Friday, March 27, 2026

Nahdhah Al Tunisia

Gerakan Arah Islam di Tunisia adalah sebuah gerakan Islam yang berdiri berdasarkan metodologi pemikiran Ikhwanul Muslimin di dunia Islam. Gerakan ini muncul sebagai reaksi rakyat terhadap ekstremisme sekular yang tercermin dalam sikap meremehkan Islam, nilai-nilainya, dan hukum-hukumnya, serta sebagai akibat dari memburuknya kondisi ekonomi dan meluasnya tirani politik. Gerakan ini dipelopori oleh Rasyid al-Ghannoushi, Abdul Fattah Mourou, dan Hamida al-Nayfar. Sejumlah pemuda berkumpul di sekitar mereka dan bersama-sama membentuk inti awal penyebaran gagasan Islam. Masjid, lembaga pendidikan, dan universitas menjadi sumber utama bagi gerakan Islam ini, yang terus melanjutkan perjuangannya melawan simbol-simbol ketergantungan dan westernisasi. Gerakan ini tetap aktif di arena Tunisia hingga dikeluarkannya keputusan pembubarannya serta dimulainya penangkapan terhadap para pemimpin dan pemudanya di bawah pemerintahan yang berkuasa saat itu. Namun demikian, gerakan ini tetap independen dalam pengambilan keputusannya, dan masih memiliki keberadaan di dalam dan luar Tunisia meskipun mengalami pengejaran.

Pendirian dan Tokoh-Tokoh Utama:
Gerakan Arah Islam didirikan pada tahun 1969 di Tunisia setelah serangkaian peristiwa yang bertujuan menghapus identitas Islam Tunisia. Di antara tokoh-tokoh utama gerakan ini adalah:

Dr. Rasyid al-Ghannoushi:
Ia adalah pendiri Gerakan Arah Islam. Ia lahir di kota Al-Hammah di wilayah Gabes, di bagian tenggara Tunisia pada tahun 1939, dan menempuh pendidikan di Damaskus. Ia menyelesaikan pendidikan tinggi di bidang filsafat dan pendidikan di Prancis. Ia beberapa kali ditangkap pada akhir tahun 1970-an, dan diadili pada musim panas tahun 1981 dengan hukuman sepuluh tahun penjara. Ia kemudian dibebaskan pada tahun 1984, namun ditangkap kembali pada 9 Maret 1987. Setelah dibebaskan, ia keluar dari negaranya dan kini tinggal di luar negeri.

Syaikh Abdul Fattah Mourou:
Ia adalah sekretaris jenderal Gerakan Arah Islam. Ia lahir pada tahun 1948 di Tunisia, memperoleh gelar sarjana hukum pada tahun 1970, dan bekerja sebagai hakim hingga tahun 1977, kemudian beralih ke profesi pengacara. Ia bertemu dengan Rasyid al-Ghannoushi pada tahun 1969, dan keduanya bersepakat untuk berdakwah dan bekerja untuk Islam. Mereka berdua dipengaruhi oleh pemikiran Sayyid Qutb—semoga Allah merahmatinya. Ketika gerakan mengalami masa sulit pada masa pemerintahan Ben Ali (pengganti Bourguiba) pada tahun 1412 H/1992 M, ia memisahkan diri dari gerakan dan membentuk kelompok baru.

Peristiwa dan Perkembangan Gerakan:
Sejak Bourguiba pada tahun 1945—dua tahun sebelum kemerdekaan—mengumumkan niatnya untuk mendirikan pemerintahan sekuler di negara tersebut, ia bersama partainya benar-benar berupaya mencabut seluruh unsur keislaman dari negara. Pada tahun 1957 diberlakukan undang-undang status personal yang memutuskan hubungannya dengan syariat Islam dalam urusan keluarga. Pada tahun 1958, wakaf umum dihapuskan. Pada tahun 1959, pendidikan agama dilarang. Pada tahun 1960, Bourguiba melancarkan kampanye melawan puasa. Pada tahun 1962, kalender Hijriah dihapuskan. Pada tahun 1965 dibuka klub nudis pertama. Pada tahun 1968 mulai dilakukan penghapusan busana Islami bagi perempuan Muslim. Pada tahun 1969 dimulai kampanye penutupan masjid. Pada tahun 1974, Bourguiba mulai memberikan ceramah yang menentang nilai-nilai Islam serta menyerang Al-Qur’an, Sunnah Nabi, adab syar’i, dan tradisi Islam.

Sebagai akibat dari peristiwa-peristiwa tersebut, sebagian orang yang memiliki kepedulian terhadap Islam, di antaranya Syaikh Rasyid al-Ghannoushi dan Abdul Fattah Mourou, bergerak untuk menghadapi serangan keras ini dan mendirikan Gerakan Arah Islam pada tahun 1969.

Allah kemudian memberkahi dakwah Islam tersebut, sehingga para pemuda dari berbagai kalangan, termasuk mahasiswa, bergabung ke dalamnya. Tampaklah tanda-tanda keislaman pada mereka, seperti memelihara janggut, mengenakan pakaian syar’i, dan lain sebagainya.

Tujuan Gerakan Arah Islam di Tunisia:

  1. Menghidupkan kembali kepribadian Islam Tunisia agar dapat kembali menjalankan perannya sebagai basis besar peradaban Islam di Afrika, serta mengakhiri keadaan ketergantungan, keterasingan, dan kesesatan.
  2. Memperbarui pemikiran Islam berdasarkan prinsip-prinsip dasar Islam yang tetap dan sesuai dengan tuntutan perkembangan zaman, serta memurnikannya dari sisa-sisa masa kemunduran dan pengaruh westernisasi.
  3. Mengembalikan hak rakyat untuk menentukan nasibnya sendiri, jauh dari segala bentuk dominasi internal maupun hegemoni eksternal.
  4. Membangun kembali kehidupan ekonomi berdasarkan prinsip-prinsip kemanusiaan dan mendistribusikan kekayaan secara adil berdasarkan prinsip Islam: “seseorang sesuai dengan usaha dan kebutuhannya”, yaitu bahwa setiap individu berhak menikmati hasil usahanya dalam batas kepentingan masyarakat, serta memperoleh kebutuhannya dalam segala keadaan, sehingga masyarakat dapat memperoleh haknya yang sah untuk hidup layak, jauh dari segala bentuk eksploitasi dan ketergantungan pada kekuatan ekonomi internasional.
  5. Gerakan tersebut turut berkontribusi dalam membangkitkan kembali entitas politik dan peradaban Islam pada tingkat lokal, Maghribi, Arab, dan global, sehingga umat kita dan seluruh umat manusia dapat diselamatkan dari kondisi keterpurukan berupa kegelisahan jiwa, ketidakadilan sosial, dan dominasi internasional.

Gerakan ini menempuh berbagai sarana untuk mewujudkan tugas-tugas tersebut. Di antaranya adalah menghidupkan kembali fungsi masjid sebagai pusat ibadah dan mobilisasi massa secara menyeluruh, sebagaimana peran masjid pada masa kenabian, serta sebagai kelanjutan dari peran yang pernah dijalankan oleh Masjid Agung, yaitu Masjid Zaitunah, dalam menjaga identitas Islam dan memperkuat posisi negeri sebagai pusat penyinaran peradaban dunia. Selain itu, gerakan ini juga mengaktifkan kegiatan intelektual dan kebudayaan, seperti menyelenggarakan seminar, mendorong penulisan dan penerbitan, mengakar dan merumuskan konsep serta nilai-nilai Islam dalam bidang sastra dan budaya secara umum, mendorong penelitian ilmiah, serta mendukung media yang berkomitmen agar menjadi alternatif bagi media yang penuh kemerosotan moral dan kemunafikan. Gerakan ini juga mendukung para mahasiswa serta mendorong penggunaan busana syar’i bagi perempuan.

Gerakan ini juga mendukung proses Arabisasi dalam bidang pendidikan dan administrasi, dengan tetap terbuka terhadap bahasa-bahasa asing. Keadaan ini memicu perhatian surat kabar Prancis Le Monde, yang pada tahun 1974 menulis satu halaman penuh memperingatkan Bourguiba tentang fenomena kebangkitan Islam dan bahaya yang ditimbulkannya terhadap kemajuan dan modernitas di Tunisia. Pada tahun yang sama, surat kabar partai yang berkuasa melancarkan kampanye besar-besaran terhadap kaum Islamis, bahkan mengejek mereka, lalu beralih pada ancaman dan intimidasi. Ketika Rasyid al-Ghannoushi mengumumkan pembentukan biro politik terbuka pertama bagi Gerakan Arah Islam dan mengajukan permohonan resmi untuk mendapatkan izin hukum bagi berdirinya partai tersebut, gerakan ini pun memasuki arena politik dan sejak saat itu dimulailah perang terhadapnya.

Pada tahun 1981, pintu-pintu penjara dibuka bagi para aktivis gerakan Islam, dan dijatuhkan hukuman penjara terhadap sekitar 200 orang dengan tuduhan-tuduhan yang direkayasa. Pada tahun 1984, para anggota Gerakan Arah Islam dibebaskan, namun mereka kehilangan hak untuk bekerja, surat kabar Islam mereka dilarang, dan kegiatan pengajian di masjid juga dicegah. Pada tahun 1986, Bourguiba mengumumkan bahwa ia akan mendedikasikan sepuluh tahun berikutnya dari hidupnya untuk memerangi Gerakan Arah Islam. Pada tahun 1987 (Rajab 1407 H), para anggota gerakan kembali dimasukkan ke dalam penjara-penjara Tunisia.

Pada tahun yang sama, Bourguiba jatuh dan secara politik berakhir oleh pengaruh Gerakan Arah Islam. Kemudian Ben Ali datang sebagai pengganti Bourguiba, dan kaum Muslimin sempat berharap baik kepadanya. Namun, ia kemudian mengikuti kebijakan Bourguiba dalam memerangi Gerakan Arah Islam. Hingga tahun 1417 H, para anggota gerakan berada dalam kondisi antara dipenjara dan diburu.

Adapun prinsip-prinsip dan pemikiran gerakan ini, sebagaimana tercantum dalam pernyataan pendiriannya, adalah bahwa gerakan bekerja untuk mewujudkan sejumlah tugas, di antaranya mendukung media yang berkomitmen sebagai alternatif dari media yang penuh kemerosotan dan kemunafikan, serta mendukung Arabisasi dalam bidang pendidikan dan administrasi dengan tetap memperhatikan bahasa asing. Gerakan ini juga menolak kekerasan sebagai alat perubahan, dan menekankan bahwa konflik harus didasarkan pada prinsip musyawarah sebagai cara penyelesaian dalam bidang pemikiran, budaya, dan politik. Gerakan ini menolak prinsip monopoli kekuasaan oleh satu pihak, karena hal itu mematikan kehendak manusia, melemahkan potensi rakyat, dan mendorong negara ke arah kekerasan. Gerakan ini mengakui hak semua kekuatan rakyat untuk menjalankan kebebasan berekspresi, berkumpul, dan hak-hak sah lainnya, serta bekerja sama dengan seluruh kekuatan nasional dalam hal tersebut.

Gerakan ini juga berupaya merumuskan konsep-konsep sosial Islam dalam bentuk kontemporer, serta menganalisis realitas ekonomi Tunisia untuk mengidentifikasi bentuk-bentuk ketidakadilan dan sebab-sebabnya, sehingga dapat merumuskan solusi alternatif. Gerakan ini berpihak kepada kaum tertindas, seperti buruh, petani, dan kelompok masyarakat yang terpinggirkan, dalam perjuangan mereka melawan kaum yang sombong dan hidup berlebihan. Selain itu, gerakan ini mendukung aktivitas serikat pekerja dengan menjamin kemandiriannya serta kemampuannya untuk mencapai pembebasan nasional dalam seluruh dimensinya, baik sosial, politik, maupun budaya.

Gerakan ini mengadopsi pemahaman Islam yang menyeluruh serta berkomitmen pada aktivitas politik yang jauh dari sekularisme dan oportunisme. Gerakan ini juga berupaya membebaskan kesadaran Muslim dari kekalahan peradaban di hadapan Barat, serta merumuskan dan mewujudkan gambaran kontemporer sistem pemerintahan Islam yang mampu mengangkat persoalan-persoalan nasional dalam kerangka historis, akidah, dan objektif, baik dalam lingkup Maghribi, Arab, Islam, maupun dunia kaum tertindas secara umum. Gerakan ini juga memperkuat hubungan persaudaraan dan kerja sama dengan seluruh kaum Muslimin di Tunisia, kawasan Maghrib, dan dunia Islam secara keseluruhan, serta mendukung dan membela gerakan-gerakan pembebasan di dunia.

Adapun akar pemikiran dan akidahnya, Gerakan Arah Islam berdiri di atas metodologi Ikhwanul Muslimin di Mesir dan dunia Arab. Metode ini merupakan pendekatan yang moderat dan seimbang, menjauhi kekerasan, serta kembali kepada Al-Qur’an dan Sunnah, dan berupaya menerapkan ijtihad Islam dalam realitas dengan merujuk kepada prinsip-prinsip dasar Islam.

Dalam hal penyebaran dan wilayah pengaruh, pemikiran gerakan ini tersebar khususnya di Tunisia. Pada tahun 1985, gerakan ini mengumumkan pembentukan biro eksekutif ketiga yang dipimpin oleh Prof. Rasyid al-Ghannoushi dengan Abdul Fattah Mourou sebagai sekretaris jenderal, serta anggota lainnya seperti Hammadi Jebali, Habib Ellouze, dan Habib Sweisy. Gerakan ini diakui secara resmi ketika Perdana Menteri Muhammad Mzali menerima mereka di istana pemerintahan, dan seluruh pihak mengakui keberadaan politik nyata dari Gerakan Arah Islam serta terpaksa berinteraksi dengannya. Surat kabar Ar-Ra’y menjadi media publikasi bagi karya-karya beberapa pemikir gerakan seperti Dr. Abdul Majid an-Najjar dan Mohsen al-Mili. Ketika Ben Ali mengambil alih kekuasaan, ia pada awalnya membebaskan tokoh-tokoh gerakan. Namun pada 8 Februari 1989, para pemimpin gerakan terpaksa mengajukan permohonan izin agar gerakan dapat beraktivitas dengan nama baru yaitu “Partai Ennahda”, sesuai dengan undang-undang partai. Akan tetapi, tidak lama kemudian pemerintah mengubah sikapnya dan berbalik memusuhi mereka, lalu segera menangkap banyak pemuda partai dan memenjarakan mereka. Banyak tokoh gerakan pun terpaksa melarikan diri ke luar negeri demi menyelamatkan agama mereka setelah aktivitas gerakan tersebut dibatasi.


Dan dari uraian sebelumnya dapat dipahami bahwa Gerakan Arah Islam di Tunisia adalah sebuah gerakan Islam yang mengadopsi banyak konsep pemikiran dari Gerakan Ikhwanul Muslimin, dan tujuannya adalah menghapus arus sekularisme, membangkitkan kembali kepribadian Islam, memperbarui pemikiran Islam dalam kerangka prinsip-prinsip Islam yang tetap, membangun kembali kehidupan ekonomi di atas dasar-dasar kemanusiaan, serta membangkitkan entitas politik dan peradaban Islam di dalam negeri maupun di luar negeri dalam naungan media Islam yang berkomitmen, dengan penolakan total terhadap kekerasan sebagai alat perubahan, serta menegakkan kekuasaan Islam yang bersifat musyawarah kolektif dan berpihak kepada golongan yang tertindas seperti para pekerja dan petani.

Ketiga: Referensi untuk pendalaman:
Informasi tentang Gerakan Arah Islam di Tunisia — (publikasi luas berbahasa Arab tentang gerakan tersebut).
Pernyataan dan wawancara dari Syaikh Rasyid al-Ghannoushi dan Syaikh Abdul Fattah Mourou — dalam:
Majalah Al-Mujtama‘ Kuwait edisi 15/1/1985 M dan 4/10/1981 M.
Majalah Al-Islah edisi nomor 113 dan 114 pada 1/6/1981 M.
Majalah Al-Ghuraba’ Ramadhan 1407 H / Mei 1987 M.
Majalah Al-Balagh edisi 12/9/1984 dan 23/8/1981 M.
Pernyataan pendirian gerakan pada 6/6/1981 M.
“Gerakan Arah Islam di Tunisia” — Rasyid al-Ghannoushi — diterbitkan oleh Dar al-Qalam — Kuwait 1409 H / 1989 M.

Keempat: Kegiatan pendidikan dan pengajaran yang menyertai:
Berpedoman pada uraian sebelumnya.

Kelima: Evaluasi dan pengukuran diri:
1- Jelaskan definisi Gerakan Arah Islam di Tunisia.
2- Bandingkan gerakan tersebut dengan pemikiran Ikhwanul Muslimin.
3- Kapan gerakan tersebut didirikan?
4- Sebutkan apa yang Anda ketahui tentang pendiri gerakan tersebut.
5- Sebutkan sikap-sikap Bourguiba terhadap Islam.
6- Ringkas tujuan Gerakan Arah Islam di Tunisia.
7- Jelaskan sarana yang digunakan gerakan untuk mencapai tujuannya.
8- Ringkas prinsip-prinsip dan gagasan utama gerakan tersebut.
9- Jelaskan akar pemikiran dan akidah gerakan tersebut.
10- Sebutkan sikap-sikap Ben Ali terhadap gerakan ini.

No comments:

Post a Comment

Salafy