Hadits_5_Kewajiban Amar Ma'ruf Nahi Mungkar: Kebangkitan Umat
Kewajiban
Amar Ma’ruf Nahi Munkar:
Hadits_5:
Kebangkitan Umat
Dari
Tsauban radhiyallahu 'anhu, bekas budak yang dimerdekakan oleh
Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, ia berkata: Rasulullah shallallahu
'alaihi wa sallam bersabda:
يُوشِكُ أَنْ تَدَاعَى
عَلَيْكُمُ الأُمَمُ مِنْ كُلِّ أُفُقٍ كَمَا تَدَاعَى الأَكَلَةُ عَلَى
قَصْعَتِهَا. قَالَ: قُلْنَا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَمِنْ قِلَّةٍ بِنَا
يَوْمَئِذٍ؟ قَالَ: أَنْتُمْ يَوْمَئِذٍ كَثِيرٌ، وَلَكِنَّكُمْ تَكُونُونَ
غُثَاءً كَغُثَاءِ السَّيْلِ، تُنْتَزَعُ المَهَابَةُ مِنْ قُلُوبِ عَدُوِّكُمْ،
وَيُجْعَلُ فِي قُلُوبِكُمُ الوَهَنُ. قَالَ: قُلْنَا: وَمَا الوَهَنُ؟ قَالَ:
حُبُّ الحَيَاةِ وَكَرَاهِيَةُ المَوْتِ.
"Hampir
tiba suatu masa di mana bangsa-bangsa akan saling mengajak untuk memperebutkan
kalian dari segala penjuru, sebagaimana orang-orang yang makan saling mengajak
mengerumuni nampan santapannya." Tsauban berkata: Kami bertanya,
"Wahai Rasulullah, apakah hal itu disebabkan jumlah kami yang sedikit pada
hari itu?" Beliau bersabda: "Bahkan kalian pada hari itu berjumlah
banyak, tetapi kalian bagaikan buih seperti buih air bah. Rasa takut/segan
dipencabut dari hati musuh-musuh kalian, dan di dalam hati kalian ditanamkan al-wahan."
Tsauban berkata: Kami bertanya, "Wahai Rasulullah, apakah al-wahan
itu?" Beliau bersabda: "Cinta kehidupan (dunia) dan benci
kematian." [Diriwayatkan oleh Imam Ahmad (37/81, no. 22397)].
Biografi
Singkat Sahabat Perawi Hadis
Tsauban
bin Bujdud—ada yang mengatakan: Ibn Jahdar—Al-Qurasyi Al-Hasyimi, Abu Abdillah,
bekas budak yang dimerdekakan oleh Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam.
Ia berasal dari penduduk As-Sarah (As-Sarah adalah sebuah tempat/kawasan
pegunungan yang terletak di antara Mekah dan Yaman). Ia senantiasa menyertai
Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dan menjadi sahabat beliau, serta
menghafal banyak ilmu dari beliau. Ia tidak pernah berpisah dengan Nabi baik
saat mukim maupun dalam perjalanan hingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam
wafat. Setelah itu, ia keluar menuju Syam lalu tinggal di Ramlah, kemudian
berpindah ke Homs dan terus menetap di sana hingga wafat. Umurnya panjang dan
namanya sangat tersohor. Ia wafat pada tahun 54 Hijriah (Lihat Siyar A'lam
an-Nubala' (3/16) dan Tahdzib al-Kamal (4/413)).
Makna
Kata-Kata Asing/Gharib
- Tada'a 'alaikumul-umam (تَدَاعَى
عَلَيْكُمُ الأُمَمُ): Maksudnya, sebagian dari mereka
saling menyeru dan mengajak sebagian yang lain untuk berkumpul mengepung
kalian.
- Akalatun (أَكَلَةٌ):
Bentuk jamak dari Akil (orang yang makan).
Makna
Global Hadis
Peringatan
Bagi Umat dari Kesetimpaan Ambisi Bangsa-Bangsa Lain
Hadis
ini termasuk di antara tanda-tanda kenabian (a'lamun-nubuwwah), yang di
dalamnya memuat peringatan yang sangat mendalam bagi umat ini. Bahwasanya akan
datang suatu zaman di mana umat ini memiliki kekayaan dan karunia yang
berlimpah, bagaikan nampan yang penuh berisi makanan. Namun, harta simpanan dan
makanan ini haram (tidak terjangkau) bagi pemiliknya sendiri, tetapi halal
(direbut) bagi orang-orang asing dan para musuh. Mereka saling mengajak satu
sama lain untuk menguasainya serta mengepungnya dari segala penjuru.
Pengeroyokan ini dilakukan oleh bangsa-bangsa secara kolektif, bukan sekadar
individu-individu yang datang sebagai imigran atau pendatang. Begitu pula
mereka datang dari setiap penjuru horizon, yang merupakan ungkapan konotatif
atas jauhnya negeri asal mereka.
Sebab
Ambisi Bangsa-Bangsa Terhadap Umat Ini
Adapun
pertanyaan para sahabat: "Apakah hal itu disebabkan jumlah kami yang
sedikit pada hari itu?", hal itu terjadi ketika mereka memahami bahwa
peristiwa tersebut merupakan bentuk agresi terhadap umat. Suatu agresi tidak
akan terjadi apabila umat berjumlah banyak dan memiliki wibawa yang ditakuti.
Maka Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam memberitahukan kepada mereka
bahwa jumlah mereka sesungguhnya banyak, tetapi mereka tidak memiliki
bobot/pengaruh di antara bangsa-bangsa dan tidak ada rasa segan atau takut
terhadap mereka di dalam hati para musuh. Mereka bagaikan buih (ghutsa'),
dan ghutsa' adalah serpihan, sampah kayu, serta busa yang diangkut oleh
air bah; volumenya besar namun bobotnya sangat ringan. Adapun penyebab
ringannya bobot dan dicabutnya rasa segan dari hati musuh adalah al-wahan.
Dan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam telah menjelaskan makna al-wahan,
yaitu cinta dunia dan benci kematian.
Ambisi
Bangsa-Bangsa Terhadap Umat pada Era Modern Ini
Sejak
akhir abad ke-18 Masehi, kolonialisme Barat mulai merangsek masuk ke
negeri-negeri kaum muslimin. Negeri-negeri muslim di Asia dan Afrika tunduk di
bawah pemerintahan langsung dari negara-negara penjajah. Bahkan India yang
dihuni oleh ratusan juta jiwa manusia saat itu dikuasai dan diperintah oleh
sebuah kongsi dagang Inggris. Pada periode ini pula, sumur-sumur minyak, gas,
dan barang tambang mulai mengepul dan meledak keluar, di samping kekayaan alam
yang sangat melimpah dari segala jenis dan ragamnya. Namun, kekayaan yang
tersimpan di dalam bumi maupun yang ada di permukaannya ini menjadi rampangan
yang sangat mudah (ghanimah baridah) bagi negara-negara penjajah.
Negeri-negeri kaum muslimin beserta rakyatnya bagaikan surga yang kaku/lumpuh
tak berdaya, di mana para penjajah berbuat sekehendak hatinya dalam merampok,
membagi-bagi wilayah, serta memperjualbelikannya. Kelaparan, kebodohan,
penyakit, dan kelemahan tekad ('ajzul-iradah) menguasai dunia Islam.
Perumpamaan mereka sebagaimana yang dikatakan oleh penyair:
Bagaikan
unta di padang pasir sahara yang mati karena kehausan,
Padahal
air diangkut dan terikat di atas punggungnya.
Kebangkitan
Umat
Setelah
adanya konspirasi terhadap Khilafah Islamiyyah hingga runtuhnya khilafah pada
awal abad ke-20, gerakan-gerakan Islam (al-jama'at al-islamiyyah)
berdiri di belahan timur maupun barat negeri-negeri Islam untuk menyerukan
perapatan barisan dan mengibaskan debu kelemahan (al-wahan) dari pundak
umat melalui ilmu, pengetahuan, kerja keras, serta jihad di jalan Allah. Hal
ini bertujuan untuk melanjutkan kembali kehidupan Islam (isti'naf al-hayat
al-islamiyyah) dan merebut kembali peran Umat Islam di antara bangsa-bangsa
lain.
Hari
ini—setelah seratus tahun dakwah, perjuangan, serta pelaksanaan amar ma'ruf dan
nahi munkar—Allah Ta'ala menghendaki terwujudnya kesadaran dan
kebangkitan dari kelemahan (al-wahan) ini. Umat telah mulai memulihkan
posisinya seiring dengan munculnya kebangkitan Islam (as-sahwah
al-islamiyyah), kembalinya kesadaran, terjaganya spirit jihad, serta
besarnya hasrat untuk mencari kesyahidan. Tragedi (nakbah) Palestina
merupakan salah satu faktor terpenting dalam hal ini, di mana iring-iringan
kafilah pencari syahid (al-istisy-hadiyyin) berbaris di panggungnya
dalam sebuah fenomena yang membangkitkan kembali ingatan pada gambaran umat di
masa-masa keemasan puncak kejayaan jihadnya. Hingga akhirnya, gugur syahid di
jalan Allah di mata mereka menjadi cita-cita dan harapan yang paling mulia.
Pelajaran
dan Petunjuk yang Dipetik dari Hadis:
- Hadis ini memperingatkan umat
agar tidak menjadi mangsa rampasan bagi bangsa-bangsa di sekitarnya.
- Penyebab timbulnya al-wahan
(kelemahan) dan kerapuhan yang menimpa umat adalah sikap berpaling dari
akhirat, teralu mencintai dunia, dan membenci kematian.
- Menjaga wibawa, eksistensi,
dan kekayaan kekayaan umat hanya dapat dicapai melalui kekuatan,
pengerahan jihad, serta kecintaan pada kesyahidan.
- Ukuran kejayaan ditentukan
oleh keimanan yang kokoh dan orientasi mencari kehidupan akhirat, bukan
oleh tolok ukur banyaknya jumlah kuantitas umat Islam.
- Kewajiban bagi para da'i dan
ulama untuk membangkitkan kembali rasa harga diri keimanan (anfatul-iman),
kemuliaan orang-orang beriman ('izzatul-mu'minin), menjaga hak-hak
umat, serta melindungi kekayaan kekayaannya.
Comments
Post a Comment