Friday, March 27, 2026

Ikhwanul Muslimin

Ikhwanul Muslimin adalah gerakan Islam terbesar pada masa modern yang menyerukan kembali kepada Islam sebagaimana terdapat dalam Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya, serta mengajak untuk menerapkan syariat Islam dalam realitas kehidupan. Gerakan ini berdiri menghadapi kebijakan pemisahan agama dari negara serta menentang gelombang sekularisme di kawasan Arab dan dunia Islam.

Pendiri Gerakan:
Pendiri dakwah ini adalah Imam Syaikh Hasan al-Banna, lahir tahun 1324–1368 H (1906–1949 M).

Ia dilahirkan di salah satu desa di wilayah al-Buhairah, Mesir. Ia tumbuh dalam lingkungan religius di keluarga Muslim yang taat. Ayahnya adalah seorang ahli dalam ilmu hadis, dan karya-karyanya menjadi bukti akan hal itu. Keluarga ini memberikan pengaruh besar dalam kehidupannya, dan ia senantiasa berada dalam pemeliharaan serta pertolongan Allah Ta‘ala sepanjang hidupnya.

Ayahnya, Syaikh Ahmad Abdurrahman al-Banna رحمه الله تعالى, berkata tentang masa kecilnya:
Beliau meriwayatkan bahwa Imam Tirmidzi menyebutkan dari Ayyub bin Musa, dari ayahnya, dari kakeknya bahwa Rasulullah bersabda:
“Tidak ada pemberian seorang ayah kepada anaknya yang lebih utama daripada adab yang baik.”

Beliau berkata: Sejak awal aku berharap Allah menganugerahkan kepadaku seorang anak yang saleh, yang aku didik dan aku ajari dengan baik agar menjadi keturunan yang saleh, amal yang terus mengalir, dan peninggalan yang abadi. Maka Allah mengabulkan doaku dan mewujudkan harapanku; Dia menganugerahkan kepadaku seorang anak yang baik yang aku beri nama “Hasan al-Banna”.

Allah menjaga anakku sejak kecil, melindunginya dari segala bahaya dan gangguan. Pernah seekor ular mendekatinya saat ia masih dalam buaian, maka aku memohon kepada Allah, dan Allah menjauhkan bahayanya darinya. Pernah pula atap rumah kami runtuh di rumah pertama kami di kota Mahmudiyah saat ia bersama saudaranya Abdurrahman. Allah menyelamatkan keduanya dengan cara atap itu tersangkut pada tangga, sehingga melindungi mereka dengan tangga rumah yang bahkan belum mampu dijangkau oleh keduanya. Anakku tetap berada di bawah atap hingga puing-puing diangkat, dan Allah menyelamatkan mereka berdua dalam keadaan selamat.

Suatu hari, ia dikejar oleh anjing-anjing yang menggonggong hingga menakutkannya. Ia pun menjatuhkan dirinya ke sebuah kanal bernama ar-Rasyidiyah yang saat itu penuh dengan air sungai Nil pada musim banjir. Namun air itu melemparkannya ke tepi, dan seorang wanita dari penduduk setempat menemukannya. Allah menyelamatkannya dari tenggelam dengan karunia-Nya.

Pertumbuhan anakku bukanlah pertumbuhan biasa; sejak masa kecilnya, kecerdasannya telah tampak. Ia mulai bertanya tentang alam semesta, penciptanya, bulan, dan siapa yang menciptakannya. Aku melihat kecerdasan yang luar biasa padanya sejak dini. Maka aku mengajarinya Al-Qur’an, Sunnah, dan mendidiknya dengan pendidikan yang baik.

Ketika aku memasukkannya ke sekolah guru tingkat dasar di kota Damanhur, ia menunjukkan kecerdasan yang luar biasa. Ia tumbuh dalam kesalehan, kezuhudan, dan ibadah. Ia selalu menjadi yang terbaik di kelasnya dalam semua tahap pendidikan, melampaui teman-temannya. Ia pun diterima di tingkat tinggi Dar al-‘Ulum dengan melewati empat tahun masa persiapan.

Ia pergi ke Kairo tanpa mengenal saudara atau teman, hanya bersandar kepada Allah. Ia tinggal di Al-Azhar, dan ketika lulus dari Dar al-‘Ulum, ia menjadi yang terbaik dalam ujian diploma.

Kementerian Pendidikan berkeinginan mengirimnya ke Eropa dalam sebuah misi pendidikan, namun ia menolak karena suatu urusan yang Allah kehendaki. Ia kemudian diangkat menjadi guru di sekolah Ismailiyah, dan di sanalah lahir dakwahnya; ia mendirikan gagasannya dan membentuk jamaahnya, yaitu Jamaah Ikhwanul Muslimin.

Gagasan anakku menggema ke seluruh penjuru dunia, dakwahnya tersebar di berbagai negeri Islam, dan pesannya menarik perhatian para pemikir. Sekolahnya menghimpun pemuda universitas dan Al-Azhar. Allah memperbarui dakwah Islam pada abad ke-20 melalui dirinya, dan cahaya pemikirannya menerangi setiap rumah. Api dakwahnya menyala di setiap tempat, Allah menguatkan ikatan persaudaraan melalui dirinya dan memperkokoh hubungan antar masyarakat:
“Sekiranya kamu membelanjakan semua yang ada di bumi, niscaya kamu tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah telah mempersatukan hati mereka.” (QS. Al-Anfal: 63).

Syaikh al-Banna رحمه الله, di samping pendidikan agama di rumah dan masjid, juga belajar di sekolah pemerintah hingga masuk Dar al-‘Ulum di Kairo, sebuah perguruan tinggi yang kaya akan ilmu-ilmu Islam, dan ia lulus pada tahun 1927 M.

Syaikh al-Banna antara Ismailiyah dan Kairo:
Ia kemudian diangkat sebagai guru di salah satu sekolah dasar di Ismailiyah. Di sana ia mulai aktivitas dakwahnya di masjid, kafe, dan di kalangan para pekerja Terusan Suez. Hingga pada bulan Dzulqa‘dah 1327 H / April 1928 M, terbentuklah cikal bakal pertama Ikhwan.

Pada tahun 1932 M, Syaikh Hasan al-Banna pindah ke Kairo, dan kepemimpinan gerakan ikut berpindah bersamanya. Ia dikelilingi oleh sahabat-sahabat yang baik dari rekan-rekannya dan orang-orang saleh yang ia kenal.

Pengamatan yang membangkitkan semangat keagamaannya:
Selama masa tinggalnya di Kairo, ia menyaksikan menyebarnya gelombang kerusakan moral di kalangan banyak orang, yang kemudian berkembang menjadi arus kuat ateisme dan kebebasan tanpa batas yang hampir tidak dapat dibendung. Keadaan ini diperparah oleh berbagai peristiwa dan kondisi yang melanda umat.

Keadaan semakin rumit dengan terjadinya perubahan besar di Turki, ketika Mustafa Kemal Pasha memimpin penghapusan khilafah dan memisahkan agama dari negara, padahal negara tersebut sebelumnya dikenal sebagai pusat kepemimpinan kaum Muslimin. Pemerintah Turki kemudian melanjutkan kebijakan ini dalam berbagai aspek kehidupan.

Universitas Mesir pun berubah dari lembaga swasta menjadi universitas negeri yang dikelola pemerintah, dengan berbagai fakultas modern. Banyak dosen dan mahasiswa mengira bahwa universitas tidak akan menjadi modern kecuali dengan menentang agama dan memerangi tradisi sosial yang bersumber darinya. Mereka meniru Barat dan mengikuti pemikiran materialistik. Para dosen dan mahasiswa dikenal dengan kebebasan yang tidak memiliki makna selain kebebasan tanpa batas.

Didirikan pula berbagai lembaga yang dipimpin oleh tokoh-tokoh yang menyerukan kebebasan tersebut, yang menyampaikan ceramah dan kuliah yang menyerang agama, menghapus identitas Islam, dan menyebarkan “wahyu baru”. Para pembicara di dalamnya adalah agen Barat dan kolonialisme dari kalangan Muslim, Kristen, dan Yahudi.

Muncul pula buku, majalah, dan surat kabar yang menyebarkan ide-ide ini dengan tujuan melemahkan pengaruh agama dan menghilangkannya dari hati masyarakat agar mereka dapat menikmati “kebebasan sejati” menurut klaim mereka.

Di banyak rumah besar di Kairo didirikan “salon-salon” tempat para pengunjung mendiskusikan ide-ide ini dan berusaha menyebarkannya di kalangan pemuda dan masyarakat luas.

Reaksi terhadap gelombang ini:
Gelombang ini mendapat reaksi kuat dari kalangan tertentu seperti Al-Azhar dan sebagian lingkaran Islam. Namun mayoritas masyarakat saat itu terbagi menjadi dua: kaum muda terpelajar yang kagum dengan ide-ide tersebut, dan masyarakat umum yang tidak memikirkan masalah ini karena kurangnya pembimbing dan pengarah.

Keadaan ini sangat mempengaruhi Imam al-Banna pada usia muda, bahkan ketika ia masih seorang pelajar. Ia melihat umat Islam yang ia cintai terombang-ambing antara Islam yang mulia yang telah mereka warisi dan jalani selama empat belas abad, dengan serangan Barat yang kuat dan terorganisir, didukung oleh kekuatan materi, kekuasaan, penampilan, kenikmatan, serta berbagai sarana propaganda.


Hal yang sedikit meringankan perasaan Imam al-Banna adalah menyalurkan perasaan tersebut kepada banyak sahabat dekatnya dari kalangan teman-teman mahasiswa ketika ia masih menjadi mahasiswa di Darul Ulum tempat ia belajar, juga kepada kalangan Al-Azhar dan lembaga-lembaga lainnya, serta kepada orang-orang mukmin yang ikhlas yang berada di sekelilingnya.

Mereka sering berbincang tentang persoalan-persoalan ini dan tentang kewajiban melakukan suatu gerakan Islam yang menjadi tandingan, dan dalam hal itu ia merasakan ketenangan jiwa.

Usaha menuju amal dan dorongan ke arahnya:
Gagasan perbaikan (islah) sangat menyibukkan pikiran Syaikh al-Banna. Ia banyak meneliti, banyak membaca, bergaul dengan para ulama, serta mempelajari pengalaman bangsa-bangsa dalam melakukan reformasi. Hingga akhirnya ia sampai pada keyakinan bahwa tidak ada keselamatan bagi umat ini kecuali dengan Islam, dan tidak ada obat bagi penyakit-penyakitnya selain ajaran Islam.

Pada usia muda, Syaikh Hasan al-Banna رحمه الله berusaha menjalin hubungan dengan para ulama dan orang-orang yang memiliki keutamaan dan kedalaman ilmu, untuk bersama-sama mengkaji kondisi umat dan kehancuran yang telah mereka alami, serta berusaha mengangkat mereka dari keterpurukan.

Kita mendengar Syaikh al-Banna berbicara tentang pengembaraannya yang luas dalam berbagai kitab, peristiwa, dan kedalaman sejarah, untuk menggambarkan jalan yang benar dan menemukan arah yang tepat agar dapat melakukan penyelamatan. Ia berkata رحمه الله:

“Wahai saudara-saudaraku yang mulia,
Aku telah banyak membaca, banyak mencoba, bergaul dengan berbagai kalangan, dan menyaksikan banyak peristiwa. Dari perjalanan yang pendek namun penuh tahapan ini, aku sampai pada keyakinan yang kokoh dan tidak tergoyahkan, yaitu: kebahagiaan yang dicari oleh manusia seluruhnya bersumber dari dalam jiwa dan hati mereka, dan tidak pernah datang dari luar hati tersebut.

Dan kesengsaraan yang mengelilingi mereka dan yang mereka coba hindari, juga berasal dari jiwa dan hati mereka. Al-Qur’an menegaskan makna ini, yaitu firman Allah Ta‘ala:
‘Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.’ (QS. ar-Ra‘d).

Aku tidak melihat ucapan yang lebih dalam dalam filsafat sosial daripada perkataan seorang penyair:
“Demi hidupmu, bukan negeri yang sempit bagi penduduknya,
tetapi akhlak manusialah yang menjadi sempit.”

Aku meyakini hal ini, dan di samping itu aku juga meyakini bahwa tidak ada sistem atau ajaran yang mampu menjamin kebahagiaan jiwa manusia dan membimbing manusia kepada jalan praktis yang jelas menuju kebahagiaan tersebut, selain ajaran Islam yang lurus, yang sesuai dengan fitrah, jelas, dan aplikatif.

Di sini bukan tempat untuk merinci ajaran-ajaran tersebut atau membuktikan bahwa ia menjamin hasil tersebut dan menjamin kebahagiaan seluruh umat manusia. Itu memiliki tempat tersendiri. Apalagi kita semua, menurut keyakinanku, sepakat akan kebenaran teori ini. Bahkan banyak dari kalangan non-Muslim yang mengakuinya dan mengakui keindahan serta kesempurnaan Islam.”

Karena itu, sejak awal aku telah menetapkan satu tujuan, yaitu membimbing manusia kepada Islam secara hakikat dan praktik. Oleh karena itu, gagasan Ikhwanul Muslimin adalah gagasan Islam yang murni, baik dalam tujuan maupun sarana, tidak berkaitan dengan selain Islam sedikit pun.

Gagasan-gagasan ini tetap menjadi percakapan batin dan munajat spiritual yang aku sampaikan kepada diriku sendiri, dan terkadang aku sampaikan kepada orang-orang di sekitarku. Kadang muncul dalam bentuk dakwah individu, khutbah nasihat, atau pelajaran di masjid jika ada kesempatan mengajar, atau mendorong sebagian sahabat dari kalangan ulama untuk meningkatkan usaha dan menggandakan kerja dalam menyelamatkan manusia serta membimbing mereka kepada kebaikan yang terdapat dalam Islam.

Kemudian terjadi berbagai peristiwa di Mesir dan negeri-negeri Islam lainnya yang membakar jiwaku, menggerakkan perasaan dalam hatiku, dan menyadarkanku akan kewajiban untuk bersungguh-sungguh dalam bekerja, menempuh jalan pembentukan setelah peringatan, dan pembangunan setelah pengajaran. Aku tidak akan memanjangkan penjelasan tentang peristiwa-peristiwa yang telah berlalu dan telah hilang bekasnya, dan yang para pelakunya telah kembali kepada petunjuk atau sebagian petunjuk.

Aku mulai berbicara dengan banyak tokoh besar tentang pentingnya bangkit dan bekerja serta menempuh jalan kesungguhan dan pembentukan. Terkadang aku mendapatkan sikap melemahkan, terkadang dorongan, dan terkadang ajakan untuk menunggu. Namun aku tidak menemukan perhatian yang aku harapkan dalam mengorganisasi usaha-usaha praktis.

Sebagai bentuk kejujuran, aku menyebutkan di sini almarhum Ahmad Pasha Taimur—semoga Allah melapangkan tempatnya di surga—aku tidak pernah melihatnya kecuali sebagai contoh semangat yang tinggi dan kecemburuan agama yang menyala-nyala. Setiap kali aku berbicara dengannya tentang urusan umat, aku menemukan kecerdasan yang sempurna, kesiapan yang penuh, wawasan yang luas, dan penantian terhadap saat untuk bertindak. Semoga Allah merahmatinya dan memberinya balasan terbaik.

Aku pun menghadap kepada para sahabat dan saudara yang bersama-sama denganku dalam masa belajar, yang memiliki persahabatan yang tulus dan rasa tanggung jawab, dan aku menemukan kesiapan yang baik pada mereka.

Di antara yang paling cepat merespons untuk berbagi beban pemikiran dan paling meyakini pentingnya segera bertindak dengan semangat adalah saudara-saudara yang mulia: Ustadz Ahmad Afandi as-Sukkari, saudara yang dermawan almarhum Syaikh Hamid ‘Askariyah—semoga Allah menempatkannya di surga yang luas—dan Syaikh Ahmad Abdul Hamid serta banyak lainnya.

Terjalinlah kesepakatan dan perjanjian bahwa masing-masing dari kami akan bekerja untuk tujuan ini, hingga tradisi umum dalam umat berubah menjadi arah Islam yang benar.

Tidak ada yang mengetahui selain Allah betapa banyak malam yang kami habiskan untuk menelaah kondisi umat dan apa yang telah mereka capai dalam berbagai aspek kehidupan mereka, menganalisis penyakit dan masalah, serta memikirkan pengobatan dan penyelesaiannya. Perasaan kami begitu dalam hingga terkadang kami menangis.

Kami merasa heran melihat diri kami dalam kesibukan jiwa yang berat ini, sementara orang-orang lain bersantai, berkeliaran di kafe-kafe, dan pergi ke tempat-tempat hiburan dan kerusakan. Jika engkau bertanya kepada salah satu dari mereka mengapa mereka duduk dalam kegiatan yang kosong dan membosankan itu, ia akan menjawab: “Untuk menghabiskan waktu.” Padahal orang yang “membunuh waktu” sebenarnya sedang membunuh dirinya sendiri, karena waktu itu adalah kehidupan.

Kami heran terhadap orang-orang ini, padahal banyak dari mereka adalah kaum terpelajar yang lebih pantas daripada kami untuk memikul tanggung jawab ini. Lalu kami berkata satu sama lain: “Bukankah ini merupakan salah satu penyakit umat, bahkan mungkin yang paling berbahaya, yaitu tidak memikirkan penyakitnya dan tidak berusaha mengobatinya?”

Untuk alasan inilah dan yang semisalnya kami bekerja, dan demi memperbaiki kerusakan ini kami mendedikasikan diri kami. Kami merasa terhibur dan bersyukur kepada Allah karena Dia menjadikan kami termasuk orang-orang yang menyeru kepada-Nya dan beramal untuk agama-Nya.


Seiring berjalannya waktu, aktivitas kami pun berubah sehingga kami berempat berpisah. Ahmad Afandi as-Sukkari berada di Mahmudiyah, almarhum Syaikh Hamid ‘Askariyah berada di Zagazig, Syaikh Ahmad Abdul Hamid berada di Kafr ad-Dawwar, dan aku berada di Ismailiyah. Aku teringat perkataan seorang penyair:

“Di Syam keluargaku, di Baghdad tempat cintaku,
sedangkan aku di ar-Raqmatain dan di Fusthat tetanggaku.”

Di Ismailiyah, wahai saudara-saudaraku, aku meletakkan batu pertama bagi pembentukan gagasan ini, dan muncullah organisasi pertama yang sederhana yang kami jalankan dan kami bawa panjinya, serta kami berjanji kepada Allah untuk menjadi prajurit sepenuhnya di jalan ini dengan nama:

“Ikhwanul Muslimin”

Hal itu terjadi pada bulan Dzulqa‘dah tahun 1347 H.

Arah menuju penyebaran dan media:
Pada tahun 1332 H / 1933 M diterbitkan surat kabar mingguan “Ikhwanul Muslimin”, dan Syaikh Muhibuddin al-Khatib (1303–1389 H / 1886–1969 M) dipilih sebagai pemimpinnya. Kemudian terbit surat kabar an-Nadzir pada tahun 1357 H / 1938 M, lalu asy-Syihab pada tahun 1367 H / 1947 M, dan terus bermunculan majalah serta surat kabar yang diterbitkan oleh Ikhwan.

Kekuatan ilmiah dan dakwah beliau:
Kami akan mengutip sebagian ucapan dari orang-orang yang hidup sezaman dengan Imam al-Banna tentang keluasan ilmu beliau, keluasan wawasannya, pemahamannya dalam Islam, serta energi yang tinggi dan tekadnya yang kuat, sehingga ia mampu menjadi pembaharu zaman menurut kesaksian semua orang tanpa ada tandingan.

“Seorang pembaharu yang dipilih oleh Allah
untuk menolak kerusakan yang dibuat manusia.”

Ustadz Ahmad Hasan az-Zayyat—pemilik Majalah ar-Risalah—berkata:
“Aku menemukan pada dirinya sesuatu yang tidak aku temukan pada orang-orang sebelumnya atau pada generasinya: iman kepada Allah yang kokoh seperti kokohnya kebenaran, tidak tergoyahkan oleh kesombongan ilmu atau kegelisahan pemikiran; pemahaman agama yang jernih seperti air hujan yang murni, tidak dikotori oleh kesesatan akal atau kerusakan riwayat; kekuatan dalam penyampaian yang bercahaya seperti wahyu, tidak terhalang oleh kegagapan lidah atau kegelapan perasaan; pembicaraan yang menyentuh hati, ceramah yang menyatu dengan jiwa, daya tarik yang membuatmu mencintai, dan kepribadian yang membuatmu tunduk.”

Aku berkata dalam diriku setelah ia berpamitan dan pergi: “Sungguh menakjubkan, pemuda ini tumbuh sebagaimana anak-anak desa Mesir lainnya, belajar sebagaimana para pelajar di Darul Ulum, dan bekerja sebagaimana guru di Kementerian Pendidikan. Dari mana ia mewarisi iman ini? Dari siapa ia mengambil kefasihan ini? Dari mana ia memperoleh akhlak ini?”

Penyimpangan dari lingkungan jahiliah, penentangan terhadap sistem masyarakat yang rusak, dan ketinggian di atas akhlak zaman yang rendah, adalah ciri seorang rasul atau pembaharu. Allah yang mengetahui di mana Dia menempatkan risalah-Nya, membentuk nabi atau pembaharu dengan penjagaan-Nya agar ia muncul pada waktu yang telah ditentukan untuk memperbarui apa yang telah usang dan menjelaskan apa yang telah samar.

Fitrah yang dimiliki Hasan al-Banna dan masa yang melahirkannya menjadi saksi bahwa ia adalah pembaharu yang dipilih Allah untuk menghadapi kerusakan yang dibuat manusia.

Perbaikan yang ia lakukan—semoga Allah meridhainya—bukan seperti yang dilakukan oleh Ibnu Taimiyah, Ibnu Abdul Wahhab, atau Muhammad Abduh, yang membatasi reformasi mereka pada aspek akidah yang rusak oleh bid‘ah dan kebatilan. Adapun Hasan al-Banna menempuh metode Rasul itu sendiri: menyeru kepada perbaikan agama dan dunia, pembinaan individu dan masyarakat, serta pengaturan politik dan pemerintahan. Ia adalah pembaharu agama pertama yang memahami Islam secara hakiki dan melaksanakan perbaikan secara menyeluruh.

Ia tidak memahami Islam—yang telah menyucikan bumi, membebaskan manusia, dan menegakkan kebenaran—sebagai sekadar ibadah, zikir, dan bacaan wirid, tetapi memahaminya sebagaimana dipahami oleh Nabi Muhammad , Umar, dan Khalid: sebagai cahaya bagi penglihatan dan hati, sebagai sistem bagi peradilan dan pemerintahan, serta sebagai jihad melawan diri dan musuh.

Metode yang diambil al-Banna dari Al-Qur’an, diperkuat dengan ilmu, disebarkan dengan penjelasan, dan didukung dengan praktik nyata, adalah metode yang penuh kesungguhan, kejujuran, dan tekad, sehingga mengguncang kaki penjajah, mengusik kenyamanan para tiran, dan menggagalkan harapan para penindas.

Kekuatan-kekuatan kejahatan pun bersatu melawan dakwah besar ini yang muncul kembali di Mesir, sebagaimana dahulu kekuatan syirik bersatu melawan dakwah Islam saat pertama kali lahir di Hijaz.

Namun karena Hasan al-Banna adalah sebuah gagasan, bukan sekadar sosok; prinsip, bukan sekadar individu, maka gagasan yang benar akan terus tumbuh seperti tumbuhan, dan prinsip yang benar akan tetap bertahan sebagaimana kebenaran itu sendiri.

Aku mengamatinya dari celah pintu:
Penyair besar Ustadz Umar Bahaauddin al-Amiri berkata:
“Aku mengamatinya dengan sangat teliti, bahkan aku mengikutinya dari celah pintu ketika ia salat sendirian di kamarnya sebelum tidur. Aku memperhatikan kekhusyukannya, dan aku melihat bahwa ia lebih lama sujud dan lebih khusyuk kepada Allah dibandingkan ketika ia salat bersama kami.”

Sifat-sifat orang-orang pilihan yang bertekad kuat:
Al-Fudail al-Wartalani berkata:
“Hasan al-Banna memiliki sifat-sifat yang tersebar di banyak orang dan jarang terkumpul dalam satu orang, kecuali pada segelintir orang yang memiliki tekad kuat. Ia memiliki energi tinggi yang biasanya hanya dimiliki sebagian orang dalam satu aspek tertentu, tetapi pada dirinya semuanya terkumpul.

Jika seorang ahli fikih berbicara dengannya, ia akan melihatnya sebagai ahli fikih yang unggul dan mengira itulah satu-satunya keahliannya.
Jika seorang sastrawan bertemu dengannya, ia akan mengira bahwa itulah keahliannya, padahal itu hanya salah satu bagiannya.
Jika seorang politisi bertemu dengannya, ia akan melihatnya sebagai politisi yang luar biasa dan mengira bahwa sifat-sifat lainnya hanya sedikit.
Jika orang-orang mendengarnya berbicara, mereka menganggapnya sebagai seorang orator semata.

Padahal kenyataannya, Hasan al-Banna adalah sosok besar yang menghimpun semua sifat tersebut dengan porsi yang sangat besar, bahkan setara atau lebih dari para spesialis di bidang-bidang tersebut.”

Ia memenuhi rumahnya dengan Al-Qur’an:
Hasan al-Banna di rumahnya merupakan contoh luar biasa kehidupan seorang lelaki.

Ustadz Abdurrahman al-Banna (ayahnya) berkata:
“Hal-hal dari akhlaknya yang tersembunyi antara dirinya dengan Allah tidak diketahui orang lain kecuali keluarganya. Di rumahnya—aku bersaksi demi Allah—ia tidak pernah lepas dari mushafnya, tidak pernah berhenti membacanya, dan tidak lalai dari zikir. Ia membaca Al-Qur’an kepada salah satu dari kami yang hafal agar didengarkan, dan jika tidak menemukan yang hafal, ia menyerahkan mushaf kepada anak kecil untuk mengulanginya bersamanya. Ia memenuhi rumah dengan bacaan Al-Qur’an, tenggelam dalam ayat-ayatnya, larut dalam kenangan, dan naik menuju ketinggian spiritual. Ia mengetahui cara Rasulullah membaca Al-Qur’an dan ia membaca dengan cara itu, serta berhenti pada tempat-tempat di mana Nabi berhenti.”


Tubuhnya sering bergetar, jiwanya diliputi rasa haru, wajahnya menjadi tegang ketika membaca ayat-ayat ancaman, dan bersinar ketika membaca ayat-ayat kabar gembira dan kenikmatan, keluar dari suasana dunia yang ia jalani, tenggelam dalam makna yang jauh, sangat jauh…

“Hampir saja—demi Allah—orang yang membaca Al-Qur’an itu
merasakan seakan-akan suara Rasulullah sedang terdengar.”

Ia adalah orang yang paling mampu mengendalikan dirinya, paling penyabar ketika dihadapkan oleh orang yang bodoh, hingga orang yang tidak mengenalnya menjadi marah karena kesabarannya. Ia adalah orang yang paling mudah memaafkan dan berlapang dada terhadap orang yang menyakitinya, hingga tidak dikenal baginya seorang musuh pun. Ia pernah berkata:
“Di antara kekuranganku adalah aku tidak tahu bagaimana bermusuhan atau membenci.”

Ia adalah seorang yang zuhud dan rendah hati, tidak peduli pada penampilan, dan tidak tertarik pada kesenangan dunia. Ia tampil di hadapan orang-orang dengan jubahnya yang sederhana, putih bersih seperti hatinya, dengan selendang yang sederhana dan sorban yang bercahaya. Ia berjalan untuk memenuhi kebutuhan orang-orang yang membutuhkan, dan tidak merasa lelah meskipun kebutuhan mereka sebesar gunung yang berat. Jika ia telah memenuhi kebutuhan mereka, ia tidur dalam keadaan ridha dan bahagia, serta banyak memuji Allah.

Tidak ada seorang pun yang disebut buruk di hadapannya kecuali ia menegur orang yang menyebutkannya dan memuji orang yang dibicarakan itu, sehingga orang yang mengadu menjadi malu dan orang yang berbuat buruk berhenti, dan hati keduanya menjadi baik. Jika ia membahas suatu perkara, ia membahasnya dari sisi yang lembut dan melihatnya dari sudut pandang yang luas.

Hati “Ali” dan akal “Mu‘awiyah”:
Al-‘Allamah Syaikh Tantawi Jauhari berkata:
“Menurutku, Hasan al-Banna adalah perpaduan yang menakjubkan antara ketakwaan dan kecerdikan politik. Ia adalah hati Ali dan akal Mu‘awiyah. Ia menambahkan unsur ‘keprajuritan’ pada dakwah kebangkitan, dan mengembalikan unsur ‘keislaman’ pada gerakan nasional. Dengan demikian, generasi Islam masa kini menjadi salinan kedua yang lengkap setelah generasi Islam pertama pada masa Rasulullah .”

Ia adalah kumpulan orang-orang kuat dalam satu sosok:
Sahabat dekatnya dan teman seperjuangannya (Mayor Jenderal Muhammad Shalih Harb) berkata:
“Ribuan orang terus kagum tanpa henti terhadap limpahan ilmu yang Allah anugerahkan kepada Hasan al-Banna, yang tampak seperti lautan luas dan aliran deras ketika ia menulis dengan penanya atau berdiri untuk berpidato. Ia dapat berpidato berjam-jam di hadapan massa—baik kalangan elit, rakyat biasa, maupun yang berada di antara keduanya—dan semua merasa puas.

Terkadang ia mengangkat gaya bahasa dan pemikirannya hingga sulit ditandingi oleh para orator dan pemikir elit, dan terkadang ia menyederhanakan ungkapan dan maknanya hingga menjadi mudah dipahami oleh semua orang, meskipun banyak orang tidak mampu menandinginya dalam hal itu.

Sulit untuk mengatakan bahwa limpahan ini hanya hasil dari banyak membaca dan belajar, karena banyak orang yang membaca dan belajar tetapi tidak mampu menulis atau berbicara dengan baik. Menurutku, kemampuan ini pada Hasan al-Banna terbentuk karena beberapa faktor, di antaranya:

  • Jiwa yang bersih dan akal yang cerdas.
  • Hati yang bertakwa, kedekatan kepada Allah, dan ibadah kepada-Nya.
  • Renungan yang terus-menerus terhadap ayat-ayat Allah di alam dan dalam Al-Qur’an.
  • Perhatian besar dalam menerapkan apa yang ia baca dan pahami dalam kehidupan pribadi dan kehidupan sosialnya.

Ia mampu menyalakan semangat gagasan Islam di dalam dada ribuan pemuda, dan mampu mengembalikan keterasingan Islam di kalangan orang-orang yang tidak mengenalnya menjadi pengetahuan dan kedekatan. Untuk itu, ia telah mencurahkan tenaga, jihad, waktu, jiwa, saraf, dan kenyamanannya dengan pengorbanan yang tidak mampu dilakukan kecuali oleh sekelompok orang kuat.”

Arah menuju pengorganisasian administratif dan dakwah:

Majelis Pendiri:
Ini adalah badan tertinggi dalam dakwah yang bertugas menetapkan garis-garis besar kebijakan dakwah dan menjadi rujukan dalam segala hal yang berkaitan dengan kebijakan tersebut.

Majelis ini pertama kali dibentuk pada tahun 1941, terdiri dari seratus anggota yang dipilih oleh Murshid (pemimpin) Ustadz al-Banna dengan mempertimbangkan tiga syarat berikut:

  1. Mereka termasuk generasi awal dalam dakwah.
  2. Memiliki kemampuan yang menonjol atau pengorbanan yang besar serta termasuk orang-orang yang memiliki pendapat.
  3. Mewakili berbagai provinsi negara sejauh mungkin.

Maktab Irsyad (Biro Bimbingan):
Terdiri dari dua belas anggota, dan tugasnya adalah melaksanakan kebijakan yang telah ditetapkan oleh Majelis Pendiri serta menjalankan garis besar yang telah ditentukan. Badan ini dianggap sebagai dewan pengelola dakwah.

Komite Keanggotaan:
Terdiri dari tujuh anggota, bertugas memilih anggota baru untuk Majelis Pendiri, meneliti berbagai hal yang berkaitan dengan anggota tersebut, serta mengeluarkan keputusan terkait mereka.

Konsep Komprehensif dalam Memahami Islam
Konsep menyeluruh Ikhwanul Muslimin terhadap risalah Islam

Imam al-Banna berkata di bawah judul:

“Islam Ikhwanul Muslimin”:
“Perkenankan aku, wahai para hadirin, menggunakan ungkapan ini. Aku tidak bermaksud bahwa Ikhwanul Muslimin memiliki Islam baru selain Islam yang dibawa oleh Nabi Muhammad dari Rabb-nya. Yang aku maksud adalah bahwa banyak kaum Muslimin di berbagai zaman telah memberikan sifat, batasan, dan definisi terhadap Islam dari diri mereka sendiri, serta menggunakan fleksibilitas dan keluasan Islam secara tidak tepat—padahal keluasan itu diberikan untuk hikmah yang tinggi.

Akibatnya, mereka berbeda jauh dalam memahami makna Islam, sehingga terbentuk berbagai gambaran tentang Islam dalam jiwa para penganutnya, yang ada yang mendekati, menjauh, atau bahkan sesuai dengan Islam yang asli yang dicontohkan dengan sebaik-baiknya oleh Rasulullah dan para sahabatnya.”


Di antara manusia ada yang tidak melihat Islam sebagai sesuatu selain batas-batas ibadah lahiriah; jika ia telah melaksanakannya atau melihat orang lain melaksanakannya, ia merasa tenang dan puas, serta menganggap dirinya telah sampai pada inti Islam. Inilah makna yang umum di kalangan kebanyakan kaum Muslimin.

Ada pula yang tidak melihat Islam kecuali sebagai akhlak mulia, spiritualitas yang melimpah, serta santapan filosofis yang lezat bagi akal dan jiwa, dan menjauhkan keduanya dari kotoran materi yang zalim dan mendominasi.

Sebagian lainnya membatasi Islam hanya pada kekaguman terhadap makna-makna praktis dan hidup tersebut dalam Islam, sehingga tidak merasa perlu melihat selainnya dan tidak tertarik memikirkan hal lain di luar itu.

Ada pula yang memandang Islam sebagai sekumpulan akidah warisan dan amalan tradisional yang tidak membawa manfaat dan tidak menghasilkan kemajuan, sehingga ia merasa jenuh terhadap Islam dan segala sesuatu yang berkaitan dengannya. Makna ini tampak jelas dalam jiwa banyak orang yang mendapat pendidikan asing dan tidak memiliki kesempatan untuk berhubungan dengan hakikat Islam secara benar; mereka pada dasarnya tidak mengetahui apa pun tentang Islam, atau mereka mengenalnya dalam bentuk yang telah terdistorsi akibat pergaulan dengan kaum Muslimin yang tidak mampu menampilkan Islam dengan baik.

Di bawah semua kategori ini terdapat pula berbagai kelompok lain, yang masing-masing memiliki pandangan tentang Islam yang berbeda-beda, sedikit atau banyak. Hanya sedikit orang yang memahami Islam secara utuh dan jelas yang mencakup semua makna tersebut.

Beragam gambaran tentang satu Islam ini dalam jiwa manusia menyebabkan mereka berbeda secara nyata dalam memahami Ikhwanul Muslimin dan dalam membayangkan gagasan mereka.

Sebagian orang menganggap Ikhwanul Muslimin sebagai kelompok yang hanya memberikan nasihat dan bimbingan, yang seluruh perhatiannya adalah menyampaikan nasihat kepada manusia agar menjauhkan diri dari dunia dan mengingatkan mereka akan akhirat.

Sebagian lainnya menganggap Ikhwanul Muslimin sebagai suatu tarekat sufi yang fokus mengajarkan berbagai bentuk zikir, macam-macam ibadah, serta hal-hal yang berkaitan dengan kezuhudan dan pengasingan diri.

Sebagian lagi mengira bahwa mereka adalah kelompok pemikiran fikih yang hanya berkutat pada sejumlah hukum tertentu, berdebat dan memperjuangkannya, memaksa manusia untuk menerimanya, serta bermusuhan atau berdamai dengan orang lain berdasarkan penerimaan terhadap hukum-hukum tersebut.

Hanya sedikit orang yang benar-benar berinteraksi dengan Ikhwanul Muslimin, bergaul dengan mereka secara langsung, tidak berhenti pada sekadar mendengar, dan tidak memaksakan gambaran Islam menurut persepsi mereka sendiri kepada Ikhwanul Muslimin. Mereka inilah yang mengetahui hakikat Ikhwan dan memahami seluruh aspek dakwah mereka, baik secara ilmu maupun praktik.

Karena itu, aku ingin menyampaikan kepada kalian secara ringkas tentang makna Islam dan gambaran yang hidup dalam jiwa Ikhwanul Muslimin, agar dasar yang kami serukan, yang kami banggakan dan kami jadikan sandaran, menjadi jelas dan terang.

Kami meyakini bahwa hukum-hukum dan ajaran Islam bersifat menyeluruh, mencakup urusan manusia di dunia dan di akhirat. Orang-orang yang mengira bahwa ajaran ini hanya berkaitan dengan aspek ibadah atau spiritual semata adalah keliru dalam anggapan tersebut.

Islam adalah akidah dan ibadah, tanah air dan kewarganegaraan, agama dan negara, spiritualitas dan amal, serta mushaf dan pedang.

Al-Qur’an al-Karim menegaskan semua itu dan menganggapnya sebagai inti dan esensi Islam, serta menganjurkan untuk berbuat baik dalam semua aspek tersebut. Hal ini ditunjukkan oleh firman Allah Ta‘ala:
“Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu.” (QS. al-Qashash).

Engkau dapat membaca dalam Al-Qur’an—dan dalam salat jika engkau mau—firman Allah tentang akidah dan ibadah:
“Dan mereka tidak diperintahkan kecuali untuk menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam keadaan lurus, mendirikan salat, dan menunaikan zakat; dan itulah agama yang lurus.” (QS. al-Bayyinah).

Dan engkau membaca firman-Nya tentang hukum, peradilan, dan politik:
“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati mereka terhadap keputusanmu dan mereka menerimanya dengan sepenuhnya.” (QS. an-Nisa).

Dan engkau membaca firman-Nya tentang agama dan perdagangan:
“Wahai orang-orang yang beriman, apabila kamu berutang piutang untuk waktu yang ditentukan, maka tulislah… (hingga akhir ayat).” (QS. al-Baqarah).

Dan engkau membaca firman-Nya tentang jihad, peperangan, dan pertempuran:
“Dan apabila engkau berada di tengah-tengah mereka lalu engkau mendirikan salat untuk mereka, maka hendaklah segolongan dari mereka berdiri (salat) bersamamu dan menyandang senjata mereka…” (QS. an-Nisa).

Dan masih banyak ayat-ayat lain yang sangat jelas dalam membahas tujuan-tujuan tersebut maupun dalam adab-adab umum dan urusan sosial lainnya.

Dengan demikian, Ikhwan berpegang teguh pada Kitab Allah, mengambil inspirasi darinya, dan menjadikannya sebagai petunjuk. Mereka meyakini bahwa Islam adalah makna yang menyeluruh ini, dan bahwa Islam harus menguasai seluruh aspek kehidupan, mewarnai semuanya, serta menjadi dasar hukum bagi seluruhnya.

Seluruh kehidupan harus berjalan sesuai dengan aturan dan ajaran Islam, serta mengambil darinya selama umat ingin menjadi Muslim yang benar. Adapun jika mereka hanya berislam dalam ibadah, tetapi meniru orang-orang non-Muslim dalam urusan lainnya, maka mereka adalah umat yang Islamnya tidak sempurna, seperti yang disebutkan oleh Allah Ta‘ala:
“Apakah kamu beriman kepada sebagian kitab dan kafir terhadap sebagian yang lain? Maka tidak ada balasan bagi orang yang berbuat demikian di antara kamu selain kehinaan dalam kehidupan dunia, dan pada hari kiamat mereka dikembalikan kepada azab yang paling berat. Dan Allah tidak lengah terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS. al-Baqarah).

Di samping itu, Ikhwan meyakini bahwa sumber utama ajaran Islam adalah Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya . Jika umat berpegang teguh kepada keduanya, mereka tidak akan tersesat selamanya.

Mereka juga meyakini bahwa banyak pendapat dan ilmu yang berkembang dalam Islam telah dipengaruhi oleh kondisi zaman dan masyarakat yang melahirkannya. Oleh karena itu, sistem Islam yang akan diterapkan umat harus diambil dari sumber yang murni ini, yaitu sumber Islam yang asli dan sederhana.

Kita harus memahami Islam sebagaimana dipahami oleh para sahabat dan tabi‘in dari kalangan salafus shalih رضي الله عنهم, dan berhenti pada batas-batas ilahi dan kenabian tersebut, agar kita tidak membatasi diri dengan sesuatu yang tidak ditetapkan oleh Allah, dan tidak memaksakan kepada zaman kita sesuatu yang tidak sesuai dengannya.

Islam adalah agama bagi seluruh umat manusia.


Di samping itu juga, Ikhwanul Muslimin meyakini bahwa Islam sebagai agama yang universal mencakup seluruh aspek kehidupan bagi semua bangsa dan umat di setiap masa dan zaman. Islam datang dalam bentuk yang sempurna dan luhur, sehingga tidak terfokus pada rincian-rincian kehidupan, khususnya dalam urusan duniawi semata. Islam hanya meletakkan kaidah-kaidah umum dalam setiap bidang tersebut, serta membimbing manusia kepada cara-cara praktis untuk menerapkannya dan berjalan dalam batas-batasnya.

Untuk menjamin kebenaran dan ketepatan dalam penerapan tersebut—atau setidaknya untuk mendekatinya—Islam memberikan perhatian besar pada pembinaan jiwa manusia, karena jiwa merupakan sumber dari sistem, bahan pemikiran, serta dasar pembentukan dan perwujudan. Islam memberikan kepada jiwa berbagai obat yang efektif untuk membersihkannya dari hawa nafsu, menyucikannya dari kotoran tujuan-tujuan yang buruk, membimbingnya menuju kesempurnaan dan keutamaan, serta mencegahnya dari kezaliman, kekurangan, dan permusuhan.

Apabila jiwa telah lurus dan bersih, maka semua yang keluar darinya akan menjadi baik secara keseluruhan.

Orang-orang mengatakan bahwa keadilan tidak terletak pada teks hukum, tetapi pada diri hakim. Engkau bisa membawa hukum yang sempurna dan adil kepada hakim yang dikuasai hawa nafsu, lalu ia menerapkannya secara zalim tanpa keadilan. Sebaliknya, engkau bisa membawa hukum yang kurang sempurna bahkan tidak adil kepada hakim yang saleh dan adil, yang jauh dari hawa nafsu, maka ia akan menerapkannya secara adil, penuh kebaikan, kebajikan, kasih sayang, dan keadilan.

Karena itu, jiwa manusia mendapat perhatian besar dalam Kitab Allah. Jiwa-jiwa pertama yang dibentuk oleh Islam ini menjadi contoh kesempurnaan manusia. Oleh sebab itu pula, sifat Islam mampu menyesuaikan diri dengan berbagai zaman dan bangsa, serta mencakup berbagai tujuan dan kebutuhan. Oleh karena itu juga, Islam tidak pernah menolak untuk mengambil manfaat dari setiap sistem yang baik selama tidak bertentangan dengan kaidah-kaidah umum dan prinsip-prinsip dasarnya.

Aku tidak ingin, wahai para hadirin, memperpanjang penjelasan ini, karena hal tersebut merupakan pembahasan yang luas. Cukuplah penjelasan singkat ini memberikan gambaran tentang makna umum dari gagasan Islam dalam jiwa Ikhwanul Muslimin.

Gagasan Ikhwanul Muslimin mencakup seluruh makna reformasi

Sebagai konsekuensi dari pemahaman yang menyeluruh tentang Islam ini, gagasan Ikhwanul Muslimin mencakup seluruh aspek perbaikan dalam umat, serta mengandung semua unsur dari berbagai pemikiran reformasi lainnya. Setiap reformis yang ikhlas dan memiliki kecemburuan terhadap agama akan menemukan harapannya dalam gagasan ini. Harapan para pecinta reformasi pun bertemu di dalamnya, bagi mereka yang mengenalnya dan memahami tujuannya.

Engkau dapat mengatakan tanpa ragu bahwa Ikhwanul Muslimin adalah:

Sebuah dakwah salafiyah:
Karena mereka menyeru untuk mengembalikan Islam kepada sumbernya yang murni, yaitu Kitab Allah dan Sunnah Rasul-Nya.

Sebuah metode sunnah:
Karena mereka berusaha mengamalkan Sunnah yang suci dalam segala hal, khususnya dalam akidah dan ibadah sejauh mereka mampu.

Hakikat tasawuf:
Karena mereka meyakini bahwa dasar kebaikan adalah kesucian jiwa, kebersihan hati, konsistensi dalam amal, menjauhkan diri dari ketergantungan kepada manusia, cinta karena Allah, dan keterikatan pada kebaikan.

Sebuah lembaga politik:
Karena mereka menuntut perbaikan pemerintahan di dalam negeri, memperbaiki hubungan umat Islam dengan bangsa lain di luar negeri, serta mendidik rakyat untuk memiliki harga diri, kemuliaan, dan menjaga identitas kebangsaan mereka secara maksimal.

Sebuah kelompok olahraga:
Karena mereka memperhatikan kesehatan jasmani mereka, dan meyakini bahwa mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah. Nabi bersabda: “Sesungguhnya tubuhmu memiliki hak atas dirimu.” Semua kewajiban Islam tidak dapat dilaksanakan dengan sempurna kecuali dengan tubuh yang kuat, karena salat, puasa, haji, dan zakat membutuhkan kekuatan fisik untuk bekerja dan berjuang dalam mencari rezeki. Oleh karena itu, mereka memberikan perhatian besar pada organisasi dan tim olahraga mereka, bahkan mungkin melebihi banyak klub olahraga khusus.

Sebuah ikatan ilmiah dan budaya:
Karena Islam menjadikan menuntut ilmu sebagai kewajiban bagi setiap Muslim laki-laki dan perempuan. Klub-klub Ikhwan pada hakikatnya adalah sekolah untuk belajar dan membangun wawasan, serta tempat pembinaan jasmani, akal, dan ruh.

Sebuah perusahaan ekonomi:
Karena Islam memperhatikan pengelolaan dan perolehan harta secara benar. Nabi bersabda: “Sebaik-baik harta adalah harta yang baik di tangan orang yang saleh.” Dan beliau juga bersabda: “Barang siapa yang malamnya lelah karena bekerja dengan tangannya sendiri, maka ia diampuni.” Sesungguhnya Allah mencintai mukmin yang memiliki profesi.

Sebuah gagasan sosial:
Karena mereka memperhatikan penyakit-penyakit masyarakat Islam dan berusaha mencari cara untuk mengobatinya serta menyembuhkan umat darinya.

Dengan demikian, kita melihat bahwa keluasan makna Islam telah menjadikan gagasan ini mencakup seluruh aspek perbaikan, dan mengarahkan aktivitas Ikhwan ke semua bidang tersebut. Sementara yang lain hanya fokus pada satu bidang saja, Ikhwan bergerak dalam semua bidang tersebut, karena mereka meyakini bahwa Islam menuntut semuanya.

Karena itu, banyak bentuk aktivitas Ikhwan yang tampak kontradiktif di mata sebagian orang, padahal sebenarnya tidak.

Seseorang mungkin melihat seorang anggota Ikhwan sedang khusyuk beribadah di mihrab, menangis dan merendahkan diri. Tidak lama kemudian, orang yang sama menjadi seorang penceramah yang menyampaikan nasihat dengan keras. Setelah itu, ia menjadi seorang atlet yang bermain bola, berlatih lari, atau berenang. Kemudian, ia juga bisa menjadi seorang pekerja di toko atau pabriknya yang bekerja dengan amanah dan keikhlasan.

Semua ini mungkin tampak bertentangan bagi sebagian orang. Namun jika mereka memahami bahwa semua itu dihimpun oleh Islam, diperintahkan oleh Islam, dan dianjurkan oleh Islam, maka mereka akan melihat keselarasan dan keharmonisan di dalamnya.

Di samping keluasan ini, Ikhwan juga menjauhi berbagai kekurangan, kritik, dan kelemahan yang mungkin terdapat dalam masing-masing bidang tersebut.

Mereka juga menjauhi fanatisme terhadap gelar atau label, karena mereka dipersatukan oleh Islam di bawah satu nama: “Ikhwanul Muslimin.”

Beberapa karakteristik dakwah Ikhwan:
Di antara ketetapan Allah terhadap dakwah Ikhwan adalah bahwa ia tumbuh di Ismailiyah, dan hal itu terjadi setelah adanya perselisihan fikih di antara masyarakat serta perpecahan yang berlangsung selama bertahun-tahun mengenai beberapa persoalan cabang, yang diperparah oleh orang-orang yang memiliki kepentingan dan ambisi.

Selain itu, kemunculan dakwah ini juga bertepatan dengan masa konflik yang keras antara penjajah asing yang fanatik dan kaum nasionalis yang berjuang.

Akibat dari kondisi-kondisi ini, dakwah ini memiliki karakteristik yang membedakannya dari banyak dakwah lain yang hidup pada masa yang sama.


Di antara karakteristik tersebut adalah:

  • Menjauh dari dominasi para tokoh besar dan orang-orang terpandang.
  • Menjauh dari partai-partai dan organisasi-organisasi.
  • Memberikan perhatian pada pembinaan dan bertahap dalam langkah-langkah.
  • Mengutamakan sisi praktis dan produktif dibandingkan propaganda dan publikasi.
  • Antusiasme yang tinggi dari kalangan pemuda.
  • Penyebaran yang cepat di desa-desa dan berbagai daerah.

Menjauh dari titik-titik perbedaan:
Adapun menjauh dari persoalan-persoalan khilafiyah (perbedaan pendapat) dalam masalah fikih, karena Ikhwan meyakini bahwa perbedaan dalam masalah cabang adalah sesuatu yang pasti dan tidak bisa dihindari, sebab dasar-dasar Islam berupa ayat-ayat, hadis-hadis, dan praktik-praktik dapat dipahami secara berbeda oleh akal dan pemahaman manusia.

Oleh karena itu, perbedaan telah terjadi di kalangan para sahabat sendiri, dan akan terus terjadi hingga hari kiamat. Betapa bijaknya Imam Malik رضي الله عنه ketika berkata kepada Abu Ja‘far yang ingin memaksakan kitab al-Muwaththa’ kepada seluruh manusia:
“Sesungguhnya para sahabat Rasulullah telah tersebar di berbagai negeri, dan pada setiap kaum terdapat ilmu. Jika engkau memaksa mereka pada satu pendapat, maka akan terjadi fitnah.”

Yang menjadi masalah bukanlah adanya perbedaan, tetapi fanatisme terhadap pendapat dan membatasi kebebasan berpikir manusia. Pandangan terhadap persoalan perbedaan ini telah menyatukan hati-hati yang terpecah pada satu gagasan. Cukuplah bagi manusia untuk bersatu pada hal-hal yang menjadikan seseorang sebagai Muslim, sebagaimana dikatakan oleh Zaid رضي الله عنه.

Pandangan ini sangat diperlukan bagi sebuah jamaah yang ingin menyebarkan gagasan di sebuah negeri yang belum tenang dari gejolak perbedaan dalam hal-hal yang sebenarnya tidak layak diperdebatkan atau diperselisihkan.

Menjauh dari dominasi para tokoh besar dan orang-orang terpandang:
Adapun menjauh dari dominasi para tokoh besar dan orang-orang terpandang, karena biasanya mereka berpaling dari dakwah-dakwah baru yang bersih dari kepentingan dan hawa nafsu, menuju dakwah-dakwah yang memberikan keuntungan dan manfaat—setidaknya menurut anggapan manusia.

Kami, para pelaku dakwah Ikhwan, memang sengaja melakukan hal ini pada awal kemunculan dakwah, agar warna murninya tidak tercampur dengan warna lain dari berbagai dakwah yang dipromosikan oleh para tokoh tersebut, dan agar tidak ada yang berusaha memanfaatkannya atau mengarahkannya kepada tujuan selain yang telah ditetapkan.

Selain itu, banyak di antara para tokoh besar tersebut yang tidak memiliki kesempurnaan Islam yang seharusnya dimiliki oleh seorang Muslim biasa, apalagi seorang Muslim besar yang membawa nama dakwah Islam untuk membimbing manusia.

Karena itu, golongan ini tetap jauh dari Ikhwan, kecuali sebagian kecil dari orang-orang mulia dan berbudi luhur yang memahami gagasan mereka, bersimpati terhadap tujuan mereka, ikut serta dalam aktivitas mereka, dan mendoakan keberhasilan serta kesuksesan mereka.

Menjauh dari organisasi dan partai:
Adapun menjauh dari hubungan dengan partai-partai dan organisasi-organisasi, karena adanya pertentangan dan permusuhan di antara mereka yang tidak sesuai dengan ukhuwah Islamiyah.

Dakwah Islam bersifat umum, menyatukan dan tidak memecah belah. Ia hanya dapat dijalankan oleh orang yang telah melepaskan diri dari segala kepentingan pribadi dan mengikhlaskan diri sepenuhnya untuk Allah.

Hal ini dahulu terasa sulit bagi jiwa-jiwa yang ambisius, yang ingin mencapai kedudukan atau harta melalui partai atau kelompok mereka. Oleh karena itu, kami memilih untuk menjauhi semuanya, meskipun harus bersabar kehilangan banyak unsur yang baik, hingga akhirnya tabir tersingkap dan manusia memahami kebenaran yang sebelumnya tersembunyi, sehingga mereka kembali kepada jalan yang benar setelah melalui pengalaman dan hati mereka dipenuhi keyakinan dan keimanan.

Kini—setelah dakwah ini semakin kuat, kokoh, dan mampu mempengaruhi tanpa dipengaruhi—kami menyeru kepada para tokoh, orang-orang terpandang, organisasi, dan partai untuk bergabung dengan kami, mengikuti jalan kami, bekerja bersama kami, meninggalkan tampilan-tampilan kosong yang tidak bermanfaat, dan bersatu di bawah panji Al-Qur’an yang agung, berlindung di bawah bendera Nabi yang mulia, serta menempuh jalan Islam yang lurus.

Jika mereka menyambutnya, maka itu adalah kebaikan dan kebahagiaan bagi mereka di dunia dan akhirat, dan dakwah ini dapat mempersingkat waktu dan usaha dengan kehadiran mereka. Namun jika mereka menolak, maka tidak mengapa bagi kami untuk menunggu dan hanya meminta pertolongan kepada Allah, hingga akhirnya mereka tersudut dan terpaksa bekerja untuk dakwah sebagai pengikut, padahal sebelumnya mereka bisa menjadi pemimpin.

Allah Maha Menguasai urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.

Bertahap dalam langkah-langkah:
Adapun bertahap, bergantung pada pembinaan, dan kejelasan langkah dalam jalan Ikhwanul Muslimin, karena mereka meyakini bahwa setiap dakwah pasti melalui tiga tahap:

  1. Tahap penyebaran: yaitu memperkenalkan, menyosialisasikan, dan menyampaikan gagasan kepada masyarakat dari berbagai lapisan.
  2. Tahap pembentukan: yaitu memilih para pendukung, menyiapkan kader, dan mengatur barisan dari kalangan yang telah menerima dakwah.
  3. Tahap pelaksanaan: yaitu bekerja dan berproduksi.

Sering kali ketiga tahap ini berjalan bersamaan karena kesatuan dakwah dan kuatnya hubungan di antara semuanya. Seorang dai berdakwah, sekaligus memilih dan membina, serta pada saat yang sama juga bekerja dan melaksanakan.

Tidak diragukan lagi bahwa tujuan akhir atau hasil yang sempurna tidak akan tampak kecuali setelah dakwah tersebar luas, jumlah pendukung banyak, dan pembinaan telah kuat.

Dalam kerangka tahapan ini, dakwah kami telah berjalan dan masih terus berjalan. Kami memulai dengan dakwah, menyampaikannya kepada umat melalui pelajaran yang berkelanjutan, perjalanan dakwah yang terus-menerus, berbagai publikasi, pertemuan umum dan khusus, serta melalui surat kabar Ikhwanul Muslimin yang pertama dan kemudian majalah mingguan an-Nadzir.

Kami terus berdakwah dan akan terus melakukannya hingga tidak ada satu pun individu yang belum menerima dakwah Ikhwanul Muslimin dalam bentuknya yang murni dan benar.

Allah tidak akan membiarkan cahaya-Nya padam, dan kami meyakini bahwa kami telah mencapai tahap yang membuat kami merasa mantap dalam perjalanan ini. Maka kini menjadi kewajiban kami untuk melangkah ke tahap kedua, yaitu tahap pemilihan, pembinaan, dan pengorganisasian barisan.


Kami telah melangkah ke tahap kedua dalam tiga bentuk:

Usrah (kelompok kecil):
Yang dimaksud dengannya adalah memperkuat barisan melalui saling mengenal, menyatukan jiwa dan hati, melawan kebiasaan dan adat yang buruk, serta melatih hubungan yang baik dengan Allah Subhanahu wa Ta‘ala dan memohon pertolongan dari-Nya. Inilah lembaga pembinaan ruhani bagi Ikhwanul Muslimin.

Unit kepanduan, pramuka, dan olahraga:
Yang dimaksud dengannya adalah memperkuat barisan dengan mengembangkan fisik para anggota Ikhwan, membiasakan mereka dengan ketaatan, disiplin, dan akhlak olahraga yang mulia, serta mempersiapkan mereka untuk menjadi prajurit yang benar, sebagaimana diwajibkan oleh Islam atas setiap Muslim. Inilah lembaga pembinaan jasmani bagi Ikhwanul Muslimin.

Pelajaran “Ta‘lim” dalam kelompok atau di klub-klub Ikhwanul Muslimin:
Yang dimaksud dengannya adalah memperkuat barisan dengan mengembangkan pemikiran dan akal para anggota Ikhwan melalui kajian menyeluruh terhadap hal-hal penting yang harus diketahui oleh seorang Muslim dalam urusan agama dan dunianya. Inilah lembaga pembinaan ilmiah dan intelektual bagi Ikhwanul Muslimin.

Di samping itu, terdapat berbagai aktivitas lainnya yang melatih para anggota Ikhwan terhadap tugas yang menanti mereka sebagai sebuah jamaah yang mempersiapkan diri untuk memimpin umat, bahkan untuk membimbing seluruh manusia.

Metode Ikhwan dan timbangan dakwah mereka:
Jika engkau menelaah sejarah kebangkitan berbagai bangsa, baik di Timur maupun Barat, dahulu maupun sekarang, engkau akan melihat bahwa para pelaku setiap kebangkitan yang berhasil dan membuahkan hasil memiliki metode yang jelas yang mereka jalankan, serta tujuan yang pasti yang mereka tuju.

Metode tersebut ditetapkan oleh para pelopor kebangkitan, dan mereka bekerja untuk mewujudkannya selama mereka hidup dan mampu. Ketika mereka terhalang darinya atau masa hidup mereka berakhir, maka generasi setelah mereka melanjutkan usaha tersebut, bekerja dengan metode yang sama, memulai dari titik di mana generasi sebelumnya berhenti. Mereka tidak memutus apa yang telah tersambung, tidak merobohkan apa yang telah dibangun, tidak merusak apa yang telah ditegakkan, dan tidak menghancurkan apa yang telah dimakmurkan.

Mereka menambah perbaikan atas apa yang telah dilakukan oleh pendahulu mereka, atau memperkuat hasil yang telah dicapai, atau mengikuti jejak mereka dengan menambah satu lapisan baru dalam bangunan, dan membawa umat lebih dekat kepada tujuan hingga tercapai apa yang diinginkan, atau mereka wafat dalam keadaan lurus dan digantikan oleh generasi berikutnya.

Demikianlah seterusnya hingga harapan terwujud, mimpi menjadi kenyataan, kebangkitan berhasil, jihad membuahkan hasil, dan umat mencapai tujuan yang mereka perjuangkan.

“Barang siapa mengerjakan kebaikan seberat zarrah, niscaya ia akan melihat (balasannya).” (QS. az-Zalzalah: 7).

Jika engkau menelaah sejarah organisasi dan bangsa, engkau akan melihat kebenaran ini dengan jelas, bahwa dasar keberhasilan setiap kebangkitan adalah metode yang jelas dan orang-orang yang bekerja dalam batas metode tersebut tanpa bosan, tanpa lemah, tanpa jenuh, dan tanpa mengeluh.

Hal ini tampak jelas dalam langkah-langkah dakwah Islam pertama. Allah telah menetapkan baginya metode yang jelas yang membawa para sahabat menuju tujuan tersebut:

  • Dakwah secara rahasia,
  • kemudian pengumuman dakwah dan perjuangan tanpa henti,
  • kemudian hijrah ke tempat yang subur dan jiwa-jiwa yang siap,
  • lalu persaudaraan di antara jiwa-jiwa tersebut dan penguatan iman dalam hati mereka,
  • kemudian perjuangan yang serius dan pembelaan kebenaran melawan kebatilan.

Ini pula Abu Bakar yang ingin keluar dari Mekah menuju Madinah, tetapi Nabi memerintahkannya untuk menunggu hingga beliau memberikan izin.

Penentuan tugas dan kejelasan tujuan:
Ikhwanul Muslimin harus menentukan tugas dan tujuan mereka.

Lalu, apakah tugas kami—Ikhwanul Muslimin—secara umum?

Secara garis besar:
Tugas kami adalah menghadapi gelombang besar peradaban materialisme dan budaya kesenangan serta syahwat, yang telah menyeret bangsa-bangsa Islam menjauh dari kepemimpinan Nabi dan petunjuk Al-Qur’an, merampas cahaya petunjuk mereka dari dunia, dan menghambat kemajuan mereka selama ratusan tahun.

Kami berusaha agar gelombang ini surut dari negeri kami dan agar masyarakat kami terbebas dari bencananya. Kami tidak berhenti sampai di situ, bahkan kami akan mengejarnya di wilayahnya sendiri dan menyerangnya di pusatnya, hingga seluruh dunia menyerukan nama Nabi , seluruh manusia meyakini ajaran Al-Qur’an, dan naungan Islam tersebar di seluruh bumi.

Pada saat itu, tercapailah apa yang diharapkan oleh seorang Muslim, sehingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya hanya milik Allah.

“Dan milik Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (terjadi). Pada hari itu bergembiralah orang-orang yang beriman dengan pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.” (QS. ar-Rum).

Adapun secara rinci:
Inilah tugas kami secara umum, sedangkan secara rinci, maka di Mesir terlebih dahulu—karena posisinya sebagai negara terdepan di antara negara-negara Islam—dan kemudian di negeri lainnya, kami menginginkan:

  • Sistem pemerintahan dalam negeri yang mewujudkan firman Allah:
    “Dan hendaklah engkau memutuskan perkara di antara mereka menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah engkau mengikuti hawa nafsu mereka…” (QS. al-Ma’idah).
  • Sistem hubungan internasional yang mewujudkan firman Allah:
    “Dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu umat yang pertengahan agar kamu menjadi saksi atas manusia…” (QS. al-Baqarah).
  • Sistem peradilan yang praktis yang berlandaskan firman Allah:
    “Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim…” (QS. an-Nisa).
  • Sistem pertahanan dan militer yang mewujudkan mobilisasi umum:
    “Berangkatlah kamu, baik dalam keadaan ringan maupun berat, dan berjihadlah dengan harta dan jiwamu di jalan Allah.” (QS. at-Taubah).
  • Sistem ekonomi yang mandiri bagi kekayaan, negara, dan individu, berdasarkan firman Allah:
    “Dan janganlah kamu serahkan harta-harta kamu kepada orang-orang yang belum sempurna akalnya…” (QS. an-Nisa).
  • Sistem pendidikan dan budaya yang menghapus kebodohan dan kegelapan, sesuai dengan firman pertama dalam Al-Qur’an:
    “Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. al-‘Alaq).
  • Sistem keluarga dan rumah tangga yang membentuk anak laki-laki Muslim, perempuan Muslimah, dan laki-laki Muslim, serta mewujudkan firman Allah:
    “Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka…” (QS. at-Tahrim).
  • Sistem individu dalam perilaku pribadinya yang mewujudkan keberuntungan sebagaimana firman Allah:
    “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwanya.” (QS. asy-Syams).
  • Semangat umum yang menguasai setiap individu dalam umat, baik pemimpin maupun rakyat, yang berlandaskan firman Allah:
    “Dan carilah pada apa yang telah dianugerahkan Allah kepadamu negeri akhirat, dan janganlah kamu melupakan bagianmu di dunia, dan berbuat baiklah sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat kerusakan di muka bumi.” (QS. al-Qashash).

Dan setelah itu:


Maka kami menginginkan:

individu Muslim . . . .
rumah tangga Muslim . . . .
masyarakat Muslim . . . .
pemerintahan Muslim . . . .
dan negara yang memimpin negara-negara Islam, yang menyatukan kembali kaum Muslimin yang tercerai-berai dan mengembalikan kejayaan mereka dari yang global menuju yang terperinci.

Untuk menjelaskan hal itu kami katakan:

Sesungguhnya manhaj (metode) Ikhwanul Muslimin memiliki tahapan yang jelas dan langkah-langkah yang terang. Kami mengetahui dengan pasti apa yang kami inginkan dan kami mengetahui jalan untuk mewujudkan keinginan tersebut.

1- Kami pertama-tama menginginkan individu Muslim dalam pemikiran dan akidahnya, dalam akhlak dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. Inilah pembinaan individu kami.

2- Setelah itu kami menginginkan rumah tangga Muslim dalam pemikiran dan akidahnya, dalam akhlak dan perasaannya, serta dalam amal dan perilakunya. Untuk itu kami memberikan perhatian kepada perempuan sebagaimana perhatian kami kepada laki-laki, dan kami memberikan perhatian kepada masa kanak-kanak sebagaimana perhatian kami kepada pemuda. Inilah pembinaan keluarga kami.

3- Kemudian kami menginginkan masyarakat Muslim dalam semua hal tersebut juga. Untuk itu kami berusaha agar dakwah kami sampai ke setiap rumah, agar suara kami terdengar di setiap tempat, agar gagasan kami mudah diterima dan meresap ke desa-desa, perkampungan, kota-kota, pusat-pusat, dan berbagai wilayah. Kami tidak akan menyia-nyiakan usaha dalam hal ini dan tidak meninggalkan satu pun sarana.

4- Kemudian kami menginginkan pemerintahan Muslim yang memimpin masyarakat ini menuju masjid, dan mengarahkan manusia kepada petunjuk Islam sebagaimana dahulu mereka diarahkan oleh para sahabat Rasulullah seperti Abu Bakar dan Umar. Karena itu kami tidak mengakui sistem pemerintahan apa pun yang tidak berdasar pada Islam dan tidak bersumber darinya. Kami juga tidak mengakui partai-partai politik maupun bentuk-bentuk tradisional yang dipaksakan kepada kami oleh orang-orang kafir dan musuh-musuh Islam untuk memerintah dan mengatur kehidupan. Kami akan berusaha menghidupkan kembali sistem pemerintahan Islam dalam seluruh bentuknya, serta membentuk pemerintahan Islam di atas dasar sistem tersebut.

5- Kemudian kami menginginkan untuk menyatukan kembali setiap bagian dari tanah air Islam yang telah dipecah-belah oleh politik Barat dan dirusak kesatuannya oleh ambisi Eropa. Oleh karena itu kami tidak mengakui pembagian politik tersebut, dan tidak menerima perjanjian internasional yang menjadikan negeri Islam sebagai negara-negara kecil yang lemah dan terpecah, sehingga mudah ditelan oleh para penjajah. Kami tidak akan diam terhadap perampasan kebebasan bangsa-bangsa ini dan penindasan terhadap mereka.

Maka Mesir, Suriah, Irak, Hijaz, Yaman, Tripoli, Tunisia, Aljazair, Maroko, dan setiap jengkal tanah yang di dalamnya ada seorang Muslim yang mengucapkan “La ilaha illallah”, semuanya adalah tanah air besar kami yang kami perjuangkan untuk dibebaskan, diselamatkan, dan disatukan kembali.

Jika Reich Jerman menganggap dirinya berhak melindungi setiap orang yang mengalir dalam darahnya darah Jerman, maka akidah Islam mewajibkan setiap Muslim yang kuat untuk menganggap dirinya pelindung bagi setiap orang yang jiwanya telah menyerap ajaran Al-Qur’an. Tidak boleh dalam pandangan Islam faktor ras lebih kuat daripada faktor iman. Dan akidah adalah segalanya dalam Islam—bukankah iman itu adalah cinta dan benci (karena Allah)?

6- Kemudian kami menginginkan agar panji Allah kembali berkibar tinggi di wilayah-wilayah yang dahulu pernah merasakan kebahagiaan dengan Islam, tempat di mana dahulu suara azan bergema dengan takbir dan tahlil, kemudian nasib buruk membuat cahayanya meredup sehingga kembali kepada kekufuran setelah Islam.

Maka Andalusia, Sisilia, Balkan, Italia Selatan, dan pulau-pulau Laut Tengah, semuanya adalah wilayah Islam yang harus kembali ke pangkuan Islam. Dan Laut Putih (Mediterania) serta Laut Merah harus kembali menjadi dua “danau Islam” sebagaimana dahulu.

Jika Mussolini menganggap dirinya berhak menghidupkan kembali imperium Romawi—padahal imperium tersebut dahulu dibangun atas dasar ambisi dan hawa nafsu—maka kami berhak menghidupkan kembali kejayaan imperium Islam yang dibangun atas dasar keadilan, kebenaran, serta penyebaran cahaya dan petunjuk di antara manusia.

7- Kemudian kami menginginkan, bersamaan dengan itu, untuk menyampaikan dakwah kami ke seluruh dunia, menyampaikannya kepada seluruh manusia, menyebarkannya ke seluruh penjuru bumi, dan menundukkan setiap penguasa yang zalim kepadanya, hingga tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya menjadi milik Allah.

Pada saat itu orang-orang beriman akan bergembira dengan pertolongan Allah. Dia menolong siapa yang Dia kehendaki, dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Penyayang.

Setiap tahap dari tahapan ini memiliki langkah-langkah, cabang-cabang, dan sarana-sarananya. Namun di sini kami menyebutkannya secara ringkas tanpa panjang lebar dan tanpa perincian. Dan Allah adalah tempat memohon pertolongan, Dia-lah yang mencukupi kami dan sebaik-baik pelindung.

Biarlah orang-orang yang lemah dan pengecut mengatakan bahwa ini hanyalah khayalan dan angan-angan yang menguasai jiwa orang-orang ini. Itu adalah kelemahan yang tidak kami kenal dan tidak dikenal oleh Islam. Itu adalah kelemahan yang telah dilemparkan ke dalam hati umat ini sehingga memberi peluang bagi musuh-musuhnya. Itu adalah kehancuran iman dalam hati, dan itulah sebab jatuhnya kaum Muslimin.

Kami menyatakan dengan jelas dan tegas bahwa setiap Muslim yang tidak beriman kepada manhaj ini dan tidak bekerja untuk mewujudkannya, maka ia tidak memiliki bagian dalam Islam. Maka hendaklah ia mencari ide lain untuk dianut dan diperjuangkannya.

Manhaj pendidikan dalam membentuk manusia:
Syaikh Hasan al-Banna رحمه الله berkata:

Sesungguhnya umat-umat yang berjuang, yang menghadapi kebangkitan baru, yang melewati masa transisi yang berbahaya, dan yang ingin membangun kehidupan masa depan mereka di atas dasar yang kokoh yang menjamin kesejahteraan generasi mendatang serta menuntut hak yang dirampas dan kemuliaan yang direbut, sangat membutuhkan pembangunan jiwa, pembentukan akhlak, dan pembiasaan anak-anak mereka dengan akhlak kejantanan (kepribadian kuat) yang benar.

Agar mereka mampu menghadapi rintangan yang menghalangi jalan mereka dan mengatasi kesulitan yang mereka hadapi.

Sesungguhnya manusia (tokoh) adalah rahasia kehidupan umat dan sumber kebangkitannya. Sejarah umat-umat pada hakikatnya adalah sejarah orang-orang besar yang muncul di dalamnya—orang-orang yang kuat jiwa dan kemauannya.

Kekuatan atau kelemahan suatu umat diukur dari kemampuannya melahirkan manusia-manusia yang memiliki syarat-syarat kepribadian yang benar.

Dan aku meyakini—dan sejarah mendukungku—bahwa satu orang saja mampu membangun sebuah umat jika kepribadiannya benar, dan ia juga mampu menghancurkannya jika kekuatan itu diarahkan kepada kehancuran, bukan pembangunan.

Kemudian beliau رحمه الله berkata:


Sesungguhnya umat yang dikelilingi oleh kondisi seperti kondisi kita, yang bangkit untuk tugas seperti tugas kita, dan menghadapi kewajiban seperti yang dihadapinya, tidaklah cukup baginya untuk sekadar menghibur diri dengan penenang atau beralasan dengan harapan dan angan-angan. Akan tetapi ia harus mempersiapkan dirinya untuk perjuangan panjang yang keras dan konflik yang kuat lagi berat… antara yang benar dan yang batil, antara yang bermanfaat dan yang berbahaya, antara kebenaran dan perampasnya, antara penempuh jalan dan yang menyimpang darinya, antara orang-orang yang ikhlas lagi penuh kecemburuan terhadap agama dan para pengaku palsu yang dibuat-buat.

Dan hendaknya mereka mengetahui bahwa jihad berasal dari kata “jahd” yang berarti usaha keras dan keletihan, dan tidak ada kenyamanan dalam jihad sampai perjuangan itu selesai, dan pada pagi hari orang-orang yang berjalan malam (berjuang) akan memuji hasilnya.

Tidak ada bekal bagi umat dalam jalan yang penuh kesulitan ini selain jiwa yang beriman, tekad yang kuat dan jujur, kedermawanan dalam berkorban, dan keberanian dalam menghadapi hal-hal yang pasti. Tanpa itu semua, urusan mereka akan dikuasai oleh pihak lain, dan kegagalan akan menjadi teman bagi anak-anaknya.

Ketahuilah bahwa tujuan pertama yang ingin dicapai oleh jamaah Ikhwanul Muslimin adalah pendidikan yang benar, yaitu mendidik umat dengan jiwa yang mulia dan akhlak yang luhur, serta membangkitkan perasaan hidup yang mendorong umat untuk membela kehormatannya dan bersungguh-sungguh dalam mengembalikan kejayaannya.

Untuk itulah dan demi tujuan tersebut, Ikhwanul Muslimin mendidik para anggotanya dengan ajaran-ajaran tertentu yang membimbing mereka untuk memikul beban jalan yang panjang dan berat. Maka Imam Hasan al-Banna mengambil baiat, janji, dan perjanjian dari para ikhwan untuk melaksanakan ajaran-ajaran tersebut. Beliau رحمه الله تعالى berkata setelah memuji dan menyanjung Allah:

Adapun setelah itu, inilah risalahku kepada para ikhwan mujahidin dari Ikhwanul Muslimin, yang beriman kepada keluhuran dakwah mereka dan kesucian ide mereka, serta bertekad dengan sungguh-sungguh untuk hidup dengannya atau mati di jalannya. Kepada para ikhwan inilah saja aku tujukan kata-kata singkat ini. Ia bukanlah pelajaran untuk dihafal, tetapi instruksi untuk dilaksanakan. Maka bekerjalah wahai saudara-saudara yang jujur:

“Dan katakanlah: bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang beriman. Dan kalian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepada kalian apa yang dahulu kalian kerjakan.” [At-Taubah]

“Dan bahwa (yang Kami perintahkan) ini adalah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah ia dan janganlah kalian mengikuti jalan-jalan lain, karena jalan-jalan itu akan mencerai-beraikan kalian dari jalan-Nya. Itulah yang diperintahkan-Nya kepada kalian agar kalian bertakwa.” [Al-An’am]

Wahai saudara-saudara yang jujur

Rukun baiat kami ada sepuluh, maka jagalah ia:
“Pemahaman, keikhlasan, amal, jihad, pengorbanan, ketaatan, keteguhan, pengorbanan diri (tajarrud), ukhuwah, dan kepercayaan.”

Wahai saudara yang jujur:

Pemahaman

Yang aku maksud dengan pemahaman adalah:

Bahwa engkau meyakini bahwa ide kita adalah “Islam yang murni”, dan bahwa engkau memahami Islam sebagaimana kami memahaminya, dalam batas dua puluh prinsip ringkas berikut ini:

1- Islam adalah sistem yang menyeluruh, mencakup seluruh aspek kehidupan. Ia adalah negara dan tanah air atau pemerintahan dan umat. Ia adalah akhlak dan kekuatan atau rahmat dan keadilan. Ia adalah budaya dan hukum atau ilmu dan peradilan. Ia adalah materi dan kekayaan atau usaha dan kemakmuran. Ia adalah jihad dan dakwah atau tentara dan ide. Sebagaimana ia juga merupakan akidah yang benar dan ibadah yang sahih, semuanya secara seimbang.

2- Al-Qur’an yang mulia dan Sunnah yang suci adalah rujukan setiap Muslim dalam memahami hukum-hukum Islam. Al-Qur’an dipahami sesuai kaidah bahasa Arab tanpa berlebihan dan tanpa dipaksakan, dan dalam memahami Sunnah yang suci dirujuk kepada para ahli hadis yang terpercaya.

3- Iman yang benar, ibadah yang sahih, dan mujahadah memiliki cahaya dan kenikmatan yang Allah lemparkan ke dalam hati siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya. Namun ilham, lintasan hati, kasyaf, dan mimpi bukanlah dalil hukum syariat, dan tidak dianggap kecuali jika tidak bertentangan dengan hukum-hukum agama dan nash-nashnya.

4- Jimat, ruqyah yang menyimpang, ramalan, perdukunan, klaim mengetahui yang ghaib, dan segala sesuatu yang termasuk dalam hal tersebut adalah kemungkaran yang wajib diperangi—kecuali yang berupa ayat Al-Qur’an atau ruqyah yang sahih.

5- Pendapat imam dan wakilnya dalam hal yang tidak ada nash, atau dalam hal yang memiliki banyak kemungkinan, serta dalam maslahat yang tidak ditentukan secara khusus, dapat diamalkan selama tidak bertentangan dengan kaidah syariat. Pendapat itu dapat berubah sesuai dengan kondisi, adat, dan kebiasaan. Prinsip dalam ibadah adalah tunduk tanpa melihat makna, sedangkan dalam urusan kebiasaan diperhatikan hikmah, tujuan, dan rahasia di baliknya.

6- Setiap orang dapat diambil dan ditolak ucapannya kecuali Rasul yang ma’shum . Segala yang datang dari salaf رضي الله عنهم yang sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah kita terima, jika tidak maka Al-Qur’an dan Sunnah Rasul lebih utama untuk diikuti. Namun kita tidak mencela atau menyerang pribadi mereka dalam hal yang diperselisihkan, dan kita serahkan mereka kepada niat mereka, karena mereka telah berlalu dengan amal mereka.

7- Setiap Muslim yang belum mencapai derajat ijtihad dalam memahami dalil hukum cabang boleh mengikuti salah satu imam mazhab. Namun sebaiknya ia berusaha mengetahui dalilnya sejauh kemampuannya, dan menerima setiap petunjuk yang disertai dalil jika ia yakin akan kejujuran dan kemampuan pemberi nasihat tersebut. Ia juga harus menyempurnakan kekurangan ilmunya jika ia termasuk ahli ilmu hingga mencapai derajat ijtihad.

8- Perbedaan pendapat dalam masalah furu’ (cabang) tidak boleh menjadi sebab perpecahan dalam agama, tidak menimbulkan permusuhan dan kebencian. Setiap mujtahid mendapatkan pahala. Tidak ada larangan untuk melakukan kajian ilmiah yang jujur dalam masalah perbedaan pendapat dalam suasana cinta karena Allah dan kerja sama untuk mencapai kebenaran, tanpa menyeret kepada perdebatan tercela dan fanatisme.

9- Setiap masalah yang tidak berimplikasi pada amal, maka membahasnya termasuk sikap berlebih-lebihan yang dilarang oleh syariat. Termasuk di dalamnya adalah memperbanyak pembahasan cabang-cabang hukum yang belum terjadi, membahas makna ayat-ayat Al-Qur’an yang belum dapat dijangkau oleh ilmu, serta membicarakan keutamaan para sahabat رضي الله عنهم dan perselisihan yang terjadi di antara mereka. Setiap mereka memiliki keutamaan sebagai sahabat dan pahala atas niatnya, dan takwil memberikan kelonggaran dalam hal tersebut.


Mengetahui Allah Ta’ala, mentauhidkan-Nya, dan mensucikan-Nya adalah akidah tertinggi dalam Islam. Ayat-ayat tentang sifat-sifat Allah dan hadis-hadis sahih yang berkaitan dengannya serta hal-hal yang berkaitan dengan kesamaran (mutasyabihat), kami beriman kepadanya sebagaimana datangnya tanpa melakukan takwil dan tanpa meniadakan (ta’thil), serta kami tidak membahas perbedaan yang terjadi di antara para ulama dalam hal tersebut. Cukuplah bagi kami apa yang telah mencukupi Rasulullah dan para sahabatnya:
“Dan orang-orang yang mendalam ilmunya berkata: Kami beriman kepadanya, semuanya dari sisi Tuhan kami.” [Ali Imran]

11- Setiap bid’ah dalam agama Allah yang tidak memiliki dasar—yang dianggap baik oleh manusia dengan hawa nafsu mereka, baik berupa penambahan atau pengurangan—adalah kesesatan yang wajib diperangi dan dihilangkan dengan cara terbaik yang tidak menimbulkan keburukan yang lebih besar.

13- Bid’ah tambahan, bid’ah karena meninggalkan, dan keterikatan pada bentuk tertentu dalam ibadah mutlak merupakan masalah khilafiyah (perbedaan pendapat), yang setiap orang memiliki pandangannya masing-masing. Tidak mengapa menjelaskan kebenaran dengan dalil dan bukti.

13- Mencintai orang-orang saleh, menghormati mereka, dan memuji mereka berdasarkan amal baik yang diketahui adalah bentuk pendekatan diri kepada Allah Ta’ala. Para wali adalah mereka yang disebutkan dalam firman Allah:
“Yaitu orang-orang yang beriman dan mereka selalu bertakwa.”
Dan karamah (kemuliaan) bagi mereka itu tetap dengan syarat-syarat syar’i, dengan keyakinan bahwa mereka—رضوان الله عليهم—tidak memiliki kemampuan memberi manfaat atau mudarat bagi diri mereka sendiri, baik ketika hidup maupun setelah wafat, apalagi memberikan hal itu kepada orang lain.

14- Ziarah kubur, siapa pun yang dikunjungi, adalah sunnah yang disyariatkan dengan tata cara yang diajarkan. Namun meminta pertolongan kepada orang yang telah meninggal, siapa pun mereka, memanggil mereka untuk tujuan tersebut, meminta pemenuhan kebutuhan dari mereka baik dekat maupun jauh, bernazar kepada mereka, membangun kuburan, menghiasinya, meneranginya, mengusapnya, bersumpah dengan selain Allah, dan hal-hal serupa dari bid’ah besar, semuanya adalah dosa besar yang wajib diperangi. Kami tidak menakwilkan perbuatan-perbuatan ini sebagai bentuk pencegahan terhadap jalan menuju kemusyrikan.

15- Doa yang disertai tawassul kepada Allah melalui salah satu makhluk-Nya merupakan masalah cabang dalam tata cara berdoa, bukan termasuk masalah akidah.

16- Kebiasaan yang salah tidak mengubah hakikat makna istilah-istilah syar’i. Justru harus dipastikan batasan makna yang dimaksud dan berpegang padanya. Juga harus berhati-hati terhadap manipulasi istilah dalam semua aspek kehidupan dunia dan agama. Yang menjadi ukuran adalah hakikat makna, bukan sekadar nama.

17- Akidah adalah dasar amal, dan amal hati lebih penting daripada amal anggota badan. Mencapai kesempurnaan pada keduanya adalah tuntutan syariat, meskipun tingkatannya berbeda.

18- Islam membebaskan akal, mendorong untuk merenungi alam, meninggikan derajat ilmu dan para ulama, serta menyambut segala hal yang bermanfaat dari mana pun asalnya. “Hikmah adalah barang hilang milik seorang mukmin, di mana pun ia menemukannya, ia lebih berhak atasnya.”

19- Pandangan syar’i dan pandangan akal masing-masing bisa membahas hal-hal yang tidak termasuk dalam lingkup yang lain, namun keduanya tidak akan bertentangan dalam perkara yang pasti (qath’i). Tidak mungkin fakta ilmiah yang benar bertentangan dengan prinsip syariat yang pasti. Hal yang bersifat dugaan (zhanni) dari keduanya ditakwilkan agar sesuai dengan yang pasti. Jika keduanya sama-sama zhanni, maka pandangan syar’i lebih didahulukan hingga pandangan akal terbukti atau gugur.

20- Kami tidak mengkafirkan seorang Muslim yang mengucapkan dua kalimat syahadat, mengamalkannya, dan menunaikan kewajiban—karena pendapat atau dosa—kecuali jika ia mengucapkan kata kufur, atau mengingkari sesuatu yang telah diketahui secara pasti dalam agama, atau mendustakan Al-Qur’an secara jelas, atau menafsirkannya dengan tafsir yang tidak mungkin menurut bahasa Arab, atau melakukan perbuatan yang tidak bisa ditakwilkan kecuali sebagai kekufuran.

Apabila seorang Muslim telah memahami “agamanya” berdasarkan prinsip-prinsip ini, maka ia telah memahami makna seruan yang selalu ia ucapkan:
“Al-Qur’an adalah konstitusi kami dan Rasul adalah teladan kami.”


Ikhlas

Yang aku maksud dengan ikhlas adalah:

Seorang Muslim menjadikan seluruh perkataan, perbuatan, dan jihadnya hanya untuk mencari wajah Allah, mengharap ridha-Nya dan pahala-Nya yang baik, tanpa memandang keuntungan, penampilan, kedudukan, gelar, kemajuan, atau keterlambatan. Dengan demikian ia menjadi tentara ide dan akidah, bukan tentara kepentingan dan keuntungan.

“Katakanlah: Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam. Tidak ada sekutu bagi-Nya, dan demikian itulah yang diperintahkan kepadaku.” [Al-An’am]

Dengan itu seorang Muslim memahami makna seruannya yang terus-menerus:
“Allah adalah tujuan kami” dan “Allah Maha Besar dan segala puji bagi Allah.”


Amal

Yang aku maksud dengan amal adalah:

Buah dari ilmu dan keikhlasan:
“Dan katakanlah: bekerjalah kalian, maka Allah akan melihat pekerjaan kalian, begitu pula Rasul-Nya dan orang-orang beriman, dan kalian akan dikembalikan kepada Yang Maha Mengetahui yang ghaib dan yang nyata, lalu Dia memberitakan kepada kalian apa yang dahulu kalian kerjakan.” [At-Taubah]

Dan tingkatan amal yang dituntut dari seorang saudara yang jujur adalah:

1- Memperbaiki dirinya hingga menjadi: kuat fisiknya, kokoh akhlaknya, berwawasan luas, mampu bekerja, lurus akidahnya, benar ibadahnya, mampu berjihad melawan dirinya, menjaga waktunya, teratur urusannya, dan bermanfaat bagi orang lain. Ini adalah kewajiban setiap individu.

2- Membentuk rumah tangga Muslim, dengan membimbing keluarganya untuk menghormati ide Islam, menjaga adab Islam dalam seluruh aspek kehidupan rumah tangga, memilih pasangan dengan baik, menjelaskan hak dan kewajiban kepadanya, serta mendidik anak-anak dan pembantu dengan pendidikan Islam. Ini juga kewajiban setiap individu.

3- Membimbing masyarakat, dengan menyebarkan dakwah kebaikan di dalamnya, memerangi keburukan dan kemungkaran, mendorong keutamaan, melakukan amar ma’ruf, bersegera dalam kebaikan, memenangkan opini publik untuk mendukung ide Islam, dan mewarnai seluruh aspek kehidupan umum dengan Islam. Ini kewajiban individu dan juga kewajiban jamaah sebagai organisasi.

4- Membebaskan tanah air dari segala kekuasaan asing non-Islam, baik secara politik, ekonomi, maupun spiritual.

5- Memperbaiki pemerintahan agar benar-benar menjadi pemerintahan Islam, sehingga dapat menjalankan tugasnya sebagai pelayan umat dan pekerja bagi kepentingan mereka. Pemerintahan disebut Islam jika para anggotanya Muslim, melaksanakan kewajiban Islam, tidak terang-terangan bermaksiat, serta menerapkan hukum dan ajaran Islam.

Tidak mengapa meminta bantuan kepada non-Muslim dalam keadaan darurat selama bukan dalam jabatan kepemimpinan umum. Tidak menjadi masalah bentuk pemerintahan yang digunakan selama sesuai dengan prinsip-prinsip umum dalam sistem pemerintahan Islam.


Dan di antara sifat-sifatnya: memiliki rasa tanggung jawab, kasih sayang terhadap rakyat, keadilan di antara manusia, menjaga diri dari harta publik, serta bersikap hemat dalam penggunaannya.

Di antara kewajibannya: menjaga keamanan, menegakkan hukum, menyebarkan pendidikan, mempersiapkan kekuatan, menjaga kesehatan, mengurus kepentingan umum, mengembangkan kekayaan, menjaga harta, memperkuat akhlak, dan menyebarkan dakwah.

Dan di antara haknya—apabila ia telah menunaikan kewajibannya—adalah: loyalitas dan ketaatan, serta bantuan dengan jiwa dan harta.

Apabila ia lalai, maka dilakukan nasihat dan pengarahan, kemudian pencopotan dan penyingkiran, dan tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam bermaksiat kepada Sang Pencipta.

6- Mengembalikan eksistensi internasional umat Islam, dengan membebaskan negeri-negerinya, menghidupkan kembali kejayaannya, mendekatkan budaya-budayanya, dan menyatukan kalimatnya, hingga semua itu mengarah pada kembalinya khilafah yang hilang dan persatuan yang diharapkan.

7- Kepemimpinan dunia dengan menyebarkan dakwah Islam di seluruh penjuru bumi:
“agar tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya menjadi milik Allah,”
“dan Allah tidak menghendaki selain menyempurnakan cahaya-Nya.”

Empat tingkatan terakhir ini wajib bagi jamaah secara kolektif, dan bagi setiap anggota sebagai bagian dari jamaah. Betapa berat tanggung jawabnya dan betapa besar tugasnya. Orang-orang menganggapnya sebagai khayalan, namun seorang Muslim melihatnya sebagai kenyataan. Kami tidak akan pernah berputus asa, dan kepada Allah kami memiliki harapan yang besar:
“Dan Allah berkuasa atas urusan-Nya, tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui.” [Yusuf]


Jihad

Yang aku maksud dengan jihad adalah:

Kewajiban yang terus berlangsung hingga hari kiamat. Yang dimaksud dalam sabda Rasulullah :
“Barang siapa mati dan tidak pernah berperang serta tidak berniat untuk berperang, maka ia mati dalam keadaan jahiliyah.”

Tingkatan terendahnya adalah pengingkaran dalam hati, dan yang tertinggi adalah berperang di jalan Allah. Di antara keduanya terdapat jihad dengan lisan, pena, tangan, serta menyampaikan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.

Dakwah tidak akan hidup kecuali dengan jihad. Semakin tinggi dan luas cakupan dakwah, maka semakin besar pula jihad di jalan tersebut, semakin besar pula harga yang harus dibayar untuk menegakkannya, dan semakin besar pula pahala bagi para pelakunya:
“Dan berjihadlah kalian di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya.” [Al-Hajj]

Dengan itu engkau memahami makna seruanmu yang terus-menerus:
“Jihad adalah jalan kami.”


Pengorbanan

Yang aku maksud dengan pengorbanan adalah:

Mengorbankan jiwa, harta, waktu, kehidupan, dan segala sesuatu demi tujuan. Tidak ada jihad tanpa pengorbanan. Tidak ada pengorbanan yang sia-sia di jalan ide kita, melainkan pahala yang besar dan ganjaran yang indah.

Barang siapa enggan berkorban bersama kami, maka ia berdosa:
“Sesungguhnya Allah telah membeli dari orang-orang beriman jiwa dan harta mereka…”
“Katakanlah: jika bapak-bapak kalian dan anak-anak kalian…”
“Hal itu karena mereka tidak ditimpa kehausan dan kelelahan…”
“Maka jika kalian taat, Allah akan memberi kalian pahala yang baik.”

Dengan itu engkau memahami makna seruanmu:
“Dan mati di jalan Allah adalah cita-cita tertinggi kami.”


Ketaatan

Yang aku maksud dengan ketaatan adalah:

Melaksanakan perintah dan menjalankannya segera, baik dalam keadaan sulit maupun mudah, dalam keadaan semangat maupun tidak suka.

Tahapan dakwah ini ada tiga:

1- Tahap pengenalan (ta’rif):
Yaitu menyebarkan ide umum kepada masyarakat. Sistem dakwah pada tahap ini adalah sistem organisasi administratif. Tugasnya adalah melakukan kebaikan umum, dengan sarana nasihat dan bimbingan, serta mendirikan lembaga-lembaga yang bermanfaat dan berbagai sarana praktis lainnya.

Semua cabang Ikhwan saat ini mewakili tahap ini dalam kehidupan dakwah, diatur oleh “anggaran dasar”, dan dijelaskan melalui sarana dakwah serta surat kabarnya. Dakwah pada tahap ini bersifat umum.

Setiap orang dapat bergabung selama ia ingin berpartisipasi dan berjanji menjaga prinsip-prinsipnya. Ketaatan penuh belum diwajibkan pada tahap ini, tetapi yang penting adalah menghormati sistem dan prinsip umum jamaah.

2- Tahap pembentukan (takwin):
Yaitu memilih unsur-unsur yang baik untuk memikul beban jihad, lalu menyatukan mereka. Sistem dakwah pada tahap ini bersifat sufi murni dari sisi spiritual, dan militer murni dari sisi praktis. Semboyannya adalah: “perintah dan ketaatan” tanpa ragu, tanpa bantahan, tanpa keraguan, dan tanpa keberatan.

Batalion Ikhwan mewakili tahap ini. Dakwah pada tahap ini bersifat khusus, hanya bagi mereka yang benar-benar siap memikul beban jihad yang panjang dan berat. Tanda awal kesiapan itu adalah ketaatan penuh.

3- Tahap pelaksanaan (tanfidz):
Pada tahap ini dakwah adalah jihad tanpa kompromi, kerja terus-menerus untuk mencapai tujuan, serta ujian dan cobaan yang hanya dapat ditanggung oleh orang-orang yang jujur. Keberhasilan tahap ini hanya dijamin dengan ketaatan yang sempurna.

Atas dasar ini, barisan pertama Ikhwanul Muslimin melakukan baiat pada tanggal 5 Rabi’ul Awal tahun 1359 H.

Dengan bergabungnya engkau dalam barisan ini, menerima risalah ini, dan berjanji dengan baiat ini, maka engkau berada pada tahap kedua dan mendekati tahap ketiga. Maka perhatikanlah tanggung jawab yang engkau pikul dan persiapkan dirimu untuk menunaikannya.


Keteguhan

Yang aku maksud dengan keteguhan adalah:

Seorang anggota tetap bekerja dan berjihad di jalan tujuannya, meskipun waktu yang dibutuhkan panjang dan bertahun-tahun berlalu, hingga ia bertemu Allah dalam keadaan demikian dan memperoleh salah satu dari dua kebaikan: tercapainya tujuan atau syahid di akhir.

“Di antara orang-orang beriman ada orang-orang yang menepati janji mereka kepada Allah; di antara mereka ada yang telah gugur, dan di antara mereka ada yang menunggu, dan mereka tidak mengubah sedikit pun.” [Al-Ahzab]

Waktu bagi kami adalah bagian dari pengobatan. Jalan ini panjang, penuh tahapan, dan banyak rintangan, tetapi hanya jalan inilah yang mengantarkan kepada tujuan dengan pahala yang besar dan balasan yang indah.

Setiap sarana yang kami gunakan (yang bersifat sunnah) membutuhkan persiapan yang baik, pemilihan waktu yang tepat, dan pelaksanaan yang teliti. Semua itu terkait dengan waktunya:

“Mereka berkata: kapan itu? Katakanlah: mudah-mudahan ia dekat.” [Al-Isra]


Ketulusan (At-Tajarrud)

Yang aku maksud dengan ketulusan adalah:

Engkau membersihkan dirimu untuk ide (dakwah)mu dari selainnya, baik dari prinsip-prinsip lain maupun dari individu-individu, karena ia adalah pemikiran yang paling tinggi, paling lengkap, dan paling mulia:
“Shibghah Allah, dan siapakah yang lebih baik shibghah-nya daripada Allah?” [Al-Baqarah]

“Sesungguhnya telah ada teladan yang baik bagi kalian pada Ibrahim dan orang-orang yang bersamanya, ketika mereka berkata kepada kaumnya: sesungguhnya kami berlepas diri dari kalian dan dari apa yang kalian sembah selain Allah; kami mengingkari kalian, dan telah nyata antara kami dan kalian permusuhan dan kebencian selama-lamanya sampai kalian beriman kepada Allah semata.” [Al-Mumtahanah]

Manusia menurut seorang saudara yang jujur terbagi menjadi enam golongan:

  • Muslim yang berjihad
  • Muslim yang tidak aktif (diam)
  • Muslim yang berdosa
  • Non-Muslim (dzimmi) yang terikat perjanjian
  • Netral
  • Musuh (memerangi)

Setiap golongan memiliki hukumnya dalam timbangan Islam, dan dalam batas-batas ini manusia dan kelompok dinilai, serta ditentukan loyalitas atau permusuhan.


Persaudaraan (Al-Ukhuwwah)

Yang aku maksud dengan persaudaraan adalah:

Terikatnya hati dan jiwa dengan ikatan akidah. Akidah adalah ikatan yang paling kuat dan paling berharga. Persaudaraan adalah persaudaraan iman, sedangkan perpecahan adalah saudara kekufuran.

Kekuatan pertama adalah kekuatan persatuan, dan tidak ada persatuan tanpa cinta. Tingkatan cinta yang paling rendah adalah kebersihan hati, dan yang tertinggi adalah mendahulukan orang lain (itsar):
“Barang siapa yang dijaga dari kekikiran dirinya, maka mereka itulah orang-orang yang beruntung.” [Al-Hasyr]

Seorang saudara yang jujur melihat saudaranya lebih utama daripada dirinya sendiri, karena jika bukan karena mereka, ia tidak akan ada; dan jika bukan karena dia, mereka tetap akan ada dengan yang lain.

Sesungguhnya serigala hanya memangsa kambing yang terpisah dari kelompok. Seorang mukmin terhadap mukmin lainnya seperti bangunan yang saling menguatkan.
“Dan orang-orang mukmin laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah penolong bagi sebagian yang lain.”

Demikianlah seharusnya kita.


Kepercayaan (Ats-Tsiqah)

Yang aku maksud dengan kepercayaan adalah:

Keyakinan seorang prajurit kepada pemimpinnya dalam hal kecakapan dan keikhlasan, keyakinan yang mendalam yang melahirkan cinta, penghargaan, penghormatan, dan ketaatan:

“Maka demi Tuhanmu, mereka tidak beriman hingga mereka menjadikan engkau sebagai hakim dalam perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa keberatan dalam hati terhadap keputusanmu dan mereka menerimanya sepenuhnya.” [An-Nisa]

Pemimpin adalah bagian dari dakwah, dan tidak ada dakwah tanpa kepemimpinan. Sejauh mana kepercayaan timbal balik antara pemimpin dan para prajurit, sejauh itu pula kekuatan sistem jamaah, ketepatan rencana, keberhasilan mencapai tujuan, dan kemampuannya menghadapi rintangan:
“Maka yang lebih baik bagi mereka adalah taat dan berkata yang baik.”

Dalam dakwah Ikhwan, pemimpin memiliki hak seperti:

  • Ayah dalam ikatan hati
  • Guru dalam manfaat ilmu
  • Syaikh dalam pembinaan spiritual
  • Pemimpin dalam kebijakan umum dakwah

Dakwah kami menghimpun semua makna tersebut. Kepercayaan kepada kepemimpinan adalah segala sesuatu dalam keberhasilan dakwah.

Karena itu seorang saudara yang jujur harus bertanya kepada dirinya:

  • Apakah ia telah mengenal pemimpinnya dan mempelajari kehidupannya?
  • Apakah ia yakin akan kecakapan dan keikhlasannya?
  • Apakah ia siap menjadikan perintah pemimpin—selama bukan maksiat—sebagai keputusan yang pasti tanpa perdebatan, keraguan, atau penyelewengan, sambil tetap memberi nasihat?
  • Apakah ia siap menganggap dirinya mungkin salah dan pemimpin benar dalam perkara ijtihadiyah yang tidak ada nashnya?
  • Apakah ia siap menyerahkan kondisi hidupnya untuk kepentingan dakwah? Dan apakah ia mengakui hak pemimpin untuk mendahulukan kepentingan dakwah atas kepentingan pribadi?

Dengan menjawab pertanyaan-pertanyaan ini, seorang saudara dapat menilai hubungan dan kepercayaannya kepada pemimpin. Hati berada di tangan Allah:
“Sekiranya engkau menginfakkan seluruh apa yang ada di bumi, niscaya engkau tidak akan dapat mempersatukan hati mereka, tetapi Allah yang mempersatukan mereka. Sesungguhnya Dia Maha Perkasa lagi Maha Bijaksana.” [Al-Anfal]


Wahai saudara yang jujur:

Imanmu terhadap baiat ini mewajibkanmu menunaikan kewajiban-kewajiban berikut agar engkau menjadi batu bata yang kokoh dalam bangunan:

  1. Memiliki wirid harian dari Al-Qur’an tidak kurang dari satu juz, dan berusaha tidak mengkhatamkannya lebih dari sebulan dan tidak kurang dari tiga hari.
  2. Memperbaiki bacaan Al-Qur’an, mendengarkannya, mentadabburi maknanya, serta mempelajari sirah Nabi dan sejarah salaf sesuai waktu yang tersedia. Minimal membaca kitab Humatul Islam. Banyak membaca hadits Nabi dan menghafal minimal empat puluh hadits, seperti Arba’in Nawawi. Juga mempelajari risalah dalam ushul akidah dan cabang fiqh.
  3. Segera melakukan pemeriksaan kesehatan umum, mengobati penyakit yang ada, memperhatikan sebab-sebab kekuatan fisik dan pencegahan, serta menjauhi sebab-sebab kelemahan.
  4. Menghindari berlebihan dalam minum kopi, teh, dan minuman perangsang lainnya kecuali jika diperlukan, serta berhenti total dari merokok.
  5. Menjaga kebersihan dalam segala hal: tempat tinggal, pakaian, makanan, tubuh, dan tempat kerja, karena agama dibangun di atas kebersihan.
  6. Bersikap jujur dalam ucapan dan tidak pernah berdusta.
  7. Menepati janji, ucapan, dan komitmen dalam kondisi apa pun.
  8. Bersikap berani dan tahan uji; keberanian terbaik adalah berkata benar, menjaga rahasia, mengakui kesalahan, bersikap adil terhadap diri sendiri, dan mampu mengendalikan diri saat marah.
  9. Bersikap berwibawa dan lebih memilih keseriusan, namun tetap boleh bercanda yang benar dan tersenyum.
  10. Memiliki rasa malu yang kuat, perasaan yang halus, mudah terpengaruh oleh kebaikan dan keburukan—bahagia dengan yang baik dan sedih dengan yang buruk—serta rendah hati tanpa hina atau menjilat, dan berusaha berada di bawah tingkatmu agar dapat mencapainya.

11- Hendaklah engkau bersikap adil dan benar dalam penilaian dalam semua keadaan; jangan sampai kemarahan membuatmu melupakan kebaikan orang lain, dan jangan pula rasa suka membuatmu menutup mata dari keburukan. Jangan sampai permusuhan membuatmu melupakan kebaikan yang pernah ada. Katakanlah kebenaran walaupun terhadap dirimu sendiri atau terhadap orang yang paling dekat denganmu, meskipun itu pahit.

12- Hendaklah engkau memiliki semangat yang tinggi dan terlatih dalam pelayanan umum; merasa bahagia dan senang jika mampu memberikan manfaat kepada orang lain. Maka engkau menjenguk orang sakit, membantu yang membutuhkan, menolong yang lemah, dan menghibur yang tertimpa musibah walaupun hanya dengan kata-kata yang baik, serta selalu bersegera dalam kebaikan.

13- Hendaklah engkau berhati lembut, dermawan, lapang dada, mudah memaafkan, sabar, penyantun, dan penuh kasih sayang kepada manusia maupun hewan; berperilaku baik dan berakhlak mulia kepada semua orang. Menjaga adab sosial Islam: menyayangi yang kecil, menghormati yang besar, memberi kelapangan dalam majelis, tidak memata-matai, tidak menggunjing, tidak bersuara keras, serta meminta izin saat masuk dan keluar, dan sebagainya.

14- Hendaklah engkau mampu membaca dan menulis dengan baik, serta banyak membaca risalah, koran, dan majalah Ikhwan serta sejenisnya. Milikilah perpustakaan pribadi meskipun kecil. Perdalam ilmu dan keahlianmu jika engkau seorang spesialis, dan pahamilah urusan-urusan umum Islam secara menyeluruh agar mampu memahaminya dan menilainya sesuai dengan tuntutan pemikiran dakwah.

15- Hendaklah engkau menjalankan aktivitas ekonomi walaupun engkau kaya, dan berani menekuni pekerjaan mandiri meskipun kecil, serta terjun langsung di dalamnya walaupun engkau memiliki keahlian ilmiah tinggi.

16- Jangan terlalu menginginkan pekerjaan pemerintah, dan anggaplah itu sebagai pintu rezeki yang sempit. Namun jangan menolaknya jika diberikan, dan jangan meninggalkannya kecuali jika bertentangan secara jelas dengan kewajiban dakwah.

17- Hendaklah engkau sangat memperhatikan kualitas pekerjaanmu, menyempurnakannya dengan baik, tidak curang, dan menjaga ketepatan waktu.

18- Hendaklah engkau baik dalam menuntut hakmu, dan menunaikan hak orang lain secara sempurna tanpa diminta dan tanpa menunda-nunda.

19- Hendaklah engkau menjauhi perjudian dalam segala bentuknya, apa pun tujuannya, serta menghindari segala bentuk penghasilan yang haram meskipun menghasilkan keuntungan cepat.

20- Hendaklah engkau menjauhi riba dalam semua transaksi dan membersihkan dirimu darinya secara total.

21- Hendaklah engkau melayani kekayaan umat Islam dengan mendorong produk dan usaha ekonomi Islam, serta menjaga agar uang tidak jatuh ke tangan non-Islam dalam kondisi apa pun. Jangan memakai atau memakan kecuali dari hasil produksi negeri Islam.

22- Hendaklah engkau berkontribusi dalam dakwah dengan sebagian hartamu, menunaikan zakat yang wajib, serta menetapkan bagian tertentu untuk orang yang meminta dan yang membutuhkan, meskipun penghasilanmu sedikit.

23- Hendaklah engkau menyisihkan sebagian dari penghasilanmu untuk keadaan darurat walaupun sedikit, dan jangan terjerumus dalam kemewahan.

24- Hendaklah engkau berusaha menghidupkan kebiasaan Islam dan mematikan kebiasaan asing dalam seluruh aspek kehidupan, seperti salam, bahasa, sejarah, pakaian, perabot, waktu kerja dan istirahat, makan dan minum, datang dan pergi, sedih dan gembira, dan sebagainya; serta mengikuti sunnah Nabi dalam semua itu.

25- Hendaklah engkau memboikot pengadilan sipil dan semua peradilan non-Islam, serta klub, media, kelompok, sekolah, dan lembaga yang menentang ide Islam secara total.

26- Hendaklah engkau senantiasa merasa diawasi oleh Allah, mengingat akhirat dan bersiap untuknya, menempuh jalan menuju keridhaan Allah dengan semangat dan tekad, serta mendekatkan diri kepada-Nya dengan ibadah sunnah seperti shalat malam, puasa minimal tiga hari setiap bulan, memperbanyak dzikir hati dan lisan, serta memperbanyak doa dalam segala keadaan.

27- Hendaklah engkau menyempurnakan bersuci (thaharah) dan berusaha selalu dalam keadaan berwudhu dalam kebanyakan waktu.

28- Hendaklah engkau memperbaiki shalat dan menjaganya pada waktunya, serta berusaha melaksanakan shalat berjamaah di masjid semampunya.

29- Hendaklah engkau berpuasa Ramadan dan berhaji ke Baitullah jika mampu, serta berusaha untuk itu jika belum mampu sekarang.

30- Hendaklah engkau senantiasa membawa niat berjihad dan meraih syahid, serta mempersiapkan diri untuk itu semaksimal mungkin.

31- Hendaklah engkau selalu memperbarui taubat dan istighfar, menjauhi dosa-dosa kecil apalagi dosa besar, serta menyediakan waktu sebelum tidur untuk menghisab diri atas kebaikan dan keburukan yang telah dilakukan. Jagalah waktu karena ia adalah kehidupan; jangan gunakan sedikit pun tanpa manfaat. Jauhilah perkara syubhat agar tidak jatuh dalam yang haram.

32- Hendaklah engkau berjihad melawan dirimu dengan sungguh-sungguh hingga ia tunduk padamu; menundukkan pandangan, mengendalikan perasaan, melawan dorongan hawa nafsu, dan mengarahkannya kepada yang halal lagi baik serta menjauhkannya dari yang haram dalam segala bentuknya.

33- Hendaklah engkau menjauhi khamr, segala yang memabukkan, dan segala yang melemahkan akal secara total.

34- Hendaklah engkau menjauhi teman-teman buruk, sahabat yang rusak, dan tempat-tempat maksiat serta dosa.

35- Hendaklah engkau memerangi tempat-tempat hiburan yang melalaikan, apalagi mendekatinya, serta menjauhi segala bentuk kemewahan dan kelemahan.

36- Hendaklah engkau mengenal anggota kelompokmu satu per satu dengan baik, dan mereka pun mengenalmu dengan baik. Tunaikan hak persaudaraan secara sempurna berupa cinta, penghargaan, bantuan, dan pengorbanan. Hadirilah pertemuan mereka dan jangan absen kecuali karena alasan yang kuat, serta utamakan mereka dalam perlakuanmu.

37- Hendaklah engkau memutus hubungan dengan organisasi atau kelompok apa pun yang tidak membawa manfaat bagi ide dakwahmu, terutama jika diperintahkan demikian.

38- Hendaklah engkau berusaha menyebarkan dakwah di setiap tempat, melaporkan semua kondisi kepada pimpinan, tidak melakukan tindakan yang berdampak besar kecuali dengan izin, serta selalu menjaga hubungan spiritual dan praktis dengannya, dan menganggap dirimu sebagai prajurit yang menunggu perintah.


Wahai saudara yang jujur:

Inilah gambaran umum dakwahmu dan penjelasan ringkas tentang ideologimu. Engkau dapat merangkum prinsip-prinsip ini dalam lima kalimat:

  • Allah tujuan kami
  • Rasul teladan kami
  • Al-Qur’an pedoman kami
  • Jihad jalan kami
  • Syahid cita-cita kami

Dan engkau dapat merangkum manifestasinya dalam lima hal:

  • Kesederhanaan
  • Tilawah (membaca Al-Qur’an)
  • Shalat
  • Jiwa keprajuritan
  • Akhlak

Maka peganglah dirimu dengan kuat pada ajaran-ajaran ini; jika tidak, maka barisan orang-orang yang duduk (tidak berjuang) masih luas bagi orang-orang yang malas dan bermain-main.


Aku meyakini bahwa jika engkau mengamalkan semua itu dan menjadikannya harapan hidupmu serta tujuan tertinggimu, maka balasanmu adalah kemuliaan di dunia dan kebaikan serta keridaan di akhirat. Engkau bagian dari kami dan kami bagian darimu. Namun jika engkau berpaling darinya dan tidak mau beramal untuknya, maka tidak ada hubungan antara kami dan dirimu, meskipun engkau tampil di tengah kami dengan kedudukan tinggi, menyandang gelar-gelar besar, dan menunjukkan penampilan yang megah. Allah akan menghisabmu atas sikap diam dan ketidakaktifanmu dengan hisab yang sangat berat. Maka pilihlah untuk dirimu sendiri, dan kami memohon kepada Allah agar memberi kita semua petunjuk dan taufik.

“Wahai orang-orang yang beriman, maukah Aku tunjukkan kepada kalian suatu perdagangan yang dapat menyelamatkan kalian dari azab yang pedih:
1- Kalian beriman kepada Allah dan Rasul-Nya.
2- Dan berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa kalian; itu lebih baik bagi kalian jika kalian mengetahui:
1- Dia akan mengampuni dosa-dosa kalian.
2- Dan memasukkan kalian ke dalam surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai serta tempat tinggal yang baik di surga ‘Adn. Itulah kemenangan yang besar.”

Sistem pendidikan dan pembinaan ini dijalankan oleh para ulama yang terlatih, ikhlas, dan para pemimpin yang aktif, yang mengikuti metode pendidikan yang bijaksana dan cara-cara pembinaan yang agung, di antaranya:
1- Sistem keluarga (usrah).
2- Batalyon (katibah).
3- Perjalanan (rihlah).
4- Perkemahan (mukhayyam).
5- Seminar (nadwah).
6- Pelatihan (daurah).
7- Konferensi (mu’tamar).

Setiap sarana ini memiliki tujuan, adab, dan syarat-syaratnya masing-masing.

Selain itu, jamaah juga tidak melupakan aktivitas perempuan, pelajar, dan buruh.


Muslimah (Akhawat Muslimat)

Jamaah harus menjalankan perannya dalam dakwah kepada perempuan dan mendidik mereka. Maka dibentuklah organisasi perempuan pertama di Ismailiyah pada awal Muharram tahun 1352 H (26 April 1933 M). Di antara prinsipnya:
1- Berpegang teguh pada adab Islam, menyeru kepada keutamaan, dan menjelaskan kesesatan yang tersebar.
2- Ditetapkan peraturan khusus yang mengatur syarat keanggotaan dan kepemimpinan kerja.

Setelah dakwah berpindah ke Kairo, terbentuklah kelompok Muslimah di Kairo pada tahun 1944 M. Mereka berkontribusi dalam berbagai kegiatan sosial yang bermanfaat seperti klinik, perawatan anak yatim, sekolah, membantu keluarga miskin, mendirikan lembaga pendidikan Islam bagi perempuan, serta menyebarkan dakwah di kalangan wanita.


Berikut terjemahan lengkap ke dalam bahasa Indonesia tanpa diringkas:


Mahasiswa Muslim

Ikhwan merupakan organisasi kemahasiswaan besar di universitas-universitas Mesir, sekolah menengah, dan lembaga-lembaga keagamaan. Hal ini karena para mahasiswa adalah kelompok yang paling memahami apa yang ditulis tentang Islam dan yang paling bersemangat terhadap ide tersebut.

Pada waktu itu, kampus-kampus kosong dari dakwah Islam, sementara partai-partai politik dan pemikiran-pemikiran menyimpang bebas berkembang di dalamnya. Jika para mahasiswa melihat salah satu teman mereka sedang shalat, mereka akan menghujaninya dengan ejekan dan cemoohan serta menuduhnya sebagai orang yang kolot (reaksioner).

Karena itu, sebagian mahasiswa menyembunyikan shalatnya karena takut terhadap teman-temannya. Lalu sebagian mahasiswa Ikhwan bangkit untuk bekerja di lingkungan kampus demi Islam dan dakwahnya.

Setelah beberapa waktu dan melalui pertarungan antara kelompok menyimpang, kelompok partisan, dan mereka yang kalah oleh budaya Barat, akhirnya kampus membuka pintunya bagi mahasiswa Muslim. Jumlah mereka pun berkembang hingga mereka menguasai arena kemahasiswaan.

Mereka juga memiliki peran penting dalam sejarah nasional, di mana mereka berjihad atas nama universitas untuk mengusir penjajah Inggris. Mereka juga berjihad di Palestina dan medan-medan lainnya dengan perjuangan yang membahagiakan kawan dan menyedihkan musuh.


Bagian Buruh

Ikhwan juga memiliki organisasi yang kuat di kalangan buruh. Dakwah tersebar di kalangan buruh setelah sebelumnya kelas pekerja menjadi sasaran empuk bagi komunisme dan ide-ide sosialis yang membanjiri mereka dengan slogan-slogan menarik seperti kesetaraan, penguasaan, dan perlawanan terhadap kapitalisme, dan lain sebagainya.

Dalam waktu singkat, para buruh menjadi salah satu pilar utama dakwah dan fondasi yang kokoh baginya.


Kesulitan yang Dihadapi Jamaah

Jamaah ini menarik perhatian karena aktivitasnya yang besar, sesuatu yang tidak diizinkan oleh penjajah maupun oleh para pemilik kekuasaan yang berada di bawah pengaruh mereka.

Maka muncullah berbagai kesulitan besar yang hingga kini masih mengelilingi jamaah tersebut. Dan menurut pandanganku, jamaah ini tidak akan terbebas dari masalah-masalah itu kecuali jika campur tangan asing diangkat dari umat, dan kebebasan diberikan kepada rakyat untuk menentukan nasib mereka sendiri.

Sebab aktivitas yang dilakukan oleh umat dan kelompok-kelompok Islam tidak menguntungkan musuh-musuh umat, juga tidak menguntungkan pihak-pihak yang berada di sekitar mereka.

Berikut sebagian contohnya:

  • Ikhwan berpartisipasi dalam Perang Palestina tahun 1948, dengan mengirim pasukan khusus mereka sendiri. Hal ini dicatat secara rinci oleh Kamil asy-Syarif—salah satu pemimpin relawan Ikhwan, mantan menteri Yordania, dan saat ini sekretaris jenderal Majelis Islam Dunia untuk Dakwah dan Bantuan—dalam bukunya Ikhwanul Muslimin dalam Perang Palestina.
  • Pada 8 November 1948, Perdana Menteri Nuqrashi dibunuh dan Ikhwanul Muslimin dituduh sebagai pelakunya. Para pendukung Nuqrashi dalam pemakamannya meneriakkan bahwa kepala Nuqrashi harus dibalas dengan kepala al-Banna, yang kemudian benar-benar dibunuh pada 12 Februari 1949.
  • Pada tahun 1950, al-Ustadz al-Hudaybi (lahir 1306 H / 1891 M – wafat 1393 H / 1973 M), salah satu tokoh besar peradilan Mesir, dipilih sebagai Mursyid Ikhwan. Ia ditangkap beberapa kali, dan pada tahun 1954 dijatuhi hukuman mati yang kemudian diringankan menjadi penjara seumur hidup, lalu dibebaskan terakhir kali pada tahun 1971.
  • Pada Oktober 1951, krisis antara Inggris dan Mesir memuncak, dan Ikhwan melancarkan perang gerilya melawan Inggris di Terusan Suez. Hal ini dicatat oleh Kamil asy-Syarif dalam bukunya Perlawanan Rahasia di Terusan Suez.
  • Pada 23 Juli 1952, sekelompok perwira Mesir di bawah pimpinan Jenderal Muhammad Najib melakukan revolusi dengan dukungan Ikhwan. Namun setelah itu, Ikhwan menolak ikut dalam pemerintahan jika tidak diberi peran jelas dalam arah revolusi. Terjadilah konflik dan perdebatan yang berkembang hingga pemerintah pada tahun 1954 menangkap Ikhwan dan mengusir ribuan anggotanya dengan tuduhan percobaan pembunuhan terhadap Gamal Abdel Nasser di Lapangan Manshiyah, Alexandria. Enam orang dari mereka dieksekusi: Abdul Qadir Audah, Muhammad Farghali, Yusuf Thalat, Hindawi Duir, Ibrahim ath-Thayyib, dan Mahmud Abdul Latif.
  • Pada tahun 1965–1966, penangkapan kembali terjadi dengan tuduhan membentuk organisasi rahasia untuk menggulingkan pemerintahan. Pemerintah melancarkan kampanye penahanan dan penyiksaan. Kali ini tiga anggota dieksekusi, termasuk Sayyid Qutb (1324–1387 H / 1906–1966 M), yang dianggap sebagai pemikir kedua jamaah setelah al-Banna dan salah satu tokoh penting pemikiran Islam modern. Ia ditangkap pada tahun 1954, dipenjara selama sepuluh tahun, dibebaskan tahun 1964 dengan intervensi Presiden Irak Abdul Salam Arif, namun kemudian ditangkap kembali dan dijatuhi hukuman mati.
  • Sayyid Qutb memiliki banyak karya sastra dan pemikiran Islam, di antaranya: Fi Zhilal al-Qur’an, Keadilan Sosial dalam Islam, Karakteristik Konsep Islam dan Unsur-unsurnya, Ma’alim fi ath-Thariq, dan banyak lagi.
  • Setelah masa tekanan pada era Nasser, jamaah tetap bergerak secara rahasia hingga wafatnya Nasser pada 28 September 1970. Hal ini berlanjut pada masa Sadat, di mana mereka kembali ditangkap, dan sejumlah anggota meninggal di penjara, termasuk Ustadz Kamal as-Sananiri yang menghabiskan 25 tahun di penjara selama masa Nasser.

• Setelah itu, Ustadz Umar at-Tilmisani (1904–1986 M) dipilih sebagai Mursyid ‘Am (pemimpin umum) setelah al-Mustasyar al-Hudaybi. Ia memimpin jamaah dengan mengikuti jejak pendahulunya, jauh dari kekerasan. Ia dan saudara-saudaranya lebih memilih menerima penjara dan penyiksaan, namun tidak menerima perlawanan bersenjata atau penggunaan kekerasan.

Kemudian Ustadz at-Tilmisani wafat, dan setelahnya kepemimpinan dipegang oleh Ustadz Hamid Abu an-Nasr, yang juga berjalan di atas manhaj para pendahulunya.

Ikhwan kemudian masuk ke dalam kehidupan politik meskipun menghadapi berbagai kesulitan, dan mencalonkan banyak anggotanya untuk parlemen (Majelis Rakyat) selama dua periode.

Namun kemudian datang realitas dekade 1990-an, di mana ruang demokrasi dipersempit untuk membatasi suara oposisi di kawasan, sebagai persiapan untuk menerima kaum Zionis, menyelesaikan (menghapus) isu Palestina, serta mempromosikan proyek “Timur Tengah Baru”.

Karena itu, parlemen harus dipenuhi oleh orang-orang bodoh dan pemilik kepentingan agar proyek-proyek mencurigakan tersebut dapat diloloskan. Maka gerakan Islam pun ditekan. Disepakati untuk tidak mengizinkan Ikhwan masuk ke parlemen, dan seluruh perangkat pemerintah menggunakan berbagai cara dan sarana untuk menghalangi keberhasilan calon-calon jamaah.

Dan hal itu berhasil dilakukan melalui intimidasi dan penangkapan.


• Namun Ikhwan tidak menyerah. Mereka mencalonkan diri dalam organisasi profesi, seperti serikat dokter, insinyur, pengacara, jurnalis, dan guru.

Hasilnya sangat mengejutkan, karena arus Ikhwan memenangkan mayoritas besar.

Pemerintah kemudian menggunakan berbagai tipu daya, rekayasa, serta cara-cara provokatif dan represif untuk mengubah keadaan tersebut, namun tanpa hasil.

Akhirnya, pemerintah menggunakan cara yang tercela, yaitu dengan memberlakukan pengawasan paksa terhadap serikat-serikat tersebut dan merebutnya dengan kekuatan, melanggar semua hukum dan norma.

Hal ini menyebabkan hilangnya hak-hak para anggota serikat dan kepentingan mereka, serta menyebarnya korupsi, pemborosan harta, dan perampasan berbagai hasil yang telah dicapai tanpa manfaat.


• Kemudian tampaknya pemerintah merasakan tekanan dan ketidakpuasan rakyat serta kalangan profesional, sehingga mengambil langkah berbahaya untuk membungkam suara dan menekan arus Islam.

Mereka mendirikan pengadilan militer tanpa alasan dan tanpa kesalahan bagi ratusan pemimpin Islam.

Pengadilan militer menjatuhkan hukuman kepada mereka secara bertahap, satu gelombang setelah gelombang lainnya, di tengah keterkejutan dan kemarahan banyak pihak, tanpa memperhatikan keadilan ataupun kehormatan hukum, dengan putusan-putusan yang zalim.

Mereka kemudian dipenjarakan, dan keadaan ini masih terus berlangsung hingga sekarang.


Meskipun demikian, aktivitas Islam tetap berjalan dengan penuh keikhlasan, menanggung usaha, kelelahan, penjara, penyiksaan, dan pengusiran, hingga Allah menetapkan keputusan-Nya yang pasti terjadi.

Dan hingga umat merasakan bahwa mereka memiliki hak yang harus disadari, serta bahwa urusan mereka harus kembali berada di tangan mereka sendiri, bukan di tangan orang lain yang tidak menjaga hak dan kehormatan mereka.


Ikhwan dan Politik

Ikhwan meyakini bahwa pemikiran politik Islam merupakan bagian dari hakikat agama ini, yang datang untuk mengatur manusia dengan syariat Allah dan membimbing mereka menuju kebaikan serta jalan yang lurus.

Dakwah Ikhwanul Muslimin hadir untuk mengembalikan manusia kepada pemahaman Islam yang benar dan menyeluruh, serta menghubungkan mereka dengan dakwah pertama dan sumber murni agama ini.

Oleh karena itu, menjadi kewajiban bagi mereka untuk berjalan bersama Islam ke mana pun ia berjalan, memimpin manusia dengan syariat, dan tidak memperhatikan nama-nama atau istilah-istilah.

Jika memimpin manusia dengan Islam dan mengatur urusan kehidupan mereka disebut sebagai politik, maka kami adalah orang yang paling berakar dalam politik.

Jika musyawarah umat dalam urusan internal dan eksternal kini dilakukan melalui wakil-wakil rakyat, maka kami adalah pihak yang paling layak untuk dimintai pendapat dan paling berhak memberikan nasihat kepada para penguasa dan otoritas.

Makna ini telah dibahas dan dijelaskan oleh Syaikh Hasan al-Banna رحمه الله dalam tulisan berjudul “Kami dan Politik”, beliau berkata:

“Sebagian orang mungkin berkata: Apa hubungan Ikhwan dengan parlemen, padahal Ikhwan adalah kelompok keagamaan, sedangkan ini adalah jalan organisasi politik?

Aku menjawab kepada orang ini dengan tegas dan jelas: Wahai saudaraku…

Adapun bahwa kami adalah politisi dalam arti kepartaian—mendukung satu partai dan menentang yang lain—maka kami bukan demikian, dan tidak akan pernah demikian. Tidak seorang pun dapat membuktikan hal itu, bahkan dengan sekadar dugaan.

Adapun bahwa kami adalah politisi dalam arti kami memperhatikan urusan umat kami, dan kami meyakini bahwa kekuasaan eksekutif merupakan bagian dari ajaran Islam yang termasuk dalam hukum-hukumnya, serta bahwa kebebasan politik dan kemuliaan bangsa adalah salah satu pilar dan kewajiban dalam Islam, dan bahwa kami berusaha sekuat tenaga untuk menyempurnakan kebebasan serta memperbaiki pemerintahan—maka kami memang demikian.

Dan kami yakin bahwa kami tidak membawa sesuatu yang baru dalam hal ini, karena hal tersebut telah dikenal oleh setiap Muslim yang mempelajari Islam dengan benar.”


Imam Syahid (Hasan al-Banna) juga menjelaskan hal ini dalam risalah “Konferensi Mahasiswa Ikhwanul Muslimin” di bawah judul “Agama dan Politik”, beliau berkata:

Jarang sekali engkau menemukan seseorang berbicara tentang politik dan Islam kecuali ia memisahkan keduanya, dan menempatkan masing-masing pada sisi yang berbeda.

Dalam pandangan manusia, keduanya tidak bertemu dan tidak menyatu.

Dari sinilah muncul penamaan bahwa suatu organisasi itu “Islam” bukan “politik”, dan bahwa ini adalah pertemuan keagamaan yang tidak berkaitan dengan politik.

Bahkan kita menemukan dalam undang-undang dan program organisasi-organisasi Islam tertulis:
“Organisasi ini tidak mencampuri urusan politik.”

Sebelum membahas pandangan ini apakah benar atau salah, aku ingin menarik perhatian pada dua hal penting:

Pertama:
Perbedaan antara kepartaian (hizbiyah) dan politik sangat besar.

Keduanya bisa saja bersatu, dan bisa pula terpisah.

Seseorang bisa menjadi politisi dalam arti sebenarnya tanpa terikat pada partai apa pun. Sebaliknya, seseorang bisa menjadi anggota partai tetapi tidak memahami apa-apa tentang politik.

Dan bisa juga keduanya berkumpul, sehingga seseorang menjadi politisi sekaligus partisan.

Ketika aku berbicara tentang politik dalam pembahasan ini, yang aku maksud adalah politik secara umum, yaitu memperhatikan urusan umat baik dalam maupun luar negeri, tanpa terikat oleh kepartaian dalam bentuk apa pun.

Kedua:
Orang-orang non-Muslim, ketika mereka tidak memahami Islam ini—atau ketika mereka merasa kesulitan menghadapi kekokohan Islam dalam jiwa para pengikutnya serta kedalamannya dalam hati orang-orang beriman—mereka berusaha membatasi makna Islam dalam lingkup sempit, sehingga menghilangkan seluruh aspek kuat dan praktis yang ada di dalamnya.

Mereka kemudian meninggalkan kepada kaum Muslimin hanya kulit luar berupa nama-nama, simbol, dan bentuk-bentuk lahiriah yang tidak memberikan manfaat sedikit pun.

Mereka membuat kaum Muslimin memahami bahwa Islam adalah sesuatu, sedangkan kehidupan sosial adalah sesuatu yang lain; bahwa Islam adalah sesuatu, dan budaya umum adalah sesuatu yang lain; dan bahwa Islam adalah sesuatu yang harus dijauhkan dari politik.


Maka katakanlah kepadaku, demi Tuhan kalian wahai saudara-saudara, jika Islam itu sesuatu yang terpisah dari politik, terpisah dari kehidupan sosial, terpisah dari ekonomi, dan terpisah dari kebudayaan, lalu apakah sebenarnya Islam itu?

Apakah ia hanya rakaat-rakaat kosong tanpa kehadiran hati, atau sekadar lafaz-lafaz yang—sebagaimana dikatakan oleh Rabi‘ah al-‘Adawiyah—istighfar yang masih membutuhkan istighfar lagi?

Apakah untuk hal seperti itu, wahai saudara-saudara, Al-Qur’an diturunkan sebagai sistem yang lengkap, kokoh, dan rinci, “sebagai penjelas bagi segala sesuatu serta petunjuk dan rahmat bagi kaum yang beriman”?

Makna Islam yang dipersempit seperti ini, dan batasan-batasan sempit yang dibuat terhadapnya, adalah upaya para musuh Islam untuk membatasi kaum Muslimin dalam lingkup tersebut, dan menipu mereka dengan mengatakan: “Kami telah memberi kalian kebebasan beragama,” serta bahwa konstitusi menyatakan Islam sebagai agama resmi negara.

Aku nyatakan, wahai saudara-saudara, dari mimbar ini dengan tegas, jelas, dan kuat, bahwa Islam bukanlah makna sempit seperti yang diinginkan oleh musuh-musuhnya—baik dari luar maupun dari anak-anaknya sendiri—untuk membatasinya.

Sesungguhnya Islam adalah:
akidah dan ibadah,
tanah air dan kebangsaan,
kelembutan dan kekuatan,
akhlak dan materi,
kebudayaan dan hukum.

Dan seorang Muslim dituntut oleh keislamannya untuk memperhatikan seluruh urusan umatnya. Barang siapa tidak peduli terhadap urusan kaum Muslimin, maka ia bukan bagian dari mereka.

Aku juga meyakini bahwa para pendahulu kita—semoga Allah meridhai mereka—tidak memahami Islam kecuali dengan makna yang demikian.

Dengan Islam mereka memerintah,
dengannya mereka berjihad,
berdasarkan prinsip-prinsipnya mereka bermuamalah,
dan dalam batas-batasnya mereka menjalani seluruh urusan kehidupan dunia sebelum urusan akhirat.

Semoga Allah merahmati khalifah pertama (Abu Bakar) ketika berkata:
“Seandainya tali unta milikku hilang, niscaya aku akan menemukannya dalam Kitab Allah.”


Setelah penjelasan umum tentang makna Islam yang menyeluruh dan makna politik yang bebas dari kepartaian, aku dapat menyatakan dengan tegas bahwa seorang Muslim tidak akan sempurna keislamannya kecuali ia juga menjadi seorang yang “politis”—yaitu memiliki pandangan jauh terhadap urusan umatnya, memperhatikannya, dan peduli terhadapnya.

Aku juga dapat mengatakan bahwa pemisahan seperti itu tidak dibenarkan oleh Islam, dan setiap organisasi Islam harus menjadikan perhatian terhadap urusan politik umat sebagai bagian utama dari programnya. Jika tidak, maka organisasi tersebut perlu memahami kembali makna Islam.

Izinkan aku, wahai saudara-saudara, untuk sedikit melanjutkan penjelasan ini, yang mungkin terasa asing bagi orang-orang yang terbiasa mendengar pemisahan antara Islam dan politik.

Mungkin setelah pertemuan ini, sebagian orang akan berkata bahwa Ikhwanul Muslimin telah meninggalkan prinsipnya, keluar dari jati dirinya, dan berubah menjadi organisasi politik setelah sebelumnya merupakan organisasi keagamaan.

Lalu masing-masing akan menafsirkan perubahan itu menurut pandangannya sendiri.

Padahal—demi Allah—wahai hadirin, Ikhwan tidak pernah pada suatu hari pun menjadi selain gerakan politik dalam makna yang benar, dan tidak akan pernah menjadi selain kaum Muslimin.

Dakwah mereka tidak pernah memisahkan antara agama dan politik, dan mereka tidak akan pernah menjadi kelompok partisan.

Sebagaimana firman Allah:
“Dan apabila mereka mendengar perkataan yang sia-sia, mereka berpaling darinya dan berkata: bagi kami amal kami dan bagi kalian amal kalian, salam atas kalian, kami tidak ingin bergaul dengan orang-orang bodoh.”

Mustahil mereka berjalan menuju tujuan selain tujuan mereka, atau bekerja untuk selain ide mereka, atau mengambil warna selain Islam yang lurus:
“Celupan Allah, dan siapakah yang lebih baik celupannya daripada Allah, dan hanya kepada-Nya kami menyembah.”


Pemikiran Politik Kontemporer Ikhwan

Ikhwanul Muslimin meyakini bahwa menegakkan keadilan, memperbaiki urusan manusia, dan menolong orang yang dizalimi dari tangan orang yang menzalimi—siapa pun dia—adalah bagian dari jihad di jalan Allah.

Dalam hadis dari Abu Sa‘id al-Khudri, Nabi bersabda:
“Jihad yang paling utama adalah mengatakan kebenaran di hadapan penguasa yang zalim.”

Dan dalam riwayat lain dari Jabir, Rasulullah bersabda:
“Pemimpin para syuhada adalah Hamzah bin Abdul Muthalib, dan seseorang yang berdiri di hadapan penguasa zalim, lalu memerintahkannya (kepada kebaikan) dan melarangnya (dari kemungkaran), lalu ia dibunuh.”


Atas dasar ini, Ikhwan berusaha—dengan cara-cara yang memungkinkan—untuk menegakkan keadilan dan memperbaiki urusan masyarakat.

Mereka memiliki pemikiran politik terhadap berbagai persoalan kontemporer, yang lahir dari kajian ilmiah mendalam yang disusun oleh para ahli dan pakar di bidangnya.

Pemikiran ini juga melalui diskusi panjang dalam penelitian, seminar, dan konferensi yang diselenggarakan untuk tujuan tersebut.

Selain itu, pemikiran ini juga lahir dari pengalaman praktis Ikhwan di arena politik, di mana mereka membahas pandangan mereka terhadap berbagai isu penting di tingkat Arab dan internasional.

Pernyataan-pernyataan mereka dalam berbagai kesempatan dan pertemuan politik menegaskan arah tersebut.

Semua itu sebelumnya tersebar dalam berbagai tulisan terpisah, kemudian dihimpun oleh jamaah dalam sebuah buku agar tidak ada yang mengira bahwa sikap-sikap tersebut hanya reaksi sesaat atau karena tekanan keadaan.

Dalam buku tersebut, dapat ditemukan berbagai isu kontemporer penting yang menjadi perhatian para pemerhati Islam dan kaum Muslimin, di antaranya:

  • Islam dan Hak Asasi Manusia
  • Sikap Ikhwan terhadap non-Muslim dalam masyarakat Islam
  • Ikhwan dan peristiwa kekerasan
  • Syura (musyawarah) dan dasar syariatnya
  • Prinsip-prinsip reformasi politik menurut Ikhwan
  • Ikhwanul Muslimin dan kehidupan parlemen
  • Pluralitas partai dalam negara Islam
  • Perempuan Muslim dan pemilu
  • Partisipasi dalam pemerintahan
  • Islam dan aktivitas politik
  • Peran perempuan dalam jabatan publik
  • dan berbagai topik penting lainnya

Jamaah ini tidak mengklaim bahwa proyek politiknya telah mencapai kesempurnaan atau bebas dari kritik.

Barang siapa melihat sesuatu yang lebih baik dari apa yang mereka tawarkan, maka agama adalah nasihat. Mereka akan berterima kasih dan berjanji untuk mengambil yang paling baik, paling tepat, dan paling bermanfaat bagi agama dan kehidupan dunia.


Ikhwan dan Penggunaan Kekuatan

Tidak diragukan bahwa Ikhwanul Muslimin memiliki sifat menyeluruh (komprehensif). Dalam kerangka ini, tidak mungkin bagi suatu jamaah yang memiliki tujuan besar untuk mengabaikan konsep jihad dan penggunaan kekuatan.

Namun, Syaikh Hasan al-Banna memiliki kebijaksanaan dan kecerdasan yang tinggi, sehingga ia menentukan dengan jelas kondisi-kondisi di mana kekuatan digunakan, dan kondisi di mana dakwah serta kata-kata yang baik harus didahulukan daripada kekuatan dan kekerasan.

Al-Banna menulis sebuah risalah berjudul “Jihad”, di mana ia menjelaskan bahwa jihad adalah kewajiban bagi setiap Muslim. Ia juga menjelaskan hukum jihad menurut para fuqaha, kapan menjadi fardhu ‘ain dan kapan menjadi fardhu kifayah.

Jihad menjadi fardhu kifayah bagi umat untuk menyebarkan dakwah, dan menjadi fardhu ‘ain untuk menghadapi serangan orang-orang kafir terhadap mereka.

Ia menutup risalahnya dengan berkata:
“Sesungguhnya umat yang pandai membuat kematian (yakni siap berkorban) dan mengetahui bagaimana mati dengan kematian yang mulia, maka Allah akan menganugerahkan kepadanya kehidupan yang mulia di dunia dan kenikmatan abadi di akhirat. Tidak ada yang melemahkan kita kecuali kecintaan terhadap dunia dan kebencian terhadap kematian. Maka persiapkanlah diri kalian untuk amal yang besar dan bersemangatlah untuk mati, niscaya kalian akan diberi kehidupan.”

Dari risalah ini jelas bahwa jihad diarahkan kepada musuh-musuh Islam, yaitu para penjajah dan pihak yang menduduki negeri-negeri kita.

Namun muncul pertanyaan: apakah dalam niatnya jihad juga digunakan di dalam masyarakat untuk menghilangkan pemerintahan yang rusak dan mendirikan negara Islam?

Pertanyaan ini dijawab oleh Syaikh al-Banna dengan jelas, tegas, bijaksana, dan rasional, di mana ia menetapkan syarat-syarat dan kondisi penggunaan kekuatan. Berikut penjelasannya dengan kata-katanya sendiri:

Al-Banna رحمه الله berkata:

“Banyak orang bertanya: apakah Ikhwanul Muslimin berniat menggunakan kekuatan untuk mencapai tujuan mereka? Apakah mereka berpikir untuk melakukan revolusi umum terhadap sistem politik atau sosial di Mesir?

Aku tidak ingin membiarkan mereka dalam kebingungan, maka aku manfaatkan kesempatan ini untuk memberikan jawaban yang jelas dan gamblang.

Adapun kekuatan, maka ia adalah simbol Islam dalam seluruh sistem dan syariatnya.

Al-Qur’an menyatakan dengan jelas:
‘Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian mampu…’ (Al-Anfal: 60).

Dan Nabi bersabda:
‘Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.’

Bahkan kekuatan menjadi simbol Islam bahkan dalam doa—yang merupakan bentuk kerendahan diri—sebagaimana doa Nabi :
‘Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari kesedihan dan kegelisahan, dari kelemahan dan kemalasan, dari sifat pengecut dan bakhil, serta dari lilitan utang dan penindasan manusia.’

Tidakkah engkau melihat bahwa beliau berlindung dari semua bentuk kelemahan:
kelemahan jiwa (sedih dan gelisah),
kelemahan produktivitas (malas dan lemah),
kelemahan harta (pengecut dan bakhil),
dan kelemahan kehormatan (utang dan penindasan)?

Maka apa yang diharapkan dari seorang yang mengikuti agama ini selain menjadi kuat dalam segala hal?

Karena itu, Ikhwanul Muslimin harus kuat, dan harus bekerja dengan kekuatan.”

Namun Ikhwan memiliki pemikiran yang lebih dalam dan pandangan yang lebih jauh daripada sekadar tindakan dangkal. Mereka meneliti hakikat suatu tindakan, menimbang hasilnya, dan memahami tujuan di baliknya.

Mereka mengetahui bahwa tingkatan pertama kekuatan adalah kekuatan akidah dan iman, kemudian kekuatan persatuan dan keterikatan, dan setelah itu kekuatan fisik dan senjata.

Tidak layak suatu jamaah disebut kuat kecuali jika semua unsur ini terpenuhi. Jika mereka menggunakan kekuatan fisik dan senjata dalam kondisi terpecah, lemah iman, dan tidak teratur, maka hasilnya adalah kehancuran dan kebinasaan.


Kemudian beliau mengajukan beberapa pertimbangan:

  • Apakah Islam—yang menjadikan kekuatan sebagai simbolnya—memerintahkan penggunaan kekuatan dalam semua kondisi?
  • Ataukah Islam menetapkan batasan dan syarat tertentu serta mengarahkan penggunaan kekuatan secara tepat?
  • Apakah kekuatan adalah solusi pertama, ataukah solusi terakhir?
  • Apakah seseorang harus mempertimbangkan manfaat dan mudarat penggunaan kekuatan serta kondisi yang melingkupinya?

Ini adalah pertimbangan yang dikaji oleh Ikhwan sebelum menggunakan kekuatan.

Revolusi adalah bentuk paling keras dari penggunaan kekuatan, dan pandangan Ikhwan terhadapnya sangat teliti dan mendalam.

Beliau berkata:
“Sesungguhnya Ikhwan akan menggunakan kekuatan praktis jika tidak ada jalan lain yang bermanfaat. Namun mereka tidak akan melakukannya kecuali setelah menyempurnakan kesiapan iman dan persatuan. Setelah itu barulah mereka maju dengan kehormatan dan kemuliaan, serta siap menanggung segala konsekuensinya dengan penuh kerelaan.”

Adapun revolusi, maka Ikhwan tidak memikirkannya, tidak bergantung padanya, dan tidak meyakini manfaat maupun hasilnya.

Namun mereka memperingatkan setiap pemerintah di Mesir bahwa jika keadaan tetap seperti ini tanpa adanya perbaikan yang cepat, maka kondisi tersebut pasti akan mengarah pada revolusi—bukan oleh Ikhwan dan bukan dari dakwah mereka—melainkan akibat tekanan keadaan dan kelalaian terhadap reformasi.

Masalah-masalah yang terus menumpuk dari waktu ke waktu hanyalah tanda-tanda menuju hal tersebut. Maka hendaknya para penyelamat segera bertindak.


Rahasia Keberlangsungan Jamaah

Munculnya gerakan Wahhabi melahirkan banyak gerakan Islam di dunia Arab dan Islam, seperti gerakan Mahdiyah, Sanusiyah, Qadiriyah, dan lainnya.

Namun gerakan-gerakan tersebut umumnya hanya memainkan perannya pada masa tertentu, lalu berakhir tanpa meninggalkan pengaruh yang berarti. Hal ini karena sebagian dari mereka hanya fokus pada satu aspek Islam dan meninggalkan aspek lainnya.

Karena itu, kita tidak lagi melihat keberadaan mereka secara nyata di dunia Islam saat ini.

Adapun Jamaah Ikhwanul Muslimin, mereka tetap bertahan sejak awal berdirinya hingga sekarang. Hal ini disebabkan oleh banyak faktor.


Di antaranya adalah kepribadian pendiri jamaah, yaitu Imam Syahid Hasan al-Banna, sebagai seorang da’i yang memiliki kemampuan luar biasa dalam mendidik jiwa dan membina manusia.

Ia bukan sekadar seorang ulama yang mengajarkan agama kepada manusia atau menulis buku-buku, tetapi ia membentuk manusia-manusia yang mampu memikul panji dakwah setelahnya.

Jika kita bandingkan dirinya dengan para pembaharu sebelumnya yang memiliki sejarah besar seperti Syaikh Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, dan Jamaluddin al-Afghani, maka kita dapati bahwa mereka semua telah wafat tanpa meninggalkan sebuah dakwah yang jelas sistemnya, atau kader-kader yang menjaga dakwah tersebut setelah mereka.

Adapun Syaikh Hasan al-Banna, dengan kepribadiannya yang luar biasa, mampu meletakkan sebuah dakwah yang di dalamnya terdapat faktor-faktor yang menjamin keberlangsungan dan kelestariannya.

Syaikh Abul Hasan an-Nadwi berkata tentang kepribadian beliau:

“Sesungguhnya ia adalah pribadi yang Allah kumpulkan padanya:
akal yang besar dan cemerlang,
pemahaman yang luas dan terang,
emosi yang kuat dan mendalam,
hati yang diberkahi dan melimpah,
lisan yang fasih dan jelas,
zuhud dan qana’ah, serta tekad yang tinggi,
dan tidak pernah lelah dalam menyebarkan dakwah dan prinsip.

Di samping kecintaannya yang mendalam terhadap dakwahnya, keyakinannya terhadapnya, pengorbanannya untuknya, serta totalitasnya dengan seluruh bakat dan energinya, juga pengaruhnya yang mendalam pada jiwa para sahabat dan muridnya, serta keberhasilannya yang luar biasa dalam pendidikan dan pembinaan—ia adalah pembangun generasi, pendidik umat, serta pemilik madrasah ilmiah, pemikiran, dan akhlak.”


  1. Jamaah ini mengusung ide Islam tanpa tambahan maupun pengurangan, karena ia merepresentasikan Islam dalam pengertian yang utuh sebagai akidah, syariat, sistem, ibadah, dan reformasi.
  2. Metode yang ditempuh oleh jamaah ini adalah metode realistis yang berangkat dari manhaj Rasulullah dalam berdakwah kepada masyarakat Muslim yang masih memiliki kekurangan, serta menggunakan metode ketegasan dan jihad dalam menghadapi penjajah seperti Inggris dan Yahudi.
  3. Jamaah ini mengangkat persoalan-persoalan bangsa dan problematikanya, serta berusaha menyelesaikannya melalui konsep-konsep Islam yang benar.
  4. Jamaah ini berusaha menghimpun semua kelompok yang bekerja untuk Islam. Mereka tidak menyerang kelompok atau arus mana pun, melainkan berusaha bertemu dengan mereka pada titik-titik kesepakatan, serta memaklumi perbedaan yang ada.

Dengan demikian, mereka berhasil menarik banyak kalangan aktivis dakwah Islam ke dalam barisan mereka, dan berusaha memanfaatkan usaha semua pihak untuk mencapai tujuan besar, yaitu penerapan Islam secara menyeluruh dalam seluruh aspek kehidupan.


Karena sebab-sebab inilah Jamaah Ikhwanul Muslimin tetap bertahan meskipun menghadapi berbagai ujian yang sebenarnya cukup untuk menghancurkan ide apa pun.

Seorang penulis Amerika, John Kony, benar ketika berkata:
“Sesungguhnya Jamaah Ikhwanul Muslimin kebal terhadap kehancuran.”


Mengapa Ikhwanul Muslimin tidak berhasil mewujudkan tujuan mereka?

Kita telah melihat bahwa tujuan dan cita-cita yang ditetapkan oleh Ikhwanul Muslimin adalah tujuan yang mulia dan tidak diperdebatkan oleh siapa pun yang memahami Islam dengan benar.

Metode dakwah mereka juga merupakan metode yang unik dan layak untuk menyatukan manusia di sekitarnya.

Lalu mengapa jamaah ini tidak mampu mewujudkan prinsip-prinsipnya dalam kenyataan?

Jawabannya:
Ikhwanul Muslimin telah mempersiapkan diri secara materi dan militer yang sebenarnya cukup untuk mengantarkan mereka ke kekuasaan pada masa kerajaan.

Namun tujuan mereka bukanlah merebut kekuasaan dengan kekuatan atau jihad, karena itu bukan metode mereka dalam menghadapi penguasa.

Metode mereka adalah nasihat, bimbingan, dan pengarahan.

Lalu mengapa ada persiapan militer?

Jawabannya:
Persiapan militer tersebut bertujuan untuk melawan penjajah Inggris dan berpartisipasi dalam pembebasan Palestina dari tangan Yahudi.

Partisipasi mereka dalam perang ini memberikan mereka pengalaman tempur tambahan, serta menunjukkan tingkat kesiapan dan kemampuan militer mereka.

Bahkan Dr. Richard Mitchell menyatakan:
“Jumlah anggota jamaah pada tahun 1948 mencapai satu juta orang, di antaranya tujuh puluh ribu bersenjata, yang tergabung dalam kelompok kepanduan (jawalah) atau aparat rahasia.”

Hal ini membuat kekuatan-kekuatan yang memusuhi mereka menimbulkan ketakutan terhadap jamaah ini, dan berusaha memecah hubungan antara mereka dengan istana kerajaan.

Akibatnya, pemerintah-pemerintah yang menjadi kaki tangan—seperti pemerintahan Mahmud Fahmi Nuqrashi dan Ibrahim Abdul Hadi—merencanakan penangkapan jamaah, penyitaan harta dan sumber daya mereka, serta pembunuhan Hasan al-Banna.

Ketika Revolusi Mesir terjadi, jamaah telah kembali menyusun kekuatan dan menata barisan mereka, serta Hasan al-Hudaybi diangkat sebagai Mursyid ‘Am.

Namun revolusi kembali menekan jamaah:

  • pada tahun 1954
  • dan lagi pada tahun 1965

dengan penangkapan anggota-anggotanya.

Ketika Presiden Sadat mengeluarkan perintah pembebasan Ikhwan dari penjara pada tahun 1971 dan memberi mereka kebebasan, mereka berperan dalam membersihkan kehidupan Mesir dari pengaruh pemikiran komunis dan kerusakan moral yang telah merusak masyarakat.

Namun kemudian Sadat berbalik melawan mereka, menutup majalah mereka, dan menangkap para pemimpinnya.

Demikianlah siklus itu terus berulang.


Dengan demikian, terdapat faktor-faktor eksternal di luar kehendak jamaah—yaitu kekuatan-kekuatan musuh dan pemerintah lokal—yang menghalangi mereka mencapai tujuan.

Selain itu, terdapat pula faktor-faktor internal dalam tubuh jamaah sendiri yang mulai tampak dalam tahun-tahun terakhir.


Jamaah Islam Teladan

Kami telah menjelaskan sebelumnya bahwa kondisi fase yang kita jalani saat ini dalam perjalanan dakwah Islam menuntut setiap Muslim dan Muslimah untuk bekerja menegakkan negara Islam, dengan puncaknya adalah khilafah Islam, sebagai bentuk penegakan agama Allah di muka bumi.

Kami juga telah menyebutkan bahwa kewajiban ini tidak mungkin terwujud dengan usaha individu yang terpisah-pisah, tetapi harus melalui kerja kolektif yang terorganisir. Dan jamaah (organisasi) itu sendiri menjadi wajib, karena sesuatu yang menjadi syarat terlaksananya kewajiban, maka ia pun menjadi wajib.

Oleh karena itu, menjadi penting—ketika kita menulis tentang keteladanan dalam jalan dakwah—untuk menulis tentang jamaah Islam teladan, karena jamaah Islam merupakan wadah yang tepat untuk menghimpun para pelaku dakwah dalam mewujudkan tujuan besar ini.

Kami akan mencoba menyebutkan beberapa sifat atau karakteristik yang harus dimiliki oleh jamaah Islam teladan, agar dapat menjadi pedoman bagi para pemuda yang bingung dalam memilih jamaah tempat mereka beramal demi menunaikan kewajiban terhadap Islam.

Dan karena tujuan kami adalah menyatukan kaum Muslimin, maka kami berharap dengan menjelaskan sifat-sifat jamaah Islam teladan ini, jamaah-jamaah yang ada di lapangan dapat berpegang kepadanya, sehingga membantu mendekatkan mereka dan menyatukan usaha mereka—dengan izin Allah Ta‘ala.


Beberapa hal mendasar yang harus ada pada jamaah Islam teladan:

  1.  

Tidak memiliki tujuan duniawi seperti keinginan popularitas, jabatan, atau tampil menonjol.
Juga harus jauh dari motivasi jahiliyah seperti fanatisme kesukuan, kedaerahan, dan semisalnya.

Karena hal-hal seperti ini akan merusak amal, dan pada akhirnya jamaah seperti itu akan mengalami kehancuran atau kegagalan.


  1.  

Jika telah bersih dari hal-hal tersebut, maka jamaah harus menjaga diri agar tidak tunduk pada dominasi pihak lain, baik pemerintah, tokoh, maupun orang-orang berpengaruh.

Hal ini agar kemurnian dakwahnya tidak tercampuri oleh warna lain, agar tetap berjalan di jalan yang benar, serta agar tidak dimanfaatkan atau diarahkan oleh pihak-pihak tersebut ke tujuan yang menyimpang dari tujuan awalnya.


  1.  

Tujuan berdirinya jamaah haruslah tujuan yang menyeluruh dan agung, yaitu menegakkan agama Allah di bumi dengan mendirikan negara Islam global.

Niatnya harus murni karena Allah Ta‘ala dan untuk mencari keridaan-Nya, serta jauh dari tujuan duniawi apa pun.

Metodenya harus mencakup semua langkah dan persiapan yang diperlukan untuk mencapai tujuan tersebut.

Tidak boleh membatasi diri hanya pada sebagian aspek agama saja, atau melarang anggotanya melampaui batas-batas sempit tersebut.


  1.  

Salah satu hal yang sangat penting adalah bahwa pemahaman jamaah terhadap Islam harus menyeluruh, benar, dan jauh dari pemotongan (parsialitas) atau kesalahan.

Juga harus bersih dari bid‘ah dan khurafat, serta sesuai dengan Al-Qur’an dan Sunnah Rasulullah , dan menghindari perpecahan yang telah memecah kaum Muslimin menjadi kelompok-kelompok.


  1.  

Jamaah harus bersifat global (universal), bukan bersifat lokal atau rasial.

Karena dakwah Islam ditujukan untuk seluruh manusia, dan kaum Muslimin adalah satu umat.

Selain itu, tujuan Islam juga bersifat global, yaitu menegakkan negara Islam dunia, bukan sekadar mendirikan pemerintahan Islam di satu negara yang terpisah dari dunia Islam lainnya.

Minimal, jamaah lokal harus memiliki tujuan global yang sama dan berkoordinasi dengan gerakan Islam internasional untuk mewujudkannya.


  1.  

Jamaah Islam teladan harus menempuh jalan Rasulullah dalam mendirikan negara Islam pertama, yang tercermin dalam hal-hal berikut:

a.
Pemahaman “Laa ilaaha illallah” harus jelas bagi jamaah, yaitu bahwa ketuhanan hanya milik Allah semata.

Makna utamanya dalam kehidupan manusia adalah bahwa:

  • rububiyah (ketuhanan),
  • kekuasaan,
  • kedaulatan,
  • dan penetapan hukum

semuanya hanya milik Allah.

Islam adalah makna menyeluruh ini yang harus menguasai seluruh aspek kehidupan.

Makna “Laa ilaaha illallah” mencakup tiga jenis tauhid:

1. Tauhid Uluhiyah
(yaitu mengesakan Allah dalam ibadah dan ketaatan).
Ini adalah tauhid tujuan dan permintaan.

Semua bentuk ibadah seperti:

  • ibadah ritual,
  • nazar,
  • penyembelihan,
  • sumpah,
  • istighatsah,
  • isti‘adzah,
  • tawakal,
  • rasa takut,
  • dan harapan

semuanya hanya untuk Allah.

Allah berfirman:
“Katakanlah: sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku dan matiku hanyalah untuk Allah Tuhan semesta alam, tiada sekutu bagi-Nya…” (QS. Al-An‘am: 162–163).


2. Tauhid Rububiyah
(yaitu meyakini bahwa hanya Allah yang mencipta, memberi rezeki, menghidupkan, mematikan, dan menguasai segala sesuatu).
Ini adalah tauhid pengetahuan dan penetapan.


3. Tauhid Asma dan Sifat
(yaitu meyakini nama-nama Allah yang indah dan sifat-sifat-Nya yang sempurna tanpa penyerupaan, penolakan, atau penakwilan yang menyimpang).

Allah berfirman:
“Dan milik Allah nama-nama yang indah, maka berdoalah kepada-Nya dengan nama-nama itu…” (QS. Al-A‘raf: 180).


4.
Anggota jamaah harus memberikan loyalitas penuh kepada jamaah dan kepemimpinannya, serta menaati pemimpin dalam keadaan suka maupun tidak suka.

Ikatan di antara mereka harus berdasarkan cinta karena Allah dan beramal untuk agama-Nya:
“Bersikap lemah lembut terhadap orang beriman dan tegas terhadap orang kafir…” (QS. Al-Ma’idah: 54).


b.
Menegakkan akidah tauhid dan menguatkan iman di dalam hati.

c.
Memperkuat ukhuwah dan persatuan kaum Muslimin.

d.
Setelah kuat akidah dan persatuan, barulah memperhatikan kekuatan fisik dan persenjataan, serta persiapan jihad untuk menolak agresi orang-orang musyrik dan kafir.


Maka jamaah teladan harus:

  • mendidik anggotanya secara akidah, akhlak, intelektual, dan fisik,
  • membangun rasa cinta dan persaudaraan di antara mereka,
  • membentuk fondasi yang kokoh dan solid,
  • serta mempersiapkan mereka untuk jihad yang merupakan kewajiban yang terus berlangsung.

Perlu ditegaskan bahwa penggunaan kekuatan fisik dan senjata sebelum tercapainya kekuatan akidah dan persatuan akan menyebabkan jamaah terpecah, hancur, dan binasa.

Kita semua tahu bahwa Rasulullah tidak diizinkan untuk melawan agresi kaum musyrik kecuali setelah kondisi memungkinkan.


  1.  

Jamaah Islam teladan harus lebih mengutamakan aspek kerja nyata daripada propaganda dan tampilan luar.

Mereka harus membiasakan anggotanya bekerja dan berproduksi dengan tekun dan diam, jauh dari perdebatan dan banyaknya diskusi yang tidak perlu.

Karena hal itu sering menyebabkan perpecahan atau menghambat kerja dakwah.

Selain itu, kecintaan terhadap popularitas dan penampilan dapat merusak keikhlasan dan menghilangkan pahala.


  1.  

Jamaah Islam teladan harus bekerja berdasarkan rencana kerja yang lengkap, bertahap, dan realistis.

Tidak boleh bekerja secara spontan, sekadar reaksi, atau dalam bentuk lompatan-lompatan yang tidak terencana dan tidak terjamin akibatnya.

Jalan terbaik untuk mencapai tujuan adalah dengan membina individu Muslim sebagai batu bata dasar dalam bangunan.

Individu inilah yang akan membangun keluarga Muslim teladan yang didirikan atas dasar ketakwaan, sebagai pilar dalam membangun masyarakat Islam yang sehat, yang menjadi fondasi kokoh bagi tegaknya pemerintahan Islam secara stabil.

Hal ini harus dilakukan pada tingkat masyarakat Muslim secara luas sebagai persiapan bagi tegaknya negara Islam global.


  1.  

Perhatian jamaah harus mencakup seluruh bidang yang diperlukan untuk mencapai tujuan.

Mereka harus memperhatikan:

  • aspek spiritual dan pendidikan,
  • aspek budaya,
  • aspek fisik dan olahraga,

serta:

  • aspek sosial dengan mewujudkan keterpaduan dan memudahkan pernikahan bagi pemuda,
  • aspek ekonomi dengan mendirikan lembaga ekonomi,
  • aspek politik dengan mengangkat suara Islam di bidang politik dan parlemen tanpa mengikuti gaya partai dan perdebatan kosong,
  • serta aspek media, baik cetak, audio, maupun visual.

Termasuk juga mendirikan penerbitan dan distribusi, serta menyajikan setiap hal yang bermanfaat untuk menyebarkan dakwah dan membantah syubhat serta kebatilan.


  1.  

Jamaah Islam teladan tidak boleh merasa lebih tinggi dari jamaah Islam lainnya, dan tidak boleh menganggap dirinya sebagai satu-satunya kelompok yang benar sementara yang lain salah.

Sebaliknya, ia harus berusaha keras mewujudkan semangat persatuan dan kerja sama dengan jamaah lain, serta menghindari mencela individu maupun kelompok lain.

Jika mendapat perlakuan buruk, hendaknya bersabar dan membalas dengan cara yang lebih baik.

Kita semua berharap akan datang hari di mana nama-nama, label, dan perbedaan formal antar jamaah Islam hilang, digantikan oleh persatuan nyata yang menyatukan barisan umat Muhammad, sehingga semua menjadi saudara yang saling mencintai, bekerja untuk agama, dan berjihad di jalan Allah.


  1.  

Jamaah Islam teladan harus menyatu dengan masyarakat Muslim, hidup bersama persoalan mereka, serta berbagi penderitaan dan harapan mereka.

Masyarakat adalah ladang dakwah dan fondasi yang harus dipersiapkan untuk tegaknya pemerintahan Islam.

Diketahui bahwa musuh-musuh Islam selalu berusaha membuat penghalang antara jamaah Islam dan masyarakat dengan tuduhan-tuduhan palsu, seolah-olah gerakan Islam adalah ancaman bagi rakyat.

Karena itu, keterlibatan jamaah dengan masyarakat akan membatalkan tuduhan tersebut dan menyingkap kepalsuannya.


  1.  

Jamaah Islam teladan harus memiliki sistem dasar dan peraturan yang mengatur tujuan, metode, serta bidang kerja.

Juga harus:

  • mengawasi anggotanya,
  • mengatur perilaku mereka,
  • menjaga barisan dari kekacauan,
  • dan mencegah infiltrasi unsur mencurigakan.

Selain itu, jamaah harus mengevaluasi kegiatannya secara berkala untuk mengambil manfaat dari hal positif dan menghindari kekurangan.


  1.  

Jamaah harus menerapkan prinsip musyawarah dalam seluruh lembaganya dan di semua tingkatan.

Mereka harus mendorong anggota untuk:

  • berinisiatif,
  • menyampaikan pendapat dan saran,
  • memberi nasihat kepada pemimpin,
  • serta melakukan kritik yang membangun.

Dengan tetap menanamkan makna ketaatan selama bukan dalam maksiat, serta komitmen terhadap keputusan akhir.

Juga harus mendidik anggota agar memiliki sikap positif dan kepribadian yang kuat.


  1.  

Jamaah harus menempuh jalan moderasi, menghindari sikap berlebihan (ghuluw) maupun meremehkan.

Baik dalam pemikiran—seperti pemikiran takfir—maupun dalam tindakan—seperti tindakan kasar dan gegabah.

Juga harus menghindari sikap meremehkan dalam akidah, ibadah, dan kewajiban, serta tidak berlebihan dalam tuntutan yang memberatkan banyak orang.


  1.  

Jamaah harus mengikuti isu-isu Islam di berbagai medan dan berkontribusi sesuai kemampuan.

Mereka juga harus mengajak seluruh kaum Muslimin untuk ikut serta, guna memperkuat persatuan dan rasa tanggung jawab bersama terhadap seluruh wilayah Islam, termasuk pembebasannya dari penjajah—terutama Masjid Al-Aqsa—serta terhadap setiap jiwa Muslim yang terbunuh di mana pun di dunia.


  1.  

Jamaah Islam teladan harus waspada terhadap makar dan tipu daya musuh.

Mereka harus mempersiapkan anggotanya untuk menghadapi kesulitan di jalan dakwah, karena jalan ini tidak dipenuhi bunga, melainkan penuh duri, rintangan, kerja keras, perjuangan, keringat, dan darah.

Dibutuhkan kesabaran, keteguhan, dan keikhlasan, dengan keyakinan bahwa ujian adalah sunnatullah bagi dakwah, dan kemenangan pada akhirnya akan diberikan kepada orang-orang yang benar, meskipun kebatilan tampak kuat sementara waktu.

Sebagaimana firman Allah:
“Adapun buih akan hilang sebagai sesuatu yang tak berguna, sedangkan yang bermanfaat bagi manusia akan tetap di bumi…” (QS. Ar-Ra‘d: 17).


  1.  

Jamaah harus menjelaskan kepada anggotanya besarnya kebaikan yang akan mereka berikan kepada kaum Muslimin dan seluruh umat manusia dengan tegaknya negara Islam.

Juga menjelaskan besarnya pahala dari Allah.

Makna ini akan mendorong anggota untuk bersabar, teguh, dan terus berjalan di jalan dakwah.


  1.  

Jamaah harus merencanakan tahap-tahap kerja ke depan dan mempersiapkan anggotanya untuk berbagai tugas dan tanggung jawab yang akan datang, baik:

  • dalam dakwah dan pendidikan,
  • dalam jihad di jalan Allah,
  • maupun dalam pemerintahan.

Juga harus menyiapkan tenaga ahli di setiap bidang dan sektor negara.


  1.  

Jamaah harus mengambil manfaat dari setiap pemikiran atau pengalaman di tingkat global selama tidak bertentangan dengan Islam dan ajarannya.

Karena hikmah adalah milik orang beriman, di mana pun ia menemukannya, maka ia lebih berhak atasnya.


  1.  

Terakhir, jamaah Islam teladan harus menjelaskan kepada anggotanya bahwa mereka hanyalah perantara dari takdir Allah.

Segala sesuatu terjadi dengan kehendak dan kekuasaan-Nya.

Tugas mereka adalah mengambil sebab dan sarana yang syar‘i, sedangkan hasil berada di tangan Allah.

Mereka tidak akan kehilangan pahala walaupun hasil belum tercapai melalui tangan mereka.

Mereka juga harus memahami bahwa waktu dalam misi besar ini diukur dengan umur dakwah dan umat, bukan umur individu.

Dan ketika sebab-sebab kemenangan telah terpenuhi, maka kemenangan akan turun kepada hamba-hamba Allah yang beriman, karena janji Allah adalah benar:
“Dan adalah kewajiban Kami menolong orang-orang yang beriman.” (QS. Ar-Rum: 47).

Demikian pula janji Allah tentang kekuasaan akan terwujud jika mereka berjalan di jalan yang benar, yaitu jalan Rasulullah :
“Allah telah menjanjikan kepada orang-orang yang beriman dan beramal saleh di antara kamu bahwa Dia akan menjadikan mereka berkuasa di bumi…” (QS. An-Nur: 55).


  1.  

Jika ada dua jamaah yang memiliki kesamaan dalam empat sifat tersebut, dan salah satunya memiliki pengalaman, jam terbang, serta rekam jejak dalam kerja Islam, sedangkan yang lain masih baru dan berada di awal perjalanan, maka sebaiknya bekerja bersama jamaah yang pertama.

Hal ini untuk menghemat waktu, tenaga, dan jiwa, daripada memulai pengalaman baru dari awal. Juga untuk menyatukan barisan kaum Muslimin dan memperkuat saf para mujahid, daripada mengangkat banyak bendera yang membuat para pelaku dakwah terpecah.

Hal ini juga sebagai bentuk pelaksanaan firman Allah Ta‘ala:
“Dan berpeganglah kamu semuanya kepada tali Allah, dan janganlah kamu bercerai-berai.” (QS. Ali ‘Imran: 103).

Tidak boleh meninggalkan jamaah yang telah memiliki pengalaman dan memenuhi sifat-sifat tersebut, kecuali jika secara keseluruhan jamaah itu telah menyimpang dan jatuh dalam kefasikan atau kesesatan yang jelas.

Adapun kesalahan kecil atau kekeliruan individu—yang pasti ada pada setiap jamaah karena kita manusia—maka hal itu tidak menjadi alasan untuk menjauh atau meninggalkan jamaah tersebut.

Sebaliknya, kita tetap bekerja bersama dan saling memperbaiki satu sama lain.


  1.  

Jamaah harus selalu berada di barisan terdepan dan pada posisi kepemimpinan, baik melalui orang-orangnya, programnya, maupun inovasinya.

Namun posisi ini memiliki tanggung jawab besar. Ia tidak bisa diperoleh hanya dengan klaim atau diwariskan karena wibawa, kecuali jika benar-benar layak untuk itu.


  1.  

Jamaah harus selalu memiliki sesuatu untuk diberikan, berupa:

  • akidah yang benar,
  • pemahaman yang benar,
  • akhlak yang benar,
  • pengetahuan yang benar,
  • dan ilmu yang benar.

Ini adalah kewajiban yang dituntut oleh posisinya dan tujuan keberadaannya.


  1.  

Jamaah juga harus unggul dalam memahami dan mengelola urusan kehidupan, sehingga dapat mewujudkan kemaslahatan manusia serta meningkatkan taraf hidup, kemuliaan, dan kedaulatan mereka.


  1.  

Jamaah harus terus maju dalam bidang ilmu dan memiliki kemampuan untuk memakmurkan bumi, sehingga mampu menjadi pelopor dalam berbagai bidang.


  1.  

Jamaah harus memiliki kemampuan, melalui inovasi dan sarana yang dimilikinya, untuk menjaga kehidupan dari kejahatan, kerusakan, dan serangan budaya, serta membantah berbagai tuduhan dengan hujah dan logika yang benar.


  1.  

Jamaah harus memiliki orientasi global dan kemanusiaan, mampu memberi manfaat bagi seluruh manusia tanpa memandang ras atau agama.

Sebagaimana firman Allah:
“Wahai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kamu dari seorang laki-laki dan seorang perempuan…”

Jamaah harus menjadi naungan keadilan dan rahmat bagi seluruh manusia dengan berbagai latar belakang dan keyakinan, serta menjamin kebebasan berkeyakinan.


Maka marilah bekerja, menuju kemenangan—insyaAllah.

Kita memohon kepada Allah agar membimbing kita semua ke jalan yang lurus.


Penutup

Sesungguhnya Ikhwanul Muslimin adalah sebuah dakwah yang berjalan di atas cahaya Al-Qur’an dan Sunnah, serta di atas jalan generasi salaf yang pertama.

Namun mereka tidak tergesa-gesa; mereka bersemangat tetapi tetap bijaksana.

Mereka berbekal iman dan ilmu, serta berlindung dengan kesabaran, ketekunan, dan kerja yang terus-menerus.

Mereka tidak tergesa-gesa memetik hasil sebelum matang, dan tidak memetik bunga sebelum waktunya, karena jalan mereka telah jelas dan manhaj mereka telah diketahui.

Perasaan Ikhwan dibentuk dan akal mereka bekerja untuk tujuan yang jelas dan strategi yang matang, yang tidak bertentangan dengan sunnatullah maupun hukum-hukum alam.

Oleh karena itu, Imam Hasan al-Banna رحمه الله berkata dalam Muktamar Kelima:

“Wahai Ikhwanul Muslimin, khususnya kalian yang bersemangat dan tergesa-gesa:
Dengarkanlah dariku sebuah kata yang tinggi dan jelas dari atas mimbar ini dalam konferensi kalian ini:
Sesungguhnya jalan kalian ini telah digariskan langkah-langkahnya dan ditetapkan batas-batasnya.
Aku tidak akan menyimpang dari batas-batas ini, karena aku benar-benar yakin bahwa inilah jalan paling selamat untuk mencapai tujuan.
Ya, mungkin jalan ini panjang, tetapi tidak ada jalan selain itu.
Sesungguhnya kejantanan tampak melalui kesabaran, ketekunan, kesungguhan, dan kerja terus-menerus.

Barang siapa di antara kalian ingin memetik hasil sebelum matang atau memetik bunga sebelum waktunya, maka aku tidak bersamanya dalam hal itu.
Lebih baik ia meninggalkan dakwah ini menuju dakwah lain.

Dan siapa yang bersabar bersamaku hingga benih tumbuh, pohon berkembang, buah matang, dan waktu panen tiba, maka pahalanya di sisi Allah.
Dan tidak akan luput baginya pahala orang-orang yang berbuat baik:

antara kemenangan dan kekuasaan, atau syahid dan kebahagiaan.”


Wahai Ikhwanul Muslimin:

Kendalikan gejolak perasaan dengan pandangan akal.
Terangi cahaya akal dengan nyala perasaan.
Ikatlah khayalan dengan kebenaran dan realitas.
Temukan hakikat dalam cahaya khayalan yang cemerlang.

Jangan condong sepenuhnya sehingga menjadi terombang-ambing, dan jangan pula melawan hukum alam, karena ia akan mengalahkanmu.

Namun taklukkanlah ia, manfaatkanlah ia, arahkan arusnya, dan gunakan sebagian untuk menguatkan yang lain.

Dan tunggulah saat kemenangan—yang tidak jauh dari kalian.


Wahai Ikhwanul Muslimin:

Sesungguhnya kalian mencari wajah Allah, pahala, dan keridaan-Nya—dan itu pasti kalian dapatkan selama kalian ikhlas.

Allah tidak membebankan kepada kalian hasil akhir, tetapi membebankan kepada kalian kejujuran niat dan kesiapan yang baik.

Setelah itu:

  • jika kita salah, kita mendapat pahala orang yang berusaha,
  • dan jika kita benar, kita mendapat pahala orang yang berhasil.

Pengalaman masa lalu dan sekarang telah membuktikan bahwa:
tidak ada kebaikan kecuali di jalan kalian,
tidak ada hasil kecuali dengan metode kalian,
dan tidak ada kebenaran kecuali dalam apa yang kalian kerjakan.

Maka jangan kalian mempertaruhkan usaha kalian, dan jangan kalian berjudi dengan simbol keberhasilan kalian.

Bekerjalah—dan Allah bersama kalian, dan Dia tidak akan mengurangi pahala amal kalian.

Kemenangan adalah milik orang-orang yang beramal:

“Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan iman kalian. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.” (QS. Al-Baqarah).


Kegiatan Pendidikan dan Pembinaan:

  • Wawancara dengan para pemimpin Ikhwan.
  • Penelitian dan artikel tentang dakwah Ikhwanul Muslimin.
  • Merangkum buku Ikhwanul Muslimin: Syubhat dan Jawaban karya Dr. Taufiq al-Wa‘i.
  • Mengadakan seminar, ceramah, dan konferensi.
  • Membuat film dan serial tentang tahapan dakwah Ikhwan.

Evaluasi dan Pengukuran Diri:

  • Definisikan Ikhwanul Muslimin.
  • Tuliskan biografi singkat pendiri jamaah.
  • Sebutkan tokoh-tokoh utama serta peran mereka dalam Ikhwan.
  • Apa konsep Islam menurut Ikhwanul Muslimin?
  • Tunjukkan bukti bahwa Islam bersifat universal dan menyeluruh.
  • Sebutkan beberapa karakteristik gerakan Ikhwanul Muslimin.
  • Apa ciri paling khas dari dakwah Ikhwan?
  • Jelaskan pengaruh Ikhwan dalam masyarakat (serikat, parlemen, pemerintahan lokal, dan lainnya).
  • Bantah beberapa tuduhan atau syubhat yang diarahkan kepada Ikhwan.
  • Apa hubungan Ikhwan dengan dakwah Muhammad bin Abdul Wahhab dan Sayyid Rasyid Ridha?
  • Apa hubungan Ikhwan dengan tasawuf?
  • Jelaskan tahapan perkembangan Ikhwan sejak awal hingga sekarang.
  • Apa peran Anda dalam mengembangkan dan mengaktifkan kinerja Ikhwanul Muslimin?

Referensi untuk Pendalaman:

  • Hasan al-Banna, Prinsip dan Dasar dalam Konferensi Khusus, Al-Muassasah al-Islamiyah, Dar al-Shihab, Kairo, cet. 1, 1400 H / 1980 M. Percetakan Ikhwanul Muslimin, 1354 H.
  • Undang-undang (Anggaran Dasar) Jamaah Ikhwanul Muslimin yang telah direvisi.
  • Ikhwanul Muslimin: Peristiwa yang Membentuk Sejarah, Mahmud Abdul Halim, Dar ad-Da‘wah, Alexandria, cet. 1, 1979 M.
  • Hasan al-Banna, Da‘i, Imam, dan Mujaddid, Anwar al-Jundi, Dar al-Qalam, Beirut.
  • Syahid Sayyid Qutb, Yusuf al-‘Azhm, Dar al-Qalam, Beirut.
  • Ikhwanul Muslimin dan Kelompok Islam, Dr. Zakaria Sulaiman Bayumi, Maktabah Wahbah, Kairo.
  • Catatan Dakwah Sang Da‘i, Hasan al-Banna, Al-Maktab al-Islami, cet. 4, Beirut 1399 H / 1979 M, Dar al-Shihab Kairo.
  • Kumpulan Risalah Imam Hasan al-Banna.
  • Ikhwanul Muslimin, Dr. Richard Mitchell, terjemahan Abdul Salam Ridwan, Maktabah Madbuli, Kairo, 1977 M.
  • Ikhwanul Muslimin: Gerakan Islam Modern Terbesar, Ishaq Musa al-Husaini.
  • Ikhwanul Muslimin dan Masyarakat Mesir, Muhammad Syauqi Zaki.
  • Gerakan Islam di Mesir dan Iran, Dr. Rif‘at Sayyid Ahmad, Sina Publishing.
  • Laporan strategis tentang Ikhwanul Muslimin dan kelompok lainnya, disusun oleh Pusat Studi Strategis dan Politik harian Al-Ahram (dengan komentar Dr. Ali Jarishah).
  • Syahid Mihrab, Umar at-Tilmisani.

No comments:

Post a Comment

Ikhwanul Muslimin