Posts

Adab Bertetangga

Manusia adalah makhluk sosial. Mereka memiliki kebutuhan, kemampuan serta kebiasaan untuk berkomunikasi dan berinteraksi dengan manusia yang lain. Hal ini merupakan fitrah  mereka sejak hadir di dunia; saling membutuhkan dan tolong menolong untuk mencapai tujuan-tujuannya dalam kehidupan. Bagi seorang muslim, seluruh tujuan dalam kehidupannya bermuara kepada tujuan  ubudiyyah– penghambaan kepada Allah  Ta’ala.  Oleh karena itu seluruh komunikasi dan interaksi mereka dengan segala apa yang ada di luar dirinya selalu dibingkai dengan  taujihat  (arahan-arahan) dan  irsyadat  (bimbingan-bimbingan) rabbaniyah. وَتَعَاوَنُوا عَلَى الْبِرِّ وَالتَّقْوَى وَلَا تَعَاوَنُوا عَلَى الْإِثْمِ وَالْعُدْوَانِ “Dan tolong-menolonglah kamu dalam (mengerjakan) kebajikan dan takwa, dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.”  (QS. Al-Maidah: 2) Salah satu bentuk  mu’amalah insaniyah  (hubungan kemanusiaan) yang dialami ma...

Ahdafut Tarbiyah

Image
Tujuan Tarbiyah Rasmul Bayan Bila kita menengok sirah nabawiyah kita akan mendapati sebuah episode bahwa Rasulullah  shalallahu ‘alaihi wa sallam  melakukan tarbiyah (pembinaan) kepada para pengikutnya—para sahabat assabiqunal awwalun—di rumah Arqam bin Abi Arqam. Ibnu Abdil Bar berkata:  “Di rumah Arqam bin Abi Arqam inilah Rasulullah berdakwah secara sembunyi-sembunyi menghindari gangguan orang-orang Quraisy, sampai Allah Ta’ala memberikan kekuatan kepada mereka untuk berdakwah secara terang-terangan, dan ini terjadi pada awal penyebaran Islam, sehingga banyak dari manusia yang beriman dengan dakwah yang beliau lakukan di rumah tersebut. Rumah Arqam bin Arqam berada di Makkah yang tepatnya di atas bukit Shafa. ” [1] Bahkan tarbiyah qur’aniyah tersebut dilakukan oleh Rasulullah s halallahu ‘alaihi wa sallam  secara berkelanjutan. Hal ini tergambar dari atsar berikut ini. عَنْ أَبِي عَبْدِ الرَّحْمَنِ السُّلَمِيِّ عَنْ ابْنِ مَسْعُودٍ قَالَ : ك...

Uslub Tarbiyah Dzatiyah

Perjalanan dakwah adalah perjalanan yang panjang. Beban yang dibawanya tidaklah ringan. Bidang garapannya pun demikian luas mencakup seluruh alam. وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ “Dan  t iadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam”.  (QS. Al Anbiya’: 107) وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا كَافَّةً لِلنَّاسِ بَشِيرًا وَنَذِيرًا وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Dan Kami tidak mengutus kamu, melainkan kepada umat manusia seluruh- nya sebagai pembawa berita gembira dan sebagai pemberi peringatan, tetapi kebanyakan manusia tiada mengetahui.”  (QS. Saba: 28) Oleh karena itu, sebagai aktivis dakwah kita tidak boleh lengah dalam menjaga vitalitas ruhiyah, maknawiyah, dan fikriyah di tengah-tengah pertarungan yang panjang ini. Kita harus berbekal diri dengan tarbiyah; yaitu selalu melakukan  ziyadah  (penambahan atau pembekalan),  nas’ah  (pertumbuhan),  taghdiyyah  (pemberian gizi),...

At-Tawazun

(Keseimbangan) Al-fitrah  yaitu keadaan asal ketika seorang manusia diciptakan oleh Allah. Fitrah kita adalah adalah Islam, agama  al-hanif  (agama yang lurus) yang merupakan pedoman hidup bagi manusia. Allah  Ta’ala  berfirman, أَقِمْ وَجْهَكَ لِلدِّينِ حَنِيفًا فِطْرَتَ اللَّهِ الَّتِي فَطَرَ النَّاسَ عَلَيْهَا لَا تَبْدِيلَ لِخَلْقِ اللَّهِ ذَلِكَ الدِّينُ الْقَيِّمُ وَلَكِنَّ أَكْثَرَ النَّاسِ لَا يَعْلَمُونَ “Maka hadapkanlah wajahmu dengan lurus kepada agama (Allah); (tetaplah atas) fitrah Allah yang telah menciptakan manusia menurut fitrah itu. Tidak ada perubahan pada fitrah Allah. (Itulah) agama yang lurus; tetapi kebanyakan manusia tidak mengetahui”  (QS. Ar-Ruum, 30: 30) Diantara  ajaran Islam adalah  at-tawazun, yakni mengajarkan keseimbangan  dalam memelihara eksistensi kemanusiaan yang terdiri dari unsur  al-jasad  (jasad),  al-aql  (akal), dan  ar-ruh  (roh). Ajaran Islam mengarahkan man...

Takwinu Syakhshiyah Islamiyah

(Membentuk kepribadian Islam) Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  diutus oleh Allah  Ta’ala  kepada umat manusia untuk menyeru mereka kepada Islam. Men- shibghah —mewarnai dan mencelup—hati, pikiran, serta amal mereka dengan corak dan karakter kepribadian Islam yang paripurna—as- syakhshiyyatul Islamiyatul kamilah. صِبْغَةَ اللَّهِ وَمَنْ أَحْسَنُ مِنَ اللَّهِ صِبْغَةً وَنَحْنُ لَهُ عَابِدُونَ “Shibghah (celupan) Allah, dan siapakah yang lebih baik shibghahnya dari pada Allah? Dan hanya kepada-Nya-lah kami menyembah.”  (QS. Al-Baqarah, 2: 138) Adh-Dhahhak meriwayatkan dari Ibnu ‘Abbas, bahwa  shibghatallah  maknanya adalah “Agama Allah”. [1] As-syakhshiyyatul Islamiyatul Kamilah Jika kita menelaah ayat-ayat Al-Qur’an dan hadits-hadits Rasulullah  shallallahu ‘alaihi wa sallam  kita dapat menyimpulkan bahwa inti dari  as-syakhshiyyatul Islamiyatul kamilah  adalah tertanamnya keimanan ( al-iman ) dan ketakwaan ( at...