Wednesday, March 11, 2026

Iqamatud Dien

Selain perintah dakwah risalatud dakwah Allah SWT ‑diin (penegakan agama). Kebanyakan umat Islam lebih mementingkan diri sendiri. Mereka merasa cukup beribadah fardu dan beramal shaleh. ,Mereka tidak berusaha untuk berdakwah. Sementara para da'i tanya menyebarkan Islam di masjid dan tidak berusaha .menegakkan dien. Kehadiran dakwah. yang sebenamya di dalam kehidupan mereka sebagai sesuatu yang asing dan aneh. 

Hasil dakwah mereka tidak dapat dibanggakan. Hal ini mungkin disebabkan oleh dakwah yang tidak mengikuti minhaj dakwahNabi SAW. Padahal satu‑satunya rujukan dan model dakwah adalah dakwah yang mengikuti minhaj Nabi AW. Sedangkan wasail (sarana) dakwah dan uslub (cara) perlu mempertimbangkan keadaan zaman dan tempat. 

Nabi Muhammad Rasulullah SAW telah memberikan suatu contoh yang mulia kepada manusia tentang berbagai upaya untuk menegakkan agama. Upaya penegakkan agama tersebut yang dilakukan Rasulullah adalah atas bimbingan Allah SWT melalui firman‑firman dalam AI Quran. Allah telah mengajarkan kepada Nabi Muhammad SAW secara bertahap bagaimana menegakkan Islam di tengah masyarakat. Di dalam sirah Nabi terkenal dengan istilah marhalah at‑ta'siis yang dilakukan oleh Rasulullah SAW di Mekah dan marhalah at‑tamkiin yang dilakukan Rasulullah di Madinah. Di antara kedua marhalah tersebut terdapat suatu kegiatan utama yang dilakukan Rasullulah yaitu hijrah.

Menegakkan agama yang telah dicontohkan oleh Rasulullah merupakan suatu bukti yang tidak dapat dinafikan. Bahkan agama yang tegak di dalam suatu masyarakat Islam telah memberikan suatu berkah dan rahmat kepada masyarakat tersebut. Oleh karena itu suatu kewajiban bagi kita untuk menegakkan Islam agar mendapatkan keselamatan, kedamaian dan ketenangan di dunia bahkan di akhirat. Dengan demikian dakwah yang merupakan usaha‑usaha untuk menegakkan Islam wajib mengikuti pola dakwah Rasulullah SAW. Metode atau minhaj dakwah Rasulullah dimulai dengan dakwah di Mekah yang berorientasi kepada pembentukan pribadi‑pribadi muslim dan dai kemudian disalurkan potensi muslim tersebut kepada penegakkan pilar-pilar Islam di tengah masyarakat yang dicontohkan nabi di Madinah. 

Pendekatan‑pendekatan dalam marhalah at‑ta'siis dapat dijadikan sebagai minhaj dan contoh ketika dakwah Islam belum kuat, artinya masih dalam proses pembinaan dan pengembangan. Beberapa minhai di dalam marhalah ini adalah menyebarkan prinsip Islam dan mengajarkan Islam, membina Islam dan dai, membina jamaah, merahasiakan menghindari benturan, menghindari penggunaan senjata, sabar atas cobaan dan gangguan, mencari potensi kekuatan jamaah, mencari basis tempat yang dapat melindungi. 

Dakwah yang, diseru oleh para dai tidak akan mencapai suatu keberhasilan apabila tidak mengikuti marhalah­ marhalah yang telah ditunjukkan oleh Nabi Muhammad SAW. Marhalah pertama yaitu tahapan peletakan dasar yang reorientasi kepada pembentukan ar rijaal. Di antara kegiatan utama pada tahapan peletakan dasar adalah menyebarkan Islam, membentuk pribadi Islam yang dai, dan membentuk Jamaah Islaamiyah. Penyebaran Islam yang dilakukan secara tabligh dan taklim dilakukan nabi di tengah masyarakat jahiliyah. Dalam sirah dikenal dakwahnya nabi di bukit safa, pasar dan di sekitar Kabah. Begitu pula ta'lim nabi yang dilakukan kepada para sahabat di rumah Arqam Bin Abil Arqam dan di rumah para sahabat lainnya. Dari Penyebaran Islam kepada masyatakat jahiliyah tersebut maka mereka mengenal bahwa Islam sebagat agama ketuhanan yang esa yang membawa kedamaian kepada kehidupan manusia. Dengan dakwah tersebar maka berduyun-duyunlah masyarakat jahiliyah memeluk Islam walaupun di masa awal Da'wah Rasulullah sangat ditentang oleh Abu Jahal dan kawan‑kawannya. Islam difitnah dan diuji dengan berbagai macam tantangan dan cobaan dan pihak kafir dan masyarakat jahiliyah. Namun demikian dari penyebaran nilai‑nilai Islam pada masyarakat jahiliyah telah menarik beberapa pribadi yang ingin mendalami nilai Islam. Di antaranya adalah Mushab Bin Umair, Umat Bin Khatab, Abu Dzar AI Ghifari dan banyak nama sahabat lainnya. Pribadi yang tertarik dengan nilai Islam dibentuk dan dibina pribadinya sehingga mrnjadi seorang pribadi muslim yang dai. 

Pribadi-pribadi yang dibentuk di dalam marhalah ad da'wah dilakukan secara diam‑diam karena menghindari serangan orang‑orang kafir dan juga siksaan orang‑orang jahiliyah. 01eh karena itu walaupun dakwah bersifat terbuka tetapi di saat marhalah at‑ta'siis dilakukan secara diam‑diam. Pembentukan pribadi‑pribadi muslim yang secara bertahap meningkat kualitas dan kuantitasnya maka akan terbentuklah sebuah jamaah Islamiyah. jamaah Islam yang dipimpin oleh nabi SAW memiliki pengikut‑pengikut muslim yang sangat kuat imannya dan bersungguh‑sungguh berjuang di jalan Allah. Dalam kondisi seperti itu nabi dan para sahabat menyembunyikan struktur jamaahnya tetapi dakwah terus disebarkan secara terbuka. 

Keberhasilan yang dilakukan oleh para dai dalam menegakkan agama mesti mengikuti dakwah nabi yang tidak hanya berorientasi kepada penyebaran Islam berupa tabligh, ceramah‑ceramah, ta'lim dan pendidikan formal Islam saja. Tetapi Rasulullah mencontohkan bahwa menegakkan Islam harus diikuti dengan membentuk pribadi‑pribadi muslim yang dai dan diikatnya mereka ke dalam sebuah jamaah Islam Kegagalan yang terjadi pada saat ini adalah dakwah tidak berorientasi pada pembentukan pribadi dan pembentukan jamaah Islam. 

Untuk memperlancar dan mempercepat perkembangan dakwah Islam di masa Rasulullah yang juga dapat dicontoh pada saat ini adalah menjauhi segala macam bentuk benturan-benturan dari pihak‑pihak musuh karena hal ini akan menguras energi, pikiran, tenaga dan waktu kita. Energi yang terkuras kepada hal-hal yang tidak bermanfaat akan mengurangi energi kita untuk mengembangkan dakwah dan membangun jamaah. Sangat banyak benturan yang sengaja atau tidak dilakukan oleh pihak‑pihak musuh kepada Islam sehingga menjadikan kita sibuk menjalankan penyelesaian benturan dan konflik tersebut. Oleh karena itu Rasuluilah mengajarkan kepada kita dalam marhalah pembentukan pribadi ini tidak perlu melayani berbagai macam fitnah dan benturan bahkan Rasulullah mengajarkan untuk menjauhi dari penggunaan kekerasan, senjata dan berperang. 

Sikap yang perlu dikembangkan dalam tahapan peletakan dasar untuk menegakkan nilai‑nilai Islam adalah sabar dari berbagai cobaan dan tantangan yang setiap saat menimpa diri kita. Kesabaran ini dicontohkan oleh Nabi agar.kita senantiasa istiqaamah dan tetap bersemangat dalam menjalankan dakwah Islam. Kesabaran dalam dakwah diperintahkan oleh Allah dalam banyak ayat AI Quran, di antaranya adalah surat AI Ashr. Dakwah memiliki sunnah berupa cobaan, tantangan dan fitnah. Oleh karena itu, kesabaran amat sangat diperlukan di dalam menjalankan dakwah. 

Dengan kesabaran ini dan karakter yang diperoleh dari pembinaan pendidikan Islam maka akan memperoleh kekuatan yang mampu untuk menjaga diri dalam Islam serta mampu untuk menghadapi berbagai tantangan. Karakter yang dibentuk dalam marhalah at‑ta'siis ini akan memampukan kita untuk bersifat sebagai khalifah yang diberikan kepercayaan oleh Allah untuk mengelola bumi dan memeliharanya. Dengan kata lain marhalah at‑ta'siis pada periode Mekah bertujuan untuk menyiapkan pribadi‑pribadi muslim untuk menjalankan amanah sebagai khalifah yaitu memelihara dan mengelola bumi dan masyarakat secara Islam. Oleh karena itu kader‑kader yang dibentuk oleh pembinaan Nabi SAW di Mekah siap mengemban tugas dan peran menegakkan pilar‑pilar Islam di Madinah. 

Ada peristiwa Hijrah di zaman Nabi yang dikenal sebagai nuqthah al‑hijrah (titik peralihan). Ada hijrah ma'nawiyyah (hijrah moralitas) dan hijrah makaaniyah (hijrah kedudukan). Hijrah yang bersifat maknawiyah yaitu hijrah dari jahiliyah kepada Islam, dari kafir berubah kepada iman, dari syirik berubah kepada tauhid, dari tauhid bathil berubah kepada haq, dari nifaq berubah kepada istiqaamah, dari maksiyat berubah kepada taat, dari haram berubah kepada halal, dari individualis kepada jamaah Islamiyah. 

Hijrah merupakan satu bentuk konsekuensi logis dari tuntutan pembentukan pribadi muslim dan dai. Masyarakat jahiliyah yang didakwahi mesti hijrah kepada Islam apabila ingin mendapatkan ridha dari Allah. Terdapat dua jenis hijrah yaitu secara moral ma'nawiyah dan secara makaaniyah. Perubahan secara ma'nawiyah yang dilakukan oleh Nabi SAW. melalui pembinaan pribadi bertujuan untuk merubah manusia dari kegelapan kepada.Islam. Selain itu hijrah juga dilakukan secara makaaniyah yaitu berpindah fisik yang dilakukan oleh nabi untuk memenuhi tercapainya basis masyarakat Islam di Madinah. 

Hijrah maknawiyah harus dilakukan oleh setiap Muslim tanpa terkecuali. Hijrah ma'nawiyyah adalah ciri perubahan seseorang. Sedangkan hijrah makaaniyah tidak harus dilakukan oleh setiap muslim. Hal ini sangat bergantung kepada keadaan. Hijrah makaaniyah berarti berpindah tempat. Tujuannya untuk mencari perlindungan sementara dan untuk menyiapkan basis masyarakat dan basis tempat.

Hal ini dibuktikan dengan adanya sebagian sahabat yang tidak berhijrah ke Madinah. Mereka menyusun kekuatan di Mekkah. Seperti Abbas paman Nabi SAW. Mereka yang berhijrah makaniyah juga dilihat dari kepentingannya. MisaInya mencari tempat perlindungan bagi kader yang potensinya sangat diperlukan oleh dakwah dan harakah.

Seperti hijrahnya ja'far bin Abi Thalib dan kawan-kawan ke Habasyah. Hijrahnya  Mus'ab bin Umair untuk menyiapkan basis masyarakat di Madinah. 

Hijrah ke lain tempat adalah uslub (cara) Nabi SAW dalam. menegakkan Islam. Hijrah ini sangat bergantung kepada keadaan. Apabila kondisi medan dakwah tidak seperti keadaan pada zaman nabi maka hijrah makaniyah tidak perlu dilakukan dan dapat mencari uslub lain yang sesuai. Yang penting minhaj menegakkan kalimat Allah dan syariat dapat berjalan. 

Pada marhalah at‑tamkiin di Madinah terbentuklah basis masyarakat, basis fasilitas, adanya kekuatan yang dapat melindungi, terbentuknya tanzhim daulah dan terealisasi dakwah yang sempurna dengan menjadikan Islam sebagai warna kehidupan. 

Pribadi‑pribadi yang telah siap dan mampu untuk mengemban tugas dan peran menegakkan Islam di Madinah disusun dan diorganisasikan oleh Rasulullah di dalam jamaah Islamiyah. Ketika hijrah ke Madinah para sahabat nabi yang telah terbina mampu menjalankan pilar-pilar Islam di tengah masyarakat Madinah. Dengan kemampuan dan kualitas para sahabat nabi tersebut maka terbentuklah basis masyarakat Islam di Madinah yang didalamnya tegak nilai‑nilai Islam. Nabi SAW sebagai kepala negara yang mempunyai pengikut para Muhajifin dan Anshar dalam kepemimpinannya tidak saja ditujukan kepada masyarakat Islam tetapi juga masyarakat bukan Islam yaitu Yahudi, Nasrani dan musyrikin. Islam yang tegak di Madinah memberikan rahmat kepada semua yang ada di Madinah dan tidak hanya dirasakan rahmat tersebut oleh umat Islam. Dengan demikian Islam memberikan rahmat kepada alam semesta dan Rasulullah SAW telah membentuk suatu basis di masyarakat Madinah yang mempunyai kekuatan dalam membela Islam. Di Madinah terbentuk basis masyarakat dan basis geografts yang memiliki kekuatan untuk mempertahankan dan memperjuangkan Islam. Di Madinah pula Rasulullah telah berhasil menegakkan Islam secara sempurna dengan cara menyusun negara Islam. Dengan demikian pula dakwah dilakukan secara sempurna dengan dasar sistem Islam yang sempuma tegak. 

Contoh demikian yang dilakukan olch Nabi Muhammad SAW telah memberikan bukti yang jelas bagaimana langkah, langkah dan cara‑cara untuk menegakkan Islam. Tidak akan berhasil usaha menegakkan Islam tanpa mengikuti sunnah nabi dalam berdakwah. Akan sia‑sia dakwah yang hanya berorientasi kepada tabligh dan ceramah tetapi tidak melakukan dakwah pembinaan. Tidak akan efektif dakwah bersendirian atau berkumpul tidak berjamaah dalam memperjuangkan dakwah Islam. Rasulullah menyuruh kita dalam menegakkan Islam dengan cara berdakwah yang berorientasi kepada penyebaran dan pembinaan kemudian pernbentukan jamaah Islam. Dari situlah akan terbentuk masyarakat Islam melalui dakwah Islam. 

1. إقامة الدين (Penegaan Agama) 

  • Allah SWT memerintahkan kepada manusia untuk beribadah, beramal shaleh, berdakwah, berjihad dan menegakkan dien dan daulah. Sayangnya, perintah ini hanya dilakukan oleh sebagian manusia. Manusia ada yang tidak beribadah. Ada juga yang beribadah tetapi tidak berjihad. Ada yang melakukan jihad tetapi tidak ke arah tegaknya diin (agama). Ada yang ingin menegakkan diin tetapi tidak mengikut minhaj yang dibawa Nabi. 
  • Jumhur ulama sepakat, tidak ada perbedaan pandangan dalam upaya menegakkan diin di muka bumi. Hanya bagaimana cara menegakkannya masih memerlukan kematangah pandangan dalam melihat realitas. Kematangan pandangan inilah yang akan menghasilkan uslub (cara)yang tidak bertentangan dengan Nabi SAW. Nama daulah dan siapa yang memegangnya tidak menjadi soal, yang pentmg adalah tegaknya syariat. 

·       Dengan memperhatikan marhalah yang dibawa oleh para Nabi dalam menegakkan diin, terdapat beberapa minhaj yang harus diikuti. Sedangkan uslub yang dibawa Nabi dapat dirubah sesuai dengan kondisi. Hijrah makaaniyah mungkin tidak diperlukan pada suatu tempat. jadi hanya melakukan marhalah at‑ta'siis dan at‑tamkiin. Marhalah at‑ta'siis lebih kepada persiapan individu dan masyarakat. Pendekatan tarbiyah dilakukan kepada ahli kerabat dan masyarakat umum. Pernbinaan jamaah dan ukhuwah ditingkatkan agar dapat menjalankan segala aktifitas dakwah yang berkesan. Untuk memperlancar proses persiapan ini maka diperlukan kesabaran dan mengalah untuk sementara. Persiapan yang matang sebagai hasil marhalah at‑ta'siis akan ditindak lanjuti dengan marhalah at‑tamkin . Pada marhalah ini individu diposisikan di dalam masyarakat dan diberi peran dalam menjalankan syariat. 

  • Minhaj yang harus dilakukan dalam menegakkan dien adalah ketika masyarakat dapat mengenal dan menerima dakwah Islam. Mereka menerima visi dan misi dan menjadi pendukungnya. Ketika ada dukungan dan penerimaan maka Islam dapat tegak di masyarakat. Usaha untuk diterima masyarakat menjadi hal yang sangat penting dalarn rangka memposisikan diri dengan kepakaran dan ketokohan yang dimiliki. 

Dalil 

  1. Q. 42:13‑15. Dia telah mensyariatkan bagi kamu tentang agama apa yang telah di wasiatkan‑Nya kepada Nuh, dan apa yang telah Kami wahyukan kepadamu, dan apa yang telah Kami wasiatkan kepada Ibrahim, Musa dan Isa, yaitu: "Tegakkanlah agama dan janganlah kamu berpecah belah tentangnya. Amat berat bagi orang‑orang musyrik agarna yang kamu scru mereka kepadanya. Allah menarik kepada agama itu orang yang dikehendaki‑Nya dan memberi petunjuk kepada agama‑Nya orang yang kembali kepada, Nya. Dan mereka ahli kitab tidak berpecah‑belah melainkan sesudah datangnya pengetahuan kepada mereka karena kedengkian antara mereka. Kalau tidak karena sesuatu ketetapan yang telah ada dari Tuhanmu dahulunya (untuk menangguhkan azab) sampai kepada waktu yang ditentukan, pastilah mereka telah dibinasakan. Dan sesunggubnya orang‑orang yang diwariskan kepada mereka Al Kitab (Taurat dan Injil) sesudah mereka, benar‑benar berada dalam keraguan yang menggoncangkan tentang kitab itu. Maka karena itu serulah mereka kepada agama itu dan tetaplah sebagaimana diperintahkan kepadamu dan janganlah mengikuti hawa nafsu mereka dan katakanlah: "Aku beriman kepada semua Kitab yang diturunkan Allah dan aku diperintalikan supaya berlaku adil di antara kamu. Allah Tuhan kami dan Tuhan kamu. Bagi kami amal‑amal kami dan bagi kamu amal‑amal kamu. Tidak ada pertengkaran antara kami dan kamu Allah mengumpulkan antara kita dan kepada‑Nya lah kembali kita. 
  1. Q. 24:55. Dan Allah telah be~anji kepada orang‑orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal‑amal yang shaleh bahwa Dia sungguh‑sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di bumi, sebagaimana Dia telah menjadikan orang yang sebelum mereka berkuasa, dan sungguh Dia akan meneguhkan bagi mereka agama yang telah diridhai‑Nya untuk mereka, dan Dia benar‑benar akan menukat keadaan mereka, sesudah mereka berada dalam ketakutan menjadi aman sentausa. Mereka tetap menyembah‑Ku dengan tiada mempererserkutukan sesuatu apapun dengan Aku. Dan barangsiapa yang tetap kafir sesudah janji itu, maka mereka itulah orang‑orang yang fasik. 
  1. Q. 48:2 7. Sesungphnya Allah akan membuktikan kepada Rasul‑Nya tentang kebenaran mimpinya yaitu bahwa sesungguhnya kamu pasti akan memasuki Masjidil Haram, insya Allah dalam keadaan aman, dengan mencukur rambut kepala dan mengguntingnya sedang kamu tidak merasa takut. Maka Allah mengetahui apa yang tiada kamu ketahui dan Dia memberikan sebelum itu kemenangan yang dekat. 
  1. Hadits. Dari Uay bin Ka'ab, dia berkata, Rasulullah SAW bersabda, "Gembirakanlah umat ini dengan kemuliaan, ketinggian, agama, kemenangan, dan kekokohan kekuasaan di muka bumi. Barangsiapa di antara mereka yang beramal akhirat untuk meraih dunia, maka dia tidak akan memperoleh bagian di akhirat"
  1. Hadits. Rasulullah SAW bersabda, "Sesungguhnya Allah membentangkan bumi itu kepadaku sehingga kau dapat melihat bagian timur dan baratnya. Kekuasaan umatku akan mencapai wilayah bumi yang telah dibentangkan kepadaku"

2. مرحلة التأسيس   (Makkiyah) (Tahapan Peletakan Dasar Mekah)

  • نشر المبادئ و تعاليم الإسلام  (menyebarkan prinsip dan kaedah kaedah keIslaman). Perintah pertama yang diterima Nabi adalah untuk menyebarkan prinsip Islam dan mengajarkan Islam. Penyebaran dakwah terbuka menarik perhatian masyarakat. Ada di antara mereka yang menerima dan ada yang menolak. Kerja dakwah terbuka dilakukan dalam rangka menyeleksi individu yang akan dibina. Sampai kini, dakwah terbuka masih harus dilakukan, dengan memanfaatkan wajihah amal (cover kerja) yang ada. 
  • بناء الشخصيّة الإسلاميّة الدّاعية (pembentukan pribadi-pribadi Islam yang dai). Individu yang menerima dakwah Nabi kemudian dibina pribadinya sehingga muncul pribadi Islam yang mampu mendakwahkan kembali keyakinannya. Mereka adalah para dai yang berkepribadian Islami. Pembinaan dilakukan dengan tarbiyah. Dengan pembinaan diharapkan terbentuk kader dan pengikut utama yang akan menjalankan semua program dakwah dan jamaah. Pribadi yang dibina ini akan terus memberi dukungan dan senantiasa berdakwah untuk memperbanyak pengikut Islam. Tarbiyah tidak pernah diam, terus berjalan mengembangkan, membangun dan memelihara potensi Muslim. Di zaman Nabi, tarbiyah dilakukan di rumah Arqam Bin Abi Arqam dan beberapa rumah sahabat. 
  •  بناء الجماعة(membentuk jamaah). Pribadi yang tertarbiyah dimasukkan kedalam jamaah Islamiyah. Membina jamaah Islam adalah program utama di dalam marhalah at‑ta'siis. Tujuannya adalah agar terlaksana dakwah yang muntijah (berhasil guna). Pembinaan jamaah dimulai dengan penempatan individu yang tertarbiyah kedalam struktur untuk menggerakkan dakwah dan mencapaai tujuannya. Pribadi ini senantiasa taat, siap memimpin dan dipimpin. Hal inilah yang memudahkan al‑'amalul al‑jama'I dan kontinuitas harakah dan dakwah. Semangat ketaatan dan semangat dakwah selalu dihembuskan melalui tarbiyah. Tarbiyah sebagai ruh yang dapat memelihara semangat dan dakwah itu sendiri. jamaah dirancang sesuai kebutuhan. Nabi merancang Mus'ab bin Umair berdakwah ke Madinah untuk menyiapkan masyarakat Islam. Demikian hainya dengan sahabat yang di utus ke Habasyah Dengan jamaah kekuatan akan muncul. Tanpa jamaah yang kuat dan solid maka Islam tidak akan tegak. 
  •  سرّيّة التّنظيم (merahasiakan struktur). Jamaah atau tanzhiim (struktur) perlu dirahasiakan, agar tidak mudah dihancurkan musuh. Kekuatan yang belum memadai mengharuskan para kader menyernbunyikan strukturnya agar terjadi soliditas kekuatan. Sebab apabila struktur mudah diketahui, musuh akan mudah menghancurkan program dakwah dan strukturnya. Merahasiakan tanzhiim adalah minhaj sebelum tegaknya syariat. Umat Islam di zaman nabipun bergerak dan berdakwah secara terbuka tetapi tanzhim tetap dirahasiakan. Para musuh Islam saja, Yahudi dengan Zionisnya dan Barat melalui Amerika dan Eropa mempunyai rancangan makar besar yang disembunyikan. 
  • الإبتعاد عن الصّدم (menjauhi bentrokan) . Pada masa ini Nabi banyak memilih sikap bertahan. Para sahabat banyak yang disiksa, berhala di Ka'bah didiamkan dan segala provokasi ditinggalkan. Segala hal yang menghabiskan energi dan mengganggu dakwah dihindari. Nabi lebih memilih membentuk kader untuk mencapai masyarakat madani. Benturan perlu dielakkan. Dakwah lebih memilih mengalah demi tujuan yang lebih besar. 
  • الإبتعاد عن ساحة المعركة (menjauhi lapangan berperang). Selain dan menghindari benturan dakwah, pada masa ini menghindari penggunaan senjata. Hal ini dilakukan untuk menjaga agar dakwah yang ddakukan tidak hancur sia‑sia. Apalagi kalau dakwah itu belum memiliki kekuatan. 
  • الصّبر على البلاء و الأذى (sabar dari cobaan dan penyiksaan). Sunnah dakwah adalah fitnah dan cobaan karena itu harus disiapkan kesabaran sepenulmya. Sabar atas cobaan dan gangguan musuh yang hendak menghantam. Kini, cobaan banyak macamnya. Ada yang bersifat duniawi material dan fitnah pekerjaan. 
  • Mencari potensi kekuatan bagi jamaah. Berdakwah dan melaksanakan tarbiyah adalah usaha mencari potensi kekuatan jamaah. Individu yang terlibat di dalam dakwah diseleksi. Sampai ditemukan individu yang baik dan dapat menyumbang tenaga dan kemampuannya kedalam jamaah. Potensi yang dimiliki disalurkan sesuai dengan tempat yang membutuhkan. Sehingga dengan cara ini potensi yang dimiliki kader dapat akan berkembang menuju cita‑cita penegakan diin. 
  • Al‑qa'idah at‑ijtima'iyah (basis masyarakat). Potensi yang ada diarahkan kepada pembentukan basis sosial yang dapat melindungi dakwah. Pada zaman Nabi di Madinah adalah alternatif pilihan dari berbagai alternatif tempat. Pembentukan basis masa ini tidak harus melalui perpindahan. Pada zaman sekarang yang terpenting adalah penerimaan masyarakat terhadap potensi jamaah. Baik melalui kepakaran, ketokohan dan potensi yang dimiliki individu tersebut.

Dalil

      Lihat Sirah Nabawiyah selama nabi SAW dan para sahabat di Makkah 

3. الهجرة- نقطة التّحوّل  (Hijrah. Titik Perubahan) 

  • نقطة التّحوّل  (titik perubahan). Hijrah atau titik perubahan dan perpindahan ini mempunyai arti perpindahan makaniyyah (tempat) dan ma'nawiyah (mental). 

A.  المعنويّة (Moralitas)

·       من الجاهليّة إلى الإسلام (Dari Kegelapan kepada Islam)

·       من الكفر إلى الإيمان (Dan Kekufuran Kepada Iman)

·       من الشّرك إلى التّوحيد (Dari Syirik Kepada Tauhid)

·       من الباطل إلى الحقّ (Dari Batil Kepada Kebenaran)

·       من النّفاق إلى الإستقامة (Dari Nifaq Kepada istiqamah)

·       من المعصية إلى الطّاعة (Dari Maksiat kepada That)

·       من الحرام إلى الحلال (Dari Haram Kepada Halal)

·       من الإنفراديّة إلى الجماعة الإسلاميّة (Dari Kesendirian kepada jamaah Islam) 

Al-ma'nawiyah (moralitas) berarti perubahan yang bersifat kejiwaan atau mentalitas. Seperti dari jahiliyah kepada Islam Dari kafir berubah kepada iman. Dari syirk berubah kepada tauhid. Dari batil berubah kepada haq. Dari nifaq berubah kepada istiqamah. Dari maksiyat berubah kepada taat. Dari haram berubah kepada halal. Dari individual berubah kepada jamaah islamiyah. 

B. المكانيّة(Kedudukan)

  • للإلتجاء مؤقّة (UntukBerpijak Sementara) 
  •  للتّعبئة (Untuk Memenuhi)

القاعدة الإجتماعيّة  .1       (Basis Masyarakat)

القاعدة الأرضيّة    .2          (Basis Bumi)

Al‑makaaniyah (kedudukan) berarti perpindahan tempat. Perpindahan sangat bergantung kepada kebutuhan, keadaan dan tujuan. Perpindahan ini dilakukan untuk mencari tempat perlindungan sementara dan untuk menyediakan basis masa serta basis tempat.

Dalil

Lihat Sirah nabawiyah selama nabi SAW dan para sahabat. 

4. مرحلة التّمكين-المدينة  Kedudukan ‑ Madinah) 

  • Walau sudah memasuki marhalah at‑tamkiin tetapi aktifitas marhalah at‑ta'siis harus tetap di lakukan. MisaInya, menyebarkan prinsip Islam dan mengajarkan Islam, membina pribadi Islam dan dai, sabar atas cobaan dan gangguan, dan mencari potensi kekuatan jamaah. Berusaha memposisikan kader jamaah kedalam posisi yang strategis. Nabi SAW di Madinah, meletakkan struktur panglima perang, ahli pedagang, ahli militer, para ulama dan sebagainya. 
  • القاعدة الإجتماعيّة (basis masyarakat). Tujuan pertama dakwah Islam ketika di Madinah adalah menegakkan masjid dan menjalankan ibadah berjamaah. Dengan tujuan tersebut diharapkan terjadi interaksi di masjid dan dengan ibadah berjamaah diharapkan adanya aktifitas kemasyarakatan. Sehingga dengan tercapainya tujuan tersebut para dai dapat dikenal masyarakat luas. Hal ini memungkinkan mereka dapat diterima masyarakat, sehingga secara perlahan akan terbentuk basis sosial. 
  • القاعدة الأرضيّة (basis bumi) . Selain membentuk basis manusia di masyarakat yang akan mendukung, perlu juga disiapkan basis alam, fasilitas dan kewilayahan. Basis ini perlu disediakan untuk melengkapi kerja‑kerja individu dalam menegakkan diin. Pada zaman Nabi dibentuk pasar, tempat belajar dan sebagainya. Persediaan material juga perlu untuk tercapainya tujuan jamaah. 
  • القوّة القادرة على الحماية (kekuatan yang mampu untuk membela) harus disiapkan. Misalnya pendekatan kepada figur atau tokoh masyarakat, seperti kepala suku Aus dan Khajraj juga kepada pemimpin Yahudi seperti Abdullah bin Ubay. Perlu juga disiapkan kekuatan tentara dan sebagainya. Intinya, semua kemungkinan yang dapat dimanfaatkan oleh dakwah didekati dan digunakan. 
  • التّنظيم الدّولة (menyusun negara). Setelah semua hal di atas terpenuhi maka harus ada struktur yang kokoh dan orang‑orang yang dapat menduduki struktur sebagai pelaksana program jamaah dan daulah. 
  • الدّعوة الشّاملة (dakwah yang sempurna). Dengan keberhasilan melakukan hal‑hal di atas maka dakwah akan berjalan sempurna dan baik. Dakwah dapat dilaksanakan dengan terbuka dan berkembang dengan perencanaan yang matang dan dapat dirasakan oleh semua lapism masyarakat. Dengan demikian Islam tegak dan Allah SWT meridhai kita. semua. 

Dalil 

Lihat Sirah Nabawiyah selama Nabi SAW dan para sahabat di Madinah.

No comments:

Post a Comment

Wahyu