Sunday, March 15, 2026

Haji Wada dan Wafatnya Rasulullah

 

Haji Wada Rasulullah saw

Haji Wada atau Haji Perpisahan merupakan haji terakhir bagi Rasulullah saw yang dilaksanakan pada Dzulhijjah 10 Hijriah (632 Masehi). Tuntas sudah aktivitas dakwah dan penyampaian risalah (ajaran Ilahi) dan pembentukan masyarakat baru berdasarkan pada penetapan uluhiyah (peribadahan) kepada Allah SWT semata dan penafian ibadah kepada selain-Nya, berdasarkan pada kerasulan Nabi Muhammad saw.

Seolah-olah sudah ada bisikan rahasia yang terbetik di hati Rasulullah saw memberitahukan kepada beliau bahwa keberadaannya di dunia ini sudah hampir berakhir. Sehingga ketika beliau mengutus Muadz bin Jabal sebagai amil (penanggung jawab wilayah) ke Yaman tahun 10 H, Rasulullah saw berkata, “Hai Muadz, kamu sepertinya tidak akan menjumpaiku lagi selepas tahun ini dan sepertinya engkau akan melihat masjidku ini (masjid nabawi) dan kuburanku.” Lalu Muadz menangis khawatir akan berpisah dengan Rasulullah saw.

Akhirnya, Rasulullah saw mengumumkan keinginannya untuk menunaikan haji yang mabrur dan disaksikan (para malaikat) ini sehingga banyak orang yang datang ke Madinah. Semuanya berharap dapat menuaikannya bersama Rasulullah saw.  Kaum Muslim mematuhi setiap gerakan, tindakan, dan gerak-gerik Rasulullah saw pada ketika itu dan setiap perbuatan yang dilakukan olehnya menjadi contoh untuk selama-lamanya bagi Muslim di seluruh dunia.

Ibnu Qayyim menyatakan bahwa berdasarkan bukti-bukti yang kuat dan dapat dipercaya, haji diwajibkan pada tahun ke-10 Hijriah. Inilah yang sesuai dengan ajaran Rasulullah saw agar manusia tidak menunda-nunda suatu kewajiban. Terkait dengan kewajiban haji ini, Allah SWT berfirman,

Mengerjakan haji adalah kewajiban manusia terhadap Allah, (yaitu) bagi orang yang sanggup mengadakan perjalanan ke Baitullah. (Ali Imran: 97)

Di dalam catatan sejarah disebutkan bahwa Rasulullah saw sendiri tidak pernah melakukan haji dari Madinah, kecuali yang beliau lakukan pada tahun ke-10 Hijriah. Haji ini kemudian dikenal dengan nama haji balagh (haji penyampaian dakwah Allah), haji Islam (haji penyerahan diri), dan haji wada (haji perpisahan). Pasalnya, haji ini adalah haji terakhir Rasulullah saw bersama kaum Muslimin. Sesudah itu, Rasulullah saw tidak pernah berhaji lagi. Disebut sebagai haji balagh karena pada saat itu Rasulullah menyampaikan ajaran Allah SWT berupa diwajibkannya haji kepada seluruh umat manusia, baik dalam bentuk perkataan maupun perbuatan. Bahkan, tidak ada satu pun unsur dan nilai ajaran Islam, kecuali Rasulullah saw telah menjelaskannya secara terperinci. Ketika Rasulullah saw tengah menerangkan masalah haji kepada seluruh Muslimin yang hadir di Padang Arafah, Allah SWT menurunkan ayat, Pada hari ini telah Ku-sempurnakan untuk kamu agamamu, dan telah Ku-cukupkan kepadamu nikmat-Ku, dan telah Ku-ridai islam itu jadi agama bagimu.(al-Bukhari, nomor 4407; Ibnu Katsir, 4, hlm. 381)

Imam Muslim meriwayatkan dengan sanadnya dari Jabir, ia mengatakan bahwa selama 9 tahun tinggal di Madinah Munawarah, Rasulullah saw belum melaksanakan haji. Kemudian pada tahun ke sepuluh Rasulullah saw mengumumkan hendak melakukan haji. Maka berduyun-duyun orang datang ke Madinah, semua ingin mengikuti Rasulullah saw dan mengamalkan ibadah haji sebagaimana amalan Rasulullah saw.

Pada tanggal 25 Dzulqaidah, Rasulullah saw keluar dari Madinah. Jabir berkata, “Setelah unta yang membawanya sampai di lapangan besar aku lihat sejauh pandangan mata lautan manusia mengitari Rasulullah saw, di depan, belakang, sebelah kiri dan kanan beliau. Rasulullah saw berada di hadapan kami dan di saat itu pula Rasulullah saw menerima wahyu.

Rasulullah saw memasuki kota Mekah dari bagian atas dari jalan Kada hingga tiba di pintu Banu Syaibah. Ketika melihat Ka’bah beliau mengucapkan doa,

Ya, Allah tambahkanlah kemuliaan, keagungan, kehormatan, dan kewibawaan kepada rumah ini. Tambahkanlah pula kemuliaan, kehormatan, kewibawaan, keagungan dan kebajikan kepada orang yang mengagungkannya di antara orang-orang yang mengerjakan haji dan umrah.

Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji seraya mengajarkan manasik dan sunnah-sunnah haji kepada orang-orang yang menunaikan ibadah haji bersamanya. Pada hari Arafah, Rasulullah saw menyampaikan khutbah umum di tengah-tengah kaum Muslimin yang sedang berkumpul di tempat wuquf. Berikut ini adlah teks khutbah beliau,

Wahai manusia, dengarkanlah apa yang hendak kukatakan. Mungkin sehabis tahun ini, aku tidak akan bertemu lagi dengan kalian di tempat ini untuk selama-lamanya. Hai manusia, sesungguhnya darah dan harta benda kalian adalah suci bagi kalian (yakni tidak boleh dinodai oleh siapa pun juga) seperti hari dan bulan suci sekarang ini di negeri kalian ini, Ketahuilah, sesungguhnya segala bentuk perilaku dan tindakan Jahiliyah tidak boleh berlaku lagi. Tindakan menuntut balas atas kematian seseorang sebagaimana yang berlaku di masa Jahiliyah juga tidak boleh berlaku lagi. Tindak pembalasan jahiliyah seperti itu pertama kali kunyatakan tidak berlaku ialah tindakan pembalasan atas kematian Ibnu Rabi’ bin al-Harits.

Riba jahiliyah tidak berlaku, dan riba yang pertama kunyatakan tidak berlaku adalah riba Abbas bin Abdul Muthalib. Sesungguhnya segala macam riba tidak boleh berlaku lagi. “Hai manusia, di engeri kalian ini, setan sudah putus harapan sama sekali untuk dapat disembah lagi. Akan tetapi, masih mengininkan selain itu. Ia akan merasa puas bila kalian melakukan perbuatan yang rendah. Karena itu hendaklah kalian jaga bai-baik agama kalian!

Hai manusia sesungguhnya menunda berlakunya bulan suci akan menambah besarnya kekufuran. Dengan itulah orang-orang kafir menjadi tersesat. Pada tahun yang satu mereka langgar dan pada tahun yang lain mereka sucikan untuk disesuaikan dengan hitungan ynag telah ditetapkan kesuciannya oleh Allah. Kemudian mereka menghalalkan apa yang diharamkan Allah dan mengharamkan apa yang telah dihalalkan Allah.

Sesungguhnya jaman berputar seperti keadaannya pada waktu Allah menciptakan langit dan bumi. Satu tahun adalah dua belas bulan. Empat bulan di antaranya adalah bulan-bulan suci. Tiga bulan berturut-turut: Dzulqa’dah, Dzulhijjah, dan Muharram. Bulan Rajab adalah antara bulan Jumadil Akhir dan bulan Sya’ban. Takutlah Allah dalam memperlakukan kaum perempuan karena kalian mengambil mereka sebagai amanat Allah dan kehormatan mereka dihalalkan bagi kalian dengan nama Allah. Sesungguhnya kalian mempunyai hak atas para istri kalian dan mereka pun mempunyai hak atas kalian. Hak kalian atas mereka ialah mereka sama sekali tidak boleh memasukkan orang yang tidak kalian sukai ke dalam rumah kalian. Jika mereka melakukan hal itu maka pukullah mereka dengan pukulan yang tidak membahayakan. Sedangkan hak mereka atas kalian ialah kalian harus memberi nafkah dan pakaian kepada mereka secara baik.

Maka perhatikanlah perkataanku itu, wahai manusia, sesungguhnya aku telah sampaikan. Aku tinggalkan sesuatu kepada kalian, yang jika kalian pegang teguh, kalian tidak akan tersesat selama-lamanya, yaitu Kitabullah dan Sunnah Nabi-Nya. Wahai manusia, dengarkanlah taatlah sekalipun kalian diperintah oleh seorang hamba sahaya dari Habasyah yang berhitung gruwung, selama ia menjalankan Kitabullah kepada kalian.

Berlaku baiklah kepada para budak kalian. Berilah mereka makan apa yang kalian makan dan berilah pakaian dari jenis pakaian yang sama dengan kalian pakai. Jika mereka melakukan sesuatu kesalahan yang tidak bisa kalian maafkan maka juallah hambah-hamba Allah itu dan janganlah kalian menyiksa mereka. Wahai manusia, dengarkanlah perkataanku dan perhatikanlah! Kalian tahu bahwa setiap orang Muslim adalah saudara bagi orang-orang Muslim yang lain, dan semua kaum Muslimin adalah saudara. Seseorang tidak dibenarkan mengambil sesuatu dari saudaranya kecuali yang telah diberikan kepadanya dengan senang hati, karena itu janganlah kalian menganiaya diri sendiri.

Ya Allah sudahkah kusampaikan? Kalian akan menemui Allah maka janganlah kalian kembali sesudahku menjadi sesat, sebagian kalian memukul tengkuk sebagian yang lain. Hendaklah orang yang hadir menyampaikan kepada yang tidak hadir, barangkali sebagian orang yang menerima kabar (tidak langsung) lebih mengerti daripada orang yang mendengarkannya (secara langsung). Kalian akan ditanya tentang aku maka apakah yang hendak kalian katakan.

Mereka menjawab, “Kami bersaksi bahwa engkau telah menyampaikan (risalah), telah menunaikan dan memberi nasihat. Kemudian seraya menunjuk ke arah langit dengan jari telunjutnya, Rasulullah saw bersabda, “Ya Allah, saksikanlah (tiga kali).

Rasulullah saw tetap tinggal di Arafah hingga terbenam matahari. Pada saat terbenam matahari itu Nabi saw berserta orang-orang yang menyertainya berangkat ke Muzdalifah. Seraya memberikan isyarat dengan tangan kanannya beliau bersabda, Wahai manusia, harap tenang, harap tenang! Kemudian Rasulullah saw menjamak takhir shalat Maghrib dan Isya di Muzdalifah. Sebelum terbit matahari Rasulullah saw berangkat ke Mina, lalu melontar Jumratul Aqabah dengan tujuh batu kecil seraya bertakbir di setiap lontaran. Setelah itu Rasulullah saw pergi ke tempat penyembelihan lalu menyembelih 63 binatang sembelihan (budnah). Kemudian Rasulullah saw menyerahkan kepada Ali untuk menyembelih sisanya sampai genap 100 sembelihan. Setelah itu Rasulullah saw naik kendaraannya berangkat ke Ka’bah (thawaf ifadhah) lalu shalat Dzuhur di Mekah, dan pergi mendatangi Bani Abdul Muthalib ynag sedang mengambil air zamzam lalu bersabda, “Timbalah wahai banu Wabdul Muthalib, kalaulah tidak karena orang-orang berebut bersama kalian, niscaya aku menimba bersama kalian.” Kemudian mereka memberikan setimba air kepadanya dan Rasulullah saw pun minum darinya.

Rasulullah saw menghabiskan hari tasyriq (hari ke 11, 12, dan 13 Dzulhijjah) di Mina untuk menunaikan manasik haji (melontar jumrah), mengajarkan ajaran Islam, berdzikir kepada Allah SWT serta menegakkan sunnah-sunnah suci dari ajaran Nabi Ibrahim, beliau menghapus sisa-sisa kesyirikan dan panji-panjinya. Rasulullah saw juga berkhutbah pada salah satu hari dari hari-hari tasyriq ini yang isinya seperti khutbahnya di hari Nahr (Idul Adha) dan berlangsung setelah turun surah an-Nashr.

Pada hari nafar ats-tsani tanggal 13 dzulhijjah, Rasulullah saw pergi meninggalkan Mina dan singga di kaki gunung perkampungan Bani Kinanah, kawasan al-Abthah (kawasan berpasir dan berkerikil di Mekah). Rasulullah saw menginap selama sehari semalam serta shalat Zhuhur, Maghrib dan Isya di sana. Lalu Rasulullah saw tidur sejenak kemudian meneruskan perjalanan ke Ka’bah dan melakukan thawaf wada’. Rasulullah saw juga memerintahkan hal tersebut kepada para sahabatnya. Akhirnya setelah tuntas melakukan ritual haji Rasulullah saw berangkat kembali ke Madinah demi memulai kembali perjuangan dan kerja keras dengan ikhlas di jalan Allah SWT.

 

Rasulullah saw Wafat

Ketika dakwah telah sempurna dan Islam telah menguasai keadaan, tanda-tanda perpisahan dengan kehidupan dan dengan orang-orang yang masih hidup mulai tampak terasa dalam perasaan Rasulullah saw. Semakin jelas lagi dari perkataan-perkataan dan perbuatan-perbuatannya.

Pada bulan Ramadhan tahun 10 H, Rasulullah saw beritikaf selama dua puluh hari, yang pada tahun-tahun sebelumnya beliau tidak beritikaf kecuali sepuruh hari saja, dan Malaikat Jibril bertadarus Al-Qur’an dengan beliau sebanyak dua kali.

Di awal bulan safar tahun 11 H, beliau pergi menuju Uhud, kemudian  melakukan shalat untuk para syuhada, sebagai ungkapan perpisahan bagi orang-orang yang masih hidup dan yang telah mati. Kemudian beranjak menuju mimbar dan bersabda,Susungguhnya aku akan mendahului kalian dan menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, seungguhnya aku sekarang benar-banr melihat telagaku, dan telah diberikan kepadaku kuncu-kunci perbendaharaan bumi atau kunci-kunci bumi, dan demi Allah, sesungguhnya aku tidak mengkhawatirkan kelian akan melakukan kesyirikan sepeninggalku nanti, akan tetapi yang aku khawatirkan terhadap kalian adalah kalai kalian berlomba-lomba di dalam merebut kekayaan dunia.

Pada pertengahan suatu malam, Rasulullah saw keluar menuju kuburan Baqi untuk memohonkan ampunan bagi mereka.

Pada tanggal 28 atau 29 bulan safar tahun 11 H, Rasulullah saw menghadiri jenazah seorang sahabat di Baqi. Ketika kembali di tengah perjalanan Rasulullah saw merasakan pusing di kepalanya dan panas mulai merambat pada sekujur tubuhnya sampai-sampai mereka (para sahabat) dapat merasakan pengaruhnya pada sorban yang beliau pakai. Rasulullah saw shalat bersama para sahabat dalam keadaan sakit selama sebelas hari, sedangkan jumlah sakit beliau adalah 13 atau 14 hari.

Al-Bukhari dan Muslim mneriwayatkan dari Urwah bahwa Aisyah mengabarkan sesungguhnya Rasulullah saw apabila merasakan sakit beliau meniup dirinya sendiri dengan mu’awwidzat dan mengusapkan dengan tangannya. Ketika mengalami sakit kepala yang kemudian disusul kematiannya, itu akulah yang meniup dengan mu’awwidzat yang biasa digunakannya lalu aku usap dengn tangan Rasulullah saw.

Para istri beliau memahami keinginan Rasulullah saw untuk dirawat di rumah Aisyah karena mereka tahu Rasulullah saw sangat mencintainya dan merasa tenteram dirawat olehnya. Dengan izin dari para istri beliau akhirnya Rasulullah saw dipindahkan ke rumah Aisyah dan rumah Maimunah dengan dipapah oleh al-Fadhal dan Ali bin Abi Thalib.

Di rumah Aisyah, sakit Rasululah saw semakin bertambah keras. Mengetahui para sahabatnya sudah mulai cemas dan bersedih karena dirinya maka Rasulullah saw bersabda, Siramkanlah aku dengan tujuh qirbah air karena aku ingin keluar berbicara kepada mereka.” Aisyah berkata, “Kemudian aku dudukkan Rasulullah saw di tempat mandi lalu kami guyur dengan tujuh qirbah air tersebut sampai beliau mengisyaratkan dengan tangannya itu cukup. Kemudian Rasulullah saw keluar dan berkhutbah kepada mereka. Rasulullah saw keluar dengan kepala terasa pusing lalu duduk di atas mimbar. Pertama-tama Rasulullah saw berdoa dan memintakan ampunan untuk para Mujahidin Uhud, lalu bersabda, “Seorang hamba diberi pilihan oleh Allah, antara diberi kekayaan dunia atau apa yang ada di sisi-Nya, lalu hamba itu memilih apa yang ada di sisi-Nya.

Serta merta Abu Bakar menangis (karena mengetahui apa yang dimaksud Rasulullah saw) seraya berkata dengan suara keras, “Kami tebus engkau dengan bapak-bapak dan ibu-ibu kami.” Kemudian Nabi saw bersabda, Tunggu sebentar wahai Abu Bakar! Wahai manusia sesungguhnya orang yang paling bermurah hati kepadaku dalam hartanya dan persahabatannya ialah Abu Bakar. Seandainya aku hendak mengangkat orang sebagai khalil (teman kesayangan) maka Abu Bakarlah khalilku, akan tetapi persaudaraan ynag sejati adalah persaudaraan Islam. Tidak boleh ada Khaukah (lorong) di masjid kecuali Khaukah (lorong) Abu Bakar. Sesungguhnya aku adalah tanda pemberi petunjuk bagi kalian dan aku menjadi saksi atas kalian. Demi Allah, sesungguhnya sekarang ini aku melihat telagaku. Sesungguhnya aku telah diberi kunci-kunci dunia. Demi Allah , aku khawatir kalian akan menjadi musyrik sesudahku tetapi aku khawatir kalian akan berlomba-lomba memperebutkan dunia.

Kemudian Rasulullah saw kembali ke rumah dan sakitnya bertambah berat. Aisyah berkata, “Pada waktu sakit, Rasulullah saw pernah berkata kepadaku, ‘Panggillah kemari Abu Bakar, bapakmu dan saudaramu, sehingga aku menulis sesuatu wasiat. Sebab aku khawatir ada orang yang berambisi mengatakan aku lebih berhak, padahal Allah dan orang-orang Mukmin tidak rela kecuali Abu Bakar.’”

Ibnu Abbas meriwayatkan mengatakan ketika Rasulullah saw sedang sakit keras, beliau bersabda kepada orang-orang yang ada di dalam rumah, “Kemarilah aku tuliskan sesuatu wasiat untuk kalian di mana kalian tidak akan sesat sesudahnya.” Kemudian sebagian mereka berkata, “Sesungguhnya Rasululah saw dalam keadaan sakit keras sedangkan di sisi kalian ada Al-Qur’an, cukuplah bagi kita Kitab Allah. Maka timbullah perselisihan di antara orang-orang yang ada di dalam rumah. Di antara mereka ada yang berkata, “Mendekatlah, beliau hendak menulis suatu wasiat buat kalian di mana kalian tidak akan sesat sesudahnya. Di antara mereka ada juga yang mengatakan selain itu.

Mendengar perselisihan itu bertambah sengit dan gaduh akhirnya Rasulullah saw bersabda, “Bangkitlah kalian. Ketika Rasulullah saw sudah tidak kuat lagi keluar untuk mengimami shalat maka beliau bersabda, Perintahkanlah Abu Bakar untuk mengimami shalat.” Aisyah menyahut, “Wahai Rasulullah, sesungguhnya Abu Bakar seorang yang lembut. Jika dia menggantikanmu maka suaranya tidak dapat didengar oleh orang. Rasulullah saw bersabda, Kalian memang seperti perempuan-perempuan Yusuf. Perintahkan Abu Bakar supaya mengimami shalat jama’ah.”

Setelah itu Abu Bakarlah yang bertindak sebagai imam shalat jama’ah. Pada suatu hari, ketika Rasulullah saw merasa sudah agak enak badan Rasulullah saw keluar kemudian mendapati Abu Bakar sedang mengimami shalat jama’ah. Melihat kedatangan Rasulullah saw ini lalu Abu Bakar mundur tetapi diberi isyarat oleh Rasulullah saw agar tetap di tempatnya. Kemudian Rasulullah saw duduk di samping Abu Bakar lalu shalat mengikuti shalat Rasulullah saw yang dilakukannya dengan duduk itu, sementara itu orang-orang shalat mengikuti shalat Abu Bakar.

Orang-orang merasa gembira karena melihat Rasulullah saw tersebut, tetapi sebenarnya sakit beliau semakin bertambah serius dan rupanya hal itu merupakan kesempatan terakhir Rasulullah saw keluar melakukan shalat bersama orang banyak.

Ibnu Mas’ud meriwayatkan, “Aku pernah masuk membesuk Rasulullah saw ketika beliau sedang sakit keras , lalu aku pegang beliau dengan tanganku seraya berkata, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya engkau mengalami demam panas sekali.’ Rasulullah saw menjawab, Ya, demam yang kurasakan sama dengan yang dirasakan oleh dua orang dari kalian (dua kali lipat).” Aku katakan, Apakah hal ini karena engkau mendapatkan dua pahala? Rasulullah saw menjawab, “Ya, tidaklah seorang Muslim menderita sakitnya itu kecuali gugur kesalahan-kesalahannya sebagaimana daun berguguran dari pohonnya.”

Walaupun penyakit yang diderita sangat parah, beliau masih sempat menunaikan semua shalatnya bersama jamaah para sahabatnya. Ketika beranjak waktu dhuha, Rasulullah saw memanggil Fatimah, kemudian membisikkan sesuatu kepadanya dan ia pun menangis. Kemudian memanggilnya lagi dan membisikkan sesuatu yang lainnya, ia pun tertawa. Aisyah berkata, “Kami menanyakan kepadanya tentang hal itu, yakni pada hari berikutnya dan Fathimah menjawab, ‘Rasulullah saw membisikkan kepadaku bahwa beliau akan meninggal pada sakit yang beliau derita saat itu sehingga aku pun menangis. Kemudia Rasulullah saw membisikkan kepadaku bahwa aku yang pertama kali dari keluarganya yang mengikutinya (meninggal) sehingga aku tertawa.’ Rasulullah saw memberikan kabar gembira kepada Fathimah bahwa ia adalah penghulu para petempuan di dunia.”

Setelah itu, Rasulullah saw memanggil Hasan dan Husein, kemudian mencium keduanya dan berwasiat kepada mereka untuk selalu berbuat baik. Selanjutnya, Rasulullah saw memanggil istri-istrinya kemudian menasihati mereka dan mengingatkan mereka.

Dalam keadaan sakit keras seperti itu Rasulullah saw menutupi wajahnya dengan kain. Apabila dirasakan sakit sekali maka beliau membuka wajahnya lalu bersabda, “Semoga laknat Allah ditimpahkan ke atas orang-orang Yahudi dan Nasrani ynag menjadikan kuburan para nabi mereka sebagai masjid. Seolah-olah Rasulullah saw memperingatkan kaum Muslimin dari tindakan seperti itu. Rasulullah saw mengingatkan akan sesatnya perbuatan mereka. “Tidak boleh ada dua agama di bumi Arab ini.”

Terakhir Rasulullah saw juga berwasiat kepada manusia seraya berkata,Jagalah shalat! Jagalah shalat! Dan budak-budak kalian (jangan sekali-kali kalian abaikan).” Beliau mengulang-ulangnya hingga beberapa kali. Detik-detik kematian telah tiba, Aisyah menyandarkan tubuh Rasulullah saw kepadanya, ia berkata, “Termasuk di antara nikmat Allah SWT yang diberikan kepadaku adalah Rasulullah saw wafat di rumahku, di antara paru-paruku dan tenggorokanku. Allah SWT mengumpulkan antara ludahku dan ludahnya pada saat kematiannya.” Saat itu, Rasulullah saw meminta kepada Abdurrahman bin Abi Bakar untuk mengambilkan untuknya siwak. Rasulullah saw pun bersiwak dengan sebaik-baiknya. Lalu setelah itu, Rasulullah saw memasukkan kedua tangannya ke dalam air kemudian mengusapkannya ke wajahnya lalu berkata, “Laa ilaha illallah, sesungguhnya kematian itu mengalami sekarat.” Lalu beliau melanjutkan perkataannya, “Bersama-sama dengan orang-orang yang telah Engkau angugerahi nikmat yaitu para nabi, ash-shiddiqin, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang shalih. Ya Allah, ampunilah dan kasihanilah aku, pertemukan aku dengan Ar-Rasfik al-A’la (para nabi yang tinggal di ‘Illiyyin yang paling tingga).” Beliau mengulangi kalimat yang terkhir  ini tiga kali. Kemudian tangannya miring dan beliau pada akhirnya berjumpa dengan ar-Rafiq al-A’la.

Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kejadian ini berlangsung pada waktu dhuha sedang panas-panasnya, yaitu pada hari Senin tanggal 12 Rabiul Awal tahun 11 H. Umur beliau saat itu telah mencapai 63 tahun lebih empat hari. Pada hari Selasa, para sahabat memandikan Rasulullah saw tanpa melepaskan pakaiannya, orang-orang yang memandikannya adalah al-Abbas,  Ali bin Abi Thalib, Fadhl bin Abbas, Qatsam bin Abbas, Usamah bin Zaid, dan Aus bin Khauli.

Badan Rasulullah saw dibasuh dengan air dan bidara tiga kali basuhan, dan dimandikan dari air sumur yang bernama al-Ghars milik Sa’ad bin Haitsamah di Quba tempat Rasulullah saw pernah meminum air dari sumur tersebut. Kemudian mereka mengkafaninya dengan tiga helai tenunan Yaman. Kain itu berwarna putih terbuat dari katun tanpa baju dan tanpa surban. Mereka mengenakan pakaian tersebut padanya satu per satu secara berlapis.

Mereka berselisih tentang tempat pemakamannya, Abu Bakar berkata, “Sesungguhnya aku telah mendengar Rasulullah saw bersabda, ‘Tidaklah seorang nabi wafat kecuali dikubur di tempat ia wafat.” Kemudian Abu Thalhah mengangkat kasur yang dipakai Rasulullah saw pada saat meninggal kemudian ia menggali tanah yang ada di bawahnya dan membentuk liang lahat.

Orang-orang memasuki kamar secara bergantian sepuluh-sepuluh. Mereka menshalatkan Rasululah saw secara sendiri-sendiri tanpa ada seorang yang mengimami mereka. Pertama kali yang menshalatkan adalah keluarganya, kemudian orang-orang Muhajirin, setelah itu orang-orang Anshar. Para perempuan menshalatkannya setelah kaum laki-laki, setelah itu anak-anak kecil atau anak-anak kecil dahulu kemudian para perempuan.

Allahumma shalli ala sayyidina Muhammad, allahumma shalli ala sayyidina Muhammad wa barik alaihi.

 

KESIMPULAN

Dari materi Haji Wada dan Wafatnya Rasulullah saw dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini.

1.     Syariat telah yang ditetapkan Allah SWT adalah ibadah haji, yaitu pada tahun ke-10 Hijriyah.

2.     Kewajiban ibadah haji adalah sekali dalam seumur hidup, sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah saw semasa hidupnya.

3.     Rasulullah saw ingin mengajarkan kepada umatnya tentang tata cara melaksanakan haji yang diajarkan oleh Islam setelah diharamkannya beberapa unsur jahiliah, seperti berdesak-desakan, bersiul-siul, dan bertelanjang saat melakukan tawaf setelah dibersihkannya semua berhala yang ada di Kabah.

4.     Ada beberapa hal yang dilakukan Rasulullah dalam haji Wada sebagai berikut.

a.      Rasulullah saw ingin bertemu dengan seluruh Muslimin yang datang kepada beliau dari berbagai penjuru.

b.     Menyampaikan kepada mereka berbagai ajaran dan prinsip Islam dengan kalimat yang singkat dan padat.

c.      Menganjurkan kepada kaum Muslimin untuk menyampaikan semua hal yang telah beliau sampaikan kepada siapa saja yang belum mendengarnya, di mana pun mereka berada, hingga datangnya hari Kiamat kelak.

d.     Tujuan Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji adalah juga untuk memberikan contoh praktis kepada seluruh umat manusia tentang tata cara menjalankan rukun Islam yang kelima. Karena itu, khutbah Rasulullah saw pada haji ini banyak menerangkan hukum-hukum haji dan beberapa prinsip dan ajaran dasar Islam.

5.     Wafatnya Rasulullah saw adalah normal seperti umumnya manusia lainnya, merasakan sakit dan derita. Namun, saat sakaratul maut (sakit parah) Rasulullah saw tidak meninggalkan kewajibannya mendirikan shalat. Karenanya pula di antara wasiat terakhir Rasulullah saw untuk umatnya adalah jaga shalat.

6.     Menyampaikan wasiat saat sebelum kematian adalah niscaya, terutama wasiat-wasiat tentang kebaikan baik untuk keluarga dan anak-anak, maupun orang-orang terdekat lainnya.

 

Beberapa Point Penting Ajaran Islam yang Ditegaskan Rasulullah kepada Umatnya Saat Haji Wada

1.     Pengumuman tentang hak-hak asasi seorang Muslim bahwa jiwa, darah, harta, dan kehormatan seorang Muslim adalah suci.

2.     Pemberitahuan tentang diharamkannya kezaliman, riba, dan seluruh tradisi jahiliah yang membahayakan.

3.     Pengumuman tentang hak-hak asasi kaum perempuan dan perintah untuk mengakui keberadaan perempuan secara baik-baik. Di samping itu, juga ada penjelasan tentang hak-hak suami yang harus dipenuhi oleh istrinya.

4.     Pemberitahuan tentang diharamkannya mewasiatkan harta pusaka kepada ahli waris. Disebutkan juga beberapa hukum harta pusaka sebagaimana yang termaktub di dalam Al-Quran.

5.     Pemberitahuan tentang diharamkannya mengadopsi anak angkat dan memperlakukannya seperti anak sendiri atau menisbatkan nama anak tersebut kepada si pengasuh (tabanni). Hal ini juga merupakan isyarat diharamkannya penisbatan nama seorang anak kepada seseorang yang bukan ayah kandungnya sendiri.

6.     Penentuan bahwa nasab seorang anak hasil zina mengikuti orang yang berada di atas kasur kelahirannya (suami sah ibunya). Adapun pezina atau orang yang menzinai ibu si anak harus dihukum rajam dan tidak berhak mengakuinya sebagai anak.

7.     Pemberitahuan kepada seluruh umat Islam bahwa seorang Muslim adalah orang yang mampu menjaga lisan dan tangannya dari perbuatan yang tidak menyenangkan Muslim lainnya. Seorang Mukmin adalah orang yang dapat memegang amanat dalam menjaga harta dan jiwa Muslimin lainnya. Orang yang berhijrah adalah orang-orang yang berusaha menjauhkan dirinya dari berbagai kesalahan dan dosa, sedangkan Mujahidin adalah orang yang membimbing jiwanya dengan berusaha sekuat tenaga untuk taat kepada Allah SWT, menjalankan amanat yang diberikan kepadanya, kemudian menyampaikan amanat itu kepada orang yang dituju.

8.     Peringatan bagi seluruh umat Islam untuk tidak berbohong dan menuduh Rasulullah saw pernah berbuat dusta. Untuk itu, Rasulullah saw bersabda, Barangsiapa mendustakan aku, niscaya ia akan kekal di tempatnya di neraka.

9.     Wasiat bagi seluruh umat Islam agar berpegang teguh kepada Al-Quran dan Sunnah. Rasulullah saw bersabda, Dan aku telah meninggalkan sesuatu, yang jika kalian berpegang teguh padanya, niscaya kalian tidak akan tersesat, yaitu Kitab Allah dan sunah Rasul-Nya.

10.  Pesan bahwa seluruh Muslim adalah bersaudara. Oleh karena itu, Rasulullah saw mengajarkan kepada setiap Muslim untuk tidak mengambil harta Muslim lainnya, kecuali dengan cara yang baik.

11.  Perintah kepada umat Islam untuk selalu tunduk dan patuh kepada pemimpinnya, apa pun ras, warna kulit, atau kedudukan sosialnya. Tentunya selama para pemimpin tersebut berjalan pada koridor yang telah ditetapkan oleh ajaran Allah SWT (Al-Quran).

12.  Anjuran agar kita senantiasa berlomba-lomba hanya dalam ketakwaan dan bukan dalam kemaksiatan.

13.  Pesan agar kita berlemah-lembut kepada orang-orang yang lemah.

14.  Pesan bahwa ada tiga hal yang dapat menjauhkan hati manusia dari sifat dendam dan dengki, yakni ikhlas dalam beramal (berbuat hanya karena Allah SWT), mengikuti nasihat pemimpin, dan terus merapatkan diri dengan barisan kaum Muslimin.

 

EVALUASI

1.     Tahun berapakah Rasulullah saw melaksanakan ibadah haji Wada?

2.     Sebutkanlah poin-poin penting khutbah Rasulullah saw di hadapan para sahabat pada saat melaksanakan haji Wada!

3.     Siapakah yang menggantikan Rasulullah saw menjadi imam shalat saat beliau menderita sakit parah menjelang wafatnya?

4.     Pada hari apa dan tanggal, bulan dan tahun berapakah Rasulullah saw wafat?

 

KOMITMEN

1.     Memahami dengan baik perjalanan hidup Rasulullah saw sejak lahir hingga wafatnya.

2.     Berusaha meneladani perilaku dan akhlak Rasulullah saw dalam kehidupan sehari-hari.

 

 

REFERENSI

1.     Arrahiqul Makhtum, Bahtsun Fis Sirah Annasbawiyah Ala Shahibiha Afdhalis Shalati Was Salam – terjemahan Sirah Nabawiyah – Shafiyurrahman al-Mubarakfuri) penerjemah: Suchail Suyuti) cet. I, Gema Insani Press) Dzulhijjah 1434 H/Oktober 2013)

2.     Fiqh as-Sirah an-Nabawiyyah Ma'a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah. Dr. Said Ramadhan al-Buthi, Cetakan I, September 2015.

3.     Shahih Bukhari, al-Jami al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min Umur Rasulillah saw wa Sunanihi wa Ayyamihi (Shahih al-Bukhari), Muhammad bin Ismail Abu Abdillah Al-Bukhari Alja’fi, Dar Touq Annajah, Cet. I, 1422.

4.     Shahih Muslim, al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtasar Binaqli Anil Adli Ila Rasulillah saw, Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Hasan al-Qusyairu an-Nasisaburi, Dar Ihya Elturats Alarabi, Beirut.

5.     Ibnu Katsir, Sirah Nabawiyah, Minal Bidayah Wan Niyah, tahqiq Mustafa Abdul Wahid, Dar el Ma’rifah, Beiurt Lebanon 1395 H/1979 M.

No comments:

Post a Comment

Perang Hunain