Membina Hubungan Dengan Orang Lain
Muqaddimah
يَا
أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا ارْكَعُوا وَاسْجُدُوا وَاعْبُدُوا رَبَّكُمْ
وَافْعَلُوا الْخَيْرَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ (QS. Al-Hajj:77)
“Hai orang-orang yang beriman ruku’lah,
sujudlah dan sembahlah Rabbmu serta perbuatlah kebajikan-kebajikan agar kalian
memperoleh keberuntungan / kemenangan”.
Firman
Allah SWT dalam Al-Qur’an
Selain
diperintahkan untuk ruku’, sujud dan menyembah Allah, seorang Mu’min juga
dituntut aktif berbuat kebajikan terhadap sesama manusia.
Korelasi
antara hubungan vertikal (hablumminallah)
dengan hubungan horizontal (hablumminannaas)
juga terlihat jelas dalam Hadits Nabi SAW:
عَنْ أَبِي ذَرٍّ عَنْ النَّبِيِّ
صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ اتَّقِ اللَّهَ حَيْثُمَا كُنْتَ
وَخَالِقْ النَّاسَ بِخُلُقٍ حَسَنٍ وَإِذَا عَمِلْتَ سَيِّئَةً فَاعْمَلْ
حَسَنَةً تَمْحُهَا
“Bertaqwalah kepada Allah di manapun kamu berada
dan iringilah perbuatan buruk dengan perbuatan baik (karena kebaikan dapat
mengkompensasi keburukan) dan bergaullah dengan sesama manusia dengan akhlak yang
baik."
Dalam
hadits tersebut terungkap setelah perintah bertaqwa kepada Allah dilanjutkan
dengan perintah berbuat kebaikan serta bergaul dengan sesama manusia dengan
akhlak yang baik.
Sehingga
keunggulan kompetitif vertikal seseorang atau dalam kaitannya dengan hablumminallah ditentukan berdasar
tingkat ketaqwaannya,
... إِنَّ أَكْرَمَكُمْ
عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ (QS. 49:13)
Sedangkan
keunggulan kompetitif horizontal ditentukan oleh besar kecilnya kadar
kemanfaatan yang dimiliki orang tersebut bagi orang lain
خَيْرُ النَّاسِ أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ
Sebaik-baik
orang adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain.
(H.R. Daru Quthni)
Menyadari
adanya keterkaitan yang begitu erat antara hablumminallah
dan hablumminannaas, para salafus shalih cepat melakukan
instrospeksi (muhasabah) terhadap hablumminallah mereka apabila mereka
mengalami kesulitan atau masalah di dalam hablumminannaas
mereka.
Jadi
misalnya suatu saat mereka mendapati istri mereka marah-marah, anak-anak mereka
sulit diatur dan bahkan keledai atau onta mereka susah dikendalikan, maka
mereka segera merasa bahwa ada yang tidak beres dalam hubungan ‘ubudiyah dan taqarrub mereka kepada Allah.
Namun
sebaliknya, walaupun seseorang rajin beribadah kepada Allah atau menonjol
kegiatan ‘ubudiyahnya, bila
hubungannya dengan sesama manusia buruk, maka ia tidak akan selamat di dunia
apalagi di akhirat. Seperti digambarkan dalam sirah, tentang seorang wanita
yang ahli ibadah, rajin shalat tahajjud dan shaum sunnah tetapi karena ia gemar
menyakiti hati tetangganya baik dengan lisan maupun perbuatan, maka ia
dikomentari Rasulullah SAW sebagai calon penghuni neraka. Na’udzubillahi min dzalik.
Seyogyanya memang hubungan yang baik dan sehat antara
seorang hamba dengan Rabbnya akan berimbas atau berdampak positif pada
hubungannya dengan sesama manusia.
Syarat-syarat membina hubungan dengan orang lain
Syarat
utama atau modal dasar membina hubungan dengan orang lain adalah keimanan dan
ketaqwaan kepada Allah. Dengan kata lain kunci utama pembuka hubungan baik
dengan orang lain adalah adanya quwwatu
sillah billah (kekuatan hubungan dengan Allah). Karena memang seperti sudah
disinggung di bagian muqaddimah bila hubungan kita dengan Allah baik, akan baik
pulalah hubungan kita dengan manusia lain. Tetapi jika yang terjadi seseorang
yang rajin beribadah tetapi akhlaknya buruk sehingga buruk pula hablumminannaasnya, berarti ada “something wrong” dalam ibadahnya
tersebut. Boleh jadi ibadah yang dilakukannya tersebut sekedar ritual yang
tidak dihayati dan difahami sehingga tidak membawanya pada esensi atau hakikat
ibadah tersebut.
Padahal
dalam Islam tidak ada dikotomi antara ibadah khasshah seperti ruku’, sujud dalam shalat, shaum, haji dll dengan
ibadah ’ammah seperti berbuat baik
pada orang tua, tetangga dll. Atau seperti diungkapkan pula di dalam Al-Qur’an
bahwa sesungguhnya shalat dapat mencegah manusia dari perbuatan keji dan
munkar. (QS.
Al-Ankabut: 45) Artinya shalat yang dihayati sampai
pada esensinya akan berdampak positif tercegahnya manusia dari keburukan
akhlak.
Secara
sederhana hal itu pernah pula diungkapkan dalam lirik ciptaaan penyair Taufik
Ismail dan disenandungkan oleh Group Bimbo yakni: ada sajadah panjang panjang
terbentang dari buaian hingga ke tepi kuburan. Jadi dzikrullah atau ingatnya
manusia kepada Allah, tak hanya ketika berada di atas sajadah, melainkan juga
setelah keluar dari atas sajadah.
Oleh
sebab itu sebelum kita membina hubungan dengan orang lain berdasarkan akhlakul
karimah, kita harus lebih dulu membina hubungan dengan Allah yakni dengan cara
menerapkan akhlak terhadap Allah, Rasul dan Al-Qur’an sebagai pedoman hidup
dari-Nya.
Syarat
kedua untuk membina hubungan dengan orang lain setelah keimanan dan ketaqwaan
kepada Allah adalah husnul khuluq atau akhlak yang baik.
Akhlak yang baik sebenarnya adalah buah
keimanan dan ketaqwaan.
عَنْ أَبِي
هُرَيْرَةَ عَنْ رَسُولِ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ مَنْ
كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيَقُلْ خَيْرًا أَوْ
لِيَصْمُتْ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ
جَارَهُ وَمَنْ كَانَ يُؤْمِنُ بِاللَّهِ وَالْيَوْمِ الْآخِرِ فَلْيُكْرِمْ
ضَيْفَهُ
"Barangsiapa
yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah berkata yang baik atau
(lebih baik) diam. Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir hendaklah
memuliakan tetangganya. Barangsiapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir
hendaklah memulialkan tamunya.” (H.R. Bukhari Muslim)
Akhlak
yang baik ini meliputi akhlak terhadap Allah, Rasul, Al-Qur’an (vertikal) dan
akhlak terhadap sesama manusia seperti pada orangtua, suami, istri, anak,
khadim, teman, tetangga, binatang dan alam. Hal itu semua akan lebih dirinci
dalam bagian setelah ini.
Syarat ketiga untuk membina hubungan dengan orang lain
adalah skill, keahlian atau
ketrampilan berkomunikasi, berinteraksi dan beradaptasi dalam hubungan dengan
sesama manusia.
Akhlak Terhadap Allah SWT
Akhlak
kepada Allah SWT selaku Pencipta, Pemilik, Pemelihara dan Penguasa diri kita
dan jagat raya adalah hal terpenting di atas segalanya. Karena bagaimana
mungkin kita akan bisa berakhlak kepada yang lainnya, bila akhlak kita kepada
Allah sudah buruk.
1.
Mengabdi hanya kepada Allah (QS. 51:56)
2.
Tunduk dan patuh hanya kepada Allah (QS.
3:31)
3.
Berserah diri kepada ketentuan Allah (QS.
2:155-156, 4:69)
4.
Bersyukur hanya kepada Allah (QS. 14:6-7)
5.
Ikhlas menerima keputusan Allah setelah ikhtiar (QS. 9:59)
6.
Penuh harap kepada Allah (QS. 17:28)
7.
Takut, tunduk dan patuh (QS. 5:44,
20:2-3)
8.
Takut terhadap siksa Allah (QS. 11:103)
9.
Berdo’a memohon pertolongan Allah (QS.
2:186)
10.
Cinta dengan penuh harap kepada Allah (QS.
68:32)
11. Takut kehilangan rahmat Allah (QS. 59:13, 2:40)
Akhlak Terhadap Rasulullah SAW
Setelah
terhadap Allah SWT, akhlak yang terpenting adalah terhadap Rasulullah SAW:
1.
Ikhlas beriman kepada Nabi Muhammad SAW
2,
Mengucapkan shalawat serta salam kepadanya
3.
Taat kepada Rasulullah (QS. 3:31, 4:80)
4.
Cinta kepada Rasulullah (QS. 9:24)
5.
Percaya kepada segala yang disampaikan darinya (QS. 48:8)
6.
Tidak boleh mengabaikan Rasulullah (QS.
4:115)
7.
Menghidupkan sunnah Rasulullah (QS. 4:66)
8.
Menghormati pewaris Nabi yakni para ulama yang shidiq (QS. 4:69)
9.
Melaksanakan hukum Allah dan Rasul-Nya (QS.
49:1)
10.
Bersedekah sebelum menimba ilmu dari Rasulullah agar berkah
11.
Jangan mengobral sumpah (QS. 24:53)
12.
Berbicara dengan suara rendah (QS. 49:2)
13.
Beradab dalam musyawarah dengannya (dalam membiacarakan hadits-haditsnya untuk
konteks saat ini)
Akhlak Terhadap Kitab Allah (Al-Qur’an)
1.
Rajin membaca Al-Qur’an agar menjadi syafa’at bagi kita.
2.
Membaca dengan tartil dan tidak terburu-buru.
3.
Membaca Al-Qur’an dengan khusyu’.
4.
Memulai membaca Al-Qur’an dengan isti’adzah.
5.
Memulai membaca Al-Qur’an dengan basmalah.
6.
Membaca Al-Qur’an dengan suara yang baik.
7.
Membaca Al-Qur’an sesuai dengan ilmu tajwid.
8.
Membaca Al-Qur’an dengan tidak mengganggu orang.
9.
Memahami arti ayat Al-Qur’an
10.
Menyimak ketika sedang dibacakan Al-Qur’an.
11.
Membaca Al-Qur’an bersama-sama dan bergantian.
12.
Membaca di waktu fajar dan waktu zhuhur.
13. Berdo’a setelah membaca Al-Qur’an.
Ketiga jenis akhlak di atas adalah modal utama untuk
membangun hubungan dengan yang lainnya
Akhlak Terhadap Diri Sendiri
Terhadap
diri kita sendiri kita sendiripun ternyata kita juga memiliki ketentuan akhlak
yang tidak boleh diabaikan.
1.
Menghindarkan diri dari mencelakakan diri sendiri seperti bunuh diri dan
lain-lain.
2.
Menghindarkan diri dari perbuatan yang tidak baik.
3.
Memelihara kesucian jiwa dengan taubat, muraqabah, muhasabah, mujahadah, dan
taat kepada Allah.
4.
Pemaaf dan mau meminta maaf.
5.
Memiliki kesederhanaan kerendahhatian, kejujuran, keterampilan, kerajinan,
keberanian, keteguhan hati, disiplin, optimis, teguh hati dan bersyukur.
6.
Menghindarkan diri dari sikap tercela seperti khianat, tidak menepati janji,
berburuk sangka, menggunjing, memfitnah, menjauhi dosa-dosa besar, sombong,
egois, zhalim, boros, tamak, dan lain-lain.
Akhlak Terhadap Orangtua
1.
Berbicara dengan kata-kata yang baik.
2.
Melindungi dan mendo’akan (QS. 17:24).
3.
Menghormati dan berterima kasih (QS.
31:14).
4.
Menghubungkan silaturahim.
5.
Menunaikan wasiat kecuali yang maksiat.
6.
Tidak mendurhakainya.
7. Membantu mereka.
Akhlak Terhadap Anak
1.
Memberi nama yang baik.
2.
Menyembelih aqiqah saat akan mencukur rambutnya.
3.
Mengkhitan.
4. Memberi pendidikan dan pengajaran (QS. 66:6)
“Bergaullah dengan anak-anakmu dan bimbinglah
kepada akhlak yang mulia”.(HR. Muslim)
5. Mencarikan jodoh dan mengawinkannya
Akhlak Terhadap Suami
1.
Taat kepada suami selama berada di jalur ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya
2.
Melayaninya dengan baik dalam segala hal
3.
Tidak meremehkan pemberian sekecil apapun
4.
Mengurus rumah tangga dan mentarbiyah anak-anak
5.
Menjaga harta suami dan amanah-amanahnya
6. Selalu meminta izin dan ridhanya bila pergi ke luar
rumah
Akhlak Terhadap Istri
1.
Mempergauli istri dengan baik (QS. 4:19)
2.
Memimpin istri (QS. 2:187, 223)
3.
Memberikan nafkah
4.
Mendidik istri
5.
Melindungi rahasia istri
6.
Memberi kesempatan istri untuk bersilaturahim ke keluarganya juga keluarga
suaminya
7.
Memanggil istri dengan suara yang mengandung kasih sayang
8.
Bersikap sabar dan berwibawa
9.
Membantu istri
10. Berbicara dengan bahasa yang dapat menggembirakan
isteri
Akhlak Terhadap Tetangga
1.
Memuliakan tetangga
2.
Mendahulukan tetangga yang muslim
3.
Mendahulukan tetangga yang dekat
4.
Membantu kepentingan untuk hajat tetangga
5.
Tidak boleh mengganggu tetangga dengan lisan dan perbuatan
6.
Tidak boleh menyebarkan aib tetangga
7. Meminta izin bila ke rumahnya
Akhlak
Terhadap Sesama Muslim
عَنْ ابْنِ شِهَابٍ
أَنَّ سَالِمًا أَخْبَرَهُ أَنَّ عَبْدَ اللَّهِ بْنَ عُمَرَ رَضِيَ اللَّهُ
عَنْهُمَا أَخْبَرَهُ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ
قَالَ الْمُسْلِمُ أَخُو الْمُسْلِمِ لاَ يَظْلِمُهُ وَلاَ يُسْلِمُهُ وَمَنْ
كَانَ فِي حَاجَةِ أَخِيهِ كَانَ اللَّهُ فِي حَاجَتِهِ وَمَنْ فَرَّجَ عَنْ
مُسْلِمٍ كُرْبَةً فَرَّجَ اللَّهُ عَنْهُ كُرْبَةً مِنْ كُرُبَاتِ يَوْمِ
الْقِيَامَةِ وَمَنْ سَتَرَ مُسْلِمًا سَتَرَهُ اللَّهُ يَوْمَ الْقِيَامَةِ
“Muslim
saudara bagi muslim yang lain, tidak boleh menzhalimi dan tidak boleh
membiarkannya disakiti orang. Dan barang siapa yang membantu saudaranya
memenuhi hajatnya, maka Allah akan membantunya, barang siapa yang melonggarkan
satu kesulitan saudaranya, maka Allah akan melonggarkan saru kesulitannya di
hari kiamat dan barnag siapa yang menutupi aib orang islam, maka Allah akan
menutupi aibnya nanti di hari kiamat." (H.R. Tirmizi)
Sebagai
saudara, kita wajib berakhlak baik dengan memenuhi hak-hak saudara kita sesama
muslim seperti misalnya:
1.
Menghubungkan tali persaudaraan
2.
Saling tolong menolong (QS. 5:2)
3.
Membina kebersamaan dan persaudaraan
4.
Menjaga keselamatan bersama
5.
Tidak mencela dan menghina
6.
Tidak menuduh tanpa bukti
7.
Dilarang tidak bertegur sapa lebih dari tiga hari
8.
Memenuhi janji
9. Memberi salam, menjawab bersin dan lain-lain
Akhlak Terhadap Khadim atau Khadimah
Khadim atau
khadimah memiliki kontribusi yang
tidak kecil dalam rumah tangga, perusahaan dan lain-lain, oleh sebab itu kita
pun harus bersikap baik terhadap mereka
1. Cepat
membayar upahnya sebelum kering keringat mereka (Al-Hadits)
2.
Memperlakukannya secara lembut dan manusiawi
3.
Meringankan pekerjaannya
4. Tidak menyuruh dengan beberapa pekerjaan sekaligus
secara bersamaan
Akhlak Terhadap Sesama Manusia
Tidak
semua manusia beragama Islam, tetapi kita juga berinteraksi dengan mereka dan
menghormati mereka selaku sesama manusia dengan cara sebagai berikut:
1.
Menghormati perasaan manusia lain
2.
Memberi dan menjawab salam
3. Pandai berterima kasih
“Tidak dapat bersyukur kepada Allah
orang yang tidak pernah berterima kasih atas kebaikan orang lain”.
(HR. Abu Dawud)
4.
Memenuhi janji (QS. 16:91)
5.
Tidak boleh mengejek (QS. 49:11)
6.
Jangan mencari-cari kesalahan (QS. 49:12)
7. Jangan menawar sesuatu yang sedang ditawar orang lain
Akhlak Terhadap Orang Kafir
Islam
mengatur pula bagaimana pola interaksi kita dengan orang kafir
1.
Meyakini kekafiran adalah kesesatan
2.
Tidak boleh mengikuti kekufuran
3.
Membencinya karena Allah
4.
Tegas dan tidak boleh mencintai orang kafir (QS. 60:1, 5:54)
5.
Berlaku adil dan boleh membantu orang kafir
6.
Boleh saling memberi hadiah
7. Tidak boleh memberi dan menjawab salam
Akhlak Terhadap Tumbuh-tumbuhan
Syumuliyatul Islam
membuat Islam juga juga memiliki aturan bagaimana berinteraksi dengan alam
termasuk tumbuh-tumbuhan:
1.
Menjaga kelestarian alam termasuk tumbuh-tumbuhan
2.
Tidak menebang pohon tanpa keperluan
3.
Tidak boleh buang air kecil di bawah pohon
4.
Memelihara dan merawat tanam-tanaman atau tumbuh-tumbuhan
5.
Menanam pohon yang bermanfaat
6. Membayar zakat hasil tanaman
Akhlak Terhadap Binatang
Seperti
halnya tumbuh-tumbuhan, binatang juga makhluk hidup yang juga harus dipergauli
dengan baik
1.
Memberinya makan dan minum
2.
Tidak mempermainkan binatang
3.
Bila hendak menyembelihnya hendaknya dilakukan dengan baik
4.
Jangan membebani terlalu berat
5.
Tidak menyiksanya dengan cara apapun
6.
Tidak memberi tanda dengan besi panas di muka binatang
7. Membayar zakatnya
Akhlak Terhadap Alam
1.
Menjaga air agar tidak terkena polusi
2.
Jangan boros menggunakan air
3.
Dirikanlah shalat Istisqa’
4. Berdo’alah di kala menggunakan air
Kesemua akhlak tersebut membantu kita dalam membina
hubungan baik dengan orang lain maupun dengan alam agar tercipta harmoni dan
keselarasan dalam hidup.
Keterampilan (Kiat-kiat) dalam membina hubungan dengan
orang lain
Di
samping patokan-patokan dasar berupa tuntunan akhlak Islami yang mengatur pola
hubungan antar manusia dan manusia dengan lingkungannya kiranya dibutuhkan juga
beberapa kiat praktis agar kita sukses dalam berinteraksi atau berhubungan
dengan siapapun.
Dalam
Al-Qur’an surat 9:128, Allah SWT menerangkan tentang sifat-sifat mulia yang
dimiliki Rasulullah SAW yang membuatnya berhasil dalam berda’wah, berinteraksi
dan merebut hati manusia banyak: “Laqad
jaa-akum rasulun min anfusikum, ‘azizun alihi maa ‘anittum, harisun ‘alaikum
bil mu’minina raufur rahim” (Telah datang seorang rasul kepadamu dari
golonganmu sendiri. Terasa amat berat apa yang kamu derita, ia sangat
menginginkan kebaikan bagimu. Terhadap mu’min ia santun lagi kasih sayang).
Ternyata
modal pertama Rasulullah SAW sebagai kiat sukses membina hubungan dengan
manusia dan lingkungannya adalah bahwa hati beliau senantiasa diliputi rasa
belas dan kasih sayang, terutama terhadap sesama mu’min. Kemudian beliau mudah
menyatakan simpati dan selalu mengharapkan kebaikan bagi orang lain. Selain itu
beliau juga segera bisa berempati, menyelami perasaan orang lain dan turut
merasakan kesedihan dan kesusahan yang dialami orang lain.
Jadi rasa kasih sayang, belas kasihan,
mudah menyatakan simpati dan bisa berempati adalah kiat penting agar
sukses membina hubungan. Apalagi bila
kemudian dilengkapi dengan ketrampilan berkomunikasi. Agar bisa menjalin
komunikasi yang baik kita perlu memperhatikan beberapa faktor di antaranya
ialah memahami dan menyesuaikan diri dengan kondisi psikologis lawan bicara
kita (komunikan). Sebagai pembicara (komunikator) hendaknya kita melihat siapa
dan bagaimana orang yang kita ajak bicara (komunikan). Rasulullah SAW telah
mengingatkan kita akan hal itu,
أَنْزِلُوا النَّاسَ مَنَازِلَهُم
Tempatkanlah manusia sesuai dengan
tempatnya yang seharusnya (proporsional).
Misalnya
kita berbicara atau melakukan da’wah fardhiyah dengan seorang tokoh di
masyarakat apakah tokoh agama, ekonomi, pemerintahan dll, hendaknya kita
menghormatinya sebagaimana mestinya. Apalagi Rasulullah SAW juga mengingatkan
kita untuk menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang lebih muda.
Faktor lain yang perlu diperhatikan
selain faktor psikologi dan posisi lawan bicara kita adalah faktor
intelektualistas dan adat istiadat. Rasulullah SAW bersabda,
خَاطِبُ النَّاسَ عَلَي قَدْرِ عُقُولِهِمْ
Berbicaralah
kepada manusia sesuai dengan kadar intelektualitasnya.
Cara kita berbicara dengan anak kecil
seyogyanyalah berbeda dengan bila kita berbicara dengan orang dewasa, karena
kemampuan atau daya serap anak-anak jelas berbeda dibandingkan orang dewasa.
Begitu pula harus membedakan cara berbicara kita ketika berhadapan dengan orang
sederhana yang kurang atau tidak berpendidikan dan dengan orang yang
berpendidikan tinggi. Faktor adat istiadat ternyata juga hal yang diperhatikan
oleh Rasulullah SAW sehingga beliau bersabda,
خَاطِبُوا النَّاسَ بِلُغَّةِ قَوْمِهِمْ
Berbicaralah
kepada manusia dengan bahasa kaumnya.
Artinya
kita perlu menyesuaikan cara berbicara dan berinteraksi kita dengan kultur,
adat istiadat yang dimiliki seseorang atau suatu kaum. Sepanjang tidak
melanggar ketentuan syar’i kita harus
menghormati kultur, kebiasaan-kebiasaan yang dimiliki sesorang atau suatu kaum.
Dan
akhirnya ketrampilan (skill) yang
turut menunjang keberhasilan kita dalam membina hubungan adalah kemampuan
melakukan komunikasi yang efektif. Ciri-ciri komunikasi efektif adalah bila
terjalin pemahaman dan saling pengertian antara komunikator dan orang yang
diajak bicara (komunikan). Kemudian tercipta suasana menyenangkan di antara
kedua belah pihak. Baik yang berbicara maupun yang diajak bicara sama-sama
senang. Hasilnya adalah hubungan yang semakin baik dan harmonis antara orang
yang berbicara dengan yang diajak bicara. Bila sudah paham, mengerti, senang,
percaya dan hubungan semakin dekat akhirnya insya Allah komunikan akan bersikap
dan bertingkah laku sesuai dengan nilai-nilai Islam sebagaimana yang
diharapakan oleh komunikator sebagai pembawa pesan dakwah.
Wallahu
a’lamu bishawab.
KIAT-KIAT MEMBINA HUBUNGAN
Di
samping patokan-patokan dasar berupa tuntunan akhlaq Islami yang mengatur pola
hubungan antar manusia dan manusia dengan lingkungannya kiranya dibutuhkan juga
beberapa kiat praktis agar kita sukses dalam berinteraksi atau berhubungan
dengan siapapun.
Dalam
Al-Qur’an surat 9:128, Allah SWT menerangkan tentang sifat-sifat mulia yang
dimiliki Rasulullah SAW yang membuatnya berhasil dalam berda’wah, berinteraksi
dan merebut hati manusia banyak: “Laqad jaa-akum rasulun min anfusikum,
‘azizun alihi maa ‘anittum, harisun ‘alaikum bil mu’minina raufur rahim”
(Telah datang seorang rasul kepadamu dari golonganmu sendiri. Terasa amat berat
apa yang kamu derita, ia sangat menginginkan kebaikan bagimu. Terhadap mu’min
ia santun lagi kasih sayang).
Ternyata
modal pertama Rasulullah SAW sebagai kiat sukses membina hubungan dengan
manusia dan lingkungannya adalah bahwa hati beliau senantiasa diliputi rasa
belas dan kasih sayang, terutama terhadap sesama mu’min. Kemudian beliau mudah
menyatakan simpati dan selalu mengharapkan kebaikan bagi orang lain. Selain itu
beliau juga segera bisa berempati, menyelami perasaan orang lain dan turut
merasakan kesedihan dan kesusahan yang dialami orang lain.
Jadi
rasa kasih sayang, belas kasihan, mudah menyatakan simpati dan bisa berempati
adalah kiat penting agar sukses membina
hubungan. Apalagi bila kemudian dilengkapi dengan ketrampilan berkomunikasi.
Agar bisa menjalin komunikasi yang baik kita perlu memperhatikan beberapa
faktor di antaranya ialah memahami dan menyesuaikan diri dengan kondisi
psikologis lawan bicara kita (komunikan). Sebagai pembicara (komunikator)
hendaknya kita melihat siapa dan bagaimana orang yang kita ajak bicara
(komunikan). Rasulullah SAW telah mengingatkan kita akan hal itu, “Anzilunnaasa
manazilahum” (Tempatkanlah manusia sesuai dengan tempatnya yang seharusnya
(proporsional). Misalnya kita berbicara atau melakukan da’wah fardhiyah dengan
seorang tokoh di masyarakat apakah tokoh agama, ekonomi, pemerintahan dll,
hendaknya kita menghormatinya sebagaimana mestinya. Apalagi Rasulullah SAW juga
mengingatkan kita untuk menghormati orang yang lebih tua dan menyayangi yang
lebih muda.
Faktor
lain yang perlu diperhatikan selain faktor psikologi dan posisi lawan bicara
kita adalah faktor intelektualistas dan adat istiadat. Rasulullah SAW bersabda,
“Khaatibunnaasa ‘ala qadri ‘uqulihim” (Berbicaralah kepada manusia
sesuai dengan kadar intelektualitasnya). Cara kita berbicara dengan anak kecil
seyogyanyalah berbeda dengan bila kita berbicara dengan orang dewasa, karena
kemampuan atau daya serap anak-anak jelas berbeda dibandingkan orang dewasa.
Begitu pula harus membedakan cara berbicara kita ketika berhadapan dengan orang
sederhana yang kurang atau tidak berpendidikan dan dengan orang yang
berpendidikan tinggi. Faktor adat istiadat ternyata juga hal yang diperhatikan
oleh Rasulullah SAW sehingga beliau bersabda, “Khaatibunnaasa bilughati
qaumihim” (Berbicaralah kepada manusia dengan bahasa kaumnya). Artinya kita
perlu menyesuaikan cara berbicara dan berinteraksi kita dengan kultur, adat
istiadat yang dimiliki seseorang atau suatu kaum. Sepanjang tidak melanggar
ketentuan syar’i kita harus menghormati kultur, kebiasaan-kebiasaan yang
dimiliki sesorang atau suatu kaum.
Dan
akhirnya ketrampilan (skill) yang turut menunjang keberhasilan kita
dalam membina hubungan adalah kemampuan melakukan komunikasi yang efektif.
Ciri-ciri komunikasi efektif adalah bila terjalin pemahaman dan saling
pengertian antara komunikator dan orang yang diajak bicara (komunikan).
Kemudian tercipta suasana menyenangkan di antara kedua belah pihak. Baik yang
berbicara maupun yang diajak bicara sama-sama senang. Hasilnya adalah hubungan
yang semakin baik dan harmonis antara orang yang berbicara dengan yang diajak
bicara. Bila sudah paham, mengerti, senang, percaya dan hubungan semakin dekat
akhirnya insya Allah komunikan akan bersikap dan bertingkah laku sesuai dengan
nilai-nilai Islam sebagaimana yang diharapakan oleh komunikator sebagai pembawa
pesan dakwah.
Wallahu a’lamu bishawab.
Comments
Post a Comment