Al-Azmu Li Nashril Islam
AZAM MEMBELA ISLAM
Setiap
masyarakat memiliki nilai-nilai yang diyakini bersama. Kedudukan nilai dalam
sebuah masyarakat tidak hanya sebagai pemandu kehidupan tetapi juga sebagai
pemberi arti bagi amal-amal yang dilakukan anggotanya. Nilai dapat
mengharmonikan pluralitas yang terdapat dalam sebuah masyarakat menjadi sebuah
panorama kehidupan yang indah. Oleh karena itu nilai-nilai selalu dipandang
sebagai sesuatu yang amat penting, bahkan dijunjung tinggi oleh semua anggota
sebuah masyarakat.
Oleh
karena posisi nilai dalam sebuah masyarakat demikian pentingnya maka ia selalu
menjadi penggerak motivasi dan melekat kuat dalam kehidupan. Ia menjadi tradisi
yang tidak dapat dipisahkan dari totalitas hidupnya. Nilai yang sudah tertanam
dalam jiwa dan mentradisi itu menjadi tenaga (energi) yang mendorong seseorang
untuk selalu bertekad (azam) dalam menegakkan dan bahkan pembelanya.
Dalam
konteks kaum muslimin nilai-nilai yang dimaksud adalah Islam, din yang
mengandung tata nilai yang mengatur seluruh dimensi kehidupan. Setiap muslim
seyogianya tidak hanya meyakini bahwa seluruh dimensi ajaran atau nilai-nilai
Islam benar dan harus ditegakkan dalam seluruh aspek keridupannya, tetapi juga
harus dibela agar Islam dapat tegak berada di atas agama-agama yang lain.
هُوَ
الَّذِي أَرْسَلَ رَسُولَهُ بِالْهُدَىٰ وَدِينِ الْحَقِّ لِيُظْهِرَهُ عَلَى
الدِّينِ كُلِّهِ وَلَوْ كَرِهَ الْمُشْرِكُونَ
"Dialah
yang telah mengutus Rasul-Nya dengan (membawa) petunjuk (al-Qur`an) dan agama
yang benar untuk memenangkan-Nya atas segala agama sekalipun orang-orang
musyrik tidak menyukai." (QS, At-Taubah: 33)
Bagi
seorang muslim azam (tekad) menegakkan dan membela Islam bukan sekadar
kewajiban formal melainkan sebuah refleksi psikologis yang memantul keluar
menjadi amal-amal nyata bahkan menjadi perilaku lahiriahnya yang otentik.
Refleksi psikologis itu merupakan pancaran ketulusan keyakinannya terhadap
kebenaran Islam dalam seluruh dimensinya.
Sepanjang
sejarah da'wah ketulusan keyakinan seorang da'i terhadap da'wah yang diembannya
selalu menjadi energi yang dapat membangkitkan kemauan kuatnya untuk
mengamalkan, menda'wahkan, dan memenangkan Islam dalam percaturan kehidupan
dunia. Al-Jurjani dalam kitab al-Ta'rifat menyebutkan bahwa azam
adalah kemauan kuat.
Kemauan
kuat atau azam inilah yang memastikan seseorang tidak akan melalaikan
perintah Allah dan tidak ragu menegakkan dan membela agama-Nya. Sehubungan
dengan kasus Nabi Adam AS, Allah Subhanahu wa Ta'ala berfirman:
وَلَقَدْ
عَهِدْنَا إِلَىٰ آدَمَ مِنْ قَبْلُ فَنَسِيَ وَلَمْ نَجِدْ لَهُ عَزْمًا
"Dan
sesungguhnya telah Kami perintahkan kepada Adam dahulu, maka lupa (akan
perintah itu), dan tidak Kami dapati padanya kemauan yang kuat." (QS,
Thaha: 115)
Sesungguhnya
ada dua kondisi psikologis lain yang dapat menyempurnakan azam seorang
muslim dalam mengimani, mengamalkan, menda'wahkan, dan dalam membela Islam.
Yaitu sabar dan tawakkal. Dalam waktu yang bersamaan sabar dan tawakkal
seseorang merupakan refleksi kekokohan azamnya.
Sabar
dan tawakkal dalam konteks perjuangan membela Islam ibarat dua sayap yang dapat
menyapu bersih segala bentuk keraguan menerjuni medan laga. "Aku
bersumpah, wahai diriku, kau harus terjun ke medan laga." Demikian
Abdullah bin Rawwahah ketika mendapati dirinya diserang kegamangan dalam
menghadapi kerasnya perjuangan.
Selanjutnya
kedua sayap itu siap menerbangkan azam seseorang ke alam kemenangan.
Sejarah selalu membuktikan kekuatan azam sebuah kelompok, betapapun kecilnya,
dapat mengalahkan kelompok besar.
Sabar
adalah kondisi psikologis seseorang yang tidak mudah mengeluh dalam menghadapi
sesuatu yang tidak disukainya. Ada tiga keadaan yang menuntut kesabaran
seseorang, yaitu dalam ketaatan kepada Allah, dari menghindari maksiat, dan
ketika ditimpa musibah. Sedangkan tawakkal adalah sikap kebergantungan
seseorang kepada Dzat Yang Maha Kuasa. Maka inti tawakkal adalah penyandaran
hati hanya kepada Dzat Yang Maha Kuasa, yaitu Allah Subhanahu wa Ta'ala, tidak bergantung
kepada selain-Nya.
Hubungan
erat dan timbal balik antara sabar dan tawakkal dengan azam seseorang
dapat terlihat pada firman Allah berikut:
فَاصْبِرْ
كَمَا صَبَرَ أُولُو الْعَزْمِ مِنَ الرُّسُلِ وَلَا تَسْتَعْجِلْ لَهُمْ ۚ
كَأَنَّهُمْ يَوْمَ يَرَوْنَ مَا يُوعَدُونَ لَمْ يَلْبَثُوا إِلَّا سَاعَةً مِنْ
نَهَارٍ ۚ بَلَاغٌ ۚ فَهَلْ يُهْلَكُ إِلَّا الْقَوْمُ
الْفَاسِقُونَ
"Maka
bersabarlah kamu sebagaimana orang-orang yang mempunyai keteguhan hati (ulul
'azmi) dan rasul-rasul telah bersabar dan janganlah kamu meminta disegerakan
(azab) bagi mereka ..." (QS, al-Ahqaf: 35)
فَبِمَا
رَحْمَةٍ مِنَ اللَّهِ لِنْتَ لَهُمْ ۖ وَلَوْ كُنْتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ
لَانْفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ ۖ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ
وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ ۖ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللَّهِ ۚ
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
"Maka
disebabkan rahmat dari Allahlah kamu berlaku lemah lembut terhadap mereka.
Sekiranya kamu bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan
diri dari sekelilingmu. Karena itu maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi
mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian apabila
kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya
Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal." (QS, Ali 'Imran: 159)
Posisi
azam dalam perjuangan da'wah jelas sangat penting. Oleh karena itu upaya
membangun kemauan kuat di kalangan aktivis adalah bagian dari perjuangan itu
sendiri. Sepanjang sejarah da'wah pembangunan kemauan kuat menjadi pilar utama
pembentukan kader-kader yang siap terjun di medan perjuangan. Nabi Musa AS,
sebelum memberikan komando agar Bani Israel berani memasuki bumi yang
dijanjikan, selepas mereka terbebas dari kejaran Fir'aun dan pasukannya,
terlebih dahulu memberikan pengarahan kepada Bani Israel tentang pentingnya azam
dalam merealisasikan cita-cita. Firman Allah:
وَإِذْ
قَالَ مُوسَىٰ لِقَوْمِهِ يَا قَوْمِ اذْكُرُوا نِعْمَةَ اللَّهِ عَلَيْكُمْ إِذْ
جَعَلَ فِيكُمْ أَنْبِيَاءَ وَجَعَلَكُمْ مُلُوكًا وَآتَاكُمْ مَا لَمْ يُؤْتِ
أَحَدًا مِنَ الْعَالَمِينَ
"Ingatlah
ketika Musa berkata kepada kaumnya, "Wahai kaumku, ingatlah nikmat Allah
atas kamu, ketika Ia menjadikan di tengah kalian para Nabi dan Ia jadikan
kalian raja-raja (orang yang merdeka) dan Ia berikan kepadamu sesuatu yang
belum pernah diberikan kepada seorang pun di dunia. Wahai kaumku, masuklah ke
Tanah Suci yang telah dituliskan Allah atas kamu dan janganlah berbalik ke
belakang, nanti kamu menjadi orang-orang yang merugi." (QS, al-Ma`idah:
20)
Namun
orang-orang Yahudi, karena kedegilan yang melekat pada diri mereka, tidak mampu
menangkap makna pengarahan Nabi mereka. Apa yang terjadi sesudah itu
membuktikan bahwa kemauan kuat, himmah (cita-cita) yang tinggi, azam
yang membaja, dan tekad yang bulat menduduki posisi sentral dalam perjuangan
da'wah, bahkan dalam setiap amal. Rasulullah SAW menegaskan bahwa cita-cita
yang tinggi merupakan bagian dari iman.
Kenyataannya
Bani Israel tetap berada dalam keraguan, tidak memiliki azam, dan tekad
mereka lemah. Mereka lebih percaya kepada kekuatan materi yang tampil dalam
tubuh perkasa orang-orang Amalek yang telah lama menduduki tanah Palestina itu.
Mereka melupakan siapa yang menyuruh mereka memasuki tanah yang dijanjikan itu
dan yang telah memberikan jaminan kemenangan.
قَالُوا
يَا مُوسَىٰ إِنَّا لَنْ نَدْخُلَهَا أَبَدًا مَا دَامُوا فِيهَا ۖ فَاذْهَبْ
أَنْتَ وَرَبُّكَ فَقَاتِلَا إِنَّا هَاهُنَا قَاعِدُونَ
"Kami
berkata, "Hai Musa, kami tak akan memasukinya selama-lamanya selama mereka
ada di sana, maka pergilah engkau dan Tuhanmu, lalu berperanglah, karena kami
akan duduk-duduk." (QS, Al-Ma`idah: 24)
Dengan
demikian tingkat azam seseorang dapat menentukan tingkat kualitas
perjuangannya. Maka kekokohan azam seorang da'i dalam membela agamanya
menentukan kualitas dan nilai amal perjuangannya. Selanjutnya kekuatan azam
tersebut akan mendudukkan dirinya pada posisi terdepan dalam barisan mujahidin
dan layak memperoleh penghargaan.
Mereka,
orang-orang yang kualitas keazamannya tinggi, umumnya tidak banyak. Meski
demikian mereka dapat menggerakkan mesin kemenangan. Misalnya dalam deretan
nama-nama nabi kita kenal 5 nama yang diberi gelar ulul 'azmi. Mereka
adalah nabi Nuh, Ibrahim, Musa, Isa, dan Muhammad SAW.
Kaum
Hawariyyun, kaum Muhajirin dan Anshar adalah kelompok-kelompok yang memiliki
keazaman yang tinggi dalam membela agama mereka. Oleh karena itu sejarah
perjuangan mereka sempat diabadikan dalam al-Qur'an.
Oleh
karena azam untuk membela Islam merupakan bagian dari kondisi psikologis
muslim, maka kita perlu menciptakan kondisi psikologis yang memungkinkan azam
itu tumbuh subur dalam kalbu kita. Di sini kita perlu terus-menerus melakukan
dialog dengan diri sendiri dan memastikan bahwa diri kita tidak ragu untuk
memperjuangkan Islam.
Untuk
sampai pada kepastian itu hendaknya kita terlebih dahulu memahami arti
kehidupan kita di dunia ini. Sesungguhnya kehidupan di dunia adalah sebuah ibtila`(ujian).
Di sinilah kita diuji dan di sini pula ladang tempat penghimpunan bekal yang
menentukan nasib kita di akhirat nanti.
Oleh
karena itu aktivitas fisik dan psikis kita selama hidup di alam fana harus
sejalan dengan nilai-nilai yang telah kita yakini. Selanjutnya kita dituntut
memiliki kesadaran batin melalui serangkaian proses "introspeksi" dan
"interiorisasi" (takhliyah dan tahliyah) spiritualitas kita.
Dengan bersungguh-sungguh kita terus-menerus menerapkan metode-metode penyucian
jiwa yang dapat mengkristalkan/mengokohkan azam kita untuk membela Islam
dan mengantarkannya kepada kemenangan sejati.
Kesadaran
batin tersebut merupakan energi yang tertanam dalam diri kita. Dengan kesadaran
itu kita dapat melihat fenomena-fenomena kehidupan yang terpampang di hadapan
kita dan menumbuhkan kepercayaan pada diri kita. Selanjutnya dengan percaya
diri dan kemantapan kalbu kita melakukan mujahadah dalam menghadapi
berbagai godaan yang dapat menyeret kehidupan ke jurang kenistaan.
Dari
kesadaran batin itulah hendaknya logika dibangun. Logika yang sederhana, mudah
dicerna, dan sesuai dengan fitrah manusia. Logika yang sepenuhnya bersumber
dari kesadaran dan kebersihan kalbu, yaitu motif-motif dan emosi-emosi yang
paling dalam, dan dari penghayatan kita kepada nilai-nilai Islam. Logika yang
tidak berupa pandangan-pandangan akal yang sering menimbulkan kebingungan dan
kerancuan. Logika paling simple tetapi penuh makna, "Hidup mulia
atau mati syahid." Dengan logika itulah kita berazam. Wallahu A'lam.
Comments
Post a Comment