Friday, March 27, 2026

Partai Islam Kurdistan

Sekilas tentang Kehidupan Pembimbing dan Pendiri Gerakan Islam di Kurdistan/Irak

Syaikh—sebagaimana dikenal—berasal dari keluarga ulama yang terkemuka dan berpengaruh di Kurdistan secara umum. Beliau dilahirkan—semoga Allah merahmatinya—pada tahun 1922 M di desa Baris al-‘Ulya yang termasuk wilayah Halabja di provinsi Sulaimaniyah. Ayahnya, Syaikh Abdul Aziz—semoga Allah merahmatinya—adalah seorang imam dan pengajar di sekolah desa tersebut. Beliau menyelesaikan pendidikan awalnya di bawah bimbingan ayahnya di sekolah itu, di mana beliau mempelajari Al-Qur’an dan menguasai ilmu tajwid, nahwu, sharaf, dasar-dasar akidah, sejarah, dan lainnya selama tujuh tahun setelah usia enam tahun, yaitu pada tahun 1930 M.

Kemudian beliau melanjutkan studi kepada sepupunya, Syaikh Shalih Abdul Karim, serta Syaikh Ahmad Abdul Karim dan kakaknya, Syaikh Umar Abdul Aziz, hingga menyelesaikan ilmu-ilmu syariat yang umum diajarkan di sekolah-sekolah tradisional, dan memperoleh ijazah ilmiah dari sepupunya, Syaikh Shalih Abdul Karim pada tahun 1940 M. Syaikh Utsman—semoga Allah merahmatinya—kemudian mengajar dan menjadi imam di masjid desanya hingga tahun 1943 M. Setelah itu, beliau pindah ke Halabja dan menjabat sebagai imam, khatib, dan pengajar di Masjid Imam Syafi‘i. Beliau mulai mengajarkan berbagai ilmu kepada para pelajar dari berbagai bidang, dan memiliki peran yang menonjol dalam memimpin masyarakat serta memberikan pendidikan yang modern dan benar kepada mereka untuk bergerak melawan kezaliman para penguasa serta melawan pemikiran-pemikiran asing yang merusak yang telah masuk ke negara-negara Islam dan masyarakat Islam Kurdi. Mereka tetap berpegang pada ajaran Al-Qur’an dan konstitusi Islam, serta menghadapi serangan yang kejam, licik, dan merusak tersebut dengan bersatu bersama suku-suku di wilayah tersebut dan para murid mereka yang setia.

Syaikh kita yang mulia—semoga Allah merahmatinya—hidup sejak masa kecil hingga wafatnya dalam periode-periode yang penuh kesulitan dalam sejarah umat Islam, Arab, dan Kurdi, yaitu pada masa runtuhnya Khilafah Islam di Istanbul, munculnya sekularisme dan ide nasionalisme di dunia Islam, serta muncul dan diumumkannya permusuhan dari Timur dan Barat terhadap Islam dan umatnya, baik secara militer maupun budaya, melalui penjajahan wilayah Islam serta eksploitasi sumber daya, kekayaan, dan potensi masyarakatnya secara politik, ekonomi, dan intelektual. Oleh karena itu, beliau memiliki pengalaman dan pengetahuan yang luas tentang berbagai rencana musuh dari Timur dan Barat, serta dibekali dengan kemampuan ilmiah dan wawasan budaya yang luas untuk menghadapi musuh dan membongkar metode serta kebatilan mereka.

Syaikh mujahid—semoga Allah merahmatinya—memiliki banyak sikap dan tindakan terhormat sepanjang hidupnya sejak tahun 1940-an hingga wafatnya. Di antara sikap-sikap tersebut adalah:

  1. Arah dan bimbingan Islam yang beliau berikan kepada masyarakat serta dakwahnya untuk berpegang teguh pada Al-Qur’an dan Sunnah serta nilai-nilai Islam yang abadi dalam seluruh aspek kehidupan politik, sosial, dan ekonomi.
  2. Partisipasinya dalam pembentukan dan pengumuman partai Islam. Setelah kaum komunis mengambil alih kekuasaan di Irak dan menyebar dalam masyarakat Irak, para ulama Sunni, baik Arab maupun Kurdi, memikirkan untuk membentuk Partai Islam Kurdistan, yaitu sebuah partai politik Islam yang bertujuan mendirikan negara Islam di wilayah Kurdistan, mengangkat kezaliman dan perpecahan yang menimpa bangsa Kurdi secara khusus, serta melawan rencana-rencana kolonial terhadap mereka.

Tinjauan Geografis dan Historis:
Kurdistan (tanah orang Kurdi) terletak di wilayah Turki, Iran, Irak, Suriah, dan bekas Uni Soviet. Luas wilayahnya sekitar setengah juta kilometer persegi. Jumlah penduduknya mencapai 40 juta jiwa, sebagian besar beragama Islam—khususnya Sunni—dan terdapat pula minoritas Kurdi di Pakistan, Afghanistan, dan Sudan.

Kurdistan memiliki kekayaan berupa minyak, mineral, peternakan, dan sumber daya air, karena dilalui oleh sungai Tigris, Efrat, Aras, dan Khabur.

Bangsa Kurdi menggunakan bahasa Kurdi yang termasuk dalam kelompok bahasa Iran, yang merupakan cabang dari keluarga bahasa Indo-Eropa, yang mencakup bahasa Kurdi, Persia, Pashto, dan Tajik. Bahasa Kurdi ditulis dengan huruf Arab di Iran dan Irak, dengan huruf Latin di Turki dan Suriah, serta dengan huruf Rusia di wilayah yang pernah dipengaruhi oleh Uni Soviet.

Kurdistan dianggap sebagai tempat asal mula manusia (di Gunung Judi setelah peristiwa banjir besar). Pada abad keenam sebelum Masehi, kerajaan Media Kurdi jatuh ke tangan bangsa Persia Achaemenid.

Pada tahun 18 Hijriah, Islam masuk ke Kurdistan melalui tangan Iyadh bin Ghanm رضي الله عنه. Sejak saat itu, bangsa Kurdi menjadi penjaga dan pembawa Islam. Di antara mereka terdapat tokoh besar seperti Shalahuddin al-Ayyubi, penakluk pasukan Salib. Juga terdapat para ulama dan pembaharu seperti Ibnu Taimiyah, Ibnu Hajar, Ibnu Shalah, dan banyak lainnya.

Setelah Perang Dunia Pertama, Kurdistan dibagi-bagi dan didistribusikan ke Irak, Suriah, Turki, Iran, dan Rusia.

Negara-negara tersebut menerapkan kebijakan turkifikasi, westernisasi, dan persianisasi, serta berusaha menghapus Islam dan keberanian bangsa Kurdi dengan membangkitkan fanatisme kesukuan dan menyebarkan pemikiran Marxis dan sekular di tengah mereka. Namun bangsa Kurdi tidak tunduk kepada mereka, sehingga muncul berbagai pemberontakan yang apinya tidak pernah padam hingga hari ini. Di antara pemberontakan tersebut adalah:

  • Di Turki:
    Pemberontakan Syaikh Sa‘id Piran pada tahun 1925 M.
    Pemberontakan Jenderal Ihsan Nuri Pasha pada tahun 1927–1930 M.
    Pemberontakan Dersim pada tahun 1937 M.
  • Di Iran:
    Pemberontakan Qadhi Muhammad dan Republik Kurdi Mahabad pada tahun 1945 M.
  • Di Irak:
    Pemberontakan Syaikh Mahmud al-Hafid pada tahun 1920–1930 M.
    Pemberontakan Syaikh Ahmad al-Barzani pada tahun 1931 M.
    Pemberontakan Mulla Mustafa al-Barzani pada tahun 1935 dan 1943 M.

Pemberontakan Barzani berakhir pada tahun 1975 setelah Perjanjian Aljazair antara Irak dan Iran.


Pendirian dan Tokoh-Tokoh Utama:
Sejumlah kaum Islamis Kurdi berkumpul pada musim haji tanggal 11/12/1400 H di Makkah al-Mukarramah, dan mereka membahas persoalan rakyat Kurdi Muslim serta penderitaan yang mereka alami berupa perpecahan, kehancuran, dan kebinasaan akibat kekuasaan di negara-negara tempat mereka tersebar, serta upaya-upaya untuk melenyapkan mereka dengan berbagai cara dan dalih yang lemah.

Setelah itu, muncul berbagai gerakan nasional dan kebangsaan yang banyak di antaranya didominasi oleh corak sekularisme sosialis, sehingga berada dalam posisi permusuhan terhadap Islam. Hal ini menyebabkan tercemarnya citra bangsa Kurdi pada paruh kedua abad ini, melalui berbagai pemikiran yang dilontarkan oleh partai-partai tersebut berupa atheisme, penyimpangan terhadap agama, meremehkan, atau mengabaikannya. Sangat disayangkan bahwa banyak kaum beragama terpaksa bergabung dengan partai-partai tersebut karena tidak adanya alternatif Islam Kurdi.

Para peserta pertemuan tersebut memandang adanya kebutuhan mendesak untuk mendirikan sebuah partai Islam di Kurdistan yang mampu merasakan penderitaan rakyat Kurdi Muslim, menyelesaikan persoalan mereka, memikul sebagian beban dan masalah mereka, serta menggerakkan potensi mereka menuju pembangunan negara Islam yang mengusung slogan Islam sebagai agama dan negara, serta menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan. Oleh karena itu, mereka memutuskan untuk mendirikan partai tersebut dengan nama “Partiya Islamiya Kurdistani” (Partai Islam Kurdistan).

Setelah pertemuan tersebut, diselenggarakan empat konferensi umum partai di luar Kurdistan. Dalam konferensi terakhir, ditetapkan prinsip-prinsip dasar pemikiran dan gerakan partai, serta disusun anggaran dasar yang mencakup pembukaan kantor-kantor partai di Eropa dan Amerika Utara.

Diterbitkan pula majalah “Judi” sebagai media resmi partai dalam bahasa Arab, Turki, dan Kurdi. “Judi” adalah nama gunung tempat berlabuhnya kapal Nabi Nuh عليه السلام, yang berada di Kurdistan, dan dianggap sebagai tempat asal mula kedua umat manusia setelah banjir besar, dari mana manusia menyebar ke berbagai penjuru bumi.

Di antara tokoh-tokoh utama partai sebagaimana disebutkan dalam berbagai buku tentang masalah Kurdi, baik Arab maupun asing, adalah:

  • Dr. Muzhaffar dari Irak.
  • Dr. Shalih Kaburi dari Suriah.
  • Asrawan dari Amerika Serikat.
  • M. al-Kurdi dari Sudan.
  • M. Kazb Shoti dari Turki.

Pemikiran dan Keyakinan:

  • Rakyat Kurdi Muslim merupakan bagian dari umat Islam yang satu, dan Kurdistan Muslim adalah bagian dari wilayah Islam yang luas, serta merupakan tanah air bangsa Kurdi secara historis dan geografis, mencakup wilayah yang mayoritas penduduknya adalah orang Kurdi.
  • Rakyat memiliki kekuasaan legislatif, eksekutif, dan yudikatif, sementara sumber hukum adalah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya . Kekuasaan tersebut diwakili oleh Majelis Syura yang dipilih oleh rakyat.
  • Tujuan-tujuan pokok yang dijaga oleh kekuasaan untuk masyarakat adalah menjaga agama, akal, kehormatan, jiwa, dan harta, serta memenuhi kebutuhan individu dan membangun hubungan sosial berdasarkan akhlak Islam yang benar.
  • Dakwah untuk menyebarkan Islam harus dilakukan dengan meyakinkan akal dan menarik hati tanpa paksaan dalam agama, sedangkan jihad adalah berperang di jalan Allah untuk melawan para penindas yang sombong dan membela kaum tertindas, baik Muslim maupun non-Muslim.
  • Ilmu adalah hak umum, dan mempelajari dasar-dasar agama adalah kewajiban individu bagi setiap Muslim.
  • Kebebasan adalah hak umum yang dijamin dalam berpikir, berekspresi, berkeyakinan, menulis, menerbitkan, serta membentuk organisasi profesi dan perempuan selama tidak bertentangan dengan Islam.
  • Perempuan seperti laki-laki memiliki hak dan kewajiban yang sama dalam membangun dan mengarahkan masyarakat, dengan adanya perbedaan tertentu yang ditetapkan syariat berdasarkan perbedaan penciptaan dan fungsi sosial.
  • Keluarga yang baik adalah fondasi utama masyarakat yang sehat, sehingga perlu diperkuat ikatan keluarga, didorong pernikahan, serta dipermudah sarana dan kebutuhannya.
  • Permasalahan ekonomi diselesaikan berdasarkan ajaran Islam.

Akar Pemikiran dan Akidah:
Partai Islam Kurdistan dalam dasar pemikiran dan akidahnya kembali kepada Islam Sunni secara umum. Sedangkan dalam aspek gerakan dan dakwah, ia merujuk kepada Gerakan Ikhwanul Muslimin. Dalam bidang fikih, partai ini mengikuti mazhab Imam Syafi‘i رحمه الله, yang merupakan mazhab mayoritas bangsa Kurdi. Partai Islam Kurdistan bukanlah partai nasionalis sebagaimana mungkin disangka dari namanya, meskipun tujuannya adalah mendirikan negara Islam Kurdi di wilayah Kurdistan yang menerapkan Islam dalam seluruh aspek kehidupan politik, ekonomi, dan sosial.

Wilayah Penyebaran:
Partai Islam Kurdistan tersebar di seluruh wilayah Kurdistan di Turki, Irak, Suriah, dan Iran.

Dari uraian tersebut dapat dipahami bahwa Partai Islam Kurdistan menganut akidah Sunni secara umum, yang tampak dalam prinsip-prinsip partai, anggaran dasarnya, serta pernyataan para pemimpinnya dalam berbagai konferensi. Tujuan utamanya adalah mendirikan negara Islam yang menyatukan kaum Muslimin di Kurdistan, mengangkat kezaliman dari mereka, serta melawan rencana-rencana kolonial terhadap mereka. Partai ini merupakan bagian dari gerakan Islam global yang bertujuan menegakkan syariat Allah dalam seluruh aspek kehidupan.

Ketiga: Referensi untuk Pendalaman:

  • “Kurdistan: Tanah Air dan Bangsa tanpa Negara”, karya Jawad al-Mulla, London 1985.
  • Majalah “Judi” yang diterbitkan di Eropa dalam bahasa Arab dan Turki sejak tahun 1400 H sebagai media resmi Partai Islam Kurdistan.
  • Majalah dan surat kabar Turki.
  • Publikasi Asosiasi Hak Asasi Manusia Kurdi di London.
  • Risalah konferensi Islam pertama yang diselenggarakan di Köln, Jerman, pada 21/1/1990 untuk membahas masalah Kurdi.
  • Risalah konferensi Islam pertama yang diselenggarakan di London tahun 1989 dan konferensi di Peshawar tahun 1411 H.
  • Publikasi “Gambaran Umum tentang Masalah Kurdi”, yaitu pidato Dr. Muhammad Shalih, salah satu pendiri Partai Islam Kurdistan, pada konferensi tahunan ke-13 Liga Pemuda Muslim Arab pada 22/12/1990 di Amerika Serikat.

Referensi Asing:
Lothar A. Heinrich, Die Kurdische Nationalbewegung in der Türkei, 1989, Hamburg (buku ini disusun dan dipresentasikan untuk salah satu lembaga orientalis).

Keempat: Kegiatan Pendidikan dan Pengajaran:
Berpedoman pada uraian sebelumnya.

Kelima: Evaluasi dan Pengukuran Diri:
Jelaskan definisi Partai Islam Kurdistan.
Sebutkan ciri-ciri bangsa Kurdi dan Kurdistan.
Tentukan waktu masuknya Islam ke Kurdistan.
Kapan Kurdistan dibagi di antara negara-negara tetangga?
Apa makna dari pembagian tersebut?
Sebutkan beberapa pemberontakan Kurdi dan sebab-sebabnya.
Tuliskan ringkasan tentang awal pendirian partai.
Jelaskan beberapa pemikiran dan keyakinan partai.
Sebutkan tokoh-tokoh utama dalam partai.
Jelaskan akar pemikiran dan akidah partai.
Bandingkan partai ini dengan Ikhwanul Muslimin.
Apa masalah yang dihadapi partai dan apa usulan Anda untuk mengatasinya?

No comments:

Post a Comment

Salafy