Thursday, March 26, 2026

Ayat-ayat dan Surat-surat Al-Quran

Ayat (آيات) adalah bentuk jamak dari kata ayah (آية). Kata “ayah” memiliki beberapa makna dalam bahasa:

  1. Kata ayah digunakan dengan makna mukjizat. Allah Ta‘ala berfirman:
    “Bertanyalah kepada Bani Israil, berapa banyak tanda (ayat) yang jelas telah Kami berikan kepada mereka. Dan barang siapa menukar nikmat Allah setelah datang kepadanya, maka sesungguhnya Allah sangat keras siksa-Nya.”
  2. Kata ayah juga digunakan dengan makna tanda. Di antaranya firman Allah Ta‘ala:
    “Sesungguhnya tanda kekuasaannya adalah datangnya kepadamu tabut yang di dalamnya terdapat ketenangan dari Tuhanmu.”
    Artinya: tanda kekuasaannya.
  3. Kata ayah juga berarti pelajaran dan nasihat. Di antaranya firman Allah Ta‘ala setelah kebinasaan Fir‘aun dan bala tentaranya serta keselamatan Musa dan orang-orang beriman bersamanya:
    “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat pelajaran (ayat), dan kebanyakan mereka tidak beriman.”
  4. Kata ayah digunakan dengan makna perkara yang menakjubkan, sebagaimana disebutkan dalam Al-Qur’an tentang kisah Maryam dan Isa عليهما السلام:
    “Dan Kami jadikan putra Maryam dan ibunya sebagai suatu tanda (ayat), dan Kami melindungi keduanya di suatu tempat yang tinggi yang memiliki ketenangan dan sumber air.”

Dan firman-Nya:
“Dan (ingatlah) perempuan yang menjaga kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalamnya ruh Kami, dan Kami jadikan dia dan anaknya sebagai tanda (ayat) bagi seluruh alam.”

  1. Kata ayah juga bermakna bukti dan dalil atas kekuasaan Allah dalam penciptaan. Allah Ta‘ala berfirman:
    “Dan di antara tanda-tanda (ayat) kekuasaan-Nya adalah penciptaan langit dan bumi serta perbedaan bahasa dan warna kulitmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berilmu.
    Dan di antara tanda-tanda-Nya adalah tidurmu di malam dan siang hari serta usahamu mencari karunia-Nya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang mendengar.
    Dan di antara tanda-tanda-Nya adalah Dia memperlihatkan kilat kepadamu untuk menimbulkan rasa takut dan harap, dan Dia menurunkan air dari langit lalu dengan itu Dia menghidupkan bumi setelah matinya. Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi orang-orang yang berpikir.”

Maka kata ayah dalam ayat-ayat tersebut bermakna dalil dan bukti atas kekuasaan Allah, ilmu-Nya, dan hikmah-Nya.

Adapun dalam istilah, ayat adalah:
“Sekelompok kata yang memiliki permulaan dan akhir, yang termasuk dalam suatu surat dari Al-Qur’an.”

Al-Ja‘bari berkata:
“Batasan ayat adalah susunan Al-Qur’an yang terdiri dari beberapa kalimat, walaupun secara perkiraan, memiliki awal dan akhir, dan termasuk dalam suatu surat.”

Tidak ada jalan untuk mengetahui jumlah ayat-ayat Al-Qur’an kecuali melalui penetapan (taufiq) dari syariat, sehingga tidak ada ruang bagi qiyas (analogi) dan pendapat dalam hal ini.

Az-Zamakhsyari berkata:
“Ayat-ayat merupakan penetapan yang bersifat توقيفي, tidak ada ruang qiyas di dalamnya.”

Buktinya, para ulama menghitung “Alif Lam Mim (ألم)” sebagai satu ayat ketika terdapat pada awal surat-surat tertentu, demikian pula “Alif Lam Mim Shad (المص)” dihitung sebagai ayat. Namun mereka tidak menghitung “Alif Lam Mim Ra (المر)” sebagai ayat, dan demikian pula “Alif Lam Ra (الر)” bukan ayat dalam lima suratnya, yaitu Yunus, Hud, Yusuf, Ibrahim, dan Al-Hijr.

Abu Bakar bin Al-‘Arabi berkata:
“Nabi menyebutkan bahwa surat Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat, dan surat Al-Mulk terdiri dari tiga puluh ayat.”

Diriwayatkan oleh Al-Bukhari, Abu Dawud, dan An-Nasa’i dari Abu Sa‘id bin Al-Mu‘alla, ia berkata:
“Aku sedang salat di masjid, lalu Rasulullah memanggilku, tetapi aku tidak menjawabnya. Kemudian aku datang kepadanya dan berkata: Wahai Rasulullah, aku tadi sedang salat. Maka beliau bersabda:
‘Bukankah Allah Ta‘ala berfirman: Wahai orang-orang yang beriman, penuhilah panggilan Allah dan Rasul apabila ia menyeru kalian?’

Kemudian beliau bersabda:
‘Aku akan mengajarkan kepadamu satu surat yang merupakan surat paling agung dalam Al-Qur’an sebelum kita keluar dari masjid.’

Lalu beliau memegang tanganku, dan ketika beliau hendak keluar aku berkata: Bukankah engkau berkata akan mengajarkanku surat yang paling agung dalam Al-Qur’an?

Beliau bersabda:
‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin (surat Al-Fatihah), ia adalah tujuh ayat yang diulang-ulang (as-sab‘ al-matsani) dan Al-Qur’an yang agung yang diberikan kepadaku.’”

Dari hadis ini dapat diketahui bahwa Al-Fatihah terdiri dari tujuh ayat dan bahwa ia adalah yang dimaksud dengan “tujuh ayat yang diulang-ulang” dalam firman Allah Ta‘ala:
“Dan sungguh Kami telah memberikan kepadamu tujuh ayat yang diulang-ulang dan Al-Qur’an yang agung.”

Diriwayatkan pula oleh At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda:
“Sesungguhnya segala sesuatu memiliki puncak, dan puncak Al-Qur’an adalah surat Al-Baqarah. Dan di dalamnya terdapat satu ayat yang merupakan pemimpin ayat-ayat Al-Qur’an, yaitu Ayat Kursi.”

Terkadang satu kata dapat menjadi satu ayat, seperti: “Wal-Fajr”, “Wal-Duha”, “Wal-‘Asr”, demikian pula “Alif Lam Mim”, “Tha Ha”, “Ya Sin”, dan “Ha Mim” menurut pendapat ulama Kufah.

Sedangkan ulama lain tidak menganggapnya sebagai ayat, tetapi mengatakan bahwa itu adalah pembuka-pembuka surat.

Dan kita mengatakan bahwa yang dijadikan pegangan dalam mengetahui hal tersebut adalah perbuatan generasi salaf, karena merekalah yang mengambilnya dari Rasulullah .


Abu ‘Amr Ad-Dani berkata:
“Aku tidak mengetahui satu kata yang berdiri sendiri sebagai satu ayat kecuali firman Allah Ta‘ala: ‘Mudhāmmatān’ dalam surat Ar-Rahman (ayat 64).”

Adapun surat-surat: dalam bahasa berarti kedudukan, kemuliaan, sesuatu yang tinggi dari bangunan, dan keindahan. Surat dalam Al-Qur’an dinamakan demikian karena ia merupakan tingkatan demi tingkatan yang berdiri sendiri dan terpisah dari yang lainnya.

Dalam istilah, surat adalah:
“Sekelompok ayat Al-Qur’an yang memiliki awal dan akhir, serta berdiri sendiri dari selainnya.”

Kata ini diambil dari “sūr” (tembok kota), karena di dalamnya terdapat makna ketinggian dan kemuliaan maknawi yang menyerupai ketinggian dan kemuliaan fisik dari tembok.

Surat-surat Al-Qur’an berbeda-beda panjang dan pendeknya. Surat yang paling pendek adalah surat Al-Kautsar, dan yang paling panjang adalah surat Al-Baqarah. Di antara keduanya terdapat banyak surat yang berbeda-beda: ada yang panjang, sedang, dan pendek.

Hal ini semuanya kembali kepada Allah semata, berdasarkan hikmah yang Dia ketahui, yang terkadang tersembunyi bagi kita.

Para ulama telah membagi Al-Qur’an berdasarkan surat-suratnya menjadi empat bagian:
Ath-Thiwal (yang panjang), Al-Mi’un (yang ratusan ayat), Al-Matsani, dan Al-Mufasshal.

  • Tujuh surat panjang (as-sab‘ ath-thiwal): dimulai dari Al-Baqarah dan diakhiri dengan Bara’ah (At-Taubah). Hal ini dengan menganggap Al-Anfal dan Bara’ah sebagai satu surat karena tidak adanya pemisah (basmalah) di antara keduanya.

Said bin Jubair menghitung tujuh surat panjang tersebut sebagai: Al-Baqarah, Ali ‘Imran, An-Nisa’, Al-Ma’idah, Al-An‘am, Al-A‘raf, dan Yunus.

Disebut “panjang” karena panjangnya ayat-ayatnya. Kata “thiwal” adalah jamak dari “thula”, sebagaimana “kubra” menjadi “kubar”.

  • Al-Mi’un: yaitu surat-surat setelah tujuh surat panjang. Disebut demikian karena setiap suratnya memiliki lebih dari seratus ayat atau mendekatinya.
  • Al-Matsani: yaitu surat-surat yang datang setelah al-mi’un.

Seluruh surat Al-Qur’an juga bisa disebut matsani, sebagaimana firman Allah Ta‘ala:
“Allah telah menurunkan perkataan yang paling baik, yaitu kitab yang serupa (mutasyabih) lagi berulang-ulang (matsani).”

Disebut demikian karena kisah-kisah dan berita di dalamnya diulang-ulang.

  • Al-Mufasshal: yaitu surat-surat pendek yang datang setelah al-matsani.

Disebut mufasshal karena banyaknya pemisahan antara surat-suratnya dengan “Bismillahirrahmanirrahim”. Ada juga yang mengatakan karena banyaknya ayat yang telah di-nasakh di dalamnya.

Akhirnya adalah surat Qul a‘ūdzu birabbin-nās, sedangkan awalnya diperselisihkan dalam banyak pendapat.

Di antaranya:

  • bahwa awalnya adalah surat Al-Hujurat,
  • ada yang mengatakan surat Al-Qital (Muhammad),
  • ada yang mengatakan surat Al-Fath,
  • ada yang mengatakan “Sabbih” (yakni surat yang diawali dengan “Subhana”),
  • dan ada yang mengatakan “Adh-Dhuha”.

Pendapat yang lebih kuat di antara pendapat-pendapat tersebut adalah bahwa awalnya adalah surat Qaf (ق). Hal ini berdasarkan hadis yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah dari Aus bin Hudzayfah ketika ia datang kepada Rasulullah dalam delegasi Tsaqif. Dalam hadis itu ia berkata:

“Aku bertanya kepada para sahabat Rasulullah : bagaimana kalian membagi-bagi Al-Qur’an?”

Mereka menjawab:
“Tiga (surat), lima, tujuh, sembilan, sebelas, tiga belas, dan hizb mufasshal tersendiri.”

Jika kita menghitung empat puluh delapan surat, maka setelahnya adalah surat Qaf.

Jumlah surat dalam Al-Qur’an Al-‘Azhim menurut kesepakatan para ulama adalah 114 surat, sebagaimana dalam mushaf Utsmani. Dimulai dengan Al-Fatihah dan diakhiri dengan surat An-Nas.

Berbeda dengan Mujahid, yang menganggap Al-Anfal dan Bara’ah sebagai satu surat karena kemiripan keduanya dan tidak adanya pemisah (basmalah) di antara keduanya. Namun pendapat ini ditolak karena Nabi menamai masing-masing surat tersebut secara terpisah.


Urutan Ayat

Makkī dan selainnya berkata:
“Urutan ayat-ayat dalam surat-surat adalah berasal dari Nabi , dan karena beliau tidak memerintahkan hal itu pada awal surat Bara’ah, maka surat tersebut dibiarkan tanpa basmalah.”

Abu Bakar bin Ath-Thayyib berkata:
“Urutan ayat adalah suatu ketentuan yang wajib dan hukum yang mengikat. Jibril dahulu berkata: ‘Letakkan ayat ini pada tempat ini.’”

Dari Zaid bin Tsabit berkata:
“Kami berada di sekitar Rasulullah menyusun Al-Qur’an,” yaitu kami menyusun Al-Qur’an pada lembaran-lembaran. Maksudnya adalah menyusun ayat-ayat yang turun secara terpisah dalam suatu surat dan mengumpulkannya di dalamnya dengan petunjuk Nabi … (diriwayatkan oleh Al-Baihaqi).

As-Suyuthi berkata:
“Ijma‘ (kesepakatan) dan nash-nash yang banyak menunjukkan bahwa urutan ayat bersifat توقيفي (berdasarkan penetapan wahyu), tidak ada keraguan dalam hal itu.”

Jibril turun membawa ayat-ayat kepada Rasulullah dan menunjukkan kepada beliau tempatnya dalam surat, lalu Rasul memerintahkan para penulis wahyu untuk menuliskannya pada tempat tersebut, sebagaimana beliau juga menyampaikannya kepada para sahabat.

Hadis Utsman bin Abi Al-‘Ash sebelumnya menunjukkan hal itu. Ia berkata:
“Aku sedang duduk di dekat Nabi , lalu beliau memandang ke atas kemudian menundukkan pandangannya, lalu berkata:
‘Jibril datang kepadaku dan memerintahkanku untuk meletakkan ayat ini pada tempatnya dalam surat ini:
“Sesungguhnya Allah menyuruh (kamu) berlaku adil dan berbuat kebajikan serta memberi kepada kaum kerabat…”’”

Hadis ini diriwayatkan oleh Imam Ahmad.

Dari Umar bin Al-Khattab رضي الله عنه berkata:
“Aku sering bertanya tentang kalalah, hingga Nabi menepuk dadaku dengan jarinya dan berkata:
‘Cukuplah bagimu ayat musim panas di akhir surat An-Nisa’.’”
(Hadis ini diriwayatkan oleh Muslim).

Telah tetap bahwa Nabi membaca beberapa surat Al-Qur’an dengan urutan ayatnya sebagaimana yang ada dalam mushaf sekarang, baik dalam salat maupun dalam khutbah Jumat, seperti membaca surat Al-Baqarah, Ali ‘Imran, dan An-Nisa’, serta surat Al-Jumu‘ah dan Al-Munafiqun dalam salat Jumat, dan surat Qaf dalam khutbah.

Juga terdapat hadis-hadis yang menunjukkan keutamaan ayat-ayat tertentu dalam surat tertentu, dan hal ini mengharuskan bahwa urutan ayat tersebut bersifat توقيفي.

Al-Bukhari meriwayatkan dari Ibnu Az-Zubair, ia berkata:
“Aku berkata kepada Utsman: ‘(Ayat) “Dan orang-orang yang meninggal dunia di antara kamu dan meninggalkan istri-istri…” (ayat 240 dari surat Al-Baqarah), telah dihapus oleh ayat yang lain, maka mengapa kita tetap menuliskannya atau membiarkannya?’

Utsman menjawab:
‘Wahai anak saudaraku, aku tidak akan mengubah sesuatu pun dari tempatnya.’”

(Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari).

Artinya: mengapa ayat itu tetap ditulis padahal telah dihapus hukumnya?

Jawaban Utsman: “Aku tidak akan mengubah sesuatu pun dari tempatnya,” menunjukkan bahwa penulisan ayat dengan urutan tersebut bersifat توقيفي (berdasarkan penetapan wahyu).

Dan telah terjadi ijma‘ umat atas hal ini, karena tidak ada ruang bagi pendapat dan ijtihad di dalamnya.

Di antara yang menyebutkan adanya ijma‘ ini adalah Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan, dan Abu Ja‘far bin Az-Zubair dalam Al-Munasabat, ketika ia berkata:

“Urutan ayat dalam surat-suratnya terjadi berdasarkan penetapan Nabi dan perintahnya, tanpa ada perbedaan pendapat di antara kaum Muslimin dalam hal ini.”

Urutan Surat dalam Al-Qur’an

Penempatan surat-surat Al-Qur’an sebagaimana adanya sekarang diperselisihkan dalam tiga pendapat:

Pendapat pertama: bahwa urutan tersebut bersifat توقيفي (ditetapkan langsung oleh Rasulullah ), sebagaimana urutan ayat. Tidak ada satu surat pun yang ditempatkan pada posisinya kecuali atas perintah beliau , karena para sahabat telah bersepakat atas mushaf yang ditulis pada masa Utsman, dan tidak ada seorang pun dari mereka yang menyelisihinya. Kesepakatan mereka tidak mungkin terjadi kecuali jika urutan yang mereka sepakati itu bersumber dari penetapan (taufiq) Nabi.

Al-Karmani berkata dalam Al-Burhan:
“Urutan surat seperti ini adalah sebagaimana yang ada di sisi Allah dan di Lauh Mahfuzh, dan dengan urutan inilah Nabi setiap tahun memperlihatkan kepada Jibril apa yang telah terkumpul darinya, dan pada tahun beliau wafat beliau memperlihatkannya dua kali.”

Abu Ja‘far An-Nahhas berkata:
“Pendapat yang dipilih adalah bahwa penyusunan surat-surat dengan urutan ini berasal dari Rasulullah .”

Hal ini juga diriwayatkan dari Ali bin Abi Thalib. Ia berdalil dengan hadis Watsilah bin Al-Asqa‘, bahwa Nabi bersabda:
“Aku diberi sebagai pengganti Taurat tujuh surat yang panjang (as-sab‘ ath-thiwal), sebagai pengganti Zabur diberikan kepadaku surat-surat yang seratus ayat (al-mi’in), sebagai pengganti Injil diberikan kepadaku al-matsani, dan aku dilebihkan dengan al-mufasshal.”

Abu Ja‘far berkata: hadis ini menunjukkan bahwa penyusunan Al-Qur’an (yakni urutan surat-suratnya) diambil dari Nabi , dan bahwa ia telah tersusun sejak waktu itu. Di dalamnya juga terdapat dalil bahwa surat Al-Anfal adalah satu surat tersendiri dan bukan bagian dari surat Bara’ah.

Di antara yang berpendapat demikian dan membelanya adalah Abu Bakar Ibn Al-Anbari. Ia berkata:
“Allah menurunkan seluruh Al-Qur’an ke langit dunia, kemudian diturunkan secara berangsur selama dua puluh sekian tahun. Suatu surat turun karena suatu peristiwa yang terjadi, dan suatu ayat sebagai jawaban bagi penanya. Jibril menunjukkan kepada Nabi tempat surat dan ayat tersebut. Maka keserasian susunan surat-surat seperti keserasian susunan ayat dan huruf, semuanya berasal dari Nabi . Barang siapa mendahulukan atau mengakhirkan suatu surat, maka ia telah merusak susunan Al-Qur’an.”

Ibn Al-Hassar berkata:
“Urutan surat dan penempatan ayat-ayat hanyalah berdasarkan wahyu. Nabi bersabda: ‘Letakkan ayat ini pada tempat ini.’ Dan telah diperoleh keyakinan melalui riwayat mutawatir tentang urutan ini dari bacaan beliau , serta dari kesepakatan para sahabat untuk menempatkannya demikian dalam mushaf.”

Yang menguatkan pendapat ini adalah riwayat dalam Shahih Al-Bukhari dari Ibnu Mas‘ud, ia berkata tentang surat Bani Israil, Al-Kahfi, Maryam, Thaha, dan Al-Anbiya’:
“Sesungguhnya surat-surat itu termasuk yang lama diturunkan dan termasuk dari simpananku sejak dahulu,” lalu ia menyebutkannya sesuai dengan urutan yang telah tetap.

Dalam Shahih Al-Bukhari juga disebutkan bahwa Nabi apabila hendak tidur setiap malam, beliau mengumpulkan kedua telapak tangannya, lalu meniup padanya dan membaca: Qul huwallahu ahad dan dua surat perlindungan (Al-Falaq dan An-Nas).

Dalam Musannaf Ibn Abi Syaibah, dari hadis Sa‘id bin Khalid disebutkan bahwa Nabi membaca tujuh surat panjang dalam satu rakaat, dan juga menggabungkan surat-surat mufasshal dalam satu rakaat. Hal ini juga diriwayatkan melalui jalur Ibn Wahb.

Dari Sulaiman bin Bilal, ia berkata:
“Aku mendengar Rabi‘ah ditanya: Mengapa surat Al-Baqarah dan Ali Imran didahulukan, padahal sebelum keduanya telah turun lebih dari delapan puluh surat Makkiyah, sementara keduanya diturunkan di Madinah?”
Ia menjawab:
“Keduanya didahulukan dan Al-Qur’an disusun berdasarkan pengetahuan dari orang yang menyusunnya,” kemudian ia berkata: “Ini adalah perkara yang harus diterima dan tidak perlu dipertanyakan.”
Yang dimaksud dengan “penyusunan” di sini adalah pengumpulan.


Pendapat kedua:

Bahwa urutan surat-surat merupakan hasil ijtihad para sahabat رضي الله عنهم.

Az-Zarkasyi berkata dalam Al-Burhan:
“Mayoritas ulama, di antaranya Malik dan Al-Qadhi Abu Bakar Ibn Ath-Thayyib dalam salah satu pendapatnya yang ia tetapkan, berpendapat bahwa urutan surat adalah hasil perbuatan para sahabat, dan Nabi menyerahkan hal itu kepada umatnya setelah beliau.”

Pendapat ini juga dipegang oleh Abu Al-Husain Ahmad bin Faris dalam kitab Al-Masa’il Al-Khams. Ia berkata:
“Pengumpulan Al-Qur’an ada dua macam: yang pertama adalah penyusunan surat-surat, seperti mendahulukan tujuh surat panjang dan diikuti oleh surat-surat seratus ayat. Bagian ini dilakukan oleh para sahabat رضي الله عنهم. Adapun pengumpulan yang kedua adalah menggabungkan ayat-ayat satu sama lain, maka itu dilakukan oleh Rasulullah sebagaimana diberitahukan oleh Jibril atas perintah Allah عز وجل.”

Para pendukung pendapat ini juga berdalil bahwa mushaf para sahabat dahulu berbeda dalam urutan surat sebelum Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Utsman. Jika urutan ini bersifat توقيفي dari Nabi , maka tidak mungkin mereka meninggalkannya atau berbeda dalam hal itu sebagaimana digambarkan oleh riwayat-riwayat.

Misalnya mushaf Ali disusun berdasarkan urutan turunnya wahyu: dimulai dengan Iqra’, kemudian Al-Muddatsir, kemudian (Qaf), kemudian Al-Muzzammil. Ada pula yang mengatakan ia mendahulukan surat Al-Qalam sebelum Al-Muzzammil, kemudian mendahulukan surat-surat Makkiyah atas Madaniyah.


Dan mushaf Ibnu Mas‘ud: urutannya dimulai dengan Al-Fatihah, kemudian Al-Baqarah, kemudian An-Nisa’, kemudian Ali ‘Imran.

Dan dalam mushaf Ubay bin Ka‘b: Al-Fatihah, kemudian Al-Baqarah, kemudian An-Nisa’, kemudian Ali ‘Imran, kemudian Al-An‘am, kemudian Al-A‘raf, kemudian Al-Ma’idah, dengan adanya perbedaan dalam hal itu.

Dan kami mengatakan sebagai jawaban terhadap pendapat ini bahwa yang dijadikan pegangan adalah mushaf induk (mushaf imam) yang ditulis dan disusun pada masa Utsman رضي الله عنه dengan musyawarah para sahabat, sehingga hal itu menjadi ijma‘ (kesepakatan) mereka. Mereka pun menyerahkan mushaf-mushaf mereka, dan mushaf-mushaf itu dibakar bersama lembaran-lembaran lainnya. Hal itu merupakan pilihan mereka sebelum Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu susunan yang teratur.

Maka ketika Al-Qur’an dikumpulkan pada masa Utsman dengan susunan ayat dan surat dalam satu bacaan, dan umat bersepakat atas hal itu, mereka meninggalkan mushaf-mushaf mereka. Seandainya susunan itu berdasarkan ijtihad, niscaya mereka akan tetap berpegang pada mushaf-mushaf mereka tersebut.”

Az-Zarkasyi dalam Al-Burhan mencoba menjadikan perbedaan antara dua pendapat tersebut sebagai perbedaan yang bersifat lafaz saja, yaitu antara pendapat yang mengatakan bahwa susunan itu bersifat توقيفي (berdasarkan ketetapan Nabi), dan pendapat yang mengatakan bahwa itu hasil ijtihad. Ia berkata:

“Perbedaan itu kembali kepada lafaz, karena pihak yang mengatakan pendapat kedua (yaitu ijtihad) mengatakan bahwa Nabi memberi isyarat kepada mereka tentang hal itu, karena mereka mengetahui sebab-sebab turunnya ayat dan posisi kata-katanya. Oleh karena itu Imam Malik berkata: ‘Sesungguhnya mereka menyusun Al-Qur’an berdasarkan apa yang mereka dengar dari Nabi ,’ meskipun ia berpendapat bahwa susunan surat adalah hasil ijtihad mereka. Maka perbedaan itu kembali kepada apakah hal tersebut berdasarkan penetapan secara ucapan (qauli), atau hanya berdasarkan petunjuk perbuatan (fi‘li), sehingga masih ada ruang bagi mereka untuk berijtihad?”

Baik susunan surat itu bersifat توقيفي maupun ijtihadi, maka tetap wajib untuk menghormatinya, terutama dalam penulisan mushaf, karena hal itu berdasarkan ijma‘ para sahabat, dan ijma‘ adalah hujah. Selain itu, menyelisihinya dapat menimbulkan fitnah, dan mencegah fitnah serta menutup jalan menuju kerusakan adalah suatu kewajiban.


Pendapat ketiga:

Pendapat ini menyatakan bahwa sebagian surat susunannya bersifat توقيفي, dan sebagian lainnya disusun berdasarkan ijtihad para sahabat.

Di antara yang berpendapat demikian adalah Ibnu ‘Athiyyah. Ia berkata:
“Sesungguhnya banyak surat yang telah diketahui susunannya pada masa Nabi , seperti tujuh surat panjang (as-sab‘ ath-thiwal), surat-surat yang diawali dengan ‘ha mim’, dan al-mufasshal. Adapun selain itu, mungkin saja urusannya diserahkan kepada umat.”

Abu Ja‘far Ibn Az-Zubair berkata:
“Atsar-atsar (riwayat-riwayat) menunjukkan lebih banyak daripada yang disebutkan oleh Ibnu ‘Athiyyah, dan masih tersisa sebagian kecil yang mungkin diperselisihkan, seperti sabda Nabi :
‘Bacalah dua yang bercahaya (az-zahrawain): Al-Baqarah dan Ali ‘Imran,’ sebagaimana diriwayatkan oleh Muslim.

Dan juga sebagaimana tetap dari beliau bahwa beliau salat dengan membaca tujuh surat panjang dalam satu rakaat, dan bahwa beliau menggabungkan surat-surat mufasshal dalam satu rakaat.”

Jika kita meneliti dalil-dalil yang digunakan oleh para pendukung pendapat ini, kita dapati bahwa dalil tersebut menunjukkan adanya penetapan (taufiq). Adapun bagian yang dianggap sebagai hasil ijtihad, maka tidak memiliki dalil yang menunjukkan bahwa susunannya benar-benar ijtihadi. Hal ini tidak berarti bahwa tidak ada sama sekali, meskipun jumlahnya sedikit.

Adapun hadis Ibnu ‘Abbas dengan Utsman رضي الله عنهما:
“Aku berkata kepada Utsman: Apa yang mendorong kalian untuk menggabungkan surat Al-Anfal yang termasuk al-matsani dengan surat Bara’ah yang termasuk al-mi’in, lalu kalian memisahkan keduanya dan tidak menulis di antara keduanya ‘Bismillahirrahmanirrahim’, serta menempatkannya dalam kelompok tujuh surat panjang?” hingga akhir hadis yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, At-Tirmidzi, An-Nasa’i, dan lainnya.

Hadis ini menunjukkan bahwa susunan antara kedua surat tersebut merupakan hasil ijtihad Utsman رضي الله عنه, dan bahwa Nabi tidak menjelaskan bahwa Al-Anfal termasuk bagian dari Bara’ah. Oleh karena itu, Utsman memisahkan keduanya dan tidak menuliskan “Bismillahirrahmanirrahim” di antara keduanya.

Utsman berkata: “Aku mengira bahwa ia termasuk bagian darinya, lalu Nabi wafat dan tidak menjelaskan kepada kami bahwa ia termasuk darinya (yakni Al-Anfal dan Bara’ah).”

Ungkapan “aku mengira” menunjukkan adanya keraguan dalam penetapan basmalah di awal surat, seakan-akan Utsman menetapkannya atau meniadakannya berdasarkan pendapatnya sendiri.

Demikian pula ucapannya: “Nabi wafat dan tidak menjelaskan kepada kami bahwa ia termasuk darinya.”

Namun hadis ini dengan berbagai riwayatnya diperselisihkan bahkan sebagian ulama melemahkannya, hingga Ahmad Syakir dalam komentarnya terhadap Musnad Imam Ahmad berkata: “Hadis ini tidak memiliki dasar.”

Pendapat yang lebih kuat dari ketiga pendapat ini adalah bahwa susunan surat seperti halnya susunan ayat, semuanya berasal dari Rasulullah .

Az-Zarkasyi berkata:
“Susunan penempatan surat-surat dalam mushaf memiliki alasan-alasan yang menunjukkan bahwa hal itu bersifat توقيفي yang berasal dari Yang Maha Bijaksana.”

As-Suyuthi cenderung kepada pendapat bahwa Al-Qur’an pada masa Rasulullah telah tersusun surat dan ayatnya sebagaimana susunan sekarang, kecuali Al-Anfal dan Bara’ah berdasarkan hadis Utsman. Namun telah diketahui kelemahan hadis tersebut.

Selain itu, As-Suyuthi sendiri mengakui bahwa ayat terakhir yang turun adalah:
“Dan takutlah kalian pada suatu hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah.”

Lalu Jibril memerintahkan untuk menempatkannya di antara ayat riba dan ayat utang.

Maka bagaimana mungkin Jibril meninggalkan Nabi tanpa menjelaskan posisi antara Al-Anfal dan Bara’ah, padahal ia menjelaskan penempatan setiap ayat dan setiap surat secara berurutan?

Seandainya susunan itu berdasarkan ijtihad, maka susunan Al-Qur’an yang ada di tangan kita sekarang akan berbeda dengan susunannya di Lauh Mahfuzh. Padahal diketahui bahwa Al-Qur’an tertulis di Lauh Mahfuzh dengan susunan seperti yang ada dalam mushaf kita sekarang.

Allah menurunkannya sekaligus ke langit dunia, kemudian menurunkannya secara berangsur kepada Rasulullah sepanjang hidupnya sesuai kebutuhan. Maka urutan turunnya wahyu berbeda dengan urutan bacaannya.

Satu surat dalam Al-Qur’an bisa memiliki satu nama, dan ini banyak terjadi. Bisa juga memiliki dua nama, seperti surat Al-Baqarah yang juga disebut Fusthat Al-Qur’an karena keagungan dan kemuliaannya.

Surat An-Nahl disebut juga Surat An-Ni‘am karena banyaknya nikmat yang disebutkan di dalamnya.

Surat Al-Jatsiyah disebut juga Asy-Syari‘ah.

Surat Muhammad disebut juga Al-Qital.

Kadang satu surat memiliki tiga nama, seperti surat Al-Ma’idah yang juga disebut Al-‘Uqud dan Al-Munqidzah.

Bahkan ada yang memiliki lebih dari itu, seperti surat Bara’ah yang juga disebut At-Taubah, Al-Fadhihah, Al-Hafirah, Al-‘Adzab, dan Al-Muba‘thirah.

Demikian pula surat Al-Fatihah, yang juga disebut Umm Al-Kitab, Umm Al-Qur’an, Al-Hamd, Al-Waqiyah, Al-Kanz, Asy-Syafiyah, Al-Kafiyah, dan Al-Asas.”


Penerapan praktis dari materi melalui aktivitas pendamping:

  • Menyampaikan di hadapan para jamaah masjid tentang proses pengumpulan Al-Qur’an dan penataannya.
  • Membuat majalah dinding yang khusus membahas proses pengumpulan Al-Qur’an, tahap-tahapnya, serta syubhat (keraguan) yang dilontarkan dan jawaban terhadapnya.
  • Memanfaatkan rekaman video tentang kemukjizatan ilmiah dalam Al-Qur’an sebagai bukti untuk menunjukkan bahwa Al-Qur’an tidak mengalami perubahan atau penyimpangan.
  • Menulis sebuah artikel untuk salah satu situs Islam di internet yang berisi bantahan terhadap syubhat yang dilontarkan tentang proses pengumpulan Al-Qur’an dan dugaan penyimpangannya.
  • Mendesain sebuah tabel yang menjelaskan pembagian Al-Qur’an menjadi empat bagian sebagaimana disebutkan oleh para ulama.

Evaluasi dan pengukuran diri:

S1: Apa yang dimaksud dengan pengumpulan Al-Qur’an? Apa tujuan dari pengumpulannya? Dan kapan pengumpulan Al-Qur’an dalam kedua bentuknya dilakukan?

S2: Sebutkan tahapan-tahapan yang dilalui dalam proses pengumpulan Al-Qur’an.

S3: Bandingkan proses pengumpulan Al-Qur’an pada masa Abu Bakar Ash-Shiddiq dan Utsman رضي الله عنهما dari segi:
a. Sebab dan latar belakangnya.
b. Persamaan dan perbedaannya.
c. Kaidah-kaidah yang diperhatikan dalam kedua proses pengumpulan tersebut.
d. Sikap para sahabat terhadap kedua proses pengumpulan tersebut.

S4: Sebutkan syubhat-syubhat terpenting yang dilontarkan tentang proses pengumpulan Al-Qur’an, lalu bantahlah satu per satu.

S5: Apa yang dapat disumbangkan oleh video tentang kemukjizatan ilmiah dalam menjawab syubhat yang dilontarkan tentang dugaan penyimpangan Al-Qur’an?

S6: Apa saja pelajaran yang dapat diambil dari proses pengumpulan Al-Qur’an?

S7: Bagaimana Anda memanfaatkan pelajaran-pelajaran tersebut dalam bidang dakwah dan pendidikan?

S8: Jelaskan yang dimaksud dengan surat dan ayat.

S9: Apakah susunan surat dan ayat bersifat توقيفي (berdasarkan ketetapan wahyu) atau توفيقي (berdasarkan kesepakatan/ijtihad)? Jelaskan pendapat para ulama tentang hal itu.

S10: Apa hikmah dari penataan ayat dan surat dengan susunan seperti ini?

S11: Apa saja pembagian Al-Qur’an sebagaimana ditetapkan oleh para ulama?

S12: Jelaskan karakteristik masing-masing bagian tersebut.

S13: Apa yang dimaksud dengan rasm Utsmani? Jelaskan pendapat para ulama tentang hal itu serta sebutkan pendapat yang paling benar.

S15: Jelaskan tentang perubahan atau tambahan yang dimasukkan ke dalam rasm Utsmani.

S16: Apa pelajaran yang dapat diambil dari perhatian terhadap rasm Utsmani?

S17: Apa yang dimaksud dengan fawasil (pemisah ayat) dan kepala-kepala ayat (ru’us al-ayat)?

S18: Apa pelajaran yang dapat diambil dari perhatian para ulama Muslim terhadap fawasil dan kepala-kepala ayat?”

 

 

No comments:

Post a Comment

Nuzulul Quran