KH. Hilmi Aminuddin: Kita Wajib Berlapang Dada
Ikhwan dan akhwat fillah rahimakumullah.
Sebagai
da’i kita harus punya keteguhan sikap dalam menghadapi berbagai cobaan dan
tantangan yang ada karena itu adalah sunnatullah dalam perjalanan dakwah.
Karakter da’i adalah Atsbatu mauqifan, paling teguh sikapnya. Tidak tergoda,
tidak terprovokasi, tidak berhenti apalagi mundur.
Namun,
ikhwan wa akhwat fillah, keteguhan sikap kadang-kadang menimbulkan
eksklusivitas. Kadang-kadang –na’udzubillah- menimbulkan kesombongan.
Kadang-kadang menimbulkan kekakuan dalam komunikasi. Oleh karena itu, harus
diimbangi dengan arhabu shadron, paling berlapang dada. Teguh sikap, tapi
paling berlapang dada.
Berlapang
dada terhadap kritikan. Berlapang dada, bahkan terhadap aneka ragam cemoohan.
Aneka ragam fitnah, kita berlapang dada. Bahkan kita jadikan semua itu
bahan-bahan untuk instropeksi, untuk mawas diri, untuk memperbaiki. Kita
sebagai pribadi dan kita sebagai jama’ah, kita perbaiki semua. Jadi insyaAllah
semua itu kita terima dalam konteks bahan-bahan untuk instropeksi, untuk
memperbaiki diri.
Kita
berlapang dada. Kita tidak marah, apalagi ngamuk-ngamuk. Walaupun kalimat amuk
itu spesifik melayu, sampai jadi bahasa Inggris. Artinya itu spesifik karakter
melayu, melakukan sesuatu tanpa perhitungan, gelap mata. Tapi insyaAllah dengan
manhaj kita, kita sudah melepaskan diri sikap-sikap amuk melayu itu. Nggak ada
pada kita. Nggak ada sikap-sikap amuk itu. Kita dengan tenang menghadapi
cemoohan, menghadapi caci maki. Menghadapi ancaman-ancaman, kita tenang aja.
Karena
kita arhabu shadron. Sehingga komunikasi kita dengan orang, termasuk dengan
yang mencaci-maki pun tidak patah arang. Setiap saat kita tetap bisa menyambung
silaturrahim. Setiap saat kemungkinan ta’awun. Setiap saat terbuka kerjasama.
Nggak ada kita mutung-mutungan. Nggak ada.
Ini
sikap dari kader kita harus begitu. Atsbatu mauqifan, tetapi arhabu shadron.
Paling teguh sikapnya, tapi luar biasa lapang dadanya. Dan ini karunia Allah
swt.
Ikhwan
dan akhwat fillah rahimakumullah..
Rasulullah
saw. qudwah kita, yang sudah berarti ujiannya jauh lebih besar dari ujian
kepada kita. Disebutkan asaddu bala’an itu al anbiya’, yang paling berat
ujiannya itu para nabi. Rasulullah saw. ketika datang ujian, di saat-saat
fatrah makkiyah, beberapa tahun sebelum hijrah, dua tahun – tiga tahun sebelum
hijrah, istri beliau Khadijah ra. meninggal dunia. Padahal dengan wibawanya
sebagai bangsawan Quraish, denang hartanya sebagai aghniya’ Quraish, itu
mem-back up dakwah Rasulullah saw.
Abu
Thalib –pamannya- yang mem-back up melindungi keponakannya juga meninggal dunia
dalam waktu yang tidak berjauhan. Di saat itu intimidasi Quraish meningkat,
ancaman-ancaman meningkat, karena dua pelindung besar ba’da Allah sudah tidak
ada. Sudah tentu sebagai manusia, Rasulullah merasakan himpitan itu, tekanan
itu, intimidasi itu semakin terasa. Tapi kemudian Allah menurunkan dua surat
(Adh-Dhuha & Al Insyirah), menghibur Rasulullah saw.
Kata
Allah swt. dalam surat Ad Dhuha, “Waddhuha, wallaili idza saja..” Allah
bersumpah terhadap waktu dhuha dan waktu malam. Kata Allah, “Maa wadda’aka
Rabbuka wa maa qola..” Tidak sekali-kali Allah meninggalkanmu dan tidak juga
marah kepadamu.
Ini
kita sebagai waratsatul anbiya’ wal mursalin, ketika ada himpitan-himpitan,
kembali kepada waddhuha itu. Allah memang dari waktu ke waktu menguji kita,
selagi kita istiqomah ala thoriqid da’wah, insyaAllah, Allah tidak meninggalkan
kita. Maa wadda’aka wa maa qola, dan tidak juga marah.
Itu
Allah lagi menggembleng kita. Yang kadang-kadang supaya hasil gemblengannya
hakiki, instrukturnya itu memang lawan bener gitu. Jadi bukan artifisial,
bukan. Bukan dibuat-buat. Memang orang yang berniat jahat banget sama kita yang
jadi instruktur. Agar hasilnya hakiki. Tembakannya bener-bener diarahkan.
Supaya hasilnya hakiki, dalam pelatihan itu. Itu sunnatullah begitu.
Kalau
dalam latihan yang dibuat, yang artifisial, hasilnya tidak hakiki. Jadi sekali
lagi, ingat kepada waddhuha wallaili idza saja. Kata Allah, maa wadda’aka
Rabbuka wa maa qola. Bahkan Allah membangunkan optimisme kita, walal akhiratu
khairu laka minal ula. Masa depan kalian lebih baik dari masa lalu kalian.
Yakini itu.
Untuk
menyongsong masa depan yang lebih baik, baik dunia atau akhirat kita, ya kita
perlu digembleng. Walal akhiratu khairu laka minal ula. Dan, wala saufa
yu’thika, Allah akan selalu memberi dan memberi, memfasilitasi dan
memfasilitasi, jika kita tetap berjalan dalam thariqul istiqomah. Wala saufa
yu’thika Rabbuka fatardho. Dan kamu ridho, puas, qona’ah, akan perjalanan yang
benar ini.
Ikhwan
dan akhwat fillah rahimakumullah..
Dalam
situasi yang seperti yang saya gambarkan dalam sejarah Rasulullah, kemudian
diikuti dengan surat al Insyirah. Alam nasyrah laka shadrok, kata Allah.
Bukankah telah kami lapangkan dada kalian. Yang tadi saya katakan arhabu
shadron, itu karena Allah melapangkan dada kita.
Alam
nasyrah laka shadrok, wawadho’na ‘anka wizrok. Dan Kami letakkan beban yang ada
di punggung kalian. Alladzi anqodzo dhohrok. Warafa’na laka dzikrok. Kemuliaan
kalian ditingkatkan.
Fa
inna ma’al ‘usri yusro, inna ma’al ‘usri yusro, kata Allah dalam menghidupi
situasi seperti ini,. Luar biasa. Allah untuk memberikan kemudahan melalui
kesulitan. Dalam kesulitan itulah terkandung kemudahan. Diingatkan sampai dua
kali. Untuk menemukan kemudahan dalam kesulitan. Untuk menemukan kenikmatan
dalam ancaman. Ya, kita harus terus aktif.
Fa
idza faraghta fanshob. Jangan berhenti bekerja. Artinya, kita para pekerja
dakwah. Yang tidak berhenti oleh situasi apapun, oleh ancaman apapun.
Fa
idza faraghta fanshob. Dan motivasi kita, tujuan kita jelas. Wa ila Rabbika
farghob. Situasi yang menghimpit Rasulullah, situasi yang menekan Rasulullah
itu, dijawab oleh Allah dengan dua surat yang sangat menghibur Rasulullah saw.
InsyaAllah, dua surat itu harus menjadi bekalan kita dalam segala situasi
sehingga kita bisa terus bekerja untuk kemaslahatan bangsa.
Negeri
tercinta ini adalah anugerah Allah kepada kita. Apalagi tanah air kita, yang
indah permai, mengandung banyak resouces. Yang bangsa-bangsa lain ngiri, ingin
ikut menikmatinya. Bahkan kadang-kadang berkonspirasi untuk merebutnya, atau
memanfaatkannya, tanpa melihat hak-hak dari pemilik sah dari bumi pertiwi
Indonesia ini. Tanggungjawab nasional ini harus tampil, dalam kehadiran kita,
dalam program kita, agenda kita, sepak terjang perjuangan kita. Harus tampil.
Kita
adalah pengawal di garis terdepan bagi kepentingan-kepentingan bersama secara
nasional. Kita tidak ingin merusak negara ini, karena ini adalah negara karunia
Allah.
*Kutipan
Taushiyah Ketua Majlis Syuro PKS Ustadz Hilmi Aminuddin pada acara DPW PKS DKI
tanggal 27 Maret 2011.
Comments
Post a Comment