Friday, March 27, 2026

Ahlul Hadits Al-Hindy

Jamaah Ahlul Hadis merupakan salah satu gerakan Islam tertua di anak benua India. Gerakan ini berdiri atas dasar dakwah untuk mengikuti Al-Qur’an dan Sunnah serta memahaminya berdasarkan pemahaman salafus shalih dari kalangan sahabat, tabi‘in, dan orang-orang yang mengikuti mereka dengan baik. Gerakan ini mengutamakan keduanya di atas segala pendapat dan petunjuk, baik dalam akidah, ibadah, muamalah, akhlak, politik, maupun sosial, dengan metode para fuqaha ahli hadis. Selain itu, gerakan ini juga memerangi segala bentuk kesyirikan, bid‘ah, dan khurafat.

Pendirian dan Tokoh-Tokoh Utama:

Sejarah Ahlul Hadis di Anak Benua India:
Sejarah Ahlul Hadis di anak benua India kembali kepada masa awal Islam, ketika sebagian wilayah India disinari cahaya Islam melalui usaha para pedagang dan mujahid Arab yang mencapai wilayah Sind, Malabar, dan Gujarat di pesisir Samudra Hindia. Di wilayah tersebut terdapat pusat-pusat hadis di negeri Sind dan Multan yang didatangi oleh para ahli hadis dari kalangan Arab dan non-Arab. Penjelajah terkenal Abu al-Qasim al-Maqdisi mengunjungi wilayah tersebut pada tahun 375 H dan menggambarkan keadaan keagamaan di negeri Sind dalam bukunya Ahsan at-Taqasim dengan mengatakan: “Mayoritas mereka menganut mazhab Ahlul Hadis, dan tidak ada satu kota pun yang kosong dari para fuqaha yang mengikuti mazhab Abu Hanifah—semoga Allah merahmatinya. Mereka berada di atas jalan yang lurus, mazhab yang terpuji, serta memiliki kesalehan dan kehormatan. Allah telah menyelamatkan mereka dari sikap berlebihan, fanatisme, dan fitnah.”

Pada akhir abad keempat Hijriah, mulai tampak kelemahan dalam aktivitas Ahlul Hadis, yang mencapai puncaknya pada abad kesembilan Hijriah. Hal ini disebabkan oleh merebaknya konflik politik dan fanatisme, serta munculnya fitnah kelompok Batiniah Ismailiyah yang menimbulkan berbagai masalah bagi Ahlus Sunnah. Perhatian terhadap Sunnah pun menurun, taqlid dan fanatisme mazhab menyebar, serta terjadi stagnasi dalam pemikiran, sementara ilmu-ilmu Yunani mulai mendominasi. Namun demikian, tetap terdapat sejumlah ulama Ahlul Hadis di anak benua India yang merupakan murid dari al-Hafizh Ibnu Hajar al-‘Asqalani, Imam as-Sakhawi, dan Syaikhul Islam Zakariya al-Ansari serta lainnya, yang terus mempertahankan metode Ahlul Hadis.

Gerakan Ahlul Hadis di Anak Benua India pada Masa Modern:
Pada awal abad kesebelas Hijriah, muncul peran baru bagi Ahlul Hadis, yang mulai terlihat pada masa Syaikh Ahmad as-Sirhindi (w. 1034 H), dan semakin kuat pada masa keturunan Imam Syah Waliullah ad-Dahlawi (w. 1175 H), khususnya putranya yang tertua, Syah Abdul Aziz bin Waliullah ad-Dahlawi (1159–1239 H). Mereka memanfaatkan metode ayah mereka dalam dakwah, bimbingan, pengajaran, penulisan, serta meninggalkan sikap jumud dan fanatisme mazhab. Gerakan ini semakin kuat dan tersebar luas pada masa cucunya, Imam Ismail bin Abdul Ghani ad-Dahlawi (w. 1243 H), pemimpin gerakan jihad dan penulis kitab Taqwiyat al-Iman.

Setelah gugurnya Imam Syah Ismail ad-Dahlawi—yang dikenal sebagai Ismail asy-Syahid—dalam pertempuran Balakot (1243 H), Ahlul Hadis memikul tanggung jawab dakwah dan jihad dengan penuh amanah dan keikhlasan. Usaha mereka pada masa ini berfokus pada tiga bidang utama:

  1. Bidang Jihad:
    Gerakan Syah Ismail ad-Dahlawi tidak hanya terbatas pada menghidupkan keadilan berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah, menegakkan khilafah berdasarkan manhaj kenabian, serta menghapus fanatisme mazhab, stagnasi, bid‘ah, dan akidah yang menyimpang, tetapi juga memimpin jihad melawan kaum Sikh dan penjajahan Inggris, terutama di wilayah perbatasan utara India hingga penjajah Inggris meninggalkan India pada tahun 1947 M. Setelah pembagian wilayah menjadi India dan Pakistan, para mujahidin melanjutkan jihad mereka, dan salah satu batalion mereka berhasil membuka kota Muzaffarabad. Di bawah kepemimpinan Syaikh Fadl Ilahi al-Wazirabadi, wilayah lain yang kini dikenal sebagai Kashmir Merdeka juga berhasil dibebaskan. Di antara tokoh penting dalam bidang ini adalah Syaikh Wilayat Ali as-Sadiqfuri (w. 1269 H), saudaranya Syaikh Inayat Ali as-Sadiqfuri (w. 1274 H), serta keluarga Sadiqfuri yang memikul tanggung jawab jihad dan mengangkat panjinya dengan penuh keberanian.
  2. Bidang Penulisan:
    Ahlul Hadis memiliki peran penting dalam menghidupkan dan menyebarkan budaya Islam melalui perhatian terhadap penulisan dan penyusunan karya ilmiah dalam bidang Al-Qur’an dan ilmu-ilmunya, ilmu hadis, penjelasan Sunnah dan syarahnya, serta pembelaan terhadap akidah dan bantahan terhadap ahli bid‘ah dan pemikiran menyimpang. Di antara tokoh terkemuka dalam bidang ini adalah al-‘Allamah Nawab Shiddiq Hasan Khan al-Buhubali (w. 1307 H), penguasa Bhopal, yang aktif dalam penulisan dan penerbitan kitab-kitab hadis dan koleksi Sunnah, hingga menghasilkan hampir tiga ratus karya, di samping kesibukannya dalam urusan pemerintahan. Ia juga membentuk dewan ilmiah yang terdiri dari para ulama salafi untuk melakukan penulisan, penerjemahan, dan pengajaran bagi kaum Muslimin, serta mendirikan beberapa percetakan dengan biaya pribadi untuk mencetak, menyebarkan, dan mendistribusikan karya-karya salafus shalih, khususnya yang berkaitan dengan akidah, tafsir, dan hadis.
  3. Bidang Pengajaran:
    Ahlul Hadis sangat memperhatikan dakwah, pendidikan, serta pendirian sekolah dan universitas. Di antara tokoh penting dalam bidang ini adalah al-‘Allamah Syaikh Nadhir Husain ad-Dahlawi (w. 1320 H), yang menjadi pemimpin ilmu hadis di India. Ia mengajar ilmu-ilmu syariat dan hadis di Delhi selama hampir enam puluh tahun, di samping berdakwah kepada Islam yang benar. Bahkan disebutkan bahwa pada masanya sekitar dua juta orang kembali kepada akidah yang benar, meninggalkan keyakinan syirik dan bid‘ah. Dari tangannya lahir banyak ulama dan dai terkemuka pada masa modern, seperti Imam ahli hadis Abdullah al-Ghaznawi (w. 1298 H), Syamsul Haq al-‘Azhimabadi (w. 1329 H) penulis Aun al-Ma‘bud syarah Sunan Abu Dawud, al-‘Allamah Abdurrahman al-Mubarakfuri (w. 1353 H) penulis Shiyanat al-Insan ‘an Waswasat asy-Syaikh Dahlan, Syaikh Abdullah bin Idris as-Sanusi al-Maghribi, Syaikh Muhammad bin Nashir al-Mubarak an-Najdi, serta Syaikh Sa‘d bin Hamd bin ‘Atiq an-Najdi yang menyebarkan sanad gurunya di Hijaz dan Najd, dan lainnya. Hingga kini, madrasahnya di Delhi yang dikenal sebagai Universitas Sayyid Nadhir Husain ad-Dahlawi masih terus melahirkan ulama dan dai.

Pembentukan (Asosiasi Ahlul Hadis):
Pada tahun 1324 H (1906 M), para ulama Ahlul Hadis yang dipimpin oleh Syaikhul Islam Abu al-Wafa Tsanaullah al-Amritsari (w. 167 H) memutuskan untuk membentuk sebuah organisasi yang bertujuan menyebarkan dakwah berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah sesuai pemahaman salafus shalih, serta menghadapi gerakan-gerakan merusak dan tantangan zaman dengan nama “Konferensi Ahlul Hadis Seluruh India”. Syaikhul Islam Abu al-Wafa Tsanaullah al-Amritsari, yang dikenal sebagai penentang gerakan Qadiani dan penulis banyak karya dalam pembelaan Islam, diangkat sebagai sekretaris jenderal organisasi, di samping keanggotaannya dalam Nadwah al-‘Ulama dan Jami‘ah Ulama India. Al-‘Allamah ahli hadis Abdullah al-Ghaznawi (w. 1337 H) terpilih sebagai ketua organisasi, dan usaha mereka menjangkau seluruh wilayah India hingga ke desa-desa.

Pada tahun 1947 M, anak benua India terbagi menjadi India dan Pakistan, sehingga gerakan ini sempat melemah dan kehilangan institusi pendidikan terbesarnya (Dar al-Hadith ar-Rahmaniyyah) di Delhi. Namun mereka segera membentuk kembali organisasi di kedua negara tersebut, sehingga kembali bangkit dan mendirikan berbagai universitas, institut, dan sekolah baru untuk memenuhi kebutuhan zaman serta mengajarkan ilmu Al-Qur’an dan Sunnah berdasarkan manhaj salafus shalih.

Di antara universitas terkemuka tersebut adalah:
Di India: Universitas Salafiyah di Banaras sebagai universitas Islam Arab terbesar di India yang didirikan pada tahun 1383 H / 1963 M, selain Universitas Rahmaniyyah, Universitas Ahmadiyah Salafiyah, Universitas Darussalam di Umarabad, Universitas Salafiyah di desa Salafiyah di Kerala, Universitas Islam di Bombay, Universitas Ibnu Taimiyah, dan Universitas Imam Bukhari di Bihar.


Adapun di Pakistan, Universitas Salafiyah di Faisalabad merupakan universitas Islam pertama dan terbesar yang didirikan di Pakistan setelah pemisahan, yaitu pada 7 Sya‘ban 1374 H / April 1951 M. Selain itu, terdapat universitas-universitas lain seperti Universitas Ulum al-Atsariyah di Jhelum, Universitas Abu Bakar as-Siddiq di Karachi, dan Universitas Muhammadiyah di Gujranwala. Di samping itu, terdapat pula perpustakaan-perpustakaan yang menyimpan ribuan manuskrip dan buku langka.

Dalam bidang media, asosiasi ini melalui berbagai cabangnya menerbitkan banyak surat kabar dan majalah dalam bahasa Arab dan Urdu, di antaranya: Majalah Ahlul Hadis Amritsariyah, Majalah Ahlul Hadis yang terbit di Lahore, Tarjuman al-Hadith, al-Muhaddits, al-I‘tisam, ar-Ribat, Sawt al-Ummah, Muslim, Tauhid, Sawt al-Haq, dan Sirat Mustaqim.

  • Pada tahun 1985 M diambil keputusan untuk mendirikan Asosiasi Pemuda Ahlul Hadis di Pakistan, selain Asosiasi Mahasiswa Ahlul Hadis, kemudian gagasan ini disebarkan ke berbagai asosiasi di anak benua India.
  • Pada Oktober 1993 M, asosiasi di Pakistan turut berpartisipasi dalam pemilihan parlemen, dan sejumlah kandidatnya berhasil memenangkan kursi di parlemen Pakistan. Amir jamaah, Profesor Sajid Mir, terpilih sebagai anggota Senat Pakistan.

Tokoh-Tokoh Penting:

1- Syaikh Muhammad Daud al-Ghaznawi (1895–1963 M), termasuk pendiri Asosiasi Ahlul Hadis di Pakistan dan ketua pertamanya. Ia bersama al-‘Allamah Muhammad Ismail turut mendirikan Universitas Salafiyah di kota Faisalabad. Ia dikenal atas sikapnya dalam menegakkan sistem Islam dan penerapan syariat di Pakistan, serta memiliki kontribusi ilmiah dalam membantah para penolak Sunnah dan kelompok Qadianiyah. Ketika Universitas Islam Madinah didirikan, ia dipilih sebagai anggota dewan penasihat pertamanya, serta turut berperan dalam penyusunan kurikulumnya.

  • Al-‘Allamah Muhammad Ismail as-Salafi, lahir pada tahun 1314 H di desa Dhonki dan dibesarkan dalam keluarga religius. Ia menuntut ilmu sejak usia dini di bawah bimbingan ayahnya, kemudian melakukan perjalanan untuk menuntut ilmu kepada para ulama besar pada masanya. Ia termasuk pelopor yang berkontribusi dalam pendirian Asosiasi Ahlul Hadis di Pakistan. Usaha dakwah dan politiknya memberikan pengaruh besar bagi negara. Ia menjadi khatib di Universitas Ahlul Hadis di Gujranwala, memimpin dewan pengajar di Universitas Muhammadiyah yang didirikannya, serta diangkat sebagai pengawas pusat organisasi Ahlul Hadis di Punjab. Ia kemudian terpilih sebagai sekretaris jenderal komite kerja Asosiasi Ahlul Hadis pada konferensi Delhi tahun 1946 M. Setelah Pakistan merdeka dari India pada tahun 1947 M, ia kembali terpilih sebagai sekretaris jenderal hingga wafat pada tahun 1968 M. Ia juga merupakan anggota dewan eksekutif gerakan Khatm an-Nubuwwah yang didirikan untuk melawan fitnah Qadianiyah, serta anggota penting dalam delegasi dakwah yang menghadapi gerakan Shuddhi Hindu yang berusaha meng-Hindukan kaum Muslim pada tahun 1924 M di wilayah Mal Kanon. Selain itu, ia aktif dalam pengajaran, fatwa, dan dakwah. Ia juga berperan dalam pembangunan pemukiman dan membantu keluarga-keluarga yang hijrah dari India ke Pakistan pada tahun 1947 M, serta dalam pembangunan masjid dan sekolah agama. Ia juga memiliki peran politik yang menonjol, dipengaruhi oleh Syaikh Abul Kalam Azad, termasuk mewakili Asosiasi Ahlul Hadis bersama Syaikh Muhammad Daud al-Ghaznawi di hadapan pemerintah Pakistan untuk menuntut penerapan sistem Islam. Pada tahun 1952 M, ia dipilih sebagai anggota komite penyusun konstitusi Islam Pakistan. Ia wafat pada hari Selasa, 20 Dzulqa‘dah 1387 H / 20 Februari 1968 M, meninggalkan banyak karya, di antaranya syarah dan terjemahan Mishkat al-Masabih dalam bahasa Urdu.

2- Al-‘Allamah al-Muhaddits al-Ushuli Abu Abdullah Muhammad bin Fadluddin al-Gondalwi (w. 1985 M), yang menggantikan Syaikh Muhammad Ismail as-Salafi sebagai ketua asosiasi.

3- Al-‘Allamah Syaikh Ihsan Ilahi Zhahir, lulusan Universitas Islam Madinah (w. 1987 M), yang memiliki karya-karya penting dalam membantah ahli bid‘ah dan aliran sesat.

4- Ketua asosiasi saat ini adalah Profesor Sajid Mir, yang terpilih sebagai anggota Majelis Syura Pakistan pada Oktober 1993 M, dan sekretaris jenderalnya adalah Syaikh Mian Muhammad Jamil.

5- Di antara tokoh penting lainnya adalah al-‘Allamah al-Muhaddits Abu Muhammad Badi‘uddin Syah ar-Rasyidi as-Sindi, salah satu ulama besar Ahlus Sunnah di masa kini, yang memiliki sanad yang bersambung hingga Nabi . Ia memiliki kontribusi besar dalam ilmu Al-Qur’an dan Sunnah melalui penulisan dan penyusunan karya ilmiah. Ia pernah belajar di dua tanah suci (Makkah dan Madinah), dan memiliki banyak murid dari India, Pakistan, dan lainnya.

Di India:

  • Syaikh Abdul Wahhab al-Aruwi, ketua pertama Asosiasi Ahlul Hadis di India setelah pembentukan ulang.
  • Syaikh Abdul Jalil ar-Rahmani (w. 1986 M), sekretaris jenderal serta penulis tafsir Al-Qur’an dalam bahasa Urdu, selain menerbitkan majalah Mishbah dalam bahasa Urdu.
  • Syaikh Abdul Hafizh as-Salafi, yang menggantikan Syaikh al-Aruwi sebagai ketua asosiasi dan saat ini memimpin Universitas Ahmadiyah Salafiyah di negara bagian Bihar.
  • Syaikh Abdul Wahid bin Abdul Haq as-Salafi (w. 1989 M), yang menggantikan Syaikh Abdul Hafizh sebagai ketua asosiasi, serta menjabat sebagai sekretaris jenderal Universitas Salafiyah di Banaras sejak didirikan hingga wafatnya.
  • Syaikh Abdul Hamid bin Abdul Jabbar ar-Rahmani, lulusan Universitas Islam Madinah, pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal asosiasi, dan saat ini memimpin Pusat Abul Kalam Azad untuk Dakwah Islam di Delhi.
  • Syaikh Abdul Hamid bin Abdul Jabbar ar-Rahmani (disebutkan kembali), lulusan Universitas Islam Madinah, yang pernah menjabat sebagai sekretaris jenderal asosiasi dan kini memimpin pusat dakwah Islam Abul Kalam Azad di Delhi.
  • Syaikh Mukhtar Ahmad an-Nadwi, direktur Dar as-Salafiyah di Bombay, adalah ketua asosiasi saat ini, dan sekretaris jenderalnya adalah Syaikh Abdul Wahhab bin Abdul Wahid al-Khalji, lulusan Universitas Islam Madinah.

Asosiasi Nadwatul Mujahidin di negara bagian Kerala, yang diwakili dalam asosiasi pusat Ahlul Hadis oleh empat anggota, merupakan salah satu organisasi salafi paling aktif di anak benua India. Organisasi ini memiliki 280 masjid, 3 universitas, 400 sekolah Islam dan umum, sejumlah perguruan tinggi, panti asuhan, rumah sakit, serta pusat pelatihan profesional. Selain itu, mereka juga memiliki 4 surat kabar dan majalah lokal yang ditujukan untuk berbagai kalangan seperti pemuda, perempuan, dan anak-anak. Asosiasi ini juga memiliki organisasi profesi dengan nama Asosiasi Dokter Muslim di negara bagian Kerala.


  • Tokoh paling menonjol dalam Jamaah Ahlul Hadis di India saat ini adalah ketua Universitas Salafiyah di Banaras sekaligus ahli hadis terkemuka di India, Syaikh Ubaidullah ar-Rahmani al-Mubarakfuri, penulis Mir‘at al-Mafatih (syarah kitab Mishkat al-Masabih), serta al-‘Allamah Syaikh Abdul Shamad Syarafuddin, selain itu Dr. sastrawan Muqtada Husain al-Azhari yang menjabat sebagai wakil rektor Universitas Salafiyah di Banaras, pemimpin redaksi majalah Sawt al-Ummah, dan kepala bidang penelitian ilmiah di universitas tersebut. Di samping itu terdapat sejumlah besar ulama dan penuntut ilmu yang menonjol dalam pelayanan terhadap Sunnah dan dakwah.

Di Kashmir:
Upaya Syaikh Maulana Muhammad Husain Shah, murid al-‘Allamah Nadhir Husain al-Muhaddits ad-Dahlawi, serta rekannya Syaikh Maulana Anwar Shah Shobiyani—seorang ulama besar—memiliki pengaruh besar dalam menyebarkan dakwah Ahlul Hadis di Kashmir.

  • Pada tahun 1923 M, Konferensi Ahlul Hadis se-India yang kemudian dikenal dengan nama Asosiasi Pusat Ahlul Hadis mengirim Maulana Abdul Kabir dan Sayyid Syamsuddin ke Kashmir sebagai dai keliling. Melalui usaha mereka, gerakan Ahlul Hadis dapat diorganisasi dengan nama Konferensi Ahlul Hadis Kashmir, yang kemudian pada tahun 1945 dikenal dengan nama Bazm at-Tauhid (yakni dakwah tauhid). Pada tahun 1946, nama asosiasi diubah menjadi nama sekarang, yaitu Asosiasi Pusat Ahlul Hadis Jammu dan Kashmir. Disusun pula anggaran dasar yang menjelaskan tujuan dan mengatur metode kerja melalui unit-unit administratif yang jumlahnya lebih dari 500 unit di tingkat wilayah, dengan jumlah anggota diperkirakan lebih dari setengah juta orang.

Unit-unit ini mencakup berbagai divisi utama seperti pendidikan, pembinaan, fatwa, wakaf, masjid, penelitian ilmiah, dakwah, dan media. Asosiasi ini mendirikan Perguruan Tinggi Salafiyah sebagai perguruan tinggi Islam berbahasa Arab pertama di Srinagar, ibu kota Kashmir, selain banyak sekolah dan lembaga pendidikan Islam lainnya, serta membangun lebih dari 500 masjid.

Asosiasi juga menyelenggarakan berbagai pelatihan untuk menyiapkan para dai dan pendidik, serta mengirim rombongan dakwah ke seluruh wilayah Kashmir. Dalam periode antara tahun 1957 hingga 1994, asosiasi ini menyelenggarakan 28 konferensi. Di pusat ibu kota juga didirikan Perpustakaan Umum Al-Muslim, dan gagasan ini kemudian diterapkan di seluruh unit administratifnya. Dalam bidang media, mereka menerbitkan majalah Al-Muslim. Semua ini dilakukan sebagai upaya menghadapi musuh-musuh Islam serta meneguhkan manhaj salafus shalih dalam ilmu dan amal, guna melahirkan ulama yang kokoh dalam ilmu syar‘i dan memahami budaya modern untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.

Sebagai kelanjutan dari gerakan Tahrik al-Mujahidin yang dipimpin oleh Syah Ismail asy-Syahid ad-Dahlawi, serta melalui lembaga Syaikh Fadl Ilahi al-Wazirabadi—tokoh pembebasan Kashmir—dibentuklah gerakan Tahrik al-Mujahidin di Jammu dan Kashmir di bawah pengawasan Syaikh Abdul Ghani Dar yang pernah ditahan di penjara Kashmir yang diduduki selama lebih dari dua tahun, serta kepemimpinan Syaikh Tanwir al-Islam yang menjabat sebagai ketua Dewan Jihad Bersatu yang mencakup tiga belas organisasi jihad Kashmir selama tiga periode berturut-turut hingga tahun 1993 M.

Kepemimpinan Tahrik al-Mujahidin kemudian dipegang oleh Syaikh Muhammad Ilahi. Gerakan ini memiliki majalah bulanan bernama Asy-Syahadah yang diterbitkan dalam bahasa Arab dan Urdu sebagai media perjuangan jihad Kashmir secara umum, dan khususnya untuk gerakan tersebut. Selain itu, gerakan ini juga memiliki berbagai program sosial, pendidikan, dan dakwah untuk melayani keluarga para mujahid dan para pengungsi.

  • Di antara tokoh penting asosiasi di Kashmir yang diduduki adalah Haji Muhammad Shahdad sebagai ketua pertama asosiasi, serta al-‘Allamah Maulana Ghulam Nabi Mubarak, yang kemudian digantikan oleh Maulana Muhammad Abdul Ghani Shobiyani, lalu Syaikh Abdullah Tari sebagai ketua asosiasi sekaligus pemimpin gerakan pembebasan Kashmir, yang menyebabkan ia dipenjara oleh pemerintah Hindu selama lebih dari dua tahun. Saat ini, kepemimpinan asosiasi dipegang oleh Syaikh Sayyid Muhammad Maqbul Kilani sebagai penerus Syaikh Muhammad Ramadhan Sufi.

4- Di Bangladesh:

  • Syaikh Ni‘matullah al-Bardawani adalah pendiri sekaligus ketua Asosiasi Ahlul Hadis di wilayah Assam pada tahun 1914 M. Syaikh Abbas Ali, penerjemah makna Al-Qur’an ke dalam bahasa Bengali, menjabat sebagai sekretaris jenderal. Pada masa kepemimpinan mereka, asosiasi aktif dalam dakwah kepada Al-Qur’an dan Sunnah serta memerangi syirik dan bid‘ah, serta menerbitkan berbagai majalah dan risalah mingguan dan bulanan.
  • Al-‘Allamah Muhammad Abdullah Kafi al-Quraisy menjabat sebagai ketua asosiasi setelah konferensi tahun 1946 M, di mana dipilih nama baru “Bangla–Bongo–Assam Asosiasi Ahlul Hadis”. Jabatan sekretaris jenderal dipegang oleh Maula Bakhsh an-Nadwi. Ia menyelenggarakan berbagai konferensi yang menetapkan anggaran dasar, kurikulum, dan program, serta memutuskan pembentukan cabang-cabang asosiasi di tingkat wilayah dan provinsi. Di bawah pengawasannya juga diterbitkan majalah Tarjuman al-Hadith. Syaikh Muhammad Abdullah Kafi juga aktif dalam berbagai pertemuan dan demonstrasi politik yang menyerukan pendirian pemerintahan Islam di Pakistan, serta menulis tentang dasar-dasar konstitusi pemerintahan Islam dan konstitusi Islam untuk Pakistan, bahkan menyelenggarakan konferensi umum partai-partai Islam di bawah kepemimpinannya.
  • Dr. Muhammad Abdul Bari terpilih sebagai ketua asosiasi setelah wafatnya al-‘Allamah Muhammad Abdullah Kafi pada tahun 1960 M. Syaikh Muhammad Abdurrahman menjabat sebagai sekretaris jenderal sekaligus pemimpin redaksi majalah mingguan Arafat. Pada masa kepemimpinannya, asosiasi menghadapi berbagai kesulitan setelah pemisahan Pakistan Timur dari Pakistan Barat pada tahun 1972 M. Pada saat itu nama asosiasi diubah menjadi Asosiasi Ahlul Hadis Bangladesh, dan dibentuk 369 cabang tingkat wilayah serta 5100 cabang bawahan, di samping lima konferensi pusat.

5- Di Nepal:

  • Syaikh Abdul Rauf ar-Rahmani adalah ketua Asosiasi Ahlul Hadis di Nepal, sekaligus sekretaris jenderal Universitas Siraj al-‘Ulum as-Salafiyah di Nepal, dan anggota dewan pendiri Rabithah ‘Alam Islami di Makkah al-Mukarramah. Ia memiliki sekitar 45 karya tulis penting dalam bidang hadis dan ilmu hadis, serta pembelaan terhadap hadis dan para ulama hadis. Di antara karyanya adalah: Dalil-Dalil Tauhid kepada Allah Ta‘ala, Khilafah Rasyidah, dan Keharaman Riba dan Judi.

  • Syaikh Abdullah Abdul Tawwab al-Madani, pendiri Madrasah Khadijah al-Kubra di Nepal dan pendiri sekaligus pemimpin redaksi majalah bulanan Nur at-Tauhid. Ia merupakan lulusan Universitas Salafiyah di Banaras kemudian melanjutkan studi di Universitas Islam Madinah. Saat ini ia bertugas sebagai pengawas umum para dai yang dikirim ke Nepal oleh Kerajaan Arab Saudi, di samping menjabat sebagai penanggung jawab Asosiasi Pemuda Ahlul Hadis di Nepal.
  • Ahlul Hadis di anak benua India memiliki peran besar dalam berbagai aspek kehidupan: dakwah, pengajaran, dan penulisan. Mereka juga memiliki tokoh-tokoh menonjol dalam berbagai bidang keilmuan, baik dalam akidah, ibadah, hukum keluarga, maupun urusan sipil seperti ekonomi Islam dan politik syariah. Di antara mereka—sebagai contoh, tidak terbatas pada—adalah: Syaikh Muhammad Husain al-Battalawi, Syaikh Muhammad Ibrahim as-Salkuti, Syaikh Abdullah ar-Ruri, dan saudaranya Syaikh al-Hafizh Muhammad Husain, Syaikh ‘Athaullah Hanif, Syaikh Muhammad Shiddiq as-Sarjudi, Syaikh Abdul Sattar ad-Dahlawi, Syaikh Jamilur Rahman al-Afghani, Syaikh Abdul Jabbar al-Kandablawi, Syaikh Muhammad Ali al-Lakawi kemudian al-Madani, Syaikh Abdul Haq Multani, Syaikh Muhammad al-Junagari, Syaikh al-Hafizh Abdul Hayy al-Kilani, Ustadz Abdul Aziz al-Maimani, Syaikh Abdul Salam al-Basnawi, Syaikh Abu al-Qasim al-Banarasi, Syaikh Muhammad as-Surti, Syaikh Abdul Jalil as-Samarudi, Syaikh Muhammad Ashraf Sandhu, Syaikh Abdul Qadir al-Qasuri, Syaikh Muhammad ‘Abdu al-Fallah, Maulana Mu‘inuddin al-Laknawi, al-Hafizh Abdurrahman al-Madani, dan al-Hafizh Muhammad Sa‘id.

Pemikiran dan Keyakinan:
Akidah Ahlul Hadis adalah akidah salafus shalih itu sendiri, yang dibangun di atas Al-Qur’an dan Sunnah. Prinsip-prinsip ilmiah dan kaidah metodologis Jamaah Ahlul Hadis berdiri atas hal-hal berikut:

1- Tauhid:
Ahlul Hadis, karena keyakinan mereka bahwa tauhid adalah dasar agama, memulai aktivitas mereka dengan menyebarkan tauhid yang murni dan menanamkannya dalam hati manusia, disertai penjelasan rinci tentang tiga jenis tauhid, khususnya tauhid uluhiyah, yang banyak disalahpahami oleh sebagian manusia meskipun mereka mengakui tauhid rububiyah dan konsekuensinya berupa pengesaan Allah dalam kekuasaan. Mereka tidak hanya cukup dengan pengakuan dan penerapan sistem politik Islam saja, tetapi menekankan bahwa Allah سبحانه وتعالى harus menjadi penguasa bagi individu dalam pemikiran, perilaku, dan seluruh aspek kehidupannya, termasuk dalam penetapan hukum dan perundang-undangan.

2- Ittiba‘ (mengikuti Sunnah):
Ahlul Hadis menekankan mengikuti apa yang sahih dari Nabi berdasarkan pemahaman salafus shalih. Oleh karena itu, mereka tidak menerima taqlid buta yang mengharuskan berpegang pada satu mazhab fikih tertentu tanpa mengetahui dalilnya. Mereka menyerukan dibukanya pintu ijtihad bagi siapa saja yang memenuhi syaratnya, serta berpendapat bahwa orang awam mengikuti mazhab muftinya. Mereka juga menyerukan penghormatan terhadap para ulama mujtahid dan imam-imam yang diikuti.

3- Mendahulukan naql (wahyu) atas akal:
Mereka mendahulukan riwayat atas pendapat, yaitu memulai dari syariat kemudian menjadikan akal tunduk kepadanya. Mereka berkeyakinan bahwa akal yang sehat tidak bertentangan dengan nash syariat yang sahih, sehingga tidak boleh menentang syariat dengan akal atau mendahulukannya.

4- Tazkiyah syar‘iyyah (penyucian sesuai syariat):
Yaitu menyucikan jiwa manusia dengan cara yang disyariatkan dalam Al-Qur’an dan Sunnah, serta menolak metode penyucian yang bersifat bid‘ah, baik yang berasal dari tasawuf maupun selainnya.

5- Peringatan terhadap bid‘ah:
Karena mereka memandang bahwa bid‘ah pada hakikatnya merupakan bentuk penambahan terhadap syariat Allah dan penetapan hukum berdasarkan akal dan pendapat semata. Oleh sebab itu, mereka menyeru untuk berpegang pada Sunnah dan menjauhi seluruh bentuk bid‘ah.

6- Peringatan terhadap hadis lemah dan palsu:
Bahaya hadis jenis ini sangat besar bagi umat, sehingga perlu berhati-hati terhadap hadis yang dinisbatkan kepada Nabi , khususnya yang berkaitan dengan akidah dan hukum.

7- Jihad di jalan Allah:
Ahlul Hadis berpendapat bahwa jihad adalah salah satu amal yang paling utama dan akan terus berlangsung hingga hari kiamat untuk meninggikan kalimat Allah dan menolak kerusakan di muka bumi:
“... supaya tidak ada fitnah dan agama seluruhnya hanya untuk Allah.”

8- Penerapan sistem syariat:
Dengan berusaha menegakkannya dalam seluruh aspek kehidupan, baik pribadi, sosial, politik, maupun ekonomi, melalui cara-cara yang disyariatkan.

9- Ahlul Hadis meyakini bahwa dengan mewujudkan tauhid yang murni kepada Allah Rabb semesta alam dan beramal sesuai dengan Sunnah Nabi serta petunjuknya, akan tercapai kemenangan dan kekuasaan. Keduanya merupakan syarat diterimanya amal, sekaligus syarat kemenangan dan tegaknya kembali khilafah Islam sesuai janji Allah:
“Allah telah berjanji kepada orang-orang yang beriman di antara kamu dan mengerjakan amal-amal saleh bahwa Dia sungguh-sungguh akan menjadikan mereka berkuasa di muka bumi sebagaimana Dia telah menjadikan orang-orang sebelum mereka berkuasa...”

Oleh karena itu, mereka berdakwah dengan metode syar‘i berdasarkan pemurnian tauhid dari bid‘ah dan penyimpangan akidah serta perilaku, pemurnian hadis dari yang palsu, dan pembinaan umat di atas hal tersebut.

10- Memerangi kelompok sesat dan menyimpang:
Seperti Qadianiyah, Barelwiyah, Babiyah, Bahaiyah, dan lainnya, serta menghadapi berbagai arus pemikiran modern yang merusak dan memusuhi Islam seperti sekularisme, kapitalisme, komunisme, sosialisme, dan lainnya dengan menggunakan seluruh sarana yang dibenarkan syariat.

Akar Pemikiran dan Akidah:
1- Jamaah Ahlul Hadis mengambil hukum dari Al-Qur’an dan Sunnah dengan metode para fuqaha ahli hadis dari kalangan salafus shalih Ahlus Sunnah wal Jamaah.

2- Ahlul Hadis juga sangat mencintai kitab-kitab salafus shalih secara umum, khususnya karya-karya Imam Ahlus Sunnah wal Jamaah Ahmad bin Hanbal, Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah, Imam Ibnul Qayyim al-Jauziyah, dan Imam Muhammad bin Abdul Wahhab رحمهم الله تعالى. Mereka juga menyebarkan karya-karya tokoh dakwah salafiyah kontemporer seperti Syaikh al-‘Allamah Abdul Aziz bin Baz, Mufti Umum Kerajaan Arab Saudi, dan al-Muhaddits al-‘Allamah Muhammad Nashiruddin al-Albani.


Penyebaran dan Wilayah Pengaruh:
Jamaah Ahlul Hadis tersebar di India, Pakistan, Bangladesh, Nepal, Kashmir, Sri Lanka, Kepulauan Fiji, serta memiliki pusat di Inggris. Organisasi mereka di negara-negara tersebut dikenal dengan nama Asosiasi Ahlul Hadis.

Di setiap negara tersebut terdapat pusat asosiasi yang memiliki cabang-cabang yang tersebar sesuai dengan wilayah dan distrik.

Namun, asosiasi ini memiliki kepemimpinan yang mandiri di setiap negara, yang merupakan aspek administratif semata, sementara semuanya disatukan oleh manhaj salafi yang sama yang menjadi dasar asosiasi tersebut.

Asosiasi ini beroperasi di negara bagian Kerala di India melalui lima organisasi reformasi salafi:

  • Nadwatul Mujahidin: aktivitas utamanya berfokus pada dakwah di kalangan masyarakat umum dan khusus, dan merupakan organisasi induk bagi cabang-cabang lainnya, dengan jumlah 475 cabang.
  • Asosiasi Ulama Kerala yang bergerak di bidang fatwa, penelitian ilmiah, dakwah, dan bimbingan.
  • Persatuan Pemuda Mujahidin: bergerak di bidang kepemudaan (dakwah, pendidikan, dan lainnya) dengan jumlah 471 cabang.
  • Gerakan Mahasiswa Mujahidin: aktif di kalangan pelajar di berbagai jenjang pendidikan dengan jumlah 227 cabang.
  • Asosiasi Perempuan Muslim: dengan jumlah 127 cabang.

Asosiasi Ahlul Hadis memiliki hubungan dengan sejumlah organisasi lain di luar anak benua India yang sejalan dalam prinsip dan metode, seperti Jamaah Dakwah kepada Al-Qur’an dan Sunnah di Afghanistan, Muhammadiyah di Indonesia, Singapura, dan Malaysia, Jamaah Ansar as-Sunnah al-Muhammadiyah di Mesir, Sudan, dan Eritrea, Asosiasi Ihya’ at-Turats al-Islami di Kuwait, Dar al-Birr di Dubai, serta berbagai gerakan salafi lainnya yang tersebar di seluruh dunia. Selain itu, Asosiasi Ahlul Hadis juga menjadi anggota dalam World Assembly of Muslim Youth, Rabithah ‘Alam Islami, Dewan Islam Dunia di London, serta Dewan Islam Dunia untuk Dakwah dan Bantuan di Kairo.

Dari uraian di atas dapat dipahami bahwa Asosiasi Ahlul Hadis merupakan salah satu organisasi Islam tertua di anak benua India. Tujuan utamanya adalah memurnikan Islam dari bid‘ah dan penyimpangan, serta mengajak manusia untuk mengikuti manhaj salafus shalih dalam ilmu dan amal, serta memilih metode para fuqaha ahli hadis dalam masalah fikih, yaitu mengikuti dalil dan meninggalkan fanatisme mazhab dalam segala bentuknya.

Mereka memiliki jasa besar bagi kaum Muslimin, karena melalui mereka Allah menjaga Sunnah dan ilmu hadis pada masa ketika aktivitas ilmiah melemah di Mesir, Syam, Irak, dan Hijaz sejak abad ke-10 Hijriah hingga mencapai titik terlemah pada awal abad ke-14 Hijriah.

Syaikh Muhammad Rasyid Ridha berkata: “Seandainya bukan karena perhatian saudara-saudara kita, para ulama India, terhadap ilmu hadis pada masa ini, niscaya ilmu tersebut akan lenyap dari negeri-negeri Timur.”

Syaikh Manazhir Ahsan al-Kilani, salah satu murid Syaikh Anwar Shah al-Kashmiri ad-Diyubandi, berkata: “Perhatian kalangan Hanafi di anak benua India terhadap dua sumber utama agama, yaitu Al-Qur’an dan Sunnah, memiliki pengaruh besar dari gerakan Ahlul Hadis dan penolakan terhadap taqlid. Meskipun masyarakat umum belum sepenuhnya meninggalkan taqlid, namun pengaruh taqlid yang kaku dan ketergantungan buta telah runtuh.”

Asosiasi ini juga memiliki peran penting di Pakistan dalam membantu gerakan jihad Afghanistan.

Referensi untuk Pembelajaran Mandiri dan Pendalaman:

  • “Upaya Ahlul Hadis dalam Pelayanan terhadap Al-Qur’an” oleh Dr. Abdurrahman bin Abdul Jabbar al-Faryuawi, Universitas Salafiyah Banaras, 1413 H (bahasa Arab).
  • “Asosiasi Pusat Ahlul Hadis di India: Sejarah dan Tujuannya”, diterbitkan oleh Asosiasi Ahlul Hadis India, percetakan Salafiyah Banaras.
  • “Biografi Ulama Ahlul Hadis di India” oleh Abu Yahya Imam Khan an-Nushahrawi, Lahore, 1391 H.
  • “Sejarah Ahlul Hadis di Jammu dan Kashmir”, oleh Universitas Salafiyah (bahasa Arab).
  • “Pengaruh Dakwah Ibnu Taimiyah dalam Gerakan Islam Kontemporer” oleh Shalahuddin Maqbul, Majma‘ al-Buhuts al-‘Ilmiyyah al-Islamiyyah, New Delhi (bahasa Arab).
  • “Sejarah Ahlul Hadis” oleh Syaikh Muhammad Ibrahim as-Sialkuti.
  • “Sejarah Ahlul Hadis” oleh Syaikh Ahmad ad-Dahlawi.
  • “Upaya Penulisan Ulama Ahlul Hadis” oleh Syaikh Abu Yahya Imam Khan an-Nushahrawi.

Implementasi Praktis melalui Kegiatan Pendukung:
1- Menulis sebuah artikel yang menjelaskan sejarah berdirinya Jamaah Ahlul Hadis dan metode dakwahnya kepada Allah.
2- Menulis penelitian yang mengevaluasi aktivitas jamaah ini berdasarkan Al-Qur’an dan Sunnah.
3- Mengundang para sejarawan Islam yang ahli dalam sejarah Islam di anak benua India untuk memberikan ceramah tentang asosiasi ini.

Evaluasi dan Pengukuran Diri:
1- Apa yang Anda ketahui tentang Jamaah Ahlul Hadis di India?
2- Bagaimana kondisi yang mereka alami pada masa modern?
3- Sebutkan tokoh-tokoh utama jamaah ini di anak benua India.
4- Jelaskan bidang-bidang utama aktivitas dakwah ini.
5- Apa pemikiran dan keyakinan yang menjadi dasar dakwah ini? Dan apa akar pemikirannya?
6- Di mana dakwah ini tersebar? Dan apa pencapaian utamanya?
7- Jelaskan kelebihan jamaah ini serta kritik yang mungkin ditujukan kepadanya.

 

No comments:

Post a Comment

Salafy