Fiqhul Ghazawat
Catatan:
Setelah mendapatkan taujih ini diharapkan kader dapat memahami konsep dan strategi perang dalam Islam, serta
konsep perang dalam dunia politik
Alhamdulillaah Wasshalaatu wassalaamu ‘alaa Rasuulillaah,
wa ‘alaa aalihi wa shahbihi wa man tabi’ahu wa waalaah. Laa haula wa laa
quwwata illaa billaah. Ammaa ba’du.
Ikhwah
Fillah !, Rahimakumullah!
Tanpa
kita sadari “As-Shira’ bainal haq wal bathil”, pertarungan hak dan batil terus
berlangsung di tengah-tengah kehidupan kita. Persoalannya yang penting bagi
kita adalah, sejauh mana kita berada dalam barisan yang hak dan memenangkan
pertarungan melawan yang batil tersebut. Untuk memenangkan pertarungan ikhwah
fillah, kita perlu menata dan memenej dengan baik “al-haq” yang kita
perjuangkan, sebab tanpa itu semua kita akan mudah digilas dan dikalahkan
dengan manuver-manuver kebatilan yang ditata dan dimenej dengan baik,
sebagaimana kata Imam Ali RA : “Al-Haqqu bilaa nizhaamin yaghlibuhul Bathil
binizhaamin”.
Ikhwah
Fillah Rahimakumullah!
Al-Haq
dalam pengertian yang luas bila terus diperkuat dan dikembangkan , akan mampu
menggeser kebatilan di segala bidang. Untuk memperkuat dan mengembangkan al-Haq
agar semakin eksis dan aplikatif dalam kehidupan ini tentunya memerlukan
sarana, sarana itu adalah “dakwah” itu sendiri.
Oleh karena itu dakwah harus selalu dipahami dalm konteknya sebagai refresentasi Al-Haq yang bertarung melawan
kebatilan, sehingga berdakwah dalam arti luas sesungguhnya dapat juga diartikan
dengan berperang, berperang merebut pengaruh dan dukungan, berperang untuk
menguasai sektor-sektor kebijakan publik yang nantinya diharapkan mengkapitalisasi
potensi dan kekuatan dakwah di segala bidang, serta memperbanyak
program-program kebaikan (Amar Ma’ruf) di tengah-tengah kehidupan masyarakat
dan meminimalisasi program-program kemunkaran (Nahi Munkar) yang berpotensi
merusak tatanan nilai kehidupan masyarakat.
Ikwah
Fillah Rahumakumullah!
Oleh
karena itu, orientasi dakwah tidak cukup hanya memasyarakat (Mihwar Sya’by),
tetapi orientasi dakwah juga harus menegara (Mihwar dauly). Untuk itu
diperlukan “strategic of war”, strategi perang untuk memenangkan dakwah ini.
Bila kita renungkan Ikhwah Fillah!, Rasulullah SAW sebelum terjun melewati
peperangan yang sesungguhnya telah mengawali aksi dakwahnya dengan pendekatan
strategi perang. Perang untuk menguasi individu-individu yang penting dan
potensial bagi kapitalisasi dakwah ke depan. Misalnya Pola rekrutmen yang
dilakukan oleh Rasulullah SAW dalam dakwahnya adalah pola pendekatan yang
segmentatif, dari kalangan segmen wanita Rasulullah berhasil merekrut isterinya
Khadijah RA, dari kalangan pria dewasa khususnya saudagar beliau berhasil
merekrut Abu Bakar RA, dari kalangan kaum dhuafa dan hamba sahaya berhasil
direkrut Zaid bin HAritsah dan dari kalangan anak-anak dan remaja Ali bin Abi
Thalib RA. Masing-masing segmen kemudian menjadi bertambah panjang rangkaian
gerbong dan penumpangnya, karena proses dakwah dan rekrutmen terus berjalan
pada masing-masing segmen tersebut.
Dalam
kontek jihad siyasy dan mihwar dauly yang tengah kita masuki sekarang ini juga
amat penting bagi kita untuk merekonstruksi strategi perang yang telah
dicontohkan oleh Rasululah SAW, artinya harus ada dari kita ikhwah fillah yang
memfokuskan dakwahnya untuk segmen dan kalangan tertentu, harus ada di kita
yang berdakwah ke kalangan pengusaha, birokrat, pelajar, dosen, mahasiswa, buruh,
petani, pedagang dan sya’biyah ‘aammah. Semakin
banyak segmen yang dapat direkrut dan dikelola, maka akan semakin banyak simpul
massa yang bias kita raih untuk meningkatkan potensi dan dukungan bagi dakwah
ini.
Ikhwah
Fillah Rahimakumullah!
Dalam
strategi perang yang terpenting adalah menguasai sumber-sumber kekuatan, yang
dapat menambah kekuatan kita dan mengurangi kekuatan lawan. Oleh karena itu
Habab bin Mundzir RA penasehat militer Rasulullah SAW mengusulkan agar pasukan
kaum Mslimin dalam perang Badar segera mendekat ke sumber air sebelum pasukan
Quraisy mengambil posisi tersebut. Dalam kontek jihad siyasy kita sekarang ini
juga di perlukan penguasaan sumber, di antara sumber yang penting untuk
dikuasai adalah media dan sarana informasi lainnya, juga sumber-sumber yang dapat mendatangkan
pengaruh, seperti public figure, simpul massa dan vote getter. Semakin banyak
hal itu dikuasai, semakin banyak sumber-sumber kekuatan yang dapat membantu
kelancaran dakwah ini, dan semakin membuat dakwah ini memiliki kekuatan untuk
memuluskan jalan al-Haq dalam tatanan kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan
bernegara.
Ikhwah
Fillah ! Rahimakumullah!
Fiqhul
ghazawat, tidak hanya terkait dengan kecamuknya perang, tetapi juga terkait
dengan kepiawaian diplomasi dan memperlihatkan performa di mata lawan, oleh
sebab itu Rasulullah SAW membawa serta 80 kaum Musyrikin Bani Khuza’ah lengkap
dengan hewan-hewan kurban yang akan disembelih, ketika beliau dan kaum Muslimin
menunju Mekkah untuk melakukan umroh. Peristiwa inilah yang menngantarkan kaum
Muslimin kepada perjanjian Hudaibiyah yang kemudian membuat dakwah semakin
leluasa dan bebas bergerak. Diplomasi dan performa damai yang ditunjukkan oleh
Rasulullah SAW menegaskan kepada elit pimpinan Quraisy bahwa Islam datang
dengan misi social charity untuk kemanusiaan, sehingga tidak ada alasan bagi
mereka untuk menolak kedatajngan Nabi dan kaum Muslimin. Nah, misi itu pulalah
yang juga harus ditonjolkan oleh dakwah dan harakah kita di era sekarang ini,
bagaimana meyakinkan para pemimpin baik di tingkat nasional maupun
internasional untuk tidak mencurigai dakwah dan harakah kita ini dan tidak ada
alas an bagi mereka untuk menentang dan menolaknya. Untuk itu ikhwah fillah, kita harus banyak melakukan
pendekatan, kalau perlu mengundang mereka untuk hadir pada even-even besar yang
kita selenggarakan, baik pada acara Munas, Rapimnas, Seminar Nasional dan
Internasional. Mengundang tokoh nasional khususnya kalangan tokoh partai
Nasionalis-Sekuler, bahkan tokoh internasional baik kalangan Muslim dan non
muslimnya akan sangat membantu menumbuhkan kesan pergaulan nasional dan
internasional yang baik dan imej
inklusifitas dakwah dan harakah ini,
Ikhwah
fillah !
Disitulah
kesempatan besar bagi kita untuk memperkenalkan kepada mereka, sebatas yang
diperlukan, siapa kita, apa misi kita, dan bagaimana pandangan kita dalam
membangun solusi dari problematika yang dihadapi dunia dewasa ini. Bila mereka
mengenali kita dengan baik maka insya Allah mereka tidak akan mudah begitu saja
memusuhi kita. “Al- Insaanu ‘aduwwun bimaa jahula”, manusia cenderung memusuhi
sesuatu yang tidak diketahuinya. Demikian kata Imam ghazali rahimahullah.
Ikhwah
fillah Rahimakumullah!
Strategi
menampakan kekuatan di mata lawan juga sangat penting kaitannya dengan strategi
perang, oleh sebab itu pasca perjanjian Hudaibiyah Rasulullah SAW mengirim
ekspedisi ke Mu’tah wilayah koloni Romawy, di satu sisi memanfaatkan gencantan
senjata dan perdamaian untuk memperluas pengaruh dakwah, di sisi lain untuk
show of force kepada kabilah-kabilah Arab, bahwa kekuatan kaum Muslimin tidak
dapat diremehkan begitu saja, tidak pernah sejarahnya bangsa Arab berperang
dengan Romawy, tetapi Rasulullah SAW bersama kaum Muslimin telah memulainya,
beliau melakukan sesuatu yang tidak pernah dilakukan oleh bangsa Arab
sebelumnya, hal ini semakin menunjukan imej kekuatan umat Islam di kalangan
bangsa Arab, khususnya kaum kafir Quraisy.
Ikhwah
Fillah!
Nu’man
bin Muqarrin RA, panglima perang kaum Muslimin ketika berperang melawan Persia
di Nahawand, dengan jumlah pasukan yang jauh tidak seimbang, dimana pasukan
kaum Muslimin jauh lebis sedikit ketimbang jumlah pasukan Persia. Num’an bin
Muqarrin dengan kecerdasan intelegensianya segera memberikan komando serentak
kepada pasukan, pada saat musuh telah tampak dari kajauhan, strategi agar kaum
Muslimin kelihatan banyak dan bermilitansi tinggi, maka dibuatlah komando
serentak melalui aba-aba takbir serentak sacara berbarengan. Takbir pertama,
seluruh pasukan kaum Muslimin bersiap-siap di samping kendaraan tunggangannya,
takbir kedua mereka serempak menurunkan peralatan dan perlengkapan tendanya,
takbir ketiga mereka serentak mendirikan kemahnya dalam waktu yang sangat
cepat. Hal ini menimbulkan ketakutan di kalangan pasukan Persia, setiap mereka
mendengarkan gemuruh takbir membahana di tengah pasukan kaum Muslimin. Dalam
beberpa even alhamdulillah kita telah melakukannya ketika lautan kader
memutihkan sepanjang jalan MH Thamrin hingga Bundaran HI.
Demikianlah
ikhwah fillah, pentingnya membangun imej sebagai sebuah strategi memenangkan
pertarungan, stretegi membangun imej ini tidak hanya dibutuhkan pada kontek
jihad askary, tetapi juga jihad siasy. Intginya adalah bagaimana kita dapat
bermain cantik, smooth dan efektif dalam memenangkan pertarungan antara al-haq
dan al-bathil, sebagaimana pesan salah seorang ashabul kahfi :
… وَلْيَتَلَطَّفْ وَلَا يُشْعِرَنَّ بِكُمْ
اَحَدًا ١٩
19.
dan hendaklah ia Berlaku lemah-lembut dan janganlah sekali-kali menceritakan
halmu kepada seorangpun. (QS. Al-Kahfi ; 19)
Wallahu
A’lamu Bisshawab
Comments
Post a Comment