Hambatan-hambatan Dalam Dakwah dan Daiyah (3)

 

 

KEPRIBADIAN DA’I DAN BAGAIMANA MENGEMBANGKANNYA?

  • Bentengi Front-Front Perlawanan
  • Kepribadian Islam
  • Pola Pikir Islam (Al-'Aqliyyah Al-Islamiyyah)
  • Pola Jiwa Islam (An-Nafsiyyah Al-Islamiyyah)
  • Tidak Sembrono/Menyepelekan dan Tidak Berlebihan (La Tafrith wa La Ifrath)
  • Hakikat Totalitas/Pengabdian Tulus (Haqiqat At-Tajarrod)

Para Da'i Islam dalam Bahaya...

Aku tidak bermaksud bahwa mereka berada dalam bahaya dari musuh-musuh mereka, bukan pula dari tipu daya para penentang mereka, atau dari konspirasi orang-orang yang menyimpan kedengkian terhadap mereka dan terhadap Islam. Sebab, bahaya-bahaya ini—betapa pun dahsyat dan sengitnya—terasa ringan jika dibandingkan dengan bahaya-bahaya jiwa serta penyimpangannya. Seorang da'i akan selalu berada dalam kebaikan selama ia terbebas dari cela dan penyakit-penyakit jiwanya, betapa pun besarnya kekuatan para musuh dan penentang.

Dari sinilah kita memahami wasiat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu kepada kaum muslimin, di mana beliau berkata:

"Jadilah kalian orang yang lebih waspada terhadap kemaksiatan melebihi kewaspadaan kalian terhadap musuh kalian. Sebab, dosa-dosa pasukan itu lebih ditakuti atas mereka daripada musuh mereka. Kaum muslimin itu hanyalah ditolong disebabkan oleh kemaksiatan musuh mereka kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa dalam perjalanan kalian terdapat para malaikat penjaga dari Allah, maka janganlah kalian melakukan hal-hal yang dimurkai Allah sementara kalian sedang berada di jalan Allah."

Aku mengatakan hal ini karena aku menyadari bahwa jalan para da'i di zaman ini adalah jalan yang dikelilingi oleh godaan dan bujukan. Jahiliah abad ke-20 telah meruntuhkan setiap makna dari makna-makna kebajikan, kebaikan, dan kemuliaan. Ia telah menyingkapkan wajahnya yang muram dan pucat, yang di dalamnya tergambar dan berkumpul sebab-sebab kesesatan, fitnah, dan penyimpangan. Materialisme zaman ini telah menyumbat hidung-hidung manusia hingga menjadikan manusia tidak berpikir melainkan dengannya, tidak hidup melainkan untuknya, dan tidak menilai segala sesuatu melainkan dari sudut pandangnya. Materialisme telah membutakan mata dan mata hatinya, serta mematikan rasa dan perasaannya:

"Maka perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menyerangnya diulurkannya lidahnya dan jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." (QS. Al-A'raf: 176)

Warisan yang dibebani dengan berbagai tanggung jawab dan tugas ini mengharuskan para da'i Islam untuk menghadapi tanggung jawab memikulnya dengan bekal yang sempurna dari iman, akhlak, dan pemikiran mereka, serta dengan segala sebab kekuatan, benteng akidah, dan moral yang mereka miliki.

Bentengi Front-Front Perlawanan

Oleh karena itu, hal paling berbahaya yang dihadapi oleh para da'i pada masa ini adalah retaknya front-front perlawanan di dalam jiwa mereka, dan sikap mereka yang terkadang menyerah pada apa yang disebut "realitas yang ada" (al-amr al-waqi'), ridha terhadap penambalan (tarqi') dalam keislaman mereka, serta menerima jalan tengah (kompromi setengah-setengah) dari prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan mereka. Sering kali politik kelonggaran dan sikap mempermudah (at-tasahul) ini menyeret sebagian orang menuju pelanggaran terhadap hal-hal pokok yang sudah pasti (al-musallamat al-asasiyyah) dan keluar dari lingkaran persepsi, pemikiran, serta perilaku Islami.

Jika kita mengakui besarnya beban dan agungnya tanggung jawab yang menanti para da'i di masa kini dan masa depan mereka, serta apa yang mengintai mereka berupa cobaan dan fitnah, maka menjadi hal terpenting yang harus mereka jaga dan segera lakukan adalah menyediakan faktor-faktor "pemeliharaan" (ash-shiyanah) bagi jiwa dan akal mereka, agar mereka mampu mengatasi berbagai rintangan yang merintangi jalan mereka.

Kepribadian Islam (Ash-Shakhshiyyah Al-Islamiyyah)

Sesungguhnya perhatian terhadap pembentukan kepribadian Islam (at-takwin ash-shakhshiyyah al-islamiyyah) harus mendahului pekerjaan apa pun lainnya. Kepribadian Islam adalah batu penjuru (hajar az-zawiyah) dalam pembangunan gerakan Islam (al-harakah al-islamiyyah). Sebagaimana gerakan Islam tidak mungkin mengemban perannya yang besar dalam memimpin umat tanpa adanya para da'i dan pejuang (al-'amilun), demikian pula para da'i ini tidak akan mungkin menjalankan peran yang sangat penting tersebut selama kepribadian Islam mereka belum sempurna secara alami dan sehat.

Maka, marilah kita diskusikan unsur-unsur yang membentuk kepribadian Islam:

1. Pola Pikir Islam (Al-'Aqliyyah Al-Islamiyyah)

Pola pikir Islam merupakan salah satu pilar pembentuk kepribadian Islam. Pada gilirannya, ia merupakan kemampuan (malakah) berpikir dan berpersepsi Islami yang benar terhadap alam semesta, manusia, dan kehidupan. Maka gagasan-gagasan, hukum-hukum, hal-hal yang terindera (al-mahsusat), dan hal-hal yang gaib (al-mughayyabat) seluruhnya harus tunduk pada penilaian Islami yang benar. Dengan demikian, pola pikir Islam menjadi landasan pemikiran yang mencerminkan konsep-konsep dan hukum-hukum Islam dalam setiap urusan.

Pola pikir Islam adalah "pola pikir" yang memandang segala sesuatu—seluruh sesuatu—dari kacamata Islam, dan menghukumi perkara-perkara—seluruh perkara—dengan tolok ukur Islam. Maka Islam baginya menjadi tolok ukur setiap persoalan, solusi bagi setiap masalah, dan kendali bagi setiap urusan. Boleh jadi, termasuk sebab terpenting yang mengarahkan para da'i kepada penyimpangan—terkadang—adalah goncangnya pemahaman dan persepsi mereka terhadap Islam sebagai sebuah gagasan (fikrah), dan terhadap amal Islami sebagai metodologi (manhaj) dan metode (uslub).

Untuk membentuk pola pikir Islam, harus tersedia faktor-faktor berikut:

  • Pertama: Pemahaman yang benar terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah, yang bertugas menegakkan garis-garis mendasar kehidupan manusia di dalam benak seorang da'i sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam.
  • Kedua: Kesadaran penuh terhadap tujuan-tujuan pemikiran Islam dari segi posisinya sebagai pengendali perilaku dan moral, pendorong untuk beramal, serta menjadikan perilaku manusia terikat dan menyesuaikan diri dengannya di kehidupan dunia dan menuju akhirat; bahwa pemikiran Islam bukan sekadar teori-teori dan idealisme abstrak semata. Hal inilah yang menjadikan konsep Islami bersifat realistis, positif, serta memiliki pengaruh yang dalam dan kuat dalam membangun kepribadian Islam.
  • Ketiga: Penguasaan yang menyeluruh dan memadai terhadap sisi-sisi persepsi Islami tanpa terbatas pada satu sisi saja. Sebab, sering kali pengabaian pada satu sisi memicu fenomena dan penyimpangan yang berbahaya. Akal akan tumbuh secara alami selama ia menyerap penelitian dan kebudayaan yang menjamin asupan nutrisi yang berlimpah dan bervariasi baginya. Sebaliknya, akal akan berhenti tumbuh dan berproduksi, bahkan bisa mundur dan merendahkan kualitas berpikir jika diabaikan atau disajikan bacaan-bacaan yang dangkal dan ringan.

Dr. Sabri al-Qabbani berkata dalam buku pertamanya dari seri Thabibuka Ma'ak (Dokter Anda Bersama Anda):

"Sesungguhnya otak menyukai variasi bahan kajian. Dengan begitu, ia menjadi selaras dan memulihkan kembali kenikmatan berpikir. Adapun berpikir dengan satu pola saja akan meletihkan dan membebaninya. Perumpamaannya seperti telinga yang menolak nada tunggal yang berulang terus-menerus, dan seperti otot kaki yang dilelahkan oleh turunan jalan yang curam sebagaimana diintai kelelahan oleh pendakian yang panjang. Oleh karena itu, kita harus menyajikan kepada otak kita studi-studi yang bervariasi agar ia tetap menjaga ketajaman dan aktivitasnya."

Dari sini kita amati bahwa orang-orang yang hanya memfokuskan diri pada bacaan-bacaan (spiritual atau sastra) semata, akan tertimpa sikap isolatif dan tertutup. Demikian pula orang-orang yang tekun dalam penelitian sains murni tanpa memberikan nutrisi-nutrisi lain yang krusial bagi akalnya, dapat jatuh menjadi korban gangguan saraf dan jiwa yang liar.

Agar akal mencapai keseimbangan dan kedalamannya, ia harus terbuka terhadap seluruh pengetahuan, ilmu, dan kebudayaan yang ada di dalam kehidupan; mengambilnya sesuai kadar yang dibutuhkan, dan meninggalkannya sesuai kadar tertentu dalam batas-batas yang dipandang baik oleh persepsi Islami yang sehat. Pola pikir Islam tidak akan mungkin menjadi murni Islami kecuali jika ia memandang dunia dari jendela Islam: ia berpikir dan menimbang, menganggap baik dan menganggap buruk, menimbang dan membandingkan, yang mana seluruhnya berada di bawah cahaya Islam serta dalam kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasarnya.

2. Pola Jiwa Islam (An-Nafsiyyah Al-Islamiyyah)

Pola jiwa Islam adalah pilar kedua dari pilar pembentuk kepribadian Islam. Bahkan, ia merupakan refleksi inderawi dari interaksi gagasan Islami dan pengaruhnya dalam kehidupan individu. Kecenderungan-kecenderungan manusia dan insting-instingnya terikat sangat kuat dengan konsep-konsep dan persepsi pemikirannya. Dari sinilah, pola jiwa Islam merupakan suatu tata cara (kaifiyyah) yang dengannya seorang da'i mempraktikkan insting, kecenderungan, dan kebutuhan-kebutuhan organiknya di bawah naungannya.

Di antara hal terpenting yang wajib diperhatikan dan disusun kurikulumnya adalah mengubah konsep-konsep dan gagasan-gagasan Islam menjadi perilaku dan akhlak, yaitu menjadi pola jiwa Islam. Hal ini menuntut penguatan ikatan antara pola pikir (al-'aqliyyah) dan pola jiwa (an-nafsiyyah), yaitu antara pemikiran dan penerapan. Islam telah mengecam pemisahan antara (dua bagian kepribadian) satu sama lain, sebagaimana firman-Nya Ta'ala:

"Wahai orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?" (QS. As-Saff: 2)

Agar jiwa tetap lurus di atas kaidah-kaidah petunjuk dan syariat Islam, sehingga tidak disesatkan oleh sikap mempermudah (at-tarakhkhush) atau disengsarakan oleh sikap memaksakan diri (at-takalluf), maka dalam melatih jiwa (tardiyyadh an-nafs) perlu diperhatikan faktor-faktor berikut:

Tidak Sembrono/Menyepelekan dan Tidak Berlebihan (La Tafrith wa La Ifrath)

Sejak hari pertama, Islam sangat berhasrat untuk mengembalikan jiwa manusia kepada fitrahnya, melalui metode yang presisi dan selaras yang menjaga hak-hak roh, akal, dan jasad tanpa ada sikap mengurangi (tafrith) maupun berlebihan (ifrath).

Atas dasar inilah jiwa seharusnya dilatih, sehingga ia tumbuh dengan pertumbuhan yang alami dan berkembang secara fitri tanpa ada pemborosan/melampaui batas (israf) dan tanpa kemerosotan (issfaf). Orang-orang yang berlebihan dalam memenuhi hak-hak roh mereka sama persis perumpamaannya dengan orang-orang yang berlebihan dalam memenuhi hak-hak jasad mereka. Mereka semua tidak mungkin kepribadiannya menjadi lurus dan seimbang sesuai dengan ukuran-ukuran dan prinsip-prinsip Islam.

Diriwayatkan bahwa Rasulullah berkunjung ke rumah Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, sementara istrinya bersikap lembut kepada Rasulullah . Maka beliau bersabda: "Bagaimana keadanmu wahai Umm Abdullah?" Wanita itu menjawab: "Bagaimana aku bisa baik-baik saja sedangkan Abdullah bin 'Amr adalah seorang laki-laki yang telah meninggalkan dunia." Beliau bertanya kepadanya: "Bagaimana bisa demikian?" Wanita itu menjawab: "Dia mengharamkan dirinya sehingga tidak tidur, tidak berbuka puasa, tidak makan daging, dan tidak memenuhi hak istrinya." Beliau bertanya: "Di mana dia?" Jawabnya: "Dia keluar dan sebentar lagi akan kembali." Beliau bersabda: "Jika dia kembali, tahanlah dia untukku." Kemudian Rasulullah keluar dan datanglah Abdullah, dan Rasulullah pun kembali tak lama kemudian. Beliau bersabda: "Wahai Abdullah bin 'Amr, apa ini berita yang sampai kepadaku tentangmu, bahwa engkau tidak tidur?" Dia menjawab: "Aku menginginkan keamanan dari ketakutan yang dahsyat (pada hari kiamat) dengan hal itu." Beliau bersabda: "Telah sampai kepadaku bahwa engkau tidak berbuka puasa." Dia menjawab: "Aku menginginkan apa yang lebih baik darinya di surga." Beliau bersabda: "Telah sampai kepadaku bahwa engkau tidak memberikan hak istri-istrimu." Dia menjawab: "Aku menginginkan istri-istri yang lebih baik dari mereka." Maka Rasulullah bersabda:

« يَا عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو، إِنَّ لَكَ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةً حَسَنَةً، وَرَسُولُ اللهِ يَصُومُ وَيُفْطِرُ، وَيَأْكُلُ اللَّحْمَ، وَيُؤَدِّي إِلَى أَهْلِهِ حُقُوقَهُمْ، يَا عَبْدَ اللهِ، إِنَّ لِلَّهِ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا »

"Wahai Abdullah bin 'Amr, sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik bagimu. Rasulullah berpuasa dan berbuka, makan daging, dan memberikan hak-hak istri-istrinya. Wahai Abdullah, sesungguhnya Allah memiliki hak atasmu, jasadmu memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu."

Seorang da'i yang sukses adalah orang yang senantiasa memperhatikan hatinya dengan apa yang memperbaiki, menyucikan, dan membersihkannya; ia tidak lalai dalam mengawasi jiwanya dan tidak alpa dalam mengintrospeksi (muhasabah) jiwanya, demi mengamalkan sabda Nabi al-Mushthafa :

« الكَيِّسُ مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الأَمَانِيَّ »

"Orang yang cerdas adalah orang yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk kehidupan setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa nafsunya lalu berangan-angan hampa kepada Allah."

Kepada hal itulah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mengisyaratkan melalui perkataannya:

"Introspeksilah (hasiibu) diri kalian sebelum kalian diintrospeksi (dihisab). Timbanglah diri kalian sebelum kalian ditimbang. Dan bersiap-siaplah kalian untuk hari penyingkapan yang besar (hari kiamat)."

Di samping itu, ia tidak bersikap pelit terhadap jasadnya dari kebaikan-kebaikan makanan, minuman, dan pakaian yang telah dihalalkan baginya. Cukuplah baginya firman Allah Ta'ala:

"Katakanlah: 'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dikeluarkan-Nya untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang baik?'" (QS. Al-A'raf: 32)

"Katakanlah: 'Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang benar...'" (QS. Al-A'raf: 33)

Memang benar bahwa jiwa itu senantiasa menyuruh kepada kejahatan (ammāratun bis-sū')... dan bahwa jiwa membutuhkan latihan (tarriydh) serta penahanan (ihjam) agar kepemimpinannya menjadi lembut dan kepatuhannya menjadi mudah. Namun, sebagaimana kita memiliki kewajiban-kewajiban atas jiwa, jiwa pun memiliki hak-hak atas kita. Barangsiapa yang menuntut kewajiban dari jiwa, jiwa akan menagih hak-haknya. Barangsiapa yang menghalangi haknya, jiwa akan liar bersamanya dan mencelakakannya. Hal inilah yang dinyatakan oleh kandungan ayat yang mulia:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari kejahatan) yang dikerjakannya." (QS. Al-Baqarah: 286)

Ustaz Asy-Syahid Sayyid Quthb berkata dalam tafsir ayat ini:

"Ia adalah akidah yang mengakui manusia sebagai manusia; bukan sebagai hewan, bukan malaikat, dan bukan pula setan... Ia mengakuinya sebagaimana adanya dengan segala kelemahan dan kekuatannya. Akidah memperlakukannya sebagai satu kesatuan yang terdiri dari jasad yang memiliki dorongan-dorongan, akal yang memiliki pertimbangan, dan roh yang memiliki kerinduan-kerinduan... Dan akidah menetapkan beban-beban kewajiban kepadanya sebatas kemampuannya, serta memperhatikan keselarasan antara kewajiban dan kemampuan tanpa menyulitkan dan tanpa memberatkan."

Dalam hal ini, Rasulullah telah memperingatkan dari setiap sikap lalai/sembrono (tafrith) dan melarang setiap sikap berlebihan (ifrath). Dari Aisyah radhiyallahu 'anha, bahwa Nabi masuk menemuinya sementara di sisinya ada seorang wanita. Beliau bertanya: "Siapa wanita ini?" Aisyah menjawab: "Ini Fulanah, dia menceritakan tentang shalatnya..." Beliau bersabda:

مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا

"Tahanlah (hentikanlah)! Hendaklah kalian membebankan amalan sebatas yang kalian sanggupi. Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang bosan."

[Meh (مَهْ) adalah kata larangan dan celaan. Makna "Allah tidak akan bosan" adalah Dia tidak memutus pahala-Nya dari kalian sampai kalian bosan lalu meninggalkannya. Maka sepatutnya bagi kalian untuk mengambil amalan yang mampu kalian lakukan secara terus-menerus (dawam) agar pahala dan karunia-Nya terus tercurah kepada kalian].

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi , beliau bersabda:

إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ، وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا، وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ الدَّلْجَةِ

"Sesungguhnya agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang memaksakan diri dalam agama melainkan agama itu akan mengalahkannya. Maka berlaku luruslah, mendekatlah pada kebenaran, bergembiralah, dan mohonlah pertolongan (beramallah) di waktu pagi (al-ghadwah), waktu sore (ar-rauhah), dan sebagian waktu malam (ad-duljah)."

Imam An-Nawawi berkata dalam menafsirkan hadits ini:

"Ini adalah sebuah metafora dan perumpamaan. Maknanya: Minta tolonglah kalian untuk taat kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan melakukan amalan-amalan pada waktu semangat kalian dan kekosongan hati kalian, sekira kalian merasakan kenikmatan beribadah dan tidak merasa jenuh, sehingga kalian mencapai tujuan kalian. Sebagaimana seorang musafir yang cerdik berjalan pada waktu-waktu ini dan beristirahat bersama hewan tunggangannya pada waktu lainnya, sehingga ia sampai ke tujuan tanpa kelelahan. Wallahu a'lam."

Dan Rasulullah bersabda:

إِنَّ الْمُنْبَتَّ لاَ أَرْضًا قَطَعَ وَلاَ ظَهْرًا أَبْقَى

"Sesungguhnya orang yang memaksakan tunggangannya melampaui batas (al-munbatt) tidak akan sampai menempuh daratan dan tidak pula meninggalkan punggung tunggangan yang utuh (karena tunggangannya mati/celaka)."

Jiwa merasa berat untuk memaksakan tabi'at yang tidak ada pada dirinya, dan mempraktikkan karakter-karakter yang bukan bagian darinya. Jika jiwa mampu bersabar atas pemaksaan diri (at-takalluf) ini pada awalnya, ia akan merasa bosan pada akhirnya. Orang yang berakal adalah orang yang mengangkat jiwanya tanpa menimbulkan kebosanan darinya, dan berusaha seiring berjalannya hari untuk membiasakannya memikul beban dan tanggung jawab yang lebih banyak tanpa membuat jiwanya kepayahan... Dengan cara itulah ia mencapai apa yang diinginkannya dari jiwanya.

Hakikat Totalitas/Pengabdian Tulus (Haqiqat At-Tajarrod)

Jiwa seorang da'i tidak akan pernah sempurna karakter-karakter Islami dan sifat-sifat Rabbaniyah-nya kecuali jika ia bertotalitas (yatajarrad) karena Allah, serta terbebas dari segala sesuatu yang menguasainya atau menyesatkannya. Jika itu berupa harta, hendaklah ia berzuhud padanya. Jika itu berupa syahwat, hendaklah ia membebaskan diri darinya.

Hendaklah kekayaan itu terletak pada jiwa (al-ghina bin-nafs) bukan pada uang (bal bil-fals). Hendaklah kemuliaan itu bersama Allah bukan dengan kedudukan (al-jah). Dan hendaklah wanita menjadi sarana menjaga kehormatan (ihshan) dan ketaatan, bukan faktor kehancuran dan kelemahan moral...

Diriwayatkan bahwa Rasulullah pernah ditanya pada suatu hari tentang orang yang paling zuhud di dunia, maka beliau bersabda:

مَنْ لَمْ يَنْسَ المَقَابِرَ وَالبِلَى، وَآثَرَ مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى، وَعَدَّ نَفْسَهُ مَعَ المَوْتَى

"Orang yang tidak melupakan kuburan dan kebinasaan, mengutamakan apa yang kekal di atas apa yang fana, dan menganggap dirinya termasuk dari golongan orang-orang mati."

Beliau juga bersabda:

الزُّهْدُ فِي الدُّنْيَا مِفْتَاحُ الرَّغْبَةِ فِي الآخِرَةِ

"Sikap zuhud di dunia adalah kunci kecintaan pada akhirat."

Diriwayatkan dari Ibn as-Sammak pernyataannya:

"Orang yang zuhud adalah orang yang jika mendapatkan dunia ia tidak bergembira (berlebihan), dan jika tertimpa musibah dunia ia tidak berduka. Ia tertawa di tengah keramaian dan menangis dalam kesendirian."

Inilah sebagian gambaran singkat tentang tengag-tanda kepribadian Islam, sifat-sifat, dan karakteristiknya, yang mungkin membutuhkan rincian dan penyederhanaan lebih lanjut. Cukuplah bagiku bahwa di dalamnya terdapat apa yang mewujudkan sebagian harapan... Dan Allah adalah Penolong menuju keberhasilan.

 

DA'I DAN METODE DAKWAH (AL-ASALIB AD-DA'WAH)

  • Metode yang Baik (Al-Uslub Al-Hasan)
  • Antara Ketegasan dan Kelembutan (Baina Asy-Syiddah wa Al-Lin)
  • Apa yang Kita Kehendaki?

Ada faktor-faktor yang membantu keberhasilan seorang da'i hingga tingkat yang besar di medan-medan dakwah, mewujudkan kesuburan dan pembuahan baginya, serta memberinya kemampuan untuk memberi pengaruh, berinteraksi, dan menanamkan pemikiran-pemikirannya di setiap lingkungan dan di setiap tingkatan.

Metode yang baik (al-uslub al-hasan) adalah salah satu faktor sensitif yang penting yang menghemat waktu dan tenaga bagi seorang da'i, serta menyampaikannya pada tujuan yang diinginkan dengan biaya paling sedikit dan paling mudah.

Maka da'i di setiap medan dakwah dan penyampaian (at-tabligh)... dalam lingkup penulisan, khotbah, pembicaraan, dan diskusi... dalam kerja kemasyarakatan, serikat pekerja, politik, dan kemahasiswaan, sangat membutuhkan metode yang baik yang tepat sasaran dan mencapai maksud.

Boleh jadi di antara hal paling menonjol yang harus dimiliki oleh seorang da'i agar menikmati metode yang baik adalah pengenalannya terhadap lingkungan yang menjadi medan aktivitas dan kerjanya. Ia mempelajari kondisi-kondisinya, masalah-masalahnya, kecenderungan-kecenderungannya, dan minat-minatnya... persis seperti seorang dokter yang mengamati gejala-gejala penyakit, perkembangan, dan fase-fasenya, kemudian mendiagnosis sebab-sebab dan pemicunya atas dasar ilmu dan pengetahuan... ilmu tentang karakteristik penyakit dan pengetahuan tentang sebab-sebab kesembuhan.

Da'i yang matang bagaikan dokter yang sukses; ia mengetahui dari mana harus memulai dan bagaimana harus memulai... Kemudian ia tidak akan memulai sebelum ia memiliki kemampuan untuk meneliti, mendiagnosis, dan mengobati, agar pekerjaannya tidak menjadi rangkaian percobaan yang gagal dan upaya-upaya spontan tanpa persiapan.

Masyarakat hari ini bergolak dengan berbagai paham dan kecenderungan... Semuanya saling menarik manusia dengan propaganda-propaganda yang dihias dan metode-metode yang dipercantik yang mereka munculkan. Mereka disapa dari sudut yang mereka sukai dan dengarkan... Mereka didatangi dari sudut yang mereka rasakan dan sadari... Mereka menyentuh luka-luka mereka, merasakan penyakit-penyakit mereka, dan mengadopsi masalah-masalah mereka.

Para da'i Islam tidak boleh kalah perhatian dan kepedulian terhadap metode-metode dakwah mereka dibandingkan yang lainnya. Maka mereka tidak menyapa (para buruh yang bekerja keras dengan bahasa ahli kubur), dan tidak mendiskusikan (orang-orang ateis materialis dengan bahasa orang-orang sentimental/emosional). Melainkan mereka menjadikan setiap tempat ada perkataan yang sesuai (likulli maqam maqal)... sebagai pembenaran atas sabda Rasulullah :

أُمِرْتُ أَنْ أُخَاطِبَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ

"Aku diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar akal (tingkat pemahaman) mereka."

Sesungguhnya Islam pada zaman ini membutuhkan para da'i yang pandai menyajikan gagasan-gagasan dan prinsip-prinsipnya dengan metode yang menarik dan memikat... Mereka membuat orang mencintai Islam dan tidak membuat mereka lari darinya, menjelaskan pemikiran-pemikirannya dan tidak membuatnya rumit. Betapa banyak klaim-klaim dari para pengaku dakwah yang merusak wujud Islam dengan buruknya dakwah mereka, dan mereka berbuat jahat kepadanya padahal mereka mengira bahwa mereka sedang berbuat kebaikan.

Dari sinilah tugas para da'i menjadi sangat presisi, sensitif, dan menuntut banyak keluwesan (labaqah) serta hikmah.

Antara Ketegasan dan Kelembutan (Baina Asy-Syiddah wa Al-Lin)

Sebab, jiwa manusia pada dasarnya diciptakan atas dasar kecintaan kepada orang yang berbuat baik kepadanya... Sikap kasar dan ketegasan terkadang mendorong jiwa menuju kesombongan dan pembangkangan, lalu kebanggaan dengan dosa menguasainya. Makna kelembutan (al-lin) bukanlah sikap culas/bermuka dua (al-mudahanah), kebohongan, dan kemunafikan; melainkan penyampaian nasihat dan penunaian kebaikan (as-dash al-ma'ruf) dengan metode yang sopan dan berkesan, yang membuka hati dan lapang dada. Terkhusus apabila dakwah itu ditujukan kepada (jamaah kaum muslimin), maka tidak sepatutnya ada ruang untuk menyapa mereka dengan Celaan (at-tawbi'), kecaman (at-taqri'), dan kekerasan (al-'unf).

Tidakkah engkau melihat kepada Al-Qur'an al-Karim dalam konteks penyajian bimbingan Rabbani untuk metode yang baik saat menyapa (Musa dan Harun) serta berwasiat kepada keduanya saat mendatangi sang thagut (Firaun) dengan kelembutan dan cara yang baik:

"Maka berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut, mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thaha: 44)

Bahkan isyarat-isyarat Al-Qur'an dan petunjuk-petunjuk Nabawi menuju kelembutan dan menjauhi sikap kasar serta ketegasan menegaskan hal yang tidak mengandung keraguan tentang (efektivitas) metode ini dan nilai pengaruhnya.

Allah Ta'ala berfirman di akhir surah An-Nahl seraya memerintahkan Nabi-Nya agar berkomitmen pada hikmah dalam mendakwahi manusia:

"Serulah (manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)

Ibn Katsir menafsirkannya dengan pernyataannya: "Yaitu barangsiapa yang membutuhkan diskusi dan perdebatan, maka hendaklah hal itu dilakukan dengan cara yang baik, yakni dengan kelembutan, keramahan, dan tutur kata yang baik."

Dan di dalam Surah Ali 'Imran, Al-Qur'an al-Karim mengisyaratkan pada faedah-faedah keramahan dan kelembutan dalam memenangkan para penolong dan pendukung, yang pada akhirnya meluncurkan dakwah dan mengumpulkan hati di sekelilingnya, maka Allah berfirman:

"Maka disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu." (QS. Ali 'Imran: 159)

Telah diriwayatkan dalam tafsir ayat ini sebuah perkataan dari Abdullah bin 'Amr yang berbunyi: "Sesungguhnya aku melihat sifat Rasulullah di dalam kitab-kitab terdahulu bahwa beliau bukanlah orang yang bersikap keras, tidak berhati kasar, tidak suka berteriak-teriak di pasar-pasar, dan tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan beliau memaafkan dan mengampuni."

Dalam Sirah Nabawiyyah terdapat berbagai contoh yang beragam bagi metode yang memikat dan menusuk kalbu yang dengannya Rasulullah mencapai tujuannya dengan keluwesan dan hikmah. Abu Umamah meriwayatkan bahwa seorang pemuda datang kepada Nabi lalu berkata: "Wahai Nabi Allah, apakah engkau mengizinkanku untuk berzina?" Maka orang-orang membentaknya, lalu Nabi bersabda: "Mendekatlah." Pemuda itu pun mendekat hingga duduk di hadapan beliau. Nabi bersabda: "Apakah engkau menyukainya untuk ibumu?" Dia menjawab: "Tidak, demi Allah, jadikanlah aku sebagai tebusanmu." Beliau bersabda: "Demikian pula manusia, mereka tidak menyukainya untuk ibu-ibu mereka... Apakah engkau menyukainya untuk putrimu?" Dia menjawab: "Tidak, demi Allah, jadikanlah aku sebagai tebusanmu." Beliau bersabda: "Demikian pula manusia, mereka tidak menyukainya untuk putri-putri mereka... Apakah engkau menyukainya untuk saudaramu?" [Dan Ibn 'Auf menambahkan bahwa beliau menyebutkan tentang bibi dari pihak ayah dan bibi dari pihak ibu, dan pemuda itu berkata pada setiap pertanyaan: "Tidak, demi Allah, jadikanlah aku sebagai tebusanmu"]. Lalu Rasulullah meletakkan tangannya di dada pemuda itu seraya berdoa:

اللَّهُمَّ طَهِّرْ قَلْبَهُ، وَاغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ

"Ya Allah, bersihkanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan bentengilah kemaluannya."

Maka tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci daripada zina setelah itu.[ Diriwayatkan oleh Ahmad dengan sanad yang jayyid (baik/kuat)]

Metode seorang da'i sepatutnya senantiasa diperbarui dalam batas-batas yang diizinkan oleh Islam. Fleksibilitas (marunah) Islam menuntut dakwah dengan metode zaman dan bahasanya, serta dengan berbagai sarana—yang disyariatkan—yang menjamin tersampaikannya Islam kepada manusia dalam bentuk yang paling indah dan wujud yang paling baik...

Inilah logika fleksibilitas dalam sabda Rasulullah :

الْحِكْمَةُ ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، أَنَّى وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ النَّاسِ بِهَا

"Hikmah itu adalah barang hilang milik orang mukmin; di mana pun ia menemukannya, maka dialah orang yang paling berhak atasnya."

Dan sabda beliau:

خُذُوا الْحِكْمَةَ مِنْ أَيِّ وِعَاءٍ خَرَجَتْ

"Ambillah hikmah dari wadah mana pun ia keluar."

Apa yang Kita Kehendaki?

Boleh jadi di antara hal terbaik yang mewujudkan metode yang baik pada diri seorang da'i adalah kesadarannya yang jelas dan mendalam terhadap apa yang ia kehendaki. Lurusnya persepsi dan diagnosis yang jelas terhadap maksud-maksud dan tujuan-tujuan akan mendiktekan kepada da'i metode yang sepatutnya ia komit dan adopsi.

Kesadaran da'i terhadap apa yang ia kehendaki menghemat waktu dan tenaga baginya, serta menjadikan perjalanan dan langkahnya berada di atas petunjuk dan cahaya... Ia tidak menabrak secara serampangan (khabtha 'asywa') tanpa memperkirakan akibat-akibat atau memperhitungkan hasil-hasil. Kepada makna inilah petunjuk Rabbani yang mulia mengisyaratkan, di mana Allah berfirman:

"Wahai orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya, maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS. Al-Ahzab: 70-71)

Maka sepatutnya bagi seorang da'i untuk mengetahui apa yang ia kehendaki dari setiap langkah yang ia jalani, dan dari setiap pekerjaan yang ia lakukan; baik dalam medan khotbah, penulisan, dan diskusi, maupun dalam medan kerja kemasyarakatan, serikat pekerja, dan kemahasiswaan. Sungguh benar Al-Hasan Al-Bashri ketika beliau berkata:

"Orang yang beramal tanpa ilmu bagaikan orang yang berjalan bukan pada jalurnya. Dan orang yang beramal tidak sesuai dengan apa yang ia kehendaki akan merusak lebih banyak daripada memperbaiki."

Dan tertulis dalam ungkapan hikmah:

"Barangsiapa yang menempuh jalan tanpa petunjuk jalan (dalil) ia akan tersesat. Dan barangsiapa yang berpegang teguh tanpa landasan pokok (ashl) ia akan hina."

 

PARA DA’I ISLAM DAN KERAGAMAN KAPASITAS DIRI

  • Tingkatan Keragaman dan Bentuk-Bentuknya
  • Faktor-Faktor Keragaman dan Penyebabnya

Kesiapan dan kapasitas gerak (al-qābiliyyāt al-arakiyyah) di kalangan para pekerja di medan dakwah Islam (al-aqli al-Islāmī) menunjukkan keragaman yang sangat jelas. Keragaman ini tampak nyata dalam kehidupan pribadi maupun publik mereka. Hal tersebut juga mewujud pada keterikatan mereka dengan organisasi (at-tanīm), kedisiplinan mereka dengannya, serta dalam aktivitas sosial dan sejauh mana tingkat keberhasilan mereka di dalamnya.

Tingkatan Keragaman ini dan Bentuk-Bentuknya

Kita dapat mengklasifikasikan keragaman kapasitas ini ke dalam tiga bentuk:

Bentuk Pertama: Kesiapan dan kapasitas pada diri seorang akh (kader/anggota) berada pada kondisi terbaik, baik dari segi pemahaman, keimanan, interaksi (at-tafā'ul), maupun kedisiplinan. Mereka yang menikmati tingkat kesiapan seperti ini, pada hakikatnya, adalah pilar utama dakwah dan daya dorong di dalamnya. Keberadaan mereka dalam realitas gerakan (al-wujūd al-arakī) merupakan salah satu faktor terpenting bagi stabilitas dan keberhasilannya.

Bentuk Kedua: Kesiapan pada diri seorang akh berada di antara pasang dan surut, kuat dan lemah. Ia berada di antara semangat maju (iqbāl) dan berpaling (idbār), optimisme dan pesimisme, bergantung pada kondisi pribadinya serta kondisi gerakan secara umum. Kelompok masyarakat seperti ini patut mendapatkan perhatian, dari sisi mengenali masalah-masalah mereka beserta penyebabnya. Sebab, bisa jadi masalah mereka berada di luar kehendak mereka, terdistribusi secara paksa dalam kehidupan mereka, sehingga mereka perlu dibantu untuk menyelesaikannya dan dikeluar dari atmosfer masalah tersebut. Boleh jadi pula hal itu bersumber dari kelemahan dalam pembentukan (at-takwīn) keislaman mereka, sehingga sisi-sisi kekurangan mereka wajib disempurnakan.

Bentuk Ketiga: Kesiapan dan kapasitas pada diri seorang akh terhenti/tidak ada secara bawaan (firiyyān). Artinya, susunan saraf, kehendak, serta kemampuan pemikiran dan psikologisnya tidak berada pada tingkat yang memungkinkannya untuk berproduksi dan memberi manfaat. Kelompok ini bisa menjadi beban bagi gerakan pada tahapan saat ini, karena ia hidup dengan menumpang padanya dan menyedot energinya; ia mengambil darinya dan tidak memberi kepadanya. Terhadap orang-orang semacam ini, tidak boleh menguras energi, menghabiskan usaha, dan membuang-buang potensi.

Faktor-Faktor Keragaman ini dan Penyebabnya

Sudah barang tentu keragaman ini memiliki banyak faktor yang tidak terhitung jumlahnya—sebagian bersifat bawaan (fi), sebagian bersifat genetis (wirāṣī), dan sebagian lagi bersifat usahawi/akuisisi (iktisābī). Jika kita melampaui dua faktor pertama menuju faktor terakhir yang masuk dalam jangkauan kemampuan manusia, kita akan dapat menentukan penyebab-penyebab utama kemunculannya. Diagnosis ini pada gilirannya memungkinkan kita untuk mengobati apa yang mungkin diobati dari kelemahan dan kelesuan, serta membangkitkan dan menguatkan kembali kapasitas-kapasitas yang ada, hingga menjadikan pemiliknya berada pada tingkat tanggung jawab dan sanggup memikulnya.

Faktor Pertama:

Berhubungan dengan sejauh mana pemahaman seorang akh terhadap agamanya. Terkadang pemahamannya terhadap Islam bersifat dangkal dan terdistorsi (mamsūkh); atau tidak teramat jelas secara sempurna; atau pemahaman yang parsial (juz'ī) dan tidak integral (ghairu mutakāmil). Oleh karena itu, Islam mendorong untuk menyempurnakan bekal pemikiran dengan pemahaman yang baik terhadap agama (usnu at-tafaqquh fi ad-dīn) serta mengetahui maksud-maksud dan tujuan-tujuannya. Nabi Rasulullah bersabda:

مَنْ يُرِدِ اللَّهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ

"Barangsiapa yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan pahamkan ia dalam agama." [HR. Bukhari (No. 71) dan Muslim (No. 1037) dari sahabat Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu]

Faktor Kedua:

Berhubungan dengan sejauh mana interaksi (tafā'ul) seorang akh terhadap prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan pribadi dan publiknya. Bisa saja ia berilmu tentang Islam namun tidak mengamalkannya; ia menyeru manusia kepada sesuatu yang ia sendiri menyelisihinya, dan ia mendahului mereka menuju apa yang ia larang. Hal semacam ini berpotensi mematikan dorongan-dorongan kebaikan dalam jiwanya dan menjadikannya berada dalam lingkaran kecemasan dan kesengsaraan yang tidak dapat ia keluar darinya sampai terputus hubungan terakhirnya dengan Islam. Al-Qur'an al-Karim telah mengecam kelompok manusia seperti ini ketika berfirman:

"Mengapa kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu mengerti?" (QS. Al-Baqarah: 44)

"Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan? (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 2-3)

Faktor Ketiga:

Berhubungan dengan sejauh mana kedekatan seorang akh dengan Allah dan hubungannya dengan-Nya. Seorang da'i tidak mungkin menjadi sempurna kepribadiannya, lurus langkahnya, bersih jiwanya, lapang dadanya, melimpah produkivitasnya, serta luas keberkahan buah karyanya, selama ia belum membebaskan diri dari perhambaan kepada selain Allah, serta merasakan kedekatan Allah kepadanya dan pengawasan-Nya atas dirinya. Hal ini tidak mungkin terwujud tanpa melalui kesungguhan menundukkan jiwa (mujāhadat an-nafs) dan kecenderungan-kecenderungannya hingga jiwa itu mau menurut dan tunduk patuh.

Faktor Keempat:

Berhubungan dengan sejauh mana kemampuan seorang akh dalam memegang kendali dirinya dan penguasaannya atas hawa nafsu serta nalurinya. Apabila kehidupan seorang akh penuh dengan godaan dan fitnah, maka ia wajib dibentengi dengan benteng yang kokoh, selalu siap sedia untuk melawan dorongan-dorongan kejahatan dan bisikan-bisikan setan di dalamnya... dengan menyadari secara sadar dan mendalam firman Allah Ta'ālā:

"Sungguh, setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh!" (QS. Fatir: 6)

Serta selalu mengingat sabda Rasulullah :

إِنَّ الشَّيْطَانَ يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ

"Sesungguhnya setan itu berjalan dalam diri anak Adam melalui aliran darah." [HR. Bukhari (No. 2038) dan Muslim (No. 2175) dari Ummul Mukminin Shafiyyah binti Huyay radhiyallahu 'anha.]

 

ANTARA IDEOLOGIS DAN SEKTARIANISME (KAPARTAIAN)

  • Antara Kapartaian (Al-izbiyyah) dan Kemanusiaan (Al-Insāniyyah)
  • Antara Ideologis (Al-'Aqā'idiyyah) dan Personalitis (Ash-Syakhṣāniyyah)
  • Antara Ketulusan Mutlak (At-Tajarrud) dan Kompromi Pragmatis (Al-Musāwamah)

Pada hakikatnya, kita—sebagai gerakan Islam (arakah Islāmiyyah)—sangat membutuhkan perubahan konsep-konsep dan cara pandang kita dalam banyak masalah dan urusan yang berkaitan dengan kerja Islam (al-'amal al-Islāmī). Gerakan kita sepatutnya memiliki keunggulan/perbedaan dalam kepribadiannya, sifat kerja-kerjanya, serta kualitas individu-individunya dibanding seluruh gerakan politik dan kapartaian (izbiyyah) modern.

Antara Kapartaian dan Kemanusiaan

Dalam keyakinan saya, gerakan Islam sampai batas tertentu telah terpengaruh oleh atmosfer kapartaian (al-jaww al-izbī) yang dihidupi oleh negara-negara Arab pada kurun waktu ini... hingga hampir-hampir mengotori sifat dasar kerja Islam dan metode-metodenya—dalam beberapa kesempatan—dengan semangat kapartaian yang sempit, yang tidak sejalan sama sekali dengan tendensi keterbukaan (al-infitā) dan kemanusiaan dalam Islam.

Jika saya katakan bahwa sifat dasar kerja Islam berbeda dengan sifat dasar kerja kapartaian, hal itu karena pandangan ideologis (at-taṣawwur al-'aqīdī) serta prinsip-prinsip syariat dan petunjuk arahan yang menjadi landasan manhaj Islam tidak sejalan sedikit pun dengan konsepsi dan prinsip yang menjadi landasan gerakan-gerakan kapartaian.

Sesungguhnya Islam memiliki sifat-sifat khusus yang membedakannya—dalam akidahnya, prinsip-prinsipnya, metode-metodenya, tujuan-tujuannya, dan muara akhirnya—sebagaimana ia juga memiliki tolak ukur baku (maqāyīs ābitah) yang tidak dapat dikuasai atau dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan peristiwa-peristiwa yang dinamis.

Keideologisan ('aqā'idiyyah) Islam dipaksakan oleh cara pandangnya terhadap alam semesta, manusia, dan kehidupan... Cara pandangnya yang bersifat ketuhanan (ilāhiyyah) yang terpancar dalam keimanan akan keberadaan Pencipta bagi alam semesta ini, hak-hak Sang Tuhan tersebut atas manusia, apa yang ada di dalam syariat-Nya berupa jaminan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat, serta apa yang timbul dari mengambil atau berpaling darinya berupa pahala dan siksa... Serta cara pandangnya yang bersifat kemanusiaan (insāniyyah) yang terpancar dalam tingginya kedudukan yang dipersiapkan untuk manusia, mulianya tugas yang untuknya ia diciptakan, dan keagungan tujuan yang untuknya ia bekerja dan berjihad di jalannya.

Maka, da'i Muslim menginginkan kebaikan bagi seluruh manusia, dan berusaha membahagiakan seluruh umat manusia dengan risalah Islam... Ia tidak bersikap fanatik (ta'aṣṣub) terhadap suku atau warna kulit, dan tidak pula terhadap kelompok atau partai... Melainkan ia adalah ruh baru yang mengalir dalam tubuh umat lalu menghidupkannya dengan kebenaran, serta cahaya terang benderang yang menyinari jalan-jalan, menghidupkan hati, dan menunjuki orang-orang yang bingung ke jalan yang lurus.

Ia—di samping semua itu—tidak mengaitkan antara (usaha dan balasan) atau antara (amal dan hasil) kecuali sebatas apa yang ia rasakan berupa penerimaan (qabūl) dan keridaan dari Allah Tabāraka wa Ta'ālā... Maka maju atau mundurnya ia dalam medan kerja dan perjuangan tidak didasari oleh apa yang menyertainya berupa kemenangan atau kekalahan; tidak membuat gembira keridaan manusia kepadanya dan tidak membuat marah kemurkaan mereka atasnya. Melainkan, ia memiliki teladan tertinggi dan contoh yang baik dalam kehidupan Da'i Pertama (Nabi Muhammad) ketika beliau bersabda:

اللَّهُمَّ إِنْ لَمْ يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلَا أُبَالِي

"Ya Allah, asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli." [Bagian dari doa Rasulullah saat peristiwa Tha'if, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam al-Mu'jam al-Kabīr (13/73) dan Al-Haitsami dalam Majma' az-Zawā'id (6/35).]

Sifat kemanusiaan yang menjadi tabiat dasar Islam ini sangat bertentangan dengan tabiat gerakan-gerakan kapartaian lainnya. Di antara keutamaan tabiat ini adalah memberikan kepada para pekerja di medan Islam sifat keterbukaan kepada seluruh manusia... Mereka adalah para penyeru kebaikan, mimbar-mimbar petunjuk, dan obor-obor cahaya... yang mengetuk setiap pintu, dan membimbing setiap orang yang sesat.

"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah: 143)

Kerangka ideologis (al-iār al-'aqādī) yang dengannya Islam membatasi lapangan kerja Islam bersandar pada dua sisi:

Pertama: Kejelasan tujuan (wuū al-ghāyah) di dalam kedalaman jiwa sang da'i, agar ia tidak disimpangkan oleh hawa nafsu atau dibelokkan oleh keinginan pribadi. Dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā, ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah lalu berkata: "Wahai Rasulullah, sungguh aku berdiri di suatu tempat (untuk beramal) aku menginginkan wajah Allah namun aku juga ingin agar posisiku dilihat (orang)." Maka Rasulullah tidak menjawabnya sedikit pun hingga turun firman Allah Ta'ālā:

"Maka barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya hendaklah dia mengerjakan kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Tuhannya." (QS. Al-Kahf: 110)

Kedua: Keabsahan sarana (salāmat al-wasīlah), jaminan kehalalannya secara syari, serta kesesuainnya dengan ruh Islam. Dengan demikian, terwujudlah penjagaan terhadap kerja Islam dari setiap penyimpangan yang mungkin disebabkan oleh kaidah kapartaian yang menyatakan pembenaran sarana demi mencapai tujuan (tabrīr al-wasā'il min ajl al-ghāyāt / the ends justify the means).

Jika tabiat gerakan-gerakan kapartaian—misalnya—mendasarkan diri pada cara-cara yang berbelit-belit dan tidak terpuji demi mencapai tujuan-tujuannya, serta menganggap halal demi hal itu segala bentuk penipuan dan penyesatan, maka gerakan Islam ditolak oleh akidahnya dari menggunakan jenis sarana seperti ini.

Antara Ideologis dan Personalitis

Keideologisan Islam tampak dalam seruannya untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan nilai-nilai luhur, bukan pada figur-figur dan para pemimpin... Dengan demikian, kerja Islam menjadi aman dari penyimpangan-penyimpangan individu... Apabila "personalitis" (ash-syakhṣāniyyah / pengkultusan individu) merupakan kuman kepunahan gerakan-gerakan kapartaian, maka "keideologisan" (al-'aqā'idiyyah) merupakan faktor kelestarian gerakan Islam dan keberlangsungannya.

Sesungguhnya akidah yang ditanamkan oleh Islam dalam jiwa para pemeluknya telah menjadikan mereka menentang orang yang paling dekat dengan mereka demi kebenaran, dan mencintai karena Allah orang yang paling jauh dari mereka... Maka tidak ada kompromi dengan kerabat atau kekasih dalam hukum dari hukum-hukum Allah atau urusan dari urusan-urusan Islam:

"Wahai orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan bapak-bapakmu dan saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran daripada keimanan. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pelindung, maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. At-Tawbah: 23)

Maka tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Sang Pencipta. Lihatlah Ummu Habibah (istri Rasulullah ) tidak membiarkan ayahnya (yang masih musyrik) untuk duduk di atas alas tidur Rasulullah, dan ia berkata kepadanya dengan penuh kemarahan: "Ini adalah alas tidur Rasulullah sedangkan engkau adalah seorang musyrik yang najis." Dan ini Mus'ab bin 'Umair berkata kepada ibunya (yang musyrik) yang telah bersumpah tidak akan mengecap makanan sampai Mus'ab kembali ke agamanya dan meninggalkan Islam: "Demi Allah wahai Ibu, seandainya engkau memiliki seratus nyawa yang keluar satu per satu, aku tidak akan pernah meninggalkan agama Muhammad."

Dengan keideologisan yang tiada tandingannya ini, Islam melindungi dakwah dan para da’inya dari seluruh pengaruh emosional dan personal.

Dalam Perang Badr, para ayah bertemu (bertempur) dengan anak-anak, dan saudara dengan saudara... Prinsip-prinsip telah memisahkan mereka, maka pedang-pedang pun memutus hubungan mereka... Abu Bakar berada di barisan kaum Muslimin sedangkan anaknya, Abdurrahman, berada di barisan kaum musyrikin... 'Utbah bin Rabi'ah adalah orang pertama yang keluar bertarung tanding melawan kaum Muslimin, sedangkan putranya, Abu Hudzaifah, termasuk orang yang terdahulu masuk Islam... Ketika jasad 'Utbah diseret untuk dilemparkan ke dalam sumur (al-qalīb), Rasulullah memandang ke arah Abu Hudzaifah dan ternyata ia muram dengan warna muka yang berubah... Maka beliau bersabda kepadanya: "Wahai Abu Hudzaifah, boleh jadi timbul di hatimu sesuatu berkenaan dengan urusan ayahmu?" Ia menjawab: "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak ragu sedikit pun tentang ayahku dan kematiannya. Namun aku dulu mengenal ayahku sebagai orang yang memiliki pandangan, kearifan, dan keutamaan, sehingga aku berharap hal itu dapat membimbingnya menuju Islam. Ketika aku melihat apa yang menimpanya, dan aku teringat ia mati di atas kekafiran setelah apa yang aku harapkan baginya, hal itu membuatku sedih."

Antara Ketulusan Mutlak dan Kompromi Pragmatis

Keideologisan Islam memiliki pengaruh yang sangat mendalam dalam cakrawala "Pendidikan" (at-Tarbiyah)... Ketulusan mutlak (at-tajarrud) karena Allah dari setiap hawa nafsu dan tujuan pribadi... keikhlasan untuk-Nya dalam rahasia maupun terang-terangan... serta keteguhan di atas kebenaran... hampir seluruhnya merupakan bagian dari karakteristik keideologisan yang ditekankan oleh Islam dalam seluruh medan ibadah, pengarahan, dan perundang-undangannya.

Oleh karena itu, akidah Islam menolak bagi pemeluknya segala bentuk kompromi (al-musāwamah / obral prinsip) betapa pun mahalnya harga yang ditawarkan dan betapa pun besarnya tawaran tersebut...

Inilah kaum Quraisy mengusulkan kepada Rasulullah agar beliau menyembah (tuhan-tuhan) mereka selama sebulan dan mereka akan menyembah (Tuhan) beliau selama sebulan pula. Maka Muhammad menjawab mereka dengan firman yang tegas dari Tuhan Semesta Alam:

"Katakanlah (Muhammad), "Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku." (QS. Al-Kafirun: 1-6)

Dan pada suatu hari datanglah 'Utbah bin Rabi'ah kepada Rasulullah menyampaikan tawaran-tawaran yang sangat menggiurkan... Ia menawarkan kepadanya kerajaan, harta, dan kekuasaan, dengan syarat beliau meninggalkan urusan (dakwah) yang beliau diutus dengannya dan melepas Islam... Maka Rasulullah berpaling kepadanya dengan tinggi hati karena imannya dan bangga dengan agamanya seraya bersabda:

«مَا جِئْتُكُمْ بِمَا جِئْتُكُمْ بِهِ أَطْلُبُ أَمْوَالَكُمْ، وَلَا الشَّرَفَ فِيْكُمْ، وَلَا الْمُلْكَ عَلَيْكُمْ.. وَلَكِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ رَسُوْلًا.. وَأَنْزَلَ عَلَيَّ كِتَابًا.. وَأَمَرَنِي أَنْ أَكُوْنَ لَكُمْ بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا.. فَإِنْ تَقْبَلُوْا مِنِّي مَا جِئْتُكُمْ بِهِ فَهُوَ حَظُّكُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.. وَإِنْ تَرُدُّوْهُ عَلَيَّ أَصْبِرْ لِأَمْرِ اللَّهِ، حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ..»

"Aku tidak datang kepada kalian membawa apa yang aku bawa ini untuk meminta harta-harta kalian, tidak pula mencari kemuliaan di tengah kalian, dan tidak pula kekuasaan atas kalian... Akan tetapi Allah telah mengutusku kepada kalian sebagai seorang Rasul... dan menurunkan kepadaku sebuah Kitab... serta memerintahkanku agar menjadi pembawa berita gembira dan pemberi peringatan bagi kalian... Jika kalian menerima dariku apa yang aku bawa ini, maka itulah bagian keuntungan kalian di dunia dan akhirat... Namun jika kalian menolaknya dariku, aku akan bersabar menanti urusan Allah, hingga Allah memutuskan hukum antara aku dan kalian..."

Kata Penutup

Boleh jadi rahasia dari pengaruh Islam dalam menancapkan keideologisannya dan kedalamannya dalam jiwa para pemeluknya kembali kepada kesadaran mereka akan karunia Allah saat mereka berada di puncak kemenangan dan puncak keberhasilan... Mereka tidak melihat kemenangan melainkan hanya dari sisi Allah... dan tidak merasakan selain karunia Allah atas mereka. Dengan demikian, jiwa tetap patuh dan tawaduk, tidak keluar dari karakter aslinya oleh terpaan kesombongan dan keangkuhan...

 

"Dan sungguh, Tuhanmu mempunyai karunia (yang besar) yang diberikan-Nya kepada manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur." (QS. An-Naml: 73)

Penyelarasan Istilah Syari & Ushul:

- Al-Qābiliyyāt al-arakiyyah: Kapasitas atau daya serap individu dalam mengejawantahkan gagasan menjadi tindakan nyata dalam konteks pergerakan/organisasi.

- At-Tajarrud: Sikap pelepasan diri secara total dari segala keterikatan hawa nafsu, kepentingan pribadi, kelompok, atau duniawi, semata-mata murni karena Allah.

- At-Tafā'ul: Interaksi positif aktif di mana seseorang tidak hanya paham secara teori, tetapi menyerap dan merealisasikan nilai-nilai tersebut dalam perilaku nyata.

- Ash-Syakhṣāniyyah: Personalitis atau pengkultusan figur/individu, di mana loyalitas gerakan dibangun di atas ketokohan seseorang, bukan di atas prinsip atau ideologi ('Aqā'idiyyah).

 

HARAKAH ISLAMIYAH DI ANTARA INTEGRASI DAN DETERIORASI (Antara Takâmul dan Ta’âkul)

  • Dalam Hal Pendidikan dan Pembinaan (at-Tarbiyah wa at-Takwîn)
  • Dalam Hal Konfrontasi dan Aktivitas Gerakan (al-Muwâjahah wa al-’Amal al-Harakî)

Bagi siapa saja yang mengamati realitas perjuangan Islam selama setengah abad terakhir, akan tampak jelas baginya sebuah fenomena yang mengkhawatirkan. Fenomena tersebut adalah bahwa berbagai aktivitas dan pengalaman yang telah berjalan di medan ini seolah-olah berputar dalam lingkaran setan antara integrasi/penyempurnaan (takâmul) dan deteriorasi/pengikisan (ta’âkul).

Yang dimaksud dengan takâmul (integrasi/penyempurnaan) dan ta’âkul (deteriorasi/pengikisan) adalah bahwa setiap kali pengalaman-pengalaman yang diperjuangkan itu hampir menyempurnakan elemen-elemen penyusunnya, ia justru mulai terkikis; dan setiap kali potensi serta keunggulannya baru saja siap dan terhimpun, potensi itu justru mulai terurai dan bercerai-berai sebelum sempat mencapai tujuan utamanya, yaitu menegakkan masyarakat Islami dan melanjutkan kembali kehidupan Islam (isti’nâf al-hayâh al-Islâmiyyah).

Ciri-ciri fenomena ini tampak sangat menonjol dan kasatmata di kawasan Arab, di mana gerakan-gerakan Islam (al-harakât al-Islâmiyyah) gagal mewujudkan satu pengalaman pun yang berhasil, setidaknya di satu negara.

Hal ini belum termasuk fakta bahwa gerakan Islam di beberapa negara justru mengalami kemunduran yang sangat mengkhawatirkan di hadapan gempuran arus-arus materialistis. Gerakan Islam telah mengosongkan garis-garis pertahanan terdepannya, suatu hal yang memberi peluang bagi kekuatan-kekuatan jahiliah di negeri-negeri Muslim untuk memperkokoh kedudukannya, mempermudah jalan bagi mereka untuk merebut kekuasaan dan merampasnya, lalu menggunakan serta memanfaatkannya untuk memerangi Islam secara umum, dan memukul gerakan Islam secara khusus.

Mendiagnosis Masalah (Tasykhîshât)

Para aktivis di medan dakwah Islam (al-’âmilûna fî al-haql al-Islâmî) menyadari keberadaan fenomena ini. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menilai faktor-faktor penyebab kemunculan dan memburuknya fenomena tersebut:

  1. Kelompok Pertama: Sebagian dari mereka menganggap hal ini sebagai perkara yang wajar dan konsekuensi logis dari menyusutnya kebaikan serta memuncaknya kejahatan di dunia. Pada akhirnya, hal ini merupakan kepastian "keterasingan" (al-ghurbah) yang akan dialami Islam di akhir zaman. Mereka berdalil dengan hadis-hadis dari Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa sallam, di antaranya sabda beliau:

يَأْتِي عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ

"Akan datang kepada manusia suatu zaman, di mana orang yang sabar di antara mereka dalam memegang teguh agamanya seperti orang yang menggenggam bara api." [ HR. At-Tirmidzi (No. 2260) dari sahabat Anas bin Malik radhiyallâhu 'anhu, beliau menyatakannya sebagai hadis hasan gharib]

Serta sabda beliau:

خَيْرُ الْقُرُونِ قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، وَالْآخَرُونَ أَرَاذِلُ

"Sebaik-baik generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi setelahnya, sedangkan orang-orang yang datang belakangan adalah orang-orang yang hina." [ HR. At-Thabrani dalam Al-Mu'jam al-Kabîr dan Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 'alâ ash-Shahîhain. Dinyatakan hasan oleh penulis]

  1. Kelompok Kedua: Sebagian yang lain mengembalikan penyebabnya pada buruknya kondisi sosial, ekonomi, dan politik yang dialami oleh umat pasca-runtuhnya Daulah Islamiyah [Kekhalifahan] dan tumbangnya pemerintahan Islam. Selain itu, hal ini disebabkan oleh konspirasi sekutu tiga kekuatan global (Sionisme, Komunisme, dan Salibisme/Kristenisasi) untuk memukul arus Islam dan mengisolasi pemikiran Islam dari panggung kehidupan; kadang dengan memicu sentimen kesukuan dan nasionalisme, dan di waktu lain dengan membentuk gerakan-gerakan materialistis-atéis serta gerakan misionaris, melalui segala cara dan metode yang dapat meragukan kaum Muslimin terhadap akidah dan syariat mereka.
  2. Kelompok Ketiga: Sebagian lagi mengatribusikan masalah ini pada minimnya potensi sumber daya manusia, teknis, dan material yang dimiliki oleh gerakan Islam kontemporer, sehingga berada di bawah standar yang dibutuhkan untuk menghadapi jahiliah yang sangat agresif.

Diskusi dan Analisis (Munâqasyât)

Pada hakikatnya, seluruh pandangan yang dikemukakan dalam mendiskusikan sebab-sebab munculnya fenomena takâmul dan ta’âkul dalam panggung pengalaman gerakan Islam kontemporer tersebut memang termasuk bagian dari faktor penyebab, tetapi bukanlah seluruh penyebabnya. Bahkan, faktor-faktor tersebut sebenarnya bukanlah penyebab utama dan mendasar yang tersembunyi di balik masalah ini.

Pihak yang menganggap fenomena ini sebagai hal yang wajar dan akibat yang tidak terhindarkan dari menyusutnya kebaikan serta merajalelanya kejahatan adalah benar, namun hanya sampai batas tertentu. Sebab, kejahatan telah ada sejak awal penciptaan. Seruan para rasul dan nabi seluruhnya tidak akan memiliki alasan pembenar jika bukan karena adanya kejahatan, penyimpangan umat manusia, serta kebutuhan manusia terhadap perbaikan dan kelurusan.

Bahkan, merajalelanya kebatilan beserta pasukannya seharusnya justru menjadi pemicu bagi kebenaran dan para pengikutnya untuk semakin teguh, tegar, dan membangkang terhadap kebatilan. Pernah dikatakan kepada Kebenaran pada suatu hari: "Di manakah engkau saat Kebatilan sedang melancarkan serangannya?" Kebenaran menjawab: "Aku sedang mencabut sampai ke akar-akarnya." Realitasnya, kebatilan tidak akan meluas dan menyebar melainkan karena kelalaian para pembela kebenaran, kelemahan mereka, serta isolasi diri mereka dari medan pengorbanan dan jihad.

Para penganut pandangan ini keliru apabila mereka meyakini bahwa tidak ada lagi harapan untuk melakukan perbaikan. Dalam hal ini, mereka telah keluar dari kerangka pandangan hidup (tasawwur) Islam, karena keyakinan semacam ini tanpa diragukan lagi akan mendorong mereka untuk mundur dari medan pertempuran dan lari dari kecamuk perang. Pada akhirnya, mereka akan tertimpa keputusasaan dan meletakkan senjata, yang mana hal ini tidak memiliki arti lain selain penyerahan diri dan kekalahan.

Islam menuntut para pemeluk dan orang-orang yang beriman kepadanya untuk beramal dan mengerahkan segenap kemampuan serta kesungguhan jihad mereka, tidak lebih dari itu. Adapun kemenangan, itu adalah urusan dan takdir Allah, serta berada dalam lembaran gaib dan ilmu-Nya. Sudah sepatutnya para pembela kebenaran mencurahkan seluruh energi dan mengerahkan segenap kemampuan mereka demi meraih keridaan Allah terlebih dahulu, meskipun mereka tidak memiliki jaminan atas kemenangan dan tidak meyakininya secara pasti. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta'ala:

"Sesungguhnya Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan surga untuk mereka." (QS. At-Taubah: 111)

Adapun mereka yang mengembalikan masalah ini pada buruknya kondisi, merosotnya nilai-nilai, dominasi jahiliah, dan rusaknya zaman, maka kita mengakui bersama mereka bahwa Islam memang sedang menghadapi tantangan yang sangat kuat, ganas, dan licik. Namun, hal ini tidak boleh dijadikan alasan, dan bukanlah penyebab utama yang menyebabkan terhentinya langkah perjalanan Islam, kebingungannya, serta munculnya fenomena takâmul dan ta’âkul dalam kehidupannya.

Ada satu poin lain yang perlu ditegaskan pula, yaitu bahwa kondisi buruk yang dialami dunia secara umum dan umat Islam secara khusus akan semakin bertambah buruk dari hari ke hari, selama gerakan Islam tidak segera membenahi keadaan dan menyelamatkan situasi. Adapun jika kita hanya menunggu perubahan kondisi terjadi secara spontan tanpa ada harga yang dibayar dan pengorbanan yang diberikan, maka sungguh itu adalah kesesatan yang nyata!

Sesungguhnya kewajiban gerakan Islam hari ini adalah berpikir dengan pola pikir yang berbeda dari cara berpikirnya di masa lalu. Sebab, masa lalu beserta kondisi dan situasinya telah menjadi kenangan yang berlalu dalam realitas hari ini, dan sangat mustahil untuk kembali. Sistem-sistem politik yang dahulu masih memberi ruang toleransi bagi aktivitas kepartaian telah punah dan musnah, lalu digantikan oleh sistem kepolisian berbasis partai yang penuh kebencian terhadap Islam dan sangat berpengalaman dalam berkonspirasi melawannya. Sia-sialah gerakan Islam menunggu perubahan keadaan tanpa mau mengerahkan usaha dan membayar harganya: "Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga."

Sementara bagi mereka yang mengatribusikan munculnya fenomena takâmul dan ta’âkul dalam kehidupan dakwah pada minimnya potensi dan lemahnya daya dukung, maka saya tidak sependapat dengan mereka sedikit pun. Gerakan Islam pada kenyataannya tidak menderita kemiskinan potensi, melainkan menderita kurangnya perhatian untuk mengelola, mengembangkan, menumbuhkan, dan memanfaatkan potensi-potensi tersebut dari waktu ke waktu.

Dalam sejarah gerakan Islam kontemporer, telah berlalu berbagai kesempatan dan kondisi di mana di dalam barisannya terdapat beragam potensi yang tidak dimiliki oleh gerakan-gerakan lain yang telah mendahuluinya meraih kekuasaan dan pemerintahan di banyak negara. Namun, pengabaian gerakan terhadap potensi-potensi ini, ketidakmampuan memanfaatkannya sesuai dengan watak, keahlian, dan kapasitasnya, serta ketiadaan pencerahan secara pemikiran, arahan, dan pergerakan, telah menyebabkan hilangnya sebagian potensi tersebut, sementara sebagian lainnya tumbuh secara liar, tidak alami, serta dipenuhi banyak penyimpangan dan distorsi.

Di Manakah Letak Penyakitnya?

Lantas, di manakah letak penyakit yang sebenarnya?

Penyakit tersebut—menurut sudut pandang saya—sebagian besar bersumber dari dalam tubuh gerakan itu sendiri (al-jism al-harakî), meskipun saya tidak memungkiri adanya pengaruh tekanan-tekanan eksternal terhadap gerakan Islam.

Penyakit itu tampak dalam:

  • Ketaatan dan kedisiplinan yang pudar pada diri para aktivis, serta hilangnya kepatuhan pada diri para prajurit.
  • Melemahnya rasa tanggung jawab pada semua pihak.
  • Kekosongan jiwa/spiritual (al-khawâ’ ar-rûhî).
  • Sikap bermudah-mudah (at-tarakhhush) serta ketidakmampuan menggembleng diri dengan keputusan-keputusan yang tangguh (’azâ'im al-umûr).

Shaf-shaf barisan bengkok dan kacau... hati-hati hampa dan bingung... serta sujud-sujud terasa dingin dan membeku... tidak ada kehangatan maupun kerinduan di dalamnya.[ Penulis merujuk pada karya Ustadz Abul Hasan An-Nadwi, Rabbaniyyah Lâ Ruhbâniyyah]

Pemahaman terhadap hakikat kerja perjuangan sangat dangkal... rencana konfrontasi bersifat mendadak/spekulatif... dan aktivitas yang dilakukan lemah serta terputus-putus, tidak ada keberlanjutan maupun keteguhan di atasnya...

Agar kita dapat bersikap objektif dalam menghadapi masalah besar ini, kita harus menentukan titik-titik penyakit ini secara presisi dan mendiskusikan topik ini secara mendalam, dengan harapan dapat mencapai sesuatu yang membantu kita keluar dari lingkaran setan yang bahayanya telah meluas dan membesar ini.

1. Dalam Lingkup Pendidikan dan Pembinaan (at-Tarbiyah wa at-Takwîn)

Pembangunan kepribadian Muslim (syakhshiyyah Muslimah) merupakan langkah pertama dalam kerangka persiapan menuju pembentukan negara Islam (ad-daulah al-Islâmiyyah), apa pun bentuk metode dan kurikulum gerakan dalam beramal.

Kepribadian Islam tidak mungkin terbentuk dan terlahir secara sempurna selama belum selamat dari pengaruh-pengaruh masyarakat jahiliah serta dari dualisme dalam menerima arahan (izdiwâjiyyat at-talaqqî wa at-tawjîh).

Perlu ditegaskan di sini pula bahwa yang dimaksud dengan pembangunan kepribadian Muslim adalah pembentukan garda terdepan kepemimpinan (thalî’ah qiyâdiyyah) atau struktur organisasi gerakan yang pelopor (tanzhîm harakî thalî’î) yang berada pada level yang dibutuhkan untuk menghadapi jahiliah masa kini.

Sifat-sifat paling menonjol yang harus dimiliki oleh kepribadian Islam adalah:

  1. Pelepasan Diri secara Total dari Jahiliah (al-Inkhilâ’ min al-Jâhiliyyah): Baik dalam perasaan dan emosi, pemikiran dan pandangan hidup, maupun dalam perbuatan dan perilaku.
  2. Komitmen Utuh terhadap Islam dan Hukum-hukumnya (al-Iltizâm bi al-Islâm): Komitmen yang menjadikannya sebagai poros kehidupan, titik tolak berpikir, landasan pandangan hidup, serta sumber hukum dalam setiap masalah dan topik.
  3. Mengarahkan Jihad di Jalan Allah demi Meninggikan Kalimat-Nya di Muka Bumi sebagai Tujuan Utama Keberadaan Diri: Beserta segala hal yang dituntut oleh pandangan ini berupa kesiapan total untuk mengorbankan segala sesuatu demi mencapai tujuan tersebut.

Dalam kerangka kritik diri yang konstruktif (at-naqd azh-zhâtî al-bannâ'), dapat dikatakan bahwa kurikulum dan metode yang diadopsi saat ini berada di bawah level kemampuan untuk membentuk kepribadian Islam dengan ciri-ciri dan spesifikasi seperti ini. Realitasnya, seluruh hal yang dapat disajikan oleh kurikulum-kurikulum ini tidak lebih dari sekadar porsi wawasan keislaman umum (tsaqâfah Islâmiyyah 'âmmah) serta arahan-arahan spiritual dan akhlak, yang menjadikannya tidak mampu membentuk individu Muslim dengan pembentukan yang dicita-citakan—sebuah pembentukan yang melayakkannya menjadi seorang Rajul al-’Aqîdah (manusia akidah) yang meyakini akidahnya, menghidupkannya, serta mengorbankan hal yang berharga dan mahal demi membelanya.

Tujuan utama dari pendidikan dan pembinaan Islam adalah mewujudkan interaksi (tatâ'ul) antara Islam dan individu-individu. Sehingga dari interaksi ini terwujud pelepasan diri mereka dari ego pribadi, pelepasan dari seluruh nilai-nilai keduniaan, serta pelepasan dari kebanggaan terhadap segala perhiasan dan hawa nafsu yang biasa dibanggakan... agar mereka hanya berbangga dengan Kebenaran (al-Haqq) semata.

Kebenaran yang murni dari kepentingan pribadi mereka... Kebenaran yang menyatu dengan diri mereka namun terpisah darinya secara jelas, sehingga diri mereka mengikuti Kebenaran, bukan mengikuti hawa nafsu atau perasaan pribadi mereka. Hal itu dilakukan dengan cara mendedikasikan diri secara ikhlas hanya karena Allah. [Penulis merujuk pada karya Muhammad Qutb, Manhaj at-Tarbiyah al-Islâmiyyah]

Tuntutan-tuntutan Pendidikan dan Pembinaan (Mutatallabât at-Tarbiyah wa at-Takwîn)

Pendidikan dan pembinaan Islam memiliki tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi demi keberhasilan prosesnya. Tanpa tuntutan-tuntutan ini, setiap upaya di medan pendidikan Islam akan mengalami kegagalan dan tidak akan terwujud kelahiran individu Muslim yang menjadi tulang punggung seluruh aktivitas Islam.

Menurut pandangan saya, tuntutan pendidikan yang paling penting adalah:

Pertama: Kurikulum yang Lurus (al-Manhaj as-Salîm)

Kurikulum yang mampu mewujudkan penyiapan individu Muslim dan generasi Muslim. Kurikulum yang mengintegrasikan seluruh aspek pendidikan: pemikiran, spiritual, akhlak, dan pergerakan. Hal ini akan mewujudkan kesempurnaan dan keseimbangan dalam pembangunan kepribadian Islam, serta mencegah dominasi salah satu aspek atas aspek lainnya, agar dominasi tersebut tidak menyebabkan cacatnya kepribadian dan ketidaksempurnaannya.

Kurikulum yang dibutuhkan oleh gerakan Islam adalah kurikulum yang sama yang dahulu telah mengeluarkan sebaik-baik umat (khairu ummah) dari labirin jahiliah. Kurikulum yang mampu mengeluarkan—di setiap zaman dan tempat—generasi yang berdiri di atas kebenaran, yang berjihad demi membelanya, serta tidak mudarat oleh orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah.

Tanpa model manusia seperti ini, gerakan Islam tidak akan mampu menghadapi realitas jahiliah dan meraih kemenangan atasnya.

(Umar bin al-Khaththab radhiyallâhu 'anhu pernah menulis surat kepada 'Amr bin al-'Ash ketika beliau menganggap lambatnya pembebasan Mesir, yang berisi: "Amma ba'du. Sungguh aku heran dengan kelambatan kalian dalam membebaskan Mesir... Kalian telah memerangi mereka selama dua tahun. Tidaklah hal itu terjadi melainkan karena kalian telah mengada-adakan hal baru dan menyukai dunia sebagaimana musuh kalian menyukainya. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala tidak akan menolong suatu kaum melainkan karena ketulusan niat mereka."

Dan dalam wasiatnya kepada Sa'ad bin Mu'adz, panglima kaum Muslimin menuju Persia, beliau berkata: "Amma ba'du. Aku wasiatkan kepadamu dan pasukan yang bersamamu untuk bertakwa kepada Allah dalam setiap keadaan... Karena sesungguhnya takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan untuk menghadapi musuh dan strategi perang yang paling kuat. Aku perintahkan kepadamu dan pasukan yang bersamamu agar lebih waspada terhadap kemaksiatan daripada terhadap musuh kalian. Sebab, dosa-dosa pasukan lebih ditakuti atas mereka daripada musuh mereka. Kaum Muslimin ditolong hanyalah karena kemaksiatan musuh mereka kepada Allah... Jika bukan karena itu, kita tidak akan memiliki kekuatan untuk menghadapi mereka, karena jumlah kita tidak seperti jumlah mereka dan peralatan kita tidak seperti peralatan mereka. Jika kita sama dalam kemaksiatan, maka mereka memiliki keunggulan atas kita dalam hal kekuatan. Ketahuilah bahwa dalam perjalanan kalian ada malaikat-malaikat penjaga dari Allah yang mengetahui apa yang kalian kerjakan, maka malulah kepada mereka dan janganlah kalian melakukan kemaksiatan kepada Allah saat kalian berada di jalan-Nya...")

Kedua: Keteladanan yang Baik (al-Qudwah al-Hasanah)

Ini merupakan faktor mendasar dan penting dalam keberhasilan proses pendidikan. Tidak cukup bagi seorang dai pendidik (ad-dâ’iyyah al-murabbî) hanya menjadi seorang ahli fikih yang alim atau orator yang cemerlang, melainkan ia harus berada di atas itu semua: menjadi seorang yang bertakwa, wara', dan mengamalkan ilmunya.

Apabila amalan menyelisihi ilmu, maka petunjuk akan terhalang, bimbingan akan tertutup, dan pengaruh akan sirna. Semoga Allah merajmati Malik bin Dinar saat beliau berkata: "Sesungguhnya seorang alim apabila tidak mengamalkan ilmunya, nasihatnya akan meluncur dari hati manusia sebagaimana tetesan air hujan meluncur dari batu yang licin."

Ketiga: Lingkungan yang Kondusif (al-Bî'ah ash-Shâlihah)

Keberhasilan pendidikan juga bergantung pada sejauh mana kebaikan lingkungan serta tersedianya isolasi emosional/psikologis (al-’uzlah asy-syu’ûriyyah) yang harus disiapkan bagi elemen-elemen yang ingin dididik dan dibina. Keberhasilan proses pendidikan ini mungkin mendekati mustahil jika dilakukan di tengah masyarakat jahiliah yang terputus hubungannya dengan Islam.

Solusi dari masalah ini bergantung pada sejauh mana kemampuan gerakan untuk mengisolasi elemen-elemen Islami, serta menyiapkan iklim dan suasana yang kondusif bagi mereka, khususnya selama tahap pembentukan awal (marhalat at-takwîn al-ûlâ) dan sebelum menugaskan mereka untuk tugas-tugas gerakan secara umum.

Gagasan untuk mengisolasi elemen-elemen Islami dari lingkungan jahiliah pada tahap-tahap pembentukan sangat layak untuk dipelajari dan direnungkan. Bahkan, memikirkan, merenungkan, dan mencari cara bagaimana mewujudkan isolasi ini adalah hal yang jauh lebih penting.

Proses pembentukan kepribadian Islam tidak mungkin berhasil dengan keberhasilan yang diharapkan dan dicita-citakan melainkan jika berlangsung di lingkungan Islami yang tidak memberi ruang bagi pengaruh-pengaruh jahiliah.

Realitas yang dialami oleh gerakan Islam hari ini tidak memberinya wewenang penuh dalam mengarahkan atau mengendalikan secara mutlak kehidupan individu Muslim. Sebaliknya, realitas ini justru menempatkan individu tersebut di dalam lingkungan yang مضطرب (guncang/kacau) yang ditarik oleh berbagai pengaruh dan tekanan.

Jika gerakan mampu menyediakan iklim Islami bagi para anggotanya, baik di lingkungan keluarga maupun dalam lingkup pekerjaan, serta membentengi mereka dari koeksistensi secara akidah dan moral dengan masyarakat jahiliah, maka dengan demikian gerakan telah berdiri di awal jalan yang menjamin terbentuknya jiwa pembangkangan terhadap jahiliah dalam diri para anggotanya. Hal ini sekaligus menyiapkan mereka untuk menjadi inti dari garda terdepan yang diberkahi (nawât at-thalî’ah al-mubârakah) dan harapan bagi Islam yang agung. (Kita akan kembali membahas topik ini di bagian lain dalam buku ini).

2. Dalam Aktivitas Gerakan dan Konfrontasi (al-’Amal al-Harakî wa al-Muwâjahah)

Adapun faktor kedua yang melatarbelakangi munculnya fenomena takâmul dan ta’âkul dalam kehidupan gerakan Islam kontemporer kembali pada ketidakjelasan jalan, kebingungan di medan amal, serta pergerakan emosional yang tidak berlandaskan pada visi yang jelas dan konsepsi yang lurus serta utuh mengenai sarana, tujuan, dan sasaran.

Ciri-ciri utama penyimpangan dalam tubuh gerakan (al-jism al-harakî) dapat ditentukan sebagai berikut:

  1. Ketidakjelasan jalan yang paling lurus untuk menegakkan negara Islam (iqâmat ad-daulah al-Islâmiyyah) dan mewujudkan revolusi Islam (at-tanhîd/al-inqilâb al-Islâmî).
  2. Pergerakan yang bersifat spontan ('afwiyyah) dan ketidaktaatan bahkan terhadap perencanaan yang telah disusun, yang dalam banyak kesempatan menyebabkan terkurasnya energi dan kekuatan dalam pertempuran-pertempuran sampingan dan pekerjaan-pekerjaan parsial yang tidak melayani kepentingan Islam yang hakiki.
  3. Tidak mengadopsi kebijakan mengambil inisiatif (al-akhdz bi zimâm al-mubâdarah), yang menyebabkan respons gerakan terhadap peristiwa-peristiwa menjadi lambat, sehingga meluputkan banyak kesempatan serta momentum psikologis maupun waktu.
  4. Kebingungan dan kebingungan arah antara berkomitmen pada garis asli pekerjaan dakwah yaitu penyampaian risalah (at-tablîgh), dengan pergerakan politik (al-inthilâq as-siyâsî) serta upaya memanfaatkan segala kondisi.
  5. Tidak mengadopsi metode tertentu untuk mengambil alih kekuasaan pemerintahan Islam.
  6. Berlebihan dalam bersikap hati-hati terhadap penggunaan kekuatan (al-quwwah), baik di awal maupun di akhir.
  7. Ketidakjelasan bentuk organisasi yang paling kokoh dalam tubuh gerakan. Di antara indikasi hal tersebut adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan berikut:
    • Apakah kepemimpinan bersifat individu atau kolektif?
    • Apakah musyawarah (syûrâ) bersifat mengikat (mulzimah) atau tidak mengikat (ghairu mulzimah)?
    • Apakah aktivitas bersifat rahasia (sirrî) atau terbuka ('alanî)?
    • Apakah kita ini sebuah lembaga pemikiran (ma'had fikrî) atau sebuah organisasi pergerakan (tanzhîm harakî)? Jika opsi kedua, apakah kita sudah berada pada level tersebut?

Pertanyaan-pertanyaan ini dan lainnya membutuhkan jawaban-jawaban yang tegas dan jelas agar gerakan dapat keluar dari labirin kebingungan dan penyimpangan. Jawaban-jawaban yang diadopsi oleh gerakan dalam lingkup ini harus bersandar pada kekuatan dalil syar'i, bukan pada hawa nafsu dan emosi.

Sesungguhnya hak Islam atas gerakan Islam hari ini—dan setiap hari—adalah bahwa pandangannya terhadap hakikat kerja Islam dan pemahamannya harus selaras sepenuhnya dengan semangat rencana yang ditempuh oleh kelompok pergerakan pertama dalam sejarah Islam. Konsepsi semacam ini akan memaksakan gerakan untuk berjalan sesuai dengan garis asli yang telah dilalui oleh kenabian (annubuwwah) dalam menghadapi realitas jahiliah dan mempersiapkan penegakan masyarakat Muslim.

Tidak ada akibat dari perbedaan konsepsi modern tentang hakikat kerja Islam dan tujuannya melainkan terbuangnya energi dan terkurasnya kekuatan dalam hal-hal yang tidak berguna. Sebagaimana sikap meremehkan dalam menginduk secara pergerakan kepada jemaah Islam pertama serta ketiadaan komitmen faktual yang presisi terhadap petunjuk-petunjuknya terkait seni konfrontasi Islam (fann al-muwâjahah al-Islâmiyyah) baik secara individu maupun kolektif, telah menyebabkan membeloknya langkah kaki dan menjauhnya—dalam banyak kesempatan—dari poros utama dan tujuan utama yang dicita-citakan.

Telah berlalu suatu masa bagi gerakan Islam di mana banyak energi terbuang dalam isu-isu sampingan dan urusan-urusan sesaat, yang tidak memiliki hubungan—baik dekat maupun jauh—dengan tujuan jangka panjang yang seharusnya gerakan memfokuskan seluruh kekuatan dan potensinya untuk itu.

Pemahaman gerakan Islam terhadap tujuan-tujuannya, garis jalannya, wataknya, serta karakteristiknya akan memalingkan seluruh langkah kaki—dan mencurahkan seluruh kekuatan—ke arah ini. Hal itu juga akan menjaga upaya yang dikerahkan dari kesia-sian dan ketidakberdayaan, di samping merupakan jalan terpendek untuk mencapai cita-cita dan mewujudkan tujuan.

Mengembalikan Manusia pada Penghambaan kepada Allah (I’âdat Ta’bîd an-Nâs lillâh)

Gerakan Islam harus menyadari bahwa tugas utamanya terbatas pada mengembalikan manusia untuk menghamba kepada Tuhan mereka, baik sebagai individu maupun masyarakat. Tugas ini tidak mungkin terwujud melainkan jika tegak bagi Islam sebuah negara yang mengambil hukum dan syariatnya dari Islam, kembali kepada Islam dalam seluruh urusannya, serta berjalan dalam setiap langkahnya di atas petunjuk-Nya yang lurus dan jalan-Nya yang teguh.

Gerakan Islam—ketika menyadari bahwa tugas utamanya adalah menundukkan masyarakat manusia pada kedaulatan Allah (hâkimiyyatullâh) dan penghambaan kepada-Nya—harus tetap mempertahankan kemudi jalannya terarah ke garis ini dalam kondisi apa pun.

Isu-isu partisipasi dalam memerdekakan negeri—tanpa adanya jaminan keislaman bagi masa depannya—akan menjadi seperti mengubur usaha di bawah tanah. Sebagaimana partisipasi dalam menyatukan bangsa-bangsa dan negara-negara di atas selain Islam adalah seperti mendirikan bangunan tanpa fondasi, yang pada akhirnya menjadi salah satu bentuk koeksistensi dengan jahiliah.

Dengan tolok ukur ini, pandangan gerakan akan berubah terhadap banyak hal yang di masa lalu selalu diberikannya prioritas utama dari segi usaha dan waktu.

Islam sangat membutuhkan sebuah pijakan kaki (mawthi' qadam) di mana di sana Islam dapat menyajikan kepada umat manusia sebuah model praktis dari masyarakat Muslim beserta keadilan, kesetaraan, keamanan, dan stabilitas yang diwujudkannya.

Sesungguhnya pemikiran-pemikiran, mazhab-mazhab, dan filsafat-filsafat materialistis yang menginvasi dunia di era modern ini tidak akan mungkin mencapai apa yang telah dicapainya jika sejak awal tidak memiliki satu pijakan kaki pun.

Para Mujahid, Bukan Para Filsuf (Mujâhidûna Lâ Filâsifah)

Satu poin lain yang perlu ditegaskan di panggung ini pula adalah bahwa gerakan Islam seharusnya menjadi sebuah "barak" (tsuknah) untuk meluluskan para mujahid dan pahlawan, sebelum menjadi sebuah lembaga pemikiran (ma'had fikrî) untuk menyebarkan kebudayaan dan konsep-konsep Islam yang abstrak di tengah manusia.

Kita membutuhkan kesadaran, kedalaman, dan hikmah sebagaimana kita membutuhkan keberanian, pengorbanan, dan ketegasan.

Sesungguhnya dominasi prinsip "mencari keselamatan" (taharri as-salâmah), berlebihan di dalamnya, serta menjadikannya sebagai kebijakan yang terus-menerus dalam segala situasi, kondisi, dan tingkatan, tidak akan membuahkan hasil melainkan matinya semangat pengorbanan dalam diri individu dan mengubah gerakan Islam menjadi sekolah teoritis atau arus pemikiran yang abstrak semata.

Kaidah yang harus menjadi titik tolak gerakan dalam masalah ini adalah bahwa kemaslahatan Islam berada di atas segala pertimbangan. Di mana pun kemaslahatan Islam terwujud, maka wajib melangkah maju berapa pun pengorbanan yang harus dibayar.

Prinsip dasar yang harus diadopsi oleh gerakan dalam mengevaluasi sikap, pertempuran, dan konfrontasi adalah pemahaman yang benar terhadap watak pertempuran dan karakteristiknya, serta mendiagnosis dimensi-dimensi, dampak-dampak, dan reaksi-reaksinya; semua itu dilakukan di bawah perhitungan cermat terhadap kejutan-kejutan dan komplikasi mendadak yang mungkin terjadi tanpa terduga.

Termasuk tindakan nekad dan kecerobohan adalah mengarungi pertempuran apa pun—betapa pun sampingan dan kecilnya pertempuran itu—tanpa adanya persepsi yang benar tentangnya serta penyiapan kapasitas yang memadai untuk menghadapinya. Sebab, menerima sikap asal-urutan/improvisasi (al-irtijâl) dalam setiap masalah akan berujung pada pertaruhan atas nama Islam dan dengan mengorbankan Islam, dan hal ini masuk dalam hukum perkara yang kita diperingatkan darinya dan dilarang darinya.

Adapun jika persiapan telah sempurna—dalam batas kemampuan yang diusahakan—dan di bawah naungan persepsi yang benar tentang watak pertempuran, kebutuhan-kebutuhannya, serta tuntutan-tuntutannya, maka mengarunginya menjadi sebuah kewajiban, sedangkan lari darinya adalah sikap pengecut dan ketidakberdayaan. Dan tidaklah orang-orang mukmin pada suatu hari menjadi penakut maupun pengecut!

Sesungguhnya kewajiban gerakan Islam—agar berada pada level tanggung jawab—adalah meninjau kembali titik-titik tolak dasarnya, organisasi internalnya, kurikulum pendidikannya, garis jalannya, sarana kerjanya, serta metode konfrontasinya. Gerakan harus mengetahui apa perannya di tengah masyarakat, serta apa alasan pembenar bagi keberadaannya... Setelah itu, tidak mengapa jika harus memulai kembali meskipun dari titik nol!

Gerakan Islam di setiap tempat... dan para aktivis di medan Islam di mana pun mereka berada... seluruhnya diseru—masing-masing dalam batas kemampuan dan kapasitasnya—untuk berkontribusi dalam mengembangkan kerja Islam kontemporer, mengeluarkannya dari lingkaran setan takâmul dan ta’âkul, serta membawanya ke level yang dituntut baik secara kesadaran, penyiapan, pengorganisasian, maupun perencanaan.

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat