Hadits_12_Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar: Teladan para Da'i Terhadap Apa yang Mereka Serukan

 

Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Munkar:

Hadits_12: Teladan para Da'i Terhadap Apa yang Mereka Serukan

Dari Usamah bin Zaid radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Aku mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أُسَامَةَ بْنِ زَيْدٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «يُجَاءُ بِالرَّجُلِ يَوْمَ الْقِيَامَةِ فَيُلْقَى فِي النَّارِ، فَتَنْدَلِقُ أَقْتَابُهُ فِي النَّارِ، فَيَدُورُ كَمَا يَدُورُ الْحِمَارُ بِرَحَاهُ، فَيَجْتَمِعُ أَهْلُ النَّارِ عَلَيْهِ فَيَقُولُونَ: أَيْ فُلَانُ مَا شَأْنُكَ؟ أَلَيْسَ كُنْتَ تَأْمُرُنَا بِالْمَعْرُوفِ وَتَنْهَانَا عَنِ الْمُنْكَرِ؟ قَالَ: كُنْتُ آمُرُكُمْ بِالْمَعْرُوفِ وَلَا آتِيهِ، وَأَنْهَاكُمْ عَنِ الْمُنْكَرِ وَآتِيهِ».

"Seseorang akan didatangkan pada hari kiamat lalu dilemparkan ke dalam neraka, maka terburai (keluar) usus-usus perutnya di dalam neraka. Kemudian dia berputar-putar sebagaimana keledai yang berputar mengitari penggilingannya. Lantas penduduk neraka berkumpul mengelilinginya seraya berkata: 'Wahai Fulan, ada apa denganmu? Bukankah dahulu engkau menyuruh kami berbuat ma'ruf dan melarang kami dari perbuatan munkar?' Ia menjawab: 'Dahulu aku menyuruh kalian berbuat ma'ruf tetapi aku sendiri tidak melakukannya, dan aku melarang kalian dari perbuatan munkar tetapi aku sendiri melakukannya'." (HR. Al-Bukhari, no. 3267).

Biografi Singkat Sahabat Perawi Hadis

Usamah bin Zaid bin Haritsah adalah sosok kekasih Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dan putra dari orang yang sangat beliau cintai (hibbu Rasulillah wa ibnu hibbihi). Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengangkatnya sebagai panglima pasukan untuk berperang ke Syam saat usianya masih delapan belas tahun, sementara di dalam pasukan tersebut terdapat Umar dan para sahabat senior. Pasukan itu belum berangkat hingga Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam wafat. Kemudian Abu Bakar Ash-Shiddiq radhiyallahu 'anhu dengan sigap segera memberangkatkan mereka, lalu mereka melakukan penyerangan ke daerah Al-Balqa' di wilayah Yordania hari ini.

Telah sahih dari Usamah, ia berkata: Dahulu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah mengambilku bersama Al-Hasan, lalu beliau berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku mencintai keduanya, maka cintailah keduanya." (HR. Al-Bukhari, no. 3747). Beliau berkulit sangat hitam, berjiwa riang/ramah, dan pemberani. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mendidiknya dan sangat mencintainya. Dikatakan bahwa beliau ikut serta dalam Perang Mu'tah bersama ayahnya. Beliau pernah tinggal di Al-Mizzah selama beberapa waktu, kemudian kembali ke Madinah dan wafat di sana pada akhir masa kekhalifahan Mu'awiyah. [Lihat Siyar A'lam an-Nubala' (2/396)]

Makna Kata Asing (Gharib)

  • Aqtab (أَقْتَاب) : Bentuk jamak dari qitb (قِتْب), yaitu usus/isi perut.
  • Fayathifu bihi ahlun-nar (فَيُطِيفُ بِهِ أَهْلُ النَّارِ) : Maksudnya, mereka berkumpul di sekelilingnya.

Makna Hadis Secara Keseluruhan

Hukuman Bagi Orang yang Perbuatannya Selisih dengan Ucapannya

Hadis ini menggambarkan orang-orang yang menyuruh kepada kebaikan namun menyelesihi apa yang mereka larang dengan adegan yang sangat mengerikan ini. Sebab, hukumannya pada hari kiamat adalah: pertama, ia berada di dalam neraka; kedua, keadaannya seperti keledai; ketiga, ususnya terburai keluar; keempat, ia berputar-putar mengitari ususnya dan memijaknya dengan kedua kakinya; kemudian yang kelima, orang-orang yang dahulu ia tipu di dunia—dengan menampilkan citra kesalehan dan ketakwaan di hadapan mereka—berkumpul mengelilinginya, lalu Allah Ta'ala membongkar aibnya di hadapan mereka melalui pengakuannya sendiri dan penjelasannya tentang hakikat dirinya, di mana ia berkata kepada mereka: "Aku dahulu tidak menjalankan apa yang aku perintahkan kepada kalian, dan tidak menjauhi apa yang aku larang bagi kalian."

Di dalam hadis ini terdapat penjelasan betapa besarnya tanggung jawab para ulama, da'i, dan reformis (mushlihin) untuk meneladani dan menerapkan tugas-tugas amar ma'ruf nahi munkar serta penyampaian agama Allah yang diamanahkan kepada mereka. Hendaklah perbuatan mereka tidak menyelesihi apa yang mereka serukan, karena orang yang paling pertama disasar oleh dakwah adalah da'i itu sendiri. Jika ia berkomitmen dan mengamalkannya, maka pengaruhnya bagi masyarakat akan menjadi lebih kuat dan meresap.

Sungguh, Al-Qur'an telah mencela kaum Yahudi ketika mereka menyuruh manusia untuk taat dan bertakwa kepada Allah serta berbuat kebaikan, namun mereka sendiri menyelesihi apa yang mereka perintahkan dan serukan kepada manusia. Maka Allah mencela mereka seraya berfirman:

"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-Baqarah: 44).

Dosa-Dosa Besar Adalah Penyebab Masuk Neraka

Pada hakikatnya, masuknya orang tersebut ke dalam neraka bukanlah disebabkan oleh dosa-dosa kecil yang dilakukannya atau dosa-dosa besar yang ia telah bertobat darinya dan Allah menerima tobatnya; melainkan karena kewajiban-kewajiban (farā'idh) yang dahulu ia perintahkan kepada manusia tetapi ia sendiri tidak melaksanakannya, atau dosa-dosa besar (kabā'ir) yang ia larang manusia darinya namun apabila ia tersembunyi dari pandangan manusia, ia justru melanggar dan melakukannya. Seperti orang yang memerintahkan salat, puasa, atau zakat, namun ia menyelesihi apa yang ia perintahkan sehingga ia tidak menjalankannya. Dan sebaliknya, seperti orang yang melarang dari riba, namun ia justru mendatangi bank-bank ribawi lalu meminjam darinya secara ribawi; atau seperti orang yang melarang memakan harta anak yatim, namun ia justru mendatangi anak-anak yatim lalu memakan harta mereka; atau seperti orang yang melarang manusia dari pertumpahan darah dan penodaan kehormatan, namun ia justru berpihak kepada para penguasa zalim (thughāt) dan pelaku kriminal lalu memberi fatwa yang melegalkan darah dan harta manusia; atau seperti orang yang melarang perzinahan dan perbuatan keji (fawāhish), lalu ia sendiri mengerjakannya.

Kewajiban Para Da'i untuk Menjaga Keutamaan-Keutamaan Amal dan Ibadah Sunnah

Dari sisi lain, sepatutnya bagi para da'i, ulama, dan reformis untuk senantiasa menjaga keutamaan-keutamaan amal (fadhā'il al-a'māl) dan ibadah-ibadah sunnah (nawāfil) yang mereka perintahkan dan anjurkan kepada masyarakat. Sebab, komitmen dan kesungguhan mereka terhadap hal tersebut dalam kehidupan nyata akan menjadikan mereka sebagai teladan (qudwah) bagi masyarakat di sekitarnya. Sebaliknya, mereka juga harus menjauhi dosa-dosa kecil (shaghā'ir) dari perbuatan dosa yang mereka larang manusia darinya. Bahkan mereka wajib menjauhkan diri dari hal-hal yang merusak kehormatan diri (khawārim al-murū'ah [merekam perkara-perkara sepele yang dapat menjatuhkan wibawa dan mencoreng pelakunya]). Sebagaimana dikatakan: Hendaklah mereka meninggalkan hal-hal yang tidak berbahaya (mā lā ba'sa bihi) karena khawatir membuat manusia terjerumus ke dalam hal-hal yang berbahaya (mā fīhi ba's).

Apabila seorang da'i diuji dengan suatu kemaksiatan, baik berupa melakukan larangan maupun meninggalkan perintah, maka ia wajib bertobat dan mengoreksi dirinya. Jangan sampai kemaksiatan tersebut menghalanginya dari menjalankan peran yang dituntut darinya dalam menegakkan amar ma'ruf nahi munkar.

Pelajaran Terpenting dari Hadis Ini:

  1. Hadis ini berisi celaan keras (maqt) terhadap orang yang perkataannya menyelisihi perbuatannya.
  2. Di dalam hadis ini terdapat penjelasan tentang kehinaan/aib bagi orang yang keadaannya demikian sewaktu berada di dalam neraka Jahannam.
  3. Hadis ini menyeru para da'i dan reformis untuk bertakwa kepada Allah dalam ucapan dan perbuatan mereka.
  4. Hadis ini menyeru para da'i dan reformis agar batin (hati) mereka sama dengan lahiriah (tampilan luar) mereka, serta tidak menipu manusia dengan penampilan dan sosok lahiriah mereka.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat