KH. Rahmat Abdullah: Khutbah 'Iedul Adha 1421 H
Beberapa kali Ied kita, beberapa kali takbir dimalam dan siang hari raya-hari raya kita dalam beberapa tahun terakhir masih terus diliputi keprihatinan yang sangat dalam. Hari raya ditengah asap dan api ; rumah ibadah, rumah tinggal, pasar dan sekolah yang hangus serta darah yang tertumpah, nyawa yang melayang dan tubuh-tubuh kaku yang terbunuh. Lebih-lebih lagi pahitnya sebagian petinggi dan orang-orang yang diberi amanah oleh ma-syarakat mengesankan sikap mendukung, memaklumi atau me-wajarkan kezaliman. Inna lillahi wainna ilahi raji’un ! Tak ada yang lebih patut bagi para hamba ALLAH yang beriman kecuali semakin menundukkan kepala, merendahkan hati dan mengakui segala dosa, seraya memohon taubat dan ampunan ALLAH
Maka mengapa mereka
tidak memohon (kepada Allah) dengan tunduk merendahkan diri ketika datang
siksaan Kami kepada mereka, bahkan hati mereka telah menjadi keras dan
syaitanpun menampakkan kepada mereka kebagusan apa yang selalu mereka kerjakan.
Maka tatkala mereka melupakan peringatan yang telah diberikan kepada mereka,
Kamipun membukakan semua pintu-pintu kesenangan untuk mereka; sehingga apabila
mereka bergembira dengan apa yang telah diberikan kepada mereka, Kami siksa
mereka dengan tiba-tiba, maka ketika itu mereka terdiam berputus asa.
Kisah haji adalah
kisah pengorbanan, sama sebagai-mana sejarah qurban itu sendiri. Tidak ada yang
dapat menyuburkan iman seorang mukmin sebaik pengor-banan, seperti pupuk
menyuburkan tetumbuhan. Seseo-rang yang berjiwa besar sangat sadar bahwa
kemuliaan, kepemimpinan dan kebahagiaan tak mungkin diraih tanpa pengorbanan.
Ujian merupakan syarat naik jenjang dan ke-pangkatan di hadapan ALLAH dan di
tengah ummat manusia. ALLAH berfirman ( 2:124)
Dan (ingatlah),
ketika Ibrahim diuji Tuhannya dengan beberapa kalimat (perintah dan larangan),
lalu Ibrahim menunaikannya. Allah berfirman: "Sesungguhnya Aku akan
menjadikanmu imam bagi seluruh manusia". Ibrahim berkata: "(Dan saya
mohon ju-ga) dari keturunanku". Allah berfirman: "Janji-Ku (ini)
tidak mengenai orang-orang yang zalim".
Seberapa besar
ujian yang dihadapi para rasul, ulama amilin dan mujahidin ? Cobalah bayangkan
satu episode perjalanan nabi Ibrahim AS. Imam Bukhari meriwayatkan :
“…… kemudian
Ibrahim membawa isterinya beserta anaknya (Isail AS) yang sedang disusukannya,
sampai ia meletakkannya di Baitullah di Dauhah, diatas Zamzam (yang belum lagi muncul
kala itu) di bagian masjid yang paling tinggi. Di Makkah waktu itu belum ada
manusia dan belum ada air. Ia letakkan mereka disana. Ia bekali mereka dengan
sekantung kurma dan sekan-tung air dan segera bergegas pergi. Ummu Ismail
mengikutinya sambil bertanya “Wahai Ibrahim, akan kemana kau pergi
me-ninggalkan kami di lembah ini tanpa siapa-siapa tanpa apa-apa ?”.
Diucapkannya kalimat itu berulang-ulang, namun ia tak juga menoleh. Akhirnya
Ummu Ismail bertanya : ALLAH kah yang menyuruhmu melakukan ini ?” Ia menja-wab
: “Ya”. Ummu Ismail berkata : “jika begitu, tentulah Ia takkan sia-siakan
kami”, kemudian ia kembali dan Ibrahim berangkat. Sesampainya di tsaniyah
(jalan tinggi di bukit) tem-pat mereka tak lagi melihatnya, ia hadapkan
wajahnya ke Bait Allah, berdoa dengan beberapa kalimat dan mengangkat kedua
tangannya :
Ya Tuhan kami,
sesungguhnya aku telah menempatkan sebaha-gian keturunanku di lembah yang tidak
mempunyai tanam-ta-naman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya
Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah
hati sebagian manusia cenderung kepada me-reka dan beri rezkilah mereka dari
buah-buahan, mudah-mu-dahan mereka bersyukur.
Lihatlah, betapa
lurusnya keluarga ini memandang perintah ALLAH. Betapa ringannya mereka
melaksanakan titah agung i-ni. Mereka utamakan ketaatan daripada kesenangan
pribadi. Dari ketiga permintaan, ternyata yang pertama dimintanya agar
ketu-runannya menjadi penegak shalat, kemudian untuk menopang da’wah ia minta
mereka dicintai ummat manusia, barulah per-mintaan ketiga agar ALLAH memberikan
mereka rezki. Padahal keadaan sangat sulit ; tak ada sanak, kerabat bahkan
manusia, tak ada air dan sumber makanan. Hanya mereka berdua ; seorang
perempuan yang baru melahirkan dan bayi kecil yang baru bebe-rapa belas atau
beberapa puluh tahun kedepan diangkat menjadi rasul.
Dimana keluarga
modern hari ini dengan keturunan yang sangat terjaga dan tercukupi, bahkan
dimanjakan makan minum mereka dibandingkan mereka yang serba kekurangan dan
jauh dari kese-nangan ? Lihatlah bedanya keluarga dunia, benda dan nafsu
di-bandingkan keluarga akhirat, iman dan akhlaq. Apa yang mam-pu dihasilkan
keluarga modern dengan kecukupannya diban-dingkan keluarga para rasul dan
orang-orang saleh dalam keku-rangan mereka. Soalnya bukan soal kaya atau
miskin, tetapi keterikatan dan kesetiaan mereka kepada ALLAH, seperti sifat
para pemakmur masjid dan jamaah kebajikan :
Bertasbih kepada
Allah di masjid-masjid yang telah diperintahkan untuk dimuliakan dan disebut
nama-Nya di dalamnya, pada waktu pagi dan waktu petang, laki-laki yang tidak
dilalaikan oleh perniagaan dan tidak (pula) oleh jual beli dari mengingat
Allah, mendirikan shalat, dan menunaikan zakat. Mereka takut kepada suatu hari
saat hati dan penglihatan menjadi guncang.
Bagaimana para nabi
tahan diejek dan dikucilkan, difitnah dan diintimidasi, dibunuh dan diusir dari
tanah air, suatu hal yang tak pantas dilakukan terhadap manusia-manusia jujur
di tengah bangsanya, yang hewanpun tak pernah mendapat perlakuan zalim dari
mereka.
Dari Urwah, dari
Aisyah RA, beliau pernah berkata : “Demi ALLAH wahai ananda, pernah kami
memperhatikan hilal (bulan sabit), kemudian satu hilal, sampai tiga hilal dalam
dua bulan, tak ada api yang menyala di rumah Rasulullah SAW”. Kuberta-nya :
‘Apa yang menghidupimu selama itu ?’ Beliau menjawab : “Air dan kurma. Hanya
saja Rasulullah SAW punya tetangga yang memiliki kambing susu, mereka
mengirimkan sebagian susunya untuk minuman kami”
Berkata Utbah bin
Ghazwan dalam satu khutbahnya : “Sungguh kulihat diriku satu dari tujuh orang
sahabat bersama Rasulullah SAW, tak ada lagi makanan pada kami kecuali dedaunan
pohon, sehingga bengkaklah kerongkongan kami. Kutemukan sehelai mantel, kubelah
dua dengan Sa’d bin Malik, setengahnya kupakai dan setengahnya lagi dipakai
Sa’d. Hari ini setiap kami - tanpa kecuali - telah menjadi amir (gubernur) di
kota-kota besar. Aku berlindung kepada ALLAH agar tidak menjadi besar dalam
pandangan sendiri dan kecil dalam pandangan ALLAH”
Apa yang dipanen sebuah
bangsa muslim yang besar ini, saat ba-nyak orang tua hanya berfikir ketika
mendaftarkan anaknya ke sekolah, semoga ia kelak punya kedudukan yang basah
bila jadi pejabat, menjadi orang pintar yang dapat kaya dalam waktu singkat
atau menjadi santeri yang pandai berceramah sehingga laris dan mudah menghimpun
pengikut serta segala kekayaan yang menyusulnya. Betapa rentannya semua ini
menghadapi konflik horizontal, saling bunuh, penghancuran dan pembakaran harta
sesama, pemanjangan derita rakyat dengan KKN baru, ke-dakpedulian terhadap
munculnya berbagai kemunkaran, marak-nya perjudian gelap dan terang, 2 juta
mangsa narkoba yang me-lumpuhkan bangsa ini, pelacuran dengan alasan klasik
kesulitan hidup.
Sebuah masyarakat
adalah cermin keluarga didalamnya. Ke-pemimpinan yang sehat selalu berfikir
bagaimana melayani, mengayomi dan mendidik bangsa ke arah kemuliaan. Bukan
mencengkeram mereka dengan kejam dengan alasan pendewasa-an, pengamanan atau
perlindungan, tidak pula membiarkan me-reka bebas tanpa kendali dengan alasan
apapun, baik HAM, de-mokratisasi atau pemberdayaan masyarakat.
Sesungguhnya dari
berbagai pensikapan bangsa terhadap para rasul mereka, kita dapatkan pelajaran
dan rambu-rambu sangat berharga.
Bila sikap ikhlas,
ketundukan diri dan pengorbanan, menjadi jiwa bangsa, maka generasi yang ada
akan mendapatkan begitu banyak keberkahan. Lihatlah cermin perempuan terdidik
seperti Ummu Ismail AS yang dengan yakin mengatakan : “Idzan la Yudlayyi’ana
(Kalau begitu Ia tak akan sis-siakan kami)”. Dari rahim dan asuhan mereka akan
lahir generasi Ismail AS yang dengan yakinnya menjawab :
Qs. (37:102) :
Maka tatkala anak
itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata:
"Hai anakku sesung-guhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu.
Maka fikirkanlah apa pendapatmu!" Ia menjawab: "Hai bapak-ku, kerjakanlah
apa yang diperintahkan kepadamu; insya Allah kamu akan mendapatiku termasuk
orang-orang yang sabar".
Bila kebodohan dan
nafsu telah menguasai kehidupan suatu ma-syarakat, maka mereka lebih suka
memilih pola hidup material-listik dan hedonik ; semua demi benda dan
kesenangan. Tujuan-tujuan luhur menjadi kabur, nilai dan akhlak mulia menjadi
lun-tur, persaudaraan, kasih sayang dan kesetiaan menjadi hancur.
Peran ibu dirumah
tangga sangat strategis dalam membentuk bangsa.Bentukan baik atau buruk, amanat
atau khianat, iman atau kufur, sangat terkait dengan sikap dan kiprah mereka.
Ibu kandung atau ibu nasab, sama-sama mempunyai pengaruh besar dalam da’wah dan
pendidikan ;
Allah membuat
isteri Nuh dan isteri Luth perumpamaan bagi o-rang-orang kafir. Keduanya berada
di bawah pengawasan dua orang hamba yang saleh di antara hamba-hamba Kami; lalu
ke-dua isteri itu berkhianat kepada kedua suaminya, maka kedua suaminya itu
tiada dapat membantu mereka sedikitpun dari (sik-sa) Allah; dan dikatakan
(kepada keduanya); "Masuklah ke ne-raka bersama orang-orang yang masuk
(neraka)". Dan Allah membuat isteri Fir`aun perumpamaan bagi orang-orang
yang beriman, ketika ia berkata: "Ya Tuhanku, bangunlah untukku sebuah
rumah di sisi-Mu dalam surga dan selamatkanlah aku dari Fir`aun dan
perbuatannya dan selamatkanlah aku dari ka-um yang zalim",
Ibunda nabi Ismail,
ibunda kandung nabi Musa yang melahirkan, menyusukan dan merawatnya dan ibunda
asuh nabi Musa, yang merawatnya dan aktif membelanya dari berkali-kali rencana
pembunuhan oleh Firaun, sejak bayi sampai jadi nabi, semua menunjukkan adanya
ta’tsir (pengaruh) berkesinambungan pada anak nasab ataupun anak asuh. Demikian
halnya peran pendidik di tubuh bangsa sebagai tanggungjawab para pemimpin dan
pe-mimpin tertinggi, bila telah menyimpang dari jalan yang lurus, bersikap
seperti isteri nabi Nuh AS yang mengkhianati ajaran suaminya, maka anak-anak
bangsa akan menjadi seperti anak nabi Nuh yang menolak bergabung dalam bahtera
penyelamat.
Dan bahtera itu
berlayar membawa mereka dalam gelombang laksana gunung. Dan Nuh memanggil
anaknya sedang anak itu berada di tempat yang jauh terpencil: "Hai anakku,
naiklah (ke kapal) bersama kami dan janganlah kamu berada bersama orang-orang
yang kafir." Anaknya menjawab: "Aku akan mencari perlindungan ke
gunung yang dapat memeliharaku dari air bah!" Nuh berkata: "Tidak ada
yang melindungi hari ini dari azab Allah selain Allah (saja) Yang Maha
Penyayang". Dan gelombang menjadi penghalang antara keduanya; maka jadilah
anak itu termasuk orang-orang yang ditenggelamkan.
Kalau hukum,
undang-undang dan para penegak hukum begitu keras kepada pelanggar lalu
lintas….. Kalau para polisi menang-kap pengendara sepeda motor yang tak
menggunakan helm, de-ngan dalih perlindungan batok kepala rakyat, lebih
beralasan lagi bila mereka bertindak tegas melindungi isi yang ada dibalik
ba-tok kepala itu dari segala yang merusaknya, baik dengan meme-rangi
sekeras-keras-nya tayangan, siaran atau penerbitan porno, permissive, atheis,
syirik serta takhayul, khurafat dan bid’ah, yang telah menyebab-kan lebih dari
dua juta rakyat terutama generasi mudanya berge-limang dalam narkoba perjudian,
zina dan berbagai sikap arogan dihadapan ALLAH Rabbul Jalal. Juga memerangi
para koruptor yang telah menyengsarakan rakyat di negeri yang kaya raya ini.
Kalau kekuasaan, kekayaan dan ber-bagai ni’mat yang dilimpah-kan kepada suatu
bangsa, pemerin-tah dan rakyatnya, maka ke-sombongan akan menjadi perhiasan dan
kebanggan mereka. Da’wah keabjikan dianggap gangguan, amar ma’ruf nahi mun-kar
dianggap makar, karena semua tak suka dihalangi dari aksi bunuh diri massal
dalam maksiat yang terlaknat itu. Simaklah komentar bangsa-bangsa dimasa lalu
ke-pada para rasul mereka :
Kaum Nabi Luth (7:82/27:56)
Jawab kaumnya tidak
lain hanya mengatakan: "Usirlah mereka (Luth dan pengikut-pengikutnya)
dari kotamu ini; sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang berpura-pura
mensucikan diri."
Kaum nabi Shalih
(11:62)
Kaum Tsamud
berkata: "Hai Shaleh, sesungguhnya kamu sebe-lum ini adalah seorang di
antara kami yang kami harapkan, a-pakah kamu melarang kami untuk menyembah apa
yang disem-bah oleh bapak-bapak kami? dan sesungguhnya kami betul-be-tul dalam
keraguan yang menggelisahkan terhadap agama yang kamu serukan kepada
kami."
Kaum Musyrikin
Quraisy kerabat Rasulu’LLAH Muhammad, Saw.
Dan (ingatlah),
ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk
menangkap dan memenjarakan-mu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka
memikirkan tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah
sebaik-baik Pembalas tipu daya. (Al-anfal 30)
Taqwa telah menjadi
kalimat yang begitu gampang diucapkan sembarang mulut, padahal ia adalah sebuah
hakekat, bukan kla-im atau akuan, bukan pula pameran dan kepura-puraan. Ketika
melihat melimpahruahnya jamaah haji, bertuturlah seorang kha-lifah : “Oh,
alangkah sedikitnya orang haji dan alangkah ba-nyaknya wisatawan”. ALLAH
mengingatkan tentang hakekat qurban :
Daging-daging dan
darah qurban itu sekali-kali tidak dapat mencapai Allah, tetapi ketakwaan dari
kamulah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untuk
kamu supaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan
berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik.
Dalam sebuah hadits
Rasulullah SAW menyatakan : Dari Abi Hurairah RA, ia berkata : ‘Rasulullah SAW
bersabda : “Seorang muslim adalah saudara muslim, ia tak boleh mengkhianatinya,
mendustai-nya, menghinakannya. Setiap muslim haram bagi sesama muslim ; kehor-matannya,
hartanya, darahnya. Taqwa disini (beliau memberi isyarat ke dadanya). Cukuplah
se-seorang (menjadi) jahat karena menghina saudara muslimnya”
Dari Sa’d bin Abi
Waqqash RA, beliau berkata : “Akulah orang Arab pertama yang melemparkan tombak
di Jalan ALLAH. Sungguh kami pernah berperang bersama Rasulullah SAW, tanpa
punya makanan selain daun hublah dan samur ini. Sungguh kami buang air seperti
kotoran domba, tanpa cam-puran” (Muttafaq Alaih, Bukhari Muslim)
[pks.or.id]
Comments
Post a Comment