Hamas adalah sebuah gerakan Islam jihadi Palestina yang muncul di kota Gaza, Palestina, kemudian menyebar ke seluruh wilayah tanah yang diduduki. Sebagaimana disebutkan dalam piagam gerakan yang dikeluarkannya pada 1 Muharram 1409 H / 18 Agustus 1988 M, gerakan ini dianggap sebagai gerakan Sunni yang berlandaskan pemikiran Ikhwanul Muslimin di Palestina.
Adapun tentang pendirian dan tokoh-tokoh utamanya: Hamas
dalam pernyataan pertamanya yang dikeluarkan pada 14 Desember 1987 menyatakan
bahwa ia berlandaskan pemikiran Jamaah Ikhwanul Muslimin di Palestina yang
diduduki, dan mengancam musuh Yahudi bahwa mereka akan menghadapi kekerasan
yang lebih besar setiap kali mereka meningkatkan kekerasan mereka, seraya
menegaskan bahwa Islam adalah solusi praktis bagi persoalan Palestina, serta
menolak pemborosan tenaga dan waktu dalam mengejar solusi damai dan konferensi
internasional yang dianggap tidak berguna.
Salah satu aksi terbesar yang dilakukan oleh Hamas adalah
memicu intifada yang berani, yang dikenal sebagai “Revolusi Batu” pada 8
Desember 1987. Gerakan ini telah mengorbankan ratusan syuhada dan tahanan, dan
hingga kini masih terus berlanjut. Hamas menyatakan bahwa mereka tidak akan
menghentikan perjuangan tersebut hingga Palestina terbebas dari apa yang mereka
sebut sebagai “kenajisan Yahudi”.
Di antara tokoh-tokoh utamanya yang dikenal hingga saat ini
adalah Syaikh Ahmad Yasin, seorang pria lumpuh yang telah berusia lebih dari
lima puluh tahun, yang dianggap sebagai pendiri Hamas sekaligus pemimpin
pertamanya. Ia ditangkap oleh pihak Yahudi pada tahun 1984 di Gaza karena
ditemukannya senjata di rumahnya yang disiapkan untuk konfrontasi militer
dengan Zionis, dan ia dijatuhi hukuman penjara selama beberapa tahun. Selain
itu, terdapat Ustadz Khalil al-Qouqa, salah satu pemimpin Hamas, yang diusir oleh
otoritas pendudukan Yahudi setelah intifada ke luar wilayah Palestina yang
diduduki.
Tokoh lainnya adalah Dr. Abdul Aziz ar-Rantisi, yang lahir
pada 23 Oktober 1947 di desa Yibna (antara Asqalan dan Yafa) dan gugur pada 17
April 2004. Kemudian Insinyur Yahya Abdul Latif Sati Ayyash, yang lahir pada 6
Maret 1966 dan gugur pada 18 Mei 2002. Juga Insinyur Muhyiddin asy-Syarif, yang
lahir di kota Beit Hanina di utara Yerusalem pada tahun 1966 dan gugur pada 29
Maret 1998. Syaikh Salah Mustafa Muhammad Syahada, yang lahir di Yafa Beit
Hanun (utara Jalur Gaza), gugur pada 22 Juli 2002. Selain itu terdapat Syahid
Mahmoud Muhammad Ahmad Abu Hunud, yang lahir pada 1 Januari 1967 dan gugur pada
13 November 2001; Syahid Dr. Ibrahim Ahmad al-Maqadmah, yang lahir tahun 1950
dan gugur pada 8 Maret 2003; serta Syahid Insinyur Ismail Hasan Abu Shanab, yang
lahir di Gaza tahun 1950 dan gugur pada 21 Agustus 2003.
Adapun ide dan keyakinan Hamas tercermin dalam piagam
pertamanya yang diumumkan pada 1 Muharram 1409 H / 18 Agustus 1988 M. Secara
umum, hal tersebut dapat diringkas sebagai berikut: Gerakan Perlawanan Islam
menjadikan Islam sebagai manhaj (pedoman hidup), darinya ia mengambil ide,
konsep, dan pandangannya tentang alam semesta, kehidupan, dan manusia; kepada
Islam pula ia merujuk dalam setiap tindakannya, serta darinya ia memperoleh
petunjuk dalam menentukan langkahnya (pasal pertama). Gerakan Perlawanan Islam
juga merupakan gerakan kemanusiaan yang berpegang pada toleransi Islam, dan
meyakini bahwa dalam naungan Islam semua penganut agama dapat hidup
berdampingan dengan aman atas diri, harta, dan hak-hak mereka.
Lebih lanjut, tanah Palestina dianggap sebagai tanah wakaf
Islam bagi generasi kaum Muslimin hingga hari kiamat, yang tidak boleh
disia-siakan, tidak boleh dilepaskan seluruhnya atau sebagian, dan tidak boleh
diserahkan baik seluruhnya maupun sebagian. Tidak ada negara Arab, seluruh
negara Arab, raja, presiden, seluruh raja dan presiden, maupun organisasi apa
pun—baik Palestina maupun Arab—yang berhak atas hal tersebut.
Jihad melawan orang Yahudi di Palestina merupakan kewajiban
individual (fardhu ‘ain) bagi setiap Muslim laki-laki dan perempuan, dan
seorang perempuan boleh keluar untuk berperang tanpa izin suaminya. Tidak ada
solusi bagi persoalan Palestina selain melalui jihad.
Gerakan ini juga menolak berbagai inisiatif serta apa yang
disebut sebagai solusi damai terhadap persoalan Palestina, karena hal tersebut
dianggap sebagai pemborosan waktu dan usaha yang sia-sia tanpa hasil.
Perempuan Muslim memiliki peran dalam perjuangan pembebasan
yang tidak kalah penting dari laki-laki, karena ia merupakan pencetak generasi
dan pendidik anak-anak berdasarkan nilai-nilai dan konsep moral yang bersumber
dari Islam.
Gerakan ini juga menghormati pendapat lain dalam
gerakan-gerakan Islam lainnya selama tindakan mereka tetap berada dalam lingkup
Islam.
Piagam gerakan ini terdiri dari 36 pasal, dan di antara yang
terpenting adalah bahwa Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dianggap sebagai
pihak yang paling dekat dengan Gerakan Perlawanan Islam, meskipun Hamas tidak
sepakat dengan PLO dalam hal adopsi ideologi sekuler.
Adapun akar pemikiran dan akidahnya: Hamas menyatakan dalam
piagamnya (pasal kedua) bahwa ia merupakan salah satu cabang yang berkomitmen
pada pemikiran Ikhwanul Muslimin di Palestina. Oleh karena itu, akar pemikiran
dan keyakinannya bersumber dari konsepsi Islam tentang alam semesta, manusia,
dan kehidupan, serta menjadikan perjalanan generasi salaf sebagai teladan.
Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Hamas adalah
gerakan Islam jihadi Palestina yang muncul di Gaza, Palestina, kemudian
menyebar ke seluruh wilayah yang diduduki. Pemimpin pertamanya adalah Syaikh
Ahmad Yasin, seorang yang lumpuh dan telah berusia lebih dari lima puluh tahun.
Gerakan ini menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya, dan merupakan gerakan
kemanusiaan yang berpegang pada toleransi Islam serta meyakini bahwa dalam
naungan Islam semua penganut agama dapat hidup berdampingan dengan aman. Selain
itu, tanah Palestina dianggap sebagai tanah wakaf Islam bagi generasi kaum
Muslimin hingga hari kiamat, yang tidak boleh disia-siakan, tidak boleh
dilepaskan seluruhnya atau sebagian, serta tidak boleh diserahkan kepada pihak
mana pun, baik negara Arab maupun seluruh negara Arab. Jihad melawan orang
Yahudi di Palestina dipandang sebagai kewajiban individual bagi setiap Muslim
laki-laki dan perempuan.
Gagasan politik dan pemikiran
Identitas ideologis Hamas serta pandangan politik dan
pemikirannya bertumpu pada poin-poin berikut:
- Hamas
merupakan gerakan Islam jihadi yang bersifat kerakyatan, yang dalam
pemikiran, sarana, kebijakan, dan sikapnya bersandar pada ajaran Islam
serta warisan fikihnya.
- Gerakan
ini meyakini perlunya memperluas lingkup perjuangan melawan proyek Zionis
ke dalam kerangka Arab dan Islam, serta bahwa pembebasan Palestina tidak
akan terwujud kecuali melalui kerja sama seluruh kaum Muslimin. Islam
dipandang sebagai satu-satunya faktor yang mampu membangkitkan potensi
umat dan membebaskan tanah suci.
- Hamas
meyakini bahwa persoalan Palestina pada dasarnya adalah persoalan Islam,
dan merupakan amanah yang berada di pundak setiap Muslim. Oleh karena itu,
pembebasannya merupakan kewajiban individual bagi setiap Muslim di mana
pun ia berada.
- Gerakan
ini memandang bahwa konflik dengan musuh Zionis adalah konflik peradaban
yang menentukan, yang memiliki dimensi ideologis dan akidah.
- Hamas
berpendapat bahwa kepentingan strategis dan ekonomi kolonialisme Barat,
serta latar belakang budaya dan agamanya, telah bertemu dengan ambisi
Zionisme Yahudi dalam mendirikan negara bagi orang Yahudi di Palestina,
dengan tujuan memecah belah umat Arab dan Islam, merusak persatuan mereka,
serta mempertahankan mereka dalam kondisi lemah dan terbelakang dalam
lingkaran ketergantungan.
- Gerakan
ini meyakini bahwa pertempuran melawan musuh Yahudi-Zionis adalah
pertempuran eksistensi, bukan sekadar pertempuran batas wilayah, dan
merupakan perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi, serta
merupakan salah satu bentuk pertarungan antara kebenaran dan kebatilan.
- Hamas
membedakan antara orang Yahudi sebagai Ahlul Kitab yang memiliki hukum
khusus dalam kitab-kitab fikih—di mana kehormatan mereka dijaga dan
hak-hak sipil serta kehidupan keagamaan mereka dilindungi dalam kerangka
negara Islam—dengan orang Yahudi yang melakukan agresi dan merampas
Palestina, yang wajib diperangi bukan karena mereka Yahudi, melainkan
karena mereka adalah penjajah dan perampas tanah Palestina.
- Hamas
memandang bahwa jihad adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan
Palestina, namun jihad tersebut harus didasarkan pada suatu sistem yang
terpadu: politik, pendidikan, sosial, dan ekonomi, guna menyediakan
syarat-syarat kebangkitan peradaban dan gerakan perubahan untuk membangun
generasi jihad dan pembebasan secara menyeluruh.
- Gerakan
ini menegaskan bahwa rakyat Palestina merupakan ujung tombak dalam
menghadapi proyek Zionis, dan mereka harus dipersiapkan serta didukung
dengan segala sarana agar dapat menjalankan peran yang diharapkan.
- Hamas
berusaha menggabungkan antara kekhususannya sebagai gerakan nasional yang
aktif di arena Palestina dengan keyakinannya bahwa pembebasan Palestina
pada akhirnya memerlukan suatu gerakan atau model Islam yang menyeluruh.
- Gerakan
ini memandang bahwa Palestina adalah tanah wakaf Islam bagi generasi kaum
Muslimin hingga hari kiamat, yang tidak boleh disia-siakan atau
diserahkan, baik seluruhnya maupun sebagian.
- Hamas
mengakui pluralitas politik dan perbedaan pandangan, serta berupaya
menemukan titik-titik persamaan untuk menghadapi proyek Zionis.
- Hamas
juga mengakui pluralitas agama, dan memandang bahwa kaum Kristen adalah
mitra dalam tanah air, memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti yang
lain, serta harus turut berperan dalam melawan pendudukan.
Tujuan Hamas
Tujuan-tujuan strategis Hamas dapat diringkas sebagai
berikut:
- Membebaskan
seluruh wilayah Palestina, dari sungai hingga laut, dari musuh Zionis.
- Mendirikan
negara Islam di atas tanah Palestina. Hamas juga memiliki tujuan-tujuan
tahap (jangka pendek) yang diupayakan untuk dicapai sebagai jalan menuju
tujuan strategis tersebut, yaitu:
a. Membebaskan Tepi Barat dan Jalur Gaza, yaitu wilayah yang diduduki sejak tahun 1967.
b. Mengislamkan masyarakat Palestina, menyebarkan akhlak dan nilai-nilai Islam, serta meningkatkan kesadaran dan komitmen keislaman, sebagai sarana utama untuk ketahanan rakyat dan sebagai awal proyek pembebasan. - Menjaga
semangat jihad dan pilihan perjuangan bersenjata dalam menghadapi proyek
penyelesaian (damai).
- Mengaktifkan
dukungan dari dunia Arab dan Islam untuk mendukung قضية Palestina.
- Memerangi
normalisasi hubungan dengan entitas Zionis, serta menggagalkan proyek
penetrasi (infiltrasi) Zionis di kawasan.
- Melemahkan
entitas Zionis secara keamanan dan ekonomi, mengungkap praktik-praktik
represifnya, serta menyingkap kezaliman yang menimpa rakyat Palestina.
- Mewujudkan
persatuan nasional Palestina yang bersatu di atas program perlawanan dan
pembebasan.
Hamas dan aktivitas militer
Gerakan Hamas memandang bahwa aktivitas militer merupakan
pilihan strategis yang bersifat permanen dalam menghadapi konflik, karena
konflik ini dianggap sebagai konflik jangka panjang yang mungkin diwariskan
dari generasi ke generasi. Dalam suasana seperti proses perdamaian dan kondisi
melemahnya umat, Hamas berupaya untuk tetap menjaga nyala semangat jihad
sebagai bentuk penegasan bahwa tanah suci tidak boleh disia-siakan. Namun yang
memperumit posisi Hamas adalah bahwa mereka memilih jalur militer ketika pihak
lain justru meninggalkannya, sehingga mereka berjalan berlawanan dengan arus.
Meskipun demikian, pada akhirnya mereka mampu membuktikan eksistensi diri
mereka.
Hamas memulai operasinya dengan menculik tentara Avi
Sasportas pada 2 Februari 1989 dan membunuhnya melalui sayap militernya
(al-Mujahidun) yang dipimpin oleh Syaikh Salah Syahadah. Namun tidak lama
kemudian sayap ini dihantam pada Mei 1989 akibat kampanye keras yang dilakukan
oleh otoritas pendudukan. Awal pembentukan sayap militer Hamas yang sekarang,
yaitu “Brigade al-Qassam”, diperkirakan sejak Mei 1990. Sejak saat itu, operasi
mereka mulai meningkat, baik dari segi jumlah maupun kekuatan dan dampaknya.
Menurut salah satu statistik, pada tahun 1993 Hamas melaksanakan sebanyak 138
operasi, yang menurut pengumuman pihak Israel menyebabkan 79 orang tewas dan
200 orang luka-luka. Pada 24 November 1993, Imad Aqel—salah satu pemimpin
militer terkemuka—gugur.
Sejak tahun 1994, kesulitan dalam aktivitas jihad meningkat
akibat masuknya Otoritas Palestina ke wilayah Tepi Barat dan Gaza. Meski
demikian, kualitas efektivitas operasi Hamas justru meningkat. Hamas
melaksanakan lima operasi besar sebagai balasan atas pembantaian Masjid
Ibrahimi yang dilakukan oleh perwira Israel Baruch Goldstein terhadap kaum
Muslim saat mereka melaksanakan salat Subuh, yang menyebabkan 29 orang Muslim
gugur dan lebih dari 300 lainnya terluka (banyak lagi yang gugur dan terluka
dalam bentrokan setelah pembantaian tersebut). Dalam lima operasi
tersebut—menurut sumber Israel—Hamas berhasil menewaskan 39 orang Israel dan
melukai 158 lainnya. Pada masa itu muncul tokoh Yahya Ayyash, yang dianggap
sebagai tokoh utama di balik operasi-operasi bom syahid yang kemudian menjadi
ciri khas Hamas. Bahkan para analis Israel mengakui bahwa Hamas telah
menciptakan model baru manusia Palestina, yaitu para pelaku operasi syahid.
Pada 5 Januari 1996, Yahya Ayyash gugur, dan Hamas membalas
kematiannya dengan keras dalam periode 25 Februari hingga 3 Maret 1996, yang
menurut sumber Israel mengakibatkan 45 orang Israel tewas dan 113 lainnya
terluka—meskipun sumber Israel biasanya cenderung meremehkan jumlah kerugian
mereka. Operasi-operasi ini memicu kampanye besar-besaran yang terkoordinasi
untuk memberantas Hamas, yang dilakukan oleh Otoritas Palestina dan otoritas
Israel. Hal ini juga mendorong diselenggarakannya konferensi internasional yang
disebut sebagai “melawan terorisme”, dengan kehadiran para pemimpin
negara-negara besar serta sejumlah pemimpin Arab dan dunia. Namun Hamas
berhasil menyerap guncangan tersebut, lalu kembali melakukan operasi militer
yang kembali tampak jelas pada tahun 1997. Dalam periode ini muncul tokoh-tokoh
kepemimpinan seperti Muhyiddin al-Sharif, Adel Awadallah, dan Imad Awadallah,
yang semuanya gugur pada tahun 1998.
Ketika Intifada al-Aqsa meletus, Hamas menjadi pemain utama
dalam operasi-operasi jihad besar, terutama operasi syahid yang mengguncang
entitas Zionis dan untuk pertama kalinya menciptakan keseimbangan deterrence
(daya tangkal) yang nyata. Banyak operasi yang sulit dihitung jumlahnya, dan
salah satu yang paling menonjol adalah operasi Sa’id al-Houtari yang
mengakibatkan sekitar 20 orang Israel tewas dan 100 lainnya terluka.
Intifada Al-Aqsa (28 September 2000 – Maret 2005) –
Intifada Kedua
Kunjungan provokatif Ariel Sharon—pemimpin Partai Likud—yang
disebut sebagai teroris ke kompleks Masjid Al-Aqsa pada 28 September 2000
merupakan percikan yang memicu meletusnya intifada. Jelas terlihat bahwa
kunjungan tersebut mendapat restu dan dukungan dari Perdana Menteri Barak, yang
menyediakan 600 tentara untuk mengawal Sharon. Selain itu, 3.000 tentara dan
polisi dikerahkan di Yerusalem dan sekitarnya. Kaum Muslim pun bertekad untuk
mempertahankan Al-Aqsa, sehingga dalam bentrokan pertama jatuh lima orang
syahid dan lebih dari seratus orang terluka.
Faktor-faktor pemicu dan sebab-sebab ledakan situasi
sebenarnya telah siap. Perundingan damai telah mencapai jalan buntu. Ambisi
Zionis Yahudi terhadap Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa semakin jelas. Sikap keras
Israel tampak dalam isu pengungsi dan permukiman. Kaum Zionis terus menyita
tanah dan memperluas permukiman, tanpa menunjukkan kesiapan untuk berkompromi
atau melaksanakan resolusi internasional, terutama dalam isu-isu mendasar yang
menentukan.
Barak sendiri menyatakan dalam sebuah pertemuan rahasia pada
25 Oktober 2000 bahwa “satu-satunya solusi yang tampak di cakrawala adalah
mendorong situasi menuju ledakan.” Barangkali ia ingin menunjukkan sikap lebih
keras dan memperoleh popularitas lebih besar di tengah masyarakat Zionis, serta
memanfaatkan hal itu untuk menghentikan proses perdamaian atau memasukkannya ke
dalam krisis yang berkelanjutan. Hal ini terjadi di saat imigrasi Yahudi terus
meningkat, perampasan tanah berlanjut, dan pembangunan permukiman semakin
meluas, guna memberikan tekanan lebih besar kepada Otoritas Palestina, yang
dalam beberapa tahun sebelumnya telah menunjukkan kecenderungan untuk mengalah,
mundur, dan menurunkan tuntutannya.
Namun, kaum Zionis dihadapkan pada letusan kemarahan yang
dahsyat, bukan hanya di Palestina, tetapi juga di seluruh dunia Islam dan di
mana pun terdapat komunitas Muslim. Allah سبحانه وتعالى menggagalkan
perhitungan dan tipu daya mereka. Masjid Al-Aqsa tampil sebagai simbol yang
tidak tunduk dan tidak bisa dirampas, ketika jutaan orang siap menebusnya—dan
tanah yang diberkahi—dengan nyawa mereka.
Intifada ini melahirkan sejumlah fakta dan indikator
penting, di antaranya:
Pertama: bahwa umat Islam masih hidup, meskipun luka-luka
telah mengoyaknya. Semangat perlawanan, keteguhan, dan kesiapan untuk berkorban
belum padam. Demonstrasi besar terjadi, mencapai puluhan bahkan ratusan ribu
orang di berbagai negara dunia Islam, dari Rabat di Maroko hingga Jakarta di
ujung timur dunia Islam. Semuanya menyerukan pembelaan terhadap Al-Aqsa,
Yerusalem, dan Palestina, serta menuntut jihad, sambil memberikan dukungan dan
sumbangan. Itu merupakan momen indah persaudaraan Islam dan persatuan umat,
yang menunjukkan potensi besar umat ini untuk meraih kemenangan jika menempuh
jalan jihad.
Kedua: bahwa قضية Palestina—dengan tanahnya yang diberkahi, Yerusalemnya, dan
Al-Aqsa—merupakan isu yang menyatukan umat Islam. Bahkan, ia menjadi sebab
untuk melampaui perbedaan di antara mereka dan memusatkan perhatian pada musuh
Zionis yang sama. Isu ini telah menjadi قضية sentral bagi dunia Islam; tidak ada isu
lain yang mampu menyatukan mereka seperti ini, dan tidak ada musuh yang mereka
hadapi bersama seperti musuh ini.
Ketiga: Intifada ini memberikan pukulan keras terhadap
proyek penyelesaian damai dan normalisasi dengan musuh, serta menonjolkan
pilihan jihad sebagai pilihan yang paling tepat.
Keempat: Intifada ini mempengaruhi cara berpikir masyarakat
dan gaya hidup sehari-hari mereka, sehingga permusuhan terhadap proyek Zionis
semakin meningkat, begitu pula permusuhan terhadap Amerika. Semangat jihad dan
solidaritas sosial pun semakin menguat.
Kelima: Bahwa penyelesaian damai didasarkan pada kezaliman
dan perampasan. Massa rakyat Palestina, Arab, dan Muslim menolak untuk
menyerahkan hak-hak mereka atas tanah suci. Mereka tidak mengharapkan
perdamaian atau kebaikan dari penjajah Zionis, dan memandang jihad sebagai
sarana paling efektif untuk merebut kembali hak-hak tersebut.
Keenam: Munculnya peran penting media dalam mobilisasi. Kaum
Muslim berhasil menembus blokade media Barat yang berpihak kepada Zionis,
melalui saluran televisi satelit Arab, layanan internet, dan surat elektronik,
khususnya pada tahap awal intifada.
Di sisi lain, intifada ini ditandai dengan partisipasi
rakyat yang luas di seluruh wilayah Palestina yang diduduki, serta keterlibatan
semua faksi Palestina. Pada saat yang sama, intifada ini juga ditandai oleh
kerasnya penindasan Zionis yang melampaui batas, dengan menindas anak-anak dan
warga sipil tak bersalah serta menggunakan senjata yang dilarang secara
internasional. Keburukan para pengklaim perdamaian (Zionis) pun terungkap,
ketika mereka berlomba-lomba menghancurkan intifada yang diberkahi ini. Rakyat
Palestina bertahan dengan keteguhan heroik selama lima tahun intifada.
Kaum Zionis dengan sengaja menembak dengan tujuan membunuh,
bukan sekadar membubarkan demonstran atau menghadapi lemparan batu para
pengunjuk rasa. Laporan menyebutkan bahwa 65% luka terjadi di bagian atas
tubuh, yaitu kepala, leher, dada, dan perut. Sebanyak 40% luka disebabkan oleh
penggunaan senjata yang dilarang secara internasional, seperti peluru dumdum
yang meledak di dalam tubuh, serta peluru kaliber 500 dan 800 yang biasanya
digunakan untuk melawan tank. Sebanyak 40% korban luka adalah remaja dan anak-anak
di bawah usia 18 tahun. Selain itu, diterapkan pula kebijakan pembunuhan
terarah terhadap para aktivis intifada, yang menyebabkan banyak di antara
mereka gugur.
Namun demikian, semua metode penindasan tersebut tidak
berhasil memadamkan intifada, yang justru berkembang menjadi semakin bercorak
militer seiring perkembangan peristiwa. Laporan Israel menyebutkan bahwa
terjadi rata-rata 50–70 operasi setiap hari terhadap target-target Zionis.
Entitas Zionis juga sengaja menerapkan kebijakan pembungkaman media, hanya
mengumumkan hal-hal yang tidak bisa disembunyikan, dan bahkan ketika itu
dilakukan, mereka berusaha menyembunyikan kerugian sebenarnya serta memberikan angka
yang lebih kecil untuk menjaga moral masyarakat dan tentaranya, mempertahankan
kepercayaan kepada kepemimpinan Zionis, serta membuat para pejuang merasa bahwa
tindakan dan operasi mereka tidak berpengaruh, sekaligus melemahkan semangat
dukungan Arab dan Islam terhadap القضية tersebut.
Seluruh faksi Palestina turut serta dalam operasi militer
tersebut.
Hamas menonjol melalui operasi-operasi syahidnya yang
menimbulkan gaung besar dan mengguncang keamanan entitas Zionis. Pada tahun
pertama intifada, Hamas melaksanakan 12 operasi syahid yang menewaskan
sedikitnya 61 orang Zionis. Sebagian besar operasi tersebut dilakukan di
jantung wilayah pendudukan tahun 1948, di kota-kota seperti Tel Aviv, Netanya,
Yerusalem, Kfar Saba, Nahariya, dan Gaza.
Adapun Brigade Syuhada Al-Aqsa yang berada di bawah gerakan
Fatah lebih memfokuskan pada operasi penembakan terhadap pasukan pendudukan dan
para pemukim di Tepi Barat dan Gaza, yang menewaskan sekitar 30 orang Zionis.
Sementara itu, Jihad Islam melaksanakan empat operasi besar yang menewaskan
sepuluh orang Zionis. Front Rakyat dan Front Demokratik serta kelompok lainnya
juga melaksanakan sejumlah operasi. Di antara operasi khusus yang patut dicatat
adalah operasi pembunuhan Menteri Pariwisata Israel Rehavam Ze’evi, seorang
mantan jenderal tentara Israel dan termasuk Zionis paling ekstrem. Operasi ini
dilakukan oleh Front Rakyat dengan keberanian dan kecermatan sebagai balasan
atas pembunuhan sekretaris jenderalnya, Abu Ali Mustafa. Hamas dan Front
Demokratik juga melaksanakan operasi penyerbuan khusus ke permukiman Israel
dalam satu tahun yang sama.
Selain metode penangkalan keras yang diadopsi oleh kaum
Zionis, intifada ini juga menyebabkan jatuhnya pemerintahan Partai Buruh Israel
yang dipimpin oleh Barak, serta kekalahan telak Barak dalam pemilihan perdana
menteri Israel pada 6 Februari 2001. Kaum Zionis kemudian memilih seorang tokoh
yang lebih berdarah dingin, lebih ekstrem, dan terkenal dengan pembantaian
terhadap rakyat Palestina, yaitu Ariel Sharon, pemimpin Partai Likud.
Akibatnya, masyarakat Zionis kehilangan rasa aman. Mereka
mulai menghindari naik bus dan mengurangi aktivitas belanja semaksimal mungkin
karena khawatir terjadi ledakan kapan saja dan di mana saja. Impian mereka
untuk memaksakan syarat-syarat yang merendahkan kepada bangsa Arab dan Muslim
pun sirna. Dinding permusuhan dan pertumpahan darah kembali meninggi,
menghentikan arus normalisasi dan penyelesaian damai serta upaya menundukkan
kawasan bagi proyek Zionis. Entitas Zionis kembali menampilkan wajah buruknya
di hadapan dunia. Sosok syahidnya anak Muhammad al-Durrah—yang disaksikan
dunia—menjadi mimpi buruk yang mengungkap kebencian, kebrutalan, dan wajah
Zionisme.
Kaum Zionis juga mengalami kemerosotan ekonomi yang
signifikan, padahal sebelumnya mereka menikmati pertumbuhan pesat sebelum
intifada. Sektor pariwisata terpukul, dengan kerugian sekitar satu miliar dolar
per tahun. Produk nasional Israel menurun sebesar 8,9%. Setelah sempat mencatat
pertumbuhan 9% pada kuartal ketiga tahun 2000, volume perdagangan menurun
sebesar 31%. Defisit perdagangan pada Oktober 2000 saja mencapai sekitar 468
juta dolar. Pada Agustus 2001, rata-rata kerugian harian Zionis mencapai sekitar
14–16 juta dolar Amerika per hari.
Intifada ini mengguncang hebat entitas Zionis dan menyerang
dua pilar utama keberadaan materialnya, yaitu keamanan dan kemakmuran ekonomi.
Puluhan ribu orang Yahudi mulai mengemas barang-barang mereka dan meninggalkan
entitas Zionis menuju Eropa, Amerika, dan Australia. Survei opini publik
menunjukkan bahwa lebih dari 25% orang Yahudi di Palestina secara serius
mempertimbangkan untuk meninggalkan negara tersebut.
Namun, entitas Zionis di bawah kepemimpinan Sharon tetap
bersikeras menekan intifada dan menghapus hasil-hasilnya. Mereka juga
memanfaatkan situasi dunia yang teralihkan oleh peristiwa penghancuran Gedung
World Trade Center di New York pada 11 September 2001, serta serangan Amerika
dan sekutunya terhadap Afghanistan dan upaya menghancurkan Taliban dan Bin
Laden. Dalam suasana tersebut, mereka menggunakan cara-cara paling keras berupa
pembunuhan, penghancuran, dan perusakan.
Namun, kekhawatiran terbesar terhadap kelangsungan intifada
ini justru datang dari dalam masyarakat Palestina sendiri, khususnya
kemungkinan kerja sama Otoritas Palestina dengan entitas Zionis untuk
memadamkan intifada dengan alasan kembali ke meja perundingan dan kemungkinan
memperoleh keuntungan politik.
Penargetan kepemimpinan Palestina
Setelah kaum Zionis putus asa menghadapi aksi perlawanan
Palestina yang dipimpin oleh Hamas, dan setelah para pejuang membalas mereka
dengan setimpal, mereka beralih pada penggunaan agen-agen (kolaborator) untuk
menargetkan para pejuang dan mengkhianati mereka, terutama para pemimpin
historis di antara mereka. Mereka juga mengandalkan serangan udara terhadap
para aktivis jihad Palestina, dengan memanfaatkan seluruh kemampuan teknologi
dan taktik yang mereka miliki.
Mereka berhasil membunuh sejumlah tokoh penting dari para
pemimpin perjuangan dan politik, seperti pemimpin Salah Syahadah, Syaikh Ahmad
Yasin, syahid Ismail Abu Shanab, dan Dr. Abdul Aziz al-Rantisi, serta lainnya
yang gugur sebagai syuhada di jalan pembebasan Masjid Al-Aqsa dan Palestina.
Mereka adalah para pahlawan yang menepati janji mereka kepada Allah; di antara
mereka ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu, dan mereka tidak
pernah mengubah janji tersebut sedikit pun. Hal itu meninggalkan luka dan
kesedihan di hati rakyat Palestina, Arab, dan Islam. Namun, cukup bagi kita
bahwa mereka telah gugur sebagai syuhada yang hidup di sisi Tuhan mereka dan
mendapatkan rezeki.
Mereka telah memberikan teladan mulia bagi umat Islam dalam
membela kehormatan, tanah air, dan tempat-tempat suci mereka. Mereka menjadi
pelopor bagi kafilah para syuhada dan contoh hidup bagi para pejuang di jalan
iman. Mereka memperoleh apa yang mereka cita-citakan, yaitu kematian yang mulia
dan terhormat. Darah suci mereka akan tetap menjadi kutukan bagi kaum Zionis,
menyalakan api balas dendam dan kebencian, dan jiwa-jiwa suci mereka akan
menjadi matahari yang menerangi jalan bagi generasi mendatang, menunjukkan arah
dan menjelaskan jalan menuju kemenangan dan kejayaan atas orang-orang yang
berkhianat, berbuat makar, dan kerusakan, yang tidak menghormati perjanjian
maupun tanggung jawab terhadap siapa pun.
Bahkan terhadap mereka yang pernah berjalan bersama dan
bekerja sama dengan mereka, seperti Yasser Arafat—presiden yang mereka angkat
dan dukung—ketika perannya telah berakhir dan muncul pihak lain yang dapat
memberi mereka lebih banyak dari apa yang telah ia berikan, bahkan lebih baik
dari apa yang ia sediakan, mereka membunuhnya dengan racun mematikan di hadapan
dunia, di tengah para menteri dan para pembantunya, serta di bawah pandangan
dan pendengaran rezim-rezim Arab. Tidak seorang pun berani mengucapkan sepatah
kata pun, atau melakukan penyelidikan, atau membuka berkas kasus tersebut.
Setelah semua itu, apakah masih ada orang yang berharap bahwa kaum Yahudi akan
menyerahkan sesuatu kepadanya? Tidak, sama sekali tidak. Maka apakah
orang-orang yang lalai itu akan terbangun?
Ketiga: Referensi untuk pendalaman:
- Gerakan
Perlawanan Islam (Hamas) di Palestina karya Ahmad عز الدين, Dar al-Tawzi‘
wa al-Nashr al-Islamiyyah, Kairo.
- Piagam
Gerakan Perlawanan Islam (Hamas).
- Pernyataan-pernyataan
resmi gerakan yang diterbitkan secara berkala.
- Majalah
al-Da‘wah Saudi (13/10/1409 H).
- Majalah
al-Mujtama‘ Kuwait yang menerbitkan beberapa wawancara dengan para
pemimpin Hamas yang diasingkan dari Palestina.
- Hamas:
Gerakan Perlawanan Islam di Palestina, karya Dr. Abdullah Azzam, Dar
al-Huda.
Berikut terjemahan lengkap tanpa diringkas dan tetap setia
pada struktur narasi:
Keempat: Kegiatan pendidikan dan pembelajaran:
Diusulkan kegiatan-kegiatan yang sesuai untuk memperkenalkan
gerakan ini.
Kelima: Evaluasi dan pengukuran mandiri:
Definisikan Gerakan Perlawanan Islam.
Jelaskan hubungan gerakan tersebut dengan Ikhwanul Muslimin.
Tentukan solusi yang diadopsi gerakan tersebut terhadap masalah Palestina.
Kapan gerakan ini mulai didirikan?
Jelaskan peran Hamas dalam intifada yang heroik.
Sebutkan tokoh-tokoh utama Gerakan Hamas.
Ringkas pemikiran dan keyakinan gerakan tersebut.
Sebutkan hubungan gerakan dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Jelaskan akar pemikiran dan ideologinya.
Jelaskan pemikiran dan keyakinan Gerakan Masyarakat Damai (Harakat Mujtama‘
as-Silm).
Tentukan tujuan-tujuan utama Rabithah Dakwah.
Ringkas prinsip-prinsip serta program politik dan sosial Front (al-Jabhah).
Jelaskan akar pemikiran dan ideologi Front tersebut.
Bandingkan antara Gerakan Masyarakat Damai dan gerakan Salafi.
Sebutkan tokoh-tokoh utama Gerakan Masyarakat Damai.
Jelaskan pemikiran dan keyakinan Gerakan Masyarakat Damai.
Tentukan tujuan-tujuan utama Rabithah Dakwah.
Ringkas prinsip-prinsip serta program politik dan sosial Front.
Jelaskan akar pemikiran dan ideologi Front tersebut.
No comments:
Post a Comment