Hambatan-hambatan Dalam Dakwah dan Daiyah (2)
TIKUNGAN-TIKUNGAN
BESAR DALAM KEHIDUPAN PARA DA’I
- Pernikahan – Tikungan
Pertama
- Kekayaan (Dunia) –
Tikungan Kedua
Di
sepanjang jalan kehidupan terdapat banyak rintangan dan tikungan berbahaya yang
merintangi jalan para da'i yang menyeru kepada Allah serta mengancam nasib para
pekerja/aktivis Islam... Akan tetapi, pembinaan (i'dad) yang benar,
pengarahan yang lurus, serta peringatan dan penafsiran yang terus-menerus akan
memberikan imunitas (kekebalan) kepada individu-individu da'i yang dapat
melindungi mereka dari bahaya penyimpangan dan kejatuhan. Hal tersebut juga
mempersiapkan mereka seiring berjalannya waktu untuk menghadapi berbagai fitnah
dan godaan duniawi.
Realitasnya...
mayoritas da'i pada zaman ini kekurangan imunitas jiwa yang kuat dalam
menghadapi pembujukan dan godaan. Pemikiran dan konsep-konsep akan tetap
menjadi slogan dan teori yang hampa, selama tidak mempersiapkan para pemilik
dan penganutnya melalui pembinaan praktis dan intuitif yang sepadan dengan
segala kejutan yang menanti mereka di masa depan dan masa depan dakwah mereka;
serta selama nilai-nilai dan cita-cita dakwah belum terwujud dalam kehidupan
para da'i. Ketika Islam belum menjadi tolak ukur bagi setiap hukum, kunci bagi
setiap persoalan, dan sumber bagi setiap persepsi (tasawwur), maka tidak
butuh waktu lama sampai hawa nafsu memiringkan arah hidup mereka dan gejolak
keintiman mempermainkan mereka.
Hal
yang semakin memperparah masalah ini adalah bahwa para da'i Islam hidup di
dalam "masyarakat jahiliah" yang sama sekali tidak memiliki hubungan
dengan esensi agama. Sebuah masyarakat yang terlepas dari seluruh nilai dan
cita-cita, serta telah lumpuh indra kebaikannya. Masyarakat yang sarat dengan
faktor-faktor perusak, hingga dekadensi moral dan pembebasan perilaku dianggap
sebagai simbol kemajuan dan peradaban, sementara sifat wara' dan
religiusitas dianggap sebagai simbol kerekrogradan dan ketertinggalan.
Oleh
karena itu, jika para da’i Islam tidak memiliki kedalaman akidah yang besar,
keluhuran akhlak, dan kekuatan iman... serta jika mereka tidak bersikap tegas
dalam mengintrospeksi diri (muhasabah), tidak selalu merasa diawasi oleh
Rabb mereka (muraqabah), tidak menjauhi hal-hal yang samar (syubhat),
tidak menghadap pada ketaatan, dan tidak bersungguh-sungguh dalam menjalankan
ibadah-ibadah sunnah dan ritual ibadah, maka mereka pasti akan tertulari oleh
kotoran masyarakat ini. Mereka pun akan mendapatkan bagian yang besar dari
penyimpangan dan kejorokannya.
Dalam
paparan singkat ini, saya akan membahas dua tikungan paling berbahaya dalam
kehidupan para da'i, serta bagaimana keduanya dapat dilalui dengan aman dan
selamat dengan izin Allah.
Wanita...
Tikungan Pertama
Wanita
memegang peranan yang sangat berpengaruh dalam kehidupan para da'i—bahkan dalam
kehidupan seluruh manusia... Ia bisa menjadi sumber kenikmatan (ni'mah),
atau justru menjadi pemicu petaka (niqmah).
Dalam
perjalanan kehidupan "dakwah", terdapat banyak gambaran mengenai
kedua kondisi tersebut... Di antara para da'i, ada yang kualitas keislamannya
menjadi lebih baik setelah menikah, langkah mereka semakin mantap, dan
karya/kontribusi mereka semakin melimpah. Namun, di antara mereka ada pula yang
kehidupannya justru merosot setelah menikah; kualitas keislamannya memburuk,
akhlaknya rusak, hingga kemudian sebutan mereka hilang dari panggung dan
keberadaan dakwah.
Tidak
diragukan lagi bahwa setiap hasil dari kedua kondisi tersebut memiliki sebab
dan pemicunya masing-masing. Sebagaimana pepatah menyatakan: "Kotoran
unta menunjukkan adanya unta" [Setiap akibat pasti ada sebabnya].
Mereka yang gagal dalam pernikahan adalah orang-orang yang tidak terikat pada
"nilai-nilai keislaman" dalam pernikahan dan syarat-syaratnya sejak
awal jalan. Penampilan luar telah membutakan mereka dari hakikat substansi, dan
kulit luar telah melalaikan mereka dari isi... Sehingga mereka terperosok ke
dalam keburukan perbuatan mereka sendiri dan menyesal, namun penyesalan itu
datang setelah segalanya terlambat.
Demi
menjaga kehidupan rumah tangga dari keruntuhan semacam ini, Islam telah
meletakkan kaidah-kaidah dan asas-asas yang menjamin terwujudnya rumah tangga
yang islami, kebahagiaan para anggotanya, serta kebaikan keturunannya.
Berikut
adalah asas-asas dan kaidah-kaidah terpenting tersebut:
1.
Kelurusan Niat (Salamatul Qasd)
Islam
sangat menekankan agar tujuan utama dari pernikahan adalah menyempurnakan
agama, sebagai pembenaran atas sabda Rasulullah ﷺ:
مَنْ رَزَقَهُ اللهُ
امْرَأَةً صَالِحَةً فَقَدْ أَعَانَهُ عَلَى شَطْرِ دِينِهِ ، فَلْيَتَّقِ اللهَ
الشَّطْرَ الْبَاقِيَ
"Barangsiapa
yang dikaruniai oleh Allah seorang wanita (istri) yang salehah, maka sungguh
Allah telah membantunya memenuhi separuh agamanya. Maka hendaklah ia bertakwa
kepada Allah pada separuh sisanya." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam
Al-Ausath, dan Al-Hakim berkata: Sanadnya shahih).
Dalam
riwayat Al-Baihaqi disebutkan bahwa Rasulullah ﷺ bersabda:
إِذَا تَزَوَّجَ
الْعَبْدُ فَقَدِ اسْتَكْمَلَ نِصْفَ الدِّينِ فَلْيَتَّقِ اللهَ فِي النِّصْفِ
الْبَاقِي
"Apabila
seorang hamba menikah, maka sungguh ia telah menyempurnakan separuh agamanya.
Maka hendaklah ia bertakwa kepada Allah pada separuh yang tersisa."
Islam
juga sangat menekankan agar pernikahan menjadi faktor utama dalam menjaga
kesucian diri, menyucikan jiwa (tazkiyah), serta mendorongnya ke jalan
ketaatan dan menjaga kehormatan.
Dari
Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا مَعْشَرَ
الشَّبَابِ مَنِ اسْتَطَاعَ مِنْكُمُ الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ ، وَمَنْ لَمْ
يَسْتَطِعْ فَعَلَيْهِ بِالصَّوْمِ فَإِنَّهُ لَهُ وَجَاءٌ
"Wahai
generasi muda! Barangsiapa di antara kamu yang mampu menikah, hendaklah dia
menikah, karena sesungguhnya pernikahan itu lebih menundukkan pandangan dan
lebih memelihara kemaluan. Dan barangsiapa yang tidak mampu, maka hendaklah dia
berpuasa, karena sungguh puasa itu menjadi perisai baginya." (HR.
Bukhari dan Muslim).
Plato
berkata: "Sesungguhnya manusia itu berada dalam kegelisahan yang abadi
dan kebosanan yang terus-menerus, sampai ia bersatu kembali dengan bagian
dirinya yang terpisah dan belahan jiwanya yang terisolasi... Maka apabila salah
satu dari dua belahan tersebut bersatu dengan belahan lainnya melalui
pernikahan, itu akan menjadi pernikahan yang diberkahi dan dipenuhi
keberuntungan..."
Dan
Rasulullah ﷺ
bersabda:
ثَلَاثَةٌ حَقٌّ عَلَى
اللهِ عَوْنُهُمْ : الْمُجَاهِدُ فِي سَبِيلِ اللهِ ، وَالْمُكَاتَبُ الَّذِي
يُرِيدُ الأَدَاءَ ، وَالنَّاكِحُ الَّذِي يُرِيدُ العَفَافَ
"Ada
tiga golongan yang berhak mendapatkan pertolongan Allah: Orang yang berjihad di
jalan Allah, budak Mukatab [yang memiliki perjanjian memerdekakan diri] yang
ingin melunasi pembayarannya, dan orang yang menikah karena ingin memelihara
kesucian dirinya." (HR. Tirmidzi, dan ia berkata: Hadits ini hasan
shahih).
Demikian
pula, Islam sangat menjaga agar niat dan tujuan dari pernikahan adalah
membangun rumah tangga muslim, guna menjadi "batu bata yang baik" (al-labnah
ash-shalihah) dan pondasi dasar dalam pembangunan masyarakat Islam...
Al-Qur'an menganggap hal ini sebagai cita-cita yang sangat agung dari cita-cita
orang-orang beriman, sebagaimana Allah menggambarkan mereka melalui firman-Nya:
"Dan
orang-orang yang berkata, 'Ya Tuhan kami, anugerahkanlah kepada kami pasangan
kami dan keturunan kami sebagai penyenang hati (kami), dan jadikanlah kami
pemimipim bagi orang-orang yang bertakwa.'" (QS. Al-Furqan: 74)
Adapun
jika dorongan syahwat (seksual) menjadi tujuan utama orang-orang yang
menikah... maka kehidupan seksual bagi mereka akan menjadi sebuah penghambaan
(sesembahan), dan secara otomatis mereka akan menjadi budak baginya...
2.
Memperbaiki Pilihan (Husnul Ikhtiyar)
Islam
sangat menegaskan—sejak kali pertama—pentingnya memilih pasangan hidup dan
pendamping usia dengan baik. Islam menganggap pemilihan yang baik sebagai salah
satu faktor terwujudnya "keislaman" kehidupan rumah tangga, serta
menjadi pertanda awal keselarasan dan kenyamanan antara suami istri. Rasulullah
ﷺ bersabda:
تَخَيَّرُوا
لِنُطَفِكُمْ فَإِنَّ العِرْقَ دَلاَّعٌ / نَزَّاعٌ / دَسَّاسٌ
"Pilihlah
tempat bagi nutfah (benih) kalian, karena sesungguhnya faktor keturunan
(genetika) itu menarik/menurunkan sifat secara tersembunyi."
Meskipun
kita mengakui sulitnya menemukan "pemudi muslimah [yang ideal]" dalam
realitas sosial kita saat ini, namun pemilihan yang baik akan tetap
menghasilkan pilihan yang paling optimal dari yang ada. Kita mungkin tidak
kehilangan potensi dan kesiapan yang baik, meskipun kita kekurangan elemen
wanita yang ideal secara sempurna.
Islam
menekankan terpenuhinya akhlak dan agama sebagai syarat utama dalam pemilihan
yang baik... Islam juga memperingatkan dari akibat buruk mengejar kecantikan,
harta, dan nasab semata. Islam menjelaskan bahwa kecantikan akhlak lebih abadi
daripada kecantikan fisik... dan kekayaan jiwa jauh lebih berharga daripada
kekayaan harta. Nabi ﷺ
bersabda:
لاَ تَزَوَّجُوا
النِّسَاءَ لِحُسْنِهِنَّ فَعَسَى حُسْنُهُنَّ أَنْ يُرْدِيَهُنَّ ، وَلاَ
تَزَوَّجُوهُنَّ لِأَمْوَالِهِنَّ فَعَسَى أَمْوَالُهُنَّ أَنْ تُطْغِيَهُنَّ ..
وَلَكِنْ تَزَوَّجُوهُنَّ عَلَى الدِّينِ ، وَلَأَمَةٌ خَرْماءُ خَرْقَاءُ ذَاتُ
دِينٍ أَفْضَلُ
"Janganlah
kalian menikahi wanita karena kecantikannya, bisa jadi kecantikannya itu akan
membinasakan mereka. Jangan pula kalian menikahi mereka karena harta
kekayaannya, bisa jadi harta kekayaannya membuat mereka melampaui batas. Akan
tetapi nikahilah mereka atas dasar agamanya. Sungguh, seorang hamba sahaya
wanita yang robek telinganya lagi berkulit hitam namun memiliki agama adalah
lebih utama." (HR. Ibn Majah).
Alangkah
indahnya jika seorang wanita memiliki kecantikan hati sekaligus kecantikan
fisik. Pada saat itulah ia menjadi sebaik-baik wanita, berdasarkan sabda
Rasulullah ﷺ:
خَيْرُ نِسَائِكُمْ
مَنْ إِذَا نَظَرَ إِلَيْهَا زَوْجُهَا سَرَّتْهُ ، وَإِذَا أَمَرَهَا أَطَاعَتْهُ
، وَإِذَا غَابَ عَنْهَا حَفِظَتْهُ فِي نَفْسِهَا وَمَالِهِ
"Sebaik-baik
wanita kalian adalah wanita yang apabila suaminya memandangnya ia menyenangkan
suaminya, apabila suaminya memerintahkannya ia menaatinya, dan apabila suaminya
pergi meninggalkannya ia menjaga dirinya dan harta suaminya." (HR.
An-Nasa'i dari hadits Abu Hurairah).
Maka,
hendaklah waspada saudara-saudara yang hanya mencari rupa fisik sebelum
sifat-sifat kebaikan, dan mencari harta tanpa memedulikan karakter... Hendaklah
mereka mematuhi perintah-perintah Islam, memerangi keinginan-keinginan setan
dalam jiwa mereka, serta menyambut penyeru Allah dalam diri mereka:
"Dan
nikahkanlah orang-orang yang masih membujang di antara kamu, dan juga
orang-orang yang layak (menikah) dari hamba-hamba sahayamu yang laki-laki dan
perempuan. Jika mereka miskin, Allah akan memberi kemampuan kepada mereka
dengan karunia-Nya." (QS. An-Nur: 32)
Kemudian
hendaklah mereka mengambil pelajaran dari sabda Rasulullah ﷺ:
مَنْ تَزَوَّجَ
امْرَأَةً لِعِزِّهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ ذُلاًّ ، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا
لِمَالِهَا لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ فَقْراً ، وَمَنْ تَزَوَّجَهَا لِحَسَبِهَا
لَمْ يَزِدْهُ اللهُ إِلاَّ دَنَاءَةً ، وَمَنْ تَزَوَّجَ امْرَأَةً لَمْ يُرِدْ
بِهَا إِلاَّ أَنْ يَغُضَّ بَصَرَهُ ، وَيُحْصِنَ فَرْجَهُ ، أَوْ يَصِلَ رَحِمَهُ
، بَارَكَ اللهُ لَهُ فِيهَا وَبَارَكَ لَهَا فِيهِ
"Barangsiapa
menikahi seorang wanita karena kedudukannya, maka Allah tidak akan menambah
baginya melainkan kehinaan. Barangsiapa menikahi wanita karena hartanya, Allah
tidak akan menambah baginya melainkan kefakiran. Barangsiapa menikahi wanita
karena nasab mulianya, Allah tidak akan menambah baginya melainkan kerendahan.
Dan barangsiapa menikahi seorang wanita yang tidak ia maksudkan melainkan untuk
menundukkan pandangannya, memelihara kemaluannya, atau menyambung tali
silaturahimnya, maka Allah akan memberkahi wanita itu baginya dan memberkahinya
bagi wanita tersebut." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath).
3.
Tidak Memperturutkan Diri dan Tidak Berlebihan (La Tafrith wa La Ifrath)
Islam
juga memperingatkan dari akibat memperturutkan syahwat dan berlebih-lebihan
dalam hubungan seksual. Hal ini untuk menjaga pendar akal agar tidak dipadamkan
oleh angin syahwat, serta melindungi jiwa agar tidak diperbudak oleh insting
dan dorongan keintiman. Rasulullah ﷺ bersabda:
النِّسَاءُ حَبَائِلُ
الشَّيْطَانِ ، وَلَوْلاَ الشَّهْوَةُ لَمَا كَانَ لِلنِّسَاءِ مِنْ سُلْطَنَةٍ
عَلَى الرِّجَالِ
"Wanita
adalah jerat-jerat (perangkap) setan. Seandainya bukan karena syahwat, niscaya
wanita tidak akan memiliki kekuasaan/pengaruh atas laki-laki."
Sangat
benar apa yang dikatakan oleh Ibrahim bin Adham ketika ia menyatakan: "Barangsiapa
yang terbiasa dengan paha-paha wanita [terlalu sibuk dengan urusan
ranjang/wanita], maka tidak akan lahir sesuatu pun dari mereka"
[artinya: tidak bisa diharapkan kebaikan yang besar dari mereka].
Cukuplah
bagi para suami untuk mengetahui sejauh mana aktivitas seksual menyebabkan
gangguan mendalam pada seluruh fungsi tubuh, sehingga mereka meninggalkan sikap
berlebihan dan berhemat/proporsional (tawasuth). Dr. J. Maylan
menyatakan: "Denyut jantung melonjak cepat hingga hampir mencapai 150
denyutan per menit. Tekanan arteri juga mencatat kenaikan yang sangat drastis
yang bisa mencapai batas tertinggi. Adapun pernapasan, kecepatannya melipat
ganda... Sirkulasi darah di otak juga tidak luput dari perubahan mendadak ini.
Otak menerima jumlah darah yang lebih besar dan berada dalam kondisi
pembengkakan/kongesti yang berat."
Dr.
Maylan melanjutkan keterangannya dengan berkata: "Insting seksual
seharusnya mengambil bentuk yang ideal seiring bertambahnya usia manusia.
Seseorang pada usia tuanya hendaknya beralih pada aktivitas-aktivitas pemikiran
yang mengalihkan pikiran dari setiap pemikiran seksual. Hal inilah yang
kebenarannya telah dibuktikan oleh para tokoh yang memfokuskan diri pada
pemikiran, sehingga mereka hidup dalam kondisi yang menyerupai celibacy
(kehidupan selibat/fokus spiritual). Kapasitas pemikiran adalah hal terakhir
yang melemah pada diri manusia. Maka manusia mampu—hingga usia yang sangat
lanjut—untuk tetap menikmati kelezatan akal yang menenangkan ini."
Realitasnya,
Islam telah melarang sikap berlebih-lebihan (israf) dalam segala urusan,
meskipun dalam hal yang halal dan baik. Berlebihan dalam segala hal adalah
membahayakan, dan sebaik-baik urusan adalah yang pertengahan (khairul umuri
awsatuha). Sebagai bentuk pengetahuan dan wawasan, kita sebutkan di sini
bahwa Zoroaster membatasi jarak rentang hubungan intim selama sembilan
hari sekali... Socrates membatasinya sepuluh hari sekali. Adapun Luther,
pendiri mazhab Protestan, menyarankan dua kali dalam seminggu...
4.
Kepribadian Suami Adalah Pondasi Utama
Islam
memperingatkan para suami agar tidak larut dalam menuruti segala keinginan
wanita, demi menjaga kepribadian dan kepemimpinan (qawamah) laki-laki
agar tidak runtuh dan terkikis. Sebab, dalam keruntuhan kepemimpinan itu
terdapat kehancuran total bagi rumah tangga dan orang-orang di dalamnya... Imam
Al-Ghazali membicarakan makna ini dalam kitab Al-Ihya', beliau berkata: "Jiwa
wanita itu memiliki perumpamaan seperti jiwamu. Jika engkau melepas kendalinya
sedikit saja, ia akan membawamu lari jauh. Jika engkau mengendurkan tali
kekangnya sejengkal, ia akan menarikmu sehasta. Namun jika engkau mengekangnya
dan memperketat genggaman tanganmu pada tempat yang tegas, niscaya engkau akan
menguasainya..."
Maka
kepribadian laki-laki memainkan peranan yang sangat besar dalam kehidupan rumah
tangga. Selama laki-laki belum menjadi segalanya dalam kehidupan istrinya—di
mana sang istri melihat padanya teladan yang tinggi dan contoh yang baik, serta
merasakan ketegasan sekaligus kasih sayang darinya—maka ikatan pernikahan pasti
akan mengalami keretakan...
Sebagian
suami mungkin beranggapan bahwa tidak apa-apa bersikap terlalu longgar/toleran
di awal kehidupan pernikahan. Tanpa disadari, mereka justru menjadi korban dari
kebodohan ini seumur hidup mereka. Sejujurnya, hari-hari pertamalah yang
melukiskan masa depan seluruh rumah tangga. Menjadi kewajiban bagi para suami
untuk lebih waspada dan berhati-hati pada fase ini dibandingkan fase lainnya...
Seorang
suami tidak boleh terlalu jauh mengikuti hawa nafsu istrinya hingga batas yang
merusak akhlak sang istri dan meruntuhkan wibawanya secara total di hadapan
istri... Akan tetapi, ia wajib menjadi seorang yang bijaksana yang menimbang
segala urusan dengan timbangan Islam dan menempatkannya pada tempatnya. Di
antara riwayat dari Al-Hasan bin Ali radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: "Demi
Allah, tidaklah seorang laki-laki menaati istrinya dalam apa yang disukai
istrinya [yang melanggar syariat], melainkan Allah akan menyungkurkannya ke
dalam neraka." Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu berkata: "Selisihilah
wanita [dalam keinginan buruk mereka], karena dalam menyelisihinya terdapat
keberkahan." Dan Rasulullah ﷺ bersabda:
تَعِسَ عَبْدُ
الزَّوْجَةِ
"Celakalah
hamba (budak) istri." (HR. Bukhari dari hadits Abu Hurairah).
Kesimpulannya,
pernikahan merupakan salah satu tikungan paling berbahaya yang dilalui dalam
kehidupan para da'i... Sungguh suatu kerugian besar jika mereka gugur pada
ujian pertama ini... Bahkan, sudah menjadi kewajiban mereka untuk menyajikan
bukti-bukti nyata berupa contoh rumah tangga yang sukses di hadapan Islam dan
dakwah mereka. Hal ini akan memberikan karakteristik paling menonjol bagi
gerakan Islam dan cita-cita Islam, yaitu sifat realistis (waqi'iyyah)...
Pada
hakikatnya, masalah kegagalan dalam kehidupan rumah tangga para da'i telah
menjadi salah satu masalah utama karena seringnya terjadi dan meningkatnya
bahaya yang ditimbulkan. Sebab, masalah ini terus-menerus merampas
pemuda-pemuda terbaik dan orang-orang pilihan dari panggung dakwah dari waktu
ke waktu.
Apabila
dakwah telah menghabiskan potensi terbesarnya dalam membentuk
individu-individunya, maka sudah menjadi kewajiban dakwah untuk lebih menjaga
produk/hasil pembinaannya dari kerusakan dan kebinasaan... Jika membangun itu
adalah hal yang penting, maka menjaga bangunan tersebut dan memeliharanya dari
marabahaya zaman adalah hal yang jauh lebih penting...
Dunia...
Tikungan Kedua
Telah
kita katakan sebelumnya bahwa kehidupan para da'i penuh dengan berbagai
rintangan dan sarat dengan banyak masalah... Selama persiapan pencegahan (i'dad
waqa'i) pada diri para da'i belum berada pada tingkatan yang membuat mereka
mampu melompati berbagai kondisi dengan selamat dan aman, maka akibatnya bisa
jadi tidak memuaskan dan sangat memprihatinkan...
Di
antara keagungan agama ini adalah bahwa pandangannya mencakup seluruh kondisi
yang dilalui manusia dan dialami oleh jiwa manusia, sehingga Islam menjelaskan
sebab-sebabnya dan mengobati pemicunya...
Pandangan
Islam Terhadap Dunia
Islam
memandang dunia sebagai pusat ujian dan cobaan manusia. Maka Islam menyeru
manusia untuk memakmurkannya dan mengambil manfaat dari kebaikan serta buah
hasilnya, namun tanpa sikap lalai (tafrith) maupun berlebihan (ifrath)...
Di
satu sisi, Islam mendorong untuk bekerja dan mencari penghidupan di dunia,
namun di sisi lain, Islam memperingatkan agar dunia tidak menjadi puncak tujuan
yang ingin dicapai jiwa dan batas akhir dari cita-cita.
Islam
menetapkan bahwa dunia adalah negeri yang fana, yang mana umat manusia akan
menghabiskan jatah umur yang telah ditakdirkan baginya di sana, kemudian
meninggalkannya menuju akhirat tempat kebahagiaan dan kenikmatan, atau
kesengsaraan dan penderitaan. Peringatan-peringatan Al-Qur'an datang
menegaskan:
"Wahai
kaumku! Sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah kesenangan (sementara) dan
sesungguhnya akhirat itulah negeri yang kekal." (QS. Ghafir: 39)
"Maka
janganlah sekali-kali kehidupan dunia memperdayakan kamu, dan janganlah (setan)
yang pandai menipu, memperdayakan kamu tentang Allah." (QS. Luqman:
33)
Faktor-Faktor
Penyimpangan
Menurut
dugaan saya, faktor-faktor penyimpangan dalam kehidupan para da'i tidak keluar
dari dua sebab utama:
- Pertama:
Kurangnya
lingkungan (bi'ah) Islam yang bersih pada dakwah, yang dapat membantunya
membentuk individu-individunya dengan pembinaan yang lurus dan kokoh, yang jauh
dari pengaruh-pengaruh luar dan iklim yang dipaksakan.
- Kedua:
Pengabaian
gerakan Islam terhadap kurikulum-kurikulum aplikatif (al-manahij
at-tathbiqiyyah) dalam pembinaan... Hal ini membuat kajian-kajian Islam
sering kali hanya bersifat teoritis belakangan ini, dan menjadikan tujuannya
tidak melampaui wawasan, kesenangan, serta pengetahuan semata.
Sering
kali kita menemukan dalam kehidupan dakwah para orator yang fasih dan para da'i
yang cemerlang, namun mereka adalah orang-orang yang paling tamak terhadap
kehidupan dunia.
Wahai penasihat manusia, sungguh engkau telah menjadi
tertuduh,
Ketika engkau mencela dari mereka hal-hal yang justru
engkau lakukan.
Engkau bersungguh-sungguh menasihati mereka dengan ceramah,
Sementara perbuatan-perbuatan dosa besar—demi
umurku—engkaulah pelakunya.
Engkau mencela dunia dan orang-orang yang menginginkannya,
Padahal
engkau adalah orang yang paling berhasrat kepadanya.
Dan
betapa sering kita melihat individu-individu yang ikhlas dan saudara-saudara
yang penuh semangat, namun begitu tangan mereka menyentuh sedikit dari
kesenangan hidup duniawi, mereka langsung tersungkur jatuh...
Banyak
dari mereka yang sebelumnya terbang tinggi di angkasa dakwah dan mencapai
kedudukan kepemimpinan, kemudian jatuh tersungkur ke tanah menjadi korban dari
godaan dan fitnah dunia, serta lebih ridha dengan kehidupan dunia daripada
akhirat...
"Maka
adapun orang yang melampaui batas, dan lebih mengutamakan kehidupan dunia, maka
sesungguhnya nerakalah tempat tinggal(nya). Dan adapun orang-orang yang takut
kepada kebesaran Tuhannya dan menahan diri dari (keinginan) hawa nafsunya, maka
sesungguhnya surgalah tempat tinggal(nya)." (QS. An-Nazi'at: 37-41)
Metode
Islam dalam Pembinaan (At-Takwin)
Sungguh
Islam telah menempuh dua jalan dalam membentuk kepribadian manusia guna
membawanya menuju puncak kesempurnaan manusiawi...
Pertama-tama,
Islam menyentuh simpul-simpul rasa, perasaan, persepsi, dan pikiran pada
manusia... untuk menarik perhatiannya kepada hakikat segala urusan dan
substansi segala sesuatu, agar keterikatannya dan usahanya selalu dan selamanya
tertuju ke sana...
Pertama:
Islam
menjelaskan kepadanya kedudukan dunia dibandingkan akhirat, serta betapa kecil
dan hinanya dunia di sisi Allah, demi menjaganya dari fitnah dan kesesatannya:
"Katakanlah,
'Kesenangan di dunia ini hanya sedikit; dan akhirat itu lebih baik bagi
orang-orang yang bertakwa...'" (QS. An-Nisa': 77)
Di
antara petunjuk Rasulullah ﷺ
tentang hakikat dunia adalah bahwa pada suatu hari beliau dan para sahabatnya
melewati bangkai seekor domba, lalu beliau bersabda kepada mereka:
أَرَأَيْتُمْ هَذِهِ
هَانَتْ عَلَى أَهْلِهَا ؟
"Apakah
kalian melihat bangkai ini hina bagi pemiliknya?"
Para
sahabat menjawab: "Karena hinanya itulah mereka membuangnya, wahai
Rasulullah." Maka beliau bersabda:
لَلدُّنْيَا أَهْوَنُ
عَلَى اللهِ مِنْ هَذِهِ عَلَى أَهْلِهَا
"Sungguh,
dunia itu lebih hina bagi Allah daripada bangkai ini bagi pemiliknya."
(HR. Ahmad dengan sanad yang tidak mengapa/jayyid).
Abu
Hurairah radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ
أَلَا أُرِيكَ الدُّنْيَا جَمِيعَهَا بِمَا فِيهَا ؟
"Wahai
Abu Hurairah, maukah engkau aku perlihatkan seluruh dunia beserta isinya?"
Aku
menjawab: "Tentu, wahai Rasulullah." Lalu beliau menggandeng
tanganku dan membawaku ke salah satu lembah di Madinah, ternyata di sana
terdapat tempat pembuangan sampah yang berisi tengkorak-tengkorak manusia,
kotoran mereka, kain-kain bekas, dan tulang-belulang. Kemudian beliau bersabda:
يَا أَبَا هُرَيْرَةَ
هَذِهِ الرُّؤُوسُ كَانَتْ تَحْرِصُ كَحِرْصِكُمْ ، وَتَأْمُلُ كَأَمَلِكُمْ ،
ثُمَّ هِيَ الْيَوْمَ عِظَامٌ بِلَا جِلْدٍ ، ثُمَّ هِيَ صَائِرَةٌ رَمَاداً ..
وَهَذِهِ الْعَذِرَاتُ هِيَ أَلْوَانُ أَطْعِمَتِهِمُ اكْتَسَبُوهَا ثُمَّ
قَذَفُوهَا فِي بُطُونِهِمْ فَأَصْبَحَتْ وَالنَّاسُ يَتَحَاشَوْنَهَا .. وَهَذِهِ
الْخِرَقُ الْبَالِيَةُ كَانَتْ رِيَاشَهُمْ وَلِبَاسَهُمْ فَأَصْبَحَتْ
وَالرِّيَاحُ تَصْفِقُهَا .. وَهَذِهِ الْعِظَامُ عِظَامُ دَوَابِّهِمُ الَّتِي
كَانُوا يَنْتَجِعُونَ عَلَيْهَا أَطْرَافَ الْبِلَادِ .. فَمَنْ كَانَ بَاكِياً
عَلَى الدُّنْيَا فَلْيَبْكِ
"Wahai
Abu Hurairah, tengkorak-tengkorak ini dulunya berambisi sebagaimana ambisi
kalian, dan bercita-cita sebagaimana cita-cita kalian. Lalu hari ini ia menjadi
tulang-belulang tanpa kulit, kemudian akan hancur menjadi debu... Dan
kotoran-kotoran ini adalah aneka warna makanan mereka yang mereka usahakan lalu
mereka masukkan ke dalam perut mereka, hingga kini menjadi kotoran yang dijauhi
manusia... Dan kain-kain lap yang lapuk ini dulunya adalah perhiasan dan
pakaian mereka, hingga kini diombang-ambingkan angin... Dan tulang-belulang ini
adalah tulang hewan ternak mereka yang dulunya mereka kendarai ke berbagai
penjuru negeri... Maka barangsiapa yang ingin menangisi dunia, hendaklah ia
menangisinya."
Abu
Hurairah berkata: "Maka kami tidak beranjak dari tempat itu hingga
tangisan kami semakin keras."
Kedua:
Islam
memperingatkan agar dunia tidak menjadi ajang perlombaan di antara manusia.
Rasulullah ﷺ
bersabda:
وَاللهِ مَا الْفَقْرَ
أَخْشَى عَلَيْكُمْ ، وَلَكِنِّي أَخْشَى أَنْ تُبْسَطَ الدُّنْيَا عَلَيْكُمْ
كَمَا بُسِطَتْ عَلَى مَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ ، فَتَتَنَافَسُوهَا كَمَا
تَنَافَسُوهَا ، فَتُهْلِكُكُمْ كَمَا أَهْلَكَتْهُمْ
"Demi
Allah, bukanlah kefakiran yang aku takutkan menimpa kalian. Namun aku takut
dunia dibentangkan kepada kalian sebagaimana telah dibentangkan kepada
orang-orang sebelum kalian, lalu kalian berlomba-lomba mendapatkannya
sebagaimana mereka berlomba-lomba, lalu dunia itu membinasakan kalian
sebagaimana telah membinasakan mereka." (Hadits Muttafaqun 'Alaih).
Rasulullah
ﷺ telah menjelaskan
bahwa ambisi terhadap dunia akan mewariskan ketamakan padanya, kesibukan
dengannya, serta pendedikasian hidup untuknya. Beliau bersabda:
مَنْ أَصْبَحَ
وَالدُّنْيَا أَكْبَرُ هَمِّهِ فَلَيْسَ مِنَ اللهِ فِي شَيْءٍ ، وَأَلْزَمَ اللهُ
قَلْبَهُ أَرْبَعَ خِصَالٍ : هَمًّا لاَ يَنْقَطِعُ عَنْهُ أَبَداً .. وَشُغْلاً
لاَ يَتَفَرَّغُ مِنْهُ أَبَداً .. وَفَقْراً لاَ يَبْلُغُ غِنَاهُ أَبَداً ..
وَأَمَلاً لاَ يَبْلُغُ مُنْتَهَاهُ أَبَداً
"Barangsiapa
yang memasuki pagi hari sementara dunia menjadi keinginan terbesarnya, maka ia
tidak mendapatkan apa pun dari Allah, dan Allah akan menetapkan empat hal pada
hatinya: duka cita yang tidak pernah putus selamanya, kesibukan yang tidak pernah
ada waktu luang darinya selamanya, kefakiran yang tidak pernah mencapai
kecukupan selamanya, dan angan-angan yang tidak pernah mencapai ujungnya
selamanya." (HR. Ath-Thabrani dalam Al-Mu'jam Al-Ausath).
Ketiga:
Islam
memperingatkan agar cinta dunia tidak menguasai hati sehingga melalaikannya
dari mempersiapkan bekal untuk akhirat. Maka Islam mendorong sikap zuhud
terhadap dunia dan membebaskan jiwa dari tawanannya. Nabi ﷺ bersabda:
مَنْ أَحَبَّ
الدُّنْيَا وَسُرَّ بِهَا ذَهَبَ خَوْفُ الآخِرَةِ مِنْ قَلْبِهِ
"Barangsiapa
yang mencintai dunia dan merasa bahagia dengannya, maka rasa takut terhadap
akhirat akan hilang dari hatinya."
Filosofi
zuhud dalam Islam tidaklah merintangi seseorang dari berjuang, bekerja,
berproduksi, dan memakmurkan dunia sebagaimana yang dipahami oleh sebagian
orang. Melainkan tujuannya adalah memelihara jiwa dari penghambaan kepada
kehidupan, bersisian dengan seruan yang tegas untuk berusaha dan bekerja.
Rasulullah ﷺ
pernah ditanya tentang hakikat zuhud, maka beliau bersabda:
أَمَا إِنَّهُ مَا هُوَ
بِتَحْرِيمِ الْحَلاَلِ وَلاَ إِضَاعَةِ الْمَالِ ، وَلَكِنَّ الزُّهْدَ فِي
الدُّنْيَا أَنْ تَكُونَ بِمَا فِي يَدِ اللهِ أَوْثَقَ مِنْكَ بِمَا فِي يَدِكَ
"Ketahuilah
bahwa zuhud itu bukanlah dengan mengharamkan yang halal dan bukan pula
membuang-buang harta. Akan tetapi, zuhud terhadap dunia adalah engkau lebih
percaya/yakin pada apa yang ada di tangan Allah daripada apa yang ada di
tanganmu."
Imam
Ahmad bin Hanbal pernah ditanya: "Apakah seseorang bisa menjadi orang
yang zuhud sementara ia memiliki uang seribu dinar?" Beliau menjawab: "Ya."
Ditanyakan lagi: "Apa tandanya?" Beliau menjawab: "Tandanya
adalah jika hartanya bertambah ia tidak terlalu bergembira, dan jika hartanya
berkurang ia tidak bersedih..."
Para
da'i hari ini berada dalam bahaya yang sangat besar dari godaan dunia yang
menyeret mereka dan menurunkannya melalui syahwat mereka, sehingga mereka
memulai dari dosa-dosa kecil lalu jatuh ke dalam dosa-dosa besar...
Dunia
ini—yang telah mengambil perhiasannya, dihiasi, disempurnakan fitnah-fitnahnya,
serta beraneka ragam bentuknya—tidak boleh disikapi dengan kelonggaran dan
kecenderungan padanya. Barangsiapa yang bersikap longgar padanya, maka dunia
akan mengikis imannya dan merusak keislamannya. Sungguh benar Muhammad bin
Abdullah ﷺ
ketika bersabda memperingatkan:
لَتَأْتِيَنَّكُمْ
بَعْدِي دُنْيَا تَأْكُلُ إِيمَانَكُمْ كَمَا تَأْكُلُ النَّارُ الْحَطَبَ
"Sungguh
akan datang kepada kalian setelahku dunia yang memakan iman kalian sebagaimana
api memakan kayu bakar."
Maka
hendaklah para da'i takut akan petir-petir langit dan peringatan-peringatan
azab, saat mereka mengarungi Samudra ujian dan menghadapi berbagai tikungan
jalan.
"Mereka
itulah orang-orang yang membeli kehidupan dunia dengan (kehidupan) akhirat,
maka tidak akan diringankan azabnya dan mereka tidak akan ditolong."
(QS. Al-Baqarah: 86)
Keempat:
Islam
mendorong agar tujuan dari memakmurkan dunia, bekerja di dalamnya,
mengeksplorasi kekayaannya, menyingkap hal-hal yang belum diketahui, serta
menundukkan orbit-orbitnya, adalah untuk menegakkan kebaikan, mewujudkan
keadilan, dan mengikuti kebenaran. Dalam timbangan Islam, tidak ada keutamaan
bagi orang yang tersesat dari jalan ini betapa pun tingginya ilmu, pengetahuan,
dan kekuatan yang dicapainya, karena ia justru akan menjadi pemicu kerusuhan
dan kehancuran dunia. Isyarat Al-Qur'an menyentuh inti dari makna ini melalui
firman-Nya:
"Barangsiapa
menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya Kami sempurnakan balasan
pekerjaan mereka di dunia dengan sempurna dan mereka di dunia tidak akan
dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat kecuali neraka,
dan gugurlah apa yang telah mereka usahakan di dunia dan sialah apa yang telah
mereka kerjakan." (QS. Hud: 15-16)
Pendidikan
Aplikatif dalam Islam (At-Tarbiyah Al-'Amaliyyah)
Islam
tidak cukup hanya dengan menyusun teori-teori dalam membentuk individu,
melainkan juga membawa mereka menempuh jalan aplikatif-praktis dan kurikulum
pembinaan berbasis pengalaman (al-manahij at-tarbawiyyah al-tajribiyyah).
Barangsiapa
yang mengamati dari dekat model-model pembinaan aplikatif pada zaman kenabian,
ia akan menemukan banyak petunjuk dan cara-cara praktis dalam pembinaan dan
pendidikan. Rasulullah ﷺ
tidak cukup hanya menuntut umat Islam dengan faham fikih dan arahan yang mereka
dapatkan di Darul Arqam, melainkan beliau keluar bersama mereka menuju
masyarakat jahiliah untuk menantang pemikiran dan kepercayaan manusia, serta
mengarungi perang terbuka melawan jahiliah yang tujuan pertama dan utamanya
adalah: memproklamirkan penghambaan hanya kepada Allah di bumi, tunduk pada
kekuasaan-Nya, serta patuh pada perintah-Nya.
Dunia
menjadi sangat hina di mata mereka... Sehingga dunia dengan segala godaan dan
fitnahnya tidak mampu mencapai telapak kaki mereka. Sampai-sampai musuh-musuh
mereka menggambarkan mereka dengan ungkapan: "Mereka adalah kaum yang
kematian lebih disukai oleh salah seorang dari mereka daripada kehidupan, dan
kerendahan hati lebih disukai oleh salah seorang dari mereka daripada kedudukan
tinggi. Tidak ada seorang pun dari mereka yang memiliki hasrat maupun ketamakan
terhadap dunia. Duduknya mereka hanyalah di atas tanah, dan makan mereka di
atas lutut mereka..."
Mush'ab
bin Umair adalah putra tunggal dari seorang ibu yang memiliki kekayaan dan
kedudukan tinggi... Setiap pemudi di Mekkah mendambakannya untuk menjadi suami
dan pendamping hidupnya. Namun ketika ia masuk Islam, ibunya mengancam akan
merampas seluruh kekayaannya, tetapi ia tidak memedulikannya. Ibunya kemudian
bersumpah tidak akan mengecap makanan sedikit pun sampai Mush'ab meninggalkan
Islam. Maka Mush'ab tidak menambah melainkan berkata dengan penuh iman dan
keteguhan: "Demi Allah, wahai Ibunda, seandainya engkau memiliki
seratus nyawa yang keluar satu demi satu, aku tidak akan pernah meninggalkan
agama Muhammad." Orang-orang yang mengenalnya pada masa jahiliah
menceritakan bahwa mereka melihatnya setelah masuk Islam berjalan di jalanan
Mekkah tanpa mengenakan pakaian melainkan kain lapuk yang hampir tidak menutupi
tubuhnya.
Peristiwa
Hijrah merupakan simpul lain dari simpul-simpul pembinaan praktis pada diri
umat Islam. Mereka diseru untuk melepaskan seluruh apa yang mereka miliki, dan
meninggalkan negeri tempat mereka hidup. Dalam hal ini terdapat penghentian
usaha, kehancuran perdagangan, serta perpisahan dengan keluarga dan kerabat...
Namun orang-orang beriman menyambut seruan hijrah tersebut, merelakan seluruh
kepentingan mereka demi Islam, dan mengorbankan apa yang paling berharga yang
mereka miliki.
Diriwayatkan
bahwa ketika Suhaib Ar-Rumi keluar untuk berhijrah, orang-orang kafir Quraisy
menghadangnya di jalan dan berkata kepadanya: "Engkau datang kepada
kami dalam keadaan miskin dan hina, lalu hartamu menjadi banyak di tempat kami
dan engkau mencapai kedudukan yang telah engkau capai. Kemudian engkau ingin
keluar membawa hartamu dan dirimu? Demi Allah, hal itu tidak akan terjadi..."
Maka Suhaib berkata kepada mereka: "Bagaimana pendapat kalian jika aku
menyerahkan hartaku kepada kalian, apakah kalian akan membiarkan jalanku?"
Mereka menjawab: "Ya." Suhaib berkata: "Maka
sesungguhnya aku serahkan hartaku untuk kalian..." Ketika berita itu
sampai kepada Rasulullah ﷺ,
beliau bersabda:
رَبِحَ صُهَيْبٌ ،
رَبِحَ صُهَيْبٌ
"Suhaib
telah beruntung, Suhaib telah beruntung."
Demikianlah
prinsip-prinsip Islam terwujud nyata dalam kehidupan para da'i... Perilaku
harian mereka serta tindakan khusus maupun umum mereka merupakan realitas
pergerakan (waqi' haraki) dari teori Islam. Hal inilah yang memungkinkan
mereka melewati seluruh tikungan jalan dan menghadapi setiap rintangan dengan
sukses.
Gerakan
Islam pada zaman ini sangat membutuhkan agar para da'inya mengarungi
kurikulum-kurikulum praktis-aplikatif, yang dapat mengikis faktor-faktor
kelemahan dan keraguan dari jiwa mereka, serta mempersiapkan mereka untuk
menghadapi berbagai kemungkinan dan kesempatan...
"Dan
orang-orang yang berjihad untuk (mencari keridhaan) Kami, benar-benar akan Kami
tunjukkan kepada mereka jalan-jalan Kami. Dan sesungguhnya Allah benar-benar
beserta orang-orang yang berbuat baik." (QS. Al-'Ankabut: 69)
DAI
DI ANTARA PEMAHAMAN DAN PENERAPAN
- Pemahaman
yang Benar
- Interaksi dan
Penerapan
- Ilmu dan Amal
- Di Antara Rahasia dan
Terang-terangan
Menurut
pendapat saya, tanggung jawab para dai terhadap diri mereka sendiri jauh lebih
besar daripada tanggung jawab mereka terhadap masyarakat. Bahaya kelalaian
dalam menunaikan hak-hak dan kewajiban dai terhadap dirinya sendiri melebihi
bahaya kelalaian dalam menunaikan hak-hak masyarakat atas dirinya. Sebab, para
dai sudah seharusnya menjadi keteladanan yang baik (uswah hasanah) bagi
masyarakat tempat mereka hidup. Jejak-jejak risalah yang mereka serukan kepada
manusia hendaknya tampak nyata dalam kehidupan mereka, dan tolok ukur
prinsip-prinsip yang mereka usung hendaknya tergambar jelas dalam setiap
langkah mereka. Dengan demikian, setiap orang di sekitar mereka dapat merasakan
dan melihat keberadaan agama ini secara aplikatif (al-wujûd al-harakî)
serta pergerakannya secara organis (al-taharruk al-‘udhwî). Hal ini
memberikan pengaruh yang sangat mendalam dalam ranah dakwah dan penyampaian
risalah (at-tablîgh).
Al-Qur'an
al-Karim telah menempelak orang-orang yang menasihati manusia tetapi mereka
sendiri tidak mengambil pelajaran, serta melarang manusia tetapi mereka sendiri
tidak berhenti dari larangan tersebut. Allah Ta'ala berfirman:
"Mengapa
kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan
dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu
mengerti?" (QS. Al-Baqarah [2]: 44)
"Wahai
orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? (Sangat) dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak
kamu kerjakan." (QS. Ash-Saff [61]: 2-3)
Oleh
karena itu, seorang dai wajib memulai dari dirinya sendiri terlebih dahulu.
Pemahaman
yang Benar (Al-Fahm ash-Shahîh)
Ia
harus memulai dengan memahami Islam secara benar dan mendalam, yang bersumber
dari asas-asas dan mata air pertamanya: Al-Qur'an al-Karim, Sunnah nabawiyah
yang disucikan, serta rekam jejak sejarah Nabi (sirah nabawiyah) yang
harum. Kemudian berlanjut pada karya-karya bernilai tinggi dan berharga yang
memenuhi perpustakaan Islam modern, sehingga terbentuk dalam dirinya konsep (tasawwur)
yang benar tentang agama ini; tentang hukum-hukum dan syariatnya, karakteristik
dan keunggulannya, akidah dan ibadahnya, serta tujuan dan cita-citanya terhadap
jiwa, masyarakat, dan negara.
Seorang
dai juga harus menelaah perjalanan hidup kenabian dan para nabi melalui
berbagai sikap dan peristiwa, kesabaran dan keteguhan, serta pengorbanan dan
perjuangan (jihad); juga melalui perilaku, muamalah, akhlak, dan ibadah
mereka.
Hendaknya
ia memberikan perhatian khusus kepada Al-Qur'an sebagai pemekar hatinya, cahaya
bagi mata hatinya (basîrah), dan kurikulum (manhaj) kerangka
kehidupannya. Hendaknya penerimaannya terhadap ayat-ayat Allah serta tingkat
pengaruhnya pada dirinya bagaikan seseorang yang baru pertama kali dituruni
wahyu. Dengan begitu, ia menyadari bahwa dialah yang dimaksud dalam setiap
khitab (seruan), dan dialah yang dituju dalam setiap perintah. Hal inilah yang
akan mewujudkan interaksi (tafa'ul), keterpengaruhan (ta'atstsur),
peleburan (indimâj) ke dalam atmosfer Al-Qur'an, serta pemanfaatan
darinya.
Hati
para dai hanya akan menjadi lurus, kaki mereka teguh, dan kehidupan mereka
istikamah sebanding dengan luasnya penelaahan mereka terhadap Al-Qur'an ini dan
sedalam apa pemahaman mereka terhadapnya, serta sejauh mana interaksi dan
keterpengaruhan mereka oleh agama ini. Sungguh benar Rasulullah ﷺ ketika bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ
خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barang
siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, maka Allah akan memahamkannya dalam
agama." (HR. Bukhari dan Muslim)
Serta
sabda beliau ﷺ:
النَّاسُ مَعَادِنُ،
خِيَارُهُمْ فِي الْجَاهِلِيَّةِ خِيَارُهُمْ فِي الْإِسْلَامِ إِذَا فَقِهُوا
"Manusia
itu ibarat barang tambang. Orang-orang terbaik di antara mereka pada masa
Jahiliah adalah orang-orang terbaik pula dalam Islam apabila mereka paham
(faktual/fagih)." (HR. Bukhari dan Muslim)
Jiwa
manusia terhadap Islam bagaikan tanah terhadap hujan; di antaranya ada yang
mengambil manfaat dan memberikan manfaat, ada yang mengambil manfaat tetapi
tidak memberikan manfaat, dan ada pula yang tidak mengambil manfaat serta tidak
memberikan manfaat. Rasulullah ﷺ telah membuat perumpamaan tentang hal tersebut dalam sabdanya:
مَثَلُ مَا بَعَثَنِي
اللهُ بِهِ مِنَ الْهُدَى وَالْعِلْمِ كَمَثَلِ الْغَيْثِ الْكَثِيرِ أَصَابَ
أَرْضًا، فَكَانَ مِنْهَا نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الْمَاءَ فَأَنْبَتَتِ الْكَلَأَ
وَالْعُشْبَ الْكَثِيرَ، وَكَانَتْ مِنْهَا أَجَادِبُ أَمْسَكَتِ الْمَاءَ،
فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ فَشَرِبُوا وَسَقَوْا وَزَرَعُوا، وَأَصَابَتْ
مِنْهَا طَائِفَةً أُخْرَى إِنَّمَا هِيَ قِيعَانٌ لَا تُمْسِكُ مَاءً وَلَا تُنْبِتُ كَلَأً، فَذَلِكَ
مَثَلُ مَنْ فَقُهَ فِي دِينِ اللهِ وَنَفَعَهُ مَا بَعَثَنِي اللهُ بِهِ فَعَلِمَ
وَعَلَّمَ، وَمَثَلُ مَنْ لَمْ يَرْفَعْ بِذَلِكَ رَأْسًا وَلَمْ يَقْبَلْ هُدَى
اللهِ الَّذِي أُرْسِلْتُ بِهِ
"Perumpamaan
petunjuk dan ilmu yang dengannya Allah mengutusku adalah seperti hujan lebat
yang menyiram bumi. Di antara tanah itu ada yang subur (naqiyyah),
menyerap air lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang banyak. Di
antaranya ada pula tanah yang keras (ajâdib), menahan air sehingga
dengannya Allah memberi manfaat kepada manusia; mereka minum, memberi minum
(ternak), dan bercocok tanam. Dan hujan itu juga mengenai kelompok tanah yang
lain, yaitu tanah tandus (qî'ân) yang tidak dapat menahan air dan tidak
dapat menumbuhkan rumput. Demikian itulah perumpamaan orang yang paham tentang
agama Allah dan memanfaatkan apa yang Allah utus aku dengannya, maka ia tahu
dan mengajarkan; serta perumpamaan orang yang tidak peduli (tidak mengangkat
kepalanya) dengan hal itu dan tidak menerima petunjuk Allah yang aku diutus
dengannya." (HR. Bukhari dan Muslim)
Sudah
sepantasnya bagi para dai untuk bersegera mempelajari Islam sejak usia muda,
sebelum mereka terserap oleh berbagai kesibukan dan sebelum waktu terasa sempit
bagi mereka. Al-Muhallab—semoga Allah meridainya—berwasiat kepada anak-anaknya
dengan berkata: "Belajarlah kalian sebelum kalian menjadi pemimpin,
agar kepemimpinan tidak merintangi kalian dari menuntut ilmu..."
Interaksi
dan Penerapan (At-Tafâ'ul wa at-Tatbîq)
Jika
para dai membutuhkan pemahaman yang lurus tentang Islam dan konsepsi yang utuh
mengenainya, maka kebutuhan mereka untuk berinteraksi (tafa'ul)
dengannya jauh lebih besar. Mereka membutuhkan aplikasi praktis atas
prinsip-prinsip, gagasan, dan perilakunya, agar kehidupan mereka menjadi
penerjemah yang jelas bagi teks-teks Islam serta menjadi cerminan mulia bagi
nilai-nilai yang dikandungnya.
Sesungguhnya
para dai wajib meneladani jejak dakwah dalam setiap urusan mereka; dalam
perkataan dan perbuatan, dalam kehidupan pribadi maupun publik. Baik sebagai
individu, di dalam rumah tangga sebagai suami dan ayah, maupun di tengah
masyarakat sebagai pekerja, pemilik usaha, atau pegawai. Hal inilah yang
ditegaskan oleh Ali bin Abi Thalib karramallâhu wajhah melalui
perkataannya: "Barang siapa yang menjadikan dirinya sebagai pemimpin
(imâm) bagi manusia, hendaknya ia memulai dengan mengajari dirinya sendiri
sebelum mengajari orang lain. Hendaknya pembinaan dirinya melalui rekam jejak
perilakunya dilakukan sebelum pembinaan dengan lidahnya. Orang yang mengajari
dan membina dirinya sendiri lebih berhak untuk dihormati daripada orang yang
mengajari dan membina manusia."
Apakah
yang akan dituai oleh orang-orang yang mengatakan apa yang tidak mereka
kerjakan, menasihati tetapi tidak mengambil pelajaran, serta memberi petunjuk
tetapi tidak mau diberi petunjuk, melainkan cemoohan dari para hamba dan
kemurkaan dari Tuhan para hamba? Mereka merugi agama dan dunianya, dan itulah
kerugian yang nyata. Asy-Sya'bi berkata: "Pada hari kiamat, sekelompok
penghuni surga akan melihat sekelompok penghuni neraka, lalu mereka bertanya:
'Apa yang memasukkan kalian ke dalam neraka? Padahal kami masuk surga hanyalah
berkat pendidikan dan pengajaran kalian?' Maka mereka menjawab: 'Dahulu kami
memerintahkan kebaikan tetapi kami tidak mengerjakannya, dan kami melarang
keburukan tetapi kami justru mengerjakannya'."
Dari
sinilah menjadi kewajiban bagi para dai untuk bersikap tegas dalam melakukan
hisab (introspeksi) terhadap diri mereka sendiri, serta memegang teguh
prinsip-prinsip utama (azâ'im) hingga diri mereka istikamah dalam
ketaatan kepada Allah Azza wa Jalla. Diriwayatkan bahwa Allah Ta'ala berfirman
kepada Isa 'alaihissalam: "Wahai Putra Maryam, nasihatilah dirimu
sendiri. Jika engkau telah berhasil mengambil pelajaran darinya, maka
nasihatilah manusia. Jika tidak, maka malu lah kepada-Ku."
Di
Antara Rahasia dan Terang-terangan (Baina as-Sirr wa al-'Alâniyah)
Hendaknya
seorang dai lebih antusias dalam memperbaiki kondisi rahasia (batin)-nya
daripada memperbaiki kondisi terang-terangan (zahir)-nya. Hendaknya
perhatiannya terhadap kebersihan batinnya lebih besar daripada perhatiannya
terhadap kebersihan lahiriahnya, dan alangkah indahnya jika kedua hal tersebut
dapat terwujud secara bersamaan.
Seorang
dai wajib berlaku jujur dan terbuka terhadap dirinya sendiri sehingga ia tidak
menipunya, serta jujur kepada manusia sehingga ia tidak bersikap riya dan
munafik kepada mereka. Hendaknya setiap dai mendengarkan apa yang dikatakan
oleh Ibnus-Sammak dalam makna ini: "Betapa banyak orang yang
mengingatkan kepada Allah namun ia sendiri melupakan Allah... Betapa banyak
orang yang menakut-nakuti dengan nama Allah namun ia sendiri bertindak nekat
melanggar larangan Allah... Betapa banyak orang yang didekatkan kepada Allah
namun ia sendiri jauh dari Allah... Betapa banyak orang yang mengajak kepada
Allah namun ia sendiri lari dari Allah... Dan betapa banyak orang yang membaca
Kitabullah namun ia sendiri terlepas dari ayat-ayat Allah."
Maka,
seorang dai sudah sepatutnya takut kepada Allah, bukan kepada manusia. Ia harus
ikhlas kepada-Nya baik dalam keadaan rahasia maupun terang-terangan. Jangan
sampai secara lahiriah ia berwujud malaikat, namun secara batiniah ia berwujud
setan.
Hendaknya
ia berhati-hati jangan sampai termasuk orang-orang yang dimaksud oleh Allah
dalam firman-Nya:
"Merekā
dapat bersembunyi dari manusia, tetapi mereka tidak dapat bersembunyi dari
Allah, padahal Dia bersama mereka..." (QS. An-Nisa' [4]: 108)
Hendaknya
ia mengetahui bahwa Allah sangat dekat dengannya, Maha Melihat keadaannya,
serta mengetahui rahasia dan bisikannya:
"...Tidak
ada pembicaraan rahasia antara tiga orang, melainkan Dialah yang keempatnya.
Dan tidak ada (pembicaraan antara) lima orang, melainkan Dialah yang keenamnya.
Dan tidak ada yang kurang dari itu atau lebih banyak, melainkan Dia pasti ada
bersama mereka di mana pun mereka berada. Kemudian Dia akan memberitahukan
kepada mereka pada hari Kiamat apa yang telah mereka kerjakan. Sesungguhnya
Allah Maha Mengetahui segala sesuatu." (QS. Al-Mujadilah [58]: 7)
Semoga
Allah meratai Rabi'ah (Adawiyah) ketika ia senantiasa mengulang-ulang syair:
Jika Rabbku bertanya kepadaku:
"Tidakkah engkau malu bermaksiat kepada-Ku?"
"Engkau menyembunyikan dosa dari makhluk-Ku,"
"Lalu engkau datang membawa maksiat kepada-Ku."
Lantas apakah jawabanku kepada-Nya ketika
Dia
menghisabku dan menjagalkanku?
Kesimpulan
dari seluruh pembahasan ini adalah bahwa tanggung jawab para dai terhadap
masyarakat tidak boleh memalingkan mereka dari tanggung jawab terhadap diri
mereka sendiri. Kesibukan mereka dalam membenahi manusia hendaknya tidak
mengalihkan mereka dari membenahi keadaan diri sendiri. Adalah kewajiban mereka
untuk menunaikan tanggung jawab tersebut secara tuntas dan penuh, baik terhadap
diri mereka sendiri maupun terhadap masyarakat mereka.
KEPEMIMPINAN
DI ANTARA BIMBINGAN DAN PENGORGANISASIAN
- Pentingnya
Pengorganisasian
- Kepemimpinan
Sebagai Sumber Pengorganisasian
- Definisi
Kepemimpinan
- Karakteristik Kepemimpinan
Menurut
keyakinan saya, gerakan dakwah Islam pada zaman ini mengalami apa yang disebut
sebagai kemelaratan/krisis dalam hal pengorganisasian (at-tanzhîm). Saya
tidak dianggap berlebihan jika mengatakan bahwa perhatian gerakan Islam (al-harakah
al-islâmiyyah) dalam menyiapkan para dai yang visioner, penceramah, dan
penasihat jauh melampaui perhatiannya dalam mencetak para pemimpin yang
terorganisir (qâdah munazhghamîn). Bahkan persentase yang sangat kecil
dalam ranah pembentukan organisatoris ini pun sering kali terlahir secara
kebetulan semata, dan jarang sekali dihasilkan dari perencanaan yang matang dan
tekad yang bulat.
Bahkan
pusat-pusat kepemimpinan (al-marâkiz al-qiyâdiyyah) dalam kehidupan
dakwah telah menjadi arena di mana tidak ada yang dicalonkan untuk mendudukinya
kecuali para pemilik kapabilitas umum dan bimbingan/orasi (al-kafâ'ât
al-'âmmah wa at-tawjîhiyyah) tanpa melihat pada kapasitas organisatoris (al-qudrât
at-tanzhîmiyyah). Hampir-hampir tidak ada seorang saudara (akh) yang
unggul dalam bidang pidato (khithâbah) atau berkapasitas secara
akademis, melainkan ia akan melihat dirinya langsung diusung untuk memegang
tanggung jawab dari berbagai tanggung jawab kepemimpinan organisasi yang
mungkin saja ia tidak layak memegangnya. Hal ini pada umumnya menyebabkan kegagalannya
dalam banyak tugas, yang pada gilirannya mengakibatkan saudara tersebut
kehilangan kepercayaan dirinya sendiri akibat reaksi psikologis yang menimpanya
akibat kegagalan yang beruntun.
Sangat
disayangkan bahwa peristiwa-peristiwa ini terus terjadi berulang kali, padahal
hal itu seharusnya mendorong untuk berpikir, mengevaluasi, serta bekerja untuk
menanggulanginya dan menghentikannya.
Pentingnya
Pengorganisasian (Ahammiyyat at-Tanzhîm)
Kita
dapat menyatakan bahwa "pengorganisasian" (at-tanzhîm)
merupakan salah satu faktor terkuat bagi keberhasilan gerakan-gerakan. Betapa
banyak gerakan politik dan kepartaian yang berhasil berkat perencanaan yang
sadar dan pengorganisasian yang presisi, sementara gerakan lainnya gagal
disebabkan oleh kekacauan dan improvisasi yang tanpa arah.
Karakter
dasar Islam itu sendiri menolak segala bentuk kekacauan dan segala jenis
improvisasi. Tidak ada satu pun manhaj di dunia ini hingga hari ini yang begitu
menaruh perhatian pada pengorganisasian rincian kehidupan manusia—bahkan
kehidupan sehari-hari dan urusan pribadinya—sebagaimana perhatian yang
diberikan oleh Islam.
Sesungguhnya
gerakan Islam saat ini sedang mengalami kelemahan kapasitas pengorganisasian
dalam berbagai perangkat organsisasinya, yang kerap kali menyebabkan
terkurasnya potensi dan terbuangnya waktu secara sia-sia.
Oleh
karena itu, termasuk topik pengorganisasian yang paling penting adalah hal-hal
yang berkaitan dengan kepemimpinan (al-qiyâdah), kriteria, serta
karakteristiknya.
Apakah
Kepemimpinan Itu? (Mâ Hiya al-Qiyâdah)
Kepemimpinan—dalam
setiap bentuk kepemimpinan—adalah seni mengelola karakter manusia, memengaruhi
perilaku manusia, serta mengarahkannya menuju tujuan tertentu dengan cara yang
menjamin kepatuhan, kepercayaan, dan penghormatan mereka.
Keberhasilan
seorang "pemimpin" (al-qâ'id) dalam tugasnya ini bergantung
pada sejauh mana ia memiliki keutamaan dan karakteristik tertentu. Perlu
diketahui bahwa terdapat beberapa sifat bawaan (fithriyyah) yang dapat
membantu mengembangkan potensi kepemimpinan, namun hal itu hanya sampai pada
batas dan kadar tertentu. Kepribadian kepemimpinan (asy-syakhshiyyah
al-qiyâdiyyah) tetap wajib disempurnakan dengan berbagai kemampuan lainnya;
baik kemampuan pemikiran, spiritual, fisik, pengorganisasian, akhlak, maupun
kepribadian.
Kedudukan
seorang "pemimpin" dalam suatu gerakan—gerakan apa pun—merupakan
kedudukan yang sangat sensitif. Selama sifat-sifat kepemimpinan yang diperlukan
tidak tersedia dalam kepribadiannya, maka posisi kepemimpinan tersebut akan
tetap guncang dan tidak stabil, setinggi apa pun tingkat wawasan pemikiran (tsaqâfah
fikriyyah) atau kemampuan berpidato (qudrah khithâbiyyah) yang
dimiliki oleh pemimpin tersebut. Sebab, logika gerakan (manthiq al-harakah)
berbeda dengan logika kata-kata. Dakwah adalah suatu instrumen gerakan yang
terpadu (jihâz harakî mutakâmil) yang tidak akan mungkin dapat
dikendalikan ritme gerakannya, diperhitungkan langkahnya, serta diarahkan laju
dan dinamika emosinya kecuali dengan logika pengorganisasian, perencanaan, dan
kedisiplinan (inshibât)...
Kejernihan
Jiwa dan Harumnya Spiritual (Ash-Shafâ' an-Nafsî wa al-'Abaq ar-Rûhî)
Termasuk
hal terpenting yang wajib dimiliki oleh seorang pemimpin muslim adalah
kejernihan jiwa (shafâ' an-nafs) dan keharuman ruh ('abaq ar-rûh).
Ia harus merasakan beratnya amanah yang dipikulnya, dan bahwa dialah orang yang
paling utama untuk menunaikannya dan berinteraksi dengannya.
Sebagaimana
ia juga tidak boleh terpalingkan oleh tanggung jawab kepemimpinan dan
kewajiban-kewajiban umumnya—seberapa pun banyaknya dan besarnya—dari
memperhatikan dirinya sendiri, menyibukkan diri dengan cacat-cacat dirinya,
serta meneliti dosa-dosanya. Jangan sampai ia tertipu oleh amalan-amalan
beruntun yang dilakukannya, karena amalan-amalan tersebut bisa saja kehilangan
unsur "keikhlasan" (al-ikhhlâsh) sehingga di sisi Allah
menjadi bagaikan debu yang diterbangkan angin. Sebab, Allah tidak menerima
kecuali apa yang suci dan baik. Maha Benar Allah Al-'Azhim ketika berfirman:
"Dan
Kami akan perlihatkan segala amal yang telah mereka kerjakan, lalu Kami jadikan
amal itu (bagaikan) debu yang beterbangan." (QS. Al-Furqan [25]: 23)
Ia
wajib senantiasa merasa diawasi oleh Allah (murâqabatullâh), selalu
mengingat kematian, kubur, surga, dan neraka, bagus ibadahnya, banyak melakukan
perjalanan (tanaqqul), serta menjaga salat malam (qiyâmul lail).
Sesungguhnya bangun di waktu malam itu adalah lebih tepat (untuk khusyuk) dan
bacaan di waktu itu lebih berkesan.
Kesehatan
Badan dan Kekuatan Fisik (Ash-Shihhah al-Badaniyyah wa al-Quwwah
al-Jasadiyyah)
Seorang
pemimpin tidak boleh mengabaikan urusan kesehatan dan tubuhnya. Orang mukmin
yang kuat itu lebih baik dan lebih dicintai oleh Allah daripada orang mukmin
yang lemah. Tuntutan-tuntutan dakwah dan beban tanggung jawab tidak akan
sanggup dipikul oleh orang-orang yang berbadan lemah dan bertubuh
sakit-sakitan.
Kedudukan
kepemimpinan adalah kedudukan yang membutuhkan pemikiran yang terus-menerus,
kerja yang berkesinambungan, serta perjuangan (jihad) yang tiada henti.
Kemampuan-kemampuan ini terhubung secara saraf dengan pusat-pusat organ
tubuhnya. Selama organ tubuh, indra, dan seluruh sistem organ tidak dalam
keadaan sehat dan aktif, maka ia akan kehilangan kemampuan untuk memasok
kebutuhan-kebutuhan vital kesehatan yang diperlukan manusia.
Kemampuan
Akal dan Asupan Pemikiran (Al-Qudrât al-'Aqliyyah wa al-Aghdziyah
al-Fikriyyah)
Akal—demikian
pula halnya—membutuhkan materi-materi asupan yang dapat mewujudkan pertumbuhan,
kematangan, dan keseimbangannya.
Asupan
pemikiran (al-aghdziyah al-fikriyyah) bagi seorang pemimpin haruslah
bervariasi. Jangan sampai ada yang mengatakan: "Aku cukup mencukupkan
diri dengan wawasan keislaman saja tanpa wawasan-wawasan lainnya."
Jika logika seperti ini dapat diterima pada masa lalu, maka logika tersebut
ditolak pada hari ini, di mana berbagai seruan telah bercampur aduk, pandangan
dan konsep telah beragam, serta kebudayaan telah bermacam-macam.
Selama
pemimpin tersebut tidak berada pada wawasan dan penelaahan tingkat baik yang
selaras dengan dinamika kehidupan politik dan peristiwa-peristiwa hariannya,
maka ia tidak akan mampu menghadapi tanggung jawab, menaklukkan tantangan,
serta memimpin rombongan dengan kepemimpinan yang bijaksana (rasyîdah)
dan sadar (wâ'iyah).
Sifat-Sifat
yang Mutlak Bagi Kepemimpinan (Sifât Lâzimah lil Qiyâdah)
1.
Mengenali Dakwah (Ma'rifat ad-Da'wah)
Agar
seorang pemimpin dapat mengenal dakwahnya secara sempurna, ia wajib memahami
dengan sangat baik urusan-urusan pemikiran, bimbingan, dan pengorganisasiannya;
selaras dengan aktivitasnya, serta mengetahui amalan-amalan dan
tindakan-tindakannya.
Jaminan
keberhasilan kepemimpinan hanyalah terletak pada menyatunya pemimpin dengan
konstituen (al-qâ'idah) dan tidak terpisahnya ia dari rombongan yang
bergerak, atau mengisolasi diri di dalam bilik pertapaan (shauma'ah).
Bahkan tanggung jawab kepemimpinan menuntut pemiliknya untuk senantiasa
menjalin hubungan dengan para prajurit/anggota (al-junûd), serta
mengenali pandangan dan permasalahan mereka. Hal demikian mengandung penelaahan
dan studi eksperimental yang sangat berguna bagi kedua belah pihak.
2.
Mengenali Diri Sendiri (Ma'rifat an-Nafs)
Termasuk
kewajiban pemimpin adalah mengenali letak kekuatan dan kelemahan dalam dirinya.
Pemimpin yang tidak mengetahui kapasitas dan kemampuannya tidak akan mungkin
menjadi pemimpin yang sukses. Bahkan hal itu mungkin akan mendatangkan bencana
dan kerugian bagi dakwahnya. Oleh karena itu, ia wajib:
- a. Mengenali
titik-titik kelemahan pada dirinya dan berusaha untuk menguatkannya.
- b. Menemukan
letak-letak kekuatan pada dirinya dan berupaya untuk mendorong serta
mengembangkannya.
- c. Bersemangat untuk
mengembangkan wawasan umum (at-tsaqâfah al-'âmmah), serta menelaah
berbagai topik, pandangan, dan gagasan politik, sosial, ekonomi, dan
lain-lain.
- d. Menaruh perhatian
untuk mempelajari kepribadian para pemimpin muslim maupun selain mereka,
serta mengenali metode dan gaya kepemimpinan mereka, juga sebab-sebab
serta faktor-faktor keberhasilan atau kegagalan mereka.
3.
Pengawasan yang Siaga (Ar-Ri'âyah as-Sâhirah)
Langkah
pemimpin dalam mengamati para anggota, mengenali mereka dengan baik, mengetahui
keadaan serta kondisi khusus dan umum mereka, berbagi kegembiraan dan duka cita
bersama mereka, serta berusaha menyelesaikan masalah-masalah mereka; seluruh
hal ini termasuk hal yang membantunya untuk mengendalikan mereka, meraih
kepercayaan mereka, dan pada akhirnya memanfaatkan potensi mereka dengan baik.
4.
Keteladanan yang Baik (Al-Uswah al-Hasanah)
Para
anggota senantiasa melihat dan menengadah kepada para pemimpin mereka sebagai
contoh-contoh teladan yang baik untuk diikuti dan diteladani jejak langkahnya.
Maka
perilaku, aktivitas, dinamika, akhlak, perkataan, dan perbuatan pemimpin
memiliki pengaruh nyata pada kelompok secara keseluruhan. Rasulullah ﷺ adalah sebaik-baik
teladan bagi para sahabatnya:
"Sungguh,
telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..."
(QS. Al-Ahzab [33]: 21)
Dan
para sahabat beliau—semoga Allah meridai mereka—adalah para pemimpin yang saleh
serta pemberi petunjuk yang mendapat petunjuk. Rasulullah ﷺ menggambarkan mereka
dalam sabdanya:
أَصْحَابِي
كَالنُّجُومِ بِأَيِّهِمِ اقْتَدَيْتُمُ اهْتَدَيْتُمْ
"Sahabat-sahabatku
bagaikan bintang-gemintang, siapa pun di antara mereka yang kalian ikuti,
niscaya kalian akan mendapat petunjuk." (Diriwayatkan dalam kitab-kitab
Asar)
5.
Pandangan yang Tajam (An-Nazhar ats-Tsâqib)
Kemampuan
pemimpin untuk melakukan penilaian secara cepat dan tepat terhadap situasi apa
pun, serta mengambil keputusan secara tegas dalam situasi dan kondisi yang
sulit, merupakan hal yang akan mendatangkan rasa percaya dan penghormatan dari
para anggota.
Adapun
keragu-raguan, ketidakjelasan, kebingungan, dan kegugupan adalah hal-hal yang
akan menciptakan kekacauan, melemahkan kepercayaan, serta menghilangkan
kedisiplinan. Sungguh benar Rasulullah ﷺ ketika bersabda:
إِنَّ اللهَ يُحِبُّ
الْبَصَرَ النَّاقِدَ عِنْدَ وُرُودِ الشُّبُهَاتِ ، وَالْعَقْلَ الْكَامِلَ
عِنْدَ هُجُومِ الشَّهَوَاتِ
"Sesungguhnya
Allah menyukai pandangan yang tajam (al-bashar an-nâqid) saat datangnya
syubhat, dan akal yang sempurna (al-'aql al-kâmil) saat serbuan
syahwat." (Diriwayatkan dalam Asar)
6.
Keinginan/Tekad yang Kuat (Al-Irâdah al-Qawiyyah)
Kekuatan
tekad (irâdah) merupakan salah satu rukun kepribadian kepemimpinan yang
dengannya kesulitan-kesulitan dapat ditundukkan, masalah-masalah dapat
diselesaikan, dan rintangan-rintangan dapat dilalui. Kepemimpinan Islam pada
zaman ini sangat membutuhkan tekad-tekad baja yang mampu menertawakan cobaan
dan krisis...
7.
Daya Tarik Alami (Al-Jâdzibiyyah al-Fithriyyah)
Sifat
ini merupakan karakter alami yang apabila terdapat pada diri seorang pemimpin,
maka ia akan mampu menarik hati manusia tanpa dipaksakan (takalluf).
Elemen ini merupakan salah satu elemen terkuat yang membentuk kepribadian
kepemimpinan.
8.
Optimisme (At-Tafâ'ul)
Optimisme
dianggap sebagai salah satu hal mendasar yang mutlak bagi kepribadian
kepemimpinan. Oleh karena itu, sudah sepatutnya bagi seorang pemimpin untuk
selalu berada dalam keadaan optimistis, menatap masa depan dengan harapan dan
kelapangan dada, tanpa memalingkannya dari sikap waspada terhadap
kejutan-kejutan hari yang akan datang.
Ketahuilah
bahwa rasa putus asa (al-ya's) merupakan faktor berbahaya dari
faktor-faktor keruntuhan dan kehancuran dalam kehidupan individu maupun
kelompok. Tidak boleh menyebut "putus asa" sebagai suatu
"kebijaksanaan", dan "harapan" (al-amal) sebagai
suatu "keringanan dan kecerobohan". Sebagaimana tidak boleh pula
harapan itu tunduk pada gejolak emosi dan lompatan-lompatannya, melainkan
harapan itu harus senantiasa berdampingan dengan akal sehat dan perhitungan.
Kepemimpinan—sebagai
garda depan rombongan dan kepala kafilah—memiliki pengaruh yang sangat mendalam
dan kuat terhadap barisan. Jika kepemimpinan itu gugur dan putus asa, maka ia
akan memaparkan seluruh barisan pada keguguran dan keputusasaan. Namun jika
kepemimpinan itu bertahan teguh di hadapan bencana dan kokoh menghadapi
tantangan, maka ia akan memancarkan semangat harapan dan keberanian ke dalam
jiwa para anggota dan prajurit.
Bagaimana
tidak, padahal Islam pada hari ini sedang mengarungi pertempuran penentu nasib
(ma'rakat mashîr) baik di dalam maupun di luar, pada seluruh tingkatan
dan berbagai medan pertempuran. Maka tidak boleh sama sekali lari dari
pertempuran dan berpaling darinya, melainkan harus bertahan dan bertekad bulat;
bertahan dalam pertempuran dan bertekad bulat untuk membasmi kebatilan dengan
seluruh pilar-pilar perjuangan (jihad):
"...sampai
tidak ada lagi fitnah dan agama itu hanya untuk Allah semata..." (QS.
Al-Anfal [8]: 39)
Sikap-sikap
kenabian yang abadi merupakan pusat-pusat bobot dalam sejarah masa lalu Islam
kita, serta menjadi tempat meneladani dan mengambil pelajaran dalam dinamika
pergerakan masa kini kita, yang wajib kita renungi dalam waktu yang panjang...
Rasulullah
ﷺ dalam dakwahnya telah
menghadapi kampanye-kampanye penindasan, gangguan, dan keraguan yang
terorganisir. Di dalamnya, orang-orang yang menyimpan kedengkian terhadap Islam
menggunakan berbagai jenis gangguan dan siksaan paling keji. Semua itu terjadi
tanpa mampu melunakkan keteguhan Rasulullah ﷺ dan para sahabat beliau sedikit pun.
Bahkan sang Nabi sekaligus Pemimpin tersebut melihat pertolongan Allah dengan
mata "harapan" ketika beliau menghadapi himpunan musuh yang mengepung
Madinah untuk mengintai Islam dan kaum muslimin. Beliau menyampaikan berita
gembira dan ketenangan itu kepada orang-orang mukmin di hadapan situasi yang
mencekam ini, hingga orang-orang munafik dan orang-orang yang di dalam hatinya
ada penyakit berkata: "Muhammad menjanjikan kepada kita perbendaharaan
Kisas (Parsi) dan Kaisar (Romawi), padahal salah seorang dari kita tidak mampu
buang air besar karena sengitnya ketakutan."
Adapun
orang-orang mukmin yang yakin akan pertolongan Allah, mereka memiliki sikap
lain yang diabadikan oleh Al-Qur'an al-Karim dengan segala kebanggaan dan
penghormatan:
"Dan
ketika orang-orang mukmin melihat golongan-golongan yang bersekutu itu, mereka
berkata: 'Inilah yang dijanjikan Allah dan Rasul-Nya kepada kita.' Dan benarlah
Allah dan Rasul-Nya. Dan yang demikian itu tidaklah menambah kepada mereka
melainkan iman dan ketundukan. Di antara orang-orang mukmin itu ada orang-orang
yang menepati apa yang telah mereka janjikan kepada Allah; maka di antara
mereka ada yang gugur. Dan di antara mereka ada (pula) yang menunggu-nunggu dan
mereka tidak mengubah (janjinya) sedikit pun." (QS. Al-Ahzab [33]: 22-23)
Sesungguhnya
Islam saat ini sedang menghadapi tantangan yang sangat besar: tantangan
rasialis (syu'ûbiyyah) atas nama nasionalisme, tantangan sektarianisme
atas nama tanah air, tantangan ateisme atas nama sosialisme dan keadilan
sosial, serta tantangan imperialisme atas nama ilmu pengetahuan dan peradaban.
Sesungguhnya Islam dalam posisinya yang kritis ini wajib menggerakkan seluruh
cita-cita, memusatkan segala potensi, serta membangkitkan rasa percaya dan
harapan:
"...Dan
tidak ada kemenangan itu melainkan dari sisi Allah..." (QS. Ali 'Imran
[3]: 126)
HUBUNGAN
ORGANISASIONAL ANTARA DAKWAH DAN DAI
1. Ketaatan
- Kepada Siapa
Ketaatan Diberikan?
- Kapan
Kemaksiatan Wajib Dilakukan?
- Biasakan Diri
Kalian untuk Taat
2. Tanggung Jawab
- Kesadaran
Internal akan Tanggung Jawab
- Penugasan Pergerakan (at-taklif
al-haraki)
Jika
gerakan Islam (al-harakah al-islamiyyah) di era modern telah memberikan
porsi perhatian dan kepedulian yang sangat besar pada aspek-aspek pemikiran,
pengarahan, dan spiritual... maka aspek organisasional (at-tanzhimi)
belum memperoleh perhatian melainkan sedikit saja, padahal ia berkedudukan
sebagai tulang punggung bagi gerakan tersebut.
Apabila
terdapat faktor-faktor yang memiliki andil atas kokoh dan padunya dakwah di
tengah ketiadaan ikatan organisasional yang rapat, maka faktor tersebut
pertama-tama kembali kepada akidah, kemudian kepada persaudaraan (al-ukhuwwah)
yang hingga hari ini masih menjadi satu-satunya tali pengikat yang memautkan
sesama orang beriman satu sama lain dan mengikat mereka dengan dakwahnya.
Adapun
maksud dari pentingnya menegakkan hubungan organisasional antara dakwah dan dai
bukanlah berarti kita tidak lagi membutuhkan ikatan-ikatan akidah dan
persaudaraan. Namun, hendaknya setiap hubungan memiliki batasan yang tidak
dilampaui. Jika tidak, keseimbangan segala sesuatu akan terganggu, dan gerakan
akan dihadapkan pada banyak krisis, kontradiksi, serta kekacauan di setiap
perangkatnya, bahkan pada setiap langkah dari langkah-langkahnya.
Sesungguhnya
hubungan antara dakwah dan dai hendaknya jelas sejak hari pertama; di mana
individu mengetahui kewajiban-kewajibannya, perannya dalam gerakan, tanggung
jawabnya dalam beramal, serta hal-hal serupa yang menentukan bentuk
keterikatan, tuntutan, dan karakteristiknya.
Di
sini saya akan memaparkan beberapa kaidah mendasar yang hendaknya menjadi
landasan bagi hubungan organisasional antara dakwah dan dai.
1.
Ketaatan
Ketaatan
merupakan salah satu faktor fundamental yang dibutuhkan dalam hubungan
organisasional pada setiap gerakan apa pun.
Suatu
gerakan—gerakan apa pun itu—tidak akan mungkin mencapai tingkat organisasional
yang diharapkan selama unsur ketaatan di dalamnya belum mencapai puncak
kekuatan dan kesempurnaan.
Konsep
ketaatan dalam Islam menggali kekuatan dan jangkauannya dari fondasi-fondasi
agama, baik yang bersifat akidah maupun syariat. Ketaatan seorang saudara
muslim (al-akh al-muslim) terhadap kepemimpinan (al-qiyadah)
merupakan wujud kepatuhannya terhadap perintah Allah. Kepemimpinan dalam Islam
adalah otoritas eksekutif yang bertugas menerapkan hukum-hukum Islam—atau
berupaya dan merintis jalan untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam yang di
dalamnya hukum-hukum ini diterapkan, sebagaimana kondisi gerakan Islam pada
tahap saat ini. Hal ini, tanpa keraguan sedikit pun, merupakan bagian dari
perintah Allah.
Dengan
demikian, ketaatan seorang saudara muslim kepada kepemimpinan tersebut termasuk
bagian dari taat kepada Allah, dan mendurhakainya termasuk bagian dari
bermaksiat kepada Allah. Oleh karena itu, Al-Qur'anul Karim mendorong hal
tersebut melalui firman-Nya:
Wahai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah, taatilah Rasul (Nabi Muhammad), dan
ulilamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. (QS. An-Nisa': 59)
Dan
Rasulullah ﷺ
mengekspresikan hal tersebut melalui sabdanya:
مَنْ أَطَاعَنِي فَقَدْ
أَطَاعَ اللَّهَ، وَمَنْ عَصَانِي فَقَدْ عَصَى اللَّهَ، وَمَنْ يُطِعِ الأَمِيرَ
فَقَدْ أَطَاعَنِي، وَمَنْ يَعْصِ الأَمِيرَ فَقَدْ عَصَانِي
“Barang
siapa yang taat kepadaku maka sungguh ia telah taat kepada Allah, dan barang
siapa yang mendurhakaiku maka sungguh ia telah mendurhakai Allah. Barang siapa
yang taat kepada pemimpin (amir) maka sungguh ia telah taat kepadaku, dan
barang siapa yang mendurhakai pemimpin (amir) maka sungguh ia telah mendurhakai
aku.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Kepada
Siapa Ketaatan Diberikan?
Seorang
saudara muslim wajib mempersiapkan dirinya untuk mematuhi dan menaati
kepemimpinan (al-qiyadah), siapa pun sosok pemimpin tersebut, selama
kepemimpinannya absah secara syar'i (syar'iyyah). Bukanlah termasuk
karakteristik ketaatan dalam Islam apabila ketaatan itu hanya diberikan kepada
sosok tertentu dan tidak kepada yang lain. Ketaatan juga tidak boleh tunduk
pada hawa nafsu dan selera pribadi. Cukuplah sabda Rasulullah ﷺ berikut sebagai
petunjuk atas hal ini:
اسْمَعُوا وَأَطِيعُوا
وَإِنِ اسْتُعْمِلَ عَلَيْكُمْ عَبْدٌ حَبَشِيٌّ كَأَنَّ رَأْسَهُ زَبِيبَةٌ
“Dengarkanlah
dan taatilah, meskipun yang diangkat menjadi pemimpin atas kalian adalah
seorang budak Habasyah (Etiopia) yang kepalanya seperti buah kismis.” [HR.
Bukhari]
Hal
ini sebagaimana yang dilakukan oleh Khalid bin al-Walid radhiyallahu 'anhu
ketika surat pemberhentian dirinya dari pimpinan pasukan dan pengangkatan Abu
Ubaidah bin al-Jarrah sebagai penggantinya tiba. Beliau mematuhi perintah
tersebut dan berkata: "Demi Allah, seandainya Amirul Mukminin
memerintahkan seorang wanita untuk memimpinku, niscaya aku akan mendengar dan
taat."
Kapan
Kemaksiatan Wajib Dilakukan?
Jika
Islam telah mewajibkan seorang saudara muslim untuk menaati kepemimpinannya
dalam hal kebenaran (bil-haqq), maka Islam membebaskannya dari ketaatan
tersebut dalam hal selainnya; bahkan mewajibkan atasnya untuk mendurhakai
perintah tersebut [jika berupa maksiat]. Rasulullah ﷺ bersabda:
عَلَى المَرْءِ
المَسْلِمِ السَّمْعُ وَالطَّاعَةُ فِيمَا أَحَبَّ وَكَرِهَ، إِلاَّ أَنْ يُؤْمَرَ
بِمَعْصِيَةٍ، فَإِذَا أُمِرَ بِمَعْصِيَةٍ فَلاَ سَمْعَ وَلاَ طَاعَةَ
“Wajib
atas seorang muslim untuk mendengar dan taat dalam apa yang ia sukai dan apa
yang ia benci, kecuali jika ia diperintahkan untuk berbuat maksiat. Apabila ia
diperintahkan untuk berbuat maksiat, maka tidak boleh mendengar dan tidak boleh
taat.” [HR. Bukhari dan Muslim]
Diriwayatkan
dari Ali radhiyallahu 'anhu, beliau berkata: Rasulullah ﷺ mengutus suatu
pasukan khusus (sariyyah) dan mengangkat seorang laki-laki dari kaum
Anshar sebagai pemimpinnya, serta memerintahkan mereka untuk mendengar dan taat
kepadanya. Lalu pasukan itu membuatnya marah dalam suatu urusan. Laki-laki itu
berkata: "Kumpulkan kayu bakar untukku!" Maka mereka
mengumpulkannya. Kemudian ia berkata: "Nyalakan api!" Maka
mereka menyalakannya. Lalu ia berkata: "Bukankah Rasulullah ﷺ telah memerintahkan
kalian untuk mendengar dan taat kepadaku?" Mereka menjawab: "Benar."
Ia berkata: "Masuklah ke dalamnya!" Maka sebagian mereka
saling memandang dengan yang lain seraya berkata: "Sesungguhnya kita
lari kepada Rasulullah ﷺ
justru untuk menghindari api." Mereka tetap dalam keadaan demikian
hingga redalah marahnya dan padamlah api tersebut. Ketika mereka kembali,
mereka menceritakan hal itu kepada Rasulullah ﷺ, maka beliau bersabda:
لَوْ دَخَلُوهَا مَا
خَرَجُوا مِنْهَا أَبَدًا، لاَ طَاعَةَ فِي مَعْصِيَةِ اللَّهِ، إِنَّمَا
الطَّاعَةُ فِي المَعْرُوفِ
“Seandainya
mereka masuk ke dalamnya, niscaya mereka tidak akan keluar darinya
selama-lamanya. Tidak ada ketaatan dalam bermaksiat kepada Allah, sesungguhnya
ketaatan itu hanya dalam hal yang baik (al-ma'ruf).” [HR. Bukhari dan
Muslim]
Biasakan
Diri Kalian untuk Taat
Seorang
saudara muslim harus membiasakan dan menundukkan dirinya untuk taat dan
mematuhi perintah kepemimpinan, serta tidak memberikan celah sedikit pun bagi
bisikan-bisikan setan dan hembusan kesombongan di dalam jiwanya. Jiwa-jiwa yang
pembangkang itu sangat sulit untuk dituntun dan sukar untuk dikendalikan.
Kesombongan
adalah penyakit kronis yang mematahkan punggung, serta pintu menuju jiwa yang
darinya setan dapat masuk. Sedangkan ketaatan dan kerendahan hati (at-tawadhu')
ditolak oleh orang-orang yang sombong dan dirasa sangat berat oleh jiwa
orang-orang yang angkuh.
Inilah
Jabalah bin al-Aiham; jiwanya yang pembangkang enggan untuk tunduk pada hukum
Umar Amirul Mukminin radhiyallahu 'anhu, hingga ia meninggalkan Islam
dan memeluk agama Nasrani, serta lebih memilih kesesatan daripada petunjuk.
Abu
Umar asy-Syaibani menceritakan: Ketika Jabalah bin al-Aiham al-Ghassani masuk
Islam—dan ia merupakan salah seorang raja dari keturunan Jafnah—ia berkirim
surat kepada Umar untuk meminta izin menghadap kepadanya. Umar pun
mengizinkannya. Lalu ia berangkat menemui Umar bersama lima ratus orang dari
keluarganya. Umar merasa gembira dan memerintahkan orang-orang untuk
menyambutnya. Ketika ia sampai di hadapan Umar, Umar menyambutnya dengan
hangat, bersikap lembut kepadanya, dan mendekatkan tempat duduknya.
Kemudian
Umar hendak menunaikan ibadah haji, maka Jabalah ikut keluar bersamanya. Ketika
ia sedang bertawaf di Baitullah, tiba-tiba kain sarungnya terinjak oleh seorang
laki-laki dari Bani Fazarah hingga terlepas. Jabalah mengangkat tangannya lalu
memukul hingga mematahkan hidung orang Fazarah tersebut. Orang Fazarah itu
mengadukan hal ini kepada Umar. Umar mengutus utusan untuk memanggil Jabalah,
lalu Jabalah pun datang.
Umar
bertanya: "Apa ini?"
Jabalah
menjawab: "Benar, wahai Amirul Mukminin. Ia sengaja melepas sarungku.
Seandainya bukan karena kehormatan Ka'bah, niscaya aku telah menebas bagian
antara kedua matanya dengan pedang."
Umar
berkata kepadanya: "Engkau telah mengakui perbuatanmu. Maka pilihannya:
engkau membuat orang ini ridha [dengan ganti rugi/maaf], atau aku mengambil
qisas darimu untuknya."
Jabalah
berkata: "Apa yang akan engkau lakukan padaku?"
Umar
berkata: "Aku memerintahkan agar hidungmu dipatahkan sebagaimana yang
telah engkau lakukan."
Jabalah
berkata: "Bagaimana mungkin demikian, wahai Amirul Mukminin, sedangkan
dia rakyat jelata dan aku seorang raja?"
Umar
berkata: "Sesungguhnya Islam telah menyetarakan engkau dengannya.
Engkau tidak memiliki kelebihan atasnya melainkan dengan ketakwaan dan
keselamatan."
Jabalah
berkata: "Sungguh aku sebelumnya mengira, wahai Amirul Mukminin, bahwa
aku di dalam Islam akan menjadi lebih mulia daripada saat aku di zaman
Jahiliyah."
Umar
berkata: "Tinggalkan pengandaian ini! Sebab jika engkau tidak membuat
orang itu ridha, aku akan mengambil qisas darimu untuknya."
Jabalah
berkata: "Jika demikian, aku akan masuk Nasrani!"
Umar
berkata: "Jika engkau masuk Nasrani, aku akan memenggal lehermu. Karena
engkau telah masuk Islam, maka jika engkau murtad, aku akan membunuhmu."
Ketika
Jabalah melihat kesungguhan Umar, ia berkata: "Aku akan
mempertimbangkan hal ini malam ini." Hingga ketika orang-orang telah
tidur, Jabalah melarikan diri bersama kuda-kuda dan rombongannya menuju Syam,
dan dari sana melarikan diri ke Konstantinopel lalu memeluk agama Nasrani [Al-Aghāni
dan Futūḥ al-Buldān].
2.
Tanggung Jawab
Tanggung
jawab (al-mas'uliyyah) dalam Islam memiliki dua dimensi: tanggung jawab
khusus (khasash) yang berkaitan dengan diri sendiri beserta beban dan
penugasan individual yang terbit darinya; serta tanggung jawab umum ('ammah)
yang melampaui diri sendiri menuju masyarakat, manusia, dan dunia beserta beban
dan tugas yang juga terbit darinya dalam lingkup tersebut.
Berangkat
dari konsepsi tentang lingkup tanggung jawab dan jangkauannya ini, kami ingin
mendiskusikan bersama para saudara dai mengenai tanggung jawab besar mereka:
tanggung jawab khusus mereka dan tanggung jawab umum mereka; tanggung jawab
mereka sebagai individu dan tanggung jawab mereka sebagai jamaah; serta
tanggung jawab internal/mandiri (at-dzatiyyah) dan tanggung jawab
pergerakan (al-harakiyyah).
Mereka,
pertama-tama, adalah pemegang amanat (amāna) atas diri mereka sendiri
yang harus dipersiapkan seiring berjalannya waktu agar berada pada tingkat yang
mampu memikul beban yang menantinya:
demi
jiwa serta penyempurnaan (ciptaan)-nya, lalu Dia mengilhamkan kepadaya (jalan)
kejahatan dan ketakwaannya, sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan
sungguh rugi orang yang mengotorinya. (QS. Asy-Syams: 7–10)
Mereka
juga merupakan pengampu (awshiyā') atas masyarakat ini dengan membawa
risalah kekhalifahan dan penugasan yang diamanatkan kepada mereka:
Demikian
pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan (adil dan
pilihan) agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul
(Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. (QS. Al-Baqarah: 143)
“Barang
siapa yang bangun di pagi hari namun tidak memperhatikan urusan kaum muslimin,
maka ia tidak termasuk golongan mereka.”
Sesungguhnya
ini adalah tanggung jawab yang sangat agung dan besar yang membuat
gunung-gunung pun tak sanggup memikulnya. Oleh karena itu, hal ini membutuhkan
kesungguhan usaha yang besar dan pengorbanan yang mahal.
Kesadaran
Internal akan Tanggung Jawab
Agar
seorang dai dalam proses pembinaannya (i'dad) mencapai tingkat yang
sesuai dengan medan peperangan yang dihadapi Islam di dalam maupun di luar,
maka iman yang miliki hendaknya lebih kokoh daripada gunung-gunung yang
menjulang, pemahamannya lebih dalam daripada lautan, dan kesabarannya lebih
kuat daripada berbagai cobaan.
Sebagaimana
hendaknya terlahir dalam dirinya kesadaran internal (syu'ur dzati) akan
tanggung jawab beramal untuk Islam, serta kesiapan penuh untuk memenuhi
kebutuhan tanggung jawab ini dengan jiwa dan pengorbanan tenaga. Ia tidak
menunggu instruksi pergerakan (at-taklif al-haraki) untuk memikul beban
dan tanggung jawab; melainkan terlahir dari lubuk hatinya yang paling dalam
suatu kesadaran naluriah akan tanggung jawab, dan mengalir di dalam urat
nadinya perasaan Rabbani akan tugas penugasan.
Ia
merasa bahwa dirinya bertanggung jawab atas Islam ini meskipun ia bukan anggota
dalam suatu jamaah atau prajurit dalam suatu gerakan. Cukuplah baginya status
sebagai seorang muslim untuk menggerakkan kesadaran akan kewajiban di dalam
dirinya terhadap agama yang diatribusikan kepadanya ini.
Gerakan
Islam pada hari-hari ini sangat membutuhkan elemen-elemen yang membara dengan
kesadaran dan kepekaan terhadap kewajiban-kewajiban Islamnya; elemen-elemen
yang perasaan tanggung jawabnya bergolak dahsyat; elemen-elemen yang
pemikirannya tidak pernah tenang dari memikirkan agama ini dan beramal
untuknya, baik di sebagian waktu malam maupun di sebagian waktu siang.
Demikianlah
dahulu kesadaran generasi pertama dari kaum muslimin terhadap tanggung jawab
mereka kepada Islam. Urusan Islam menjadi kesibukan utama mereka dalam segala
kondisi dan dalam setiap keadaan. Islam menjadi poros kehidupan dan pemikiran
mereka, baik pada saat kesulitan maupun kelapangan.
Zaid
bin Tsabit radhiyallahu 'anhu berkata: Rasulullah ﷺ mengutusku pada
perang (Uhud) untuk mencari Sa'ad bin ar-Rabi'. Beliau bersabda kepadaku: "Jika
engkau bertemunya, sampaikan salamku padanya, dan katakan padanya: Rasulullah ﷺ bertanya kepadamu,
bagaimana engkau mendapati dirimu?"
Zaid
berkata: Maka aku mulai berkeliling di antara korban yang terbunuh, lalu aku
menemukannya dalam keadaan menghembuskan napas terakhirnya. Pada tubuhnya
terdapat tujuh puluh sabetan, baik sabetan pedang, tusukan tombak, maupun
tancapan panah.
Aku
berkata: "Wahai Sa'ad, sesungguhnya Rasulullah ﷺ menyampaikan salam
kepadamu dan bersabda kepadamu: Beritahukan kepadaku bagaimana engkau mendapati
dirimu?"
Maka
Sa'ad berkata: "Sampaikan salam kepada Rasulullah ﷺ. Dan katakan kepada
beliau: Wahai Rasulullah, aku mendapati wangi surga. Dan katakan kepada kaumku
Anshar: Tidak ada uzur bagi kalian di hadapan Allah jika terjadi sesuatu atas
Rasulullah ﷺ
sedangkan masih ada mata yang berkedip di antara kalian!" Lalu
nyawanya melayang pada saat itu juga.
Penugasan
Pergerakan (At-Taklif Al-Haraki)
Jika
kita melampaui lingkup kesadaran internal menuju lingkup penugasan pergerakan (at-taklif
al-haraki), maka kita dapat menegaskan bahwa penugasan pergerakan tidak
akan memiliki dampak yang efektif dalam kehidupan seorang saudara (al-akh)
apabila kesadaran internal tersebut nihil di dalamnya.
Sebab,
elemen-elemen yang tidak digerakkan oleh perasaan naluriah internal dan seruan
Rabbani, tidak mungkin dapat dipengaruhi oleh penugasan pergerakan dan dorongan
manusiawi semata. Bersandarnya dakwah kepada model manusia semacam ini hanya
akan memaparkannya secara terus-menerus pada kemunduran dan kejatuhan, yang
pada gilirannya mengancam banyak dari potensi dakwah menguap sia-sia di udara.
Apabila
kesadaran internal akan tanggung jawab jihad Islam termasuk karakteristik
kepribadian Islam (asy-syakhsiyyah al-islamiyyah) dan termasuk sifat
dasar yang hendaknya dihiasi oleh seorang saudara dai, maka komitmen yang
presisi terhadap penugasan pergerakan juga merupakan elemen mendasar dan
autentik dalam esensi hubungan organisasional antara dakwah dan dai.
Maka
dai—setiap dai—hendaknya mampu menyesuaikan diri dengan setiap tugas yang
diamanatkan kepadanya, siap melaksanakan setiap misi yang dibebankan kepadanya,
dalam batas-batas ketaatan yang telah disebutkan sebelumnya.
Dalam
konteks ini, saya teringat akan sebuah peristiwa yang jika menunjukkan pada
sesuatu, maka ia menunjukkan pada tingkat kedisiplinan organisasional yang
telah dicapai oleh gerakan Islam pada zaman kenabian, yang berimplikasi pada
baiknya komitmen terhadap penugasan pergerakan:
Jabir
bin Abdillah al-Anshari radhiyallahu 'anhu menceritakan: Kami keluar
bersama Rasulullah ﷺ
dalam Perang Dzat ar-Riqa'. Lalu Rasulullah ﷺ singgah di suatu tempat persinggahan dan
bersabda: "Siapakah laki-laki yang mau menjaga kita malam ini?"
Maka berdirilah seorang laki-laki dari kaum Muhajirin dan seorang laki-laki
dari kaum Anshar, yaitu Ammar bin Yasir dan Abbad bin Byshr.
Ketika
keduanya keluar menuju mulut lembah, orang Anshar berkata kepada orang
Muhajirin: "Bagian malam mana yang engkau sukai untuk aku gantikan
posisimu? Apakah bagian awalnya atau bagian akhirnya?" Orang Muhajirin
menjawab: "Tolong gantikan aku di bagian awal malam." Orang
Muhajirin itu pun berbaring lalu tidur, sementara orang Anshar berdiri
menunaikan shalat.
Tiba-tiba
datang seorang laki-laki dari kaum musyrik. Ketika ia melihat ada orang yang
sedang shalat, ia memanah dengan sebatang anak panah dan mengenai tubuh Abbad.
Abbad mencabutnya dan tetap berdiri melanjutkan shalat. Kemudian orang musyrik
itu memanahnya lagi dengan anak panah kedua, Abbad mencabutnya dan tetap
berdiri melanjutkan shalat. Kemudian ia mengulangi dengan panah ketiga, Abbad
mencabutnya, lalu ia rukuk dan sujud, kemudian membangunkan sahabatnya.
Abbad
berkata: "Duduklah, sungguh aku telah tertembak." Jabir
berkata: Ammar bin Yasir pun melompat. Ketika orang musyrik itu melihat mereka
berdua, ia tahu bahwa mereka telah menyadari keberadaannya, maka ia pun
melarikan diri. Ketika orang Muhajirin melihat darah yang membasahi orang
Anshar tersebut, ia berkata: "Subhanallah! Mengapa engkau tidak
membangunkan aku saat ia memanahmu pertama kali?"
Orang
Anshar itu menjawab: "Aku sedang membaca suatu surah [dalam shalat],
maka aku tidak ingin memotongnya hingga aku menyelesaikannya. Namun ketika ia
memanahku bertubi-tubi, aku pun rukuk dan membangunkanmu. Demi Allah,
seandainya bukan karena khawatir menyia-nyiakan batas wilayah (tsaghar) yang
diperintahkan Rasulullah ﷺ kepadaku untuk dijaga, niscaya nyawaku melayang sebelum aku
memotong atau menyelesaikannya." [HR. Ibn Hisham]
Seorang
dai—setiap dai—berada di atas salah satu pos perbatasan (tsaghar) Islam
dan mengemban salah satu tanggung jawab. Maka tidak sepatutnya Islam dibobol
dari arah posisinya. Sudah sepantasnya ia bertahan di posisinya tersebut hingga
ia bertemu dengan Allah dalam keadaan demikian, sehingga dengan itu ia
mendapatkan pahala orang-orang yang berjaga di garis depan (al-murabitun)
dan ganjaran para mujahid.
Dari
Al-'Irbadh bin Sariyah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
كُلُّ عَمَلٍ
يَنْقَطِعُ عَنْ صَاحِبِهِ إِذَا مَاتَ، إِلاَّ المُرَابِطَ فِي سَبِيلِ اللَّهِ،
فَإِنَّهُ يُنْمَى لَهُ عَمَلُهُ، وَيُجْرَى عَلَيْهِ رِزْقُهُ إِلَى يَوْمِ
القِيَامَةِ
“Setiap
amalan akan terputus dari pelakunya apabila ia meninggal dunia, kecuali orang
yang berjaga di garis depan (al-murabit) di jalan Allah; karena sesungguhnya
amalannya akan terus dikembangkan untuknya, dan rezekinya akan terus dialirkan
kepadanya hingga hari kiamat.” [HR. Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabir]
Karakteristik
Pergerakan (At-Thabi'ah Al-Harakiyyah)
- Fenomena-Fenomena
Berbahaya
- Pusat
Interaksi (Markaz at-Tafa'ul)
- Bagaimana
Interaksi Terjadi
- Menerima
untuk Melaksanakan (At-Talaqqi lit-Tanfidz)
- Akal adalah Pusat Komando
Sesungguhnya
lemahnya karakteristik pergerakan (at-thabi'ah al-harakiyyah) pada
mayoritas dai Islam merupakan fenomena yang meluas dalam kehidupan dakwah, dan
dengan demikian sangat berbahaya bagi masa kini maupun masa depannya. Lemahnya
karakter ini menutup pintu-pintu kemajuan dan keteguhan (at-tamkin),
menghalangi pemanfaatan berbagai kondisi dan kesempatan, serta mewarnai dakwah
dengan watak rutinitas dan kebekuan, sekaligus menghilangkan karakteristiknya
yang paling menonjol, yaitu dinamisme, pergerakan, dan sifat revolusioner.
Padahal,
prinsip-prinsip Islam yang bersifat pemikiran dan pengarahan memiliki potensi
pembuahan dan pengaruh yang luar biasa seandainya dipikul oleh jiwa-jiwa yang
melompat maju dan digerakkan oleh cita-cita yang tinggi.
Masyarakat
ini—ya, masyarakat ini—sering kali kita tuduh dengan hal-hal yang ada padanya
maupun yang tidak ada padanya, sebagai bentuk pelarian dari beban amal dan
jihad, serta sebagai pembenaran atas kelalaian kita dalam ranah pengorbanan dan
pemberian, hingga kita menipu diri kita sendiri sampai taraf yang jauh.
Keraguan dan keputusasaan merayap ke dalam jiwa banyak dai kita, hingga
benarlah pada diri kita ungkapan penyair: "Hampir-hampir pendengaran
akan waham memenuhi dada dengan kecemasan."
Aku
katakan bahwa masyarakat ini masih memiliki potensi dan kesiapan yang baik
untuk berinteraksi dengan dakwah ini seandainya cita-cita digerakkan dan
tekad-tekad dibangkitkan.
Bersamaan
dengan semua ini, aku tidak memungkiri bahwa amal Islam pada masa sekarang ini
menghadapi permusuhan dan tantangan di luar apa yang dibayangkan oleh banyak
orang. Namun, aku menolak jika hal ini mengakibatkan melempemnya para pembela
kebenaran padahal pertempuran penentu belum pun dimulai!
Sebagaimana
aku juga menolak jika hal ini menjadi pemicu untuk lari dari medan laga pada
saat-saat kesulitan di mana dituntut untuk terus menyerang dan bukannya lari,
serta menghadapi tantangan dengan tantangan yang lebih kuat dan lebih dahsyat:
(Yaitu)
mereka yang masyarakat berkata kepadanya, “Sesungguhnya orang-orang (Quraisy)
telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu. Oleh karena itu, takutlah
kepada mereka.” Namun, (anfaman) itu menambah iman mereka dan mereka menjawab,
“Cukuplah Allah (menjadi penolong) bagi kami dan Dia adalah sebaik-baik
pelindung.” Maka, mereka kembali dengan nikmat dan karunia yang besar dari
Allah. Mereka tidak ditimpa suatu bencana pun dan mengikuti keridhaan Allah.
Allah Maha Memiliki karunia yang agung. (QS. Ali 'Imran: 173–174)
Aku
ingin mengisyaratkan di sini bahwa cobaan dan kesulitan hendaknya membangkitkan
di dalam jiwa makna-makna keteguhan di atas kebenaran dan bertahan bersamanya.
Sebagaimana ia juga hendaknya mendorong untuk mengoreksi kesalahan-kesalahan
dan memobilisasi kekuatan berdasarkan pemanfaatan pengalaman dan
peristiwa-peristiwa yang terjadi.
Boleh
jadi kegigihan Nuh 'alaihissalam dalam mendakwahi kaumnya dan kesemangatannya
untuk memberi petunjuk kepada mereka selama sembilan ratus lima puluh
tahun—beserta gangguan dan penindasan yang ditemuinya selama masa
tersebut—dapat mengasah cita-cita hingga tidak menjadi lemah, serta memicu jiwa
hingga tidak menjadi jemu:
Hingga
apabila para rasul berputus asa dan merasa bahwa mereka telah didustakan,
datanglah kepada mereka pertolongan Kami, lalu diselamatkan orang yang Kami
kehendaki. Siksaan Kami tidak dapat ditolak dari kaum yang berdosa. Sungguh,
pada kisah mereka benar-benar terdapat pelajaran bagi orang-orang yang berakal.
(QS. Yusuf: 110–111)
Sesungguhnya
pertempuran yang diarungi Islam pada zaman ini membutuhkan elemen-elemen dengan
tipe tertentu; elemen-elemen yang hidup untuk Islam dan bersama Islam;
elemen-elemen yang prioritas utamanya adalah agama ini, dan agama ini semata.
Maka
sungguh kita harus merasa malu pada diri kita sendiri, dan sungguh kita harus
merasa cemburu demi Islam—agama yang haq dan dakwah yang haq—ketika kita tidak
menjadi pemikulnya pada tingkat tanggung jawab yang semestinya, pada saat kita
melihat matinya rasa takut ahli bathil, pengorbanan ahli kesesatan, serta
pengerahan harta para pembohong demi kebohongan dan kesesatan mereka:
Mereka
itu mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan
izin-Nya. (Dia) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil
pelajaran. (QS. Al-Baqarah: 221)
Sesungguhnya
orang-orang yang darahnya tidak bergolak, jiwanya tidak menyala-nyala, dan
perasaannya tidak bergetar demi Islam pada setiap helak napas hidupnya, tidak
mungkin harapan dapat ditautkan kepada mereka, cita-cita dapat diamanatkan
kepada mereka, dan kemenangan Islam dapat terwujud di tangan mereka.
Mari
kita berhenti sejenak di sini untuk mengestraksi sebab-sebab kemandulan dan
minimnya buah dalam kehidupan para dai dan pekerja Islam.
Hati
Sebagai Pusat Interaksi (Al-Qalb Markaz at-Tafa'ul)
Dalam
keyakinanku, hati adalah pusat gravitasi (markaz ats-tsiqal) tempat
terjadinya interaksi dai dengan seluruh arahan dan syariat yang sampai
kepadanya. Bahkan pemikiran-pemikiran sekalipun, hati memiliki peran dalam
mencernanya dan memiliki andil bersama akal dalam merasakannya:
Apakah
mereka tidak berjalan di bumi sehingga hati (akal) mereka dapat memahami atau
telinga mereka dapat mendengar? Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta,
melainkan yang buta ialah hati yang di dalam dada. (QS. Al-Hajj: 46)
Iman
adalah buah dari interaksi ini. Pada gilirannya, ia merupakan bahan bakar bagi
gerakan, dinamisme, dan pembuahan. Selama proses interaksi ini tidak berlanjut,
maka gerakan dan dinamisme akan lenyap secara bertahap hingga sifat
eksekutif/operasional (at-thabi'ah at-tanfidziyyah) tertimpa kelumpuhan
dan kemandulan secara total.
Oleh
karena itu, hati membutuhkan perawatan yang sangat ekstra dan porsi perhatian
yang besar. Karakteristik utama dari hati adalah ia memiliki sensitivitas yang
sangat halus; sebagaimana ia siap untuk bersinar, terang, dan bersih, ia juga
siap untuk menjadi gelap, layu, dan berkarat. Dari sinilah menjadi kewajiban
seorang dai untuk merawat hatinya dan tidak mengabaikannya. Perawatan terhadap
hati tidak boleh mengendur walau sekejap pun di waktu malam maupun siang, demi
menjaga kecerahan, keindahan, dan kesuciannya, sesuai dengan sabda Rasulullah ﷺ:
إِنَّ لِلْقُلُوبِ
صَدَأً، وَجَلاَؤُهَا الاِسْتِغْفَارُ
“Sesungguhnya
hati itu memiliki karat, dan pembersihnya adalah istigfar.”
Para
dai Islam lebih berhak daripada yang lainnya untuk memperhatikan hati mereka,
karena mereka adalah pihak yang paling rentan terhadap tipu daya setan, dan
hati mereka sangat membutuhkan kecerahan karena hati merupakan perangkat
pemancar dan pusat radiasi bagi mereka. Dalam sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu
'anha, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
الإِنْسَانُ عَيْنَاهُ
هَادٍ، وَأُذُنَاهُ قِمَعٌ، وَلِسَانُهُ تُرْجُمَانٌ، وَيَدَاهُ جَنَاحَانِ،
وَرِجْلاَهُ بَرِيدٌ، وَالقَلْبُ مِنْهُ مَلِكٌ، فَإِذَا طَابَ المَلِكُ طَابَتْ
جُنُودُهُ
“Manusia
itu, kedua matanya adalah penuntun, kedua telinganya adalah corong, lidahnya
adalah penerjemah, kedua tangannya adalah sayap, kedua kakinya adalah utusan,
dan hati darinya adalah raja. Apabila raja itu baik, maka baik pulalah para
prajuritnya.”
Perawatan
terhadap hati hendaknya berlangsung secara terus-menerus dan berkelanjutan
sebagai persiapan menghadapi setiap hal buruk yang datang tiba-tiba atau hal
menyesatkan yang masuk. Sebab setan itu mengalir di dalam tubuh anak Adam
melalui aliran darah.
Tidak
ada yang dapat membersihkan hati sebagaimana keikhlasan dalam beribadah,
khususnya ibadah di malam hari (nasyi'at al-lail), mendalamnya
perenungan dan tadabur terhadap ayat-ayat Allah khususnya di waktu pagi (“Sesungguhnya
shalat Subuh itu disaksikan oleh malaikat”), menangis dan berserah diri di
mihrab Allah, serta terus-menerus memikirkan kematian dan bersiap
menghadapinya. Sungguh benar Rasulullah ﷺ ketika beliau bersabda:
لَوْلاَ أَنَّ
الشَّيَاطِينَ يَحُومُونَ عَلَى قُلُوبِ بَنِي آدَمَ لَنَظَرُوا إِلَى مَلَكُوتِ
السَّمَوَاتِ
“Seandainya
bukan karena setan-setan itu mengelilingi hati anak Adam, niscaya mereka dapat
melihat ke kerajaan langit.”
Hati
juga rentan terhadap keras dan lembut. Ketaatan memberikan kelembutan dan
kepekaan padanya, sedangkan kemaksiatan menambah kekerasan dan kekeringannya:
lalu
berlalulah masa yang panjang atas mereka sehingga hati mereka menjadi keras.
(QS. Al-Hadid: 16)
Kemudian,
setelah itu hatimu menjadi keras sehingga ia seperti batu atau bahkan lebih
keras. (QS. Al-Baqarah: 74)
Sekali-kali
tidak! Bahkan, apa yang mereka kerjakan itu telah menutupi hati mereka. (QS.
Al-Muthaffifin: 14)
Semoga
Allah merahmati Ibnul Mubarak ketika beliau berkata:
Aku melihat dosa-dosa membunuh hati...
dan pembiasaan atasnya dapat mewariskan kehinaan.
Meninggalkan dosa-dosa adalah kehidupan bagi hati...
dan
yang terbaik bagi dirimu adalah mendurhakainya [kemaksiatan].
Sungguh,
Dai Pertama [Rasulullah ﷺ]
telah menjelaskan kepada kita bagaimana interaksi hati terjadi dengan kebaikan
atau keburukan yang datang kepadanya, beliau bersabda:
تُعْرَضُ الفِتَنُ
عَلَى القُلُوبِ كَالْحَصِيرِ عُودًا عُودًا، فَأَيُّ قَلْبٍ أُشْرِبَهَا نُكِتَ
فِيهِ نُكْتَةٌ سَوْدَاءُ، وَأَيُّ قَلْبٍ أَنْكَرَهَا نُكِتَ فِيهِ نُكْتَةٌ
بَيْضَاءُ، حَتَّى تَصِيرَ عَلَى قَلْبَيْنِ: عَلَى أَبْيَضَ مِثْلِ الصَّفَا
فَلاَ تَضُرُّهُ فِتْنَةٌ مَا دَامَتِ السَّمَوَاتُ وَالأَرْضُ، وَالأَخَرِ
أَسْوَدَ مُرْبَادًّا لاَ يَعْرِفُ مَعْرُوفًا وَلاَ يُنْكِرُ مُنْكَرًا
“Fitnah-fitnah
dipaparkan kepada hati seperti teranyamnya tikar sehelai demi sehelai. Hati
mana saja yang menyerapnya, ditorehkan padanya satu titik hitam. Dan hati mana
saja yang mengingkarinya, ditorehkan padanya satu titik putih. Hingga hati
menjadi dua kondisi: hati yang putih seperti batu licin yang tidak bahayakan
oleh fitnah apa pun selama langit dan bumi masih ada; dan hati yang lain yang
hitam keabu-abuan, tidak mengenal kebaikan dan tidak mengingkari
kemungkaran...”
Maka
wajib bagi seorang dai untuk mengawasi hatinya secara terus-menerus; mengamati
gerak-geriknya dan mencatat perilakunya. Ia tidak boleh meremehkan bahkan
terhadap bisikan yang samar dan perasaan yang tersembunyi. Jangan sampai ia
mengatakan bahwa itu hanya sepele dan kecil. Sebab hal kecil yang remeh apabila
bertumpuk dan berlanjut akan mengancam bahaya yang besar. Sungguh benar
Rasulullah ﷺ
saat bersabda:
إِيَّاكُمْ
وَمُحَقَّرَاتِ الذُّنُوبِ، فَإِنَّهُنَّ يَجْتَمِعْنَ عَلَى الرَّجُلِ حَتَّى
يُهْلِكْنَهُ
“Jauhilah
oleh kalian dosa-dosa yang dianggap remeh, karena sesungguhnya dosa-dosa itu
berkumpul pada seseorang hingga membinasakannya.”
Ke
arah makna inilah penyair mengisyaratkan melalui perkataannya:
Janganlah engkau meremehkan hal kecil...
Sesungguhnya
gunung-gunung itu berasal dari kerikil.
Dan
yang lain berkata:
Janganlah engkau meremehkan orang kecil dalam
perselisihan...
Sesungguhnya
nyamuk dapat melukai pupil mata singa.
Maka
hati seorang dai hendaknya seperti cermin yang jernih, yang padanya
terefleksikan prinsip-prinsip Islam. Ia terpengaruh dengannya dan Islam
terpengaruh dengannya, untuk kemudian dialirkan kepada anggota tubuh dan panca
indra sebagai kumpulan sifat-sifat yang mulia dan akhlak yang utama. Dengan
demikian, Islam bagi sang dai tidak lagi sekadar teori-teori, melainkan wujud
dalam bentuk-bentuk praktis yang terindra dalam kehidupan dan realitasnya.
Di
antara hal yang membantu dai untuk berinteraksi dengan Islam adalah posisinya
di hadapan prinsip-prinsip, hukum-hukum, dan syariat-syariatnya sebagai pihak
yang dituju oleh seruan (al-mukhāṭab)
dan yang berkepentingan dengan urusan tersebut. Hal ini akan memberikan dampak
pengaruh langsung dan interaksi yang cepat pada penerimaannya. Dengan demikian,
hubungan dai dengan Islam menjadi hubungan ketiadaan jarak antara keprajuritan,
kepemimpinan, perintah, dan pelaksanaan.
Hakekatnya,
penerimaan dai terhadap ayat-ayat Allah dan prinsip-prinsip Islam dengan cara
dan konteks seperti ini akan memberikan rasa baru dalam hidupnya, yang mana ia
menemukan manisnya pada setiap makna dari makna-makna Islam.
Akal
Sebagai Pusat Komando (Al-'Aql Markaz al-Qiyadah)
Di
antara hal yang juga mendorong dai untuk berinteraksi dengan dakwahnya dan
terpengaruh dengannya—yang pada gilirannya membuatnya bergerak di berbagai
ranah dan medan—adalah kematangan pemikirannya, kedalaman pemahamannya, dan
keluasan wawasannya. Sebab, orang yang tidak memiliki sesuatu tidak akan dapat
memberikannya (fāqid usy-syai' lā yu'ṭīh).
Sering
kali terjadi bahwa orang-orang yang lemah wawasannya dari kalangan pembela
kebenaran menjadi lumpuh [secara argumentasi] di hadapan orang-orang berwawasan
dari kalangan pembela kebathilan.
sebagaimana
manusia berinteraksi dengan hati dalam hal kebaikan atau keburukan yang sampai
kepadanya, hati juga berinteraksi dengan akal dalam hal konsep-konsep dan
pemikiran-pemikiran yang dibawanya.
Isyarat-isyarat
rasional Al-Qur'an terhadap fenomena alam dan kehidupan menegaskan nilai
penting berpikir dan persepsi dalam perilaku manusia. Oleh karena itu, Islam
menggugurkan beban hukum (al-hisab/at-taklif) dari orang gila, orang
yang terganggu jiwanya, dan orang yang kehilangan akalnya.
Perhatian
dai terhadap hatinya tanpa memperhatikan akalnya—tanpa keraguan sedikit
pun—akan mencabutnya dari senjata terkuatnya dan pendorong terbesarnya untuk
bergerak dan berinteraksi. Sebagaimana perhatiannya terhadap akalnya tanpa
hatinya akan membuatnya kehilangan faktor-faktor terpenting bagi ketenangan,
kedamaian, dan keteguhan. Kepribadian seorang dai tidak akan mungkin mencapai
tingkat kesempurnaan selama tidak terwujud kebaikan hati dan akal secara
bersamaan.
Sebagaimana
seorang dai wajib memperhatikan ibadah, muraqabah, mengingat kematian,
berzikir, dan latihan-latihan spiritual (ar-riyāḍāt ar-rūḥiyyah) lainnya; ia juga
wajib memperhatikan pemahaman fikih (at-tafaqquh), membaca (al-muṭāla'ah), berpidato (al-khiṭābah), menulis (al-kitābah),
dan aktivitas pemikiran lainnya.
Kecukupan
wawasan pemikiran akan menjadikan dai sebagai perangkat pemancar yang tidak
pernah berhenti. Adapun orang-orang yang merasakan kekosongan pemikiran dalam
diri mereka, mereka akan menghindari masyarakat dan orang-orang serta melarikan
diri dari tanggung jawab; akibatnya, mati pulalah sifat pergerakan (at-thabi'ah
al-harakiyyah) dalam diri mereka serta lenyaplah pembuahan dan pemberian.
Kebutuhan
dai terhadap senjata pemikiran pada era modern merupakan kebutuhan yang sangat
mendesak yang tidak mungkin diabaikan atau diremehkan. Sebab, Islam hari ini
hidup di tengah-tengah lingkungan yang bergejolak dengan berbagai aliran,
mazhab pemikiran, dan filsafat. Sudah sepatutnya para dai bersikap objektif dan
logis. Bukanlah termasuk maslahat Islam sedikit pun menghadapi tantangan
pemikiran hanya dengan emosi retoris yang kosong dari kata-kata dan pidato;
melainkan suatu kewajiban untuk mematahkan argumen dengan argumen dan
membandingkan pemikiran dengan pemikiran:
Adapun
buih itu akan hilang sebagai sesuatu yang tidak ada harganya, sedangkan yang
memberi manfaat kepada manusia akan tetap bertahan di bumi. (QS. Ar-Ra'd: 17)
Wajib
bagi dai untuk merujuk kepada Al-Qur'anul Karim dan Sirah Nabawiyah guna
menggali metode-metode rasional yang retorik (al-asālib al-'aqliyyah
al-balīghah) yang dengannya Islam menghadapi lawan-lawan debatnya.
Kesimpulan
dari seluruh pembahasan ini adalah bahwa dai dalam persiapan dan pembentukannya
harus berada pada tingkat yang dituntut oleh gerakan saat ini: kekuatan pada
ruh, ketangguhan pada pemikiran, dan keluhuran pada akhlak. Dengan demikian,
interaksi antara dakwah dan manusia dapat terwujud secara nyata.
Comments
Post a Comment