Perbekalan Da'i


BAB KEDUA: PERBEKALAN PENYERU KEBIJAKAN (DA'I)

PENGANTAR

Dalam menjalankan tugas dan fungsinya—yang pada hakikatnya merupakan fungsi para rasul Allah—seorang penyeru kebaikan (da'i) kepada Allah membutuhkan perbekalan yang kuat. Perbekalan tersebut terdiri dari: pemahaman yang mendalam, iman yang menghujam, dan hubungan yang erat dengan Allah Ta'ala.

Inilah pilar-pilar utama serta rukun-rukun perbekalan seorang da'i. Jika pilar-pilar ini hilang, tidak ada hal lain yang dapat menggantikannya. Jika maknanya melemah dalam jiwa seorang da'i, ia wajib memperkuatnya. Oleh karena itu, hal ini harus dijelaskan sedemikian rupa agar maksudnya menjadi terang dalam pembahasan-pembahasan berikut. 

PEMBAHASAN PERTAMA: PEMAHAMAN YANG MENDALAM (AL-FAHM AD-DAQIQ)

Ilmu Sebelum Amal

Allah Ta'ala berfirman: 

(Maka, ketahuilah bahwa tidak ada tuhan selain Allah dan mohonlah ampunan atas dosamu...) (QS. Muhammad: 19).

Dalam ayat ini, Allah mendahulukan ilmu sebelum amal. Pada kenyataannya, mendahulukan ilmu sebelum melakukan tindakan apa pun adalah hal yang mendasar bagi setiap pelaku amal. Hal itu bertujuan agar ia mengetahui apa yang diinginkannya, sehingga dapat menujunya dan beramal untuk mencapainya.

Jika mendahulukan ilmu sebelum beramal merupakan suatu keharusan bagi siapa saja, maka hal itu jauh lebih mendasar dan krusial bagi seorang da meuju Allah. Sebab, apa yang ia jalankan merupakan bagian dari agama dan dinisbatkan kepada Rabb semesta alam. Oleh karena itu, seorang da'i harus berada di atas bashirah (pandangan mata hati/ilmu) dan pengetahuan mengenai apa yang ia serukan, serta keabsahan syar'i dari apa yang ia ucapkan, kerjakan, dan tinggalkan.

Apabila ia kehilangan ilmu yang dibutuhkan dan diperlukan, ia menjadi bodoh terhadap apa yang diinginkannya. Akibatnya, ia akan jatuh ke dalam kecerobohan, kerancuan, serta berkata atas nama Allah dan Rasul-Nya tanpa dasar ilmu. Dampaknya, kerusakannya akan jauh lebih banyak daripada manfaatnya, dan pengerusakan yang digencarkannya lebih besar daripada perbaikan yang dihasilkannya. Bahkan, ia bisa saja menyuruh kepada kemungkaran dan melarang dari yang makruf akibat ketidaktahuannya terhadap apa yang dihalalkan, diwajibkan, dilarang, dan diharamkan oleh syariat.

Dengan demikian, wajib hukumnya bagi setiap da'i kepada Allah Ta'ala untuk memiliki pengetahuan tentang syariat Allah, hal-hal yang halal dan haram, apa yang boleh dan tidak boleh, materi yang membuka ruang ijtihad dan yang tidak, serta hal-hal yang mengandung dua penafsiran atau lebih dan yang bersifat pasti (tidak mengandung penafsiran lain).

Yang dimaksud dengan ilmu adalah apa yang ditopang oleh dalil syar'i, baik dari Kitabullah, Sunnah Rasul-Nya, maupun dalil-dalil syariat lainnya. Seorang muslim hendaknya terus menambah ilmu syar'i yang bermanfaat ini agar ia memahami objek/materi dakwahnya, serta senantiasa berada di atas bashirah dan kejelasan (bayyinah). Dengan begitu, ia tidak memerintahkan melainkan pada kebenaran, dan tidak melarang melainkan dari kebatilan. 

Keutamaan Ilmu

Keutamaan ilmu dan pemiliknya (ahlul 'ilmi) adalah hal yang sudah memasyarakat dan tidak dimungkiri. Al-Qur'an al-Karim telah menegaskannya dan mengangkat kedudukannya, serta dikuatkan pula oleh Sunnah Nabawiyyah. Allah memerintahkan untuk mengambil bekal darinya dan memohon pertambahan darinya.

Allah Ta’ala berfirman: 

(...dan katakanlah, "Ya Tuhanku, tambahkanlah ilmu kepadaku.") (QS. Thaha: 114).

(...Niscaya Allah akan mengangkat orang-orang yang beriman di antaramu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat...) (QS. Al-Mujadilah: 11).

Dalam Sunnah Nabawiyyah disebutkan:

عَنْ مُعَاوِيَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "مَنْ يُرِدِ اللهُ بِهِ خَيْرًا يُفَقِّهْهُ فِي الدِّينِ" رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ

Dari Mu'awiyah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Barang siapa yang dikehendaki kebaikan oleh Allah, niscaya Dia akan memahamkannya dalam agama." (HR. Bukhari no. 71 dan Muslim no. 1037).

Allah Ta'ala juga meminta kesaksian dari para ahli ilmu atas persaksian yang paling agung, yaitu tauhidullah (keesaan Allah). Dia menyandingkan persaksian mereka dengan persaksian-Nya sendiri dan persaksian para malaikat. Hal ini merupakan bentuk tazkiyah (rekomendasi kesucian), ta'dil (penilaian adil), dan tawtsiq (penetapan kredibilitas) bagi mereka, sebab Allah Ta'ala tidak mungkin meminta kesaksian dari orang yang cacat kredibilitasnya (majruh).

Allah Ta'ala berfirman: 

(Allah menyatakan bahwa tidak ada tuhan selain Dia; (demikian pula) para malaikat dan orang-orang berilmu yang menegakkan keadilan. Tidak ada tuhan selain Dia, Yang Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.) (QS. Ali 'Imran: 18).

Para ahli ilmu tidak hanya memberi manfaat bagi diri mereka sendiri, melainkan juga memberi manfaat kepada orang lain melalui petunjuk, arahan, dan bimbingan yang menyambungkan manusia kepada Rabb mereka.

Kebutuhan manusia terhadap ilmu—sebagaimana dikatakan oleh Imam Ahmad bin Hanbal rahimahullah—adalah: "Manusia jauh lebih membutuhkan ilmu daripada kebutuhan mereka terhadap makanan dan minuman. Sebab, makanan dan minuman hanya dibutuhkan sekali atau dua kali dalam sehari, sedangkan kebutuhan mereka terhadap ilmu adalah sebanyak helaan napas mereka."

Oleh karena itu semua, menuntut ilmu lebih utama daripada mengerjakan shalat sunnah (nafilah). Pendapat ini dipegang oleh Imam Asy-Syafi'i, Abu Hanifah, Malik, dan para imam kaum muslimin lainnya.

Sunnah Nabawiyyah juga membawa kabar gembira bagi mereka. Di dalamnya disebutkan:

عَنْ أَبِي الدَّرْدَاءِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: "... وَإِنَّ الْعَالِمَ لَيَسْتَغْفِرُ لَهُ مَنْ فِي السَّمَاوَاتِ وَمَنْ فِي الْأَرْضِ ..." رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ

وَعَنْ أَبِي أُمَامَةَ الْبَاهِلِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: ذُكِرَ لِرَسُولِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ رَجُلَانِ ... فَقَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: "إِنَّ اللهَ وَمَلَائِكَتَهُ وَأَهْلَ السَّمَاوَاتِ وَالْأَرَضِينَ حَتَّى النَّمْلَةَ فِي جُحْرِهَا وَحَتَّى الْحُوتَ لَيُصَلُّونَ عَلَى مُعَلِّمِ النَّاسِ الْخَيْرَ" رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ

Dari Abu Ad-Darda' radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Saya mendengar Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "...Dan sesungguhnya seorang alim (berilmu) benar-benar dimohonkan ampunan oleh makhluk yang ada di langit dan di bumi..." (HR. Abu Dawud no. 3641 dan Tirmidzi no. 2682).

Dan dari Abu Umamah Al-Bahili radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Disebutkan kepada Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam dua orang pria... Maka Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda: "Sesungguhnya Allah, para malaikat-Nya, serta penghuni langit dan bumi, hingga semut di dalam sarangnya dan ikan paus (di lautan), benar-benar bershalawat (mendoakan kebaikan) untuk orang yang mengajarkan kebaikan kepada manusia." (HR. Tirmidzi no. 2685).

Maka, wajib bagi seorang da'i muslim untuk selalu bersungguh-sungguh menjadi bagian dari orang-orang yang mendalami agama (al-mutafaqqihina fid-din), memahami hukum-hukum-Nya, serta mengajarkan kebaikan kepada manusia, agar ia mendapatkan keutamaan yang telah dinyatakan oleh ayat-ayat dan hadis-hadis ini. 

Pemahaman yang Mendalam (Al-Fahm Ad-Daqiq)

Di antara ilmu yang sangat berharga lagi langka, yang sering dilalaikan oleh banyak orang padahal Al-Qur'an telah menunjukkan, menegaskan, dan menyerunya, adalah: ilmu tentang jalan akhirat. Ilmu inilah yang menggetarkan dan mengusik hati serta menggerakkannya untuk meniti jalan tersebut. Ilmu ini membuat pemiliknya merasa asing di dunia dan menyadari betapa dekat kepindahannya menuju perjalanan jauh yang tak akan pernah kembali lagi ke dunia, di mana tidak ada bekal yang berguna selain ketakwaan.

Oleh sebab itu, ia selalu sibuk menyiapkan bekal ini: 

(...Bawalah bekal, karena sesungguhnya sebaik-baik bekal adalah takwa...) (QS. Al-Baqarah: 197).

Ia senantiasa menatap apa yang ada di sana, menatap muara akhir urusannya setelah perjalanan jauh itu: Apakah tempat kembalinya adalah neraka Jahanam—yang merupakan kesengsaraan dahsyat—ataukah tempat kembalinya berada di negeri kenikmatan (Darun Na'im) di sisi Rabb Yang Mahamulia?

Lantaran kesudahan yang belum diketahuinya ini, ia selalu berada di antara rasa takut (khauf) dan harapan (raja'). Namun, takutnya adalah takut orang yang arif (mengenal Allah), bukan orang yang bodoh; dan harapannya adalah harapan orang yang beramal, bukan orang yang pemalas.

Sesungguhnya ilmu semacam inilah yang amat langka keberadaannya di tengah-tengah manusia dan para penuntut ilmu. Tanpa ilmu ini, seorang alim tidaklah dianggap sebagai 'alim (berilmu sungguhan), meskipun ia telah menghafal berbagai kitab syarah (penjelasan), matan (teks ringkas), dan hukum-hukum fikih, serta memenuhi kepalanya dan mengulang-ulangnya dengan lisannya.

Ilmu ini adalah inti/sari ilmu dan tujuannya. Setiap muslim membutuhkannya, seorang alim jauh lebih membutuhkannya, dan seorang da'i adalah orang yang paling membutuhkan ilmu ini dibanding semuanya.

Ilmu inilah yang kami sebut dengan "Pemahaman yang Mendalam" (Al-Fahm Ad-Daqiq). Ilmu inilah yang dipahami secara mendalam oleh para sahabat yang mulia, hingga akal dan hati mereka diresapi olehnya. Akibatnya, mereka merasa enggan jika waktu mereka terbuang sia-sia tanpa ketaatan kepada Allah dan dakwah di jalan-Nya. Anggota badan mereka pun bergerak aktif dalam ibadah, berjihad di jalan Allah, dan berdakwah kepada-Nya, hingga datang kepada mereka keyakinan (ajal) dari Rabb mereka. 

Pemahaman yang Mendalam Berakar dari Tadabur Makna Al-Qur'an

Pemahaman yang mendalam berakar dari kegiatan mentadaburi makna-makna Al-Qur'an, menatapnya dalam kurun waktu yang lama, mengulang-ulangnya, merenungkannya, serta mendalami maksud dan tujuannya. Sebab, Allah Ta'ala menurunkan Kitab-Nya agar manusia mentadaburi ayat-ayat-Nya, bukan sekadar membacanya tanpa pemahaman dan perenungan.

Allah Ta'ala berfirman: 

(Kitab (Al-Qur'an) yang Kami turunkan kepadamu penuh berkah agar mereka menghayati ayat-ayatnya dan agar orang-orang yang berakal sehat mendapat pelajaran.) (QS. Shad: 29).

(Maka, apakah mereka tidak menghayati Al-Qur'an ataukah hati mereka sudah terkunci?) (QS. Muhammad: 24).

Membaca Al-Qur'an dengan tadabur dan pencermatan yang mendalam akan mengenalkan seorang muslim kepada Rabb yang diserunya, jalan menuju kepada-Nya, serta kemuliaan yang disediakan bagi orang yang menyambut seruan-Nya ketika menghadap kepada-Nya. Sebaliknya, hal itu juga mengenalkan tiga hal tandingan: apa yang diserukan oleh setan dan golongannya, jalan yang mengantar kepadanya, serta kehinaan dan siksaan yang disediakan bagi orang yang menyambut seruan setan.

Pengetahuan ini sangat mendasar bagi seorang da'i. Sebab, pengetahuan tersebut menjadikannya seolah-olah berada di akhirat meskipun jiwanya masih berada di dunia. Pengetahuan itu membedakan baginya antara yang hak dan yang batil dalam segala hal yang diperselisihkan manusia, memperlihatkan kebenaran sebagai kebenaran dan kebatilan sebagai kebatilan, serta memberinya petunjuk (furqan) dan cahaya yang memisahkan antara hidayah dan kesesatan, serta antara penyimpangan dan bimbingan. Pengetahuan ini juga memberikan kekuatan, kehidupan, kelapangan, dada yang lapang, kegembiraan, kesenangan, serta keterikatan pada akhirat dan berpaling dari dunia dalam hatinya. Akhirnya, ia berada dalam suatu kondisi (kesadaran) tersendiri, sementara manusia berada dalam kondisi yang lain.   

Pilar-Pilar Pemahaman yang Mendalam (Arkan al-Fahm ad-Daqiq)

Makna-makna pemahaman yang mendalam yang menjadi pilar dan rukunnya amatlah banyak. Menurut pandangan kami, yang paling utama ada dua: 

  1. Pemahaman da'i mengenai tujuannya dalam kehidupan dan kedudukannya di tengah umat manusia.
  2. Sikap menjauhkan diri dari negeri tipu daya (dunia) serta keterikatan hatinya pada akhirat.

Mari kita jelaskan maksud dari kedua pilar ini. 

1. Pemahaman Da'i Mengenai Tujuannya dalam Kehidupan dan Kedudukannya di Tengah Manusia

Apakah tujuan manusia dalam hidup ini? Dan apakah di balik tujuan tersebut ada tujuan lainnya?

Al-Qur'an al-Karim telah menjawab pertanyaan ini dengan membagi manusia menjadi dua golongan: 

  • Golongan Pertama: Orang-orang yang menjadikan makan, minum, dan bersenang-senang dengan kenikmatan jasad sebagai tujuan hidup mereka. Menurut mereka, tidak ada tujuan lain di balik tujuan tersebut. Mereka memanfaatkan setiap kesempatan umur dan hari-hari hidupnya untuk bersenang-senang sejadi-jadinya. Sebab, dalam pandangan mereka yang tumpul dan hati mereka yang mati, tidak ada apa-apa lagi setelah kehidupan dunia ini selain ketiadaan dan kefanaan. Mereka inilah seburuk-buruk makhluk dan yang paling sengsara.

Allah Ta'ala berfirman: 

(...Sedangkan orang-orang yang kufur itu bersenang-senang dan makan-makan seperti hewannya binatang ternak; dan nerakalah tempat tinggal bagi mereka.) (QS. Muhammad: 12).

Mereka menjadi seperti binatang ternak dan hewan melata; tidak ada bedanya melainkan pada rupa dan bentuk, serta pada kepastian mereka memasuki neraka. Itulah tujuan dari golongan ini. Adapun kedudukan mereka di tengah manusia adalah kedudukan yang menyesatkan dan merusak, serta tempat kembali mereka semuanya adalah neraka.

Allah Ta'ala berfirman: 

(...Mereka itu mengajak ke neraka, sedangkan Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya. (Allah) menerangkan ayat-ayat-Nya kepada manusia agar mereka mengambil pelajaran.) (QS. Al-Baqarah: 221).

  • Golongan Kedua: Orang-orang yang mengetahui hakikat dan tujuan hidup. Mereka menyadari bahwa mereka diciptakan oleh Allah semata-mata untuk beribadah kepada-Nya, dan bahwasanya mereka akan kembali kepada-Nya.

Allah Ta'ala berfirman: 

(Aku tidak menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.) (QS. Az-Zariyat: 56).

(Wahai manusia, sesungguhnya kamu harus bekerja keras menuju Tuhanmu, maka kamu pasti akan menemui-Nya.) (QS. Al-Inshiqaq: 6).

Tujuan mereka adalah beribadah kepada Allah semata, yang di dalamnya mencakup berjihad di jalan-Nya, berdakwah kepada-Nya, memakmurkan bumi dengan melakukan kebaikan, membimbing orang-orang yang bingung menuju kebenaran, serta memimpin mereka di lorong-lorong kehidupan. Itulah tujuan mereka dalam kehidupan dunia.

Di balik itu semua, terdapat tujuan yang paling agung dan tertinggi, yaitu: mencari keridaan Allah semata Jalla Jalaluh.

Allah Ta'ala berfirman: 

(Wahai orang-orang yang beriman, ruku‘lah, sujudlah, sembahlah Tuhanmu, dan berbuatlah kebaikan agar kamu beruntung. Berjihadlah kamu di jalan Allah dengan jihad yang sebenar-benarnya. Dia telah memilih kamu dan tidak menjadikan kesukaran untukmu dalam agama. (Ikutilah) agama nenek moyangmu, Ibrahim. Dia (Allah) telah menamai kamu orang-orang muslim sejak dahulu dan begitu pula dalam (Al-Qur'an) ini, agar Rasul (Muhammad) itu menjadi saksi atas dirimu dan agar kamu menjadi saksi atas manusia. Maka, tegakkanlah shalat, tunaikanlah zakat, dan berpegang teguhlah pada Allah. Dialah Pelindungmu. Dia adalah sebaik-baik Pelindung dan sebaik-baik Penolong.) (QS. Al-Hajj: 77–78).

Inilah tugas seorang muslim dalam kehidupan dan tujuannya: beribadah kepada Allah semata dan berjihad di jalan-Nya. Ia bersungguh-sungguh menundukkan jiwanya (jihad an-nafs) agar terdorong pada ketaatan dan menjauhi maksiat. Ia juga berjihad dengan pena, lisan, harta, dan tangannya di jalan Allah agar kalimat Allah menjadi yang tertinggi dan umat manusia diterangi oleh cahaya Islam.

Allah Ta'ala telah memilih kaum muslimin untuk tugas yang sangat penting ini: tugas membimbing manusia, memimpin mereka menuju kebenaran, dan mengeluarkan mereka dari kegelapan menuju cahaya. Oleh karena itu, tidak ada ruang untuk berpaling dari tugas yang mulia dan penghormatan agung yang dengannya Allah memuliakan kaum muslimin ini. Sebaliknya, mereka wajib menyambutnya dengan keridaan, melaksanakannya, dan mensyukurinya kepada Allah.

2. Menjauhkan Diri dari Negeri Tipu Daya (At-Tajafi 'an Dar al-Ghurur) dan Keterikatan Hati pada Akhirat

Tidak ada sesuatu pun yang lebih merusak hati daripada keterikatan pada dunia, cenderung kepadanya, serta mengutamakannya di atas akhirat. Sebab, kerusakan semacam ini akan menghalangi seorang muslim dari menatap akhirat, beramal untuknya, dan melelahkan jasad di jalan Allah serta dakwah kepada-Nya. Sungguh mustahil bagi hati yang rusak dan sakit untuk sanggup memikul beban tugas-tugas dakwah kepada Allah.

Dunia memiliki daya pikat yang besar. Oleh karena itu, Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam menyifatinya dengan sabda beliau:

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: "إِنَّ الدُّنْيَا حُلْوَةٌ خَضِرَةٌ، وَإِنَّ اللهَ مُسْتَخْلِفُكُمْ فِيهَا فَيَنْظُرُ كَيْفَ تَعْمَلُونَ، فَاتَّقُوا الدُّنْيَا وَاتَّقُوا النِّسَاءَ" رَوَاهُ مُسْلِمٌ

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, dari Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam, beliau bersabda: "Sesungguhnya dunia itu manis lagi hijau (indah), dan sesungguhnya Allah menjadikan kamu sebagai pengelola di dalamnya, lalu Dia akan melihat bagaimana kamu beramal. Maka takutlah kamu terhadap dunia dan takutlah terhadap (fitnah) wanita." (HR. Muslim no. 2742).

Allah Ta'ala juga memperingatkan kita agar tidak jatuh ke dalam perangkap dunia dan terikat padanya: 

(Wahai manusia, sesungguhnya janji Allah itu benar. Maka, janganlah sekali-kali kehidupan dunia menipu kamu dan janganlah sekali-kali (setan) yang pandai menipu, menipumu tentang Allah.) (QS. Fathir: 5).

Sisi godaan dunia dan penipuannya terletak pada kenyataan bahwa di dalamnya terdapat kemewahan dan kenikmatan yang dapat dirasakan oleh manusia dengan seluruh inderanya, serta disukai oleh jiwanya secara tabiat dasar, lalu mengutamakannya di atas yang lain: 

(Sekali-kali tidak! Bahkan, kamu mencintai kehidupan duniawi (yang cepat ini), dan meninggalkan (kehidupan) akhirat.) (QS. Al-Qiyamah: 20–21).

Jika jiwa dibiarkan begitu saja, keterikatan dan keterpautannya pada dunia akan makin bertambah hingga dunia menjadi satu-satunya tujuan, puncak harapan, dan sejauh-jauh jangkauan ilmunya: 

(Maka, berpalinglah (wahai Nabi) dari orang yang berpaling dari peringatan Kami dan tidak menginginkan kecuali kehidupan dunia. Itulah sejauh-jauh jangkauan ilmu mereka...) (QS. An-Najm: 29–30).

Apabila jiwa telah sampai pada tingkatan ini, ia akan kehilangan indera penerimaan dan pengambilan pelajaran (i'tibar). Pada saat itu, nasihat maupun peringatan tidak lagi bermanfaat baginya. Dengan demikian—secara aksiomatis—pemilik jiwa seperti ini tidak layak untuk menjadi seorang penyeru (da'i) kepada Allah.

Lantas, apakah obat untuk membebaskan hati dari cengkeraman dunia dan keterikatannya?

Obatnya adalah dengan: 

  1. Meyakini secara mantap sirnanya dunia dan perpisahan dengannya.
  2. Meyakini secara mantap pertemuan dengan akhirat dan kekekalannya.
  3. Kemudian membandingkan antara kedua hal tersebut, lalu mengutamakan akhirat di atas dunia.

Allah Ta'ala berfirman: 

(Apa pun yang diberikan kepadamu, maka itu adalah kesenangan hidup duniawi...) (QS. Al-Qashash: 60).

(...Katakanlah, "Kesenangan di dunia ini hanya sedikit, sedangkan akhirat itu lebih baik bagi orang yang bertakwa dan kamu tidak akan dizalimi sedikit pun.") (QS. An-Nisa': 77).

(Apa yang ada di sisimu akan lenyap dan apa yang ada di sisi Allah adalah kekal...) (QS. An-Nahl: 96).

Serta menghadirkan senantiasa hal yang diyakininya tersebut di dalam benaknya.

Namun, menghadirkan tujuan ini di dalam benak saja tidaklah cukup. Harus ada tindakan memutus sikap menunda-nunda (taswif) dan angan-angan yang panjang (thulul amal), hingga ia benar-benar merasa asing di dunia ini dan menyadari bahwa ia bisa saja berpindah (meninggal) darinya sewaktu-waktu.

Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

عَنِ ابْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: أَخَذَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ بِمَنْكِبِي فَقَالَ: "كُنْ فِي الدُّنْيَا كَأَنَّكَ غَرِيبٌ أَوْ عَابِرُ سَبِيلٍ"، وَكَانَ ابْنُ عُمَرَ يَقُولُ: "إِذَا أَمْسَيْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الصَّبَاحَ، وَإِذَا أَصْبَحْتَ فَلَا تَنْتَظِرِ الْمَسَاءَ..." رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ

Dari Ibn 'Umar radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam memegang kedua bahuku seraya bersabda: "Jadilah engkau di dunia ini seakan-akan orang asing atau pengembara yang melintas." Dan Ibn 'Umar pernah berkata: "Jika engkau berada di sore hari, janganlah menunggu pagi hari; dan jika engkau berada di pagi hari, janganlah menunggu sore hari..." (HR. Bukhari no. 6416).

Dan beliau shallallahu 'alaihi wa sallam juga bersabda:

عَنْ عَبْدِ اللهِ بنِ مَسْعُودٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: نَامَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ عَلَى حَصِيرٍ ... فَقَالَ: "مَا لِي وَلِلدُّنْيَا، مَا أَنَا فِي الدُّنْيَا إِلَّا كَرَاكِبٍ اسْتَظَلَّ تَحْتَ شَجَرَةٍ ثُمَّ رَاحَ وَتَرَكَهَا" رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ

Dari Abdullah bin Mas'ud radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah shallallahu 'alaihi wa sallam tidur di atas selembar tikar... lalu beliau bersabda: "Apa urusanku dengan dunia? Tidaklah aku di dunia ini melainkan seperti seorang pengendara yang berteduh di bawah pohon, kemudian ia pergi dan meninggalkannya." (HR. Tirmidzi no. 2377 dan Ibn Majah no. 4109).

Apabila setan membisikkan dan menanamkan anggapan dalam dadanya bahwa ia adalah seorang pemuda yang kuat, melimpah kesehatannya, dan bugar fisiknya, maka hendaklah ia mengusir bisikan setan tersebut dengan menghadirkan ingatan akan para pemuda yang telah berpulang dan kini berada di bawah tanah. Jika setan tetap gigih dalam bisikannya, hendaklah ia keluar menuju pemakaman dan meminta keterangan dari mereka yang terbaring di sana: Berapa banyak di antara mereka yang merupakan para pemuda yang meneguk cawan kematian secara dini?

Kemudian, hendaklah ia kembali ke lingkungannya dan menghitung jumlah orang-orang tua serta pria paruh baya di daerahnya; niscaya ia akan mendapati jumlah mereka tidak sampai sepuluh persen dari pria di daerahnya. Maknanya, kematian di usia muda amat banyak terjadi dan tidak ada yang selamat dari kematian itu kecuali sedikit, yaitu orang-orang tua paruh baya yang ada saat ini.

Apabila angan-angannya terhadap kehidupan dunia telah memendek, terdoronglah ia untuk bersiap-siap menghadapi akhirat dengan melakukan berbagai ketaatan, sebab ia tidak tahu kapan panggilan untuk berpulang (ajal) akan ditujukan kepadanya.

Jika seorang da'i muslim telah terbebas dari keterikatan pada dunia dan membersihkan racun-racunnya dari dalam hatinya serta menghadap pada akhirat, ia akan merasakan keterasingan yang amat sangat di dunia. Namun, bersamaan dengan itu, ia merasakan kesenangan/keringanan pada ruhnya serta kesungguhan yang kuat untuk menggapai rida Rabb-nya, yang mana puncaknya adalah berdakwah kepada-Nya dan membimbing hamba-hamba-Nya yang bingung.

Segala bentuk kelelahan, kepayahan, rasa sakit, perjalanan jauh, rasa kantuk/begadang, pengorbanan harta, maupun jiwa tidak akan menghalanginya dari tugas ini. Sebab, semua itu merupakan bekal yang sudah pasti manfaat dan kegunaannya dalam perjalanannya yang jauh dan panjang menuju akhirat. Bahkan, ia akan menemukan kenyamanan dalam kelelahannya, kenikmatan dalam rasa sakitnya, keuntungan dalam pengorbanan hartanya, serta penggantian yang terjamin dalam setiap pengorbanannya.

Apa yang saya katakan ini bukanlah khayalan atau kepanjangan wacana (mubaladah). Sebab, seorang asing yang jauh dari keluarganya dan telah lama terpisah dari mereka serta makin membuncah rasa rindunya kepada mereka, niscaya akan menemukan kenikmatan saat ia menyiapkan perlengkapan perjalanannya menuju mereka, meskipun dalam persiapan itu terdapat kelelahan fisik dan masa begadang di malam harinya. Siapa yang pernah mencobanya, ia pasti akan mengetahuinya....

Hakekat Iman yang Mendalam 

Pembahasan Kedua: Iman yang Mendalam

Yang kami maksud dengan iman yang mendalam adalah keyakinan bulat seorang dai muslim bahwa Islam—yang kepadanya Allah telah memberi petunjuk dan memerintahkannya untuk menyeru manusia—merupakan kebenaran murni. Hal ini karena Islam adalah petunjuk dari Allah, sedangkan segala sesuatu selainnya dipastikan merupakan kebatilan dan kesesatan. Allah Ta’ala berfirman:   

"Katakanlah, 'Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang sebenarnya).'" (QS. Al-Baqarah: 120)

"Maka, tidak ada setelah kebenaran itu kecuali kesesatan. Lalu, bagaimanakah kamu berpaling?" (QS. Yunus: 32)

Keyakinan akan kebenaran Islam ini telah menjadi layaknya sebuah aksioma (kebenaran intuitif) bagi seorang dai muslim, sebagaimana berlakunya prinsip 1+1=2. Oleh karena itu, aksioma ini tidak lagi menerima perdebatan, adu argumen, keraguan, peninjauan ulang, ataupun penafsiran kembali. Ia meyakini sepenuhnya bahwa setiap bentuk berpaling dari keyakinan ini dan penyimpangan menuju selainnya berarti memperturutkan hawa nafsu batil yang membawa pada kesesatan dan sirnanya keimanan. Allah Ta’ala berfirman:   

"Katakanlah (Muhammad), 'Aku dilarang menyembah tuhan-tuhan yang kamu sembah selain Allah.' Katakanlah, 'Aku tidak akan mengikuti hawa nafsumu. Sungguh, aku akan tersesat jika berbuat demikian, dan aku tidak termasuk orang yang mendapat petunjuk.'" (QS. Al-An'am: 56)

Sesungguhnya iman yang mendalam terhadap kebenaran Islam ini berdiri di atas landasan ilmu yang pasti dan bukti nyata yang kokoh tanpa ada keraguan sedikit pun. Kendati mendustakannya orang-orang batil yang tersesat—yang tidak mampu melihat kebenaran yang diturunkan dari sisi Allah bukan karena samar-samar, melainkan akibat butanya mata hati dan matinya jiwa mereka—seorang dai muslim tidak mungkin condong pada kebatilan mereka atau meragukan dakwah yang diusungnya. Hal ini sebagaimana tidak mungkinkah orang yang bermata awas meragukan penglihatannya sendiri saat berada di tengah-tengah kerumunan orang buta. Allah Ta’ala berfirman:   

"Katakanlah (Muhammad), 'Aku (berada) di atas bukti yang nyata dari Tuhanku, sedangkan kamu mendustakannya. Bukan wewenangku (untuk menurunkan) azab yang kamu minta agar disegerakan. Hak menetapkan hukum itu hanyalah bagi Allah. Dia menerangkan kebenaran dan Dia pemutus keputusan yang terbaik.'" (QS. Al-An'am: 57)

Bukti nyata yang menjadi tumpuan iman yang mendalam bagi seorang dai muslim ini terpancar dari dalam substansi dan hakikat Islam itu sendiri, bukan berasal dari faktor luar. Oleh sebab itu, iman yang mendalam ini berdenyut di seluruh jiwanya dan mengalir dalam aliran darahnya, sehingga tidak mungkin terpengaruh, melemah, atau sirna oleh alasan eksternal apa pun, bagaimanapun bentuk dan sifat alasan tersebut. Ia bukanlah termasuk golongan orang-orang yang difirmankan oleh Allah:   

"Di antara manusia ada yang menyembah Allah hanya di tepi pantai (berada dalam keraguan). Jika memperoleh kebaikan, dia merasa puas. Namun, jika ditimpa cobaan, dia berbalik ke belakang (kembali kufur). Rugilah dia di dunia dan di akhirat. Itulah kerugian yang nyata." (QS. Al-Hajj: 11)

Inilah keadaan orang munafik atau orang yang lemah imannya lagi ragu. Sebagaimana dinyatakan oleh Abdurrahman bin Zaid bin Aslam: "Dia adalah orang munafik. Apabila dunianya membaik, ia tetap bertahan dalam ibadah. Namun, jika dunianya rusak dan berubah, ia berbalik hingga tidak mau menjalankan ibadah kecuali demi hal-hal yang memperbaiki dunianya semata. Apabila ia ditimpa fitnah, kesulitan, ujian, atau kesempitan, ia akan meninggalkan agamanya dan kembali kepada kekufuran." [Tafsir Ibn Katsir, Jilid 3, hlm. 209.]

Dengan demikian, iman seorang dai yang mendalam bersifat teguh tak tergoyahkan. Bagaimanapun cobaan atau kesulitan yang menghantamnya, bagaimanapun kondisi kelemahan dan keterbatasan yang dialaminya, serta bagaimanapun kekuatan dan benteng pertahanan yang dimiliki orang-orang kafir—bahkan sekiranya ia tinggal seorang diri di muka bumi ini. Demikianlah gambaran iman para sahabat Rasulullah SAW dalam seluruh fase kehidupan mereka: tatkala berada di Makkah dalam keadaan terkepung dan disiksa oleh orang-orang kafir; tatkala hijrah menyelamatkan agama mereka ke Habasyah (Etiopia); tatkala hijrah ke Madinah; serta tatkala mereka meraih kemenangan pada Perang Badar, mengalami kekalahan pada Perang Uhud, dan dikepung pada Perang Khandaq.

Dalam seluruh kondisi yang berfluktuasi tersebut, iman mereka tidak pernah goyah sedikit pun. Tidak ada setitik pun keraguan yang menyusup ke dalam hati mereka bahwa mereka berada di atas kebenaran, terhubung dengan Kebenaran (Al-Haqq), dan menyeru kepada kebenaran, sedangkan orang-orang kafir berada dalam kesesatan yang nyata. Allah Ta’ala berfirman:   

"Hanya bagi Allah-lah seruan yang hak (benar). Adapun orang-orang yang mereka sembah selain Allah, tidak dapat mengabulkan sesuatu pun bagi mereka, melainkan seperti orang yang membentangkan kedua telapak tangannya ke dalam air agar air itu sampai ke mulutnya, padahal air itu tidak akan sampai ke mulutnya. Doa orang-orang kafir itu hanyalah sia-sia belaka (berada dalam kesesatan)." (QS. Ar-Ra'd: 14)

Iman seorang dai juga tidak akan melemah hanya karena berpalingnya manusia dari seruannya atau tidak adanya orang yang menyambut ajakannya. Nabi Nuh AS, sebagaimana dikabarkan oleh Allah kepada kita:   

"Maka, dia tinggal bersama mereka selama seribu tahun kurang lima puluh tahun..." (QS. Al-'Ankabut: 14)

Namun, tidak ada yang beriman bersamanya melainkan hanya sedikit. Di samping itu, berpalingnya manusia dari seorang dai tidak menunjukkan bahwa ia lalai atau lalai dalam mengemban tugas dakwahnya, selama ia telah mencurahkan seluruh kemampuannya. Sebab, kelalaian—jika memang ada—diukur dari minimnya kontribusi yang diberikan dai untuk dakwah, bukan dari tidak dijawabnya ajakan oleh orang yang didakwahi (mad’u).

Urgennya Keimanan Ini Bagi Dai Muslim

Sesungguhnya iman yang mendalam seperti ini sangat dibutuhkan oleh setiap muslim, dan menjadi jauh lebih krusial bagi seorang dai pada masa sekarang ini. Yaitu masa di mana kalimat Islam melemah, kalimat kufur membumbung tinggi, mata air keimanan meredup di dalam jiwa-jiwa manusia, cobaan umat Islam kian berlipat ganda, serta orang-orang kafir kian gencar menyerang dan menguasai berbagai belahan dunia. Mereka memiliki negara-negara besar yang melindungi mereka, menyebarkan kebatilan, serta memicu syubhat dan keraguan atas kebenaran Islam.

Ujian ini semakin diperparah dengan keberadaan orang-orang yang mengaku muslim dan para ulama jahat (‘ulama as-su’). Mereka adalah orang-orang yang menjual agama demi kepentingan duniawi, berselimut di balik kata "Islam" yang diucapkan oleh lidah mereka, namun menyembunyikan kebatilan yang pekat dan kesesatan yang besar di baliknya.

Meskipun demikian, seorang muslim—khususnya dai muslim yang jujur—tidak boleh terperangah oleh cobaan dan kondisi ini. Sebaliknya, ia harus menjadikannya sebagai pemacu untuk meningkatkan porsi pengerahan tenaga di jalan peninggian kalimat Allah, serta mencari penawar dan obat bagi kondisi yang menimpa Islam. Ia tidak boleh terus terperangah menatap orang-orang kafir dengan rasa kagum dan mengagungkan mereka. Demi Allah, mereka sesungguhnya berada dalam kesesatan yang nyata yang membutuhkan pelurusan, pembinaan, dan pendisiplinan, bukan pengagungan maupun pemuliaan.

Hendaknya dai muslim selalu menghadirkan dalam benaknya hadis yang diriwayatkan oleh Al-Bukhari dan Muslim dari Abu Sa'id Al-Khudri RA, ia berkata: Rasulullah  menceritakan kepada kami pada suatu hari sebuah hadis yang panjang tentang Dajjal. Di antara yang beliau ceritakan kepada kami adalah beliau bersabda:

Dari Abu Sa'id Al-Khudri RA, ia berkata: Rasulullah SAW menceritakan kepada kami pada suatu hari sebuah hadis yang panjang tentang Dajjal. Di antara isi cerita yang beliau sampaikan kepada kami adalah beliau bersabda: "Dajjal akan datang, sementara ia diharamkan untuk memasuki jalan-jalan Madinah. Maka ia berhenti di sebagian tanah asin (bergaram) yang berbatasan dengan Madinah. Pada hari itu keluarlah seorang laki-laki mendatanginya, dan dia adalah sebaik-baik manusia atau di antara manusia terbaik. Laki-laki itu berkata, 'Aku bersaksi bahwa engkau adalah Dajjal yang telah diceritakan oleh Rasulullah SAW kepada kami.' Dajjal lalu berkata (kepada pengikutnya), 'Bagaimana pendapat kalian jika aku membunuh orang ini kemudian menghidupkannya kembali, apakah kalian masih ragu terhadap perkaraku?' Mereka menjawab, 'Tidak.' Maka Dajjal membunuhnya lalu menghidupkannya kembali. Setelah dihidupkan, laki-laki itu justru berkata, 'Demi Allah, tidaklah aku menilai tentang dirimu dengan keyakinan yang lebih tajam daripada hari ini.' Beliau bersabda: Dajjal pun hendak membunuhnya kembali, tetapi ia tidak diberi kuasa atasnya." (Takhrij: HR. Al-Bukhari no. 1882 dan Muslim no. 2938)

Dalam hadis yang mulia ini terkandung faedah-faedah yang sangat agung. Di antaranya: bahwa Dajjal mengaku sebagai tuhan dan pemelihara alam (rububiyyah) serta menguji manusia dengan seruannya melalui hal-hal luar biasa (khawariq) yang diberikan kepadanya. Di antaranya pula: bahwa ia mampu membunuh seseorang lalu menghidupkannya kembali, memerintahkan bumi untuk menumbuhkan tanaman lalu tumbuhlah tanaman itu, dan memerintahkan hujan untuk turun lalu turunlah hujan sebagaimana diterangkan dalam riwayat-riwayat atsar. Orang-orang awam dan jahil yang hatinya kosong dari makna dan cahaya keimanan pun mengikutinya.

Namun, muslim yang keluar menghadapinya tersebut sama sekali tidak ragu bahwa ia adalah Dajjal sang pembohong besar. Kejadian-kejadian luar biasa maupun banyaknya pengikut Dajjal tidak mampu memengaruhi keyakinan muslim tersebut, tidak pula menggoyahkan kebanggaannya terhadap Islam. Hal itu karena seruan Dajjal tersebut dipastikan batil lantaran bertentangan secara mutlak dengan makna-makna Islam yang hakiki.

Kebatilan selamanya tidak akan mungkin berubah menjadi kebenaran hanya karena faktor-faktor luar yang menyertainya, meskipun faktor tersebut berupa hal-hal ajaib di luar kebiasaan (khawariq al-'adah). Sebagaimana pula kebenaran Islam tidak akan mungkin berubah menjadi kebatilan hanya karena pemeluknya tinggal seorang diri yang tak bersenjata. Oleh karena itulah, tatkala Dajjal membunuh muslim tersebut, keyakinannya justru semakin bertambah kuat bahwa dirinya berada di atas kebenaran, sedangkan Dajjal adalah penipu yang batil, dan bahwa kejadian luar biasa tersebut justru membenarkan kabar dari Rasulullah . Pada akhirnya, muslim tersebut tetap teguh di atas imannya meskipun ia sebatang kara, tidak memiliki daya, kekuatan, maupun penolong....   

Buah Keimanan Ini dan Keniscayaannya

Sesungguhnya bagi iman yang mendalam ini terdapat keniscayaan-keniscayaan (lawazim) dan buah hasil yang pasti ada dan tidak mungkin terpisah. Jika buah atau keniscayaan tersebut absen atau melemah, maka hal itu menjadi bukti pasti akan ketiadaan jenis keimanan ini, atau menjadi indikator atas dangkal dan lemahnya iman tersebut. Lantas, apakah buah dan keniscayaan tersebut?

Pada hakikatnya jumlahnya sangat banyak dan telah disebutkan dalam Kitabullah serta Sunnah Nabi-Nya SAW pada bab sifat-sifat orang beriman. Kewajiban seorang muslim adalah membaca ayat-ayat dan hadis-hadis mulia tersebut, merenungi setiap sifat yang terkandung di dalamnya, mendalami maknanya, serta menghayati maksudnya. Setelah itu, ia merujuk kepada dirinya sendiri, memeriksa, dan mengukur sejauh mana kadar nilai sifat-sifat tersebut yang tertanam dalam jiwanya. Jika ia menemukannya, hendaknya ia memuji Allah Ta’ala. Namun, jika ia tidak menemukannya atau menemukannya dalam keadaan kurus/lemah, hendaknya ia menyelamatkan imannya, meninjau kembali, menguatkan, memperdalam, merawat, dan memberinya nutrisi dengan nutrisi keimanan yang khusus. Dengan demikian, imannya akan membuahkan hasil yang diharapkan dengan izin Allah Ta’ala, dan jiwanya akan terwarnai dengan celupan (shibghah) karakter pemilik iman yang mendalam.

Cukuplah bagi kita di sini untuk menyebutkan sebagian dari buah-buah yang baik dari iman yang mendalam serta beberapa keniscayaannya mengingat betapa pentingnya hal tersebut, dan kita tinggalkan bagian lainnya untuk kesempatan lain jika Allah Ta’ala memudahkannya.   

Pertama: Rasa Cinta (Al-Mahabbah)

Cintanya hamba kepada Rabbnya dan cintanya Rabb kepada hamba-Nya merupakan salah satu buah keimanan yang diabadikan dalam Al-Qur'an. Allah Ta’ala berfirman:   

"Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya." (QS. Al-Ma'idah: 54)

Cinta ini dipastikan merupakan buah dari iman yang mendalam, bahkan ia merupakan roh dan inti dari keimanan. Sebab, iman berdiri di atas pengetahuan yang meyakinkan (al-ma'rifah al-yaqiniyyah) terhadap Rabb Jalla Jalaluh, sebagaimana telah kita bahas. Barang siapa mengenal Rabbnya, niscaya ia akan mencintai-Nya, sebagaimana dikatakan oleh Al-Hasan Al-Bashri. Setiap kali pengetahuan (ma'rifah) itu menguat, maka kedalaman iman pun bertambah, dan bertambah pula rasa cinta hamba kepada Rabbnya.

Penguatan ma'rifah ini hanya dapat dicapai melalui perenungan yang murni (al-fikr ash-shafi) terhadap sifat-sifat Rabb, keagungan-Nya, serta kenikmatan-kenikmatan-Nya—yang teragung di antaranya adalah petunjuk-Nya kepada dai muslim menuju keimanan kepada-Nya. Dan mereka berkata:   

"Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami ke (surga) ini. Kami tidak akan mendapat petunjuk sekiranya Allah tidak menunjuki kami." (QS. Al-A'raf: 43)

Rasa cinta seorang muslim kepada Rabbnya Ta’ala meluas hingga mencakup apa saja yang dicintai oleh Sang Kekasih Jalla Jalaluh. Oleh karena itu, seorang muslim mencintai Nabi-Nya, Muhammad SAW, karena beliau adalah kekasih Allah, utusan-Nya kepada manusia, dan penyampai risalah Islam. Demikian pula seorang muslim mencintai Al-Qur'an dan ajaran-ajaran Islam karena semua itu merupakan risalah Allah. Ia juga mencintai orang-orang mukmin karena mereka adalah hamba-hamba Allah yang taat yang menegakkan peribadatan kepada Pelindung mereka.

Cinta seorang muslim kepada Allah dan segala hal yang terhubung dengan-Nya meninggalkan bekas yang indah dan manis dalam jiwa muslim tersebut, yang mana ia dapat merasakan kemanisan dan keindahannya. Rasulullah SAW bersabda:

عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «ثَلَاثٌ مَنْ كُنَّ فِيهِ وَجَدَ حَلَاوَةَ الْإِيمَانِ: أَنْ يَكُونَ اللهُ وَرَسُولُهُ أَحَبَّ إِلَيْهِ مِمَّا سِوَاهُمَا، وَأَنْ يُحِبَّ الْمَرْءَ لَا يُحِبُّهُ إِلَّا لِلَّهِ، وَأَنْ يَكْرَهَ أَنْ يَرُوجِعَ فِي الْكُفْرِ بَعْدَ إِذْ أَنْقَذَهُ اللهُ مِنْهُ كَمَا يَكْرَهُ أَنْ يُقْذَفَ فِي النَّارِ

Dari Anas bin Malik RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Tiga hal yang barang siapa terdapat ketiga hal tersebut dalam dirinya, niscaya ia akan merasakan kemanisan iman: hendaklah Allah dan Rasul-Nya lebih ia cintai daripada selain keduanya; hendaklah ia mencintai seseorang tidak lain kecuali karena Allah; dan hendaklah ia benci untuk kembali kepada kekufuran setelah Allah menyelamatkannya darinya sebagaimana ia benci untuk dilemparkan ke dalam neraka." (HR. Al-Bukhari no. 16 dan Muslim no. 43)

Maka cintanya hamba kepada Rabbnya meniscayakan perkara-perkara ini secara pasti dan tidak mungkin terpisah darinya. Tampaknya bermanfaat jika saya menguraikan lebih rinci—meski sedikit—mengenai keniscayaan-keniscayaan cinta seorang muslim kepada Rabbnya Jalla Jalaluh, dan saya susun dalam bentuk poin-poin agar lebih memperjelas dan menyingkap betapa agungnya urgensinya. Saya katakan:   

Keniscayaan Cinta Hamba kepada Rabbnya

Allah Ta’ala berfirman: 

"Wahai orang-orang yang beriman, siapa di antara kamu yang murtad dari agamanya, maka Allah akan mendatangkan suatu kaum yang Dia mencintai mereka dan mereka pun mencintai-Nya, yang bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin, yang bersikap tegas terhadap orang-orang kafir, yang berjihad di jalan Allah, dan yang tidak takut kepada cercaan orang yang mencerca." (QS. Al-Ma'idah: 54)

Dan Allah Ta’ala berfirman: 

"Katakanlah (Muhammad), 'Jika kamu mencintai Allah, ikutilah aku, niscaya Allah mencintaimu...'" (QS. Ali 'Imran: 31)

Maka keniscayaan cinta seorang muslim kepada Rabbnya berdasarkan cahaya kedua ayat mulia ini adalah:   

  1. Bersikap lemah lembut terhadap orang-orang mukmin (adzillatin 'alal-mu'minin): Seorang muslim itu bersikap halus, penyayang, dan kasih kasihan kepada saudaranya sesama muslim. Seorang dai, tatkala menyeru saudaranya sesama muslim menuju apa yang diridhai Allah, merasakan rasa kasih sayang ini hingga mencapai bentuk ketundukan/kelembutan yang disyariatkan (ad-dzillah al-masyru'ah). Kita akan membahas hal ini nanti. Ini senada dengan firman Allah  mengenai sifat Nabi Muhammad SAW dan para sahabat beliau: "kasih sayang sesama mereka." (QS. Al-Fath: 29).
  2. Bersikap tegas terhadap orang-orang kafir (a'izzatin 'alal-kafirin): Ini senada dengan firman Allah : "Muhammad adalah utusan Allah dan orang-orang yang bersama dengannya bersikap keras terhadap orang-orang kafir..." (QS. Al-Fath: 29). Ia tidak merendahkan diri, tidak tunduk terhina, dan tidak merasa kecil di hadapan mereka—baik secara terang-terangan maupun di dalam hati. Ia tampil kuat menghadapi mereka sebanding dengan kelembutannya kepada orang-orang beriman.
  3. Berjihad di jalan Allah (yujahiduna fi sabilillah): Jihad di jalan Allah mencakup jihad menundukkan nafsu secara terus-menerus agar ia istikamah, teguh, dan berkesinambungan dalam ketaatan kepada Allah; jihad melawan musuh hingga mereka tunduk dan terhenti bahayanya; serta jihad dakwah ke jalan Allah hingga proses penyampaian (at-tabligh) dan penjelasan (at-tabyiin) sempurna, sehingga jalan-jalan petunjuk menjadi mudah bagi manusia. Jihad yang dicurahkan oleh dai muslim dalam dakwahnya kepada Allah Ta’ala ini tampak menonjol melalui kesibukan total terhadap urusan-urusan dakwah, terus memikirkannya, membolak-balik pandangan mengenai sarana-sarananya, sangat berkepentingan atas keberhasilannya, serta mengutamakannya di atas anak, harta, jiwa, kenyamanan, dan seluruh kesenangan duniawi. Allah Ta’ala berfirman: "Katakanlah, 'Jika bapak-bapakmu, anak-anakmu, saudara-saudaramu, istri-istrimu, kaum kerabatmu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perdagangan yang kamu khawatirkan kerugiannya, dan tempat tinggal yang kamu sukai, lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan dari berjihad di jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.' Dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang fasik." (QS. At-Taubah: 24).
  4. Tidak takut kepada cercaan orang yang mencerca (wa la yakhafuna laumata la'im): Maksudnya, tidak ada sesuatu pun yang memalingkan mereka dari ketaatan kepada Allah, dakwah menuju jalan-Nya, serta amar ma'ruf nahi munkar. Tidak ada penghalang yang dapat menghalangi mereka, tidak ada rintangan yang dapat membendung mereka, dan tidak pula celaan orang-orang yang mencela maupun celaan orang-orang yang memaki [Tafsir Ibn Katsir, Jilid 2, hlm. 70.].
  5. Meneladani Rasulullah SAW dalam petunjuk beliau pada seluruh kondisi: Di samping menaati perintah beliau dan menjauhi apa yang beliau larang. Allah Ta'ala  berfirman: "Apa yang diberikan Rasul kepadamu maka terimalah, dan apa yang dilarangnya bagimu maka tinggalkanlah..." (QS. Al-Hasyr: 7). Beliau adalah teladan bagi dai yang menyeru kepada Allah. Ia meneladani beliau dalam perjalanan hidup (sirah) beliau tatkala berdakwah kepada Allah langkah demi langkah. "Sungguh, telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu..." (QS. Al-Ahzab: 21).

Perkara yang paling bermanfaat bagi seorang dai muslim adalah mendalami pemahaman (at-tafaqquh) terhadap Sunnah Rasulullah SAW dan sirah beliau dalam berdakwah kepada Allah sejak beliau diutus hingga beliau dipanggil ke haribaan-Nya Yang Mahamulia. Sisi kemanfaatan hal ini bagi dai adalah bahwa sirah Rasulullah SAW merupakan terjemahan praktis bagi manhaj Rabbani dalam berdakwah yang termaktub dalam ayat-ayat Al-Qur'an. Tidak ada satu kondisi pun yang dialami oleh dai melainkan ia akan menemukan padanannya, kemiripannya, atau hal yang mendekatinya dalam sirah Nabi SAW, serta bagaimana pemimpinan para dai tersebut bersikap menghadapinya. Pendalaman terhadap Sirah Nabawiyah—jika dipadukan dengan pemahaman Al-Qur'an, khususnya mengenai hal-hal yang berkaitan dengan dakwah—akan menjadikan dai berada di atas cahaya dari Rabbnya serta pembeda (furqan) yang terang yang menjelaskan kebenaran dalam perkara-perkara yang samar dan rumit.

Faktor yang membantu untuk meneladani Rasul SAW adalah dengan menghadirkan sosok beliau yang mulia dalam pikiran dai, menyertai beliau secara rohani dan perasaan (jiwdani), membayangkan berbagai sikap beliau, serta menghadirkan sifat-sifat beliau yang mulia dan besarnya kasih sayang beliau kepada umat. Sesungguhnya hal ini dan sejenisnya akan menambah rasa cinta seorang muslim kepada Rasul-Nya yang mulia SAW. Setiap kali cintanya kepada beliau bertambah, bertambah pula keterikatan dan kedisiplinannya dalam meneladani beliau.

Di antara keniscayaan cinta dai muslim kepada Rabbnya yang dipetik dari Al-Qur'an, As-Sunnah, dan hakikat cinta itu sendiri adalah perkara-perkara lainnya, yaitu:   

  • a) Gandrung untuk berzikir mengingat Allah Ta’ala setiap saat: Lidah seorang dai tidak pernah lelah mengingat-Nya dan hatinya tidak pernah kosong dari-Nya. Sebab, barang siapa mencintai sesuatu, ia dipastikan akan memperbanyak menyebutnya dan menyebut hal-hal yang berkaitan dengannya. Oleh karena itu, di antara tanda-tanda orang yang mencintai Allah adalah memperbanyak membaca Kitab-Nya Jalla Jalaluh, karena Al-Qur'an adalah penyejuk hati mereka, teman dalam kesendirian mereka, serta cahaya yang menerangi dada mereka. Demikian pula zikir kepada Allah di setiap waktu dan kesempatan. Maka dari itu, disunahkan bagi dai muslim untuk membiasakan dirinya dengan wirid-wirid zikir yang diajarkan dalam Sunnah Nabawiyah, dibaca setelah shalat Subuh, tatkala hendak tidur, keluar dan masuk rumah, makan dan minum, berpakaian, safar maupun mukim, serta pada waktu sahur.
  • b) Merasa tenteram (yanas) dengan bermunajat kepada Allah dalam kesendirian (khalwah): Ia tidak merasa terasing darinya dan tidak pula merasa sempit dengannya, melainkan memanfaatkan kesempatan itu untuk bermunajat.
  • c) Mengecap kenikmatan dalam ketaatan kepada-Nya dan tidak merasa berat menjalankannya: Sebab, orang yang mencintai akan merasa lezat dalam melayani sosok yang dicintainya dan akan bersemangat karenanya. Oleh sebab itulah, shalat menjadi penyejuk mata (qurratu 'ain) bagi Rasulullah SAW serta ketenangan bagi jiwa beliau yang mulia dari keletihan dunia. Al-Junaid rahimahullah berkata: "Tanda orang yang mencintai adalah kesinambungan semangat dalam ketaatan kepada Allah."
  • d) Tidak menyesali apa pun yang luput darinya selain Allah AzzawaJalla: Sebaliknya, penyesalannya bertambah besar atas luputnya setiap jam yang berlalu tanpa zikir kepada Allah dan tanpa berdiri melayani serta menaati-Nya.
  • e) Mengutamakan apa yang dicintai Allah di atas apa yang dicintainya sendiri, baik secara lahir maupun batin: Sebab, pencinta sejati selalu mengutamakan apa yang dicintai kekasihnya, dan ia tidak peduli akan kesulitan maupun keletihan dalam pengutamaan ini.
  • f) Mencintai pertemuan dengan Allah: Karena pencinta menyukai pertemuan dengan yang dicintainya. Oleh sebab itu, ia tidak membenci kematian jika saatnya tiba, karena kematian merupakan kunci pertemuan dan jalan untuk sampai kepada Allah.
  • g) Cemburu (al-ghirah) karena Allah: Tandanya adalah marah tatkala kehormatan/larangan Allah dilanggar. Demikianlah Rasulullah SAW, beliau tidak pernah marah demi membela dirinya sendiri, melainkan beliau marah demi Rabbnya tatkala larangan-larangan-Nya dilanggar. Di samping rasa cemburu ini, terdapat kesedihan yang menimpa seorang muslim tatkala melihat pelanggaran umat Islam terhadap syariat Allah. Diriwayatkan bahwa salah seorang sahabat—dan saya memperkirakan beliau adalah Abu Ad-Darda' RA—masuk ke rumahnya dalam keadaan menangis. Lalu ditanyakan kepadanya: "Apa yang membuatmu menangis?" Ia menjawab: "Aku masuk ke masjid dan aku melihat orang-orang tidak mendirikan shalat sebagaimana yang aku saksikan pada zaman Nabi SAW."   

Kedua: Rasa Takut (Al-Khauf)

Di antara buah dan keniscayaan dari iman yang mendalam adalah rasa takut kepada Allah. Sesungguhnya puncak hikmah adalah takut kepada Allah. Barang siapa mengenal Allah, niscaya ia takut kepada-Nya; dan barang siapa takut kepada Allah, ia tidak akan takut kepada seorang pun dari manusia, melainkan manusialah yang takut kepadanya.

Penjelasan mengenai hal ini: bahwa hakikat rasa takut merupakan rasa sakit hati akibat menantikan sesuatu yang menyakitkan di masa depan. Penyebab rasa takut ini adalah pengetahuan tentang hal yang memicu terjadinya sesuatu yang menyakitkan tersebut di masa depan. Maka, rasa takut kepada Allah adalah pengetahuan seorang muslim tentang hal yang membawa pada siksa-Nya, yaitu kemaksiatan kepada-Nya dan ketidakmampuan menunaikan hak-hak-Nya Tabarakawa Ta’ala.

Rasa takut ini kian meningkat seiring makin dalamnya pemahaman seorang muslim akan besarnya dosa pelanggaran terhadap Rabb Tabarakawa Ta’ala, dan bahwasanya Jalla Jalaluh sekiranya membinasakan seluruh alam, tidak ada satu pun penghalang yang mampu menghalangi-Nya. Perkara terbesar yang menguatkan sisi rasa takut pada diri hamba adalah merenungkan ayat-ayat ancaman (ayat al-wa'id) dalam Al-Qur'an. Sebab, ayat-ayat tersebut adalah hak dan benar, tidak ada hiperbola (mubalaghah) maupun khayalan di dalamnya, dan bahwasanya para hamba akan dibalas atas amal perbuatannya hingga sekecil biji zarrah dari kebaikan maupun keburukan yang mereka kerjakan.

Apabila iman yang mendalam ini telah meresap pada dirinya mengenai dampak dosa-dosa, ketelitian hisab, Mahatunggalnya Allah dalam memutuskan hukum pada hari perhitungan, serta ketidakjelasan kondisi akhir hayat (majhuliyyah al-khatimah), niscaya terpancarlah dalam hatinya rasa takut (al-khasyyah) kepada Rabb Jalla Jalaluh, dan muslim tersebut akan menjauhi hal-hal yang membawa pada perkara buruk yang menyakitkan. Selanjutnya, rasa takut dan gelora kecemasan ini tidak bergeming untuk meluap dari dalam hati menuju anggota badan. Maka, tidaklah terlihat seorang mukmin melainkan dalam keadaan cemas bak orang yang tertimpa musibah lagi bersedih; ia tidak bergurau, tidak bercanda, dan tidak tertawa melainkan hanya tersenyum. Sebab, orang yang bersedih, takut, dan terperanjat tidak menemukan kesempatan untuk bercanda, dan sekiranya menemukannya, ia tidak sanggup dan tidak mampu melakukannya.

Rasa takut memiliki dampak yang pasti. Sebab, barang siapa takut akan sesuatu, niscaya ia akan berlari darinya, menjauhinya, dan mengambil perlindungan darinya. Oleh karena itulah manusia berlari dari singa yang ganas dan api yang membakar. Adapun dosa dan maksiat adalah kalajengking, ular, serta hal-hal yang menyakitkan dan membakar, sehingga wajib bagi setiap orang yang takut kepada Allah untuk lari darinya dan mengalahkannya dengan ketaatan-ketaatan.

Apabila seorang dai muslim merasakan rasa takut kepada Allah, ia akan menahan dan mencegah dirinya dari pelanggaran-pelanggaran, serta terdorong menuju hal-hal yang dapat membentengi dirinya dari perkara-perkara yang menyakitkan di akhirat. Di puncak benteng perlindungan tersebut adalah ketakwaan kepada Allah, dan di barisan terdepan ketakwaan kepada Allah adalah berjihad di jalan-Nya, yang di antaranya berupa dakwah menuju jalan-Nya. Dengan rasa takutnya kepada Rabbnya, ia pun bertambah mendapat petunjuk dan rahmat. Allah Ta’ala berfirman:   

"Dan petunjuk serta rahmat bagi orang-orang yang takut kepada Tuhannya." (QS. Al-A'raf: 154)

Maka petunjuk dan rahmat itu diperuntukkan bagi orang yang takut, bukan bagi orang yang merasa aman.   

Ketiga: Harapan (Ar-Raja')

Di antara buah dari iman yang mendalam adalah harapan (ar-raja'), serta tidak putus asa dari rahmat Allah. Hal itu karena Allah Ta’ala telah menjanjikan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman apa yang telah Dia janjikan dalam Kitab-Nya yang agung dan melarang mereka dari berputus asa. Dan sudah menjadi karakter pemilik iman yang mendalam untuk beriman pada janji yang benar dari Rabb yang Maha Kuasa lagi Maha Penyayang ini.

Harapan ini mendorongnya untuk merealisasikan sebab-sebabnya. Adapun sebab-sebabnya adalah ketaatan kepada Rabb, yang di antaranya adalah berdakwah menuju jalan-Nya. Sebab, hakikat harapan adalah ketenteraman hati dalam menantikan apa yang dicintai oleh jiwa tatkala sebagian besar sebab-sebabnya telah direalisasikan. Apabila penantiannya disertai dengan ketiadaan sebab-sebabnya, maka hal itu merupakan kebodohan dan angan-angan kosong (ghurur). Maka, mengharapkan rahmat Allah, pertolongan-Nya, serta keridhaan-Nya dilakukan dengan cara meraih sebab-sebabnya yang telah dikabarkan oleh Rabb dan telah Dia janjikan atasnya rahmat, pertolongan, kemenangan, dan keridhaan.

Oleh sebab itu, seorang muslim yang memiliki iman yang mendalam akan tergerak untuk merealisasikan sebab-sebab ini sekuat kemampuannya tanpa menunda-nunda maupun memperlambat, seraya berharap kepada Allah Ta’ala agar membimbingnya untuk membenarkan sebab-sebab ini, terus melanjutkannya, serta menerimanya darinya. Keadaannya seperti orang yang menebar benih di tanah yang subur lagi baik, mengalirkan air dan pupuk kepadanya, serta terus merawatnya hingga waktu panen tiba seraya berharap kepada Allah Ta’ala agar menjaga tanamannya dan menghindarkan bahaya darinya.

Seorang dai muslim senantiasa berada dalam harapan yang tak pernah putus asa. Hal itu karena ia beriman pada janji Allah bagi para pekerja dan dai berupa kemenangan, pertolongan, serta pahala yang melimpah. Maka, ia berada dalam jaminan kemenangan dan pertolongan dari Rabb Yang Mahagung. 

Pasal Ketiga: Hubungan yang Erat (dengan Allah)

541 - Makna dan Dampaknya

Yang kami maksud dengan hubungan yang erat adalah terikatnya seorang dai muslim kepada Tuhannya serta kepasrahan tawakal-Nya kepada-Nya dalam seluruh urusannya. Hal ini didasari oleh keyakinannya yang mantap bahwa Allah Subhanahu wa Ta'ala Dialah satu-satunya Zat yang Maha Menciptakan, Maha Mengatur, Maha Memberi Mudarat, Maha Memberi Manfaat, Maha Menahan, dan Maha Memberi. Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi, dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi. Sesungguhnya Allah Ta'ala mencukupi siapa saja yang bertawakal kepada-Nya dan menyerahkan segala urusan kepada-Nya (QS. At-Talaq: 3). Terlebih lagi bagi orang yang bertawakal kepada-Nya dalam urusan-urusan dakwah ke jalan Allah, menolong agama-Nya, meninggikan kalimat-Nya, dan berjihad melawan musuh-musuh-Nya.

Allah Ta'ala berfirman menceritakan kisah Musa dan Harun: (Mereka berdua berkata, "Ya Tuhan kami, sungguh kami khawatir dia akan segera menyiksa kami atau bertindak melampaui batas." Dia [Allah] berfirman, "Janganlah kamu berdua khawatir, sungguh Aku bersama kamu berdua, Aku mendengar dan melihat.") (QS. Thaha: 45-46).

Kebersamaan (ma'iyyah) ini—yaitu pertolongan dan dukungan-Nya—tidak hanya terbatas pada para nabi dan rasul-Nya yang bertawakal kepada-Nya dalam menyampaikan risalah-risalah-Nya, melainkan juga mencakup seluruh hamba-Nya yang bertakwa, khususnya para dai yang menyeru kepada agama-Nya. Allah Ta'ala berfirman: (Sungguh, Allah beserta orang-orang yang bertakwa dan orang-orang yang berbuat kebaikan.) (QS. An-Nahl: 128).   

542. Keadaan seorang dai muslim dalam bertawakal kepada Allah dan keterikatannya dengan-Nya haruslah seperti keadaan seorang anak kecil bersama ibunya. Anak kecil tersebut tidak mengenal siapa pun selain ibunya, tidak bergantung kecuali kepadanya, tidak mengadu ketakutan melainkan kepadanya, dan tidak bersandar kecuali kepadanya. Jika ditimpa sesuatu, ia tidak menyeru melainkan nama ibunya.

Akan tetapi, keadaan ini tidak berarti meninggalkan sebab-sebab (asbab / ikhtiar). Keadaan ini berarti tidak menggantungkan hati dan bersandar pada sebab-sebab tersebut, karena ketergantungan hati hanyalah kepada Sang Pencipta Sebab, yaitu Allah Jalla Jalaluh, Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa.   

543. Hubungan dengan Tuhan Jalla Jalaluh ini akan semakin kuat apabila seorang dai muslim menghadirkan dalam dirinya apa yang ia ketahui dan ia imani secara yakin, yaitu bahwa makhluk tidak memiliki kuasa atas manfaat maupun mudarat, baik untuk diri mereka sendiri maupun untuk orang lain, dan bahwa seluruh urusan tanpa terkecuali berada di tangan Allah Yang Mahakuasa lagi Mahaperkasa.

Jika seorang dai menghadirkan makna-makna ini di dalam hatinya, niscaya ia pasti akan enggan bersandar kepada makhluk apa pun, dan ia akan menghadapkan seluruh dirinya kepada Sang Pencipta, Pelindung, dan Penolongnya. (Bahkan Allah-lah Pelindungmu, dan Dia adalah sebaik-baik Penolong) (QS. Ali 'Imran: 150). (Allah adalah Pelindung orang-orang yang beriman) (QS. Al-Baqarah: 257).

Di samping penyandaran diri dai kepada Allah dalam seluruh urusannya, ia juga menaruh kepercayaan yang penuh kepada Tuhannya bahwa Dia akan memeliharanya, menolongnya, dan menolak keburukan darinya. Allah Ta'ala berfirman: (Sesungguhnya Allah membela orang-orang yang telah beriman) (QS. Al-Hajj: 38). (Dan sungguh, janji Kami telah tetap bagi hamba-hamba Kami yang menjadi rasul, [yaitu] sesungguhnya mereka itulah yang pasti mendapat pertolongan, dan sesungguhnya tentara Kami itulah yang pasti menang) (QS. As-Saffat: 171-173).   

544. Namun demikian, seorang dai muslim tidak boleh menentukan waktu tertentu bagi Allah untuk menurunkan pertolongan-Nya dan bantuan-Nya atas musuh-musuhnya, tidak boleh pula menentukan jenis atau cara tertentu bagi pertolongan dan bantuan tersebut. Allah Ta'ala berfirman: (Sesungguhnya Kami pasti menolong rasul-rasul Kami dan orang-orang yang beriman dalam kehidupan dunia dan pada hari terjadinya kesaksian [hari Kiamat]) (QS. Ghafir: 51).

Ibnu Katsir berkata dalam tafsir ayat ini: "Yang dimaksud dengan pertolongan di sini adalah kemenangan bagi mereka dari orang-orang yang menyakiti mereka, baik hal itu terjadi saat mereka masih ada, saat mereka tidak ada, maupun setelah mereka wafat. Sebagaimana yang terjadi terhadap para pembunuh Yahya, Zakariyya, dan Syu'aib: Allah menguasakan atas mereka musuh-musuh yang menghinakan mereka dan menumpahkan darah mereka. Allah menguasakan bangsa Romawi atas kaum Yahudi yang ingin membunuh Isa 'alaihis salam, lalu bangsa Romawi menghinakan dan merendahkan mereka, dan Allah memenangkan bangsa Romawi atas mereka.

As-Suddi berkata: 'Tidaklah Allah 'Azza wa Jalla mengutus seorang rasul pun kepada suatu kaum lalu mereka membunuhnya, atau mengutus sekelompok mukmin yang menyeru kepada kebenaran lalu mereka dibunuh, melainkan generasi itu tidak akan berlalu hingga Allah Tabaraka wa Ta'ala mengutus orang yang menolong mereka, yang menuntut darah mereka dari para pelakunya di dunia.' Ia (As-Suddi) berkata: 'Maka para nabi dan orang-orang mukmin dibunuh di dunia, namun mereka tetap ditolong di dunia. Demikian pula Rasul-Nya: Allah memerintahkannya untuk hijrah, kemudian beliau kembali ke kota tersebut sebagai pemenang dan penakluk.' "*[ Tafsir Ibnu Katsir, Jilid 4, hlm. 83. Al-Qurthubi juga menyebutkan dalam tafsir ayat ini hal yang serupa dengan apa yang disebutkan oleh Ibnu Katsir (Tafsir Al-Qurthubi, Jilid 15, hlm. 322).]   

545. Selama seorang dai muslim menolong Allah—yaitu menolong agama-Nya dengan berdakwah kepadanya—maka Allah Ta me'ala pasti menolongnya. Allah 'Azza wa Jalla berfirman: (Dan sungguh, Allah pasti menolong orang yang menolong [agama]-Nya. Sesungguhnya Allah benar-benar Mahakuat lagi Mahaperkasa) (QS. Al-Hajj: 40).

Maka wajib bagi seorang dai untuk meyakini hal tersebut dan tidak meragukannya sama sekali. Rasulullah Shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda ketika kembali dari Thaif, setelah penduduknya menolak beliau dengan penolakan yang paling buruk, saat itu Zaid bersama beliau. Beliau 'Alaihis shalatu was salam bersabda kepada Zaid:

عَنْ زَيْدِ بْنِ حَارِثَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ النَّبِيَّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ لَهُ عِنْدَ رُجُوعِهِ مِنَ الطَّائِفِ: «إِنَّ اللهَ جَاعِلٌ لِمَا تَرَى فَرَجًا وَمَخْرَجًا، وَإِنَّ اللهَ تَعَالَى نَاصِرٌ دِينَهُ وَمُظْهِرٌ نَبِيَّهُ» [رَوَاهُ الأَذْرُعِيُّ / الإِشْبِيلِيُّ فِي إِمْتَاعِ الأَسْمَاعِ]

(Dari Zaid bin Haritsah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda kepadanya ketika kembalinya dari Thaif: "Sesungguhnya Allah akan menjadikan kelapangan dan jalan keluar bagi apa yang engkau lihat ini, dan sesungguhnya Allah Ta'ala pasti menolong agama-Nya dan memenangkan Nabi-Nya.") [HR. Al-Maqrizi dalam Imta' al-Asma' hlm. 28].

Dan seorang dai tidak boleh berputus asa sama sekali, karena putus asa itu haram menyusup ke dalam hati yang terhubung dengan Allah. Putus asa hanya akan masuk ke dalam hati orang-orang kafir yang terputus hubungannya dengan Allah. Allah Yang Maha Agung firman-Nya berfirman: (Dan janganlah kamu berputus asa dari rahmat Allah. Sesungguhnya yang berputus asa dari rahmat Allah, hanyalah kaum yang kafir) (QS. Yusuf: 87).   

546. Sesungguhnya hubungan dengan Tuhan Jalla Jalaluh ini sangat penting bagi seorang dai muslim. Melalui hubungan inilah berbagai kesulitan menjadi ringan baginya, rasa sakit menjadi berkurang, dan dicabut dari hatinya rasa takut kepada manusia, yaitu orang-orang yang dikatakan kepada mereka: (Orang-orang telah mengumpulkan pasukan untuk menyerang kamu, karena itu takutlah kepada mereka," ternyata ucapan itu bertambah menambah iman mereka dan mereka menjawab, "Cukup lah Allah menjadi Penolong kami dan Dia adalah sebaik-baik Pelindung") (QS. Ali 'Imran: 173).

Ia juga akan merasakan keagungan iman karena ia terhubung dengan Yang Mahakuat lagi Mahaperkasa. (Padahal kekuatan itu hanyalah bagi Allah, bagi Rasul-Nya, dan bagi orang-orang mukmin, tetapi orang-orang munafik itu tiada mengetahui) (QS. Al-Munafiqun: 8).

Dengan demikian, tidak ada kebatilan maupun pelaku kebatilan yang tampak besar di matanya, sebab kebatilan dan para pengikutnya adalah hal yang hina lagi sepele, sehingga tidak mungkin terlihat besar di mata orang-orang yang beriman.   


Sumber: kitab Ushul ad-Da'wah karya Dr. Abdul Karim Zaidan  


 

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat