Bashirah dan Firasat
Al-Bashīrah (Mata Hati) dan Al-Firāsah (Firasat)
(Terdapat
823 indeks tema: 15 Atsar, 9 Hadis, dan 7 Ayat)
Al-Bashīrah
secara Bahasa: Sibawaih berkata: Baṣura (بَصُرَ) artinya menjadi
dapat melihat, dan abṣarahū (أَبْصَرَهُ) digunakan ketika seseorang mengabarkan
tentang sesuatu yang tampak oleh matanya. Al-Lihyani meramaskan: Baṣira bihi
(بَصِرَ بِهِ), dengan
membariskasrahan huruf ṣād, bermakna abṣarahū (ia melihatnya). Kalimat abṣartusy-syai'a
berarti: saya melihatnya. Kata Al-Bashīrah berada di atas wazan fa‘īlah
(فَعِيلَةٌ) namun bermakna muf‘ilah
(مُفْعِلَةٌ). Kata ini diambil
dari akar kata (b-ṣ-r / ب-ص-ر) yang menunjukkan makna pengetahuan
terhadap sesuatu. Dikatakan: huwa baṣīrun bihi (dia mempunyai
pengetahuan tentangnya).
Al-Raghib
berkata: "Kata Al-Bashar (الْبَصَرُ) digunakan untuk
indra penglihat (yaitu mata), seperti dalam firman Allah Ta'ala:
"...seperti
kejapan mata..." (QS. An-Nahl: 77)
Dan
digunakan pula untuk kekuatan hati yang dapat menangkap/memahami sesuatu, yaitu
bashīrah dan bashar, seperti dalam firman Allah Ta'ala:
"...Maka,
Kami singkapkan darimu tutup (yang menutupi) mataimu sehingga penglihatanmu
pada hari ini sangat tajam." (QS. Qaf: 22)
Bentuk
jamak dari al-bashar adalah abṣār (أَبْصَارٌ), sedangkan bentuk
jamak dari al-bashīrah adalah baṣā'ir (بَصَائِرُ). Allah Ta'ala
berfirman:
"...maka
pendengaran dan penglihatan mereka tidak berguna sedikit pun bagi
mereka..." (QS. Al-Ahqaf: 26)
Indra
penglihat hampir tidak pernah dinamai bashīrah. Dari makna pertama (al-bashar),
dikatakan abṣartu (saya melihat dengan mata), dan dari makna kedua (al-bashīrah),
dikatakan abṣartuhū dan baṣurtu bihī. Jarang sekali dikatakan baṣurtu
untuk penglihatan indra kecuali jika mengandung makna penglihatan hati
(persepsi mata hati).
Adapun
firman Allah –Azza wa Jalla–:
Katakanlah
(Muhammad), "Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak
(kamu) kepada Allah dengan yakin..." (QS. Yusuf: 108)
Maksudnya
adalah di atas pengetahuan dan keyakinan yang pasti.
Orang
yang buta (adh-dharīr) secara majazi (pembalikan makna/ironi) disebut
sebagai baṣīr [orang yang melihat]. Demikianlah yang dinyatakan para
ulama. Namun yang lebih tepat, sebutan tersebut merupakan doa baginya agar
kekuatan mata hatinya meningkat, bukan karena sebab yang mereka sebutkan tadi.
Orang buta seperti ini tidak dinamai mubṣir dan tidak pula bāṣir.
Penyusun
kitab Lisān al-‘Arab menyatakan: Dikatakan baṣura bihī baṣran wa baṣāratan,
abṣarahū, dan tabaṣṣarahū artinya: melihat kepadanya apakah ia
dapat melihatnya. Kata bāṣarahū bermakna: melihat bersamanya ke arah
sesuatu untuk saling menguji siapa di antara keduanya yang melihatnya terlebih
dahulu. Baṣura baṣāratan artinya: menjadi orang yang memiliki bashīrah
(pemahaman/keyakinan). Baṣṣarahul-amra tabṣīran wa tabṣiratan artinya:
menjadikannya paham terhadap perkara tersebut.
Al-Akhfash
berkata mengenai firman-Nya:
Dia
(Samiri) menjawab, "Aku mengetahui sesuatu yang tidak mereka
ketahui..." (QS. Taha: 96)
Yaitu:
Aku mengetahui apa yang tidak mereka ketahui.
Al-Lihyani
berkata: Al-Bashīrah adalah keyakinan di dalam hati. Al-Laits berkata: Al-Bashīrah
adalah nama bagi apa yang diyakini di dalam hati berupa agama dan pembenaran
terhadap suatu perkara. Ada pula yang berpendapat: Al-Bashīrah adalah
kecerdasan/kefahaman. Orang Arab biasa mengucapkan: 'Amallāhu baṣā'irahū,
bermakna: Semoga Allah membutakan kecerdasannya (pikiran/persepsinya)
—diriwayatkan dari Ibnul A'rabi.
Kalimat
fa'ala dzālika 'alā baṣīrah bermakna: ia melakukan hal itu secara
sengaja. Dan 'alā ghairi baṣīrah berarti: tanpa keyakinan.
At-Tabaṣṣur
adalah perenungan dan pencarian pengetahuan; at-tabṣīr adalah pengenalan
dan penjelasan; sedangkan rajulun baṣīrun bil-'ilmi bermakna: lelaki
yang alim (sangat menguasai) ilmu tersebut. Firasat yang jujur/tepat sering
diistilahkan dengan: firāsah ḏātu
baṣīrah (firasat yang berdasar mata hati). [Lisān al-‘Arab
(4/64–66), Maqāyīs al-Lughah (1/253), dan Mufradāt al-Rāghib
(hal. 49)]
Oleh
karena firasat merupakan salah satu penggunaan dari istilah bashīrah dan
keduanya menjadi maksud utama di sini, maka kami cantumkan pula definisi al-firāsah.
Al-Ashma'i
berkata: Dikatakan fārisun bayyinul-furūsah, wal-firāsah, wal-furūsiyyah.
Jika seseorang mahir menunggang kuda dengan ketajaman mata dan penglihatannya,
maka ia dikatakan bayyinul-firāsah (dengan membaca kasrah pada huruf fa).
Dikatakan pula: Inna fulānan lafārisun bi-dhālikal-amri apabila ia
sangat ahli/tahu mendalam tentang hal itu. Dikatakan: huwa yatafarrasu
jika ia mencermati secara saksama dan memperhatikan. Dikatakan: rajulun
fārisun bayyinul-furūsah wal-firāsah fil-khaili, yaitu memiliki ketetapan
di atas kuda dan keahlian dalam urusannya. Dan rajulun fārisun bil-amri
(dengan kasrah) berarti orang yang alim dan paham betul (mempunyai penglihatan
tajam) tentang perkara itu.
Al-Firāsah
(dengan kasrah pada huruf fa): bermakna pencermatan, penelitian,
perenungan terhadap sesuatu, serta penglihatan tajam terhadapnya. Dikatakan: Innahū
lafārisun bihādžal-amr apabila ia alim tentangnya. Al-Firāsah
(dengan kasrah) adalah bentuk kata benda (isim) dari ucapanmu: tafarrastu
fīhi khairā (aku melihat/mendeteksi kebaikan pada dirinya).
Tafarrasa
fisy-syai'i bermakna: tawassamahū (mengenali tandanya), dan bentukan
isim-nya adalah al-firāsah.
Az-Zajjaj
menggunakan bentukan kata af'alu [isim tafdhil] dari kata ini, lalu
berkata: Manusia yang paling tajam firasatnya (afrasun-nās) —yakni
paling bagus dan paling benar firasatnya— ada tiga orang:
- Al-Aziz (penguasa Mesir)
terhadap Nabi Yusuf –semoga salawat dan salam tercurah kepada Nabi kita
dan kepadanya–.
- Putri Syu'aib terhadap Nabi
Musa –semoga salawat dan salam tercurah kepada Nabi kita dan kepada
mereka–.
- Abu Bakar r.a. dalam menunjuk
Umar bin al-Khattab r.a. sebagai penggantinya.[ Lisān al-‘Arab
(6/159–160), Al-Miṣbāḥ
al-Munīr (1/56–57), Muḥīṭ al-Muḥīṭ (hal. 42, 683), dan Nuzhat
al-A‘yun al-Nawāẓir
(hal. 199–200)]
Secara
Istilah: Al-Jurjani berkata: Al-Bashīrah adalah kekuatan hati yang
diterangi oleh nur (cahaya) Allah, dengannya ia dapat melihat hakikat segala
sesuatu dan batinnya. Kedudukannya bagi jiwa sama seperti kedudukan indra
penglihat (mata) bagi fisik, yang dengannya ia dapat melihat bentuk benda dan
lahiriahnya.
Al-Kafawi
berkata: Al-Bashīrah adalah kekuatan di dalam hati yang dengannya
hal-hal yang rasional (ma'qūlāt) dapat ditangkap/dipahami.[ At-Ta‘rīfāt
(hal. 46) dan Al-Kulliyyāt karya Al-Kafawi (1/429)]
Dan Al-Baṣīr
merupakan salah satu dari Asmaul Husna (nama-nama Allah yang agung). Al-Baṣīr
dialah Yang Maha Melihat seluruh hal yang dapat dilihat. Di dalam kitab Al-Nihāyah
disebutkan: Sesungguhnya Al-Baṣīr adalah Dia yang menyaksikan segala
sesuatu, baik yang tampak maupun yang tersembunyi. Sifat al-bashar pada
hakikat Allah Ta'ala merupakan ungkapan bagi sifat yang dengannya tersingkap
kesempurnaan sifat-sifat seluruh hal yang dapat dilihat.
Ada
pula yang berpendapat: Al-Baṣīr adalah yang memiliki sifat penglihatan (al-bashar)
terhadap seluruh wujud. Maka Allah Ta'ala mengetahui seluruh hal yang dapat
dilihat dengan pengetahuan yang sempurna, serta tersingkap bagi-Nya dengan
penyingkapan dan pengejawantahan yang sempurna. Maka Dia melihat pengkhianatan
mata dan apa yang disembunyikan oleh dada. Dia menyaksikan dan melihat, tidak
ada yang tersembunyi dari-Nya apa yang ada di langit yang tinggi, di bumi, di
antara keduanya, maupun di bawah tanah. Dialah Yang Maha Hadir yang tidak
pernah gaib/absent.[ Mawsū‘ah Lillāhi al-Asmā' al-Ḥusnā (hal. 155), dan
sebagiannya terdapat dalam Al-Maqṣad al-Asnā (hal. 91)]
Kedudukan
Firasat (Manzilat al-Firāsah)
Ibnu
al-Qayyim –semoga Allah merahmatinya– berkata: "Di antara tingkatan/posisi
'Hanya kepada Engkaulah kami menyembah dan hanya kepada Engkaulah kami
memohon pertolongan' (QS. Al-Fatihah: 5) adalah tingkatan Firasat."
Allah
Ta'ala berfirman:
Sesungguhnya
pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Kami) bagi
orang yang memperhatikan tanda-tanda. (QS. Al-Hijr: 75)
Mujahid
–semoga Allah merahmatinya– berkata: "(Makna al-mutawassimīn)
adalah orang-orang yang memiliki firasat (al-mutafarrisīn)."
Ibnu
Abbas –semoga Allah meredai keduanya– berkata: "Bagi orang-orang yang
melihat (lin-nāẓirīn)."
Qatadah berkata: "Bagi orang-orang yang mengambil pelajaran (lil-mu'tabirīn)."
Muqatil berkata: "Bagi orang-orang yang berpikir (lil-mutafakkirīn)."
Tidak
ada pertentangan di antara pendapat-pendapat ini; sebab seorang pengamat,
apabila ia melihat bekas-bekas peninggalan negeri orang-orang yang mendustakan
beserta tempat tinggal mereka serta bagaimana akhir dari urusan mereka, hal itu
akan mewariskan firasat, pelajaran, dan pemikiran.
Allah
Ta'ala berfirman berkenaan dengan keadaan orang-orang munafik:
Sekiranya
Kami menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Muhammad) sehingga
engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan engkau
benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya... (QS. Muhammad: 30)
Yang
pertama adalah firasat penglihatan dan mata, sedangkan yang kedua adalah
firasat pendengaran dan telinga.
Aku
mendengar Syaikhul Islam Ibnu Taimiyyah –semoga Allah merahmatinya– berkata:
"Allah menggantungkan pengenalan Nabi terhadap mereka melalui penglihatan
atas kehendak-Nya (al-masyī'ah), namun Allah tidak menggantungkan
pengenalan Nabi terhadap mereka melalui nada bicara mereka (lahn al-khithāb)
atas suatu syarat. Sebaliknya, Allah memberitahukannya sebagai berita pasti
yang dikuatkan dengan sumpah. Allah berfirman:
"...Dan
engkau benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya..." (QS.
Muhammad: 30)
Yaitu
kiasan pembicaraan (ta'rīḍ
al-khiṭāb),
pemahaman tersirat (faḥwāl-kalām),
dan arah maksudnya (maghzāh)."
Maksudnya:
Bahwasanya Allah Subhanahu wa Ta'ala bersumpah atas pengenalan terhadap mereka
melalui nada bicara mereka; karena mengenali pembicara dan apa yang ada di
dalam hatinya melalui ucapannya itu lebih dekat daripada mengenali melalui
tanda-tanda fisik (sīmā) dan apa yang tampak di wajahnya. Sebab,
petunjuk ucapan terhadap maksud dan isi hati pembicara itu lebih jelas daripada
tanda-tanda lahiriah yang terlihat. Dan firasat itu berkaitan dengan kedua
jenis ini: melalui penglihatan dan pendengaran.
Firasat
Terbagi Menjadi Tiga Jenis:
- Firasat Imaniah (Firāsat
Īmāniyyah)
Sebabnya
adalah nur (cahaya) yang dihujamkan Allah ke dalam hati hamba-Nya, yang
dengannya ia membedakan antara yang hak dan yang batil, antara yang berisi
[beriman] dan yang hampa [kosong dari iman], serta antara yang jujur dan yang
dusta.
Hakikatnya:
Bahwa firasat ini berupa lintasan hati (khāṭir) yang hinggap di dalam dada yang menepis
hal-hal yang bertentangan dengannya. Firasat ini kadar kekuatannya sesuai
dengan tingkat keimanan; barang siapa yang imannya lebih kuat, maka firasatnya
akan lebih tajam.
Akar
dari jenis firasat ini berasal dari kehidupan dan cahaya yang dianugerahkan
Allah Ta'ala kepada siapa saja yang Dia kehendaki dari hamba-hamba-Nya,
sehingga hati menjadi hidup dan terang karenanya. Maka firasatnya hampir-hampir
tidak pernah meleset. Allah Ta'ala berfirman:
Apakah
orang yang mati (hatinya), kemudian Kami hidupkan dan Kami beri cahaya yang
terang, yang dengan cahaya itu dia dapat berjalan di tengah-tengah masyarakat
manusia, serupa dengan orang yang berada dalam gelap gulita yang tidak dapat
keluar darinya?... (QS. Al-An'am: 122)
Dahulunya
ia mati karena kekufuran dan kebodohan, lalu Allah menghidupkannya dengan iman
dan ilmu, serta menjadikan Al-Qur'an dan iman sebagai cahaya baginya untuk
menerangi jalannya di tengah manusia pada jalan yang lurus, dan membawanya
berjalan di tengah kegelapan-kegelapan. Wallāhu a'lam.
- Firasat Olah Jiwa (Firāsat
ar-Riyāḍah)
Yaitu
firasat yang lahir dari rasa lapar, bergadang (mengurangi tidur), dan
menyendiri (at-takhallī). Apabila jiwa telah lepas dari
penghalang-penghalang fisik/duniawi, ia akan memiliki firasat dan penyingkapan
(al-kasyf) sesuai kadar kebebasan jiwanya tersebut.
Firasat
jenis ini berlaku umum (sekaligus) bagi orang mukmin maupun orang kafir;
firasat ini tidak menunjukkan atas keimanan dan tidak pula menunjukkan atas
kewalian (walāyah). Banyak orang bodoh yang tertipu dengannya. Para
rahib (biku/pendeta) memiliki rekam kejadian yang sudah dimaklumi dalam hal
ini. Ini adalah firasat yang tidak mampu menyingkap hakikat yang bermanfaat dan
tidak pula menunjukkan jalan yang lurus; melainkan penyingkapannya bersifat
parsial (juz'ī), sejenis dengan firasat para penguasa, ahli takbir
mimpi, dokter, dan sepadan dengan mereka.
- Firasat Bentuk Tubuh (Firāsat
al-Khalqiyyah)
Yaitu
firasat yang telah disusun kitab-kitabnya oleh para dokter dan selain mereka.
Mereka menyimpulkan karakter/akhlak batin (al-khuluq) dari bentuk fisik
lahiriah (al-khalq) karena adanya keterikatan antara keduanya yang telah
ditetapkan oleh hikmah Allah. Contohnya seperti menyimpulkan kecilnya akal dari
ukuran kepala yang kecil di luar kewajaran.
Ketergantungan
utama firasat ini adalah pada mata; karena mata merupakan cermin hati dan
gambaran dari apa yang ada di dalamnya. Kemudian pada lidah; karena lidah
adalah utusan dan penerjemahnya.
Akar
dari firasat ini adalah: Bahwa keseimbangan bentuk fisik dan rupa lahiriah
merupakan cerminan dari keseimbangan temperamen (al-mizāj) dan ruh.
Basirah
bersumber dari pemikiran (al-fikrah). Pemikiran adalah pengamatan hati
secara tajam ke arah objek yang dicari yang telah siap (siap ditangkap) secara
global, namun belum ditemukan rinciannya dan jalan untuk mencapainya. Apabila
pemikiran itu benar, ia akan melahirkan basirah. Sebab, basirah adalah cahaya
di dalam hati yang dengannya seseorang dapat melihat janji Allah, surga,
neraka, serta apa yang disiapkan Allah di dalamnya bagi para wali-Nya. Karena
sesungguhnya basirah adalah cahaya yang dihenyakkan/dituangkan Allah ke dalam
hati, sehingga dengannya hati dapat melihat hakikat dari apa yang dikabarkan
oleh para rasul. Dengan demikian, terealisasilah pemanfaatannya terhadap apa
yang diseru oleh para rasul dan kesadarannya akan bahaya akibat menyelahi
(ajaran) mereka.
Inilah
makna dari ucapan para 'ārifīn (orang-orang yang memiliki maqam
kesadaran spiritual tinggi): "Basirah itu merealisasikan kemanfaatan
dan kesadaran akan bahaya (at-tadharrur), dan basirah adalah apa yang
membebaskanmu dari kebingungan (al-hairah), baik dengan keimanan maupun dengan
penyaksian langsung ('iyān*)."*⁽²⁾
Firasat
seorang mutafarris (orang yang menggunakan firasat) berkaitan dengan
tiga hal: matanya, telinganya, dan hatinya. Matanya untuk melihat tanda-tanda
dan bentuk fisik (as-sīmā' wa al-'alāmāt); telinganya untuk mendengarkan
ucapan—baik yang tersurat (tasrīh) maupun tersirat (ta'rīdh),
yang diucapkan secara eksplisit (manthūq) maupun implisit (mafhūm),
isi kandungan (faḥwā),
isyarat (isjārah), gaya bahasa (laḥn), petunjuk (īmā'), dan sejenisnya;
sedangkan hatinya untuk menyeberang (al-'ubūr) dan mengambil
dalil/petunjuk dari apa yang dilihat dan didengar menuju bagian batinnya yang
tersembunyi. Maka, ia menyeberang menuju apa yang ada di balik lahiriahnya,
sebagaimana penyeberangan penguji mata uang (an-naqqād) pada suatu
barang dari cetakan dan stempel lahiriah menuju batin/kadar kemurnian mata uang
tersebut untuk mengetahui apakah ia murni/sahih atau palsu (zaghal) [Penipuan
/ kepalsuan]. Demikian pula penyeberangan seorang mutafarris
dari penampilan dan gerak-gerik lahiriah menuju batin ruh dan hati. Maka
perbandingan penilaiannya terhadap ruh-ruh dari jasad-jasad seperti
perbandingan penilaian penukar uang (ash-shairafī) yang melihat
substansi logam mulia dari cetakan lahiriah dan mata uangnya.
Apabila
fisik/perawakan itu seimbang (i'tidāl), maka akan seimbang pula akhlak
dan perbuatannya. Sejauh mana penyimpangan fisik dan rupa dari keseimbangan,
sejauh itu pula terjadi penyimpangan pada akhlak dan perbuatan. Hal ini apabila
jiwa dan tabiatnya dibiarkan begitu saja (tanpa pendidikan syariat).[
Madārij as-Sālikīn karya Ibnul Qayyim (2/503-505) dengan penyelarasan
redaksi (batasharruf)]
[Untuk
pendalaman lebih lanjut: Lihat sifat-sifat: Al-Īmān (Keimanan) - At-Ta'ammul
(Perenungan) - At-Tabayyun / At-Tatsabbut (Klarifikasi/Verifikasi) -
At-Tadabbur (Penghayatan) - Husnuzhan (Prasangka Baik) - At-Tafakkur (Berpikir)
- At-Taqwā (Ketaqwaan) - Al-Yaqīn (Keyakinan). Dan pada lawan dari hal
tersebut: Lihat sifat-sifat: Al-Balādah wa Al-Ghabā' (Ketablegan dan Kebodohan)
- Sū'uzhan (Prasangka Buruk) - Asy-Syakk (Keraguan) - Ath-Thaysy (Kecerobohan)
- Al-Ghaflah (Kelalaian) - Al-Waswasah (Bisikan Keraguan) - Al-Wahm
(Ilusi/Persangkaan Keliru)].
Ayat-Ayat
yang Tercantum Mengenai "Al-Bashīrah"
- Katakanlah (Muhammad),
"Inilah jalanku, aku dan orang-orang yang mengikutiku mengajak (kamu)
kepada Allah dengan yakin, Mahasuci Allah, dan aku tidak termasuk
orang-orang yang musyrik." (QS. Yusuf: 108)
- Pada hari itu manusia
berkata, "Ke mana tempat lari?" Tidak! Tidak ada tempat
berlindung! Hanya kepada Tuhanmu tempat kembali pada hari itu. Pada hari
itu diberitakan kepada manusia apa yang telah dikerjakannya dan apa yang dilalaikannya.
Bahkan manusia menjadi saksi atas dirinya sendiri, meskipun dia
mengemukakan alasan-alasannya. (QS. Al-Qiyamah: 10-15)
Ayat-Ayat
yang Tercantum Mengenai "Al-Bashīrah" secara Makna
- Dia (Yakub) berkata,
"Wahai anakku! Janganlah engkau ceritakan mimpimu kepada
saudara-saudaramu, nanti mereka membuat tipu daya untuk membinasakanmu.
Sungguh, setan itu musuh yang jelas bagi manusia." Dan demikianlah,
Tuhanmu memilih engkau (untuk jadi Nabi) dan mengajarkan kepadamu sebagian
dari takwil mimpi dan menyempurnakan nikmat-Nya kepadamu dan kepada
keluarga Yakub, sebagaimana Dia telah menyempurnakan nikmat-Nya kepada
kedua orang tuamu sebelum itu, (yaitu) Ibrahim dan Ishak. Sungguh, Tuhanmu
Maha Mengetahui, Mahabijaksana. (QS. Yusuf: 5-6)
- Dan mereka datang membawa
baju kausnya (yang berlumuran) darah palsu. Dia (Yakub) berkata,
"Sebenarnya hanya dirimu sendirilah yang memandang baik urusan yang
buruk itu; maka hanya bersabar yang terbaik (bagiku). Dan hanya kepada
Allah tempat memohon pertolongan terhadap apa yang kamu ceritakan."
(QS. Yusuf: 18)
- Dia (Yusuf) berkata,
"Dialah yang merayuku untuk menundukkan diriku." Dan seorang
saksi dari keluarga wanita itu memberikan kesaksian, "Jika baju
kausnya koyak di bagian depan, maka wanita itu benar, dan dia (Yusuf)
termasuk orang-orang yang berdusta." (QS. Yusuf: 26)
- Sungguh, pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang
memperhatikan tanda-tanda. (QS. Al-Hijr: 75)
- Dan sekiranya Kami
menghendaki, niscaya Kami perlihatkan mereka kepadamu (Muhammad) sehingga
engkau benar-benar dapat mengenal mereka dengan tanda-tandanya. Dan engkau
benar-benar akan mengenal mereka dari nada bicaranya, dan Allah mengetahui
amalan-amalan kamu. Dan sungguh, Kami benar-benar akan menguji kamu
sehingga Kami mengetahui orang-orang yang berjihad dan bersabar di antara
kamu; dan Kami uji berita-berita (tentang) kamu. (QS. Muhammad: 30-31)
Hadis-Hadis
yang Tercantum Mengenai "Al-Bashīrah dan Al-Firāsah"
- Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu
'anhu, ia berkata: Bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
menyebutkan suatu kaum yang bakal ada pada umatnya, mereka keluar di
tengah perbedaan (perpecahan) manusia, tanda mereka adalah mencukur habis
rambut (kepalanya) [Sīmāhum: Maksudnya adalah tanda/ciri khas
mereka. At-Tahālulq: Maksudnya adalah mencukur habis rambut kepala].
Beliau bersabda: "Mereka adalah seburuk-buruk makhluk—atau termasuk seburuk-buruk makhluk—yang
akan dibunuh oleh kelompok yang lebih dekat kepada kebenaran di antara dua
kelompok." Beliau berkata: Lalu Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
membuat sebuah perumpamaan bagi mereka—atau beliau mengucapkan suatu
perkataan:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - أَنَّ النَّبِيَّ ﷺ ذَكَرَ قَوْمًا
يَكُونُونَ فِي أُمَّتِهِ ، يَخْرُجُونَ فِي فِرْقَةٍ مِنَ النَّاسِ ، سِيمَاهُمْ
التَّحَالُقُ . قَالَ : «هُمْ شَرُّ الْخَلْقِ - أَوْ مِنْ أَشَرِّ الْخَلْقِ -
يَقْتُلُهُمْ أَدْنَى الطَّائِفَتَيْنِ إِلَى الحَقِّ» قَالَ : فَضَرَبَ
النَّبِيُّ ﷺ لَهُمْ مَثَلاً : أَوْ قَالَ قَوْلاً : «الرَّجُلُ يَرْمِي
الرَّمِيَّةَ - أَوْ قَالَ الغَرَضَ - فَيَنْظُرُ فِي النَّصْلِ فَلَا يَرَى
بَصِيرَةً ، وَيَنْظُرُ فِي النَّفِي فَلَا يَرَى بَصِيرَةً ، وَيَنْظُرُ فِي
الفُوقِ فَلا يَرَى بَصِيرَةً»
"Seseorang
melempar sasaran buruan—atau beliau bersabda: target sasaran—lalu ia melihat
pada mata anak panah [An-Nasl: Mata anak panah, tombak, dan
sejenisnya], namun ia tidak melihat adanya bekas/kejelasan (bashīrah);
lalu ia melihat pada batang anak panah tanpa bulu [An-Nafiy: Dengan
timbangan (wazan) al-ghaniyy, yaitu anak panah tanpa mata panah
dan tanpa bulu], namun tidak melihat adanya bekas/kejelasan (bashīrah);
dan ia melihat pada takik tempat tali busur di anak panah [Al-Fūq:
Tempat masuknya tali busur pada anak panah. Bentuk jamaknya adalah afwāq
dan fūq], namun tidak melihat adanya bekas/kejelasan (bashīrah)."
Abu Sa'id berkata: "Dan kalian telah membunuh mereka, wahai penduduk
Irak." (HR. Muslim [1065] dan senada dengannya diriwayatkan oleh
Al-Bukhari 12 [6933]).
- Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
menceritakan kepada kami pada suatu hari sebuah hadis yang panjang tentang
Dajjal. Di antara apa yang beliau ceritakan kepada kami, beliau bersabda:
"Dajjal akan datang sementara ia diharamkan untuk memasuki
jalan-jalan celah Kota Madinah [Niqāb Al-Madīnah:
Maksudnya adalah jalan-jalan dan celah-celahnya; merupakan bentuk jamak
dari naqb, yaitu jalan di antara dua gunung]. Lalu
ia sampai di sebagian tanah tandus bergaram [As-Sibākh: Bentuk
jamak dari sabkhah (dengan dua harakat fathah), yaitu tanah
berpasir yang tidak menumbuhkan tanaman karena kadar garamnya yang tinggi.
Sifat tanah ini berada di luar kawasan Madinah dari arah luar Harrah]
yang berbatasan dengan Madinah. Maka pada hari itu keluarlah kepadanya
seorang laki-laki yang merupakan sebaik-baik manusia—atau di antara
sebaik-baik manusia—lalu laki-laki itu berkata kepadanya: 'Aku bersaksi
bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam kepada kami hadisnya.' Maka Dajjal berkata:
'Bagaimana pendapat kalian jika aku membunuh orang ini kemudian aku
menghidupkannya kembali, apakah kalian ragu terhadap urusan ini?' Mereka
menjawab: 'Tidak.' Beliau bersabda: Lalu Dajjal membunuhnya kemudian
menghidupkannya kembali. Maka laki-laki itu berkata ketika dihidupkan
kembali: 'Demi Allah, tidaklah aku pernah merasa lebih yakin (bashīrah)
tentang dirimu melebihi keyakinanku hari ini!' Beliau bersabda: Lalu
Dajjal hendak membunuhnya lagi, namun Dajjal tidak diberi kuasa
atasnya."
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ : حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ ﷺ
يَوْمًا حَدِيثًا طَوِيلاً عَنِ الدَّجَّالِ ، فَكَانَ فِيمَا حَدَّثَنَا قَالَ :
يَأْتِي وَهُوَ مُحَرَّمٌ عَلَيْهِ أَنْ يَدْخُلَ نِقَابَ المَدِينَةِ ،
فَيَنْتَهِي إِلَى بَعْضِ السِّبَاخِ الَّتِي تَلِي المَدِينَةَ ، فَيَخْرُجُ
إِلَيْهِ يَوْمَئِذٍ رَجُلٌ هُوَ خَيْرُ النَّاسِ ، أَوْ مِنْ خَيْرِ النَّاسِ ،
فَيَقُولُ لَهُ : أَشْهَدُ أَنَّكَ الدَّجَّالُ الَّذِي حَدَّثَنَا رَسُولُ اللهِ
ﷺ حَدِيثَهُ ، فَيَقُولُ الدَّجَّالُ : أَرَأَيْتُمْ إِنْ قَتَلْتُ هَذَا ثُمَّ
أَحْيَيْتُهُ ، أَتَشُكُونَ فِي الْأَمْرِ ؟ فَيَقُولُونَ : لَا ، قَالَ :
فَيَقْتُلُهُ ثُمَّ يُحْيِيهِ ، فَيَقُولُ حِينَ يُحْيِيهِ : وَاللَّهِ مَا كُنْتُ
فِيكَ قَطُّ أَشَدَّ بَصِيرَةً مِنِّي الآنَ، قَالَ : فَيُرِيدُ الدَّجَّالُ أَنْ
يَقْتُلَهُ فَلَا يُسَلِّطُ عَلَيْهِ
(HR.
Al-Bukhari - Al-Fath 13 [7132], dan Muslim [2938]).
Hadis-Hadis
yang Tercantum Mengenai "Al-Bashīrah dan Al-Firāsah" secara Makna
- Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
عَنْ أَبِي سَعِيدٍ
الْخُدْرِيِّ - رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ :
«اتَّقُوا فِرَاسَةَ الْمُؤْمِنِ فَإِنَّهُ يَنْظُرُ بِنُورِ اللهِ» ، ثُمَّ
قَرَأَ : ﴿إِنَّ فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ﴾ (الحجر / ٧٥)
"Takutlah
kamu akan firasat seorang mukmin, karena sesungguhnya ia melihat dengan cahaya
Allah." Kemudian beliau membaca ayat: "Sungguh, pada yang
demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang yang
memperhatikan tanda-tanda." (QS. Al-Hijr: 75) (HR. At-Tirmidzi [3127],
dan ia berkata: Ini adalah hadis gharib, kami hanya mengetahuinya dari jalur
ini, dan telah diriwayatkan pula dari sebagian ahli ilmu. Adapun tafsir dari
ayat ini: ﴿إِنَّ
فِي ذَلِكَ لَآيَاتٍ لِلْمُتَوَسِّمِينَ﴾, beliau berkata:
Yaitu bagi orang-orang yang menggunakan firasat (lil-mutafarrisīn).
As-Suyuthi mencantumkannya dalam Ad-Durr Al-Manthūr [5/90 cet. Dar
Al-Fikr] dan menambahkan nisbah perwayatannya kepada Ibn Jarir dari dua jalur
yang disebutkan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya dan Ibn Abi Hatim. Serta
diriwayatkan oleh Al-Haitsami dalam Al-Majma' dari hadis Abu Umamah
[10/268], dan ia berkata: Diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dan sanadnya hasan).
- Dari Anas radhiyallahu
'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam
bersabda:
عَنْ أَنَسٍ - رَضِيَ
اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «إِنَّ لِلَّهِ عِبَادًا
يَعْرِفُونَ النَّاسَ بِالتَّوَسُّمِ
"Sesungguhnya
Allah memiliki hamba-hamba yang mengenal manusia melalui penandaan/firasat (bi
at-tawassum)."
(Diriwayatkan
oleh Al-Haitsami dalam Al-Majma' [10/268] dan ia berkata: Diriwayatkan
oleh Ath-Thabrani dan Al-Bazzar dalam Al-Awsath dan sanadnya hasan. Dan
disebutkan oleh Ibn Katsir dalam tafsirnya dari dua jalur Jilid 2, Jilid 14,
[hal. 576]).
- Dari Abu Hurairah radhiyallahu
'anhu, ia berkata: Seorang laki-laki dari Bani Fazarah datang kepada
Nabi ﷺ
lalu berkata: "Sesungguhnya istriku melahirkan seorang anak laki-laki
yang berkulit hitam." Maka Nabi ﷺ bersabda: "Apakah
engkau memiliki unta?" Ia menjawab: "Ya." Beliau
bersabda: "Apa warnanya?" Ia menjawab: "Merah."
Beliau bersabda: "Apakah di antaranya ada yang berwarna abu-abu
(kehitam-hitaman)?" Ia menjawab: "Sesungguhnya di antaranya
ada yang berwarna abu-abu." Beliau bersabda: "Lalu dari mana
asal warna tersebut?" Ia menjawab: "Mungkin karena ditarik
oleh faktor keturunan (gen pembawa)." Beliau bersabda: "Dan
anakmu ini, mungkin pula ditarik oleh faktor keturunan (gen
pembawa)." [HR. Bukhari dan Muslim].
6 –
Dari Sahl bin Sa'd As-Sa'idi, ia berkata: Uwaimir Al-Ajlani datang kepada Ashim
bin Adi lalu berkata: "Bagaimana pendapatmu tentang seorang laki-laki yang
mendapati laki-laki lain bersama istrinya lalu ia membunuhnya, apakah kalian
akan membunuhnya (sebagai qishash) karena hal itu? Tanyakanlah untukku
wahai Ashim kepada Rasulullah ﷺ."
Maka Ashim menanyakannya, namun Nabi ﷺ membenci pertanyaan-pertanyaan tersebut dan mencelanya. Ketika
Ashim kembali, ia memberitahukan kepada Uwaimir bahwa Nabi ﷺ membenci
pertanyaan-pertanyaan semacam itu. Uwaimir berkata: "Demi Allah, sungguh
aku akan mendatangi Nabi ﷺ."
Maka ia datang menemui Nabi ﷺ
yang saat itu berada di belakang Ashim, lalu Nabi ﷺ bersabda kepadanya: "Sungguh Allah
telah menurunkan Al-Qur'an mengenai dirimu dan istri mu." Beliau lalu
memanggil keduanya. Kemudian keduanya maju dan saling melakukan li'an
[bersumpah tuduhan/penangkalan zina], lalu Uwaimir berkata: "Aku telah
berdusta atasnya wahai Rasulullah jika aku tetap mempertahankannya." Maka
ia menceraikannya, padahal Nabi ﷺ tidak memerintahkannya untuk menceraikannya. Lalu berlakulah sunnah
(hukum) terkait dua orang yang melakukan li'an. Dan Nabi ﷺ bersabda: "Perhatikanlah
perempuan itu, jika ia melahirkan anak yang berkulit merah, berbadan pendek
seperti cecak (waharah), maka aku tidak melihatnya melainkan laki-laki itu
(Uwaimir) telah berdusta. Namun jika ia melahirkan anak yang berkulit hitam
manis/gelap, bermata lebar (as-ham a'yan), serta bertulang pinggul/pantat besar
(dza al-yatain), maka aku tidak menganggapnya melainkan laki-laki itu telah
jujur atas tuduhannya." Kemudian perempuan itu melahirkan anak
tersebut sesuai dengan ciri-ciri yang dibenci [adanya perzinahan]. [HR. Bukhari
dan Muslim].
7 –
Dari Amr bin Abasah As-Sulami radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah
ﷺ pernah memperlihatkan
kuda-kuda, dan di sisi beliau terdapat Uyainah bin Badr Al-Fazari. Rasulullah ﷺ bersabda kepadanya: "Aku
lebih mengetahui tentang kuda daripada engkau." Uyainah berkata:
"Dan aku lebih mengetahui tentang laki-laki (para pejuang) daripada
engkau." Rasulullah ﷺ
bersabda: "Lalu siapakah sebaik-baik laki-laki?" Uyainah
menjawab: "Laki-laki yang menyandang pedang di pundak mereka dan
menyandarkan tombak mereka di atas tengkuk kuda-kuda mereka dari penduduk
Najd." Maka Rasulullah ﷺ
bersabda: "Engkau berdusta! Bahkan sebaik-baik laki-laki adalah
laki-laki dari Yaman. Iman itu ada pada orang Yaman hingga ke suku Lakhm dan
Judzam. Dan makanan suku Himyar lebih baik daripada makanan suku Al-Harits,
serta Hadramaut lebih baik daripada Bani Al-Harits. Demi Allah, aku tidak
peduli sekiranya kedua suku Al-Harits itu binasa semuanya. Semoga Allah
melaknat empat raja: Jamad, Makhus, Abadhah, dan saudara perempuan mereka
Al-Amarradah." Kemudian beliau bersabda: "Tuhanku
memerintahkanku untuk melaknat Quraisy dua kali, maka aku melaknat mereka; dan
Dia memerintahkanku untuk mendoakan kebaikan (shalawat) atas mereka, maka aku
mendoakan kebaikan atas mereka dua kali dua kali." Kemudian beliau
bersabda: "Semoga Allah melaknat Tamim bin Murrah lima kali, dan Bakr
bin Wa'il tujuh kali. Dan semoga Allah melaknat dua kabilah dari
kabilah-kabilah Bani Tamim: Maqa'is dan Maladis." Kemudian beliau
bersabda: "Usaiyyah telah bermaksiat kepada Allah dan Rasul-Nya.
Sedangkan Aslam, Ghifar, Muzainah, dan sekutu-sekutu mereka dari Juhainah
adalah lebih baik di sisi Allah pada hari kiamat daripada Bani Asad, Tamim,
Ghathafan, dan Hawazin." Kemudian beliau bersabda: "Sejelek-jelek
dua kabilah di antara bangsa Arab adalah Najran dan Bani Taghlib, dan kabilah
yang paling banyak berada di dalam surga adalah Madzhij." [HR.
Al-Hakim, Ahmad, dan At-Thabrani].
8 –
Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda:
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ
- رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ - قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللهِ ﷺ : «لَقَدْ كَانَ فِيمَا
قَبْلَكُمْ مِنَ الْأُمَمِ نَاسٌ مُحَدَّثُونَ ، فَإِنْ يَكُ فِي أُمَّتِي أَحَدٌ
فَإِنَّهُ عُمَرُ»
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah ﷺ bersabda: "Sungguh
telah ada pada umat-umat sebelum kalian orang-orang yang diberi ilham
(Muhaddatsun). Jika ada salah seorang di antara umatku, maka dialah Umar."
[HR. Bukhari dan Muslim]. Zakariya menambahkan: Dari Sa'd dari Abu Hurairah, ia
berkata: Nabi ﷺ
bersabda: "Sungguh telah ada pada orang-orang sebelum kalian dari Bani
Israil, laki-laki yang diajak bicara (diberi ilham) tanpa mereka menjadi Nabi.
Jika ada salah seorang dari mereka pada umatku, maka dialah Umar."
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "(Membaca dengan redaksi):
Tidak ada seorang Nabi pun dan tidak pula seorang Muhaddats (orang yang
diberi ilham)." [HR. Bukhari dan Muslim].
9 –
Dari Abdullah bin Salam, ia berkata: Ketika Rasulullah ﷺ tiba di Madinah,
orang-orang berbondong-bondong menyambut beliau, dan dikatakan:
"Rasulullah ﷺ
telah tiba!" Maka aku datang bersama orang-orang untuk melihat beliau.
Ketika aku telah memperhatikan wajah Rasulullah ﷺ dengan jelas, aku mengetahui bahwa wajah
beliau bukanlah wajah seorang pembohong. Dan hal pertama yang beliau sabrakan
adalah: "Wahai manusia! Tebarkanlah salam, berikanlah makanan, dan
shalatlah di malam hari saat manusia sedang tidur, niscaya kalian akan masuk
surga dengan selamat." [HR. At-Tirmidzi, Ibnu Majah, dan Ad-Darimi].
Di
Antara Atsar (Atsar Sahabat) dan Ucapan Para Ulama serta Mufasir yang
Terkandung dalam Tema Al-Bashirah
1 –
Diriwayatkan bahwa Umar bin Al-Khattab radhiyallahu 'anhu pernah
didatangi oleh suatu kaum dari suku Madzhij yang di antaranya terdapat
Al-Ashtar. Maka Umar mengamati pandangannya ke atas dan ke bawah padanya, lalu
berkata: "Siapakah orang ini?" Mereka menjawab: "Malik bin
Al-Harits." Umar berkata: "Ada apa dengannya? Semoga Allah
membinasakannya. Sungguh aku melihat umat Islam akan mengalami hari yang sangat
berat/kelam karenanya." Maka terjadilah fitnah darinya sebagaimana yang
telah terjadi.
2 –
Ibnu Abbas radhiyallahu 'anhuma berkata: "Tidaklah seseorang
menanyakan sesuatu kepadaku melainkan aku mengetahui apakah dia seorang yang
paham agama (faqih) atau bukan faqih."
3 –
Diriwayatkan dari Asy-Syafi'i dan Muhammad bin Al-Hasan bahwa keduanya pernah
berada di pelataran Ka'bah, lalu ada seorang laki-laki berada di pintu masjid.
Salah seorang dari keduanya berkata: "Aku melihatnya sebagai seorang
tukang kayu." Sedangkan yang lain berkata: "Bahkan dia seorang tukang
besi." Maka orang-orang yang hadir bergegas mendatangi laki-laki itu dan
menanyakannya, lalu ia menjawab: "Dahulu aku seorang tukang kayu, dan hari
ini aku seorang tukang besi."
4 –
Ibnu Mas'ud radhiyallahu 'anhu berkata: "Manusia yang paling tajam
firasatnya ada tiga: Al-Aziz (Penguasa Mesir) pada kisah Yusuf ketika ia
berkata kepada istrinya: 'Beri dialah tempat (dan layanan) yang baik,
mudah-mudahan dia bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak' (QS.
Yusuf: 21); putri Syu'aib ketika berkata kepada ayahnya tentang Musa: 'Wahai
ayahku, ambillah dia sebagai orang yang bekerja (pada kita)' (QS. Al-Qashash:
26); serta Abu Bakar mengenai Umar radhiyallahu 'anhuma ketika ia
menjadikannya khalifah penggantinya." Dan dalam riwayat lain disebutkan:
"...serta istri Fir'aun ketika ia berkata: '(Dia) adalah penyejuk mata
hati bagiku dan bagimu. Janganlah kamu membunuhnya, mudah-mudahan dia
bermanfaat bagi kita atau kita pungut dia sebagai anak' (QS. Al-Qashash:
9)."
5 –
Abdullah bin Rawahah berkata kepada Nabi ﷺ: "Sungguh aku melihat tanda-tanda
kebaikan pada dirimu yang aku mengenalnya. Dan Allah mengetahui bahwa aku
memiliki penglihatan yang tajam. Aku memperhatikan tanda-tanda itu ketika aku
melihat kewibawaan pada dirinya, dan aku berkata: 'Orang ini berasal dari
keluarga Hasyim (Bani Hasyim)'."
6 –
Ibnu Al-Qayyim berkata: "Ash-Shiddiq (Abu Bakar) radhiyallahu 'anhu
adalah umat yang paling agung firasatnya, dan setelah beliau adalah Umar bin
Al-Khattab radhiyallahu 'anhu. Peristiwa-peristiwa firasat Umar
sangatlah masyhur, karena tidaklah beliau mengatakan terhadap sesuatu 'Aku
mengira demikian' melainkan terjadi persis seperti yang beliau katakan.
Cukuplah bukti firasat beliau dari persesuaian pendapatnya dengan Tuhannya di
berbagai tempat yang telah diketahui.
Sawad
bin Qarib pernah berjalan melewati Umar radhiyallahu 'anhu padahal Umar
belum mengenalnya, lalu Umar berkata: 'Dugaanku tidak salah, orang ini adalah
seorang dukun (kahin) atau dia pernah mengenal perdukunan di masa
Jahiliyah.' Ketika Sawad duduk di hadapan Umar, Umar menyampaikan hal itu
kepadanya. Maka Sawad berkata: 'Maha Suci Allah wahai Amirul Mukminin, engkau
tidak pernah menyambut seorang pun dari teman dudukmu dengan penyambutan
seperti yang engkau lakukan padaku.' Umar radhiyallahu 'anhu berkata
kepadanya: 'Apa yang dahulu kita berada di atasnya pada masa Jahiliyah lebih
besar dari hal itu, namun beritahukanlah kepadaku tentang apa yang aku tanyakan
kepadamu.' Sawad menjawab: 'Engkau benar wahai Amirul Mukminin, aku dahulu
adalah seorang dukun di masa Jahiliyah...' Dan firasat para Sahabat radhiyallahu
'anhum adalah firasat yang paling benar."
7 –
Ibnu Al-Qayyim rahimahullah berkata: "Iyas bin Mu'awiyah adalah
termasuk manusia yang paling agung firasatnya dan beliau memiliki kisah-kisah
firasat yang populer. Begitu pula Imam Asy-Syafi'i rahimahullah, dan
dikatakan bahwa beliau memiliki karya tulis mengenai ilmu firasat."
8 –
Beliau (Ibnu Al-Qayyim) juga berkata: "Sungguh aku telah menyaksikan
hal-hal yang menakjubkan dari firasat Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullah,
dan apa yang tidak aku saksikan dari firasat beliau justru jauh lebih agung dan
lebih besar. Peristiwa-peristiwa firasat beliau bahkan membutuhkan satu kitab
tersendiri."
9 –
Diriwayatkan dari Al-Hasan Al-Bashri bahwa Amr bin Ubaid pernah masuk menemui
beliau, lalu Al-Hasan berkata: "Orang ini adalah pemimpin pemuda Basrah
jika ia tidak membuat hal baru (bid'ah)." Maka terjadilah padanya
pemikiran Qadariyah hingga mayoritas saudaranya meninggalkannya.
10 –
Tha'lab berkata: "Orang yang memperhatikan tanda (Al-Wasim) adalah
orang yang memandang kepadamu dari ujung rambut hingga ujung kaki. Asal kata At-Tawassum
adalah ketetapan dan pemikiran. Kata ini diambil dari kata Al-Wasm yaitu
memberi tanda dengan besi panas pada kulit unta atau selainnya. Hal itu terjadi
karena kebaikan bakat/gagasan, tajamnya pikiran, dan jernihnya pemikiran."
Ulama lain menambahkan: "Serta mengosongkan hati dari hal-hal yang tidak
berguna dari dunia, menyucikannya dari kotoran kemaksiatan, keruhan
kebiasaan/akhlak, dan kelebihan perkara duniawi."
11 –
Amr bin Nujaid berkata: "Shah Al-Kirmani adalah orang yang tajam
firasatnya dan tidak pernah salah." Beliau berkata: "Barangsiapa yang
memicingkan pandangannya dari hal-hal yang diharamkan, menahan dirinya dari
syahwat, memakmurkan batinnya dengan muraqabah (merasa diawasi Allah)
dan dhahirnya dengan mengikuti sunnah, serta membiasakan memakan makanan
yang halal, niscaya firasatnya tidak akan pernah salah."
12 –
Dikatakan dalam sebagian kitab-kitab kuno: "Sesungguhnya seorang Shiddiq
(orang yang jujur imannya) tidak akan salah firasatnya."
13 –
Penyair Tharfif bin Tamim Al-Anbari berkata: "Mereka mengutus kepadaku
ketua/peneliti mereka untuk mencari tanda (yatawassamu), apakah setiap
kali suatu kabilah mendatangi pasar Ukaz (aku harus diperiksa)?"
14 –
Zuhair bin Abi Sulma berkata: "Dan pada diri wanita-wanita itu terdapat
tempat bersenang-senang bagi sahabat, serta pemandangan yang indah bagi mata
orang yang memandang dengan penuh kecermatan (al-mutawassim)."
15 –
Dan dikatakan mengenai firman Allah Ta'ala: "Sungguh, pada yang demikian
itu benar-benar terdapat tanda-tanda (kekuasaan Allah) bagi orang-orang yang
memperhatikan tanda-tanda." (QS. Al-Hijr: 75). Dikatakan: Maknanya adalah
bagi orang-orang yang memiliki firasat (al-mutafarrisin), orang-orang
yang melihat, orang-orang yang mengambil pelajaran, atau orang-orang yang
menggunakan mata hati (al-mutabashshirin). Abu Ubaidah berkata:
"Dan maknanya saling berdekatan."
Di
Antara Manfaat Al-Bashirah dan Al-Firasah
(1)
Firasat keimanan adalah memandang segala sesuatu dengan cahaya Allah.
(2)
Membuat orang beriman merasakan kemuliaan dirinya di sisi Allah.
(3)
Kekuatan firasat tergantung pada tingkat kekuatan iman.
(4)
Orang mukmin yang memiliki firasat akan dipercayai dan membuat manusia merasa
tenang kepadanya.
(5)
Sebagian besar keterkaitan firasat adalah pada mata dan hati.
(6)
Sebagian firasat bisa diperoleh dengan latihan fisik/jiwa (riyadhah) dan
tidak ada hubungannya dengan keimanan, serta mayoritas pemilik firasat jenis
ini adalah para pesulap/dukun (musya'widzun).
Comments
Post a Comment