1. Mempertahankan Eksistensi 6 (Peristiwa Mu’tah)
Peristiwa Mu’tah
(Ma’rakah Mu’tah atau Ghazwah
Mu’tah) adalah pertempuran yang
terjadi pada September 629 M atau 5 Jumadil Awal tahun 8 H,
dekat kampung yang bernama Mu’tah, sebuah kampung di dataran rendah provinsi
Balqa di Syam, di sebelah timur
Sungai Yordan
dan al-Karak,
antara pasukan Muslim yang dikirim oleh Rasulullah saw dan pasukan (Bizantim). Jarak antara tempat tersebut dengan Baitul Maqdis sekitar dua
hari perjalanan.
Peristiwa ini merupakan
peristiwa terdahsyat dan peristiwa berdarah terbesar yang pernah kaum Muslimin
lalui semasa Rasulullah saw. Peristiwa merupakan pendahuluan dan persiapan bagi
penaklukkan negeri-negeri kaum Muslimin.
2. Latar Belakang
Latar belakang peristiwa Mu’tah adalah bermula katika Rasulullah
saw mengutus al-Harits bin Umair al-Azdi untuk
menyampaikan surat Rasulullah saw
kepada penguasa Bushra. Kemudian, ia
dihadang oleh Syurahbil bin Amr al-Gasshani, seorang penguasa yang mendapat mandat dari Kaisar atas provinsi Balqa,
salah satu daerah Syam. Lalu, diborgol, kemudian dihadapkan kepada Kaisar yang kemudian memenggal batang lehernya.
Pembunuhan delegasi dan duta merupakan bentuk
tindak kriminal paling keji, setara bahkan melebihi pernyataan kondisi perang
sehingga ketika berita tersebut sampai kepada Rasulullah saw. Rasulullah saw
pun marah besar, kemudian menyiapkan pasukan yang berkekuatan 3.000 prajurit. Ini
adalah pasukan Islam terbesar, belum pernah terkumpul kekuatan seperti itu
sebelumnya kecuali yang terjadi dalam Perang Ahzab (Khandaq).
3.
Wasiat Rasulullah saw kepada Para Panglima Pasukan
Sebelum pasukan Islam berangkat untuk menegakkan panji La ilaha
Illallah, Rasulullah saw
menunjuk tiga orang sahabat sekaligus mengemban amanah komandan secara
bergantian. Apabila komandan sebelumnya gugur dalam
tugas di medan peperangan hingga mengakibatkan tidak dapat meneruskan
kepemimpinan. Sebuah keputusan yang belum pernah dilakukan oleh Rasulullah saw sebelumnya. Mereka adalah Ja’far bin Abi Thalib, Zaid bin Haritsah (berasal
dari kaum Muhajirin), dan seorang sahabat dari Anshar, Abdullah
bin Rawahah, penyair Rasulullah
saw. Kemudian Rasulullah saw mengangkat panji berwarna putih
dan memberikannya kepada Zaid bin Haritsah.
Beliau menyampaikan wasiat kepada mereka agar mendatangi tempat terbunuhnya al-harits
bin Umari dan menyeru penduduk di sana
untuk masuk Islam. Apabila mereka menerima ajakan tersebut (maka itu yang
diharapkan). Jika mereka menolak, harus diperangi
dengan memohon pertolongan Allah SWT terhadap
mereka untuk selanjutnya memerangi mereka. Rasulullah saw bersabda,
اغْزُوا
بِاسْمِ اللَّهِ فِي سَبِيلِ اللَّهِ مَنْ كَفَرَ بِاللَّهِ، لَا تَغْدِرُوا،
وَلَا تَغُلُّوا، وَلَا تَقْتُلُوا وَلِيدًا، وَلَا امْرَأَةً، وَلَا كَبِيرًا
فَانِيًا، وَلَا مُنْعَزِلًا بِصَوْمَعَةٍ، وَلَا تَقْطَعُوا نَخْلًا وَلَا
شَجَرَةً، وَلَا تَهْدِمُوا بِنَاءً.
“Perangilah orang yang kufur kepada
Allah dengan nama Allah di jalan Allah, dan janganlah kalian berbuat khianat
dan mencuri harta rampasan (sebelum dibagi), janganlah membunuh anak-anak, kaum
perempuan, orang yang lanjut
usia serta orang-orang yang menyepi (menyendiri) di biaranya. Janganlah
memotong pohon kurma dan pepohonan lain dan jangan pula menghancurkan bangunan.”
4. Pasukan Islam
Bergerak dan Suasana Menegangkan saat Melihat Pasukan Musuh
Pasukan Islam
yang berjumlah 3.000 personel diberangkatkan. Ketika
mereka sampai di daerah Ma’an, terdengar berita bahwa Heraklius mempersiapkan
100 ribu pasukannya. Selain itu, kaum Nasrani dari beberapa suku Arab pun telah
siap dengan jumlah yang sama. Mendengar kabar yang demikian, sebagian sahabat
mengusulkan supaya meminta bantuan pasukan kepada Rasulullah saw atau dia memutuskan suatu perintah.
Abdullah bin Rawahah lantas mengobarkan semangat juang para sahabat
dengan perkataannya,
يَا قَوْمِ، وَاَللَّهِ إنَّ الَّتِي
تَكْرَهُونَ، لَلَّتِي خَرَجْتُمْ تَطْلُبُونَ الشَّهَادَةُ، وَمَا نُقَاتِلُ
النَّاسَ بِعَدَدِ وَلَا قُوَّةٍ وَلَا كَثْرَةٍ، مَا نُقَاتِلُهُمْ إلَّا بِهَذَا
الدِّينِ الَّذِي أَكْرَمَنَا اللَّهُ بِهِ، فَانْطَلِقُوا فَإِنَّمَا هِيَ إحْدَى
الْحُسْنَيَيْنِ إمَّا ظُهُورٌ وَإِمَّا شَهَادَةٌ. قَالَ: فَقَالَ النَّاسُ: قَدْ
وَاَللَّهِ صَدَقَ ابْنُ رَوَاحَةَ
“Demi
Allah, sesungguhnya perkara yang kalian tidak sukai ini adalah perkara yang
kamu keluar mencarinya, yaitu syahadah (gugur di medan perang di jalan Allah SWT).
Kita itu tidak berjuang karena karena jumlah pasukan atau kekuatan. Kita
berjuang untuk agama ini yang Allah SWT telah memuliakan kita dengannya.
Bergeraklah. Hanya ada salah satu dari dua kebaikan: kemenangan atau gugur
(syahid) di medan perang.”
Para
sahabat pun menanggapinya dengan berkata, “Demi
Allah, Ibnu Rawahah berkata benar.”
Zaid
bin Haritsah, panglima pertama yang ditunjuk Rasulullah saw, kemudian membawa pasukan ke wilayah Mu’tah. Dua pasukan
berhadapan dengan sengit. Komandan pertama ini menebasi anak panah-anak panah
pasukan musuh sampai akhirnya wafat
terbunuh di jalan Allah SWT.
Bendera
pun beralih ke tangan Ja’far bin Abi Thalib. Sepupu Rasulullah saw ini berperang sampai tangan kanannya putus. Bendera dia pegangi
dengan tangan kiri dan akhirnya putus juga oleh tangan musuh. Dalam kondisi
demikian, semangat dia tidak
mengenal surut, saat tetap berusaha mempertahankan bendera dengan cara
memeluknya sampai dia gugur oleh senjata lawan. Berdasarkan keterangan Ibnu
Umar, salah seorang saksi mata yang ikut serta dalam perang itu, terdapat tidak
kurang 90 luka di bagian tubuh depan dia baik akibat tusukan pedang dan anak
panah.
Giliran
Abdullah bin Rawahah pun datang. Setelah menerjang musuh, ajal pun menjemput
dia di medan peperangan.
Tsabit
bin Arqam mengambil bendera yang telah tidak bertuan itu dan berteriak memanggil para sahabat Nabi agar menentukan pengganti yang memimpin kaum Muslimin.
Maka, pilihan mereka jatuh pada Khalid bin Walid. Dengan kecerdikan dan kecemerlangan
siasat dan strategi, setelah
taufik dari Allah SWT, kaum
Muslimin berhasil memukul Romawi hingga mengalami kerugian yang banyak.
5. Pasca Pertempuran
Menyaksikan peperangan yang tidak seimbang antara kaum Muslimin
dengan kaum kuffar, yang merupakan pasukan aliansi antara kaum Nashara Romawi
dan Nashara Arab, secara logis, kekalahan akan dialami oleh para sahabat
Rasulullah saw.
Imam Ibnu Katsir mengungkapkan ketakjubannya terhadap kekuasaan Allah SWT melalui hasil
peperangan yang berakhir dengan kemenangan kaum Muslimin dengan berkata, “Ini
kejadian yang menakjubkan sekali. Dua pasukan bertarung, saling
bermusuhan dalam agama. Pihak pertama pasukan yang berjuang di jalan Allah SWT, dengan kekuatan 3.000 orang. Pihak
lainnya, pasukan kafir yang berjumlah 200 ribu pasukan. Sebanyak 100 ribu orang dari Romawi dan 100
ribu orang dari Nashara Arab. Mereka saling bertarung dan menyerang. Meski
demikian sengitnya, hanya 12 orang yang terbunuh dari pasukan kaum Muslimin.
Padahal, jumlah korban tewas dari kaum musyirikin sangat banyak.”
Allah SWT berfirman,
“Orang-orang yang menyakini bahwa
mereka akan menemui Allah berkata, ‘Berapa banyak terjadi golongan yang
sedikit dapat mengalahkan golongan yang banyak dengan izin Allah? Dan Allah
beserta orang-orang yang sabar.’” (al-Baqarah: 249)
Para ulama sejarah tidak bersepakat pada satu kata mengenai jumlah
syuhada Mu’tah. Namun, yang jelas jumlah mereka tidak banyak. Hanya berkisar
pada angka belasan, menurut hitungan yang terbanyak. Padahal, peperangan Mu’tah
sangat sengit. Ini dapat dibuktikan bahwa Khalid bin Walid menghabiskan 9 pucuk
pedang dalam perang tersebut. Hanya satu pedang yang tersisa, hasil buatan
Yaman. Khalid rahimahullah berkata,
“Telah patah sembilan pedang di tanganku, tidak tersisa kecuali pedang buatan
Yaman.”
Menurut Imam Ibnu Ishaq seorang imam
dalam ilmu sejarah Islam, syuhada perang Mu’tah hanya berjumlah 8 sahabat saja.
Secara terperinci yaitu Ja’far bin Abi Thalib, dan mantan budak Rasulullah saw,
Zaid bin Haritsah al-Kalbi, Mas’ud bin al-Aswad bin Haritsah bin Nadhlah al-Adawi, Wahb bin Sa’d bin Abi Sarh. Sementara dari kalangan kaum Anshar, Abdullah bin
Rawahah, Abbad bin Qais al-Khazarjayyan, al-Harits bin an-Nu’man bin Isaf bin
Nadhlah an-Najjari, Suraqah bin Amr bin Athiyyah bin Khansa al-Mazini.
Di sisi lain, Imam Ibnu Hisyam dengan berlandaskan keterangan az-Zuhri, menambahkan empat nama
dalam deret sahabat Rasulullah saw yang gugur di medan Perang Mu’tah. Yakni,
Abu Kulaib dan Jabir. Dua orang ini saudara sekandung. Ditambah Amr bin Amir, putra Sa’d bin Tsa’labah bin Malik bin Afsha. Mereka juga berasal
dari kaum Anshar. Dengan ini, jumlah syuhada
bertambah menjadi 12 jiwa.
Ibnu Hajar berkata, “Di dalam al-Maghazinya buku
sirah yang sangat terpercaya Musa bin Uqbah menyebutkan, ‘Kemudian panji itu
diambil oleh Abdullah bin Rawahah dan ia pun gugur. Kemudian kaum Muslimin mengangkat Khalid bin Walid (sebagai panglima
perang) dan akhirnya Allah SWT mengalahkan musuh dan memenangkan kaum Muslimin.’ Imad bin Katsir berkata,
‘Dapat disimpulkan bahwa Khalid bin Walid
mengatur strategi dengan membawa mundur kaum Muslimin dan bertahan. Kemudian
keesokkan harinya ia mulai mengubah posisi pasukan, yang tadinya di sayap kanan
dipindahkan ke sayap kiri dan sebaliknya untuk memberikan kesan kepada musuh
kaum Muslimin mendapat bala bantuan. Kemudian Khalid menyerang mereka dan
berhasil memukul mundur, tetapi Khalid tidak mengejar mereka dan melihat
kembalinya kaum Muslimin (ke Madinah) merupakan pampasan yang sangat besar.’”
Menjelang masuk kota
Madinah, mereka disambut oleh Rasulullah saw dan anak-anak yang berhamburan
menjemput mereka. Rasulullah saw bersabda,
“Ambillah anak-anak dan gendonglah mereka.
Berikanlah kepadaku anak Ja’far.” Kemudian dibawalah
Abdullah bin Ja’far dan digendong oleh Rasulullah saw. Orang-orang meneriaki dengan ucapan,
“Wahai orang-orang yang lari! Kalian lari di
jalan Allah.” Tetapi Rasulullah saw membantah,
“Mereka tidak lari (dari medan perang), tetapi mundur untuk menyerang kembali insya
Allah.”
KESIMPULAN
Dari materi Peristiwa Mu’tah
dapat disimpulkan beberapa hal berikut ini.
1.
Wasiat (nasihat) seorang pemimpin adalah sangat penting saat ingin
mengutus pasukan sehingga mampu menjadi arahan dan motivasi yang kuat saat
berhadapan dengan musuh dan bahkan menjadi acuan dalam menjalani tugas
peperangan.
2. Keimanan kepada Allah SWT, sikap tawakal semata-mata
kepada-Nya dan yakin akan janji-Nya, meraih dukungan dari Allah SWT atau surga
kenikmatan yang abadi, seperti dikatakan oleh Abdullah bin Rawahah tidak
berperang mengandalkan banyaknya jumlah pasukan atau besarnya kekuatan, tetapi
semata-mata berdasarkan agama yang dikaruniakan Allah SWT kepada menjadi sumber
utama kemenangan kaum Muslimin dalam berbagai peperangan.
3. Di dalam peperangan ini Khalid telah
menunjukkan suatu kegigihan yang sangat mengagumkan. Imam al-Bukhari meriwayatkan dari Khalid sendiri bahwa ia
berkata, “Dalam Perang Mu’tah, sembilan bilah pedang patah di
tanganku kecuali sebilah pedang kecil dari Yaman.” Ibnu Hajar berkata,
“Hadits ini menunjukkan bahwa kaum Muslimin
telah banyak membunuh musuh mereka.”
EVALUASI
1.
Apa yang Anda ketahui tentang
peristiwa Mu’tah?
2.
Siapakah nama dari tiga orang sahabat yang
diangkat oleh Rasulullah saw sebagai
pimpinan pasukan pada peristiwa Mu’tah?
3.
Siapakah nama sahabat yang menjadi pimpinan
terakhir pasukan pada peristiwa Mu’tah?
KOMITMEN
1.
Memahami dengan baik sirah Nabi tentang
bagaimana Islam melakukan tahapan sebelum melakukan penaklukkan.
2.
Pentingnya keimanan kepada Allah
SWT, sikap tawakal semata-mata kepada-Nya dan
yakin akan janji-Nya dalam manjalani kehidupan.
REFERENSI
1.
(Arrahiqul Makhtum, Bahtsun Fis Sirah Annasbawiyah Ala
Shahibiha Afdhalis Shalati Was Salam – terjemahan Sirah Nabawiyah –
Shafiyurrahman al-Mubarakfuri) penerjemah: Suchail Suyuti) cet. I, Gema Insani
Press) Dzulhijjah 1434 H/Oktober 2013)
2. Fiqh as-Sirah
an-Nabawiyyah Ma'a Mujaz Litarikh al-Khilafah ar-Rasyidah. Dr. Said
Ramadhan al-Buthi, Cetakan I, September 2015.
3.
Shahih Bukhari, al-Jami al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtashar min Umur
Rasulillah saw wa Sunanihi wa Ayyamihi (Shahih al-Bukhari), Muhammad bin
Ismail Abu Abdillah Al-Bukhari Alja’fi,
Dar Touq Annajah, Cet. I, 1422.
4.
Shahih Muslim, al-Musnad ash-Shahih al-Mukhtasar Binaqli
Anil Adli Ila Rasulillah saw, Muslim bin al-Hajjaj Abu al-Hasan al-Qusyairu an-Nasisaburi, Dar Ihya
Elturats Alarabi, Beirut.
No comments:
Post a Comment