Hambatan-hambatan Dalam Dakwah dan Daiyah (1)

Pengantar Pertama

Di medan aktivitas Islam saat ini, terdapat berbagai problematika yang dihadapi oleh dakwah maupun para dai. Problematika di lingkungan keluarga dan masyarakat, problematika yang berkaitan dengan diri sendiri dan dorongan seksual, problematika dalam lingkup pengorganisasian (tanzhim) dan perencanaan (takhthith), serta problematika dalam ranah cara pandang (tasawwur) dan cara berpikir...

Problematika-problematika ini, beserta problematika lainnya, muncul—bahkan dipaksakan—oleh kondisi, situasi, dan iklim tidak islami yang dialami oleh dakwah dan para dai di tengah masyarakat-masyarakat yang telah menyimpang, yang tidak lagi memiliki hubungan dengan Islam melainkan sekadar hubungan pengakuan spontan yang diwariskan!!

Sementara itu, seorang dai terpaksa harus hidup di lingkungan seperti ini, karena lingkungan itulah satu-satunya medan kerjanya. Ia harus berinteraksi dengannya, memengaruhinya, serta tidak boleh terkontaminasi oleh noda-nodanya. Tugas yang sangat berbahaya dan krusial seperti ini menuntut para dai untuk mengambil seluruh sarana pencegahan, perlindungan, dan imunitas.

Begitu pula, menjadi kewajiban bagi "Dakwah" untuk bersikap sangat cermat, memiliki kesadaran yang sempurna, serta memberikan perhatian penuh dalam membentuk para dai dan anggotanya sesuai dengan kurikulum-kurikulum yang lurus dan kokoh. Kurikulum tersebut harus menempuh jalur realistis dalam membangun "Kepribadian Islam" (Asy-Syakhshiyyah Al-Islamiyyah); tidak boleh ada pengabaian (tafrith) maupun sikap berlebihan (ifrath), tidak boleh ada sikap terlalu mempermudah (tarakhkhus) maupun terlalu kaku (tazammut), serta tidak boleh ada sikap ekstrim (ghuluw) maupun meremehkan (tasahul), demi mewujudkan keseimbangan fitrah yang benar antara unsur-unsur kepribadian—baik aspek akal, jiwa, maupun jasmani.

Kontradiksi yang menakutkan antara pemikiran, nilai-nilai, akhlak, prinsip, dan cita-cita yang diyakini oleh "Dai", dengan realitas yang ada di masyarakat berupa manifestasi kejahiliyahan modern, merupakan faktor penyebab utama yang memicu munculnya berbagai masalah dan krisis dalam hidupnya. Dalam segala kondisi, merupakan kewajiban bagi "Dakwah" untuk terus mengawal sebab-sebab serta gejala-gejala dari problematika ini secara siaga dan sadar, diawali dengan diagnosis, kemudian dilanjutkan dengan solusi-solusi yang mendasar dan tepat, guna mengantisipasi dampak berupa trauma, penyimpangan, dan anomalitas dalam kehidupan pemuda muslim.

Sesungguhnya "Dakwah" harus memanfaatkan sejauh mungkin pengalaman-pengalaman dari penerapan praktis dalam perjalanannya demi menjamin pengembangan dan keselamatan kurikulum-kurikulumnya. Hal inilah yang mengharuskan ditempuhnya studi terhadap seluruh problematika yang dihadapi para dai dalam berbagai kondisi dan situasi...

Usaha yang sangat bersahaja ini, yang hari ini saya persembahkan ke hadapan "Dakwah dan Dai", tidak lain hanyalah sebuah upaya sederhana untuk mengajak para cendekiawan dan praktisi berpengalaman di medan Islam agar menyumbangkan tulisan mereka, sebagai rintisan untuk menyusun studi terperinci dan komprehensif yang membahas seluruh problematika yang dihadapi dakwah dan dai di era ini, dengan disertai solusi-solusi yang hendaknya diadopsi dan diterapkan...

Saya berharap mudah-mudahan telah menunaikan sebagian dari kewajiban ini, sebagai permohonan uzur kepada Allah. Dan Allah-lah Pelindung segala urusan serta Pemberi taufik. 

1387 H / 1967 M

Pengantar Kedua

Sejak seperempat abad yang lalu, gerakan Islam modern mengalami berbagai cobaan (mihnah) yang sangat dahsyat, yang di dalamnya gugur syahid demi syahid, serta mengorbankan harga yang sangat mahal dari keberadaan dan kehidupannya, tanpa mendapatkan hasil nyata yang sepadan sedikit pun?!

Bahkan yang lebih menyakitkan dari itu, gerakan Islam-lah yang menanam tetapi pihak lain yang memetik hasilnya... Gerakan Islam-lah yang membangun, tetapi pihak lain yang menguasai bangunan tersebut?!

Meskipun demikian, metode kerja gerakan Islam masih tetap sama seperti metode yang dipraktikkannya di bawah kondisi-kondisi yang kini tinggal sejarah... Bahkan, prapraktik metode tersebut pada hari ini—setelah terjadinya perubahan mendasar yang dialami kawasan ini—telah menjadi suatu bentuk bunuh diri dan kejahatan yang tidak boleh didiamkan!!

Fenomena-fenomena inilah yang menjadi pendorong utama yang menggerakkan saya untuk menyusun buku ini, baik bagian pertama maupun bagian keduanya, sebagai kontribusi dalam mengembangkan cara pandang terhadap hakikat aktivitas Islam, serta partisipasi untuk membawa gerakan Islam mencapai tingkat kesiapan berhadapan dengan kejahiliyahan hari ini beserta tantangan-tantangannya yang terus berlanjut.

Dan sesungguhnya Allah adalah Pemberi petunjuk bagi orang-orang yang beriman kepada jalan yang lurus. (QS. Al-Hajj: 54)

Fathi Yakan (Abu Bilal)

1390 H / 1970 M

Pembahasan

  • Gerakan Islam dalam Lintasan Empat Puluh Tahun
  • Mihnah (Ujian/Cobaan) dalam Kehidupan Dakwah dan Dai

Gerakan Islam dalam Lintasan Empat Puluh Tahun

  • Dalam Hal Kurikulum dan Metode
  • Dalam Hal Pengorganisasian dan Perencanaan
  • Dalam Hal Cara Pandang dan Pemikiran
  • Dalam Hal Evaluasi dan Penilaian

Sesungguhnya keterpaparan "Gerakan Islam" dalam beberapa tahun terakhir terhadap rentetan ujian (mihnah) dan kondisi-kondisi yang sangat kritis lagi berat, mengharuskan dilakukannya konsolidasi seluruh elemen pejuang di medan Islam di berbagai penjuru negeri Islam, untuk meninjau kembali "Jalur Eksperimental" (Al-Khathth At-Tajribi) yang telah dilalui oleh dakwah Islam dalam lintasan empat puluh tahun terakhir... Hal ini juga membebankan kewajiban kepada para pemimpin perjuangan Islam untuk mengevaluasi dengan penuh amanah dan keikhlasan terhadap simpanan produk Islam—baik secara pemikiran (fikri) maupun gerakan (haraki)—selama periode yang telah lalu, dengan segala kebaikan dan keburukan yang ada di dalamnya...

1. Dalam Hal Kurikulum dan Metode (Al-Manahij wa Al-Asalib):

Sesungguhnya metode-metode yang diadopsi oleh arus Islam sepanjang tahun-tahun yang lalu selalu membutuhkan penggalian dan pengembangan agar berada pada tingkat yang sejajar dengan cita-cita Islam serta setingkat dengan peristiwa dan kondisi yang mengelilinginya.

Kemudian, memperhatikan perbedaan-perbedaan alamiah yang beragam antara satu negara dengan negara lain, serta antara satu lingkungan dengan lingkungan lainnya, merupakan hal yang sangat penting dalam proses pengembangan ini...

Apa yang dianalogikan pada dakwah di suatu lingkungan tidak bisa begitu saja dianalogikan pada seluruh lingkungan... Dan apa yang diadopsi berupa kurikulum dan metode pada waktu dan tempat tertentu, tidak bisa diadopsi secara keseluruhan baik secara rinci maupun umum di setiap waktu dan tempat...

2. Dalam Hal Perencanaan dan Pengorganisasian (At-Takhthith wa At-Tanzhim):

Jika arus Islam membutuhkan pengembangan metode dan kurikulumnya, maka ia jauh lebih membutuhkan perhatian terhadap nilai perencanaan dan pengaruhnya dalam mengantarkan cita-cita Islam dan gerakan Islam menuju tujuan dan sasarannya.

Apabila yang kita maksud dengan perencanaan dan pengorganisasian adalah teori gerakan Islam dan metodenya dalam mengubah realitas kemanusiaan yang ada menuju realitas lain yang dicita-citakan, dengan segala konsekuensinya berupa pemahaman yang komprehensif dan cermat terhadap realitas yang ada, serta penilaian yang sadar terhadap kekuatan dan arus-arus yang hidup di dalamnya... Kemudian dilanjutkan dengan gambaran yang mendalam tentang realitas Islam yang dicita-citakan, serta sejauh mana kualifikasi dan potensi yang dibutuhkannya...

Maka yang ingin kami isyaratkan dengannya adalah bahwa kegagalan yang dialami oleh arus Islam, serta krisis (naksah) yang menimpa gerakan Islam, bersumber secara khusus dari tindakan sembrono (at-takhabbut) dalam cara kerja dan pengabaian terhadap sisi perencanaan...

Jika kita ingin bersikap jujur dalam menyelesaikan masalah-masalah kita, serta berhenti sejenak pada kesalahan-kesalahan kita demi menjaga keberlanjutan manfaat dari pengalaman di masa kini dan masa depan, maka kita dapat mengatakan bahwa "Sifat Dangkal" (as-sathhiyyah) dalam menentukan tujuan, membuat rancangan, serta mengukur dimensi-dimensi kerja adalah salah satu penyakit yang harus disembuhkan.

Jika—secara andaikan—sikap dangkal dapat dianggap sebagai "Tawakal" pada lingkungan-lingkungan yang masih primitif dan lugu, maka sikap tersebut tidak dapat dianggap melainkan sebagai "Tawakul" [pasrah diri tanpa usaha] pada masyarakat-masyarakat yang berperadaban dan maju.

Jika gerakan-gerakan partai politik selalu bersikeras menyertakan inti dari studi dan pengalaman mereka ke dalam rencana-rencana mereka secara berkelanjutan, maka kepedulian Gerakan Islam seharusnya jauh lebih kuat, karena ia adalah dakwah kebenaran, petunjuk, dan cahaya...

Dalam konteks pembicaraan mengenai pentingnya perencanaan ini, saya ingin mengisyaratkan—meskipun secara singkat—kepada "Sifat Dangkal" yang dialami oleh gerakan dalam lingkup cara pandang (tasawwur) dan perencanaan (takhthith)...

Di hadapan kita saat ini terdapat dua pertanyaan yang jawaban atas keduanya membentuk bagian penting dari cara pandang dan penilaian kita terhadap hakikat aktivitas Islam, tujuan, serta dimensi-dimensinya.

Pertanyaan Pertama:

Apakah dakwah kepada Islam merupakan proses penambalan parsial (tarqi' juz'i), ataukah ia merupakan upaya merobohkan dan membangun; yaitu merobohkan kejahiliyahan dengan segala bentuk dan rupanya, serta membangun masyarakat Islam dengan seluruh pilar dan karakteristiknya? Jika jawabannya adalah yang kedua, maka mampukah kurikulum-kurikulum kita mengemban tanggung jawab yang sangat besar dan berat ini...?

Pertanyaan Kedua:

Jika dakwah kita bertujuan untuk memulai kembali kehidupan Islam yang sahih di seluruh ufuk dan dimensinya... Lantas bagaimana kita menjelaskan tuntutan kita—kadang-kadang—kepada para penguasa dan pemerintah selain kita untuk mewujudkan keinginan kita dalam pemerintahan, padahal pada dasarnya kita tidak beriman sama sekali terhadap gunanya tuntutan tersebut, baik dari dekat maupun dari jauh?

Sesungguhnya keinginan gerakan—setiap gerakan—untuk menangani sendiri pelaksanaan program-programnya dan mewujudkan tujuan-tujuannya adalah logika lurus yang hendaknya bersumber darinya dan diadopsi oleh Gerakan Islam... Sama sekali bukan bagian dari keikhlasan dan ketulusan (at-tajarrud) jika ia enggan menanggung beban kekuasaan dan pelaksanaan... Dunia dan sejarah tidak pernah mengenal satu pun gerakan pemikiran (harakah 'aqa'idiyyah) yang menyerahkan hasil perjuangan dan pengorbanannya kepada pihak lain yang tidak beriman kepada tujuan-tujuannya serta tidak sejalan dengannya di jalan perjuangan dan pengorbanan...

Revolusi Prancis—sebagai contoh—merupakan salah satu cita-cita yang diperjuangkan oleh (Rousseau, Voltaire, Montesquieu...); Kudeta Komunis merupakan buah dari rencana yang disusun oleh (Marx dan Lenin)... Dan Nazisme Jerman tidak akan pernah muncul melainkan di tanah yang telah ditaklukkan oleh pemikiran (Hegel, Fichte, Goethe, dan Nietzsche).

3. Dalam Hal Cara Pandang dan Pemikiran (Fi At-Tasawwur wa Al-Afkar):

Kebutuhan arus Islam terhadap "Kesatuan Subansi Pemikiran" (Wahdah Al-Muhtawa Al-Fikri) tidak berkurang tingkat kepentingannya dibandingkan dengan kebutuhan-kebutuhan mendasar lainnya. Dan yang saya maksud dengan "Kesatuan Subtansi Pemikiran" adalah kaidah-kaidah fikih (al-qawa'id al-fiqhiyyah) yang mengatur sikap-sikap gerakan serta menentukan pandangan dan konsep-konsepnya dalam setiap urusan (baik akidah, sosial, ekonomi, maupun politik).

Di sini saya ingin menarik perhatian pada pentingnya membedakan antara "kejenuhan/kepadatan" (tukhamah) perpustakaan Islam dengan karya-karya dan karangan-karangan Islam, dengan "kemiskinan" (faqr) Gerakan Islam terhadap landasan-landasan yang diadopsi sebagai dasar penetapan hukum (tasyni') bagi sistem-sistem Islam...

Selanjutnya, saya tidak ingin ucapan saya ini dipahami sebagai ajakan untuk membatasi cakrawala berpikir... Pada tingkat individu, biarlah pintu ijtihad tetap terbuka lebar-lebar bagi para peneliti dari kalangan ahli spesialis. Adapun pada tingkat gerakan (al-msatawa al-haraki), maka pengadopsian konsep-konsep syar'i yang bersatu oleh dakwah Islam merupakan hal zaruri yang harus diwujudkan.

Sesungguhnya banyak masalah dan urusan yang dihadapi oleh Gerakan Islam dalam perjalanannya memiliki berbagai pandangan dan pendapat... Dan pengadopsian pilihan (at-tabanni) [yaitu memilih satu pendapat hukum untuk dijadikan regulasi resmi gerakan] merupakan jalan terbaik untuk membawa dakwah keluar dari kecemasan perselisihan dan kesamarannya menuju kejelasan pemikiran dan kesatuannya.

4. Dalam Hal Evaluasi dan Penilaian (Fi At-Taqyim wa At-Taqdir):

Di antara hal terburuk yang menimpa arus Islam adalah sikap meremehkan dari para pengusungnya serta ketidakmampuan mereka dalam memperhitungkan bobot pertarungan pemikiran dan politik yang mereka jalani... Saya tidak menemukan penyebab bagi fenomena ini melainkan salah satu dari dua alasan berikut:

Pertama: Adanya penilaian yang "berlebihan" dari arus Islam terhadap kekuatan dan potensinya sendiri, sehingga membuatnya memandang remeh musuh-musuh dan lawannya... Hal inilah yang menyebabkan kekalahan pasukan kaum muslimin dalam Perang Hunain:

...dan (ingatlah) perang Hunain, yaitu di waktu kamu merasa bangga karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun, dan bumi yang luas itu telah terasa sempit olehmu, kemudian kamu lari berpaling ke belakang. (QS. At-Taubah: 25)

Kedua: Atau hal itu merupakan penyimpangan dari bentuk pasrah diri tanpa usaha (tawakul) yang tidak memberikan bobot penilaian pada persiapan material. Hal inilah yang diingkari oleh ayat Al-Qur'an yang mulia secara tegas melalui seruannya untuk mengambil dan menambah persiapan tersebut:

Dan siapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kamu sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat untuk berperang (yang dengan persiapan itu) kamu menggentarkan musuh Allah dan musuhmu... (QS. Al-Anfal: 60)

Merupakan suatu kesalahan jika dikatakan bahwa Gerakan Islam memiliki potensi yang sedikit jika dibandingkan dengan gerakan-gerakan lainnya... Karena selain merupakan arus yang paling dekat dengan fitrah masyarakat luas, dan selain ruang geraknya jauh lebih luas daripada ruang gerak pihak lain... potensi internal yang dimilikinya secara pasti sangat memadai. Akan tetapi, ketiadaan perencanaan dan koordinasi telah menyempitkan ruang pemanfaatan potensi-potensi ini, bahkan seiring berjalannya waktu dapat menyebabkan kesia-siaannya...

Kini telah menjadi hal yang mustahil bagi Gerakan Islam untuk terus bertahan dalam kondisinya yang sekarang. Sebab, Islam pada hari ini di setiap tempat sedang menghadapi pertaruhan nasib yang sama... Dan setiap penundaan atau kelalaian dalam membiarkan gerakan tetap dalam bentuk seperti ini, dipastikan akan berdampak buruk pada Islam itu sendiri.

 

Mihnah [Ujian/Cobaan Berat] dalam Kehidupan Dakwah dan Da'i

  • Madrasah Mihnah (Sekolah Ujian Berat)
  • Beberapa Potret Ujian Orang-Orang Terdahulu
  • Mihnah Antara Masa Lalu dan Masa Kini
  • Bagaimana Kita Menghadapi Mihnah

Dapat dikatakan bahwa mihnah [ujian/cobaan berat] merupakan salah satu fenomena yang senantiasa menyertai Pergerakan Islam (al-harakah al-islamiyyah), baik di masa klasik maupun modern.

Sebab, Islam adalah sebuah dakwah pembangkangan (resistensi)... resistensi terhadap segala bentuk dan manifestasi kehidupan jahiliah... resistensi terhadap adat istiadat jahiliah... resistensi terhadap pemikiran-pemikiran jahiliah... dan resistensi terhadap sistem serta tata hukum jahiliah.

Karakteristik khusus yang dimiliki Islam inilah yang menjadikan Pergerakan Islam paling rentan diterpa berbagai ujian berat. Akibatnya, konsep mihnah di dalam Pergerakan Islam memiliki makna tersendiri yang tidak disamai oleh gerakan-gerakan partai maupun politik lainnya.

Mihnah Adalah Proses Pendidikan dan Pembersihan Jiwa (Penyaringan)

Mihnah merupakan salah satu faktor terpenting dalam pembentukan (takwin) dan penyaringan (ikhtiyar) di dalam Islam. Pembentukan secara teoritis mungkin tidak akan bernilai apa pun jika tidak disertai oleh faktor-faktor kesulitan dan cobaan (bala'). Kecenderungan jiwa manusia yang menyukai keselamatan dan enggan menghadapi risiko, sering kali mengharuskan jiwa tersebut dihadapkan pada berbagai kesulitan dan hal-hal yang tidak disukai, agar ia memperoleh imunitas dan kekuatan yang memungkinkannya untuk bertahan di hadapan berbagai bencana dan musibah.

Bahkan iman itu sendiri membutuhkan mihnah untuk menguji kedalamannya dan mengetahui sejauh mana kadarnya. Iman yang kuat dan menghujam dalam lah yang mampu bertahan di saat-saat yang sulit. Adapun iman yang sakit dan lemah, akan segera terbongkar dan retak oleh berbagai ujian.

Maha Benar Allah Ta'ala ketika berfirman:

"Di antara manusia ada yang berkata, 'Kami beriman kepada Allah.' Namun, apabila dia disakiti di jalan Allah, dia menganggap fitnah manusia itu sebagai azab Allah. Sungguh, jika datang pertolongan dari Tuhanmu, niscaya mereka akan berkata, 'Sesungguhnya kami bersama kamu.' Bukankah Allah lebih mengetahui apa yang ada di dalam dada sejagat raya? Allah pasti mengetahui orang-orang yang beriman dan pasti mengetahui orang-orang munafik." (QS. Al-'Ankabut: 10–11)

Oleh karena itu, setiap pengakuan harus memiliki bukti. Iman adalah sebuah pengakuan yang membutuhkan bukti. Keteguhan di saat-saat sulit merupakan salah satu manifestasi dari iman tersebut, sekaligus bukti keberadaan dan keteguhannya:

"Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji? Sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka. Maka, Allah pasti mengetahui orang-orang yang jujur dan pasti mengetahui orang-orang yang dusta." (QS. Al-'Ankabut: 2–3)

Potret Ujian Orang-Orang Terdahulu

Demikianlah Sunnatullah telah menetapkan bahwa kebenaran (al-haqq) akan senantiasa berada dalam pertarungan abadi melawan kebatilan (al-bathil). Setiap kali cahaya kebenaran memancar, laba-laba kegelapan malam saling memanggil untuk memadamkannya:

"Bahwa ketika hamba Allah (Nabi Muhammad) berdiri menyembah-Nya (berdakwah), mereka (berkumpul) berdesak-desakan mengeroyoknya. Katakanlah (Nabi Muhammad), 'Sesungguhnya aku hanya menyembah Tuhanku dan aku tidak mempersekutukan sesuatu pun dengan-Nya.'" (QS. Al-Jinn: 19–20)

"Mereka hendak memadamkan cahaya Allah dengan mulut (petuah-petuah) mereka, melainkan Allah tetap menyempurnakan cahaya-Nya meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya." (QS. As-Saff: 8)

Sejak penciptaan awal... dan kenabian pertama... sejak kebaikan dilahirkan dan kejahatan ada... pertarungan sengit dan tajam terus terjadi di antara keduanya. Fakta yang terus berulang secara konsisten dan tampak dengan sangat jelas adalah bahwa kebenaran selalu meraih kemenangan, sedangkan kebatilan selalu berakhir dengan kebinasaan (bunuh diri):

"Sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul. Sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan. Sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang." (QS. As-Saffat: 171–173)

Mihnah dalam Kehidupan Ibrahim

Ujian yang dialami oleh Khalilurrahman (Ibrahim 'alaihissalam) tidak lain hanyalah salah satu mata rantai dari pertarungan yang membentang melintasi abad, menghujam jauh ke dalam lubuk sejarah, serta menegaskan sepanjang zaman atas kemenangan pemilik kebenaran dan kekalahan pemilik kebatilan.

Ibrahim 'alaihissalam tumbuh di tengah masyarakat jahiliah yang mengufuri seluruh nilai-nilai kebaikan dan melanggar hukum-hukum Allah. Namun, fitrahnya yang lurus enggan untuk mengikuti arus, terseret oleh opini publik, atau ridha dan pasrah terhadap realitas yang ada. Ibrahim pun bertekad kuat untuk menghadapi dan menentang kejahiliahan tersebut, apa pun risiko yang harus ditanggungnya.

Ujian berat pun dimulai dalam kehidupan individu ini, seorang diri tanpa senjata apa pun... Seorang individu yang menunggangi puncak kebenaran seorang diri... Lalu ia mengumumkan secara terbuka kepada khalayak ramai tentang keimanannya kepada Allah dan pengingkarannya terhadap apa yang mereka sembah selain-Nya:

"Dia (Ibrahim) berkata, 'Apakah kamu memperhatikan apa yang selalu kamu sembah, kamu dan nenek moyangmu yang terdahulu? Sesungguhnya mereka (apa yang kamu sembah) itu adalah musuhku, kecuali Tuhan semesta alam.'" (QS. Ash-Shu'ara': 75–77)

Sudah sepantasnya bagi seorang da'i — setiap da'i — untuk berhenti sejenak di sini... meresapi keagungan iman yang memenuhi kalbu Ibrahim. Ia seorang diri, tidak ada kelompok (jama'ah) maupun penolong di belakangnya... Ia tidak bersenjata, tidak memiliki kekuatan maupun senjata... Bahkan ia dibuang oleh kerabat dekat dan kedua orang tuanya sendiri. Akan tetapi, mana mungkin kebenaran tunduk kepada kebatilan, atau mundur di hadapan ancaman dan gertakan?

Ujian pun semakin hebat menimpa Ibrahim... Ia dilemparkan ke dalam kobaran api... Namun ia ridha terhadap ketetapan Allah dan bahagia akan berjanji menemui-Nya. Dari ufuk yang mahatinggi, Nabi yang bersabar dan Rasul yang diuji ini mendengarkan seruan Allah, saat ia berada di tengah gejolak kobaran api yang membara:

"Kami berfirman, 'Wahai api, menjadilah dingin dan keselamatan bagi Ibrahim!' Mereka hendak berbuat makar terhadapnya, lalu Kami menjadikan mereka orang-orang yang paling rugi. Kami menyelamatkannya dan Lut ke tanah (Syam) yang telah Kami berkahi untuk seluruh alam." (QS. Al-Anbiya': 69–71)

Kisah ujian yang dialami oleh Bapak para Nabi ini terus berlalu, melukiskan bagi para pembela kebenaran berbagai gambaran kepahlawanan dan kejantanan, hingga Allah mengakhirinya dengan menjadikan beliau sebagai salah satu rasul pilihan-Nya:

"Siapakah yang membenci agama Ibrahim selain orang yang memperbodoh dirinya sendiri? Sungguh, Kami telah memilihnya (Ibrahim) di dunia dan sesungguhnya di akhirat dia termasuk orang-orang saleh." (QS. Al-Baqarah: 130)

Mihnah dalam Kehidupan Musa

Kehidupan Musa 'alaihissalam tidak lain adalah serangkaian tragedi dan penderitaan. Bahkan, mihnah (ujian berat) telah menyertai Musa semenjak beliau masih bayi yang terombang-ambing oleh ombak dan diselimuti kegelapan, lalu tumbuh bersama beliau menjadi seorang pemuda tangguh yang berlari menyelamatkan diri dari kekejaman Fir'aun.

Kehidupannya semakin sarat dengan ujian demi ujian karena beliau menghadapi ancaman murka Fir'aun di satu sisi, dan perlakuan menyakitkan serta kebodohan kaumnya sendiri di sisi yang lain.

Kezaliman kerabat dekat terasa lebih menyakitkan bagi seseorang

Daripada tebasan pedang Husam yang tajam membahana.

Maka, Musa harus menangkis pukulan-pukulan Fir'aun dengan satu tangan, dan mewaspadai tipu daya kaumnya dengan tangan yang lain. Demi Allah, ini merupakan jenis ujian yang paling berat dan bentuk cobaan yang paling mengerikan.

Sebab, gerakan-gerakan dakwah mungkin mampu menghadapi ujian luar yang paling berbahaya sekalipun apabila barisan internal mereka kuat dan solid. Lantas, bagaimana jika barisan itu retak dan hancur? Musa 'alaihissalam adalah sosok manusia yang memegang kepemimpinan suatu bangsa yang telah terbiasa tunduk akibat kezaliman para Fir'aun yang datang bertubi-tubi, serta penindasan para penguasa yang terus menerus... hingga kehinaan menjadi hal yang biasa bagi mereka, dan mereka terbiasa dengan kenistaan serta kepasrahan. Beliau adalah Rasul yang ditugaskan untuk menyeru Fir'aun agar menyembah Allah, di saat Fir'aun berada di puncak kejayaan dan kesombongannya:

"Sesungguhnya Fir'aun telah berbuat sewenang-wenang di bumi dan menjadikan penduduknya berpecah belah. Dia menindas sekelompok dari mereka (Bani Israil), menyembelih anak-anak laki-laki mereka dan membiarkan hidup anak-anak perempuan mereka. Sesungguhnya dia (Fir'aun) termasuk orang-orang yang berbuat kerusakan." (QS. Al-Qasas: 4)

Musa tetap melangkah di jalannya dengan memikul seluruh tanggung jawab... bersandar hanya kepada Allah semata... serta yakin akan pertolongan dan dukungan-Nya. Pada salah satu fase kelemahan manusiawi, Musa merasakan kecemasan dan ketakutan bergejolak di dalam dadanya saat berada di tengah kecamuk pertempuran menghadapi Fir'aun, para penyihirnya, dan para pengikutnya. Akan tetapi, pertolongan langit dengan cepat menyusulnya, memancarkan keimanan dan ketenangan ke dalam kalbunya:

"Maka, Musa merasa takut dalam hatinya. Kami berfirman, 'Jangan takut! Sesungguhnya engkaulah yang unggul (menang). Lemparlah apa yang ada di tangan kananmu, niscaya ia akan menelan apa yang mereka buat. Sesungguhnya apa yang mereka buat itu hanyalah tipu daya penyihir (belaka) dan tidak akan menang penyihir itu dari mana pun dia datang.'" (QS. Taha: 67–69)

Betapa sering malapetaka datang bertubi-tubi untuk menyumbat jalan Musa, serta menutup rapat celah dan lorong di hadapannya... Namun, dengan cepat semua itu tersingkap di hadapan tekad bulat dan keimanan. Pasukan suci itu pun terus maju membelah jalannya melintasi kehidupan dengan penuh percaya diri dan ketetapan hati. Betapa sering Qarun berusaha memfitnah manusia dengan hartanya, serta memalingkan mereka dari Musa dan dakwahnya... Betapa sering ia berusaha membeli nurani dan melemparkan berbagai tuduhan serta desas-desus palsu kepada Musa... Akan tetapi, Allah senantiasa membongkar apa yang ia sembunyikan, dan Musa keluar dari ujian-ujian ini dengan kondisi yang lebih tangguh dan ketahanan yang lebih kuat.

Al-Qur'an menutup kisah Musa dan Fir'aun dengan firman-Nya:

"Sungguh, benar-benar telah datang kepada keluarga Fir'aun peringatan-peringatan. Mereka mendustakan ayat-ayat Kami semuanya. Maka, Kami mengazab mereka dengan azab dari Yang Mahaperkasa lagi Mahakuasa. Apakah orang-orang kafirmu (wahai kaum musyrik) lebih baik dari mereka, ataukah kamu telah mempunyai jaminan kebebasan (dari azab) dalam kitab-kitab terdahulu? Ataukah mereka mengatakan, 'Kami adalah golongan yang bersatu yang pasti menang?' Golongan itu pasti akan dikalahkan dan mereka akan berpaling lari ke belakang. Bahkan, hari Kiamat itulah hari yang dijanjikan kepada mereka dan hari Kiamat itu lebih dahsyat dan lebih pahit." (QS. Al-Qamar: 41–46)

Mihnah dalam Kehidupan 'Isa

Tidak diragukan lagi bahwa 'Isa 'alaihissalam memiliki kapasitas kesabaran dan daya tahan yang sangat besar. Kondisi yang sangat keras, berbagai tipu daya, serta ujian yang datang bertubi-tubi yang beliau rasakan, semuanya menunjukkan betapa agungnya kepribadian yang dimiliki oleh 'Isa bin Maryam 'alaihissalam...

Di antara hal yang menambah kekejaman kondisi yang mengelilingi beliau dan tumbuh kembangnya adalah bahwa beliau menghadapi berbagai prasangka buruk terkait masa lalu kelahirannya... sebagaimana beliau juga menghadapi berbagai bentuk pembangkangan dan penentangan dalam dakwahnya di masa kini. Cukuplah bagi kita untuk mengukur sejauh mana tingkat penentangan dan pembangkangan tersebut dengan mengetahui bahwa berbagai mukjizat luar biasa yang terjadi melalui kedua tangan 'Isa dalam jumlah yang besar, ternyata tidak memberikan dampak yang diharapkan dalam memikat jiwa dan menyatukan hati...

Namun, 'Isa 'alaihissalam tidak pernah patah semangat, mundur, atau terbersit sedikit pun hal seperti itu dalam dirinya. Beliau beriman bahwa beliau adalah seorang Rasul, dan kewajibannya hanyalah menyampaikan risalah dengan terang. Beliau adalah sosok yang berjiwa bersih lagi penyabar; kebodohan orang-orang yang menentang tidak membuatnya menggunakan kekerasan atau mengikuti jalan selain jalan orang-orang yang beriman.

Suatu hari, beliau bersama para pengikutnya melewati sebuah desa, lalu beliau menyeru penduduknya menuju petunjuk serta mengingatkan mereka kepada Allah dan hari akhir... Namun, tidak ada jawaban dari mereka melainkan mencaci dan menghinanya. 'Isa 'alaihissalam tidak menambah respons melainkan mengucapkan kebaikan lalu berlalu pergi. Para pengikut setianya (Hawariyyun) bertanya kepadanya tentang urusannya dengan kaum tersebut, di mana kaum itu berkata buruk kepadanya namun beliau tidak membalas mereka kecuali dengan kebaikan. Beliau menjawab: "Setiap orang memberi dari apa yang dimilikinya."

Sungguh, Anda akan merasakan — saat mendengarkan ajaran-ajarannya — keagungan iman, kelembutan jiwa, keluhuran akhlak, kelapangan dada, dan sifat-sifat lainnya yang menghiasi kepribadiannya yang tiada tandingannya. Beliau sering kali berkata kepada para pengikut setianya: "Berbahagialah kamu jika mereka mencela kamu, menganiaya kamu, dan mengatakan kepadamu segala kata yang jahat secara bohong karena Aku... Bersukacitalah dan bergembiralah, karena upahmu besar di sorga, sebab demikian juga mereka telah menganiaya nabi-nabi yang sebelum kamu." (1) (2)

(1) Injil Matius - Pasal 5.

(2) Injil Yohanes - Pasal 16 [penulis menuliskan Pasal 2].

Orang-orang Yahudi berusaha memperlemah pengaruh dakwahnya dan menyembunyikan urusannya dari masyarakat... Namun usaha mereka gagal total (asqata fi aidihim)... Sebab kebenaran itu terang benderang... dan fajar itu menyinari... Dan sesungguhnya Allah melemparkan kebenaran kepada kebatilan sehingga kebenaran itu menghancurkannya, maka seketika kebatilan itu lenyap...

Ketika tipu daya orang-orang yang bathil telah buntu, datanglah seorang laki-laki bernama "Yudas Iskariot" yang menunjukkan kepada mereka keberadaan 'Isa dan para sahabatnya... Saat itu, 'Isa telah menyadari apa yang dirancangkan terhadap dirinya, dan mengetahui bahwa mata-mata Yahudi sedang mengincarnya, serta kaum tersebut telah bersekongkol untuk membunuhnya... Maka beliau berlindung ke sebuah taman untuk menghabiskan malamnya di sana bersama beberapa pengikut setianya...

Pada malam hari, orang-orang Yahudi telah menemukan tempatnya dan mengepung sekelilingnya, menunggu saat yang tepat untuk menyergapnya dan mengeksekusi konspirasi besar mereka...

Adapun 'Isa Ruhullah... pengawasan dan penjagaan Allah senantiasa menyertainya. Ketika kaum itu berniat melakukan apa yang didorong oleh kedengkian hitam mereka, 'Isa berada dalam naungan pemeliharaan Allah yang menghalanginya dari penglihatan mereka dengan kekuasaan-Nya Azza wa Jalla...

Lalu jatuhlah ke tangan mereka seorang laki-laki yang sangat serupa dengan beliau... Allah mengunci lidahnya sehingga ia tidak mampu berbicara... Kaum itu tidak menyadari saat mereka menyeretnya ke tiang penyaliban bahwa mereka sebenarnya sedang menyeret "Yudas Iskariot" itu sendiri, yang dimasukkan oleh Allah ke dalam kejahatan perbuatannya sendiri. Mereka membunuhnya dalam keadaan mengira bahwa mereka telah membunuh 'Isa bin Maryam:

"Padahal, mereka tidak membunuhnya dan tidak (pula) menyalibnya, tetapi (yang mereka bunuh adalah) orang yang diserupakan dengan 'Isa bagi mereka. Sesungguhnya mereka yang berselisih pendapat tentang (pembunuhan) 'Isa benar-benar dalam keraguan tentang hal itu. Mereka tidak mempunyai keyakinan tentang hal itu, kecuali mengikuti persangkaan belaka. Mereka tidak membunuhnya dengan yakin. Melainkan, Allah telah mengangkat 'Isa kepada-Nya. Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana." (QS. An-Nisa': 157–158)

Mihnah Islam pada Masa Kenabian

Mihnah yang dihadapi oleh Islam pada masa kenabian tidak kalah dahsyatnya dibandingkan dengan apa yang dialami oleh risalah-risalah dan para rasul sebelumnya, jika tidak dikatakan melebihi mereka semua...

Islam adalah sebuah revolusi terhadap kejahiliahan sejak hari pertama... sebuah revolusi yang bertujuan menghancurkan fondasi-fondasi yang menjadi pijakan masyarakat jahiliah...

Sebab, bukanlah karakter Islam untuk berdamai dengan kondisi-kondisi yang rusak, atau mencoba menambal dan memperbaikinya secara parsial... Islam tidak menerima solusi setengah-setengah maupun seperempatnya. Islam menolak kompromi dan penambalan (tarqii')... sebaliknya, Islam mengadopsi kebijakan penghancuran dan pembangunan (al-hadm wa al-bina')... menghancurkan kejahiliahan beserta seluruh fasilitasnya, dan membangun kehidupan Islami dengan segala konsekuensinya.

Apabila demikian karakter dakwah yang diemban oleh Muhammad bin 'Abdullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, maka secara otomatis kekuatan-kekuatan jahiliah akan menjadi sangat ganas dan mati-matian mempertahankan eksistensi mereka yang terancam hancur dan binasa... hingga penentangan dan perang kaum musyrikin terhadap Islam dan kaum muslimin mencapai tingkat yang tak terlukiskan...

Perang Urat Saraf (Perang Psikologis):

Orang-orang jahiliah sangat piawai dalam melancarkan perang terhadap Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ... Mereka menciptakan berbagai cara baru untuk memukul Islam, dan mengerahkan seluruh kekuatan mereka untuk menghambat laju perjalanan Al-Qur'an...

Pertama-tama, mereka menggunakan metode psikologis yang licik untuk menghancurkan urat saraf Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dan memadamkan moralitasnya yang tinggi. Untuk itu, mereka melancarkan kampanye ejekan dan penghinaan yang sengit, yang digambarkan oleh Al-Qur'an al-Karim di lebih dari satu tempat:

"Mereka berkata, 'Kami tidak akan beriman kepadamu (Muhammad) sebelum engkau memancarkan mata air dari bumi untuk kami, atau engkau mempunyai sebuah kebun kurma dan anggur, lalu engkau alirkan sungai-sungai di celah-celahnya deras memancar, atau engkau jatuhkan langit berkeping-keping atas kami sebagaimana engkau katakan, atau engkau datangkan Allah dan para malaikat berhadapan muka dengan kami, atau engkau mempunyai sebuah rumah dari emas, atau engkau naik ke langit. Kami tidak akan beriman pada kenaikanmu itu sebelum engkau turunkan kepada kami sebuah kitab yang kami baca.'" (QS. Al-Isra': 90–93)

Ketika metode-metode licik ini gagal, kaum musyrikin beralih dengan merekayasa desas-desus dan tuduhan palsu terhadap Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ, lalu menyebarkannya di seluruh kalangan untuk mengikis kepercayaan terhadap beliau dan menghalangi manusia dari jalan Allah...

Betapa sering mereka mengada-ada terhadap orang yang kemarin mereka juluki sebagai As-Sadiq (yang jujur) dan Al-Amin (yang terpercaya), serta melemparkan tuduhan yang tidak ada padanya. Betapa sering mereka mengarahkan anak panah mereka ke leher Islam, dan melepaskan tombak-tombak mereka ke dada Pergerakan Islam yang masih muda ini.

"Sungguh, mereka telah membuat tipu daya, padahal di sisi Allah-lah (balasan) tipu daya mereka itu. Meskipun tipu daya mereka dapat melenyapkan gunung-gunung." (QS. Ibrahim: 46)

Mihnah tersebut, dengan segala keganasan dan kekejamannya, tidaklah menambah bagi Muhammad صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melainkan keteguhan dan ketetapan hati... Keteguhan dalam menghadapi tantangan apa pun jenis dan kadarnya... serta ketetapan hati untuk terus melangkah berapa pun pengorbanan yang harus diberikan...

Suatu hari, Al-Walid bin Al-Mughirah — salah seorang pemuka jahiliah dan penguasa zalim di antara mereka — berkata: "Wahai segenap kaum Quraisy... sesungguhnya musim haji telah tiba. Rombongan utusan Arab akan mendatangi kalian pada musim ini... dan mereka telah mendengar tentang urusan Muhammad ini... Maka sepakatilah satu pendapat saja! Jangan berpartisipasi dalam perbedaan pendapat sehingga sebagian kalian mendustakan sebagian yang lain."

Mereka berkata: "Kita katakan dia adalah seorang dukun/peramal (kahin)."

Ia berkata: "Tidak, demi Allah, dia bukan seorang dukun. Kita telah melihat para dukun, maka ucapan Muhammad bukanlah komat-kamit maupun mantra bersajak mereka."

Mereka berkata: "Kita katakan dia orang gila (majnun)."

Ia berkata: "Dia bukan orang gila. Kita telah melihat kegilaan dan mengenalnya; apa yang ada padanya bukanlah tercekik, kejang-kejang, ataupun bisikan gila."

Mereka berkata: "Kita katakan dia seorang penyair (sya'ir)."

Ia berkata: "Dia bukan seorang penyair. Kita telah mengenal seluruh bentuk puisi, baik rajaz, hazaj, qasidah, maqbudh, maupun mabsut-nya. Maka dia bukanlah seorang penyair."

Al-Walid bin Al-Mughirah berkata: "Sesungguhnya perkataan yang paling dekat tentangnya adalah kalian katakan bahwa dia adalah seorang penyihir (sahir)... yang mengucapkan sihir yang dapat memisahkan antara seseorang dengan saudaranya, antara seseorang dengan istrinya, dan antara seseorang dengan karib kerabatnya. Maka berpisahlah kalian darinya atas dasar hal itu!"

Mengenai Al-Walid bin Al-Mughirah inilah Allah menurunkan ayat-ayat yang berisi ancaman dan gertakan keras, agar menjadi pelajaran baginya dan orang-orang sepertinya sepanjang zaman. Allah Ta'ala berfirman:

"Sekali-kali tidak! Sesungguhnya dia adalah orang yang menentang ayat-ayat Kami (Al-Qur'an). Aku akan membebaninya dengan pendakian yang mendaki (azab yang berat). Sesungguhnya dia telah memikirkan dan menetapkan (apa yang ditetapkannya). Maka, celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian, celakalah dia! Bagaimanakah dia menetapkan? Kemudian, dia memikirkan. Kemudian, dia berwajah masam dan cemberut. Kemudian, dia berpaling (dari kebenaran) dan menyombongkan diri. Lalu, dia berkata, '(Al-Qur'an) ini tidak lain hanyalah sihir yang dipelajari (dari orang-orang dahulu). Ini tidak lain hanyalah perkataan manusia.' Aku akan memasukkannya ke dalam (neraka) Saqar. Tahukah engkau apakah (neraka) Saqar itu? Ia (Saqar) tidak meninggalkan dan tidak membiarkan. Ia adalah pembakar kulit manusia. Di atasnya ada sembilan belas (malaikat penjaga)." (QS. Al-Muddaththir: 16–30)

Kemudian Al-Qur'an al-Karim menampilkan berbagai gambaran penentangan kaum jahiliah terhadap Pergerakan Islam pada era Kenabian:

"Bahkan, apakah mereka berkata, 'Dia adalah seorang penyair yang kami tunggu-tunggu kecelakaan menimpanya?' Katakanlah (Muhammad), 'Tunggulah! Sesungguhnya aku pun termasuk orang yang menunggu bersama kamu.' Apakah mereka diperintah oleh pikiran-pikiran mereka untuk mengucapkan tuduhan-tuduhan ini ataukah mereka kaum yang melampaui batas? Ataukah mereka berkata, 'Dia (Muhammad) mengada-adakannya?' Sebenarnya mereka tidak beriman. Maka, hendaklah mereka mendatangkan kalimat yang semisal Al-Qur'an itu jika mereka orang-orang yang benar." (QS. At-Tur: 30–34)

Gangguan, Penganiayaan, dan Upaya Pembunuhan:

Para penguasa zalim Makkah tidak merasa cukup dengan kedustaan dan fitnah yang diucapkan oleh lidah mereka terhadap Islam dan pemeluknya... Bahkan mereka berani — berkali-kali — untuk menodai dan menganiaya Nabi Islam صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ secara fisik...

Mereka putus asa dari perang psikologis, perang urat saraf, dan perang desas-desus... Lalu mereka beralih ke perang fisik untuk menindas para da'i Islam. Mereka memuntahkan kedengkian mereka bagaikan lahar... dan menyalakan api permusuhan serta kebencian di setiap tempat, sebagai pelampiasan dendam terhadap orang-orang yang berpaling dari agama nenek moyang mereka serta mengufuri Hubal dan Al-Lat...

Suatu hari, para pemuka Quraisy berkumpul di Al-Hijr (Hijr Ismail) dan menyebut-nyebut Muhammad beserta penentangannya secara terang-terangan terhadap kesucian sesembahan mereka. Mereka berkata: "Kami belum pernah melihat kesabaran seperti yang kami rasakan atas urusan orang ini sedikit pun; dia membodoh-bodohkan harapan kami, memecah belah kelompok kami, dan mencela tuhan-tuhan kami... Sungguh kami telah bersabar darinya atas urusan yang besar... Dia mencaci nenek moyang kami, mencela agama kami, dan memecah belah kelompok kami!"

Ketika mereka sedang dalam kondisi demikian, tiba-tiba Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melintas di hadapan mereka. Maka mereka serentak melompat menerjang beliau bagaikan serangan satu orang laki-laki. Mereka mengepung beliau dari segala penjuru dan berteriak kepadanya: "Apakah engkau yang mengatakan demikian dan demikian?!"

Nabi pembawa petunjuk menjawab mereka dengan penuh rasa percaya diri dan kebanggaan:

أَنَا الَّذِي أَقُوْلُ ذَلِكَ

"Ya, akulah yang mengatakan hal tersebut."

Beliau mengucapkannya dengan sangat tegas dan mengumpumpakannya dengan sepenuh mulutnya... Beliau menampar kesombongan mereka... dan memukul ketakaburan mereka... Pada hari itu, beliau mengalami penderitaan dari mereka atas apa yang menimpanya... Hingga Abu Bakar Ash-Siddiq رَضِيَ اللهُ عَنْهُ mendapati mereka saat mereka hampir saja menghabisi beliau. Maka Abu Bakar pasang badan membela beliau seraya berkata: "Apakah kalian akan membunuh seorang laki-laki hanya karena ia mengucapkan: 'Tuhanku adalah Allah'?"

Ketika kaum musyrikin merasa buntu... dan segala tipu daya mengalami kegagalan, mereka saling menyeru untuk menghadiri konferensi yang diselenggarakan di Dar An-Nadwah. Saat itu kaum muslimin telah mulai berhijrah ke Madinah. Kaum musyrikin mengira bahwa kesempatan telah terbuka lebar untuk menghabisi Muhammad di saat ketidakhadiran para sahabat dan pengikutnya.

Ketika mereka menyusun rencana dan menetapkan keputusan mereka... Allah membongkar tipu daya mereka dan menolak kejahatan mereka:

"Ingatlah ketika orang-orang kafir memikirkan tipu daya terhadapmu (Muhammad) untuk menangkap dan memenjarakanmu, membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka membuat tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Allah adalah sebaik-baik pembalas tipu daya." (QS. Al-Anfal: 30)

Menyusul peristiwa hijrah ke Madinah dan kemenangan Islam atas kejahiliahan dalam Perang (Badr)... Safwan bin Umayyah menyewa 'Umair bin Wahb secara rahasia dan mengutusnya untuk pergi ke Madinah guna mengagasi pembunuhan terhadap Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ... dengan syarat Safwan yang akan melunasi utangnya dan menanggung keluarganya. 'Umair pun datang ke Madinah dengan menyandang pedangnya, hingga ia masuk menemui Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ yang sedang berada di masjid.

Ketika Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ melihatnya, beliau bersabda kepadanya:

ادْنُ يَا عُمَيْرُ

"Mendekatlah, wahai 'Umair!"

Maka ia pun mendekat... kemudian berkata: "Selamat pagi!" — yang mana ucapan tersebut merupakan salam penghormatan sesama masyarakat jahiliah.

Maka Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

قَدْ أَكْرَمَنَا اللهُ بِتَحِيَّةٍ خَيْرٍ مِنْ تَحِيَّتِكَ يَا عُمَيْرُ، بِالسَّلَامِ، تَحِيَّةِ أَهْلِ الْجَنَّةِ

"Sungguh Allah telah memuliakan kami dengan penghormatan yang lebih baik daripada salammu wahai 'Umair, yaitu dengan As-Salam, penghormatan penghuni surga."

'Umair berkata: "Demi Allah wahai Muhammad, sesungguhnya engkau tahu aku baru saja meninggalkan salam itu..."

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

فَمَا جَاءَ بِكَ يَا عُمَيْرُ؟

"Maka apa yang menyebabkankanmu datang, wahai 'Umair?"

Ia menjawab: "Aku datang karena tawanan yang ada di tangan kalian ini, maka berbuat baiklah kepadanya."

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

فَمَا بَالُ السَّيْفِ فِي عُنُقِكَ؟

"Lalu ada apa dengan pedang yang terkalung di lehermu itu?"

'Umair menjawab: "Semoga Allah memburukkan pedang-pedang ini! Apakah pedang-pedang itu pernah berguna bagi kita sedikit pun?"

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

أَصْدُقْنِي، مَا الَّذِي جِئْتَ لَهُ؟

"Jujurlah kepadaku, untuk apa engkau datang?"

'Umair menjawab: "Aku tidak datang kecuali untuk urusan itu."

Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ bersabda:

بَلْ قَعَدْتَ أَنْتَ وَصَفْوَانُ بْنُ أُمَيَّةَ فِي الْحِجْرِ، فَذَكَرْتُمَا أَصْحَابَ الْقَلِيْبِ مِنْ قُرَيْشٍ، ثُمَّ قُلْتَ: لَوْلَا دَيْنٌ عَلَيَّ وَعِيَالٌ عِنْدِي لَخَرَجْتُ حَتَّى أَقْتُلَ مُحَمَّدًا، فَتَحَمَّلَ لَكَ صَفْوَانُ بِدَيْنِكَ وَعِيَالِكَ عَلَى أَنْ تَقْتُلَنِي لَهُ، وَاللهُ حَائِلٌ بَيْنَكَ وَبَيْنَ ذَلِكَ

"Bahkan engkau telah duduk bersama Safwan bin Umayyah di Al-Hijr, lalu kalian berdua mengenang orang-orang yang tewas di sumur Badr dari kaum Quraisy. Kemudian engkau berkata: 'Seandainya bukan karena utang yang menanggungku dan keluarga yang ada padaku, niscaya aku akan keluar hingga membunuh Muhammad.' Lalu Safwan menanggung utangmu dan keluargamu dengan syarat engkau membunuhku untuknya. Namun Allah menghalangi antara dirimu dan maksud tersebut!"

Maka 'Umair berkata: "Aku bersaksi bahwa engkau adalah Rasulullah! Sungguh wahai Rasulullah, kami dahulu selalu mendustakanmu atas berita langit yang engkau bawa dan wahyu yang turun kepadamu. Padahal urusan ini tidak ada yang menghadirinya kecuali aku dan Safwan! Demi Allah, sesungguhnya aku tahu bahwa tidak ada yang memberitahukan hal ini kepadamu melainkan Allah. Maka segala puji bagi Allah yang telah memberiku petunjuk kepada Islam dan menuntunku ke jalan ini." Kemudian ia mengucapkan syahadat yang hak.

Mihnah dalam Kehidupan para Sahabat

Pada era Kenabian, para da'i Islam dihadapkan pada bentuk-bentuk gangguan dan penyiksaan yang paling kejam. "Dosa" mereka hanyalah karena mereka beriman kepada Allah dan mengufuri Thagut... dan "kejahatan" mereka adalah karena mereka menyambut seruan fitnah lurus serta membubung tinggi di atas kenikmatan fana duniawi.

Hal ini saja sudah cukup untuk memuntahkan kedengkian di dalam jiwa orang-orang musyrik, membuat mereka kehilangan akal sehat, serta mendorong mereka untuk menyiksa orang-orang mukmin tanpa belas kasihan dan kelembutan...

Mihnah ini tidak terbatas pada individu tertentu atau kelas sosial tertentu saja; melainkan menimpa seluruh lapisan: wanita dan pria, anak-anak dan orang dewasa, budak dan orang merdeka. Ibn Ishaq berkata: "Sesungguhnya orang-orang musyrik memusuhi setiap orang yang masuk Islam dan mengikuti Rasulullah صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ dari kalangan sahabat beliau. Maka setiap kabilah menyerang anggota mereka yang muslim; mereka mulai mengurung dan menyiksa mereka dengan pukulan, kelaparan, kehausan, serta menyemur mereka di atas batu panas Makkah saat terik matahari memuncak."

Mihnah Bilal:

Umayyah bin Khalaf biasa membawa keluar Bilal Al-Habashi apabila matahari telah memuncak di tengah hari, lalu ia membaringkannya telentang di atas padang pasir Makkah yang membakar. Kemudian ia memerintahkan agar batu yang sangat besar diletakkan di atas dadanya, seraya mengancamnya: "Engkau akan terus begini sampai mati, atau engkau mengufuri Muhammad dan menyembah Al-Lat serta Al-'Uzza!"

Namun Bilal — semoga Allah meridhai dan melimpahkan keridhaan-Nya kepadanya — senantiasa mengulang-ulang seruan keagungan dengan penuh ketetapan hati dan rasa bangga:

أَحَدٌ... أَحَدٌ

"Maha Esa... Maha Esa..."

Ujian/Mihnah Keluarga Yasir:

Suku Bani Makhzum dahulu biasa menyeret seluruh keluarga Yasir (ibu, ayah, dan anak-anak) untuk disiksa di atas pasir kota Makkah yang sangat panas membakar, serta memanggang tubuh mereka dengan besi yang dipanaskan.

Adapun Yasir (sang ayah) tidak sanggup menanggung azab penyiksaan tersebut karena usianya yang telah lanjut, hingga beliau wafat seketika [sebagai syahid]. Sementara Sumayyah (sang ibu) menunjukkan sikap dan perkataan yang sangat keras serta tegas terhadap Abu Jahal, sehingga musuh Allah itu menancapkan tombak tepat di organ dalam perutnya. Maka, beliaulah wanita pertama yang meraih syahadah (syahid) dalam Islam...

Ujian/Mihnah Utsman bin Mazh'un:

Ketika Utsman bin Mazh'un menyaksikan berbagai cobaan dan siksaan berat yang dihadapi oleh saudara-saudaranya sesama dai, sementara dirinya dapat keluar dan masuk [kota Makkah] dengan aman berada di bawah jaminan perlindungan (jiwar) Al-Walid bin Al-Mughirah, beliau berkata: "Demi Allah, sungguh bolak-balikku dalam keadaan aman di bawah jaminan perlindungan seorang laki-laki musyrik merupakan suatu kekurangan yang besar pada diriku."

Lantas beliau berjalan menemui Al-Walid dan mengembalikan jaminan perlindungannya seraya berkata kepadanya: "Sungguh, aku telah memilih untuk tidak meminta perlindungan kepada selain Allah setelah hari ini." Kemudian beliau berbicara kepada orang-orang musyrik dengan perkataan yang sangat menyengat/mengganggu perasaan mereka. Maka Labid bin Rabi'ah bangkit menghampirinya lalu menempeleng matanya hingga memar dan berdarah. Al-Walid bin Al-Mughirah yang berada di dekat situ menyaksikan apa yang menimpa Utsman, lalu berkata kepadanya: "Ketahuilah, demi Allah wahai putra saudaraku, matamu sebenarnya tidak perlu mengalami cedera tersebut. Padahal sebelumnya engkau berada dalam benteng perlindungan yang sangat kokoh." Utsman merespons: "Bahkan demi Allah, mataku yang sehat ini justru sangat mendambakan (membutuhkan) untuk mengalami apa yang dialami oleh mata saudaranya di jalan Allah. Sungguh, aku kini berada di bawah jaminan perlindungan Dzat Yang Maha Perkasa dan Maha Kuasa darimu, wahai Abu Abdi Syams!" Kemudian beliau mendendangkan bait-bait syair:

Jika mataku terkena musibah di jalan keridaan Sang Rabb,

Oleh tangan orang yang ingkar, sesat, dan tidak mendapat petunjuk,

Maka Ar-Rahman sungguh akan menggantinya dengan pahala-Nya,

Dan barangsiapa yang diridai Ar-Rahman, wahai kaumku, niscaya ia berbahagia.

Maka sesungguhnya aku, meski kalian menyebutku orang sesat yang menyesatkan,

Lagi bodoh, aku tetap berada di atas agama Rasulullah Muhammad.

Aku menghendaki dengan itu pahala Allah, dan kebenaran adalah agama kami,

Meskipun orang yang zalim melampaui batas dan memusuhi kami.

Demikianlah kelompok orang-orang beriman pada zaman kenabian terus meretas jalannya ke depan, tanpa rasa takut akan kejaran musuh dan tidak khawatir sedikit pun. Mereka mempersembahkan di jalan Allah syahid demi syahid...

Hari-hari pun berlalu dengan amat kelam bagaikan gulitanya malam... Lalu datanglah hari-hari lain membawa tumpukan ujian dan cobaan yang makin berat... Namun iring-iringan kebenaran (mawakib al-haqq) terus melanjutkan gerak langkah jalannya yang perkasa di atas jalan keabadian.

Para pengikutnya telah terbebas dari perbudakan dunia dan hawa nafsunya... Sehingga mereka tidak lagi merasakan lezatnya kebahagiaan melainkan dalam ketaatan kepada Allah... Mereka tidak memandang jihad kecuali sebagai jalan menuju ketiadaan mati (syahid) dan pintu menuju surga Allah serta raihan keridaan-Nya...

"Dan jangan sekali-kali kamu mengira bahwa orang-orang yang gugur di jalan Allah itu mati; sebenarnya mereka itu hidup di sisi Tuhannya mendapat rezeki, mereka bergembira dengan karunia yang diberikan Allah kepada mereka, dan bergirang hati terhadap orang-orang yang belum menyusul mereka dari belakang mereka, bahwa tidak ada rasa takut pada mereka dan mereka tidak bersedih hati. Mereka bergirang hati dengan nikmat dan karunia dari Allah dan bahwa Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang beriman." (QS. Ali 'Imran: 169-171)

Teladan dari Syuhada Islam di Masa Kenabian:

Betapa banyak hari-hari Islam pada era kenabian menyaksikan para pahlawan perkasa dan tangguh yang memuliakan sejarah serta merhiasi leher kemanusiaan dengan mahkota kejayaan dan kebanggaan. Cukuplah kita memilih salah satu di antara mereka, yaitu Khubaib bin 'Adi, agar kita menyadari betapa dahsyatnya pengaruh akidah di dalam jiwa orang-orang seperti mereka...

Khubaib ditawan ketika ia sedang dalam perjalanan dari Madinah menuju suku 'Adhal dan Al-Qarah untuk menjalankan tugas-tugas dakwah yang diembankan oleh Rasulullah kepadanya. Para penjahat menyeretnya ke Makkah lalu menjualnya kepada Al-Hujr bin Abi Ihab At-Tamimi, agar ia membalas dendam dengan membunuhnya atas kematian ayahnya yang tewas dalam Perang Badar Al-Kubro.

Pada hari yang telah ditentukan untuk mengeksekusinya, kaum musyrikin membawanya keluar menuju Tan'im[^1] untuk disalib... Maka Khubaib berkata kepada mereka: "Jika kalian berkenan membiarkanku rukuk (shalat) dua rakaat, maka lakukanlah." Mereka menjawab: "Silakan, shalatlah." Lalu beliau shalat dua rakaat secara sempurna dan sangat bagus (khusyuk). Selesai shalat, beliau menghadap ke arah kaum tersebut seraya berkata: "Demi Allah, jikalau bukan karena kalian akan mengira bahwa aku memperpanjang shalat karena takut akan kematian, niscaya aku akan memperbanyak shalatku."[^2]

Ketika Khubaib diangkat dan diikat di atas tiang kayu salib, kaum musyrikin berkata kepadanya: "Kembalilah dari agama Islam (murtadlah), niscaya kami lepaskan jalanmu." Beliau menjawab: "Tidak, demi Allah, aku sama sekali tidak menyukai untuk kembali dari Islam meskipun aku mendapatkan seluruh apa yang ada di muka bumi ini."

"Kembalilah wahai Khubaib..."

"Aku tidak akan pernah kembali selamanya..."

"Ketahuilah, demi Lata, jika engkau tidak mau melakukannya, sungguh kami akan membunuhmu."

"Sesungguhnya kematianku di jalan Allah adalah hal yang teramat kecil..."

Lalu mereka memalingkan wajahnya ke arah selain kiblat... Khubaib pun berkata: "Adapun tindakan kalian memalingkan wajahku dari kiblat, maka sesungguhnya Allah telah berfirman:

"Maka ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah." (QS. Al-Baqarah: 115)

Kemudian beliau berdoa: "Ya Allah, sesungguhnya aku tidak melihat kecuali wajah musuh. Ya Allah, tidak ada seorang pun di sini yang sanggup menyampaikan salamku kepada Rasul-Mu, maka sampaikanlah engkau salam itu kepadanya."

Pada saat yang bersamaan, Rasulullah sedang berada di antara para sahabat beliau di Madinah. Tiba-tiba beliau tidak sadarkan diri sebentar (menerima wahyu/isyarat), lalu bersabda: "Ini Jibril menyampaikan salam kepadaku dari Khubaib."

Lantas mendekatlah empat puluh orang laki-laki musyrik kepada Khubaib dengan tombak di tangan mereka. Mereka berkata: "Inilah orang yang telah membunuh bapak-bapak kalian di Badar."

Khubaib berdoa: "Ya Allah, sungguh kami telah menyampaikan risalah Rasul-Mu... Maka sampaikanlah kepada beliau esok pagi tentang apa yang mereka perbuat kepada kami. Ya Allah, hitunglah jumlah mereka secara terperinci... Binasakanlah mereka secara bercerai-berai... Dan jangan Engkau sisakan seorang pun dari mereka..." Di sinilah Mu'awiyah bin Abi Sufyan—yang saat itu berada di antara kaum musyrikin—melemparkan dirinya menjatuhkan diri ke tanah karena sangat takut terkena dampak dari doa Khubaib, sementara Hakim bin Hizam melarikan diri, dan Jubair bin Muth'im bersembunyi...

Ketika mata tombak mulai merobek dan mencabik-cabik tubuhnya, beliau memutarkan pandangannya ke arah Ka'bah dan berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menjadikan wajahku menghadap ke kiblat-Nya yang diridai-Nya untuk diri-Nya, Nabi-Nya, dan orang-orang beriman." Kemudian beliau menatap kaum tersebut lalu mendendangkan bait-bait syairnya yang abadi:

Sungguh, pasukan sekutu (Ahzab) telah berkumpul di sekelilingku dan mengerahkan

Kabilah-kabilah mereka, serta mengumpulkan seluruh kelompok.

Mereka mengumpulkan anak-anak dan istri-istri mereka,

Dan aku didekatkan pada tiang pohon yang tinggi lagi kuat.

Hanya kepada Allah aku mengadukan keterasinganku, lalu duka deritaku,

Serta apa yang dikumpulkan oleh pasukan sekutu di sekeliling tempat pembunuhanku.

Dzat Pemilik Arasy menyabarkanku atas apa yang ditujukan kepadaku,

Sungguh mereka telah memotong-motong dagingku dan telah sirna harapanku [untuk hidup].

Mereka memberiku pilihan antara kekufuran dan kematian di baliknya,

Dan kedua mataku telah meneteskan air mata bukan karena gentar.

Bukanlah karena takut mati aku menangis, toh aku pasti mati,

Namun ketakutanku adalah pada gejolak api neraka yang menyelimuti.

Semua ini adalah demi Dzat Yang Maha Kuasa, dan jika Dia menghendaki,

Dia akan memberkahi potongan-potongan tubuh yang tercabik-cabik ini.

Maka aku tidak peduli ketika aku dibunuh dalam keadaan sebagai seorang Muslim,

Di atas lambung mana pun lambungku roboh tersungkur di jalan Allah.

Musuh-musuh Allah terus mencabik-cabik tubuh Khubaib dengan tombak-tombak mereka, sementara beliau tidak henti-hentinya mengulang-ulang kalimat: "Laa ilaaha illallaah, Muhammadur rasulullaah" hingga beliau mengembuskan napas terakhirnya dan ruhnya yang suci lagi bersih melayang menuju Al-Mala'ul A'la (tempat tertinggi di sisi Allah) mengadukan kedzaliman orang-orang yang zalim kepada Allah...

Ujian/Mihnah di Era Tabiin:

Masa sahabat Nabi pun berlalu dan tibalah era Tabiin. Sejarah menyuguhkan kepada kita beragam warna dari cobaan dan ujian dalam Islam... Pada fase ini, cangkul-cangkul perusak dari kalangan anak kandung [umat] sendiri bersinergi dengan musuh luar untuk meruntuhkan Islam... Kekuasaan dipegang oleh para penguasa zalim nan otoriter yang menimpakan azab dan siksaan amat buruk kepada orang-orang beriman.

Al-Hajjaj bin Yusuf:

Pada tahun 75 Hijriah, Al-Hajjaj bin Yusuf memegang tampuk kekuasaan di Irak. Negeri Islam ini menyaksikan hari-hari yang amat kelam pada masa pemerintahannya... Layaknya tabiat setiap penguasa otoriter nan zalim, ambisi utamanya adalah menundukkan manusia di bawah kekuatan dan kesombongannya, serta menegakkan kekuasaannya meski di atas tengkorak dan potongan tubuh manusia...

Al-Hajjaj merupakan bencana bagi Islam dan kaum muslimin. Ia mencoreng citra Islam dengan pengakuan dirinya sebagai bagian darinya. Ia berbuat jahat terhadap agama dengan memegang kekuasaan atas nama agama. Betapa banyak mulut yang ia bungkam... Dan ia hunuskan pedangnya untuk membantai siapa saja yang keluar dari ketaatan kepadanya...

Sa'id bin Jubair:

Termasuk sunnatullah pada ciptaan-Nya adalah bahwa Dia menciptakan untuk menghadapi para penguasa zalim, sosok lelaki pejuang yang tidak gentar sedikit pun terhadap kezaliman... Dia membentuk mereka di bawah pengawasan-Nya, dan mengaruniakan keberanian kepada mereka di jalan-Nya.

Sa'id bin Jubair adalah salah seorang dari mereka yang telah bersih dari kepentingan hawa nafsunya, dunia menjadi hal yang amat murah di mata mereka, dan mereka telah mewakafkan diri mereka sepenuhnya untuk Allah...

Ketika Al-Hajjaj bertekad bulat untuk membunuhnya dan menyingkirkannya, ia mengutus para prajurit untuk mencarinya. Mereka membawanya dan memasukkannya ke hadapan Al-Hajjaj...

Al-Hajjaj bertanya tentang namanya:

Sa'id menjawab: "Sa'id bin Jubair" [Orang bahagia putra Penyambung].

Al-Hajjaj berkata: "Bahkan engkau adalah Syaqiy bin Kusair [Orang celaka putra Penghancur]" (sebagai bentuk penghinaan dan ejekan).

Sa mejawab: "Bahkan ibuku lebih tahu tentang namaku ketimbang engkau."

Al-Hajjaj berkata: "Engkau celaka, dan ibumu pun celaka!"

Sa'id berkata: "Hal ghaib hanya diketahui oleh selainmu."

Al-Hajjaj berkata: "Sungguh aku akan menggantikan duniamu ini dengan api yang bergejolak!"

Sa'id berkata: "Seandainya aku tahu bahwa hal itu ada di tanganmu, niscaya aku akan menjadikanmu sebagai tuhan."

Al-Hajjaj bertanya: "Lalu bagaimana pendapatmu tentang Muhammad?"

Sa'id menjawab: "Nabi pembawa rahmat dan imam petunjuk, 'alaihis shalaatu was salaam."

Al-Hajjaj bertanya: "Mengapa engkau tidak tertawa?"

Sa'id menjawab: "Bagaimana mungkin makhluk yang diciptakan dari tanah bisa tertawa, sedangkan tanah itu akan dimakan oleh api."

Al-Hajjaj bertanya: "Lalu mengapa kami bisa tertawa?"

Sa'id menjawab: "Karena hati kita tidak sama."

Al-Hajjaj memikirkan cara lain untuk memikat dan menundukkannya... Ia memerintahkan agar emas, harta, mutiara, dan batu yakut dikumpulkan di hadapan Sa'id. Namun, bagaimana mungkin godaan-godaan ini dapat menemukan jalannya menuju hati yang telah dipenuhi oleh kecintaan kepada Allah dan zuhud terhadap dunia beserta isinya.

Sa'id berkata: "Jika engkau mengumpulkan semua ini untuk menebus dirimu dari kepanikan hari kiamat, maka engkau telah salah. Sesungguhnya satu kepanikan saja pada hari itu membuat semua wanita yang menyusui lupa akan anak yang disusuinya. Dan tidak ada kebaikan pada sesuatu yang dikumpulkan untuk dunia kecuali apa yang baik dan suci."

Lalu Al-Hajjaj memerintahkan agar musik dimainkan, seruling ditiup, dan gembus dipetik. Maka Sa'id pun menangis.

Al-Hajjaj bertanya kepadanya: "Apa yang membuatmu menangis, apakah karena hiburan ini?"

Sa'id menjawab: "Tidak, melainkan karena kesedihan... Adapun tiupan seruling mengingatkanku pada hari yang amat dahsyat, hari ketika sangkakala ditiup. Adapun gembus (dari kayu) adalah batang pohon yang ditebang secara tidak haq. Sedangkan tali-tali senar itu adalah usus-usus domba yang kelak akan dibangkitkan bersamamu pada hari kiamat."

Al-Hajjaj berkata: "Celaka engkau, wahai Sa'id!"

Sa'id menjawab: "Kecelakaan itu adalah bagi orang yang dijauhkan dari surga dan dimasukkan ke dalam neraka."

Al-Hajjaj berkata: "Pilihlah wahai Sa'id, dengan cara pembunuhan bagaimana engkau ingin aku membunuhmu!"

Sa'id menjawab: "Bahkan pilihlah untuk dirimu sendiri wahai Hajjaj... Demi Allah, tidaklah engkau membunuhku dengan suatu cara pembunuhan, melainkan Allah akan membunuhmu dengan cara yang sama pada hari kiamat..."

Al-Hajjaj berkata: "Apakah engkau ingin aku memaafkanmu?"

Sa'id menjawab: "Jika ada pemaafan, maka itu datangnya dari Allah. Adapun engkau, tidak ada kebebasan bagimu dan tidak ada uzur."

Al-Hajjaj berkata: "Bawa dia pergi dan bunuhlah dia!"

Ketika mereka membawanya keluar melewati pintu, Sa'id tersenyum. Hal itu dilaporkan kepada Al-Hajjaj, maka ia memerintahkan agar Sa'id dibawa kembali kepadanya, lalu bertanya: "Apa yang membuatmu tertawa?"

Sa'id menjawab: "Aku kagum atas keberanianmu terhadap Allah, dan betapa santunnya (kemurahan) Allah terhadapmu."

Al-Hajjaj berkata: "Bunuh dia!"

Maka Sa'id mengucapkan:

"Sesungguhnya aku menghadapkan diriku kepada Tuhan yang menciptakan langit dan bumi dengan cenderung kepada agama yang benar, dan aku bukanlah termasuk orang-orang yang mempersekutukan Tuhan." (QS. Al-An'am: 79)

Al-Hajjaj berkata: "Palingkan dia ke selain arah kiblat!"

Sa'id membaca:

"Maka ke mana pun kamu menghadap di sanalah wajah Allah." (QS. Al-Baqarah: 115)

Al-Hajjaj berkata: "Tungkurepkan wajahnya ke tanah!"

Sa'id membaca:

"Dari bumi (tanah) itulah Kami menciptakan kamu dan kepadanya Kami akan mengembalikan kamu dan daripadanya Kami akan mengeluarkan kamu pada kali yang lain." (QS. Thaha: 55)

Al-Hajjaj berkata: "Sembelih dia!"

Sa'id berkata: "Adapun aku, aku bersaksi bahwa tidak ada tuhan selain Allah yang Maha Esa, tidak ada sekutu bagi-Nya, dan bahwa Muhammad adalah hamba dan utusan-Nya. Peganglah kesaksian ini dariku hingga engkau menemui ku pada hari kiamat."

Kemudian Sa'id berdoa kepada Allah dengan mengucapkan: "Ya Allah, janganlah Engkau beri dia kekuasaan atas seorang pun untuk membunuhnya setelahku."

Lalu mereka menyembelihnya di atas hamparan kulit (natha')—semoga Allah merahmatinya—. Dan Al-Hajjaj hanya hidup lima belas malam saja setelah peristiwa itu, kemudian ia mati...

Ujian Antara Kelam Masa Lalu dan Hari Ini:

Demikianlah tampak jelas garis-garis pertarungan antara kebenaran (al-haqq) dan kebatilan (al-bathil) di sepanjang lintasan sejarah. Ia adalah satu gambaran yang memiliki bentuk beranekaragam... Zaman dan tokoh-tokohnya berganti, namun hakikatnya tetap sama...

Ia adalah keluhuran iman di setiap zaman... Ketinggian kebenaran di setiap era... Contoh-contoh keperkasaan laki-laki yang ditempa oleh akidah Islam... Ia adalah hasil karya unik yang diproduksi oleh madrasah kenabian di setiap saat; gejolak kehidupan, obat penawar kehidupan.

Sungguh agama ini telah membuktikan—melalui berdesakannya para pahlawan dan pejuang dalam sejarahnya yang panjang—akan kelayakannya yang tiada tanding dalam melahirkan kepahlawanan dan keperkasaan...

Hasan Al-Banna Sang Imam yang Syahid:

Pada fajar abad ke-20, umat Islam memiliki janji sejarah dengan seorang pahlawan dari pahlawan-pahlawan Islam di era modern; dialah Hasan Al-Banna, Sang Imam yang Syahid...

Hasan Al-Banna lahir di tengah masyarakat yang dikuasai oleh sistem feodalisme, serta merebak di dalamnya bid'ah dan khurafat... Masyarakat yang memiliki seluruh karakteristik jahiliah pertama beserta adat istiadat dan tradisi-tradisinya. Masyarakat yang staminanya telah dihabisi oleh kolonialisme Inggris dan telah menghancurkan kekuatan moral maupun materialnya...

Lalu Hasan Al-Banna memekikkan seruan yang menggelegar; mengagetkan orang-orang yang tertidur, menyadarkan orang-orang yang lalai, dan menggerakkan perasaan orang-orang beriman...

Gema seruan ini memantul ke segenap penjuru tempat... Ratusan orang dari berbagai ras menyambutnya... Hingga dari rahim waktu lahirlah sebuah gerakan Islam yang setelah beberapa saat kemudian memenuhi ruang mata, pendengaran, dan penglihatan dunia...

Meskipun demikian, Hasan Al-Banna senantiasa bersiap siaga menghadapi apa yang disembunyikan oleh sang waktu berupa cobaan dan ujian... Beliau terus menyiapkan para dai sejak awal perjalanan untuk menghadapi segala kemungkinan yang akan terjadi...

Beliau membisikkan pesan kepada mereka dalam majelis-majelis khusus maupun umum seraya berkata: "Sesungguhnya dunia akan bersatu padu menyerang kalian. Mereka akan memusuhi kalian dalam mata pencaharian kalian. Dan sesungguhnya penjara-penjara akan membuka pintu-pintunya untuk menampung dan menjamu kalian."

Pada suatu hari beliau berkhotbah di hadapan mereka dan berkata:

 

"Kamu sungguh-sungguh akan diuji terhadap hartamu dan dirimu. Dan (juga) kamu sungguh-sungguh akan mendengar dari orang-orang yang diberi kitab sebelum kamu dan dari orang-orang yang mempersekutukan Allah, gangguan yang banyak yang menyakitkan hati. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan." (QS. Ali 'Imran: 186)

Dan inilah sunnatullah Tabaraka wa Ta'ala pada para pengusung dakwah, orang-orang yang beriman kepadanya, dan para pejuang yang beramal untuknya; yaitu Dia menguji mereka pada diri mereka, rezeki mereka, anak-anak mereka, serta dengan gangguan, tipu daya, kedustaan, kebohongan, dan permusuhan dari para pesaing, penentang, dan orang-orang yang tidak mengetahui hakikat dakwah mereka:

"Maka kamu tidak akan mendapati perubahan bagi sunnatullah, dan kamu tidak akan mendapati penyimpangan bagi sunnatullah itu." (QS. Fathir: 43)

Tidaklah Allah mengutus seorang nabi pun dari para nabi... Dan tidaklah Dia mengutus seorang rasul dari sisi-Nya melainkan dengan membawa kebaikan, petunjuk, dan jalan yang lurus; untuk mengeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya dengan izin Rabb mereka menuju jalan Dzat Yang Maha Perkasa lagi Maha Terpuji...

Karena itulah Nuh datang... Dengan inilah Ibrahim diutus... Untuk inilah Musa berdakwah... Di jalannya pula 'Isa diutus... Dan dengan hakikat-hakikat inilah Muhammad merepresentasikan seruannya, shalawat dan salam Allah semoga tercurah kepada mereka semuanya...

Itulah sunnatullah yang tidak pernah berubah:

"Dan demikianlah Kami jadikan bagi tiap-tiap nabi musuh dari orang-orang yang berdosa. Dan cukuplah Tuhanmu menjadi Pemberi Petunjuk dan Penolong." (QS. Al-Furqan: 31)

Dalam sebuah majelis santai bersama para saudaranya, Hasan Al-Banna berkata: "Sungguh Sayyidina Umar datang kepadaku dalam mimpi seraya mengabarkan kepadaku dengan suara yang sangat keras: 'Engkau akan dibunuh wahai Hasan!' Maka aku terbangun dan memuji Allah, kemudian aku tidur kembali. Lalu suara tanpa rupa datang lagi kepadaku seraya berkata: 'Engkau akan dibunuh wahai Hasan!' Kemudian aku bangun dan melaksanakan shalat tahajud hingga fajar."

Dan benar saja... Belum sempat musuh-musuh Islam merasakan secara penuh kekuatan gerakan Islam dan ancamannya terhadap keberadaan mereka, mereka langsung membakarnya dengan api tipu daya dan kedengkian mereka.

Pada tanggal 12 Februari 1949, kaki tangan Raja Farouk melaksanakan kejahatan mereka yang amat keji dan mungkar atas perintah (orang-orang Inggris).

Hasan Al-Banna dibunuh di siang bolong, di jalan terbesar di kota Kairo, oleh timah panas para penguasa zalim dan kaum penjajah.

Hasan Al-Banna gugur pada saat umat Islam sedang sangat membutuhkan sosok dirinya dan orang-orang yang sepertinya...

Para Pemilik Akidah Membayar Harganya:

Ujian semakin memuncak dalam perjalanan hidup dakwah... Kepemimpinan umat beralih ke tangan para penguasa zalim yang menimpakan azab yang buruk kepada orang-orang beriman; mereka membunuh kaum laki-laki... Memjandakan kaum wanita... Dan menimpakan segala bentuk kemungkaran kepada mereka...

Sudah menjadi keharusan bagi dakwah Islam untuk membayar harganya... Dan ia membayarnya dengan sangat dermawan berupa darah, korban, dan para syuhada...

Tidak mungkin bagi suatu kelompok pejuang untuk mundur ke belakang sementara mereka telah menyadari tanggung jawab sebelum memikulnya... Dan telah mengkalkulasi konsekuensi sebelum terjun menghadapinya...

Sungguh, Islam telah diakali dan dikhianati oleh anak kandungnya sendiri maupun musuh-musuhnya... Dan telah dikerahkan untuk meruntuhkannya kekuatan dari Timur dan Barat... Serta dikerahkan untuk tujuan tersebut para tokoh, harta, lisan, pena, buku-buku, dan siaran-siaran radio...

Sebab para pemandu era jahiliah tidak mengkhawatirkan apa pun bagi kepemimpinan mereka selain Islam... Dan mereka menyadari bahwa kemenangan gerakan Islam berarti terbongkarnya kedok mereka, tersingkapnya tipu daya mereka, dan dengan demikian sirnalah mereka dari panggung penipuan dan penyesatan untuk selama-lamanya...

Di atas jalan (Al-Banna), iring-iringan syuhada terus menyambung dan konvoi para mujahidin terus berjalan... Langkah perkasa terus berlanjut mendobrak takhta para penguasa zalim dengan kebenaran, mengguncang istana-istana kaum yang aniaya... Dan menyusupkan rasa takut ke dalam hati orang-orang kafir...

Di atas jalan yang sama, melangkah sang ulama pakar fikih pemilik kitab At-Tasyri' Al-Jina'i fil Islam (Hukum Pidana dalam Islam)[^3], dengan membusungkan dadanya penuh keluhuran iman dan setia kepada Islamnya...

Di atas jalan yang sama pula, melangkah pelopor pemikiran Islam modern pemilik kitab Fi Zhilalil Qur'an dan Ma'alim fit Thariq (Petunjuk Jalan)[^4], sementara di alam semesta bergema bait-bait puisi agungnya sebagai pekik kegembiraan dan nyanyian pernikahan bagi syahid yang baru:

Saudaraku, jika engkau meneteskan air mata untukku...

Dan membasahi kuburku dengannya dalam kekhusyukan...

Maka nyalakanlah lilin-lilin dari jasadku untuk mereka...

Dan berjalanlah dengannya menuju kemuliaan yang abadi...

Saudaraku, jika aku mati, kita akan bertemu dengan kekasih-kekasih kita...

Taman-taman Rabbku telah disiapkan untuk kita...

Dan burung-burungnya mengepakkan sayap di sekitar kita...

Maka beruntunglah bagi kita di negeri keabadian...

Saudaraku, pasukan kegelapan pasti akan binasa...

Dan fajar baru akan terbit menyinari alam semesta...

Maka lepaskanlah kerinduan jiwamu...

Engkau akan melihat fajar menatap kita dari kejauhan...

Sungguh, ini adalah satu jalan yang padat diisi oleh langkah-langkah para syuhada.

Dan sungguh, ini adalah satu cita-cita yang diulang-ulang oleh hati orang-orang beriman: "Dan mati di jalan Allah adalah cita-cita kami yang tertinggi."

Bagaimana Kita Menghadapi Ujian/Mihnah?

Sesungguhnya gerakan Islam ketika hari ini menghadapi berbagai tantangan dan tekanan... Serta ketika ia menanggung berbagai cobaan dan ujian... Hendaknya berdiri di atas landasan yang kokoh dan tegak di atas batu karang yang kuat. Oleh karena itu, ia harus bergerak di atas petunjuk, sehingga geraknya tidak dikendalikan oleh emosi semata atau digoyahkan oleh gejolak perasaan dan lompatan-lompatan instan...

Sesungguhnya gerakan Islam dituntut untuk menghadapi perang terbuka terhadap Islam dan pemeluknya ini dengan pembentukan (shiyagah) yang baik terhadap para pemuda dan pejuang laki-lakinya, dengan persiapan yang sempurna, kemudian dengan perencanaan yang matang untuk setiap langkah dari langkah-langkahnya.

Gerakan Islam pada era modern ini sepantasnya menanamkan di dalam jiwa elemen-elemen dan para dainya jiwa pengorbanan dan kedermawanan, yaitu dengan menempatkan mereka dari waktu ke waktu di hadapan tanggung jawab dan tugas-tugas yang membiasakan mereka dari waktu ke waktu pada keberanian, pengorbanan, dan keteguhan... Serta mencabut faktor-faktor kelemahan, ketakutan, dan kekalahan dari dalam jiwa mereka...

Sesungguhnya gerakan Islam dituntut untuk memasukkan ke dalam kalkulasi dan perhitungannya di bidang pendidikan (tarbiyah) dan pembinaan (takwin), beratnya tanggung jawab dan besarnya konsekuensi yang menantinya serta menanti individu-individunya. Maka ia menempuh bersama mereka segala jalan yang dapat menyiapkan mereka untuk kehidupan bersiaga, berjihad, dan berjuang... Serta menjauhkan dari apa saja yang membuat mereka cenderung tunduk pada dunia dan membiasakan mereka pada kehidupan yang santai dan kenikmatan yang melinabokkan.

Sesungguhnya Islam pada fase ini membutuhkan elemen-elemen yang bergerak, berani, dan matang... Adapun elemen-elemen yang pasif dan kaku, sesungguhnya mereka tidak berada pada level pertempuran yang sedang diarungi oleh Islam hari ini...

Maka hendaklah orang-orang yang sepadan tampil untuk memikul tanggung jawab... Dan hendaklah orang-orang yang kompeten maju menuju medan pertempuran... Dan mahabenar Rasulullah ketika beliau bersabda:

عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «رَحِمَ اللهُ امْرَأً عَرَفَ حَدَّهُ فَوَقَفَ عِنْدَهُ»

Dari Nabi beliau bersabda: "Semoga Allah merahmat seorang laki-laki yang mengetahui batas (kemampuan) dirinya lalu dia berhenti pada batas tersebut." [HR. Al-Bukhari dalam At-Tariqh Al-Kabir dan Abu Nu'aim dalam Hilyatul Auliya']

Semoga Allah merahmati pengantinnya...

Catatan Kaki (Footnote):

[^1]: Suatu tempat di sebelah timur Makkah.

[^2]: Beliau (Khubaib) adalah orang pertama yang menyunnahkan shalat dua rakaat ini ketika hendak dieksekusi mati.

[^3]: Beliau adalah Asy-Syahid Abdul Qadir 'Audah.

[^4]: Beliau adalah Asy-Syahid Sayyid Qutb.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat