Lalu ia berdialog dengannya: Burung itu tunduk kepada
perintahnya. Kalau ia perintahkan ia akan mengerjakan. Mereka bekerja sesuai
dengan tugasnya. Ketika suatu hari ia mengabsen burung, lalu tidak ditemukan
burung hudhud. Kemudian ia menganggapnya sebagai pelanggaran dan mengancam akan
disembelih atau dihukum, kecuali jika ia datang dengan udzur yang mengharuskan
ia tidak hadir saat itu. Ketika hudhud datang ia bertanya tentang ketidak
hadirannya. Hudhud menjawab bahwa ia berada di negeri Saba’ (Yaman) dan
memberitahukan tentang kerajaan besar dan ratu yang menguasai umat itu. Mereka
adalah kaum shabi’ah, penyembah berhala, menyembah matahari, selain Allah. Ratu
itu memiliki singgasana berhiaskan permata.
Nabi
Sulaiman hendak menguji hudhud, apakah informasinya benar atau salah? Lalu ia
berikan surat untuk disampaikan kepada ratu itu. Hudhud berangkat dengan
membawa surat itu dan meletakkan di atas tempat tidur ratu. Diambillah surat
itu yang isinya:
اِنَّهٗ مِنْ سُلَيْمٰنَ وَاِنَّهٗ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۙ
٣٠ اَلَّا تَعْلُوْا عَلَيَّ وَأْتُوْنِيْ مُسْلِمِيْنَ ࣖ ٣١
30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan
Sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang.
31. Bahwa janganlah kamu sekalian berlaku sombong
terhadapku dan datanglah kepadaku sebagai orang-orang yang berserah diri".
(QS. An Naml)
Ratu itu
tidak segera menjawab surat ini, ia kumpulkan tokoh-tokoh negaranya, majlis
syuranya, memberitahukan kepada mereka tentang surat itu. Harga diri dan
gengsi mereka membuatnya mengatakan
kepada sang Ratu:
قَالُوْا نَحْنُ اُولُوْا قُوَّةٍ وَّاُولُوْا بَأْسٍ شَدِيْدٍ ەۙ وَّالْاَمْرُ
اِلَيْكِ فَانْظُرِيْ مَاذَا تَأْمُرِيْنَ ٣٣
33. Mereka menjawab: "Kita adalah
orang-orang yang memiliki kekuatan dan (juga) memiliki keberanian yang sangat
(dalam peperangan), dan Keputusan berada ditanganmu: Maka pertimbangkanlah apa
yang akan kamu perintahkan". (QS. An Naml)
Ratu itu
cerdas, ia melihat masalah dengan kecerdasannya. Pendapat para pembesar negara
tidak merubah pendiriannya. Ia katakan kepada mereka: Sesungguhnya para raja
kalau memasuki kota, berdampak besar bagi penduduknya.
قَالَتْ اِنَّ الْمُلُوْكَ اِذَا دَخَلُوْا قَرْيَةً اَفْسَدُوْهَا وَجَعَلُوْٓا
اَعِزَّةَ اَهْلِهَآ اَذِلَّةً ۚوَكَذٰلِكَ يَفْعَلُوْنَ ٣٤
34. Dia berkata: "Sesungguhnya raja-raja
apabila memasuki suatu negeri, niscaya mereka membinasakannya, dan menjadikan
penduduknya yang mulia jadi hina; (QS. An Naml)
Ratu itu
menyampaikan pendapat lain mendekati solusi persoalan yang tidak terduga ini.
Yaitu dengan mengirimkan hadiah kepada Sulaiman dengan hadian yang luar biasa,
sehingga bisa melunakkan hati Nabi Sulaiman, dan menyuruh pembawanya untuk
menunggu apa tanggapan Nabi Sulaiman terhadap hadian ini.
Zahirnya,
bahwa ratu itu mengirimkan hadiah dan menyuruh pengantarnya memperhatikan
kondisi raja yang telah mengirimkan surat dengan sangat berani itu, agar ratu
itu datang langsung dan menyerahkan diri. Kemudian para pengantar itu pulang
dengan membawa keterangan lengkap tentang hakekatnya, kekuatan kerajaannya,
menyampaikan rekayasa apa yang mampu dilakukan jika Sulaiman tidak menerima apa
yang mereka bawa. Ratu itu yang bertanggung jawab langsung, sehingga nanti
kalau melakukan apapun, dilakukan setelah memperhitungkan hasilnya.
Ketika
para utusan itu tiba di hadapan Nabi Sulaiman dengan membawa hadiah, Nabi
Sulaiman tidak menerimanya dan menunjukkan bahwa ia tidak membutuhkan harta
kekayaannya. Sesungguhnya ia dalam keadaan baik, kekayaan alam berlimpah dari
pada kekayaan yang dimiliki ratu itu dan kaumnya, dan mengancam mereka bersama
dengan ratunya bahwa Nabi Sulaiman akan mengirimkan ke negeri mereka dengan
kekuatan pasukan yang tidak akan tertandingi, dan mereka akan dikeluarkan dari
negerinya dengan hina dina.
Berita
itu sampai kepada ratu lewat para utusannya. Ia mengetahui kebesaran Nabi
Sulaiman, kekuatan kerajaannya dan cinta pada rakyatnya. Maka ratu itu
berkesimpulan untuk berkunjung ke ibukota kerajaan Nabi Sulaiman bersama dengan
para pembesar negara dan membawa hadiah besar.
Ketika
Nabi Sulaiman mengetahui keinginan ratu Saba’ untuk mengunjunginya di
ibukotanya, Nabi Sulaiman siapkan penyambutan besar. Ia lapisi lantai istananya
dengan kaca. Hal ini tidak dikenal di Yaman. Ketika ratu Saba’ itu telah
mendekati ibukota Nabi Sulaiman, ia ingin menampilkan kehebatannya dan nikmat
Allah yang ia terima yang bisa membuat ratu Saba’ terkesima, agar ia melihat
langsung dengan dua matanya hal-hal yang belum pernah ia impikan, yaitu dengan
menghadirkan singgasananya yang indah agar menjadi tempat duduknya. Nabi
Sulaiman menanyakan kepada prajuritnya yang mampu mendatangkan singgasana itu.
Dengan
segera jin ’ifrit menawarkan:
قَالَ عِفْرِيْتٌ مِّنَ الْجِنِّ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ تَقُوْمَ مِنْ
مَّقَامِكَۚ وَاِنِّيْ عَلَيْهِ لَقَوِيٌّ اَمِيْنٌ ٣٩
39. Berkata 'Ifrit (yang cerdik) dari golongan
jin: "Aku akan datang kepadamu dengan membawa singgsana itu kepadamu
sebelum kamu berdiri dari tempat dudukmu; Sesungguhnya Aku benar-benar Kuat
untuk membawanya lagi dapat dipercaya". QS. An Naml
قَالَ الَّذِيْ عِنْدَهٗ عِلْمٌ مِّنَ الْكِتٰبِ اَنَا۠ اٰتِيْكَ بِهٖ قَبْلَ اَنْ
يَّرْتَدَّ اِلَيْكَ طَرْفُكَۗ فَلَمَّا رَاٰهُ مُسْتَقِرًّا عِنْدَهٗ قَالَ هٰذَا
مِنْ فَضْلِ رَبِّيْۗ لِيَبْلُوَنِيْٓ ءَاَشْكُرُ اَمْ اَكْفُرُۗ وَمَنْ شَكَرَ فَاِنَّمَا
يَشْكُرُ لِنَفْسِهٖۚ وَمَنْ كَفَرَ فَاِنَّ رَبِّيْ غَنِيٌّ كَرِيْمٌ ٤٠
40. Berkatalah seorang yang mempunyai ilmu dari
AI Kitab[8]: "Aku akan membawa
singgasana itu kepadamu sebelum matamu berkedip".
Dan
kenyataannya seperti yang dikatakan, singgasana itu datang dan diletakkan di
istana yang telah dipersiapkan untuk menyambutnya, dan singgasana itu dirubah.
Dan saya tidak mengetahui bagaimana perubahannya.
Dan
ketika ratu Saba’ datang dan melihat singgasana :
فَلَمَّا جَاۤءَتْ قِيْلَ اَهٰكَذَا عَرْشُكِۗ قَالَتْ كَاَنَّهٗ هُوَۚ وَاُوْتِيْنَا
الْعِلْمَ مِنْ قَبْلِهَا وَكُنَّا مُسْلِمِيْنَ ٤٢
42. Dan ketika Balqis datang, ditanyakanlah
kepadanya: "Serupa inikah singgasanamu?" dia menjawab:
"Seakan-akan singgasana Ini singgasanaku,
Ketika
ia hendak masuk ke istana itu dan mendekati singgasana, ia menyangka kaca itu
adalah air, lalu ratu itu membuka betisnya agar tidak basah bajunya oleh air
itu, dan diberitahulah bahwa itu adalah kaca. Ratu itu berkata:
قِيْلَ لَهَا ادْخُلِى الصَّرْحَۚ فَلَمَّا رَاَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَّكَشَفَتْ
عَنْ سَاقَيْهَاۗ قَالَ اِنَّهٗ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنْ قَوَارِيْرَ ەۗ قَالَتْ رَبِّ
اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
ࣖ ٤٤
44. ...
berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah berbuat zalim
terhadap diriku dan Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan
semesta alam".
Cara
yang digunakan oleh orang yang berilmu itu dalam menghadirkan singgasana, maka
hal itu tidak diungkapkan dengan tekstual tegas dan valid. Dan yang disayangkan
adalah adanya ta’wil bahwa hal itu adalah peta negerinya.
Kalau
masalahnya adalah mukjizat yang luar biasa maka tidak usah lagi
ditolak/dibantah.
RINGKASAN
NIKMAT YANG DIBERIKAN PADA NABI SULAIMAN AS
Yahudi
mengikuti apa yang dibacakan syetan di kerajaan Sulaiman. Firman Allah:
وَاتَّبَعُوْا مَا تَتْلُوا الشَّيٰطِيْنُ عَلٰى مُلْكِ سُلَيْمٰنَ ۚ وَمَا كَفَرَ
سُلَيْمٰنُ وَلٰكِنَّ الشَّيٰطِيْنَ كَفَرُوْا يُعَلِّمُوْنَ النَّاسَ السِّحْرَ وَمَآ
اُنْزِلَ عَلَى الْمَلَكَيْنِ بِبَابِلَ هَارُوْتَ وَمَارُوْتَ ۗ وَمَا يُعَلِّمٰنِ
مِنْ اَحَدٍ حَتّٰى يَقُوْلَآ اِنَّمَا نَحْنُ فِتْنَةٌ فَلَا تَكْفُرْ ۗ فَيَتَعَلَّمُوْنَ
مِنْهُمَا مَا يُفَرِّقُوْنَ بِهٖ بَيْنَ الْمَرْءِ وَزَوْجِهٖ ۗ وَمَا هُمْ بِضَاۤرِّيْنَ
بِهٖ مِنْ اَحَدٍ اِلَّا بِاِذْنِ اللّٰهِ ۗ وَيَتَعَلَّمُوْنَ مَا يَضُرُّهُمْ وَلَا
يَنْفَعُهُمْ ۗ وَلَقَدْ عَلِمُوْا لَمَنِ اشْتَرٰىهُ مَا لَهٗ فِى الْاٰخِرَةِ مِنْ
خَلَاقٍ ۗ وَلَبِئْسَ مَاشَرَوْا بِهٖٓ اَنْفُسَهُمْ ۗ لَوْ كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ
١٠٢
102. Dan mereka mengikuti apa[9] yang dibaca
oleh syaitan-syaitan[10] pada masa
kerajaan Sulaiman (dan mereka mengatakan bahwa Sulaiman itu mengerjakan sihir),
padahal Sulaiman tidak kafir (Tidak mengerjakan sihir), Hanya syaitan-syaitan
lah yang kafir (mengerjakan sihir). QS. Al Baqarah
Angin
yang ditundukkan kepadanya:
وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ عَاصِفَةً تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖٓ اِلَى الْاَرْضِ الَّتِيْ
بٰرَكْنَا فِيْهَاۗ وَكُنَّا بِكُلِّ شَيْءٍ عٰلِمِيْنَ ٨١
81. Dan (telah kami tundukkan) untuk Sulaiman
angin yang sangat kencang tiupannya yang berhembus dengan perintahnya ke negeri
yang kami Telah memberkatinya. dan adalah kami Maha mengetahui segala sesuatu. QS.
Al Anbiya
وَلِسُلَيْمٰنَ الرِّيْحَ غُدُوُّهَا شَهْرٌ وَّرَوَاحُهَا شَهْرٌۚ وَاَسَلْنَا
لَهٗ عَيْنَ الْقِطْرِۗ وَمِنَ الْجِنِّ مَنْ يَّعْمَلُ بَيْنَ يَدَيْهِ بِاِذْنِ رَبِّهٖۗ
وَمَنْ يَّزِغْ مِنْهُمْ عَنْ اَمْرِنَا نُذِقْهُ مِنْ عَذَابِ السَّعِيْرِ ١٢
12. Dan kami (tundukkan) angin bagi Sulaiman,
yang perjalanannya di waktu pagi sama dengan perjalanan sebulan dan
perjalanannya di waktu sore sama dengan perjalanan sebulan (pula)[11] QS. Saba
فَسَخَّرْنَا لَهُ الرِّيْحَ تَجْرِيْ بِاَمْرِهٖ رُخَاۤءً حَيْثُ اَصَابَۙ ٣٦
36. Kemudian kami tundukkan kepadanya angin yang
berhembus dengan baik menurut ke mana saja yang dikehendakiNya, QS. Shaad
Jin dan
burung tunduk kepadanya, dan ia memahami bahasanya
وَحُشِرَ لِسُلَيْمٰنَ جُنُوْدُهٗ مِنَ الْجِنِّ وَالْاِنْسِ وَالطَّيْرِ فَهُمْ
يُوْزَعُوْنَ ١٧ حَتّٰىٓ اِذَآ اَتَوْا عَلٰى وَادِ النَّمْلِۙ قَالَتْ نَمْلَةٌ يّٰٓاَيُّهَا
النَّمْلُ ادْخُلُوْا مَسٰكِنَكُمْۚ لَا يَحْطِمَنَّكُمْ سُلَيْمٰنُ وَجُنُوْدُهٗۙ
وَهُمْ لَا يَشْعُرُوْنَ ١٨
17. Dan dihimpunkan untuk Sulaiman tentaranya
dari jin, manusia dan burung lalu mereka itu diatur dengan tertib (dalam
barisan).
18. Hingga apabila mereka sampai di lembah semut
berkatalah seekor semut: Hai semut-semut, masuklah ke dalam sarang-sarangmu,
agar kamu tidak diinjak oleh Sulaiman dan tentaranya, sedangkan mereka tidak
menyadari"; QS. An Naml.
وَوَرِثَ سُلَيْمٰنُ دَاوٗدَ وَقَالَ يٰٓاَيُّهَا النَّاسُ عُلِّمْنَا مَنْطِقَ
الطَّيْرِ وَاُوْتِيْنَا مِنْ كُلِّ شَيْءٍۗ اِنَّ هٰذَا لَهُوَ الْفَضْلُ الْمُبِيْنُ
١٦
16. Dan Sulaiman Telah mewarisi Daud, dan dia
berkata: "Hai manusia, kami Telah diberi pengertian tentang suara burung
dan kami diberi segala sesuatu. Sesungguhnya (semua) Ini benar-benar suatu
kurnia yang nyata". QS. An Naml
Kisah
Balqis
اِنَّهٗ مِنْ سُلَيْمٰنَ وَاِنَّهٗ بِسْمِ اللّٰهِ الرَّحْمٰنِ الرَّحِيْمِ ۙ
٣٠
30. Sesungguhnya surat itu, dari SuIaiman dan
Sesungguhnya (isi)nya: "Dengan menyebut nama Allah yang Maha Pemurah lagi
Maha Penyayang. QS. An Naml
فَلَمَّا جَاۤءَ سُلَيْمٰنَ قَالَ اَتُمِدُّوْنَنِ بِمَالٍ فَمَآ اٰتٰىنِ َۧ اللّٰهُ
خَيْرٌ مِّمَّآ اٰتٰىكُمْۚ بَلْ اَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُوْنَ ٣٦
36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada
Sulaiman, Sulaiman berkata: "Apakah (patut) kamu menolong Aku dengan
harta? QS. An Naml
قِيْلَ لَهَا ادْخُلِى الصَّرْحَۚ فَلَمَّا رَاَتْهُ حَسِبَتْهُ لُجَّةً وَّكَشَفَتْ
عَنْ سَاقَيْهَاۗ قَالَ اِنَّهٗ صَرْحٌ مُّمَرَّدٌ مِّنْ قَوَارِيْرَ ەۗ قَالَتْ رَبِّ
اِنِّيْ ظَلَمْتُ نَفْسِيْ وَاَسْلَمْتُ مَعَ سُلَيْمٰنَ لِلّٰهِ رَبِّ الْعٰلَمِيْنَ
ࣖ ٤٤
44. ...
berkatalah Balqis: "Ya Tuhanku, Sesungguhnya Aku Telah berbuat zalim
terhadap diriku dan Aku berserah diri bersama Sulaiman kepada Allah, Tuhan
semesta alam". QS. An Naml
Nabi
Sulaiman diuji dengan penyakit, kemudian Allah sembuhkan :
وَلَقَدْ فَتَنَّا سُلَيْمٰنَ وَاَلْقَيْنَا عَلٰى كُرْسِيِّهٖ جَسَدًا ثُمَّ اَنَابَ
٣٤
34. Dan Sesungguhnya kami Telah menguji Sulaiman
dan kami jadikan (dia) tergeletak di atas kursinya sebagai tubuh (yang lemah
Karena sakit), Kemudian ia bertaubat.[12]
Al Fakhrurrazi menyebutkan dalam
menafsirkan ayat ini:
(ولقد
فتنا سليمان ) karena sakit berat yang ia alami
(وألقينا
على كرسيه ) yaitu karena sakit yang berat.
(ثمَّ
أناب ) kemudian ia kembali sehat
Allah
berikan pemahaman dan ketepatan dalam memberikan hukum, dalam firman Allah:
فَفَهَّمْنٰهَا سُلَيْمٰنَۚ وَكُلًّا اٰتَيْنَا حُكْمًا وَّعِلْمًاۖ وَّسَخَّرْنَا
مَعَ دَاوٗدَ الْجِبَالَ يُسَبِّحْنَ وَالطَّيْرَۗ وَكُنَّا فٰعِلِيْنَ ٧٩
79. Maka kami Telah memberikan pengertian kepada
Sulaiman tentang hukum (yang lebih tepat)[13]; QS. Al Anbiya
Dari
paparan ayat ini jelaslah bahwa Nabi Sulaiman adalah seorang Rasul sekaligus
raja. Allah berikan kepadanya kekuatan dan kebesaran yang menakjubkan. Seperti
tunduknya jin yang mengerjakan pekerjaan-pekerjaan yang sulit dikerjakan
manusia, begitu juga tunduknya burug mengikuti perintahnya, dan datang dengan
berita dari seluruh penjuru negeri, begitu juga angin, melunaknya tembaga di
tangannya; semuanya adalah mukjizat yang tidak pernah diberikan kepada nabi
sesudahnya. Semua ini merupakan pengkabulan doa Nabi Sulaiman yang berdo’a:
قَالَ رَبِّ اغْفِرْ لِيْ وَهَبْ لِيْ مُلْكًا لَّا يَنْۢبَغِيْ لِاَحَدٍ مِّنْۢ
بَعْدِيْۚ اِنَّكَ اَنْتَ الْوَهَّابُ ٣٥
35. Ia berkata: "Ya Tuhanku, ampunilah Aku
dan anugerahkanlah kepadaku kerajaan yang tidak dimiliki oleh seorang juapun
sesudahku, Sesungguhnya Engkaulah yang Maha Pemberi". QS. Shaad.
Setelah
masa berkuasa yang besar itulah kemudian Allah wafatkan Nabi Sulaiman dalam
usia lima puluh dua tahun, dimakamkan didekat ayahnya (Nabi Daud as) di Betlehem
Palestina. Setelah berkuasa kurang lebih empat puluh tahun. Masa
pemerintahannya menjadi masa keemasan dalam sejarah Bani Israil.
g. Wafat Nabi Sulaiman as
Al Qur’an
menerangkan kematian Nabi Sulaiman :
فَلَمَّا قَضَيْنَا عَلَيْهِ الْمَوْتَ مَا دَلَّهُمْ عَلٰى مَوْتِهٖٓ اِلَّا دَاۤبَّةُ
الْاَرْضِ تَأْكُلُ مِنْسَاَتَهٗ ۚفَلَمَّا خَرَّ تَبَيَّنَتِ الْجِنُّ اَنْ لَّوْ
كَانُوْا يَعْلَمُوْنَ الْغَيْبَ مَا لَبِثُوْا فِى الْعَذَابِ الْمُهِيْنِۗ ١٤
14. Maka tatkala kami Telah menetapkan kematian
Sulaiman, tidak ada yang menunjukkan kepada mereka kematiannya itu kecuali
rayap yang memakan tongkatnya. Maka tatkala ia Telah tersungkur, tahulah jin
itu bahwa kalau sekiranya mereka mengetahui yang ghaib tentulah mereka tidak
akan tetap dalam siksa yang menghinakan. QS. Saba’
Para
ahli tafsir mengungkapkan ayat ini dengan bermacam-macam penafsiran, dan
diantaranya ada yang sangt jauh dari akal. Dan yang paling dekat secara logis
adalah yang diriwayatkan oleh Abdulwahhab an Najjar:
Bahwa
Nabi Sulaiman telah wafat dan kematiannya tidak diketahui oleh jin, tetapi yang
lainnya mengetahuinya termasuk umat manusia. Ia dimakamkan dan kekuasaannya
berkahir dan diteruskan oleh anaknya. Sedangkan jin masih berada di tempat yang
jauh (Tadmur) belum berhenti bekerja karena takut dihukum Nabi Sulaiman. Dan
setelah beberapa lama salah satu jin mengetahui kematiannya lalu membaritahukan
kepada yang lainnya. Dan mereka semakin yakin jika mereka mengetahui yang ghaib
maka mereka tidak akan mendapatkan siksa yang menghinakan.
Ada pula
yang menceritakan: Sesungguhnya Nabi Sulaiman berada dalam mihrabnya lalu
kematian menjemputnya, dan ia dalam keadaan duduk berpegang tongkatnya.
Kemudian rayap datang memakan ujung tongkat itu sehingga ktika sudah rapuh,
Nabi Sulaiman terjatuh, barulah diketahui kematiannya. Lalu keluarganya
menguburkannya dan setelah memeriksa barulah diketahui bahwa Nabi Sulaiman
telah wafat dalam waktu yang lama. Dan ketika jin yang sedang bekerja keras
mengetahui kematian Nabi Sulaiman, mereka menyadari bahwa jika mereka mengetahui
yang gaib maka tentulah mereka tidak akan mendapatkan siksa yang menghinakan,
yaitu waktu antara kematian Nabi Sulaiman dan mereka mengetahui kematiannya.
Dan yang
jelas bahwa Nabi Sulaiman jika sudah masuk ke dalam mihrabnya, menyendiri di
dalamnya untuk beribadah, tidak ada seorangpun yang bisa masuk ke tempatnya
kecuali setelah mendapatkan izinnya. Dan jelas pula bahwa setelah sekian lama
baru terungkap kematiannya.
PERTANYAAN DAN
PELAJARAN
1.
Apakah Nabi
Sulaiman berasal dari keturunan Nabi Ibrahim? Apakah ia seorang
Nabi dari Bani Israil? Apa dalil yang kamu gunakan. Lihatlah Tarikh IbnuKhaldun
I hal 144-145
2.
Ada yang
mengatakan bahwa Nabi Sulaiman membuat kapal besar untuk mengangkut produk dari
India danPersia. Benarkan pernyataan ini?
3.
Para penguasa
tunduk kepada kekuatan Nabi Sulaiman as. Kenapa? Apakah karena ia diktator
dan inperialis? Ataukan pembaharu sehingga orang mengikutinya dan menyetujui
metode dan langkahnya.
4.
Nama Sulaiman
sering dibarengkan dengan nama ayahna (Daud as) dalam Al Qur’an, apa buktinya?
Ia telah tampak cerdas dan bersama dengan ayahnya memutuskan masalah, padahal
ia masih kecil, ataukah karena ia menjadi pengganti setelah wafat ayahnya?
Ataukah karena ia mewarisi kenabian, ilmu dan hikmah karena kedekatan hubungan
dengan ayahnya?
5.
Apa kisah
pengikut Yahudi ketika syetan membacakan pada masa Nabi Sulaiman as? Gunakan buku tafsir untuk
mengungkapkan kisah ini?
6.
Firman Allah: (ولقد آتينا داود
وسليمان علما ) ilmu apakah yang diberikan? Apakah ini artinya bahwa ilmu itu
datangnya dari Allah dan diberikan kepada siapa yang dikehendaki? Apakah ada
ilmu yang shalih dan ilmu yang fasid (rusak)? Apa manfaat ilmu yang menjauhkan
manusia dari Rabbnya, tidak membuahkan kebahagiaan bagi pemiliknya apalagi umat
manusia, dan hanya mencelakakannya? Dan kejahatan macam apa yang dilakukan manusia pada hari ini yang
tersesat ilmunya dari Allah?
7.
Nabi Sulaiman as
mendapatkan kekuasaan, kenabian dan ilmu pengetahuan. Akan tetapi Allah tidak
menyebutkan tentang nikmat itu kecuali imu, apakah karena kekuasaan lebih kecil
untuk disebutkan dalam konteks itu?
8.
Apakah yang
diwarisi Nabi Sulaiman dari Nabi Daud as? Kenabian, ilmu, ataukah kekuasaan..
ataukah ilmu saja, kenapa? Sebutkan alasannya
9.
Kenapa Nabi
Sulaiman ketika berkhutbah dan menyebutkan keistimewaannya itu, dalam firman
Allah (يا أيها الناس علمنا منطق الطير وآتينا من كل شيء ).apakah hal ini bermakna memuji diri sendiri?
Ataukah menceritakan nikmat Allah? Ataukah untuk menakut-nakuti orang?
10. Bagaimana Nabi Sulaiman mengetahui bahasa burung dan
pembicaraannya? Apakah Nabi Sulaiman mengatakan ”aku belajar” bahasa burung
atau ”aku diajari” bahasa burung. Apakah ini berarti ia merupakan mukjizat dari
Allah?
11. Apakah artinya bahwa Allah bisa mengajarkan kepada
seseorang bahasa Inggris atau bahasa Jerman misalnya. Karena burung adalah umat
sebagaimana umat manusia pada umumnya (وما من دابة في الأرض
ولا طائر يطير بجناحيه إِلاَّ أمم أمثالكم ) dan karena
Dzat yang mengajarkan bahasa burung itu sangat mampu mengajarkan bahasa
manusia, dan karena bahasa manusia bisa dipelajari sehingga bagi manusia itu
lebih mudah?
12. Sebagian ahli tafsir dan peneliti berusaha mengungkapkan
bahwa pengetahuan Nabi Sulaiman tentang bahasa burung adalah sesuatu yang bisa
dipelajari. Benarkah hal ini? Apa yang menyebabkan mereka mengatakannya?
13. Allah swt memberitahukan kepada kita bahwa jin dan burung
tunduk membantu Nabi Sulaiman as, bagaimana mereka tunduk padahal Nabi Sulaiman
tidak mengetahui bahasa mereka?
14. Sayyid Quthb mengatakan dalam uraiannya tentang
pengetahuan bahasa burung Nabi Sulaiman as. Hal ini adalah kejadian luar biasa,
hanya terjadi ketika Allah Yang Maha Pencipta alam raya dan rumusannya. Dan
bisa jadi kejadian luar biasa itu merupakan salah satu rumusan umum yang tidak
kita ketahui ujungnya. Sebagian dari fenomena yang tampak pada waktunya dan
tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah, menjadikan hal-hal yang terbiasa
menjadi luar biasa, menyempurnakan penciptaan-Nya di alam raya dengan rapi dan
sempurna. Renungkanlah hal ini...perhatikanlah fenomena medern sekarang ini,
lampu-lampu buatan, telefon genggam dll yang seratus tahun yang lalu diangga
sebagai mukjizat, namun kenyataannya merupakan salah satu sunnah kauniyah yang
ada di alam semesta. Berapa banyak lagi sunnatullah yang akan tampak bagi
manusia ini.
15. Allah swt menundukkan jin bagi Nabi Sulaiman. Apakah hal
ini halal bagi Nabi Sulaiman. Dan jika ada orang yang bisa menundukkan jin
sekarang ini dikatakan haram. Kenapa? Penundukan jin bagi Nabi Sulaiman terjadi
dengan perintah Allah untuk menghindari keburukannya dan memberikan manfaat
bagi manusia. Sedangkan umat manusia hari ini menundukkan jin untuk
membahayakan manusia lain, pada umumnya. Dan hukum menggunakan standar umum.
Allah telah menundukkan jin untuk Nabi Sulaiman dan tidak menundukkan mereka untuk
siapapun selainnya.
16. Iblis itu dari bangsa jin ataukah dari bangsa malaikat. Jelaskan
hal ini dengan merujuk kepada buku-buku tafsir.
17. Apa saja yang dilakukan jin untuk Nabi Sulaiman as,
seperti yang disebutkan dalam Al Qur’an: يعملون له ما يشاء من
محاريب وتماثيل وجفان كالجواب وقدور راسيات apakah membuat patung itu halal pada masanya
atau tidak? Merujuklah ke buku-buku tafsir, dan kajilah dengan baik.
18. Nabi Sulaiman pernah mendengar bicara semut, lalu ia
tersenyum, apakah para pemimpin manusia hari ini mendengar rintihan rakyatnya
lalu tidak merasa apa-apa.
19. Apakah semut memiliki kerajaan, pemimpin dan penasehat
mereka dalam menunaikan kewajibannya kepada rakyatnya? Apakah hal ini
memberikan pelajaran dan nasehat kepada kita? Sedangkan kita bangsa manusia
lebih diutamakan dari segala sesuatu, agar bisa berbuat baik dan memberi
kebaikan.
20. Bagaimanakah kisah hudhud bersama dengan Nabi Sulaiman? Mengapa
hudhud berani sekali kepada Nabi Sulaiman? Mengapa ia tidak takut kepada Nabi
Sulaiman? Dan Nabi Sulaiman pernah mengancamnya dengan hukuman berat. Apakah
hal ini memberikan isyarata bahwa orang yang benar itu tidak boleh takut kepada
siapapaun?
21. Mengapa Nabi Sulaiman memberikan surat kepada untuk
disampaikan kepada ratu Saba’. Surat Sulaiman itu surat da’wah atau ancaman?
22. Disebutkan bahwa ratu Saba itu sangat cerda, apa
indikasinya? Apa kesimpulannya tentang para raja? Apakah Nabi Sulaiman
seperti mereka?
23. Apakah ratu Saba ini memimpin rakyatnya dengan asas
musyawarah? Apa indikasinya? Musyawarahnya itu megikat atau tidak? Ataukah ia
memberikan keleluasaan kepada rakyatnya?
24. Apa saja bukti besarnya kekuasaan Nabi Sulaiman as dan
nikmat Allah atasnya dari sisi kekaguman ratu Saba ketika datang menemuinya?
apa jawaban ratu Saba ketika melihat singgasananya? Bagaimanakah mukjizat yang
terjadai dalam pemindahan singgasana itu?
25. Sebutkan nikmat-nikmat Allah yang telah diberikan kepada
Nabi Sulaiman, dengan mencantumkan ayatnya!
26. Apa pelajaran dan nasehat dari kematian Nabi Sulaiam as,
dan berkelanjutannya jin mengerjakan pekerjaannya? Bagaimanakah cara
mengungkapkan kematian Nabi Sulaiman?
دروس وعبر من قصة
داود وسليمان - عليهما السلام –
PELAJARAN DAN CERMIN DARI KISAH NABI DAUD DAN SULAIMAN AS
1. Menyebutkan sifat-sifat yang harus dimiliki oleh seorag
hakim
2. Menyebutkan sarana-sarana yang menyebabkan hakim dapat
istiqamah di jalan yang benar
3. Menerangkan waktu utama untuk beribadah dalam kisah Nabi
Daud as
4. Menerangkan keteladanan dalam kehidupan Nabi Daud as yang
menggabungkan dunia dan akhirat
5. Mengambil pelajaran besar, evaluasi diri, cepat bertaubat
setelah merasa bersalah dari kisah Nabi Daud as
6. Menerangkan pelajaran penting dari musyawarah yang
dilakukan ratu Saba bersama dengan kaumnya, serta peran hal ini dalam kemajuan
bangsa
7. Menerangkan pelajaran penting tentang keteguhan
menghadapi godaan lewat penolakan Nabi Sulaiman atas hadiah dari ratu Saba
8.
Menerangkan
pelajaran penting dari tawadhu Nabi Sulaiman bersama dengan Hudhud dan
memberikan kesempatan pembelaan dirinya.
درس في العدل
PELAJARAN TANTANG
KEADILAN
Dalam
kisah Nabi Daud terdapat pelajaran keadilan, dan pemahaman yang wajib dimiliki
para pemimpin dalam mengontrol perjalanan dirinya agar terjaga dari kezaliman.
Hal ini terlihat dalam seruan Allah kepada Nabi Daud as:
يٰدَاوٗدُ اِنَّا جَعَلْنٰكَ خَلِيْفَةً فِى الْاَرْضِ فَاحْكُمْ بَيْنَ النَّاسِ
بِالْحَقِّ وَلَا تَتَّبِعِ الْهَوٰى فَيُضِلَّكَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ ۗاِنَّ الَّذِيْنَ
يَضِلُّوْنَ عَنْ سَبِيْلِ اللّٰهِ لَهُمْ عَذَابٌ شَدِيْدٌ ۢبِمَا نَسُوْا يَوْمَ
الْحِسَابِ ࣖ ٢٦
26. Hai Daud, Sesungguhnya kami menjadikan kamu
khalifah (penguasa) di muka bumi, Maka berilah Keputusan (perkara) di antara
manusia dengan adil dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu,
Karena ia akan menyesatkan kamu dari jalan Allah. Sesungguhnya orang-orang yang
sesat darin jalan Allah akan mendapat azab yang berat, Karena mereka melupakan
hari perhitungan. QS. Shaad.
Dalam ayat ini Allah swt
memerintahkan Nabi Daud untuk menetapkan hukum dengan adil, sehingga persoalan
menjadi tegak dan baik. Hanya saja apa yang menyebabkan hakim bergeser dari
jalan yang benar? Itulah hawa nafsu yang tampak dalam fenomena antara lain:
- Balas dendam kepada lawan
- Berpihak kepada yang kuat dan curang kepada yang
lemah
- Memuaskan diri sendiri yang ingin populer dan
berkuasa, dll
Hal-hal
inilah yang tampak nyata pada sebagian penguasa. Dari itulah Allah swt
memerintahkan Nabi Daud agar dapat menetapkan hukum dengan adil dengan
berfirman: ” ...dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu...”
Dan di
penghujung akhirnya Al Qur’an menjelaskan tentang akibat dari mengikuti hawa
nafasu yaitu akan menyesatkannya dari jalan Allah yang mengantarkannya kepada
kebahagiaan dan kemenangan besar. Sebagaimana keluar dari jalan yang telah
Allah tetapkan akan menyebabkan adzab besar di hari kiamat.
Inilah
pesan yang sangat indah yang AL Qur’an sebutkan, untuk menjaga hakim dan qadzhi
dari ketergelinciran, menjauhkan diri dari hukum yang curang yang mengakibatkan
goncangan sistem bernegara dan merusak sendi-sendinya.
Waktu-wakti
utama dalam beribadah
Dalam
kisah Nabi Daud as terdapat pengkhususan waktu-waktu utama. Inilah yang dapat
difahami dari siratan ayat:
اِنَّا سَخَّرْنَا الْجِبَالَ مَعَهٗ يُسَبِّحْنَ بِالْعَشِيِّ وَالْاِشْرَاقِۙ
١٨
18. Sesungguhnya kami menundukkan gunung-gunung
untuk bertasbih bersama dia (Daud) di waktu petang dan pagi, QS. Shaad.
Pengkhususan
dua waktu ini menunjukkan bahwa keduanya memiliki kelebihan dan kemuliaan,
sehingga layak diberi pengkhususan agar menyemangati beribadah pada kedua waktu
itu. Karena waktu dan tempat memiliki keutamaan ibadah. Ketika matahari
terbenam dan malam mulai merambah, ketenanan semakin merata, bintang mulai
terlihat di langit, akan menggairahkan seseorang untuk beramal shalih
bertasbih, bertahmid mengagungkan kebesaran Allah. Demikian juga ketika
matahari terbit, tampak dengan sangat jelas, mulailah ada gerak manusia, burung
dan hewan lainnya. Semuanya menggerakkan sensitifitas ruhiyah di hati manusia
dan mengajaknya mengagungkan kebesaran Penciptanya.
Penggabungan
Dunia dan Akhirat
Banyak
orang yang menganggap mustahil penggabungan dunia akhirat. Karena beragama
menurut mereka harus dengan meninggalkan dunia dan hanya berada di tempat
ibadah, tidak boleh mengambil bagian dunia. Pemahaman ini banyak tersebar
sampai pada tingkat seruan sekularisme yang menyerukan bahwa beragama itu akan
membuat rakyat terbelakang.
Ada hal
yang tidak diketahui oleh kaum materialis ini bahwa Islam menganggap dunia dan
akhirat sebagai dua hal yang saling menyempurnakan. Ajaran agama menyerukan
untuk mengambil porsi dunia untuk menjadi bekal akhirat. Firman Allah:
وَابْتَغِ فِيْمَآ اٰتٰىكَ اللّٰهُ الدَّارَ الْاٰخِرَةَ وَلَا تَنْسَ نَصِيْبَكَ
مِنَ الدُّنْيَا وَاَحْسِنْ كَمَآ اَحْسَنَ اللّٰهُ اِلَيْكَ وَلَا تَبْغِ الْفَسَادَ
فِى الْاَرْضِ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يُحِبُّ الْمُفْسِدِيْنَ ٧٧
77. Dan carilah pada apa yang Telah dianugerahkan
Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan
bahagianmu dari (kenikmatan) duniawi dan berbuat baiklah (kepada orang lain)
sebagaimana Allah Telah berbuat baik, kepadamu, dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di (muka) bumi. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang
berbuat kerusakan. QS. Al Qashash
Sebagaimana
Islam menyerukan penggunaan sarana-sarana kekuatan untuk melindungi negara dari
serangan musuh:
وَاَعِدُّوْا لَهُمْ مَّا اسْتَطَعْتُمْ مِّنْ قُوَّةٍ
60. Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka
kekuatan apa saja yang kamu sanggupi QS. Al Anfal
Inilah
pemahaman beragama dalam Islam, dan inilah yang Allah sampaikan kepada Nabi
Daud as sebagai pelajaran dan bimbingan untuk kita semua.
اَنِ اعْمَلْ سٰبِغٰتٍ وَّقَدِّرْ فِى السَّرْدِ وَاعْمَلُوْا صَالِحًاۗ اِنِّيْ
بِمَا تَعْمَلُوْنَ بَصِيْرٌ ١١
11. (yaitu) buatlah baju besi yang besar-besar
dan ukurlah anyamannya; dan kerjakanlah amalan yang saleh. Sesungguhnya Aku
melihat apa yang kamu kerjakan. QS. Saba’
Allah
swt menyuruh Nabi Daud membuat baju besi. Perang pada waktu itu dengan pedang,
tombak dan panah, maka baju besi menjadi sarana efektif untuk mempertahankan
diri. Dan hari ini persenjataan telah diperbaharui dan dikembangkan maka para
pengamal agama wajib membuat persenjataan yang mampu menandingi sarana-sarana
penghancur yang ada.
Renungkanlah
kemudian, bagaimana Allah swt memerintahkan kepada Nabi Daud agar membuat baju
besi, dan menyuruh para pengikutnya untuk beramal shalih demi kebaikan dunia
dan akhiratnya. Karena dunia akhirat saling berkait dalam pandangan agama. Yang
satu menyempurnakan yang lainnya. Kekuatan militer melindungi umat dari musuh,
menjaganya dari kehinaan, dan kekuatan ruhiyah yang tercermin dalam iman dan
amal shalih memperbaiki umat dan menjauhkannya dari kerusakan.
Evaluasi
diri
Dalam
kisah Nabi Daud as terdapat pelajaran penting dalam muhasabatunnafsi agar
terhindar dari kesalahan dan keburukan. Dan inilah yang tampak dalam firman
Allah:
وَظَنَّ دَاوٗدُ اَنَّمَا فَتَنّٰهُ فَاسْتَغْفَرَ رَبَّهٗ وَخَرَّ رَاكِعًا وَّاَنَابَ
۩ ٢٤
24. ...dan Daud
mengetahui bahwa Kami mengujinya; Maka ia meminta ampun kepada Tuhannya lalu
menyungkur sujud dan bertaubat. QS. Shaad
bukankah
maksud kata (..Kami mengujinya), bahwa Allah mengujinya dan menempatkannya
dalam fitnah? Hal ini mungkin. Akan tetapi yang dimaksudkan bahwa Nadi Daud beristighfar kepada Rabbnya karena sekedar merasa bahwa ia
tergelincir dalam kesalahan. Lalu bagaimana dengan orang yang yakin kalau ia
benar-benar tergelincir.
Hal ini
memberi pelajaran mendalam tentang semangat muhasabah ketika terlintas
kesalahan dalam benaknya. Karena membiarkan jiwa dalam keterasingan akan
menyebabkan kerusakan.
Setiap
kali hati seorang mukmin merasa melakukan kemunkaran, atau dalam benak
merasakan rasa iri, dendam dan benci kepada sesama saudara muslim, maka
haruslah segera mencontoh Nabi Daud as, segera ruku’ dan sujud kembali kepada
Allah dengan taubat, sehingga Allah mengampuninya. Sesungguhnya Allah akan
memperhitungkan seseorang sampai pada apa yang tersimpan dalam benaknya.
لِلّٰهِ مَا فِى السَّمٰوٰتِ وَمَا فِى الْاَرْضِ ۗ وَاِنْ تُبْدُوْا مَا فِيْٓ
اَنْفُسِكُمْ اَوْ تُخْفُوْهُ يُحَاسِبْكُمْ بِهِ اللّٰهُ ۗ فَيَغْفِرُ لِمَنْ يَّشَاۤءُ
وَيُعَذِّبُ مَنْ يَّشَاۤءُ ۗ وَاللّٰهُ عَلٰى كُلِّ شَيْءٍ قَدِيْرٌ ٢٨٤
284. Kepunyaan Allah-lah segala apa yang ada di
langit dan apa yang ada di bumi. dan jika kamu melahirkan apa yang ada di dalam
hatimu atau kamu menyembunyikan, niscaya Allah akan membuat perhitungan dengan
kamu tentang perbuatanmu itu. Maka Allah mengampuni siapa yang dikehandaki-Nya
dan menyiksa siapa yang dikehendaki-Nya; dan Allah Maha Kuasa atas segala
sesuatu. QS. Al Baqarah
Inilah
cara bijak Al Qur’an dalam memperbaiki jiwa manusia. Karena perbuatan munkar dan
pikiran-pikiran jahat jika dibiarkan dalam diri manusia tanpa ada terapi akan
membahayakan prilakunya dan mengacaukan perbutannya. Dari itulah Utsman ra
berkata:
"ما أسرّ أحد سريرة إِلاَّ أبداها الله
على صفحات وجهه وفلتات لسانه"
Tidaklah
seseorang itu menyembunyikan rahasianya, kecuali pasti Allah akan tampakkan di
wajahnya dan keterpelesetan mulutnya.
Seorang
penyair Jahiliyah –Zuhair bin Abi Salma- mengatakan:
|
ومهما
تكن عند امرئ من خليقةٍ |
: |
وإن خالها تخفى على
الناس تُعلم |
Betapapun seseorang menyembunyikan
kepribadiannya dengan sangat rapi, suatu saat pasti akan diketahui.
Berpegang dengan Sistem Musyawarah
Diktatorian para pemimpin dengan
pendapatnya sendiri, tidak mau bermusyawarah dengan para ahli dan berpengalaman
bisa berakibat pada keluarnya hukum yang cacat dan membahayakan kemaslahatan
umat. Sejarah telah banyak mencatat hal ini. egoisme para pemimpin dengan
pikirannya sendiri menjadi sala satu sumber kehancuran umat.
Musyawarah adalah system yang bisa
mengukuhkan kebaikan umat. Pendapat jamaah tentu lebih kuat dan lebih benar
dibandingkan dengan pendapat pribadi.
Al Qur’an menyajikan pelajaran indah
tentang azas musyawarah, dalam penuturan kisah Ratu Saba’ ketika menerima
ancaman Nabi Sulaiman yang akan menyerang negerinya. Bagaimana siakapnya ketika
itu? Apakah ia sendiri yang memutuskan sikap dan mengharuskan penerapannya? Tidak!
Ia kumpulkan para pembesar kaumnya, dan menyatakan kepada mereka:
قَالَتْ يٰٓاَيُّهَا الْمَلَؤُا
اَفْتُوْنِيْ فِيْٓ اَمْرِيْۚ مَا كُنْتُ قَاطِعَةً اَمْرًا حَتّٰى تَشْهَدُوْنِ
٣٢
32. Berkata dia (Balqis): "Hai para pembesar
berilah Aku pertimbangan dalam urusanku (ini) Aku tidak pernah memutuskan
sesuatu persoalan sebelum kamu berada dalam majelis(ku)". QS. An Naml.
Ungkapan
ini menunjukkan prinsip musyawarah yang dijadikan prinsip konstitusional dunia
maju, dengan nama yang berbeda-beda, seperti: Majlis Perwakilan, Majlis ahli,
Majlis Rakyat dll.
Musyawarah
adalah pilar pemerintahan yang baik bagi umat manapun, menghindarkan dari
bahaya yang mungkin timbul dari ambisi penguasa dan agenda pribadinya. Prinsip
musyawarah ditetapkan oleh ratu Saba pada dirinya sendiri, dan Islam
menjadikannya sebagai prinsip hukum Islam. Al Qur’an menegaskan kepada
Rasulullah saw:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللّٰهِ لِنْتَ لَهُمْ ۚ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيْظَ
الْقَلْبِ لَانْفَضُّوْا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ
فِى الْاَمْرِۚ فَاِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللّٰهِ ۗ اِنَّ اللّٰهَ يُحِبُّ
الْمُتَوَكِّلِيْنَ ١٥٩
159. ...dan
bermusyawaratlah dengan mereka dalam urusan itu. QS. Ali Imran
Sebagaimana
Al Qur’an memuji orang-orang beriman yang menjadikan musyawarah sebagai kaidah
hukumnya:
وَالَّذِيْنَ اسْتَجَابُوْا لِرَبِّهِمْ وَاَقَامُوا الصَّلٰوةَۖ وَاَمْرُهُمْ
شُوْرٰى بَيْنَهُمْۖ وَمِمَّا رَزَقْنٰهُمْ يُنْفِقُوْنَ ۚ ٣٨
38. ...sedang urusan mereka (diputuskan) dengan
musyawarat antara mereka; QS. Asy Syura
Pertahanan
Aqidah di Hadapan Godaan Harta
Hal ini
dapat terlihat dari ungkapan Sulaiman kepada para utusan Bilqis yang membawa
hadiah:
فَلَمَّا جَاۤءَ سُلَيْمٰنَ قَالَ اَتُمِدُّوْنَنِ بِمَالٍ فَمَآ اٰتٰىنِ َۧ اللّٰهُ
خَيْرٌ مِّمَّآ اٰتٰىكُمْۚ بَلْ اَنْتُمْ بِهَدِيَّتِكُمْ تَفْرَحُوْنَ ٣٦
36. Maka tatkala utusan itu sampai kepada
Sulaiman, Sulaiman berkata: "Apakah (patut) kamu menolong Aku dengan
harta? Maka apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang
diberikan-Nya kepadamu; tetapi kamu merasa bangga dengan hadiahmu. QS. An Naml.
Artinya:
anugerah Allah yang saya terima, rahmat yang berupa kenabian dan ilmu lebih
baik dari harta benda yang kalian bawa. Karena harta dunia akan sirna. Nabi
Sulaiman ingin menunjukkan keunggulan sisi ruhiyah dibandingkan sisi material.
Nabi Sulaiman tidak mengatakan: ”bahwa yang aku terima dari Allah lebih banyak
daripada yang kalian terima” akan tetapi mengatakan ” Lebih baik dari yang
Allah berikan kepadamu”. Ini tentu yang dimaksudkan adalah sisi ruhiyah, yang
menurutnya lebih baik daripada sisi maddiyah.
Sejak
pertama umat manusia ini diuji dengan harta, sehingga bisa mengendalikan
usahanya. Balqis menduga bahwa Sulaiman
seperti kebanyakan manusia lainnya yang bisa dipengaruhi oleh harta benda. Dari
itulah ia mengirimkan hadiah kepada Nabi Sulaiman untuk menguji kualitas
pribadinya. Apakah hadiah ini bisa mendiamkan dan merubah dakwahnya, bahkan
ancaman perangnya? Tetapi Balqis tidak mendapatkan jawaban dari Nabi Sulaiman
kecuali dengan kalimat:
”Maka
apa yang diberikan Allah kepadaku lebih baik daripada apa yang diberikan-Nya
kepadamu”
Kalimat
yang Nabi Sulaiman ungkapkan agar menjadi kaidah bagi generasi sesudahnya, dan
menjadi kalimat yang diucapkan oleh setiap reformis berikutnya, setiap
pemimpin, setiap hakim, ketika disuap oleh ahlul bathil agar mendiamkan
kebatilannya. Kalimat yang Nabi Sulaiman sampaikan mengandung nilai yang
tinggi, berpegang dengan kebenaran dan lulus dari godaan dunia, baik berupa
jabatan, kekayaan, popularitas, dll. Penolak Nabi Sulaiman ditambah dengan
ungkapan:
”...tetapi
kamu merasa bangga dengan hadiahmu”.
Nabi
Sulaiman tidak merasa bangga dengan tampilan duniawinya, tidak terpengaruh oleh
tipu dayanya. Ia berusaha mendapatkan hakekat besar yang tidak bisa ditandingi
apapun jua.
Pelajaran
Tawadhu’
Dalam
kisah Nabi Sulaiman as dengan Balqis terdapat pelajaran bagi orang yang berilmu
untuk tawadhu (rendah hati) sehingga tidak terbawa pada sikap ’ujub (bangga
diri) dan terlena dengan ilmu yang diterimanya. Hal ini terlihat dalam ungkapan
Hudhud kepada Nabi Sulaiman setelah pulang dari perjalanan panjangnya:
فَمَكَثَ غَيْرَ بَعِيْدٍ فَقَالَ اَحَطْتُّ بِمَا لَمْ تُحِطْ بِهٖ وَجِئْتُكَ
مِنْ سَبَاٍ ۢبِنَبَاٍ يَّقِيْنٍ ٢٢
22. ....lalu ia berkata: "Aku Telah
mengetahui sesuatu yang kamu belum mengetahuinya; dan kubawa kepadamu dari
negeri Saba suatu berita penting yang diyakini. QS. An Naml.
Nabi
Sulaiman adalah seorang Nabi yang dikaruniai hikmah dan ilmu yang berlimpah
yang keduanya tidak diketahui oleh Hudhud, seekor burung kecil yang berbicara
dengan Nabi Sulaiman dengan nada berani, dengan ungkapan yang mengesankan bahwa
ia memiliki ilmu yang banyak. Inilah pelajaran mendalam bagi setiap mukmin
bahwa manusia itu betapapun ilmunya telah begitu tinggi, maka pasti akan ia
temukan makhluk Allah yang lebih lemah lagi darinya dan dapat mengungguli
ilmunya dalam beberapa sisi pengetahuan.
Bagaimanakah
sikap Nabi Sulaiman terhadap Hudhud? Apakah ia terlena dengan dirinya dan
mengabaikan berita dari Hudhud? Apakah kesombongan dan kemegahan yang menjadi
atribut para raja, akan menghukum hudhud karena kelancangannya itu? Tidak! Nabi
Sulaiman hanya menjawab:
۞ قَالَ سَنَنْظُرُ
اَصَدَقْتَ اَمْ كُنْتَ مِنَ الْكٰذِبِيْنَ ٢٧
27. Berkata Sulaiman: "Akan kami lihat, apa
kamu benar, ataukah kamu termasuk orang-orang yang berdusta. QS. An Naml.
Kalimat
yang mengisyaratkan bahwa ia menerima informasi dari Hudhud dan rasa cinta
kepada kebenaran. Nabi Sulaiman tidak merasa ada hambatan psikologis untuk
menerima berita dari Hudhud, si burung kecil itu; padahal ia adalah seorang
Nabi yang menyampaikan ilmu dan mengajarkan pengetahuan yang banyak sekali.
Allah menggambarkan ilmu Nabi Sulaiman:
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا دَاوٗدَ وَسُلَيْمٰنَ عِلْمًاۗ وَقَالَا الْحَمْدُ لِلّٰهِ
الَّذِيْ فَضَّلَنَا عَلٰى كَثِيْرٍ مِّنْ عِبَادِهِ الْمُؤْمِنِيْنَ ١٥
15. Dan Sesungguhnya kami Telah memberi ilmu
kepada Daud dan Sulaiman; dan keduanya mengucapkan: "Segala puji bagi
Allah yang melebihkan kami dari kebanyakan hamba-hambanya yang beriman"
QS. An Naml.
Ayat ini
membuktikan kemuliaan dan keutamaan pemilik ilmu agar mereka bertahmid kepada
Allah atas karunia yang telah mereka terima, merasakan kedudukan ilmu yang
tidak tertandingi oleh apapun. Dalam penyebutan secara khusus karunia yang
diberikan kepadanya dibandingkan dengan hamba lainnya menunnjukkan bahwa selain
Nabi Sulaiman tidak ada yang lebih utama darinya. Hal ini menarik perhatian
ulama agar tawadhu, karena masih ada hamba Allah yang lebih baik daripada
mereka dalam bidang ilmu.
([3]) سورة البقرة – الآية (102) مكرر وسورة النساء – الآية (163)، وسورة الأنعام – الآية (84)، وسورة الأنبياء – الآيات (78، 79 ، 81)، وسورة النمل – الآيات (15 : 18 ، 30، 36، 44)، وسورة سبأ – الآية (12)، وص 30، 34.
[4] Maksudnya: kitab-kitab sihir.
[5] syaitan-syaitan itu menyebarkan
berita-berita bohong, bahwa nabi Sulaiman menyimpan lembaran-lembaran sihir
(Ibnu Katsir).
[6] para Mufassirin berlainan pendapat tentang yang dimaksud dengan 2 orang malaikat itu. ada yang berpendapat, mereka betul-betul malaikat dan ada pula yang berpendapat orang yang dipandang saleh seperti malaikat dan ada pula yang berpendapat dua orang jahat yang pura-pura saleh seperti malaikat.
[7] maksudnya nabi Sulaiman menggantikan kenabian dan kerajaan nabi Daud a.s. serta mewarisi ilmu pengetahuannya dan Kitab Zabur yang diturunkan kepadanya.
[8] Al Kitab di sini Maksudnya: ialah Kitab yang diturunkan sebelum nabi Sulaiman ialah Taurat dan Zabur.
[9] Maksudnya: kitab-kitab sihir.
[10] syaitan-syaitan
itu menyebarkan berita-berita bohong, bahwa nabi Sulaiman menyimpan
lembaran-lembaran sihir (Ibnu Katsir).
[11] maksudnya bila Sulaiman mengadakan perjalanan dari pagi sampai tengah hari Maka jarak yang ditempuhnya sama dengan jarak perjalanan unta yang cepat dalam sebulan. begitu pula bila ia mengadakan perjalanan dari tengah hari sampai sore, Maka kecepatannya sama dengan perjalanan sebulan.
[12] sebahagian
ahli tafsir mengatakan bahwa yang dimaksud dengan ujian Ini ialah keberantakan
kerajaan Sulaiman sehingga orang lain duduk di atas singgasananya.
[13] menurut
riwayat ibnu Abbas bahwa sekelompok kambing Telah merusak tanaman di waktu
malam. Maka yang Empunya
tanaman mengadukan hal Ini kepada nabi Daud a.s. nabi Daud memutuskan bahwa
kambing-kambing itu harus diserahkan kepada yang Empunya tanaman sebagai ganti
tanam-tanaman yang rusak. tetapi nabi Sulaiman a.s. memutuskan supaya
kambing-kambing itu diserahkan sementara kepada yang Empunya tanaman untuk
diambil manfaatnya. dan prang yang Empunya kambing diharuskan mengganti tanaman
itu dengan tanam-tanaman yang baru. apabila tanaman yang baru Telah dapat
diambil hasilnya, mereka yang mepunyai kambing itu boleh mengambil kambingnya
kembali. putusan nabi Sulaiman a.s. Ini adalah Keputusan yang tepat.
No comments:
Post a Comment