Hadits_1: Perumpamaan orang yang berilmu dan mengamalkan ilmunya
Kewajiban
Menuntut Ilmu:
Hadits-1:
Perumpamaan Ulama yang Mengamalkan Ilmunya
Dari
Abu Musa Al-Asy'ari radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi
wa sallam, beliau bersabda:
مَثَلُ ما بَعَثَنِي
اللهُ به منَ الهُدَى والعِلْمِ كَمَثَلِ الغَيثِ الكَثيرِ أَصابَ أرضاً، فكان
منها نَقِيَّةٌ قَبِلَتِ الماء فأنبَتَتِ الكَلا والعُشْبَ الكثير، وكانت منها
أَجادِبُ أَمْسَكَتِ الماءَ، فَنَفَعَ اللهُ بِهَا النَّاسَ، فَشَرِبُوا وَسَقَوْا
وزَرَعُوا، وأصابَتْ منها طائفةً أُخرى، إِنَّما هي قيعان، لا تُمْسِكُ مَاءً ولا
تُنبِتُ كَلاً، فذلكَ مَثَلُ مَن فَقُهَ فِي دِينِ اللَّهِ ، وَنَفَعَهُ مَا
بَعَثَنِي اللهُ به ، فَعَلِمَ وعَلَّمَ ، وَمَثَلُ مَن لم يَرْفَعْ بذلك رأساً،
ولم يَقبَلْ هُدَى اللهِ الَّذِي أُرسِلْتُ به
"Perumpamaan
petunjuk dan ilmu yang Allah utus aku dengannya adalah bagaikan hujan lebat
yang menyiram bumi. Di antara tanah itu ada yang subur [bersih/baik], yang
menyerap air lalu menumbuhkan tumbuh-tumbuhan dan rumput yang lebat. Dan di
antaranya ada pula tanah yang keras [kering], yang menahan air sehingga Allah
memberikannya manfaat bagi manusia; mereka dapat minum, memberi minum ternak,
dan bercocok tanam dengannya. Serta hujan itu mengenai bagian lain dari tanah
tersebut, yaitu tanah datar [tandus] yang tidak dapat menahan air dan tidak
pula menumbuhkan rumput-rumputan. Demikian itulah perumpamaan orang yang
memahami agama Allah dan mengambil manfaat dari petunjuk yang Allah utus aku
dengannya, maka ia mengetahui dan mengajarkannya. Serta perumpamaan orang yang
tidak acuh [tidak memedulikannya] sama sekali dan tidak mau menerima petunjuk
Allah yang aku diutus dengannya." (HR. Al-Bukhari no. 79 dan Muslim
no. 2282).
Makna
Kata-Kata Asing (Ma'anil Gharib):
- Mathal (مثل):
Upaya mendekatkan pemahaman suatu hal dengan gambaran konkret tertentu.
- Ajadib (أجادب):
Bentuk jamak dari jadab (جَدَب), yaitu tanah keras yang dapat
menampung dan menahan air seperti genangan air/telaga.
- Qi'an (قيعان):
Bentuk jamak dari qa' (قاع), yaitu tanah datar yang keras yang
tidak dapat menumbuhkan tanaman dan tidak dapat menampung air.
Makna
Global Hadis
Perumpamaan
Ulama Rabbani yang Mengamalkan Ilmunya
Dalam
hadis ini, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam membuat perumpamaan bagi
manusia dalam menerima petunjuk dan ilmu, bagaikan tanah saat dijatuhi air
hujan. Hal tersebut terbagi menjadi tiga tingkatan/golongan:
Jenis
tanah yang pertama adalah tanah yang subur dan baik, yang menerima air yang
banyak lalu mengambil manfaat dari seluruh air tersebut, serta memberikan
manfaat bagi manusia dan hewan. Demikian pula sekelompok manusia yang diberi
pemahaman oleh Allah Ta'ala untuk menerima petunjuk dan ilmu dari Kitabullah
dan Sunnah Rasul-Nya, lalu Allah memperbaiki hati dan keadaan mereka. Mereka
menjadi para ulama yang bijaksana, pakar fikih (fuqaha), dan Rabbani,
yaitu para pembimbing dan penyeru menuju kebaikan (hudat wa du'at),
serta para perubah (mushlihun) yang menyuruh kepada yang makruf dan
mencegah dari yang mungkar. Mereka mengamalkan Al-Qur'an dan mengajarkannya,
serta bersungguh-sungguh dalam menyebarkan agama ini dan mengamalkannya di mana
pun mereka berada atau berpindah. Mereka inilah yang difirmankan oleh Allah
Ta'ala:
"Akan
tetapi (dia berkata), 'Jadilah kamu pesuruh-pesuruh Allah, karena kamu
mengajarkan kitab dan karena kamu mempelajarinya!'" (QS. Ali 'Imran: 79).
Mereka
juga merupakan para perubah (mushlihun) yang dimaksudkan oleh Allah
Ta'ala dalam firman-Nya:
"Dan
Tuhanmu tidak akan membinasakan negeri-negeri secara zalim, selama penduduknya
adalah orang-orang yang berbuat kebaikan (memperbaiki)." (QS. Hud: 117).
Pada
zaman ini, yang termasuk dalam kelompok ini adalah para kader dan tokoh dakwah
Islam yang mengambil tanggung jawab untuk menyebarkan Islam dan berjuang demi
agama ini di timur dan barat bumi. Mereka menghidupkan kembali nilai-nilai
Islam dalam kehidupan masyarakat setelah mengalami keterasingan (ghurbah)
yang berlangsung lama di seluruh lini kehidupan—keterasingan yang berlangsung
dalam rentang waktu yang panjang dan dampak kerusahannya begitu meluas. Maka
Allah memperbaiki negeri dan hamba-hamba-Nya melalui perantara mereka, serta
mereka menempatkan penyeru jalan Allah di setiap lini, tanpa mengharapkan
balasan dan pahala kecuali dari Allah semata.
Perumpamaan
Ulama Penghafal (Al-Huffazh)
Jenis
tanah yang kedua yang diumpamakan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa
sallam adalah tanah keras yang memiliki cekungan/telaga. Ketika hujan turun
atasnya, air akan berkumpul di cekungan dan kolam-kolamnya lalu tanah tersebut
menahannya. Tanah tersebut memang tidak menumbuhkan tanaman, tetapi dengannya
tanaman dapat disiram. Manusia dapat mengambil manfaat darinya sehingga mereka
bisa minum, memberi minum ternak, dan bercocok tanam.
Tanah
ini adalah perumpamaan bagi orang-orang yang mengumpulkan teks-teks (dalil) dan
menghafalnya, lalu menyampaikannya sebagaimana yang sampai kepada mereka.
Manusia pun mengambil manfaat dari apa yang mereka kumpulkan dan hafal.
Sebagaimana bersabda Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam tentang mereka:
رُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ
لَا فِقْهَ لَهُ ، وَرُبَّ حَامِلِ فِقْهٍ إِلَى مَنْ هُوَ أَفْقَهُ مِنْهُ
"Boleh
jadi orang yang membawa fikih (pemahaman/ilmu) tidak memiliki pemahaman, dan
boleh jadi orang yang membawa fikih membawanya kepada orang yang lebih paham
darinya." (HR. Abu Dawud no. 3660, dan sanadnya sahih).
Mereka
tidak memiliki peran selain menghafal dan sekadar menyampaikan apa yang mereka
hafal. Maka peran dan kemanfaatan mereka dalam kehidupan lebih sedikit
dibandingkan para ulama, fuqaha, dan para da'i yang disebutkan pertama.
Kendati demikian, diharapkan agar mereka dapat naik ke derajat para ulama, fuqaha,
dan da'i melalui jalan menuntut ilmu, mendalami pemahaman agama (tafaqquh),
bersemangat memahami teks-teks dalil serta menyelami dimensi maknanya, dan
berupaya menyebarkan, mengajarkannya kepada manusia, serta mengubahnya menjadi
program praktis dalam realitas kehidupan.
Perumpamaan
Orang-Orang yang Berpaling dari Petunjuk dan Ilmu
Jenis
tanah yang ketiga adalah tanah berbatu yang licin yang tidak dapat menahan
air hujan, tidak dapat mengumpulkannya, dan tidak dapat menumbuhkan tanaman.
Maka air mengalir begitu saja secara sia-sia tanpa memberikan manfaat. Tanah
ini adalah perumpamaan bagi orang-orang yang tidak mau menerima petunjuk Allah
yang diturunkan kepada Nabi-Nya, serta tidak mau menerima ilmu yang dibawanya.
Mereka terus-menerus tenggelam dalam kebodohan dan bergelimang dalam kesesatan
mereka. Bahkan terkadang mereka adalah orang-orang yang memiliki gelar akademis
tinggi, sebagaimana firman Allah Ta'ala tentang mereka:
"Mereka
mengetahui yang lahir (tampak) dari kehidupan dunia; sedangkan terhadap
(kehidupan) akhirat mereka lalai." (QS. Ar-Rum: 7).
Pelajaran
Penting dari Hadis
- Terdapat pengelompokan
tingkatan manusia berdasarkan cara mereka menerima petunjuk dan ilmu
kenabian, serta tingkat kemanfaatan mereka bagi orang lain.
- Terdapat ajaran dan dorongan
bagi manusia agar bersemangat dalam menuntut ilmu serta memahami agama (tafaqquh
fid-din).
- Adanya dorongan untuk
mengamalkan ilmu, menyebarkannya, dan mengajarkannya.
- Dakwah di jalan Allah
merupakan bentuk manifested terbesar dari pemahaman agama (fikih)
dan keikutsertaan dalam mengambil manfaat darinya.
- Hadis ini mengarahkan para
da'i untuk terus meningkatkan pemahaman agama mereka, serta hendaknya
seorang da'i menaiki tangga derajat ilmu, amal, dakwah, dan pergerakan (harakah)
dengan membawa agama ini.
Comments
Post a Comment