Hambatan-hambatan Dalam Dakwah dan Daiyah (2)

 

TIKUNGAN-TIKUNGAN BESAR DALAM KEHIDUPAN PARA DA’I

  1. Pernikahan – Tikungan Pertama
  2. Kekayaan (Dunia) – Tikungan Kedua

Di sepanjang jalan kehidupan terdapat banyak rintangan dan tikungan berbahaya yang merintangi jalan para da'i yang menyeru kepada Allah serta mengancam nasib para pekerja/aktivis Islam... Akan tetapi, pembinaan (i'dad) yang benar, pengarahan yang lurus, serta peringatan dan penafsiran yang terus-menerus akan memberikan imunitas (kekebalan) kepada individu-individu da'i yang dapat melindungi mereka dari bahaya penyimpangan dan kejatuhan. Hal tersebut juga mempersiapkan mereka seiring berjalannya waktu untuk menghadapi berbagai fitnah dan godaan duniawi.

Realitasnya... mayoritas da'i pada zaman ini kekurangan imunitas jiwa yang kuat dalam menghadapi pembujukan dan godaan. Pemikiran dan konsep-konsep akan tetap menjadi slogan dan teori yang hampa, selama tidak mempersiapkan para pemilik dan penganutnya melalui pembinaan praktis dan intuitif yang sepadan dengan segala kejutan yang menanti mereka di masa depan dan masa depan dakwah mereka; serta selama nilai-nilai dan cita-cita dakwah belum terwujud dalam kehidupan para da'i. Ketika Islam belum menjadi tolak ukur bagi setiap hukum, kunci bagi setiap persoalan, dan sumber bagi setiap persepsi (tasawwur), maka tidak butuh waktu lama sampai hawa nafsu memiringkan arah hidup mereka dan gejolak keintiman mempermainkan mereka.

Hal yang semakin memperparah masalah ini adalah bahwa para da'i Islam hidup di dalam "masyarakat jahiliah" yang sama sekali tidak memiliki hubungan dengan esensi agama. Sebuah masyarakat yang terlepas dari seluruh nilai dan cita-cita, serta telah lumpuh indra kebaikannya. Masyarakat yang sarat dengan faktor-faktor perusak, hingga dekadensi moral dan pembebasan perilaku dianggap sebagai simbol kemajuan dan peradaban, sementara sifat wara' dan religiusitas dianggap sebagai simbol kerekrogradan dan ketertinggalan.

Oleh karena itu, jika para da’i Islam tidak memiliki kedalaman akidah yang besar, keluhuran akhlak, dan kekuatan iman... serta jika mereka tidak bersikap tegas dalam mengintrospeksi diri (muhasabah), tidak selalu merasa diawasi oleh Rabb mereka (muraqabah), tidak menjauhi hal-hal yang samar (syubhat), tidak menghadap pada ketaatan, dan tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan ibadah-ibadah sunnah dan ritual ibadah, maka mereka pasti akan tertulari oleh kotoran masyarakat ini. Mereka pun akan mendapatkan bagian yang besar dari penyimpangan dan kejorokannya.

Dalam paparan singkat ini, saya akan membahas dua tikungan paling berbahaya dalam kehidupan para da'i, serta bagaimana keduanya dapat dilalui dengan aman dan selamat dengan izin Allah.

Wanita... Tikungan Pertama

Wanita memegang peranan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan para da'i—bahkan dalam kehidupan seluruh manusia... Ia bisa menjadi sumber kenikmatan (ni'mah), atau justru menjadi pemicu petaka (niqmah).

Dalam perjalanan kehidupan "dakwah", terdapat banyak gambaran mengenai kedua kondisi tersebut... Di antara para da'i, ada yang kualitas keislamannya menjadi lebih baik setelah menikah, langkah mereka semakin mantap, dan karya/kontribusi mereka semakin melimpah. Namun, di antara mereka ada pula yang kehidupannya justru merosot setelah menikah; kualitas keislamannya memburuk, akhlaknya rusak, hingga kemudian sebutan mereka hilang dari panggung dan keberadaan dakwah.

Tidak diragukan lagi bahwa setiap hasil dari kedua kondisi tersebut memiliki sebab dan pemicunya masing-masing. Sebagaimana pepatah menyatakan: "Kotoran unta menunjukkan adanya unta" [Setiap akibat pasti ada sebabnya]. Mereka yang gagal dalam pernikahan adalah orang-orang yang tidak terikat pada "nilai-nilai keislaman" dalam pernikahan dan syarat-syaratnya sejak awal jalan. Penampilan luar telah membutakan mereka dari hakikat substansi, dan kulit luar telah melalaikan mereka dari isi... Sehingga mereka terperosok ke dalam keburukan perbuatan mereka sendiri dan menyesal, namun penyesalan itu datang setelah segalanya terlambat.

Demi menjaga kehidupan rumah tangga dari keruntuhan semacam ini, Islam telah meletakkan kaidah-kaidah dan asas-asas yang menjamin terwujudnya rumah tangga yang islami, kebahagiaan para anggotanya, serta kebaikan keturunannya.

Berikut adalah asas-asas dan kaidah-kaidah terpenting tersebut:

1. Kelurusan Niat (Salamatul Qasd)

Islam sangat menekankan agar tujuan utama dari pernikahan adalah menyempurnakan agama, sebagai pembenaran atas sabda Rasulullah :

مَنْ رَزَقَهُ اللهُ امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِينِهِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ الشَّطْرَ الْبَاقِيَ

"Barangsiapa yang dikaruniai oleh Allah seorang wanita (istri) yang salehah, maka sungguh Allah telah membantunya memenuhi separuh agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh sisanya." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath, dan Al-Hakim berkata: Sanadnya shahih).

Dalam riwayat Al-Baihaqi disebutkan bahwa Rasulullah bersabda:

إِذَا تَزَوَّجَ الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ الْبَاقِي

"Apabila seorang hamba menikah, maka sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh yang tersisa."

Islam juga sangat menekankan agar pernikahan menjadi faktor utama dalam menjaga kesucian diri, menyucikan jiwa (tazkiyah), serta mendorongnya ke jalan ketaatan dan menjaga kehormatan.

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، وَمَنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وَجَاءٌ

"Wahai generasi muda! Barangsiapa di antara kamu yang mampu menikah, hendaklah dia menikah, karena sesungguhnya pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah dia berpuasa, karena sungguh puasa itu menjadi perisai baginya." (HR. Bukhari dan Muslim).

Plato berkata: "Sesungguhnya manusia itu berada dalam kegelisahan yang abadi dan kebosanan yang terus-menerus, sampai ia bersatu kembali dengan bagian dirinya yang terpisah dan belahan jiwanya yang terisolasi... Maka apabila salah satu dari dua belahan tersebut bersatu dengan belahan lainnya melalui pernikahan, itu akan menjadi pernikahan yang diberkahi dan dipenuhi keberuntungan..."

Dan Rasulullah bersabda:

ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى اللهِ عَوْنُهُمْ : الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللهِ ، وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي يُرِيدُ الأَدَاءَ ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ العَفَافَ

"Ada tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan Allah: Orang yang berjihad di jalan Allah, budak Mukatab [yang memiliki perjanjian memerdekakan diri] yang ingin melunasi pembayarannya, dan orang yang menikah karena ingin memelihara kesucian dirinya." (HR. Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini hasan shahih).

Demikian pula, Islam sangat menjaga agar niat dan tujuan dari pernikahan adalah membangun rumah tangga muslim, guna menjadi "batu bata yang baik" (al-labnah ash-shalihah) dan pondasi dasar dalam pembangunan masyarakat Islam... Al-Qur'an menganggap hal ini sebagai cita-cita yang sangat agung dari cita-cita orang-orang beriman, sebagaimana Allah menggambarkan mereka melalui firman-Nya:

"Dan orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami pemimipim bagi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-Furqan: 74)

Adapun jika dorongan syahwat (seksual) menjadi tujuan utama orang-orang yang menikah... maka kehidupan seksual bagi mereka akan menjadi sebuah penghambaan (sesembahan), dan secara otomatis mereka akan menjadi budak baginya...

2. Memperbaiki Pilihan (Husnul Ikhtiyar)

Islam sangat menegaskan—sejak kali pertama—pentingnya memilih pasangan hidup dan pendamping usia dengan baik. Islam menganggap pemilihan yang baik sebagai salah satu faktor terwujudnya "keislaman" kehidupan rumah tangga, serta menjadi pertanda awal keselarasan dan kenyamanan antara suami istri. Rasulullah bersabda:

تَخَيَّرُوا لِنُطَفِكُمْ فَإِنَّ العِرْقَ دَلاَّعٌ / نَزَّاعٌ / دَسَّاسٌ

"Pilihlah tempat bagi nutfah (benih) kalian, karena sesungguhnya faktor keturunan (genetika) itu menarik/menurunkan sifat secara tersembunyi."

Meskipun kita mengakui sulitnya menemukan "pemudi muslimah [yang ideal]" dalam realitas sosial kita saat ini, namun pemilihan yang baik akan tetap menghasilkan pilihan yang paling optimal dari yang ada. Kita mungkin tidak kehilangan potensi dan kesiapan yang baik, meskipun kita kekurangan elemen wanita yang ideal secara sempurna.

Islam menekankan terpenuhinya akhlak dan agama sebagai syarat utama dalam pemilihan yang baik... Islam juga memperingatkan dari akibat buruk mengejar kecantikan, harta, dan nasab semata. Islam menjelaskan bahwa kecantikan akhlak lebih abadi daripada kecantikan fisik... dan kekayaan jiwa jauh lebih berharga daripada kekayaan harta. Nabi bersabda:

لاَ تَزَوَّجُوا النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ ، وَلاَ تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ .. وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ ، وَلَأَمَةٌ خَرْماءُ خَرْقَاءُ ذَاتُ دِينٍ أَفْضَلُ

"Janganlah kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu akan membinasakan mereka. Jangan pula kalian menikahi mereka karena harta kekayaannya, bisa jadi harta kekayaannya membuat mereka melampaui batas. Akan tetapi nikahilah mereka atas dasar agamanya. Sungguh, seorang hamba sahaya wanita yang robek telinganya lagi berkulit hitam namun memiliki agama adalah lebih utama." (HR. Ibn Majah).

Alangkah indahnya jika seorang wanita memiliki kecantikan hati sekaligus kecantikan fisik. Pada saat itulah ia menjadi sebaik-baik wanita, berdasarkan sabda Rasulullah :

خَيْرُ نِسَائِكُمْ مَنْ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا زَوْجُهَا سَرَّتْهُ ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ ، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ

"Sebaik-baik wanita kalian adalah wanita yang apabila suaminya memandangnya ia menyenangkan suaminya, apabila suaminya memerintahkannya ia menaatinya, dan apabila suaminya pergi meninggalkannya ia menjaga dirinya dan harta suaminya." (HR. An-Nasa'i dari hadits Abu Hurairah).

Maka, hendaklah waspada saudara-saudara yang hanya mencari rupa fisik sebelum sifat-sifat kebaikan, dan mencari harta tanpa memedulikan karakter... Hendaklah mereka mematuhi perintah-perintah Islam, memerangi keinginan-keinginan setan dalam jiwa mereka, serta menyambut penyeru Allah dalam diri mereka:

"Dan nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka dengan karunia-Nya." (QS. An-Nur: 32)

Kemudian hendaklah mereka mengambil pelajaran dari sabda Rasulullah :

مَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً لِعِزِّهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ ذُلاًّ ، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِمَالِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ فَقْراً ، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِحَسَبِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ دَنَاءَةً ، وَمَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً لَمْ يُرِدْ بِهَا إِلاَّ أَنْ يَغُضَّ بَصَرَهُ ، وَيُحْصِنَ فَرْجَهُ ، أَوْ يَصِلَ رَحِمَهُ ، بَارَكَ اللهُ لَهُ فِيهَا وَبَارَكَ لَهَا فِيهِ

"Barangsiapa menikahi seorang wanita karena kedudukannya, maka Allah tidak akan menambah baginya melainkan kehinaan. Barangsiapa menikahi wanita karena hartanya, Allah tidak akan menambah baginya melainkan kefakiran. Barangsiapa menikahi wanita karena nasab mulianya, Allah tidak akan menambah baginya melainkan kerendahan. Dan barangsiapa menikahi seorang wanita yang tidak ia maksudkan melainkan untuk menundukkan pandangannya, memelihara kemaluannya, atau menyambung tali silaturahimnya, maka Allah akan memberkahi wanita itu baginya dan memberkahinya bagi wanita tersebut." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath).

3. Tidak Memperturutkan Diri dan Tidak Berlebihan (La Tafrith wa La Ifrath)

Islam juga memperingatkan dari akibat memperturutkan syahwat dan berlebih-lebihan dalam hubungan seksual. Hal ini untuk menjaga pendar akal agar tidak dipadamkan oleh angin syahwat, serta melindungi jiwa agar tidak diperbudak oleh insting dan dorongan keintiman. Rasulullah bersabda:

النِّسَاءُ حَبَائِلُ الشَّيْطَانِ ، وَلَوْلاَ الشَّهْوَةُ لَمَا كَانَ لِلنِّسَاءِ مِنْ سُلْطَنَةٍ عَلَى الرِّجَالِ

"Wanita adalah jerat-jerat (perangkap) setan. Seandainya bukan karena syahwat, niscaya wanita tidak akan memiliki kekuasaan/pengaruh atas laki-laki."

Sangat benar apa yang dikatakan oleh Ibrahim bin Adham ketika ia menyatakan: "Barangsiapa yang terbiasa dengan paha-paha wanita [terlalu sibuk dengan urusan ranjang/wanita], maka tidak akan lahir sesuatu pun dari mereka" [artinya: tidak bisa diharapkan kebaikan yang besar dari mereka].

Cukuplah bagi para suami untuk mengetahui sejauh mana aktivitas seksual menyebabkan gangguan mendalam pada seluruh fungsi tubuh, sehingga mereka meninggalkan sikap berlebihan dan berhemat/proporsional (tawasuth). Dr. J. Maylan menyatakan: "Denyut jantung melonjak cepat hingga hampir mencapai 150 denyutan per menit. Tekanan arteri juga mencatat kenaikan yang sangat drastis yang bisa mencapai batas tertinggi. Adapun pernapasan, kecepatannya melipat ganda... Sirkulasi darah di otak juga tidak luput dari perubahan mendadak ini. Otak menerima jumlah darah yang lebih besar dan berada dalam kondisi pembengkakan/kongesti yang berat."

Dr. Maylan melanjutkan keterangannya dengan berkata: "Insting seksual seharusnya mengambil bentuk yang ideal seiring bertambahnya usia manusia. Seseorang pada usia tuanya hendaknya beralih pada aktivitas-aktivitas pemikiran yang mengalihkan pikiran dari setiap pemikiran seksual. Hal inilah yang kebenarannya telah dibuktikan oleh para tokoh yang memfokuskan diri pada pemikiran, sehingga mereka hidup dalam kondisi yang menyerupai celibacy (kehidupan selibat/fokus spiritual). Kapasitas pemikiran adalah hal terakhir yang melemah pada diri manusia. Maka manusia mampu—hingga usia yang sangat lanjut—untuk tetap menikmati kelezatan akal yang menenangkan ini."

Realitasnya, Islam telah melarang sikap berlebih-lebihan (israf) dalam segala urusan, meskipun dalam hal yang halal dan baik. Berlebihan dalam segala hal adalah membahayakan, dan sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan (khairul umuri awsatuha). Sebagai bentuk pengetahuan dan wawasan, kita sebutkan di sini bahwa Zoroaster membatasi jarak rentang hubungan intim selama sembilan hari sekali... Socrates membatasinya sepuluh hari sekali. Adapun Luther, pendiri mazhab Protestan, menyarankan dua kali dalam seminggu...

4. Kepribadian Suami Adalah Pondasi Utama

Islam memperingatkan para suami agar tidak larut dalam menuruti segala keinginan wanita, demi menjaga kepribadian dan kepemimpinan (qawamah) laki-laki agar tidak runtuh dan terkikis. Sebab, dalam keruntuhan kepemimpinan itu terdapat kehancuran total bagi rumah tangga dan orang-orang di dalamnya... Imam Al-Ghazali membicarakan makna ini dalam kitab Al-Ihya', beliau berkata: "Jiwa wanita itu memiliki perumpamaan seperti jiwamu. Jika engkau melepas kendalinya sedikit saja, ia akan membawamu lari jauh. Jika engkau mengendurkan tali kekangnya sejengkal, ia akan menarikmu sehasta. Namun jika engkau mengekangnya dan memperketat genggaman tanganmu pada tempat yang tegas, niscaya engkau akan menguasainya..."

Maka kepribadian laki-laki memainkan peranan yang sangat besar dalam kehidupan rumah tangga. Selama laki-laki belum menjadi segalanya dalam kehidupan istrinya—di mana sang istri melihat padanya teladan yang tinggi dan contoh yang baik, serta merasakan ketegasan sekaligus kasih sayang darinya—maka ikatan pernikahan pasti akan mengalami keretakan...

Sebagian suami mungkin beranggapan bahwa tidak apa-apa bersikap terlalu longgar/toleran di awal kehidupan pernikahan. Tanpa disadari, mereka justru menjadi korban dari kebodohan ini seumur hidup mereka. Sejujurnya, hari-hari pertamalah yang melukiskan masa depan seluruh rumah tangga. Menjadi kewajiban bagi para suami untuk lebih waspada dan berhati-hati pada fase ini dibandingkan fase lainnya...

Seorang suami tidak boleh terlalu jauh mengikuti hawa nafsu istrinya hingga batas yang merusak akhlak sang istri dan meruntuhkan wibawanya secara total di hadapan istri... Akan tetapi, ia wajib menjadi seorang yang bijaksana yang menimbang segala urusan dengan timbangan Islam dan menempatkannya pada tempatnya. Di antara riwayat dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Demi Allah, tidaklah seorang laki-laki menaati istrinya dalam apa yang disukai istrinya [yang melanggar syariat], melainkan Allah akan menyungkurkannya ke dalam neraka." Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Selisihilah wanita [dalam keinginan buruk mereka], karena dalam menyelisihinya terdapat keberkahan." Dan Rasulullah bersabda:

تَعِسَ عَبْدُ الزَّوْجَةِ

"Celakalah hamba (budak) istri." (HR. Bukhari dari hadits Abu Hurairah).

Kesimpulannya, pernikahan merupakan salah satu tikungan paling berbahaya yang dilalui dalam kehidupan para da'i... Sungguh suatu kerugian besar jika mereka gugur pada ujian pertama ini... Bahkan, sudah menjadi kewajiban mereka untuk menyajikan bukti-bukti nyata berupa contoh rumah tangga yang sukses di hadapan Islam dan dakwah mereka. Hal ini akan memberikan karakteristik paling menonjol bagi gerakan Islam dan cita-cita Islam, yaitu sifat realistis (waqi'iyyah)...

Pada hakikatnya, masalah kegagalan dalam kehidupan rumah tangga para da'i telah menjadi salah satu masalah utama karena seringnya terjadi dan meningkatnya bahaya yang ditimbulkan. Sebab, masalah ini terus-menerus merampas pemuda-pemuda terbaik dan orang-orang pilihan dari panggung dakwah dari waktu ke waktu.

Apabila dakwah telah menghabiskan potensi terbesarnya dalam membentuk individu-individunya, maka sudah menjadi kewajiban dakwah untuk lebih menjaga produk/hasil pembinaannya dari kerusakan dan kebinasaan... Jika membangun itu adalah hal yang penting, maka menjaga bangunan tersebut dan memeliharanya dari marabahaya zaman adalah hal yang jauh lebih penting...

Dunia... Tikungan Kedua

Telah kita katakan sebelumnya bahwa kehidupan para da'i penuh dengan berbagai rintangan dan sarat dengan banyak masalah... Selama persiapan pencegahan (i'dad waqa'i) pada diri para da'i belum berada pada tingkatan yang membuat mereka mampu melompati berbagai kondisi dengan selamat dan aman, maka akibatnya bisa jadi tidak memuaskan dan sangat memprihatinkan...

Di antara keagungan agama ini adalah bahwa pandangannya mencakup seluruh kondisi yang dilalui manusia dan dialami oleh jiwa manusia, sehingga Islam menjelaskan sebab-sebabnya dan mengobati pemicunya...

Pandangan Islam Terhadap Dunia

Islam memandang dunia sebagai pusat ujian dan cobaan manusia. Maka Islam menyeru manusia untuk memakmurkannya dan mengambil manfaat dari kebaikan serta buah hasilnya, namun tanpa sikap lalai (tafrith) maupun berlebihan (ifrath)...

Di satu sisi, Islam mendorong untuk bekerja dan mencari penghidupan di dunia, namun di sisi lain, Islam memperingatkan agar dunia tidak menjadi puncak tujuan yang ingin dicapai jiwa dan batas akhir dari cita-cita.

Islam menetapkan bahwa dunia adalah negeri yang fana, yang mana umat manusia akan menghabiskan jatah umur yang telah ditakdirkan baginya di sana, kemudian meninggalkannya menuju akhirat tempat kebahagiaan dan kenikmatan, atau kesengsaraan dan penderitaan. Peringatan-peringatan Al-Qur'an datang menegaskan:

"Wahai kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal." (QS. Ghafir: 39)

"Maka janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan janganlah (setan) yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah." (QS. Luqman: 33)

Faktor-Faktor Penyimpangan

Menurut dugaan saya, faktor-faktor penyimpangan dalam kehidupan para da'i tidak keluar dari dua sebab utama:

  • Pertama:

Kurangnya lingkungan (bi'ah) Islam yang bersih pada dakwah, yang dapat membantunya membentuk individu-individunya dengan pembinaan yang lurus dan kokoh, yang jauh dari pengaruh-pengaruh luar dan iklim yang dipaksakan.

  • Kedua:

Pengabaian gerakan Islam terhadap kurikulum-kurikulum aplikatif (al-manahij at-tathbiqiyyah) dalam pembinaan... Hal ini membuat kajian-kajian Islam sering kali hanya bersifat teoritis belakangan ini, dan menjadikan tujuannya tidak melampaui wawasan, kesenangan, serta pengetahuan semata.

Sering kali kita menemukan dalam kehidupan dakwah para orator yang fasih dan para da'i yang cemerlang, namun mereka adalah orang-orang yang paling tamak terhadap kehidupan dunia.

Wahai penasihat manusia, sungguh engkau telah menjadi tertuduh,

Ketika engkau mencela dari mereka hal-hal yang justru engkau lakukan.

Engkau bersungguh-sungguh menasihati mereka dengan ceramah,

Sementara perbuatan-perbuatan dosa besar—demi umurku—engkaulah pelakunya.

Engkau mencela dunia dan orang-orang yang menginginkannya,

Padahal engkau adalah orang yang paling berhasrat kepadanya.

Dan betapa sering kita melihat individu-individu yang ikhlas dan saudara-saudara yang penuh semangat, namun begitu tangan mereka menyentuh sedikit dari kesenangan hidup duniawi, mereka langsung tersungkur jatuh...

Banyak dari mereka yang sebelumnya terbang tinggi di angkasa dakwah dan mencapai kedudukan kepemimpinan, kemudian jatuh tersungkur ke tanah menjadi korban dari godaan dan fitnah dunia, serta lebih ridha dengan kehidupan dunia daripada akhirat...

"Maka adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (QS. An-Nazi'at: 37-41)

Metode Islam dalam Pembinaan (At-Takwin)

Sungguh Islam telah menempuh dua jalan dalam membentuk kepribadian manusia guna membawanya menuju puncak kesempurnaan manusiawi...

Pertama-tama, Islam menyentuh simpul-simpul rasa, perasaan, persepsi, dan pikiran pada manusia... untuk menarik perhatiannya kepada hakikat segala urusan dan substansi segala sesuatu, agar keterikatannya dan usahanya selalu dan selamanya tertuju ke sana...

Pertama:

Islam menjelaskan kepadanya kedudukan dunia dibandingkan akhirat, serta betapa kecil dan hinanya dunia di sisi Allah, demi menjaganya dari fitnah dan kesesatannya:

"Katakanlah, 'Kesenangan di dunia ini hanya sedikit; dan akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa...'" (QS. An-Nisa': 77)

Di antara petunjuk Rasulullah tentang hakikat dunia adalah bahwa pada suatu hari beliau dan para sahabatnya melewati bangkai seekor domba, lalu beliau bersabda kepada mereka:

أَرَأَيْتُمْ هَذِهِ هَانَتْ عَلَى أَهْلِهَا ؟

"Apakah kalian melihat bangkai ini hina bagi pemiliknya?"

Para sahabat menjawab: "Karena hinanya itulah mereka membuangnya, wahai Rasulullah." Maka beliau bersabda:

لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ عَلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ عَلَى أَهْلِهَا

"Sungguh, dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai ini bagi pemiliknya." (HR. Ahmad dengan sanad yang tidak mengapa/jayyid).

Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah bersabda:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ أَلَا أُرِيكَ الدُّنْيَا جَمِيعَهَا بِمَا فِيهَا ؟

"Wahai Abu Hurairah, maukah engkau aku perlihatkan seluruh dunia beserta isinya?"

Aku menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Lalu beliau menggandeng tanganku dan membawaku ke salah satu lembah di Madinah, ternyata di sana terdapat tempat pembuangan sampah yang berisi tengkorak-tengkorak manusia, kotoran mereka, kain-kain bekas, dan tulang-belulang. Kemudian beliau bersabda:

يَا أَبَا هُرَيْرَةَ هَذِهِ الرُّؤُوسُ كَانَتْ تَحْرِصُ كَحِرْصِكُمْ ، وَتَأْمُلُ كَأَمَلِكُمْ ، ثُمَّ هِيَ الْيَوْمَ عِظَامٌ بِلَا جِلْدٍ ، ثُمَّ هِيَ صَائِرَةٌ رَمَاداً .. وَهَذِهِ الْعَذِرَاتُ هِيَ أَلْوَانُ أَطْعِمَتِهِمُ اكْتَسَبُوهَا ثُمَّ قَذَفُوهَا فِي بُطُونِهِمْ فَأَصْبَحَتْ وَالنَّاسُ يَتَحَاشَوْنَهَا .. وَهَذِهِ الْخِرَقُ الْبَالِيَةُ كَانَتْ رِيَاشَهُمْ وَلِبَاسَهُمْ فَأَصْبَحَتْ وَالرِّيَاحُ تَصْفِقُهَا .. وَهَذِهِ الْعِظَامُ عِظَامُ دَوَابِّهِمُ الَّتِي كَانُوا يَنْتَجِعُونَ عَلَيْهَا أَطْرَافَ الْبِلَادِ .. فَمَنْ كَانَ بَاكِياً عَلَى الدُّنْيَا فَلْيَبْكِ

"Wahai Abu Hurairah, tengkorak-tengkorak ini dulunya berambisi sebagaimana ambisi kalian, dan bercita-cita sebagaimana cita-cita kalian. Lalu hari ini ia menjadi tulang-belulang tanpa kulit, kemudian akan hancur menjadi debu... Dan kotoran-kotoran ini adalah aneka warna makanan mereka yang mereka usahakan lalu mereka masukkan ke dalam perut mereka, hingga kini menjadi kotoran yang dijauhi manusia... Dan kain-kain lap yang lapuk ini dulunya adalah perhiasan dan pakaian mereka, hingga kini diombang-ambingkan angin... Dan tulang-belulang ini adalah tulang hewan ternak mereka yang dulunya mereka kendarai ke berbagai penjuru negeri... Maka barangsiapa yang ingin menangisi dunia, hendaklah ia menangisinya."

Abu Hurairah berkata: "Maka kami tidak beranjak dari tempat itu hingga tangisan kami semakin keras."

Kedua:

Islam memperingatkan agar dunia tidak menjadi ajang perlombaan di antara manusia. Rasulullah bersabda:

وَاللهِ مَا الْفَقْرَ أَخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَتَنَافَسُوهَا كَمَا تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ

"Demi Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian. Namun aku takut dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya sebagaimana mereka berlomba-lomba, lalu dunia itu membinasakan kalian sebagaimana telah membinasakan mereka." (Hadits Muttafaqun 'Alaih).

Rasulullah telah menjelaskan bahwa ambisi terhadap dunia akan mewariskan ketamakan padanya, kesibukan dengannya, serta pendedikasian hidup untuknya. Beliau bersabda:

مَنْ أَصْبَحَ وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ ، وَأَلْزَمَ اللهُ قَلْبَهُ أَرْبَعَ خِصَالٍ : هَمًّا لاَ يَنْقَطِعُ عَنْهُ أَبَداً .. وَشُغْلاً لاَ يَتَفَرَّغُ مِنْهُ أَبَداً .. وَفَقْراً لاَ يَبْلُغُ غِنَاهُ أَبَداً .. وَأَمَلاً لاَ يَبْلُغُ مُنْتَهَاهُ أَبَداً

"Barangsiapa yang memasuki pagi hari sementara dunia menjadi keinginan terbesarnya, maka ia tidak mendapatkan apa pun dari Allah, dan Allah akan menetapkan empat hal pada hatinya: duka cita yang tidak pernah putus selamanya, kesibukan yang tidak pernah ada waktu luang darinya selamanya, kefakiran yang tidak pernah mencapai kecukupan selamanya, dan angan-angan yang tidak pernah mencapai ujungnya selamanya." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath).

Ketiga:

Islam memperingatkan agar cinta dunia tidak menguasai hati sehingga melalaikannya dari mempersiapkan bekal untuk akhirat. Maka Islam mendorong sikap zuhud terhadap dunia dan membebaskan jiwa dari tawanannya. Nabi bersabda:

مَنْ أَحَبَّ الدُّنْيَا وَسُرَّ بِهَا ذَهَبَ خَوْفُ الآخِرَةِ مِنْ قَلْبِهِ

"Barangsiapa yang mencintai dunia dan merasa bahagia dengannya, maka rasa takut terhadap akhirat akan hilang dari hatinya."

Filosofi zuhud dalam Islam tidaklah merintangi seseorang dari berjuang, bekerja, berproduksi, dan memakmurkan dunia sebagaimana yang dipahami oleh sebagian orang. Melainkan tujuannya adalah memelihara jiwa dari penghambaan kepada kehidupan, bersisian dengan seruan yang tegas untuk berusaha dan bekerja. Rasulullah pernah ditanya tentang hakikat zuhud, maka beliau bersabda:

أَمَا إِنَّهُ مَا هُوَ بِتَحْرِيمِ الْحَلاَلِ وَلاَ إِضَاعَةِ الْمَالِ ، وَلَكِنَّ الزُّهْدَ فِي الدُّنْيَا أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِ اللهِ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِكَ

"Ketahuilah bahwa zuhud itu bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula membuang-buang harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah engkau lebih percaya/yakin pada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di tanganmu."

Imam Ahmad bin Hanbal pernah ditanya: "Apakah seseorang bisa menjadi orang yang zuhud sementara ia memiliki uang seribu dinar?" Beliau menjawab: "Ya." Ditanyakan lagi: "Apa tandanya?" Beliau menjawab: "Tandanya adalah jika hartanya bertambah ia tidak terlalu bergembira, dan jika hartanya berkurang ia tidak bersedih..."

Para da'i hari ini berada dalam bahaya yang sangat besar dari godaan dunia yang menyeret mereka dan menurunkannya melalui syahwat mereka, sehingga mereka memulai dari dosa-dosa kecil lalu jatuh ke dalam dosa-dosa besar...

Dunia ini—yang telah mengambil perhiasannya, dihiasi, disempurnakan fitnah-fitnahnya, serta beraneka ragam bentuknya—tidak boleh disikapi dengan kelonggaran dan kecenderungan padanya. Barangsiapa yang bersikap longgar padanya, maka dunia akan mengikis imannya dan merusak keislamannya. Sungguh benar Muhammad bin Abdullah ketika bersabda memperingatkan:

لَتَأْتِيَنَّكُمْ بَعْدِي دُنْيَا تَأْكُلُ إِيمَانَكُمْ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ

"Sungguh akan datang kepada kalian setelahku dunia yang memakan iman kalian sebagaimana api memakan kayu bakar."

Maka hendaklah para da'i takut akan petir-petir langit dan peringatan-peringatan azab, saat mereka mengarungi Samudra ujian dan menghadapi berbagai tikungan jalan.

"Mereka itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat, maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong." (QS. Al-Baqarah: 86)

Keempat:

Islam mendorong agar tujuan dari memakmurkan dunia, bekerja di dalamnya, mengeksplorasi kekayaannya, menyingkap hal-hal yang belum diketahui, serta menundukkan orbit-orbitnya, adalah untuk menegakkan kebaikan, mewujudkan keadilan, dan mengikuti kebenaran. Dalam timbangan Islam, tidak ada keutamaan bagi orang yang tersesat dari jalan ini betapa pun tingginya ilmu, pengetahuan, dan kekuatan yang dicapainya, karena ia justru akan menjadi pemicu kerusuhan dan kehancuran dunia. Isyarat Al-Qur'an menyentuh inti dari makna ini melalui firman-Nya:

"Barangsiapa menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami sempurnakan balasan pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka, dan gugurlah apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sialah apa yang telah mereka kerjakan." (QS. Hud: 15-16)

Pendidikan Aplikatif dalam Islam (At-Tarbiyah Al-'Amaliyyah)

Islam tidak cukup hanya dengan menyusun teori-teori dalam membentuk individu, melainkan juga membawa mereka menempuh jalan aplikatif-praktis dan kurikulum pembinaan berbasis pengalaman (al-manahij at-tarbawiyyah al-tajribiyyah).

Barangsiapa yang mengamati dari dekat model-model pembinaan aplikatif pada zaman kenabian, ia akan menemukan banyak petunjuk dan cara-cara praktis dalam pembinaan dan pendidikan. Rasulullah tidak cukup hanya menuntut umat Islam dengan faham fikih dan arahan yang mereka dapatkan di Darul Arqam, melainkan beliau keluar bersama mereka menuju masyarakat jahiliah untuk menantang pemikiran dan kepercayaan manusia, serta mengarungi perang terbuka melawan jahiliah yang tujuan pertama dan utamanya adalah: memproklamirkan penghambaan hanya kepada Allah di bumi, tunduk pada kekuasaan-Nya, serta patuh pada perintah-Nya.

Dunia menjadi sangat hina di mata mereka... Sehingga dunia dengan segala godaan dan fitnahnya tidak mampu mencapai telapak kaki mereka. Sampai-sampai musuh-musuh mereka menggambarkan mereka dengan ungkapan: "Mereka adalah kaum yang kematian lebih disukai oleh salah seorang dari mereka daripada kehidupan, dan kerendahan hati lebih disukai oleh salah seorang dari mereka daripada kedudukan tinggi. Tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki hasrat maupun ketamakan terhadap dunia. Duduknya mereka hanyalah di atas tanah, dan makan mereka di atas lutut mereka..."

Mush'ab bin Umair adalah putra tunggal dari seorang ibu yang memiliki kekayaan dan kedudukan tinggi... Setiap pemudi di Mekkah mendambakannya untuk menjadi suami dan pendamping hidupnya. Namun ketika ia masuk Islam, ibunya mengancam akan merampas seluruh kekayaannya, tetapi ia tidak memedulikannya. Ibunya kemudian bersumpah tidak akan mengecap makanan sedikit pun sampai Mush'ab meninggalkan Islam. Maka Mush'ab tidak menambah melainkan berkata dengan penuh iman dan keteguhan: "Demi Allah, wahai Ibunda, seandainya engkau memiliki seratus nyawa yang keluar satu demi satu, aku tidak akan pernah meninggalkan agama Muhammad." Orang-orang yang mengenalnya pada masa jahiliah menceritakan bahwa mereka melihatnya setelah masuk Islam berjalan di jalanan Mekkah tanpa mengenakan pakaian melainkan kain lapuk yang hampir tidak menutupi tubuhnya.

Peristiwa Hijrah merupakan simpul lain dari simpul-simpul pembinaan praktis pada diri umat Islam. Mereka diseru untuk melepaskan seluruh apa yang mereka miliki, dan meninggalkan negeri tempat mereka hidup. Dalam hal ini terdapat penghentian usaha, kehancuran perdagangan, serta perpisahan dengan keluarga dan kerabat... Namun orang-orang beriman menyambut seruan hijrah tersebut, merelakan seluruh kepentingan mereka demi Islam, dan mengorbankan apa yang paling berharga yang mereka miliki.

Diriwayatkan bahwa ketika Suhaib Ar-Rumi keluar untuk berhijrah, orang-orang kafir Quraisy menghadangnya di jalan dan berkata kepadanya: "Engkau datang kepada kami dalam keadaan miskin dan hina, lalu hartamu menjadi banyak di tempat kami dan engkau mencapai kedudukan yang telah engkau capai. Kemudian engkau ingin keluar membawa hartamu dan dirimu? Demi Allah, hal itu tidak akan terjadi..." Maka Suhaib berkata kepada mereka: "Bagaimana pendapat kalian jika aku menyerahkan hartaku kepada kalian, apakah kalian akan membiarkan jalanku?" Mereka menjawab: "Ya." Suhaib berkata: "Maka sesungguhnya aku serahkan hartaku untuk kalian..." Ketika berita itu sampai kepada Rasulullah , beliau bersabda:

رَبِحَ صُهَيْبٌ ، رَبِحَ صُهَيْبٌ

"Suhaib telah beruntung, Suhaib telah beruntung."

Demikianlah prinsip-prinsip Islam terwujud nyata dalam kehidupan para da'i... Perilaku harian mereka serta tindakan khusus maupun umum mereka merupakan realitas pergerakan (waqi' haraki) dari teori Islam. Hal inilah yang memungkinkan mereka melewati seluruh tikungan jalan dan menghadapi setiap rintangan dengan sukses.

Gerakan Islam pada zaman ini sangat membutuhkan agar para da'inya mengarungi kurikulum-kurikulum praktis-aplikatif, yang dapat mengikis faktor-faktor kelemahan dan keraguan dari jiwa mereka, serta mempersiapkan mereka untuk menghadapi berbagai kemungkinan dan kesempatan...

"Dan orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut: 69)

 

DAI DI ANTARA PEMAHAMAN DAN PENERAPAN

  • Pemahaman yang Benar
  • Interaksi dan Penerapan
  • Ilmu dan Amal
  • Di Antara Rahasia dan Terang-terangan

Menurut pendapat saya, tanggung jawab para dai terhadap diri mereka sendiri jauh lebih besar daripada tanggung jawab mereka terhadap masyarakat. Bahaya kelalaian dalam menunaikan hak-hak dan kewajiban dai terhadap dirinya sendiri melebihi bahaya kelalaian dalam menunaikan hak-hak masyarakat atas dirinya. Sebab, para dai sudah seharusnya menjadi keteladanan yang baik (uswah hasanah) bagi masyarakat tempat mereka hidup. Jejak-jejak risalah yang mereka serukan kepada manusia hendaknya tampak nyata dalam kehidupan mereka, dan tolok ukur prinsip-prinsip yang mereka usung hendaknya tergambar jelas dalam setiap langkah mereka. Dengan demikian, setiap orang di sekitar mereka dapat merasakan dan melihat keberadaan agama ini secara aplikatif (al-wujûd al-harakî) serta pergerakannya secara organis (al-taharruk al-‘udhwî). Hal ini memberikan pengaruh yang sangat mendalam dalam ranah dakwah dan penyampaian risalah (at-tablîgh).

Al-Qur'an al-Karim telah menempelak orang-orang yang menasihati manusia tetapi mereka sendiri tidak mengambil pelajaran, serta melarang manusia tetapi mereka sendiri tidak berhenti dari larangan tersebut. Allah Ta'ala berfirman:

"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-Baqarah [2]: 44)

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Sangat) dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. Ash-Saff [61]: 2-3)

Oleh karena itu, seorang dai wajib memulai dari dirinya sendiri terlebih dahulu.

Pemahaman yang Benar (Al-Fahm ash-Shahîh)

Ia harus memulai dengan memahami Islam secara benar dan mendalam, yang bersumber dari asas-asas dan mata air pertamanya: Al-Qur'an al-Karim, Sunnah nabawiyah yang disucikan, serta rekam jejak sejarah Nabi (sirah nabawiyah) yang harum. Kemudian berlanjut pada karya-karya bernilai tinggi dan berharga yang memenuhi perpustakaan Islam modern, sehingga terbentuk dalam dirinya konsep (tasawwur) yang benar tentang agama ini; tentang hukum-hukum dan syariatnya, karakteristik dan keunggulannya, akidah dan ibadahnya, serta tujuan dan cita-citanya terhadap jiwa, masyarakat, dan negara.

Seorang dai juga harus menelaah perjalanan hidup kenabian dan para nabi melalui berbagai sikap dan peristiwa, kesabaran dan keteguhan, serta pengorbanan dan perjuangan (jihad); juga melalui perilaku, muamalah, akhlak, dan ibadah mereka.

Hendaknya ia memberikan perhatian khusus kepada Al-Qur'an sebagai pemekar hatinya, cahaya bagi mata hatinya (basîrah), dan kurikulum (manhaj) kerangka kehidupannya. Hendaknya penerimaannya terhadap ayat-ayat Allah serta tingkat pengaruhnya pada dirinya bagaikan seseorang yang baru pertama kali dituruni wahyu. Dengan begitu, ia menyadari bahwa dialah yang dimaksud dalam setiap khitab (seruan), dan dialah yang dituju dalam setiap perintah. Hal inilah yang akan mewujudkan interaksi (tafa'ul), keterpengaruhan (ta'atstsur), peleburan (indimâj) ke dalam atmosfer Al-Qur'an, serta pemanfaatan darinya.

Hati para dai hanya akan menjadi lurus, kaki mereka teguh, dan kehidupan mereka istikamah sebanding dengan luasnya penelaahan mereka terhadap Al-Qur'an ini dan sedalam apa pemahaman mereka terhadapnya, serta sejauh mana interaksi dan keterpengaruhan mereka oleh agama ini. Sungguh benar Rasulullah ketika bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam agama." (HR. Bukhari dan Muslim)

Serta sabda beliau :

النَّاسُ مَعَادِنُ، خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوا

"Manusia itu ibarat barang tambang. Orang-orang terbaik di antara mereka pada masa Jahiliah adalah orang-orang terbaik pula dalam Islam apabila mereka paham (faktual/fagih)." (HR. Bukhari dan Muslim)

Jiwa manusia terhadap Islam bagaikan tanah terhadap hujan; di antaranya ada yang mengambil manfaat dan memberikan manfaat, ada yang mengambil manfaat tetapi tidak memberikan manfaat, dan ada pula yang tidak mengambil manfaat serta tidak memberikan manfaat. Rasulullah telah membuat perumpamaan tentang hal tersebut dalam sabdanya:

مَثَلُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ، فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ فَعَلِمَ وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ

"Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah seperti hujan lebat yang menyiram bumi. Di antara tanah itu ada yang subur (naqiyyah), menyerap air lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Di antaranya ada pula tanah yang keras (ajâdib), menahan air sehingga dengannya Allah memberi manfaat kepada manusia; mereka minum, memberi minum (ternak), dan bercocok tanam. Dan hujan itu juga mengenai kelompok tanah yang lain, yaitu tanah tandus (qî'ân) yang tidak dapat menahan air dan tidak dapat menumbuhkan rumput. Demikian itulah perumpamaan orang yang paham tentang agama Allah dan memanfaatkan apa yang Allah utus aku dengannya, maka ia tahu dan mengajarkan; serta perumpamaan orang yang tidak peduli (tidak mengangkat kepalanya) dengan hal itu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim)

Sudah sepantasnya bagi para dai untuk bersegera mempelajari Islam sejak usia muda, sebelum mereka terserap oleh berbagai kesibukan dan sebelum waktu terasa sempit bagi mereka. Al-Muhallab—semoga Allah meridainya—berwasiat kepada anak-anaknya dengan berkata: "Belajarlah kalian sebelum kalian menjadi pemimpin, agar kepemimpinan tidak merintangi kalian dari menuntut ilmu..."

Interaksi dan Penerapan (At-Tafâ'ul wa at-Tatbîq)

Jika para dai membutuhkan pemahaman yang lurus tentang Islam dan konsepsi yang utuh mengenainya, maka kebutuhan mereka untuk berinteraksi (tafa'ul) dengannya jauh lebih besar. Mereka membutuhkan aplikasi praktis atas prinsip-prinsip, gagasan, dan perilakunya, agar kehidupan mereka menjadi penerjemah yang jelas bagi teks-teks Islam serta menjadi cerminan mulia bagi nilai-nilai yang dikandungnya.

Sesungguhnya para dai wajib meneladani jejak dakwah dalam setiap urusan mereka; dalam perkataan dan perbuatan, dalam kehidupan pribadi maupun publik. Baik sebagai individu, di dalam rumah tangga sebagai suami dan ayah, maupun di tengah masyarakat sebagai pekerja, pemilik usaha, atau pegawai. Hal inilah yang ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah melalui perkataannya: "Barang siapa yang menjadikan dirinya sebagai pemimpin (imâm) bagi manusia, hendaknya ia memulai dengan mengajari dirinya sendiri sebelum mengajari orang lain. Hendaknya pembinaan dirinya melalui rekam jejak perilakunya dilakukan sebelum pembinaan dengan lidahnya. Orang yang mengajari dan membina dirinya sendiri lebih berhak untuk dihormati daripada orang yang mengajari dan membina manusia."

Apakah yang akan dituai oleh orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka kerjakan, menasihati tetapi tidak mengambil pelajaran, serta memberi petunjuk tetapi tidak mau diberi petunjuk, melainkan cemoohan dari para hamba dan kemurkaan dari Tuhan para hamba? Mereka merugi agama dan dunianya, dan itulah kerugian yang nyata. Asy-Sya'bi berkata: "Pada hari kiamat, sekelompok penghuni surga akan melihat sekelompok penghuni neraka, lalu mereka bertanya: 'Apa yang memasukkan kalian ke dalam neraka? Padahal kami masuk surga hanyalah berkat pendidikan dan pengajaran kalian?' Maka mereka menjawab: 'Dahulu kami memerintahkan kebaikan tetapi kami tidak mengerjakannya, dan kami melarang keburukan tetapi kami justru mengerjakannya'."

Dari sinilah menjadi kewajiban bagi para dai untuk bersikap tegas dalam melakukan hisab (introspeksi) terhadap diri mereka sendiri, serta memegang teguh prinsip-prinsip utama (azâ'im) hingga diri mereka istikamah dalam ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berfirman kepada Isa 'alaihissalam: "Wahai Putra Maryam, nasihatilah dirimu sendiri. Jika engkau telah berhasil mengambil pelajaran darinya, maka nasihatilah manusia. Jika tidak, maka malu lah kepada-Ku."

Di Antara Rahasia dan Terang-terangan (Baina as-Sirr wa al-'Alâniyah)

Hendaknya seorang dai lebih antusias dalam memperbaiki kondisi rahasia (batin)-nya daripada memperbaiki kondisi terang-terangan (zahir)-nya. Hendaknya perhatiannya terhadap kebersihan batinnya lebih besar daripada perhatiannya terhadap kebersihan lahiriahnya, dan alangkah indahnya jika kedua hal tersebut dapat terwujud secara bersamaan.

Seorang dai wajib berlaku jujur dan terbuka terhadap dirinya sendiri sehingga ia tidak menipunya, serta jujur kepada manusia sehingga ia tidak bersikap riya dan munafik kepada mereka. Hendaknya setiap dai mendengarkan apa yang dikatakan oleh Ibnus-Sammak dalam makna ini: "Betapa banyak orang yang mengingatkan kepada Allah namun ia sendiri melupakan Allah... Betapa banyak orang yang menakut-nakuti dengan nama Allah namun ia sendiri bertindak nekat melanggar larangan Allah... Betapa banyak orang yang didekatkan kepada Allah namun ia sendiri jauh dari Allah... Betapa banyak orang yang mengajak kepada Allah namun ia sendiri lari dari Allah... Dan betapa banyak orang yang membaca Kitabullah namun ia sendiri terlepas dari ayat-ayat Allah."

Maka, seorang dai sudah sepatutnya takut kepada Allah, bukan kepada manusia. Ia harus ikhlas kepada-Nya baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan. Jangan sampai secara lahiriah ia berwujud malaikat, namun secara batiniah ia berwujud setan.

Hendaknya ia berhati-hati jangan sampai termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah dalam firman-Nya:

"Merekā dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari Allah, padahal Dia bersama mereka..." (QS. An-Nisa' [4]: 108)

Hendaknya ia mengetahui bahwa Allah sangat dekat dengannya, Maha Melihat keadaannya, serta mengetahui rahasia dan bisikannya:

"...Tidak ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya. Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya. Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Mujadilah [58]: 7)

Semoga Allah meratai Rabi'ah (Adawiyah) ketika ia senantiasa mengulang-ulang syair:

Jika Rabbku bertanya kepadaku:

"Tidakkah engkau malu bermaksiat kepada-Ku?"

"Engkau menyembunyikan dosa dari makhluk-Ku,"

"Lalu engkau datang membawa maksiat kepada-Ku."

Lantas apakah jawabanku kepada-Nya ketika

Dia menghisabku dan menjagalkanku?

Kesimpulan dari seluruh pembahasan ini adalah bahwa tanggung jawab para dai terhadap masyarakat tidak boleh memalingkan mereka dari tanggung jawab terhadap diri mereka sendiri. Kesibukan mereka dalam membenahi manusia hendaknya tidak mengalihkan mereka dari membenahi keadaan diri sendiri. Adalah kewajiban mereka untuk menunaikan tanggung jawab tersebut secara tuntas dan penuh, baik terhadap diri mereka sendiri maupun terhadap masyarakat mereka.

 

KEPEMIMPINAN DI ANTARA BIMBINGAN DAN PENGORGANISASIAN

  • Pentingnya Pengorganisasian
  • Kepemimpinan Sebagai Sumber Pengorganisasian
  • Definisi Kepemimpinan
  • Karakteristik Kepemimpinan

Menurut keyakinan saya, gerakan dakwah Islam pada zaman ini mengalami apa yang disebut sebagai kemelaratan/krisis dalam hal pengorganisasian (at-tanzhîm). Saya tidak dianggap berlebihan jika mengatakan bahwa perhatian gerakan Islam (al-harakah al-islâmiyyah) dalam menyiapkan para dai yang visioner, penceramah, dan penasihat jauh melampaui perhatiannya dalam mencetak para pemimpin yang terorganisir (qâdah munazhghamîn). Bahkan persentase yang sangat kecil dalam ranah pembentukan organisatoris ini pun sering kali terlahir secara kebetulan semata, dan jarang sekali dihasilkan dari perencanaan yang matang dan tekad yang bulat.

Bahkan pusat-pusat kepemimpinan (al-marâkiz al-qiyâdiyyah) dalam kehidupan dakwah telah menjadi arena di mana tidak ada yang dicalonkan untuk mendudukinya kecuali para pemilik kapabilitas umum dan bimbingan/orasi (al-kafâ'ât al-'âmmah wa at-tawjîhiyyah) tanpa melihat pada kapasitas organisatoris (al-qudrât at-tanzhîmiyyah). Hampir-hampir tidak ada seorang saudara (akh) yang unggul dalam bidang pidato (khithâbah) atau berkapasitas secara akademis, melainkan ia akan melihat dirinya langsung diusung untuk memegang tanggung jawab dari berbagai tanggung jawab kepemimpinan organisasi yang mungkin saja ia tidak layak memegangnya. Hal ini pada umumnya menyebabkan kegagalannya dalam banyak tugas, yang pada gilirannya mengakibatkan saudara tersebut kehilangan kepercayaan dirinya sendiri akibat reaksi psikologis yang menimpanya akibat kegagalan yang beruntun.

Sangat disayangkan bahwa peristiwa-peristiwa ini terus terjadi berulang kali, padahal hal itu seharusnya mendorong untuk berpikir, mengevaluasi, serta bekerja untuk menanggulanginya dan menghentikannya.

Pentingnya Pengorganisasian (Ahammiyyat at-Tanzhîm)

Kita dapat menyatakan bahwa "pengorganisasian" (at-tanzhîm) merupakan salah satu faktor terkuat bagi keberhasilan gerakan-gerakan. Betapa banyak gerakan politik dan kepartaian yang berhasil berkat perencanaan yang sadar dan pengorganisasian yang presisi, sementara gerakan lainnya gagal disebabkan oleh kekacauan dan improvisasi yang tanpa arah.

Karakter dasar Islam itu sendiri menolak segala bentuk kekacauan dan segala jenis improvisasi. Tidak ada satu pun manhaj di dunia ini hingga hari ini yang begitu menaruh perhatian pada pengorganisasian rincian kehidupan manusia—bahkan kehidupan sehari-hari dan urusan pribadinya—sebagaimana perhatian yang diberikan oleh Islam.

Sesungguhnya gerakan Islam saat ini sedang mengalami kelemahan kapasitas pengorganisasian dalam berbagai perangkat organsisasinya, yang kerap kali menyebabkan terkurasnya potensi dan terbuangnya waktu secara sia-sia.

Oleh karena itu, termasuk topik pengorganisasian yang paling penting adalah hal-hal yang berkaitan dengan kepemimpinan (al-qiyâdah), kriteria, serta karakteristiknya.

Apakah Kepemimpinan Itu? (Mâ Hiya al-Qiyâdah)

Kepemimpinan—dalam setiap bentuk kepemimpinan—adalah seni mengelola karakter manusia, memengaruhi perilaku manusia, serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu dengan cara yang menjamin kepatuhan, kepercayaan, dan penghormatan mereka.

Keberhasilan seorang "pemimpin" (al-qâ'id) dalam tugasnya ini bergantung pada sejauh mana ia memiliki keutamaan dan karakteristik tertentu. Perlu diketahui bahwa terdapat beberapa sifat bawaan (fithriyyah) yang dapat membantu mengembangkan potensi kepemimpinan, namun hal itu hanya sampai pada batas dan kadar tertentu. Kepribadian kepemimpinan (asy-syakhshiyyah al-qiyâdiyyah) tetap wajib disempurnakan dengan berbagai kemampuan lainnya; baik kemampuan pemikiran, spiritual, fisik, pengorganisasian, akhlak, maupun kepribadian.

Kedudukan seorang "pemimpin" dalam suatu gerakan—gerakan apa pun—merupakan kedudukan yang sangat sensitif. Selama sifat-sifat kepemimpinan yang diperlukan tidak tersedia dalam kepribadiannya, maka posisi kepemimpinan tersebut akan tetap guncang dan tidak stabil, setinggi apa pun tingkat wawasan pemikiran (tsaqâfah fikriyyah) atau kemampuan berpidato (qudrah khithâbiyyah) yang dimiliki oleh pemimpin tersebut. Sebab, logika gerakan (manthiq al-harakah) berbeda dengan logika kata-kata. Dakwah adalah suatu instrumen gerakan yang terpadu (jihâz harakî mutakâmil) yang tidak akan mungkin dapat dikendalikan ritme gerakannya, diperhitungkan langkahnya, serta diarahkan laju dan dinamika emosinya kecuali dengan logika pengorganisasian, perencanaan, dan kedisiplinan (inshibât)...

Kejernihan Jiwa dan Harumnya Spiritual (Ash-Shafâ' an-Nafsî wa al-'Abaq ar-Rûhî)

Termasuk hal terpenting yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin muslim adalah kejernihan jiwa (shafâ' an-nafs) dan keharuman ruh ('abaq ar-rûh). Ia harus merasakan beratnya amanah yang dipikulnya, dan bahwa dialah orang yang paling utama untuk menunaikannya dan berinteraksi dengannya.

Sebagaimana ia juga tidak boleh terpalingkan oleh tanggung jawab kepemimpinan dan kewajiban-kewajiban umumnya—seberapa pun banyaknya dan besarnya—dari memperhatikan dirinya sendiri, menyibukkan diri dengan cacat-cacat dirinya, serta meneliti dosa-dosanya. Jangan sampai ia tertipu oleh amalan-amalan beruntun yang dilakukannya, karena amalan-amalan tersebut bisa saja kehilangan unsur "keikhlasan" (al-ikhhlâsh) sehingga di sisi Allah menjadi bagaikan debu yang diterbangkan angin. Sebab, Allah tidak menerima kecuali apa yang suci dan baik. Maha Benar Allah Al-'Azhim ketika berfirman:

"Dan Kami akan perlihatkan segala amal yang telah mereka kerjakan, lalu Kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (QS. Al-Furqan [25]: 23)

Ia wajib senantiasa merasa diawasi oleh Allah (murâqabatullâh), selalu mengingat kematian, kubur, surga, dan neraka, bagus ibadahnya, banyak melakukan perjalanan (tanaqqul), serta menjaga salat malam (qiyâmul lail). Sesungguhnya bangun di waktu malam itu adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan bacaan di waktu itu lebih berkesan.

Kesehatan Badan dan Kekuatan Fisik (Ash-Shihhah al-Badaniyyah wa al-Quwwah al-Jasadiyyah)

Seorang pemimpin tidak boleh mengabaikan urusan kesehatan dan tubuhnya. Orang mukmin yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin yang lemah. Tuntutan-tuntutan dakwah dan beban tanggung jawab tidak akan sanggup dipikul oleh orang-orang yang berbadan lemah dan bertubuh sakit-sakitan.

Kedudukan kepemimpinan adalah kedudukan yang membutuhkan pemikiran yang terus-menerus, kerja yang berkesinambungan, serta perjuangan (jihad) yang tiada henti. Kemampuan-kemampuan ini terhubung secara saraf dengan pusat-pusat organ tubuhnya. Selama organ tubuh, indra, dan seluruh sistem organ tidak dalam keadaan sehat dan aktif, maka ia akan kehilangan kemampuan untuk memasok kebutuhan-kebutuhan vital kesehatan yang diperlukan manusia.

Kemampuan Akal dan Asupan Pemikiran (Al-Qudrât al-'Aqliyyah wa al-Aghdziyah al-Fikriyyah)

Akal—demikian pula halnya—membutuhkan materi-materi asupan yang dapat mewujudkan pertumbuhan, kematangan, dan keseimbangannya.

Asupan pemikiran (al-aghdziyah al-fikriyyah) bagi seorang pemimpin haruslah bervariasi. Jangan sampai ada yang mengatakan: "Aku cukup mencukupkan diri dengan wawasan keislaman saja tanpa wawasan-wawasan lainnya." Jika logika seperti ini dapat diterima pada masa lalu, maka logika tersebut ditolak pada hari ini, di mana berbagai seruan telah bercampur aduk, pandangan dan konsep telah beragam, serta kebudayaan telah bermacam-macam.

Selama pemimpin tersebut tidak berada pada wawasan dan penelaahan tingkat baik yang selaras dengan dinamika kehidupan politik dan peristiwa-peristiwa hariannya, maka ia tidak akan mampu menghadapi tanggung jawab, menaklukkan tantangan, serta memimpin rombongan dengan kepemimpinan yang bijaksana (rasyîdah) dan sadar (wâ'iyah).

Sifat-Sifat yang Mutlak Bagi Kepemimpinan (Sifât Lâzimah lil Qiyâdah)

1. Mengenali Dakwah (Ma'rifat ad-Da'wah)

Agar seorang pemimpin dapat mengenal dakwahnya secara sempurna, ia wajib memahami dengan sangat baik urusan-urusan pemikiran, bimbingan, dan pengorganisasiannya; selaras dengan aktivitasnya, serta mengetahui amalan-amalan dan tindakan-tindakannya.

Jaminan keberhasilan kepemimpinan hanyalah terletak pada menyatunya pemimpin dengan konstituen (al-qâ'idah) dan tidak terpisahnya ia dari rombongan yang bergerak, atau mengisolasi diri di dalam bilik pertapaan (shauma'ah). Bahkan tanggung jawab kepemimpinan menuntut pemiliknya untuk senantiasa menjalin hubungan dengan para prajurit/anggota (al-junûd), serta mengenali pandangan dan permasalahan mereka. Hal demikian mengandung penelaahan dan studi eksperimental yang sangat berguna bagi kedua belah pihak.

2. Mengenali Diri Sendiri (Ma'rifat an-Nafs)

Termasuk kewajiban pemimpin adalah mengenali letak kekuatan dan kelemahan dalam dirinya. Pemimpin yang tidak mengetahui kapasitas dan kemampuannya tidak akan mungkin menjadi pemimpin yang sukses. Bahkan hal itu mungkin akan mendatangkan bencana dan kerugian bagi dakwahnya. Oleh karena itu, ia wajib:

  • a. Mengenali titik-titik kelemahan pada dirinya dan berusaha untuk menguatkannya.
  • b. Menemukan letak-letak kekuatan pada dirinya dan berupaya untuk mendorong serta mengembangkannya.
  • c. Bersemangat untuk mengembangkan wawasan umum (at-tsaqâfah al-'âmmah), serta menelaah berbagai topik, pandangan, dan gagasan politik, sosial, ekonomi, dan lain-lain.
  • d. Menaruh perhatian untuk mempelajari kepribadian para pemimpin muslim maupun selain mereka, serta mengenali metode dan gaya kepemimpinan mereka, juga sebab-sebab serta faktor-faktor keberhasilan atau kegagalan mereka.

3. Pengawasan yang Siaga (Ar-Ri'âyah as-Sâhirah)

Langkah pemimpin dalam mengamati para anggota, mengenali mereka dengan baik, mengetahui keadaan serta kondisi khusus dan umum mereka, berbagi kegembiraan dan duka cita bersama mereka, serta berusaha menyelesaikan masalah-masalah mereka; seluruh hal ini termasuk hal yang membantunya untuk mengendalikan mereka, meraih kepercayaan mereka, dan pada akhirnya memanfaatkan potensi mereka dengan baik.

4. Keteladanan yang Baik (Al-Uswah al-Hasanah)

Para anggota senantiasa melihat dan menengadah kepada para pemimpin mereka sebagai contoh-contoh teladan yang baik untuk diikuti dan diteladani jejak langkahnya.

Maka perilaku, aktivitas, dinamika, akhlak, perkataan, dan perbuatan pemimpin memiliki pengaruh nyata pada kelompok secara keseluruhan. Rasulullah adalah sebaik-baik teladan bagi para sahabatnya:

"Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (QS. Al-Ahzab [33]: 21)

Dan para sahabat beliau—semoga Allah meridai mereka—adalah para pemimpin yang saleh serta pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk. Rasulullah menggambarkan mereka dalam sabdanya:

أَصْحَابِي كَالنُّجُومِ بِأَيِّهِمِ اقْتَدَيْتُمُ اهْتَدَيْتُمْ

"Sahabat-sahabatku bagaikan bintang-gemintang, siapa pun di antara mereka yang kalian ikuti, niscaya kalian akan mendapat petunjuk." (Diriwayatkan dalam kitab-kitab Asar)

5. Pandangan yang Tajam (An-Nazhar ats-Tsâqib)

Kemampuan pemimpin untuk melakukan penilaian secara cepat dan tepat terhadap situasi apa pun, serta mengambil keputusan secara tegas dalam situasi dan kondisi yang sulit, merupakan hal yang akan mendatangkan rasa percaya dan penghormatan dari para anggota.

Adapun keragu-raguan, ketidakjelasan, kebingungan, dan kegugupan adalah hal-hal yang akan menciptakan kekacauan, melemahkan kepercayaan, serta menghilangkan kedisiplinan. Sungguh benar Rasulullah ketika bersabda:

إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْبَصَرَ النَّاقِدَ عِنْدَ وُرُودِ الشُّبُهَاتِ ، وَالْعَقْلَ الْكَامِلَ عِنْدَ هُجُومِ الشَّهَوَاتِ

"Sesungguhnya Allah menyukai pandangan yang tajam (al-bashar an-nâqid) saat datangnya syubhat, dan akal yang sempurna (al-'aql al-kâmil) saat serbuan syahwat." (Diriwayatkan dalam Asar)

6. Keinginan/Tekad yang Kuat (Al-Irâdah al-Qawiyyah)

Kekuatan tekad (irâdah) merupakan salah satu rukun kepribadian kepemimpinan yang dengannya kesulitan-kesulitan dapat ditundukkan, masalah-masalah dapat diselesaikan, dan rintangan-rintangan dapat dilalui. Kepemimpinan Islam pada zaman ini sangat membutuhkan tekad-tekad baja yang mampu menertawakan cobaan dan krisis...

7. Daya Tarik Alami (Al-Jâdzibiyyah al-Fithriyyah)

Sifat ini merupakan karakter alami yang apabila terdapat pada diri seorang pemimpin, maka ia akan mampu menarik hati manusia tanpa dipaksakan (takalluf). Elemen ini merupakan salah satu elemen terkuat yang membentuk kepribadian kepemimpinan.

8. Optimisme (At-Tafâ'ul)

Optimisme dianggap sebagai salah satu hal mendasar yang mutlak bagi kepribadian kepemimpinan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi seorang pemimpin untuk selalu berada dalam keadaan optimistis, menatap masa depan dengan harapan dan kelapangan dada, tanpa memalingkannya dari sikap waspada terhadap kejutan-kejutan hari yang akan datang.

Ketahuilah bahwa rasa putus asa (al-ya's) merupakan faktor berbahaya dari faktor-faktor keruntuhan dan kehancuran dalam kehidupan individu maupun kelompok. Tidak boleh menyebut "putus asa" sebagai suatu "kebijaksanaan", dan "harapan" (al-amal) sebagai suatu "keringanan dan kecerobohan". Sebagaimana tidak boleh pula harapan itu tunduk pada gejolak emosi dan lompatan-lompatannya, melainkan harapan itu harus senantiasa berdampingan dengan akal sehat dan perhitungan.

Kepemimpinan—sebagai garda depan rombongan dan kepala kafilah—memiliki pengaruh yang sangat mendalam dan kuat terhadap barisan. Jika kepemimpinan itu gugur dan putus asa, maka ia akan memaparkan seluruh barisan pada keguguran dan keputusasaan. Namun jika kepemimpinan itu bertahan teguh di hadapan bencana dan kokoh menghadapi tantangan, maka ia akan memancarkan semangat harapan dan keberanian ke dalam jiwa para anggota dan prajurit.

Bagaimana tidak, padahal Islam pada hari ini sedang mengarungi pertempuran penentu nasib (ma'rakat mashîr) baik di dalam maupun di luar, pada seluruh tingkatan dan berbagai medan pertempuran. Maka tidak boleh sama sekali lari dari pertempuran dan berpaling darinya, melainkan harus bertahan dan bertekad bulat; bertahan dalam pertempuran dan bertekad bulat untuk membasmi kebatilan dengan seluruh pilar-pilar perjuangan (jihad):

"...sampai tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah semata..." (QS. Al-Anfal [8]: 39)

Sikap-sikap kenabian yang abadi merupakan pusat-pusat bobot dalam sejarah masa lalu Islam kita, serta menjadi tempat meneladani dan mengambil pelajaran dalam dinamika pergerakan masa kini kita, yang wajib kita renungi dalam waktu yang panjang...

Rasulullah dalam dakwahnya telah menghadapi kampanye-kampanye penindasan, gangguan, dan keraguan yang terorganisir. Di dalamnya, orang-orang yang menyimpan kedengkian terhadap Islam menggunakan berbagai jenis gangguan dan siksaan paling keji. Semua itu terjadi tanpa mampu melunakkan keteguhan Rasulullah dan para sahabat beliau sedikit pun. Bahkan sang Nabi sekaligus Pemimpin tersebut melihat pertolongan Allah dengan mata "harapan" ketika beliau menghadapi himpunan musuh yang mengepung Madinah untuk mengintai Islam dan kaum muslimin. Beliau menyampaikan berita gembira dan ketenangan itu kepada orang-orang mukmin di hadapan situasi yang mencekam ini, hingga orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya ada penyakit berkata: "Muhammad menjanjikan kepada kita perbendaharaan Kisas (Parsi) dan Kaisar (Romawi), padahal salah seorang dari kita tidak mampu buang air besar karena sengitnya ketakutan."

Adapun orang-orang mukmin yang yakin akan pertolongan Allah, mereka memiliki sikap lain yang diabadikan oleh Al-Qur'an al-Karim dengan segala kebanggaan dan penghormatan:

"Dan ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka berkata: 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka melainkan iman dan ketundukan. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan mereka tidak mengubah (janjinya) sedikit pun." (QS. Al-Ahzab [33]: 22-23)

Sesungguhnya Islam saat ini sedang menghadapi tantangan yang sangat besar: tantangan rasialis (syu'ûbiyyah) atas nama nasionalisme, tantangan sektarianisme atas nama tanah air, tantangan ateisme atas nama sosialisme dan keadilan sosial, serta tantangan imperialisme atas nama ilmu pengetahuan dan peradaban. Sesungguhnya Islam dalam posisinya yang kritis ini wajib menggerakkan seluruh cita-cita, memusatkan segala potensi, serta membangkitkan rasa percaya dan harapan:

"...Dan tidak ada kemenangan itu melainkan dari sisi Allah..." (QS. Ali 'Imran [3]: 126)

HUBUNGAN ORGANISASIONAL ANTARA DAKWAH DAN DAI

1. Ketaatan

  • Kepada Siapa Ketaatan Diberikan?
  • Kapan Kemaksiatan Wajib Dilakukan?
  • Biasakan Diri Kalian untuk Taat

2. Tanggung Jawab

  • Kesadaran Internal akan Tanggung Jawab
  • Penugasan Pergerakan (at-taklif al-haraki)

Jika gerakan Islam (al-harakah al-islamiyyah) di era modern telah memberikan porsi perhatian dan kepedulian yang sangat besar pada aspek-aspek pemikiran, pengarahan, dan spiritual... maka aspek organisasional (at-tanzhimi) belum memperoleh perhatian melainkan sedikit saja, padahal ia berkedudukan sebagai tulang punggung bagi gerakan tersebut.

Apabila terdapat faktor-faktor yang memiliki andil atas kokoh dan padunya dakwah di tengah ketiadaan ikatan organisasional yang rapat, maka faktor tersebut pertama-tama kembali kepada akidah, kemudian kepada persaudaraan (al-ukhuwwah) yang hingga hari ini masih menjadi satu-satunya tali pengikat yang memautkan sesama orang beriman satu sama lain dan mengikat mereka dengan dakwahnya.

Adapun maksud dari pentingnya menegakkan hubungan organisasional antara dakwah dan dai bukanlah berarti kita tidak lagi membutuhkan ikatan-ikatan akidah dan persaudaraan. Namun, hendaknya setiap hubungan memiliki batasan yang tidak dilampaui. Jika tidak, keseimbangan segala sesuatu akan terganggu, dan gerakan akan dihadapkan pada banyak krisis, kontradiksi, serta kekacauan di setiap perangkatnya, bahkan pada setiap langkah dari langkah-langkahnya.

Sesungguhnya hubungan antara dakwah dan dai hendaknya jelas sejak hari pertama; di mana individu mengetahui kewajiban-kewajibannya, perannya dalam gerakan, tanggung jawabnya dalam beramal, serta hal-hal serupa yang menentukan bentuk keterikatan, tuntutan, dan karakteristiknya.

Di sini saya akan memaparkan beberapa kaidah mendasar yang hendaknya menjadi landasan bagi hubungan organisasional antara dakwah dan dai.

1. Ketaatan

Ketaatan merupakan salah satu faktor fundamental yang dibutuhkan dalam hubungan organisasional pada setiap gerakan apa pun.

Suatu gerakan—gerakan apa pun itu—tidak akan mungkin mencapai tingkat organisasional yang diharapkan selama unsur ketaatan di dalamnya belum mencapai puncak kekuatan dan kesempurnaan.

Konsep ketaatan dalam Islam menggali kekuatan dan jangkauannya dari fondasi-fondasi agama, baik yang bersifat akidah maupun syariat. Ketaatan seorang saudara muslim (al-akh al-muslim) terhadap kepemimpinan (al-qiyadah) merupakan wujud kepatuhannya terhadap perintah Allah. Kepemimpinan dalam Islam adalah otoritas eksekutif yang bertugas menerapkan hukum-hukum Islam—atau berupaya dan merintis jalan untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam yang di dalamnya hukum-hukum ini diterapkan, sebagaimana kondisi gerakan Islam pada tahap saat ini. Hal ini, tanpa keraguan sedikit pun, merupakan bagian dari perintah Allah.

Dengan demikian, ketaatan seorang saudara muslim kepada kepemimpinan tersebut termasuk bagian dari taat kepada Allah, dan mendurhakainya termasuk bagian dari bermaksiat kepada Allah. Oleh karena itu, Al-Qur'anul Karim mendorong hal tersebut melalui firman-Nya:

Wahai orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Nabi Muhammad), dan ulilamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. (QS. An-Nisa': 59)

Dan Rasulullah mengekspresikan hal tersebut melalui sabdanya:

مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي

“Barang siapa yang taat kepadaku maka sungguh ia telah taat kepada Allah, dan barang siapa yang mendurhakaiku maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa yang taat kepada pemimpin (amir) maka sungguh ia telah taat kepadaku, dan barang siapa yang mendurhakai pemimpin (amir) maka sungguh ia telah mendurhakai aku.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Kepada Siapa Ketaatan Diberikan?

Seorang saudara muslim wajib mempersiapkan dirinya untuk mematuhi dan menaati kepemimpinan (al-qiyadah), siapa pun sosok pemimpin tersebut, selama kepemimpinannya absah secara syar'i (syar'iyyah). Bukanlah termasuk karakteristik ketaatan dalam Islam apabila ketaatan itu hanya diberikan kepada sosok tertentu dan tidak kepada yang lain. Ketaatan juga tidak boleh tunduk pada hawa nafsu dan selera pribadi. Cukuplah sabda Rasulullah berikut sebagai petunjuk atas hal ini:

اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ

“Dengarkanlah dan taatilah, meskipun yang diangkat menjadi pemimpin atas kalian adalah seorang budak Habasyah (Etiopia) yang kepalanya seperti buah kismis.” [HR. Bukhari]

Hal ini sebagaimana yang dilakukan oleh Khalid bin al-Walid radhiyallahu 'anhu ketika surat pemberhentian dirinya dari pimpinan pasukan dan pengangkatan Abu Ubaidah bin al-Jarrah sebagai penggantinya tiba. Beliau mematuhi perintah tersebut dan berkata: "Demi Allah, seandainya Amirul Mukminin memerintahkan seorang wanita untuk memimpinku, niscaya aku akan mendengar dan taat."

Kapan Kemaksiatan Wajib Dilakukan?

Jika Islam telah mewajibkan seorang saudara muslim untuk menaati kepemimpinannya dalam hal kebenaran (bil-haqq), maka Islam membebaskannya dari ketaatan tersebut dalam hal selainnya; bahkan mewajibkan atasnya untuk mendurhakai perintah tersebut [jika berupa maksiat]. Rasulullah bersabda:

عَلَى المَرْءِ المَسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ

“Wajib atas seorang muslim untuk mendengar dan taat dalam apa yang ia sukai dan apa yang ia benci, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat. Apabila ia diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh taat.” [HR. Bukhari dan Muslim]

Diriwayatkan dari Ali radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah mengutus suatu pasukan khusus (sariyyah) dan mengangkat seorang laki-laki dari kaum Anshar sebagai pemimpinnya, serta memerintahkan mereka untuk mendengar dan taat kepadanya. Lalu pasukan itu membuatnya marah dalam suatu urusan. Laki-laki itu berkata: "Kumpulkan kayu bakar untukku!" Maka mereka mengumpulkannya. Kemudian ia berkata: "Nyalakan api!" Maka mereka menyalakannya. Lalu ia berkata: "Bukankah Rasulullah telah memerintahkan kalian untuk mendengar dan taat kepadaku?" Mereka menjawab: "Benar." Ia berkata: "Masuklah ke dalamnya!" Maka sebagian mereka saling memandang dengan yang lain seraya berkata: "Sesungguhnya kita lari kepada Rasulullah justru untuk menghindari api." Mereka tetap dalam keadaan demikian hingga redalah marahnya dan padamlah api tersebut. Ketika mereka kembali, mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah , maka beliau bersabda:

لَوْ دَخَلُوهَا مَا خَرَجُوا مِنْهَا أَبَدًا، لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ، إِنَّمَا الطَّاعَةُ فِي المَعْرُوفِ

“Seandainya mereka masuk ke dalamnya, niscaya mereka tidak akan keluar darinya selama-lamanya. Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya ketaatan itu hanya dalam hal yang baik (al-ma'ruf).” [HR. Bukhari dan Muslim]

Biasakan Diri Kalian untuk Taat

Seorang saudara muslim harus membiasakan dan menundukkan dirinya untuk taat dan mematuhi perintah kepemimpinan, serta tidak memberikan celah sedikit pun bagi bisikan-bisikan setan dan hembusan kesombongan di dalam jiwanya. Jiwa-jiwa yang pembangkang itu sangat sulit untuk dituntun dan sukar untuk dikendalikan.

Kesombongan adalah penyakit kronis yang mematahkan punggung, serta pintu menuju jiwa yang darinya setan dapat masuk. Sedangkan ketaatan dan kerendahan hati (at-tawadhu') ditolak oleh orang-orang yang sombong dan dirasa sangat berat oleh jiwa orang-orang yang angkuh.

Inilah Jabalah bin al-Aiham; jiwanya yang pembangkang enggan untuk tunduk pada hukum Umar Amirul Mukminin radhiyallahu 'anhu, hingga ia meninggalkan Islam dan memeluk agama Nasrani, serta lebih memilih kesesatan daripada petunjuk.

Abu Umar asy-Syaibani menceritakan: Ketika Jabalah bin al-Aiham al-Ghassani masuk Islam—dan ia merupakan salah seorang raja dari keturunan Jafnah—ia berkirim surat kepada Umar untuk meminta izin menghadap kepadanya. Umar pun mengizinkannya. Lalu ia berangkat menemui Umar bersama lima ratus orang dari keluarganya. Umar merasa gembira dan memerintahkan orang-orang untuk menyambutnya. Ketika ia sampai di hadapan Umar, Umar menyambutnya dengan hangat, bersikap lembut kepadanya, dan mendekatkan tempat duduknya.

Kemudian Umar hendak menunaikan ibadah haji, maka Jabalah ikut keluar bersamanya. Ketika ia sedang bertawaf di Baitullah, tiba-tiba kain sarungnya terinjak oleh seorang laki-laki dari Bani Fazarah hingga terlepas. Jabalah mengangkat tangannya lalu memukul hingga mematahkan hidung orang Fazarah tersebut. Orang Fazarah itu mengadukan hal ini kepada Umar. Umar mengutus utusan untuk memanggil Jabalah, lalu Jabalah pun datang.

Umar bertanya: "Apa ini?"

Jabalah menjawab: "Benar, wahai Amirul Mukminin. Ia sengaja melepas sarungku. Seandainya bukan karena kehormatan Ka'bah, niscaya aku telah menebas bagian antara kedua matanya dengan pedang."

Umar berkata kepadanya: "Engkau telah mengakui perbuatanmu. Maka pilihannya: engkau membuat orang ini ridha [dengan ganti rugi/maaf], atau aku mengambil qisas darimu untuknya."

Jabalah berkata: "Apa yang akan engkau lakukan padaku?"

Umar berkata: "Aku memerintahkan agar hidungmu dipatahkan sebagaimana yang telah engkau lakukan."

Jabalah berkata: "Bagaimana mungkin demikian, wahai Amirul Mukminin, sedangkan dia rakyat jelata dan aku seorang raja?"

Umar berkata: "Sesungguhnya Islam telah menyetarakan engkau dengannya. Engkau tidak memiliki kelebihan atasnya melainkan dengan ketakwaan dan keselamatan."

Jabalah berkata: "Sungguh aku sebelumnya mengira, wahai Amirul Mukminin, bahwa aku di dalam Islam akan menjadi lebih mulia daripada saat aku di zaman Jahiliyah."

Umar berkata: "Tinggalkan pengandaian ini! Sebab jika engkau tidak membuat orang itu ridha, aku akan mengambil qisas darimu untuknya."

Jabalah berkata: "Jika demikian, aku akan masuk Nasrani!"

Umar berkata: "Jika engkau masuk Nasrani, aku akan memenggal lehermu. Karena engkau telah masuk Islam, maka jika engkau murtad, aku akan membunuhmu."

Ketika Jabalah melihat kesungguhan Umar, ia berkata: "Aku akan mempertimbangkan hal ini malam ini." Hingga ketika orang-orang telah tidur, Jabalah melarikan diri bersama kuda-kuda dan rombongannya menuju Syam, dan dari sana melarikan diri ke Konstantinopel lalu memeluk agama Nasrani [Al-Aghāni dan Futū al-Buldān].

2. Tanggung Jawab

Tanggung jawab (al-mas'uliyyah) dalam Islam memiliki dua dimensi: tanggung jawab khusus (khasash) yang berkaitan dengan diri sendiri beserta beban dan penugasan individual yang terbit darinya; serta tanggung jawab umum ('ammah) yang melampaui diri sendiri menuju masyarakat, manusia, dan dunia beserta beban dan tugas yang juga terbit darinya dalam lingkup tersebut.

Berangkat dari konsepsi tentang lingkup tanggung jawab dan jangkauannya ini, kami ingin mendiskusikan bersama para saudara dai mengenai tanggung jawab besar mereka: tanggung jawab khusus mereka dan tanggung jawab umum mereka; tanggung jawab mereka sebagai individu dan tanggung jawab mereka sebagai jamaah; serta tanggung jawab internal/mandiri (at-dzatiyyah) dan tanggung jawab pergerakan (al-harakiyyah).

Mereka, pertama-tama, adalah pemegang amanat (amāna) atas diri mereka sendiri yang harus dipersiapkan seiring berjalannya waktu agar berada pada tingkat yang mampu memikul beban yang menantinya:

demi jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadaya (jalan) kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams: 7–10)

Mereka juga merupakan pengampu (awshiyā') atas masyarakat ini dengan membawa risalah kekhalifahan dan penugasan yang diamanatkan kepada mereka:

Demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan (adil dan pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al-Baqarah: 143)

“Barang siapa yang bangun di pagi hari namun tidak memperhatikan urusan kaum muslimin, maka ia tidak termasuk golongan mereka.”

Sesungguhnya ini adalah tanggung jawab yang sangat agung dan besar yang membuat gunung-gunung pun tak sanggup memikulnya. Oleh karena itu, hal ini membutuhkan kesungguhan usaha yang besar dan pengorbanan yang mahal.

Kesadaran Internal akan Tanggung Jawab

Agar seorang dai dalam proses pembinaannya (i'dad) mencapai tingkat yang sesuai dengan medan peperangan yang dihadapi Islam di dalam maupun di luar, maka iman yang miliki hendaknya lebih kokoh daripada gunung-gunung yang menjulang, pemahamannya lebih dalam daripada lautan, dan kesabarannya lebih kuat daripada berbagai cobaan.

Sebagaimana hendaknya terlahir dalam dirinya kesadaran internal (syu'ur dzati) akan tanggung jawab beramal untuk Islam, serta kesiapan penuh untuk memenuhi kebutuhan tanggung jawab ini dengan jiwa dan pengorbanan tenaga. Ia tidak menunggu instruksi pergerakan (at-taklif al-haraki) untuk memikul beban dan tanggung jawab; melainkan terlahir dari lubuk hatinya yang paling dalam suatu kesadaran naluriah akan tanggung jawab, dan mengalir di dalam urat nadinya perasaan Rabbani akan tugas penugasan.

Ia merasa bahwa dirinya bertanggung jawab atas Islam ini meskipun ia bukan anggota dalam suatu jamaah atau prajurit dalam suatu gerakan. Cukuplah baginya status sebagai seorang muslim untuk menggerakkan kesadaran akan kewajiban di dalam dirinya terhadap agama yang diatribusikan kepadanya ini.

Gerakan Islam pada hari-hari ini sangat membutuhkan elemen-elemen yang membara dengan kesadaran dan kepekaan terhadap kewajiban-kewajiban Islamnya; elemen-elemen yang perasaan tanggung jawabnya bergolak dahsyat; elemen-elemen yang pemikirannya tidak pernah tenang dari memikirkan agama ini dan beramal untuknya, baik di sebagian waktu malam maupun di sebagian waktu siang.

Demikianlah dahulu kesadaran generasi pertama dari kaum muslimin terhadap tanggung jawab mereka kepada Islam. Urusan Islam menjadi kesibukan utama mereka dalam segala kondisi dan dalam setiap keadaan. Islam menjadi poros kehidupan dan pemikiran mereka, baik pada saat kesulitan maupun kelapangan.

Zaid bin Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah mengutusku pada perang (Uhud) untuk mencari Sa'ad bin ar-Rabi'. Beliau bersabda kepadaku: "Jika engkau bertemunya, sampaikan salamku padanya, dan katakan padanya: Rasulullah bertanya kepadamu, bagaimana engkau mendapati dirimu?"

Zaid berkata: Maka aku mulai berkeliling di antara korban yang terbunuh, lalu aku menemukannya dalam keadaan menghembuskan napas terakhirnya. Pada tubuhnya terdapat tujuh puluh sabetan, baik sabetan pedang, tusukan tombak, maupun tancapan panah.

Aku berkata: "Wahai Sa'ad, sesungguhnya Rasulullah menyampaikan salam kepadamu dan bersabda kepadamu: Beritahukan kepadaku bagaimana engkau mendapati dirimu?"

Maka Sa'ad berkata: "Sampaikan salam kepada Rasulullah . Dan katakan kepada beliau: Wahai Rasulullah, aku mendapati wangi surga. Dan katakan kepada kaumku Anshar: Tidak ada uzur bagi kalian di hadapan Allah jika terjadi sesuatu atas Rasulullah sedangkan masih ada mata yang berkedip di antara kalian!" Lalu nyawanya melayang pada saat itu juga.

Penugasan Pergerakan (At-Taklif Al-Haraki)

Jika kita melampaui lingkup kesadaran internal menuju lingkup penugasan pergerakan (at-taklif al-haraki), maka kita dapat menegaskan bahwa penugasan pergerakan tidak akan memiliki dampak yang efektif dalam kehidupan seorang saudara (al-akh) apabila kesadaran internal tersebut nihil di dalamnya.

Sebab, elemen-elemen yang tidak digerakkan oleh perasaan naluriah internal dan seruan Rabbani, tidak mungkin dapat dipengaruhi oleh penugasan pergerakan dan dorongan manusiawi semata. Bersandarnya dakwah kepada model manusia semacam ini hanya akan memaparkannya secara terus-menerus pada kemunduran dan kejatuhan, yang pada gilirannya mengancam banyak dari potensi dakwah menguap sia-sia di udara.

Apabila kesadaran internal akan tanggung jawab jihad Islam termasuk karakteristik kepribadian Islam (asy-syakhsiyyah al-islamiyyah) dan termasuk sifat dasar yang hendaknya dihiasi oleh seorang saudara dai, maka komitmen yang presisi terhadap penugasan pergerakan juga merupakan elemen mendasar dan autentik dalam esensi hubungan organisasional antara dakwah dan dai.

Maka dai—setiap dai—hendaknya mampu menyesuaikan diri dengan setiap tugas yang diamanatkan kepadanya, siap melaksanakan setiap misi yang dibebankan kepadanya, dalam batas-batas ketaatan yang telah disebutkan sebelumnya.

Dalam konteks ini, saya teringat akan sebuah peristiwa yang jika menunjukkan pada sesuatu, maka ia menunjukkan pada tingkat kedisiplinan organisasional yang telah dicapai oleh gerakan Islam pada zaman kenabian, yang berimplikasi pada baiknya komitmen terhadap penugasan pergerakan:

Jabir bin Abdillah al-Anshari radhiyallahu 'anhu menceritakan: Kami keluar bersama Rasulullah dalam Perang Dzat ar-Riqa'. Lalu Rasulullah singgah di suatu tempat persinggahan dan bersabda: "Siapakah laki-laki yang mau menjaga kita malam ini?" Maka berdirilah seorang laki-laki dari kaum Muhajirin dan seorang laki-laki dari kaum Anshar, yaitu Ammar bin Yasir dan Abbad bin Byshr.

Ketika keduanya keluar menuju mulut lembah, orang Anshar berkata kepada orang Muhajirin: "Bagian malam mana yang engkau sukai untuk aku gantikan posisimu? Apakah bagian awalnya atau bagian akhirnya?" Orang Muhajirin menjawab: "Tolong gantikan aku di bagian awal malam." Orang Muhajirin itu pun berbaring lalu tidur, sementara orang Anshar berdiri menunaikan shalat.

Tiba-tiba datang seorang laki-laki dari kaum musyrik. Ketika ia melihat ada orang yang sedang shalat, ia memanah dengan sebatang anak panah dan mengenai tubuh Abbad. Abbad mencabutnya dan tetap berdiri melanjutkan shalat. Kemudian orang musyrik itu memanahnya lagi dengan anak panah kedua, Abbad mencabutnya dan tetap berdiri melanjutkan shalat. Kemudian ia mengulangi dengan panah ketiga, Abbad mencabutnya, lalu ia rukuk dan sujud, kemudian membangunkan sahabatnya.

Abbad berkata: "Duduklah, sungguh aku telah tertembak." Jabir berkata: Ammar bin Yasir pun melompat. Ketika orang musyrik itu melihat mereka berdua, ia tahu bahwa mereka telah menyadari keberadaannya, maka ia pun melarikan diri. Ketika orang Muhajirin melihat darah yang membasahi orang Anshar tersebut, ia berkata: "Subhanallah! Mengapa engkau tidak membangunkan aku saat ia memanahmu pertama kali?"

Orang Anshar itu menjawab: "Aku sedang membaca suatu surah [dalam shalat], maka aku tidak ingin memotongnya hingga aku menyelesaikannya. Namun ketika ia memanahku bertubi-tubi, aku pun rukuk dan membangunkanmu. Demi Allah, seandainya bukan karena khawatir menyia-nyiakan batas wilayah (tsaghar) yang diperintahkan Rasulullah kepadaku untuk dijaga, niscaya nyawaku melayang sebelum aku memotong atau menyelesaikannya." [HR. Ibn Hisham]

Seorang dai—setiap dai—berada di atas salah satu pos perbatasan (tsaghar) Islam dan mengemban salah satu tanggung jawab. Maka tidak sepatutnya Islam dibobol dari arah posisinya. Sudah sepantasnya ia bertahan di posisinya tersebut hingga ia bertemu dengan Allah dalam keadaan demikian, sehingga dengan itu ia mendapatkan pahala orang-orang yang berjaga di garis depan (al-murabitun) dan ganjaran para mujahid.

Dari Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

كُلُّ عَمَلٍ يَنْقَطِعُ عَنْ صَاحِبِهِ إِذَا مَاتَ، إِلاَّ المُرَابِطَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ، وَيُجْرَى عَلَيْهِ رِزْقُهُ إِلَى يَوْمِ القِيَامَةِ

“Setiap amalan akan terputus dari pelakunya apabila ia meninggal dunia, kecuali orang yang berjaga di garis depan (al-murabit) di jalan Allah; karena sesungguhnya amalannya akan terus dikembangkan untuknya, dan rezekinya akan terus dialirkan kepadanya hingga hari kiamat.” [HR. Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir]

Karakteristik Pergerakan (At-Thabi'ah Al-Harakiyyah)

  • Fenomena-Fenomena Berbahaya
  • Pusat Interaksi (Markaz at-Tafa'ul)
  • Bagaimana Interaksi Terjadi
  • Menerima untuk Melaksanakan (At-Talaqqi lit-Tanfidz)
  • Akal adalah Pusat Komando

Sesungguhnya lemahnya karakteristik pergerakan (at-thabi'ah al-harakiyyah) pada mayoritas dai Islam merupakan fenomena yang meluas dalam kehidupan dakwah, dan dengan demikian sangat berbahaya bagi masa kini maupun masa depannya. Lemahnya karakter ini menutup pintu-pintu kemajuan dan keteguhan (at-tamkin), menghalangi pemanfaatan berbagai kondisi dan kesempatan, serta mewarnai dakwah dengan watak rutinitas dan kebekuan, sekaligus menghilangkan karakteristiknya yang paling menonjol, yaitu dinamisme, pergerakan, dan sifat revolusioner.

Padahal, prinsip-prinsip Islam yang bersifat pemikiran dan pengarahan memiliki potensi pembuahan dan pengaruh yang luar biasa seandainya dipikul oleh jiwa-jiwa yang melompat maju dan digerakkan oleh cita-cita yang tinggi.

Masyarakat ini—ya, masyarakat ini—sering kali kita tuduh dengan hal-hal yang ada padanya maupun yang tidak ada padanya, sebagai bentuk pelarian dari beban amal dan jihad, serta sebagai pembenaran atas kelalaian kita dalam ranah pengorbanan dan pemberian, hingga kita menipu diri kita sendiri sampai taraf yang jauh. Keraguan dan keputusasaan merayap ke dalam jiwa banyak dai kita, hingga benarlah pada diri kita ungkapan penyair: "Hampir-hampir pendengaran akan waham memenuhi dada dengan kecemasan."

Aku katakan bahwa masyarakat ini masih memiliki potensi dan kesiapan yang baik untuk berinteraksi dengan dakwah ini seandainya cita-cita digerakkan dan tekad-tekad dibangkitkan.

Bersamaan dengan semua ini, aku tidak memungkiri bahwa amal Islam pada masa sekarang ini menghadapi permusuhan dan tantangan di luar apa yang dibayangkan oleh banyak orang. Namun, aku menolak jika hal ini mengakibatkan melempemnya para pembela kebenaran padahal pertempuran penentu belum pun dimulai!

Sebagaimana aku juga menolak jika hal ini menjadi pemicu untuk lari dari medan laga pada saat-saat kesulitan di mana dituntut untuk terus menyerang dan bukannya lari, serta menghadapi tantangan dengan tantangan yang lebih kuat dan lebih dahsyat:

(Yaitu) mereka yang masyarakat berkata kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy) telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu. Oleh karena itu, takutlah kepada mereka.” Namun, (anfaman) itu menambah iman mereka dan mereka menjawab, “Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik pelindung.” Maka, mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari Allah. Mereka tidak ditimpa suatu bencana pun dan mengikuti keridhaan Allah. Allah Maha Memiliki karunia yang agung. (QS. Ali 'Imran: 173–174)

Aku ingin mengisyaratkan di sini bahwa cobaan dan kesulitan hendaknya membangkitkan di dalam jiwa makna-makna keteguhan di atas kebenaran dan bertahan bersamanya. Sebagaimana ia juga hendaknya mendorong untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan dan memobilisasi kekuatan berdasarkan pemanfaatan pengalaman dan peristiwa-peristiwa yang terjadi.

Boleh jadi kegigihan Nuh 'alaihissalam dalam mendakwahi kaumnya dan kesemangatannya untuk memberi petunjuk kepada mereka selama sembilan ratus lima puluh tahun—beserta gangguan dan penindasan yang ditemuinya selama masa tersebut—dapat mengasah cita-cita hingga tidak menjadi lemah, serta memicu jiwa hingga tidak menjadi jemu:

Hingga apabila para rasul berputus asa dan merasa bahwa mereka telah didustakan, datanglah kepada mereka pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang yang Kami kehendaki. Siksaan Kami tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa. Sungguh, pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal. (QS. Yusuf: 110–111)

Sesungguhnya pertempuran yang diarungi Islam pada zaman ini membutuhkan elemen-elemen dengan tipe tertentu; elemen-elemen yang hidup untuk Islam dan bersama Islam; elemen-elemen yang prioritas utamanya adalah agama ini, dan agama ini semata.

Maka sungguh kita harus merasa malu pada diri kita sendiri, dan sungguh kita harus merasa cemburu demi Islam—agama yang haq dan dakwah yang haq—ketika kita tidak menjadi pemikulnya pada tingkat tanggung jawab yang semestinya, pada saat kita melihat matinya rasa takut ahli bathil, pengorbanan ahli kesesatan, serta pengerahan harta para pembohong demi kebohongan dan kesesatan mereka:

Mereka itu mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Dia) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran. (QS. Al-Baqarah: 221)

Sesungguhnya orang-orang yang darahnya tidak bergolak, jiwanya tidak menyala-nyala, dan perasaannya tidak bergetar demi Islam pada setiap helak napas hidupnya, tidak mungkin harapan dapat ditautkan kepada mereka, cita-cita dapat diamanatkan kepada mereka, dan kemenangan Islam dapat terwujud di tangan mereka.

Mari kita berhenti sejenak di sini untuk mengestraksi sebab-sebab kemandulan dan minimnya buah dalam kehidupan para dai dan pekerja Islam.

Hati Sebagai Pusat Interaksi (Al-Qalb Markaz at-Tafa'ul)

Dalam keyakinanku, hati adalah pusat gravitasi (markaz ats-tsiqal) tempat terjadinya interaksi dai dengan seluruh arahan dan syariat yang sampai kepadanya. Bahkan pemikiran-pemikiran sekalipun, hati memiliki peran dalam mencernanya dan memiliki andil bersama akal dalam merasakannya:

Apakah mereka tidak berjalan di bumi sehingga hati (akal) mereka dapat memahami atau telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, melainkan yang buta ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al-Hajj: 46)

Iman adalah buah dari interaksi ini. Pada gilirannya, ia merupakan bahan bakar bagi gerakan, dinamisme, dan pembuahan. Selama proses interaksi ini tidak berlanjut, maka gerakan dan dinamisme akan lenyap secara bertahap hingga sifat eksekutif/operasional (at-thabi'ah at-tanfidziyyah) tertimpa kelumpuhan dan kemandulan secara total.

Oleh karena itu, hati membutuhkan perawatan yang sangat ekstra dan porsi perhatian yang besar. Karakteristik utama dari hati adalah ia memiliki sensitivitas yang sangat halus; sebagaimana ia siap untuk bersinar, terang, dan bersih, ia juga siap untuk menjadi gelap, layu, dan berkarat. Dari sinilah menjadi kewajiban seorang dai untuk merawat hatinya dan tidak mengabaikannya. Perawatan terhadap hati tidak boleh mengendur walau sekejap pun di waktu malam maupun siang, demi menjaga kecerahan, keindahan, dan kesuciannya, sesuai dengan sabda Rasulullah :

إِنَّ لِلْقُلُوبِ صَدَأً، وَجَلاَؤُهَا الاِسْتِغْفَارُ

“Sesungguhnya hati itu memiliki karat, dan pembersihnya adalah istigfar.”

Para dai Islam lebih berhak daripada yang lainnya untuk memperhatikan hati mereka, karena mereka adalah pihak yang paling rentan terhadap tipu daya setan, dan hati mereka sangat membutuhkan kecerahan karena hati merupakan perangkat pemancar dan pusat radiasi bagi mereka. Dalam sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu 'anha, ia berkata: Rasulullah bersabda:

الإِنْسَانُ عَيْنَاهُ هَادٍ، وَأُذُنَاهُ قِمَعٌ، وَلِسَانُهُ تُرْجُمَانٌ، وَيَدَاهُ جَنَاحَانِ، وَرِجْلاَهُ بَرِيدٌ، وَالقَلْبُ مِنْهُ مَلِكٌ، فَإِذَا طَابَ المَلِكُ طَابَتْ جُنُودُهُ

“Manusia itu, kedua matanya adalah penuntun, kedua telinganya adalah corong, lidahnya adalah penerjemah, kedua tangannya adalah sayap, kedua kakinya adalah utusan, dan hati darinya adalah raja. Apabila raja itu baik, maka baik pulalah para prajuritnya.”

Perawatan terhadap hati hendaknya berlangsung secara terus-menerus dan berkelanjutan sebagai persiapan menghadapi setiap hal buruk yang datang tiba-tiba atau hal menyesatkan yang masuk. Sebab setan itu mengalir di dalam tubuh anak Adam melalui aliran darah.

Tidak ada yang dapat membersihkan hati sebagaimana keikhlasan dalam beribadah, khususnya ibadah di malam hari (nasyi'at al-lail), mendalamnya perenungan dan tadabur terhadap ayat-ayat Allah khususnya di waktu pagi (“Sesungguhnya shalat Subuh itu disaksikan oleh malaikat”), menangis dan berserah diri di mihrab Allah, serta terus-menerus memikirkan kematian dan bersiap menghadapinya. Sungguh benar Rasulullah ketika beliau bersabda:

لَوْلاَ أَنَّ الشَّيَاطِينَ يَحُومُونَ عَلَى قُلُوبِ بَنِي آدَمَ لَنَظَرُوا إِلَى مَلَكُوتِ السَّمَوَاتِ

“Seandainya bukan karena setan-setan itu mengelilingi hati anak Adam, niscaya mereka dapat melihat ke kerajaan langit.”

Hati juga rentan terhadap keras dan lembut. Ketaatan memberikan kelembutan dan kepekaan padanya, sedangkan kemaksiatan menambah kekerasan dan kekeringannya:

lalu berlalulah masa yang panjang atas mereka sehingga hati mereka menjadi keras. (QS. Al-Hadid: 16)

Kemudian, setelah itu hatimu menjadi keras sehingga ia seperti batu atau bahkan lebih keras. (QS. Al-Baqarah: 74)

Sekali-kali tidak! Bahkan, apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. (QS. Al-Muthaffifin: 14)

Semoga Allah merahmati Ibnul Mubarak ketika beliau berkata:

Aku melihat dosa-dosa membunuh hati...

dan pembiasaan atasnya dapat mewariskan kehinaan.

Meninggalkan dosa-dosa adalah kehidupan bagi hati...

dan yang terbaik bagi dirimu adalah mendurhakainya [kemaksiatan].

Sungguh, Dai Pertama [Rasulullah ] telah menjelaskan kepada kita bagaimana interaksi hati terjadi dengan kebaikan atau keburukan yang datang kepadanya, beliau bersabda:

تُعْرَضُ الفِتَنُ عَلَى القُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ: عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ، وَالأَخَرِ أَسْوَدَ مُرْبَادًّا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا

“Fitnah-fitnah dipaparkan kepada hati seperti teranyamnya tikar sehelai demi sehelai. Hati mana saja yang menyerapnya, ditorehkan padanya satu titik hitam. Dan hati mana saja yang mengingkarinya, ditorehkan padanya satu titik putih. Hingga hati menjadi dua kondisi: hati yang putih seperti batu licin yang tidak bahayakan oleh fitnah apa pun selama langit dan bumi masih ada; dan hati yang lain yang hitam keabu-abuan, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari kemungkaran...”

Maka wajib bagi seorang dai untuk mengawasi hatinya secara terus-menerus; mengamati gerak-geriknya dan mencatat perilakunya. Ia tidak boleh meremehkan bahkan terhadap bisikan yang samar dan perasaan yang tersembunyi. Jangan sampai ia mengatakan bahwa itu hanya sepele dan kecil. Sebab hal kecil yang remeh apabila bertumpuk dan berlanjut akan mengancam bahaya yang besar. Sungguh benar Rasulullah saat bersabda:

إِيَّاكُمْ وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى يُهْلِكْنَهُ

“Jauhilah oleh kalian dosa-dosa yang dianggap remeh, karena sesungguhnya dosa-dosa itu berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.”

Ke arah makna inilah penyair mengisyaratkan melalui perkataannya:

Janganlah engkau meremehkan hal kecil...

Sesungguhnya gunung-gunung itu berasal dari kerikil.

Dan yang lain berkata:

Janganlah engkau meremehkan orang kecil dalam perselisihan...

Sesungguhnya nyamuk dapat melukai pupil mata singa.

Maka hati seorang dai hendaknya seperti cermin yang jernih, yang padanya terefleksikan prinsip-prinsip Islam. Ia terpengaruh dengannya dan Islam terpengaruh dengannya, untuk kemudian dialirkan kepada anggota tubuh dan panca indra sebagai kumpulan sifat-sifat yang mulia dan akhlak yang utama. Dengan demikian, Islam bagi sang dai tidak lagi sekadar teori-teori, melainkan wujud dalam bentuk-bentuk praktis yang terindra dalam kehidupan dan realitasnya.

Di antara hal yang membantu dai untuk berinteraksi dengan Islam adalah posisinya di hadapan prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan syariat-syariatnya sebagai pihak yang dituju oleh seruan (al-mukhāab) dan yang berkepentingan dengan urusan tersebut. Hal ini akan memberikan dampak pengaruh langsung dan interaksi yang cepat pada penerimaannya. Dengan demikian, hubungan dai dengan Islam menjadi hubungan ketiadaan jarak antara keprajuritan, kepemimpinan, perintah, dan pelaksanaan.

Hakekatnya, penerimaan dai terhadap ayat-ayat Allah dan prinsip-prinsip Islam dengan cara dan konteks seperti ini akan memberikan rasa baru dalam hidupnya, yang mana ia menemukan manisnya pada setiap makna dari makna-makna Islam.

Akal Sebagai Pusat Komando (Al-'Aql Markaz al-Qiyadah)

Di antara hal yang juga mendorong dai untuk berinteraksi dengan dakwahnya dan terpengaruh dengannya—yang pada gilirannya membuatnya bergerak di berbagai ranah dan medan—adalah kematangan pemikirannya, kedalaman pemahamannya, dan keluasan wawasannya. Sebab, orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat memberikannya (fāqid usy-syai' lā yu'īh).

Sering kali terjadi bahwa orang-orang yang lemah wawasannya dari kalangan pembela kebenaran menjadi lumpuh [secara argumentasi] di hadapan orang-orang berwawasan dari kalangan pembela kebathilan.

sebagaimana manusia berinteraksi dengan hati dalam hal kebaikan atau keburukan yang sampai kepadanya, hati juga berinteraksi dengan akal dalam hal konsep-konsep dan pemikiran-pemikiran yang dibawanya.

Isyarat-isyarat rasional Al-Qur'an terhadap fenomena alam dan kehidupan menegaskan nilai penting berpikir dan persepsi dalam perilaku manusia. Oleh karena itu, Islam menggugurkan beban hukum (al-hisab/at-taklif) dari orang gila, orang yang terganggu jiwanya, dan orang yang kehilangan akalnya.

Perhatian dai terhadap hatinya tanpa memperhatikan akalnya—tanpa keraguan sedikit pun—akan mencabutnya dari senjata terkuatnya dan pendorong terbesarnya untuk bergerak dan berinteraksi. Sebagaimana perhatiannya terhadap akalnya tanpa hatinya akan membuatnya kehilangan faktor-faktor terpenting bagi ketenangan, kedamaian, dan keteguhan. Kepribadian seorang dai tidak akan mungkin mencapai tingkat kesempurnaan selama tidak terwujud kebaikan hati dan akal secara bersamaan.

Sebagaimana seorang dai wajib memperhatikan ibadah, muraqabah, mengingat kematian, berzikir, dan latihan-latihan spiritual (ar-riyāāt ar-rūiyyah) lainnya; ia juga wajib memperhatikan pemahaman fikih (at-tafaqquh), membaca (al-muāla'ah), berpidato (al-khiābah), menulis (al-kitābah), dan aktivitas pemikiran lainnya.

Kecukupan wawasan pemikiran akan menjadikan dai sebagai perangkat pemancar yang tidak pernah berhenti. Adapun orang-orang yang merasakan kekosongan pemikiran dalam diri mereka, mereka akan menghindari masyarakat dan orang-orang serta melarikan diri dari tanggung jawab; akibatnya, mati pulalah sifat pergerakan (at-thabi'ah al-harakiyyah) dalam diri mereka serta lenyaplah pembuahan dan pemberian.

Kebutuhan dai terhadap senjata pemikiran pada era modern merupakan kebutuhan yang sangat mendesak yang tidak mungkin diabaikan atau diremehkan. Sebab, Islam hari ini hidup di tengah-tengah lingkungan yang bergejolak dengan berbagai aliran, mazhab pemikiran, dan filsafat. Sudah sepatutnya para dai bersikap objektif dan logis. Bukanlah termasuk maslahat Islam sedikit pun menghadapi tantangan pemikiran hanya dengan emosi retoris yang kosong dari kata-kata dan pidato; melainkan suatu kewajiban untuk mematahkan argumen dengan argumen dan membandingkan pemikiran dengan pemikiran:

Adapun buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya, sedangkan yang memberi manfaat kepada manusia akan tetap bertahan di bumi. (QS. Ar-Ra'd: 17)

Wajib bagi dai untuk merujuk kepada Al-Qur'anul Karim dan Sirah Nabawiyah guna menggali metode-metode rasional yang retorik (al-asālib al-'aqliyyah al-balīghah) yang dengannya Islam menghadapi lawan-lawan debatnya.

Kesimpulan dari seluruh pembahasan ini adalah bahwa dai dalam persiapan dan pembentukannya harus berada pada tingkat yang dituntut oleh gerakan saat ini: kekuatan pada ruh, ketangguhan pada pemikiran, dan keluhuran pada akhlak. Dengan demikian, interaksi antara dakwah dan manusia dapat terwujud secara nyata.


Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat