Isti'jal

Tergesa-gesa (Al-Isti’jal)

Penyakit yang menimpa sebagian aktivis dakwah—yang harus mereka waspadai dan bersihkan dari diri mereka—adalah tergesa-gesa (al-isti’jal). Agar kita memiliki gambaran yang presisi mengenai penyakit ini, kita akan membahasnya melalui rincian berikut:

Pertama: Makna Tergesa-gesa (Al-Isti’jal)

  • Secara Bahasa (Etimologi):

Kata al-isti'jal dan al-i'jal memiliki makna yang sama, yaitu: meminta dorongan cepat dan menuntut ketergesaan (yaitu kecepatan). Seseorang yang mengecam/meminta orang lain bergegas (ista'jala al-rajulu al-rajula) berarti mendorong dan memerintahkannya untuk bergegas dalam suatu urusan. Di antaranya adalah firman Allah Ta’ala:

"Dan kalau Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan, niscaya diakhiri umur mereka." (QS. Yunus: 11)

Maknanya: Seandainya Allah menyegerakan keburukan bagi manusia ketika mereka mendoakan keburukan atas diri mereka, keluarga, atau anak-anak mereka saat marah—sebagaimana mereka tergesa-gesa meminta kebaikan dan rahmat—niscaya Allah akan mengakhiri ajal mereka sehingga mereka binasa.

  • Secara Istilah (Terminologi):

Maknanya dalam istilah para da'i adalah berkehendak untuk mengubah realitas yang dialami umat Islam hari ini dalam sekejap mata atau kurang dari itu, tanpa mempertimbangkan akibat-akibatnya, tanpa memahami kondisi dan situasi yang melingkupi realitas tersebut, serta tanpa persiapan yang matang terhadap sebab-sebab (muqaddimah), metode, maupun sarana.

Seolah-olah orang-orang memejamkan mata lalu membukanya, atau tidur di malam hari lalu bangun di pagi hari, tiba-tiba mereka melihat segala sesuatu telah kembali ke posisi normalnya dalam kehidupan mereka: jahiliyah telah lenyap dari jalan mereka, panji Islam berkibar kembali, setiap manusia menemukan kembali hakikat kemanusiaannya, dan fitrah manusia bersih dari segala hal yang mengeruhkan dan mengotorinya.

Kedua: Pandangan Islam terhadap Tergesa-gesa

Mengingat sifat tergesa-gesa dan terburu-buru merupakan tabiat manusia berdasarkan kesaksian Pencipta, Pembuat, dan Pengatur urusannya:

"Dan manusia (sering kali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana dia berdoa untuk kebaikan. Dan manusia bersifat tergesa-gesa." (QS. Al-Isra': 11)

"Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa..." (QS. Al-Anbiya': 37)

Maka Islam memandang sikap tergesa-gesa dengan pandangan yang adil dan objektif. Islam tidak memujinya secara mutlak, dan tidak pula mencelanya secara mutlak. Islam memuji sebagian bentuknya dan mencela sebagian yang lain:

  • Tergesa-gesa yang Dipuji (Al-Mahmud):

Adalah tergesa-gesa yang lahir dari kalkulasi yang cermat terhadap dampak dan akibat, pemahaman yang sempurna terhadap kondisi dan situasi, serta persiapan yang baik dan penyusunan strategi yang matang.

Boleh jadi jenis inilah yang dimaksud dalam firman Allah Ta’ala yang menceritakan tentang Musa 'alaihis salam:

"Dan apakah yang menyebabkannya menyegerakan diri meninggalkan kaummu, wahai Musa? Dia (Musa) berkata, 'Itulah mereka sedang menyusul di belakangku dan aku bersegera kepada-Mu, ya Tuhanku, agar Engkau ridha.'" (QS. Thaha: 83-84)

Sebab, kondisi saat itu mendukung, kesempatan terbuka lebar, akibatnya terpuji, dan jiwa dalam keadaan suci serta bersinar. Lantas, apa yang menahan Musa dari berlambat-lambat dan menunda-nunda?

  • Tergesa-gesa yang Dicela (Al-Madzmum):

Adalah tergesa-gesa yang semata-mata berupa gejolak emosi jiwa tanpa pertimbangan akibat, tanpa penguasaan terhadap kondisi dan situasi, serta tanpa persiapan dan perbekalan.

Jenis terakhir inilah yang dimaksud oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam ketika beliau bersabda kepada Khabbab ibn al-Aratt radhiyallahu 'anhu—yang datang kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam untuk mengadukan penderitaan dan penindasan yang dialaminya bersama saudara-saudaranya, seraya meminta beliau memohon pertolongan kepada Rabb-nya dan berdoa untuk mereka. Beliau bersabda kepadanya:

كَانَ الرَّجُلُ فِيمَنْ كَانَ قَبْلَكُمْ يُحْفَرُ لَهُ فِي الأَرْضِ فَيُجْعَلُ فِيهَا، فَيُجَاءُ بِالْمِنْشَارِ فَيُوَضَعُ عَلَى رَأْسِهِ فَيُشَقُّ بِاثْنَتَيْنِ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَيُمْشَطُ بِأَمْشَاطِ الْحَدِيدِ مَا دُونَ لَحْمِهِ مِنْ عَظْمٍ أَوْ عَصَبٍ، وَمَا يَصُدُّهُ ذَلِكَ عَنْ دِينِهِ، وَاللَّهِ لَيُتِمَّنَّ هَذَا الأَمْرَ، حَتَّى يَسِيرَ الرَّاكِبُ مِنْ صَنْعَاءَ إِلَى حَضْرَمَوْتَ، لاَ يَخَافُ إِلاَّ اللَّهَ، وَالذِّئْبَ عَلَى غَنَمِهِ، وَلَكِنَّكُمْ تَسْتَعْجِلُونَ

Dahulu ada seorang laki-laki dari umat sebelum kalian, dia ditangkap lalu dibuatkan lubang di tanah dan dia dimasukkan ke dalamnya. Kemudian didatangkan gergaji dan ditaruh di atas kepalanya lalu dibelah menjadi dua bagian, namun hal itu tidak memalingkannya dari agamanya. Dan tubuhnya disisir dengan sisir-sisir besi hingga memisahkan daging dari tulang atau uratnya, namun hal itu tidak memalingkannya dari agamanya. Demi Allah, sungguh perkara (agama) ini akan disempurnakan hingga seorang pengendara berjalan dari Shana'a ke Hadhramaut tanpa takut kecuali kepada Allah, atau takut serigala atas kambingnya, tetapi kalian ini tergesa-gesa. (HR. Bukhari)[ Hadits ini dikeluarkan oleh Al-Bukhari dalam Ash-Shahih, Kitab Bad'u al-Khaliq (Anbiya'), Bab Alamat an-Nubuwwah fi al-Islam (4/244); Kitab Manaqib al-Anshar, Bab Ma Laqiya an-Nabiyyu SAWW wa Ashabuhu min al-Musyrikin bi Makkah (5/56-57); dan Kitab Al-Ikrah, Bab Man Ikhtara adh-Dharba wa al-Qatla wa al-Hawana 'ala al-Kufr (9/25-26), dari hadits Qais, dari Khabbab]

Jenis tergesa-gesa inilah yang kita maksudkan di sini.

Ketiga: Indikasi/Bentuk-Bentuk Tergesa-gesa

Sikap tergesa-gesa memiliki banyak indikasi/bentuk, di antaranya:

  1. Merekrut seseorang ke dalam kafilah da'i sebelum dilakukannya klarifikasi (al-istitsyaq) dan pemastian atas bakat, kapasitas, serta kesiapannya.
  2. Mempromosikan sebagian da'i ke jenjang/tingkat pimpinan yang tinggi sebelum kematangan mereka sempurna dan kepribadian mereka mantap.
  3. Melakukan tindakan-tindakan konyol dan gegabah (tasharrufat tha'isyah) berskala kecil yang justru merugikan dakwah dan tidak memberi manfaat.

Keempat: Dampak-Dampak Tergesa-gesa

Seluruh indikasi yang disebutkan di atas, beserta bentuk lainnya, akan menimbulkan dampak dan akibat negatif:

  1. Menyebabkan Kejenuhan/Kelesuan (Kandor/Futur):

Sebagaimana telah kita jelaskan pada pembahasan penyakit pertama. Amalan yang sedikit namun konsisten lebih baik daripada amalan yang banyak namun terputus:

وَإِنَّ أَحَبَّ العَمَلِ إِلَى اللَّهِ أَدْوَمُهُ وَإِنْ قَلَّ

...Dan sesungguhnya amalan yang paling dicintai Allah adalah yang paling konsisten (terus-menerus) dilakukan meskipun sedikit.

  1. Menyebabkan Kematian yang Tidak Mulia:

Yaitu ketika tindakan tersebut tidak membuahkan hasil atau manfaat. Pada saat itulah pertanggungjawaban dan teguran akan terjadi di hadapan Penguasa Yang Mahatinggi, pada hari di mana seseorang tidak dapat membela orang lain sedikit pun, dan segala urusan pada hari itu milik Allah.

Kisah berikut merupakan bukti nyata dari apa yang kami katakan:

(Dahulu Gerakan Islam di Mesir pada akhir tahun 30-an sedang mengalami masa kejayaannya. Ia merambah ke seluruh lapisan masyarakat sebagaimana kapal membelah lautan yang tenang dengan angin yang berembus lembut. Suaranya terdengar dalam seluruh permasalahan, baik di tingkat lokal maupun internasional. Pada saat itu, berdirilah salah seorang anggotanya, yaitu Ahmad Rifa'at, yang menentang seluruh metode yang ditempuh gerakan dan menyerukan metode-metode lain.

Awalnya hal ini tidak menarik perhatian secara berlebihan, sebab setiap anggota gerakan berhak mengkritik apa yang ia pandang layak dikritik, untuk kemudian dilakukan diskusi antar pihak yang berujung pada keputusan yang paling tepat dan jalan yang paling lurus. Namun, hal yang menarik perhatian adalah bahwa seruan ini mendapat tanggapan cepat dari banyak pemuda gerakan. Kami tidak ingin masuk ke dalam pembahasan sebab-sebab hal itu sekarang, namun yang menjadi perhatian kita adalah digelarnya pertemuan untuk mengetahui keberatan dan tuntutan Ahmad Rifa'at, yang terangkum dalam tiga hal:

o   Pertama: Ia memandang bahwa gerakan terlalu berbasa-basi kepada pemerintah dan menempuh politik berputar-putar. Kewajiban menuntut untuk menghadapi pemerintah dengan hakikat yang ditetapkan Al-Qur'an:

"Dan barangsiapa tidak memutuskan perkara menurut apa yang diturunkan Allah, maka mereka itulah orang-orang kafir." (QS. Al-Ma'idah: 44)

o   Kedua: Ia memandang bahwa gerakan tidak mengambil tindakan praktis dalam masalah wanita yang menampakkan aurat (sufur) dan bersolek (tabarruj), hanya mencukupkan diri dengan nasihat dan kata-kata. Kewajiban menuntut gerakan untuk menyebarkan anggotanya di jalan-jalan kota Kairo, di mana setiap pemuda membawa botol tinta. Setiap kali ada wanita yang bertabarruj melintas, ia melemparkan tinta tersebut hingga pakaiannya ternoda, sehingga hal itu menjadi efek jera baginya.

o   Ketiga: Ia memandang bahwa tindakan gerakan dalam membantu para pejuang Palestina yang hanya sebatas propaganda dan penggalangan dana merupakan bentuk kelalaian terhadap masalah ini, bentuk kelumpuhan dari jihad, dan sikap tertinggal dari medan pertempuran. Seluruh pemuda gerakan harus meninggalkan pekerjaan mereka dan menjadi sukarelawan di barisan pejuang; jika tidak, mereka termasuk orang-orang yang menyelisihi perintah.

Sebagian hadirin pun tampil memberikan sanggahan kepada Ahmad terkait dua tuntutan pertama, dengan mengatakan:

o   Pengaduan/konfrontasi terhadap pemerintah tidak boleh dilakukan kecuali setelah terpenuhinya dua faktor:

a. Edukasi masyarakat mengenai hakikat-hakikat Islam yang hingga hari ini pikiran mereka masih kosong darinya, terutama hubungan Islam dengan pemerintahan dan undang-undang.

b. Gerakan berhasil meraih kekuatan basis massa yang mampu menopang konfrontasi terhadap kondisi apa pun. Padahal hingga hari ini, gerakan masih merupakan gerakan yang baru lahir yang membutuhkan penguatan pilar-pilar dan perluasan jangkauannya.

o   Adapun mengenai masalah wanita, jawaban mereka adalah: Seandainya kita mengambil usulan Ahmad, maka hasilnya pada hari pertama penggunaan metode ini adalah seluruh pemuda gerakan akan ditangkap, diinterogasi, dan dimasukkan ke dalam penjara hingga diadili di hadapan pengadilan yang akan memutus hukuman penjara dan denda. Jika mereka selesai menjalani hukuman lalu kembali menggunakan metode yang sama, hukuman akan dilipatgandakan. Selama wanita yang pakaiannya ternoda itu mendapat ganti rugi berlipat ganda dari kantong para pemuda gerakan, sementara ia melihat orang yang menodai pakaiannya dijebloskan ke penjara, lantas apa yang menghalanginya untuk kembali memakai pakaian semula? Dengan demikian, tidak ada gunanya metode ini dalam memberi efek jera kepada wanita-wanita yang bertabarruj.

o   Adapun mengenai masalah Palestina, hal itu telah dijawab oleh surat dari Mufti Palestina, Sayyid Amin Al-Husaeni, yang membalas surat Gerakan Islam di Mesir. Isinya: "Sesungguhnya upaya yang dikerahkan gerakan dalam mempropagandakan isu Palestina di Mesir adalah kadar yang dibutuhkan dan sangat kami perlukan, yang tidak mampu dilakukan oleh pihak lain. Dan kami tidak membutuhkan relawan saat ini."

Meskipun jawabannya sudah jelas, Ahmad tetap bertahan pada sikapnya, dan jumlah pendukungnya kian bertambah. Keadaan mereka sampai pada tingkat memaki-maki Gerakan Islam dan para pengelolanya tanpa rasa malu. Ketika anggota gerakan memutus hubungan dengannya dan orang-orang di sekitarnya membubarkan diri, ia merasa dirinya benar-benar terisolasi. Ia pun memutuskan berangkat ke Palestina untuk bergabung dengan para pejuang melawan Inggris dan Yahudi.

Di sini, gerakan merasa kasihan kepadanya dan mengirim pesan agar ia hadir untuk dibekali uang dan senjata, lalu diserahkan kepada sekelompok pejuang Palestina yang berhubungan dengan gerakan agar mereka mengamankan jalannya. Sebab, para pejuang mencurigai siapa pun yang mereka lihat di jalan—selama mereka tidak mengenalnya—dan menganggapnya sebagai mata-mata lalu membunuhnya. Namun Ahmad menolak dan bersikeras pergi sendiri. Ia benar-benar pergi dan tewas terbunuh—sebagaimana diperkirakan gerakan—di tangan para pejuang sendiri).

Kisah ini menjelaskan kepada kita akibat dari semangat (hamas) yang disertai dangkalnya pemahaman terhadap Kitabullah, sejarah dakwah Islam, dan realitas kehidupan. Akibat dari hal itu adalah tergesa-gesa, dan dampak dari tergesa-gesa bisa berupa kematian yang tidak mulia, sebagaimana yang terjadi pada Ahmad Rifa'at.

Sebab, sebelum bergabung dengan gerakan, ia tidak memiliki pengetahuan paling mendasar tentang Islam, Al-Qur'an, Sirah, maupun sejarah Islam. Ketika ia meyakini pemikiran Islam, ia menyambarnya dengan semangat membara. Sebelum membekali diri dengan seluruh petunjuk jalan, ia meluncur tanpa bashirah (rabun arah), sehingga ia menabrak dan hancur, bahkan nyaris menghancurkan gerakan bersamanya jika bukan karena perlindungan Ilahi, kemudian hikmah para pengelolanya dan keikhlasan mereka.

  1. Lumpuhnya Aktivitas Dakwah:

Atau setidaknya kemunduran dakwah ke belakang hingga puluhan tahun. Di dalamnya terkandung dampak buruk berupa berlanjutnya pengotoran kehidupan, berlanjutnya pencerobohan terhadap darah, harta, dan kehormatan, serta bertambahnya rintangan dan hambatan di jalan dakwah.

Kelima: Sebab-Sebab Tergesa-gesa (Al-Isti’jal)

Untuk mengatasi penyakit tergesa-gesa, kita harus memahami faktor-faktor pemicunya sebagai langkah awal pengobatan. Ada banyak faktor yang dapat menjerumuskan seorang da'i ke dalam sifat ini, di antaranya:

  1. Dorongan Kejiwaan (Ad-Dafi' an-Nafsi)

Bisa jadi dorongan jiwa adalah penyebab tergesa-gesa, karena tergesa-gesa merupakan watak yang tertanam dalam fitrah manusia, sebagaimana firman Allah Tabaraka wa Ta’ala: "Manusia diciptakan (bersifat) tergesa-gesa...", "Dan manusia (sering kali) berdoa untuk kejahatan sebagaimana dia berdoa untuk kebaikan...", dan "Dan kalau Allah menyegerakan kejahatan bagi manusia seperti permintaan mereka untuk menyegerakan kebaikan...". (QS. Al-Anbiya': 37, QS. Al-Isra': 11). Jika seorang da'i tidak melatih jiwanya, membelenggunya dengan akal sehat, dan meredam gejolaknya, maka dorongan jiwa tersebut pasti akan menyeretnya menuju ketergesaan.

  1. Semangat dan Gelora Keimanan (Al-Hamasa / Al-Harara al-Imaniyyah)

Semangat atau gelora keimanan bisa menjadi penyebab tergesa-gesa. Sebab, iman apabila telah kuat dan merasuk ke dalam jiwa akan melahirkan energi yang sangat besar. Energi ini—jika tidak dikendalikan dan diarahkan—akan terdorong melakukan tindakan-tindakan yang lebih banyak merusak daripada memperbaiki, dan lebih banyak membahayakan daripada memberi manfaat.

Mungkin inilah rahasia mengapa Allah Subhanahu wa Ta’ala membimbing Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan kaum mukminin pada fase Mekkah untuk bersikap sabar, tabah, memiliki daya tahan tinggi, serta menahan diri. Allah berfirman:

"Dan bersabarlah terhadap apa yang mereka katakan dan tinggalkanlah mereka dengan cara yang baik." (QS. Muzzammil: 10)

"Maka bersabarlah kamu, sungguh, janji Allah itu benar dan jangan sekali-kali engkau dipalingkan oleh orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat Allah)." (QS. Ar-Rum: 60)

"Dan Kami jadikan sebagian kamu cobaan bagi sebagian yang lain. Maukah kamu bersabar? Dan Rabbmu Maha Melihat." (QS. Al-Furqan: 20) ... dan ayat-ayat lainnya.

  1. Tuntutan dan Sifat Zaman (Thabi'at al-'Ashr)

Karakter zaman bisa menjadi pemicu sikap tergesa-gesa. Kita hidup di zaman yang bergerak serba cepat. Seseorang berada di sini, lalu beberapa jam kemudian berada di ujung bumi yang lain karena kemajuan sarana transportasi. Seseorang meletakkan fondasi rumah hari ini dan menempatinya besok karena penguasaan sarana konstruksi modern. Kiaskanlah hal ini pada banyak hal dalam kehidupan manusia. Hal inilah yang mungkin membawa sebagian aktivis untuk tergesa-gesa demi menyelaraskan diri dengan kondisi zaman..

  1. Realitas dan Agresi Musuh (Waqi' al-A'da')

Kondisi musuh dapat menjadi penyebab tergesa-gesa. Tidak ada satu hari pun yang berlalu saat ini melainkan musuh-musuh Allah semakin mencengkeramkan kekuasaannya atas dunia Islam dan memburu gerakan Islam di mana-mana untuk membungkam setiap suara yang merdeka dan jujur. Cukuplah sebagai contoh bahwa Israel dahulu hanyalah sebuah gagasan dalam pikiran, lalu hari ini menjadi realitas yang mencengkeram bagian tanah Islam yang sangat berharga yaitu Palestina, lalu bergerak dari sana menuju Lebanon dan negara-negara Arab lainnya untuk mewujudkan mimpi Yahudi: "Israel dari Nil hingga Euphrat". Hal ini yang mendorong sebagian aktivis tergesa-gesa sebelum bahaya semakin membesar dan sulit ditanggulangi.

  1. Ketidaktahuan terhadap Strategi Musuh (Jahl bi Asalib al-A'da')

Bodoh/tidak paham terhadap metode musuh bisa menjadi penyebab tergesa-gesa. Musuh-musuh Allah memiliki metode yang licik dan bervariasi untuk merasuk ke jantung dunia Islam. Metode paling berbahaya dan paling tipu daya adalah dengan memunculkan segelintir orang dari kalangan umat Islam sendiri yang mengaku Islam namun menyembunyikan kekafiran, kedengkian, dan kesesatan.

Metode makar seperti ini menghalangi mobilisasi umum umat untuk menghadapi kejahatan, bahkan membuat awam berada di pihak mereka. Musuh-musuh Allah menempuh metode ini setelah sekian lama mencoba metode konfrontasi secara terbuka namun melihat bahwa hal itu tidak berguna, malah mendorong umat Islam—bahkan yang melampaui batas sekalipun—untuk bangkit dan mengorbankan segalanya demi membela agama. Ketidakpahaman akan metode ini menjadi salah satu pemicu tergesa-gesa.

  1. Maraknya Kemungkaran Beserta Ketidaktahuan Fikih Mengubahnya

Setiap kali manusia bergerak saat ini, ia dikelilingi oleh kemungkaran dari segala sisi. Adalah kewajiban setiap muslim ketika melihat hal itu untuk berusaha mengubah dan merubahnya agar bumi tidak menjadi pusat kejahatan dan kerusakan. Allah berfirman:

"Dan sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah bumi ini berkali-kali rusak..." (QS. Al-Baqarah: 251)

"...Sekiranya Allah tidak menolak (keganasan) sebagian manusia dengan sebagian yang lain, tentulah telah dirobohkan biara-biara kelenteng, rumah-rumah ibadah serta masjid-masjid, yang di dalamnya banyak disebut nama Allah. Allah pasti menolong orang yang menolong (agama)-Nya. Sungguh, Allah Mahakuat, Mahaperkasa." (QS. Al-Hajj: 40)

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْكُمْ مُنْكَرًا فَلْيُغَيِّرْهُ بِيَدِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِلِسَانِهِ، فَإِنْ لَمْ يَسْتَطِعْ فَبِقَلْبِهِ، وَذَلِكَ أَضْعَفُ الإِيمَانِ

Barangsiapa di antara kalian melihat kemungkaran, maka hendaknya ia mengubahnya dengan tangannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan lisannya. Jika ia tidak mampu, maka dengan hatinya, dan yang demikian itu adalah selemah-lemah iman. (HR. Muslim)

مَثَلُ القَائِمِ عَلَى حُدُودِ اللَّهِ وَالوَاقِعِ فِيهَا، كَمَثَلِ قَوْمٍ اسْتَهَمُوا عَلَى سَفِينَةٍ، فَأَصَابَ بَعْضُهُمْ أَعْلَاهَا وَبَعْضُهُمْ أَسْفَلَهَا، فَكَانَ الَّذِينَ فِي أَسْفَلِهَا إِذَا اسْتَقَوْا مِنَ المَاءِ مَرُّوا عَلَى مَنْ فَوْقَهُمْ، فَقَالُوا: لَوْ أَنَّا خَرَقْنَا فِي نَصِيبِنَا خَرْقًا وَلَمْ نُؤْذِ مَنْ فَوْقَنَا، فَإِنْ يَتْرُكُوهُمْ وَمَا أَرَادُوا هَلَكُوا جَمِيعًا، وَإِنْ أَخَذُوا عَلَى أَيْدِيهِمْ نَجَوْا وَنَجَوْا جَمِيعًا 

Perumpamaan orang yang menegakkan hukum Allah dan orang yang melanggarnya adalah seperti kaum yang mengundi tempat di atas kapal. Sebagian mendapat tempat di atas dan sebagian di bawah. Orang-orang di bawah jika membutuhkan air harus melewati orang-orang di atas. Lalu mereka berkata: 'Seandainya kita lubangi saja kapal ini di bagian kita sehingga tidak mengganggu orang di atas.' Jika orang di atas membiarkan keinginan mereka, niscaya semuanya akan binasa. Namun jika mereka mencegahnya, niscaya semuanya selamat. (HR. Bukhari)

Kendati demikian, tidak setiap kemungkaran wajib dihilangkan atau diubah seketika (fawran). Hal itu diisyaratkan dengan syarat: tidak menimbulkan kemungkaran yang lebih besar. Jika menimbulkan kemungkaran yang lebih besar, maka wajib menahan diri (at-tawaqquf), disertai kebencian dalam hati, pemutusan hubungan darinya (mutaqa-at), serta pencarian sarana paling efektif untuk menghilangkannya kelak.

Dalam Sunnah dan Sirah terdapat bukti-bukti atas hal tersebut:

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam diutus dalam keadaan berhala-berhala memenuhi bagian dalam Ka'bah dan sekitarnya. Namun beliau tidak menghancurkannya secara fisik kecuali pada hari Pembebasan Mekkah (Fathu Makkah) di tahun ke-8 Hijriah. Artinya, berhala itu dibiarkan selama 21 tahun sejak beliau diutus.

Hal itu karena keyakinan beliau bahwa jika beliau menghancurkannya sejak hari pertama sebelum menghancurkannya dari dalam jiwa-jiwa manusia, mereka justru akan membangunnya kembali dengan bentuk yang lebih buruk. Oleh karena itu, beliau meninggalkannya dan fokus membina para tokoh, menyucikan jiwa, hingga ketika hal itu sempurna, beliau memimpin mereka membebaskan Mekkah dan menghancurkan berhala seraya mengumandangkan:

"Dan katakanlah, 'Milik Allah-lah kebenaran dan telah lenyaplah kebathilan. Sungguh, kebathilan itu adalah sesuatu yang pasti lenyap.'" (QS. Al-Isra': 81)

Beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda kepada Umul Mukminin 'Aisyah radhiyallahu 'anha:

أَلَمْ تَرَيْ أَنَّ قَوْمَكِ لَمَّا بَنَوْا الْكَعْبَةَ اقْتَصَرُوا عَنْ قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ؟ فَقُلْتُ: يَا رَسُولَ اللَّهِ، أَلَا تَرُدُّهَا عَلَى قَوَاعِدِ إِبْرَاهِيمَ؟ قَالَ: لَوْلَا حِدْثَانُ قَوْمِكِ بِالْكُفْرِ لَفَعَلْتُ

Tidakkah engkau tahu bahwa kaummu ketika membangun Ka'bah telah menguranginya dari fondasi Ibrahim? Aku ('Aisyah) berkata: 'Wahai Rasulullah, tidakkah engkau mengembalikannya di atas fondasi Ibrahim?' Beliau bersabda: 'Seandainya bukan karena kaummu baru saja meninggalkan kekafiran, niscaya aku telah melakukannya.' (HR. Bukhari dan Muslim)

Dalam riwayat lain: "Seandainya kaummu bukan karena baru saja meninggalkan masa jahiliyah, maka aku takut hati mereka akan mengingkarinya..."

Bahkan seorang muslim ketika diam dari suatu kemungkaran karena takut menimbulkan kemungkaran yang lebih besar—disertai penolakan hati dan komitmen mencari jalan perubahan terbaik—ia tidak berdosa. Allah berfirman:

"Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya..." (QS. Al-Baqarah: 286)

"Maka bertakwalah kamu kepada Allah menurut kesanggupanmu dan dengarlah serta taatlah..." (QS. At-Taghabun: 16)

Jika aktivis/da'i melupakan fikih metode perubahan kemungkaran ini, ia pasti akan jatuh ke dalam tergesa-gesa karena mengira urusan itu harus dieksekusi seketika..

  1. Ketidakmampuan Menanggung Beban Panjang (Al-'Ajz 'an Tahammul al-Masyaqq)

Sebagian aktivis memiliki keberanian dan semangat untuk amalan sesaat meski membawanya pada kematian, namun ia tidak memiliki kemampuan menanggung kesulitan jalan dalam jangka panjang. Padahal sifat kejantanan sejati (ar-rujulah al-haqqah) adalah yang disertai kesabaran, ketabahan, dan ketekunan hingga akhir hayat.

Oleh karena itu, Anda melihatnya selalu tergesa-gesa untuk menghindarkan dirinya dari kesulitan, meskipun berdalih dengan alasan lain.

  1. Tergoda oleh Sebagian Sarana Tanpa Perhitungan Matang

Memperoleh sebagian sarana seperti kuantitas SDM dan peralatan—tanpa mengalkulasi akibat berupa meningkatnya kesewenang-wenangan musuh dan terjadinya fitnah di tengah masyarakat—dapat menjadi penyebab tergesa-gesa.

Inilah rahasia mengapa Islam memerintahkan untuk bersabar atas kezaliman para penguasa selama tidak sampai pada tingkat kekafiran yang nyata (kufr bawah).

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنْ رَأَى مِنْ أَمِيرِهِ شَيْئًا يَكْرَهُهُ فَلْيَصْبِرْ، فَإِنَّهُ مَنْ فَارَقَ الْجَمَاعَةَ شِبْرًا فَمَاتَ، إِلاَّ مَاتَ مِيتَةً جَاهِلِيَّةً

Barangsiapa melihat dari amirnya sesuatu yang tidak disukainya, hendaknya ia bersabar. Karena barangsiapa memisahkan diri dari jamaah sejengkal saja lalu mati, melainkan ia mati dalam keadaan mati jahiliyah. (HR. Bukhari dan Muslim)

Ubadah ibn ash-Shamit radhiyallahu 'anhu berkata: "Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memanggil kami lalu kami membaiat beliau. Di antara yang beliau tekankan kepada kami adalah:

أَنْ بَايَعَنَا عَلَى السَّمْعِ وَالطَّاعَةِ فِي مَنْشَطِنَا وَمَكْرَهِنَا وَعُسْرِنَا وَيُسْرِنَا وَأَثَرَةٍ عَلَيْنَا، وَأَنْ لاَ نُنَازِعَ الأَمْرَ أَهْلَهُ إِلاَّ أَنْ تَرَوْا كُفْرًا بَوَاحًا عِنْدَكُمْ مِنَ اللَّهِ فِيهِ بُرْهَانٌ

Agar kami membaiat untuk mendengar dan taat dalam keadaan kami suka maupun benci, dalam kesulitan maupun kemudahan, dan saat hak kami dirampas, serta agar kami tidak merebut kekuasaan dari pemiliknya kecuali jika kalian melihat kekafiran yang nyata di mana kalian memiliki bukti yang jelas dari Allah tentangnya. (HR. Bukhari dan Muslim)

Bahkan kekafiran yang nyata pun tidak serta merta membolehkan pemberontakan kecuali jika aman dari fitnah dan tersedianya kemampuan.

Imam An-Nawawi rahimahullah berkata dalam Syarh Hadits Ubadah:

"Makna hadits ini: Janganlah kalian merebut kekuasaan dari para waliyul amri dan jangan menentang mereka kecuali jika kalian melihat kemungkaran yang nyata dari mereka berdasarkan kaidah-kaidah Islam. Jika kalian melihatnya, ingkarilah dan katakanlah kebenaran di mana pun kalian berada. Adapun memberontak dan memerangi mereka adalah haram berdasarkan ijma' kaum muslimin, meskipun mereka fasik dan zalim."

Ibnu At-Tin mengutip dari Ad-Dawudi yang berkata:

"Pendapat para ulama mengenai penguasa zalim adalah: Jika mampu mencopotnya tanpa menimbulkan fitnah dan kezaliman maka wajib dilakukan, jika tidak maka wajib bersabar."

  1. Ketiadaan Program Kerja yang Menyerap Energi Aktivis (Ghiyab al-Baramij)

Jiwa manusia jika tidak disibukkan dengan kebenaran, ia akan menyibukkan diri dengan kebathilan.

Inilah rahasia mengapa Islam melingkupi seorang muslim dengan program amalan harian, mingguan, bulanan, tahunan, dan seumur hidup. Jikalau ia menjaganya, setiap langkahnya akan presisi dan usahanya membuahkan hasil.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَا مِنْ أَمِيرٍ يَلِي أَمْرَ الْمُسْلِمِينَ ثُمَّ لاَ يَجْهَدُ لَهُمْ وَيَنْصَحُ إِلاَّ لَمْ يَدْخُلْ مَعَهُمُ الْجَنَّةَ

Tidak ada seorang pemimpin yang memegang urusan kaum muslimin lalu ia tidak bersungguh-sungguh dan tidak menasihati mereka, melainkan ia tidak akan masuk surga bersama mereka. (HR. Muslim).

  1. Bekerja Terpisah dari Orang yang Berpengalaman (Al-‘Amal Ba’idan ‘an Dzawi al-Khibrah)

Manusia dilahirkan dalam keadaan tidak mengetahui apa pun sebagaimana firman-Nya: "Dan Allah mengeluarkan kamu dari perut ibumu dalam keadaan tidak mengetahui sesuatu pun...". Kemudian ia belajar melalui pendengaran, penglihatan, dan hati. Pembelajaran tidak hanya dari buku, melainkan dari pengalaman.

Aktivis yang bijak adalah yang memanfaatkan pengalaman pendahulunya demi menghemat tenaga, waktu, dan biaya. Jika ia bersikap sombong dan bekerja menjauhi orang-orang berpengalaman, ia pasti terjatuh dalam kesalahan, dan tergesa-gesa adalah salah satunya.

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

لاَ يُلْدَغُ الْمُؤْمِنُ مِنْ جُحْرٍ مَرَّتَيْنِ

Seorang mukmin tidak akan dipatuk dari satu lubang yang sama dua kali. (HR. Bukhari dan Muslim).

  1. Kelalaian terhadap Ketetapan Allah (Sunnatullah) pada Alam, Jiwa, dan Syariat

Pada Alam: Diciptakannya langit dan bumi dalam enam masa, serta pertumbuhan makhluk secara bertahap, padahal Allah mampu menciptakannya dengan firman "Kun" (Jadilah).

Pada Jiwa: Jiwa tidak akan berkorban dan memberi kecuali jika dibina dari dalam dan dibersihkan dari kepentingan pribadi: "Sungguh beruntung orang yang menyucikannya, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya". Hal itu membutuhkan waktu dan proses.

Pada Syariat: Diharamkannya khamr dan riba secara bertahap. Jika da'i melupakan sunnatullah ini, ia akan terjatuh pada ketergesaan.:

  1. Melupakan Tujuan Utama (Al-Ghayah) yang Dicari Seorang Muslim

Tujuan utama seorang muslim adalah meraih keridhaan Allah dengan berkomitmen pada manhaj-Nya, istiqamah hingga wafat, serta ikhlas.

"Barangsiapa mengharapkan perjumpaan dengan Rabbnya, maka hendaklah ia mengerjakan kebajikan dan janganlah mempersekutukan seorang pun dalam beribadah kepada Rabbnya." (QS. Al-Kahf: 110)

Inilah hal-hal (muqaddimah) yang akan ditanyakan Allah pada hari kiamat. Adapun hasil (nata'ij) berupa kekuasaan (tamkin) berada di tangan Allah. Jika da'i melupakan hakikat ini, ia pasti akan tergesa-gesa..

  1. Lalai terhadap Sunnatullah atas Pelaku Maksiat dan Pendusta

Sunnatullah atas mereka adalah memberikan penangguhan waktu (imhal) dan tidak menyegerakan azab: "Dan Aku memberi penangguhan kepada mereka; sungguh rencana-Ku sangat tangguh." Namun jika Allah telah menghukum mereka, Dia tidak akan melepaskannya: "Dan begitulah azab Rabbmu apabila Dia mengazab (penduduk) negeri-negeri yang berbuat zalim. Sungguh, azab-Nya sangat pedih lagi keras.".

  1. Bergaul dengan Orang-Orang yang Gemar Tergesa-gesa

Tabiat itu menular (al-ithba' yu'di). Berteman erat dengan pribadi yang impulsif dan emosional akan menyeret seorang da'i untuk mengadopsi pola pikir dan tindakan yang sama.

Keenam: Terapi/Solusi Mengobati Tergesa-gesa (Al-Isti’jal)

Setelah memahami faktor-faktor pemicunya, solusi untuk mengobati dan membebaskan diri dari penyakit tergesa-gesa dapat dirangkum ke dalam langkah-langkah berikut:

  1. Mencermati Akibat dan Dampak Buruknya

Merenungkan kembali kehancuran, kerugian, dan dampak fatal yang ditimbulkan oleh tindakan terburu-buru akan meredam gejolak jiwa serta mendorong seorang da'i untuk bertindak lebih tenang dan berhati-hati.

  1. Tadabbur Al-Qur'an secara Berkelanjutan

Rutin mempelajari Al-Qur'an memberikan pemahaman yang mendalam mengenai sunnatullah—baik dalam alam semesta, pembinaan jiwa, penetapan syariat, maupun sunnah-Nya terhadap para pelaku maksiat (QS. Al-Anbiya': 37, QS. Al-Isra': 9). Pemahaman ini menjadi penenang jiwa agar tidak melangkahi proses.

  1. Mengkaji Sunnah dan Sirah Nabawiyah

Mendalami perjalanan hidup Rasulullah  membukakan mata tentang betapa besarnya cobaan dan penderitaan yang beliau hadapi. Beliau tetap bersabar, menahan diri, dan tidak tergesa-gesa hingga Allah memberikan kemenangan (QS. Al-Ahzab: 21).

  1. Membaca Biografi dan Sejarah Para Salaf (Kutub at-Tarajim)

Mempelajari bagaimana para ulama dan tokoh dakwah masa lalu menghadapi kebatilan dengan ketenangan dan perhitungan matang hingga meraih kemenagan (tamkin). Meneladani pola pikir mereka adalah jalan keberhasilan:

Menyerupailah kalian kepada mereka jika belum bisa menjadi seperti mereka, sesungguhnya menyerupai orang-orang mulia adalah keberuntungan.

  1. Bekerja di Bawah Bimbingan Tokoh Berpengalaman

Melibatkan diri dan berdiskusi dengan senior yang matang dalam medan dakwah akan menjadikan setiap langkah lebih terukur, efisien dari segi waktu dan tenaga, serta menghindarkan dari lubang kesalahan yang sama (HR. Bukhari & Muslim: "Seorang mukmin tidak jatuh ke lubang yang sama dua kali").

  1. Mengikuti Program Kerja (Manhaj) yang Jelas dan Terstruktur

Bergerak melalui kurikulum dan tahapan pembinaan (tarbiyah) yang terencana dapat menyalurkan energi keimanan secara positif, menjawab berbagai keraguan, serta menaikkan kapasitas diri bertahap.

  1. Memahami Strategi dan Makar Musuh secara Presisi

Penguasaan terhadap peta kekuatan dan konspirasi musuh mencegah da'i dari tindakan reaktif atau emosional, sehingga setiap keputusan diambil berdasarkan objektivitas dan kearifan (bashirah).

  1. Tidak Gentar terhadap Hegemoni Musuh

Cengkeraman dan keperkasaan musuh dapat sirna dalam sekejap dengan izin Allah (QS. Ali 'Imran: 196-197, QS. Al-Anfal: 36). Fokus utama da'i adalah menegakkan Islam pada diri sendiri dan lingkungan sekitar, bukan mencemaskan kekuatan musuh (QS. Muhammad: 7, QS. An-Nur: 55).

  1. Melatih dan Tempa Diri (Mujahadah an-Nafs)

Sifat tenang (al-hilm) dan sabar harus dilatih secara terus-menerus. Keberanian sejati bukanlah keperkasaan fisik sesaat, melainkan ketahanan jiwa dalam menanggung beban panjang.

  1. Menjaga Fokus pada Tujuan Utama (Al-Ghayah)

Selalu mengingat bahwa tujuan akhir hidup muslim adalah meraih keridhaan Allah, bukan memetik hasil kemenangan semata. Tugas da'i adalah menyempurnakan ikhtiar (sebab/muthalabat), sedangkan hasil (akibat) adalah milik Allah.

  1. Memahami Fikih Mencegah Kemungkaran (Fiqh Taghyir al-Munkar)

Memegang teguh kaidah bahwa mengubah kemungkaran tidak boleh melahirkan kemungkaran yang lebih besar. Pemahaman ini menghindarkan da'i dari jebakan tindakan radikal/konyol yang justru merugikan dakwah.

Seberapa jauh Anda merasa dinamika gerakan atau aktivitas yang Anda jalani saat ini telah menerapkan prinsip-prinsip ketenangan dan fikih tahapan ini?

Ketujuh: Ketergesaan dan Manhaj Gerakan Islam Modern

Ketergesaan (al-isti’jal) dalam arti negatif yang telah dijelaskan sama sekali tidak ada dalam manhaj (metode) Gerakan Islam modern. Sifat ini ditolak secara tegas. Kutipan berikut—yang merupakan bagian resmi dari manhaj gerakan tersebut—menjadi buktinya:

"Wahai kaum muslimin, khususnya para pemuda yang bersemangat dan tergesa-gesa di antara kalian:

Dengarkanlah dariku satu kata yang keras dan bergema dari atas mimbar dalam muktamar kalian yang agung ini: Sesungguhnya jalan kalian ini telah digariskan langkah-langkahnya dan telah ditetapkan batasan-batasannya. Aku tidak akan menyelisih batasan-batasan ini, yang mana aku telah meyakini sekeyakin-yakinnya bahwa ia adalah jalan paling selamat untuk mencapai tujuan.

Ya, boleh jadi ini adalah jalan yang panjang, tetapi tidak ada jalan lain selainnya. Ketokohan dan sifat kepemimpinan (al-rajulah) hanya akan tampak dengan kesabaran, ketekunan, kesungguhan, dan kerja keras yang tiada henti.

Barangsiapa di antara kalian yang ingin memetik buah sebelum matang atau memetik bunga sebelum waktunya, maka aku sama sekali tidak bersamanya dalam hal itu. Lebih baik baginya untuk berpaling dari dakwah ini menuju dakwah yang lain.

Namun barangsiapa yang bersabar bersamaku hingga benih ini tumbuh, pohonnya bersemi, buahnya matang, dan tiba waktu panennya, maka pahalanya di sisi Allah. Pahala orang-orang yang berbuat baik tidak akan luput dari kita dan darinya: bisa berupa kemenangan dan kejayaan, atau syahid dan kebahagiaan.

Wahai kaum muslimin:

Mengertilah! Kendalikanlah gejolak emosi dengan pandangan akal yang jernih, dan terangilah pancaran akal dengan kobaran emosi! Ikatlah imajinasi dengan kebenaran realitas, dan temukanlah hakikat di bawah cahaya imajinasi yang berkilauan. Janganlah kalian cenderung secara berlebihan hingga membiarkan perkara gantung tanpa kejelasan. Jangan menentang hukum alam (sunnatullah di semesta) karena ia pasti menang, tetapi kuasailah, manfaatkanlah, alirkan arusnya, dan gunakan sebagiannya untuk menopang sebagian yang lain, lalu nantikanlah saat kemenangan—dan ia tidaklah jauh dari kalian.

Wahai kaum muslimin:

Sesungguhnya kalian hanya mengharapkan wajah Allah, pahala, dan keridhaan-Nya, dan hal itu dijamin bagi kalian selama kalian ikhlas. Allah tidak membebani kalian dengan hasil dari amalan, melainkan membebani kalian dengan kesungguhan niat dan kebaikan persiapan.

Setelah itu, jika kita bersalah, kita mendapat satu pahala sebagai pekerja yang berijtihad. Jika kita benar, kita mendapat dua pahala sebagai orang yang beruntung dan tepat. Pengalaman masa lalu dan masa kini telah membuktikan bahwa tidak ada kebaikan kecuali pada jalan kalian, tidak ada hasil kecuali dengan rencana kalian, dan tidak ada kebenaran kecuali pada apa yang kalian ketahui. Maka jangan pertaruhkan kerja keras kalian, jangan jadikan simbol keberhasilan kalian sebagai bahan perjudian! Bekerjalah, Allah bersama kalian dan tidak akan mengurangi amalan kalian. Kemenangan adalah milik mereka yang bekerja:

'Dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.' (QS. Al-Baqarah: 143)"

Kedelapan: Posisi Da'i antara Kelesuan (Futur) dan Ketergesaan (Isti’jal)

Dari seluruh pembahasan mengenai futur (kelesuan) dan isti’jal (ketergesaan), terukirlah posisi ideal seorang da'i: Posisi Pertengahan (Wasathiyyah).

  • Sikap terhadap Proses (Al-Muqaddimat): Da'i ibarat lebah di dalam sarangnya—penuh energi, aktif, rajin, tidak pernah lalai atau menunda-nunda sekejap pun, serta memanfaatkan setiap kesempatan yang ada.
  • Sikap terhadap Hasil (An-Nata'ij): Da'i bersikap tenang, sabar, bertahap, dan tidak reaktif. Ia tidak menuntut hasil sebelum waktunya agar tidak terhalang dari mendapatkan buah tersebut.

Gerakan Islam modern telah memetakan posisi ini melalui bait kata yang indah:

"Sesungguhnya medan kata-kata tidak sama dengan medan khayalan; medan kerja tidak sama dengan medan kata-kata; medan jihad tidak sama dengan medan kerja; dan medan jihad yang benar tidak sama dengan medan jihad yang salah.

Sangat mudah bagi banyak orang untuk berkhayal, tetapi tidak semua khayalan yang melintas di pikiran bisa diubah menjadi kata-kata. Banyak orang mampu berkata-kata, tetapi hanya sedikit dari mereka yang bertahan ketika masuk ke medan kerja.

Banyak dari yang sedikit itu mampu bekerja, tetapi hanya sedikit dari mereka yang sanggup memikul beban jihad yang berat dan melelahkan. Dan para pejuang ini—meski mereka adalah kelompok pilihan (al-shafwah)—bisa saja salah jalan dan tidak mencapai target jika tidak disertai pertolongan Allah. Kisah Thalut adalah pelajaran nyata untuk hal ini.

Maka siapkanlah diri kalian! Sambutlah diri kalian dengan pembinaan yang benar (tarbiyah shahihah), pengujian yang teliti, dan ujilah jiwa itu dengan kerja keras yang tidak disukainya. Sapihlah jiwa dari syahwat, kebiasaan, dan kesenangannya... Jangan sia-siakan satu menit pun tanpa amalan! Di situlah pertolongan, dukungan, dan kemenangan Allah akan datang."

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat