Hadits_8_Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Mungkar: Sikap Lemah Lembut dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Kewajiban
Amar Ma'ruf Nahi Munkar:
Hadits_8:
Sikap Lemah Lembut dalam Amar Ma'ruf Nahi Munkar
عَنْ مُعَاوِيَةَ بْنِ
الْحَكَمِ السَّلَمِيِّ، قَالَ: بَيْنَا أَنَا أُصَلِّي مَعَ رَسُولِ اللهِ صَلَّى
اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، إِذْ عَطَسَ رَجُلٌ مِنَ الْقَوْمِ، فَقُلْتُ:
يَرْحَمُكَ اللهُ، فَرَمَانِي الْقَوْمُ بِأَبْصَارِهِمْ، فَقُلْتُ: وَاثُكْلَ
أُمِّيَاهْ، مَا شَأْنُكُمْ تَنْظُرُونَ إِلَيَّ؟ فَجَعَلُوا يَضْرِبُونَ
بِأَيْدِيهِمْ عَلَى أَفْخَاذِهِمْ، فَلَمَّا رَأَيْتُهُمْ
يُصَمِّتُونَنِي لَكِنِّي سَكَتُّ، فَلَمَّا صَلَّى رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ
عَلَيْهِ وَسَلَّمَ، فَبِأَبِي هُوَ وَأُمِّي، مَا رَأَيْتُ مُعَلِّمًا قَبْلَهُ
وَلا بَعْدَهُ أَحْسَنَ تَعْلِيمًا مِنْهُ، فَوَاللهِ، مَا كَهَرَنِي وَلا
ضَرَبَنِي وَلا شَتَمَنِي، قَالَ: «إِنَّ هَذِهِ الصَّلاَةَ لاَ يَصْلُحُ فِيهَا
شَيْءٌ مِنْ كَلاَمِ النَّاسِ، إِنَّمَا هُوَ التَّسْبِيحُ وَالتَّكْبِيرُ
وَقِرَاءَةُ الْقُرْآنِ» أَوْ كَمَا قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ
وَسَلَّمَ.
Dari
Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami radiyallahu 'anhu, ia berkata:
"Ketika aku sedang melaksanakan salat bersama Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, tiba-tiba ada seorang laki-laki dari kaum (jamaah) yang
bersin, lalu aku mengucapkan: 'Yarhamukallah' (semoga Allah
merahmatimu). Maka orang-orang pun memandangiku dengan tajam. Aku berkata: 'Watsukla
ummiyah' (aduh, celakalah ibuku!/kehilangan anaknya)[ Watsukla ummiyah
(وَاثُكْلَ أُمِّيَاهْ)
adalah ungkapan bahasa Arab klasik yang secara harfiah berarti "Aduh,
celakalah/kehilangan ibuku!". Ungkapan ini digunakan untuk menunjukkan
rasa kaget, penyesalan, atau keheranan yang mendalam atas suatu kondisi yang
membingungkan, bukan doa keburukan untuk ibu], ada apa dengan kalian mengapa
kalian memandangiku seperti ini?" "Maka
mereka mulai menepukkan tangan mereka ke paha-paha mereka. Ketika aku melihat
mereka berusaha menyuruhku diam, aku pun diam. Setelah Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam selesai melaksanakan salat—demi ayah dan ibuku sebagai
tebusannya—aku tidak pernah melihat seorang pengajar sebelum maupun sesudahnya
yang lebih baik cara mengajarnya daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak
membentakku, tidak memukulku, dan tidak pula memaciku. Beliau hanya bersabda: "Sesungguhnya
salat ini tidak boleh di dalamnya ada sesuatu pun dari perkataan manusia. Salat
itu hanyalah tasbih, takbir, dan membaca Al-Qur'an," atau sebagaimana
yang disabdakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam. (HR.
Muslim [537]).
Biografi
Singkat Sahabat Perawi Hadis
Mu'awiyah
bin al-Hakam as-Sulami radiyallahu 'anhu, beliau memiliki persahabatan
dengan Nabi (seorang Sahabat). Beliau pernah tinggal di Madinah dan menetap di
kalangan Bani Sulaim. Beliau hanya meriwayatkan satu hadis ini saja dari Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam.
Makna
Kata-Kata Asing (Ghorib)
- As-Sukl (الثُّكْلُ):
Yaitu kehilangan/kematian anak.
- Ma Kaharani (مَا
كَهَرَنِي): Artinya: Beliau tidak membentakku.
- Al-Jahiliyyah (الجَاهِلِيَّةُ):
Banyaknya kebodohan dan minimnya pengetahuan tentang syariat-syariat
langit.
Makna
Hadis Secara General
Sikap
Lemah Lembut dan Kasih Sayang Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam
Amar Ma'ruf Nahi Munkar
Dalam
hadis ini terdapat penjelasan mengenai metode Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam dalam berdakwah kepada Allah. Bagaimana beliau mengarahkan para
sahabatnya, meluruskan pemahaman mereka, memperbaiki kesalahan mereka, serta
mendidik mereka dengan sebaik-baik pendidikan. Hal itu tidaklah mengherankan,
karena Allah Ta'ala telah memuji akhlak beliau dalam firman-Nya:
"Dan
sesungguhnya engkau benar-benar berbudi pekerti yang luhur." (QS.
Al-Qalam: 4)
Serta
firman-Nya:
"Sungguh,
telah datang kepadamu seorang rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya
penderitaanmu, sangat menginginkan (keimanan dan keselamatan) bagimu, amat
belas kasihan lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin." (QS. At-Taubah:
128)
Sering
kali seseorang dari pedalaman (Beduin) datang kepada beliau dalam keadaan tidak
mengetahui apa-apa dan belum bisa bersikap dengan benar, lalu Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam membimbingnya dengan cara pengajaran dan bimbingan yang
paling baik, hingga orang tersebut pergi dalam keadaan telah paham agama dan
mendapatkan petunjuk.
Inilah
Mu'awiyah bin al-Hakam as-Sulami menceritakan kepada kita apa yang terjadi pada
dirinya dalam salah satu salatnya di belakang Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam. Ketika salah seorang dari jamaah bersin di dalam salat, Mu'awiyah
mendoakannya (tasymit). Namun, para sahabat ridwanullahi 'alaihim
mengingkari perbuatannya tersebut di tengah salat. Mereka memandanginya dengan
pandangan mengingkari, lalu Mu'awiyah berkata kepada mereka: "Watsukla
ummiyah! Ada apa dengan kalian mengapa kalian memandangiku seperti
ini?" Maka mereka semakin mengencangkan pengingkaran dengam menepukkan
tangan ke paha-paha mereka agar ia diam. Ia pun akhirnya diam.
Ketika
salat selesai, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menoleh kepadanya
dengan tolehan seorang pengajar yang penuh kasih sayang. Beliau membimbing dan
mengajarinya dengan penuh kelembutan dan kelunakan tanpa tindakan kasar maupun
celaan. Mu'awiyah menggambarkan hal tersebut dengan perkataannya: "Aku
tidak pernah melihat seorang pengajar sebelum maupun sesudahnya yang lebih baik
cara mengajarnya daripada beliau. Demi Allah, beliau tidak membentakku, tidak
memukulku, dan tidak pula memaciku." Beliau tidak menambah perkataan
melainkan bersabda: "Sesungguhnya salat ini tidak boleh di dalamnya ada
sesuatu pun dari perkataan manusia. Salat itu hanyalah tasbih, takbir, dan
membaca Al-Qur'an."
Berbicara
Saat Salat Membatalkannya
Di
antara hal yang diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
kepadanya adalah bahwa salat ini tidak boleh di dalamnya terdapat
ucapan/perkataan manusia, bahkan hal itu membatalkannya. Tidak diperbolehkan
kecuali apa yang telah disyariatkan di dalamnya, yaitu tasbih, tahmid, membaca
Al-Qur'an, dan sejenisnya.
An-Nawawi
berkata (Lihat Syarh An-Nawawi 'ala Muslim, 5/21, dengan penyesuaian
(redaksional)): "Di dalam hadis ini terdapat dalil haramnya berbicara
dalam salat, baik karena ada keperluan maupun selainnya, dan baik untuk
kemaslahatan salat maupun selainnya. Jika seseorang perlu mengingatkan (imam)
atau memberi izin bagi orang yang hendak masuk dan sejenisnya, maka hendaknya
ia membaca tasbih (Subhanallah) jika ia laki-laki, dan menepukkan tangan
(tasfiq) jika ia perempuan. Ini adalah mazhab mayoritas ulama (jumhur)
dari kalangan ulama salaf maupun khalaf."
Adab
Meriwayatkan Hadis dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
Pada
perkataan perawi di akhir hadis: "Atau sebagaimana yang disabdakan oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam" terdapat adab dalam
menyampaikan hadis dari Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, yaitu
bentuk amanah dan upaya berhati-hati (taharri) dalam menjaga keakuratan
penukilan.
Banyak
dari kalangan Sahabat dan Tabi'in apabila meriwayatkan hadis dari Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam, mereka mengucapkan kalimat ini di akhir riwayatnya. Hal
ini, meskipun bermakna kehati-hatian dalam merawi, tidaklah mengabaikan
ketelitian dan keakuratan mereka dalam menukil. Bukti-bukti (syawahid)
mengenai hal ini sangat banyak dan tempatnya bukan di sini.
Hal-Hal
Terpenting yang Menjadi Petunjuk Hadis
- Di dalamnya terdapat petunjuk
bahwa mendoakan orang yang bersin (tasymitul 'atis) adalah sunah
muakadah, bahkan sebagaimana terdapat dalam hadis-hadis lain, hal itu
merupakan hak seorang muslim atas muslim lainnya.
- Di dalamnya terdapat
kebolehan mengingkari kemungkaran meskipun sedang berada di dalam salat
dengan cara yang disyariatkan, yaitu membaca tasbih bagi laki-laki dan
menepukkan tangan bagi perempuan.
- Di dalamnya terdapat dalil
keharaman berbicara di dalam salat.
- Di dalamnya terdapat teladan
mengenai kelembutan dan kelunakan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
dalam amar ma'ruf nahi munkar.
- Di dalamnya terdapat petunjuk
bagi para dai, ulama, dan pembaharu (mushlihin) untuk meneladani
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam bersikap lembut kepada
murid/orang yang belajar serta mengajarinya dengan baik tanpa sikap kasar
maupun celaan.
Comments
Post a Comment