Haji Wada
Rasulullah saw
Haji Wada atau Haji
Perpisahan merupakan haji terakhir bagi Rasulullah saw yang
dilaksanakan pada Dzulhijjah 10 Hijriah (632 Masehi). Tuntas
sudah aktivitas dakwah dan penyampaian risalah (ajaran Ilahi) dan pembentukan
masyarakat baru berdasarkan pada penetapan uluhiyah (peribadahan) kepada Allah SWT
semata dan penafian ibadah kepada selain-Nya, berdasarkan pada kerasulan Nabi
Muhammad saw.
Seolah-olah sudah ada bisikan rahasia yang terbetik di
hati Rasulullah saw memberitahukan kepada beliau bahwa keberadaannya di dunia
ini sudah hampir berakhir. Sehingga ketika beliau mengutus Muadz bin Jabal
sebagai amil (penanggung jawab wilayah) ke Yaman tahun 10 H, Rasulullah saw
berkata, “Hai Muadz, kamu sepertinya tidak akan menjumpaiku lagi selepas tahun
ini dan sepertinya engkau akan melihat masjidku ini (masjid nabawi) dan
kuburanku.” Lalu Muadz menangis khawatir akan berpisah dengan Rasulullah saw.
Akhirnya, Rasulullah saw mengumumkan
keinginannya untuk menunaikan haji yang mabrur dan disaksikan (para malaikat)
ini sehingga banyak orang yang datang ke Madinah. Semuanya berharap dapat menuaikannya bersama
Rasulullah saw. Kaum Muslim mematuhi
setiap gerakan, tindakan, dan gerak-gerik Rasulullah saw
pada ketika itu dan setiap perbuatan yang dilakukan olehnya menjadi contoh
untuk selama-lamanya bagi Muslim di seluruh dunia.
Ibnu Qayyim menyatakan bahwa berdasarkan bukti-bukti
yang kuat dan dapat dipercaya, haji diwajibkan pada tahun ke-10 Hijriah. Inilah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah saw agar manusia tidak menunda-nunda suatu kewajiban. Terkait dengan
kewajiban haji ini, Allah SWT berfirman,
“Mengerjakan
haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (yaitu) bagi orang yang sanggup
mengadakan perjalanan ke Baitullah.” (Ali Imran: 97)
Di dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Rasulullah saw sendiri
tidak pernah melakukan haji dari Madinah, kecuali yang beliau lakukan pada
tahun ke-10 Hijriah. Haji ini kemudian dikenal dengan
nama haji balagh (haji
penyampaian dakwah Allah), haji Islam (haji penyerahan diri), dan haji wada
(haji perpisahan). Pasalnya, haji ini adalah haji terakhir Rasulullah saw bersama kaum Muslimin. Sesudah itu, Rasulullah saw
tidak pernah berhaji lagi. Disebut sebagai haji balagh karena pada saat itu Rasulullah menyampaikan ajaran Allah SWT berupa
diwajibkannya haji kepada seluruh umat manusia, baik dalam bentuk perkataan
maupun perbuatan. Bahkan, tidak ada satu pun unsur dan nilai ajaran Islam,
kecuali Rasulullah saw telah menjelaskannya secara terperinci. Ketika Rasulullah saw tengah
menerangkan masalah haji kepada seluruh Muslimin yang hadir di Padang Arafah,
Allah SWT menurunkan ayat, “Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu,
dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai islam itu jadi
agama bagimu.” (al-Bukhari,
nomor 4407; Ibnu Katsir, 4, hlm. 381)
Imam Muslim meriwayatkan
dengan sanadnya dari Jabir, ia mengatakan bahwa selama 9 tahun tinggal di
Madinah Munawarah, Rasulullah saw belum melaksanakan haji. Kemudian pada
tahun ke sepuluh Rasulullah saw mengumumkan hendak melakukan haji. Maka
berduyun-duyun orang datang ke Madinah, semua ingin mengikuti Rasulullah saw
dan mengamalkan ibadah haji sebagaimana amalan Rasulullah saw.
Pada tanggal 25 Dzulqaidah, Rasulullah saw
keluar dari Madinah. Jabir berkata, “Setelah unta yang
membawanya sampai di lapangan besar aku lihat sejauh pandangan mata lautan
manusia mengitari Rasulullah saw, di depan, belakang, sebelah kiri dan kanan
beliau. Rasulullah saw berada di hadapan kami dan
di saat itu pula Rasulullah saw menerima wahyu.
Rasulullah saw memasuki
kota Mekah dari bagian atas dari jalan Kada hingga tiba di pintu Banu Syaibah.
Ketika melihat Ka’bah beliau mengucapkan doa,
“Ya, Allah
tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kewibawaan kepada rumah ini.
Tambahkanlah pula kemuliaan, kehormatan, kewibawaan, keagungan dan kebajikan
kepada orang yang mengagungkannya di antara orang-orang yang mengerjakan haji
dan umrah.”
Rasulullah saw melaksanakan
ibadah haji seraya mengajarkan manasik dan sunnah-sunnah haji kepada
orang-orang yang menunaikan ibadah haji bersamanya. Pada hari
Arafah, Rasulullah saw menyampaikan khutbah umum di tengah-tengah kaum Muslimin
yang sedang berkumpul di tempat wuquf. Berikut ini adlah teks khutbah beliau,
“Wahai manusia,
dengarkanlah apa yang hendak kukatakan. Mungkin sehabis tahun ini, aku tidak
akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selama-lamanya. Hai
manusia, sesungguhnya darah dan harta benda kalian adalah suci bagi kalian
(yakni tidak boleh dinodai oleh siapa pun juga)
seperti hari dan bulan suci sekarang ini di negeri kalian ini, Ketahuilah,
sesungguhnya segala bentuk perilaku dan tindakan Jahiliyah tidak boleh berlaku
lagi. Tindakan menuntut balas atas kematian seseorang sebagaimana yang berlaku
di masa Jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi. Tindak pembalasan jahiliyah
seperti itu pertama kali kunyatakan tidak berlaku ialah tindakan pembalasan
atas kematian Ibnu Rabi’ bin al-Harits.
Riba jahiliyah
tidak berlaku, dan riba yang pertama kunyatakan tidak berlaku adalah riba Abbas
bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya segala macam riba tidak boleh berlaku lagi. “Hai manusia,
di engeri kalian ini, setan sudah putus harapan sama sekali untuk dapat
disembah lagi. Akan tetapi, masih
mengininkan selain itu. Ia akan merasa puas bila kalian melakukan perbuatan
yang rendah. Karena itu hendaklah kalian jaga bai-baik agama kalian!
Hai manusia
sesungguhnya menunda berlakunya bulan suci akan menambah besarnya kekufuran.
Dengan itulah orang-orang kafir menjadi tersesat. Pada tahun yang satu mereka
langgar dan pada tahun yang lain mereka sucikan untuk disesuaikan dengan
hitungan ynag telah ditetapkan kesuciannya oleh Allah. Kemudian mereka
menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang telah
dihalalkan Allah.
Sesungguhnya
jaman berputar seperti keadaannya pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi.
Satu tahun adalah dua belas bulan. Empat bulan di antaranya adalah
bulan-bulan suci. Tiga bulan berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan
Muharram. Bulan Rajab adalah antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Takutlah Allah
dalam memperlakukan kaum perempuan karena kalian
mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kehormatan mereka dihalalkan bagi
kalian dengan nama Allah. Sesungguhnya kalian mempunyai hak atas para istri
kalian dan mereka pun mempunyai hak atas kalian. Hak kalian atas mereka ialah
mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang tidak kalian sukai ke
dalam rumah kalian. Jika mereka melakukan hal itu maka pukullah mereka dengan
pukulan yang tidak membahayakan. Sedangkan hak mereka atas kalian ialah
kalian harus memberi nafkah dan pakaian kepada mereka secara baik.
Maka
perhatikanlah perkataanku itu, wahai manusia, sesungguhnya aku telah sampaikan.
Aku tinggalkan sesuatu kepada kalian, yang jika kalian pegang teguh, kalian
tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. Wahai manusia, dengarkanlah
taatlah sekalipun kalian diperintah oleh seorang hamba sahaya dari Habasyah
yang berhitung gruwung, selama ia menjalankan Kitabullah kepada kalian.
Berlaku baiklah
kepada para budak kalian. Berilah mereka
makan apa yang kalian makan dan berilah pakaian dari jenis pakaian yang sama
dengan kalian pakai. Jika mereka melakukan sesuatu kesalahan yang tidak bisa
kalian maafkan maka juallah hambah-hamba Allah itu dan janganlah kalian
menyiksa mereka. Wahai manusia,
dengarkanlah perkataanku dan perhatikanlah! Kalian tahu bahwa setiap orang Muslim
adalah saudara bagi orang-orang Muslim yang lain, dan semua kaum Muslimin
adalah saudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari saudaranya
kecuali yang telah diberikan kepadanya dengan senang
hati, karena itu janganlah kalian menganiaya diri
sendiri.
Ya Allah sudahkah kusampaikan?
Kalian akan menemui Allah maka janganlah kalian kembali sesudahku menjadi
sesat, sebagian kalian memukul tengkuk sebagian yang lain. Hendaklah orang
yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, barangkali sebagian orang yang
menerima kabar (tidak langsung) lebih mengerti daripada orang yang
mendengarkannya (secara langsung). Kalian akan ditanya tentang aku maka apakah
yang hendak kalian katakan.
Mereka menjawab, “Kami bersaksi
bahwa engkau telah menyampaikan (risalah), telah
menunaikan dan memberi nasihat.” Kemudian seraya
menunjuk ke arah langit dengan jari
telunjutnya, Rasulullah saw bersabda, “Ya Allah,
saksikanlah (tiga kali).”
Rasulullah saw tetap
tinggal di Arafah hingga terbenam matahari. Pada saat terbenam matahari itu
Nabi saw berserta orang-orang yang menyertainya berangkat ke Muzdalifah. Seraya
memberikan isyarat dengan tangan kanannya beliau bersabda, “Wahai
manusia, harap tenang, harap tenang!” Kemudian Rasulullah saw menjamak takhir
shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah. Sebelum terbit matahari Rasulullah saw berangkat ke
Mina, lalu melontar Jumratul Aqabah dengan tujuh batu kecil seraya bertakbir di
setiap lontaran. Setelah itu Rasulullah saw pergi ke tempat
penyembelihan lalu menyembelih 63 binatang sembelihan (budnah). Kemudian
Rasulullah saw menyerahkan
kepada Ali untuk menyembelih sisanya sampai genap 100 sembelihan. Setelah itu Rasulullah saw naik
kendaraannya berangkat ke Ka’bah (thawaf ifadhah) lalu shalat Dzuhur di Mekah,
dan pergi mendatangi Bani Abdul Muthalib ynag sedang mengambil air zamzam lalu
bersabda, “Timbalah wahai banu Wabdul Muthalib, kalaulah tidak
karena orang-orang berebut bersama kalian, niscaya aku menimba bersama kalian.”
Kemudian mereka memberikan setimba air kepadanya dan Rasulullah saw pun minum
darinya.
Rasulullah saw menghabiskan
hari tasyriq (hari ke 11, 12, dan 13 Dzulhijjah) di Mina untuk menunaikan
manasik haji (melontar jumrah), mengajarkan ajaran Islam, berdzikir kepada
Allah SWT serta menegakkan sunnah-sunnah suci dari ajaran Nabi Ibrahim, beliau
menghapus sisa-sisa kesyirikan dan panji-panjinya. Rasulullah saw juga
berkhutbah pada salah satu hari dari hari-hari tasyriq ini yang isinya seperti
khutbahnya di hari Nahr (Idul Adha) dan berlangsung setelah turun surah an-Nashr.
Pada hari nafar ats-tsani
tanggal 13 dzulhijjah, Rasulullah saw pergi meninggalkan Mina dan singga di
kaki gunung perkampungan Bani Kinanah, kawasan al-Abthah (kawasan berpasir dan
berkerikil di Mekah). Rasulullah saw menginap selama sehari semalam serta
shalat Zhuhur, Maghrib dan Isya di sana. Lalu Rasulullah saw tidur sejenak
kemudian meneruskan perjalanan ke Ka’bah dan melakukan thawaf
wada’. Rasulullah saw juga memerintahkan hal tersebut kepada para
sahabatnya. Akhirnya setelah tuntas melakukan ritual haji Rasulullah saw berangkat
kembali ke Madinah demi memulai kembali perjuangan dan kerja keras dengan
ikhlas di jalan Allah SWT.
Rasulullah saw
Wafat
Ketika dakwah
telah sempurna dan Islam telah menguasai keadaan, tanda-tanda perpisahan dengan
kehidupan dan dengan orang-orang yang masih hidup mulai tampak terasa dalam
perasaan Rasulullah saw.
Semakin jelas lagi dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatannya.
Pada bulan Ramadhan tahun 10 H, Rasulullah saw beritikaf
selama dua puluh hari, yang pada tahun-tahun sebelumnya beliau tidak beritikaf
kecuali sepuruh hari saja, dan Malaikat Jibril bertadarus Al-Qur’an dengan
beliau sebanyak dua kali.
Di awal bulan
safar tahun 11 H, beliau pergi menuju Uhud, kemudian melakukan shalat untuk para syuhada, sebagai
ungkapan perpisahan bagi orang-orang yang masih hidup dan yang telah mati.
Kemudian beranjak menuju mimbar dan bersabda, “Susungguhnya
aku akan mendahului kalian dan menjadi saksi atas kalian. Demi Allah,
seungguhnya aku sekarang benar-banr melihat telagaku, dan telah diberikan
kepadaku kuncu-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci bumi, dan demi Allah,
sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan kelian akan melakukan kesyirikan
sepeninggalku nanti, akan tetapi yang aku khawatirkan terhadap kalian adalah
kalai kalian berlomba-lomba di dalam merebut kekayaan dunia.”
Pada pertengahan suatu malam,
Rasulullah saw keluar menuju kuburan Baqi untuk memohonkan ampunan bagi mereka.
Pada tanggal 28
atau 29 bulan safar tahun 11 H, Rasulullah saw menghadiri jenazah seorang
sahabat di Baqi. Ketika kembali di tengah perjalanan Rasulullah saw
merasakan pusing di kepalanya dan panas mulai merambat pada sekujur tubuhnya
sampai-sampai mereka (para sahabat) dapat merasakan pengaruhnya pada sorban
yang beliau pakai. Rasulullah saw shalat bersama para sahabat
dalam keadaan sakit selama sebelas hari, sedangkan jumlah sakit beliau adalah
13 atau 14 hari.
Al-Bukhari dan Muslim mneriwayatkan dari Urwah bahwa
Aisyah mengabarkan sesungguhnya Rasulullah saw apabila merasakan sakit beliau
meniup dirinya sendiri dengan mu’awwidzat dan mengusapkan dengan tangannya. Ketika
mengalami sakit kepala yang kemudian disusul kematiannya, itu akulah yang
meniup dengan mu’awwidzat yang biasa digunakannya lalu aku usap dengn tangan Rasulullah
saw.
Para istri
beliau memahami keinginan Rasulullah saw untuk dirawat di rumah Aisyah
karena mereka tahu Rasulullah saw sangat mencintainya dan merasa
tenteram dirawat olehnya. Dengan izin dari para istri beliau akhirnya Rasulullah saw
dipindahkan ke rumah Aisyah dan rumah Maimunah dengan dipapah oleh al-Fadhal dan Ali
bin Abi Thalib.
Di rumah Aisyah, sakit
Rasululah saw semakin bertambah keras. Mengetahui para sahabatnya sudah mulai
cemas dan bersedih karena dirinya maka Rasulullah saw bersabda, “Siramkanlah aku dengan tujuh qirbah air karena aku ingin keluar
berbicara kepada mereka.” Aisyah berkata, “Kemudian aku dudukkan Rasulullah saw di tempat
mandi lalu kami guyur dengan tujuh qirbah air tersebut sampai beliau mengisyaratkan
dengan tangannya itu cukup. Kemudian Rasulullah saw keluar dan berkhutbah kepada
mereka. Rasulullah saw keluar dengan kepala terasa pusing lalu duduk di atas mimbar.
Pertama-tama Rasulullah saw berdoa dan memintakan ampunan untuk para Mujahidin Uhud, lalu
bersabda, “Seorang
hamba diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kekayaan dunia atau apa yang ada
di sisi-Nya, lalu hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya.”
Serta merta Abu Bakar menangis (karena mengetahui apa
yang dimaksud Rasulullah saw) seraya berkata dengan suara keras, “Kami tebus
engkau dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kami.” Kemudian
Nabi saw bersabda, “Tunggu sebentar wahai Abu Bakar! Wahai manusia sesungguhnya
orang yang paling bermurah hati kepadaku dalam hartanya dan persahabatannya
ialah Abu Bakar. Seandainya aku hendak mengangkat orang sebagai khalil (teman
kesayangan) maka Abu Bakarlah khalilku, akan tetapi persaudaraan ynag sejati
adalah persaudaraan Islam. Tidak boleh ada Khaukah (lorong) di masjid kecuali
Khaukah (lorong) Abu Bakar. Sesungguhnya aku adalah tanda pemberi petunjuk bagi
kalian dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sesungguhnya sekarang ini
aku melihat telagaku. Sesungguhnya aku telah diberi kunci-kunci dunia. Demi
Allah , aku khawatir kalian akan menjadi musyrik sesudahku tetapi aku khawatir
kalian akan berlomba-lomba memperebutkan dunia.”
Kemudian
Rasulullah saw kembali ke rumah dan sakitnya bertambah berat. Aisyah berkata, “Pada waktu
sakit, Rasulullah saw pernah berkata kepadaku, ‘Panggillah
kemari Abu Bakar, bapakmu dan saudaramu, sehingga aku menulis sesuatu wasiat.
Sebab aku khawatir ada orang yang berambisi mengatakan aku lebih berhak,
padahal Allah dan orang-orang Mukmin tidak rela kecuali Abu Bakar.’”
Ibnu Abbas meriwayatkan mengatakan ketika Rasulullah saw
sedang sakit keras, beliau bersabda kepada orang-orang yang ada di dalam rumah,
“Kemarilah aku tuliskan sesuatu wasiat untuk kalian di mana kalian tidak
akan sesat sesudahnya.” Kemudian sebagian mereka berkata, “Sesungguhnya
Rasululah saw dalam keadaan sakit keras sedangkan di sisi kalian ada Al-Qur’an,
cukuplah bagi kita Kitab Allah. Maka timbullah
perselisihan di antara orang-orang yang ada di dalam rumah. Di antara mereka
ada yang berkata, “Mendekatlah, beliau hendak menulis suatu wasiat buat kalian di mana
kalian tidak akan sesat sesudahnya.” Di antara mereka ada juga yang mengatakan selain itu.
Mendengar
perselisihan itu bertambah sengit dan gaduh akhirnya Rasulullah saw bersabda, “Bangkitlah
kalian.” Ketika Rasulullah saw sudah tidak kuat lagi keluar untuk mengimami
shalat maka beliau bersabda, “Perintahkanlah
Abu Bakar untuk mengimami shalat.” Aisyah
menyahut, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar seorang yang lembut. Jika
dia menggantikanmu maka suaranya tidak dapat didengar oleh orang.” Rasulullah saw bersabda, “Kalian
memang seperti perempuan-perempuan Yusuf. Perintahkan Abu Bakar supaya
mengimami shalat jama’ah.”
Setelah itu Abu
Bakarlah yang bertindak sebagai imam shalat jama’ah. Pada suatu hari, ketika Rasulullah saw merasa
sudah agak enak badan Rasulullah saw keluar kemudian mendapati Abu
Bakar sedang mengimami shalat jama’ah. Melihat kedatangan Rasulullah saw ini
lalu Abu Bakar mundur tetapi diberi isyarat oleh Rasulullah saw agar tetap
di tempatnya. Kemudian Rasulullah saw duduk di samping Abu Bakar lalu
shalat mengikuti shalat Rasulullah saw yang dilakukannya dengan duduk
itu, sementara itu orang-orang shalat mengikuti shalat Abu Bakar.
Orang-orang
merasa gembira karena melihat Rasulullah saw tersebut, tetapi sebenarnya
sakit beliau semakin bertambah serius dan rupanya hal itu merupakan kesempatan
terakhir Rasulullah saw keluar melakukan shalat bersama orang banyak.
Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Aku pernah masuk membesuk
Rasulullah saw ketika beliau sedang sakit keras , lalu aku pegang beliau dengan
tanganku seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengalami demam
panas sekali.’ Rasulullah saw menjawab, “Ya, demam yang kurasakan sama dengan yang dirasakan oleh dua
orang dari kalian (dua kali lipat).” Aku katakan, “Apakah hal
ini karena engkau mendapatkan dua pahala?” Rasulullah saw menjawab,
“Ya, tidaklah seorang Muslim menderita sakitnya itu kecuali gugur kesalahan-kesalahannya
sebagaimana daun berguguran dari pohonnya.”
Walaupun
penyakit yang diderita sangat parah, beliau masih sempat menunaikan semua
shalatnya bersama jamaah para sahabatnya. Ketika beranjak waktu dhuha, Rasulullah saw memanggil
Fatimah, kemudian membisikkan sesuatu kepadanya dan ia pun menangis. Kemudian
memanggilnya lagi dan membisikkan sesuatu yang lainnya, ia pun tertawa. Aisyah
berkata, “Kami menanyakan kepadanya tentang hal itu, yakni pada hari berikutnya
dan Fathimah menjawab, ‘Rasulullah saw membisikkan kepadaku bahwa beliau
akan meninggal pada sakit yang beliau derita saat itu sehingga aku pun menangis. Kemudia Rasulullah saw membisikkan kepadaku
bahwa aku yang pertama kali dari keluarganya yang mengikutinya (meninggal)
sehingga aku tertawa.’ Rasulullah saw memberikan kabar gembira kepada Fathimah
bahwa ia adalah penghulu para petempuan di dunia.”
Setelah itu, Rasulullah saw memanggil
Hasan dan Husein, kemudian mencium keduanya dan berwasiat kepada mereka untuk
selalu berbuat baik. Selanjutnya, Rasulullah saw
memanggil istri-istrinya kemudian menasihati mereka dan mengingatkan mereka.
Dalam keadaan
sakit keras seperti itu Rasulullah saw menutupi wajahnya dengan kain. Apabila
dirasakan sakit sekali maka beliau membuka wajahnya lalu bersabda, “Semoga
laknat Allah ditimpahkan ke atas orang-orang Yahudi dan Nasrani ynag menjadikan
kuburan para nabi mereka sebagai masjid.” Seolah-olah Rasulullah saw
memperingatkan kaum Muslimin dari tindakan seperti itu. Rasulullah saw
mengingatkan akan sesatnya perbuatan mereka. “Tidak boleh ada
dua agama di bumi Arab ini.”
Terakhir Rasulullah saw
juga berwasiat kepada manusia seraya berkata, “Jagalah shalat!
Jagalah shalat! Dan budak-budak kalian (jangan sekali-kali kalian abaikan).” Beliau
mengulang-ulangnya hingga beberapa kali. Detik-detik kematian telah tiba, Aisyah menyandarkan tubuh Rasulullah
saw kepadanya, ia berkata, “Termasuk di antara nikmat Allah SWT yang diberikan
kepadaku adalah Rasulullah saw wafat di rumahku, di antara paru-paruku dan
tenggorokanku. Allah SWT mengumpulkan antara ludahku dan ludahnya pada saat
kematiannya.” Saat itu, Rasulullah saw meminta kepada Abdurrahman bin Abi Bakar
untuk mengambilkan untuknya siwak. Rasulullah saw pun bersiwak dengan sebaik-baiknya.
Lalu setelah itu, Rasulullah saw memasukkan kedua tangannya ke dalam air
kemudian mengusapkannya ke wajahnya lalu berkata, “Laa ilaha illallah,
sesungguhnya kematian itu mengalami sekarat.” Lalu beliau melanjutkan
perkataannya, “Bersama-sama dengan orang-orang yang telah Engkau angugerahi
nikmat yaitu para nabi, ash-shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan
orang-orang shalih. Ya Allah, ampunilah dan kasihanilah aku, pertemukan aku
dengan Ar-Rasfik al-A’la (para nabi yang tinggal di ‘Illiyyin yang paling
tingga).” Beliau mengulangi kalimat yang terkhir ini tiga kali. Kemudian tangannya miring dan beliau pada akhirnya berjumpa dengan ar-Rafiq
al-A’la.
Innalillahi wa
inna ilaihi rajiun. Kejadian ini berlangsung pada waktu dhuha sedang
panas-panasnya, yaitu pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H. Umur beliau saat
itu telah mencapai 63 tahun lebih empat hari. Pada hari Selasa, para sahabat memandikan Rasulullah
saw tanpa melepaskan pakaiannya, orang-orang yang memandikannya adalah al-Abbas, Ali bin Abi Thalib, Fadhl bin Abbas, Qatsam
bin Abbas, Usamah bin Zaid, dan Aus bin Khauli.
Badan Rasulullah saw dibasuh dengan
air dan bidara tiga kali basuhan, dan dimandikan dari air sumur yang bernama al-Ghars milik
Sa’ad bin Haitsamah di Quba tempat Rasulullah saw pernah meminum air dari sumur
tersebut. Kemudian mereka mengkafaninya dengan tiga helai tenunan Yaman. Kain
itu berwarna putih terbuat dari katun tanpa baju dan tanpa surban. Mereka
mengenakan pakaian tersebut padanya satu per satu secara berlapis.
Mereka berselisih tentang tempat pemakamannya, Abu Bakar
berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Tidaklah
seorang nabi wafat kecuali dikubur di tempat ia wafat.” Kemudian Abu
Thalhah mengangkat kasur yang dipakai Rasulullah saw pada saat meninggal
kemudian ia menggali tanah yang ada di bawahnya dan membentuk liang lahat.
Orang-orang
memasuki kamar secara bergantian sepuluh-sepuluh. Mereka menshalatkan Rasululah
saw secara sendiri-sendiri tanpa ada seorang yang mengimami mereka. Pertama
kali yang menshalatkan adalah keluarganya, kemudian orang-orang Muhajirin,
setelah itu orang-orang Anshar. Para perempuan menshalatkannya setelah kaum laki-laki, setelah itu
anak-anak kecil atau anak-anak kecil dahulu kemudian para perempuan.
Allahumma
shalli ala sayyidina Muhammad, allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa barik
alaihi.
KESIMPULAN
Dari materi Haji Wada dan Wafatnya Rasulullah saw dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini.
1.
Syari’at telah yang
ditetapkan Allah SWT adalah ibadah haji, yaitu pada tahun ke-10 Hijriyah.
2.
Kewajiban ibadah
haji adalah sekali dalam seumur hidup, sebagaimana yang dilakukan oleh
Rasulullah saw semasa hidupnya.
3.
Rasulullah saw ingin
mengajarkan kepada umatnya tentang tata cara melaksanakan haji yang diajarkan
oleh Islam setelah diharamkannya beberapa unsur jahiliah, seperti
berdesak-desakan, bersiul-siul, dan bertelanjang saat melakukan tawaf setelah
dibersihkannya semua berhala yang ada di Ka’bah.
4.
Ada
beberapa hal yang dilakukan Rasulullah dalam haji Wada sebagai berikut.
a.
Rasulullah saw ingin bertemu
dengan seluruh Muslimin yang datang kepada beliau dari berbagai penjuru.
b.
Menyampaikan
kepada mereka berbagai ajaran dan prinsip Islam dengan kalimat yang singkat dan
padat.
c.
Menganjurkan
kepada kaum Muslimin untuk menyampaikan semua hal yang telah beliau sampaikan
kepada siapa saja yang belum mendengarnya, di mana pun mereka berada, hingga
datangnya hari Kiamat kelak.
d.
Tujuan
Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji adalah juga untuk memberikan contoh
praktis kepada seluruh umat manusia tentang tata cara menjalankan rukun Islam
yang kelima. Karena itu, khutbah Rasulullah saw pada haji ini banyak menerangkan hukum-hukum haji dan beberapa
prinsip dan ajaran dasar Islam.
5.
Wafatnya
Rasulullah saw adalah normal seperti umumnya manusia lainnya, merasakan sakit
dan derita. Namun, saat sakaratul maut (sakit parah) Rasulullah saw tidak
meninggalkan kewajibannya mendirikan shalat. Karenanya pula di antara wasiat
terakhir Rasulullah saw untuk umatnya adalah jaga shalat.
6.
Menyampaikan
wasiat saat sebelum kematian adalah niscaya, terutama wasiat-wasiat tentang
kebaikan baik untuk keluarga dan anak-anak, maupun orang-orang
terdekat lainnya.
Beberapa Point Penting Ajaran Islam yang Ditegaskan Rasulullah
kepada Umatnya Saat Haji Wada
1.
Pengumuman
tentang hak-hak asasi seorang Muslim bahwa jiwa, darah, harta, dan kehormatan
seorang Muslim adalah suci.
2.
Pemberitahuan
tentang diharamkannya kezaliman, riba, dan seluruh tradisi jahiliah yang
membahayakan.
3.
Pengumuman
tentang hak-hak asasi kaum perempuan dan perintah untuk mengakui keberadaan
perempuan secara baik-baik. Di samping itu, juga ada penjelasan tentang hak-hak
suami yang harus dipenuhi oleh istrinya.
4.
Pemberitahuan
tentang diharamkannya mewasiatkan harta pusaka kepada ahli waris. Disebutkan
juga beberapa hukum harta pusaka sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Qur’an.
5.
Pemberitahuan
tentang diharamkannya mengadopsi anak angkat dan memperlakukannya seperti anak
sendiri atau menisbatkan nama anak tersebut kepada si pengasuh (tabanni).
Hal ini juga merupakan isyarat diharamkannya penisbatan nama seorang anak
kepada seseorang yang bukan ayah kandungnya sendiri.
6.
Penentuan
bahwa nasab seorang anak hasil zina mengikuti orang yang berada di atas kasur
kelahirannya (suami sah ibunya). Adapun pezina atau orang yang menzinai ibu si
anak harus dihukum rajam dan tidak berhak mengakuinya sebagai anak.
7.
Pemberitahuan
kepada seluruh umat Islam bahwa seorang Muslim adalah orang yang mampu menjaga
lisan dan tangannya dari perbuatan yang tidak menyenangkan Muslim lainnya.
Seorang Mukmin adalah orang yang dapat memegang amanat dalam menjaga harta
dan jiwa Muslimin lainnya. Orang yang berhijrah adalah orang-orang yang
berusaha menjauhkan dirinya dari berbagai kesalahan dan dosa, sedangkan Mujahidin adalah
orang yang membimbing jiwanya dengan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada
Allah SWT, menjalankan amanat yang diberikan kepadanya, kemudian
menyampaikan amanat itu kepada orang yang dituju.
8.
Peringatan
bagi seluruh umat Islam untuk tidak berbohong dan menuduh Rasulullah saw pernah berbuat
dusta. Untuk itu, Rasulullah saw bersabda, “Barangsiapa
mendustakan aku, niscaya ia akan kekal di tempatnya di neraka.”
9.
Wasiat
bagi seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada Al-Qur’an dan Sunnah. Rasulullah
saw bersabda, “Dan aku telah
meninggalkan sesuatu, yang jika kalian berpegang teguh padanya, niscaya kalian
tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan sunah Rasul-Nya.”
10.
Pesan
bahwa seluruh Muslim adalah bersaudara. Oleh karena itu, Rasulullah saw mengajarkan
kepada setiap Muslim untuk tidak mengambil harta Muslim lainnya, kecuali dengan
cara yang baik.
11.
Perintah
kepada umat Islam untuk selalu tunduk dan patuh kepada pemimpinnya, apa pun ras, warna
kulit, atau kedudukan sosialnya. Tentunya selama para pemimpin tersebut
berjalan pada koridor yang telah ditetapkan oleh ajaran Allah SWT (Al-Qur’an).
12.
Anjuran
agar kita senantiasa berlomba-lomba hanya dalam ketakwaan dan bukan dalam
kemaksiatan.
13.
Pesan
agar kita berlemah-lembut kepada orang-orang yang lemah.
14.
Pesan
bahwa ada tiga hal yang dapat menjauhkan hati manusia dari sifat dendam dan
dengki, yakni ikhlas dalam beramal (berbuat hanya karena Allah SWT), mengikuti
nasihat pemimpin, dan terus merapatkan diri dengan barisan kaum Muslimin.
EVALUASI
1.
Tahun berapakah Rasulullah
saw melaksanakan ibadah haji Wada?
2.
Sebutkanlah poin-poin
penting khutbah Rasulullah saw di hadapan para
sahabat pada saat melaksanakan haji Wada!
3.
Siapakah yang menggantikan
Rasulullah saw menjadi imam shalat saat beliau menderita sakit parah menjelang
wafatnya?
4.
Pada hari apa dan tanggal,
bulan dan tahun berapakah Rasulullah saw wafat?
KOMITMEN
1. Memahami
dengan baik perjalanan hidup Rasulullah saw sejak lahir hingga wafatnya.
2. Berusaha
meneladani perilaku dan akhlak Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari.
REFERENSI
1. Arrahiqul
Makhtum, Bahtsun Fis Sirah Annasbawiyah Ala Shahibiha Afdhalis Shalati Was
Salam – terjemahan Sirah
Nabawiyah – Shafiyurrahman al-Mubarakfuri) penerjemah: Suchail Suyuti) cet.
I, Gema Insani Press) Dzulhijjah 1434 H/Oktober 2013)
2. Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah Ma'a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah. Dr. Said Ramadhan al-Buthi, Cetakan I,
September 2015.
3.
Shahih Bukhari, al-Jami al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min Umur
Rasulillah saw wa Sunanihi wa Ayyamihi (Shahih al-Bukhari), Muhammad bin
Ismail Abu Abdillah Al-Bukhari Alja’fi, Dar Touq Annajah, Cet. I,
1422.
4.
Shahih Muslim, al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtasar Binaqli
Anil Adli Ila Rasulillah saw, Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Hasan al-Qusyairu an-Nasisaburi, Dar Ihya
Elturats Alarabi, Beirut.
5.
Ibnu Katsir, Sirah Nabawiyah, Minal Bidayah Wan
Niyah, tahqiq Mustafa Abdul Wahid, Dar el Ma’rifah, Beiurt Lebanon 1395
H/1979 M.
No comments:
Post a Comment