Para sahabat telah memberikan perhatian yang sangat besar
terhadap Al-Qur’an Al-Karim. Mereka tidak meninggalkan sesuatu pun yang
berkaitan dengannya kecuali mereka telah menjelaskannya dan menunjukkan kepada
manusia tentang hal itu.
Mereka mengetahui apa yang pertama kali diturunkan darinya
dan apa yang terakhir diturunkan. Mereka juga mengetahui mana yang Makki dan
Madani, yang turun dalam perjalanan (safari) dan di tempat tinggal (hadari),
yang turun pada malam hari dan siang hari, yang turun pada musim panas dan
musim dingin, yang turun secara berkelompok dan yang turun secara tersendiri.
Mereka juga mengetahui sebab-sebab turunnya ayat (asbab
an-nuzul) dan hal-hal lain yang berkaitan dengan Al-Qur’an.
Tidak diragukan bahwa hal ini merupakan salah satu bentuk
kepercayaan terhadap Al-Qur’an dan menjadi bukti bahwa ia terjaga dari
perubahan dan penggantian. Tidak ada jalan untuk mengetahui perkara-perkara
tersebut kecuali melalui riwayat dari mereka. Maka tidak ada ruang bagi akal
dalam hal ini kecuali dalam melakukan tarjih (memilih yang lebih kuat) di
antara dalil-dalil atau menggabungkannya.
Mengetahui apa yang pertama kali diturunkan dan apa yang
terakhir diturunkan memiliki beberapa faedah, di antaranya:
- Mengetahui
mana yang menasakh (menghapus hukum) dan yang mansukh (yang dihapus
hukumnya). Jika dua ayat atau beberapa ayat turun dalam satu tema yang
sama, dan hukum pada salah satunya berbeda dengan yang lain, serta tidak
mungkin dikompromikan di antara keduanya, maka tidak ada jalan selain
adanya nasakh. Dalam hal ini, ayat yang terakhir turun menjadi penghapus
bagi ayat yang lebih dahulu turun.
- Mengetahui
sejarah pensyariatan dalam berbagai tahapannya, serta mengamati proses
bertahapnya, dan memahami hikmah Islam dalam kebijakan pensyariatannya,
yaitu mengambil manusia dengan cara yang lembut dan bertahap, serta
menjauhkan mereka dari perubahan yang tiba-tiba dan keras.
- Mengetahui
sejauh mana perhatian yang diberikan kepada Al-Qur’an, karena ia adalah
kekuatan yang telah mengubah wajah dunia, menggeser batas-batas kerajaan,
dan mengubah jalannya sejarah. Ia telah menyelamatkan umat manusia dari
keterpurukan.
Selain itu, Al-Qur’an adalah undang-undang dari Sang
Pencipta untuk memperbaiki makhluk-Nya, dan hukum dari langit untuk memberi
petunjuk kepada bumi. Maka tidak mengherankan jika kaum Muslimin sangat
memperhatikannya, menghafalnya ayat demi ayat dan surat demi surat, mengetahui
kapan ayat-ayat itu diturunkan dan di mana diturunkan.
Dari semua itu, tampaklah bahwa Al-Qur’an terjaga dari
perubahan dan penggantian, sebagai realisasi dari janji Allah untuk menjaga
kitab-Nya yang mulia.
Para ulama memiliki berbagai pendapat tentang apa yang
pertama kali diturunkan dari Al-Qur’an secara mutlak dan apa yang terakhir
diturunkan darinya. Kami akan menyebutkan pendapat-pendapat tersebut dan
menjelaskan mana yang lebih kuat:
(1) Pendapat pertama: bahwa yang pertama kali diturunkan
adalah: “Iqra’ bismi rabbik” (Bacalah dengan nama Tuhanmu)
Disebutkan dalam Shahih Al-Bukhari dan Muslim bahwa yang
pertama kali diturunkan kepada Nabi ﷺ adalah firman Allah Ta‘ala:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan. Dia
menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha
Mulia.”
Ini adalah riwayat dalam Al-Bukhari.
Adapun riwayat Muslim menambahkan:
“Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak
diketahuinya.”
(QS. Al-‘Alaq: 1–5).
Hadis tentang permulaan wahyu juga telah dikenal,
sebagaimana diriwayatkan dalam Shahihain dari ‘Aisyah, ia berkata:
“Permulaan wahyu yang datang kepada Rasulullah ﷺ adalah mimpi yang benar…” (hingga akhir
hadis).
Pendapat ini adalah yang paling sahih dan paling layak
diterima, serta didukung oleh banyak riwayat lainnya. Semuanya menunjukkan
bahwa yang pertama kali diturunkan secara mutlak adalah: “Iqra’ bismi
rabbik.”
(2) Pendapat kedua: bahwa yang pertama kali diturunkan
secara mutlak adalah: “Ya ayyuhal muddatsir”
Para pendukung pendapat ini berdalil dengan hadis yang
diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Salamah bin ‘Abdurrahman bin
‘Auf, ia berkata:
“Aku bertanya kepada Jabir bin ‘Abdullah: ayat Al-Qur’an
manakah yang pertama kali diturunkan?”
Ia menjawab:
“Wahai orang yang berselimut (Ya ayyuhal muddatsir).”
Aku berkata:
“Ataukah ‘Iqra’ bismi rabbik’?”
Dalam riwayat lain:
“Aku diberi tahu bahwa itu adalah ‘Iqra’ bismi rabbik yang menciptakan.’”
Maka ia berkata:
“Aku akan menceritakan kepadamu apa yang diceritakan kepada kami oleh
Rasulullah ﷺ.
Beliau bersabda:
‘Aku pernah menyendiri di Hira. Setelah aku selesai dari masa penyendirianku,
aku turun dan masuk ke lembah. Aku melihat ke depan, ke belakang, ke kanan, dan
ke kiri. Kemudian aku melihat ke langit, dan ternyata dia (Jibril). Maka aku
pun merasa gemetar. Aku mendatangi Khadijah, lalu aku berkata kepada mereka:
selimutilah aku. Maka Allah menurunkan:
“Wahai orang yang berselimut.”’”
Namun riwayat ini tidak menunjukkan bahwa surat Al-Muddatsir
turun sebelum Iqra’ bismi rabbik.
Hal itu karena sabda Nabi ﷺ:
“Kemudian aku melihat ke langit, dan ternyata dia (Jibril),” menunjukkan bahwa
ini bukan pertama kalinya Nabi ﷺ melihat Jibril.
Kemungkinan besar, riwayat ini berbicara tentang wahyu yang
turun setelah masa terhentinya wahyu (fatrah al-wahy), dan ini yang lebih
tampak.
Selain itu, Jabir bin ‘Abdullah mungkin tidak mendengar awal
kisah tersebut, melainkan hanya mendengar bagian akhirnya, sehingga ia mengira
bahwa itulah yang pertama kali diturunkan, padahal bukan demikian.
Ya, benar bahwa “Ya ayyuhal muddatsir” adalah yang
pertama kali diturunkan setelah masa terhentinya wahyu, sebagaimana yang telah
tetap dalam Shahihain.
Juga diriwayatkan dari Jabir رضي الله عنه, ia berkata: Aku
mendengar Rasulullah ﷺ
berbicara tentang masa terhentinya wahyu, beliau bersabda:
“Ketika aku sedang berjalan, aku mendengar suara dari
langit. Maka aku mengangkat kepalaku, dan ternyata malaikat yang datang
kepadaku di Hira duduk di atas kursi antara langit dan bumi. Aku pun merasa
takut kepadanya, lalu aku kembali dan berkata: Selimutilah aku, selimutilah
aku. Maka Allah Tabaraka wa Ta‘ala menurunkan:
‘Wahai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan.’”
Dalam hadis ini, Nabi ﷺ telah memberitahukan tentang malaikat yang
telah datang kepadanya di Hira sebelum kejadian ini.
Dan dalam hadis ‘Aisyah disebutkan bahwa turunnya “Iqra’”
terjadi di gua, dan itu adalah wahyu pertama.
Kemudian setelah itu wahyu terhenti (sementara).
Dan dalam hadis Jabir disebutkan bahwa wahyu kembali
berlanjut setelah turunnya “Al-Muddatsir”.
Dengan demikian diketahui bahwa “Iqra’” adalah wahyu
pertama secara mutlak, dan “Al-Muddatsir” turun setelahnya.
Ibnu Hibban berkata dalam Shahih-nya:
“Tidak ada pertentangan antara kedua hadis tersebut. Wahyu pertama yang turun
adalah ‘Iqra’ di gua Hira. Kemudian ketika Nabi ﷺ kembali kepada Khadijah رضي الله عنها dan disiramkan air
dingin, Allah menurunkan kepadanya di rumah Khadijah: ‘Wahai orang yang
berselimut.’”
Dan dikatakan pula:
Yang pertama kali diturunkan untuk kenabian adalah “Iqra’ bismi rabbik”,
sedangkan yang pertama kali diturunkan untuk kerasulan adalah “Ya ayyuhal
muddatsir”.
Karena mereka berkata: firman Allah Ta‘ala:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu” menunjukkan kenabian Muhammad ﷺ, karena kenabian
adalah wahyu yang diberikan kepada seseorang melalui malaikat dengan tugas
khusus.
Sedangkan firman-Nya:
“Wahai orang yang berselimut, bangunlah lalu berilah peringatan,” menunjukkan
kerasulannya ﷺ,
karena kerasulan adalah wahyu yang diberikan kepada seseorang melalui malaikat
dengan tugas umum (untuk menyampaikan kepada manusia).
(3) Pendapat lain: bahwa yang pertama kali diturunkan
adalah surat Al-Fatihah
Pendapat ini diriwayatkan melalui Abu Ishaq dari Abu
Maisarah ‘Umar bin Syurahbil. Ia berkata:
“Nabi ﷺ
apabila mendengar suara (wahyu), beliau lari ketakutan.”
Kemudian disebutkan tentang turunnya malaikat kepadanya dan
perkataannya:
“Katakanlah: ‘Alhamdulillahi Rabbil ‘Alamin…’ hingga akhir surat tersebut,”
yaitu Al-Fatihah.
Al-Qadhi Abu Bakar berkata:
“Riwayat ini terputus (munqathi‘), dan pendapat yang paling kuat adalah ‘Iqra’,
kemudian yang mendekatinya dalam kekuatan adalah ‘Ya ayyuhal muddatsir’.
Cara menggabungkan pendapat-pendapat ini adalah bahwa yang
pertama kali turun dari ayat adalah ‘Iqra’ bismi rabbik’, yang pertama kali
turun berupa perintah untuk menyampaikan adalah ‘Ya ayyuhal muddatsir’, dan
yang pertama kali turun dari surat adalah surat Al-Fatihah.”
(4) Dikatakan bahwa yang pertama kali diturunkan adalah:
“Bismillahirrahmanirrahim”
Jawaban terhadap pendapat ini adalah bahwa hadis yang
menyebutkannya bersifat mursal, sehingga tidak dapat menandingi hadis yang
marfu‘ (bersambung kepada Nabi ﷺ).
Dan bahwa basmalah diturunkan sebagai pembuka bagi setiap
surat, sehingga ia turun bersama awal surat “Iqra’”.
Jika engkau mengetahui hal ini, maka ketahuilah bahwa yang
pertama kali diturunkan secara mutlak adalah:
“Iqra’ bismi rabbika alladzi khalaq… hingga ‘allamal insana ma lam
ya‘lam.”
Kemudian wahyu terhenti sejenak, lalu setelah itu turun:
“Ya ayyuhal muddatsir qum fa andzir.”
Dan bahwa surat Al-Fatihah adalah surat pertama yang
diturunkan.
Inilah pendapat yang lebih kuat menurut mayoritas ulama.
Yang terakhir kali diturunkan dari Al-Qur’an secara
mutlak:
Para ulama berbeda pendapat dalam menentukan ayat terakhir
yang diturunkan dari Al-Qur’an secara mutlak. Hal ini menimbulkan keraguan bagi
sebagian orang yang memusuhi Islam, karena banyaknya perbedaan pendapat di
antara para ulama dalam masalah ini.
Padahal perkara ini sebenarnya mudah dan sederhana, karena
pendapat-pendapat tersebut tidak ada yang diriwayatkan langsung dari Rasulullah
ﷺ, melainkan
berdasarkan ijtihad dan dugaan kuat (zhan).
Jika demikian keadaannya, maka wajar terjadi perbedaan
pendapat.
Abu Bakar bin Ath-Thayyib berkata dalam kitab Al-Intishar:
“Pendapat-pendapat ini tidak ada satu pun yang diriwayatkan dari Nabi ﷺ. Boleh jadi
masing-masing orang mengatakannya berdasarkan ijtihad dan dugaan kuat.
Dan mengetahui hal ini bukan termasuk kewajiban agama,
sehingga tidak layak dijadikan alasan oleh orang-orang yang mencela untuk
mengatakan bahwa Al-Qur’an tidak terjaga.
Kemungkinan masing-masing mereka hanya memberitakan ayat
terakhir yang mereka dengar dari Rasulullah ﷺ.”
Dan kami akan menyebutkan pendapat-pendapat tersebut serta
mencoba menjelaskan dan menguatkan sebagian di antaranya atas yang lain.
- Dikatakan
bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah firman Allah Ta‘ala:
“Dan takutlah kalian pada suatu hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah.”
Dan jarak antara turunnya ayat ini dengan wafatnya Nabi ﷺ adalah sembilan
malam. Hal ini berdasarkan riwayat An-Nasa’i melalui Ikrimah dari Ibnu ‘Abbas.
Demikian pula Ibnu Abi Hatim meriwayatkan bahwa ayat
terakhir yang diturunkan dari seluruh Al-Qur’an adalah:
“Dan takutlah kalian pada suatu hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah.”
Dan Nabi ﷺ
hidup setelah turunnya ayat tersebut selama sembilan malam, kemudian beliau
wafat pada dua malam yang tersisa dari bulan Rabi‘ul Awwal.
- Dikatakan
bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah ayat riba, yaitu:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa riba jika kalian benar-benar beriman.”
Hal ini diriwayatkan oleh Al-Bukhari dari Ibnu ‘Abbas dan
oleh Al-Baihaqi dari Ibnu ‘Umar رضي الله عنهما.
- Dikatakan
bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah ayat utang (ad-dayn), yaitu:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bermuamalah tidak secara tunai untuk waktu yang ditentukan, maka tulislah…” (hingga akhir ayat).
Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Jarir dari Sa‘id bin
Al-Musayyib, bahwa sampai kepadanya berita bahwa ayat terakhir yang dibacakan
kepada Nabi ﷺ
adalah ayat utang.
As-Suyuthi berkata:
“Yang tampak adalah bahwa ayat-ayat tersebut turun sekaligus sesuai urutannya
dalam mushaf, karena semuanya berada dalam satu kisah. Maka masing-masing orang
mengabarkan sebagian dari yang turun sebagai yang terakhir, dan hal itu benar,
yaitu ayat riba, kemudian ayat ‘Dan takutlah kalian pada suatu hari…’, kemudian
ayat utang.
Namun yang paling mendekati kebenaran adalah bahwa yang
terakhir kali diturunkan adalah:
‘Dan takutlah kalian pada suatu hari…’.”
- Dikatakan
bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah:
“Apabila telah datang pertolongan Allah dan kemenangan.”
Hal ini berdasarkan riwayat Muslim dari Ibnu ‘Abbas.
Pendapat ini dipahami bahwa surat tersebut adalah yang
terakhir diturunkan dari sisi surat secara keseluruhan, dan ia mengisyaratkan
wafatnya Nabi ﷺ.
Nabi ﷺ
memahami hal itu, sehingga beliau bersabda:
“Ajalku telah diberitahukan kepadaku.”
Dan diriwayatkan bahwa ‘Umar رضي الله عنه menangis ketika
mendengarnya dan berkata:
“Kesempurnaan adalah tanda akan berakhirnya sesuatu.”
- Dikatakan
bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah:
“Sungguh telah datang kepada kalian seorang rasul dari kalangan kalian sendiri…” hingga akhir surat.
Hal ini berdasarkan riwayat Al-Hakim dari Ibnu ‘Abbas, dari
Ubay bin Ka‘b رضي الله
عنه, bahwa ia berkata:
“Ayat terakhir yang diturunkan pada masa Rasulullah ﷺ…” kemudian ia membacanya hingga akhir
surat.
Sebagaimana juga diriwayatkan oleh Ahmad dalam Musnad dari
Ar-Rabi‘ bin Anas, dari Abu Al-‘Aliyah, dari Ubay bin Ka‘b.
Pendapat ini dipahami bahwa ayat tersebut adalah yang
terakhir diturunkan dari surat At-Taubah, sehingga sifat “terakhir” di sini
bersifat terbatas (muqayyad), bukan mutlak.
- Dikatakan
bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah ayat kalalah, yaitu:
“Mereka meminta fatwa kepadamu. Katakanlah: Allah memberi fatwa kepada kalian tentang kalalah…”
Hal ini berdasarkan riwayat Al-Bukhari dan Muslim dari
Al-Bara’ bin ‘Azib, bahwa ia berkata:
“Ayat terakhir yang diturunkan adalah: ‘Mereka meminta fatwa kepadamu…’
(tentang kalalah), dan surat terakhir yang diturunkan adalah Bara’ah
(At-Taubah).”
Pendapat ini dipahami bahwa ayat tersebut adalah yang
terakhir turun dalam hal hukum warisan, dan bahwa surat tersebut adalah yang
terakhir turun dalam bentuk keseluruhan yang berkaitan dengan pensyariatan
perang dan jihad.
- Dikatakan
bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah firman Allah Ta‘ala:
“Dan barang siapa membunuh seorang mukmin dengan sengaja, maka balasannya adalah neraka Jahanam, ia kekal di dalamnya, dan Allah murka kepadanya, melaknatnya, dan menyediakan baginya azab yang besar.”
Hal ini berdasarkan riwayat Al-Bukhari dan lainnya dari Ibnu
‘Abbas, ia berkata:
“Ayat ini adalah ayat terakhir yang diturunkan, dan tidak ada sesuatu pun yang
menghapusnya.”
Pendapat ini dipahami bahwa ayat tersebut adalah yang
terakhir diturunkan terkait hukum membunuh seorang mukmin dengan sengaja.
- Dikatakan
bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah surat Al-Ma’idah:
Pendapat ini dipahami bahwa surat tersebut adalah yang
terakhir diturunkan dalam hal hukum halal dan haram, sehingga tidak ada hukum
di dalamnya yang dihapus (mansukh).
Hal ini berdasarkan riwayat At-Tirmidzi dan Al-Hakim dari
‘Aisyah رضي الله
عنها. Maka “terakhir” di sini bersifat terbatas (muqayyad), bukan
mutlak.
- Dikatakan
bahwa yang terakhir kali diturunkan adalah firman Allah Ta‘ala:
“Maka Tuhan mereka memperkenankan doa mereka…”
Hal ini berdasarkan riwayat Ibnu Mardawaih melalui Mujahid
dari Ummu Salamah رضي الله
عنها, ia berkata:
“Ayat terakhir yang diturunkan adalah ayat ini:
‘Maka Tuhan mereka memperkenankan doa mereka, bahwa Aku tidak menyia-nyiakan
amal orang yang beramal di antara kalian, baik laki-laki maupun perempuan,
sebagian kalian berasal dari sebagian yang lain.’”
Diriwayatkan pula darinya bahwa ia berkata:
“Wahai Rasulullah, aku melihat Allah menyebut laki-laki tetapi tidak menyebut
perempuan.”
Maka turunlah ayat:
“Dan janganlah kalian iri terhadap apa yang Allah lebihkan sebagian kalian atas
sebagian yang lain. Bagi laki-laki ada bagian dari apa yang mereka usahakan,
dan bagi perempuan ada bagian dari apa yang mereka usahakan. Dan mohonlah
kepada Allah sebagian dari karunia-Nya.”
Dan juga turun ayat:
“Sesungguhnya laki-laki dan perempuan yang muslim…” (QS. Al-Ahzab: 35).
Kemudian turun ayat ini, sehingga ia menjadi yang terakhir
dari tiga ayat tersebut, dan merupakan ayat terakhir yang turun terkait dengan
perempuan.
Inilah pendapat-pendapat para ulama mengenai ayat terakhir
yang diturunkan dari Al-Qur’an. Sebagaimana yang engkau lihat, tidak ada satu
pun dari pendapat tersebut yang diriwayatkan langsung dari Rasulullah ﷺ, sebagaimana
dikatakan oleh Abu Bakar bin Ath-Thayyib.
Semua pendapat tersebut didasarkan pada ijtihad dan dugaan
kuat.
Namun, pendapat yang lebih kuat di antaranya adalah firman
Allah Ta‘ala:
“Dan takutlah kalian pada suatu hari ketika kalian dikembalikan kepada Allah.”
Karena ayat ini paling dekat dengan waktu wafatnya Nabi ﷺ, sebagaimana
diriwayatkan bahwa ayat tersebut turun sembilan malam sebelum wafatnya.
Adapun firman Allah Ta‘ala:
“Pada hari ini telah Aku sempurnakan untuk kalian agama kalian, dan telah Aku
cukupkan nikmat-Ku atas kalian, serta Aku ridhai Islam sebagai agama kalian.”
Yang masyhur di kalangan umum bahwa ayat ini adalah ayat
terakhir yang diturunkan dari Al-Qur’an, padahal tidak demikian.
Ayat tersebut diturunkan kepada Nabi ﷺ di Arafah pada hari
haji wada’, dan itu terjadi delapan puluh satu hari sebelum wafatnya.
Padahal telah disebutkan sebelumnya bahwa ayat:
“Dan takutlah kalian pada suatu hari…”
diturunkan hanya sembilan malam sebelum wafatnya, sehingga
ia lebih dekat dengan waktu wafat dibanding ayat tersebut.
Yang dimaksud dengan “penyempurnaan agama” dalam ayat itu
adalah tampaknya Islam atas seluruh agama, kokohnya kaum Muslimin dalam
menguasai Baitullah (Ka‘bah), serta pembersihannya dari kaum musyrikin, dan
menjadikannya khusus bagi kaum Muslimin setelah sebelumnya dihuni bersama oleh
Muslim dan kafir.
Ibnu Jarir berkata dalam tafsir ayat tersebut:
“Yang lebih utama adalah menafsirkannya bahwa Allah telah menyempurnakan agama
mereka dengan menetapkan mereka di tanah haram dan mengusir kaum musyrikin
darinya, sehingga kaum Muslimin berhaji tanpa bercampur dengan kaum musyrikin.”
Ia juga menguatkan penafsiran ini dengan riwayat dari Ibnu
‘Abbas, ia berkata:
“Dahulu kaum musyrikin dan kaum Muslimin berhaji bersama. Ketika surat Bara’ah
turun, kaum musyrikin diusir dari Baitullah, dan kaum Muslimin berhaji tanpa
ada seorang pun dari kaum musyrikin yang ikut serta di Baitullah. Maka hal itu
termasuk bagian dari kesempurnaan nikmat (‘dan telah Aku cukupkan nikmat-Ku
atas kalian’).”
Beberapa contoh tentang ayat pertama yang turun dalam
topik tertentu:
Ayat pertama yang turun tentang peperangan:
Al-Hakim meriwayatkan dalam Al-Mustadrak dari Ibnu ‘Abbas, ia berkata:
“Ayat pertama yang turun tentang izin berperang adalah firman Allah Ta‘ala:
‘Telah diizinkan (berperang) bagi orang-orang yang diperangi, karena
sesungguhnya mereka telah dizalimi, dan sesungguhnya Allah benar-benar Maha
Kuasa untuk menolong mereka.’”
Ayat pertama yang turun tentang khamr (minuman keras):
Ath-Thayalisi meriwayatkan dalam Musnad-nya dari Ibnu ‘Umar, ia berkata:
“Turun tentang khamr tiga ayat.
Yang pertama adalah:
‘Mereka bertanya kepadamu tentang khamr dan judi. Katakanlah: pada keduanya
terdapat dosa besar dan beberapa manfaat bagi manusia, tetapi dosanya lebih
besar daripada manfaatnya.’
Maka dikatakan: khamr diharamkan.
Mereka berkata: Wahai Rasulullah, biarkan kami mengambil
manfaat darinya sebagaimana yang disebutkan Allah. Maka beliau diam terhadap
mereka.
Kemudian turun ayat:
‘Wahai orang-orang yang beriman, janganlah kalian mendekati salat dalam keadaan
mabuk, sampai kalian mengerti apa yang kalian ucapkan.’
Maka dikatakan: khamr diharamkan.
Mereka berkata: Wahai Rasulullah, kami tidak akan meminumnya
mendekati waktu salat. Maka beliau diam terhadap mereka.
Kemudian turun ayat:
‘Wahai orang-orang yang beriman, sesungguhnya khamr, judi, berhala, dan undian
nasib adalah kotoran dari perbuatan setan, maka jauhilah agar kalian
beruntung.’
Maka Rasulullah ﷺ bersabda:
“Khamr telah diharamkan.”
Dan ayat pertama yang turun tentang makanan adalah ayat
dalam surat Al-An‘am, yaitu:
“Katakanlah: Aku tidak menemukan dalam wahyu yang diwahyukan
kepadaku sesuatu yang diharamkan bagi orang yang ingin memakannya, kecuali jika
itu bangkai, atau darah yang mengalir, atau daging babi—karena sesungguhnya itu
kotor—atau sesuatu yang disembelih bukan atas nama Allah.”
Penerapan praktis dari materi melalui aktivitas
pendamping:
- Menjelaskan
kepada para jamaah masjid sejauh mana perhatian kaum Muslimin terhadap
Al-Qur’an dan ketelitian mereka dalam menjaga ayat-ayatnya.
- Menuliskan
pada sebuah papan tentang ayat pertama yang diturunkan dari Al-Qur’an dan
ayat terakhirnya, serta ayat-ayat awal dalam berbagai tema, lalu
menggantungkan papan tersebut di masjid agar mudah dihafal.
- Menyampaikan
di hadapan para jamaah masjid tentang pentingnya memilih waktu yang tepat
ketika hendak menyampaikan suatu pernyataan atau melakukan suatu tindakan.
Evaluasi dan pengukuran diri:
S1: Mengapa dipilih kata “turun (nuzul)” sebagai judul
pembahasan ini?
S2: Sebutkan pendapat para ulama tentang penentuan ayat pertama dan terakhir
yang diturunkan, serta jelaskan pendapat yang paling kuat.
S3: Tentukan beberapa ayat awal dalam tema-tema tertentu yang berkaitan dengan
beberapa hukum.
S4: Apa yang dapat disimpulkan dari ayat-ayat awal tersebut terkait waktu
turunnya?
S5: Apa metode yang digunakan untuk mengetahui ayat pertama dan terakhir yang
diturunkan?
S6: Apa pelajaran yang dapat Anda ambil dari hal tersebut?
S7: Apa pelajaran yang dapat diambil dalam bidang dakwah dan pendidikan dari pembahasan ini?
No comments:
Post a Comment