Hadits_21_Kewajiban Jihad di Jalan Allah: Sebab Kemenangan dalam Islam

 

Kewajiban Jihad di Jalan Allah

Hadits_21: Di antara Sebab Kemenangan dalam Islam

عَنْ سَالِمٍ أَبِي النَّضْرِ مَوْلَى عُمَرَ بْنِ عُبَيْدِ اللهِ، قَالَ: كُنْتُ كَاتِبًا لَهُ، كَتَبَ إِلَيْهِ عَبْدُ اللهِ بْنُ أَبِي أَوْفَى حِينَ خَرَجَ إِلَى الْحَرُورِيَّةِ، فَقَرَأْتُهُ فَإِذَا فِيهِ: إِنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ فِي بَعْضِ أَيَّامِهِ الَّتِي لَقِيَ فِيهَا الْعَدُوَّ انْتَظَرَ حَتَّى مَالَتِ الشَّمْسُ، ثُمَّ قَامَ فِي النَّاسِ، فَقَالَ: «أَيُّهَا النَّاسُ، لَا تَمَنَّوْا لِقَاءَ الْعَدُوِّ، وَسَلُوا اللهَ الْعَافِيَةَ، فَإِذَا لَقِيتُمُوهُمْ فَاصْبِرُوا، وَاعْلَمُوا أَنَّ الْجَنَّةَ تَحْتَ ظِلَالِ السُّيُوفِ»، ثُمَّ قَالَ: «اللَّهُمَّ مُنْزِلَ الْكِتَابِ، وَمُجْرِيَ السَّحَابِ، وَهَازِمَ الْأَحْزَابِ، اهْزِمْهُمْ وَانْصُرْنَا عَلَيْهِمْ». رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ (3024) وَ (3025)، وَمُسْلِمٌ (1742).

Dari Salim Abu an-Nadhr, maula (bekas budak) Umar bin Ubaidillah, ia berkata: Aku dahulu adalah juru tulisnya. Abdullah bin Abi Aufa pernah berkirim surat kepadanya ketika ia berangkat menuju kelompok Haruriyah. Lalu aku membaca surat tersebut, dan ternyata di dalamnya tertulis: Bahwasanya Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam pada salah satu hari perang saat beliau berhadapan dengan musuh, beliau menanti hingga matahari tergelincir (ke arah barat). Kemudian beliau berdiri di hadapan orang-orang seraya bersabda: "Wahai sekalian manusia, janganlah kalian berharap untuk bertemu dengan musuh, dan mohonlah keselamatan ('afiyah) kepada Allah. Namun, apabila kalian telah berhadapan dengan mereka, maka bersabarlah (teguhlah). Dan ketahuilah bahwasanya surga itu berada di bawah naungan pedang." Kemudian beliau berdoa: "Ya Allah, Yang Menurunkan Kitab, Yang Mengarak Awan, dan Yang Menghancurkan Pasukan Sekutu, hancurkanlah mereka dan tolonglah kami atas mereka." (HR. Bukhari no. 3024 dan 3025, dan Muslim no. 1742)

Pengenalan Tokoh-Tokoh Perawi Hadis

1. Abdullah bin Abi Aufa

Nama asli ayahnya (Abu Aufa) adalah Alqamah bin Khalid bin al-Harits al-Aslami Abu Mu'awiyah al-Kufi. Beliau adalah seorang ahli fikih (faqih), berusia panjang (mu'ammar), termasuk peserta Bai'atur Ridwan, dan merupakan sahabat Nabi terakhir yang wafat di Kufah. Ayah beliau juga seorang sahabat Nabi. Beliau memiliki/meriwayatkan beberapa hadis. Penglihatannya mengalami kebutaan di usia tua. Abdullah wafat pada tahun 86 Hijriah dalam usia mendekati seratus tahun [Lihat Siyar A'lam an-Nubala', jilid 3, hlm. 6.].

2. Salim Abu an-Nadhr

Beliau adalah Ibnu Abi Umayyah al-Madani, juru tulis sekaligus maula dari Umar bin Ubaidillah at-Taimi. Ibnul Madini berkata: "Ia memiliki sekitar lima puluh hadis." Abu Hatim berkata: "Ia seorang yang saleh dan terpercaya (tsiqah)." Dikatakan bahwa ia wafat pada tahun 129 Hijriah, dan ada pula yang mengatakan tahun 133 Hijriah [Lihat Siyar A'lam an-Nubala', jilid 4, hlm. 173.].

3. Umar bin Ubaidillah

Beliau adalah Ibnu Ma'mar Abu Hafsh at-Taimi al-Amir, seorang pemuka bangsawan Quraisy. Ia adalah sosok yang sangat dermawan, banyak dipuji, pemberani, berkedudukan tinggi, serta memiliki berbagai pembebasan wilayah (futuhat) yang bersejarah. Ia pernah menjabat sebagai gubernur Basrah di bawah pemerintahan Ibnu az-Zubair, kemudian menjadi utusan kepada Abdul Malik, dan wafat di Damaskus. Keberaniannya sering dijadikan perumpamaan. Beliau wafat pada tahun 82 Hijriah [Lihat Siyar A'lam an-Nubala', jilid 4, hlm. 173.].

Makna Kata Asing / Terasing (Gharib)

  • Al-Haruriyah (الحرورية): Salah satu kelompok dari sekte Khawarij yang dinisbatkan kepada Harura', yaitu sebuah tempat di dekat Kufah. Tempat tersebut menjadi lokasi pertama berkumpulnya mereka dan dimulainya penetapan hukum (tahkim) versi mereka. Mereka merupakan salah satu kelompok Khawarij yang diperangi oleh Ali karramallahu wajhah.

Makna Global Hadis (Al-Ma'na al-Ijmali)

Sebab-Sebab Kemenangan

Pertama: Bersandar dan Bertawakal Sepenuhnya kepada Allah

Latar belakang penyampaian (sabab irad) hadis ini tercermin dalam kisah yang diriwayatkan oleh Salim Abu an-Nadhr maula Umar bin Ubaidillah, yaitu ketika Umar bin Ubaidillah at-Taimi berangkat untuk memerangi kelompok Khawarij. Saat itulah Ibnu Abi Aufa menuliskan hadis ini dan mengirimkannya kepadanya, lalu dibacakan oleh juru tulisnya, Salim Abu an-Nadhr. Tujuannya adalah untuk mengingatkan Umar tentang sebagian adab menghadapi musuh yang diajarkan oleh Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, sekaligus sebagai peringatan agar tidak kagum pada diri sendiri ('ujub), tidak meremehkan kekuatan musuh, serta mempersiapkan perbekalan dan strategi yang tepat untuk menghadapi mereka.

Sisi lahiriah dari riwayat ini menunjukkan bahwa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyampaikannya pada salah satu peperangan sesaat sebelum berhadapan dengan musuh. Hal ini bertujuan untuk mengingatkan para sahabat radhiyallahu 'anhum agar sentiasa bersandar dan bertawakal kepada Allah, serta memohon doa, keselamatan, dan perlindungan kepada-Nya.

Kedua: Bersabar Mempertahankan Diri dari Musuh dan Tidak Berharap Bertemu Musuh

Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dalam hadis ini melarang sikap berharap/bercita-cita untuk bertemu musuh. Larangan ini disebabkan karena sikap tersebut mengandung unsur tertipu oleh kekuatan sendiri, bangga diri ('ujub), serta merasa jumawa dengan jumlah pasukan dan perbekalan. Peristiwa Perang Hunain—ketika sebagian kaum muslimin tertipu dan merasa bangga dengan jumlah mereka yang besar—merupakan contoh nyata yang tidak jauh dari konteks ini.

Di samping itu, sikap berharap bertemu musuh terkadang memunculkan rasa acuh tak acuh terhadap kekuatan musuh, yang pada akhirnya dapat mengakibatkan minimnya persiapan. Selain itu, pertempuran dengan musuh membawa kesusahan, penderitaan, dan kesempitan berat yang menimpa jiwa maupun harta hingga dapat memusnahkan keduanya. Oleh karena itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam khawatir jika harapan bertemu musuh ini mengandung permohonan kematian, padahal larangan menginginkan kematian telah ditegaskan dalam hadis-hadis lainnya.

Jika tidak dalam kondisi demikian, pada dasarnya peperangan (jihad) mengandung seluruh kebaikan. Di dalamnya terdapat kemuliaan, kehormatan, penyebaran Islam, dan pengembalian wilayah-wilayah Islam yang dirampas, yang mana keutamaannya tidak dapat dipungkiri. Oleh sebab itu, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyertai larangan tersebut dengan sabdanya: "Dan mohonlah keselamatan ('afiyah) kepada Allah." Doa ini termasuk ke dalam doa-doa yang bersifat umum yang mencakup kebaikan dunia dan akhirat [Lihat Syarh an-Nawawi 'ala Muslim, jilid 12, hlm. 45.].

Ibnu Batthal, salah seorang pensyarah (penjelas) Shahih al-Bukhari, berkata: "Hikmah di balik larangan ini adalah karena seseorang tidak mengetahui bagaimana akhir dari urusan yang akan dihadapinya. Hal ini serupa dengan memohon keselamatan dari berbagai fitnah. Abu Bakar ash-Shiddiq sungguh telah berkata: 'Aku diberikan keselamatan lalu aku bersyukur, sungguh lebih aku sukai daripada aku diberi cobaan lalu aku bersabar.'" [Lihat Fath al-Bari, jilid 6, hlm. 156.]

Adapun sabda beliau: "Namun, apabila kalian telah berhadapan dengan mereka, maka bersabarlah," merupakan perintah untuk teguh dan sabar dalam kancah pertempuran, di mana sabar merupakan rukun perang yang paling utama. Allah Subhanahu wa Ta'ala telah menghimpun adab-adab perang yang paling krusial dalam firman-Nya:

"Wahai orang-orang yang beriman, apabila kalian bertemu dengan pasukan (musuh), maka berteguh hatilah kalian dan sebutlah (nama) Allah sebanyak-banyaknya agar kalian beruntung. Dan taatilah Allah dan Rasul-Nya dan janganlah kalian saling berbantah-bantahan, yang menyebabkan kalian menjadi gentar dan hilang kekuatan kalian, dan bersabarlah. Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS. Al-Anfal: 45-46)

Kemudian, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam ingin menjelaskan keutamaan jihad dan kedudukannya yang tinggi dalam Islam, agar sikap dibencinya berharap bertemu musuh tidak disalahpahami sebagai sikap membenci jihad di jalan Allah atau mengingkari keutamaannya. Maka beliau bersabda: "Dan ketahuilah bahwasanya surga itu berada di bawah naungan pedang." Artinya, tidak ada balasan bagi jihad di jalan Allah melainkan surga.

Ketiga: Berdoa saat Berhadapan dengan Musuh

Selanjutnya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengarahkan para sahabat radhiyallahu 'anhum untuk memanjatkan doa dengan murni dan ikhlas hanya kepada Allah Ta'ala. Hal ini mengandung pemurnian niat semata-mata untuk-Nya Subhanahu wa Ta'ala, bentuk penyandaran diri dan tawakal kepada-Nya, serta keimanan akan keagungan, kekuasaan, dan keesaan-Nya dalam mengatur alam semesta ini, bahwasanya kemenangan berada di tangan-Nya semata.

Oleh karena itu, dalam seluruh peperangannya, Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam senantiasa berlindung kepada Allah dengan berdoa, memohon dengan sangat, mengatasnamakan keagungan-Nya, seraya mengangkat kedua tangannya ke langit hingga terlihat putih ketiaknya, serta menangis dan bertawasul. Hal ini berlangsung sampai Abu Bakar berkata kepada beliau pada Perang Badar: "Cukuplah permohonanmu kepada Rabbmu."

Dalam doa ini, secara khusus Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bertawasul kepada Allah Ta'ala melalui sifat-sifat dan perbuatan-perbuatan-Nya yang secara spesifik berkaitan dengan pertolongan bagi para mujahidin di medan pertempuran. Ibnu Hajar menjelaskan bahwa melalui doa ini, Nabi mengisyaratkan berbagai bentuk/sisi pertolongan atas musuh:

  • Isyarat “Wahai Yang Menurunkan Kitab” (Munzilal-Kitab): Merujuk pada firman Allah Ta'ala: "Perangilah mereka, niscaya Allah akan menghancurkan mereka dengan tangan-tangan kalian." (QS. At-Taubah: 14).
  • Isyarat “Wahai Yang Mengarak Awan” (Mujriyas-Sahab): Merujuk pada kekuasaan Allah yang nyata dalam menundukkan awan, di mana awan tersebut digerakkan oleh angin sesuai kehendak-Nya, atau diabaikan tetap di tempatnya meskipun angin berembus, serta kadang menurunkan hujan dan kadang tidak. Pergerakan awan mengisyaratkan bantuan bagi pergerakan para mujahidin dalam perang; terhentinya awan mengisyaratkan ditahannya tangan-tangan orang kafir dari membahayakan mereka; turunnya hujan mengisyaratkan perolehan harta rampasan perang (ghanimah) dari musuh yang terbunuh; sedangkan tidak turunnya hujan mengisyaratkan kekalahan musuh tanpa memperoleh harta apa pun—yang mana seluruh kondisi tersebut mendatangkan kebaikan bagi kaum muslimin.
  • Isyarat “Wahai Yang Menghancurkan Pasukan Sekutu” (Hazimal-Ahzab): Merujuk pada tawasul dengan nikmat kemenangan di masa lalu, sekaligus murninya sikap tawakal dan keyakinan teguh bahwa Allah dialah satu-satunya Zat yang Maha Berbuat.

Di dalamnya juga terdapat peringatan akan agungnya ketiga nikmat ini. Sebab, dengan diturunkannya Al-Kitab (Al-Qur'an), diperoleh nikmat akhirat yaitu agama Islam. Dengan diarangkannya awan, diperoleh nikmat dunia yaitu rezeki. Dan dengan dihancurkannya pasukan sekutu (al-ahzab), terpeliharalah kedua nikmat tersebut. Seolah-olah beliau berdoa: "Ya Allah, sebagaimana Engkau telah melimpahkan dua nikmat yang agung ini—nikmat akhirat dan dunia—maka peliharalah keduanya dan abadikanlah untuk kami." [Lihat Fath al-Bari, jilid 6, hlm. 157, dengan sedikit ringkasan/penyesuaian redaksi.]

Catatan Tambahan Penulis: Kami katakan: Di samping penjelasan di atas, Allah Ta'ala telah menolong hamba-hamba-Nya yang beriman pada Perang Badar dengan menurunkan hujan, dan pada Perang Ahzab dengan mengirimkan angin. Bisa jadi, doa Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam dengan ungkapan “Wahai Yang Mengarak Awan” bermakna: "Kami memohon kepada-Mu ya Allah, jadikanlah awan beserta fenomena yang menyertainya sebagai salah satu sebab kemenangan kami." Dengan demikian, doa ini dimaknai secara hakiki (sebenarnya), bukan secara majazi (kiasan) sebagaimana yang diisyaratkan oleh Ibnu Hajar rahimahullah.

Keempat: Persiapan Persenjataan Disertai Kesabaran dan Doa

Penjelasan yang terkandung dalam hadis ini berkaitan dengan situasi ketika berhadapan langsung dengan musuh beserta sebab-sebab kemenangan yang wajib dipenuhi pada saat itu. Di luar kondisi tersebut, tentu terdapat sebab-sebab lain yang harus mendahului hari pertempuran, yaitu persiapan materiil maupun spiritil (al-i'dad al-maddi wal-ma'nawi) dalam segala bentuknya. Hal ini mencakup mobilisasi pasukan, persenjataan, perencanaan strategi pertempuran, manajemen tempur, seluruh pengetahuan militer, dan keahlian lainnya. Allah Ta'ala berfirman:

"Dan persiapkanlah untuk menghadapi mereka kekuatan apa saja yang kalian sanggupi dan dari kuda-kuda yang ditambat..." (QS. Al-Anfal: 60)

Hal-Hal Terpenting yang Menjadi Petunjuk Hadis

  1. Para mujahidin tidak boleh tertipu atau merasa jumawa dengan kekuatan fisik/materiil mereka, baik berupa jumlah personel maupun kelengkapan persenjataan.
  2. Wajib bersandar, bertawakal, merendahkan diri, serta berdoa memohon pertolongan dan kejayaan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta'ala.
  3. Penjelasan mengenai tingginya kedudukan jihad dalam Islam, bahwasanya tidak ada balasan baginya melainkan surga.
  4. Hadis ini mengarahkan para dai (da'i) untuk senantiasa bertawaduk kepada Allah Ta'ala, menyempurnakan segala bentuk persiapan dalam menghadapi musuh dengan seluruh kekuatan materiil dan spiritil yang memungkinkan, serta membimbing masyarakat menuju hal-hal yang mendatangkan pertolongan dan kejayaan bagi mereka.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat