Bashirah dan Firasat

Al-Bashīrah (Mata Hati) dan Al-Firāsah (Firasat)

(Terdapat 823 indeks tema: 15 Atsar, 9 Hadis, dan 7 Ayat)

Al-Bashīrah secara Bahasa: Sibawaih berkata: Baṣura (بَصُرَ) artinya menjadi dapat melihat, dan abṣarahū (أَبْصَرَهُ) digunakan ketika seseorang mengabarkan tentang sesuatu yang tampak oleh matanya. Al-Lihyani meramaskan: Baṣira bihi (بَصِرَ بِهِ), dengan membariskasrahan huruf ṣād, bermakna abṣarahū (ia melihatnya). Kalimat abṣartusy-syai'a berarti: saya melihatnya. Kata Al-Bashīrah berada di atas wazan fa‘īlah (فَعِيلَةٌ) namun bermakna muf‘ilah (مُفْعِلَةٌ). Kata ini diambil dari akar kata (b-ṣ-r / ب-ص-ر) yang menunjukkan makna pengetahuan terhadap sesuatu. Dikatakan: huwa baṣīrun bihi (dia mempunyai pengetahuan tentangnya).

Al-Raghib berkata: "Kata Al-Bashar (الْبَصَرُ) digunakan untuk indra penglihat (yaitu mata), seperti dalam firman Allah Ta'ala:

"...seperti kejapan mata..." (QS. An-Nahl: 77)

Dan digunakan pula untuk kekuatan hati yang dapat menangkap/memahami sesuatu, yaitu bashīrah dan bashar, seperti dalam firman Allah Ta'ala:

"...Maka, Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) mataimu sehingga penglihatanmu pada hari ini sangat tajam." (QS. Qaf: 22)

Bentuk jamak dari al-bashar adalah abṣār (أَبْصَارٌ), sedangkan bentuk jamak dari al-bashīrah adalah baṣā'ir (بَصَائِرُ). Allah Ta'ala berfirman:

"...maka pendengaran dan penglihatan mereka tidak berguna sedikit pun bagi mereka..." (QS. Al-Ahqaf: 26)

Indra penglihat hampir tidak pernah dinamai bashīrah. Dari makna pertama (al-bashar), dikatakan abṣartu (saya melihat dengan mata), dan dari makna kedua (al-bashīrah), dikatakan abṣartuhū dan baṣurtu bihī. Jarang sekali dikatakan baṣurtu untuk penglihatan indra kecuali jika mengandung makna penglihatan hati (persepsi mata hati).

Adapun firman Allah –Azza wa Jalla–:

Katakanlah (Muhammad), "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin..." (QS. Yusuf: 108)

Maksudnya adalah di atas pengetahuan dan keyakinan yang pasti.

Orang yang buta (adh-dharīr) secara majazi (pembalikan makna/ironi) disebut sebagai baṣīr [orang yang melihat]. Demikianlah yang dinyatakan para ulama. Namun yang lebih tepat, sebutan tersebut merupakan doa baginya agar kekuatan mata hatinya meningkat, bukan karena sebab yang mereka sebutkan tadi. Orang buta seperti ini tidak dinamai mubṣir dan tidak pula bāṣir.

Penyusun kitab Lisān al-‘Arab menyatakan: Dikatakan baṣura bihī baṣran wa baṣāratan, abṣarahū, dan tabaṣṣarahū artinya: melihat kepadanya apakah ia dapat melihatnya. Kata bāṣarahū bermakna: melihat bersamanya ke arah sesuatu untuk saling menguji siapa di antara keduanya yang melihatnya terlebih dahulu. Baṣura baṣāratan artinya: menjadi orang yang memiliki bashīrah (pemahaman/keyakinan). Baṣṣarahul-amra tabṣīran wa tabṣiratan artinya: menjadikannya paham terhadap perkara tersebut.

Al-Akhfash berkata mengenai firman-Nya:

Dia (Samiri) menjawab, "Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka ketahui..." (QS. Taha: 96)

Yaitu: Aku mengetahui apa yang tidak mereka ketahui.

Al-Lihyani berkata: Al-Bashīrah adalah keyakinan di dalam hati. Al-Laits berkata: Al-Bashīrah adalah nama bagi apa yang diyakini di dalam hati berupa agama dan pembenaran terhadap suatu perkara. Ada pula yang berpendapat: Al-Bashīrah adalah kecerdasan/kefahaman. Orang Arab biasa mengucapkan: 'Amallāhu baṣā'irahū, bermakna: Semoga Allah membutakan kecerdasannya (pikiran/persepsinya) —diriwayatkan dari Ibnul A'rabi.

Kalimat fa'ala dzālika 'alā baṣīrah bermakna: ia melakukan hal itu secara sengaja. Dan 'alā ghairi baṣīrah berarti: tanpa keyakinan.

At-Tabaṣṣur adalah perenungan dan pencarian pengetahuan; at-tabṣīr adalah pengenalan dan penjelasan; sedangkan rajulun baṣīrun bil-'ilmi bermakna: lelaki yang alim (sangat menguasai) ilmu tersebut. Firasat yang jujur/tepat sering diistilahkan dengan: firāsah ātu baṣīrah (firasat yang berdasar mata hati). [Lisān al-‘Arab (4/64–66), Maqāyīs al-Lughah (1/253), dan Mufradāt al-Rāghib (hal. 49)]

Oleh karena firasat merupakan salah satu penggunaan dari istilah bashīrah dan keduanya menjadi maksud utama di sini, maka kami cantumkan pula definisi al-firāsah.

Al-Ashma'i berkata: Dikatakan fārisun bayyinul-furūsah, wal-firāsah, wal-furūsiyyah. Jika seseorang mahir menunggang kuda dengan ketajaman mata dan penglihatannya, maka ia dikatakan bayyinul-firāsah (dengan membaca kasrah pada huruf fa). Dikatakan pula: Inna fulānan lafārisun bi-dhālikal-amri apabila ia sangat ahli/tahu mendalam tentang hal itu. Dikatakan: huwa yatafarrasu jika ia mencermati secara saksama dan memperhatikan. Dikatakan: rajulun fārisun bayyinul-furūsah wal-firāsah fil-khaili, yaitu memiliki ketetapan di atas kuda dan keahlian dalam urusannya. Dan rajulun fārisun bil-amri (dengan kasrah) berarti orang yang alim dan paham betul (mempunyai penglihatan tajam) tentang perkara itu.

Al-Firāsah (dengan kasrah pada huruf fa): bermakna pencermatan, penelitian, perenungan terhadap sesuatu, serta penglihatan tajam terhadapnya. Dikatakan: Innahū lafārisun bihādžal-amr apabila ia alim tentangnya. Al-Firāsah (dengan kasrah) adalah bentuk kata benda (isim) dari ucapanmu: tafarrastu fīhi khairā (aku melihat/mendeteksi kebaikan pada dirinya).

Tafarrasa fisy-syai'i bermakna: tawassamahū (mengenali tandanya), dan bentukan isim-nya adalah al-firāsah.

Az-Zajjaj menggunakan bentukan kata af'alu [isim tafdhil] dari kata ini, lalu berkata: Manusia yang paling tajam firasatnya (afrasun-nās) —yakni paling bagus dan paling benar firasatnya— ada tiga orang:

  1. Al-Aziz (penguasa Mesir) terhadap Nabi Yusuf –semoga salawat dan salam tercurah kepada Nabi kita dan kepadanya–.
  2. Putri Syu'aib terhadap Nabi Musa –semoga salawat dan salam tercurah kepada Nabi kita dan kepada mereka–.
  3. Abu Bakar r.a. dalam menunjuk Umar bin al-Khattab r.a. sebagai penggantinya.[ Lisān al-‘Arab (6/159–160), Al-Miṣbā al-Munīr (1/56–57), Muī al-Muī (hal. 42, 683), dan Nuzhat al-A‘yun al-Nawāir (hal. 199–200)]

Secara Istilah: Al-Jurjani berkata: Al-Bashīrah adalah kekuatan hati yang diterangi oleh nur (cahaya) Allah, dengannya ia dapat melihat hakikat segala sesuatu dan batinnya. Kedudukannya bagi jiwa sama seperti kedudukan indra penglihat (mata) bagi fisik, yang dengannya ia dapat melihat bentuk benda dan lahiriahnya.

Al-Kafawi berkata: Al-Bashīrah adalah kekuatan di dalam hati yang dengannya hal-hal yang rasional (ma'qūlāt) dapat ditangkap/dipahami.[ At-Ta‘rīfāt (hal. 46) dan Al-Kulliyyāt karya Al-Kafawi (1/429)]

Dan Al-Baṣīr merupakan salah satu dari Asmaul Husna (nama-nama Allah yang agung). Al-Baṣīr dialah Yang Maha Melihat seluruh hal yang dapat dilihat. Di dalam kitab Al-Nihāyah disebutkan: Sesungguhnya Al-Baṣīr adalah Dia yang menyaksikan segala sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Sifat al-bashar pada hakikat Allah Ta'ala merupakan ungkapan bagi sifat yang dengannya tersingkap kesempurnaan sifat-sifat seluruh hal yang dapat dilihat.

Ada pula yang berpendapat: Al-Baṣīr adalah yang memiliki sifat penglihatan (al-bashar) terhadap seluruh wujud. Maka Allah Ta'ala mengetahui seluruh hal yang dapat dilihat dengan pengetahuan yang sempurna, serta tersingkap bagi-Nya dengan penyingkapan dan pengejawantahan yang sempurna. Maka Dia melihat pengkhianatan mata dan apa yang disembunyikan oleh dada. Dia menyaksikan dan melihat, tidak ada yang tersembunyi dari-Nya apa yang ada di langit yang tinggi, di bumi, di antara keduanya, maupun di bawah tanah. Dialah Yang Maha Hadir yang tidak pernah gaib/absent.[ Mawsū‘ah Lillāhi al-Asmā' al-usnā (hal. 155), dan sebagiannya terdapat dalam Al-Maqṣad al-Asnā (hal. 91)]

Kedudukan Firasat (Manzilat al-Firāsah)

Ibnu al-Qayyim –semoga Allah merahmatinya– berkata: "Di antara tingkatan/posisi 'Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami memohon pertolongan' (QS. Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan Firasat."

Allah Ta'ala berfirman:

Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda. (QS. Al-Hijr: 75)

Mujahid –semoga Allah merahmatinya– berkata: "(Makna al-mutawassimīn) adalah orang-orang yang memiliki firasat (al-mutafarrisīn)."

Ibnu Abbas –semoga Allah meredai keduanya– berkata: "Bagi orang-orang yang melihat (lin-nāirīn)." Qatadah berkata: "Bagi orang-orang yang mengambil pelajaran (lil-mu'tabirīn)." Muqatil berkata: "Bagi orang-orang yang berpikir (lil-mutafakkirīn)."

Tidak ada pertentangan di antara pendapat-pendapat ini; sebab seorang pengamat, apabila ia melihat bekas-bekas peninggalan negeri orang-orang yang mendustakan beserta tempat tinggal mereka serta bagaimana akhir dari urusan mereka, hal itu akan mewariskan firasat, pelajaran, dan pemikiran.

Allah Ta'ala berfirman berkenaan dengan keadaan orang-orang munafik:

Sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Muhammad) sehingga engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan engkau benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya... (QS. Muhammad: 30)

Yang pertama adalah firasat penglihatan dan mata, sedangkan yang kedua adalah firasat pendengaran dan telinga.

Aku mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –semoga Allah merahmatinya– berkata: "Allah menggantungkan pengenalan Nabi terhadap mereka melalui penglihatan atas kehendak-Nya (al-masyī'ah), namun Allah tidak menggantungkan pengenalan Nabi terhadap mereka melalui nada bicara mereka (lahn al-khithāb) atas suatu syarat. Sebaliknya, Allah memberitahukannya sebagai berita pasti yang dikuatkan dengan sumpah. Allah berfirman:

"...Dan engkau benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya..." (QS. Muhammad: 30)

Yaitu kiasan pembicaraan (ta'rī al-khiāb), pemahaman tersirat (fawāl-kalām), dan arah maksudnya (maghzāh)."

Maksudnya: Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah atas pengenalan terhadap mereka melalui nada bicara mereka; karena mengenali pembicara dan apa yang ada di dalam hatinya melalui ucapannya itu lebih dekat daripada mengenali melalui tanda-tanda fisik (sīmā) dan apa yang tampak di wajahnya. Sebab, petunjuk ucapan terhadap maksud dan isi hati pembicara itu lebih jelas daripada tanda-tanda lahiriah yang terlihat. Dan firasat itu berkaitan dengan kedua jenis ini: melalui penglihatan dan pendengaran.

Firasat Terbagi Menjadi Tiga Jenis:

  1. Firasat Imaniah (Firāsat Īmāniyyah)

Sebabnya adalah nur (cahaya) yang dihujamkan Allah ke dalam hati hamba-Nya, yang dengannya ia membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang berisi [beriman] dan yang hampa [kosong dari iman], serta antara yang jujur dan yang dusta.

Hakikatnya: Bahwa firasat ini berupa lintasan hati (khāir) yang hinggap di dalam dada yang menepis hal-hal yang bertentangan dengannya. Firasat ini kadar kekuatannya sesuai dengan tingkat keimanan; barang siapa yang imannya lebih kuat, maka firasatnya akan lebih tajam.

Akar dari jenis firasat ini berasal dari kehidupan dan cahaya yang dianugerahkan Allah Ta'ala kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya, sehingga hati menjadi hidup dan terang karenanya. Maka firasatnya hampir-hampir tidak pernah meleset. Allah Ta'ala berfirman:

Apakah orang yang mati (hatinya), kemudian Kami hidupkan dan Kami beri cahaya yang terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat manusia, serupa dengan orang yang berada dalam gelap gulita yang tidak dapat keluar darinya?... (QS. Al-An'am: 122)

Dahulunya ia mati karena kekufuran dan kebodohan, lalu Allah menghidupkannya dengan iman dan ilmu, serta menjadikan Al-Qur'an dan iman sebagai cahaya baginya untuk menerangi jalannya di tengah manusia pada jalan yang lurus, dan membawanya berjalan di tengah kegelapan-kegelapan. Wallāhu a'lam.

  1. Firasat Olah Jiwa (Firāsat ar-Riyāah)

Yaitu firasat yang lahir dari rasa lapar, bergadang (mengurangi tidur), dan menyendiri (at-takhallī). Apabila jiwa telah lepas dari penghalang-penghalang fisik/duniawi, ia akan memiliki firasat dan penyingkapan (al-kasyf) sesuai kadar kebebasan jiwanya tersebut.

Firasat jenis ini berlaku umum (sekaligus) bagi orang mukmin maupun orang kafir; firasat ini tidak menunjukkan atas keimanan dan tidak pula menunjukkan atas kewalian (walāyah). Banyak orang bodoh yang tertipu dengannya. Para rahib (biku/pendeta) memiliki rekam kejadian yang sudah dimaklumi dalam hal ini. Ini adalah firasat yang tidak mampu menyingkap hakikat yang bermanfaat dan tidak pula menunjukkan jalan yang lurus; melainkan penyingkapannya bersifat parsial (juz'ī), sejenis dengan firasat para penguasa, ahli takbir mimpi, dokter, dan sepadan dengan mereka.

  1. Firasat Bentuk Tubuh (Firāsat al-Khalqiyyah)

Yaitu firasat yang telah disusun kitab-kitabnya oleh para dokter dan selain mereka. Mereka menyimpulkan karakter/akhlak batin (al-khuluq) dari bentuk fisik lahiriah (al-khalq) karena adanya keterikatan antara keduanya yang telah ditetapkan oleh hikmah Allah. Contohnya seperti menyimpulkan kecilnya akal dari ukuran kepala yang kecil di luar kewajaran.

Ketergantungan utama firasat ini adalah pada mata; karena mata merupakan cermin hati dan gambaran dari apa yang ada di dalamnya. Kemudian pada lidah; karena lidah adalah utusan dan penerjemahnya.

Akar dari firasat ini adalah: Bahwa keseimbangan bentuk fisik dan rupa lahiriah merupakan cerminan dari keseimbangan temperamen (al-mizāj) dan ruh.

Basirah bersumber dari pemikiran (al-fikrah). Pemikiran adalah pengamatan hati secara tajam ke arah objek yang dicari yang telah siap (siap ditangkap) secara global, namun belum ditemukan rinciannya dan jalan untuk mencapainya. Apabila pemikiran itu benar, ia akan melahirkan basirah. Sebab, basirah adalah cahaya di dalam hati yang dengannya seseorang dapat melihat janji Allah, surga, neraka, serta apa yang disiapkan Allah di dalamnya bagi para wali-Nya. Karena sesungguhnya basirah adalah cahaya yang dihenyakkan/dituangkan Allah ke dalam hati, sehingga dengannya hati dapat melihat hakikat dari apa yang dikabarkan oleh para rasul. Dengan demikian, terealisasilah pemanfaatannya terhadap apa yang diseru oleh para rasul dan kesadarannya akan bahaya akibat menyelahi (ajaran) mereka.

Inilah makna dari ucapan para 'ārifīn (orang-orang yang memiliki maqam kesadaran spiritual tinggi): "Basirah itu merealisasikan kemanfaatan dan kesadaran akan bahaya (at-tadharrur), dan basirah adalah apa yang membebaskanmu dari kebingungan (al-hairah), baik dengan keimanan maupun dengan penyaksian langsung ('iyān*)."*²

 

Firasat seorang mutafarris (orang yang menggunakan firasat) berkaitan dengan tiga hal: matanya, telinganya, dan hatinya. Matanya untuk melihat tanda-tanda dan bentuk fisik (as-sīmā' wa al-'alāmāt); telinganya untuk mendengarkan ucapan—baik yang tersurat (tasrīh) maupun tersirat (ta'rīdh), yang diucapkan secara eksplisit (manthūq) maupun implisit (mafhūm), isi kandungan (fa), isyarat (isjārah), gaya bahasa (lan), petunjuk (īmā'), dan sejenisnya; sedangkan hatinya untuk menyeberang (al-'ubūr) dan mengambil dalil/petunjuk dari apa yang dilihat dan didengar menuju bagian batinnya yang tersembunyi. Maka, ia menyeberang menuju apa yang ada di balik lahiriahnya, sebagaimana penyeberangan penguji mata uang (an-naqqād) pada suatu barang dari cetakan dan stempel lahiriah menuju batin/kadar kemurnian mata uang tersebut untuk mengetahui apakah ia murni/sahih atau palsu (zaghal) [Penipuan / kepalsuan]. Demikian pula penyeberangan seorang mutafarris dari penampilan dan gerak-gerik lahiriah menuju batin ruh dan hati. Maka perbandingan penilaiannya terhadap ruh-ruh dari jasad-jasad seperti perbandingan penilaian penukar uang (ash-shairafī) yang melihat substansi logam mulia dari cetakan lahiriah dan mata uangnya.

Apabila fisik/perawakan itu seimbang (i'tidāl), maka akan seimbang pula akhlak dan perbuatannya. Sejauh mana penyimpangan fisik dan rupa dari keseimbangan, sejauh itu pula terjadi penyimpangan pada akhlak dan perbuatan. Hal ini apabila jiwa dan tabiatnya dibiarkan begitu saja (tanpa pendidikan syariat).[ Madārij as-Sālikīn karya Ibnul Qayyim (2/503-505) dengan penyelarasan redaksi (batasharruf)]

[Untuk pendalaman lebih lanjut: Lihat sifat-sifat: Al-Īmān (Keimanan) - At-Ta'ammul (Perenungan) - At-Tabayyun / At-Tatsabbut (Klarifikasi/Verifikasi) - At-Tadabbur (Penghayatan) - Husnuzhan (Prasangka Baik) - At-Tafakkur (Berpikir) - At-Taqwā (Ketaqwaan) - Al-Yaqīn (Keyakinan). Dan pada lawan dari hal tersebut: Lihat sifat-sifat: Al-Balādah wa Al-Ghabā' (Ketablegan dan Kebodohan) - Sū'uzhan (Prasangka Buruk) - Asy-Syakk (Keraguan) - Ath-Thaysy (Kecerobohan) - Al-Ghaflah (Kelalaian) - Al-Waswasah (Bisikan Keraguan) - Al-Wahm (Ilusi/Persangkaan Keliru)].

Ayat-Ayat yang Tercantum Mengenai "Al-Bashīrah"

  1. Katakanlah (Muhammad), "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu) kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf: 108)
  2. Pada hari itu manusia berkata, "Ke mana tempat lari?" Tidak! Tidak ada tempat berlindung! Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu. Pada hari itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya. Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia mengemukakan alasan-alasannya. (QS. Al-Qiyamah: 10-15)

Ayat-Ayat yang Tercantum Mengenai "Al-Bashīrah" secara Makna

  1. Dia (Yakub) berkata, "Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada saudara-saudaramu, nanti mereka membuat tipu daya untuk membinasakanmu. Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia." Dan demikianlah, Tuhanmu memilih engkau (untuk jadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian dari takwil mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada keluarga Yakub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada kedua orang tuamu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sungguh, Tuhanmu Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (QS. Yusuf: 5-6)
  2. Dan mereka datang membawa baju kausnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yakub) berkata, "Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang buruk itu; maka hanya bersabar yang terbaik (bagiku). Dan hanya kepada Allah tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kamu ceritakan." (QS. Yusuf: 18)
  3. Dia (Yusuf) berkata, "Dialah yang merayuku untuk menundukkan diriku." Dan seorang saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksian, "Jika baju kausnya koyak di bagian depan, maka wanita itu benar, dan dia (Yusuf) termasuk orang-orang yang berdusta." (QS. Yusuf: 26)
  4. Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda. (QS. Al-Hijr: 75)
  5. Dan sekiranya Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Muhammad) sehingga engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan engkau benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya, dan Allah mengetahui amalan-amalan kamu. Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara kamu; dan Kami uji berita-berita (tentang) kamu. (QS. Muhammad: 30-31)

Hadis-Hadis yang Tercantum Mengenai "Al-Bashīrah dan Al-Firāsah"

  1. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan suatu kaum yang bakal ada pada umatnya, mereka keluar di tengah perbedaan (perpecahan) manusia, tanda mereka adalah mencukur habis rambut (kepalanya) [Sīmāhum: Maksudnya adalah tanda/ciri khas mereka. At-Tahālulq: Maksudnya adalah mencukur habis rambut kepala]. Beliau bersabda: "Mereka adalah seburuk-buruk makhlukatau termasuk seburuk-buruk makhlukyang akan dibunuh oleh kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran di antara dua kelompok." Beliau berkata: Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membuat sebuah perumpamaan bagi mereka—atau beliau mengucapkan suatu perkataan:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ ذَكَرَ قَوْمًا يَكُونُونَ فِي أُمَّتِهِ ، يَخْرُجُونَ فِي فِرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ ، سِيمَاهُمْ التَّحَالُقُ . قَالَ : «هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ - أَوْ مِنْ أَشَرِّ الْخَلْقِ - يَقْتُلُهُمْ أَدْنَى الطَّائِفَتَيْنِ إِلَى الحَقِّ» قَالَ : فَضَرَبَ النَّبِيُّ ﷺ لَهُمْ مَثَلاً : أَوْ قَالَ قَوْلاً : «الرَّجُلُ يَرْمِي الرَّمِيَّةَ - أَوْ قَالَ الغَرَضَ - فَيَنْظُرُ فِي النَّصْلِ فَلَا يَرَى بَصِيرَةً ، وَيَنْظُرُ فِي النَّفِي فَلَا يَرَى بَصِيرَةً ، وَيَنْظُرُ فِي الفُوقِ فَلا يَرَى بَصِيرَةً»

"Seseorang melempar sasaran buruan—atau beliau bersabda: target sasaran—lalu ia melihat pada mata anak panah [An-Nasl: Mata anak panah, tombak, dan sejenisnya], namun ia tidak melihat adanya bekas/kejelasan (bashīrah); lalu ia melihat pada batang anak panah tanpa bulu [An-Nafiy: Dengan timbangan (wazan) al-ghaniyy, yaitu anak panah tanpa mata panah dan tanpa bulu], namun tidak melihat adanya bekas/kejelasan (bashīrah); dan ia melihat pada takik tempat tali busur di anak panah [Al-Fūq: Tempat masuknya tali busur pada anak panah. Bentuk jamaknya adalah afwāq dan fūq], namun tidak melihat adanya bekas/kejelasan (bashīrah)." Abu Sa'id berkata: "Dan kalian telah membunuh mereka, wahai penduduk Irak." (HR. Muslim [1065] dan senada dengannya diriwayatkan oleh Al-Bukhari 12 [6933]).

  1. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menceritakan kepada kami pada suatu hari sebuah hadis yang panjang tentang Dajjal. Di antara apa yang beliau ceritakan kepada kami, beliau bersabda: "Dajjal akan datang sementara ia diharamkan untuk memasuki jalan-jalan celah Kota Madinah [Niqāb Al-Madīnah: Maksudnya adalah jalan-jalan dan celah-celahnya; merupakan bentuk jamak dari naqb, yaitu jalan di antara dua gunung]. Lalu ia sampai di sebagian tanah tandus bergaram [As-Sibākh: Bentuk jamak dari sabkhah (dengan dua harakat fathah), yaitu tanah berpasir yang tidak menumbuhkan tanaman karena kadar garamnya yang tinggi. Sifat tanah ini berada di luar kawasan Madinah dari arah luar Harrah] yang berbatasan dengan Madinah. Maka pada hari itu keluarlah kepadanya seorang laki-laki yang merupakan sebaik-baik manusia—atau di antara sebaik-baik manusia—lalu laki-laki itu berkata kepadanya: 'Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam kepada kami hadisnya.' Maka Dajjal berkata: 'Bagaimana pendapat kalian jika aku membunuh orang ini kemudian aku menghidupkannya kembali, apakah kalian ragu terhadap urusan ini?' Mereka menjawab: 'Tidak.' Beliau bersabda: Lalu Dajjal membunuhnya kemudian menghidupkannya kembali. Maka laki-laki itu berkata ketika dihidupkan kembali: 'Demi Allah, tidaklah aku pernah merasa lebih yakin (bashīrah) tentang dirimu melebihi keyakinanku hari ini!' Beliau bersabda: Lalu Dajjal hendak membunuhnya lagi, namun Dajjal tidak diberi kuasa atasnya."

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ يَوْمًا حَدِيثًا طَوِيلاً عَنِ الدَّجَّالِ ، فَكَانَ فِيمَا حَدَّثَنَا قَالَ : يَأْتِي وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ المَدِينَةِ ، فَيَنْتَهِي إِلَى بَعْضِ السِّبَاخِ الَّتِي تَلِي المَدِينَةَ ، فَيَخْرُجُ إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ هُوَ خَيْرُ النَّاسِ ، أَوْ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ ، فَيَقُولُ لَهُ : أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ حَدِيثَهُ ، فَيَقُولُ الدَّجَّالُ : أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ أَحْيَيْتُهُ ، أَتَشُكُونَ فِي الْأَمْرِ ؟ فَيَقُولُونَ : لَا ، قَالَ : فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيهِ ، فَيَقُولُ حِينَ يُحْيِيهِ : وَاللَّهِ مَا كُنْتُ فِيكَ قَطُّ أَشَدَّ بَصِيرَةً مِنِّي الآنَ، قَالَ : فَيُرِيدُ الدَّجَّالُ أَنْ يَقْتُلَهُ فَلَا يُسَلِّطُ عَلَيْهِ

(HR. Al-Bukhari - Al-Fath 13 [7132], dan Muslim [2938]).

Hadis-Hadis yang Tercantum Mengenai "Al-Bashīrah dan Al-Firāsah" secara Makna

  1. Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللهِ» ، ثُمَّ قَرَأَ : ﴿إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ﴾ (الحجر / ٧٥)

"Takutlah kamu akan firasat seorang mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya Allah." Kemudian beliau membaca ayat: "Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang memperhatikan tanda-tanda." (QS. Al-Hijr: 75) (HR. At-Tirmidzi [3127], dan ia berkata: Ini adalah hadis gharib, kami hanya mengetahuinya dari jalur ini, dan telah diriwayatkan pula dari sebagian ahli ilmu. Adapun tafsir dari ayat ini: ﴿إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ﴾, beliau berkata: Yaitu bagi orang-orang yang menggunakan firasat (lil-mutafarrisīn). As-Suyuthi mencantumkannya dalam Ad-Durr Al-Manthūr [5/90 cet. Dar Al-Fikr] dan menambahkan nisbah perwayatannya kepada Ibn Jarir dari dua jalur yang disebutkan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya dan Ibn Abi Hatim. Serta diriwayatkan oleh Al-Haitsami dalam Al-Majma' dari hadis Abu Umamah [10/268], dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan sanadnya hasan).

  1. Dari Anas radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَنَسٍ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «إِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا يَعْرِفُونَ النَّاسَ بِالتَّوَسُّمِ

"Sesungguhnya Allah memiliki hamba-hamba yang mengenal manusia melalui penandaan/firasat (bi at-tawassum)."

(Diriwayatkan oleh Al-Haitsami dalam Al-Majma' [10/268] dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzar dalam Al-Awsath dan sanadnya hasan. Dan disebutkan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya dari dua jalur Jilid 2, Jilid 14, [hal. 576]).

  1. Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki dari Bani Fazarah datang kepada Nabi lalu berkata: "Sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak laki-laki yang berkulit hitam." Maka Nabi bersabda: "Apakah engkau memiliki unta?" Ia menjawab: "Ya." Beliau bersabda: "Apa warnanya?" Ia menjawab: "Merah." Beliau bersabda: "Apakah di antaranya ada yang berwarna abu-abu (kehitam-hitaman)?" Ia menjawab: "Sesungguhnya di antaranya ada yang berwarna abu-abu." Beliau bersabda: "Lalu dari mana asal warna tersebut?" Ia menjawab: "Mungkin karena ditarik oleh faktor keturunan (gen pembawa)." Beliau bersabda: "Dan anakmu ini, mungkin pula ditarik oleh faktor keturunan (gen pembawa)." [HR. Bukhari dan Muslim].

6 – Dari Sahl bin Sa'd As-Sa'idi, ia berkata: Uwaimir Al-Ajlani datang kepada Ashim bin Adi lalu berkata: "Bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang mendapati laki-laki lain bersama istrinya lalu ia membunuhnya, apakah kalian akan membunuhnya (sebagai qishash) karena hal itu? Tanyakanlah untukku wahai Ashim kepada Rasulullah ." Maka Ashim menanyakannya, namun Nabi membenci pertanyaan-pertanyaan tersebut dan mencelanya. Ketika Ashim kembali, ia memberitahukan kepada Uwaimir bahwa Nabi membenci pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Uwaimir berkata: "Demi Allah, sungguh aku akan mendatangi Nabi ." Maka ia datang menemui Nabi yang saat itu berada di belakang Ashim, lalu Nabi bersabda kepadanya: "Sungguh Allah telah menurunkan Al-Qur'an mengenai dirimu dan istri mu." Beliau lalu memanggil keduanya. Kemudian keduanya maju dan saling melakukan li'an [bersumpah tuduhan/penangkalan zina], lalu Uwaimir berkata: "Aku telah berdusta atasnya wahai Rasulullah jika aku tetap mempertahankannya." Maka ia menceraikannya, padahal Nabi tidak memerintahkannya untuk menceraikannya. Lalu berlakulah sunnah (hukum) terkait dua orang yang melakukan li'an. Dan Nabi bersabda: "Perhatikanlah perempuan itu, jika ia melahirkan anak yang berkulit merah, berbadan pendek seperti cecak (waharah), maka aku tidak melihatnya melainkan laki-laki itu (Uwaimir) telah berdusta. Namun jika ia melahirkan anak yang berkulit hitam manis/gelap, bermata lebar (as-ham a'yan), serta bertulang pinggul/pantat besar (dza al-yatain), maka aku tidak menganggapnya melainkan laki-laki itu telah jujur atas tuduhannya." Kemudian perempuan itu melahirkan anak tersebut sesuai dengan ciri-ciri yang dibenci [adanya perzinahan]. [HR. Bukhari dan Muslim].

7 – Dari Amr bin Abasah As-Sulami radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah pernah memperlihatkan kuda-kuda, dan di sisi beliau terdapat Uyainah bin Badr Al-Fazari. Rasulullah bersabda kepadanya: "Aku lebih mengetahui tentang kuda daripada engkau." Uyainah berkata: "Dan aku lebih mengetahui tentang laki-laki (para pejuang) daripada engkau." Rasulullah bersabda: "Lalu siapakah sebaik-baik laki-laki?" Uyainah menjawab: "Laki-laki yang menyandang pedang di pundak mereka dan menyandarkan tombak mereka di atas tengkuk kuda-kuda mereka dari penduduk Najd." Maka Rasulullah bersabda: "Engkau berdusta! Bahkan sebaik-baik laki-laki adalah laki-laki dari Yaman. Iman itu ada pada orang Yaman hingga ke suku Lakhm dan Judzam. Dan makanan suku Himyar lebih baik daripada makanan suku Al-Harits, serta Hadramaut lebih baik daripada Bani Al-Harits. Demi Allah, aku tidak peduli sekiranya kedua suku Al-Harits itu binasa semuanya. Semoga Allah melaknat empat raja: Jamad, Makhus, Abadhah, dan saudara perempuan mereka Al-Amarradah." Kemudian beliau bersabda: "Tuhanku memerintahkanku untuk melaknat Quraisy dua kali, maka aku melaknat mereka; dan Dia memerintahkanku untuk mendoakan kebaikan (shalawat) atas mereka, maka aku mendoakan kebaikan atas mereka dua kali dua kali." Kemudian beliau bersabda: "Semoga Allah melaknat Tamim bin Murrah lima kali, dan Bakr bin Wa'il tujuh kali. Dan semoga Allah melaknat dua kabilah dari kabilah-kabilah Bani Tamim: Maqa'is dan Maladis." Kemudian beliau bersabda: "Usaiyyah telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya. Sedangkan Aslam, Ghifar, Muzainah, dan sekutu-sekutu mereka dari Juhainah adalah lebih baik di sisi Allah pada hari kiamat daripada Bani Asad, Tamim, Ghathafan, dan Hawazin." Kemudian beliau bersabda: "Sejelek-jelek dua kabilah di antara bangsa Arab adalah Najran dan Bani Taghlib, dan kabilah yang paling banyak berada di dalam surga adalah Madzhij." [HR. Al-Hakim, Ahmad, dan At-Thabrani].

8 – Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «لَقَدْ كَانَ فِيمَا قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ نَاسٌ مُحَدَّثُونَ ، فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ فَإِنَّهُ عُمَرُ»

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah bersabda: "Sungguh telah ada pada umat-umat sebelum kalian orang-orang yang diberi ilham (Muhaddatsun). Jika ada salah seorang di antara umatku, maka dialah Umar." [HR. Bukhari dan Muslim]. Zakariya menambahkan: Dari Sa'd dari Abu Hurairah, ia berkata: Nabi bersabda: "Sungguh telah ada pada orang-orang sebelum kalian dari Bani Israil, laki-laki yang diajak bicara (diberi ilham) tanpa mereka menjadi Nabi. Jika ada salah seorang dari mereka pada umatku, maka dialah Umar." Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "(Membaca dengan redaksi): Tidak ada seorang Nabi pun dan tidak pula seorang Muhaddats (orang yang diberi ilham)." [HR. Bukhari dan Muslim].

9 – Dari Abdullah bin Salam, ia berkata: Ketika Rasulullah tiba di Madinah, orang-orang berbondong-bondong menyambut beliau, dan dikatakan: "Rasulullah telah tiba!" Maka aku datang bersama orang-orang untuk melihat beliau. Ketika aku telah memperhatikan wajah Rasulullah dengan jelas, aku mengetahui bahwa wajah beliau bukanlah wajah seorang pembohong. Dan hal pertama yang beliau sabrakan adalah: "Wahai manusia! Tebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan shalatlah di malam hari saat manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk surga dengan selamat." [HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi].

Di Antara Atsar (Atsar Sahabat) dan Ucapan Para Ulama serta Mufasir yang Terkandung dalam Tema Al-Bashirah

1 – Diriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah didatangi oleh suatu kaum dari suku Madzhij yang di antaranya terdapat Al-Ashtar. Maka Umar mengamati pandangannya ke atas dan ke bawah padanya, lalu berkata: "Siapakah orang ini?" Mereka menjawab: "Malik bin Al-Harits." Umar berkata: "Ada apa dengannya? Semoga Allah membinasakannya. Sungguh aku melihat umat Islam akan mengalami hari yang sangat berat/kelam karenanya." Maka terjadilah fitnah darinya sebagaimana yang telah terjadi.

2 – Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Tidaklah seseorang menanyakan sesuatu kepadaku melainkan aku mengetahui apakah dia seorang yang paham agama (faqih) atau bukan faqih."

3 – Diriwayatkan dari Asy-Syafi'i dan Muhammad bin Al-Hasan bahwa keduanya pernah berada di pelataran Ka'bah, lalu ada seorang laki-laki berada di pintu masjid. Salah seorang dari keduanya berkata: "Aku melihatnya sebagai seorang tukang kayu." Sedangkan yang lain berkata: "Bahkan dia seorang tukang besi." Maka orang-orang yang hadir bergegas mendatangi laki-laki itu dan menanyakannya, lalu ia menjawab: "Dahulu aku seorang tukang kayu, dan hari ini aku seorang tukang besi."

4 – Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Manusia yang paling tajam firasatnya ada tiga: Al-Aziz (Penguasa Mesir) pada kisah Yusuf ketika ia berkata kepada istrinya: 'Beri dialah tempat (dan layanan) yang baik, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak' (QS. Yusuf: 21); putri Syu'aib ketika berkata kepada ayahnya tentang Musa: 'Wahai ayahku, ambillah dia sebagai orang yang bekerja (pada kita)' (QS. Al-Qashash: 26); serta Abu Bakar mengenai Umar radhiyallahu 'anhuma ketika ia menjadikannya khalifah penggantinya." Dan dalam riwayat lain disebutkan: "...serta istri Fir'aun ketika ia berkata: '(Dia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak' (QS. Al-Qashash: 9)."

5 – Abdullah bin Rawahah berkata kepada Nabi : "Sungguh aku melihat tanda-tanda kebaikan pada dirimu yang aku mengenalnya. Dan Allah mengetahui bahwa aku memiliki penglihatan yang tajam. Aku memperhatikan tanda-tanda itu ketika aku melihat kewibawaan pada dirinya, dan aku berkata: 'Orang ini berasal dari keluarga Hasyim (Bani Hasyim)'."

6 – Ibnu Al-Qayyim berkata: "Ash-Shiddiq (Abu Bakar) radhiyallahu 'anhu adalah umat yang paling agung firasatnya, dan setelah beliau adalah Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu. Peristiwa-peristiwa firasat Umar sangatlah masyhur, karena tidaklah beliau mengatakan terhadap sesuatu 'Aku mengira demikian' melainkan terjadi persis seperti yang beliau katakan. Cukuplah bukti firasat beliau dari persesuaian pendapatnya dengan Tuhannya di berbagai tempat yang telah diketahui.

Sawad bin Qarib pernah berjalan melewati Umar radhiyallahu 'anhu padahal Umar belum mengenalnya, lalu Umar berkata: 'Dugaanku tidak salah, orang ini adalah seorang dukun (kahin) atau dia pernah mengenal perdukunan di masa Jahiliyah.' Ketika Sawad duduk di hadapan Umar, Umar menyampaikan hal itu kepadanya. Maka Sawad berkata: 'Maha Suci Allah wahai Amirul Mukminin, engkau tidak pernah menyambut seorang pun dari teman dudukmu dengan penyambutan seperti yang engkau lakukan padaku.' Umar radhiyallahu 'anhu berkata kepadanya: 'Apa yang dahulu kita berada di atasnya pada masa Jahiliyah lebih besar dari hal itu, namun beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku tanyakan kepadamu.' Sawad menjawab: 'Engkau benar wahai Amirul Mukminin, aku dahulu adalah seorang dukun di masa Jahiliyah...' Dan firasat para Sahabat radhiyallahu 'anhum adalah firasat yang paling benar."

7 – Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata: "Iyas bin Mu'awiyah adalah termasuk manusia yang paling agung firasatnya dan beliau memiliki kisah-kisah firasat yang populer. Begitu pula Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, dan dikatakan bahwa beliau memiliki karya tulis mengenai ilmu firasat."

8 – Beliau (Ibnu Al-Qayyim) juga berkata: "Sungguh aku telah menyaksikan hal-hal yang menakjubkan dari firasat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah, dan apa yang tidak aku saksikan dari firasat beliau justru jauh lebih agung dan lebih besar. Peristiwa-peristiwa firasat beliau bahkan membutuhkan satu kitab tersendiri."

9 – Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri bahwa Amr bin Ubaid pernah masuk menemui beliau, lalu Al-Hasan berkata: "Orang ini adalah pemimpin pemuda Basrah jika ia tidak membuat hal baru (bid'ah)." Maka terjadilah padanya pemikiran Qadariyah hingga mayoritas saudaranya meninggalkannya.

10 – Tha'lab berkata: "Orang yang memperhatikan tanda (Al-Wasim) adalah orang yang memandang kepadamu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Asal kata At-Tawassum adalah ketetapan dan pemikiran. Kata ini diambil dari kata Al-Wasm yaitu memberi tanda dengan besi panas pada kulit unta atau selainnya. Hal itu terjadi karena kebaikan bakat/gagasan, tajamnya pikiran, dan jernihnya pemikiran." Ulama lain menambahkan: "Serta mengosongkan hati dari hal-hal yang tidak berguna dari dunia, menyucikannya dari kotoran kemaksiatan, keruhan kebiasaan/akhlak, dan kelebihan perkara duniawi."

11 – Amr bin Nujaid berkata: "Shah Al-Kirmani adalah orang yang tajam firasatnya dan tidak pernah salah." Beliau berkata: "Barangsiapa yang memicingkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, menahan dirinya dari syahwat, memakmurkan batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah) dan dhahirnya dengan mengikuti sunnah, serta membiasakan memakan makanan yang halal, niscaya firasatnya tidak akan pernah salah."

12 – Dikatakan dalam sebagian kitab-kitab kuno: "Sesungguhnya seorang Shiddiq (orang yang jujur imannya) tidak akan salah firasatnya."

13 – Penyair Tharfif bin Tamim Al-Anbari berkata: "Mereka mengutus kepadaku ketua/peneliti mereka untuk mencari tanda (yatawassamu), apakah setiap kali suatu kabilah mendatangi pasar Ukaz (aku harus diperiksa)?"

14 – Zuhair bin Abi Sulma berkata: "Dan pada diri wanita-wanita itu terdapat tempat bersenang-senang bagi sahabat, serta pemandangan yang indah bagi mata orang yang memandang dengan penuh kecermatan (al-mutawassim)."

15 – Dan dikatakan mengenai firman Allah Ta'ala: "Sungguh, pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang memperhatikan tanda-tanda." (QS. Al-Hijr: 75). Dikatakan: Maknanya adalah bagi orang-orang yang memiliki firasat (al-mutafarrisin), orang-orang yang melihat, orang-orang yang mengambil pelajaran, atau orang-orang yang menggunakan mata hati (al-mutabashshirin). Abu Ubaidah berkata: "Dan maknanya saling berdekatan."

Di Antara Manfaat Al-Bashirah dan Al-Firasah

(1) Firasat keimanan adalah memandang segala sesuatu dengan cahaya Allah.

(2) Membuat orang beriman merasakan kemuliaan dirinya di sisi Allah.

(3) Kekuatan firasat tergantung pada tingkat kekuatan iman.

(4) Orang mukmin yang memiliki firasat akan dipercayai dan membuat manusia merasa tenang kepadanya.

(5) Sebagian besar keterkaitan firasat adalah pada mata dan hati.

(6) Sebagian firasat bisa diperoleh dengan latihan fisik/jiwa (riyadhah) dan tidak ada hubungannya dengan keimanan, serta mayoritas pemilik firasat jenis ini adalah para pesulap/dukun (musya'widzun).

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat