Saturday, March 14, 2026

Perang Tabuk

 1.     Mempertahankan Eksistensi 9 (Peristiwa Tabuk)

Peristiwa Tabuk, juga dikenal sebagai Ekspedisi Usra atau Ekspedisi Tabuk, adalah sebuah peristiwa militer yang diprakarsai oleh Nabi Muhammad saw pada bulan Oktober 630 M (9 H). Rasulullah saw memimpin langsung pasukan berjumlah 30.000 orangMereka menuju ke wilayah Tabuk, dekat Teluk Aqaba, di barat laut Arab Saudi.

Ali bin Abi Thalib, yang biasanya berpartisipasi dalam beberapa ekspedisi lainnya, kali ini tidak berpartisipasi dalam peristiwa Tabuk atas instruksi Rasulullah saw karena dia ditugaskan untuk memegang komando di MadinahSetelah tiba di Tabuk dan berkemah di sana, pasukan Rasulullah saw bersiap untuk menghadapi pertempuran dengan Pasukan RomawiRasulullah saw dan pasukan menghabiskan dua puluh hari di Tabuk, mengintai daerah itu, membuat aliansi dengan kepala suku setempat. Ketika tidak melihat tanda-tanda kedatangan tentara Pasukan Romawi, Rasulullah saw memutuskan untuk kembali ke Madinah. Meskipun Rasulullah saw tidak menghadapi tentara pasukan Romawi di Tabuk, unjuk kekuatan ini menunjukkan niatnya untuk menantang pasukan Romawi untuk menguasai bagian utara rute kafilah dari Mekah ke Suriah.

2.     Latar Belakang Peristiwa Tabuk

Seperti diriwayatkan oleh Ibnu Sa’ad dan lainnya, peristiwa ini terjadi karena kaum Muslimin mendapat berita dari para pedagang yang kembali dari negeri Syam bahwa orang-orang Romawi telah menghimpun kekuatan besar dengan dukungan orang-orang Arab Nasrani dari suku Lakham, Judzam, dan yang lain yang berada di bawah kekuasaan Romawi. Setelah pasukan perintis mereka sampai di Balqa’, Rasulullah saw memobilisasi kaum Muslimin untuk menghadapi mereka. Ath-Thabarani meriwayatkan dari hadits Ibnu Hushain bahwa jumlah personil tentara Romawi sebanyak 40.000 orang.

Peperangan ini berlangsung pada bulan Rajab tahun ke-9 Hijriyah, di puncak musim panas dan ketika orang-orang menghadapi kehidupan yang sangat sulit. Pada saat yang sama, musim buah-buahan Madinah mulai dapat dipanen. Oleh sebab itu, Rasulullah saw mengumumkan tempat yang akan mereka tuju, tidak sebagaimana biasanya dalam peristiwa-peristiwa lain.

Ka’ab bin Malik berkata, “Rasulullah saw mengumumkan peristiwa ini kepada kaum Muslimin, tidak seperti biasanya jika Rasulullah saw hendak melakukan peperangan. Rasulullah saw melakukan Perang Tabuk ini dalam musim yang sangat panas, menempuh jarak yang jauh dan musuh yang berjumlah besar. Rasulullah saw mengumumkan perang ini kepada kaum Muslimin supaya mereka bersiap-siap menghadapinya.

Demikian perjalanan dalam peristiwa ini sangat berat dirasakan oleh jiwa manusia. Ia merupakan ujian dan cobaan berat yang membedakan siapa yang di dalam hatinya ada nifaq dan siapa yang benar-benar beriman. Orang-orang munafik berkata kepada sebagian yang lain, “Janganlah kalian berperang di musim panas.” Sementara itu sebagian yang lain datang kepada Rasulullah saw menyatakan, “Berilah izin kepadaku dan janganlah kamu menjerumuskan aku ke dalam fitnah. Demi Allah, kaumku tidak mengenal orang yang lebih mengagumi perempuan selain daripada aku. Aku khawatir tidak dapat bersabar melihat perempuan yang berambut pirang.” Rasulullah saw berpaling darinya dan memberikan izin kepadanya. Dalam pada itu, Abdullah bin Ubay bin Salul telah berkemah di sebuah tempat di Madinah bersama kelompok pendukung dan sekutunya. Ketika Rasulullah saw bergerak menuju Tabuk, Abdullah bin Ubay bersama rombongannya tidak bersedia berangkat bersama Rasulullah saw.

Di antara ayat Al-Qur’an yang diturunkan berkenaan dengan sikap orang-orang munafik ini adalah,

Orang-orang yang ditinggalkan (tidak ikut berperang) itu merasa gembira dengan tinggalnya mereka di belakang Rasulullah dan mereka tidak suka berjihad dengan harta dan jiwa mereka di jalan Allah dan mereka berkata, ‘Janganlah kamu berangkat (pergi berperang) dalam panas terik ini.’ Katakanlah, ‘Api nereka jahanam itu lebih sangat panasnya, jika mereka mengetahui.’(at-Taubah: 81)

Di antara mereka ada orang yang berkata, ‘Berikanlah saya izin (tidak pergi berperang) dan janganlah kamu menjadikan saya terjerumus ke dalam fitnah.’ Ketahuilah bahwa mereka telah terjerumus ke dalam fitnah. Dan sesungguhnya Jahanam itu benar-benar meliputi orang-orang yang kafir.” (at-Taubah: 49)

3.     Kedermawan Para Sahabat dalam Memenuhi Seruan Rasulullah saw

Kaum Muslimin datang kepada Rasulullah saw dari setiap pelosok. Dalam menghadapi peristiwa ini Rasulullah saw telah menghimbau orang-orang kaya agar menyumbangkan dana dan kendaraan yang mereka miliki sehingga banyak di antara mereka yang meyerahkan harta dan perlengkapan. Utsman menyerahkan 300 keping uang sebanyak 1.000 dinar yang diletakkan di kamar Rasulullah saw sehingga Rasulullah saw bersabda, Tidak akan membahayakan Utsman apa yang dilakukan sesudahnya.”

Abu Bakar menyerahkan semua hartanya dan Umar menyerahkan separuh dari hartanya. At-Tirmidzi meriwayatkan dari Zaid bin Aslam dari bapaknya, ia berkata, “Aku pernah mendengar Umar berkata, ‘Rasulullah saw memerintahkan kami bersedekah dan kebetulan waktu itu saya sedang punya harta, lalu aku berucap, ‘Sekarang aku akan mengalahkan Abu Bakar, jika memang aku dapat mengalahkannya pada suatu hari. Kemudian aku datang kepada Rasulullah saw membawa separuh hartaku.’ Rasulullah saw bertanya kepadaku, ‘Apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Kujawab, ‘Sebanyak yang kuserahkan. Kemudian Abu Bakar datang membawa semua hartanya. Rasulullah saw bertanya, ‘Wahai Abu Bakar, apa yang kamu tinggalkan untuk keluargamu? Allah dan Rasul-Nya,’ jawab Abu Bakar. Akhirnya aku berkata, ‘Aku tidak akan dapat mengalahkannya (dalam perlombaan melaksanakan kebaikan) untuk selama-lamanya.’”

Sementara itu, beberapa orang dari kaum Muslimin yang dikenal dengan panggilan al-Buka’un (orang-orang yang menangis) datang kepada Rasulullah saw meminta kendaraan guna pergi berjihad bersamanya. Akan tetapi, Rasulullah saw menjawab mereka, “Aku tidak punya kendaraan lagi untuk membawa kalian.” Kemudian mereka kembali dengan meneteskan air mata karena sedih tidak dapat ikut serta berjihad.

Rasulullah saw keluar bersama sekitar 30.000 personil dari kaum Muslimin. Di antara kaum Muslimin ada beberapa orang yang tidak ikut berperang bukan karena ragu dan bimbang, yaitu Ka’ab bin Malik, Murarah bin ar-Rabi, Hilal bin Umaiyah dan Abu Khaitsamah. Mereka ini seperti dikatakan oleh Ibnu Ishaq adalah orang-orang yang jujur dan tidak diragukan lagi keislaman mereka. Hanya Abu Khaitsamah yang kemudian menyusul Rasulullah saw di Tabuk.

Ath-Thabarani, Ibnu Ishaq, dan al-Wakidi meriwayatkan bahwa setelah Rasulullah saw berjalan beberapa hari, Abu Khaitsamah kembali kepada keluarganya di hari yang sangat panas. Kemudian dia disambut oleh kedua istrinya di dua kemahnya yang terletak di tengah kebunnya. Masing-masing dari keduanya telah menyiapkan kemahnya dengan nyaman lengkap dengan air sejuk dan makanan yang tersediakan. Ketika masuk di pintu kemah dia melihat kedua istrinya dan apa yang telah mereka persiapkan, kemudian dia berkata, “Rasulullah saw berjemur di terik matahari dan diterpa angin panas, sedangkan Abu Khaitsamah bersantai ria di kemah yang sejuk, menikmati makanan yang tersedia dan bersenang ria dengan perempuan-perempuan cantik? Demi Allah, ini tidak adil!

Selanjutnya dia berkata, “Demi Allah, aku tidak akan masuk kemah salah seorang di antara kalian sehingga aku menyusul Rasulullah saw.” Kemudian istrinya pun menyiapkan perbekalan. Ia berangkat mencari Rasulullah saw dan berhasil menyusulnya ketika Rasulullah saw turun di Tabuk. Ketika Abu Khaitsamah semakin mendekati kaum Muslimin, mereka berkata, “Ada seorang pengendara yang datang.” Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Ia adalah Abu Khaitsamah! Mereka berkata, “Wahai Rasulullah saw, ia memang Abu Khaitsama.” Setelah turun dari kendaraannya. Abu Khaitsamah menghadap kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw bersabda kepadanya, Engkau mendapatkan keutamaan wahai Abu Khaitsamah.” Setelah Abu Khaitsamah menceritakan masalahnya, Rasulullah saw berdoa untuk kebaikannya.

Dalam perjalanan ini kaum Muslimin mengalami kesulitan yang sangat besar. Imam Ahmad dan lainnya meriwayatkan bahwa dua dari tiga orang bergantian menaiki satu ekor unta. Mereka juga kehabisan perbekalan air minum sehingga terpaksa memotong unta mereka untuk diambil perbekalan airnya.

Imam Ahmad meriwayatkan di dalam Musnad-nya dari Abu Hurairah, ia berkata, “Pada waktu Perang Tabuk kaum Muslimin mengalami kelaparan sehingga mereka berkata, “Wahai Rasulullah saw, izinkanlah kami menyembelih unta-unta kami untuk dimakan.” Rasulullah saw menjawab, “Lakukanlah!” Akan tetapi, Umar datang seraya berkata, “Wahai Rasulullah saw, kalau mereka menyembelih unta-unta itu niscaya kendaraan kita berkurang. Perintahkanlah saja agar mereka mengumpulkan sisa perbekalan mereka kemudian doakanlah semoga Allah memberkatinya.” Lalu Rasulullah saw memerintahkan agar sisa-sisa perbekalan mereka kumpulkan di atas tikar yang telah digelar. Maka orang-orang pun berdatangan. Ada yang membawa segenggam gandum dan ada pula yang membwa segenggam kurma sehingga terkumpullah perbekalan makanan yang tidak terlalu banyak, kemudian Rasulullah saw memohonkan keberkahannya.

Setelah itu Rasulullah saw berkata kepada mereka, “Ambillah dan penuhilah kantong-kantong makanan kalian!” Kemudian mereka pun memenuhi kantong-kantong makanan mereka sampai tidak ada tempat makanan yang kosong di perkemahan kecuali mereka telah memenuhinya. Mereka juga telah makan hingga kenyang. Bahkan makanan itu masih tersisa. Kemudian Rasulullah saw bersabda, “Aku bersaksi tidak ada Ilah selian Allah dan sesungguhnya aku adalah Rasul Allah. Seorang hamba yang menghadap Allah dengan dua kalimat tersebut, tanpa ragu, pasti tidak akan dihalangi masuk surga.

Sesampainya di Tabuk, mereka tidak menemukan pasukan Romawi dan tidak ada perlawanan. Kemudian Yohanna, Gubernur Ailah, datang kepada Rasulullah saw meminta diadakan perjanjian damai dengan kesiapan dari pihaknya untuk membayar jizyah. Demikian pula para penduduk Jarba’ dan Adzrah. Permintaan damai ini disetujui oleh Rasulullah saw yang kemudian dituangkan dalam surat perjanjian.

Ketika pasukan Muslimin melewati Hijr (perkampungan kaum Tsamud), Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya, “Janganlah kalian masuk ke tempat-tempat orang-orang yang menzalimi dirinya sendiri, sebab dikhawatirkan kalian akan tertimpa musibah yang pernah menimpa mereka, kecuali jika kalian dalam keadaan menangis.Kemudian Rasulullah saw menundukkan kepalanya dan mempercepat langkahnya sehingga melewati lembah tersebut.

Akhirnya Rasulullah saw kembali ke Madinah. Setibanya di dekat Madinah, Rasulullah saw bersabda kepada para sahabatnya, “Itulah Thalhah! Dan itulah Uhud, gunung yang mecintai kita dan kita cintai. Sabdanya pula, “Di Madinah ada orang-orang yang bersangkat bersama kalian, mereka turut menjelajah lembah bersama kalian!” Para sahabat bertanya, “Wahai Rasulullah, bukankah mereka itu tetap tinggal di Madinah?” Rasulullah saw menjawab, Ya, mereka tetapi di Madinah karena berhalangan.”

Rasulullah saw tiba di Madinah pada bulan Ramadhan tahun itu juga sehingga dengan demikian berarti Rasulullah saw meninggalkan Madinah sekitar dua bulan. Setibanya di Madinah, Rasulullah saw masuk ke dalam masjid kemudian melaksanakan shalat dua raka’at. Seusai shalat beliau duduk bersama para sahabat. Orang-orang yang tidak ikut berperang datang kepada Rasulullah saw menyampaikan alasan masing-masing disertai sumpah. Jumlah mereka 80 orang lebih sedikit. Pernyataan dan alasan mereka itu diterima oleh Rasulullah saw dan beliau memohonkan ampunan kepada Allah SWT bagi mereka. Sementara itu, urusan Ka’ab dan kedua temannya dibiarkan hingga turun ayat-ayat yang menerangkan diterimanya taubat mereka.

Ka’ab dalam sebuah hadits panjang yang diriwayatkan oleh al-Bukhari dan Muslim mengungkapkan kisahnya sendiri sebagai berikut. Di antara kisahku bahwa aku tidak ikut dalam berperang itu. Aku segera memulai persiapan untuk maju ke medan perang bersama kaum Muslimin, tetapi aku kembali lagi dan belum mempersiapkan sesuatu, kemudian aku berkata dalam hati bahwa aku sebenarnya mampu (ikut ke medan perang). Aku terus berusaha mempersiapkan untuk berangkat, tetapi ternyata aku belum mendapatkan apa-apa untuk berangkat. Ketika kaum Muslimin sudah berangkat dan berjalan jauh menuju medan perang aku pun masih belum mempersiapkan apa-apa, lalu aku berkeinginan untuk menyusul mereka andai aku telah melakukannya tetapi aku pun tidak ditakdirkan untuk itu.

Setelah Rasulullah saw berangkat, aku keluar menemui orang-orang. Aku sangat sedih karena aku tidak melihat kecuali orang yang kental sekali kemunafikannya atau orang lemah yang diberi dispensasi oleh Allah SWT. Ketika kudengar Rasulullah saw telah bergerak pulang, aku merasa gelisah. Terlintas pula keinginan untuk berbohong demi menyelamatkan diri dari kemarahan beliau nanti!

Kemudian aku meminta pandangan setiap orang yang pantas memberikan pandangan dari keluargaku. Ketika diberitahukan bahwa Rasulullah saw telah datang, hilangkah segala kebatilan dari pikiranku dan aku putuskan untuk berkata jujur kepada beliau. Aku datang menemui Rasulullah saw seraya mengucapkan salam kepadanya, tetapi beliau tersenyum sinis kemudian berkata, “Kemarilah!” Setelah aku di hadapannya, beliau bertanya, “Kenapa kamu tidak berangkat? Bukankah kamu telah membeli kendaraan?” Aku jawab, “Ya, benar! Demi Allah seumpamanya aku sekarang ini berhadapan dengan orang lain dari penduduk dunia, tentu mudah bagiku mencari alasan untuk menghindari kemarahannya, apalagi aku adalah orang yang pandai berdebat. Demi Allah aku tahu jika aku hari ini berbicara bohong kepada engkau sehingga engkau tidak memarahiku, sungguh pasti Allah yang mengetahui kebohongan itu akan memarahi engkau karena aku. Jika aku berkata jujur kepada engkau niscaya engkau memarahiku. Namun, aku akan tetap berkata jujur demi mengharap ampunan Allah. Demi Allah, sungguh aku tidak punya halangan (udzur) apa-apa. Demi Allah, sebenarnya aku saat itu dalam keadaan kuat dan sanggup berangkat ke medan perang!”

Rasulullah saw menyahut, “Ya, itu memang tidak bohong. Pergilah sampai Allah menentukan sendiri persoalanmu!” Aku lalu pergi. Ketika aku pergi, beberapa orang dari Bani Salamah menyusul dan menyalahkan tindakanku (karena tidak mengemukakan alasan sebagaimana orang lain). Kutanyakan kepada mereka, “Apakah ada orang lain yang berbuat sama seperti yang kulakukan?” Mereka menjawab, “Ya, ada dua orang, dua-duanya mengatatakan kepada Rasulullah saw seperti yang telah engkau katakan, dan beliau juga mengatakan kepada mereka, seperti yang beliau katakan kepadamu!” Aku bertanya lagi, “Siapakah kedua orang itu?” Mereka menjawab, “Murarah bin ar-Rabi’ dan Hilal bin Umaiyah.” Mereka lalu menerangkan bahwa dua-duanya itu orang shalih dan pernah ikut Perang Badr. Dua-duanya dapat dijadikan contoh.

Kemudian Rasulullah saw mencegah kaum Muslimin bercakap-cakap dengan kami bertiga, sebagai orang yang tidak turut serta berangkat ke medan Perang Tabuk. Semua orang menjauhkan diri dari kami dan berubah sikap terhadap kami hingga aku sendiri merasa seolah-olah bumi yang kuinjak bukan bumi yang kukenal. Keadaan seperti ini kualami selama lima puluh hari. Dua orang temanku tetap tinggal di rumah masing-masing dan selalu menangis sedang aku sendiri sebagai orang muda dan berwatak keras tetap keluar seperti biasa, shalat jama’ah bersama kaum Muslimin dan mondar-mandir ke pasar. Selama itu tak seorang pun yang mengajakku bercakap-cakap.

Akhirnya aku datang menghadap Rasulullah saw, kuhadapkan salam kepadanya saat sedang duduk sehabis shalat. Dalam hati aku bertanya apakah beliau menggerakkan bibir membalas ucapan salamku atau tidak. Kemudian aku shalat dekat beliau sambil melirik ke arah beliau. Ternyata di saat aku masih shalat beliau memandangku, tetapi setelah selesai shalat dan aku menoleh kepadanya, beliau memalingkan muka.

Pada suatu hari di saat aku sedang berjalan di pasar Madinah, tiba-tiba seorang asing penjaja dagangan yang datang dari Syam bertanya-tanya, “Siapakah yang dapat membantu saya menunjukkan orang yang bernama Ka’ab bin Malik?” Banyak orang menunjukknya. Ia kemudian menghampiriku lalu menyerahkan sepucuk surat kepadaku dari Raja Ghassan. Setelah kubuka ternyata berisi sebagai berikut, “Amma ba’du, kudengar bahwa sahabatmu (yakni Rasulullah saw) telah mengucilkan dirimu. Tuhan tidak akan membuat dirimu hina dan nista. Datanglah kepadaku, engkau pasti kuterima dengan baik….” Setelah kubaca aku berkata, “Ini juga termasuk cobaan!” Kunyalakan api kemudian surat itu kubakar.

Setelah lewat empat puluh hari, datanglah utusan Rasulullah saw kepadaku. Ia berkata, “Rasulullah saw memerintahkan supaya engkau menjauhkan diri dari istrimu!” Aku bertanya, “Apakah ia harus kucerai ataukah bagaimana?” Ia menjawab, “Tidak! Engkau harus menjauhinya, tidak boleh mendekatinya!” Kepada dua orang temanku (yang senasib) Rasulullah saw juga menyampaikan perintah yang sama. Kemudian kukatakan kepada istriku, “Pulanglah engkau kepada keluargamu dan tetap tinggal di tengah-tengah mereka hingga Allah menetapkan keputusann-Nya mengenai persoalanku!”

Tinggal sepuluh hari lagi lengkaplah masa waktu lima puluh hari sejak Rasulullah saw melarang kaum Muslimin bercakap-cakap dengan kami. Tepat pada hari kelima puluh aku shalat Shubuh memikirkan keputusan apa yang akan ditetapkan Allah SWT dan Rasul-Nya atas diriku yang tengah mengalami penderitaan berat ini, hingga bumi yang luas ini kurasa amat sempit. Tiba-tiba kudengar suara orang berteriak dari Bukit Sila, “Hai Ka’ab bin Malik, bergembiralah …!”

Seketika itu juga aku sujud (syukur) karena aku sadar bahwa ampunan Allah SWT telah datang. Setelah mengimami shalat Shubuh berjama’ah, Rasulullah saw mengumumkan kepada kaum Muslimin bahwa Allah SWT berfirman berkenan menerima taubat kami. Banyak orang berdatangan memberitahukan kabar gembira itu kepada kami bertiga. Setelah orang yang kudengar suaranya dari atas bukit itu datang untuk menyampaikan kabar gembira kepadaku, kulepas dua baju yang sedang kupakai, kemudian dua-duanya kuberikan kepadanya dengan senang hati. Demi Allah, aku tidak mempunyai baju selain yang dua itu. Aku berusaha mencari pinjaman baju kepada orang lain dan setelah kupakai aku segera pergi menemui Rasulullah saw. Banyak orang yang menyambut kedatanganku mengucap selamat atas ampunan Allah SWT yang telah kuterima.

Aku kemudian masuk ke dalam masjid. Kulihat Rasulullah saw sedang duduk dikelilingi para sahabatnya. Thalhah bin Ubaidillah berdiri kemudian berjalan tergopoh-gopoh kepadaku. Selain Thalhah tidak ada orang lain dari kaum Muhajirin yang berdiri menyambut kedatanganku. Kebaikan Thalhah itu tidak dapat kulupakan.

Setelah aku mengucapkan salam kepada Rasulullah saw, beliau dengan wajah berseri-seri kegirangan berkata, “Gembiralah menyambut hari baik yang belum pernah engkau alami sejak lahir dari kandungan ibumu!Aku bertanya, “Apakah itu dari Anda sendiri, wahai Rasulullah? ataukah dari Allah?” Beliau menjawab, “Bukan dari aku, melainkan dari Allah.”

Kemudian aku berkata, “Wahai Rasulullah saw, sebagai tanda taubatku, aku hendak menyerahkan seluruh harta bendaku kepada Allah SWT dan Rasul-Nya.” Tetapi beliau menjawab, “Lebih baik engkau ambil sebagian dari hartamu itu!” Selanjutnya kukatakan kepada beliau, “Wahai Rasulullah, Allah telah menyelamatkan dirikau karena aku berkata benar. Setelah aku bertaubat, selama sisa umurku aku tidak akan berkata selain yang benar!”

Kemudian turunlah firman Allah kepada Rasul-Nya,

Sesungguhnya Allah telah menerima taubat Nabi, orang-orang Muhajirin dan Anshar yang mengikuti Nabi dalam masa kesulitan, setelah hati segolongan dari mereka nyaris berpaling (tergelincir), namun kemudian Allah menerima taubat mereka. Sesunguhnya Allah Mahaya Penyayang terhadap mereka. Dan terhadap tiga orang yang ditangguhkan (penerimaan taubatnya) sehingga bumi yang luas ini mereka rasakan amat sempit, dan jiwa mereka pun dirasa sempit oleh mereka, kemudian mereka menyadari bahwa tidak ada tempat lari dari (siksaan) Allah selain kepada-Nya, kemudian Allah menerima taubat mereka agar mereka tetap bertaubat. Sesungguhnya Allah-lah Yang Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang. Hari orang-orang yang beriman, tetapi bertaqwalah kepada Allah dan hendaklah kalian bersama orang-orang yang selalu benar.(at-Taubah: 117-119)

 

KESIMPULAN

 

1.     Peristiwa Tabuk merupakan peristiwa terakhir yang dipimpin oleh Rasulullah saw selama hidupnya. Meskipun tidak mengalami pertempuran sengit pada peristiwa itu, pasukan Rasulullah saw dianggap meraih kemenangan yang gemilang.

2.     Kejujuran selama akan menjadi sifat seorang Mukmin sejati, tidak akan pernah melakukan kedustaan meskipun kesempatan itu ada dan bisa dilakukan. Adapun kemunafikan akan mencari alasan saat berhadapan dengan Rasulullah saw agar bisa terlepas dari hukuman akibat ketidakikutsertaannya pada peristiwa Tabuk.

3.     Peristiwa Tabuk menjadi ujian yang penting kesetiaan dan loyalitas kaum Mukminin (sahabat) kepada Allah SWT dan Rasulullah saw. Meski kondisi sangat berat, mereka tetap memenuhi panggilan Allah SWT dan Rasul-Nya untuk berjuang di jalan Allah SWT.

4.     Kejujuran akan membuahkan hasil yang gemilang berupa ampunan dan pujian Allah SWT kepada mereka. Kisah tiga orang sahabat yang jujur adalah buktinya.

 

EVALUASI

1.     Apa yang Anda ketahui tentang peristiwa Tabuk?

2.     Siapakah nama-nama sahabat yang jujur dan tidak mencari-cari alasan ketidakikutsertaan mereka dalam peristiwa Tabuk?

3.     Bagaimana cara Rasulullah saw memberikan hukuman kepada para pemberi alasan (orang-orang munafik) yang tidak peristiwa Tabuk dan hukuman kepada orang-orang yang jujur sehingga tidak mencari-cari alasan ketidakikutsertaan mereka dalam peristiwa Tabuk?

 

KOMITMEN

1.     Memahami dengan baik kejujuran dalam menjalankan syariat Allah SWT, apa pun keadaan yang akan dihadapi setelahnya.

2.     Siap memenuhi panggilan jihad kapan pun dan bagaimana pun kondisinya.

 

REFERENSI

1.     Arrahiqul Makhtum, Bahtsun Fis Sirah Annasbawiyah Ala Shahibiha Afdhalis Shalati Was Salam – terjemahan Sirah Nabawiyah – Shafiyurrahman al-Mubarakfuri) penerjemah: Suchail Suyuti) cet. I, Gema Insani Press) Dzulhijjah 1434 H/Oktober 2013)

2.     Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah Ma'a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah. Dr. Said Ramadhan al-Buthi, Cetakan I, September 2015.

3.     Shahih Bukhari, al-Jami al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillah saw wa Sunanihi wa Ayyamihi (Shahih al-Bukhari), Muhammad bin Ismail Abu Abdillah Al-Bukhari Alja’fi, Dar Touq Annajah, Cet. I, 1422.

4.     Shahih Muslim, al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtasar Binaqli Anil Adli Ila Rasulillah saw, Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Hasan al-Qusyairu an-Nasisaburi, Dar Ihya Elturats Alarabi, Beirut.

No comments:

Post a Comment

Perang Hunain