Hadits_17_Kewajiban Jihad di Jalan Allah: Keutamaan Orang yang Kedua Kakinya Berdebu di Jalan Allah

 

Kewajiban Jihad di Jalan Allah:

Hadits_17: Keutamaan Orang yang Kedua Kakinya Berdebu di Jalan Allah

Dari Abu 'Abs radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam bersabda:

مَنِ اغْبَرَّتْ قَدَمَاهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، حَرَّمَهُ اللَّهُ عَلَى النَّارِ

"Barang siapa yang kedua kakinya berdebu di jalan Allah, maka Allah mengharamkan dirinya dari api neraka." (HR. Al-Bukhari no. 907).

Mengenal Sahabat Perawi Hadis

Abu 'Abs adalah Abdurrahman bin Jabr bin 'Amr Al-Ausi, seorang sahabat senior alumni Perang Badar (Badri besar). Beliau memiliki keturunan di Madinah dan Baghdad. Beliau mampu menulis dalam bahasa Arab, serta pernah bersama Abu Burdah bin Niyar menghancurkan berhala-berhala milik Bani Haritsah. Beliau menghadiri Perang Badar dan seluruh peperangan lainnya. Umar dan Utsman pernah mengutusnya sebagai musaddiq (petugas pemungut zakat) [Yaitu: mengambil zakat dari para pemiliknya untuk dimasukkan ke dalam Kas Negara (Baitul Mal) umat Islam]. Beliau wafat di Madinah pada tahun 34 Hijriah, disalatkan oleh Utsman, hidup hingga usia tujuh puluh tahun, dan makamnya berada di Pemakaman Baqi’ [Lihat Siyar A'lam an-Nubala' (1/188).]

Makna Hadis Secara Umum

Keutamaan Kesulitan yang Dihadapi oleh Mujahid

Hadis ini sangat agung dalam babnya, karena membahas tentang keutamaan seorang mujahid (orang yang berjihad) di jalan Allah. Keutamaan ini mencakup seluruh amal perbuatan mujahid serta segala bentuk kesulitan yang menimpanya betapa pun kecilnya, hingga debu yang menempel di kedua kakinya. Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengungkapkan hal yang paling ringan/rendah—yaitu debu—untuk menunjukkan hal yang lebih besar secara min bab aula (sebab yang lebih utama/jelas). Sebab, dalam persiapan (i'dad) terdapat kesulitan, dalam berpisah dengan keluarga terdapat kesulitan, dalam kebutuhan keluarga kepadanya terdapat kesulitan, dalam meninggalkan pekerjaan terdapat kesulitan, dalam perjalanan terdapat kesulitan, dan di sepanjang jalan terdapat kesulitan. Adapun ketika berhadapan langsung dengan musuh dan di bawah kilatan pedang, maka cukuplah hal itu sebagai suatu kesulitan yang sangat besar.

Keutamaan Para Murabith dan Mujahid di Baitul Maqdis dan Gaza

Adapun para murabith (orang-orang yang bersiaga menjaga perbatasan wilayah Islam), maka pahala mereka tidak kalah dibanding pahala para mujahid, sehingga mereka pun tercakup dalam hadis ini. Pahala mereka beranekaragam sesuai dengan keanekaragaman kesulitan yang menimpa mereka. Murabith di Baitul Maqdis yang diterpa penganiayaan, penahanan, pengasingan/pengusiran, dan berbagai bentuk gangguan lainnya, maka seluruhnya berada di jalan Allah, dan semuanya memiliki pahala yang tidak diketahui besarnya kecuali oleh Allah.

Demikian pula para mujahid dan murabith di Gaza yang mulia, yang mempertahankan kehormatan dan martabat umat, yang teguh di markas-markas mereka, yang kokoh memegang hak mereka atas tanah dan tempat-tempat suci, serta seluruh orang yang keluar dalam 'Aksi Penuntutan Hak Kembali' (matsirah al-'audah) agar suara kebenaran mereka sampai ke seluruh pelosok dunia. Maka ban-ban yang mereka bakar, asap dan kesulitan yang menimpa mereka dari tindakan tersebut, semuanya tercakup dalam hadis ini.

"Yang demikian itu karena mereka tidak ditimpa rasa haus, letih, dan lapar di jalan Allah, dan tidak pula menginjak suatu tempat yang membangkitkan kemarahan orang-orang kafir, dan tidak menimpa suatu bencana dari musuh, melainkan semua itu akan dituliskan bagi mereka sebagai suatu kebajikan. Sungguh, Allah tidak menyia-nyiakan pahala orang-orang yang berbuat baik." (QS. At-Taubah [9]: 120)

Berdakwah di Jalan Allah Adalah Jihad

Demikian pula seluruh jenis jihad lainnya dan kesulitan yang menyertainya. Berdakwah di jalan Allah dengan segala sarana yang tersedia, baik sarana modern maupun tradisional, di dalamnya terdapat berbagai macam kesulitan. Maka segala hal yang menimpa seorang dai berupa penyempitan rezeki dan pekerjaan, pencemaran nama baik, penghinaan dan ejekan, tuduhan-tuduhan palsu, pemenjaraan, penyiksaan, dan lain sebagainya, maka seluruhnya termasuk hal yang dicakup oleh hadis ini.

Pelajaran Penting dari Hadis

  1. Jihad di jalan Allah memiliki kemuliaan yang sangat agung, yang menjadikan kesulitan paling ringan sekalipun yang menimpa seorang mujahid mendatangkan pahala yang dengannya Allah mengharamkan mujahid tersebut dari api neraka.
  2. Ketika Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam menyebutkan hal paling ringan yang menimpa mujahid yaitu debu, maka beliau telah membuka pintu bagi hal-hal yang lebih besar dari itu.
  3. Mujahid bukanlah orang yang berperang hanya dengan senjatanya saja, melainkan maknanya meluas hingga mencakup orang yang berjihad dengan hartanya, penanya, lisannya, pemikirannya, kedudukannya, dan bentuk-bentuk pengerahan potensi lainnya di jalan Allah Ta'ala.
  4. Hadis ini mengarahkan para dai untuk lebih meningkatkan pengerahan potensi dan pengorbanan di jalan dakwah kepada Allah, serta tidak meremehkan usaha apa pun betapa pun kecilnya, karena seluruhnya merupakan jalan menuju surga. Semoga Allah menjadikan kita termasuk penghuninya.

 

Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat