Friday, March 27, 2026

Hamas Palestina

Hamas adalah sebuah gerakan Islam jihadi Palestina yang muncul di kota Gaza, Palestina, kemudian menyebar ke seluruh wilayah tanah yang diduduki. Sebagaimana disebutkan dalam piagam gerakan yang dikeluarkannya pada 1 Muharram 1409 H / 18 Agustus 1988 M, gerakan ini dianggap sebagai gerakan Sunni yang berlandaskan pemikiran Ikhwanul Muslimin di Palestina.

Adapun tentang pendirian dan tokoh-tokoh utamanya: Hamas dalam pernyataan pertamanya yang dikeluarkan pada 14 Desember 1987 menyatakan bahwa ia berlandaskan pemikiran Jamaah Ikhwanul Muslimin di Palestina yang diduduki, dan mengancam musuh Yahudi bahwa mereka akan menghadapi kekerasan yang lebih besar setiap kali mereka meningkatkan kekerasan mereka, seraya menegaskan bahwa Islam adalah solusi praktis bagi persoalan Palestina, serta menolak pemborosan tenaga dan waktu dalam mengejar solusi damai dan konferensi internasional yang dianggap tidak berguna.

Salah satu aksi terbesar yang dilakukan oleh Hamas adalah memicu intifada yang berani, yang dikenal sebagai “Revolusi Batu” pada 8 Desember 1987. Gerakan ini telah mengorbankan ratusan syuhada dan tahanan, dan hingga kini masih terus berlanjut. Hamas menyatakan bahwa mereka tidak akan menghentikan perjuangan tersebut hingga Palestina terbebas dari apa yang mereka sebut sebagai “kenajisan Yahudi”.

Di antara tokoh-tokoh utamanya yang dikenal hingga saat ini adalah Syaikh Ahmad Yasin, seorang pria lumpuh yang telah berusia lebih dari lima puluh tahun, yang dianggap sebagai pendiri Hamas sekaligus pemimpin pertamanya. Ia ditangkap oleh pihak Yahudi pada tahun 1984 di Gaza karena ditemukannya senjata di rumahnya yang disiapkan untuk konfrontasi militer dengan Zionis, dan ia dijatuhi hukuman penjara selama beberapa tahun. Selain itu, terdapat Ustadz Khalil al-Qouqa, salah satu pemimpin Hamas, yang diusir oleh otoritas pendudukan Yahudi setelah intifada ke luar wilayah Palestina yang diduduki.

Tokoh lainnya adalah Dr. Abdul Aziz ar-Rantisi, yang lahir pada 23 Oktober 1947 di desa Yibna (antara Asqalan dan Yafa) dan gugur pada 17 April 2004. Kemudian Insinyur Yahya Abdul Latif Sati Ayyash, yang lahir pada 6 Maret 1966 dan gugur pada 18 Mei 2002. Juga Insinyur Muhyiddin asy-Syarif, yang lahir di kota Beit Hanina di utara Yerusalem pada tahun 1966 dan gugur pada 29 Maret 1998. Syaikh Salah Mustafa Muhammad Syahada, yang lahir di Yafa Beit Hanun (utara Jalur Gaza), gugur pada 22 Juli 2002. Selain itu terdapat Syahid Mahmoud Muhammad Ahmad Abu Hunud, yang lahir pada 1 Januari 1967 dan gugur pada 13 November 2001; Syahid Dr. Ibrahim Ahmad al-Maqadmah, yang lahir tahun 1950 dan gugur pada 8 Maret 2003; serta Syahid Insinyur Ismail Hasan Abu Shanab, yang lahir di Gaza tahun 1950 dan gugur pada 21 Agustus 2003.

Adapun ide dan keyakinan Hamas tercermin dalam piagam pertamanya yang diumumkan pada 1 Muharram 1409 H / 18 Agustus 1988 M. Secara umum, hal tersebut dapat diringkas sebagai berikut: Gerakan Perlawanan Islam menjadikan Islam sebagai manhaj (pedoman hidup), darinya ia mengambil ide, konsep, dan pandangannya tentang alam semesta, kehidupan, dan manusia; kepada Islam pula ia merujuk dalam setiap tindakannya, serta darinya ia memperoleh petunjuk dalam menentukan langkahnya (pasal pertama). Gerakan Perlawanan Islam juga merupakan gerakan kemanusiaan yang berpegang pada toleransi Islam, dan meyakini bahwa dalam naungan Islam semua penganut agama dapat hidup berdampingan dengan aman atas diri, harta, dan hak-hak mereka.

Lebih lanjut, tanah Palestina dianggap sebagai tanah wakaf Islam bagi generasi kaum Muslimin hingga hari kiamat, yang tidak boleh disia-siakan, tidak boleh dilepaskan seluruhnya atau sebagian, dan tidak boleh diserahkan baik seluruhnya maupun sebagian. Tidak ada negara Arab, seluruh negara Arab, raja, presiden, seluruh raja dan presiden, maupun organisasi apa pun—baik Palestina maupun Arab—yang berhak atas hal tersebut.


Jihad melawan orang Yahudi di Palestina merupakan kewajiban individual (fardhu ‘ain) bagi setiap Muslim laki-laki dan perempuan, dan seorang perempuan boleh keluar untuk berperang tanpa izin suaminya. Tidak ada solusi bagi persoalan Palestina selain melalui jihad.

Gerakan ini juga menolak berbagai inisiatif serta apa yang disebut sebagai solusi damai terhadap persoalan Palestina, karena hal tersebut dianggap sebagai pemborosan waktu dan usaha yang sia-sia tanpa hasil.

Perempuan Muslim memiliki peran dalam perjuangan pembebasan yang tidak kalah penting dari laki-laki, karena ia merupakan pencetak generasi dan pendidik anak-anak berdasarkan nilai-nilai dan konsep moral yang bersumber dari Islam.

Gerakan ini juga menghormati pendapat lain dalam gerakan-gerakan Islam lainnya selama tindakan mereka tetap berada dalam lingkup Islam.

Piagam gerakan ini terdiri dari 36 pasal, dan di antara yang terpenting adalah bahwa Organisasi Pembebasan Palestina (PLO) dianggap sebagai pihak yang paling dekat dengan Gerakan Perlawanan Islam, meskipun Hamas tidak sepakat dengan PLO dalam hal adopsi ideologi sekuler.

Adapun akar pemikiran dan akidahnya: Hamas menyatakan dalam piagamnya (pasal kedua) bahwa ia merupakan salah satu cabang yang berkomitmen pada pemikiran Ikhwanul Muslimin di Palestina. Oleh karena itu, akar pemikiran dan keyakinannya bersumber dari konsepsi Islam tentang alam semesta, manusia, dan kehidupan, serta menjadikan perjalanan generasi salaf sebagai teladan.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Hamas adalah gerakan Islam jihadi Palestina yang muncul di Gaza, Palestina, kemudian menyebar ke seluruh wilayah yang diduduki. Pemimpin pertamanya adalah Syaikh Ahmad Yasin, seorang yang lumpuh dan telah berusia lebih dari lima puluh tahun. Gerakan ini menjadikan Islam sebagai pedoman hidupnya, dan merupakan gerakan kemanusiaan yang berpegang pada toleransi Islam serta meyakini bahwa dalam naungan Islam semua penganut agama dapat hidup berdampingan dengan aman. Selain itu, tanah Palestina dianggap sebagai tanah wakaf Islam bagi generasi kaum Muslimin hingga hari kiamat, yang tidak boleh disia-siakan, tidak boleh dilepaskan seluruhnya atau sebagian, serta tidak boleh diserahkan kepada pihak mana pun, baik negara Arab maupun seluruh negara Arab. Jihad melawan orang Yahudi di Palestina dipandang sebagai kewajiban individual bagi setiap Muslim laki-laki dan perempuan.


Gagasan politik dan pemikiran

Identitas ideologis Hamas serta pandangan politik dan pemikirannya bertumpu pada poin-poin berikut:

  1. Hamas merupakan gerakan Islam jihadi yang bersifat kerakyatan, yang dalam pemikiran, sarana, kebijakan, dan sikapnya bersandar pada ajaran Islam serta warisan fikihnya.
  2. Gerakan ini meyakini perlunya memperluas lingkup perjuangan melawan proyek Zionis ke dalam kerangka Arab dan Islam, serta bahwa pembebasan Palestina tidak akan terwujud kecuali melalui kerja sama seluruh kaum Muslimin. Islam dipandang sebagai satu-satunya faktor yang mampu membangkitkan potensi umat dan membebaskan tanah suci.
  3. Hamas meyakini bahwa persoalan Palestina pada dasarnya adalah persoalan Islam, dan merupakan amanah yang berada di pundak setiap Muslim. Oleh karena itu, pembebasannya merupakan kewajiban individual bagi setiap Muslim di mana pun ia berada.
  4. Gerakan ini memandang bahwa konflik dengan musuh Zionis adalah konflik peradaban yang menentukan, yang memiliki dimensi ideologis dan akidah.
  5. Hamas berpendapat bahwa kepentingan strategis dan ekonomi kolonialisme Barat, serta latar belakang budaya dan agamanya, telah bertemu dengan ambisi Zionisme Yahudi dalam mendirikan negara bagi orang Yahudi di Palestina, dengan tujuan memecah belah umat Arab dan Islam, merusak persatuan mereka, serta mempertahankan mereka dalam kondisi lemah dan terbelakang dalam lingkaran ketergantungan.
  6. Gerakan ini meyakini bahwa pertempuran melawan musuh Yahudi-Zionis adalah pertempuran eksistensi, bukan sekadar pertempuran batas wilayah, dan merupakan perjuangan yang diwariskan dari generasi ke generasi, serta merupakan salah satu bentuk pertarungan antara kebenaran dan kebatilan.
  7. Hamas membedakan antara orang Yahudi sebagai Ahlul Kitab yang memiliki hukum khusus dalam kitab-kitab fikih—di mana kehormatan mereka dijaga dan hak-hak sipil serta kehidupan keagamaan mereka dilindungi dalam kerangka negara Islam—dengan orang Yahudi yang melakukan agresi dan merampas Palestina, yang wajib diperangi bukan karena mereka Yahudi, melainkan karena mereka adalah penjajah dan perampas tanah Palestina.
  8. Hamas memandang bahwa jihad adalah satu-satunya jalan untuk membebaskan Palestina, namun jihad tersebut harus didasarkan pada suatu sistem yang terpadu: politik, pendidikan, sosial, dan ekonomi, guna menyediakan syarat-syarat kebangkitan peradaban dan gerakan perubahan untuk membangun generasi jihad dan pembebasan secara menyeluruh.
  9. Gerakan ini menegaskan bahwa rakyat Palestina merupakan ujung tombak dalam menghadapi proyek Zionis, dan mereka harus dipersiapkan serta didukung dengan segala sarana agar dapat menjalankan peran yang diharapkan.
  10. Hamas berusaha menggabungkan antara kekhususannya sebagai gerakan nasional yang aktif di arena Palestina dengan keyakinannya bahwa pembebasan Palestina pada akhirnya memerlukan suatu gerakan atau model Islam yang menyeluruh.
  11. Gerakan ini memandang bahwa Palestina adalah tanah wakaf Islam bagi generasi kaum Muslimin hingga hari kiamat, yang tidak boleh disia-siakan atau diserahkan, baik seluruhnya maupun sebagian.
  12. Hamas mengakui pluralitas politik dan perbedaan pandangan, serta berupaya menemukan titik-titik persamaan untuk menghadapi proyek Zionis.
  13. Hamas juga mengakui pluralitas agama, dan memandang bahwa kaum Kristen adalah mitra dalam tanah air, memiliki hak dan kewajiban yang sama seperti yang lain, serta harus turut berperan dalam melawan pendudukan.

Tujuan Hamas

Tujuan-tujuan strategis Hamas dapat diringkas sebagai berikut:

  1. Membebaskan seluruh wilayah Palestina, dari sungai hingga laut, dari musuh Zionis.
  2. Mendirikan negara Islam di atas tanah Palestina. Hamas juga memiliki tujuan-tujuan tahap (jangka pendek) yang diupayakan untuk dicapai sebagai jalan menuju tujuan strategis tersebut, yaitu:
    a. Membebaskan Tepi Barat dan Jalur Gaza, yaitu wilayah yang diduduki sejak tahun 1967.
    b. Mengislamkan masyarakat Palestina, menyebarkan akhlak dan nilai-nilai Islam, serta meningkatkan kesadaran dan komitmen keislaman, sebagai sarana utama untuk ketahanan rakyat dan sebagai awal proyek pembebasan.
  3. Menjaga semangat jihad dan pilihan perjuangan bersenjata dalam menghadapi proyek penyelesaian (damai).
  4. Mengaktifkan dukungan dari dunia Arab dan Islam untuk mendukung قضية Palestina.
  5. Memerangi normalisasi hubungan dengan entitas Zionis, serta menggagalkan proyek penetrasi (infiltrasi) Zionis di kawasan.
  6. Melemahkan entitas Zionis secara keamanan dan ekonomi, mengungkap praktik-praktik represifnya, serta menyingkap kezaliman yang menimpa rakyat Palestina.
  7. Mewujudkan persatuan nasional Palestina yang bersatu di atas program perlawanan dan pembebasan.

Hamas dan aktivitas militer

Gerakan Hamas memandang bahwa aktivitas militer merupakan pilihan strategis yang bersifat permanen dalam menghadapi konflik, karena konflik ini dianggap sebagai konflik jangka panjang yang mungkin diwariskan dari generasi ke generasi. Dalam suasana seperti proses perdamaian dan kondisi melemahnya umat, Hamas berupaya untuk tetap menjaga nyala semangat jihad sebagai bentuk penegasan bahwa tanah suci tidak boleh disia-siakan. Namun yang memperumit posisi Hamas adalah bahwa mereka memilih jalur militer ketika pihak lain justru meninggalkannya, sehingga mereka berjalan berlawanan dengan arus. Meskipun demikian, pada akhirnya mereka mampu membuktikan eksistensi diri mereka.

Hamas memulai operasinya dengan menculik tentara Avi Sasportas pada 2 Februari 1989 dan membunuhnya melalui sayap militernya (al-Mujahidun) yang dipimpin oleh Syaikh Salah Syahadah. Namun tidak lama kemudian sayap ini dihantam pada Mei 1989 akibat kampanye keras yang dilakukan oleh otoritas pendudukan. Awal pembentukan sayap militer Hamas yang sekarang, yaitu “Brigade al-Qassam”, diperkirakan sejak Mei 1990. Sejak saat itu, operasi mereka mulai meningkat, baik dari segi jumlah maupun kekuatan dan dampaknya. Menurut salah satu statistik, pada tahun 1993 Hamas melaksanakan sebanyak 138 operasi, yang menurut pengumuman pihak Israel menyebabkan 79 orang tewas dan 200 orang luka-luka. Pada 24 November 1993, Imad Aqel—salah satu pemimpin militer terkemuka—gugur.

Sejak tahun 1994, kesulitan dalam aktivitas jihad meningkat akibat masuknya Otoritas Palestina ke wilayah Tepi Barat dan Gaza. Meski demikian, kualitas efektivitas operasi Hamas justru meningkat. Hamas melaksanakan lima operasi besar sebagai balasan atas pembantaian Masjid Ibrahimi yang dilakukan oleh perwira Israel Baruch Goldstein terhadap kaum Muslim saat mereka melaksanakan salat Subuh, yang menyebabkan 29 orang Muslim gugur dan lebih dari 300 lainnya terluka (banyak lagi yang gugur dan terluka dalam bentrokan setelah pembantaian tersebut). Dalam lima operasi tersebut—menurut sumber Israel—Hamas berhasil menewaskan 39 orang Israel dan melukai 158 lainnya. Pada masa itu muncul tokoh Yahya Ayyash, yang dianggap sebagai tokoh utama di balik operasi-operasi bom syahid yang kemudian menjadi ciri khas Hamas. Bahkan para analis Israel mengakui bahwa Hamas telah menciptakan model baru manusia Palestina, yaitu para pelaku operasi syahid.

Pada 5 Januari 1996, Yahya Ayyash gugur, dan Hamas membalas kematiannya dengan keras dalam periode 25 Februari hingga 3 Maret 1996, yang menurut sumber Israel mengakibatkan 45 orang Israel tewas dan 113 lainnya terluka—meskipun sumber Israel biasanya cenderung meremehkan jumlah kerugian mereka. Operasi-operasi ini memicu kampanye besar-besaran yang terkoordinasi untuk memberantas Hamas, yang dilakukan oleh Otoritas Palestina dan otoritas Israel. Hal ini juga mendorong diselenggarakannya konferensi internasional yang disebut sebagai “melawan terorisme”, dengan kehadiran para pemimpin negara-negara besar serta sejumlah pemimpin Arab dan dunia. Namun Hamas berhasil menyerap guncangan tersebut, lalu kembali melakukan operasi militer yang kembali tampak jelas pada tahun 1997. Dalam periode ini muncul tokoh-tokoh kepemimpinan seperti Muhyiddin al-Sharif, Adel Awadallah, dan Imad Awadallah, yang semuanya gugur pada tahun 1998.

Ketika Intifada al-Aqsa meletus, Hamas menjadi pemain utama dalam operasi-operasi jihad besar, terutama operasi syahid yang mengguncang entitas Zionis dan untuk pertama kalinya menciptakan keseimbangan deterrence (daya tangkal) yang nyata. Banyak operasi yang sulit dihitung jumlahnya, dan salah satu yang paling menonjol adalah operasi Sa’id al-Houtari yang mengakibatkan sekitar 20 orang Israel tewas dan 100 lainnya terluka.


Intifada Al-Aqsa (28 September 2000 – Maret 2005) – Intifada Kedua

Kunjungan provokatif Ariel Sharon—pemimpin Partai Likud—yang disebut sebagai teroris ke kompleks Masjid Al-Aqsa pada 28 September 2000 merupakan percikan yang memicu meletusnya intifada. Jelas terlihat bahwa kunjungan tersebut mendapat restu dan dukungan dari Perdana Menteri Barak, yang menyediakan 600 tentara untuk mengawal Sharon. Selain itu, 3.000 tentara dan polisi dikerahkan di Yerusalem dan sekitarnya. Kaum Muslim pun bertekad untuk mempertahankan Al-Aqsa, sehingga dalam bentrokan pertama jatuh lima orang syahid dan lebih dari seratus orang terluka.

Faktor-faktor pemicu dan sebab-sebab ledakan situasi sebenarnya telah siap. Perundingan damai telah mencapai jalan buntu. Ambisi Zionis Yahudi terhadap Yerusalem dan Masjid Al-Aqsa semakin jelas. Sikap keras Israel tampak dalam isu pengungsi dan permukiman. Kaum Zionis terus menyita tanah dan memperluas permukiman, tanpa menunjukkan kesiapan untuk berkompromi atau melaksanakan resolusi internasional, terutama dalam isu-isu mendasar yang menentukan.

Barak sendiri menyatakan dalam sebuah pertemuan rahasia pada 25 Oktober 2000 bahwa “satu-satunya solusi yang tampak di cakrawala adalah mendorong situasi menuju ledakan.” Barangkali ia ingin menunjukkan sikap lebih keras dan memperoleh popularitas lebih besar di tengah masyarakat Zionis, serta memanfaatkan hal itu untuk menghentikan proses perdamaian atau memasukkannya ke dalam krisis yang berkelanjutan. Hal ini terjadi di saat imigrasi Yahudi terus meningkat, perampasan tanah berlanjut, dan pembangunan permukiman semakin meluas, guna memberikan tekanan lebih besar kepada Otoritas Palestina, yang dalam beberapa tahun sebelumnya telah menunjukkan kecenderungan untuk mengalah, mundur, dan menurunkan tuntutannya.

Namun, kaum Zionis dihadapkan pada letusan kemarahan yang dahsyat, bukan hanya di Palestina, tetapi juga di seluruh dunia Islam dan di mana pun terdapat komunitas Muslim. Allah سبحانه وتعالى menggagalkan perhitungan dan tipu daya mereka. Masjid Al-Aqsa tampil sebagai simbol yang tidak tunduk dan tidak bisa dirampas, ketika jutaan orang siap menebusnya—dan tanah yang diberkahi—dengan nyawa mereka.

Intifada ini melahirkan sejumlah fakta dan indikator penting, di antaranya:

Pertama: bahwa umat Islam masih hidup, meskipun luka-luka telah mengoyaknya. Semangat perlawanan, keteguhan, dan kesiapan untuk berkorban belum padam. Demonstrasi besar terjadi, mencapai puluhan bahkan ratusan ribu orang di berbagai negara dunia Islam, dari Rabat di Maroko hingga Jakarta di ujung timur dunia Islam. Semuanya menyerukan pembelaan terhadap Al-Aqsa, Yerusalem, dan Palestina, serta menuntut jihad, sambil memberikan dukungan dan sumbangan. Itu merupakan momen indah persaudaraan Islam dan persatuan umat, yang menunjukkan potensi besar umat ini untuk meraih kemenangan jika menempuh jalan jihad.

Kedua: bahwa قضية Palestina—dengan tanahnya yang diberkahi, Yerusalemnya, dan Al-Aqsa—merupakan isu yang menyatukan umat Islam. Bahkan, ia menjadi sebab untuk melampaui perbedaan di antara mereka dan memusatkan perhatian pada musuh Zionis yang sama. Isu ini telah menjadi قضية sentral bagi dunia Islam; tidak ada isu lain yang mampu menyatukan mereka seperti ini, dan tidak ada musuh yang mereka hadapi bersama seperti musuh ini.


Ketiga: Intifada ini memberikan pukulan keras terhadap proyek penyelesaian damai dan normalisasi dengan musuh, serta menonjolkan pilihan jihad sebagai pilihan yang paling tepat.

Keempat: Intifada ini mempengaruhi cara berpikir masyarakat dan gaya hidup sehari-hari mereka, sehingga permusuhan terhadap proyek Zionis semakin meningkat, begitu pula permusuhan terhadap Amerika. Semangat jihad dan solidaritas sosial pun semakin menguat.

Kelima: Bahwa penyelesaian damai didasarkan pada kezaliman dan perampasan. Massa rakyat Palestina, Arab, dan Muslim menolak untuk menyerahkan hak-hak mereka atas tanah suci. Mereka tidak mengharapkan perdamaian atau kebaikan dari penjajah Zionis, dan memandang jihad sebagai sarana paling efektif untuk merebut kembali hak-hak tersebut.

Keenam: Munculnya peran penting media dalam mobilisasi. Kaum Muslim berhasil menembus blokade media Barat yang berpihak kepada Zionis, melalui saluran televisi satelit Arab, layanan internet, dan surat elektronik, khususnya pada tahap awal intifada.

Di sisi lain, intifada ini ditandai dengan partisipasi rakyat yang luas di seluruh wilayah Palestina yang diduduki, serta keterlibatan semua faksi Palestina. Pada saat yang sama, intifada ini juga ditandai oleh kerasnya penindasan Zionis yang melampaui batas, dengan menindas anak-anak dan warga sipil tak bersalah serta menggunakan senjata yang dilarang secara internasional. Keburukan para pengklaim perdamaian (Zionis) pun terungkap, ketika mereka berlomba-lomba menghancurkan intifada yang diberkahi ini. Rakyat Palestina bertahan dengan keteguhan heroik selama lima tahun intifada.

Kaum Zionis dengan sengaja menembak dengan tujuan membunuh, bukan sekadar membubarkan demonstran atau menghadapi lemparan batu para pengunjuk rasa. Laporan menyebutkan bahwa 65% luka terjadi di bagian atas tubuh, yaitu kepala, leher, dada, dan perut. Sebanyak 40% luka disebabkan oleh penggunaan senjata yang dilarang secara internasional, seperti peluru dumdum yang meledak di dalam tubuh, serta peluru kaliber 500 dan 800 yang biasanya digunakan untuk melawan tank. Sebanyak 40% korban luka adalah remaja dan anak-anak di bawah usia 18 tahun. Selain itu, diterapkan pula kebijakan pembunuhan terarah terhadap para aktivis intifada, yang menyebabkan banyak di antara mereka gugur.

Namun demikian, semua metode penindasan tersebut tidak berhasil memadamkan intifada, yang justru berkembang menjadi semakin bercorak militer seiring perkembangan peristiwa. Laporan Israel menyebutkan bahwa terjadi rata-rata 50–70 operasi setiap hari terhadap target-target Zionis. Entitas Zionis juga sengaja menerapkan kebijakan pembungkaman media, hanya mengumumkan hal-hal yang tidak bisa disembunyikan, dan bahkan ketika itu dilakukan, mereka berusaha menyembunyikan kerugian sebenarnya serta memberikan angka yang lebih kecil untuk menjaga moral masyarakat dan tentaranya, mempertahankan kepercayaan kepada kepemimpinan Zionis, serta membuat para pejuang merasa bahwa tindakan dan operasi mereka tidak berpengaruh, sekaligus melemahkan semangat dukungan Arab dan Islam terhadap القضية tersebut.

Seluruh faksi Palestina turut serta dalam operasi militer tersebut.


Hamas menonjol melalui operasi-operasi syahidnya yang menimbulkan gaung besar dan mengguncang keamanan entitas Zionis. Pada tahun pertama intifada, Hamas melaksanakan 12 operasi syahid yang menewaskan sedikitnya 61 orang Zionis. Sebagian besar operasi tersebut dilakukan di jantung wilayah pendudukan tahun 1948, di kota-kota seperti Tel Aviv, Netanya, Yerusalem, Kfar Saba, Nahariya, dan Gaza.

Adapun Brigade Syuhada Al-Aqsa yang berada di bawah gerakan Fatah lebih memfokuskan pada operasi penembakan terhadap pasukan pendudukan dan para pemukim di Tepi Barat dan Gaza, yang menewaskan sekitar 30 orang Zionis. Sementara itu, Jihad Islam melaksanakan empat operasi besar yang menewaskan sepuluh orang Zionis. Front Rakyat dan Front Demokratik serta kelompok lainnya juga melaksanakan sejumlah operasi. Di antara operasi khusus yang patut dicatat adalah operasi pembunuhan Menteri Pariwisata Israel Rehavam Ze’evi, seorang mantan jenderal tentara Israel dan termasuk Zionis paling ekstrem. Operasi ini dilakukan oleh Front Rakyat dengan keberanian dan kecermatan sebagai balasan atas pembunuhan sekretaris jenderalnya, Abu Ali Mustafa. Hamas dan Front Demokratik juga melaksanakan operasi penyerbuan khusus ke permukiman Israel dalam satu tahun yang sama.

Selain metode penangkalan keras yang diadopsi oleh kaum Zionis, intifada ini juga menyebabkan jatuhnya pemerintahan Partai Buruh Israel yang dipimpin oleh Barak, serta kekalahan telak Barak dalam pemilihan perdana menteri Israel pada 6 Februari 2001. Kaum Zionis kemudian memilih seorang tokoh yang lebih berdarah dingin, lebih ekstrem, dan terkenal dengan pembantaian terhadap rakyat Palestina, yaitu Ariel Sharon, pemimpin Partai Likud.

Akibatnya, masyarakat Zionis kehilangan rasa aman. Mereka mulai menghindari naik bus dan mengurangi aktivitas belanja semaksimal mungkin karena khawatir terjadi ledakan kapan saja dan di mana saja. Impian mereka untuk memaksakan syarat-syarat yang merendahkan kepada bangsa Arab dan Muslim pun sirna. Dinding permusuhan dan pertumpahan darah kembali meninggi, menghentikan arus normalisasi dan penyelesaian damai serta upaya menundukkan kawasan bagi proyek Zionis. Entitas Zionis kembali menampilkan wajah buruknya di hadapan dunia. Sosok syahidnya anak Muhammad al-Durrah—yang disaksikan dunia—menjadi mimpi buruk yang mengungkap kebencian, kebrutalan, dan wajah Zionisme.

Kaum Zionis juga mengalami kemerosotan ekonomi yang signifikan, padahal sebelumnya mereka menikmati pertumbuhan pesat sebelum intifada. Sektor pariwisata terpukul, dengan kerugian sekitar satu miliar dolar per tahun. Produk nasional Israel menurun sebesar 8,9%. Setelah sempat mencatat pertumbuhan 9% pada kuartal ketiga tahun 2000, volume perdagangan menurun sebesar 31%. Defisit perdagangan pada Oktober 2000 saja mencapai sekitar 468 juta dolar. Pada Agustus 2001, rata-rata kerugian harian Zionis mencapai sekitar 14–16 juta dolar Amerika per hari.

Intifada ini mengguncang hebat entitas Zionis dan menyerang dua pilar utama keberadaan materialnya, yaitu keamanan dan kemakmuran ekonomi. Puluhan ribu orang Yahudi mulai mengemas barang-barang mereka dan meninggalkan entitas Zionis menuju Eropa, Amerika, dan Australia. Survei opini publik menunjukkan bahwa lebih dari 25% orang Yahudi di Palestina secara serius mempertimbangkan untuk meninggalkan negara tersebut.

Namun, entitas Zionis di bawah kepemimpinan Sharon tetap bersikeras menekan intifada dan menghapus hasil-hasilnya. Mereka juga memanfaatkan situasi dunia yang teralihkan oleh peristiwa penghancuran Gedung World Trade Center di New York pada 11 September 2001, serta serangan Amerika dan sekutunya terhadap Afghanistan dan upaya menghancurkan Taliban dan Bin Laden. Dalam suasana tersebut, mereka menggunakan cara-cara paling keras berupa pembunuhan, penghancuran, dan perusakan.

Namun, kekhawatiran terbesar terhadap kelangsungan intifada ini justru datang dari dalam masyarakat Palestina sendiri, khususnya kemungkinan kerja sama Otoritas Palestina dengan entitas Zionis untuk memadamkan intifada dengan alasan kembali ke meja perundingan dan kemungkinan memperoleh keuntungan politik.


Penargetan kepemimpinan Palestina

Setelah kaum Zionis putus asa menghadapi aksi perlawanan Palestina yang dipimpin oleh Hamas, dan setelah para pejuang membalas mereka dengan setimpal, mereka beralih pada penggunaan agen-agen (kolaborator) untuk menargetkan para pejuang dan mengkhianati mereka, terutama para pemimpin historis di antara mereka. Mereka juga mengandalkan serangan udara terhadap para aktivis jihad Palestina, dengan memanfaatkan seluruh kemampuan teknologi dan taktik yang mereka miliki.

Mereka berhasil membunuh sejumlah tokoh penting dari para pemimpin perjuangan dan politik, seperti pemimpin Salah Syahadah, Syaikh Ahmad Yasin, syahid Ismail Abu Shanab, dan Dr. Abdul Aziz al-Rantisi, serta lainnya yang gugur sebagai syuhada di jalan pembebasan Masjid Al-Aqsa dan Palestina. Mereka adalah para pahlawan yang menepati janji mereka kepada Allah; di antara mereka ada yang telah gugur dan ada yang masih menunggu, dan mereka tidak pernah mengubah janji tersebut sedikit pun. Hal itu meninggalkan luka dan kesedihan di hati rakyat Palestina, Arab, dan Islam. Namun, cukup bagi kita bahwa mereka telah gugur sebagai syuhada yang hidup di sisi Tuhan mereka dan mendapatkan rezeki.

Mereka telah memberikan teladan mulia bagi umat Islam dalam membela kehormatan, tanah air, dan tempat-tempat suci mereka. Mereka menjadi pelopor bagi kafilah para syuhada dan contoh hidup bagi para pejuang di jalan iman. Mereka memperoleh apa yang mereka cita-citakan, yaitu kematian yang mulia dan terhormat. Darah suci mereka akan tetap menjadi kutukan bagi kaum Zionis, menyalakan api balas dendam dan kebencian, dan jiwa-jiwa suci mereka akan menjadi matahari yang menerangi jalan bagi generasi mendatang, menunjukkan arah dan menjelaskan jalan menuju kemenangan dan kejayaan atas orang-orang yang berkhianat, berbuat makar, dan kerusakan, yang tidak menghormati perjanjian maupun tanggung jawab terhadap siapa pun.

Bahkan terhadap mereka yang pernah berjalan bersama dan bekerja sama dengan mereka, seperti Yasser Arafat—presiden yang mereka angkat dan dukung—ketika perannya telah berakhir dan muncul pihak lain yang dapat memberi mereka lebih banyak dari apa yang telah ia berikan, bahkan lebih baik dari apa yang ia sediakan, mereka membunuhnya dengan racun mematikan di hadapan dunia, di tengah para menteri dan para pembantunya, serta di bawah pandangan dan pendengaran rezim-rezim Arab. Tidak seorang pun berani mengucapkan sepatah kata pun, atau melakukan penyelidikan, atau membuka berkas kasus tersebut. Setelah semua itu, apakah masih ada orang yang berharap bahwa kaum Yahudi akan menyerahkan sesuatu kepadanya? Tidak, sama sekali tidak. Maka apakah orang-orang yang lalai itu akan terbangun?


Ketiga: Referensi untuk pendalaman:

  • Gerakan Perlawanan Islam (Hamas) di Palestina karya Ahmad عز الدين, Dar al-Tawzi‘ wa al-Nashr al-Islamiyyah, Kairo.
  • Piagam Gerakan Perlawanan Islam (Hamas).
  • Pernyataan-pernyataan resmi gerakan yang diterbitkan secara berkala.
  • Majalah al-Da‘wah Saudi (13/10/1409 H).
  • Majalah al-Mujtama‘ Kuwait yang menerbitkan beberapa wawancara dengan para pemimpin Hamas yang diasingkan dari Palestina.
  • Hamas: Gerakan Perlawanan Islam di Palestina, karya Dr. Abdullah Azzam, Dar al-Huda.

Berikut terjemahan lengkap tanpa diringkas dan tetap setia pada struktur narasi:


Keempat: Kegiatan pendidikan dan pembelajaran:

Diusulkan kegiatan-kegiatan yang sesuai untuk memperkenalkan gerakan ini.

Kelima: Evaluasi dan pengukuran mandiri:

Definisikan Gerakan Perlawanan Islam.
Jelaskan hubungan gerakan tersebut dengan Ikhwanul Muslimin.
Tentukan solusi yang diadopsi gerakan tersebut terhadap masalah Palestina.
Kapan gerakan ini mulai didirikan?
Jelaskan peran Hamas dalam intifada yang heroik.
Sebutkan tokoh-tokoh utama Gerakan Hamas.
Ringkas pemikiran dan keyakinan gerakan tersebut.
Sebutkan hubungan gerakan dengan Organisasi Pembebasan Palestina (PLO).
Jelaskan akar pemikiran dan ideologinya.
Jelaskan pemikiran dan keyakinan Gerakan Masyarakat Damai (Harakat Mujtama‘ as-Silm).
Tentukan tujuan-tujuan utama Rabithah Dakwah.
Ringkas prinsip-prinsip serta program politik dan sosial Front (al-Jabhah).
Jelaskan akar pemikiran dan ideologi Front tersebut.
Bandingkan antara Gerakan Masyarakat Damai dan gerakan Salafi.
Sebutkan tokoh-tokoh utama Gerakan Masyarakat Damai.
Jelaskan pemikiran dan keyakinan Gerakan Masyarakat Damai.
Tentukan tujuan-tujuan utama Rabithah Dakwah.
Ringkas prinsip-prinsip serta program politik dan sosial Front.
Jelaskan akar pemikiran dan ideologi Front tersebut.

 

No comments:

Post a Comment

Hamas Palestina