Hadits_3: Ulama Adalah Pelindung Umat dari Kesesatan
Kewajiban
Menuntut Ilmu:
Hadits_3:
Ulama Adalah Pelindung Umat dari Kesesatan
Dari
'Abdullah bin 'Amr bin al-'As radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Aku
mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:
عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ
عَمْرِو بْنِ الْعَاصِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ
صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّ اللهَ لَا يَقْبِضُ العِلْمَ
انتزاعاً يَنتَزِعُه من العِبادِ ، ولكن يَقْبِضُ العِلْمَ بقَبْضِ العلماء، حتَّى
إذا لم يُبْقِ عالماً اتَّخَذَ النَّاسُ رُؤوساً جُهَالاً، فَسُئِلُوا فَأَفتَوا
بغيرِ عِلْمٍ، فَضَلُّوا وأضَلُّوا».
Sesungguhnya
Allah tidak mencabut ilmu dengan mencabutnya secara langsung dari dada para
hamba, melainkan Dia mencabut ilmu dengan diwafatkannya para ulama. Hingga
apabila tidak tersisa lagi seorang alim (ulama), manusia pun mengangkat
pemimpin-pemimpin yang jahil (bodoh). Lalu mereka ditanya, kemudian mereka
memberi fatwa tanpa dasar ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan. (HR.
Bukhari no. 100 dan Muslim no. 2673).
Biografi
Singkat Sahabat Perawi Hadis
'Abdullah
bin 'Amr bin al-'As. Beliau adalah seorang imam, ulama besar (al-hibr),
ahli ibadah, sahabat Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam, dan putra
dari seorang sahabat. Kunyah beliau adalah Abu Muhammad, berasal dari penduduk
Makkah. Beliau sudah mampu menulis sejak zaman Jahiliyah dan menguasai bahasa
Suryani. Beliau masuk Islam sebelum ayahnya. Beliau memiliki keutamaan dan
keagungan yang banyak, serta kedudukan yang kokoh dalam ilmu dan amal. Beliau
meriwayatkan ilmu yang sangat banyak dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam.
Beliau menulis banyak hadis berdasarkan izin dan keringanan dari Nabi shallallahu
'alaihi wa sallam untuk mencatatnya. Beliau adalah sosok yang sangat tekun
beribadah, hingga Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam pernah bersabda
kepadanya: "Sesungguhnya jasadmu memiliki hak atasmu, istrimu memiliki
hak atasmu, dan matamu memiliki hak atasmu." (HR. Bukhari no. 1957 dan
Muslim no. 1159). Beliau turut serta dalam berbagai peperangan dan pertempuran.
Beliau bertempur dengan memakai dua pedang. Beliau memegang panji ayahnya pada
perang Yarmuk. Mu'awiyah pernah mengangkatnya sebagai gubernur Kufah dalam
waktu singkat. Di akhir hayatnya beliau mengalami kebutaan. Beliau wafat di
Mesir pada tahun 65 Hijriah.
Makna
Hadis Secara Keseluruhan
Peran
Ulama dalam Membimbing Umat
Dalam
hadis ini terdapat penjelasan mengenai peran ulama bagi umat, di mana mereka
adalah para penunjuk jalan dan pembimbing umat menuju kebenaran. Mereka
merupakan katup pengaman umat dari kesesatan dan penyimpangan. Ulama adalah
ahli waris para nabi, dan keberadaan ulama di tengah umat merupakan nikmat yang
sangat agung. Umat akan bertambah kebaikan, keberkahan, dan petunjuknya seiring
dengan semakin banyaknya jumlah mereka. Hal ini berbeda dengan keahlian atau
profesi lain yang jika jumlah pelakunya terlalu banyak dapat menyebabkan
kelesuan ekonomi (lesu pasar) dan bahkan memicu kerusakan. Adapun para ulama,
bertambahnya jumlah mereka—sebanyak apa pun itu—hanya akan menambah petunjuk
dan kelurusan bagi umat. Mereka mengarahkan umat dalam seluruh aspek kehidupan,
sehingga mereka memperbaiki kurikulum pendidikan, kebudayaan, media massa,
serta sistem ekonomi, sosial, dan politik.
Inilah
yang dicatat oleh sejarah Islam ketika para ulama memenuhi kota-kota besar,
desa-desa, hingga pelosok pedalaman. Bahkan Anda dapat menemukan puluhan ulama
di satu desa kecil yang memberikan fatwa dan bimbingan kepada masyarakat dalam
urusan agama maupun dunia mereka.
Ibnul
Qayyim berkata: "Para ahli fikih Islam dan orang-orang yang menjadi poros
fatwa di tengah manusia, yaitu mereka yang dikhususkan untuk menggali
(menginstinbatkan) hukum-hukum serta berfokus menjaga kaidah-kaidah halal dan
haram; kedudukan mereka di bumi bagaikan bintang-bintang di langit. Melalui
mereka, orang-orang yang bingung mendapatkan petunjuk dalam kegelapan.
Kebutuhan manusia terhadap mereka jauh lebih besar daripada kebutuhan terhadap
makanan dan minuman. Ketaatan kepada mereka lebih diwajibkan atas manusia
daripada ketaatan kepada ibu dan ayah mereka berdasarkan penegasan Al-Qur'an.
Allah Ta'ala berfirman:
Wahai
orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan taatilah Rasul (Nabi Muhammad)
serta ulilamri (pemegang kekuasaan) di antara kamu. Jika kamu berbeda pendapat
tentang sesuatu, kembalikanlah kepada Allah (Al-Qur'an) dan Rasul (sunnahnya)
jika kamu beriman kepada Allah dan hari Akhir. Yang demikian itu lebih baik
(bagimu) dan lebih bagus akibatnya (di dunia dan di akhirat). (QS.
An-Nisa': 59)
Abdullah
bin 'Abbas dalam salah satu riwayat darinya, Jabir bin 'Abdillah, Al-Hasan
Al-Bashri, Abu Al-'Aliyah, 'Atha' bin Abi Rabah, Adh-Dhahhak, dan Mujahid dalam
salah satu riwayat darinya menyatakan: 'Ulilamri di sini adalah para ulama.'
Dan ini juga merupakan salah satu riwayat dari Imam Ahmad."
Di
Antara Sifat-Sifat Ulama Rabbani
Disyaratkan
bagi siapa saja yang tampil untuk memberikan fatwa, membimbing masyarakat, dan
berupaya memperbaiki kondisi mereka yang rusak, hendaknya ia menjadi seorang
yang memahami hal-hal yang halal, haram, serta hukum-hukum syariat. Hendaknya
ia juga seorang yang saleh secara pribadi, jujur dalam perkataan, menjadi
teladan bagi manusia dalam segala keadaan, serta sama antara rahasia (batin)
dan keterangannya (lahiriah).
Ibnul
Qayyim berkata: "Ketika tugas menyampaikan (tabligh) dari Allah Subhanahu
wa Ta'ala bersandarkan pada ilmu tentang apa yang disampaikan dan kejujuran
di dalamnya, maka kedudukan tabligh melalui riwayat dan fatwa tidaklah
layak kecuali bagi orang yang memiliki sifat ilmu dan kejujuran. Yaitu ia
memahami apa yang disampaikannya lagi jujur di dalamnya, disertai dengan
perilakunya yang baik, rekam jejaknya yang diridhai, adil dalam ucapan dan
perbuatannya, serta sama antara yang tersembunyi dan yang tampak dalam perihal
keluar-masuknya dan seluruh kondisinya. Apabila kedudukan penandatangan (muwaqqi')
atas nama raja-raja berada pada posisi yang tidak diragukan lagi keutamaannya
dan tidak dibodohi kadarnya—yang mana itu termasuk kedudukan paling tinggi lagi
mulia—maka bagaimanakah dengan kedudukan penandatangan atas nama Rabb penguasa
bumi dan langit? Maka sudah sepatutnya bagi orang yang diangkat pada kedudukan
ini untuk mempersiapkan bekalnya, bersiap siaga sepenuhnya, menyadari kadar
kedudukan tempat ia berdiri, serta tidak merasa sempit dadanya untuk
menyuarakan dan menegakkan kebenaran secara terang-terangan; karena
sesungguhnya Allah adalah Penolong dan Pemberi petunjuk baginya."
Kewajiban
Umat dalam Membentuk dan Merawat Ulama
Umat
ini akan senantiasa berada dalam kebaikan selama mereka bersungguh-sungguh
dalam mencetak ulama Rabbani [ulama yang bijaksana, berilmu mendalam, dan
mengamalkan ilmunya] yang beramal serta memperbanyak jumlah mereka. Inilah
jalan kekuatan umat dan keselamatan mereka dari kesesatan serta penyimpangan.
Maka umat wajib menyiapkan bagi mereka kurikulum-kurikulum ilmiah yang kokoh
dan mampu mendidik serta membentuk mereka hingga mencapai tingkatan-tingkatan
ilmiah tertinggi, menyediakan kebutuhan hidup layak bagi mereka, serta
memberikan ruang agar mereka dapat menjalankan perannya dalam membimbing dan
memimpin umat.
Memberikan
Ruang bagi Ulama untuk Menjalankan Risalahnya
Adapun
jika mereka justru dipersulit, dilarang naik ke mimbar-mimbar dan
institusi-institusi ilmiah, buku-buku mereka dilarang dan disita, dibatasi
gerak-gerik serta komunikasi mereka dengan masyarakat, dipersulit kondisi
penghidupan mereka, dan bahkan tak jarang dipenjarakan hanya karena sepatah
kata atau sikap dalam menentang kebatilan dan kerusakan; sementara pada saat
yang sama pintu-pintu dibuka lebar bagi para pengklaim ilmu, pengetahuan, dan
fatwa palsu. Akibatnya, mereka memberi fatwa kepada masyarakat tanpa dasar
ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan.
Mengenai
gambaran dicabutnya ilmu dengan diwafatkannya para ulama sebagaimana disebutkan
dalam hadis ini, walaupun gambarannya belum terjadi secara menyeluruh hingga
saat ini, namun fenomena pembatasan terhadap para ulama dan penggantian mereka
dengan orang-orang bodoh sebagaimana yang telah kami paparkan, termasuk dalam
peringatan Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis ini agar umat
jangan sampai sampai pada kondisi demikian.
Poin-Poin
Penting yang Ditunjukkan oleh Hadis
- Peringatan bagi umat akan
bahaya berkurangnya ulama agama di tengah-tengah mereka.
- Peringatan bagi umat agar
tidak menyerahkan urusan bimbingan dan fatwa kepada orang-orang jahil
(bodoh).
- Landasan utama perbaikan (ishlah)
dalam umat adalah para ulama Rabbani.
- Ajakan bagi umat untuk
bersungguh-sungguh dalam mencetak/membentuk ulama.
- Memberikan kesempatan dan
ruang bagi ulama untuk menjalankan peran mereka.
- Hadis ini mengarahkan para
da'i dan reformis (mushlihin) untuk menonjolkan peran ulama dalam
hal pengarahan, bimbingan, dan perbaikan, serta memberikan perhatian
kepada ulama dan membela mereka.
Comments
Post a Comment