Turunnya Al-Qur’an
Allah Ta‘ala memuliakan Al-Qur’an yang mulia dengan
menjadikannya sebagai pembenar kitab-kitab sebelumnya dan sebagai pengawas
(penjaga) atasnya. Allah berfirman:
“Dan Kami telah menurunkan kepadamu Kitab dengan kebenaran,
membenarkan kitab-kitab sebelumnya dan sebagai penjaga terhadapnya.”
Dan Allah berfirman:
“Dan dengan kebenaran Kami turunkannya dan dengan kebenaran
pula ia turun, dan Kami tidak mengutusmu melainkan sebagai pembawa kabar
gembira dan pemberi peringatan. Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara
berangsur-angsur agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan, dan
Kami menurunkannya dengan bertahap.”
Al-Qur’an juga memiliki keistimewaan dibandingkan
kitab-kitab sebelumnya dari segi cara turunnya, karena ia diturunkan sekaligus,
kemudian diturunkan secara berangsur-angsur. Hal ini dapat diperhatikan dalam
ayat-ayat sebelumnya, pada firman-Nya:
“Dan Kami menurunkan kepadamu Kitab…”
dan firman-Nya:
“Dan dengan kebenaran Kami menurunkannya…”
serta firman-Nya pada ayat lain:
“Dan Kami menurunkannya secara bertahap.”
Biasanya kata inzal (menurunkan) digunakan untuk
sesuatu yang diturunkan sekaligus, sedangkan tanzil (penurunan bertahap)
digunakan untuk sesuatu yang diturunkan secara berangsur-angsur.
Al-Qur’an menggabungkan kedua bentuk tersebut: diturunkan
sekaligus—dan dalam hal ini ia sama dengan kitab-kitab samawi lainnya—kemudian
diturunkan secara berangsur-angsur, yang menjadi kelebihannya dibanding
kitab-kitab sebelumnya, sebagaimana akan dijelaskan.
Adapun dalil bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus adalah
firman Allah:
“Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan
Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai
petunjuk dan pembeda (antara yang benar dan yang batil).”
Dan firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam Lailatul Qadar.”
Dan firman-Nya:
“Sesungguhnya Kami menurunkannya pada malam yang penuh
berkah.”
Jika kita merenungkan ayat-ayat ini, kita akan mendapati
bahwa tidak ada pertentangan di antara semuanya. Malam yang penuh berkah itu
adalah malam Lailatul Qadar, yaitu malam di mana Al-Qur’an diturunkan, dan
malam itu berada di bulan Ramadan, sebagaimana ditunjukkan oleh firman-Nya:
“Bulan Ramadan yang di dalamnya diturunkan Al-Qur’an.”
Tidak diragukan lagi bahwa Al-Qur’an diturunkan kepada Nabi ﷺ secara
berangsur-angsur, sebagaimana akan dijelaskan, dan tidak diturunkan dalam satu
malam atau satu bulan saja, melainkan selama beberapa tahun.
Maka menjadi jelas bahwa yang dimaksud dengan “diturunkan”
dalam ayat-ayat tersebut adalah turunnya Al-Qur’an secara keseluruhan dari Lauh
Mahfuz ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.
Pendapat ini adalah pendapat yang paling masyhur dan paling
sahih, dan inilah yang dianut oleh mayoritas ulama, serta diriwayatkan dari
Ibnu ‘Abbas رضي الله
عنهما, dan didukung oleh riwayat-riwayat yang sahih.
Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak dari Ibnu
‘Abbas bahwa ia berkata:
“Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia pada malam
Lailatul Qadar, kemudian diturunkan setelah itu selama dua puluh tahun.”
Kemudian ia membaca ayat:
“Dan mereka tidak datang kepadamu dengan sesuatu
perumpamaan, melainkan Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang
terbaik.”
Dan ayat:
“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur
agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan, dan Kami
menurunkannya secara bertahap.”
Al-Hakim juga meriwayatkan dari Sa‘id bin Jubair dari Ibnu
‘Abbas bahwa ia berkata:
“Al-Qur’an dipisahkan dari Adz-Dzikr (Lauh Mahfuz), lalu
diletakkan di Baitul ‘Izzah di langit dunia, kemudian Jibril menurunkannya
kepada Nabi ﷺ.”
Dan Al-Hakim serta Al-Baihaqi dan selain keduanya
meriwayatkan dari Manshur, dari Sa‘id bin Jubair, dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:
“Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit dunia, lalu
diturunkan sesuai dengan peristiwa-peristiwa, dan Allah menurunkannya kepada
Rasul-Nya sedikit demi sedikit.”
Hadis-hadis ini dan yang lainnya menunjukkan bahwa Al-Qur’an
diturunkan sekaligus pada malam Lailatul Qadar, sebagaimana yang ditunjukkan
oleh ayat-ayat sebelumnya.
As-Suyuthi menyebutkan bahwa Al-Qurthubi menukil adanya
ijma‘ (kesepakatan ulama) bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus dari Lauh Mahfuz
ke Baitul ‘Izzah di langit dunia.
(2) Pendapat kedua:
Bahwa Al-Qur’an diturunkan ke langit dunia dalam dua puluh
malam Lailatul Qadar, atau dalam dua puluh tiga malam Lailatul Qadar selama dua
puluh tiga tahun, dan ada pula yang mengatakan dalam dua puluh lima malam
Lailatul Qadar selama dua puluh lima tahun.
Pada setiap malam diturunkan apa yang Allah kehendaki untuk
diturunkan pada tahun tersebut.
Kemudian setelah itu, Al-Qur’an tidak diturunkan secara
bertahap sepanjang tahun kepada Rasulullah ﷺ, melainkan sesuai dengan perbedaan
pendapat mengenai lamanya masa tinggal Nabi ﷺ di Makkah.
Pendapat ini dianut oleh Muqatil dan Al-Mawardi dalam
tafsirnya.
(3) Pendapat ketiga:
Pendapat ini dianut oleh Asy-Sya‘bi dan selainnya, yaitu
bahwa yang dimaksud dengan “penurunan” dalam tiga ayat tersebut adalah
permulaan turunnya Al-Qur’an kepada Rasulullah ﷺ pada malam Lailatul Qadar, kemudian
setelah itu diturunkan secara berangsur-angsur pada waktu-waktu yang berbeda di
berbagai kesempatan lainnya.
Pendapat pertama adalah yang paling kuat dan merupakan
pendapat mayoritas ulama, yaitu bahwa Al-Qur’an diturunkan sekaligus ke langit
dunia pada malam Lailatul Qadar, kemudian diturunkan setelah itu secara
berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun kepada Rasulullah ﷺ, baik di bulan
Ramadan maupun di luar Ramadan, sesuai dengan peristiwa dan kejadian.
Adapun hikmah diturunkannya sekaligus dari Lauh Mahfuz ke
langit dunia adalah:
“Untuk mengagungkan kedudukannya (yaitu Al-Qur’an) dan kedudukan orang yang
kepadanya ia diturunkan, yaitu dengan memberitahukan kepada penghuni tujuh
langit bahwa ini adalah kitab terakhir yang diturunkan kepada penutup para
rasul untuk umat yang paling mulia.”
Seandainya tidak ada hikmah Ilahi yang menghendaki
penurunannya secara berangsur-angsur sesuai peristiwa, niscaya Al-Qur’an akan
diturunkan ke bumi sekaligus sebagaimana kitab-kitab yang diturunkan sekaligus.
Penulis kitab Manahil al-‘Irfan fi ‘Ulum al-Qur’an
menyebutkan:
“Sesungguhnya dalam berulangnya proses penurunan dan tempat-tempatnya—sekali di
Lauh Mahfuz, sekali di Baitul ‘Izzah, dan sekali lagi ke dalam hati Nabi ﷺ—terdapat penegasan
kuat untuk meniadakan keraguan terhadap Al-Qur’an dan menambah keimanan
kepadanya serta menumbuhkan kepercayaan terhadapnya. Karena suatu perkataan
jika dicatat dalam banyak tempat, maka hal itu lebih meniadakan keraguan dan
lebih menguatkan kepastian keberadaannya dibanding jika hanya dicatat di satu
tempat atau memiliki satu keberadaan saja.”
Ahlus Sunnah wal Jama‘ah telah sepakat bahwa Jibril menerima
Al-Qur’an dengan mendengarnya langsung dari Allah, baik lafaz maupun maknanya,
kemudian ia menurunkannya kepada Rasulullah ﷺ.
Turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur dan dalilnya:
Allah Ta‘ala berfirman kepada Nabi-Nya:
“Dan apabila kamu tidak membawa suatu ayat kepada mereka,
mereka berkata: ‘Mengapa tidak kamu buat sendiri?’ Katakanlah: ‘Sesungguhnya
aku hanya mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku dari Tuhanku. Ini adalah
bukti-bukti yang nyata dari Tuhanmu, petunjuk dan rahmat bagi orang-orang yang
beriman.’”
Dan firman-Nya:
“Dan apabila dibacakan kepada mereka ayat-ayat Kami yang
jelas, berkatalah orang-orang yang tidak mengharapkan pertemuan dengan Kami:
‘Datangkanlah Al-Qur’an yang lain dari ini atau gantilah ia.’ Katakanlah:
‘Tidaklah patut bagiku menggantinya dari diriku sendiri. Aku hanya mengikuti
apa yang diwahyukan kepadaku. Sesungguhnya aku takut jika aku mendurhakai
Tuhanku akan azab hari yang besar.’ Katakanlah: ‘Jika Allah menghendaki,
niscaya aku tidak membacakannya kepadamu dan Allah tidak memberitahukannya kepadamu.
Sungguh aku telah tinggal bersamamu sekian lama sebelum (turunnya Al-Qur’an
ini). Tidakkah kamu berpikir?’”
Dan firman-Nya:
“Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk (membaca) Al-Qur’an
karena hendak cepat-cepat (menguasainya). Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah
pengumpulannya dan pembacaannya. Maka apabila Kami telah membacakannya,
ikutilah bacaannya.”
Dan firman-Nya:
“Dan bacakanlah apa yang diwahyukan kepadamu dari Kitab
Tuhanmu. Tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat-Nya, dan engkau tidak
akan menemukan tempat berlindung selain dari-Nya.”
Ayat-ayat ini dan banyak lagi yang lainnya menunjukkan bahwa
Al-Qur’an diturunkan dari sisi Allah Ta‘ala dengan lafaz dan maknanya kepada
Rasulullah ﷺ
melalui perantara Jibril عليه
السلام, sebagaimana firman-Nya:
“Dan sesungguhnya Al-Qur’an itu benar-benar diturunkan oleh
Tuhan semesta alam, yang dibawa turun oleh Ruhul Amin (Jibril) ke dalam hatimu
agar engkau termasuk orang-orang yang memberi peringatan, dengan bahasa Arab
yang jelas.”
Dan firman-Nya:
“Katakanlah: Barang siapa yang menjadi musuh Jibril, maka
sesungguhnya dia telah menurunkannya ke dalam hatimu dengan izin Allah,
membenarkan apa yang sebelumnya, dan sebagai petunjuk serta kabar gembira bagi
orang-orang yang beriman.”
Penurunan ini berbeda dengan penurunan pertama ke langit
dunia. Yang dimaksud di sini adalah penurunannya secara berangsur-angsur kepada
Rasulullah ﷺ
sejak masa kenabiannya hingga mendekati akhir hayat beliau yang mulia.
Sebagaimana diriwayatkan dalam Shahih Bukhari, dari Masruq,
dari ‘Aisyah, dari Fatimah رضي الله
عنها, ia berkata:
“Nabi ﷺ
membisikkan kepadaku bahwa Jibril biasa menelaah (mengulang) Al-Qur’an
bersamaku setiap tahun sekali, dan tahun ini ia menelaahnya bersamaku dua kali,
dan aku tidak melihat hal itu kecuali sebagai tanda dekatnya ajalku.”
Az-Zarkasyi berkata:
“Jika engkau bertanya: apa rahasia diturunkannya Al-Qur’an ke bumi secara
berangsur-angsur? Mengapa tidak diturunkan sekaligus seperti kitab-kitab
lainnya? Maka aku katakan: pertanyaan ini telah dijawab oleh Allah Subhanahu wa
Ta‘ala, yaitu dalam firman-Nya:
‘Dan orang-orang kafir berkata: Mengapa Al-Qur’an tidak
diturunkan kepadanya sekaligus?’—maksud mereka seperti kitab-kitab yang
diturunkan kepada para rasul sebelumnya.
Maka Allah menjawab: ‘Demikianlah (Kami menurunkannya secara
berangsur-angsur) agar Kami meneguhkan hatimu dengannya, dan Kami membacakannya
secara tartil. Dan mereka tidak datang kepadamu dengan suatu perumpamaan,
melainkan Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik.’”
Dan Allah juga berfirman dalam Surah Al-Isra’:
“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur
agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan, dan Kami
menurunkannya dengan bertahap.”
Dari ayat-ayat ini kita memahami bahwa Al-Qur’an diturunkan
secara berangsur-angsur kepada Nabi ﷺ, sedangkan kitab-kitab samawi sebelumnya diturunkan
sekaligus—ini adalah pendapat yang masyhur di kalangan mayoritas ulama.
Hal ini karena Allah tidak mendustakan orang-orang kafir
dalam klaim mereka bahwa kitab-kitab sebelumnya diturunkan sekaligus, melainkan
menjawab mereka dengan menjelaskan hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara
berangsur-angsur.
Seandainya kitab-kitab sebelumnya juga diturunkan secara
berangsur-angsur seperti Al-Qur’an, niscaya Allah akan membantah mereka dan
menjelaskan bahwa penurunan bertahap adalah sunnah (kebiasaan) dalam penurunan
wahyu kepada para nabi sebelumnya.
Sebagaimana Allah juga membantah mereka dalam firman-Nya:
“Dan Kami tidak mengutus para rasul sebelum engkau,
melainkan mereka juga makan makanan dan berjalan di pasar-pasar,”
ketika mereka berkata:
“Mengapa rasul ini makan makanan dan berjalan di
pasar-pasar?”
Dan sebagaimana Allah membantah mereka ketika mereka
berkata:
“Apakah Allah mengutus seorang manusia sebagai rasul?”
dengan firman-Nya:
“Katakanlah: Seandainya di bumi ada malaikat-malaikat yang berjalan dengan
tenang, niscaya Kami turunkan kepada mereka dari langit seorang malaikat
sebagai rasul.”
Dan ketika mereka mengingkari bahwa Nabi menikahi perempuan
dan memiliki keturunan, serta meminta agar ia mendatangkan suatu mukjizat,
Allah membantah mereka dengan firman-Nya:
“Dan sungguh Kami telah mengutus rasul-rasul sebelum engkau
dan Kami jadikan bagi mereka istri-istri dan keturunan. Dan tidaklah patut bagi
seorang rasul mendatangkan suatu mukjizat melainkan dengan izin Allah. Bagi
tiap-tiap waktu ada ketetapan.”
Akan tetapi Allah سبحانه membantah mereka dengan menjelaskan hikmah
turunnya Al-Qur’an secara berangsur-angsur dalam firman-Nya:
“Demikianlah (Kami menurunkannya secara bertahap) agar Kami
meneguhkan hatimu dengannya, dan Kami membacakannya secara tartil. Dan mereka
tidak datang kepadamu dengan suatu perumpamaan melainkan Kami datangkan
kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik.”
Dari penjelasan di atas diketahui bahwa Al-Qur’an diturunkan
kepada Nabi ﷺ
secara berangsur-angsur selama dua puluh tiga tahun, yaitu masa kerasulan di
periode Makkah dan Madinah.
Setelah itu kita dapat merangkum hikmah diturunkannya
Al-Qur’an secara bertahap sebagai berikut:
(1) Hikmah pertama: Meneguhkan hati Rasulullah ﷺ
Allah Ta‘ala berfirman:
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri,
berat terasa olehnya penderitaan kalian, sangat menginginkan (keimanan dan
keselamatan) bagi kalian, sangat penyantun dan penyayang terhadap orang-orang
beriman.”
Nabi ﷺ
menghadapi banyak kesulitan dalam menyebarkan dakwahnya. Ia berhadapan dengan
kaum yang keras hati, sangat keras kepala, dan penuh kesombongan. Mereka
menolak dakwahnya dan mengingkarinya, bukan karena alasan lain kecuali karena
beliau menerima wahyu.
Padahal mereka adalah kaumnya sendiri dan orang-orang yang
paling mengenalnya serta mengetahui akhlaknya.
Namun demikian, Rasul ﷺ sangat menginginkan hidayah bagi mereka,
dan merasa berat atas sikap penolakan dan keingkaran mereka. Bahkan beliau
sangat bersedih atas hal itu, sebagaimana firman Allah:
“Maka barangkali engkau akan membinasakan dirimu karena
bersedih hati setelah mereka berpaling, jika mereka tidak beriman kepada
Al-Qur’an ini.”
Dan firman-Nya:
“Barangkali engkau akan membinasakan dirimu karena mereka
tidak beriman. Jika Kami menghendaki, niscaya Kami turunkan kepada mereka suatu
tanda dari langit, lalu tunduklah leher-leher mereka kepadanya.”
Maka Al-Qur’an turun kepada Rasulullah ﷺ berulang-ulang untuk
meneguhkan hatinya, menghibur jiwanya, membuka baginya pintu harapan, dan
menenangkannya terhadap masa depan agama ini—bahwa Allah pasti akan
menolongnya, meskipun musuh-musuhnya bersatu menentangnya dan orang-orang yang
batil mengingkarinya.
Juga untuk mengajarkan kepadanya bahwa ini adalah
sunnatullah terhadap para rasul terdahulu bersama kaum mereka sepanjang zaman.
Sebagaimana firman Allah:
“Demikianlah, tidak datang seorang rasul pun kepada
orang-orang sebelum mereka, melainkan mereka berkata: ‘Ia adalah tukang sihir
atau orang gila.’ Apakah mereka saling berwasiat tentang hal itu? Bahkan mereka
adalah kaum yang melampaui batas. Maka berpalinglah dari mereka, dan engkau
tidak tercela. Dan tetaplah memberi peringatan, karena peringatan itu
bermanfaat bagi orang-orang beriman.”
Maka engkau, wahai Muhammad, bukanlah rasul yang pertama.
Para rasul sebelum engkau telah didustakan dan disakiti, bahkan dituduh sebagai
penyihir dan orang gila. Namun mereka bersabar atas semua cobaan itu hingga
datang pertolongan Allah.
Dan engkau pun termasuk dari mereka:
“Maka bersabarlah sebagaimana kesabaran para rasul yang
memiliki keteguhan hati, dan janganlah engkau meminta agar disegerakan (azab
bagi mereka).”
Ketahuilah bahwa kaummu tidak mendustakanmu kecuali karena
kesombongan dan keangkuhan.
Maka ayat-ayat ini turun ke dalam hati Rasulullah ﷺ sebagai penyejuk dan
ketenangan, menguatkan tekadnya, serta menghiburnya agar terus melanjutkan
perjalanan dalam jalan yang sulit ini yang telah dipilihkan baginya.
Sebagaimana firman Allah:
“Sesungguhnya Kami akan menurunkan kepadamu perkataan yang
berat.”
Allah سبحانه
berfirman:
“Sungguh Kami mengetahui bahwa apa yang mereka katakan itu
membuatmu bersedih. Maka sesungguhnya mereka bukan mendustakanmu, tetapi
orang-orang zalim itu mengingkari ayat-ayat Allah. Dan sungguh telah didustakan
para rasul sebelum engkau, lalu mereka bersabar atas pendustaan dan gangguan
yang mereka alami hingga datang pertolongan Kami. Dan tidak ada yang dapat
mengubah kalimat-kalimat Allah. Dan sungguh telah datang kepadamu sebagian dari
berita para rasul.”
Dari sini dapat dipahami hikmah penyebutan kisah-kisah dalam
Al-Qur’an, yaitu untuk meneguhkan hati Nabi ﷺ serta sebagai pelajaran dan peringatan:
“Dan semua kisah para rasul Kami ceritakan kepadamu untuk
meneguhkan hatimu, dan dalam kisah itu telah datang kepadamu kebenaran serta
pelajaran dan peringatan bagi orang-orang beriman.”
Setiap kali gangguan kaum musyrik terhadap Rasulullah ﷺ semakin berat, dan
kesedihan memasuki hatinya, maka turunlah Al-Qur’an yang mengancam para
pendusta, menguatkan tekad Rasul, serta memberitahukan bahwa Allah mengetahui
rahasia dan apa yang mereka tampakkan:
“Maka janganlah ucapan mereka membuatmu bersedih.
Sesungguhnya Kami mengetahui apa yang mereka rahasiakan dan apa yang mereka
nyatakan.”
Dan juga memberi kabar gembira kepadanya tentang kemenangan
dan pertolongan:
“Dan Allah akan menolongmu dengan pertolongan yang kuat.”
Dan firman-Nya:
“Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan mundur
ke belakang.”
Dan firman-Nya:
“Dan Allah akan melindungimu dari manusia.”
Demikianlah ayat-ayat terus turun kepada Rasulullah ﷺ secara
berurutan—penghiburan demi penghiburan, dan peneguhan demi peneguhan—agar
kesedihan tidak menguasainya, dan keputusasaan tidak menemukan jalan ke dalam
dirinya.
Dengan demikian, hatinya tetap teguh dalam dakwahnya dan
yakin akan pertolongan Allah, karena Allah pasti akan menepati janji-Nya
kepadanya.
(2) Hikmah kedua: Memudahkan hafalan dan pemahaman
Telah diketahui oleh kalangan khusus maupun umum bahwa Nabi ﷺ adalah seorang yang
ummi (tidak bisa membaca dan menulis), sebagaimana firman Allah:
“Dialah yang mengutus kepada kaum yang ummi seorang rasul
dari kalangan mereka, yang membacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya, menyucikan
mereka, dan mengajarkan kepada mereka Kitab dan Hikmah, padahal sebelumnya
mereka benar-benar dalam kesesatan yang nyata.”
Dan firman-Nya:
“Dan orang-orang yang mengikuti Rasul, Nabi yang ummi, yang
mereka dapati tertulis di sisi mereka dalam Taurat dan Injil.”
Bangsa Arab yang diutus kepada mereka Rasulullah ﷺ adalah bangsa yang
ummi, dan sarana penulisan tidaklah mudah tersedia bagi mereka—bahkan bagi para
penulis yang jumlahnya sedikit—karena mereka sibuk dengan urusan kehidupan dan
membela agama baru mereka.
Seandainya Al-Qur’an diturunkan sekaligus, niscaya mereka
akan kesulitan menghafalnya. Maka hikmah Ilahi menghendaki agar Allah
menurunkannya secara berangsur-angsur agar mudah bagi mereka untuk menghafalnya
dan memungkinkan mereka memahami maknanya.
Ini merupakan bentuk rahmat Allah terhadap umat ini. Setiap
kali satu atau beberapa ayat turun, para sahabat menghafalnya, merenungi
maknanya, dan berhenti pada hukum-hukumnya. Dengan demikian, mereka mempelajari
ilmu sekaligus mengamalkannya.
Dari Umar رضي الله
عنه, ia berkata:
“Pelajarilah Al-Qur’an lima ayat demi lima ayat, karena Jibril menurunkannya
kepada Nabi ﷺ
lima ayat demi lima ayat.”
(HR. Al-Baihaqi dalam Syu‘ab al-Iman).
Setiap kali sesuatu dari Al-Qur’an diturunkan, Nabi ﷺ memerintahkan agar
dituliskan, dan beliau menunjukkan kepada mereka posisi ayat tersebut dalam
surahnya: “Letakkan ayat ini dalam surah ini setelah ayat ini.”
Dan benarlah firman Allah:
“Dan Al-Qur’an itu Kami turunkan secara berangsur-angsur
agar engkau membacakannya kepada manusia secara perlahan, dan Kami
menurunkannya secara bertahap.”
(3) Hikmah ketiga: Tantangan dan kemukjizatan
Al-Qur’an adalah mukjizat abadi Rasul ﷺ. Ia telah menantang
mereka berulang kali, tetapi setiap kali mereka tidak mampu mendatangkan yang
semisalnya, atau sepuluh surah seperti itu, atau bahkan satu surah saja yang
serupa dengannya.
Kemudian Al-Qur’an menetapkan ketidakmampuan mereka untuk
selamanya, sebagaimana firman-Nya:
“Dan jika kalian ragu terhadap apa yang Kami turunkan kepada
hamba Kami, maka datangkanlah satu surah yang semisal dengannya, dan panggillah
penolong-penolong kalian selain Allah jika kalian benar. Maka jika kalian tidak
dapat melakukannya—dan kalian tidak akan mampu melakukannya…”
Tidak diragukan bahwa penantangan dengan Al-Qur’an yang
diturunkan secara bertahap, sementara mereka tidak mampu menandinginya, lebih
menunjukkan kemukjizatan dan lebih kuat dalam menegakkan hujjah atas mereka,
dibandingkan jika ia diturunkan sekaligus lalu ditantang sekali saja.
Seakan-akan setiap bagian (tahapan turunnya) adalah mukjizat
yang terus diperbarui dan bukti yang pasti atas kebenaran Rasul ﷺ:
“Dan mereka tidak datang kepadamu dengan suatu perumpamaan
melainkan Kami datangkan kepadamu kebenaran dan penjelasan yang terbaik.”
Setiap kali mereka mengemukakan sesuatu, Allah memberikan
jawaban kepada mereka.
Mereka sering mengajukan pertanyaan kepada Rasul ﷺ dengan tujuan
melemahkan dan menguji kenabiannya, seperti pertanyaan tentang hari kiamat,
tentang ruh, tentang Dzulqarnain, serta permintaan mereka agar azab
disegerakan, dan pertanyaan-pertanyaan lainnya yang dimaksudkan untuk
menyulitkan Nabi ﷺ.
Maka Al-Qur’an turun dengan jawaban yang benar sebagai
bentuk dukungan dan pembenaran bagi Rasulullah ﷺ.
Dan karena tantangan itu berlaku pada satu surah—bahkan kata
“surah” disebut dalam bentuk nakirah (umum)—baik pendek maupun panjang, atau
sesuatu yang sebanding dengannya dari ayat-ayat, maka seolah-olah setiap bagian
yang turun adalah mukjizat tersendiri dan tantangan baru bagi mereka.
Namun demikian, tidak seorang pun dari mereka mampu
menandinginya, padahal mereka adalah musuh yang paling keras.
(4) Hikmah keempat: Bertahap dalam penetapan syariat dan
pembinaan umat
Nabi ﷺ
diutus dalam keadaan bangsa Arab berada dalam kegelapan jahiliah. Bahkan dunia
secara umum dipenuhi kekacauan dalam akidah, ibadah, kebiasaan buruk, dan
akhlak yang tercela.
Maka sangat wajar jika Islam membimbing mereka secara
bertahap, seiring dengan turunnya Al-Qur’an juga secara bertahap.
Setiap kali Islam berhasil menghancurkan satu kebatilan, ia
berpindah kepada kebatilan berikutnya, dan demikian seterusnya—dimulai dari
yang paling penting kemudian yang berikutnya.
Hingga ketika hati mereka telah bersih dari syirik dan
penyembahan berhala, serta akal mereka terbebas dari khurafat dan taklid buta,
dan telah dipenuhi dengan cahaya iman dan keyakinan—serta mereka meyakini bahwa
di balik dunia yang tampak ini ada alam lain, dan setelah kehidupan ini ada
kehidupan lain yang di dalamnya terdapat perhitungan dan balasan—maka setelah
itu mereka dipindahkan ke tahap berikutnya, yaitu tahap ibadah: shalat, zakat,
puasa, kemudian haji.
Demikian pula dalam hal kebiasaan, mereka dilarang dari
dosa-dosa besar dengan kecaman yang keras, kemudian dilarang dari dosa-dosa
kecil dengan cara yang lembut dan bertahap.
Al-Qur’an terus turun dari waktu ke waktu sebagai petunjuk
dan bimbingan sesuai dengan keadaan, baik secara global maupun rinci.
Dengan metode ini, Al-Qur’an telah meletakkan sistem
perundang-undangan dan metode pendidikan yang paling sempurna bagi seluruh umat
manusia.
Ambillah contoh metode Al-Qur’an dalam pengharaman khamar
(minuman keras). Ia telah mendahului bangsa-bangsa paling maju sekalipun dalam
hal peradaban dan kemajuan.
Hal ini tidak mengherankan, karena yang menciptakan manusia
adalah yang menurunkan Al-Qur’an, dan Dialah yang paling mengetahui apa yang
baik bagi manusia di setiap waktu dan tempat:
“Apakah tidak mengetahui (Allah) yang menciptakan? Dan Dia
Maha Halus lagi Maha Mengetahui.”
Dia Maha Mengetahui apa yang ada dalam dada.
Al-Bukhari meriwayatkan dari ‘Aisyah رضي الله عنها, ia berkata:
“Sesungguhnya yang pertama kali turun dari Al-Qur’an adalah surah dari bagian
mufashshal yang di dalamnya disebutkan surga dan neraka. Hingga ketika manusia
telah kembali kepada Islam, barulah turun hukum halal dan haram. Seandainya
yang pertama kali turun adalah: ‘Janganlah kalian meminum khamar,’ niscaya
mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan khamar selamanya.’ Dan
seandainya yang pertama turun adalah: ‘Janganlah kalian berzina,’ niscaya
mereka akan berkata: ‘Kami tidak akan meninggalkan zina selamanya.’”
Demikianlah proses bertahap dalam membina umat sesuai dengan
peristiwa yang mereka alami.
Setelah hijrah, berdirilah negara Islam pertama,
disyariatkan jihad, dan turunlah ayat-ayat Al-Qur’an yang menjelaskan hikmah
disyariatkannya jihad, mendorong mereka untuk melakukannya, serta menjelaskan
keutamaan syahid dan nasib para syuhada.
Tidak diragukan bahwa peristiwa-peristiwa ini tidak terjadi
dalam satu waktu, melainkan terjadi secara bertahap dan berurutan.
Maka merupakan rahmat Allah kepada umat ini bahwa Al-Qur’an
diturunkan sesuai dengan peristiwa-peristiwa tersebut, secara rinci dan
bertahap.
Contoh-contoh lain selain yang telah disebutkan sangat
banyak, seperti perjanjian, perdamaian dengan musuh, hubungan negara dengan
negara lain dalam kondisi damai maupun perang, sikap Islam terhadap non-Muslim,
hukum tawanan perang, sistem keluarga dan masyarakat, dakwah kepada Ahli Kitab,
serta penyingkapan kesalahan mereka dan penjelasan tentang penyimpangan mereka
terhadap kitab-kitab mereka.
Dan berbagai peristiwa lainnya yang Al-Qur’an turun untuk
menjelaskan hukum Allah atasnya saat peristiwa itu terjadi—dan semuanya itu
jelas tidak terjadi sekaligus, melainkan secara bertahap.
(5) Hikmah kelima: Bukti pasti bahwa Al-Qur’an adalah
kalam Allah dan tidak ada campur tangan manusia di dalamnya
Telah menjadi hal yang disepakati bahwa Al-Qur’an tidak
diturunkan kepada Rasulullah ﷺ
dalam satu bulan atau satu tahun, melainkan diturunkan selama beberapa tahun,
sebagaimana telah dijelaskan sebelumnya, yaitu sepanjang masa kerasulan.
Namun demikian, kita mendapati bahwa Al-Qur’an—meskipun
diturunkan dalam rentang waktu yang panjang—tersusun dengan sangat rapi, sangat
teliti dalam susunan, kuat dalam gaya bahasa, dan sangat kokoh keterkaitannya.
Sebagian ayatnya saling berkaitan dengan yang lain, baik
dalam surah maupun ayat-ayatnya, seakan-akan merupakan satu lingkaran yang
utuh; tidak terdapat pertentangan ataupun perbedaan di dalamnya:
“Sekiranya (Al-Qur’an) itu berasal dari selain Allah,
niscaya mereka akan menemukan di dalamnya banyak pertentangan.”
Bukankah hal ini merupakan bukti tentang sumbernya, bahwa ia
adalah wahyu dari Yang Maha Bijaksana lagi Maha Terpuji?
“Kitab yang ayat-ayatnya disusun dengan rapi, kemudian
dijelaskan secara terperinci, dari sisi (Allah) Yang Maha Bijaksana lagi Maha
Mengetahui.”
Setiap kali satu atau beberapa ayat diturunkan kepada
Rasulullah ﷺ,
beliau bersabda:
“Letakkan ayat-ayat ini pada tempat ini dalam surah ini.”
Imam Ahmad meriwayatkan dari ‘Utsman bin Abi al-‘Ash, ia
berkata:
“Aku sedang duduk di sisi Rasulullah ﷺ, lalu beliau menatap ke atas, kemudian menundukkan
pandangannya, lalu bersabda: ‘Jibril datang kepadaku dan memerintahkanku untuk
meletakkan ayat ini pada tempat ini dalam surah ini: (Sesungguhnya Allah
menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat ihsan serta memberi kepada kerabat,
dan melarang dari perbuatan keji, kemungkaran, dan kezaliman; Dia memberi
pengajaran kepadamu agar kamu mengambil pelajaran).’”
Rasulullah ﷺ
adalah manusia yang tidak mengetahui apa yang akan terjadi di masa depan, dan
tidak mengetahui peristiwa-peristiwa yang akan datang yang menuntut turunnya
Al-Qur’an.
Beliau berada dalam keadaan demikian, sementara Al-Qur’an
terus diturunkan kepadanya bagian demi bagian hingga sempurna turun dengan cara
tersebut.
Tiba-tiba kita dapati bahwa Al-Qur’an pada akhirnya memiliki
tingkat keserasian dan keharmonisan yang sangat tinggi, sehingga seluruh
manusia tidak mampu mendatangkan sesuatu yang serupa dengan susunan dan gaya
bahasanya.
Kesimpulannya, Al-Qur’an adalah:
“Suatu kitab yang padanya seluruh puncak keutamaan bertemu, meskipun
bagian-bagiannya tampak berjauhan.”
Dan benarlah firman Allah:
“Apakah mereka tidak mentadabburi Al-Qur’an? Sekiranya ia
berasal dari selain Allah, niscaya mereka akan menemukan di dalamnya banyak
pertentangan.”
Penerapan ilmiah terhadap materi melalui kegiatan
pendamping:
- Membuat
sebuah poster yang menjelaskan tahapan turunnya Al-Qur’an kepada
Rasulullah ﷺ.
- Menggunakan
kaset audio, video, atau mengundang seorang ahli untuk menjelaskan kepada
jamaah masjid tentang pelajaran yang dapat diambil dari turunnya Al-Qur’an
secara bertahap dalam bidang dakwah dan pendidikan.
- Menulis
artikel di surat kabar, majalah, atau situs internet tentang tahapan
turunnya Al-Qur’an.
- Menyampaikan
ceramah di hadapan jamaah masjid tentang kemukjizatan Al-Qur’an dari segi
turunnya secara bertahap, namun tetap tampak selaras tanpa cacat, tanpa
penyimpangan, dan sangat kokoh susunannya.
Evaluasi dan pengukuran diri:
S1: Apa yang dimaksud dengan turunnya Al-Qur’an?
S2: Apa saja tahapan turunnya Al-Qur’an dari langit hingga turun ke dalam hati
Rasulullah ﷺ?
S3: Sebutkan dalil-dalil yang digunakan para ulama dalam pendapat bahwa
Al-Qur’an diturunkan secara bertahap.
S4: Apa hikmah diturunkannya Al-Qur’an secara berangsur-angsur kepada
Rasulullah ﷺ?
S5: Bagaimana kamu mengambil manfaat secara dakwah dan pendidikan dari turunnya
Al-Qur’an secara bertahap?
S6: Turunnya Al-Qur’an secara bertahap selama 23 tahun kemudian tersusun
seperti yang kita miliki sekarang merupakan salah satu bentuk kemukjizatan
Al-Qur’an—jelaskan hal tersebut.
No comments:
Post a Comment