Thursday, March 26, 2026

Nuzulul Quran

Turunnya Al-Qur’an

Allah Ta‘ala memuliakan Al-Qur’an yang mulia dengan menjadikannya sebagai pembenar kitab-kitab sebelumnya dan sebagai pengawas (penjaga) atasnya. Allah berfirman:

“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran, membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan sebagai penjaga terhadapnya.”

Dan Allah berfirman:

“Dan dengan kebenaran Kami turunkannya dan dengan kebenaran pula ia turun, dan Kami tidak mengutusmu melainkan sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan. Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan, dan Kami menurunkannya dengan bertahap.”

Al-Qur’an juga memiliki keistimewaan dibandingkan kitab-kitab sebelumnya dari segi cara turunnya, karena ia diturunkan sekaligus, kemudian diturunkan secara berangsur-angsur. Hal ini dapat diperhatikan dalam ayat-ayat sebelumnya, pada firman-Nya:

“Dan Kami menurunkan kepadamu Kitab…”
dan firman-Nya:
“Dan dengan kebenaran Kami menurunkannya…”
serta firman-Nya pada ayat lain:
“Dan Kami menurunkannya secara bertahap.”

Biasanya kata inzal (menurunkan) digunakan untuk sesuatu yang diturunkan sekaligus, sedangkan tanzil (penurunan bertahap) digunakan untuk sesuatu yang diturunkan secara berangsur-angsur.

Al-Qur’an menggabungkan kedua bentuk tersebut: diturunkan sekaligus—dan dalam hal ini ia sama dengan kitab-kitab samawi lainnya—kemudian diturunkan secara berangsur-angsur, yang menjadi kelebihannya dibanding kitab-kitab sebelumnya, sebagaimana akan dijelaskan.

Adapun dalil bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus adalah firman Allah:

“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.”

Dan firman-Nya:

“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh berkah.”

Jika kita merenungkan ayat-ayat ini, kita akan mendapati bahwa tidak ada pertentangan di antara semuanya. Malam yang penuh berkah itu adalah malam Lailatul Qadar, yaitu malam di mana Al-Qur’an diturunkan, dan malam itu berada di bulan Ramadan, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya:

“Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”

Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur, sebagaimana akan dijelaskan, dan tidak diturunkan dalam satu malam atau satu bulan saja, melainkan selama beberapa tahun.

Maka menjadi jelas bahwa yang dimaksud dengan “diturunkan” dalam ayat-ayat tersebut adalah turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauh Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.

Pendapat ini adalah pendapat yang paling masyhur dan paling sahih, dan inilah yang dianut oleh mayoritas ulama, serta diriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas رضي الله عنهما, dan didukung oleh riwayat-riwayat yang sahih.

Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata:

“Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian diturunkan setelah itu selama dua puluh tahun.”

Kemudian ia membaca ayat:

“Dan mereka tidak datang kepadamu dengan sesuatu perumpamaan, melainkan Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik.”

Dan ayat:

“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap.”

Al-Hakim juga meriwayatkan dari Sa‘id bin Jubair dari Ibnu ‘Abbas bahwa ia berkata:

“Al-Qur’an dipisahkan dari Adz-Dzikr (Lauh Mahfuz), lalu diletakkan di Baitul ‘Izzah di langit dunia, kemudian Jibril menurunkannya kepada Nabi .”

Dan Al-Hakim serta Al-Baihaqi dan selain keduanya meriwayatkan dari Manshur, dari Sa‘id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:

“Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia, lalu diturunkan sesuai dengan peristiwa-peristiwa, dan Allah menurunkannya kepada Rasul-Nya sedikit demi sedikit.”

Hadis-hadis ini dan yang lainnya menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana yang ditunjukkan oleh ayat-ayat sebelumnya.

As-Suyuthi menyebutkan bahwa Al-Qurthubi menukil adanya ijma‘ (kesepakatan ulama) bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.


(2) Pendapat kedua:

Bahwa Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia dalam dua puluh malam Lailatul Qadar, atau dalam dua puluh tiga malam Lailatul Qadar selama dua puluh tiga tahun, dan ada pula yang mengatakan dalam dua puluh lima malam Lailatul Qadar selama dua puluh lima tahun.

Pada setiap malam diturunkan apa yang Allah kehendaki untuk diturunkan pada tahun tersebut.

Kemudian setelah itu, Al-Qur’an tidak diturunkan secara bertahap sepanjang tahun kepada Rasulullah , melainkan sesuai dengan perbedaan pendapat mengenai lamanya masa tinggal Nabi di Makkah.

Pendapat ini dianut oleh Muqatil dan Al-Mawardi dalam tafsirnya.


(3) Pendapat ketiga:

Pendapat ini dianut oleh Asy-Sya‘bi dan selainnya, yaitu bahwa yang dimaksud dengan “penurunan” dalam tiga ayat tersebut adalah permulaan turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah pada malam Lailatul Qadar, kemudian setelah itu diturunkan secara berangsur-angsur pada waktu-waktu yang berbeda di berbagai kesempatan lainnya.

Pendapat pertama adalah yang paling kuat dan merupakan pendapat mayoritas ulama, yaitu bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian diturunkan setelah itu secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah , baik di bulan Ramadan maupun di luar Ramadan, sesuai dengan peristiwa dan kejadian.

Adapun hikmah diturunkannya sekaligus dari Lauh Mahfuz ke langit dunia adalah:
“Untuk mengagungkan kedudukannya (yaitu Al-Qur’an) dan kedudukan orang yang kepadanya ia diturunkan, yaitu dengan memberitahukan kepada penghuni tujuh langit bahwa ini adalah kitab terakhir yang diturunkan kepada penutup para rasul untuk umat yang paling mulia.”

Seandainya tidak ada hikmah Ilahi yang menghendaki penurunannya secara berangsur-angsur sesuai peristiwa, niscaya Al-Qur’an akan diturunkan ke bumi sekaligus sebagaimana kitab-kitab yang diturunkan sekaligus.

Penulis kitab Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an menyebutkan:
“Sesungguhnya dalam berulangnya proses penurunan dan tempat-tempatnya—sekali di Lauh Mahfuz, sekali di Baitul ‘Izzah, dan sekali lagi ke dalam hati Nabi —terdapat penegasan kuat untuk meniadakan keraguan terhadap Al-Qur’an dan menambah keimanan kepadanya serta menumbuhkan kepercayaan terhadapnya. Karena suatu perkataan jika dicatat dalam banyak tempat, maka hal itu lebih meniadakan keraguan dan lebih menguatkan kepastian keberadaannya dibanding jika hanya dicatat di satu tempat atau memiliki satu keberadaan saja.”

Ahlus Sunnah wal Jama‘ah telah sepakat bahwa Jibril menerima Al-Qur’an dengan mendengarnya langsung dari Allah, baik lafaz maupun maknanya, kemudian ia menurunkannya kepada Rasulullah .


Turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur dan dalilnya:

Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya:

“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat kepada mereka, mereka berkata: ‘Mengapa tidak kamu buat sendiri?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku. Ini adalah bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang beriman.’”

Dan firman-Nya:

“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang jelas, berkatalah orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami: ‘Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah ia.’ Katakanlah: ‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari diriku sendiri. Aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai Tuhanku akan azab hari yang besar.’ Katakanlah: ‘Jika Allah menghendaki, niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak memberitahukannya kepadamu. Sungguh aku telah tinggal bersamamu sekian lama sebelum (turunnya Al-Qur’an ini). Tidakkah kamu berpikir?’”

Dan firman-Nya:

“Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah pengumpulannya dan pembacaannya. Maka apabila Kami telah membacakannya, ikutilah bacaannya.”

Dan firman-Nya:

“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab Tuhanmu. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan engkau tidak akan menemukan tempat berlindung selain dari-Nya.”

Ayat-ayat ini dan banyak lagi yang lainnya menunjukkan bahwa Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah Ta‘ala dengan lafaz dan maknanya kepada Rasulullah melalui perantara Jibril عليه السلام, sebagaimana firman-Nya:

“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar diturunkan oleh Tuhan semesta alam, yang dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab yang jelas.”

Dan firman-Nya:

“Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka sesungguhnya dia telah menurunkannya ke dalam hatimu dengan izin Allah, membenarkan apa yang sebelumnya, dan sebagai petunjuk serta kabar gembira bagi orang-orang yang beriman.”

Penurunan ini berbeda dengan penurunan pertama ke langit dunia. Yang dimaksud di sini adalah penurunannya secara berangsur-angsur kepada Rasulullah sejak masa kenabiannya hingga mendekati akhir hayat beliau yang mulia.

Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, dari Masruq, dari ‘Aisyah, dari Fatimah رضي الله عنها, ia berkata:
“Nabi membisikkan kepadaku bahwa Jibril biasa menelaah (mengulang) Al-Qur’an bersamaku setiap tahun sekali, dan tahun ini ia menelaahnya bersamaku dua kali, dan aku tidak melihat hal itu kecuali sebagai tanda dekatnya ajalku.”

Az-Zarkasyi berkata:
“Jika engkau bertanya: apa rahasia diturunkannya Al-Qur’an ke bumi secara berangsur-angsur? Mengapa tidak diturunkan sekaligus seperti kitab-kitab lainnya? Maka aku katakan: pertanyaan ini telah dijawab oleh Allah Subhanahu wa Ta‘ala, yaitu dalam firman-Nya:

‘Dan orang-orang kafir berkata: Mengapa Al-Qur’an tidak diturunkan kepadanya sekaligus?’—maksud mereka seperti kitab-kitab yang diturunkan kepada para rasul sebelumnya.

Maka Allah menjawab: ‘Demikianlah (Kami menurunkannya secara berangsur-angsur) agar Kami meneguhkan hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil. Dan mereka tidak datang kepadamu dengan suatu perumpamaan, melainkan Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik.’”

Dan Allah juga berfirman dalam Surah Al-Isra’:

“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan, dan Kami menurunkannya dengan bertahap.”

Dari ayat-ayat ini kita memahami bahwa Al-Qur’an diturunkan secara berangsur-angsur kepada Nabi , sedangkan kitab-kitab samawi sebelumnya diturunkan sekaligus—ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan mayoritas ulama.

Hal ini karena Allah tidak mendustakan orang-orang kafir dalam klaim mereka bahwa kitab-kitab sebelumnya diturunkan sekaligus, melainkan menjawab mereka dengan menjelaskan hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur.

Seandainya kitab-kitab sebelumnya juga diturunkan secara berangsur-angsur seperti Al-Qur’an, niscaya Allah akan membantah mereka dan menjelaskan bahwa penurunan bertahap adalah sunnah (kebiasaan) dalam penurunan wahyu kepada para nabi sebelumnya.

Sebagaimana Allah juga membantah mereka dalam firman-Nya:

“Dan Kami tidak mengutus para rasul sebelum engkau, melainkan mereka juga makan makanan dan berjalan di pasar-pasar,”

ketika mereka berkata:

“Mengapa rasul ini makan makanan dan berjalan di pasar-pasar?”

Dan sebagaimana Allah membantah mereka ketika mereka berkata:
“Apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai rasul?”
dengan firman-Nya:
“Katakanlah: Seandainya di bumi ada malaikat-malaikat yang berjalan dengan tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka dari langit seorang malaikat sebagai rasul.”

Dan ketika mereka mengingkari bahwa Nabi menikahi perempuan dan memiliki keturunan, serta meminta agar ia mendatangkan suatu mukjizat, Allah membantah mereka dengan firman-Nya:

“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau dan Kami jadikan bagi mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidaklah patut bagi seorang rasul mendatangkan suatu mukjizat melainkan dengan izin Allah. Bagi tiap-tiap waktu ada ketetapan.”

Akan tetapi Allah سبحانه membantah mereka dengan menjelaskan hikmah turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur dalam firman-Nya:

“Demikianlah (Kami menurunkannya secara bertahap) agar Kami meneguhkan hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil. Dan mereka tidak datang kepadamu dengan suatu perumpamaan melainkan Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik.”

Dari penjelasan di atas diketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, yaitu masa kerasulan di periode Makkah dan Madinah.

Setelah itu kita dapat merangkum hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara bertahap sebagai berikut:


(1) Hikmah pertama: Meneguhkan hati Rasulullah

Allah Ta‘ala berfirman:
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri, berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagi kalian, sangat penyantun dan penyayang terhadap orang-orang beriman.”

Nabi menghadapi banyak kesulitan dalam menyebarkan dakwahnya. Ia berhadapan dengan kaum yang keras hati, sangat keras kepala, dan penuh kesombongan. Mereka menolak dakwahnya dan mengingkarinya, bukan karena alasan lain kecuali karena beliau menerima wahyu.

Padahal mereka adalah kaumnya sendiri dan orang-orang yang paling mengenalnya serta mengetahui akhlaknya.

Namun demikian, Rasul sangat menginginkan hidayah bagi mereka, dan merasa berat atas sikap penolakan dan keingkaran mereka. Bahkan beliau sangat bersedih atas hal itu, sebagaimana firman Allah:

“Maka barangkali engkau akan membinasakan dirimu karena bersedih hati setelah mereka berpaling, jika mereka tidak beriman kepada Al-Qur’an ini.”

Dan firman-Nya:

“Barangkali engkau akan membinasakan dirimu karena mereka tidak beriman. Jika Kami menghendaki, niscaya Kami turunkan kepada mereka suatu tanda dari langit, lalu tunduklah leher-leher mereka kepadanya.”

Maka Al-Qur’an turun kepada Rasulullah berulang-ulang untuk meneguhkan hatinya, menghibur jiwanya, membuka baginya pintu harapan, dan menenangkannya terhadap masa depan agama ini—bahwa Allah pasti akan menolongnya, meskipun musuh-musuhnya bersatu menentangnya dan orang-orang yang batil mengingkarinya.

Juga untuk mengajarkan kepadanya bahwa ini adalah sunnatullah terhadap para rasul terdahulu bersama kaum mereka sepanjang zaman.

Sebagaimana firman Allah:

“Demikianlah, tidak datang seorang rasul pun kepada orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka berkata: ‘Ia adalah tukang sihir atau orang gila.’ Apakah mereka saling berwasiat tentang hal itu? Bahkan mereka adalah kaum yang melampaui batas. Maka berpalinglah dari mereka, dan engkau tidak tercela. Dan tetaplah memberi peringatan, karena peringatan itu bermanfaat bagi orang-orang beriman.”

Maka engkau, wahai Muhammad, bukanlah rasul yang pertama. Para rasul sebelum engkau telah didustakan dan disakiti, bahkan dituduh sebagai penyihir dan orang gila. Namun mereka bersabar atas semua cobaan itu hingga datang pertolongan Allah.

Dan engkau pun termasuk dari mereka:

“Maka bersabarlah sebagaimana kesabaran para rasul yang memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar disegerakan (azab bagi mereka).”

Ketahuilah bahwa kaummu tidak mendustakanmu kecuali karena kesombongan dan keangkuhan.

Maka ayat-ayat ini turun ke dalam hati Rasulullah sebagai penyejuk dan ketenangan, menguatkan tekadnya, serta menghiburnya agar terus melanjutkan perjalanan dalam jalan yang sulit ini yang telah dipilihkan baginya.

Sebagaimana firman Allah:

“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang berat.”

Allah سبحانه berfirman:

“Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu membuatmu bersedih. Maka sesungguhnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sungguh telah didustakan para rasul sebelum engkau, lalu mereka bersabar atas pendustaan dan gangguan yang mereka alami hingga datang pertolongan Kami. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat Allah. Dan sungguh telah datang kepadamu sebagian dari berita para rasul.”

Dari sini dapat dipahami hikmah penyebutan kisah-kisah dalam Al-Qur’an, yaitu untuk meneguhkan hati Nabi serta sebagai pelajaran dan peringatan:

“Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu untuk meneguhkan hatimu, dan dalam kisah itu telah datang kepadamu kebenaran serta pelajaran dan peringatan bagi orang-orang beriman.”

Setiap kali gangguan kaum musyrik terhadap Rasulullah semakin berat, dan kesedihan memasuki hatinya, maka turunlah Al-Qur’an yang mengancam para pendusta, menguatkan tekad Rasul, serta memberitahukan bahwa Allah mengetahui rahasia dan apa yang mereka tampakkan:

“Maka janganlah ucapan mereka membuatmu bersedih. Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka nyatakan.”

Dan juga memberi kabar gembira kepadanya tentang kemenangan dan pertolongan:

“Dan Allah akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat.”

Dan firman-Nya:

“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur ke belakang.”

Dan firman-Nya:

“Dan Allah akan melindungimu dari manusia.”

Demikianlah ayat-ayat terus turun kepada Rasulullah secara berurutan—penghiburan demi penghiburan, dan peneguhan demi peneguhan—agar kesedihan tidak menguasainya, dan keputusasaan tidak menemukan jalan ke dalam dirinya.

Dengan demikian, hatinya tetap teguh dalam dakwahnya dan yakin akan pertolongan Allah, karena Allah pasti akan menepati janji-Nya kepadanya.


(2) Hikmah kedua: Memudahkan hafalan dan pemahaman

Telah diketahui oleh kalangan khusus maupun umum bahwa Nabi adalah seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis), sebagaimana firman Allah:

“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, padahal sebelumnya mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”

Dan firman-Nya:

“Dan orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang mereka dapati tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil.”

Bangsa Arab yang diutus kepada mereka Rasulullah adalah bangsa yang ummi, dan sarana penulisan tidaklah mudah tersedia bagi mereka—bahkan bagi para penulis yang jumlahnya sedikit—karena mereka sibuk dengan urusan kehidupan dan membela agama baru mereka.

Seandainya Al-Qur’an diturunkan sekaligus, niscaya mereka akan kesulitan menghafalnya. Maka hikmah Ilahi menghendaki agar Allah menurunkannya secara berangsur-angsur agar mudah bagi mereka untuk menghafalnya dan memungkinkan mereka memahami maknanya.

Ini merupakan bentuk rahmat Allah terhadap umat ini. Setiap kali satu atau beberapa ayat turun, para sahabat menghafalnya, merenungi maknanya, dan berhenti pada hukum-hukumnya. Dengan demikian, mereka mempelajari ilmu sekaligus mengamalkannya.

Dari Umar رضي الله عنه, ia berkata:
“Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat demi lima ayat, karena Jibril menurunkannya kepada Nabi lima ayat demi lima ayat.”

(HR. Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman).

Setiap kali sesuatu dari Al-Qur’an diturunkan, Nabi memerintahkan agar dituliskan, dan beliau menunjukkan kepada mereka posisi ayat tersebut dalam surahnya: “Letakkan ayat ini dalam surah ini setelah ayat ini.”

Dan benarlah firman Allah:

“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan, dan Kami menurunkannya secara bertahap.”


(3) Hikmah ketiga: Tantangan dan kemukjizatan

Al-Qur’an adalah mukjizat abadi Rasul . Ia telah menantang mereka berulang kali, tetapi setiap kali mereka tidak mampu mendatangkan yang semisalnya, atau sepuluh surah seperti itu, atau bahkan satu surah saja yang serupa dengannya.

Kemudian Al-Qur’an menetapkan ketidakmampuan mereka untuk selamanya, sebagaimana firman-Nya:

“Dan jika kalian ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada hamba Kami, maka datangkanlah satu surah yang semisal dengannya, dan panggillah penolong-penolong kalian selain Allah jika kalian benar. Maka jika kalian tidak dapat melakukannya—dan kalian tidak akan mampu melakukannya…”

Tidak diragukan bahwa penantangan dengan Al-Qur’an yang diturunkan secara bertahap, sementara mereka tidak mampu menandinginya, lebih menunjukkan kemukjizatan dan lebih kuat dalam menegakkan hujjah atas mereka, dibandingkan jika ia diturunkan sekaligus lalu ditantang sekali saja.

Seakan-akan setiap bagian (tahapan turunnya) adalah mukjizat yang terus diperbarui dan bukti yang pasti atas kebenaran Rasul :

“Dan mereka tidak datang kepadamu dengan suatu perumpamaan melainkan Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik.”

Setiap kali mereka mengemukakan sesuatu, Allah memberikan jawaban kepada mereka.

Mereka sering mengajukan pertanyaan kepada Rasul dengan tujuan melemahkan dan menguji kenabiannya, seperti pertanyaan tentang hari kiamat, tentang ruh, tentang Dzulqarnain, serta permintaan mereka agar azab disegerakan, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang dimaksudkan untuk menyulitkan Nabi .

Maka Al-Qur’an turun dengan jawaban yang benar sebagai bentuk dukungan dan pembenaran bagi Rasulullah .

Dan karena tantangan itu berlaku pada satu surah—bahkan kata “surah” disebut dalam bentuk nakirah (umum)—baik pendek maupun panjang, atau sesuatu yang sebanding dengannya dari ayat-ayat, maka seolah-olah setiap bagian yang turun adalah mukjizat tersendiri dan tantangan baru bagi mereka.

Namun demikian, tidak seorang pun dari mereka mampu menandinginya, padahal mereka adalah musuh yang paling keras.


(4) Hikmah keempat: Bertahap dalam penetapan syariat dan pembinaan umat

Nabi diutus dalam keadaan bangsa Arab berada dalam kegelapan jahiliah. Bahkan dunia secara umum dipenuhi kekacauan dalam akidah, ibadah, kebiasaan buruk, dan akhlak yang tercela.

Maka sangat wajar jika Islam membimbing mereka secara bertahap, seiring dengan turunnya Al-Qur’an juga secara bertahap.

Setiap kali Islam berhasil menghancurkan satu kebatilan, ia berpindah kepada kebatilan berikutnya, dan demikian seterusnya—dimulai dari yang paling penting kemudian yang berikutnya.

Hingga ketika hati mereka telah bersih dari syirik dan penyembahan berhala, serta akal mereka terbebas dari khurafat dan taklid buta, dan telah dipenuhi dengan cahaya iman dan keyakinan—serta mereka meyakini bahwa di balik dunia yang tampak ini ada alam lain, dan setelah kehidupan ini ada kehidupan lain yang di dalamnya terdapat perhitungan dan balasan—maka setelah itu mereka dipindahkan ke tahap berikutnya, yaitu tahap ibadah: shalat, zakat, puasa, kemudian haji.

Demikian pula dalam hal kebiasaan, mereka dilarang dari dosa-dosa besar dengan kecaman yang keras, kemudian dilarang dari dosa-dosa kecil dengan cara yang lembut dan bertahap.

Al-Qur’an terus turun dari waktu ke waktu sebagai petunjuk dan bimbingan sesuai dengan keadaan, baik secara global maupun rinci.

Dengan metode ini, Al-Qur’an telah meletakkan sistem perundang-undangan dan metode pendidikan yang paling sempurna bagi seluruh umat manusia.

Ambillah contoh metode Al-Qur’an dalam pengharaman khamar (minuman keras). Ia telah mendahului bangsa-bangsa paling maju sekalipun dalam hal peradaban dan kemajuan.

Hal ini tidak mengherankan, karena yang menciptakan manusia adalah yang menurunkan Al-Qur’an, dan Dialah yang paling mengetahui apa yang baik bagi manusia di setiap waktu dan tempat:

“Apakah tidak mengetahui (Allah) yang menciptakan? Dan Dia Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”

Dia Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada.

Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:
“Sesungguhnya yang pertama kali turun dari Al-Qur’an adalah surah dari bagian mufashshal yang di dalamnya disebutkan surga dan neraka. Hingga ketika manusia telah kembali kepada Islam, barulah turun hukum halal dan haram. Seandainya yang pertama kali turun adalah: ‘Janganlah kalian meminum khamar,’ niscaya mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan khamar selamanya.’ Dan seandainya yang pertama turun adalah: ‘Janganlah kalian berzina,’ niscaya mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya.’”

Demikianlah proses bertahap dalam membina umat sesuai dengan peristiwa yang mereka alami.

Setelah hijrah, berdirilah negara Islam pertama, disyariatkan jihad, dan turunlah ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hikmah disyariatkannya jihad, mendorong mereka untuk melakukannya, serta menjelaskan keutamaan syahid dan nasib para syuhada.

Tidak diragukan bahwa peristiwa-peristiwa ini tidak terjadi dalam satu waktu, melainkan terjadi secara bertahap dan berurutan.

Maka merupakan rahmat Allah kepada umat ini bahwa Al-Qur’an diturunkan sesuai dengan peristiwa-peristiwa tersebut, secara rinci dan bertahap.

Contoh-contoh lain selain yang telah disebutkan sangat banyak, seperti perjanjian, perdamaian dengan musuh, hubungan negara dengan negara lain dalam kondisi damai maupun perang, sikap Islam terhadap non-Muslim, hukum tawanan perang, sistem keluarga dan masyarakat, dakwah kepada Ahli Kitab, serta penyingkapan kesalahan mereka dan penjelasan tentang penyimpangan mereka terhadap kitab-kitab mereka.

Dan berbagai peristiwa lainnya yang Al-Qur’an turun untuk menjelaskan hukum Allah atasnya saat peristiwa itu terjadi—dan semuanya itu jelas tidak terjadi sekaligus, melainkan secara bertahap.


(5) Hikmah kelima: Bukti pasti bahwa Al-Qur’an adalah kalam Allah dan tidak ada campur tangan manusia di dalamnya

Telah menjadi hal yang disepakati bahwa Al-Qur’an tidak diturunkan kepada Rasulullah dalam satu bulan atau satu tahun, melainkan diturunkan selama beberapa tahun, sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, yaitu sepanjang masa kerasulan.

Namun demikian, kita mendapati bahwa Al-Qur’an—meskipun diturunkan dalam rentang waktu yang panjang—tersusun dengan sangat rapi, sangat teliti dalam susunan, kuat dalam gaya bahasa, dan sangat kokoh keterkaitannya.

Sebagian ayatnya saling berkaitan dengan yang lain, baik dalam surah maupun ayat-ayatnya, seakan-akan merupakan satu lingkaran yang utuh; tidak terdapat pertentangan ataupun perbedaan di dalamnya:

“Sekiranya (Al-Qur’an) itu berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan di dalamnya banyak pertentangan.”

Bukankah hal ini merupakan bukti tentang sumbernya, bahwa ia adalah wahyu dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji?

“Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, kemudian dijelaskan secara terperinci, dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha Mengetahui.”

Setiap kali satu atau beberapa ayat diturunkan kepada Rasulullah , beliau bersabda:
“Letakkan ayat-ayat ini pada tempat ini dalam surah ini.”

Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Utsman bin Abi al-‘Ash, ia berkata:
“Aku sedang duduk di sisi Rasulullah , lalu beliau menatap ke atas, kemudian menundukkan pandangannya, lalu bersabda: ‘Jibril datang kepadaku dan memerintahkanku untuk meletakkan ayat ini pada tempat ini dalam surah ini: (Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan serta memberi kepada kerabat, dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan kezaliman; Dia memberi pengajaran kepadamu agar kamu mengambil pelajaran).’”

Rasulullah adalah manusia yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, dan tidak mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan datang yang menuntut turunnya Al-Qur’an.

Beliau berada dalam keadaan demikian, sementara Al-Qur’an terus diturunkan kepadanya bagian demi bagian hingga sempurna turun dengan cara tersebut.

Tiba-tiba kita dapati bahwa Al-Qur’an pada akhirnya memiliki tingkat keserasian dan keharmonisan yang sangat tinggi, sehingga seluruh manusia tidak mampu mendatangkan sesuatu yang serupa dengan susunan dan gaya bahasanya.

Kesimpulannya, Al-Qur’an adalah:
“Suatu kitab yang padanya seluruh puncak keutamaan bertemu, meskipun bagian-bagiannya tampak berjauhan.”

Dan benarlah firman Allah:

“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya ia berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan di dalamnya banyak pertentangan.”


Penerapan ilmiah terhadap materi melalui kegiatan pendamping:

  1. Membuat sebuah poster yang menjelaskan tahapan turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah .
  2. Menggunakan kaset audio, video, atau mengundang seorang ahli untuk menjelaskan kepada jamaah masjid tentang pelajaran yang dapat diambil dari turunnya Al-Qur’an secara bertahap dalam bidang dakwah dan pendidikan.
  3. Menulis artikel di surat kabar, majalah, atau situs internet tentang tahapan turunnya Al-Qur’an.
  4. Menyampaikan ceramah di hadapan jamaah masjid tentang kemukjizatan Al-Qur’an dari segi turunnya secara bertahap, namun tetap tampak selaras tanpa cacat, tanpa penyimpangan, dan sangat kokoh susunannya.

Evaluasi dan pengukuran diri:

S1: Apa yang dimaksud dengan turunnya Al-Qur’an?
S2: Apa saja tahapan turunnya Al-Qur’an dari langit hingga turun ke dalam hati Rasulullah ?
S3: Sebutkan dalil-dalil yang digunakan para ulama dalam pendapat bahwa Al-Qur’an diturunkan secara bertahap.
S4: Apa hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur kepada Rasulullah ?
S5: Bagaimana kamu mengambil manfaat secara dakwah dan pendidikan dari turunnya Al-Qur’an secara bertahap?
S6: Turunnya Al-Qur’an secara bertahap selama 23 tahun kemudian tersusun seperti yang kita miliki sekarang merupakan salah satu bentuk kemukjizatan Al-Qur’an—jelaskan hal tersebut.

No comments:

Post a Comment

Nuzulul Quran