Sub Judul: Nasab nabi Musa As
Ia adalah Musa bin Imran bin Yashar
bin Kokhis dan berahir nasabnya kepada nabi Yakub As bin Ishak bin Ibrahim As,
saudara laki-laki adalah Nabi Harun As yang diutus oleh Allah sebagai
pendamping dan penolongnya ketika ia hendak diutus kepada Firaun untuk
menyampaikan risalah Allah, sebagai mana doa yang telah dipanjatkannya dalam
firman Allah surat Thaha /20: 29-32
وَٱجْعَل
لِّى وَزِيرًۭا مِّنْ أَهْلِى ٢٩
هَـٰرُونَ
أَخِى ٣٠
ٱشْدُدْ
بِهِۦٓ أَزْرِى ٣١
وَأَشْرِكْهُ فِىٓ أَمْرِى ٣٢
29. dan
Jadikanlah untukku seorang pembantu dari keluargaku,
30. (yaitu)
Harun, saudaraku,
31.
teguhkanlah dengan Dia kekuatanku,
32. dan
jadikankanlah Dia sekutu dalam urusanku,
Sub Judul: Kelahirannya
Nabi Musa dilahirkan pada masa
penyelewengan besar Firaun musuh Allah, yang terkenal dengan penyimpangan dan
arogansinya, maka Allah mencabut kekuasaaanya, ia mengaku dirinya sebagai
tuhan, dan memproklamirkan penentangan dan pembangkangan seraya mengklaim bahwa
dirinya patut disembah selain Allah.
Adapun nama aslinya adalah Alwalid bin
Musab sedangkan Firaun adalah nama julukannya yang biasa diberikan
pada setiap penguasa negeri Mesir yang diktaktor dan arogan sebagaimana penguasa negeri Persia mendapat julukan kisra
dan penguasa negeri Romawi mendapat julukan kaisar.
Firaun memegang tampuk kekuasaan setelah
saudara laki-lakinya yang bernama Kobus meninggal dunia, yang pernah didakwahi
oleh nabi Yusuf As untuk masuk Islam akan tetapi ia menentang dan menolaknya.
Nabi Yusuf meninggal dunia pada saat masa Kobus yang berkuasa cukup panjang
pada masanya. Tatkala Firaun memegang tampuk kekuasaan, ternyata lebih kufur
dan lebih brutal dari saudaranya Kobus.
Bani Israil hidup pada masa kekuasaannya setelah wafatnya nabi Yusuf As, mereka
menganut sisa-sisa keyakinan nenek moyang mereka yaitu agama nabi Ibrahim yang
hanif, akan tetapi setelah Firaun berkuasa mereka mendapat perlakukan yang
buruk yang belum dirasakan mereka pada masa-masa sebelumnya sebagaimana yang
dijelaskan dalam surat Al-Qashas/28 ayat 3- 6
نَتْلُوا۟ عَلَيْكَ مِن نَّبَإِ مُوسَىٰ وَفِرْعَوْنَ بِٱلْحَقِّ
لِقَوْمٍۢ يُؤْمِنُونَ ٣
إِنَّ فِرْعَوْنَ عَلَا فِى ٱلْأَرْضِ وَجَعَلَ أَهْلَهَا
شِيَعًۭا يَسْتَضْعِفُ طَآئِفَةًۭ مِّنْهُمْ يُذَبِّحُ أَبْنَآءَهُمْ
وَيَسْتَحْىِۦ نِسَآءَهُمْ ۚ إِنَّهُۥ كَانَ مِنَ ٱلْمُفْسِدِينَ ٤
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى
ٱلْأَرْضِ وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةًۭ وَنَجْعَلَهُمُ ٱلْوَٰرِثِينَ ٥
وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَنُرِىَ فِرْعَوْنَ
وَهَـٰمَـٰنَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَحْذَرُونَ ٦
3. Kami
membacakan kepadamu sebagian dari kisah Musa dan Fir'aun dengan benar untuk
orang-orang yang beriman.
4. Sesungguhnya Fir'aun telah
berbuat sewenang-wenang di muka bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah,
dengan menindas segolongan dari mereka, menyembelih anak laki-laki mereka dan
membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka[1]. Sesungguhnya
Fir'aun Termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan.
5. dan Kami hendak memberi karunia
kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu dan hendak menjadikan
mereka pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)[
2],
6. dan akan Kami teguhkan kedudukan
mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan Haman beserta
tentaranya apa yang se- lalu mereka khawatirkan dari mereka itu[ 3].
[1]Golongan yang ditindas itu ialah Bani Israil, yang anak-
anak laki-laki mereka dibunuh dan anak-anak perempuan mereka dibiarkan hidup.
[ 2], Maksudnya: negeri Syam dan Mesir dan negeri-negeri
sekitar keduanya yang pernah dikuasai Fir'aun dahulu. sesudah kerjaan Fir'aun
runtuh, negeri-negeri ini diwarisi oleh Bani Israil.
[ 3] Fir'aun selalu khawatir bahwa kerajaannya akan
dihancurkan oleh Bani Israil karena itu Dia membunuh anak-anak laki-laki yang
lahir dalam kalangan Bani Israil. ayat ini menyatakan bahwa akan terjadi apa
yang dikhawatirkannya itu.
Sub Judul : Periode Kekuasaan Firaun
Umur kekuasaan Firaun berlangsung 400
tahun, berkuasa terhadap Bani Israil. Ia menimpakan kesengsaraan yang sangat
pedih kepada mereka, menghinakan dan memperbiudak mereka dalam pekerjaan yang
kasar dan kotor, ia membagi merka ke dalam beberapa kelompok, ada kelompok yang
membangun ada keleompok yang bercocok tanam, menangani pekerjaan-pekerjaan yang
kotor / menjijikan. Barang siapa yang tidak melakukan salah satu pekerjaan
tersebut, maka mereka wajib membayar upeti, sebagaimana firman Allah taala
dalam surat Albaqarah: 49
وَإِذْ نَجَّيْنَـٰكُم مِّنْ ءَالِ فِرْعَوْنَ
يَسُومُونَكُمْ سُوٓءَ ٱلْعَذَابِ يُذَبِّحُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ
نِسَآءَكُمْ ۚ وَفِى ذَٰلِكُم بَلَآءٌۭ مِّن رَّبِّكُمْ عَظِيمٌۭ ٤٩
Dan (ingatlah) ketika Kami menyelamatkan
kamu dari (Fir'aun dan) pengikut-pengikut Fir'aun. Mereka menimpakan siksaan
yang sangat berat kepadamu. Mereka menyembelih anak-anak laki-lakimu dan
membiarkan hidup anak-anak perempuanmu. Dan pada yang demikian itu merupakan
cobaan yang besar dari Tuhanmu.
Maka tatkala Allah hendak menyelamatkan bani
Israil, Ia mengutus nabi Musa untuk mengeluarkan mereka dari kedzoliman Firaun,
karena itu diutusnya nabi Musa As sebagai Rahmat dan juru selamat bagi bani
Irail dari kedzoliman Firaun
Sub
Judul : Mimpi-mimpi Firaun
Iman
Atsalabi menyebutkan dalam kitabnya kishasus Anbiya dari Imam assadi bahwasanya
Firaun pernah bermimpi yang mengagetkan dirinya, ia bermimpi seakan-akan melihat
bola api yang melesat dari Baitul Maqdis hingga negeri Mesir, dan api tersebut
menimpa rumah-rumah dan tempat tinggal yang ada
dan menghanguskan seluruhnya, tetapi Bani Israil dapat selamat dari
musibah tersebut tanpa cidera sedikitpun, kemudian Firaun memanggil paranormal,
dukun, tukang sihir dan ahli nujum, lalu menanyakan pada mereka tentang
mimpinya dan mereka menafsirkan mimpinya seraya mengatakan bahwa akan lahir
dikalangan bani Israil seorang anak laki-laki yang menyebabkan kehancuran Mesir
dari kedua tanganya juga menyebabkan hancurnya kekuasaan yang dimilikinya,
serta mengeluarkan dirinya dan kaumnya dari negerinya sendiri, dan menggantikan
agama / keyakinannya. Dan masa kelahiran
anak tersebut terjadi pada masa kekuasaannya.
Setelah itu Firaun mengeluarkan perintah untuk
membunuh anak laki-laki yang lahir di kalangan bani Israil dan segera mengumpulkan kabilah-kabilah yang
ada, lalu Firaun berkata ;”Setiap anak laki-laki yang lahir diantara kalian,
maka kalian harus membunuh”. Seluruh kabilah melaksanakan perintah ini karena
takut dengan kekejaman Firaun. Sedangkan anak-anak wanitanya sengaja dibiarkan
hidup agar dapat dieksploitasi dan dipekerjakan.
Inilah
yang dimaksud firman Allah taala ”
يُذَبِّحُونَ أَبْنَآءَكُمْ وَيَسْتَحْيُونَ نِسَآءَكُمْ
ۚ
...mereka
menyembelih anak-anakmu yang laki-laki dan membiarkan hidup anak-anakmu yang
perempuan... (Albaqarah: 49)
Kebijakan
Firaun ternyata tidak hanya perintah membunuh setiap anak laki-laki yang telah
dilahirkan tetapi juga anak-anak yang masih dalam kandungan, sehingga bala
tentaranya menyiksa wanita bani Israil sehingga mengalami keguguran. Sementara
angka kematian kalangan tua juga tinggi
Melihat keadaan ini datanglah
pemimpin-pemimpin masyarakat Koptik (Qibti) menghadap Firaun seraya berkata: ”
Sesungguhnya angka kematian dikalangan orang tua bani Israil semakin meningkat,
sementara engka memerintahkan membunuh anak-anak kecil mereka sehingga
dikuatirkan kita tidak memiliki tenaga kerja yang cukup”.
Oleh
sebab itu Firauan untuk memerintahkan membunuh anak laki-laki pada satu tahun
tertentu dan membiarkannya pada tahun lainnya agar supaya anak-anak Bani Israil
tidak binasa seluruhnya
Sub
Judul : Kapan Nabi Musa dan nabi Harun
dilahirkan ?
Setelah
azab yang pedih menimpa bani Israil karena harus membunuh anak laki-laki mereka
lalu sebagaimana diusulkan oleh pemimpin-pemimpin Koptik maka Firaun
memerintahkan membunuh anak laki-laki untuk kurun waktu 1 tahun dan
membiarkannya di kurun tahun berikutnya, maka lahirlah nabi Harun pada tahun
yang tidak diperintahkan untuk membunuh setiap anak laki-laki yang lahir,
sedangkan nabi Musa sebaliknya, karena itu
ibunda nabi Harun secara terang-terangan dengan rasa aman dan tenang
sedangkan ibunda nabi Musa melahirkan dalam keadaan sedih dan ketakutan sampai
Allah mewahyukan padanya melalui ilham : ” Jnganlah engkau takut dan sedih
karena anak yang dilahirkan ini akan memiliki kedudukan yang besar, dan Allah
akan menjaganya dari tipu daya Firaun serta menjadikannya salah satu utusanNya
”. Kemudian Allah menanamkan ketenangan
dalam hati ibundanya dan memerintahkannya untuk menyusuinya sehingga jika
merasa kuatir terhadapnya hendaknya membuat sebuah peti dari kayu lalu Musa
diletak padanya dan dihanyutkan di sungai Nil. Mengenai keselamatannya tidak
perlu dikuatirkan karena ia berada di dalam perlindungan Allah dan
pemeliharaannya, cukuplah Allah sebagai pelindung dan Penolong.
Camkan
kembali ayat-ayat yang terdaat dalam surat Alqashas ayat 7:
وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ
فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِى وَلَا
تَحْزَنِىٓ ۖ إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ ٧
dan Kami
ilhamkan kepada ibu Musa; "Susuilah Dia, dan apabila kamu khawatir
terhadapnya Maka jatuhkanlah Dia ke sungai (Nil). dan janganlah kamu khawatir
dan janganlah (pula) bersedih hati, karena Sesungguhnya Kami akan
mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya (salah seorang) dari Para rasul.
Imam
Assadi menyebutkan dari abi Sholeh dan abi Malik, dari Ibnu Abbas, dari Murrah,
dari Ibnu Mas’ud dan dari beberapa sahabat
bahwasanya Firaun bermimpi seakan-akan api menjalar dari Baitul Makdis
membakar seluruh rumah di Mesir tetapi tidak memberikan mudhorat sedikitpun
kepada bani Israil. Tatkala Firaun bangun dari tidurnya beliau segera
mengumpulkan para dukun dan tukang sihirnya seraya bertanya pada mereka tentang
mimpinya tersebut. Lalu mereka berkata: ”akan lahir seorang anak laki-laki dari
bani Israil yang akan membinasakan penduduk Mesir dengan kedua tangannya,
karena itulah Firaun memerintahkan membunuh anak laki-laki dan membiarkan hidup
anak perempuan sebagaimana digambarkan dalam firman Allah taala :
وَنُرِيدُ أَن نَّمُنَّ عَلَى ٱلَّذِينَ ٱسْتُضْعِفُوا۟ فِى
ٱلْأَرْضِ
dan Kami hendak memberi karunia
kepada orang-orang yang tertindas di bumi (Mesir) itu
Maksudnya
mereka adalah bani Israil
وَنَجْعَلَهُمْ أَئِمَّةًۭ وَنَجْعَلَهُمُ ٱلْوَٰرِثِينَ ٥
dan hendak menjadikan mereka
pemimpin dan menjadikan mereka orang-orang yang mewarisi (bumi)[1],
[1], Maksudnya: negeri Syam dan Mesir dan negeri-negeri
sekitar keduanya yang pernah dikuasai Fir'aun dahulu. sesudah kerjaan Fir'aun
runtuh, negeri-negeri ini diwarisi oleh Bani Israil.
Dengan
kata lain Mereka adalah orang-orang yang mengalihkan kekuasaan Mesir dan negeri
Firaun ke tangan mereka
وَنُمَكِّنَ لَهُمْ فِى ٱلْأَرْضِ وَنُرِىَ فِرْعَوْنَ
وَهَـٰمَـٰنَ وَجُنُودَهُمَا مِنْهُم مَّا كَانُوا۟ يَحْذَرُونَ ٦
S.28/6. dan akan Kami teguhkan
kedudukan mereka di muka bumi dan akan Kami perlihatkan kepada Fir'aun dan
Haman beserta tentaranya apa yang selalu mereka khawatirkan dari mereka itu[1].
[1] Fir'aun selalu khawatir bahwa kerajaannya akan
dihancurkan oleh Bani Israil karena itu Dia membunuh anak-anak laki-laki yang
lahir dalam kalangan Bani Israil. ayat ini menyatakan bahwa akan terjadi apa
yang dikhawatirkannya itu.
Maksudnya
Allah akan menjadikan yang lemah menjadi kuat, yang dipaksa menjadi memaksa,
yang hina menjadi mulia. Sesungguhnya semua itu telah dialami oleh bani Israil
sebagaimana firman Allah taala dala surat Al A’raf 137 :
وَأَوْرَثْنَا ٱلْقَوْمَ ٱلَّذِينَ كَانُوا۟
يُسْتَضْعَفُونَ مَشَـٰرِقَ ٱلْأَرْضِ وَمَغَـٰرِبَهَا ٱلَّتِى بَـٰرَكْنَا فِيهَا
ۖ وَتَمَّتْ كَلِمَتُ رَبِّكَ ٱلْحُسْنَىٰ عَلَىٰ بَنِىٓ إِسْرَٰٓءِيلَ بِمَا
صَبَرُوا۟ ۖ وَدَمَّرْنَا مَا كَانَ يَصْنَعُ فِرْعَوْنُ وَقَوْمُهُۥ وَمَا
كَانُوا۟ يَعْرِشُونَ ١٣٧
dan Kami pusakakan kepada kaum yang
telah ditindas itu, negeri-negeri bahagian timur bumi dan bahagian baratnya[1]
yang telah Kami beri berkah padanya. dan telah sempurnalah Perkataan Tuhanmu
yang baik (sebagai janji) untuk Bani Israil disebabkan kesabaran mereka. dan
Kami hancurkan apa yang telah dibuat Fir'aun dan kaumnya dan apa yang telah
dibangun mereka[2]
[1] Maksudnya: negeri Syam dan Mesir dan negeri-negeri sekitar keduanya yang
pernah dikuasai Fir'aun dahulu. sesudah kerjaan Fir'aun runtuh, negeri-negeri
ini diwarisi oleh Bani Israil.
[2] Yang dimaksud dengan Bangunan-bangunan Fir'aun yang dihancurkan oleh Allah ialah Bangunan-bangunan yang didirikan mereka dengan menindas Bani Israil, seperti kota Ramses; menara yang diperintahkan Hamaan mendirikannya dan sebagainya.
Maksud
ayat tersebut diatas adalah bahwasanya Firaun berusaha menjegah dengan segala
cara agar anak laki-laki seperti Musa tidak dibiarkan hidup, dimana
balantentara Firaun mengetahui jadwal kelahiran para ibu saat itu, sehingga
tidak ada lahir bayi laki-laki dari rahim wanita, kecuali mereka membunuhnya
saat itu juga, akan tetapi seolah-olah takdir berkata : ”Wahai raja yang
sombong dan terperdaya dengan balatentaranya yang banyak dan kekuasaannya yang
luas, sesungguhnya Allah yang Maha Agung telah menetapkan keputusan yang tidak
dapat dikalahkan dan dicegah dan engkau wahai Firaun tidak akan dapat menyalahi
ketentuan-Nya, bahwasanya bayi laki-laki yang lahir engkau kuatirkan, dan
engkau telah membunuh sekian banyak jiwa yang tidak terhitung jumlahnya, Tetapi
seorang anak lelaki yang tinggal di istanamu, tidur diatas kasurmu, makan dan
minum dirumahmu, dan engkau telah membesarkan dan mendidiknya, kemudian
kekuasaan duniamu menjadi hancur di atas kedua tangannya karena penentanganmu
terhadap apa yang dibawa berupa kebenaran yang nyata dan pendustaanmu terhadap
apa-apa yang diwahyukan padanya, agar engkau dan seluruh makhluk lainnya
mengetahui bahwasanya Tuhan Pemilik dan Pengatur bumi ini adalah zat yang
berbuat sesuai keinginanNya dan bahwasanya Dia adalah Zat yang Maha Perkasa
yang tak terkalahkan dan Maha Kuasa atas segala sesuatu termasuk didalamnya
tidak dapat ditolak oleh kaum durjana.
Sesungguhnya
banyak para pengamat sejarah menyebutkan bahwasanya kaum Koptik telah
mengadukan pada Firaun tentang semakin sedikitnya populasi bani Israil karena
mereka telah membunuh anak laki-laki mereka, oleh karena itu mereka kuatir
kalangan orang dewasa bani Israil akan semakin berkurang bersamaan dibunuhnya
anak-anak kecil mereka, sehingga mereka terancam mengerjakan apa yang
dikerjakan oleh bani Israil, maka dari itulah Firaun memerintahkan untuk
membunuh anak laki-laki mereka dalam satu tahun dan membiarkannya dalam tahun
berikutnya.
Kemudian
mereka juga menyebutkan, nabi Harun dilahirkan pada tahun dibiarkan anak
laki-laki hidup, sedangkan nabi Musa dilahirkan pada tahun anak laki-laki harus
dibunuh, hal itulah yang membuat ibunda nabi Musa merasa gundah sejak
mengandungnya, ketika akan melahirkan ibunda nabi musa mendapatkan ilham untuk
membuat peti yang diikat dengan tali yang diletakan dalam sungai Nil disamping
rumahnya. Bila suatu saat ia merasa takut anak laki-lakinya diketahui orang
maka ia akan segera menghanyutkannya di sungai Nil tersebut sebagaimana yang
telah dijelaskan Allah dalam firmannya dalam surat Alqashas ayat 7 s/d 9
وَأَوْحَيْنَآ إِلَىٰٓ أُمِّ مُوسَىٰٓ أَنْ أَرْضِعِيهِ ۖ
فَإِذَا خِفْتِ عَلَيْهِ فَأَلْقِيهِ فِى ٱلْيَمِّ وَلَا تَخَافِى وَلَا
تَحْزَنِىٓ ۖ إِنَّا رَآدُّوهُ إِلَيْكِ وَجَاعِلُوهُ مِنَ ٱلْمُرْسَلِينَ ٧
7. Dan
Kami ilhamkan kepada ibu Musa, "Susuilah dia (Musa), dan apabila engkau
khawatir terhadapnya maka hanyutkanlah dia ke sungai (Nil). Dan janganlah
engkau takut dan jangan (pula) bersedih hati, sesungguhnya Kami akan
mengembalikannya kepadamu, dan menjadikannya salah seorang rasul."
فَٱلْتَقَطَهُۥٓ ءَالُ فِرْعَوْنَ لِيَكُونَ لَهُمْ
عَدُوًّۭا وَحَزَنًا ۗ إِنَّ فِرْعَوْنَ وَهَـٰمَـٰنَ وَجُنُودَهُمَا كَانُوا۟
خَـٰطِـِٔينَ ٨
8. Maka
dia dipungut oleh keluarga Fir'aun agar (kelak) dia menjadi musuh dan kesedihan
bagi mereka. Sungguh, Fir'aun dan Haman bersama bala tentaranya adalah
orang-orang yang bersalah.
وَقَالَتِ ٱمْرَأَتُ فِرْعَوْنَ قُرَّتُ عَيْنٍۢ لِّى
وَلَكَ ۖ لَا تَقْتُلُوهُ عَسَىٰٓ أَن يَنفَعَنَآ أَوْ نَتَّخِذَهُۥ وَلَدًۭا
وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ ٩
9. Dan
istri Fir'aun berkata, "(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu.
Janganlah engkau membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita
ambil dia menjadi anak," sedang mereka tidak menyadari.
Wahyu
yang dimaksud dalam ayat tersebut adalah Ilham dan petunjuk sebagaimana
dijelaskan Allah dalam ayat yang lain surat An-Nahl 68, 69
وَأَوْحَىٰ رَبُّكَ إِلَى ٱلنَّحْلِ أَنِ ٱتَّخِذِى مِنَ ٱلْجِبَالِ
بُيُوتًۭا وَمِنَ ٱلشَّجَرِ وَمِمَّا يَعْرِشُونَ ٦٨
Dan
Tuhanmu mengilhamkan kepada lebah, "Buatlah sarang di gunung-gunung, di
pohon-pohon kayu, dan di tempat-tempat yang dibikin manusia,
ثُمَّ كُلِى مِن كُلِّ ٱلثَّمَرَٰتِ فَٱسْلُكِى سُبُلَ
رَبِّكِ ذُلُلًۭا ۚ يَخْرُجُ مِنۢ بُطُونِهَا شَرَابٌۭ مُّخْتَلِفٌ أَلْوَٰنُهُۥ
فِيهِ شِفَآءٌۭ لِّلنَّاسِ ۗ إِنَّ فِى ذَٰلِكَ لَـَٔايَةًۭ لِّقَوْمٍۢ
يَتَفَكَّرُونَ ٦٩
kemudian
makanlah dari segala (macam) buah-buahan lalu tempuhlah jalan Tuhanmu yang
telah dimudahkan (bagimu)." Dari perut lebah itu keluar minuman (madu)
yang bermacam-macam warnanya, di dalamnya terdapat obat yang menyembuhkan bagi
manusia. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda (kebesaran
Allah) bagi orang yang berpikir.
Jadi
Wahyu dalam ayat tersebut bukanlah Wahyu kenabian sebagaimana yang dikatakan
oleh Ibnu Hizm dan kebanyakan para ulama ahli kalam lainnya, tetapi yang benar
adalah Wahyu dalam arti Ilham dan petunjuk sebagaimana yang dikatakan oleh Abu
Hasan Al-Asyari dari kalangan ahli sunnah.
Imam Alsuhaili berkata :” ibunda Musa bernama Ayarikha.” Adapun maksud
Ilham dan petunjuk tersebut adalah bahwa ibunda nabi Musa tidak perlu takut dan
sedih apabila anaknya Musa hilang maka Allah akan mengembalikan Musa kepadanya,
karena sesungguhnya Allah akan menjadikannya nabi dan utusanNya, maka
dihanyutkanlah Musa diatas sungai Nil sampai melewati istana Firaun.
S.28/8.
Maka dipungutlah ia oleh keluarga Fir'aun yang akibatnya Dia menja- di musuh
dan Kesedihan bagi mereka. Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya
adalah orang-orang yang bersalah.
Haman
adalah salah seorang menterinya yang berperilaku buruk sedangkan bala
tentaranya adalah pengikut-pengikut setia Firaun dan Haman, dan tindakan mereka
jauh dari kebenaran sehingga mereka berhak mendapatkan sanksi dari Allah berupa kehamcuran. Para mufasir menyebutkan bahwasanya
dayang-dayang istana Firaunlah yang pertama kali menemukan bayi Musa di tepi
sungai Nil yang diletakan dalam peti tertutup, akan tetapi mereka tidak berani
membukanya sampai mereka serahkan peti itu ke tangan istri Firaun (Asiyah binti
Muzahim bin Ubaid bin Arroyan bin Alwalid ).
Adapula
yang mengatakan bahwasanya aiyah berasal dari bani Israil dari keturunan nabi
Musa As, bahkan imam Asuhaili berpendapat bahwa asiyah adalah bibi dari Nabi
Musa As. Waalahualam
Tatkala
Asiyah membuka penutup peti tersebut
Asiyah langsung melihat wajah nabi Musa berbinar dengan cahaya kenabian
dan keagungan, seketika itu juga Asiyah sangat mencintainya. Tiba-tiba
datanglah Firaun seraya berkata : ”Apa ini ? “ lalu ia langsung menyuruh untuk
segera menyembelih bayi tersebut, maka dengan memelas Asiyah memelas dan
memohon pada Firaun agar dapat menahan keinginannya tersebut, berkatalah Asiyah pada Firaun :“
S.28/9….."(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan
bagimu. janganlah kamu membunuhnya, Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita
atau kita ambil ia menjadi anak", sedang mereka tiada menyadari.
Ketika Asiyah berkata seperti itu, Firaun
berkata padanya :” Bila hanya untuk engkau tidaklah mengapa, tetapi untukku
tidak, aku tidak butuh denganmu ”.
Sedangkan pengertian “mudah-mudahan ia
bermanfaat untuk kita“ maksudnya adalah Asiyah berharap agar Allah memberinya
apa yang diharapkannya dari Musa As berupa manfaat di dunia dengan hidayah
Allah yang dibawa olehnya dan manfaat di akhirat dengan masuk kedalam Surga
karenanya. Asiyah mengusulkan agar bayi tersebut diadopsi menjadi anaknya
karena Asiyah tidak memiliki seorang anakpun dari Firaun. Sedangkan Firaun dan
para menterinya tidak mengetahui apa yang dikehendaki oleh Allah dengan semua
ini
Sub Judul: Penyusuannya dan kembali pada
ibunya setelah melewati masa kritis
وَأَصْبَحَ
فُؤَادُ أُمِّ مُوسَىٰ فَـٰرِغًا ۖ إِن كَادَتْ لَتُبْدِى بِهِۦ لَوْلَآ أَن
رَّبَطْنَا عَلَىٰ قَلْبِهَا لِتَكُونَ مِنَ ٱلْمُؤْمِنِينَ ١٠
S.28/10. dan
menjadi kosonglah hati ibu Musa[1114]. Sesungguhnya hampir saja ia menyatakan
rahasia tentang Musa, seandainya tidak Kami teguhkan hati- nya, supaya ia
Termasuk orang-orang yang percaya (kepada janji Allah).
[1114] Setelah ibu Musa
menghanyutkan Musa di sungai Nil, Maka timbullah penyesalan dan kesangsian
hatinya lantaran kekhawatiran atas keselamatan Musa bahkan Hampir-hampir ia
berteriak meminta tolong kepada orang untuk mengambil anaknya itu kembali, yang
akan mengakibatkan terbukanya rahasia bahwa Musa adalah anaknya sendiri.
وَقَالَتْ لِأُخْتِهِۦ قُصِّيهِ ۖ
فَبَصُرَتْ بِهِۦ عَن جُنُبٍۢ وَهُمْ لَا يَشْعُرُونَ ١١
S.28/11. dan berkatalah ibu Musa kepada saudara Musa yang
perempuan: "Ikutilah dia" Maka kelihatanlah olehnya Musa dari jauh,
sedang mereka tidak mengetahuinya,
Setelah ibunda Musa pasrah terhadap nasib
anaknya, sehingga hatinya menjadi kosong dari segala urusan dunia kecuali
perihal anaknya Musa, sehingga ia nyaris membuka rahasia semua ini dan
mencarinya secara terus terang, kalaulah bukan karena kesabaran dan keteguhan
yang ditanamkan Allah kedalam hatinya niscaya ia akan termasuk orang-orang yang
tidak percaya pada janji Allah
Tetapi ibundanya bersiasat dengan memanfatkan saudara perempuannya untuk
memantau dan mengikuti arah hanyutnya peti yang membawa nabi Musa, dan meminta
padanya untuk segera menyampaikan informasi mengenai keadaannya. Iapun
mengintainya dari jauh agar tidak diketahui oleh Firaun dan dayang-dayangnya.
Nabi Musa As selama tinggal diistana
Firaun tidak mau disusui oleh siapapun dan diberi makan apapun dan oleh
siapapun samapai mereka berusaha dengan berbagai macam cara tetapi Musa tetap
juga tidak mau menerimanya, sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah
dalam surat Al Qashas ayat 12
۞ وَحَرَّمْنَا عَلَيْهِ ٱلْمَرَاضِعَ مِن قَبْلُ فَقَالَتْ هَلْ
أَدُلُّكُمْ عَلَىٰٓ أَهْلِ بَيْتٍۢ يَكْفُلُونَهُۥ لَكُمْ وَهُمْ لَهُۥ
نَـٰصِحُونَ ١٢
dan Kami
cegah Musa dari menyusu kepada perempuan-perempuan yang mau menyusui(nya)
sebelum itu; Maka berkatalah saudara Musa: "Maukah kamu aku tunjukkan
kepadamu ahlul bait yang akan memeliharanya untukmu dan mereka dapat Berlaku
baik kepadanya?".
Maka
dibawalah nabi Musa ke tempat keramaian manusia di pasar dengan harapan ada
seseorang yang dapat menyusuinya, diantara kerumunan manusia itulah tiba-tiba
saudara perempuan nabi Musa muncul seraya mendekati Musa yang sedang digendong
dengan tidak menunjukan tindak tanduk yang mencurigakan agar tidak diketahui
oleh banyak orang kalau ia adalah saudaranya nabi Musa, lalu ia berkata:
”maukah kalian aku tunjukan kepada satu keluarga yang akan mengasuhnya dan
sekaligus menjaganya. Ibnu Abbas berkata : Mereka para pembesar Istana bertanya
kepada saudara perempuan Nabi Musa : “sejauh mana yang kau ketahui tentang
maksud pengasuhan dan belas kasih sayang mereka kepadanya (bayi Musa), lalu
saudara perempuan Musa berkata :
رغبة
في سرور الملك ورجاء منفعته
“Hanya ingin menyenangkan sang Raja dan mengharapkan manfaat dari (pengasuhan) nya”.
Mereka para pembesar Istana pun
mengabulkannya dan pergi bersamanya ke rumah seseorang yang akan mengasuhnya
(yang sebenarnya adalah Ibundanya sendiri). Sesampainya di rumah tersebut sang
Ibu langsung merengkuh bayi tersebut dengan kedua tangannya dan segera
menyusuinya, sang bayi menyusu dengan sangat lahapnya, maka seketika itu juga
mereka merasa sangat gembira melihatnya. Lalu disampaikannya berita gembira
tersebut kepada Asiyah, maka spontan Ia mengundang sang Ibu tersebut ke
Istananya seraya menawarkan kepadanya untuk tinggal bersamanya dan Ia berjanji
akan memperlakukannya dengan sebaik-baiknya. Akan tetapi sang Ibu
menolaknya seraya berkata:
إن لي بعلاً وأولاداً، ولست أقدر على
هذا إلا أن ترسليه معي
“Sesungguhnya aku mempunyai
saumi dan anak-anak, jika engkau membolehkannya, aku sanggup menyusui anak ini
di rumahku sendiri”, maka Asiyah pun membolehkan bayi tersebut di bawa pulang,
bahkan diberikan kepadanya gaji tetap, uang belanja, pakaian dan makanan pokok.
Maka pulnglah sang Ibu dengan membawa bayinya, sungguh Allah telah mengumpulkan
keduannya setelah berpisah sekian lama. Sebagaimana yang telah dijanjikan oleh
Allah dalam firman-Nya:
فَرَدَدْنَـٰهُ إِلَىٰٓ أُمِّهِۦ كَىْ
تَقَرَّ عَيْنُهَا وَلَا تَحْزَنَ وَلِتَعْلَمَ أَنَّ وَعْدَ ٱللَّهِ حَقٌّۭ
وَلَـٰكِنَّ أَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُونَ ١٣
13. Maka kami
kembalikan Musa kepada ibunya, supaya senang hatinya dan tidak berduka cita dan
supaya ia mengetahui bahwa janji Allah itu adalah benar, tetapi kebanyakan
manusia tidak mengetahuinya.
Ayat tersebut sebagai bukti kebenaran berita gembira dan risalahnya.
KEMBALINYA MUSA KE MESIR DAN RISALAH YANG DIEMBANNYA
Setelah
Musa menetap di Madyan kurang lebih 10 tahun, hatinya mulai rindu dengan
kampung halamannya, maka Ia pun berazam kembali ke negeri Mesir bersama
keluarganya dan anak-anaknya. Di tengah perjalanan dan di tengah kegelapan
malam yang dingin, sementara isterinya dalam keadaan hamil tua dan lemah
fisiknya. Nabi Musa merasa bingung menghadapi hal ini, pandangannya menerawang
ke atas langit berharap ada sesuatu yang dapat mengeluarkannya dari lingkaran
kebingungannya, kemudia Ia melihat disamping bukit ada secercah cahaya yang
disangkanya api:
وَهَلْ اَتٰىكَ حَدِيْثُ مُوْسٰى ۘ ٩ اِذْ رَاٰ نَارًا فَقَالَ لِاَهْلِهِ امْكُثُوْٓا
اِنِّيْٓ اٰنَسْتُ نَارًا لَّعَلِّيْٓ اٰتِيْكُمْ مِّنْهَا بِقَبَسٍ اَوْ اَجِدُ عَلَى
النَّارِ هُدًى ١٠ فَلَمَّآ اَتٰىهَا نُوْدِيَ يٰمُوْسٰٓى ۙ ١١ اِنِّيْٓ اَنَا۠ رَبُّكَ
فَاخْلَعْ نَعْلَيْكَۚ اِنَّكَ بِالْوَادِ الْمُقَدَّسِ طُوًى ۗ ١٢ وَاَنَا اخْتَرْتُكَ
فَاسْتَمِعْ لِمَا يُوْحٰى ١٣ اِنَّنِيْٓ اَنَا اللّٰهُ لَآ اِلٰهَ اِلَّآ اَنَا۠
فَاعْبُدْنِيْۙ وَاَقِمِ الصَّلٰوةَ لِذِكْرِيْ ١٤ اِنَّ السَّاعَةَ اٰتِيَةٌ اَكَادُ
اُخْفِيْهَا لِتُجْزٰى كُلُّ نَفْسٍۢ بِمَا تَسْعٰى ١٥
9. Apakah Telah sampai kepadamu kisah Musa?
10. Ketika ia melihat api, lalu berkatalah ia
kepada keluarganya: "Tinggallah kamu (di sini), Sesungguhnya Aku melihat
api, Mudah-mudahan Aku dapat membawa sedikit daripadanya kepadamu atau Aku akan
mendapat petunjuk di tempat api itu".
11. Maka ketika ia datang ke tempat api itu ia
dipanggil: "Hai Musa.
12. Sesungguhnya Aku inilah Tuhanmu, Maka
tanggalkanlah kedua terompahmu; Sesungguhnya kamu berada dilembah yang suci,
Thuwa.
13. Dan Aku Telah memilih kamu, Maka dengarkanlah
apa yang akan diwahyukan (kepadamu).
14. Sesungguhnya Aku Ini adalah Allah, tidak ada
Tuhan (yang hak) selain aku, Maka sembahlah Aku dan Dirikanlah shalat untuk
mengingat Aku.
15.
Segungguhnya hari kiamat itu akan datang Aku merahasiakan (waktunya)
agar supaya tiap-tiap diri itu dibalas dengan apa yang ia usahakan. (Thaha:
9-15)
Tatkala
Musa sampai ke dekat bukit Tur, Ia melihat secercah cahaya nan agung membentang
dari atas langit hingga ke ujung pohon
yang agung, Musa langsung bingung dan dipenuhi rasa takut, lalu Ia mendengar
Allah berfirman seraya memerintahkannya untuk melepas sandalnya kemudian masuk
ke satu lembah yang disucikan, sehingga kertika mendekati bukit Tur, Allah SWT
akan mengajaknya berbicara dan menjadikannya sebagai Rasul yang kelak akan
diutus menghadap Fir’aun untuk menyampaikan risalah-NYA, sebagaimana yang telah
dijelaskan pada ayat tersebut di atas.
Demikialah
Musa diangkat kebnabiannya dan di ajak berbicara langsung oleh Tuhannya di
dekat bukit Tur atau yang disebut dengan Tursina. Allah menurunkan kepadanya
sebuah firman yang menunjukan kebenaran kenabiannya yaitu sebuah Mukjizat yang
muncuk dari tongkat dan kedua belah tangannya, kemudian memerintahkannya untuk
pergi menghadap Fir’aun dan mendakwahkannya je jalan Allah SWT. Lalu Musa
meminta kepada Tuhannya untuk mengutus saudaranya Harun untuk menjadi
pendampingnya dalam menyampaiukan risalah, sebagaimana Allah SWT berfirman:
وَاَخِيْ هٰرُوْنُ هُوَ اَفْصَحُ مِنِّيْ لِسَانًا فَاَرْسِلْهُ مَعِيَ رِدْءًا
يُّصَدِّقُنِيْٓ ۖاِنِّيْٓ اَخَافُ اَنْ يُّكَذِّبُوْنِ ٣٤ قَالَ سَنَشُدُّ عَضُدَكَ
بِاَخِيْكَ وَنَجْعَلُ لَكُمَا سُلْطٰنًا فَلَا يَصِلُوْنَ اِلَيْكُمَا ۛبِاٰيٰتِنَا
ۛ اَنْتُمَا وَمَنِ اتَّبَعَكُمَا الْغٰلِبُوْنَ ٣٥
34. Dan saudaraku Harun dia lebih fasih lidahnya
daripadaku [1123], Maka utuslah dia bersamaku sebagai pembantuku untuk
membenarkan (perkata- an)ku; Sesungguhnya Aku khawatir mereka akan
mendustakanku".
35. Allah berfirman: "Kami akan membantumu
dengan saudaramu, dan kami berikan kepadamu berdua kekuasaan yang besar, Maka
mereka tidak dapat mencapaimu; (berangkatlah kamu berdua) dengan membawa
mukjizat kami, kamu berdua dan orang yang mengikuti kamulah yang akan menang.
(al-Qashas:34-35)
[1123] nabi Musa a.s. selain
merasa takut kepada Fir'aun juga merasa dirinya kurang lancar berbicara
menghadapi Fir'aun. Maka dimohonkannya agar Allah mengutus Harun a.s.
bersamanya, yang lebih petah lidahnya.
Sebagian ahli tafsir berkata: Tatkala Musa menuju ke arah api tersebut Ia menyeru Tuhannya di sebuah lembah yang disucikan yang disebut Tuwa, maka Allah menyuruhnya untuk melepas sandalnya untuk mngagungkan dan memuliakan tempat yang diberkahi, kemudian memerintahkannya untuk melemparkan apa yang ada di tangan kanannya, lalu berubah menjadi ular yang melata. Kemudian dipertahankannya lagi untuk memasukan tangannya ke dalam sakunya dan mengeluarkannya kembali, maka tiba-tiba memancar darinya secercah cahaya seperti cahaya matahari.
MUSA MEMASUKI MESIR DAN MENDAKWAHKAN FIR’AUN UNTUK BERIMAN KEPADA ALLAH SWT.
Setelah
diajak berbicara langsung oleh Allah SWT, Musa berjalan bersama keluarganya
menuju Mesir dan tiba di sana pada malam harinya. Kemudian Allah mewahyukan
kepada saudaranya Harun memberikan kabar gembira dengan kedatangan saudaranya
Musa, dan membertahukannya bahwa Ia daiangkat menjadi wazirnya (pendamping)
untuk menghadapi Fir’aun. Maka berangkatlah Musa bersama Harun untuk menemui
Fir’aun, sesampainya di sana Musa meminta kepada penjaga pintu agar
mengijinkannya masuk, lalu penjaga pitu itu berkata: “Apa yang harus aku
katakan kepada Fir’aun?”, “katakan kepadanya telah datang menghadap baginda
seorang utusan Tuhan semesta alam” jawab Musa tegas. Penjaga itupun terperanjat
dengan jawaban tersebut lalau bergegas masuk menghadap Fir’aun seraya berkata :
“Sesungguhnya di depan pintu ada orang gila yang mengaku bahwa dirinya adalah
utusan Tuhan semesta alam”, “suruh dia masuk” jawab Fir’aun.
Maka
masuklah Musa bersama Harun menghadap
Fir’aun dan langsung mengajaknya kepada Allah dan menyampaikan risalah
Tuhan-NYA. Akan tetapi Fir’aun melecehkan dan memperolok-oloknya seraya berkata:
“Apakah ada Tuhan selain Aku”. Kemudian Fir’aun sadar bahwa yang dihadapannya
adalah Musa yang dahulu pernah dibesarkan di istananya lalu Fir’aun berkata
kepadanya sebagaimana yang digambarkan dalam firman Allah SWT:
قَالَ اَلَمْ نُرَبِّكَ فِيْنَا وَلِيْدًا وَّلَبِثْتَ فِيْنَا مِنْ عُمُرِكَ
سِنِيْنَ ۗ ١٨ وَفَعَلْتَ فَعْلَتَكَ الَّتِيْ فَعَلْتَ وَاَنْتَ مِنَ الْكٰفِرِيْنَ
١٩ قَالَ فَعَلْتُهَآ اِذًا وَّاَنَا۠ مِنَ الضَّاۤلِّيْنَ ٢٠ فَفَرَرْتُ مِنْكُمْ
لَمَّا خِفْتُكُمْ فَوَهَبَ لِيْ رَبِّيْ حُكْمًا وَّجَعَلَنِيْ مِنَ الْمُرْسَلِيْنَ
٢١ وَتِلْكَ نِعْمَةٌ تَمُنُّهَا عَلَيَّ اَنْ عَبَّدْتَّ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ
ۗ ٢٢ قَالَ فِرْعَوْنُ وَمَا رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ۗ ٢٣ قَالَ رَبُّ السَّمٰوٰتِ وَالْاَرْضِ
وَمَا بَيْنَهُمَاۗ اِنْ كُنْتُمْ مُّوْقِنِيْنَ ٢٤
18. Fir'aun menjawab: "Bukankah kami Telah
mengasuhmu di antara (keluarga) kami, waktu kamu masih kanak-kanak dan kamu
tinggal bersama kami beberapa tahun dari umurmu[1078].
19. Dan kamu
Telah berbuat suatu perbuatan yang Telah kamu lakukan itu[1079] dan kamu
termasuk golongan orang-orang yang tidak membalas guna.
20. Berkata
Musa: "Aku Telah melakukannya, sedang Aku di waktu itu termasuk
orang-orang yang khilaf.
21. Lalu Aku
lari meninggalkan kamu ketika Aku takut kepadamu, Kemudian Tuhanku memberikan
kepadaku ilmu serta dia menjadikanku salah seorang di antara rasul-rasul.
22. Budi
yang kamu limpahkan kepadaku itu adalah (disebabkan) kamu Telah memperbudak
Bani Israil".
23. Fir'aun
bertanya: "Siapa Tuhan semesta alam itu?"
24. Musa menjawab: "Tuhan Pencipta langit
dan bumi dan apa-apa yang di antara keduanya (Itulah Tuhanmu), jika kamu
sekalian (orang-orang) mempercayai-Nya". (Asy-Syu’ara:18-24)
[1078] nabi Musa a.s. tinggal
bersama Fir'aun kurang lebih 18 tahun, sejak kecil.
[1079]
Maksudnya: ialah perbuatan nabi Musa a.s. membunuh orang Qibti.
selanjutnya lihat surat Al Qashash ayat 15.
MUSA DAN TUKANG SIHIR FIR’AUN
Musa terus
menjelaskan kepadanya risalah Tuhan-NYA, meskipun Fir’aun juga terus
mengintimidasinya dan mengancamnya dengan oenjara dan siksaan. Kemudian Musa
berkata kepada Fir’aun: “Bagaimana seandainya aku datangkan kepadamu sesuatu
yang nyata?”, “Apa yang ada padamu?” tantang Fir’aun. Lalu Musa melemparkan
tongkatnya, tiba-tiba tongkat tersebut beribah menjadi ular, dan Ia masukan
tanganyya ke dalam dadanya dan dikeluarkannya kembali, tiba-tiba secercah
cahaya selaksa cahaya matahari memancar dari tangannya. Fir’aunpun terkejut
lalu Ia segera memanggil hulubalangnya, dan mereka mengusulkan agar Fir’aun
segera mendatangkan tukang-tukang sihirnya untuk menghadapi Musa yang
dianggapnya melakukan semua itu karena sihir belaka.
Tatkala
para tukang sihir telah berkumpul, maka Fir’aun segera memerintahknanya untuk
mengalahkan sihir Nabi Musa dengan menjanjikan mereka harta dan pangkat, serta
dijadikan sebagai orang-orang dekatnya, bila mereka dapat mengalahkan Musa.
Dengan smbongnya para tukang sihir tersebut seraya menantang Musa siapa yang
memulai terlebih dahulu, sebagaiman dijelaskan dalam firman Allah:
قَالُوْا يٰمُوْسٰٓى اِمَّآ اَنْ تُلْقِيَ وَاِمَّآ اَنْ نَّكُوْنَ نَحْنُ
الْمُلْقِيْنَ ١١٥ قَالَ اَلْقُوْاۚ فَلَمَّآ اَلْقَوْا سَحَرُوْٓا اَعْيُنَ النَّاسِ
وَاسْتَرْهَبُوْهُمْ وَجَاۤءُوْ بِسِحْرٍ عَظِيْمٍ ١١٦ ۞ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰٓى
اَنْ اَلْقِ عَصَاكَۚ فَاِذَا هِيَ تَلْقَفُ مَا يَأْفِكُوْنَۚ ١١٧ فَوَقَعَ الْحَقُّ
وَبَطَلَ مَا كَانُوْا يَعْمَلُوْنَۚ ١١٨ فَغُلِبُوْا هُنَالِكَ وَانْقَلَبُوْا صٰغِرِيْنَۚ
١١٩ وَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سٰجِدِيْنَۙ ١٢٠
115. Ahli-ahli sihir berkata: "Hai Musa,
Kamukah yang akan melemparkan lebih dahulu, ataukah kami yang akan
melemparkan?"
116. Musa menjawab: "Lemparkanlah (lebih
dahulu)!" Maka tatkala mereka melemparkan, mereka menyulap mata orang dan
menjadikan orang banyak itu takut, serta mereka mendatangkan sihir yang besar
(mena'jubkan).
117. Dan kami wahyukan kepada Musa:
"Lemparkanlah tongkatmu!". Maka
sekonyong-konyong tongkat itu menelan apa yang mereka sulapkan.
118. Karena itu nyatalah yang benar dan batallah
yang selalu mereka kerjakan.
119. Maka mereka kalah di tempat itu dan jadilah
mereka orang-orang yang hina.
120. Dan
ahli-ahli sihir itu serta merta meniarapkan diri dengan bersujud[554]. (al-A’raf:
115-120)
[554] mereka terus bersujud kepada Allah Karena
meyakini kebenaran seruan nabi Musa a.s. dan bukan ia ahli sihir sebagai yang
mereka duga semula.
Tukang sihir Fir’aun mulai melemparkan tali dan
tongkat mereka, lalu dengan pongahnya mereka berkata : }بعزة
فرعون إنا لنحن الغالبون{, Musa melihat tali dan
tongkat yang mereka lemparkan berubah menjadi ular, Iapun terkejut dan takut,
tetapi Allah meneguhkan hatinya dan mewahyukannya untuk segera melemparkan
tongkatnya yang berubah menjadi ular besar dan memakan ular-ular tukang sihir
tersebut, sebagaimana digambarkan dalam firman Allah SWT :
فَاَوْجَسَ فِيْ نَفْسِهٖ خِيْفَةً مُّوْسٰى ٦٧
قُلْنَا لَا تَخَفْ اِنَّكَ اَنْتَ الْاَعْلٰى ٦٨ وَاَلْقِ مَا فِيْ يَمِيْنِكَ
تَلْقَفْ مَا صَنَعُوْاۗ اِنَّمَا صَنَعُوْا كَيْدُ سٰحِرٍۗ وَلَا يُفْلِحُ
السَّاحِرُ حَيْثُ اَتٰى ٦٩
67. Maka Musa merasa
takut dalam hatinya.
68. Kami berkata: "Janganlah kamu takut,
Sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).
69. Dan
lemparkanlah apa yang ada ditangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang
mereka perbuat. "Sesungguhnya apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya
tukang sihir (belaka). dan tidak akan menang tukang sihir itu, dari mana saja
ia datang". (Thaha:67-69)
Seketika itu
juga tukang sihir Fir’aun beriman dan sujud kepada Allah SWT, mereka menyatakan
ke-Esaan Allah, mereka yakin bahwa apa dilakukan Musa bukanlah sihir, tipuan
atau hipnotis, tetapi semua itu adalah tanda-tanda kebesaran Allah SWT yang
ditampakan melalui tangan Musa AS, sebagi bukti kebenarannyam dan mereka
menyadari bahwa semua itu di luar kemampuan manusia dan kuasanya, akan tetapi
kekauatan Allah SWT Yang Maha Kuasa menciptakan keajaiban, karena itu merekapun
langsung tersungkur sujud kepada Allah seraya berkata : }آمنا
برب العالمين رب موسى وهارون{. Fir’aunpun menyadari
tidak dapat menundukan Musa, akan tetapi Musalah yang telah menundukannya,
namun Fir’aun ingin menutupi kekalahanya dan mengembalikan wibawanya dengan
menekan para tukang sihirnya seraya berkata :
قَالَ اٰمَنْتُمْ لَهٗ قَبْلَ اَنْ اٰذَنَ لَكُمْۗ
اِنَّهٗ لَكَبِيْرُكُمُ الَّذِيْ عَلَّمَكُمُ السِّحْرَۚ فَلَاُقَطِّعَنَّ
اَيْدِيَكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ وَّلَاُصَلِّبَنَّكُمْ فِيْ جُذُوْعِ
النَّخْلِۖ وَلَتَعْلَمُنَّ اَيُّنَآ اَشَدُّ عَذَابًا وَّاَبْقٰى ٧١
71. Berkata Fir'aun:
"Apakah kamu Telah beriman kepadanya (Musa) sebelum Aku memberi izin
kepadamu sekalian. Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir
kepadamu sekalian. Maka Sesungguhnya Aku akan memotong tangan dan kaki kamu
sekalian dengan bersilang secara bertimbal balik[931], dan Sesungguhnya Aku
akan menyalib kamu sekalian pada pangkal pohon kurma dan Sesungguhnya kamu akan
mengetahui siapa di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya".
(Thaha:71)
[931] Maksudnya: tangan kanan dan kaki kiri dan
sebaliknya.
Fir’aun telah
mengancam para tukang sihirnya dengan eksekusi di tiang salib, dan mengamputasi
tangan dan kakinya secara silang, serta menuduh mereka telah bersekongkol
(konspirasi) dengan Musa, Padahal Ia
sendiri tahu tidak pernah kenal dengan tukang sihirnya dan belum pernah tinggal
bersama mereka, karena Musa sebelumnya cukup lama menetap di Madyan, bagaimana
mungkin Musa mengajarkan sihir kepada mereka. Ternyata hal itu hanyalah
propaganda Fir’aun untuk menjegal dakwahnya Musa AS dan sikapanya yang tidak
mau mengakui kekalahan.
Namun demikian
para tukang sihir tetap teguh dengan keimanannya, mereka tidak menghiraukan
ancaman Fir’aun, bahkan mereka memproklamorkan dengan suara lantang keimanan
dan militansinya di hadapan Fir’aun yang tiran dan arogan. Allah SWT berfirman
:
قَالُوْا لَنْ نُّؤْثِرَكَ عَلٰى مَا جَاۤءَنَا
مِنَ الْبَيِّنٰتِ وَالَّذِيْ فَطَرَنَا فَاقْضِ مَآ اَنْتَ قَاضٍۗ اِنَّمَا
تَقْضِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةَ الدُّنْيَا ۗ ٧٢ اِنَّآ اٰمَنَّا بِرَبِّنَا
لِيَغْفِرَ لَنَا خَطٰيٰنَا وَمَآ اَكْرَهْتَنَا عَلَيْهِ مِنَ السِّحْرِۗ
وَاللّٰهُ خَيْرٌ وَّاَبْقٰى ٧٣
72. Mereka berkata:
"Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang
nyata (mukjizat), yang Telah datang kepada kami dan daripada Tuhan yang Telah
menciptakan Kami; Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu Hanya akan dapat memutuskan pada
kehidupan di dunia Ini saja.
73.
Sesungguhnya kami Telah beriman kepada Tuhan kami, agar dia mengampuni
kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang Telah kamu paksakan kepada kami
melakukannya. dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)".
(Thaha:72-73)
Said bin Jabir RA berkata: “Tatkala para tukang
sihir sujud mereka melihat istana dan mahligai tekah disediakan dan siap
menyambut kedatangan mereka di syurga, karena itu mereka tidak memperdulikan
sedikitpun ancamn Fir’aun, bahkan mereka berani melontarkan kebenaran di hadapan
Fir’aun.
Akhirnya Fir’aun merealisasikan ancamannya dengan
menyalib mereka dan mengamputasi silang kaki dan tangan mereka, dan
mengeksekusi mereka dengan keji, meskipun demikian para tukang sihir tidak
goyah sedikitpun sehingga mereka menjadi syuhada yang berlimpah kebajikan dan
keridoan Allah SWT. Dalam hal ini Ibnu Abbas RA berkata:
"كانوا من أول النهار سحرة، فصاروا من آخره شهداء بررة".
“Siang hari mereka masih
menjadi tukang sihir, sore harinya menjadi syuhada”
DIALOG MUSA DENGAN FIRAUN DALAM AL-QUR’AN
قَالَ فَمَنْ رَّبُّكُمَا يٰمُوْسٰى ٤٩ قَالَ رَبُّنَا
الَّذِيْٓ اَعْطٰى كُلَّ شَيْءٍ خَلْقَهٗ ثُمَّ هَدٰى ٥٠ قَالَ فَمَا بَالُ الْقُرُوْنِ
الْاُوْلٰى ٥١ قَالَ عِلْمُهَا عِنْدَ رَبِّيْ فِيْ كِتٰبٍۚ لَا يَضِلُّ رَبِّيْ وَلَا
يَنْسَىۖ ٥٢ الَّذِيْ جَعَلَ لَكُمُ الْاَرْضَ مَهْدًا وَّسَلَكَ لَكُمْ فِيْهَا سُبُلًا
وَّاَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۗ فَاَخْرَجْنَا بِهٖٓ اَزْوَاجًا مِّنْ نَّبَاتٍ
شَتّٰى ٥٣ كُلُوْا وَارْعَوْا اَنْعَامَكُمْ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكَ لَاٰيٰتٍ لِّاُولِى
النُّهٰى ࣖ ٥٤ ۞ مِنْهَا خَلَقْنٰكُمْ وَفِيْهَا نُعِيْدُكُمْ وَمِنْهَا نُخْرِجُكُمْ
تَارَةً اُخْرٰى ٥٥ وَلَقَدْ اَرَيْنٰهُ اٰيٰتِنَا كُلَّهَا فَكَذَّبَ وَاَبٰى ٥٦ قَالَ
اَجِئْتَنَا لِتُخْرِجَنَا مِنْ اَرْضِنَا بِسِحْرِكَ يٰمُوْسٰى ٥٧ فَلَنَأْتِيَنَّكَ
بِسِحْرٍ مِّثْلِهٖ فَاجْعَلْ بَيْنَنَا وَبَيْنَكَ مَوْعِدًا لَّا نُخْلِفُهٗ نَحْنُ
وَلَآ اَنْتَ مَكَانًا سُوًى ٥٨ قَالَ مَوْعِدُكُمْ يَوْمُ الزِّيْنَةِ وَاَنْ يُّحْشَرَ
النَّاسُ ضُحًى ٥٩ فَتَوَلّٰى فِرْعَوْنُ فَجَمَعَ كَيْدَهٗ ثُمَّ اَتٰى ٦٠ قَالَ لَهُمْ
مُّوْسٰى وَيْلَكُمْ لَا تَفْتَرُوْا عَلَى اللّٰهِ كَذِبًا فَيُسْحِتَكُمْ بِعَذَابٍۚ
وَقَدْ خَابَ مَنِ افْتَرٰى ٦١ فَتَنَازَعُوْٓا اَمْرَهُمْ بَيْنَهُمْ وَاَسَرُّوا
النَّجْوٰى ٦٢ قَالُوْٓا اِنْ هٰذٰنِ لَسَاحِرٰنِ يُرِيْدَانِ اَنْ يُّخْرِجٰكُمْ مِّنْ
اَرْضِكُمْ بِسِحْرِهِمَا وَيَذْهَبَا بِطَرِيْقَتِكُمُ الْمُثْلٰى ٦٣ فَاَجْمِعُوْا
كَيْدَكُمْ ثُمَّ ائْتُوْا صَفًّاۚ وَقَدْ اَفْلَحَ الْيَوْمَ مَنِ اسْتَعْلٰى ٦٤ قَالُوْا
يٰمُوْسٰٓى اِمَّآ اَنْ تُلْقِيَ وَاِمَّآ اَنْ نَّكُوْنَ اَوَّلَ مَنْ اَلْقٰى
٦٥ قَالَ بَلْ اَلْقُوْاۚ فَاِذَا حِبَالُهُمْ وَعِصِيُّهُمْ يُخَيَّلُ اِلَيْهِ مِنْ
سِحْرِهِمْ اَنَّهَا تَسْعٰى ٦٦ فَاَوْجَسَ فِيْ نَفْسِهٖ خِيْفَةً مُّوْسٰى ٦٧ قُلْنَا
لَا تَخَفْ اِنَّكَ اَنْتَ الْاَعْلٰى ٦٨ وَاَلْقِ مَا فِيْ يَمِيْنِكَ تَلْقَفْ مَا
صَنَعُوْاۗ اِنَّمَا صَنَعُوْا كَيْدُ سٰحِرٍۗ وَلَا يُفْلِحُ السَّاحِرُ حَيْثُ اَتٰى
٦٩ فَاُلْقِيَ السَّحَرَةُ سُجَّدًا قَالُوْٓا اٰمَنَّا بِرَبِّ هٰرُوْنَ وَمُوْسٰى
٧٠ قَالَ اٰمَنْتُمْ لَهٗ قَبْلَ اَنْ اٰذَنَ لَكُمْۗ اِنَّهٗ لَكَبِيْرُكُمُ الَّذِيْ
عَلَّمَكُمُ السِّحْرَۚ فَلَاُقَطِّعَنَّ اَيْدِيَكُمْ وَاَرْجُلَكُمْ مِّنْ خِلَافٍ
وَّلَاُصَلِّبَنَّكُمْ فِيْ جُذُوْعِ النَّخْلِۖ وَلَتَعْلَمُنَّ اَيُّنَآ اَشَدُّ
عَذَابًا وَّاَبْقٰى ٧١ قَالُوْا لَنْ نُّؤْثِرَكَ عَلٰى مَا جَاۤءَنَا مِنَ الْبَيِّنٰتِ
وَالَّذِيْ فَطَرَنَا فَاقْضِ مَآ اَنْتَ قَاضٍۗ اِنَّمَا تَقْضِيْ هٰذِهِ الْحَيٰوةَ
الدُّنْيَا ۗ ٧٢
49. Berkata Fir'aun:
"Maka siapakah Tuhanmu berdua, Hai Musa?[924].
50. Musa berkata: "Tuhan kami ialah (Tuhan)
yang Telah memberikan kepada tiap-tiap sesuatu bentuk kejadiannya, Kemudian
memberinya petunjuk[925].
51. Berkata Fir'aun: "Maka bagaimanakah
keadaan umat-umat yang dahulu?"
52. Musa menjawab: "Pengetahuan tentang itu
ada di sisi Tuhanku, di dalam sebuah kitab[926], Tuhan kami tidak akan salah
dan tidak (pula) lupa;
53. Yang Telah menjadikan bagimu bumi sebagai
hamparan dan yang Telah menjadikan bagimu di bumi itu jalan-ja]an, dan
menurunkan dari langit air hujan. Maka kami tumbuhkan dengan air hujan itu
berjenis-jenis dari tumbuh-tumbuhan yang bermacam-macam.
54. Makanlah dan gembalakanlah
binatang-binatangmu. Sesungguhnya pada yang demikian itu, terdapat tanda-tanda
kekuasaan Allah bagi orang-orang yang berakal.
55. Dari bumi (tanah) Itulah kami menjadikan kamu
dan kepadanya kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya kami akan
mengeluarkan kamu pada kali yang lain,
56. Dan Sesungguhnya kami Telah perlihatkan
kepadanya (Fir'aun) tanda-tanda kekuasaan kami semuanya[927] Maka ia
mendustakan dan enggan (menerima kebenaran).
57. Berkata Fir'aun: "Adakah kamu datang
kepada kami untuk mengusir kami dari negeri kami (ini) dengan sihirmu, Hai
Musa?
58. Dan kamipun pasti akan mendatangkan (pula)
kepadamu sihir semacam itu, Maka buatlah suatu waktu untuk pertemuan antara
kami dan kamu, yang kami tidak akan menyalahinya dan tidak (pula) kamu di suatu
tempat yang pertengahan (letaknya).
59. Berkata Musa: "Waktu untuk pertemuan
(Kami dengan) kamu itu ialah di hari raya dan hendaklah dikumpulkan manusia
pada waktu matahari sepenggalahan naik".
60. Maka Fir'aun meninggalkan (tempat itu), lalu
mengatur tipu dayanya, Kemudian dia datang[928].
61. Berkata Musa kepada mereka: "Celakalah
kamu, janganlah kamu mengada-adakan kedustaan terhadap Allah, Maka dia
membinasakan kamu dengan siksa". dan Sesungguhnya Telah merugi orang yang
mengada-adakan kedustaan.
62. Maka mereka berbantah-bantahan tentang urusan
mereka di antara mereka dan mereka merahasiakan percakapan (mereka).
63. Mereka berkata: "Sesungguhnya dua orang
Ini adalah benar-benar ahli sihir yang hendak mengusir kamu dari negeri kamu
dengan sihirnya dan hendak melenyapkan kedudukan kamu yang utama[929].
64. Maka himpunkanlah segala daya (sihir) kamu
sekalian, Kemudian datanglah dengan berbaris. dan Sesungguhnya beruntunglah
oran yang menang pada hari ini[930].
65. (Setelah mereka berkumpul) mereka berkata:
"Hai Musa (pilihlah), apakah kamu yang melemparkan (dahulu) atau kamikah
orang yang mula-mula melemparkan?"
66. Berkata Musa: "Silahkan kamu sekalian
melemparkan". Maka tiba-tiba tali-tali dan tongkat-tongkat mereka,
terbayang kepada Musa seakan-akan ia merayap cepat, lantaran sihir mereka.
67. Maka Musa merasa takut dalam hatinya.
68. Kami berkata: "Janganlah kamu takut,
Sesungguhnya kamulah yang paling unggul (menang).
69. Dan lemparkanlah apa yang ada ditangan
kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka perbuat. "Sesungguhnya
apa yang mereka perbuat itu adalah tipu daya tukang sihir (belaka). dan tidak
akan menang tukang sihir itu, dari mana saja ia datang".
70. Lalu tukang-tukang sihir itu tersungkur
dengan bersujud, seraya berkata: "Kami Telah percaya kepada Tuhan Harun
dan Musa".
71. Berkata Fir'aun: "Apakah kamu Telah
beriman kepadanya (Musa) sebelum Aku memberi izin kepadamu sekalian.
Sesungguhnya ia adalah pemimpinmu yang mengajarkan sihir kepadamu sekalian.
Maka Sesungguhnya Aku akan memotong tangan dan kaki kamu sekalian dengan
bersilang secara bertimbal balik[931], dan Sesungguhnya Aku akan menyalib kamu
sekalian pada pangkal pohon kurma dan Sesungguhnya kamu akan mengetahui siapa
di antara kita yang lebih pedih dan lebih kekal siksanya".
72. Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak
akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang Telah
datang kepada kami dan daripada Tuhan yang Telah menciptakan Kami; Maka
putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu Hanya akan dapat
memutuskan pada kehidupan di dunia Ini saja.
73. Sesungguhnya kami Telah beriman kepada Tuhan
kami, agar dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang Telah kamu
paksakan kepada kami melakukannya. dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih
kekal (azab-Nya)".
74. Sesungguhnya barangsiapa datang kepada
Tuhannya dalam keadaan berdosa, Maka Sesungguhnya baginya neraka jahannam. ia
tidak mati di dalamnya dan tidak (pula) hidup[932].
75. Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam
keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh Telah beramal saleh, Maka mereka Itulah
orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang Tinggi (mulia),
76. (yaitu) syurga 'Adn yang mengalir
sungai-sungai di bawahnya, mereka kekal di dalamnya. dan itu adalah balasan
bagi orang yang bersih (dari kekafiran dan kemaksiatan). (QS. Thaha: 49-76)
[924]
setelah nabi Musa a.s. dan nabi harus a.s mendapat perintah dari Allah
s.w.t. pergilah mereka kepada Fir'aun dan terjadilah soal-jawab sebagai yang
disebutkan pada ayat 49 dan ayat berikutnya.
[925]
Maksudnya: memberikan akal, instink (naluri) dan kodrat alamiyah untuk
kelanjutan hidupnya masing-masing.
[926]
Maksudnya: Lauh Mahfuzh.
[927]
yang dimaksud dengan tanda-tanda di sini ialah tanda-tanda kenabian Musa
di surat Al Isra'. pada pertemuan antara nabi Musa a.s. dengan Fir'aun ini,
yang diperlihatkan baru dua, yaitu tongkat nabi Musa a.s. menjadi ular dan
tangannya menjadi putih cemerlang.
[928]
Maksudnya: setelah Fir'aun mengatur tipu dayanya dan waktu untuk
pertemuan Telah datang yaitu hari raya, Maka Fir'aun bersama pengikut-pengikut
nya datanglah ketempat yang ditentukan itu.
[929]
Maksudnya: kedatangan Musa a.s dan Harun a.s. ke Mesir itu ialah hendak
menggantikan kamu sebagai Penguasa di Mesir. sebagian ahli tafsir mengartikan
thariqah di sini dengan keyakinan (agama).
[930]
maksud Hari ini ialah hari berlangsungnya pertandingan.
[931]
Maksudnya: tangan kanan dan kaki kiri dan sebaliknya.
[932] maksud tidak mati ialah dia selalu merasakan
azab dan maksud tidak hidup ialah hidup yang dapat dipergunakannya untuk
bertaubat.
قال
فمن ربكما يا موسى قال الذي أعطى كل شيء خلقه ثمَّ هدى, yaitu
memberikan kepada makhluk-NYA segala sesuatu yang dibutuhkannya, atau
menganugrahkannya bentuk ciptaan yang sesuai dengan kegunaan yang menyertainya,
seperti mata untuk melihat, telinga untuk mendengar, lidah untuk merasakan,
tangan, kaki untuk manfaat dan kegunaan lainnya. } ثمَّ هدى{, mengetahui bagaimana beradaptasi dengan apa
yang telah diberikannya dan bagaiman menggunakannya.
Imam Zamakhsyary berkata : Allah menanggapi
apa yang menajdi pertanyaan Fir’aun dengan jawaban yang ringkas, bernas dan
pamungkas, }قال
فما بال القرون الأولى{, Fir’aun
bertanya tentang bagaimana umat-umat yang terdahulu, lalu dijawab oleh Allah
bahwa jawaban atas pertanyaan tersebut bukanlah kewenangan para Rasul, tetapi
mutlak kewenangan Allah SWT, }قال
علمها عند ربي في كتابٍ لا يضل ربي ..{, jauh dari kebenaran dalam mengetahui segala
sesuatu, }ولا
ينسى{, tidak
mengetahuinya karena lupa dan sesat adalah sifat dari makhluk Allah SWT.
Kemudian setelah itu Allah berfirman : الذي
جعل لكم الأرض مهداً, hamparan yang mudah dilewati untuk berjalan dan
berkendaraan dalam mencari rizki, وسلك لكم فيها سبلاً,
kalian dapat
berjalan padanya, karena itu Allah tidak menjadikan bagian bumi ini seluruhnya
pegunungan, dan tidak menjadikan seluruhnya lautan, tapi ada yang berair ada yang kering, ada gunung ada
lembah, وانزل من السماء ماءً فأخرجنا به أزواجاً من نباتٍ شتى,
berbeda-beda
dalam ukuran panjang-pendeknya, warna dan rasanya, kadar manis dan masamnya كلوا
وارعوا أنعامكم diizinkan untuk
mengambil manfaatnya, diperbolehkan untuk dimakan sebagiannya dan diolah untuk
makanan hewan sebagian lainnya إن في ذلك لآيات
لأولي النهى bumi yang terbentang memudahkan untuk mencari penghidupan,
curah hujan yang menumbhkan aneka tanaman, semua itu adalah bukti bagi
orang-orang yang berakal.
Dalam firman Allah فأخرجنا
adalah
peralihan dari kalimat katakerja orang ketiga menjadi kata kerja orang kedua,
sehingga tidak dikatakan فأخرج karena semata ingin menegaskan
bahwasanya Allah adalah Tuhan yang ditaati, dimana segala sesuatu yang beraneka
ragam tunduk kepada perintah dan kehendak-NYA dan tidak ada sesuatupu yang
dapat mencegah keinginan-NYA, sebagaimana firman Allah berikut ini:
وَهُوَ الَّذِيْٓ
اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۚ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ نَبَاتَ كُلِّ شَيْءٍ
فَاَخْرَجْنَا مِنْهُ خَضِرًا نُّخْرِجُ مِنْهُ حَبًّا مُّتَرَاكِبًاۚ وَمِنَ
النَّخْلِ مِنْ طَلْعِهَا قِنْوَانٌ دَانِيَةٌ وَّجَنّٰتٍ مِّنْ اَعْنَابٍ
وَّالزَّيْتُوْنَ وَالرُّمَّانَ مُشْتَبِهًا وَّغَيْرَ مُتَشَابِهٍۗ اُنْظُرُوْٓا
اِلٰى ثَمَرِهٖٓ اِذَٓا اَثْمَرَ وَيَنْعِهٖ ۗاِنَّ فِيْ ذٰلِكُمْ لَاٰيٰتٍ
لِّقَوْمٍ يُّؤْمِنُوْنَ ٩٩
99. Dan dialah yang menurunkan air hujan dari
langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu segala macam tumbuh-tumbuhan Maka
kami keluarkan dari tumbuh-tumbuhan itu tanaman yang menghijau. kami keluarkan
dari tanaman yang menghijau itu butir yang banyak; dan dari mayang korma
mengurai tangkai-tangkai yang menjulai, dan kebun-kebun anggur, dan (Kami
keluarkan pula) zaitun dan delima yang serupa dan yang tidak serupa.
perhatikanlah buahnya di waktu pohonnya berbuah dan (perhatikan pulalah)
kematangannya. Sesungguhnya pada yang demikian itu ada tanda-tanda (kekuasaan
Allah) bagi orang-orang yang beriman. (QS. Al-An'am: 99)
اَلَمْ تَرَ اَنَّ اللّٰهَ
اَنْزَلَ مِنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءًۚ فَاَخْرَجْنَا بِهٖ ثَمَرٰتٍ مُّخْتَلِفًا اَلْوَانُهَا
ۗوَمِنَ الْجِبَالِ جُدَدٌ ۢبِيْضٌ وَّحُمْرٌ مُّخْتَلِفٌ اَلْوَانُهَا وَغَرَابِيْبُ
سُوْدٌ ٢٧
27. Tidakkah kamu melihat bahwasanya Allah
menurunkan hujan dari langit lalu kami hasilkan dengan hujan itu buah-buahan
yang beraneka macam jenisnya. dan di antara gunung-gunung itu ada garis-garis
putih dan merah yang beraneka macam warnanya dan ada (pula) yang hitam pekat. (QS.
Fathir: 27)
اَمَّنْ خَلَقَ السَّمٰوٰتِ
وَالْاَرْضَ وَاَنْزَلَ لَكُمْ مِّنَ السَّمَاۤءِ مَاۤءً فَاَنْۢبَتْنَا بِهٖ حَدَاۤىِٕقَ
ذَاتَ بَهْجَةٍۚ مَا كَانَ لَكُمْ اَنْ تُنْۢبِتُوْا شَجَرَهَاۗ ءَاِلٰهٌ مَّعَ اللّٰهِ
ۗبَلْ هُمْ قَوْمٌ يَّعْدِلُوْنَ ۗ ٦٠
60.
Atau siapakah yang Telah menciptakan langit dan bumi dan yang menurunkan
air untukmu dari langit, lalu kami tumbuhkan dengan air itu kebun-kebun yang
berpemandangan indah, yang kamu sekali-kali tidak mampu menumbuhkan
pohon-pohonnya? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? bahkan
(sebenarnya) mereka adalah orang-orang yang menyimpang (dari kebenaran). (QS. An-Naml:
60)
Kemudian
Nabi Musa menjelaskan tentang kebangkitan yang dilakukan oleh Allah kepada
setiap makhluknya منها خلقناكم وفيها نعيدكم ومنها نخرجكم
تارةً أخرى agar Fir’aun melihat bahwasanya tidak ada Ilah yang mampu
menciptakan dan mengulangi ciptaannya, dan mendatangkan bahan bakunya dari muka
bumi, sebagaimana firman Allah dalam surat Al-Mu’minun:
وَلَقَدْ خَلَقْنَا
الْاِنْسَانَ مِنْ سُلٰلَةٍ مِّنْ طِيْنٍ ۚ ١٢
Dan
Sesungguhnya kami Telah menciptakan manusia dari suatu saripati (berasal) dari
tanah. (QS. Al-Mu’minun: 12)
Dan
Kita akan kembali ke bumi, sehingga menjadi satu kembali seperti sediakala,
kemudian kita akan dibangkitkan kembali oleh Allah SWT dari muka bumi ini.
AL-QUR’AN
DAN SIHIR
ولقد
أريناه آياتنا كلها فكذب وأبى , Allah SWT menjelaskan kepada kita bahwa
Fir’aun telah melihat ayat-ayat Allah dan telah mengetahui kebenarannya, lalu ia
mendustakannya karena kezalimannya dan enggan tunduk dan menerimanya. Ayat-ayat
yang dimaksud adalah ayat-ayat yang menegaskan tentang tauhid dan kenabian.
Ayat-ayat tauhid sebagaimana yang telah djelaskan sebelumnya, sedangkan
ayat-ayat kenabian terdiri dari sembilan perkara, yaitu tongkat, tangan,
terbelahnya lautan, terpancarnya air dari bebatuan jarad, qummal,
dhafaadi’, darah dan nataq al jabal. Kesembilan perkara itu disebut dengan ayat
nubuwwah.
قال
أجئتنا لتخرجا من أرضنا بسحرك يا موسى , sebagian ahli tafsir berkata
ayat tersebut di atas menggambarkan ketakutan Fir’aun terhadap Nabi Musa, Ia
sadar dan yakin kalau Musa berada di atas kebenaran dan pasti kelak akan
menggulingkan kekuasaannya dengan sihirnya. Ketika Musa bertemu para tukang
sihir di suatu tempat yang telah disepakati Ia berkata kepada mereka ويلكم
لا تفتروا على الله كذباً فيسحتكم بعذابٍ وقد خاب من افترى
janganlah
kalian menyebut ayat-ayat Allah dan mukjizat-NYA dengan sihir, karena jika
kalian lakukan hal itu, maka kalian akan mendapatkan adzab dari-NYA dan hidup
kalian akan sia-sia, nasehat dan peringatan Musa kepada mereka ternyata cukup efektif,
para tukang sihir kemudian menjadi pembela-pembelanya setelah sebelumnya
menjadi penentangnya. Ketika mereka mulai menyihir tali temali berubah menjadi
ular Musa tampak menyimpan rasa takutnya, lalu Allah berfirman kepadanya لا
تخف إنك أنت الأعلى karena engkau berada di atas kebenaran siapapun yang
berada di atas kebenaran maka Ia menjadi orang yang paling mulia, hal ini
merupakan isyarat bahwa Musa akan menang terhadap Fir’aun dan kroni-kroninya,
karena itu Allah berfirman lagi kepada Musa:
وَلَا تَهِنُوْا
وَلَا تَحْزَنُوْا وَاَنْتُمُ الْاَعْلَوْنَ اِنْ كُنْتُمْ مُّؤْمِنِيْنَ ١٣٩
139. Janganlah kamu bersikap lemah, dan janganlah
(pula) kamu bersedih hati, padahal kamulah orang-orang yang paling Tinggi
(derajatnya), jika kamu orang-orang yang beriman. (QS. Ali Imran: 139)
Setelah
para tukang sihir beriman dan mereka diancam oleh Fir’aun dengan berbagai macam
siksaan dengan lantang mereka berkata kepada Fir’aun :
72.
Mereka berkata: "Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu
daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat), yang Telah datang kepada kami dan
daripada Tuhan yang Telah menciptakan Kami; Maka putuskanlah apa yang hendak
kamu putuskan. Sesungguhnya
kamu Hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja.
73. Sesungguhnya kami Telah beriman kepada Tuhan kami, agar dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang Telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)". (QS. Thaha: 72-73)
Kata-kata para tukang sihir tersebut
sangat menyentuh dan mengandung hikmah yang berharga, yang keluar dari orang-orang
yang telah terpenuhi hatinya dengan kebenaran, oleh sebab itulah mereka siapa menghadapi
segala resikonya, sampai tangan dan kaki mereka dipotong silang, petunjuk dan
kebenaran yang telah mereka saksikan tidak berpengaruh sedikitpun terhadap
Fir’aun untuk mengimani Tuhan yang telah menciptakan mereka. Karena itu mereka
berkata kepada Fir’aun : “Putuskan sesukamu dan lakukan apa yang kau inginkan,
engkau hanya menghakimi kehidupan yang sementara ini, kita bertemu nanti
setelah kita mati dan kita lihat balasan kita masing-masing, kami tidak bisa
mengalahkan kehidupan yang abadi hanya demi kehidupan yang sementara,
sesungguhnya kami beriman kepada Rabb kami agar Dia mengampuni
kesalahan-kesalahn kami, dan mengampuni apa yang engkau paksakan kepada kami
melakukan perbuatan sihir, dan Allah SWT lebih bauik darimu dan lebih kekal,
Dia sangatlah patut untuk diimani.
Kemudian para tukang sihir tersebut
mengakhiri nasehat mereka terhadap Fir’aun seraya berkata :
74.
Sesungguhnya barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam keadaan berdosa,
Maka Sesungguhnya baginya neraka jahannam. ia tidak mati di dalamnya dan tidak
(pula) hidup[932].
75. Dan barangsiapa datang kepada Tuhannya dalam
keadaan beriman, lagi sungguh-sungguh Telah beramal saleh, Maka mereka Itulah
orang-orang yang memperoleh tempat-tempat yang Tinggi (mulia), (QS. Thaha:
74-75)
[932] maksud tidak
mati ialah dia selalu merasakan azab dan maksud tidak hidup ialah hidup yang
dapat dipergunakannya untuk bertaubat.
Melalui
Nasehat ini Fir’aun diingatkan bahwa dirinya tidak akan mati sebagimana
layaknya orang mati di dunia, tetapi keadaannya antara mati dan hidup. Tidak
dapat istirahat dari adzab, tidak menikmati istirahat kematian dan juga tidak
merasakan nikmatnya kehidupan. Sebaliknya barang siapa yang mengimani kehidupan
setelah mati, dan tsiqh kepada Allah SWT, ia akan mersakan ringannya beban
kehidupan, apapun yang menimpanya di jalan keimanannya. “Ya Allah kokohkanlah
iman kami, kuatkanlah keyakinan kami, mantapkanlah tekad kami, sebagaimana
Engkau mantapkan tekad orang-orang beriman kepada Nabi Musa, yaitu para tukang
sihir Fir’aun, sehingga mereka tidak peduli dengan ancaman Fir’aun dan
kekejamannya, tidak ada rasa takut pada diri mereka kecuali kepada Engkau Ya
Allah, mereka telah menjadikan keagungan-MU di atas segala keagungan, dan
kemuliaan-MU di astas segala kemuliaan. Dan mereka menjadi tauladan tertinggi
dalam hal pengorbanan dan keluhuran, mereka adalah contoh dan teladan yang
baik.
*******************
۞ وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰىٓ اَنْ اَسْرِ بِعِبَادِيْٓ اِنَّكُمْ
مُّتَّبَعُوْنَ ٥٢
52. Dan kami wahyukan
(perintahkan) kepada Musa: "Pergilah di malam hari dengan membawa
hamba-hamba-Ku (Bani Israil), Karena Sesungguhnya kamu sekalian akan
disusuli". (QS. Asy-Syu’ara: 52)
Besar kemungkinan mengapa Allah SWT mewahyukan kepada
Nabi Musa AS untuk memerintahkannya hijrah, hal itu disebabkan bahwasanya musuh
Allah Fir’aun akan menganiayanya habis-habisan setelah peristiwa berimannya
para tukang sihirnya, karena keimanan mereka telah membuatnya marah, sehingga
mereka diancam dipotong tangan dan kakinya, lalu disalib di atas pohon, hal itu
menunjukan bahwa telah menjadi sunnah yang umum bila Allah SWT mengijinkan
Rasul-NYA hijrah demi menghindari penganiyaan musuh, dan menyelamatkan
orang-orang mu’min dari bencana yang menimpa agamanya.
Kemudian tatkala Fir’aun
dan bala tentaranya memburu Musa dalam hijrahnya, untuk menganiyaya
dirinya dan pengikutnya, Allah SWT telah merencanakan Fir’aun dan
balatentaranya akan ditenggelamkan, sementara Musa dan pengikutnya akan
diselamatkan. Hal ini juga dapat dikatakan sebagai sebab mengapa Allah SWT
perintahkan nabi Musa untuk berhijrah.
Sedangkan jalan kering di dasar laut merah yang dilewati
Nabi Musa dan Fir’aun tidak diketahui secara pasti dimana titiknya, namun bila
dikaitkan dengan lebar terusan swiss yang ada sekarang ini jarak yang ditempuh
oleh Nabi Musa cukup jauh, sebab dengan mengendarai kapal saja memakan waktu
sembilan jam.
فَاَوْحَيْنَآ اِلٰى
مُوْسٰٓى اَنِ اضْرِبْ بِّعَصَاكَ الْبَحْرَۗ فَانْفَلَقَ فَكَانَ كُلُّ فِرْقٍ كَالطَّوْدِ
الْعَظِيْمِ ۚ ٦٣
Ayat tersebut menjelaskan bahwa setelah Nabi Musa
memukulkan tongkatnya ke tepi lautan, maka tiba-tiba terbelahlah lautan
tersebut dan terbentanglah jalan yang kering yang menghubungkan kedua garis
pantai, lalu Nabi Musa dipesankan oleh Allah agar jangan takut dan khawatir tertangkap oleh
Fir’aun, sebagaimana firman-NYA :
فَاِنَّهُمْ عَدُوٌّ
لِّيْٓ اِلَّا رَبَّ الْعٰلَمِيْنَ ۙ ٧٧
”kamu tak usah khawatir akan tersusul dan tidak usah takut (akan
tenggelam)". (QS Thaha : 77)
Lalu Fir’aunpun mengejar Nabi Musa dan menyebrang lautan,
sesampainya di tengah lautan, lautan kembali menyatu dan menenggelamkan Fir’aun
dan balatentaranya, mereka menjadi tersesat dan tidak mendapatkan petunjuk
lantaran ulah Fir’aun, sebagaimana firman Allah :
الَّذِيْ خَلَقَنِيْ فَهُوَ يَهْدِيْنِ ۙ ٧٨ وَالَّذِيْ هُوَ يُطْعِمُنِيْ وَيَسْقِيْنِ
ۙ ٧٩
78. Maka Fir'aun dengan
bala tentaranya mengejar mereka, lalu mereka ditutup oleh laut yang
menenggelamkan mereka.
79. Dan Fir'aun
Telah menyesatkan kaumnya dan tidak memberi petunjuk.
LANGKAH-LANGKAH STRATEGIS NABI MUSA AS
1. Himabuan Nabi Musa kepada pengikutnya untuk bersabar.
Fir’aun telah melihat ayat-ayat yang telah dibawa oleh
Nabi Musa AS, kemudian Fir’aun menyatakan bahwa dirinya tidak butuh terhadap
apa yang dibawa oleh Nabi Musa AS. Oleh karena itu Fir’aun menunjukkan
kekufurannya dan pembangkangannya, dan mempengaruhi kaumnya untuk mengambil
tindakan terhadap Nabi Musa AS. Ini awal kerusakan yang menyebabkan kerusakan
yang lainnya. Fir’aun semakin ”gerah” dengan dakwahnya Nabi Musa AS, dan
mengancam Nabi Musa dan pengikutnya dengan membunuh anak-anaknya dan
mempermalukan kaum wanitanya, untuk merealisasikan semua itu Fir’aun pun
membuat maklumat dan programnya. Bani Israil mengeluhkan keadaan ini kepada
Nabi Musa AS, dan Nabi Musapun mewasiatkan mereka dengan kesabaran atas segala
kezaliman yang menimpa mereka, dan memohon pertolongan kepada Allah SWT agar
kuat memikul ujian, serta menjanjikan mereka dengan akibat kesudahan yang baik
jika mereka bertakwa, sebagaimana firman Allah :
وَقَالَ الْمَلَاُ مِنْ قَوْمِ فِرْعَوْنَ اَتَذَرُ مُوْسٰى وَقَوْمَهٗ لِيُفْسِدُوْا
فِى الْاَرْضِ وَيَذَرَكَ وَاٰلِهَتَكَۗ قَالَ سَنُقَتِّلُ اَبْنَاۤءَهُمْ وَنَسْتَحْيٖ
نِسَاۤءَهُمْۚ وَاِنَّا فَوْقَهُمْ قٰهِرُوْنَ ١٢٧ قَالَ مُوْسٰى لِقَوْمِهِ اسْتَعِيْنُوْا
بِاللّٰهِ وَاصْبِرُوْاۚ اِنَّ الْاَرْضَ لِلّٰهِ ۗيُوْرِثُهَا مَنْ يَّشَاۤءُ مِنْ
عِبَادِهٖۗ وَالْعَاقِبَةُ لِلْمُتَّقِيْنَ ١٢٨ قَالُوْٓا اُوْذِيْنَا مِنْ قَبْلِ
اَنْ تَأْتِيَنَا وَمِنْۢ بَعْدِ مَا جِئْتَنَا ۗقَالَ عَسٰى رَبُّكُمْ اَنْ يُّهْلِكَ
عَدُوَّكُمْ وَيَسْتَخْلِفَكُمْ فِى الْاَرْضِ فَيَنْظُرَ كَيْفَ تَعْمَلُوْنَ ࣖ
١٢٩
127. Berkatalah
pembesar-pembesar dari kaum Fir'aun (kepada Fir'aun): "Apakah kamu
membiarkan Musa dan kaumnya untuk membuat kerusakan di negeri Ini (Mesir) dan
meninggalkan kamu serta tuhan-tuhanmu?". Fir'aun menjawab: "Akan kita
bunuh anak-anak lelaki mereka dan kita biarkan hidup perempuan-perempuan
mereka; dan Sesungguhnya kita berkuasa penuh di atas mereka".
128. Musa Berkata kepada kaumnya:
"Mohonlah pertolongan kepada Allah dan bersabarlah; Sesungguhnya bumi
(ini) kepunyaan Allah; dipusakakan-Nya kepada siapa yang dihendaki-Nya dari
hamba-hamba-Nya. dan kesudahan yang baik adalah bagi orang-orang yang
bertakwa."
129. Kaum Musa
berkata: "Kami Telah ditindas (oleh Fir'aun) sebelum kamu datang kepada
kami dan sesudah kamu datang[556]. Musa menjawab: "Mudah-mudahan Allah
membinasakan musuhmu dan menjadikan kamu khalifah di bumi(Nya), Maka Allah akan
melihat bagaimana perbuatanmu[557]. (QS. Al-A’raf: 127-129)
[556] mereka
mengeluh kepada Musa a.s. bahwa nasib mereka sama saja; baik sebelum kedatangan
Musa a.s. untuk menyeru mereka kepada agama Allah dan melepaskan mereka dari
perbudakan Fir'aun, maupun sesudahnya. Ini menunjukkan kekerdilan jiwa dan
Kelemahan daya juang pada mereka.
[557]
Maksudnya: Allah akan membalas perbuatanmu, yang baik dibalas dengan
yang baik, dan yang buruk dibalas dengan yang buruk.
2. Orang beriman dari kalangan keluarga Fir’aun
memperingati kaumnya
Fir’aun merasa sempit dan sesak dengan dakwahnya Nabi
Musa AS, maka Iapun menggelar konferensi untuk membunuh Musa dan menyelamatkan
kaumnya dari pengaruh dakwah dan kerusakannya – menurut persepsi Fir’aun. Allah
SWT berfirman :
وَقَالَ فِرْعَوْنُ ذَرُوْنِيْٓ اَقْتُلْ مُوْسٰى وَلْيَدْعُ رَبَّهٗ ۚاِنِّيْٓ
اَخَافُ اَنْ يُّبَدِّلَ دِيْنَكُمْ اَوْ اَنْ يُّظْهِرَ فِى الْاَرْضِ الْفَسَادَ
٢٦
26. Dan Berkata Fir'aun
(kepada pembesar-pembesarnya): "Biarkanlah Aku membunuh Musa dan hendaklah
ia memohon kepada Tuhannya, Karena Sesungguhnya Aku khawatir dia akan menukar
agamamu atau menimbulkan kerusakan di muka bumi". (QS. Al-Mu’min: 26)
Tatkala Fir’aun dan bala tentaranya sedang merundingkan
sikap dan tindakan mereka terhadap Nabi Musa AS, tiba-tiba ada seseorang yang
menyembunyikan keimanannya dan ikut serta dalam forum tersebut, Ia harus
membela Musa, Ia tidak rela bila seseorang yang menyatakan Tuhanku Allah
dibunuh. Kenudian Ia mengingatkan mereka tentang adzab Allah dan ketegasan
siksa-NYA di dunia, sebagaimana yang telah terjadi pada umat terdahulu karena
kejahatan yang mereka lakukan. Dan juga mengingatkan mereka tentang adzab akherat,
serta mengingatkan mereka bahwa dakwahnya Nabi Musa AS bukanlah hal yang baru,
karena Nabi Yusuf AS juga telah melakukannya kepada kaumnya. Camkanlah beberapa
ayat berikut ini :
وَقَالَ رَجُلٌ مُّؤْمِنٌۖ مِّنْ اٰلِ فِرْعَوْنَ يَكْتُمُ اِيْمَانَهٗٓ اَتَقْتُلُوْنَ
رَجُلًا اَنْ يَّقُوْلَ رَبِّيَ اللّٰهُ وَقَدْ جَاۤءَكُمْ بِالْبَيِّنٰتِ مِنْ رَّبِّكُمْ
ۗوَاِنْ يَّكُ كَاذِبًا فَعَلَيْهِ كَذِبُهٗ ۚوَاِنْ يَّكُ صَادِقًا يُّصِبْكُمْ بَعْضُ
الَّذِيْ يَعِدُكُمْ ۗاِنَّ اللّٰهَ لَا يَهْدِيْ مَنْ هُوَ مُسْرِفٌ كَذَّابٌ ٢٨ يٰقَوْمِ
لَكُمُ الْمُلْكُ الْيَوْمَ ظٰهِرِيْنَ فِى الْاَرْضِۖ فَمَنْ يَّنْصُرُنَا مِنْۢ بَأْسِ
اللّٰهِ اِنْ جَاۤءَنَا ۗقَالَ فِرْعَوْنُ مَآ اُرِيْكُمْ اِلَّا مَآ اَرٰى وَمَآ
اَهْدِيْكُمْ اِلَّا سَبِيْلَ الرَّشَادِ ٢٩ وَقَالَ الَّذِيْٓ اٰمَنَ يٰقَوْمِ اِنِّيْٓ
اَخَافُ عَلَيْكُمْ مِّثْلَ يَوْمِ الْاَحْزَابِۙ ٣٠ مِثْلَ دَأْبِ قَوْمِ نُوْحٍ وَّعَادٍ
وَّثَمُوْدَ وَالَّذِيْنَ مِنْۢ بَعْدِهِمْ ۗوَمَا اللّٰهُ يُرِيْدُ ظُلْمًا لِّلْعِبَادِ
٣١ وَيٰقَوْمِ اِنِّيْٓ اَخَافُ عَلَيْكُمْ يَوْمَ التَّنَادِۙ ٣٢ يَوْمَ تُوَلُّوْنَ
مُدْبِرِيْنَۚ مَا لَكُمْ مِّنَ اللّٰهِ مِنْ عَاصِمٍۚ وَمَنْ يُّضْلِلِ اللّٰهُ فَمَا
لَهٗ مِنْ هَادٍ ٣٣ وَلَقَدْ جَاۤءَكُمْ يُوْسُفُ مِنْ قَبْلُ بِالْبَيِّنٰتِ فَمَا
زِلْتُمْ فِيْ شَكٍّ مِّمَّا جَاۤءَكُمْ بِهٖ ۗحَتّٰىٓ اِذَا هَلَكَ قُلْتُمْ لَنْ
يَّبْعَثَ اللّٰهُ مِنْۢ بَعْدِهٖ رَسُوْلًا ۗ كَذٰلِكَ يُضِلُّ اللّٰهُ مَنْ هُوَ
مُسْرِفٌ مُّرْتَابٌۙ ٣٤
28. Dan seorang laki-laki
yang beriman di antara pengikut-pengikut Fir'aun yang menyembunyikan imannya
berkata: "Apakah kamu akan membunuh seorang laki-laki Karena dia
menyatakan: "Tuhanku ialah Allah padahal dia Telah datang kepadamu dengan
membawa keterangan-keterangan dari Tuhanmu. dan jika ia seorang pendusta Maka
dialah yang menanggung (dosa) dustanya itu; dan jika ia seorang yang benar
niscaya sebagian (bencana) yang diancamkannya kepadamu akan menimpamu".
Sesungguhnya Allah tidak menunjuki orang-orang yang melampaui batas lagi
pendusta.
29. (Musa berkata): "Hai
kaumku, untukmulah kerajaan pada hari Ini dengan berkuasa di muka bumi.
siapakah yang akan menolong kita dari azab Allah jika azab itu menimpa
kita!" Fir'aun berkata: "Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan
apa yang Aku pandang baik; dan Aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang
benar".
30. Dan orang yang beriman itu
berkata: "Hai kaumku, Sesungguhnya Aku khawatir kamu akan ditimpa
(bencana) seperti peristiwa kehancuran golongan yang bersekutu.
31. (yakni) seperti keadaan kaum
Nuh, 'Aad, Tsamud dan orang-orang yang datang sesudah mereka. dan Allah tidak
menghendaki berbuat kezaliman terhadap hamba-hamba-Nya.
32. Hai kaumku, Sesungguhnya Aku
khawatir terhadapmu akan siksaan hari panggil-memanggil[1321].
33. (yaitu) hari
(ketika) kamu (lari) berpaling ke belakang, tidak ada bagimu seorangpun yang
menyelamatkan kamu dari (azab) Allah, dan siapa yang disesatkan Allah, niscaya
tidak ada baginya seorangpun yang akan memberi petunjuk.
[1321] hari kiamat itu dinamakan hari panggil
memanggil Karena orang yang berkumpul di padang mahsyar sebagian memanggil
sehagian yang lain untuk meminta tolong.
34. Dan
Sesungguhnya Telah datang Yusuf kepadamu dengan membawa keterangan-keterangan,
tetapi kamu senantiasa dalam keraguan tentang apa yang dibawanya kepadamu,
hingga ketika dia meninggal, kamu berkata: "Allah tidak akan mengirim
seorang (rasulpun) sesudahnya. Demikianlah Allah menyesatkan orang-orang yang
melampaui batas dan ragu-ragu. (QS. Al-Mu’min: 29-34)
3. Sang Mu’min menyeru kepada keselamatan
Fir’aun dan kaumnya tenggelam dalam kesesatan, seorang
Mu’min senantiasa menyerukan mereka ke jalan yang benar dan lurus, lalu mereka
dinasehati agar tidak terpedaya dengan dunia yang fana ini, tetapi beramal
untuk akherat negeri kekal nan abadi, begitulah Allah membalas kejahatan dengan
balasan yang setimpal. Kemudian sang Mu’min tersebut mencela dakwah Fir’aun
kepada kekufuran, Tuhan-tuhan yang mereka sembah tidak bermanfaat di dunia dan
tidak mendatangkan syafaat di akherat, lalu mereka diingatkan bahwa nanti akan
tiba masanya mereka akan teringat dengan nasehat ini.
Sang Mu’min tersebut menyerahkan perkara ini kepada
Allah, berkaitan dengan keinginan mereka membunuh Nabi Musa As. Kesudahan Nabi
Musa adalah kebahagiaan dan kesudahan Fir’aun adalah kesengsaraan. Al-Qur’an
menjelaskan seruan yang diarahkan dengan gaya bahasa yang menarik. Camkanlah
firman Allah berikut ini :
وَقَالَ الَّذِيْٓ اٰمَنَ يٰقَوْمِ اتَّبِعُوْنِ اَهْدِكُمْ سَبِيْلَ الرَّشَادِۚ
٣٨ يٰقَوْمِ اِنَّمَا هٰذِهِ الْحَيٰوةُ الدُّنْيَا مَتَاعٌ ۖوَّاِنَّ الْاٰخِرَةَ
هِيَ دَارُ الْقَرَارِ ٣٩ مَنْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزٰىٓ اِلَّا مِثْلَهَاۚ
وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّنْ ذَكَرٍ اَوْ اُنْثٰى وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَاُولٰۤىِٕكَ يَدْخُلُوْنَ
الْجَنَّةَ يُرْزَقُوْنَ فِيْهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ ٤٠ ۞ وَيٰقَوْمِ مَا لِيْٓ اَدْعُوْكُمْ
اِلَى النَّجٰوةِ وَتَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَى النَّارِۗ ٤١ تَدْعُوْنَنِيْ لِاَكْفُرَ
بِاللّٰهِ وَاُشْرِكَ بِهٖ مَا لَيْسَ لِيْ بِهٖ عِلْمٌ وَّاَنَا۠ اَدْعُوْكُمْ اِلَى
الْعَزِيْزِ الْغَفَّارِ ٤٢ لَا جَرَمَ اَنَّمَا تَدْعُوْنَنِيْٓ اِلَيْهِ لَيْسَ لَهٗ
دَعْوَةٌ فِى الدُّنْيَا وَلَا فِى الْاٰخِرَةِ وَاَنَّ مَرَدَّنَآ اِلَى اللّٰهِ
وَاَنَّ الْمُسْرِفِيْنَ هُمْ اَصْحٰبُ النَّارِ ٤٣ فَسَتَذْكُرُوْنَ مَآ اَقُوْلُ
لَكُمْۗ وَاُفَوِّضُ اَمْرِيْٓ اِلَى اللّٰهِ ۗاِنَّ اللّٰهَ بَصِيْرٌ ۢبِالْعِبَادِ
٤٤ فَوَقٰىهُ اللّٰهُ سَيِّاٰتِ مَا مَكَرُوْا وَحَاقَ بِاٰلِ فِرْعَوْنَ سُوْۤءُ الْعَذَابِۚ
٤٥
38. Orang yang beriman
itu berkata: "Hai kaumku, ikutilah aku, Aku akan menunjukkan kepadamu
jalan yang benar.
39. Hai kaumku, Sesungguhnya
kehidupan dunia Ini hanyalah kesenangan (sementara) dan Sesungguhnya akhirat
Itulah negeri yang kekal.
40. Barangsiapa mengerjakan
perbuatan jahat, Maka dia tidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan
kejahatan itu. dan barangsiapa mengerjakan amal yang saleh baik laki-laki
maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, Maka mereka akan masuk surga,
mereka diberi rezki di dalamnya tanpa hisab.
41. Hai kaumku, bagaimanakah kamu,
Aku menyeru kamu kepada keselamatan, tetapi kamu menyeru Aku ke neraka?
42. (Kenapa) kamu menyeruku supaya
kafir kepada Allah dan mempersekutukan-Nya dengan apa yang tidak kuketahui
padahal Aku menyeru kamu (beriman) kepada yang Maha Perkasa lagi Maha
Pengampun?
43. Sudah pasti bahwa apa yang kamu
seru supaya Aku (beriman) kepadanya tidak dapat memperkenankan seruan apapun
baik di dunia maupun di akhirat[1323]. dan Sesungguhnya kita kembali kepada
Allah dan Sesungguhnya orang-orang yang melampaui batas, mereka Itulah penghuni
neraka.
44. Kelak kamu akan ingat kepada apa
yang kukatakan kepada kamu. dan Aku menyerahkan urusanku kepada Allah.
Sesungguhnya Allah Maha melihat akan hamba-hamba-Nya".
45. Maka Allah
memeliharanya dari kejahatan tipu daya mereka, dan Fir'aun beserta kaumnya
dikepung oleh azab yang amat buruk. (QS. Al-Mu’min: 38-45)
[1323] Maksudnya:
tidak dapat menolong baik di dunia maupun di akhirat.
4. AROGANSI FIR’AUN
Fir’an terus dalam kesesatannya, dan merasa tersanjung
dan bangga dengan kekuasaannya, karena
itu Ia kerap mengumpulkan rakyatnya seraya berkata: ”Wahai rakyatku
bukankah aku ini penguasa Mesir dan pemegang hak veto untuk memerintah dan
melarang apapun dan siapapun di negeri ini? Bukankah sungau Nil dan anak-anak
sungainya mengalir dibawah Istana kerajaanku ? Bukan aku lebih baik dari Musa
yang hina itu? Bukankah Musa tidak memiliki tanda-tanda kepemimpinan, lalu
untuk apa kalian mengikutinya? Kalau di benar-benar seorang pemimpin, mengapa
tidak ada para malaikat yang mengiringinya? Sesungguhnya apa yang dimiliki Musa
tidak ada apa-apanya dibanding kekuasaanku! Sperti inilah gaya orang-orang yang
pongah dan arogan yang menghina dan melecehkan para penyeru kebenaran di setiap
tempat dan zaman, dari dulu hingga sekarang.
5. FIR’AUN DAN BALA TENTARANYA DITIMPA DENGAN 9 FENOMENA AZAB DAN PENDERITAAN
Tatkala Fir’aun semakin bangga dan arogan dengan
dosa-dosanya, dan tidak menggubris perintah Allah SWT, dan terus menerus
mendustakan Nabi Musa AS dan menganiaya rakyatnya Bani Israil. Maka Allah SWT
memerintahkan kepada Nabi Musa AS untuk menyampaikan kepada Fir’aun bahwa Ia
dan balatentaranya serta kaumnya akan ditimpakan azab yang pedih, sementara
mereka bila mendapatkan azab dari Allah SWT, mereka datang menjumpai Nabi Musa
AS dan meminta kepadanya agar Tuhannya segera menghentikan azab tersebut, mereka
berjanji bila azab dihentikan mereka akan beriman dan tidak menyakiti
pengikutnya orang-orang beriman, namun apabila azab itu benar-benar telah
dicabut, mereka tetap kembali menyimpang dari jalan Allah SWT, mereka ingkari
janjinya, dan tetap membangkang kepada Allah SWT. Padahal Allah SWT telah
seringkali mengirimkan azab kepada mereka, sebagai peringatan atas mereka, agar
mereka kembali ke jalan yang benar.
Ada sembilan fenomena yang dikirim oleh Allah SWT sebagai
azab terhadap Fir’aun dan kaumnya :
- Kekeringan dan paceklik,
(Al-Qahthu wal jadab), dimana sawah dan ladang tidak menumbuhkan tanaman
sedikitpun, dan hal ini digambarkan dalam Al-Qur’an berlangsung
”siniiiin”, yaitu beberapa tahun lamanya.
- Kekurangan buah-buahan
(An-naqshu minatstsamaraat), yaitu sangat sedikit sekali pohon-pohon yang
berbuah, akibat musim paceklik.
- Angin badai (At-Thuufaan), yaitu
banyaknya curah hujan yang merusak tanaman dan buah-buahan, dan meluapnya
sungai Nil yang mengakibatkan terjadinya bencana banjir, sebagaimana yang
diriwayatkan oleh Ibnu Abbas RA.
- Hama wereng atau belalang
(Al-Jarad), sesungguhnya Allah SWT telah mengirim hama tersebut dengan
jumlah yang sangat besar, sehingga menutupi seluruh tanaman dan
menghalanginya dari cahaya matahari, dan seluruh tanaman mati dan rusak
binasa, tanpa satupun yang tersisa.
- Ulat (Al-Qummal), yaitu sejenis
hama ulat yang merusak bibit dan biji tanaman, juga disebut dengan hama
nyamuk (Al-Ba’uudh) yang telah mengerubungi tempat tidur mereka, sehingga
mereka tidak dapat beristirahat dan hidup dengan tenang.
- Katak (Adhofaadi’), hewan ini
berkembang biak dalam waktu singkat dengan jumlah yang sangat banyak, dan
selalu hinggap di atas makanan dan bejana mereka, hinggap di atas tempat
tidur dan pakaian mereka.
- Darah (Al-dam), fenomena ini
merupakan tanda-tanda yang sangat jelas, air yang ada telah berubah
menjadi darah, baik air yang ada di sumur-sumur maupun air yang ada di
sungai-sungai. Bani Isra’il tidak pernah mendapatkan bencana seperti
bencana darah yang satu ini.
- Al-’Asha (tongkat), tanda yang
satu ini memang bukan terkait dengan adzab, tetapi mukjizat yang diberikan
oleh Allah kepada Nabi Musa AS, yang berubah menjadi ular yang hidup dan
bergerak.
- Al-Yad
(tangan), ini juga mukjizat, yaitu ketika Nabi Musa AS memasukan tangannya
ke saku bajunya, sehingga terpancar cahaya daripadanya.
Kesembilan tanda-tanda tersebut dijelaskan oleh Allah SWT
dalam firmanNYA :
وَلَقَدْ اٰتَيْنَا مُوْسٰى تِسْعَ اٰيٰتٍۢ بَيِّنٰتٍ فَسْـَٔلْ بَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ
اِذْ جَاۤءَهُمْ فَقَالَ لَهٗ فِرْعَوْنُ اِنِّيْ لَاَظُنُّكَ يٰمُوْسٰى مَسْحُوْرًا
١٠١
101. Dan Sesungguhnya
kami Telah memberikan kepada Musa sembilan buah mukjizat yang nyata[869], Maka
tanyakanlah kepada Bani Israil, tatkala Musa datang kepada mereka lalu Fir'aun
Berkata kepadanya: "Sesungguhnya Aku sangka kamu, Hai Musa, seorang yang
kena sihir". (QS. Al-Isra: 101)
[869]
mukjizat yang sembilan itu ialah: tongkat, tangan, belalang, kutu,
katak, darah, taupan, laut, dan paceklik.
وَلَقَدْ اَخَذْنَآ اٰلَ فِرْعَوْنَ بِالسِّنِيْنَ وَنَقْصٍ مِّنَ الثَّمَرٰتِ
لَعَلَّهُمْ يَذَّكَّرُوْنَ ١٣٠ فَاِذَا جَاۤءَتْهُمُ الْحَسَنَةُ قَالُوْا لَنَا هٰذِهٖ
ۚوَاِنْ تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَّطَّيَّرُوْا بِمُوْسٰى وَمَنْ مَّعَهٗۗ اَلَآ اِنَّمَا
طٰۤىِٕرُهُمْ عِنْدَ اللّٰهِ وَلٰكِنَّ اَكْثَرَهُمْ لَا يَعْلَمُوْنَ ١٣١ وَقَالُوْا
مَهْمَا تَأْتِنَا بِهٖ مِنْ اٰيَةٍ لِّتَسْحَرَنَا بِهَاۙ فَمَا نَحْنُ لَكَ بِمُؤْمِنِيْنَ
١٣٢ فَاَرْسَلْنَا عَلَيْهِمُ الطُّوْفَانَ وَالْجَرَادَ وَالْقُمَّلَ وَالضَّفَادِعَ
وَالدَّمَ اٰيٰتٍ مُّفَصَّلٰتٍۗ فَاسْتَكْبَرُوْا وَكَانُوْا قَوْمًا مُّجْرِمِيْنَ
١٣٣
130. Dan Sesungguhnya kami Telah menghukum
(Fir'aun dan) kaumnya dengan (mendatangkan) musim kemarau yang panjang dan
kekurangan buah-buahan, supaya mereka mengambil pelajaran.
131. Kemudian apabila datang kepada mereka
kemakmuran, mereka berkata: "Itu adalah Karena (usaha) kami". dan
jika mereka ditimpa kesusahan, mereka lemparkan sebab kesialan itu kepada Musa
dan orang-orang yang besertanya. Ketahuilah, Sesungguhnya kesialan mereka itu
adalah ketetapan dari Allah, akan tetapi kebanyakan mereka tidak Mengetahui.
132. Mereka berkata: "Bagaimanapun kamu
mendatangkan keterangan kepada kami untuk menyihir kami dengan keterangan itu,
Maka kami sekali-kali tidak akan beriman kepadamu".
133. Maka kami kirimkan kepada mereka taufan,
belalang, kutu, katak dan darah[558] sebagai bukti yang jelas, tetapi mereka
tetap menyombongkan diri dan mereka adalah kaum yang berdosa. (QS. Al-A’raf:
130-133)
[558] Maksudnya: air minum mereka
beubah menjadi darah.
Allah
mewahyukan kepada Nabi Musa dan saudaranya Harun Alaihimassalam agar keduanya
membuatkan untuk kaumnya bangunan rumah yang berbeda dari rumah-rumah orang
Qibty, agar mereka mudah dan cepat bergerak bila mereka diperintahkan untuk
berangkat, dan agar satu dengan yang lainnya dapat saling mengenali rumahnya
masing-masing. Allah berfirman :
وَاَوْحَيْنَآ اِلٰى مُوْسٰى وَاَخِيْهِ اَنْ تَبَوَّاٰ لِقَوْمِكُمَا بِمِصْرَ
بُيُوْتًا وَّاجْعَلُوْا بُيُوْتَكُمْ قِبْلَةً وَّاَقِيْمُوا الصَّلٰوةَۗ وَبَشِّرِ
الْمُؤْمِنِيْنَ ٨٧
87. Dan kami wahyukan kepada Musa dan saudaranya:
"Ambillah olehmu berdua beberapa buah rumah di Mesir untuk tempat tinggal
bagi kaummu dan jadikanlah olehmu rumah-rumahmu itu tempat shalat dan
Dirikanlah olehmu sembahyang serta gembirakanlah orang-orang yang
beriman". (QS. Yunus: 87)
Sebagian
Mufassir mengartikan ”Qiblah” pada ayat tersebut dengan ”masjid-masjid”, ada
juga yang menafsirkan tempat memperbanyak shalat, sebagaimana pendapat Mujahid,
Abu Malik, Ibrahim An-Nakh’i, Ar-Rabi’i, Adh-dhahhaak, Zaid bin Aslam, dan
putranya Abdurrahman. Inti maksudnya adalah meminta tolong dengan memperbanyak
shalat dalam menghadapi marabahaya, kesulitan dan penderitaan, sebagaimana
firman Allah :
وَاسْتَعِيْنُوْا بِالصَّبْرِ وَالصَّلٰوةِ ۗ وَاِنَّهَا لَكَبِيْرَةٌ اِلَّا عَلَى
الْخٰشِعِيْنَۙ ٤٥
45. Jadikanlah sabar dan shalat sebagai
penolongmu. dan Sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi
orang-orang yang khusyu', (QS. Al-Baqarah: 45)
Adalah
Rasulullah SAW, apabila menghadapi persoalan langsung bersegera menunaikan
shalat. Sesungguhnya Bani Israil saat itu tidak bisa beribadah secara
terang-terangan di tengah masyarakat dan tempat ibadah mereka, karena itu mereka
diperintah untuk shalat di rumah-rumah mereka, sebagai ganti dari shalat-shalat
mereka yang seharusnya dilakukan ditampakkan sebagai syiar agama yang benar
pada masa itu. Hal itu terpaksa dilakukan karena takut kepada Fir’aun dan
ideologinya.
Nabi
Musa AS telah menyampaikan dakwahnya kepada musuh Allah Fir’aun, dan marah
kepadanya karena Allah sebagaimana firman Allah :
وَقَالَ مُوْسٰى رَبَّنَآ اِنَّكَ اٰتَيْتَ فِرْعَوْنَ وَمَلَاَهٗ زِيْنَةً وَّاَمْوَالًا
فِى الْحَيٰوةِ الدُّنْيَاۗ رَبَّنَا لِيُضِلُّوْا عَنْ سَبِيْلِكَ ۚرَبَّنَا اطْمِسْ
عَلٰٓى اَمْوَالِهِمْ وَاشْدُدْ عَلٰى قُلُوْبِهِمْ فَلَا يُؤْمِنُوْا حَتّٰى يَرَوُا
الْعَذَابَ الْاَلِيْمَ ٨٨ قَالَ قَدْ اُجِيْبَتْ دَّعْوَتُكُمَا فَاسْتَقِيْمَا وَلَا
تَتَّبِعٰۤنِّ سَبِيْلَ الَّذِيْنَ لَا يَعْلَمُوْنَ ٨٩ ۞ وَجَاوَزْنَا بِبَنِيْٓ اِسْرَاۤءِيْلَ
الْبَحْرَ فَاَتْبَعَهُمْ فِرْعَوْنُ وَجُنُوْدُهٗ بَغْيًا وَّعَدْوًا ۗحَتّٰىٓ اِذَآ
اَدْرَكَهُ الْغَرَقُ قَالَ اٰمَنْتُ اَنَّهٗ لَآ اِلٰهَ اِلَّا الَّذِيْٓ اٰمَنَتْ
بِهٖ بَنُوْٓا اِسْرَاۤءِيْلَ وَاَنَا۠ مِنَ الْمُسْلِمِيْنَ ٩٠
88. Musa berkata: "Ya Tuhan kami,
Sesungguhnya Engkau Telah memberi kepada Fir'aun dan pemuka-pemuka kaumnya
perhiasan dan harta kekayaan dalam kehidupan dunia, Ya Tuhan kami - akibatnya
mereka menyesatkan (manusia) dari jalan Engkau. Ya Tuhan kami, binasakanlah
harta benda mereka, dan kunci matilah hati mereka, Maka mereka tidak beriman
hingga mereka melihat siksaan yang pedih."
89.
AlIah berfirman: "Sesungguhnya Telah diperkenankan permohonan kamu
berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan yang lurus dan janganlah
sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang tidak Mengetahui".
90. Dan kami memungkinkan Bani Israil melintasi laut, lalu mereka diikuti oleh Fir'aun dan bala tentaranya, Karena hendak menganiaya dan menindas (mereka); hingga bila Fir'aun itu Telah hampir tenggelam berkatalah dia: "Saya percaya bahwa tidak ada Tuhan melainkan Tuhan yang dipercayai oleh Bani Israil, dan saya termasuk orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)". (QS. Yunus: 88-90)
Yang dimaksud dengan ملأه adalah kaumnya Fir’aun bangsa Qibti dan orang-orang yang berada di atas millah dan agamanya, kemudian ayat yang berbunyi زينة وأموالاً في الحياة الدنيا ربنا ليضلوا عن سبيلك, maksudnya adalah perkara dunia yang memperdaya, sehingga orang yang bodoh menganggap bahwasanya mereka berada dalam keredoan Allah SWT, akan tetapi harta, perhiasan, leluasaan dan kedudukan seluruhnya digunakan semata-mata untuk kepentingan dunia, bukan kepentingan agama, mereka telah terkena fitnah dunia, mereka telah sesat dan menyesatkan.
ربنا
اطمس على أموالهم,
Nabi Musa AS memohon
kepada Allah untuk membinasakan harta benda mereka, ada juga yang mengatakan
agar harta mereka dijadikan batu yang terukir. Muhammad bin Kaab berkata :
”Harta mereka seluruhnya menjadi batu”, واشدد
على قلوبهم,
terpatri dan tercap hatinya, { فلا يؤمنوا حتى يروا
العذاب الأليم },
maka merekapun tetap tidak beriman sampai mereka melihat adzab yang pedih. Do’a
ini dipanjatkan Nabi Musa AS mencerminkan kemarahannya karena Allah dan karena
agamanya, ooleh karena itu Allah SWT mengabulkannya,
أجيبت
دعوتكما فاستقيما ولا تتبعان سبيل الذين لا يعلمون }
{ قد
"Sesungguhnya Telah
diperkenankan permohonan kamu berdua, sebab itu tetaplah kamu berdua pada jalan
yang lurus dan janganlah sekali-kali kamu mengikuti jalan orang-orang yang
tidak Mengetahui".
No comments:
Post a Comment