Hambatan-hambatan Dalam Dakwah dan Daiyah (3)
KEPRIBADIAN
DA’I DAN BAGAIMANA MENGEMBANGKANNYA?
- Bentengi
Front-Front Perlawanan
- Kepribadian
Islam
- Pola Pikir
Islam (Al-'Aqliyyah Al-Islamiyyah)
- Pola Jiwa
Islam (An-Nafsiyyah Al-Islamiyyah)
- Tidak
Sembrono/Menyepelekan dan Tidak Berlebihan (La Tafrith wa La Ifrath)
- Hakikat Totalitas/Pengabdian
Tulus (Haqiqat At-Tajarrod)
Para
Da'i Islam dalam Bahaya...
Aku
tidak bermaksud bahwa mereka berada dalam bahaya dari musuh-musuh mereka, bukan
pula dari tipu daya para penentang mereka, atau dari konspirasi orang-orang
yang menyimpan kedengkian terhadap mereka dan terhadap Islam. Sebab,
bahaya-bahaya ini—betapa pun dahsyat dan sengitnya—terasa ringan jika
dibandingkan dengan bahaya-bahaya jiwa serta penyimpangannya. Seorang da'i akan
selalu berada dalam kebaikan selama ia terbebas dari cela dan penyakit-penyakit
jiwanya, betapa pun besarnya kekuatan para musuh dan penentang.
Dari
sinilah kita memahami wasiat Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu
kepada kaum muslimin, di mana beliau berkata:
"Jadilah
kalian orang yang lebih waspada terhadap kemaksiatan melebihi kewaspadaan
kalian terhadap musuh kalian. Sebab, dosa-dosa pasukan itu lebih ditakuti atas
mereka daripada musuh mereka. Kaum muslimin itu hanyalah ditolong disebabkan
oleh kemaksiatan musuh mereka kepada Allah. Dan ketahuilah bahwa dalam
perjalanan kalian terdapat para malaikat penjaga dari Allah, maka janganlah
kalian melakukan hal-hal yang dimurkai Allah sementara kalian sedang berada di
jalan Allah."
Aku
mengatakan hal ini karena aku menyadari bahwa jalan para da'i di zaman ini
adalah jalan yang dikelilingi oleh godaan dan bujukan. Jahiliah abad ke-20
telah meruntuhkan setiap makna dari makna-makna kebajikan, kebaikan, dan
kemuliaan. Ia telah menyingkapkan wajahnya yang muram dan pucat, yang di
dalamnya tergambar dan berkumpul sebab-sebab kesesatan, fitnah, dan
penyimpangan. Materialisme zaman ini telah menyumbat hidung-hidung manusia
hingga menjadikan manusia tidak berpikir melainkan dengannya, tidak hidup
melainkan untuknya, dan tidak menilai segala sesuatu melainkan dari sudut
pandangnya. Materialisme telah membutakan mata dan mata hatinya, serta
mematikan rasa dan perasaannya:
"Maka
perumpamaannya seperti anjing, jika kamu menyerangnya diulurkannya lidahnya dan
jika kamu membiarkannya dia mengulurkan lidahnya juga. Demikian itulah
perumpamaan orang-orang yang mendustakan ayat-ayat Kami." (QS.
Al-A'raf: 176)
Warisan
yang dibebani dengan berbagai tanggung jawab dan tugas ini mengharuskan para
da'i Islam untuk menghadapi tanggung jawab memikulnya dengan bekal yang
sempurna dari iman, akhlak, dan pemikiran mereka, serta dengan segala sebab
kekuatan, benteng akidah, dan moral yang mereka miliki.
Bentengi
Front-Front Perlawanan
Oleh
karena itu, hal paling berbahaya yang dihadapi oleh para da'i pada masa ini
adalah retaknya front-front perlawanan di dalam jiwa mereka, dan sikap mereka
yang terkadang menyerah pada apa yang disebut "realitas yang ada" (al-amr
al-waqi'), ridha terhadap penambalan (tarqi') dalam keislaman
mereka, serta menerima jalan tengah (kompromi setengah-setengah) dari
prinsip-prinsip dan tujuan-tujuan mereka. Sering kali politik kelonggaran dan
sikap mempermudah (at-tasahul) ini menyeret sebagian orang menuju
pelanggaran terhadap hal-hal pokok yang sudah pasti (al-musallamat
al-asasiyyah) dan keluar dari lingkaran persepsi, pemikiran, serta perilaku
Islami.
Jika
kita mengakui besarnya beban dan agungnya tanggung jawab yang menanti para da'i
di masa kini dan masa depan mereka, serta apa yang mengintai mereka berupa
cobaan dan fitnah, maka menjadi hal terpenting yang harus mereka jaga dan
segera lakukan adalah menyediakan faktor-faktor "pemeliharaan" (ash-shiyanah)
bagi jiwa dan akal mereka, agar mereka mampu mengatasi berbagai rintangan yang
merintangi jalan mereka.
Kepribadian
Islam (Ash-Shakhshiyyah Al-Islamiyyah)
Sesungguhnya
perhatian terhadap pembentukan kepribadian Islam (at-takwin ash-shakhshiyyah
al-islamiyyah) harus mendahului pekerjaan apa pun lainnya. Kepribadian
Islam adalah batu penjuru (hajar az-zawiyah) dalam pembangunan gerakan
Islam (al-harakah al-islamiyyah). Sebagaimana gerakan Islam tidak
mungkin mengemban perannya yang besar dalam memimpin umat tanpa adanya para
da'i dan pejuang (al-'amilun), demikian pula para da'i ini tidak akan
mungkin menjalankan peran yang sangat penting tersebut selama kepribadian Islam
mereka belum sempurna secara alami dan sehat.
Maka,
marilah kita diskusikan unsur-unsur yang membentuk kepribadian Islam:
1.
Pola Pikir Islam (Al-'Aqliyyah Al-Islamiyyah)
Pola
pikir Islam merupakan salah satu pilar pembentuk kepribadian Islam. Pada
gilirannya, ia merupakan kemampuan (malakah) berpikir dan berpersepsi
Islami yang benar terhadap alam semesta, manusia, dan kehidupan. Maka
gagasan-gagasan, hukum-hukum, hal-hal yang terindera (al-mahsusat), dan
hal-hal yang gaib (al-mughayyabat) seluruhnya harus tunduk pada
penilaian Islami yang benar. Dengan demikian, pola pikir Islam menjadi landasan
pemikiran yang mencerminkan konsep-konsep dan hukum-hukum Islam dalam setiap
urusan.
Pola
pikir Islam adalah "pola pikir" yang memandang segala sesuatu—seluruh
sesuatu—dari kacamata Islam, dan menghukumi perkara-perkara—seluruh
perkara—dengan tolok ukur Islam. Maka Islam baginya menjadi tolok ukur setiap
persoalan, solusi bagi setiap masalah, dan kendali bagi setiap urusan. Boleh
jadi, termasuk sebab terpenting yang mengarahkan para da'i kepada
penyimpangan—terkadang—adalah goncangnya pemahaman dan persepsi mereka terhadap
Islam sebagai sebuah gagasan (fikrah), dan terhadap amal Islami sebagai
metodologi (manhaj) dan metode (uslub).
Untuk
membentuk pola pikir Islam, harus tersedia faktor-faktor berikut:
- Pertama: Pemahaman
yang benar terhadap Al-Kitab dan As-Sunnah, yang bertugas menegakkan
garis-garis mendasar kehidupan manusia di dalam benak seorang da'i
sebagaimana yang dikehendaki oleh Islam.
- Kedua: Kesadaran penuh
terhadap tujuan-tujuan pemikiran Islam dari segi posisinya sebagai
pengendali perilaku dan moral, pendorong untuk beramal, serta menjadikan
perilaku manusia terikat dan menyesuaikan diri dengannya di kehidupan
dunia dan menuju akhirat; bahwa pemikiran Islam bukan sekadar teori-teori
dan idealisme abstrak semata. Hal inilah yang menjadikan konsep Islami
bersifat realistis, positif, serta memiliki pengaruh yang dalam dan kuat
dalam membangun kepribadian Islam.
- Ketiga: Penguasaan
yang menyeluruh dan memadai terhadap sisi-sisi persepsi Islami tanpa
terbatas pada satu sisi saja. Sebab, sering kali pengabaian pada satu sisi
memicu fenomena dan penyimpangan yang berbahaya. Akal akan tumbuh secara
alami selama ia menyerap penelitian dan kebudayaan yang menjamin asupan
nutrisi yang berlimpah dan bervariasi baginya. Sebaliknya, akal akan
berhenti tumbuh dan berproduksi, bahkan bisa mundur dan merendahkan
kualitas berpikir jika diabaikan atau disajikan bacaan-bacaan yang dangkal
dan ringan.
Dr.
Sabri al-Qabbani berkata dalam buku pertamanya dari seri Thabibuka Ma'ak
(Dokter Anda Bersama Anda):
"Sesungguhnya
otak menyukai variasi bahan kajian. Dengan begitu, ia menjadi selaras dan
memulihkan kembali kenikmatan berpikir. Adapun berpikir dengan satu pola saja
akan meletihkan dan membebaninya. Perumpamaannya seperti telinga yang menolak
nada tunggal yang berulang terus-menerus, dan seperti otot kaki yang dilelahkan
oleh turunan jalan yang curam sebagaimana diintai kelelahan oleh pendakian yang
panjang. Oleh karena itu, kita harus menyajikan kepada otak kita studi-studi
yang bervariasi agar ia tetap menjaga ketajaman dan aktivitasnya."
Dari
sini kita amati bahwa orang-orang yang hanya memfokuskan diri pada
bacaan-bacaan (spiritual atau sastra) semata, akan tertimpa sikap isolatif dan
tertutup. Demikian pula orang-orang yang tekun dalam penelitian sains murni
tanpa memberikan nutrisi-nutrisi lain yang krusial bagi akalnya, dapat jatuh
menjadi korban gangguan saraf dan jiwa yang liar.
Agar
akal mencapai keseimbangan dan kedalamannya, ia harus terbuka terhadap seluruh
pengetahuan, ilmu, dan kebudayaan yang ada di dalam kehidupan; mengambilnya
sesuai kadar yang dibutuhkan, dan meninggalkannya sesuai kadar tertentu dalam
batas-batas yang dipandang baik oleh persepsi Islami yang sehat. Pola pikir
Islam tidak akan mungkin menjadi murni Islami kecuali jika ia memandang dunia
dari jendela Islam: ia berpikir dan menimbang, menganggap baik dan menganggap
buruk, menimbang dan membandingkan, yang mana seluruhnya berada di bawah cahaya
Islam serta dalam kaidah-kaidah dan prinsip-prinsip dasarnya.
2.
Pola Jiwa Islam (An-Nafsiyyah Al-Islamiyyah)
Pola
jiwa Islam adalah pilar kedua dari pilar pembentuk kepribadian Islam. Bahkan,
ia merupakan refleksi inderawi dari interaksi gagasan Islami dan pengaruhnya
dalam kehidupan individu. Kecenderungan-kecenderungan manusia dan
insting-instingnya terikat sangat kuat dengan konsep-konsep dan persepsi
pemikirannya. Dari sinilah, pola jiwa Islam merupakan suatu tata cara (kaifiyyah)
yang dengannya seorang da'i mempraktikkan insting, kecenderungan, dan
kebutuhan-kebutuhan organiknya di bawah naungannya.
Di
antara hal terpenting yang wajib diperhatikan dan disusun kurikulumnya adalah
mengubah konsep-konsep dan gagasan-gagasan Islam menjadi perilaku dan akhlak,
yaitu menjadi pola jiwa Islam. Hal ini menuntut penguatan ikatan antara pola
pikir (al-'aqliyyah) dan pola jiwa (an-nafsiyyah), yaitu antara
pemikiran dan penerapan. Islam telah mengecam pemisahan antara (dua bagian
kepribadian) satu sama lain, sebagaimana firman-Nya Ta'ala:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan?" (QS. As-Saff: 2)
Agar
jiwa tetap lurus di atas kaidah-kaidah petunjuk dan syariat Islam, sehingga
tidak disesatkan oleh sikap mempermudah (at-tarakhkhush) atau
disengsarakan oleh sikap memaksakan diri (at-takalluf), maka dalam
melatih jiwa (tardiyyadh an-nafs) perlu diperhatikan faktor-faktor
berikut:
Tidak
Sembrono/Menyepelekan dan Tidak Berlebihan (La Tafrith wa La Ifrath)
Sejak
hari pertama, Islam sangat berhasrat untuk mengembalikan jiwa manusia kepada
fitrahnya, melalui metode yang presisi dan selaras yang menjaga hak-hak roh,
akal, dan jasad tanpa ada sikap mengurangi (tafrith) maupun berlebihan (ifrath).
Atas
dasar inilah jiwa seharusnya dilatih, sehingga ia tumbuh dengan pertumbuhan
yang alami dan berkembang secara fitri tanpa ada pemborosan/melampaui batas (israf)
dan tanpa kemerosotan (issfaf). Orang-orang yang berlebihan dalam
memenuhi hak-hak roh mereka sama persis perumpamaannya dengan orang-orang yang
berlebihan dalam memenuhi hak-hak jasad mereka. Mereka semua tidak mungkin
kepribadiannya menjadi lurus dan seimbang sesuai dengan ukuran-ukuran dan
prinsip-prinsip Islam.
Diriwayatkan
bahwa Rasulullah ﷺ
berkunjung ke rumah Abdullah bin 'Amr bin al-'Ash, sementara istrinya bersikap
lembut kepada Rasulullah ﷺ.
Maka beliau bersabda: "Bagaimana keadanmu wahai Umm Abdullah?"
Wanita itu menjawab: "Bagaimana aku bisa baik-baik saja sedangkan
Abdullah bin 'Amr adalah seorang laki-laki yang telah meninggalkan dunia."
Beliau bertanya kepadanya: "Bagaimana bisa demikian?" Wanita
itu menjawab: "Dia mengharamkan dirinya sehingga tidak tidur, tidak
berbuka puasa, tidak makan daging, dan tidak memenuhi hak istrinya."
Beliau bertanya: "Di mana dia?" Jawabnya: "Dia keluar
dan sebentar lagi akan kembali." Beliau bersabda: "Jika dia
kembali, tahanlah dia untukku." Kemudian Rasulullah ﷺ keluar dan datanglah
Abdullah, dan Rasulullah ﷺ
pun kembali tak lama kemudian. Beliau bersabda: "Wahai Abdullah bin
'Amr, apa ini berita yang sampai kepadaku tentangmu, bahwa engkau tidak
tidur?" Dia menjawab: "Aku menginginkan keamanan dari
ketakutan yang dahsyat (pada hari kiamat) dengan hal itu." Beliau
bersabda: "Telah sampai kepadaku bahwa engkau tidak berbuka
puasa." Dia menjawab: "Aku menginginkan apa yang lebih baik
darinya di surga." Beliau bersabda: "Telah sampai kepadaku
bahwa engkau tidak memberikan hak istri-istrimu." Dia menjawab: "Aku
menginginkan istri-istri yang lebih baik dari mereka." Maka Rasulullah
ﷺ bersabda:
« يَا
عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو، إِنَّ لَكَ فِي رَسُولِ اللهِ أُسْوَةً حَسَنَةً،
وَرَسُولُ اللهِ يَصُومُ وَيُفْطِرُ، وَيَأْكُلُ اللَّحْمَ، وَيُؤَدِّي إِلَى
أَهْلِهِ حُقُوقَهُمْ، يَا عَبْدَ اللهِ، إِنَّ لِلَّهِ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ
لِبَدَنِكَ عَلَيْكَ حَقًّا، وَإِنَّ لِأَهْلِكَ عَلَيْكَ حَقًّا »
"Wahai
Abdullah bin 'Amr, sesungguhnya pada diri Rasulullah terdapat teladan yang baik
bagimu. Rasulullah berpuasa dan berbuka, makan daging, dan memberikan hak-hak
istri-istrinya. Wahai Abdullah, sesungguhnya Allah memiliki hak atasmu, jasadmu
memiliki hak atasmu, dan keluargamu memiliki hak atasmu."
Seorang
da'i yang sukses adalah orang yang senantiasa memperhatikan hatinya dengan apa
yang memperbaiki, menyucikan, dan membersihkannya; ia tidak lalai dalam
mengawasi jiwanya dan tidak alpa dalam mengintrospeksi (muhasabah)
jiwanya, demi mengamalkan sabda Nabi al-Mushthafa ﷺ:
« الكَيِّسُ
مَنْ دَانَ نَفْسَهُ وَعَمِلَ لِمَا بَعْدَ المَوْتِ، وَالعَاجِزُ مَنْ أَتْبَعَ
نَفْسَهُ هَوَاهَا وَتَمَنَّى عَلَى اللَّهِ الأَمَانِيَّ
»
"Orang
yang cerdas adalah orang yang menundukkan jiwanya dan beramal untuk kehidupan
setelah kematian. Sedangkan orang yang lemah adalah orang yang mengikuti hawa
nafsunya lalu berangan-angan hampa kepada Allah."
Kepada
hal itulah Umar bin al-Khaththab radhiyallahu 'anhu mengisyaratkan
melalui perkataannya:
"Introspeksilah
(hasiibu) diri kalian sebelum kalian diintrospeksi (dihisab). Timbanglah diri
kalian sebelum kalian ditimbang. Dan bersiap-siaplah kalian untuk hari
penyingkapan yang besar (hari kiamat)."
Di
samping itu, ia tidak bersikap pelit terhadap jasadnya dari kebaikan-kebaikan
makanan, minuman, dan pakaian yang telah dihalalkan baginya. Cukuplah baginya
firman Allah Ta'ala:
"Katakanlah:
'Siapakah yang mengharamkan perhiasan dari Allah yang telah Dikeluarkan-Nya
untuk hamba-hamba-Nya dan (siapa pulakah yang mengharamkan) rezeki yang
baik?'" (QS. Al-A'raf: 32)
"Katakanlah:
'Tuhanku hanya mengharamkan perbuatan yang keji, baik yang nampak ataupun yang
tersembunyi, dan perbuatan dosa, melanggar hak manusia tanpa alasan yang
benar...'" (QS. Al-A'raf: 33)
Memang
benar bahwa jiwa itu senantiasa menyuruh kepada kejahatan (ammāratun bis-sū')...
dan bahwa jiwa membutuhkan latihan (tarriydh) serta penahanan (ihjam)
agar kepemimpinannya menjadi lembut dan kepatuhannya menjadi mudah. Namun,
sebagaimana kita memiliki kewajiban-kewajiban atas jiwa, jiwa pun memiliki
hak-hak atas kita. Barangsiapa yang menuntut kewajiban dari jiwa, jiwa akan
menagih hak-haknya. Barangsiapa yang menghalangi haknya, jiwa akan liar
bersamanya dan mencelakakannya. Hal inilah yang dinyatakan oleh kandungan ayat
yang mulia:
"Allah
tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya. Ia mendapat
pahala (dari kebaikan) yang diusahakannya dan ia mendapat siksa (dari
kejahatan) yang dikerjakannya." (QS. Al-Baqarah: 286)
Ustaz
Asy-Syahid Sayyid Quthb berkata dalam tafsir ayat ini:
"Ia
adalah akidah yang mengakui manusia sebagai manusia; bukan sebagai hewan, bukan
malaikat, dan bukan pula setan... Ia mengakuinya sebagaimana adanya dengan
segala kelemahan dan kekuatannya. Akidah memperlakukannya sebagai satu kesatuan
yang terdiri dari jasad yang memiliki dorongan-dorongan, akal yang memiliki
pertimbangan, dan roh yang memiliki kerinduan-kerinduan... Dan akidah
menetapkan beban-beban kewajiban kepadanya sebatas kemampuannya, serta
memperhatikan keselarasan antara kewajiban dan kemampuan tanpa menyulitkan dan
tanpa memberatkan."
Dalam
hal ini, Rasulullah ﷺ
telah memperingatkan dari setiap sikap lalai/sembrono (tafrith) dan
melarang setiap sikap berlebihan (ifrath). Dari Aisyah radhiyallahu
'anha, bahwa Nabi ﷺ
masuk menemuinya sementara di sisinya ada seorang wanita. Beliau bertanya: "Siapa
wanita ini?" Aisyah menjawab: "Ini Fulanah, dia menceritakan
tentang shalatnya..." Beliau bersabda:
مَهْ، عَلَيْكُمْ بِمَا
تُطِيقُونَ، فَوَاللَّهِ لاَ يَمَلُّ اللَّهُ حَتَّى تَمَلُّوا
"Tahanlah
(hentikanlah)! Hendaklah kalian membebankan amalan sebatas yang kalian
sanggupi. Demi Allah, Allah tidak akan bosan sampai kalian sendiri yang
bosan."
[Meh
(مَهْ) adalah kata larangan
dan celaan. Makna "Allah tidak akan bosan" adalah Dia tidak
memutus pahala-Nya dari kalian sampai kalian bosan lalu meninggalkannya. Maka
sepatutnya bagi kalian untuk mengambil amalan yang mampu kalian lakukan secara
terus-menerus (dawam) agar pahala dan karunia-Nya terus tercurah kepada
kalian].
Dari
Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu dari Nabi ﷺ, beliau bersabda:
إِنَّ الدِّينَ يُسْرٌ،
وَلَنْ يُشَادَّ الدِّينَ أَحَدٌ إِلاَّ غَلَبَهُ، فَسَدِّدُوا وَقَارِبُوا،
وَأَبْشِرُوا، وَاسْتَعِينُوا بِالْغَدْوَةِ وَالرَّوْحَةِ وَشَيْءٍ مِنَ
الدَّلْجَةِ
"Sesungguhnya
agama itu mudah. Dan tidaklah seseorang memaksakan diri dalam agama melainkan
agama itu akan mengalahkannya. Maka berlaku luruslah, mendekatlah pada
kebenaran, bergembiralah, dan mohonlah pertolongan (beramallah) di waktu pagi
(al-ghadwah), waktu sore (ar-rauhah), dan sebagian waktu malam
(ad-duljah)."
Imam
An-Nawawi berkata dalam menafsirkan hadits ini:
"Ini
adalah sebuah metafora dan perumpamaan. Maknanya: Minta tolonglah kalian untuk
taat kepada Allah 'Azza wa Jalla dengan melakukan amalan-amalan pada waktu
semangat kalian dan kekosongan hati kalian, sekira kalian merasakan kenikmatan
beribadah dan tidak merasa jenuh, sehingga kalian mencapai tujuan kalian.
Sebagaimana seorang musafir yang cerdik berjalan pada waktu-waktu ini dan
beristirahat bersama hewan tunggangannya pada waktu lainnya, sehingga ia sampai
ke tujuan tanpa kelelahan. Wallahu a'lam."
Dan
Rasulullah ﷺ
bersabda:
إِنَّ الْمُنْبَتَّ لاَ
أَرْضًا قَطَعَ وَلاَ ظَهْرًا أَبْقَى
"Sesungguhnya
orang yang memaksakan tunggangannya melampaui batas (al-munbatt) tidak akan
sampai menempuh daratan dan tidak pula meninggalkan punggung tunggangan yang
utuh (karena tunggangannya mati/celaka)."
Jiwa
merasa berat untuk memaksakan tabi'at yang tidak ada pada dirinya, dan
mempraktikkan karakter-karakter yang bukan bagian darinya. Jika jiwa mampu
bersabar atas pemaksaan diri (at-takalluf) ini pada awalnya, ia akan
merasa bosan pada akhirnya. Orang yang berakal adalah orang yang mengangkat
jiwanya tanpa menimbulkan kebosanan darinya, dan berusaha seiring berjalannya
hari untuk membiasakannya memikul beban dan tanggung jawab yang lebih banyak
tanpa membuat jiwanya kepayahan... Dengan cara itulah ia mencapai apa yang
diinginkannya dari jiwanya.
Hakikat
Totalitas/Pengabdian Tulus (Haqiqat At-Tajarrod)
Jiwa
seorang da'i tidak akan pernah sempurna karakter-karakter Islami dan
sifat-sifat Rabbaniyah-nya kecuali jika ia bertotalitas (yatajarrad)
karena Allah, serta terbebas dari segala sesuatu yang menguasainya atau
menyesatkannya. Jika itu berupa harta, hendaklah ia berzuhud padanya. Jika itu
berupa syahwat, hendaklah ia membebaskan diri darinya.
Hendaklah
kekayaan itu terletak pada jiwa (al-ghina bin-nafs) bukan pada uang (bal
bil-fals). Hendaklah kemuliaan itu bersama Allah bukan dengan kedudukan (al-jah).
Dan hendaklah wanita menjadi sarana menjaga kehormatan (ihshan) dan
ketaatan, bukan faktor kehancuran dan kelemahan moral...
Diriwayatkan
bahwa Rasulullah ﷺ
pernah ditanya pada suatu hari tentang orang yang paling zuhud di dunia, maka
beliau bersabda:
مَنْ لَمْ يَنْسَ
المَقَابِرَ وَالبِلَى، وَآثَرَ مَا يَبْقَى عَلَى مَا يَفْنَى، وَعَدَّ نَفْسَهُ
مَعَ المَوْتَى
"Orang
yang tidak melupakan kuburan dan kebinasaan, mengutamakan apa yang kekal di
atas apa yang fana, dan menganggap dirinya termasuk dari golongan orang-orang
mati."
Beliau
ﷺ juga bersabda:
الزُّهْدُ فِي
الدُّنْيَا مِفْتَاحُ الرَّغْبَةِ فِي الآخِرَةِ
"Sikap
zuhud di dunia adalah kunci kecintaan pada akhirat."
Diriwayatkan
dari Ibn as-Sammak pernyataannya:
"Orang
yang zuhud adalah orang yang jika mendapatkan dunia ia tidak bergembira
(berlebihan), dan jika tertimpa musibah dunia ia tidak berduka. Ia tertawa di
tengah keramaian dan menangis dalam kesendirian."
Inilah
sebagian gambaran singkat tentang tengag-tanda kepribadian Islam, sifat-sifat,
dan karakteristiknya, yang mungkin membutuhkan rincian dan penyederhanaan lebih
lanjut. Cukuplah bagiku bahwa di dalamnya terdapat apa yang mewujudkan sebagian
harapan... Dan Allah adalah Penolong menuju keberhasilan.
DA'I
DAN METODE DAKWAH (AL-ASALIB AD-DA'WAH)
- Metode yang
Baik (Al-Uslub Al-Hasan)
- Antara
Ketegasan dan Kelembutan (Baina Asy-Syiddah wa Al-Lin)
- Apa yang Kita Kehendaki?
Ada
faktor-faktor yang membantu keberhasilan seorang da'i hingga tingkat yang besar
di medan-medan dakwah, mewujudkan kesuburan dan pembuahan baginya, serta
memberinya kemampuan untuk memberi pengaruh, berinteraksi, dan menanamkan
pemikiran-pemikirannya di setiap lingkungan dan di setiap tingkatan.
Metode
yang baik (al-uslub al-hasan) adalah salah satu faktor sensitif yang
penting yang menghemat waktu dan tenaga bagi seorang da'i, serta
menyampaikannya pada tujuan yang diinginkan dengan biaya paling sedikit dan
paling mudah.
Maka
da'i di setiap medan dakwah dan penyampaian (at-tabligh)... dalam
lingkup penulisan, khotbah, pembicaraan, dan diskusi... dalam kerja
kemasyarakatan, serikat pekerja, politik, dan kemahasiswaan, sangat membutuhkan
metode yang baik yang tepat sasaran dan mencapai maksud.
Boleh
jadi di antara hal paling menonjol yang harus dimiliki oleh seorang da'i agar
menikmati metode yang baik adalah pengenalannya terhadap lingkungan yang
menjadi medan aktivitas dan kerjanya. Ia mempelajari kondisi-kondisinya,
masalah-masalahnya, kecenderungan-kecenderungannya, dan minat-minatnya...
persis seperti seorang dokter yang mengamati gejala-gejala penyakit,
perkembangan, dan fase-fasenya, kemudian mendiagnosis sebab-sebab dan pemicunya
atas dasar ilmu dan pengetahuan... ilmu tentang karakteristik penyakit dan
pengetahuan tentang sebab-sebab kesembuhan.
Da'i
yang matang bagaikan dokter yang sukses; ia mengetahui dari mana harus memulai
dan bagaimana harus memulai... Kemudian ia tidak akan memulai sebelum ia
memiliki kemampuan untuk meneliti, mendiagnosis, dan mengobati, agar
pekerjaannya tidak menjadi rangkaian percobaan yang gagal dan upaya-upaya
spontan tanpa persiapan.
Masyarakat
hari ini bergolak dengan berbagai paham dan kecenderungan... Semuanya saling
menarik manusia dengan propaganda-propaganda yang dihias dan metode-metode yang
dipercantik yang mereka munculkan. Mereka disapa dari sudut yang mereka sukai
dan dengarkan... Mereka didatangi dari sudut yang mereka rasakan dan sadari...
Mereka menyentuh luka-luka mereka, merasakan penyakit-penyakit mereka, dan
mengadopsi masalah-masalah mereka.
Para
da'i Islam tidak boleh kalah perhatian dan kepedulian terhadap metode-metode
dakwah mereka dibandingkan yang lainnya. Maka mereka tidak menyapa (para buruh
yang bekerja keras dengan bahasa ahli kubur), dan tidak mendiskusikan
(orang-orang ateis materialis dengan bahasa orang-orang sentimental/emosional).
Melainkan mereka menjadikan setiap tempat ada perkataan yang sesuai (likulli
maqam maqal)... sebagai pembenaran atas sabda Rasulullah ﷺ:
أُمِرْتُ أَنْ
أُخَاطِبَ النَّاسَ عَلَى قَدْرِ عُقُولِهِمْ
"Aku
diperintahkan untuk berbicara kepada manusia sesuai dengan kadar akal (tingkat
pemahaman) mereka."
Sesungguhnya
Islam pada zaman ini membutuhkan para da'i yang pandai menyajikan
gagasan-gagasan dan prinsip-prinsipnya dengan metode yang menarik dan
memikat... Mereka membuat orang mencintai Islam dan tidak membuat mereka lari
darinya, menjelaskan pemikiran-pemikirannya dan tidak membuatnya rumit. Betapa
banyak klaim-klaim dari para pengaku dakwah yang merusak wujud Islam dengan
buruknya dakwah mereka, dan mereka berbuat jahat kepadanya padahal mereka
mengira bahwa mereka sedang berbuat kebaikan.
Dari
sinilah tugas para da'i menjadi sangat presisi, sensitif, dan menuntut banyak
keluwesan (labaqah) serta hikmah.
Antara
Ketegasan dan Kelembutan (Baina Asy-Syiddah wa Al-Lin)
Sebab,
jiwa manusia pada dasarnya diciptakan atas dasar kecintaan kepada orang yang
berbuat baik kepadanya... Sikap kasar dan ketegasan terkadang mendorong jiwa
menuju kesombongan dan pembangkangan, lalu kebanggaan dengan dosa menguasainya.
Makna kelembutan (al-lin) bukanlah sikap culas/bermuka dua (al-mudahanah),
kebohongan, dan kemunafikan; melainkan penyampaian nasihat dan penunaian
kebaikan (as-dash al-ma'ruf) dengan metode yang sopan dan berkesan, yang
membuka hati dan lapang dada. Terkhusus apabila dakwah itu ditujukan kepada
(jamaah kaum muslimin), maka tidak sepatutnya ada ruang untuk menyapa mereka
dengan Celaan (at-tawbi'), kecaman (at-taqri'), dan kekerasan (al-'unf).
Tidakkah
engkau melihat kepada Al-Qur'an al-Karim dalam konteks penyajian bimbingan
Rabbani untuk metode yang baik saat menyapa (Musa dan Harun) serta berwasiat
kepada keduanya saat mendatangi sang thagut (Firaun) dengan kelembutan dan cara
yang baik:
"Maka
berbicaralah kamu berdua kepadanya dengan kata-kata yang lemah lembut,
mudah-mudahan ia ingat atau takut." (QS. Thaha: 44)
Bahkan
isyarat-isyarat Al-Qur'an dan petunjuk-petunjuk Nabawi menuju kelembutan dan
menjauhi sikap kasar serta ketegasan menegaskan hal yang tidak mengandung
keraguan tentang (efektivitas) metode ini dan nilai pengaruhnya.
Allah
Ta'ala berfirman di akhir surah An-Nahl seraya memerintahkan Nabi-Nya agar
berkomitmen pada hikmah dalam mendakwahi manusia:
"Serulah
(manusia) kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan
bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih
mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih
mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk." (QS. An-Nahl: 125)
Ibn
Katsir menafsirkannya dengan pernyataannya: "Yaitu barangsiapa yang
membutuhkan diskusi dan perdebatan, maka hendaklah hal itu dilakukan dengan
cara yang baik, yakni dengan kelembutan, keramahan, dan tutur kata yang
baik."
Dan
di dalam Surah Ali 'Imran, Al-Qur'an al-Karim mengisyaratkan pada faedah-faedah
keramahan dan kelembutan dalam memenangkan para penolong dan pendukung, yang
pada akhirnya meluncurkan dakwah dan mengumpulkan hati di sekelilingnya, maka
Allah berfirman:
"Maka
disebabkan rahmat dari Allah-lah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu." (QS. Ali 'Imran: 159)
Telah
diriwayatkan dalam tafsir ayat ini sebuah perkataan dari Abdullah bin 'Amr yang
berbunyi: "Sesungguhnya aku melihat sifat Rasulullah ﷺ di dalam kitab-kitab
terdahulu bahwa beliau bukanlah orang yang bersikap keras, tidak berhati kasar,
tidak suka berteriak-teriak di pasar-pasar, dan tidak membalas kejahatan dengan
kejahatan, melainkan beliau memaafkan dan mengampuni."
Dalam
Sirah Nabawiyyah terdapat berbagai contoh yang beragam bagi metode yang memikat
dan menusuk kalbu yang dengannya Rasulullah ﷺ mencapai tujuannya dengan keluwesan dan
hikmah. Abu Umamah meriwayatkan bahwa seorang pemuda datang kepada Nabi ﷺ lalu berkata: "Wahai
Nabi Allah, apakah engkau mengizinkanku untuk berzina?" Maka
orang-orang membentaknya, lalu Nabi ﷺ bersabda: "Mendekatlah." Pemuda itu pun
mendekat hingga duduk di hadapan beliau. Nabi ﷺ bersabda: "Apakah engkau
menyukainya untuk ibumu?" Dia menjawab: "Tidak, demi Allah,
jadikanlah aku sebagai tebusanmu." Beliau bersabda: "Demikian
pula manusia, mereka tidak menyukainya untuk ibu-ibu mereka... Apakah engkau
menyukainya untuk putrimu?" Dia menjawab: "Tidak, demi Allah,
jadikanlah aku sebagai tebusanmu." Beliau bersabda: "Demikian
pula manusia, mereka tidak menyukainya untuk putri-putri mereka... Apakah
engkau menyukainya untuk saudaramu?" [Dan Ibn 'Auf menambahkan bahwa
beliau menyebutkan tentang bibi dari pihak ayah dan bibi dari pihak ibu, dan
pemuda itu berkata pada setiap pertanyaan: "Tidak, demi Allah,
jadikanlah aku sebagai tebusanmu"]. Lalu Rasulullah ﷺ meletakkan tangannya
di dada pemuda itu seraya berdoa:
اللَّهُمَّ طَهِّرْ
قَلْبَهُ، وَاغْفِرْ ذَنْبَهُ، وَحَصِّنْ فَرْجَهُ
"Ya
Allah, bersihkanlah hatinya, ampunilah dosanya, dan bentengilah
kemaluannya."
Maka
tidak ada sesuatu pun yang lebih ia benci daripada zina setelah itu.[ Diriwayatkan
oleh Ahmad dengan sanad yang jayyid (baik/kuat)]
Metode
seorang da'i sepatutnya senantiasa diperbarui dalam batas-batas yang diizinkan
oleh Islam. Fleksibilitas (marunah) Islam menuntut dakwah dengan metode
zaman dan bahasanya, serta dengan berbagai sarana—yang disyariatkan—yang
menjamin tersampaikannya Islam kepada manusia dalam bentuk yang paling indah
dan wujud yang paling baik...
Inilah
logika fleksibilitas dalam sabda Rasulullah ﷺ:
الْحِكْمَةُ
ضَالَّةُ الْمُؤْمِنِ، أَنَّى وَجَدَهَا فَهُوَ أَحَقُّ النَّاسِ بِهَا
"Hikmah
itu adalah barang hilang milik orang mukmin; di mana pun ia menemukannya, maka
dialah orang yang paling berhak atasnya."
Dan
sabda beliau:
خُذُوا الْحِكْمَةَ
مِنْ أَيِّ وِعَاءٍ خَرَجَتْ
"Ambillah
hikmah dari wadah mana pun ia keluar."
Apa
yang Kita Kehendaki?
Boleh
jadi di antara hal terbaik yang mewujudkan metode yang baik pada diri seorang
da'i adalah kesadarannya yang jelas dan mendalam terhadap apa yang ia
kehendaki. Lurusnya persepsi dan diagnosis yang jelas terhadap maksud-maksud
dan tujuan-tujuan akan mendiktekan kepada da'i metode yang sepatutnya ia komit
dan adopsi.
Kesadaran
da'i terhadap apa yang ia kehendaki menghemat waktu dan tenaga baginya, serta
menjadikan perjalanan dan langkahnya berada di atas petunjuk dan cahaya... Ia
tidak menabrak secara serampangan (khabtha 'asywa') tanpa memperkirakan
akibat-akibat atau memperhitungkan hasil-hasil. Kepada makna inilah petunjuk
Rabbani yang mulia mengisyaratkan, di mana Allah berfirman:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Bertakwalah kamu kepada Allah dan ucapkanlah
perkataan yang benar, niscaya Allah memperbaiki bagimu amalan-amalanmu dan
mengampuni bagimu dosa-dosamu. Dan barangsiapa mentaati Allah dan Rasul-Nya,
maka sesungguhnya ia telah mendapat kemenangan yang besar." (QS.
Al-Ahzab: 70-71)
Maka
sepatutnya bagi seorang da'i untuk mengetahui apa yang ia kehendaki dari setiap
langkah yang ia jalani, dan dari setiap pekerjaan yang ia lakukan; baik dalam
medan khotbah, penulisan, dan diskusi, maupun dalam medan kerja kemasyarakatan,
serikat pekerja, dan kemahasiswaan. Sungguh benar Al-Hasan Al-Bashri ketika
beliau berkata:
"Orang
yang beramal tanpa ilmu bagaikan orang yang berjalan bukan pada jalurnya. Dan
orang yang beramal tidak sesuai dengan apa yang ia kehendaki akan merusak lebih
banyak daripada memperbaiki."
Dan
tertulis dalam ungkapan hikmah:
"Barangsiapa
yang menempuh jalan tanpa petunjuk jalan (dalil) ia akan tersesat. Dan
barangsiapa yang berpegang teguh tanpa landasan pokok (ashl) ia akan
hina."
PARA
DA’I ISLAM DAN KERAGAMAN KAPASITAS DIRI
- Tingkatan
Keragaman dan Bentuk-Bentuknya
- Faktor-Faktor Keragaman dan
Penyebabnya
Kesiapan
dan kapasitas gerak (al-qābiliyyāt al-ḥarakiyyah)
di kalangan para pekerja di medan dakwah Islam (al-ḥaqli al-Islāmī)
menunjukkan keragaman yang sangat jelas. Keragaman ini tampak nyata dalam
kehidupan pribadi maupun publik mereka. Hal tersebut juga mewujud pada
keterikatan mereka dengan organisasi (at-tanẓīm), kedisiplinan mereka dengannya, serta
dalam aktivitas sosial dan sejauh mana tingkat keberhasilan mereka di dalamnya.
Tingkatan
Keragaman ini dan Bentuk-Bentuknya
Kita
dapat mengklasifikasikan keragaman kapasitas ini ke dalam tiga bentuk:
Bentuk
Pertama: Kesiapan dan kapasitas pada diri seorang akh
(kader/anggota) berada pada kondisi terbaik, baik dari segi pemahaman,
keimanan, interaksi (at-tafā'ul), maupun kedisiplinan. Mereka yang
menikmati tingkat kesiapan seperti ini, pada hakikatnya, adalah pilar utama
dakwah dan daya dorong di dalamnya. Keberadaan mereka dalam realitas gerakan (al-wujūd
al-ḥarakī)
merupakan salah satu faktor terpenting bagi stabilitas dan keberhasilannya.
Bentuk
Kedua: Kesiapan pada diri seorang akh berada di antara pasang dan
surut, kuat dan lemah. Ia berada di antara semangat maju (iqbāl) dan
berpaling (idbār), optimisme dan pesimisme, bergantung pada kondisi
pribadinya serta kondisi gerakan secara umum. Kelompok masyarakat seperti ini
patut mendapatkan perhatian, dari sisi mengenali masalah-masalah mereka beserta
penyebabnya. Sebab, bisa jadi masalah mereka berada di luar kehendak mereka,
terdistribusi secara paksa dalam kehidupan mereka, sehingga mereka perlu
dibantu untuk menyelesaikannya dan dikeluar dari atmosfer masalah tersebut.
Boleh jadi pula hal itu bersumber dari kelemahan dalam pembentukan (at-takwīn)
keislaman mereka, sehingga sisi-sisi kekurangan mereka wajib disempurnakan.
Bentuk
Ketiga: Kesiapan dan kapasitas pada diri seorang akh terhenti/tidak
ada secara bawaan (fiṭriyyān).
Artinya, susunan saraf, kehendak, serta kemampuan pemikiran dan psikologisnya
tidak berada pada tingkat yang memungkinkannya untuk berproduksi dan memberi
manfaat. Kelompok ini bisa menjadi beban bagi gerakan pada tahapan saat ini,
karena ia hidup dengan menumpang padanya dan menyedot energinya; ia mengambil
darinya dan tidak memberi kepadanya. Terhadap orang-orang semacam ini, tidak
boleh menguras energi, menghabiskan usaha, dan membuang-buang potensi.
Faktor-Faktor
Keragaman ini dan Penyebabnya
Sudah
barang tentu keragaman ini memiliki banyak faktor yang tidak terhitung
jumlahnya—sebagian bersifat bawaan (fiṭrī),
sebagian bersifat genetis (wirāṣī), dan sebagian lagi bersifat
usahawi/akuisisi (iktisābī). Jika kita melampaui dua faktor pertama
menuju faktor terakhir yang masuk dalam jangkauan kemampuan manusia, kita akan
dapat menentukan penyebab-penyebab utama kemunculannya. Diagnosis ini pada
gilirannya memungkinkan kita untuk mengobati apa yang mungkin diobati dari
kelemahan dan kelesuan, serta membangkitkan dan menguatkan kembali
kapasitas-kapasitas yang ada, hingga menjadikan pemiliknya berada pada tingkat
tanggung jawab dan sanggup memikulnya.
Faktor
Pertama:
Berhubungan
dengan sejauh mana pemahaman seorang akh terhadap agamanya. Terkadang
pemahamannya terhadap Islam bersifat dangkal dan terdistorsi (mamsūkh);
atau tidak teramat jelas secara sempurna; atau pemahaman yang parsial (juz'ī)
dan tidak integral (ghairu mutakāmil). Oleh karena itu, Islam mendorong
untuk menyempurnakan bekal pemikiran dengan pemahaman yang baik terhadap agama
(ḥusnu at-tafaqquh fi
ad-dīn) serta mengetahui maksud-maksud dan tujuan-tujuannya. Nabi
Rasulullah ﷺ
bersabda:
مَنْ يُرِدِ اللَّهُ
بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ
"Barangsiapa
yang Allah kehendaki kebaikan baginya, niscaya Dia akan pahamkan ia dalam
agama." [HR. Bukhari (No. 71) dan Muslim (No. 1037) dari sahabat
Mu'awiyah bin Abi Sufyan radhiyallahu 'anhu]
Faktor
Kedua:
Berhubungan
dengan sejauh mana interaksi (tafā'ul) seorang akh terhadap
prinsip-prinsip Islam dalam kehidupan pribadi dan publiknya. Bisa saja ia
berilmu tentang Islam namun tidak mengamalkannya; ia menyeru manusia kepada
sesuatu yang ia sendiri menyelisihinya, dan ia mendahului mereka menuju apa
yang ia larang. Hal semacam ini berpotensi mematikan dorongan-dorongan kebaikan
dalam jiwanya dan menjadikannya berada dalam lingkaran kecemasan dan
kesengsaraan yang tidak dapat ia keluar darinya sampai terputus hubungan
terakhirnya dengan Islam. Al-Qur'an al-Karim telah mengecam kelompok manusia
seperti ini ketika berfirman:
"Mengapa
kamu menyuruh orang lain (mengerjakan) kebajikan, sedangkan kamu melupakan
dirimu sendiri, padahal kamu membaca Kitab (Taurat)? Tidakkah kamu
mengerti?" (QS. Al-Baqarah: 44)
"Wahai
orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu
kerjakan? (Itu) sangat dibenci di sisi Allah jika kamu mengatakan apa yang
tidak kamu kerjakan." (QS. As-Saff: 2-3)
Faktor
Ketiga:
Berhubungan
dengan sejauh mana kedekatan seorang akh dengan Allah dan hubungannya
dengan-Nya. Seorang da'i tidak mungkin menjadi sempurna kepribadiannya, lurus
langkahnya, bersih jiwanya, lapang dadanya, melimpah produkivitasnya, serta
luas keberkahan buah karyanya, selama ia belum membebaskan diri dari perhambaan
kepada selain Allah, serta merasakan kedekatan Allah kepadanya dan
pengawasan-Nya atas dirinya. Hal ini tidak mungkin terwujud tanpa melalui
kesungguhan menundukkan jiwa (mujāhadat an-nafs) dan
kecenderungan-kecenderungannya hingga jiwa itu mau menurut dan tunduk patuh.
Faktor
Keempat:
Berhubungan
dengan sejauh mana kemampuan seorang akh dalam memegang kendali dirinya
dan penguasaannya atas hawa nafsu serta nalurinya. Apabila kehidupan seorang akh
penuh dengan godaan dan fitnah, maka ia wajib dibentengi dengan benteng yang
kokoh, selalu siap sedia untuk melawan dorongan-dorongan kejahatan dan
bisikan-bisikan setan di dalamnya... dengan menyadari secara sadar dan mendalam
firman Allah Ta'ālā:
"Sungguh,
setan itu musuh bagimu, maka perlakukanlah ia sebagai musuh!" (QS.
Fatir: 6)
Serta
selalu mengingat sabda Rasulullah ﷺ:
إِنَّ الشَّيْطَانَ
يَجْرِي مِنِ ابْنِ آدَمَ مَجْرَى الدَّمِ
"Sesungguhnya
setan itu berjalan dalam diri anak Adam melalui aliran darah." [HR.
Bukhari (No. 2038) dan Muslim (No. 2175) dari Ummul Mukminin Shafiyyah binti
Huyay radhiyallahu 'anha.]
ANTARA
IDEOLOGIS DAN SEKTARIANISME (KAPARTAIAN)
- Antara
Kapartaian (Al-Ḥizbiyyah)
dan Kemanusiaan (Al-Insāniyyah)
- Antara
Ideologis (Al-'Aqā'idiyyah) dan Personalitis (Ash-Syakhṣāniyyah)
- Antara Ketulusan Mutlak (At-Tajarrud)
dan Kompromi Pragmatis (Al-Musāwamah)
Pada
hakikatnya, kita—sebagai gerakan Islam (ḥarakah
Islāmiyyah)—sangat membutuhkan perubahan konsep-konsep dan cara pandang
kita dalam banyak masalah dan urusan yang berkaitan dengan kerja Islam (al-'amal
al-Islāmī). Gerakan kita sepatutnya memiliki keunggulan/perbedaan dalam
kepribadiannya, sifat kerja-kerjanya, serta kualitas individu-individunya
dibanding seluruh gerakan politik dan kapartaian (ḥizbiyyah) modern.
Antara
Kapartaian dan Kemanusiaan
Dalam
keyakinan saya, gerakan Islam sampai batas tertentu telah terpengaruh oleh
atmosfer kapartaian (al-jaww al-ḥizbī)
yang dihidupi oleh negara-negara Arab pada kurun waktu ini... hingga
hampir-hampir mengotori sifat dasar kerja Islam dan metode-metodenya—dalam
beberapa kesempatan—dengan semangat kapartaian yang sempit, yang tidak sejalan
sama sekali dengan tendensi keterbukaan (al-infitāḥ) dan kemanusiaan dalam
Islam.
Jika
saya katakan bahwa sifat dasar kerja Islam berbeda dengan sifat dasar kerja
kapartaian, hal itu karena pandangan ideologis (at-taṣawwur al-'aqīdī)
serta prinsip-prinsip syariat dan petunjuk arahan yang menjadi landasan manhaj
Islam tidak sejalan sedikit pun dengan konsepsi dan prinsip yang menjadi
landasan gerakan-gerakan kapartaian.
Sesungguhnya
Islam memiliki sifat-sifat khusus yang membedakannya—dalam akidahnya,
prinsip-prinsipnya, metode-metodenya, tujuan-tujuannya, dan muara
akhirnya—sebagaimana ia juga memiliki tolak ukur baku (maqāyīs ṡābitah) yang tidak dapat
dikuasai atau dipengaruhi oleh kondisi-kondisi dan peristiwa-peristiwa yang
dinamis.
Keideologisan
('aqā'idiyyah) Islam dipaksakan oleh cara pandangnya terhadap alam
semesta, manusia, dan kehidupan... Cara pandangnya yang bersifat ketuhanan (ilāhiyyah)
yang terpancar dalam keimanan akan keberadaan Pencipta bagi alam semesta ini,
hak-hak Sang Tuhan tersebut atas manusia, apa yang ada di dalam syariat-Nya
berupa jaminan kehidupan yang baik di dunia dan akhirat, serta apa yang timbul
dari mengambil atau berpaling darinya berupa pahala dan siksa... Serta cara
pandangnya yang bersifat kemanusiaan (insāniyyah) yang terpancar dalam
tingginya kedudukan yang dipersiapkan untuk manusia, mulianya tugas yang
untuknya ia diciptakan, dan keagungan tujuan yang untuknya ia bekerja dan
berjihad di jalannya.
Maka,
da'i Muslim menginginkan kebaikan bagi seluruh manusia, dan berusaha
membahagiakan seluruh umat manusia dengan risalah Islam... Ia tidak bersikap
fanatik (ta'aṣṣub) terhadap suku atau warna kulit, dan tidak pula
terhadap kelompok atau partai... Melainkan ia adalah ruh baru yang mengalir
dalam tubuh umat lalu menghidupkannya dengan kebenaran, serta cahaya terang
benderang yang menyinari jalan-jalan, menghidupkan hati, dan menunjuki
orang-orang yang bingung ke jalan yang lurus.
Ia—di
samping semua itu—tidak mengaitkan antara (usaha dan balasan) atau antara (amal
dan hasil) kecuali sebatas apa yang ia rasakan berupa penerimaan (qabūl)
dan keridaan dari Allah Tabāraka wa Ta'ālā... Maka maju atau mundurnya
ia dalam medan kerja dan perjuangan tidak didasari oleh apa yang menyertainya
berupa kemenangan atau kekalahan; tidak membuat gembira keridaan manusia
kepadanya dan tidak membuat marah kemurkaan mereka atasnya. Melainkan, ia memiliki
teladan tertinggi dan contoh yang baik dalam kehidupan Da'i Pertama (Nabi
Muhammad) ﷺ
ketika beliau bersabda:
اللَّهُمَّ إِنْ لَمْ
يَكُنْ بِكَ غَضَبٌ عَلَيَّ فَلَا أُبَالِي
"Ya
Allah, asalkan Engkau tidak murka kepadaku, maka aku tidak peduli." [Bagian
dari doa Rasulullah ﷺ
saat peristiwa Tha'if, diriwayatkan oleh Ath-Thabrani dalam al-Mu'jam
al-Kabīr (13/73) dan Al-Haitsami dalam Majma' az-Zawā'id (6/35).]
Sifat
kemanusiaan yang menjadi tabiat dasar Islam ini sangat bertentangan dengan
tabiat gerakan-gerakan kapartaian lainnya. Di antara keutamaan tabiat ini
adalah memberikan kepada para pekerja di medan Islam sifat keterbukaan kepada
seluruh manusia... Mereka adalah para penyeru kebaikan, mimbar-mimbar petunjuk,
dan obor-obor cahaya... yang mengetuk setiap pintu, dan membimbing setiap orang
yang sesat.
"Dan
demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam) umat pertengahan agar
kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi
saksi atas (perbuatan) kamu." (QS. Al-Baqarah: 143)
Kerangka
ideologis (al-iṭār
al-'aqādī) yang dengannya Islam membatasi lapangan kerja Islam bersandar
pada dua sisi:
Pertama:
Kejelasan tujuan (wuḍūḥ al-ghāyah) di dalam
kedalaman jiwa sang da'i, agar ia tidak disimpangkan oleh hawa nafsu atau
dibelokkan oleh keinginan pribadi. Dari Ibnu Abbas radhiyallāhu 'anhumā,
ia berkata: Seorang laki-laki datang kepada Rasulullah ﷺ lalu berkata: "Wahai
Rasulullah, sungguh aku berdiri di suatu tempat (untuk beramal) aku
menginginkan wajah Allah namun aku juga ingin agar posisiku dilihat
(orang)." Maka Rasulullah ﷺ tidak menjawabnya sedikit pun hingga turun firman Allah Ta'ālā:
"Maka
barangsiapa mengharap pertemuan dengan Tuhannya hendaklah dia mengerjakan
kebajikan dan janganlah dia mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada
Tuhannya." (QS. Al-Kahf: 110)
Kedua:
Keabsahan sarana (salāmat al-wasīlah), jaminan kehalalannya secara
syari, serta kesesuainnya dengan ruh Islam. Dengan demikian, terwujudlah
penjagaan terhadap kerja Islam dari setiap penyimpangan yang mungkin disebabkan
oleh kaidah kapartaian yang menyatakan pembenaran sarana demi mencapai tujuan (tabrīr
al-wasā'il min ajl al-ghāyāt / the ends justify the means).
Jika
tabiat gerakan-gerakan kapartaian—misalnya—mendasarkan diri pada cara-cara yang
berbelit-belit dan tidak terpuji demi mencapai tujuan-tujuannya, serta
menganggap halal demi hal itu segala bentuk penipuan dan penyesatan, maka
gerakan Islam ditolak oleh akidahnya dari menggunakan jenis sarana seperti ini.
Antara
Ideologis dan Personalitis
Keideologisan
Islam tampak dalam seruannya untuk berpegang teguh pada prinsip-prinsip dan
nilai-nilai luhur, bukan pada figur-figur dan para pemimpin... Dengan demikian,
kerja Islam menjadi aman dari penyimpangan-penyimpangan individu... Apabila
"personalitis" (ash-syakhṣāniyyah / pengkultusan individu)
merupakan kuman kepunahan gerakan-gerakan kapartaian, maka
"keideologisan" (al-'aqā'idiyyah) merupakan faktor kelestarian
gerakan Islam dan keberlangsungannya.
Sesungguhnya
akidah yang ditanamkan oleh Islam dalam jiwa para pemeluknya telah menjadikan
mereka menentang orang yang paling dekat dengan mereka demi kebenaran, dan
mencintai karena Allah orang yang paling jauh dari mereka... Maka tidak ada
kompromi dengan kerabat atau kekasih dalam hukum dari hukum-hukum Allah atau
urusan dari urusan-urusan Islam:
"Wahai
orang-orang yang beriman! Janganlah kamu menjadikan bapak-bapakmu dan
saudara-saudaramu sebagai pelindung, jika mereka lebih menyukai kekafiran
daripada keimanan. Barangsiapa di antara kamu yang menjadikan mereka pelindung,
maka mereka itulah orang-orang yang zalim." (QS. At-Tawbah: 23)
Maka
tidak ada ketaatan kepada makhluk dalam maksiat kepada Sang Pencipta. Lihatlah
Ummu Habibah (istri Rasulullah ﷺ) tidak membiarkan ayahnya (yang masih musyrik) untuk duduk di
atas alas tidur Rasulullah, dan ia berkata kepadanya dengan penuh kemarahan: "Ini
adalah alas tidur Rasulullah ﷺ sedangkan engkau adalah seorang musyrik yang najis."
Dan ini Mus'ab bin 'Umair berkata kepada ibunya (yang musyrik) yang telah
bersumpah tidak akan mengecap makanan sampai Mus'ab kembali ke agamanya dan
meninggalkan Islam: "Demi Allah wahai Ibu, seandainya engkau memiliki
seratus nyawa yang keluar satu per satu, aku tidak akan pernah meninggalkan
agama Muhammad."
Dengan
keideologisan yang tiada tandingannya ini, Islam melindungi dakwah dan para
da’inya dari seluruh pengaruh emosional dan personal.
Dalam
Perang Badr, para ayah bertemu (bertempur) dengan anak-anak, dan saudara dengan
saudara... Prinsip-prinsip telah memisahkan mereka, maka pedang-pedang pun
memutus hubungan mereka... Abu Bakar berada di barisan kaum Muslimin sedangkan
anaknya, Abdurrahman, berada di barisan kaum musyrikin... 'Utbah bin Rabi'ah
adalah orang pertama yang keluar bertarung tanding melawan kaum Muslimin,
sedangkan putranya, Abu Hudzaifah, termasuk orang yang terdahulu masuk Islam...
Ketika jasad 'Utbah diseret untuk dilemparkan ke dalam sumur (al-qalīb),
Rasulullah ﷺ
memandang ke arah Abu Hudzaifah dan ternyata ia muram dengan warna muka yang
berubah... Maka beliau bersabda kepadanya: "Wahai Abu Hudzaifah, boleh
jadi timbul di hatimu sesuatu berkenaan dengan urusan ayahmu?" Ia
menjawab: "Tidak, demi Allah wahai Rasulullah, aku tidak ragu sedikit
pun tentang ayahku dan kematiannya. Namun aku dulu mengenal ayahku sebagai
orang yang memiliki pandangan, kearifan, dan keutamaan, sehingga aku berharap
hal itu dapat membimbingnya menuju Islam. Ketika aku melihat apa yang
menimpanya, dan aku teringat ia mati di atas kekafiran setelah apa yang aku
harapkan baginya, hal itu membuatku sedih."
Antara
Ketulusan Mutlak dan Kompromi Pragmatis
Keideologisan
Islam memiliki pengaruh yang sangat mendalam dalam cakrawala
"Pendidikan" (at-Tarbiyah)... Ketulusan mutlak (at-tajarrud)
karena Allah dari setiap hawa nafsu dan tujuan pribadi... keikhlasan untuk-Nya
dalam rahasia maupun terang-terangan... serta keteguhan di atas kebenaran...
hampir seluruhnya merupakan bagian dari karakteristik keideologisan yang
ditekankan oleh Islam dalam seluruh medan ibadah, pengarahan, dan
perundang-undangannya.
Oleh
karena itu, akidah Islam menolak bagi pemeluknya segala bentuk kompromi (al-musāwamah
/ obral prinsip) betapa pun mahalnya harga yang ditawarkan dan betapa pun
besarnya tawaran tersebut...
Inilah
kaum Quraisy mengusulkan kepada Rasulullah ﷺ agar beliau menyembah (tuhan-tuhan) mereka
selama sebulan dan mereka akan menyembah (Tuhan) beliau selama sebulan pula.
Maka Muhammad ﷺ
menjawab mereka dengan firman yang tegas dari Tuhan Semesta Alam:
"Katakanlah
(Muhammad), "Wahai orang-orang kafir! Aku tidak akan menyembah apa yang
kamu sembah. Dan kamu bukan penyembah apa yang aku sembah. Dan aku tidak pernah
menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi
penyembah apa yang aku sembah. Untukmu agamamu, dan untukku agamaku."
(QS. Al-Kafirun: 1-6)
Dan
pada suatu hari datanglah 'Utbah bin Rabi'ah kepada Rasulullah ﷺ menyampaikan
tawaran-tawaran yang sangat menggiurkan... Ia menawarkan kepadanya kerajaan,
harta, dan kekuasaan, dengan syarat beliau meninggalkan urusan (dakwah) yang
beliau diutus dengannya dan melepas Islam... Maka Rasulullah ﷺ berpaling kepadanya
dengan tinggi hati karena imannya dan bangga dengan agamanya seraya bersabda:
«مَا
جِئْتُكُمْ بِمَا جِئْتُكُمْ بِهِ أَطْلُبُ أَمْوَالَكُمْ، وَلَا الشَّرَفَ
فِيْكُمْ، وَلَا الْمُلْكَ عَلَيْكُمْ.. وَلَكِنَّ اللَّهَ بَعَثَنِي إِلَيْكُمْ
رَسُوْلًا.. وَأَنْزَلَ عَلَيَّ كِتَابًا.. وَأَمَرَنِي أَنْ أَكُوْنَ لَكُمْ
بَشِيْرًا وَنَذِيْرًا.. فَإِنْ تَقْبَلُوْا مِنِّي مَا جِئْتُكُمْ بِهِ فَهُوَ
حَظُّكُمْ فِي الدُّنْيَا وَالْآخِرَةِ.. وَإِنْ تَرُدُّوْهُ عَلَيَّ أَصْبِرْ
لِأَمْرِ اللَّهِ، حَتَّى يَحْكُمَ اللَّهُ بَيْنِي وَبَيْنَكُمْ..»
"Aku
tidak datang kepada kalian membawa apa yang aku bawa ini untuk meminta
harta-harta kalian, tidak pula mencari kemuliaan di tengah kalian, dan tidak
pula kekuasaan atas kalian... Akan tetapi Allah telah mengutusku kepada kalian
sebagai seorang Rasul... dan menurunkan kepadaku sebuah Kitab... serta
memerintahkanku agar menjadi pembawa berita gembira dan pemberi peringatan bagi
kalian... Jika kalian menerima dariku apa yang aku bawa ini, maka itulah bagian
keuntungan kalian di dunia dan akhirat... Namun jika kalian menolaknya dariku,
aku akan bersabar menanti urusan Allah, hingga Allah memutuskan hukum antara
aku dan kalian..."
Kata
Penutup
Boleh
jadi rahasia dari pengaruh Islam dalam menancapkan keideologisannya dan
kedalamannya dalam jiwa para pemeluknya kembali kepada kesadaran mereka akan
karunia Allah saat mereka berada di puncak kemenangan dan puncak
keberhasilan... Mereka tidak melihat kemenangan melainkan hanya dari sisi
Allah... dan tidak merasakan selain karunia Allah atas mereka. Dengan demikian,
jiwa tetap patuh dan tawaduk, tidak keluar dari karakter aslinya oleh terpaan
kesombongan dan keangkuhan...
"Dan
sungguh, Tuhanmu mempunyai karunia (yang besar) yang diberikan-Nya kepada
manusia, tetapi kebanyakan mereka tidak bersyukur." (QS. An-Naml: 73)
Penyelarasan
Istilah Syari & Ushul:
- Al-Qābiliyyāt
al-Ḥarakiyyah:
Kapasitas atau daya serap individu dalam mengejawantahkan gagasan menjadi
tindakan nyata dalam konteks pergerakan/organisasi.
- At-Tajarrud:
Sikap pelepasan diri secara total dari segala keterikatan hawa nafsu,
kepentingan pribadi, kelompok, atau duniawi, semata-mata murni karena Allah.
- At-Tafā'ul:
Interaksi positif aktif di mana seseorang tidak hanya paham secara teori,
tetapi menyerap dan merealisasikan nilai-nilai tersebut dalam perilaku nyata.
- Ash-Syakhṣāniyyah:
Personalitis atau pengkultusan figur/individu, di mana loyalitas gerakan
dibangun di atas ketokohan seseorang, bukan di atas prinsip atau ideologi ('Aqā'idiyyah).
HARAKAH
ISLAMIYAH DI ANTARA INTEGRASI DAN DETERIORASI (Antara Takâmul dan Ta’âkul)
- Dalam Hal
Pendidikan dan Pembinaan (at-Tarbiyah wa at-Takwîn)
- Dalam Hal Konfrontasi dan
Aktivitas Gerakan (al-Muwâjahah wa al-’Amal al-Harakî)
Bagi
siapa saja yang mengamati realitas perjuangan Islam selama setengah abad
terakhir, akan tampak jelas baginya sebuah fenomena yang mengkhawatirkan.
Fenomena tersebut adalah bahwa berbagai aktivitas dan pengalaman yang telah
berjalan di medan ini seolah-olah berputar dalam lingkaran setan antara
integrasi/penyempurnaan (takâmul) dan deteriorasi/pengikisan (ta’âkul).
Yang
dimaksud dengan takâmul (integrasi/penyempurnaan) dan ta’âkul
(deteriorasi/pengikisan) adalah bahwa setiap kali pengalaman-pengalaman yang
diperjuangkan itu hampir menyempurnakan elemen-elemen penyusunnya, ia justru
mulai terkikis; dan setiap kali potensi serta keunggulannya baru saja siap dan
terhimpun, potensi itu justru mulai terurai dan bercerai-berai sebelum sempat
mencapai tujuan utamanya, yaitu menegakkan masyarakat Islami dan melanjutkan
kembali kehidupan Islam (isti’nâf al-hayâh al-Islâmiyyah).
Ciri-ciri
fenomena ini tampak sangat menonjol dan kasatmata di kawasan Arab, di mana
gerakan-gerakan Islam (al-harakât al-Islâmiyyah) gagal mewujudkan satu
pengalaman pun yang berhasil, setidaknya di satu negara.
Hal
ini belum termasuk fakta bahwa gerakan Islam di beberapa negara justru
mengalami kemunduran yang sangat mengkhawatirkan di hadapan gempuran arus-arus
materialistis. Gerakan Islam telah mengosongkan garis-garis pertahanan
terdepannya, suatu hal yang memberi peluang bagi kekuatan-kekuatan jahiliah di
negeri-negeri Muslim untuk memperkokoh kedudukannya, mempermudah jalan bagi
mereka untuk merebut kekuasaan dan merampasnya, lalu menggunakan serta
memanfaatkannya untuk memerangi Islam secara umum, dan memukul gerakan Islam
secara khusus.
Mendiagnosis
Masalah (Tasykhîshât)
Para
aktivis di medan dakwah Islam (al-’âmilûna fî al-haql al-Islâmî)
menyadari keberadaan fenomena ini. Namun, mereka berbeda pendapat dalam menilai
faktor-faktor penyebab kemunculan dan memburuknya fenomena tersebut:
- Kelompok Pertama:
Sebagian dari mereka menganggap hal ini sebagai perkara yang wajar dan
konsekuensi logis dari menyusutnya kebaikan serta memuncaknya kejahatan di
dunia. Pada akhirnya, hal ini merupakan kepastian "keterasingan"
(al-ghurbah) yang akan dialami Islam di akhir zaman. Mereka
berdalil dengan hadis-hadis dari Rasulullah shallallâhu 'alaihi wa
sallam, di antaranya sabda beliau:
يَأْتِي عَلَى النَّاسِ
زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
"Akan
datang kepada manusia suatu zaman, di mana orang yang sabar di antara mereka
dalam memegang teguh agamanya seperti orang yang menggenggam bara api."
[ HR. At-Tirmidzi (No. 2260) dari sahabat Anas bin Malik radhiyallâhu 'anhu,
beliau menyatakannya sebagai hadis hasan gharib]
Serta
sabda beliau:
خَيْرُ الْقُرُونِ
قَرْنِي ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ثُمَّ الَّذِينَ يَلُونَهُمْ ، وَالْآخَرُونَ
أَرَاذِلُ
"Sebaik-baik
generasi adalah generasiku, kemudian generasi setelahnya, kemudian generasi
setelahnya, sedangkan orang-orang yang datang belakangan adalah orang-orang
yang hina." [ HR. At-Thabrani dalam Al-Mu'jam al-Kabîr dan
Al-Hakim dalam Al-Mustadrak 'alâ ash-Shahîhain. Dinyatakan hasan
oleh penulis]
- Kelompok Kedua:
Sebagian yang lain mengembalikan penyebabnya pada buruknya kondisi sosial,
ekonomi, dan politik yang dialami oleh umat pasca-runtuhnya Daulah
Islamiyah [Kekhalifahan] dan tumbangnya pemerintahan Islam. Selain itu,
hal ini disebabkan oleh konspirasi sekutu tiga kekuatan global (Sionisme,
Komunisme, dan Salibisme/Kristenisasi) untuk memukul arus Islam dan
mengisolasi pemikiran Islam dari panggung kehidupan; kadang dengan memicu
sentimen kesukuan dan nasionalisme, dan di waktu lain dengan membentuk
gerakan-gerakan materialistis-atéis serta gerakan misionaris, melalui
segala cara dan metode yang dapat meragukan kaum Muslimin terhadap akidah
dan syariat mereka.
- Kelompok Ketiga:
Sebagian lagi mengatribusikan masalah ini pada minimnya potensi sumber
daya manusia, teknis, dan material yang dimiliki oleh gerakan Islam
kontemporer, sehingga berada di bawah standar yang dibutuhkan untuk
menghadapi jahiliah yang sangat agresif.
Diskusi
dan Analisis (Munâqasyât)
Pada
hakikatnya, seluruh pandangan yang dikemukakan dalam mendiskusikan sebab-sebab
munculnya fenomena takâmul dan ta’âkul dalam panggung pengalaman
gerakan Islam kontemporer tersebut memang termasuk bagian dari faktor penyebab,
tetapi bukanlah seluruh penyebabnya. Bahkan, faktor-faktor tersebut
sebenarnya bukanlah penyebab utama dan mendasar yang tersembunyi di balik
masalah ini.
Pihak
yang menganggap fenomena ini sebagai hal yang wajar dan akibat yang tidak
terhindarkan dari menyusutnya kebaikan serta merajalelanya kejahatan adalah
benar, namun hanya sampai batas tertentu. Sebab, kejahatan telah ada sejak awal
penciptaan. Seruan para rasul dan nabi seluruhnya tidak akan memiliki alasan
pembenar jika bukan karena adanya kejahatan, penyimpangan umat manusia, serta
kebutuhan manusia terhadap perbaikan dan kelurusan.
Bahkan,
merajalelanya kebatilan beserta pasukannya seharusnya justru menjadi pemicu
bagi kebenaran dan para pengikutnya untuk semakin teguh, tegar, dan membangkang
terhadap kebatilan. Pernah dikatakan kepada Kebenaran pada suatu hari: "Di
manakah engkau saat Kebatilan sedang melancarkan serangannya?"
Kebenaran menjawab: "Aku sedang mencabut sampai ke akar-akarnya."
Realitasnya, kebatilan tidak akan meluas dan menyebar melainkan karena
kelalaian para pembela kebenaran, kelemahan mereka, serta isolasi diri mereka
dari medan pengorbanan dan jihad.
Para
penganut pandangan ini keliru apabila mereka meyakini bahwa tidak ada lagi
harapan untuk melakukan perbaikan. Dalam hal ini, mereka telah keluar dari
kerangka pandangan hidup (tasawwur) Islam, karena keyakinan semacam ini
tanpa diragukan lagi akan mendorong mereka untuk mundur dari medan pertempuran
dan lari dari kecamuk perang. Pada akhirnya, mereka akan tertimpa keputusasaan
dan meletakkan senjata, yang mana hal ini tidak memiliki arti lain selain
penyerahan diri dan kekalahan.
Islam
menuntut para pemeluk dan orang-orang yang beriman kepadanya untuk beramal dan
mengerahkan segenap kemampuan serta kesungguhan jihad mereka, tidak lebih dari
itu. Adapun kemenangan, itu adalah urusan dan takdir Allah, serta berada dalam
lembaran gaib dan ilmu-Nya. Sudah sepatutnya para pembela kebenaran mencurahkan
seluruh energi dan mengerahkan segenap kemampuan mereka demi meraih keridaan
Allah terlebih dahulu, meskipun mereka tidak memiliki jaminan atas kemenangan
dan tidak meyakininya secara pasti. Hal ini sejalan dengan firman Allah Ta'ala:
"Sesungguhnya
Allah membeli dari orang-orang mukmin diri dan harta mereka dengan memberikan
surga untuk mereka." (QS. At-Taubah: 111)
Adapun
mereka yang mengembalikan masalah ini pada buruknya kondisi, merosotnya
nilai-nilai, dominasi jahiliah, dan rusaknya zaman, maka kita mengakui bersama
mereka bahwa Islam memang sedang menghadapi tantangan yang sangat kuat, ganas,
dan licik. Namun, hal ini tidak boleh dijadikan alasan, dan bukanlah
penyebab utama yang menyebabkan terhentinya langkah perjalanan Islam,
kebingungannya, serta munculnya fenomena takâmul dan ta’âkul
dalam kehidupannya.
Ada
satu poin lain yang perlu ditegaskan pula, yaitu bahwa kondisi buruk yang
dialami dunia secara umum dan umat Islam secara khusus akan semakin bertambah
buruk dari hari ke hari, selama gerakan Islam tidak segera membenahi keadaan
dan menyelamatkan situasi. Adapun jika kita hanya menunggu perubahan kondisi
terjadi secara spontan tanpa ada harga yang dibayar dan pengorbanan yang
diberikan, maka sungguh itu adalah kesesatan yang nyata!
Sesungguhnya
kewajiban gerakan Islam hari ini adalah berpikir dengan pola pikir yang berbeda
dari cara berpikirnya di masa lalu. Sebab, masa lalu beserta kondisi dan
situasinya telah menjadi kenangan yang berlalu dalam realitas hari ini, dan
sangat mustahil untuk kembali. Sistem-sistem politik yang dahulu masih memberi
ruang toleransi bagi aktivitas kepartaian telah punah dan musnah, lalu
digantikan oleh sistem kepolisian berbasis partai yang penuh kebencian terhadap
Islam dan sangat berpengalaman dalam berkonspirasi melawannya. Sia-sialah
gerakan Islam menunggu perubahan keadaan tanpa mau mengerahkan usaha dan
membayar harganya: "Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu
mahal. Ketahuilah, sesungguhnya barang dagangan Allah itu adalah surga."
Sementara
bagi mereka yang mengatribusikan munculnya fenomena takâmul dan ta’âkul
dalam kehidupan dakwah pada minimnya potensi dan lemahnya daya dukung, maka
saya tidak sependapat dengan mereka sedikit pun. Gerakan Islam pada
kenyataannya tidak menderita kemiskinan potensi, melainkan menderita kurangnya
perhatian untuk mengelola, mengembangkan, menumbuhkan, dan memanfaatkan
potensi-potensi tersebut dari waktu ke waktu.
Dalam
sejarah gerakan Islam kontemporer, telah berlalu berbagai kesempatan dan
kondisi di mana di dalam barisannya terdapat beragam potensi yang tidak
dimiliki oleh gerakan-gerakan lain yang telah mendahuluinya meraih kekuasaan
dan pemerintahan di banyak negara. Namun, pengabaian gerakan terhadap
potensi-potensi ini, ketidakmampuan memanfaatkannya sesuai dengan watak,
keahlian, dan kapasitasnya, serta ketiadaan pencerahan secara pemikiran,
arahan, dan pergerakan, telah menyebabkan hilangnya sebagian potensi tersebut,
sementara sebagian lainnya tumbuh secara liar, tidak alami, serta dipenuhi
banyak penyimpangan dan distorsi.
Di
Manakah Letak Penyakitnya?
Lantas,
di manakah letak penyakit yang sebenarnya?
Penyakit
tersebut—menurut sudut pandang saya—sebagian besar bersumber dari dalam
tubuh gerakan itu sendiri (al-jism al-harakî), meskipun saya tidak
memungkiri adanya pengaruh tekanan-tekanan eksternal terhadap gerakan Islam.
Penyakit
itu tampak dalam:
- Ketaatan dan kedisiplinan
yang pudar pada diri para aktivis, serta hilangnya kepatuhan pada diri
para prajurit.
- Melemahnya rasa tanggung
jawab pada semua pihak.
- Kekosongan jiwa/spiritual (al-khawâ’
ar-rûhî).
- Sikap bermudah-mudah (at-tarakhhush)
serta ketidakmampuan menggembleng diri dengan keputusan-keputusan yang
tangguh (’azâ'im al-umûr).
Shaf-shaf
barisan bengkok dan kacau... hati-hati hampa dan bingung... serta sujud-sujud
terasa dingin dan membeku... tidak ada kehangatan maupun kerinduan di
dalamnya.[ Penulis merujuk pada karya Ustadz Abul Hasan An-Nadwi, Rabbaniyyah
Lâ Ruhbâniyyah]
Pemahaman
terhadap hakikat kerja perjuangan sangat dangkal... rencana konfrontasi
bersifat mendadak/spekulatif... dan aktivitas yang dilakukan lemah serta
terputus-putus, tidak ada keberlanjutan maupun keteguhan di atasnya...
Agar
kita dapat bersikap objektif dalam menghadapi masalah besar ini, kita harus
menentukan titik-titik penyakit ini secara presisi dan mendiskusikan topik ini
secara mendalam, dengan harapan dapat mencapai sesuatu yang membantu kita
keluar dari lingkaran setan yang bahayanya telah meluas dan membesar ini.
1.
Dalam Lingkup Pendidikan dan Pembinaan (at-Tarbiyah wa at-Takwîn)
Pembangunan
kepribadian Muslim (syakhshiyyah Muslimah) merupakan langkah pertama
dalam kerangka persiapan menuju pembentukan negara Islam (ad-daulah
al-Islâmiyyah), apa pun bentuk metode dan kurikulum gerakan dalam beramal.
Kepribadian
Islam tidak mungkin terbentuk dan terlahir secara sempurna selama belum selamat
dari pengaruh-pengaruh masyarakat jahiliah serta dari dualisme dalam menerima
arahan (izdiwâjiyyat at-talaqqî wa at-tawjîh).
Perlu
ditegaskan di sini pula bahwa yang dimaksud dengan pembangunan kepribadian
Muslim adalah pembentukan garda terdepan kepemimpinan (thalî’ah qiyâdiyyah)
atau struktur organisasi gerakan yang pelopor (tanzhîm harakî thalî’î)
yang berada pada level yang dibutuhkan untuk menghadapi jahiliah masa kini.
Sifat-sifat
paling menonjol yang harus dimiliki oleh kepribadian Islam adalah:
- Pelepasan Diri secara
Total dari Jahiliah (al-Inkhilâ’ min al-Jâhiliyyah): Baik dalam
perasaan dan emosi, pemikiran dan pandangan hidup, maupun dalam perbuatan
dan perilaku.
- Komitmen Utuh terhadap
Islam dan Hukum-hukumnya (al-Iltizâm bi al-Islâm): Komitmen
yang menjadikannya sebagai poros kehidupan, titik tolak berpikir, landasan
pandangan hidup, serta sumber hukum dalam setiap masalah dan topik.
- Mengarahkan Jihad di Jalan
Allah demi Meninggikan Kalimat-Nya di Muka Bumi sebagai Tujuan Utama
Keberadaan Diri: Beserta segala hal yang dituntut oleh pandangan ini
berupa kesiapan total untuk mengorbankan segala sesuatu demi mencapai
tujuan tersebut.
Dalam
kerangka kritik diri yang konstruktif (at-naqd azh-zhâtî al-bannâ'),
dapat dikatakan bahwa kurikulum dan metode yang diadopsi saat ini berada di
bawah level kemampuan untuk membentuk kepribadian Islam dengan ciri-ciri dan
spesifikasi seperti ini. Realitasnya, seluruh hal yang dapat disajikan oleh
kurikulum-kurikulum ini tidak lebih dari sekadar porsi wawasan keislaman umum (tsaqâfah
Islâmiyyah 'âmmah) serta arahan-arahan spiritual dan akhlak, yang
menjadikannya tidak mampu membentuk individu Muslim dengan pembentukan yang
dicita-citakan—sebuah pembentukan yang melayakkannya menjadi seorang Rajul
al-’Aqîdah (manusia akidah) yang meyakini akidahnya, menghidupkannya, serta
mengorbankan hal yang berharga dan mahal demi membelanya.
Tujuan
utama dari pendidikan dan pembinaan Islam adalah mewujudkan interaksi (tatâ'ul)
antara Islam dan individu-individu. Sehingga dari interaksi ini terwujud
pelepasan diri mereka dari ego pribadi, pelepasan dari seluruh nilai-nilai
keduniaan, serta pelepasan dari kebanggaan terhadap segala perhiasan dan hawa
nafsu yang biasa dibanggakan... agar mereka hanya berbangga dengan Kebenaran (al-Haqq)
semata.
Kebenaran
yang murni dari kepentingan pribadi mereka... Kebenaran yang menyatu dengan
diri mereka namun terpisah darinya secara jelas, sehingga diri mereka mengikuti
Kebenaran, bukan mengikuti hawa nafsu atau perasaan pribadi mereka. Hal itu
dilakukan dengan cara mendedikasikan diri secara ikhlas hanya karena Allah. [Penulis
merujuk pada karya Muhammad Qutb, Manhaj at-Tarbiyah al-Islâmiyyah]
Tuntutan-tuntutan
Pendidikan dan Pembinaan (Mutatallabât at-Tarbiyah wa at-Takwîn)
Pendidikan
dan pembinaan Islam memiliki tuntutan-tuntutan yang harus dipenuhi demi
keberhasilan prosesnya. Tanpa tuntutan-tuntutan ini, setiap upaya di medan
pendidikan Islam akan mengalami kegagalan dan tidak akan terwujud kelahiran
individu Muslim yang menjadi tulang punggung seluruh aktivitas Islam.
Menurut
pandangan saya, tuntutan pendidikan yang paling penting adalah:
Pertama:
Kurikulum yang Lurus (al-Manhaj as-Salîm)
Kurikulum
yang mampu mewujudkan penyiapan individu Muslim dan generasi Muslim. Kurikulum
yang mengintegrasikan seluruh aspek pendidikan: pemikiran, spiritual, akhlak,
dan pergerakan. Hal ini akan mewujudkan kesempurnaan dan keseimbangan dalam
pembangunan kepribadian Islam, serta mencegah dominasi salah satu aspek atas
aspek lainnya, agar dominasi tersebut tidak menyebabkan cacatnya kepribadian
dan ketidaksempurnaannya.
Kurikulum
yang dibutuhkan oleh gerakan Islam adalah kurikulum yang sama yang dahulu telah
mengeluarkan sebaik-baik umat (khairu ummah) dari labirin jahiliah.
Kurikulum yang mampu mengeluarkan—di setiap zaman dan tempat—generasi yang
berdiri di atas kebenaran, yang berjihad demi membelanya, serta tidak mudarat
oleh orang-orang yang menyelisihi mereka hingga datang keputusan Allah.
Tanpa
model manusia seperti ini, gerakan Islam tidak akan mampu menghadapi realitas
jahiliah dan meraih kemenangan atasnya.
(Umar
bin al-Khaththab radhiyallâhu 'anhu pernah menulis surat kepada 'Amr bin
al-'Ash ketika beliau menganggap lambatnya pembebasan Mesir, yang berisi: "Amma
ba'du. Sungguh aku heran dengan kelambatan kalian dalam membebaskan Mesir...
Kalian telah memerangi mereka selama dua tahun. Tidaklah hal itu terjadi
melainkan karena kalian telah mengada-adakan hal baru dan menyukai dunia
sebagaimana musuh kalian menyukainya. Sesungguhnya Allah Tabaraka wa Ta'ala
tidak akan menolong suatu kaum melainkan karena ketulusan niat mereka."
Dan
dalam wasiatnya kepada Sa'ad bin Mu'adz, panglima kaum Muslimin menuju Persia,
beliau berkata: "Amma ba'du. Aku wasiatkan kepadamu dan pasukan yang
bersamamu untuk bertakwa kepada Allah dalam setiap keadaan... Karena
sesungguhnya takwa kepada Allah adalah sebaik-baik persiapan untuk menghadapi
musuh dan strategi perang yang paling kuat. Aku perintahkan kepadamu dan
pasukan yang bersamamu agar lebih waspada terhadap kemaksiatan daripada
terhadap musuh kalian. Sebab, dosa-dosa pasukan lebih ditakuti atas mereka
daripada musuh mereka. Kaum Muslimin ditolong hanyalah karena kemaksiatan musuh
mereka kepada Allah... Jika bukan karena itu, kita tidak akan memiliki kekuatan
untuk menghadapi mereka, karena jumlah kita tidak seperti jumlah mereka dan
peralatan kita tidak seperti peralatan mereka. Jika kita sama dalam
kemaksiatan, maka mereka memiliki keunggulan atas kita dalam hal kekuatan.
Ketahuilah bahwa dalam perjalanan kalian ada malaikat-malaikat penjaga dari
Allah yang mengetahui apa yang kalian kerjakan, maka malulah kepada mereka dan
janganlah kalian melakukan kemaksiatan kepada Allah saat kalian berada di
jalan-Nya...")
Kedua:
Keteladanan yang Baik (al-Qudwah al-Hasanah)
Ini
merupakan faktor mendasar dan penting dalam keberhasilan proses pendidikan.
Tidak cukup bagi seorang dai pendidik (ad-dâ’iyyah al-murabbî) hanya
menjadi seorang ahli fikih yang alim atau orator yang cemerlang, melainkan ia
harus berada di atas itu semua: menjadi seorang yang bertakwa, wara', dan
mengamalkan ilmunya.
Apabila
amalan menyelisihi ilmu, maka petunjuk akan terhalang, bimbingan akan tertutup,
dan pengaruh akan sirna. Semoga Allah merajmati Malik bin Dinar saat beliau
berkata: "Sesungguhnya seorang alim apabila tidak mengamalkan ilmunya,
nasihatnya akan meluncur dari hati manusia sebagaimana tetesan air hujan
meluncur dari batu yang licin."
Ketiga:
Lingkungan yang Kondusif (al-Bî'ah ash-Shâlihah)
Keberhasilan
pendidikan juga bergantung pada sejauh mana kebaikan lingkungan serta
tersedianya isolasi emosional/psikologis (al-’uzlah asy-syu’ûriyyah)
yang harus disiapkan bagi elemen-elemen yang ingin dididik dan dibina.
Keberhasilan proses pendidikan ini mungkin mendekati mustahil jika dilakukan di
tengah masyarakat jahiliah yang terputus hubungannya dengan Islam.
Solusi
dari masalah ini bergantung pada sejauh mana kemampuan gerakan untuk
mengisolasi elemen-elemen Islami, serta menyiapkan iklim dan suasana yang
kondusif bagi mereka, khususnya selama tahap pembentukan awal (marhalat
at-takwîn al-ûlâ) dan sebelum menugaskan mereka untuk tugas-tugas gerakan
secara umum.
Gagasan
untuk mengisolasi elemen-elemen Islami dari lingkungan jahiliah pada
tahap-tahap pembentukan sangat layak untuk dipelajari dan direnungkan. Bahkan,
memikirkan, merenungkan, dan mencari cara bagaimana mewujudkan isolasi ini
adalah hal yang jauh lebih penting.
Proses
pembentukan kepribadian Islam tidak mungkin berhasil dengan keberhasilan yang
diharapkan dan dicita-citakan melainkan jika berlangsung di lingkungan Islami
yang tidak memberi ruang bagi pengaruh-pengaruh jahiliah.
Realitas
yang dialami oleh gerakan Islam hari ini tidak memberinya wewenang penuh dalam
mengarahkan atau mengendalikan secara mutlak kehidupan individu Muslim.
Sebaliknya, realitas ini justru menempatkan individu tersebut di dalam
lingkungan yang مضطرب
(guncang/kacau) yang ditarik oleh berbagai pengaruh dan tekanan.
Jika
gerakan mampu menyediakan iklim Islami bagi para anggotanya, baik di lingkungan
keluarga maupun dalam lingkup pekerjaan, serta membentengi mereka dari
koeksistensi secara akidah dan moral dengan masyarakat jahiliah, maka dengan
demikian gerakan telah berdiri di awal jalan yang menjamin terbentuknya jiwa
pembangkangan terhadap jahiliah dalam diri para anggotanya. Hal ini sekaligus
menyiapkan mereka untuk menjadi inti dari garda terdepan yang diberkahi (nawât
at-thalî’ah al-mubârakah) dan harapan bagi Islam yang agung. (Kita akan
kembali membahas topik ini di bagian lain dalam buku ini).
2.
Dalam Aktivitas Gerakan dan Konfrontasi (al-’Amal al-Harakî wa al-Muwâjahah)
Adapun
faktor kedua yang melatarbelakangi munculnya fenomena takâmul dan ta’âkul
dalam kehidupan gerakan Islam kontemporer kembali pada ketidakjelasan jalan,
kebingungan di medan amal, serta pergerakan emosional yang tidak berlandaskan
pada visi yang jelas dan konsepsi yang lurus serta utuh mengenai sarana,
tujuan, dan sasaran.
Ciri-ciri
utama penyimpangan dalam tubuh gerakan (al-jism al-harakî) dapat
ditentukan sebagai berikut:
- Ketidakjelasan jalan yang
paling lurus untuk menegakkan negara Islam (iqâmat ad-daulah
al-Islâmiyyah) dan mewujudkan revolusi Islam (at-tanhîd/al-inqilâb
al-Islâmî).
- Pergerakan yang bersifat
spontan ('afwiyyah) dan ketidaktaatan bahkan terhadap
perencanaan yang telah disusun, yang dalam banyak kesempatan menyebabkan
terkurasnya energi dan kekuatan dalam pertempuran-pertempuran sampingan
dan pekerjaan-pekerjaan parsial yang tidak melayani kepentingan Islam yang
hakiki.
- Tidak mengadopsi
kebijakan mengambil inisiatif (al-akhdz bi zimâm al-mubâdarah),
yang menyebabkan respons gerakan terhadap peristiwa-peristiwa menjadi
lambat, sehingga meluputkan banyak kesempatan serta momentum psikologis
maupun waktu.
- Kebingungan dan
kebingungan arah antara berkomitmen pada garis asli pekerjaan dakwah
yaitu penyampaian risalah (at-tablîgh), dengan pergerakan politik (al-inthilâq
as-siyâsî) serta upaya memanfaatkan segala kondisi.
- Tidak mengadopsi metode
tertentu untuk mengambil alih kekuasaan pemerintahan Islam.
- Berlebihan dalam bersikap
hati-hati terhadap penggunaan kekuatan (al-quwwah), baik di
awal maupun di akhir.
- Ketidakjelasan bentuk
organisasi yang paling kokoh dalam tubuh gerakan. Di antara indikasi
hal tersebut adalah munculnya pertanyaan-pertanyaan berikut:
- Apakah kepemimpinan
bersifat individu atau kolektif?
- Apakah musyawarah (syûrâ)
bersifat mengikat (mulzimah) atau tidak mengikat (ghairu
mulzimah)?
- Apakah aktivitas bersifat
rahasia (sirrî) atau terbuka ('alanî)?
- Apakah kita ini sebuah
lembaga pemikiran (ma'had fikrî) atau sebuah organisasi pergerakan
(tanzhîm harakî)? Jika opsi kedua, apakah kita sudah berada pada
level tersebut?
Pertanyaan-pertanyaan
ini dan lainnya membutuhkan jawaban-jawaban yang tegas dan jelas agar gerakan
dapat keluar dari labirin kebingungan dan penyimpangan. Jawaban-jawaban yang
diadopsi oleh gerakan dalam lingkup ini harus bersandar pada kekuatan dalil syar'i,
bukan pada hawa nafsu dan emosi.
Sesungguhnya
hak Islam atas gerakan Islam hari ini—dan setiap hari—adalah bahwa pandangannya
terhadap hakikat kerja Islam dan pemahamannya harus selaras sepenuhnya dengan
semangat rencana yang ditempuh oleh kelompok pergerakan pertama dalam sejarah
Islam. Konsepsi semacam ini akan memaksakan gerakan untuk berjalan sesuai
dengan garis asli yang telah dilalui oleh kenabian (annubuwwah) dalam
menghadapi realitas jahiliah dan mempersiapkan penegakan masyarakat Muslim.
Tidak
ada akibat dari perbedaan konsepsi modern tentang hakikat kerja Islam dan
tujuannya melainkan terbuangnya energi dan terkurasnya kekuatan dalam hal-hal
yang tidak berguna. Sebagaimana sikap meremehkan dalam menginduk secara
pergerakan kepada jemaah Islam pertama serta ketiadaan komitmen faktual yang
presisi terhadap petunjuk-petunjuknya terkait seni konfrontasi Islam (fann
al-muwâjahah al-Islâmiyyah) baik secara individu maupun kolektif, telah
menyebabkan membeloknya langkah kaki dan menjauhnya—dalam banyak
kesempatan—dari poros utama dan tujuan utama yang dicita-citakan.
Telah
berlalu suatu masa bagi gerakan Islam di mana banyak energi terbuang dalam
isu-isu sampingan dan urusan-urusan sesaat, yang tidak memiliki hubungan—baik
dekat maupun jauh—dengan tujuan jangka panjang yang seharusnya gerakan
memfokuskan seluruh kekuatan dan potensinya untuk itu.
Pemahaman
gerakan Islam terhadap tujuan-tujuannya, garis jalannya, wataknya, serta
karakteristiknya akan memalingkan seluruh langkah kaki—dan mencurahkan seluruh
kekuatan—ke arah ini. Hal itu juga akan menjaga upaya yang dikerahkan dari
kesia-sian dan ketidakberdayaan, di samping merupakan jalan terpendek untuk
mencapai cita-cita dan mewujudkan tujuan.
Mengembalikan
Manusia pada Penghambaan kepada Allah (I’âdat Ta’bîd an-Nâs lillâh)
Gerakan
Islam harus menyadari bahwa tugas utamanya terbatas pada mengembalikan
manusia untuk menghamba kepada Tuhan mereka, baik sebagai individu maupun
masyarakat. Tugas ini tidak mungkin terwujud melainkan jika tegak bagi Islam
sebuah negara yang mengambil hukum dan syariatnya dari Islam, kembali kepada
Islam dalam seluruh urusannya, serta berjalan dalam setiap langkahnya di atas
petunjuk-Nya yang lurus dan jalan-Nya yang teguh.
Gerakan
Islam—ketika menyadari bahwa tugas utamanya adalah menundukkan masyarakat
manusia pada kedaulatan Allah (hâkimiyyatullâh) dan penghambaan
kepada-Nya—harus tetap mempertahankan kemudi jalannya terarah ke garis ini
dalam kondisi apa pun.
Isu-isu
partisipasi dalam memerdekakan negeri—tanpa adanya jaminan keislaman bagi masa
depannya—akan menjadi seperti mengubur usaha di bawah tanah. Sebagaimana
partisipasi dalam menyatukan bangsa-bangsa dan negara-negara di atas selain
Islam adalah seperti mendirikan bangunan tanpa fondasi, yang pada akhirnya
menjadi salah satu bentuk koeksistensi dengan jahiliah.
Dengan
tolok ukur ini, pandangan gerakan akan berubah terhadap banyak hal yang di masa
lalu selalu diberikannya prioritas utama dari segi usaha dan waktu.
Islam
sangat membutuhkan sebuah pijakan kaki (mawthi' qadam) di mana di sana
Islam dapat menyajikan kepada umat manusia sebuah model praktis dari masyarakat
Muslim beserta keadilan, kesetaraan, keamanan, dan stabilitas yang
diwujudkannya.
Sesungguhnya
pemikiran-pemikiran, mazhab-mazhab, dan filsafat-filsafat materialistis yang
menginvasi dunia di era modern ini tidak akan mungkin mencapai apa yang telah
dicapainya jika sejak awal tidak memiliki satu pijakan kaki pun.
Para
Mujahid, Bukan Para Filsuf (Mujâhidûna Lâ Filâsifah)
Satu
poin lain yang perlu ditegaskan di panggung ini pula adalah bahwa gerakan Islam
seharusnya menjadi sebuah "barak" (tsuknah) untuk meluluskan
para mujahid dan pahlawan, sebelum menjadi sebuah lembaga pemikiran (ma'had
fikrî) untuk menyebarkan kebudayaan dan konsep-konsep Islam yang abstrak di
tengah manusia.
Kita
membutuhkan kesadaran, kedalaman, dan hikmah sebagaimana kita membutuhkan
keberanian, pengorbanan, dan ketegasan.
Sesungguhnya
dominasi prinsip "mencari keselamatan" (taharri as-salâmah),
berlebihan di dalamnya, serta menjadikannya sebagai kebijakan yang
terus-menerus dalam segala situasi, kondisi, dan tingkatan, tidak akan
membuahkan hasil melainkan matinya semangat pengorbanan dalam diri individu dan
mengubah gerakan Islam menjadi sekolah teoritis atau arus pemikiran yang
abstrak semata.
Kaidah
yang harus menjadi titik tolak gerakan dalam masalah ini adalah bahwa kemaslahatan
Islam berada di atas segala pertimbangan. Di mana pun kemaslahatan Islam
terwujud, maka wajib melangkah maju berapa pun pengorbanan yang harus dibayar.
Prinsip
dasar yang harus diadopsi oleh gerakan dalam mengevaluasi sikap, pertempuran,
dan konfrontasi adalah pemahaman yang benar terhadap watak pertempuran dan
karakteristiknya, serta mendiagnosis dimensi-dimensi, dampak-dampak, dan
reaksi-reaksinya; semua itu dilakukan di bawah perhitungan cermat terhadap
kejutan-kejutan dan komplikasi mendadak yang mungkin terjadi tanpa terduga.
Termasuk
tindakan nekad dan kecerobohan adalah mengarungi pertempuran apa pun—betapa pun
sampingan dan kecilnya pertempuran itu—tanpa adanya persepsi yang benar
tentangnya serta penyiapan kapasitas yang memadai untuk menghadapinya. Sebab,
menerima sikap asal-urutan/improvisasi (al-irtijâl) dalam setiap masalah
akan berujung pada pertaruhan atas nama Islam dan dengan mengorbankan Islam,
dan hal ini masuk dalam hukum perkara yang kita diperingatkan darinya dan
dilarang darinya.
Adapun
jika persiapan telah sempurna—dalam batas kemampuan yang diusahakan—dan di
bawah naungan persepsi yang benar tentang watak pertempuran,
kebutuhan-kebutuhannya, serta tuntutan-tuntutannya, maka mengarunginya menjadi
sebuah kewajiban, sedangkan lari darinya adalah sikap pengecut dan
ketidakberdayaan. Dan tidaklah orang-orang mukmin pada suatu hari menjadi
penakut maupun pengecut!
Sesungguhnya
kewajiban gerakan Islam—agar berada pada level tanggung jawab—adalah meninjau
kembali titik-titik tolak dasarnya, organisasi internalnya, kurikulum
pendidikannya, garis jalannya, sarana kerjanya, serta metode konfrontasinya.
Gerakan harus mengetahui apa perannya di tengah masyarakat, serta apa alasan
pembenar bagi keberadaannya... Setelah itu, tidak mengapa jika harus memulai
kembali meskipun dari titik nol!
Gerakan
Islam di setiap tempat... dan para aktivis di medan Islam di mana pun mereka
berada... seluruhnya diseru—masing-masing dalam batas kemampuan dan
kapasitasnya—untuk berkontribusi dalam mengembangkan kerja Islam kontemporer,
mengeluarkannya dari lingkaran setan takâmul dan ta’âkul, serta
membawanya ke level yang dituntut baik secara kesadaran, penyiapan,
pengorganisasian, maupun perencanaan.
Comments
Post a Comment