1. Mempertahankan Eksistensi 9 (Peristiwa Tabuk)
Peristiwa Tabuk, juga dikenal sebagai Ekspedisi
Usra atau Ekspedisi Tabuk, adalah sebuah peristiwa militer yang
diprakarsai oleh Nabi Muhammad saw pada bulan Oktober 630 M (9 H). Rasulullah saw memimpin langsung pasukan berjumlah 30.000 orang. Mereka menuju ke
wilayah Tabuk, dekat Teluk
Aqaba, di barat laut Arab
Saudi.
Ali bin Abi Thalib, yang biasanya berpartisipasi dalam beberapa ekspedisi lainnya, kali ini tidak berpartisipasi dalam peristiwa Tabuk atas instruksi Rasulullah saw karena dia ditugaskan untuk memegang komando di Madinah. Setelah tiba di Tabuk dan berkemah di sana, pasukan Rasulullah saw bersiap untuk menghadapi pertempuran dengan Pasukan Romawi. Rasulullah saw dan pasukan menghabiskan dua puluh hari di Tabuk, mengintai daerah itu, membuat aliansi dengan kepala suku setempat. Ketika tidak melihat tanda-tanda kedatangan tentara Pasukan Romawi, Rasulullah saw memutuskan untuk kembali ke Madinah. Meskipun Rasulullah saw tidak menghadapi tentara pasukan Romawi di Tabuk, unjuk kekuatan ini menunjukkan niatnya untuk menantang pasukan Romawi untuk menguasai bagian utara rute kafilah dari Mekah ke Suriah.
2. Latar Belakang
Peristiwa Tabuk
Seperti diriwayatkan oleh
Ibnu Sa’ad dan lainnya, peristiwa ini terjadi karena kaum
Muslimin mendapat berita dari para pedagang yang kembali dari negeri Syam bahwa
orang-orang Romawi telah menghimpun kekuatan besar dengan dukungan orang-orang
Arab Nasrani dari suku Lakham, Judzam, dan yang lain yang
berada di bawah kekuasaan Romawi. Setelah pasukan perintis mereka sampai di
Balqa’, Rasulullah saw memobilisasi kaum Muslimin untuk
menghadapi mereka. Ath-Thabarani meriwayatkan dari
hadits Ibnu Hushain bahwa jumlah personil tentara Romawi
sebanyak 40.000 orang.
Peperangan ini berlangsung
pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriyah, di puncak musim panas dan
ketika orang-orang menghadapi kehidupan yang sangat sulit. Pada saat yang sama,
musim buah-buahan Madinah mulai dapat dipanen. Oleh sebab itu, Rasulullah saw
mengumumkan tempat yang akan mereka tuju, tidak sebagaimana biasanya dalam peristiwa-peristiwa
lain.
Ka’ab bin Malik berkata, “Rasulullah saw
mengumumkan peristiwa ini kepada kaum Muslimin, tidak seperti biasanya jika Rasulullah saw hendak
melakukan peperangan. Rasulullah saw melakukan Perang Tabuk ini
dalam musim yang sangat panas, menempuh jarak yang jauh dan musuh yang
berjumlah besar. Rasulullah saw mengumumkan perang ini kepada kaum Muslimin
supaya mereka bersiap-siap menghadapinya.
Demikian perjalanan dalam
peristiwa ini sangat berat dirasakan oleh jiwa manusia. Ia merupakan ujian dan
cobaan berat yang membedakan siapa yang di dalam hatinya ada nifaq dan siapa
yang benar-benar beriman. Orang-orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, “Janganlah kalian
berperang di musim panas.” Sementara itu sebagian yang lain datang kepada
Rasulullah saw menyatakan, “Berilah izin kepadaku dan
janganlah kamu menjerumuskan aku ke dalam fitnah. Demi Allah,
kaumku tidak mengenal orang yang lebih mengagumi perempuan selain daripada aku.
Aku khawatir tidak dapat bersabar melihat perempuan yang berambut pirang.” Rasulullah saw
berpaling darinya dan memberikan izin kepadanya. Dalam pada itu, Abdullah bin
Ubay bin Salul telah berkemah di sebuah tempat di Madinah bersama kelompok
pendukung dan sekutunya. Ketika Rasulullah saw bergerak menuju Tabuk, Abdullah
bin Ubay bersama rombongannya tidak bersedia berangkat bersama Rasulullah saw.
Di antara ayat Al-Qur’an yang
diturunkan berkenaan dengan sikap orang-orang munafik ini adalah,
“Orang-orang yang
ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka
di belakang Rasulullah dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa
mereka di jalan Allah dan mereka berkata, ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang)
dalam panas terik ini.’ Katakanlah, ‘Api nereka
jahanam itu lebih sangat panasnya, jika mereka mengetahui.’” (at-Taubah:
81)
“Di antara mereka ada orang yang berkata, ‘Berikanlah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (at-Taubah: 49)
3.
Kedermawan Para
Sahabat dalam Memenuhi Seruan Rasulullah saw
Kaum Muslimin datang kepada
Rasulullah saw dari setiap pelosok. Dalam menghadapi peristiwa
ini Rasulullah saw telah menghimbau orang-orang kaya agar menyumbangkan dana
dan kendaraan yang mereka miliki sehingga banyak di antara mereka
yang meyerahkan harta dan perlengkapan. Utsman menyerahkan 300 keping uang
sebanyak 1.000 dinar yang diletakkan di kamar Rasulullah saw sehingga Rasulullah saw bersabda, “Tidak akan
membahayakan Utsman apa yang dilakukan sesudahnya.”
Abu Bakar menyerahkan semua
hartanya dan Umar menyerahkan separuh dari hartanya. At-Tirmidzi
meriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari bapaknya, ia berkata, “Aku pernah
mendengar Umar berkata, ‘Rasulullah saw
memerintahkan kami bersedekah dan kebetulan waktu itu saya sedang punya harta,
lalu aku berucap, ‘Sekarang aku akan mengalahkan Abu Bakar, jika memang aku dapat
mengalahkannya pada suatu hari. Kemudian aku datang kepada Rasulullah saw
membawa separuh hartaku.’ Rasulullah saw bertanya
kepadaku, ‘Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?’ Kujawab, ‘Sebanyak yang
kuserahkan.’ Kemudian Abu Bakar datang membawa semua hartanya. Rasulullah saw bertanya, ‘Wahai Abu Bakar,
apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu?’ ‘Allah dan
Rasul-Nya,’ jawab Abu Bakar. Akhirnya aku berkata, ‘Aku tidak akan
dapat mengalahkannya (dalam perlombaan melaksanakan kebaikan) untuk
selama-lamanya.’”
Sementara itu, beberapa orang
dari kaum Muslimin yang dikenal dengan panggilan al-Buka’un (orang-orang yang
menangis) datang kepada Rasulullah saw meminta kendaraan guna pergi berjihad
bersamanya. Akan tetapi, Rasulullah saw menjawab mereka, “Aku tidak punya
kendaraan lagi untuk membawa kalian.” Kemudian mereka kembali
dengan meneteskan air mata karena sedih tidak dapat ikut serta berjihad.
Rasulullah saw keluar bersama
sekitar 30.000 personil dari kaum Muslimin. Di antara kaum Muslimin ada
beberapa orang yang tidak ikut berperang bukan karena ragu dan bimbang, yaitu
Ka’ab bin Malik, Murarah bin ar-Rabi, Hilal bin Umaiyah dan Abu Khaitsamah. Mereka ini
seperti dikatakan oleh Ibnu Ishaq adalah orang-orang yang jujur dan tidak
diragukan lagi keislaman mereka. Hanya Abu Khaitsamah yang kemudian menyusul
Rasulullah saw di Tabuk.
Ath-Thabarani, Ibnu Ishaq, dan
al-Wakidi meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah saw berjalan beberapa hari, Abu
Khaitsamah kembali kepada keluarganya di hari yang sangat panas. Kemudian dia
disambut oleh kedua istrinya di dua kemahnya yang terletak di tengah kebunnya.
Masing-masing dari keduanya telah menyiapkan kemahnya dengan nyaman lengkap
dengan air sejuk dan makanan yang tersediakan. Ketika masuk di pintu kemah dia
melihat kedua istrinya dan apa yang telah mereka persiapkan, kemudian dia
berkata, “Rasulullah saw berjemur di terik matahari dan diterpa angin panas,
sedangkan Abu Khaitsamah bersantai ria di kemah yang sejuk, menikmati makanan
yang tersedia dan bersenang ria dengan perempuan-perempuan cantik? Demi Allah,
ini tidak adil!”
Selanjutnya dia berkata, “Demi Allah, aku
tidak akan masuk kemah salah seorang di antara kalian sehingga aku menyusul
Rasulullah saw.” Kemudian istrinya pun menyiapkan perbekalan. Ia berangkat
mencari Rasulullah saw dan berhasil menyusulnya ketika Rasulullah saw turun di
Tabuk. Ketika Abu Khaitsamah semakin mendekati kaum Muslimin, mereka berkata, “Ada seorang
pengendara yang datang.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Ia adalah Abu
Khaitsamah!” Mereka berkata, “Wahai Rasulullah saw, ia memang Abu
Khaitsama.” Setelah turun dari kendaraannya. Abu Khaitsamah menghadap kepada
Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda kepadanya, “Engkau
mendapatkan keutamaan wahai Abu Khaitsamah.” Setelah Abu Khaitsamah
menceritakan masalahnya, Rasulullah saw berdoa untuk kebaikannya.
Dalam perjalanan ini kaum Muslimin
mengalami kesulitan yang sangat besar. Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan
bahwa dua dari tiga orang bergantian menaiki satu ekor unta. Mereka juga
kehabisan perbekalan air minum sehingga terpaksa memotong unta mereka untuk
diambil perbekalan airnya.
Imam Ahmad meriwayatkan di dalam
Musnad-nya dari Abu Hurairah, ia berkata, “Pada waktu Perang Tabuk kaum
Muslimin mengalami kelaparan sehingga mereka berkata, “Wahai Rasulullah saw, izinkanlah
kami menyembelih unta-unta kami untuk dimakan.” Rasulullah saw menjawab,
“Lakukanlah!” Akan tetapi, Umar datang seraya berkata, “Wahai Rasulullah saw, kalau
mereka menyembelih unta-unta itu niscaya kendaraan kita berkurang. Perintahkanlah
saja agar mereka mengumpulkan sisa perbekalan mereka kemudian doakanlah semoga
Allah memberkatinya.” Lalu Rasulullah saw memerintahkan agar
sisa-sisa perbekalan mereka kumpulkan di atas tikar yang telah digelar. Maka
orang-orang pun berdatangan. Ada yang membawa segenggam gandum dan ada pula
yang membwa segenggam kurma sehingga terkumpullah perbekalan makanan yang tidak
terlalu banyak, kemudian Rasulullah saw memohonkan
keberkahannya.
Setelah itu Rasulullah saw
berkata kepada mereka, “Ambillah dan penuhilah kantong-kantong
makanan kalian!” Kemudian mereka pun memenuhi kantong-kantong makanan mereka sampai tidak
ada tempat makanan yang kosong di perkemahan kecuali mereka telah memenuhinya.
Mereka juga telah makan hingga kenyang. Bahkan makanan itu masih tersisa.
Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Aku bersaksi
tidak ada Ilah selian Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Seorang
hamba yang menghadap Allah dengan dua kalimat tersebut, tanpa ragu, pasti tidak
akan dihalangi masuk surga.”
Sesampainya di Tabuk,
mereka tidak menemukan pasukan Romawi dan tidak ada perlawanan. Kemudian
Yohanna, Gubernur Ailah, datang kepada Rasulullah saw meminta diadakan perjanjian
damai dengan kesiapan dari pihaknya untuk membayar jizyah. Demikian pula para
penduduk Jarba’ dan Adzrah. Permintaan damai ini disetujui oleh Rasulullah saw yang
kemudian dituangkan dalam surat perjanjian.
Ketika pasukan Muslimin
melewati Hijr (perkampungan kaum Tsamud), Rasulullah saw bersabda kepada para
sahabatnya, “Janganlah kalian masuk ke tempat-tempat orang-orang yang menzalimi
dirinya sendiri, sebab dikhawatirkan kalian akan tertimpa musibah yang pernah
menimpa mereka, kecuali jika kalian dalam keadaan menangis.” Kemudian Rasulullah
saw menundukkan kepalanya dan mempercepat langkahnya sehingga melewati lembah
tersebut.
Akhirnya Rasulullah saw kembali
ke Madinah. Setibanya di dekat Madinah, Rasulullah saw bersabda kepada para
sahabatnya, “Itulah Thalhah! Dan itulah Uhud, gunung yang mecintai kita dan
kita cintai.” Sabdanya pula, “Di Madinah ada
orang-orang yang bersangkat bersama kalian, mereka turut menjelajah lembah
bersama kalian!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah mereka
itu tetap tinggal di Madinah?” Rasulullah saw menjawab, “Ya, mereka
tetapi di Madinah karena berhalangan.”
Rasulullah saw tiba di
Madinah pada bulan Ramadhan tahun itu juga sehingga dengan demikian berarti Rasulullah
saw meninggalkan Madinah sekitar dua bulan. Setibanya di
Madinah, Rasulullah saw masuk ke dalam masjid kemudian melaksanakan shalat dua
raka’at. Seusai shalat beliau duduk bersama para sahabat. Orang-orang yang
tidak ikut berperang datang kepada Rasulullah saw menyampaikan alasan
masing-masing disertai sumpah. Jumlah mereka 80 orang lebih sedikit. Pernyataan
dan alasan mereka itu diterima oleh Rasulullah saw dan beliau memohonkan
ampunan kepada Allah SWT bagi mereka. Sementara itu, urusan Ka’ab
dan kedua temannya dibiarkan hingga turun ayat-ayat yang menerangkan
diterimanya taubat mereka.
Ka’ab dalam sebuah hadits
panjang yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim mengungkapkan kisahnya
sendiri sebagai berikut. Di antara kisahku bahwa aku tidak ikut dalam berperang
itu. Aku segera memulai persiapan untuk maju ke medan perang bersama kaum
Muslimin, tetapi aku kembali lagi dan belum mempersiapkan sesuatu, kemudian aku
berkata dalam hati bahwa aku sebenarnya mampu (ikut ke medan perang). Aku terus
berusaha mempersiapkan untuk berangkat, tetapi ternyata aku belum mendapatkan
apa-apa untuk berangkat. Ketika kaum Muslimin sudah berangkat dan berjalan jauh
menuju medan perang aku pun masih belum mempersiapkan apa-apa, lalu aku
berkeinginan untuk menyusul mereka andai aku telah melakukannya tetapi aku pun
tidak ditakdirkan untuk itu.
Setelah Rasulullah saw
berangkat, aku keluar menemui orang-orang. Aku sangat sedih karena aku tidak
melihat kecuali orang yang kental sekali kemunafikannya atau orang lemah yang
diberi dispensasi oleh Allah SWT. Ketika kudengar Rasulullah
saw telah bergerak pulang, aku merasa gelisah. Terlintas pula keinginan untuk
berbohong demi menyelamatkan diri dari kemarahan beliau nanti!
Kemudian aku meminta
pandangan setiap orang yang pantas memberikan pandangan dari keluargaku. Ketika
diberitahukan bahwa Rasulullah saw telah datang, hilangkah segala kebatilan
dari pikiranku dan aku putuskan untuk berkata jujur kepada beliau. Aku datang
menemui Rasulullah saw seraya mengucapkan salam kepadanya, tetapi
beliau tersenyum sinis kemudian berkata, “Kemarilah!” Setelah aku di hadapannya,
beliau bertanya, “Kenapa kamu tidak berangkat? Bukankah kamu telah membeli
kendaraan?” Aku jawab, “Ya, benar! Demi Allah seumpamanya aku sekarang ini
berhadapan dengan orang lain dari penduduk dunia, tentu mudah bagiku mencari
alasan untuk menghindari kemarahannya, apalagi aku adalah orang yang pandai
berdebat. Demi Allah aku tahu jika aku hari ini berbicara bohong kepada engkau
sehingga engkau tidak memarahiku, sungguh pasti Allah yang mengetahui
kebohongan itu akan memarahi engkau karena aku. Jika aku berkata jujur kepada
engkau niscaya engkau memarahiku. Namun, aku akan tetap
berkata jujur demi mengharap ampunan Allah. Demi Allah, sungguh aku tidak punya
halangan (udzur) apa-apa. Demi Allah, sebenarnya aku saat itu dalam keadaan
kuat dan sanggup berangkat ke medan perang!”
Rasulullah saw menyahut, “Ya,
itu memang tidak bohong. Pergilah sampai Allah menentukan sendiri persoalanmu!”
Aku lalu pergi. Ketika aku pergi, beberapa orang dari Bani Salamah
menyusul dan menyalahkan tindakanku (karena tidak mengemukakan alasan
sebagaimana orang lain). Kutanyakan kepada mereka, “Apakah ada
orang lain yang berbuat sama seperti yang kulakukan?” Mereka menjawab, “Ya,
ada dua orang, dua-duanya mengatatakan kepada Rasulullah saw seperti yang telah
engkau katakan, dan beliau juga mengatakan kepada mereka, seperti yang beliau
katakan kepadamu!” Aku bertanya lagi, “Siapakah kedua orang itu?”
Mereka menjawab, “Murarah bin ar-Rabi’ dan Hilal bin Umaiyah.” Mereka lalu
menerangkan bahwa dua-duanya itu orang shalih dan pernah
ikut Perang Badr. Dua-duanya dapat dijadikan contoh.
Kemudian Rasulullah saw
mencegah kaum Muslimin bercakap-cakap dengan kami bertiga, sebagai orang yang
tidak turut serta berangkat ke medan Perang Tabuk.
Semua orang menjauhkan diri dari kami dan berubah sikap terhadap kami hingga
aku sendiri merasa seolah-olah bumi yang kuinjak bukan bumi yang kukenal.
Keadaan seperti ini kualami selama lima puluh hari. Dua orang temanku tetap
tinggal di rumah masing-masing dan selalu menangis sedang aku sendiri sebagai
orang muda dan berwatak keras tetap keluar seperti biasa, shalat jama’ah
bersama kaum Muslimin dan mondar-mandir ke pasar. Selama itu tak seorang pun yang
mengajakku bercakap-cakap.
Akhirnya aku datang
menghadap Rasulullah saw, kuhadapkan salam kepadanya saat sedang duduk sehabis
shalat. Dalam hati aku bertanya apakah beliau menggerakkan bibir membalas
ucapan salamku atau tidak. Kemudian aku shalat dekat beliau sambil melirik ke
arah beliau. Ternyata di saat aku masih shalat beliau memandangku, tetapi
setelah selesai shalat dan aku menoleh kepadanya, beliau memalingkan muka.
Pada suatu hari di saat aku
sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba seorang asing penjaja dagangan yang
datang dari Syam bertanya-tanya, “Siapakah yang dapat membantu saya menunjukkan
orang yang bernama Ka’ab bin Malik?” Banyak orang menunjukknya. Ia kemudian
menghampiriku lalu menyerahkan sepucuk surat kepadaku dari Raja Ghassan.
Setelah kubuka ternyata berisi sebagai berikut, “Amma ba’du, kudengar bahwa
sahabatmu (yakni Rasulullah saw) telah mengucilkan dirimu. Tuhan tidak akan
membuat dirimu hina dan nista. Datanglah kepadaku, engkau pasti kuterima dengan
baik….” Setelah kubaca aku berkata, “Ini juga termasuk cobaan!” Kunyalakan api
kemudian surat itu kubakar.
Setelah lewat empat puluh
hari, datanglah utusan Rasulullah saw kepadaku. Ia berkata, “Rasulullah saw
memerintahkan supaya engkau menjauhkan diri dari istrimu!” Aku bertanya, “Apakah ia harus
kucerai ataukah bagaimana?” Ia menjawab, “Tidak! Engkau harus menjauhinya,
tidak boleh mendekatinya!” Kepada dua orang temanku (yang senasib) Rasulullah saw juga
menyampaikan perintah yang sama. Kemudian kukatakan kepada istriku, “Pulanglah
engkau kepada keluargamu dan tetap tinggal di tengah-tengah mereka hingga Allah
menetapkan keputusann-Nya mengenai persoalanku!”
Tinggal sepuluh hari lagi
lengkaplah masa waktu lima puluh hari sejak Rasulullah saw melarang kaum Muslimin
bercakap-cakap dengan kami. Tepat pada hari kelima puluh aku shalat Shubuh
memikirkan keputusan apa yang akan ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya atas
diriku yang tengah mengalami penderitaan berat ini, hingga bumi yang luas ini
kurasa amat sempit. Tiba-tiba kudengar suara orang berteriak dari
Bukit Sila, “Hai Ka’ab bin
Malik, bergembiralah …!”
Seketika itu juga aku sujud
(syukur) karena aku sadar bahwa ampunan Allah SWT telah datang. Setelah
mengimami shalat Shubuh berjama’ah, Rasulullah saw mengumumkan kepada kaum
Muslimin bahwa Allah SWT berfirman berkenan menerima taubat kami. Banyak orang
berdatangan memberitahukan kabar gembira itu kepada kami bertiga. Setelah orang
yang kudengar suaranya dari atas bukit itu datang untuk menyampaikan kabar
gembira kepadaku, kulepas dua baju yang sedang kupakai, kemudian dua-duanya
kuberikan kepadanya dengan senang hati. Demi Allah, aku tidak mempunyai baju
selain yang dua itu. Aku berusaha mencari pinjaman baju kepada orang lain dan
setelah kupakai aku segera pergi menemui Rasulullah saw. Banyak orang yang
menyambut kedatanganku mengucap selamat atas ampunan Allah SWT yang telah
kuterima.
Aku kemudian masuk ke dalam
masjid. Kulihat Rasulullah saw sedang duduk dikelilingi para sahabatnya.
Thalhah bin Ubaidillah berdiri kemudian berjalan tergopoh-gopoh kepadaku.
Selain Thalhah tidak ada orang lain dari kaum Muhajirin yang berdiri menyambut kedatanganku.
Kebaikan Thalhah itu tidak dapat kulupakan.
Setelah aku mengucapkan salam
kepada Rasulullah saw, beliau dengan wajah berseri-seri kegirangan berkata, “Gembiralah
menyambut hari baik yang belum pernah engkau alami sejak lahir dari kandungan
ibumu!” Aku bertanya, “Apakah itu dari Anda sendiri,
wahai Rasulullah? ataukah dari Allah?” Beliau menjawab, “Bukan dari aku,
melainkan dari Allah.”
Kemudian aku berkata, “Wahai
Rasulullah saw, sebagai tanda taubatku, aku hendak menyerahkan seluruh harta
bendaku kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.” Tetapi beliau
menjawab, “Lebih baik engkau ambil sebagian dari hartamu itu!”
Selanjutnya kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, Allah telah
menyelamatkan dirikau karena aku berkata benar. Setelah aku bertaubat, selama
sisa umurku aku tidak akan berkata selain yang benar!”
Kemudian turunlah firman
Allah kepada Rasul-Nya,
“Sesungguhnya Allah
telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar yang mengikuti
Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka nyaris berpaling
(tergelincir), namun kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesunguhnya Allah Mahaya
Penyayang terhadap mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan
(penerimaan taubatnya) sehingga bumi yang luas ini mereka rasakan amat sempit,
dan jiwa mereka pun dirasa sempit oleh mereka, kemudian mereka menyadari bahwa
tidak ada tempat lari dari
(siksaan) Allah selain kepada-Nya, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap
bertaubat. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha
Penyayang. Hari orang-orang yang beriman, tetapi bertaqwalah kepada Allah dan
hendaklah kalian bersama orang-orang yang selalu benar.” (at-Taubah: 117-119)
KESIMPULAN
1.
Peristiwa Tabuk
merupakan peristiwa terakhir yang dipimpin oleh Rasulullah saw selama
hidupnya. Meskipun tidak mengalami pertempuran sengit pada peristiwa itu, pasukan
Rasulullah saw dianggap meraih kemenangan yang gemilang.
2.
Kejujuran selama
akan menjadi sifat seorang Mukmin sejati, tidak akan pernah melakukan
kedustaan meskipun kesempatan itu ada dan bisa dilakukan. Adapun
kemunafikan akan mencari alasan saat berhadapan dengan Rasulullah saw agar bisa
terlepas dari hukuman akibat ketidakikutsertaannya pada peristiwa Tabuk.
3.
Peristiwa Tabuk
menjadi ujian yang penting kesetiaan dan loyalitas kaum Mukminin
(sahabat) kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Meski kondisi
sangat berat, mereka tetap memenuhi panggilan Allah SWT dan Rasul-Nya
untuk berjuang di jalan Allah SWT.
4.
Kejujuran akan
membuahkan hasil yang gemilang berupa ampunan dan pujian Allah SWT kepada mereka.
Kisah tiga orang sahabat yang jujur adalah buktinya.
EVALUASI
1.
Apa yang Anda ketahui
tentang peristiwa Tabuk?
2.
Siapakah nama-nama sahabat
yang jujur dan tidak mencari-cari alasan ketidakikutsertaan mereka dalam
peristiwa Tabuk?
3.
Bagaimana cara Rasulullah
saw memberikan hukuman kepada para pemberi alasan (orang-orang munafik) yang
tidak peristiwa Tabuk dan hukuman kepada orang-orang yang jujur
sehingga tidak mencari-cari alasan ketidakikutsertaan mereka dalam peristiwa
Tabuk?
KOMITMEN
1.
Memahami dengan baik kejujuran
dalam menjalankan syari’at Allah SWT, apa pun keadaan
yang akan dihadapi setelahnya.
2.
Siap memenuhi panggilan
jihad kapan pun dan bagaimana pun
kondisinya.
REFERENSI
1. Arrahiqul
Makhtum, Bahtsun Fis Sirah Annasbawiyah Ala Shahibiha Afdhalis Shalati Was
Salam – terjemahan Sirah
Nabawiyah – Shafiyurrahman al-Mubarakfuri) penerjemah: Suchail Suyuti) cet.
I, Gema Insani Press) Dzulhijjah 1434 H/Oktober 2013)
2. Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah Ma'a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah. Dr. Said Ramadhan al-Buthi, Cetakan I,
September 2015.
3.
Shahih Bukhari, al-Jami al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min Umur
Rasulillah saw wa Sunanihi wa Ayyamihi (Shahih al-Bukhari), Muhammad bin
Ismail Abu Abdillah Al-Bukhari Alja’fi, Dar Touq Annajah, Cet. I,
1422.
4.
Shahih Muslim, al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtasar Binaqli
Anil Adli Ila Rasulillah saw, Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Hasan al-Qusyairu an-Nasisaburi, Dar Ihya
Elturats Alarabi, Beirut.
No comments:
Post a Comment