Hadits_14_Kewajiban Jihad di Jalan Allah: Kedudukan Para Mujahid di Surga

 

Kewajiban Jihad di Jalan Allah:

Hadits_14: Kedudukan Para Mujahid di Surga

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «مَنْ آمَنَ بِاللهِ وَبِرَسُولِهِ، وَأَقَامَ الصَّلاَةَ، وَصَامَ رَمَضَانَ، كَانَ حَقًّا عَلَى اللهِ أَنْ يُدْخِلَهُ الجَنَّةَ، جَاهَدَ فِي سَبِيلِ اللهِ، أَوْ جَلَسَ فِي أَرْضِهِ الَّتِي وُلِدَ فِيهَا»، فَقَالُوا: يَا رَسُولَ اللهِ، أَفَلاَ نُبَشِّرُ النَّاسَ؟ قَالَ: «إِنَّ فِي الجَنَّةِ مِئَةَ دَرَجَةٍ أَعَدَّهَا اللهُ لِلْمُجَاهِدِينَ فِي سَبِيلِ اللهِ، مَا بَيْنَ الدَّرَجَتَيْنِ كَمَا بَيْنَ السَّمَاءِ وَالأَرْضِ، فَإِذَا سَأَلْتُمُ اللهَ فَاسْأَلُوهُ الفِرْدَوْسَ، فَإِنَّهُ أَوْسَطُ الجَنَّةِ، وَأَعْلَى الجَنَّةِ - أُرَاهُ فَوْقَهُ عَرْشُ الرَّحْمَنِ - وَمِنْهُ تَفَجَّرُ أَنْهَارُ الجَنَّةِ.

"Barangsiapa beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, mendirikan shalat, dan berpuasa Ramadan, maka menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, baik ia berjihad di jalan Allah maupun duduk (tinggal) di negerinya tempat ia dilahirkan." Para sahabat bertanya: "Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya kami menyampaikan kabar gembira ini kepada manusia?" Beliau bersabda: "Sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus derajat (tingkatan) yang Allah sediakan bagi para مجاهدين [mujahid/orang-orang yang berjihad] di jalan-Nya; jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Maka apabila kalian memohon kepada Allah, memohonlah kepada-Nya Surga Firdaus, karena sesungguhnya Firdaus adalah surga yang paling tengah dan paling tinggi—aku mengira di atasnya terdapat 'Arsy Ar-Rahman (Singgasana Allah Yang Maha Pengasih)—dan darinya memancar sungai-sungai surga." (HR. Al-Bukhari no. 2790).

Makna Secara Umum dari Hadis

Landasan Utama Masuk Surga dan Tingkatan Para Mujahid di Dalamnya

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menjelaskan pada bagian awal hadis ini bahwa iman adalah landasan utama untuk masuk surga. Beliau mengikutkan shalat dan puasa padanya sebagai peringatan akan kedudukan dan keumuman kedua ibadah tersebut. Beliau tidak menyebutkan zakat dan haji karena keduanya khusus diwajibkan bagi sebagian kaum muslimin saja, bukan seluruhnya. Kemudian beliau mengingatkan bahwa hal itu merupakan asas untuk masuk surga, baik seseorang berjihad di jalan Allah maupun tidak berjihad. Namun, ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melihat bahwa kabar gembira ini berpotensi dipahami sebagai ajakan untuk enggan (duduk) dari berjihad, beliau ingin menjelaskan keutamaan orang-orang yang berjihad dibanding orang-orang yang tidak berangkat, bahwasanya Allah telah menyiapkan

bagi para mujahid di surga seratus derajat, yang mana jarak antara dua derajat seperti jarak antara langit dan bumi. Sungguh Allah Ta'ala telah berfirman:

Tidaklah sama antara mukmin yang duduk (yang tidak ikut berperang) yang tidak mempunyai uzur dengan orang-orang yang berjihad di jalan Allah dengan harta dan jiwa mereka. Allah melebihkan derajat orang-orang yang berjihad dengan harta dan jiwanya atas orang-orang yang duduk. Kepada masing-masing, Allah menjanjikan pahala yang baik (surga) dan Allah melebihkan orang-orang yang berjihad atas orang-orang yang duduk dengan pahala yang besar. (QS. An-Nisa': 95).

Ibnu Hajar berkata: "Sabda beliau: 'di dalam surga terdapat seratus derajat' merupakan ta'lil [alasan/penjelasan alasan] ditahannya kabar gembira tersebut. Di dalam riwayat At-Tirmidzi (no. 2530) dari riwayat Mu'adz disebutkan: Aku berkata: Wahai Rasulullah, tidakkah sebaiknya aku beri tahu manusia? Beliau bersabda: 'Biarkanlah manusia beramal, karena sesungguhnya di dalam surga terdapat seratus derajat.' Maka tampak jelas bahwa maksudnya adalah: Janganlah kalian menyampaikan kabar gembira kepada manusia terkait apa yang telah aku sebutkan berupa jaminan masuk surga bagi siapa saja yang beriman dan mengamalkan amalan-amalan fardhu, sehingga mereka hanya berhenti di situ saja dan tidak melampauinya menuju tingkatan-tingkatan yang lebih utama yang diperoleh melalui jihad. Inilah poin penting (an-nuktah) dari sabda beliau: 'yang Allah sediakan bagi para mujahid'. Apabila hal ini telah jelas, maka di dalamnya juga terdapat sanggahan terhadap pendapat sebagian pensyarah (komentator) kitab Al-Mashabih yang menyatakan: 'Nabi menyamakan antara berjihad di jalan Allah dan tidak berjihad, yaitu duduk (tinggal) di tanah tempat seseorang dilahirkan.' Sanggahan ini berlandaskan bahwa penyamaan tersebut tidak berlaku secara umum, melainkan hanya dalam hal landasan dasar masuk surga (ashlu dhukhulil-jannah), bukan pada perbedaan tingkatannya, sebagaimana yang telah aku tetapkan, wallahu a'lam. Teks dalam konteks ini juga tidak menafikan adanya tingkatan-tingkatan lain di dalam surga yang disiapkan untuk selain para mujahid, yang berada di bawah tingkatan para mujahid." [Lihat Fathul Bari (9/23)]

Surga Firdaus Yang Tertinggi Adalah Kedudukan Paling Agung di Surga

Kemudian beliau mengalihkan perhatian mereka bahwa di sana terdapat kedudukan yang lebih tinggi dari semua itu, yaitu Surga Firdaus yang tertinggi. Beliau meminta mereka untuk memohon kepada Allah Ta'ala agar dapat meraihnya, dan bahwasanya kedudukan ini merupakan kedudukan surga yang paling utama dan paling tinggi, yang tidak ada sesuatu pun di atasnya melainkan 'Arsy Ar-Rahman, serta dari sanalah sungai-sungai surga memancar.

Hal-Hal Terpenting yang Menjadi Petunjuk Hadis

  1. Barangsiapa yang beriman kepada Allah, menunaikan kewajiban-kewajiban (al-fara'idh), dan menjauhi maksiat, maka menjadi hak atas Allah untuk memasukkannya ke dalam surga.
  2. Surga memiliki tingkatan-tingkatan (darajat) yang mana orang-orang beriman berbeda-beda tingkatannya sesuai dengan amal perbuatan mereka.
  3. Allah mengkhususkan para mujahid di jalan Allah dengan seratus derajat, yang mana setiap derajat jaraknya bagaikan antara langit dan bumi.
  4. Di dalamnya terdapat dorongan bagi orang-orang beriman untuk memohon kedudukan surga yang tertinggi, beramal untuk meraihnya, serta berjihad di jalannya, yaitu Surga Firdaus yang tertinggi (Al-Firdaus Al-A'la).
  5. Tidak ada sesuatu pun di atas Surga Firdaus yang tertinggi melainkan 'Arsy Ar-Rahman, dan dari sanalah sungai-sungai surga memancar.
  6. Di dalam hadis terdapat arahan bagi para dai [penyeru ke jalan Allah] untuk berusaha memperoleh tingkatan-tingkatan yang tinggi di surga melalui jihad dan pengorbanan di jalan dakwah kepada Allah dengan jiwa, harta, ilmu, dakwah, dan waktu. Hendaknya para dai bergembira bahwa Allah akan menempatkan mereka di kedudukan surga yang paling tinggi pada hari kiamat disebabkan oleh aktivitas dakwah mereka kepada-Nya dan kesabaran atas jalan dakwah tersebut.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat