Sifat-sifat Da'i

 BAB KETIGA: AKHLAK DAKWAH (AKHLAK PARA DA'I)  

Akhlak Da'i Adalah Akhlak Islam

547. Akhlak da'i muslim adalah akhlak Islam yang telah dijelaskan oleh Allah Ta'ala dalam Al-Qur'an-Nya, dirinci oleh Rasulullah SAW dalam sunnahnya, dan diimplementasikan secara nyata oleh para sahabatnya yang mulia dalam perilaku mereka. Akhlak ini merupakan kewajiban bagi setiap muslim, dan ia harus menilai dirinya sendiri dengan tolok ukur tersebut agar mengetahui apa yang telah ia miliki darinya dan apa yang belum ia capai. Kami telah menyebutkan sejumlah akhlak ini pada bab sebelumnya, silakan merujuk kembali ke bab tersebut jika Anda berkenan. Di sini, kami ingin menyebutkan beberapa akhlak Islam yang memiliki hubungan erat dengan tugas seorang da'i, serta sangat dibutuhkan hingga mencapai tingkat darurat jika ia menginginkan keberhasilan dalam tugasnya yang mulia dan penuh berkah ini.   

Pertama: Kejujuran (Ash-Shidq)

548. Di dalam Kitabullah Ta'ala terdapat banyak ayat yang membicarakan tentang kejujuran dan keutamaannya, serta memerintahkan orang-orang beriman untuk senantiasa bersama orang-orang yang jujur:   

"(Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan bersamalah kamu dengan orang-orang yang jujur.)" (QS. At-Taubah: 119). 

Serta bahwasanya kejujuran itu pada hari kiamat akan memberi manfaat kepada seorang hamba, menyelamatkannya dari kemurkaan Allah, dan mengantarkannya ke dalam surga:   

"(Allah berfirman, 'Inilah hari saat kejujuran bermanfaat bagi orang-orang yang jujur. Bagi mereka surga-surga yang mengalir di bawahnya sungai-sungai. Mereka kekal di dalamnya selama-lamanya. Allah ridha kepada mereka dan mereka pun ridha kepada-Nya. Itulah kemenangan yang agung.')" (QS. Al-Ma'idah: 119). 

Hakikat kejujuran adalah terwujudnya sesuatu, kesempurnaannya, puncak kekuatannya, dan menyatunya unsur-unsurnya. Demikianlah yang dikatakan oleh Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah dalam kitabnya, Madarijus Salikin. Kejujuran dapat terjadi pada niat/tujuan (al-qashd), ucapan (al-qaul), dan perbuatan (al-'amal). 

Makna kejujuran dalam niat/tujuan adalah kesempurnaan tekad dan kuatnya kemauan untuk berjalan menuju Allah serta melampaui berbagai hambatan. Hal itu diwujudkan dengan bersegera menunaikan apa yang diwajibkan Allah atasnya, yang di gardu depannya adalah jihad di jalan-Nya—termasuk di dalamnya berdakwah ke jalan Allah—serta berpaling dari setiap penghambat atau pelemah semangat, meninggalkan mereka, dan menjauhi mereka. Sebab, mereka adalah orang-orang yang hidup dalam kelalaian dan tidak mengetahui melainkan hal-hal yang lahiriah saja dari kehidupan dunia; itulah batas akhir pengetahuan mereka, yang pada hakikatnya adalah kebodohan dan hawa nafsu. 

Hakikatnya, hati seorang yang jujur sangat sensitif, tidak mampu menanggung keberadaan orang-orang yang melemahkan semangat ini. Oleh karena itu, hatinya merasa sesak terhadap mereka dan tidak sanggup bertetangga, bersahabat, atau duduk bermajelis dengan mereka. Hatinya hanya merasa lapang dan gembira terhadap orang yang memotivasinya untuk bersegera dalam jalannya menuju Allah dan berdakwah kepada-Nya. 

Adapun kejujuran dalam ucapan (shidqul qaul), maknanya adalah lisannya hanya mengucapkan kebenaran dan ketepatan, sehingga tidak mengucapkan kebatilan sedikit pun. 

Sedangkan kejujuran dalam perbuatan (shidqul 'amal) adalah bahwasanya amalan tersebut harus sesuai dengan metode syariat dan mengikut (ittiba') kepada Rasulullah SAW. 

Apabila seorang muslim telah mewujudkan kejujuran dalam ucapan, niat, dan perbuatannya, hal itu akan mengantarkannya ke tingkatan lain yaitu tingkatan Ash-Shiddiqiyyah (kejujuran tingkat tinggi), yang Allah perintahkan kepada hamba-hamba-Nya yang beriman untuk mencapainya. Allah Jalla Jalaluh mengarahkan firman-Nya kepada Rasul-Nya yang mulia:   

"(Dan katakanlah [Muhammad], 'Ya Tuhanku, masukkanlah aku ke tempat masuk yang benar dan keluarkanlah aku [pula] ke tempat keluar yang benar dan berikanlah kepadaku dari sisi-Mu kekuasaan yang menolong.')" (QS. Al-Isra': 80).

Makna "tempat masuk yang benar dan tempat keluar yang benar" (madkhala shidqin wa makhraja shidqin) adalah bahwasanya masuknya seorang muslim ke dalam sesuatu hal, keterlibatannya dalam suatu amalan, serta keluarnya ia dari amalan tersebut dan meninggalkannya, semuanya adalah demi Allah dan bersama Allah. Artinya, perbuatan dan tindakannya yang ia tinggalkan selalu terhubung dengan Allah dan mengantarkan kepada-Nya, dengan memohon pertolongan kepada Allah dalam melaksanakannya, dan tujuannya semata-mata mencari keridhaan Allah. Maka tujuannya hanyalah Allah semata:   

"(Katakanlah, 'Sesungguhnya shalatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanyalah untuk Allah, Tuhan semesta alam.')" (QS. Al-An'am: 162).

Jika seorang muslim telah mencapai derajat Shiddiqiyyah ini, tidak ada lagi dalam pandangannya tujuan yang dapat diterima bagi keinginannya untuk hidup kecuali jika keberadaannya di dunia menjadi sarana untuk meraih keridhaan Allah. Apabila tujuan ini luput darinya atau tidak mampu ia raih, ia tidak lagi menyukai kehidupan dunia dan lebih mencintai kematian. 

Diriwayatkan dari Umar bin Al-Khaththab radhiyallahu 'anhu bahwasanya ia berkata: "Seandainya bukan karena tiga hal, niscaya aku tidak suka tinggal di dunia: Seandainya bukan karena menunggangi kuda-kuda tangguh di jalan Allah, menanggung beratnya ibadah malam, dan duduk bersama kaum yang memilih kata-kata yang baik sebagaimana dipilahnya kurma-kurma yang baik." Imam Umar bermaksud dengan tiga hal yang disebutkan ini adalah: Jihad, shalat, dan ilmu yang bermanfaat. Dan semuanya itu mendatangkan keridhaan Rabb Azza wa Jalla. [Ibnul Qayyim Al-Jauziyyah, Madarijus Salikin, Jilid 2, Halaman 281–282.]

549. Seorang da'i muslim yang jujur akan nampak bekas kejujurannya pada wajah dan suaranya. Dahulu Rasulullah SAW berbicara kepada orang-orang yang belum mengenal beliau, lalu mereka berkata: "Demi Allah, ini bukanlah wajah seorang pendusta, bukan pula suara seorang pendusta." [Al-Bahi Al-Khuli, Tadzkiratud Du'at.]

Tidak diragukan lagi bahwa nampaknya bekas kejujuran pada wajah dan suara seorang da'i akan mempengaruhi orang yang diajak bicara (mitra tutur) dan mendorongnya untuk menerima perkataannya serta menghormatinya, kecuali jika kebutaan hati orang tersebut telah mencapai tingkat yang sangat parah. Bagaimanapun juga, kejujuran adalah satu hal, sedangkan kemunafikan landasannya adalah kedustaan. Maka bagaimana mungkin seorang da'i menjadi seorang pendusta? Padahal kedustaan itu menuntun kepada kefasikan sebagaimana yang bersabda Rasulullah SAW, lalu bagaimana mungkin seorang yang fasik bisa menjadi seorang penyeru (da'i) ke jalan Allah?   

Kedua: Kesabaran (Ash-Shabr)

550. Kesabaran merupakan salah satu kewajiban dalam Islam, dan ia adalah separuh dari iman. Al-Qur'anul Karim menyebutkannya di lebih dari delapan puluh tempat:   

Berupa perintah kepadanya:  

"(Dan mohonlah pertolongan [kepada Allah] dengan sabar dan shalat.)" (QS. Al-Baqarah: 45). 

Larangan dari kebalikannya:  

"(Maka bersabarlah engkau [Muhammad] sebagaimana kesabaran rasul-rasul yang memiliki keteguhan hati [Ulul 'Azmi] dan janganlah engkau meminta agar [azab] disegerakan untuk mereka.)" (QS. Al-Ahqaf: 35). 

Cinta Allah kepada pelakunya:  

"(Dan Allah menyukai orang-orang yang sabar.)" (QS. Ali 'Imran: 146). 

Kebersamaan Allah bersama mereka:  

"(Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar.)" (QS. Al-Baqarah: 153). 

Akibatnya yang baik:  

"(Dan jika kamu bersabar, sungguh itu lebih baik bagi orang-orang yang sabar.)" (QS. An-Nahl: 126). 

Balasannya yang agung:  

"(Sesungguhnya hanya orang-orang yang bersabarlah yang dicukupkan pahala mereka tanpa batas.)" (QS. Az-Zumar: 10). 

Orang-orang yang bersabar adalah orang yang dapat mengambil manfaat dari ayat-ayat dan nasihat:  

"(Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda [kekuasaan Allah] bagi setiap orang yang sangat sabar dan banyak bersyukur.)" (QS. Ibrahim: 5). 

Kesabaran menjadi sebab masuk surga:  

"('[Sambil mengucapkan], "Selamat sejahtera atasmu karena kesabaranmu." Maka alangkah nikmatnya tempat kesudahan itu.')" (QS. Ar-Ra'd: 24). 

Dengan kesabaran dan keyakinan, kepemimpinan dalam agama dapat diraih:  

"(Dan Kami jadikan di antara mereka itu pemimpin-pemimpin yang memberi petunjuk dengan perintah Kami selama mereka bersabar dan mereka meyakini ayat-ayat Kami.)" (QS. As-Sajdah: 24). 

Ini adalah sebagian dari apa yang ada di dalam Al-Qur'anul Karim tentang kesabaran. Sementara dalam Sunnah Nabawiyah, terdapat banyak hadis mengenai kesabaran, di antaranya: 

عَنْ أَبِي سَعِيدٍ الْخُدْرِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «وَمَا أُعْطِيَ أَحَدٌ عَطَاءً خَيْرًا وَأَوْسَعَ مِنَ الصَّبْرِ» [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ]  

Dari Abu Sa'id Al-Khudri radhiyallahu 'anhu, bahwasanya Rasulullah "SAW"  bersabda: "Tidaklah seseorang diberi suatu pemberian yang lebih baik dan lebih luas daripada kesabaran." (HR. Bukhari no. 1469 dan Muslim no. 1059). 

عَنْ صُهَيْبٍ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «عَجَبًا لِأَمْرِ الْمُؤْمِنِ، إِنَّ أَمْرَهُ كُلَّهُ خَيْرٌ، وَلَيْسَ ذَاكَ لِأَحَدٍ إِلَّا لِلْمُؤْمِنِ، إِنْ أَصَابَتْهُ سَرَّاءُ شَكَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ، وَإِنْ أَصَابَتْهُ ضَرَّاءُ صَبَرَ فَكَانَ خَيْرًا لَهُ» [رَوَاهُ مُسْلِمٌ]  

Dari Suhaib radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah "SAW"  bersabda: "Sangat menakjubkan urusan seorang mukmin, sesungguhnya seluruh urusannya adalah baik baginya, dan hal itu tidak dimiliki oleh seorang pun kecuali oleh orang mukmin: Jika ia ditimpa kesenangan ia bersyukur, maka itu menjadi kebaikan baginya; dan jika ia ditimpa kesusahan ia bersabar, maka itu menjadi kebaikan baginya." (HR. Muslim no. 2999). 

551. Kesabaran secara bahasa (lughatan) bermakna menahan (al-habs) dan mencegah (al-kaff). Sedangkan secara syariat (syar'an), kesabaran terbagi menjadi tiga jenis:   

Sabar dalam menaati Allah (shabr 'ala tha'atillah).

Sabar dari kemaksiatan kepada Allah (shabr 'an ma'shiyatillah).

Sabar menghadapi musibah dan ujian (shabr 'alal masha'ib wal bala'). 

Adapun sabar dalam menaati Allah, terwujud dengan senantiasa menjaganya secara kontinu, ikhlas di dalamnya, dan melaksanakannya sesuai tuntunan syariat. Di antara hal yang membantu mewujudkannya adalah mengenali Allah (ma'rifatullah), mengetahui hak-Nya atas para hamba, serta menyadari indahnya balasan bagi orang-orang yang taat. 

Adapun sabar dari kemaksiatan, terwujud dengan meninggalkan keburukan, lari dari maksiat, dan terus-menerus dalam pelarian serta penolakan tersebut. Di antara hal yang membantu meraih kesabaran ini adalah menghadirkan rasa takut akan azab Allah; dan yang lebih tinggi dari itu adalah menghadirkan rasa malu kepada Allah dan rasa cinta kepada-Nya, disertai kesadaran akan buah dari kesabaran ini, yaitu menjaga, memperkuat, dan menumbuhkan iman. Sebab, maksiat itu mengikis iman, melemahkannya, mengotorinya, atau menghilangkan cahaya dan keindahannya. 

Adapun sabar menghadapi ujian dan musibah, terwujud dengan meninggalkan sikap keluh kesah (at-tasasukhat), menanggung hal yang menyakitkan lagi dibenci, serta tidak mengeluh kepada manusia. Sebab, kesabaran yang indah (ash-shabrul jamil) bertentangan dengan mengeluh kepada makhluk. Ada pun mengeluh kepada Allah, hal itu tidak merusak kesabaran. Allah Ta'ala berfirman tentang Nabi Ya'qub 'alaihissalam:   

"(Dia [Ya'qub] menjawab, 'Hanya kepada Allah aku mengadukan kesusahan dan kesedihanku.')" (QS. Yusuf: 86). 

Dan Dia berfirman tentang Nabi Ayyub:   

"(Dan [ingatlah kisah] Ayyub, ketika dia berdoa kepada Tuhannya, 'Sungguh, aku telah ditimpa penyakit, padahal Engkau Tuhan Yang Maha Penyayang dari semua yang penyayang.')" (QS. Al-Anbiya': 83). 

Disertai pula dengan firman Allah Ta'ala tentangnya dalam ayat yang lain:   

"(Sesungguhnya Kami dapati dia [Ayyub] seorang yang sabar. Dialah sebaik-baik hamba. Sungguh, dia sangat taat [kembali kepada Allah].)" (QS. Shad: 44). 

Di antara hal yang menuntut kesabaran ini adalah menghadirkan nikmat-nikmat Allah yang tidak terhitung dan tidak terbilang, sehingga musibah merasa ringan bagi orang yang tertimpa dan dampaknya mengecil pada dirinya. Perumpamaannya seperti orang yang diberi seribu dinar lalu kehilangan uang satu uang tembaga (fils). Hal lain yang juga membantu untuk sabar atas cobaan adalah mengingat balasan yang sangat agung bagi orang-orang yang sabar.   

Sabar Bersama Allah (Billah) dan Karena Allah (Lillah)

552. Kesabaran dengan segala jenisnya hanyalah terjadi billah (bersama/dengan pertolongan Allah), artinya seorang muslim meyakini bahwa kesabarannya hanyalah terwujud dengan pertolongan Allah, maka Allah-lah yang menjadikannya sanggup bersabar. Allah Ta'ala berfirman:   

"(Bersabarlah [Muhammad] dan tidaklah kesabaranmu itu melainkan dengan pertolongan Allah.)" (QS. An-Nahl: 127). 

Dan kesabaran seorang muslim haruslah lillah (karena Allah), artinya seorang muslim bersabar demi ketaatan dan mencari keridhaan-Nya. Maka pendorong kesabarannya adalah rasa cinta kepada Allah dan pencarian akan ridha-Nya. Jenis kesabaran ini—yang mencakup sabar atas ketaatan dan sabar dari maksiat—lebih sempurna daripada sabar atas ujian. Sebab pada jenis pertama terdapat unsur pilihan (ikhtiyar), pengutamaan (itsar), dan kecintaan (mahabbah), sedangkan jenis kedua adalah kesabaran terpaksa (shabru dharurah) yang mana orang yang bersabar tidak memiliki pilihan.   

Kebutuhan Manusia Terhadap Kesabaran

553. Kesabaran merupakan salah satu sifat yang mutlak diperlukan oleh setiap manusia. Tanpanya, seseorang tidak akan mampu mencapai apa yang ia cita-citakan, karena apa yang diinginkan umumnya tidak dapat diraih kecuali dengan menanggung hal-hal yang tidak disukai dan menahan diri di atasnya. Hal ini berlaku konsisten dalam seluruh urusan kehidupan. Seorang pelajar menahan dirinya untuk mengulang pelajaran dan belajar serta mencegah dirinya dari apa yang dihasratkan oleh hawa nafsunya berupa kenikmatan dan istirahat, hingga ia mampu menguasai pelajaran agar lulus dalam ujian. Demikian pula seorang pedagang, dan demikian pula setiap orang yang memiliki tujuan yang ingin dicapainya. 

Apa yang dikatakan tentang individu berlaku pula bagi bangsa-bangsa. Suatu bangsa yang ingin mencapai apa yang dicita-citakannya membutuhkan kesabaran yang besar dan ketahanan menanggung kesulitan. Kemenangan dalam peperangan berada di pihak yang memegang sebab-sebabnya, dan di antara sebab terbesarnya adalah kesabaran. Maka dari itu, kesabaran sangat darurat bagi setiap manusia dalam kehidupan; jika tidak, ia akan menjadi rapuh dan mudah hancur di hadapan peristiwa-peristiwa kehidupan. Padahal kehidupan ini dipenuhi dengan hal-hal yang keruh, kesulitan, rintangan, dan rasa sakit. Apabila ia tidak menghadapinya dengan kesabaran, ia akan hancur, terpecah-pecah, dan kepribadiannya akan teroyak di lorong-lorong kehidupan, sehingga ia terinjak oleh kaki-kaki dan terlempar jauh dari jalan orang-orang yang melintas. 

554. Jika kesabaran bagi manusia mana pun merupakan hal yang harus ada demi kelangsungan hidupnya, perjalanannya di dunia, dan pencapaian tujuannya, maka kesabaran bagi seorang muslim jauh lebih darurat daripada orang lain. Karena seorang muslim dituntut untuk menahan dan mencegah dirinya dari maksiat, sedangkan pada maksiat terdapat kenikmatan bagi nafsu yang sulit untuk dipisahkan darinya. Maka ia membutuhkan pengendalian diri tingkat tinggi dan kehendak yang kuat untuk menahan serta mencegah nafsunya dari melakukan dosa. 

Seorang muslim juga dituntut untuk melakukan ketaatan, dan hal ini mengharuskan dirinya untuk menahan diri di atas ketaatan tersebut—inilah sabar dalam ketaatan. Ia juga dituntut untuk bersabar atas takdir dan tidak berkeluh kesah (jazha') agar tidak menanggung dosa dan beban di samping hilangnya pahala dan ganjaran.   

Urgennya Kesabaran Bagi Seorang Muslim

555. Jika kesabaran itu darurat bagi setiap manusia, terkhusus bagi seorang muslim, maka kesabaran bagi seorang da'i muslim jauh lebih darurat lagi daripada yang lainnya. Sebab, ia bekerja di dua medan:   

Medan dirinya sendiri: Ia bermujahadah melawannya, membawanya pada ketaatan, dan mencegahnya dari maksiat. 

Medan di luar dirinya: Yaitu medan dakwah ke jalan Allah dan menyampaikan risalah kepada manusia. 

Maka ia membutuhkan kesabaran dalam jumlah besar di kedua medan ini: medan diri dan medan dakwah, agar ia mampu melampaui rintangan dan menanggung gangguan. Jika ia kehilangan kesabaran, ia akan terduduk lesu atau mundur dari medan gelanggang, sehingga ia berhak menerima hisab (siksa) dan kehilangan pahala.   

Ujian (Al-Ibtila') Adalah Kepastian

556. Ujian merupakan suatu kepastian, maka kesabaran mutlak diperlukan untuk melewatinya dengan sukses. Allah Ta'ala berfirman:   

"(Apakah manusia mengira bahwa mereka akan dibiarkan hanya dengan mengatakan, 'Kami telah beriman,' sedangkan mereka tidak diuji? Dan sungguh, Kami telah menguji orang-orang sebelum mereka, maka Allah pasti mengetahui orang-orang yang jujur dan Dia pasti mengetahui orang-orang yang dusta.)" (QS. Al-'Ankabut: 2-3). 

Dan Allah Ta'ala berfirman:   

"(Allah tidak akan membiarkan orang-orang yang beriman sebagaimana keadaan kamu sekarang ini, sehingga Dia membedakan yang buruk dari yang baik.)" (QS. Ali 'Imran: 179). 

Serta firman-Nya Ta'ala:   

"(Apakah kamu mengira bahwa kamu akan masuk surga, padahal belum datang kepadamu [cobaan] seperti yang dialami orang-orang sebelum kamu? Mereka ditimpa kemelaratan, penderitaan, dan diguncang [dengan berbagai cobaan], sehingga Rasul dan orang-orang yang beriman bersamanya berkata, 'Bilakah datangnya pertolongan Allah?' Ingatlah, sesungguhnya pertolongan Allah itu dekat.)" (QS. Al-Baqarah: 214). 

Maka ujian adalah bagian dari Sunnatullah dalam kehidupan. Dia menguji hamba-hamba-Nya dengan apa yang Dia kehendaki, kapan pun Dia kehendaki, dan bagaimana pun Dia kehendaki, untuk menampakkan apa yang ada di dalam jiwa mereka berupa iman atau kemunafikan. Ujian ini terjadi melalui banyak hal, yang paling utamanya adalah beban-beban syariat (at-takalif asy-syar'iyyah), karena itu adalah ujian dan cobaan. Ujian juga bisa berupa benturan antara hal-hal yang dicintai Allah dengan hal-hal yang disukai oleh nafsu; jika ia mengutamakan hal yang dicintai Allah Azza wa Jalla di atas kehendak nafsunya, ia lulus dalam ujian ini, namun jika tidak, ia akan gugur dan gagal. Ujian juga dapat berupa musibah dan rasa sakit yang menimpanya seperti sakit, kehilangan orang-orang dicintai, dan kerusakan harta. Jika ia bersabar, berserah diri, mengucapkan istirja' (kembali kepada Allah), dan tidak berkeluh kesah, Allah akan memberinya pahala orang-orang yang sabar dan ia termasuk orang yang sukses dalam ujian ini; namun jika tidak, ia termasuk orang-orang yang rugi.   

Ujian Para Da'i di Jalan Allah

557. Jika ujian merupakan ketetapan Sunnatullah dalam kehidupan, maka ujian bagi para da'i yang menyeru ke jalan Allah merupakan ketetapan yang berlaku dalam Sunnah Ilahi pula. Mereka diuji dengan gangguan dari orang-orang kafir dan orang-orang yang menyimpang, baik melalui ucapan, tipu daya, maupun tindakan fisik. Allah Ta'ala berfirman:   

"(Dan sungguh, rasul-rasul sebelum engkau pun telah didustakan, melainkan mereka bersabar terhadap pendustaan dan gangguan yang dilakukan terhadap mereka, sampai datang pertolongan Kami kepada mereka. Dan tidak ada yang dapat mengubah kalimat-kalimat [ketetapan-ketetapan] Allah. Dan sungguh, telah datang kepadamu sebagian dari berita rasul-rasul itu.)" (QS. Al-An'am: 34). 

Dan Allah Ta'ala berfirman:   

"(Dan sungguh, Kami mengetahui bahwa dadamu menjadi sempit disebabkan apa yang mereka ucapkan, maka bertasbihlah dengan memuji Tuhanmu dan jadilah engkau termasuk orang-orang yang bersujud. Dan sembahlah Tuhanmu sampai datang kepadamu keyakinan [ajal].)" (QS. Al-Hijr: 97-99). 

Dan Allah Ta'ala berfirman:   

"(Maka bersabarlah engkau [Muhammad], sungguh janji Allah itu benar dan jangan sekali-kali engkau dipengaruhi oleh orang-orang yang tidak meyakini [kebenaran].)" (QS. Ar-Rum: 60). 

Makna yastakhiffannaka adalah: Mereka membawamu pada sikap ringan tangan/kencang dan gegabah akibat ketiadaan kesabaran. [Ibnu Katsir, Tafsir Al-Qur'anul 'Azhim, Jilid 3, Halaman 70.]

Para da'i di jalan Allah selalu menjadi sasaran tipu daya ahli batil; mereka merekayasa kedustaan atas para da'i dan menyakiti mereka dengan berbagai jenis gangguan karena mereka adalah kaum yang bodoh lagi sesat. Para sahabat Nabi "SAW"  di Makkah telah disakiti dengan gangguan yang sangat keras, dan Rasulullah "SAW"  biasa memerintahkan mereka untuk bersabar: "Bersabarlah wahai keluarga Yasir, sesungguhnya tempat yang dijanjikan bagi kalian adalah surga." 

Maka wajib bagi seorang da'i muslim untuk menghadapi gangguan yang diterimanya dengan kesabaran yang indah (shabr jamil), sebagaimana yang dilakukan oleh Rasulullah "SAW" , para sahabatnya yang mulia, serta para rasul Allah sebelum mereka. Sebab kesabaran ini termasuk hal yang menjadi ketetapan tekad orang-orang beriman dan ke situlah arah kehendak mereka difokuskan:   

"(Dan bersabarlah terhadap apa yang menimpamu. Sesungguhnya yang demikian itu termasuk hal-hal yang diwajibkan [oleh Allah].)" (QS. Luqman: 17). 

Dan Allah Ta'ala berfirman:   

"(Kamu pasti akan diuji dengan hartamu dan dirimu. Dan kamu pasti akan mendengar gangguan yang banyak dari orang-orang yang diberi Kitab sebelum kamu dan dari orang-orang musyrik. Jika kamu bersabar dan bertakwa, maka sesungguhnya yang demikian itu termasuk urusan yang patut diutamakan.)" (QS. Ali 'Imran: 186).   

Memancing Datangnya Ujian dan Menolaknya

558. Jika musibah dan ujian merupakan hal yang menimpa para da'i di jalan Allah—dan demikianlah Sunnatullah berlaku—apakah hal itu berarti seorang da'i muslim harus memancing datangnya ujian, berupaya agar ujian itu terjadi, dan tidak boleh baginya menolaknya? Dalam masalah ini terdapat rincian dan penjelasan, karena masalah ini termasuk hal yang sering terjadi samar-samar dan kesalahpahaman di dalamnya, yang disebabkan oleh buruknya pemahaman, bukan karena buruknya niat dan tujuan. Untuk memperjelas masalah ini, saya sebutkan hal-hal berikut: 

Pertama: Yang dituntut dari seorang da'i muslim adalah berdakwah kepada Allah di atas bashirah (ilmu dan keyakinan) dengan sarana dan tata cara yang disyariatkan, sebagaimana yang dijelaskan Al-Qur'anul Karim dan diterapkan oleh Rasulullah yang mulia "SAW" . Apabila sarana-sarana ini mengakibatkan munculnya gangguan yang menimpa da'i, maka ia wajib menerimanya dengan kesabaran, bukan dengan berkeluh kesah; dan dengan keteguhan, bukan dengan lari kabur. 

Kedua: Jika seorang da'i muslim memiliki ruang untuk terhindar (manduhah) dari gangguan tersebut—artinya ia mampu membentengi diri darinya dan tidak diwajibkan untuk menghadapinya—maka ia boleh atau wajib membentengi diri darinya sesuai kondisi dan situasi. Kadang dibolehkan baginya untuk menjauhinya dan tidak melakukan tindakan yang memancingnya; dan kadang diwajibkan baginya untuk menjauh dan tidak memancingnya, sebab ujian itu berat bagi jiwa. Oleh karena itu tidak boleh berhasrat untuk mencarinya dan tidak boleh menginginkannya karena di dalamnya terdapat fitnah yang tidak diketahui kesudahannya. 

Bisa jadi seorang muslim merasa dalam dirinya ada kemampuan untuk teguh sehingga ia tidak mempedulikan ujian, bahkan mungkin ia menyukai ujian tersebut—baik karena mengharapkan pahala Allah, maupun karena kemasukan bisikan setan agar dikatakan tentang dirinya: "Betapa teguhnya dia dan betapa sabarnya dia menghadapi ujian!" Namun ketika ujian itu benar-benar turun, ia melemah dari menanggungnya, jatuh ke dalam fitnah, dan gagal dalam ujian. Sebagaimana diriwayatkan dari salah seorang dari mereka bahwa ia berdoa: "Ya Tuhanku, ujilah aku dengan apa saja yang Engkau kehendaki, aku ridha dengan takdir-Mu dan sabar atas cobaan-Mu." Maka Allah mengujinya dengan penyakit tahan kencing (ihtibas al-baul), lalu ia mulai berteriak-teriak, meratap, dan berkeliling menemui anak-anak kecil seraya berkata kepada mereka: "Lemparilah paman kalian yang pendusta ini dengan batu!" 

Ketiga: Tidak sepantasnya bagi seorang muslim untuk mendedahkan dirinya pada ujian yang tidak sanggup ia tanggung, sehingga ia gagal dalam ujian tersebut. Disebutkan dalam hadis syarif: 

عَنْ حُذَيْفَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَنْبَغِي لِلْمُؤْمِنِ أَنْ يُذِلَّ نَفْسَهُ» قَالُوا: وَكَيْفَ يُذِلُّ نَفْسَهُ؟ قَالَ: «يَتَحَمَّلُ مِنَ الْبَلَاءِ مَا لَا يُطِيقُ» [رَوَاهُ التِّرْمِذِيُّ وَابْنُ مَاجَهْ]  

Dari Hudzaifah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah "SAW"  bersabda: "Tidak sepantasnya bagi seorang mukmin untuk menghinakan dirinya sendiri." Para sahabat bertanya: "Bagaimana ia menghinakan dirinya sendiri, wahai Rasulullah?" Beliau bersabda: "Ia menanggung ujian yang tidak sanggup ia pikul." (HR. Tirmidzi no. 2254 dan Ibn Majah no. 4016).]

Keempat: Di antara doa-doa mabrur yang diajarkan (ma'tsur) adalah hendaknya seorang muslim memohon kepada Rabbnya keampunan (al-'afwa) dan keselamatan/kesejahteraan (al-'afiyah). Makna al-'afiyah mencakup terbebas dari ujian dan hal-hal yang menyakiti. Ini menunjukkan bahwa terbebas dan selamat dari gangguan ahli batil adalah hal yang dipuji dan disukai, bukan hal yang dicela. 

Kelima: Dalam wasiat Nabi "SAW"  kepada Usamah bin Zaid ketika beliau mengangkatnya sebagai panglima pasukan untuk memerangi bangsa Romawi beberapa hari sebelum wafatnya beliau "SAW" , beliau bersabda kepadanya: "Janganlah kalian berharap bertemu musuh, karena kalian tidak tahu bisa jadi kalian akan diuji dengan mereka. Akan tetapi katakanlah: 'Ya Allah, cukupkanlah kami dari mereka dan tahanlah kejahatan mereka.'" [Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah, Halaman 330.]

Dan Rabb kita Subhanahu wa Ta'ala berfirman dalam Al-Qur'anul Karim:   

"(Dan Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan.)" (QS. Al-Ahzab: 25). 

Hal ini memberikan kesan bahwa ketidakbutuhan orang-orang beriman terhadap peperangan—disebabkan Allah Ta'ala telah mencukupkan mereka—dianggap sebagai bagian dari nikmat Allah atas orang-orang beriman. Padahal peperangan di dalamnya terdapat gangguan, kepayahan, dan rasa sakit. Seandainya mendedahkan diri pada ujian dan gangguan merupakan hal yang dituntut pada dirinya sendiri (mathluban lidzatihi), niscaya ketidakbutuhan terhadapnya tidak akan dijadikan sebagai bentuk karunia yang Allah limpahkan kepada orang-orang beriman. 

Keenam: Tindakan ahli batil yang menyakiti orang-orang beriman secara pasti bukanlah hal yang dituntut, bahkan itu merupakan kejahatan ahli batil karena menyakiti ahli kebenaran. Maka bagaimana bisa dibenarkan bagi seorang muslim untuk menyerahkan dirinya kepada pelaku kebatilan agar menyakiti, menghina, dan merendahkannya? Bukankah penyerahan diri ini merupakan bantuan atas terjadinya hal yang dimurkai Allah Ta meletakkan diri dalam kebinasaan, kehinaan, dan kerendahan? Dan semua hal ini tidak dibolehkan. 

Ketujuh: Allah memberi izin kepada orang yang dipaksa (al-mukrah) untuk mengucapkan kata-kata kufur guna menyelamatkan dirinya dari gangguan dan kebinasaan. Ini menunjukkan dibolehkannya menolak gangguan dan bahwa seorang muslim boleh untuk tidak membantu terjadinya gangguan tersebut atas dirinya. 

Kedelapan: Ketika Khalid bin Walid menarik mundur pasukan muslimin yang bersamanya pada Perang Mu'tah dan mereka memasuki Kota Madinah Munawwarah, orang-orang mulai melemparinya dengan debu seraya berkata: "Wahai para pemelari (para pengecut), kalian lari dari jalan Allah!" Maka Rasulullah "SAW"  bersabda: "Mereka bukanlah orang-orang yang lari (al-furrar), melainkan mereka adalah orang-orang yang menyerang kembali (al-kurrar), insya Allah Ta'ala." 

Sisi pendalilan (wajhud dalalah) dari riwayat ini adalah bahwa Khalid bin Walid dan kaum muslimin yang bersamanya menarik diri dari pertempuran melawan musuh untuk menyelamatkan diri dari gangguan dan bahaya. Kaum muslimin di Madinah mencela mereka dan menyifati mereka sebagai pemelari. Namun, pemuka orang-orang yang arif, Nabi kita Muhammad "SAW" , memandang dengan pandangan yang berbeda dari apa yang mereka lihat. Beliau memandang keberhasilan penarikan mundur mereka sebagai bentuk kemenangan, karena mereka berhasil selamat dari pembunuhan, gangguan kaum musyrikin, serta potensi tertawan; dan bahwa penarikan mundur mereka sama seperti pergerakan taktis pasukan di medan perang dari satu posisi ke posisi lain. Maka hal ini menunjukkan bahwa menolak cobaan/kebinasaan merupakan hal yang dituntut jika memungkinkan bagi seorang muslim untuk menolaknya; dan bahwa penyerahan diri seorang muslim pada gangguan dan bahaya ketika ia memiliki kemampuan untuk selamat bukanlah hal yang dipuji, bahkan bukan hal yang disyariatkan. 

Kesembilan: Kaum muslimin berhijrah dari Makkah ke Habasyah (Ethiopia) dalam rangka menyelamatkan agama mereka dan terbebas dari gangguan Quraisy. Hal ini menunjukkan dibolehkannya menolak cobaan dan gangguan serta tidak berserah diri kepadanya dengan dalih menanggung gangguan di jalan Allah. Sebab diri seorang muslim bukanlah miliknya sendiri, melainkan milik Allah. Maka tidak boleh membinasakannya tanpa ada faedah yang kembali kepada Islam. Dan bukanlah termasuk faedah jika orang-orang hanya sekadar berkata: "Betapa teguhnya da'i ini dan betapa beraninya dia menanggung gangguan di jalan Allah!" Bahkan, menanggung gangguan dengan dorongan dan tujuan seperti ini bisa jadi merupakan sikap riya' serta mencari popularitas dan kedudukan di mata manusia, dan hal ini tidak dibolehkan. 

Kesepuluh: Bahwasanya Rasulullah "SAW"  tidak memandang adanya masalah terhadap bantuan paman beliau, Abu Thalib—yang saat itu berada di atas agama kaumnya—dalam menolak gangguan Quraisy sebisa mungkin dari beliau. Ketika Khadijah dan pamannya meninggal dunia pada tahun yang sama, beliau menamainya sebagai "Tahun Kesedihan" ('Amul Huzn) dan bersabda: "Kaum Quraisy tidak pernah mendapatkan dariku sesuatu yang aku benci hingga Abu Thalib meninggal dunia." Sebab tidak ada di antara kerabat dan paman-pamannya yang melindungi dan membentenginya selain dia. [Al-Maqrizi, Imta'ul Asma', Halaman 18.]

Dan ketika beliau "SAW"  kembali dari Tha'if lalu sampai di Gua Hira', beliau mengutus seorang laki-laki dari suku Khuza'ah kepada Al-Muth'im bin 'Adi agar memberinya jaminan perlindungan (ijarah) hingga beliau dapat menyampaikan risalah Rabbnya. Maka Al-Muth'im pun memberinya perlindungan, lalu Rasulullah "SAW"  masuk ke Makkah dan tinggal di sana seraya terus berdakwah kepada Allah. [Al-Maqrizi, Imta'ul Asma', Halaman 28.]

558 (Lanjutan). Sisi pendalilan (wajhud dalalah) dari riwayat-riwayat sejarah (atsar) ini adalah bahwasanya Rasulullah "SAW"  ridha terhadap perlindungan pamannya, Abu Thalib, dan perlindungan paman tersebut dalam menolak gangguan dari beliau. Demikian pula masuknya beliau "SAW"  ke dalam jaminan perlindungan Al-Muth'im. Hal ini menunjukkan dibolehkannya menolak ujian dan gangguan dari seorang da'i, meskipun melalui jalan perlindungan orang musyrik, serta tidak disukainya penyerahan diri seorang muslim kepada ahli batil. 

Demikian pula perbuatan para sahabat Rasulullah "SAW"  yang berhijrah ke Habasyah; ketika mereka kembali ke Makkah, "tidak ada seorang pun dari mereka yang masuk melainkan dengan jaminan perlindungan (jiwar) atau secara sembunyi-sembunyi." [Ibnu Hisyam, As-Sirah An-Nabawiyyah, Jilid 1, Halaman 388.]

Harus diketahui di sini bahwasanya seorang da'i muslim dalam kehendak dan upayanya untuk menolak gangguan dari dirinya hanyalah bertujuan untuk menciptakan keteguhan (tamkin) dan mewujudkan iklim yang kondusif bagi dakwahnya ke jalan Allah. Hal ini diperjelas oleh riwayat dalam Sirah bahwasanya Rasulullah "SAW"  biasa keluar menemui kabilah-kabilah pada musim-musim haji dan mengajak mereka kepada Islam seraya bersabda: "Siapakah laki-laki yang mau membawaku kepada kaumnya lalu melindungiku hingga aku dapat menyampaikan risalah Rabbku? Karena sesungguhnya kaum Quraisy telah menghalangiku untuk menyampaikan risalah Rabbku." [Al-Maqrizi, Imta'ul Asma', Halaman 31.]

Ringkasan Pendapat Dalam Memancing Ujian dan Menolaknya

559. Dari pemaparan yang telah saya sampaikan dan teks-teks yang saya sebutkan dari Al-Qur'anul Karim, Sunnah Nabawiyah yang mulia, serta rekam jejak terdahulu dalam Sirah Nabi yang mulia "SAW"  dan para sahabatnya yang agung—yang mana mereka adalah orang-orang yang paling paham tentang syariat Islam—menjadi jelas bagi kita dengan sangat terang hal-hal berikut: 

Pertama: Gangguan atau bahaya yang menimpa seorang da'i muslim berkedudukan sama seperti penyakit dan musibah yang turun kepada manusia. Sebagaimana ia tidak menyukainya, tidak menginginkannya, dan tidak ingin menimpakan hal itu pada dirinya—serta hal itu tidak mencederai imannya—maka begitu pula ketidaksukaannya dan ketidakinginannya atas jatuhnya gangguan ahli batil pada dirinya serta tidak memancing bahaya bagi dirinya, tidaklah mencederai imannya. 

Kedua: Potensi terjadinya gangguan dan bahaya terhadap dirinya tidak boleh membuatnya terduduk lesu dari dakwahnya ke jalan Allah. Namun, sang da'i tidak memancing datangnya gangguan bagi dirinya; bahkan ia berupaya agar gangguan itu tidak terjadi, dan jika telah terjadi, ia berupaya untuk menolaknya dengan setiap sarana yang disyariatkan di bawah naungan apa yang tercantum dalam Al-Qur'an dan Sunnah. 

Ketiga: Jika bahaya dan gangguan tetap menimpa seorang da'i muslim meskipun ia telah berkomitmen menempuh jalan yang disyariatkan dalam berdakwah kepada Allah, maka ia wajib memohon pertolongan kepada Allah dan bersabar dengan kesabaran yang indah. Hendaknya ia mengetahui bahwa seluruh urusan berada di tangan Allah Ta'ala; apa yang Allah kehendaki pasti terjadi dan apa yang tidak Dia kehendaki tidak akan pernah terjadi, serta tidak ada daya dan upaya melainkan dengan pertolongan Allah.   

Ketiga: Kasih Sayang (Ar-Rahmah)

560. Di antara akhlak da'i yang sangat mendasar (dharuriyyah) adalah kasih sayang (ar-rahmah). Sebelum saya menjelaskan pentingnya sifat ini bagi seorang da'i, saya sebutkan apa yang diriwayatkan dalam Sunnah Nabawiyah: 

Rasulullah "SAW"  bersabda: 

عَنْ جَرِيرِ بْنِ عَبْدِ اللهِ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «لَا يَرْحَمُ اللهُ مَنْ لَا يَرْحَمُ النَّاسَ» [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ]  

Dari Jarir bin 'Abdillah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah "SAW"  bersabda: "Allah tidak menyayangi orang yang tidak menyayangi manusia." (HR. Bukhari no. 7376 dan Muslim no. 2319). 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ أَبَا الْقَاسِمِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «لَا تُنْزَعُ الرَّحْمَةُ إِلَّا مِنْ شَقِيٍّ» [رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ]  

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Aku mendengar Abul Qasim "SAW"  bersabda: "Sifat kasih sayang tidak dicabut melainkan dari orang yang celaka." (HR. Abu Dawud no. 4942 dan Tirmidzi no. 1923). 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا قَالَ: قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: «الرَّاحِمُونَ يَرْحَمُهُمُ الرَّحْمَنُ، ارْحَمُوا مَنْ فِي الْأَرْضِ يَرْحَمْكُمْ مَنْ فِي السَّمَاءِ» [رَوَاهُ أَبُو دَاوُدَ وَالتِّرْمِذِيُّ]  

Dari 'Abdullah bin 'Amr radhiyallahu 'anhuma, ia berkata: Rasulullah "SAW"  bersabda: "Orang-orang yang penyayang akan disayangi oleh Rabb Yang Maha Penyayang. Sayangilah siapa yang ada di bumi, niscaya Siapa yang ada di langit akan menyayangi kalian." (HR. Abu Dawud no. 4941 dan Tirmidzi no. 1924). 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَبَّلَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ الْحَسَنَ بْنَ عَلِيٍّ وَعِنْدَهُ الْأَقْرَعُ بْنُ حَابِسٍ التَّمِيمِيُّ جَالِسًا، فَقَالَ الْأَقْرَعُ: إِنَّ لِي عَشَرَةً مِنَ الْوَلَدِ مَا قَبَّلْتُ مِنْهُمْ أَحَدًا، فَنَظَرَ إِلَيْهِ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ ثُمَّ قَالَ: «مَنْ لَا يَرْحَمُ لَا يُرْحَمُ» [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ]  

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, ia berkata: Rasulullah "SAW"  mencium Al-Hasan bin 'Ali sedangkan di samping beliau ada Al-Aqra' bin Habis At-Tamimi sedang duduk. Maka Al-Aqra' berkata: "Sesungguhnya aku memiliki sepuluh orang anak, tidak pernah sekalipun aku mencium seorang pun dari mereka." Maka Rasulullah "SAW"  memandangnya kemudian bersabda: "Barangsiapa yang tidak menyayangi maka ia tidak akan disayangi." (HR. Bukhari no. 5997 dan Muslim no. 2318). 

عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ عُمَرَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا، أَنَّ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: «دَخَلَتِ امْرَأَةٌ النَّارَ فِي هِرَّةٍ رَبَطَتْهَا، فَلَمْ تُطْعِمْهَا، وَلَمْ تَدَعْهَا تَأْكُلُ مِنْ خَشَاشِ الْأَرْضِ» [رَوَاهُ الْبُخَارِيُّ وَمُسْلِمٌ]  

Dari 'Abdullah bin 'Umar radhiyallahu 'anhuma, bahwasanya Rasulullah "SAW"  bersabda: "Seorang wanita masuk neraka disebabkan seekor kucing yang diikatnya, ia tidak memberi makan kucing itu dan tidak pula melepaskannya untuk memakan serangga/hewan-hewan kecil bumi." (HR. Bukhari no. 3318 dan Muslim no. 2242). [Asy-Syaikhan / Ibnu Ad-Daiba', Taisirul Wushul, Jilid 2, Halaman 112–116.] 

561. Di antara sifat dan akhlak Al-Musthafa "SAW"  adalah kasih sayang dan kelembutan beliau kepada umatnya. Allah Ta'ala berfirman:   

"(Sungguh, telah datang kepadamu seorang Rasul dari kaummu sendiri, berat terasa olehnya penderitaan yang kamu alami, sangat menginginkan [keimanan dan keselamatan] bagimu, penyantun lagi penyayang terhadap orang-orang mukmin.)" (QS. At-Taubah: 128). 

Di antara bentuk kelembutan beliau "SAW"  adalah petunjuk beliau kepada umatnya pada hal-hal yang menjauhkan mereka dari neraka. Beliau telah membuat perumpamaan yang sangat indah mengenai hal tersebut: 

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ، أَنَّهُ سَمِعَ رَسُولَ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ: «إِنَّمَا مَثَلِي وَمَثَلُ أُمَّتِي كَمَثَلِ رَجُلٍ اسْتَوْقَدَ نَارًا، فَجَعَلَتِ الدَّوَابُّ وَالْفَرَاشُ يَقَعْنَ فِيهِ، فَأَنَا آخُذُ بِحُجَزِكُمْ وَأَنْتُمْ تَقْتَحِمُونَ فِيهِ» [رَوَاهُ مُسْلِمٌ]  

Dari Abu Hurairah radhiyallahu 'anhu, bahwasanya ia mendengar Rasulullah "SAW"  bersabda: "Sesungguhnya perumpamaanku dan perumpamaan umatku adalah seperti seorang laki-laki yang menyalakan api, lalu serangga-serangga dan laron-laron berjatuhan ke dalamnya. Maka aku memegang ikatan pinggang kalian agar tidak jatuh, sedangkan kalian menerobos masuk ke dalamnya." (HR. Muslim no. 2284). [Diriwayatkan oleh Imam Muslim dalam Shahih-nya, Jilid 5, Halaman 911. Kata Al-Hujaz (الْحُجَز) adalah bentuk jamak dari Hujzah (حُجْزَة), yaitu tempat ikatan kain/celana. Adapun At-Taqahhum (التَّقَحُّم) bermakna menerobos masuk ke dalam hal-hal yang sulit/berbahaya tanpa perhitungan/kehati-hatian.]   

Urgennya Kasih Sayang Bagi Seorang Da'i

562. Seorang da'i harus memiliki hati yang berdenyut dengan kasih sayang dan kelembutan kepada manusia, menginginkan kebaikan bagi mereka, serta tulus menasihati mereka. Di antara bentuk kelembutannya kepada mereka adalah mengajak mereka kepada Islam, karena dalam dakwah ini terdapat keselamatan mereka dari neraka dan keberhasilan meraih keridhaan Allah Ta'ala. Ia menyukai bagi mereka apa yang ia sukai bagi dirinya sendiri; dan hal terbesar yang ia sukai bagi dirinya adalah iman dan petunjuk, maka ia pun menyukai hal itu terwujud pada mereka. 

Seorang ayah, karena kelembutan kepada anak-anaknya, sangat berhasrat untuk menjauhkan mereka dari kebinasaan dan meletihkan dirinya demi hal tersebut. Padahal, kebinasaan mana yang lebih besar daripada kesesatan dan pembangkangan terhadap Allah? Dan seorang da'i melalui dakwahnya hanyalah berupaya untuk menyelamatkan orang-orang pembangkang yang bermaksiat dari kebinasaan nyata dan kerugian yang jelas. 

Seorang da'i yang penyayang tidak akan berhenti dari dakwahnya dan tidak akan bosan menghadapi penolakan serta keberpalingan, karena ia mengetahui betapa bahayanya kesudahan orang-orang yang berpaling lagi bermaksiat, dan bahwasanya berpalingnya mereka itu disebabkan oleh kebodohan mereka. Maka ia tidak pernah berhenti meyakinkan dan memandu mereka. 

Kami telah menyebutkan dalam hal kelembutan Rasulullah SAW tentang perumpamaan yang beliau buat bagi dirinya yang mulia bersama umatnya. Demikianlah para nabi, mereka adalah orang-orang yang penyayang terhadap kaum yang mereka diutus kepadanya, merasa iba atas azab yang dapat menimpa mereka. Allah Ta'ala berfirman menceritakan tentang Nabi Nuh 'alaihissalam:   

"(Sungguh, Kami telah mengutus Nuh kepada kaumnya lalu dia berkata, 'Wahai kaumku! Sembahlah Allah! Tidak ada tuhan bagimu selain Dia. Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat [kiamat].')" (QS. Al-A'raf: 59). 

Maka perkataan beliau 'alaihissalam: "Sesungguhnya aku takut kamu akan ditimpa azab pada hari yang dahsyat" tidaklah keluar melainkan dari hati yang penuh kasih sayang dan kelembutan yang nyata kepada mereka. demikian pula perkataan beliau 'alaihissalam ketika kaumnya menuduhnya berada dalam kesesatan:   

"(Dia [Nuh] menjawab, 'Wahai kaumku! Tidak ada kesesatan padaku, tetapi aku adalah seorang rasul dari Tuhan seluruh alam. Aku menyampaikan kepadamu amanat-amanat Tuhanku, memberi nasihat kepadamu, dan aku mengetahui dari Allah apa yang tidak kamu ketahui. Apakah kamu [tidak percaya dan] heran bahwa datang kepadamu nasihat dari Tuhanmu melalui seorang laki-laki dari kalanganmu sendiri untuk memberi peringatan kepadamu, agar kamu bertakwa dan agar kamu mendapat rahmat?')" (QS. Al-A'raf: 61-63). 

Maka jawaban Nabi Nuh 'alaihissalam sarat dengan kasih sayang, kelembutan kepada mereka, dan kehalusan dalam tutur kata. Perkataan kaumnya tidak membuatnya marah, karena mereka adalah kaum yang bodoh, dan karena seorang da'i yang penyayang tidak pernah marah demi membela dirinya sendiri. 

Demikian pulalah akhlak Rasul kita, Muhammad SAW; beliau tidak pernah marah demi membela dirinya, melainkan beliau hanya marah jika kehormatan syariat Allah dilanggar. Kemudian dalam jawaban Nabi Nuh terdapat penjelasan bahwa ia memberi nasihat kepada mereka—artinya tulus dalam menyampaikan perkataan yang bermanfaat dan berguna bagi mereka meskipun mereka mengucapkan kebatilan tentang dirinya—serta menjelaskan kepada mereka bahwa ia adalah utusan dari Rabb semesta alam agar mereka mengetahui bahwa apa yang diberitakannya adalah kebenaran terang yang wajib diterima, dan dalam menerimanya terdapat rahmat bagi mereka. Ini adalah bukti atas keagungan rasa kasih sayang yang ada di dalam hati beliau 'alaihissalam terhadap kaumnya.   

Kasih Sayang Meringankan Da'i Menghadapi Orang-Orang Bodoh

563. Rasa kasih sayang akan meringankan beban seorang da'i dalam menghadapi apa yang diterimanya dari orang-orang yang lalai dan bodoh. Sebab, ia memandang mereka dari kedudukan yang tinggi dan mulia yang diantarkan oleh iman dan hubungannya dengan Rabbnya. Oleh karena itu, ia memandang mereka seperti anak-anak kecil yang sedang bermain-main. Sedangkan tabiat anak-anak kecil adalah bermain, bodoh, dan tidak menyadari apa yang bermanfaat bagi mereka. 

Oleh karena itu, seorang da'i tidak heran jika nasihatnya dibalas dengan keberpalingan, penolakan, dan gangguan, sebagaimana yang dilakukan oleh anak kecil apabila engkau menasihatinya atau menjauhkannya—misalnya—dari sentuhan api atau hal yang menyakitkan, ia akan berteriak, marah, dan bahkan mungkin menyakitimu. Seorang da'i tidak heran terhadap penolakan mereka sebagaimana yang telah aku katakan. Oleh karena itu, ia terus mengulang usahanya kepada mereka, menanggung gangguan mereka, dan mendoakan hidayah untuk mereka. 

Demikianlah dahulu Rasulullah SAW mengulang-ulang dakwahnya kepada kaum Quraisy, menanggung gangguan mereka, dan berdoa: "Ya Allah, berilah hidayah kepada kaumku, karena sesungguhnya mereka tidak mengetahui." Sesungguhnya seseorang yang memiliki hati penyayang tidak menganggap aneh jika anak kecil melakukan penolakan dan gangguan terhadap penasihat, karena anak itu bodoh. Maka pemilik hati penyayang merasa iba kepadanya dan tidak membalas keburukannya. Allah Ta'ala berfirman:   

"(Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.)" (QS. Al-A'raf: 199).   

Kasih Sayang Membuahkan Maaf dan Pengampunan

564. Selama da'i muslim memandang orang-orang yang didakwahinya dengan pandangan kasih sayang dan kelembutan, maka ia akan memberi maaf dan berlapang dada terhadap mereka dalam hak pribadinya. Allah Ta'ala berfirman:   

"(Jadilah engkau pemaaf dan suruhlah orang mengerjakan yang ma'ruf, serta berpalinglah dari orang-orang yang bodoh.)" (QS. Al-A'raf: 199). 

Apabila demikian halnya da'i muslim terhadap orang-orang yang didakwahinya—yang mana gangguan berpotensi muncul dari mereka—maka pemaafan dan kelapangan dada da'i terhadap sahabat-sahabatnya tentu jauh lebih luas. Allah Ta'ala berfirman:   

"(Maka maafkanlah mereka, mohonkanlah ampunan bagi mereka, dan bermusyawarahlah dengan mereka dalam urusan itu.)" (QS. Ali 'Imran: 159).   

Sifat Kasar Mengakibatkan Manusia Lari Berpaling

565. Seorang da'i yang diharamkan dari rasa kasih sayang dan berhati kasar (ghalizhul qalb) tidak akan sukses dalam tugasnya dan manusia tidak akan mendatangi dirinya, meskipun apa yang diucapkannya adalah kebenaran dan kejujuran. Inilah tabiat manusia: Mereka lari menjauh dari orang yang bersikap kasar, keras, lagi kaku, dan mereka tidak menerima perkataannya. Sebab penerimaan terhadap perkataan penasihat mengharuskan tertautnya hati orang yang dinasihati kepadanya, dan tertautnya hati ini tidak akan terjadi bersamaan dengan tabiat yang kasar dan hati yang kaku. Allah Ta'ala berfirman:   

"(Maka berkat rahmat dari Allah engkau [Muhammad] berlaku lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya engkau bersikap keras lagi berhati kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekitarmu.)" (QS. Ali 'Imran: 159). 

Jika hal ini saja bisa terjadi pada diri Rasulullah "SAW"  seandainya terjadi apa yang disebutkan oleh ayat yang mulia tersebut—padahal Rasulullah tidak berbicara melainkan kebenaran dan didukung oleh kebenaran—maka bagaimana mungkin dapat dibayangkan tidak terjadinya perpalingan dari seorang da'i jika ia bersikap kasar lagi berhati kaku? 

Maka hendaknya para da'i yang menyeru ke jalan Allah bertakwa kepada Rabb mereka. Hendaknya mereka melatih dan membiasakan diri untuk memiliki kasih sayang serta kelembutan (al-rifq) jika memang mereka belum menjadi orang-orang yang penyayang...mereka diusahakan untuk meraih dan membiasakannya, serta tidak memisahkan diri dari ajaran Islam akibat buruknya akhlak, kerasnya hati, kasarnya tabiat, dan kotornya tutur kata mereka. Jika mereka tidak mampu mengusahakan sifat kasih sayang dan menundukkan jiwa mereka pada akhlak Islam, maka yang terbaik bagi mereka dan bagi dakwah adalah meninggalkan aktivitas dakwah tersebut, lalu beralih untuk mengobati jiwa mereka sendiri.   

Keempat: Sifat Tawadu (Rendah Hati)

566. Kesombongan Adalah Kebodohan dan Ketunglan.  Kesombongan merupakan bentuk kebodohan, ketunglan, dan bukti yang sangat nyata atas ketidaktahuan seorang yang sombong terhadap Tuhan dan jiwanya sendiri. Seandainya ia mengenal Tuhannya, niscaya ia mengetahui bahwa keagungan dan kesombongan itu hanyalah milik Allah semata. Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah SWT berfirman: 

الْعِزُّ إِزَارِي، وَالْكِبْرِيَاءُ رِدَائِي، فَمَنْ نَازَعَنِي فِي وَاحِدٍ مِنْهُمَا فَقَدْ عَذَّبْتُهُ »

"Keagungan adalah sarung-Ku dan kesombongan adalah selendang-Ku. Barang siapa yang mencabut/merebut salah satu dari keduanya dari-Ku, maka Aku pasti akan mengazabnya." (HR. Muslim). 

Dan seandainya orang yang sombong itu mengenal dirinya sendiri—bahwa permulaannya hanyalah setetes sperma yang hina dan kesudahannya menjadi bangkai yang membusuk—niscaya ia akan malu terhadap dirinya dan tahu diri. Muhammad bin al-Husain bin 'Ali menyatakan sebagaimana dikutip oleh penyusun kitab Ihya' 'Ulumiddin: "Tidaklah timbul rasa sombong di dalam hati seseorang sedikit pun, melainkan akan berkurang akalnya sebesar kadar kesombongan yang masuk tersebut, baik sedikit maupun banyak." 

567. Hukuman Bagi Orang-Orang yang Sombong. Di antara balasan bagi orang yang sombong adalah diharamkannya ia dari mengambil pelajaran dan memetik manfaat dari ayat-ayat Allah, karena kesombongannya menghalanginya untuk tunduk kepada kebenaran. Maka Allah mengunci mati hatinya dan berpaling dari ayat-ayat-Nya. Akibatnya adalah kerugian, kegagalan, kemurkaan Allah ﷻ, masuk ke dalam neraka Jahannam dalam keadaan hina dina, serta kehilangan kenikmatan akhirat yang diperoleh oleh orang-orang yang bertawadu kepada Tuhan mereka. Makna-makna ini dinyatakan secara tegas dalam Al-Qur'an dan Sunnah Nabi. Allah SWT berfirman: 

(Aku akan memalingkan orang-orang yang menyombongkan dirinya di bumi tanpa alasan yang benar dari ayat-ayat-Ku) (QS. Al-A'raf: 146). 

(Demikianlah Allah mengunci mati hati setiap orang yang sombong lagi peka/sewenang-wenang) (QS. Ghafir: 35). 

(Dan mereka memohon kemenangan dan binasalah setiap orang yang berlaku sewenang-wenang lagi keras kepala) (QS. Ibrahim: 15). 

(Sesungguhnya Dia tidak menyukai orang-orang yang sombong) (QS. An-Nahl: 23). 

(Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina) (QS. Ghafir: 60). 

(Negeri akhirat itu Kami jadikan bagi orang-orang yang tidak menyombongkan diri dan tidak berbuat kerusakan di bumi. Dan kesudahan [yang baik] itu adalah bagi orang-orang yang bertakwa) (QS. Al-Qashas: 83). 

Dalam Sunnah Nabi, Rasulullah SAW bersabda:

«"لاَ يَزَالُ الرَّجُلُ يَذْهَبُ بِنَفْسِهِ حَتَّى يُكْتَبَ فِي الْجَبَّارِينَ، فَيُصِيبَهُ مَا أَصَابَهُمْ" »

"Seseorang akan senantiasa menganggap dirinya tinggi/sombong hingga ia dicatat di golongan orang-orang yang sewenang-wenang (diktator), lalu ia ditimpa azab sebagaimana yang menimpa mereka." 

Makna yadzhabu binafsihi adalah mengangkat/mengagungkan diri dan bersikap sombong. Beliau SAW juga bersabda: 

«"لاَ يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ" »

"Tidak akan masuk surga orang yang di dalam hatinya terdapat seberat zarrah dari kesombongan." 

«"أَلاَ أُخْبِرُكُمْ بِأَهْلِ النَّارِ؟ كُلُّ عُتُلٍّ جَوَّاظٍ مُسْتَكْبِرٍ" »

"Maukah aku beritahukan kepada kalian tentang penghuni neraka? Yaitu setiap orang yang kasar, rakus/sombong, lagi membesarkan diri." 

568. Larangan dari Sifat Sombong. Seluruh dalil yang telah kami sebutkan memuat larangan dari sifat sombong. Terdapat pula dalil-dalil lain yang secara tegas melarang kesombongan, di antaranya firman Allah ﷻ: 

(Dan janganlah kamu memalingkan mukamu dari manusia [karena sombong] dan janganlah kamu berjalan di muka bumi dengan angkuh. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang sombong lagi membanggakan diri) (QS. Luqman: 18). 

569. Hakikat Kesombongan. Disebutkan dalam hadis syarif yang diriwayatkan oleh Muslim dalam kitab Shahih-nya: 

"عَنْ عَبْدِ اللهِ بْنِ مَسْعُودٍ عَنِ النَّبِيِّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ: \" الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ وَغَمْطُ النَّاسِ \" رَوَاهُ مُسْلِمٌ 

Terjemahan: Dari Abdullah bin Mas'ud RA, dari Nabi SAW, beliau bersabda: "Kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia." (HR. Muslim no. 91). 

Pengertian batharul haqq adalah menolak kebenaran, dan ghamthun naas adalah menghina/meremehkan manusia. Maka, hakikat kesombongan adalah sikap seseorang yang menganggap agung dirinya sendiri dan memandang rendah kadar orang lain, sehingga mendorongnya pada kehinaan dan kebinasaan. 

Orang yang sombong akan menolak kebenaran, tidak mau menerimanya, dan tidak mau tunduk padanya. Allah ﷻ berfirman: 

(Dan mereka mengingkarinya karena zalim dan sombong, padahal hati mereka meyakini [kebenaran]nya) (QS. An-Naml: 14). 

Ia tidak akan mengakui kesalahannya, kekurangannya, maupun keburukan amalannya karena ia kagum pada dirinya sendiri ('ujub). Dalam hadis syarif disebutkan: 

ثَلاَثٌ مُهْلِكَاتٌ: شُحٌّ مُطَاعٌ، وَهَوًى مُتَّبَعٌ، وَإِعْجَابُ الْمَرْءِ بِنَفْسِهِ

"Tiga hal yang membinasakan: sifat kikir yang dituruti, hawa nafsu yang diiikuti, dan kekaguman seseorang terhadap dirinya sendiri." 

Orang yang sombong meremehkan manusia, tidak menghargai mereka, enggan bertanya kepada mereka tentang apa yang tidak diketahuinya, tidak mau menerima pengajaran dari orang yang mengajarinya, dan tidak mau menerima nasihat dari penasihat. Hal itu karena ia memandang orang lain tidak ada apa-apanya dan beranggapan bahwa manusialah yang harus selalu memujinya. Ia enggan duduk dan berbicara dengan mereka, serta memandang bahwa dirinyalah yang selamat sedangkan mereka adalah orang-orang yang binasa, beserta dampak-dampak kesombongan dan perbuatan orang sombong lainnya. 

570. Penyebab Kesombongan. Penyebab timbulnya kesombongan adalah rasa bangga/kagum seseorang terhadap dirinya sendiri ('ujub) disebabkan ilmu, harta, kedudukan, nasab/keturunan, kekuasaan, atau hal-hal lain yang memicu sifat 'ujub. Orang tersebut lupa bahwa Allah SWT -lah yang memberi kenikmatan tersebut dan jika Allah berkehendak, Dia bisa mencabutnya seketika. Kekaguman ini membawanya pada sikap mengagungkan diri dan memandang kedudukannya berada di atas manusia, sehingga ia menghina dan meremehkan mereka. 

571. Obat Penyakit Sombong. Obat dari penyakit yang kronis dan sulit ini—yakni kesombongan—serta jalan untuk meraih hakikat sifat tawadu adalah melalui pengetahuan yang meyakini (ma'rifah yaqinaiyyah): pengetahuan orang yang sombong terhadap Tuhannya dan terhadap dirinya sendiri. Ia harus menyadari bahwa keagungan (al-kibriya') hanya milik Allah semata, dan tidak boleh sama sekali bagi seorang manusia pun membiarkan sezarrah kesombongan menyusup ke dalam hatinya. Sebab, kesombongan adalah kuman berbahaya yang mematikan, cepat berkembang biak, yang dapat memadamkan cahaya iman serta mengotori dan menggugurkan amal perbuatan. 

Ia juga harus mengetahui kadar dirinya; ia tercipta dari setetes sperma yang hina lalu akan menjadi bangkai yang membusuk. Segala ilmu, harta, kedudukan, dan kekuasaan yang ada padanya adalah murni pemberian Allah. Apabila Allah berkehendak, Dia bisa mencabut seluruhnya, dan tidak ada hakikat dari dirinya sendiri melainkan ketiadaan (al-'adam). 

Selanjutnya, orang yang sombong harus mengurai faktor-faktor kekaguman pada dirinya satu per satu lalu meruntuhkannya:   

Ilmu: Ilmu yang dimilikinya sangat sedikit dibandingkan dengan apa yang belum diketahuinya: (Dan tidaklah kamu diberi pengetahuan melainkan sedikit) (QS. Al-Isra': 85). Serta di atas orang berilmu ada yang lebih berilmu: (Dan di atas setiap orang yang berpengetahuan ada yang Maha Mengetahui) (QS. Yusuf: 76). Lantas atas dasar apa ia bangga dan sombong? Ilmu yang sejati adalah ilmu yang membuahkan pengenalan (ma'rifah) kepada Tuhan Yang Mahagung, membentengi jiwa dari keburukan dan kebodohan seperti sombong, serta melatih jiwa atas keutamaan seperti tawadu. 

Ibadah, Ketakwaan, dan Wara': Hal-hal ini tidak layak dijadikan alasan untuk kagum pada diri sendiri, merasa berjasa di hadapan Allah, atau menyombongkan diri kepada makhluk. Bagaimana si malang ini bisa tahu bahwa ibadahnya diterima, bahwa ia termasuk orang saleh di sisi Allah, sedangkan akhir hayatnya masih gaib/rahasia? Lagipula, menyucikan diri sendiri itu dilarang: (Maka janganlah kamu menganggap dirimu suci. Dia paling mengetahui tentang orang yang bertakwa) (QS. An-Najm: 32). Ibadah adalah hak Allah atas hamba, maka tidak berhak seorang hamba merasa berjasa kepada Allah atau menyombongkan diri kepada sesama hanya karena menjalankan apa yang menjadi hak Allah, padahal Allah-lah yang memampukan dan memberinya petunjuk: (Dan mereka berkata: "Segala puji bagi Allah yang telah menunjuki kami ke [surga] ini. Dan kami tidak akan mendapat petunjuk jikalau Allah tidak menunjuki kami") (QS. Al-A'raf: 43). Ketakwaan macam apa yang tidak mampu menjaga pemiliknya dari merebut hak khusus Allah dalam keagungan (al-kibriya'), dan tidak membentenginya dari bergelimang dalam keburukan yang telah mengusir Iblis dari kerajaan langit serta menjadikannya makhluk yang terbuang lagi terkutuk hingga hari kiamat? Hal itu terjadi ketika Iblis enggan bersujud kepada Adam karena sombong dan kagum pada dirinya sendiri seraya berkata: (Aku lebih baik daripadanya) (QS. Al-A'raf: 12). 

Harta, Kekuasaan, Kedudukan, Pengikut, dan Nasab: Demikian pula halnya dengan harta, kekuasaan, kedudukan, kekuatan pengikut, serta kebanggaan atas nasab dan keturunan; seluruhnya adalah kebatilan dan bisikan syaitan yang terkutuk. Harta itu datang dan pergi, kekuasaan tidak akan abadi karena roda kehidupan berputar, begitu pula kedudukan. Bantuan pengikut dan pendukung tidak mampu membela sedikit pun dari azab Allah: (Dan [ingatlah] perang Hunain, yaitu di waktu kamu menjadi congkak karena banyaknya jumlahmu, maka jumlah yang banyak itu tidak memberi manfaat kepadamu sedikit pun) (QS. At-Taubah: 25). Kebanggaan atas keturunan berarti berpegang teguh dan membanggakan tulang-belulang yang telah hancur—itu pun jika tulang-belulang itu masih ada! Ayah yang saleh tidak dapat memberikan manfaat bagi anak yang durhaka: 

(Dan Nuh memohon kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya anakku termasuk keluargaku, dan sesungguhnya janji-Mu itulah yang benar. Dan Engkau adalah Hakim yang seadil-adilnya". Allah berfirman: "Hai Nuh, sesungguhnya dia bukanlah termasuk keluargamu [yang dijanjikan akan diselamatkan], sesungguhnya [perbuatannya] adalah perbuatan yang tidak baik. Sebab itu janganlah kamu memohon kepada-Ku sesuatu yang kamu tidak mengetahui [hakikatnya]. Sesungguhnya Aku memperingatkan kepadamu supaya kamu jangan termasuk orang-orang yang jahil". Nuh berkata: "Ya Tuhanku, sesungguhnya aku berlindung kepada Engkau dari memohon kepada-Mu sesuatu yang aku tidak mengetahui [hakikatnya]. Dan sekiranya Engkau tidak memberi ampun kepadaku, dan menaruh belas kasihan kepadaku, niscaya aku termasuk orang-orang yang rugi") (QS. Hud: 45–47). 

572. Sifat Tawadu (Rendah Hati). Setelah kami menjelaskan tentang kesombongan, penyebab, serta sebagian akibat dan dampaknya, maka tampak jelas bagi kita hakikat dari tawadu. Tawadu adalah lawan dari sombong, dan ia merupakan buah dari ma'rifatullah (mengenal Allah) dan mengenal diri. Tidak mungkin seseorang yang mengenal Tuhannya dan mengetahui kadar dirinya akan bersikap sombong dan tidak bertawadu. 

Atas dasar ini, jika orang yang sombong adalah orang yang bodoh tentang Tuhannya, maka orang yang bertawadu adalah orang yang mengenal Tuhannya. Jika orang sombong meremehkan orang lain dan memandang mereka seperti lalat atau budak, maka orang yang bertawadu paham betul ucapan Abu Bakar ash-Shiddiq RA: "Janganlah sekali-kali seorang muslim meremehkan muslim yang lain, karena orang muslim yang kecil di mata manusia adalah besar di sisi Allah." 

Jika orang sombong enggan duduk bersama orang-orang saleh, fakir, dan lemah—padahal satu orang dari mereka nilainya sebanding dengan sepenuh bumi dari orang-orang sombong tersebut—maka orang yang bertawadu paham betul makna firman Allah SWT:

(Dan bersabarlah kamu bersama-sama dengan orang-orang yang menyeru Tuhannya di pagi dan senja hari dengan mengharap keridaan-Nya; dan janganlah kedua matam berpaling dari mereka) (QS. Al-Kahfi: 28). 

Para ahli tafsir menyebutkan mengenai sebab turunnya ayat ini bahwa kaum Quraisy berkata kepada Rasulullah SAW: "Kami tidak ridha menjadi pengikut bersama orang-orang lemah dari kaum muslimin ini seperti Suhaib, 'Ammar, Bilal, dan Khabbab. Usirlah mereka darimu dan jangan biarkan mereka ada di majelismu jika kami masuk menemuimu. Jika kami telah selesai dan keluar, masukkanlah mereka jika engkau mau." Maka Allah menurunkan ayat ini dan melanjutkannya dengan ayat mengenai orang-orang sombong yang angkuh yang meminta pengusiran orang-orang lemah dari majelis Rasulullah SAW, Allah berfirman tentang mereka: (Dan janganlah kamu mengikuti orang yang hatinya telah Kami lalaikan dari mengingati Kami, serta menuruti hawa nafsunya dan adalah melebih-lebihkan batas) (QS. Al-Kahfi: 28). 

Orang yang bertawadu juga paham betul makna firman Allah ﷻ:

(Dan rendahkanlah dirimu terhadap orang-orang yang mengikutimu, yaitu orang-orang yang beriman) (QS. Asy-Syu'ara': 215). 

Jika orang sombong mengingkari dan menolak kebenaran serta tidak mau tunduk padanya, maka seorang muslim yang bertawadu paham betul ucapan seorang hamba yang arif lagi bertawadu, Al-Fudhayl bin 'Iyadh rahimahullah, ketika ditanya tentang tawadu, beliau menjawab: "Tawadu adalah engkau tunduk dan patuh kepada kebenaran; sekalipun engkau mendengarnya dari orang yang paling bodoh, engkau tetap menerimanya." 

573. Kebutuhan Da'i Terhadap Sifat Tawadu. Seorang da'i yang menyeru kepada Allah jauh lebih membutuhkan sifat tawadu dibandingkan orang lain. Ia berbaur dengan masyarakat dan mengajak mereka kepada kebenaran serta akhlak Islam, lantas bagaimana mungkin ia sepi dari sifat tawadu, padahal tawadu adalah salah satu pilar utama akhlak Islam? Lagipula, sudah menjadi tabiat manusia yang Allah ciptakan bahwa mereka tidak akan menerima perkataan orang yang merasa lebih tinggi, meremehkan, menganggap kecil, dan menyombongkan diri atas mereka, meskipun apa yang dikatakannya adalah kebenaran yang nyata. Demikianlah tabiat manusia diciptakan; mereka akan lari dari orang yang sombong dan menutup hati mereka dari perkataan, nasihat, serta bimbingannya. Tidak ada sedikit pun dari perkataannya yang masuk ke dalam hati mereka, bahkan hal itu bisa menjadi sebab mereka membenci kebenaran dari dirinya maupun dari orang lain. Maka, wajib bagi seorang da'i untuk memahami hal ini dengan baik, bertakwa kepada Allah Tuhannya, dan tidak menjadi penyabab berpalinya manusia dari dakwah ilallah. 

Kami tambahkan di sini hal lain yang berkaitan dengan topik ini dan memiliki kepentingan yang sangat besar: sudah menjadi tabiat manusia bahwa mereka tidak menyukai orang yang banyak membicarakan dan memuji dirinya sendiri, serta sering mengucapkan "aku, aku". Oleh karena itu, wajib bagi da'i untuk mewaspadai hal tersebut dan tidak mengklaim sesuatu yang menunjukkan keangkuhannya, seperti mengklaim dirinya memiliki ilmu, kefasihan, atau pengetahuan yang lebih. Hendaklah da'i menyadari bahwa seluruh apa yang ada padanya adalah murni karunia Allah atasnya. Hendaknya ia berbicara kepada manusia dengan keyakinan dan perasaan ini, yaitu berbicara dengan menyampaikan karunia Allah, bukan karunia dirinya sendiri. Apabila manusia mengetahui hal itu darinya, mereka akan membuka hati untuknya, atau setidaknya tidak menutup hati dari perkataannya, sehingga meresaplah makna-makna yang baik dan bermanfaat ke dalam hati mereka sesuai apa yang dikehendaki Allah. Dan Allah-lah tempat memohon pertolongan. 

574. Di antara bentuk tawadu yang agung yang kerap dilalaikan oleh seorang da'i—padahal sangat penting dan krusial—adalah mentaati orang yang diperintahkan oleh syariat untuk ditaati, seperti pimpinan (amir), orang yang mengurus perkaranya, atau yang mengajarinya. Hendaklah ia tidak enggan dari ketaatan ini, tidak merasa gengsi, dan tidak dihalangi oleh kesombongan terselubung dalam jiwanya sehingga ia menolak, merasa berat, atau menghindar dengan takwil-takwil yang rusak yang pada hakikatnya berasal dari bisikan syaitan. Seperti perkataannya: "Pemimpin atau pengajar ini tidak layak, tidak kompeten, masih muda, atau aku lebih berilmu dan lebih kompeten daripadanya", atau "Pengajar ini tidak cocok untuk mengajar", dan sejenisnya. 

Hendaklah ia mengingat baik-baik pengangkatan Usamah bin Zaid RA oleh Rasulullah SAW sebagai panglima perang. Padahal Usamah adalah seorang pemuda, dan pasukan tersebut memuat para pembesar, tetua, serta tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar. Penulis kitab Imta' al-Asma' menceritakan peristiwa ini: "Kemudian Rasulullah SAW memanggil Usamah bin Zaid pada hari Selasa, tersisa tiga hari dari bulan Safar. Beliau bersabda: 'Wahai Usamah, berjalanlah dengan nama Allah dan berkah-Nya hingga engkau sampai ke tempat terbunuhnya ayahmu, lalu injakkanlah kuda-kuda perang kepada mereka. Sungguh aku telah mengangkatmu sebagai panglima pasukan ini...' Ketika tiba hari Rabu, mulailah sakit Rasulullah SAW, beliau merasa pusing dan demam. Pada hari Kamis, beliau mengikatkan bendera perang untuk Usamah dengan tangan beliau sendiri seraya bersabda: 'Wahai Usamah, berperanglah dengan nama Allah di jalan Allah, maka perangilah orang yang kufur kepada Allah. Berperanglah dan janganlah kalian berkhianat, jangan membunuh anak kecil maupun wanita, dan janganlah kalian bercita-cita bertemu musuh. Sebab kalian tidak tahu, boleh jadi kalian akan diuji dengan mereka. Akan tetapi ucapkanlah: Ya Allah, cukupkanlah kami dari kejahatan mereka dan tahanlah kekuatan mereka dari kami. Jika mereka menemui kalian dengan berkumpul dan berteriak, maka hendaknya kalian tenang dan diam, janganlah kalian berselisih yang menyebabkan kalian gentar dan hilang kekuatan kalian. Ucapkanlah: Ya Allah, sesungguhnya kami adalah hamba-Mu, ubun-ubun kami dan ubun-ubun mereka berada di tangan-Mu, dan hanyalah Engkau yang mengalahkan mereka. Dan ketahuilah bahwa surga itu di bawah naungan kilatan pedang.'" 

Kemudian penulis kitab Imta' al-Asma' menyebutkan bahwa sebagian orang membicarakan pengangkatan Usamah sebagai panglima pasukan karena ia masih muda dan belum berpengalaman, padahal pasukan tersebut berisi tokoh-tokoh Muhajirin dan Anshar. Umar bin al-Khaththab RA membantah perkataan orang yang mengutarakannya lalu memberitahukan apa yang dikatakan sebagian orang tersebut kepada Rasulullah SAW. Rasulullah SAW pun sangat marah. Beliau SAW keluar dengan kepala yang diikat dengan kain, lalu naik ke atas mimbar, memuji Allah dan menyanjung-Nya, kemudian bersabda: "Amma ba'du, wahai manusia. Perkataan apakah yang sampai kepadaku dari sebagian kalian mengenai pengangkatanku terhadap Usamah? Demi Allah, jika kalian mencela kepemimpinannya, sungguh kalian telah mencela kepemimpinan ayahnya sebelum dia. Sungguh ia benar-benar layak untuk kepemimpinan sebagaimana ayahnya juga layak untuk kepemimpinan itu." 

Saya telah menyebutkan sebagian besar dari kisah pengangkatan Usamah ini karena di dalamnya memuat petunjuk, 'ibrah (pelajaran), nasihat, dan hukum-hukum. Akhir kata, seorang da'i yang fakih akan semakin bertambah tawadunya kepada Allah ﷻ setiap kali ia meraih kesuksesan dalam dakwahnya, berhasil dalam usahanya, dan dimenangkan oleh Allah atas musuh-musuhnya. Demikianlah Rasulullah SAW; beliau memasuki kota Makkah sebagai pemenang (al-fatih) dalam keadaan menundukkan kepalanya karena tawadu kepada Tuhannya dan sebagai bentuk pengakuan atas karunia-Nya.   

Kelima: Berbaur (Al-Mukhalathah) dan Menyendiri (Al-'Uzlah)

575. Manakah yang Lebih Utama: Berbaur atau Menyendiri?. Manakah yang lebih utama bagi seorang muslim: berbaur dengan masyarakat (al-mukhalathah) atau menyendiri dari mereka (al-'uzlah)? Sebagian ulama berpendapat bahwa 'uzlah itu lebih utama, sedangkan mayoritas ulama menyatakan bahwa mukhalathah itu lebih utama. Jawaban yang benar adalah: Yang paling utama bagi seorang muslim adalah mana yang paling dicintai oleh Allah SWT. Apabila berbaur (mukhalathah) lebih dicintai oleh Allah bagi muslim tersebut ditinjau dari kondisi diri, tempat, dan waktunya, maka berbaur itulah yang lebih utama baginya. Sebaliknya, jika menyendiri ('uzlah) lebih dicintai oleh Allah baginya ditinjau dari kondisi diri, waktu, dan tempatnya, maka 'uzlah itulah yang lebih utama baginya. 

576. Berbaur Adalah Sebuah Keniscayaan. Berbaur dengan masyarakat adalah hal yang pasti dan tidak bisa dihindari, karena manusia secara tabiatnya adalah makhluk sosial yang tidak mampu hidup sendirian. Jikalau ada yang mampu, hal itu merupakan penyimpangan/keanehan yang tidak mungkin diikuti oleh semua orang. Ini dalam urusan dan kebutuhan duniawi. Demikian pula halnya dalam urusan agama, sebab di antara kewajiban-kewajiban dan amalan sunnah dalam Islam terdapat hal-hal yang tidak mungkin dilaksanakan kecuali dengan berbaur dan bekerja sama dengan manusia, seperti salat Jumat, salat dua hari raya (Id), mengantar jenazah, menjenguk orang sakit, serta mempelajari dan mengajarkan urusan agama, di samping tuntutan-tuntutan lainnya yang mengharuskan interaksi/berbaur. 

577. Berbaur Wajib Bagi Seorang Da'i. Dakwah di jalan Allah merupakan salah satu kewajiban Islam, dan di antara sarananya adalah berbaur dengan masyarakat. Maka berbaur hukumnya menjadi wajib, berdasarkan kaidah: "Sesuatu yang kewajiban tidak dapat sempurna kecuali dengannya, maka hukumnya menjadi wajib." 

Kenyataannya, hakikat ajaran Islam itu sendiri menuntut adanya interaksi/berbaur. Islam bukanlah makna yang hanya terbatas pada individu semata, melainkan juga amalan seorang muslim di luar dirinya. Sejak Allah memuliakan Rasulullah SAW dengan kenabian dan memerintahkannya untuk menyampaikan risalah, beliau hidup bersama manusia, berbaur dengan mereka, dan mendatangi majelis-majelis mereka untuk menyeru mereka kepada Allah serta memperingatkan mereka dari kondisi mereka saat itu. Demikian pula yang dilakukan oleh para sahabatnya yang mulia; mereka berbaur dengan masyarakat dan menyebarkan petunjuk, ilmu, serta agama yang mereka pelajari dari Rasulullah SAW. 

Adapun riwayat dari sebagian Tabi'in mengenai dianjurkannya 'uzlah dan dibencinya mukhalathah, hal itu berkaitan dengan kondisi-kondisi tertentu dan situasi yang luar biasa (ekspsional). Apa yang mereka sebutkan bukanlah kaidah umum yang dijadikan pedoman oleh kaum muslimin setelah mereka, karena kewajiban dakwah ilallah adalah perkara yang tetap/pasti dalam syariat, sedangkan berbaur adalah pengantar menuju dakwah, sehingga tidak mungkin ditinggalkan. 

Bahkan kewajiban ini menjadi jauh lebih keras di zaman kita sekarang dibandingkan zaman-zaman sebelumnya, disebabkan kegelapan materialisme yang pekat, bisu, dan kelam yang meliputi umat manusia, yang menghalangi mereka dari cahaya kebenaran dan memutuskan hubungan mereka dengan Allah ﷻ. Hal ini mewajibkan setiap muslim untuk berkontribusi dalam dakwah ilallah sesuai batas kemampuannya dan dengan jenis kemampuan apa pun yang sanggup dilakukannya. Dan hal ini meniscayakan berbaur dengan masyarakat untuk menyeru mereka kepada Allah. 

578. Batasan Berbaur yang Wajib. Berbaur yang hukumnya wajib adalah interaksi yang memang diperlukan untuk aktivitas dakwah ilallah atau pelaksanaan kewajiban-kewajiban Islam lainnya. Apabila interaksi tersebut kosong dari tujuan ini, maka gugurlah sifat kewajibannya dan berubah menjadi mubah, makruh, atau haram.   

Mubah: Seperti berbaur untuk tujuan meraih maslahat duniawi yang dibolehkan. 

Makruh/Haram: Berbaur yang luput darinya faedah akhirat bagi da'i, atau bahkan membebankannya dengan dosa. 

Atas dasar ini, yang diharapkan dari seorang da'i adalah hendaklah seluruh interaksinya didorong oleh motivasi dakwah ilallah. Jika ia mengunjungi seseorang, berkenalan, bersahabat, mendampingi, menganggap saudara, mendatangi suatu majelis, atau berbicara di hadapan khalayak, maka hendaklah hal itu berangkat dari keinginan untuk berdakwah ilallah atau dalam rangka persiapan dan pemantapan menuju ke sana. 

Cinta Karena Allah dan Benci Karena Allah 

579. Dalam berbaur dengan masyarakat, seorang da meletakkan dasar hubungannya atas prinsip Cinta karena Allah (Al-Hubbu fillah) dan Benci karena Allah (Al-Bughdhu fillah). Maksud dari ungkapan ini adalah seorang muslim tidak mencintai seseorang melainkan karena ketaatan orang tersebut kepada Tuhannya dan kesebatiannya meraih keridaan-Nya; dan ia tidak membencinya melainkan karena kemaksiatannya dan pelanggarannya terhadap perintah Tuhannya. 

Semakin kuat kecintaan seorang muslim kepada Tuhannya, semakin kuat pula kecintaannya kepada kekasih-kekasih Allah, hingga menjadi bentuk loyalitas (muwalat), pembelaan (nushrah), dan perlindungan atas mereka dengan jiwa dan harta. Apa yang kami katakan ini bukanlah khayalan atau hiperbola; barang siapa mencintai seseorang, ia pasti mencintai orang yang dicintai oleh kekasihnya, dan barang siapa mencintai kekasihnya, ia akan berkhikmat baginya dan memujinya. Jika hal ini sudah maklum di antara manusia, maka perkaranya jauh lebih agung dalam masalah kecintaan seorang muslim kepada Tuhannya beserta dampak-dampaknya dalam mencintai kekasih-kekasih dan wali-wali Allah. 

Apabila terkumpul pada diri seseorang amalan ketaatan dan keburukan/kemaksiatan sekaligus, maka seorang muslim mencintainya karena ketaatannya dan membencinya karena keburukannya. 

580. Orang-Orang yang Dipilih Menjadi Sahabat Da'i. Selama da'i mencintai karena Allah dan membenci karena Allah, maka secara otomatis ia akan memilih orang-orang yang taat kepada Allah dan menegakkan hak penghambaan ('ubudiyyah) kepada-Nya sebagai teman dekat, sahabat, dan saudaranya. Mereka adalah sebaik-baik teman dan sebaik-baik saudara baginya; ikatan dengannya semakin kuat, ia merasa bangga dengan mereka, menjaga persaudaraannya, serta menolak bersahabat dan mengasihi pelaku maksiat dan orang-orang fasik yang berpaling dari perintah Tuhan mereka. Allah SWT berfirman: 

(Maka berpalinglah kamu dari orang yang berpaling dari peringatan Kami, dan tidak mengingini melainkan kehidupan dunia) (QS. An-Najm: 29). 

Meskipun ia menolak bersahabat dan berbaur rapat dengan pelaku maksiat dan orang fasik, ia tidak pernah berhenti untuk mendakwahi mereka kepada Allah serta mendoakan petunjuk, rahmat, dan bimbingan untuk mereka. 

581. Sikap Da'i Terhadap Orang yang Ditemani dan yang Tidak Ditemani. Seorang da'i memahami hak-hak persahabatan dan menundukkan dirinya untuk menepati hak-hak tersebut. Di antaranya adalah membantu sahabatnya, memenuhi kebutuhan mereka, serta berdiam diri dari kekurangan/aib mereka—karena manusia tidak lepas dari cacat—kecuali jika wajib baginya berbicara dalam rangka amar ma'ruf nahi munkar. Ia juga menanggung/bersabar atas perlakuan buruk mereka terhadap dirinya dan menerima uzur/alasan mereka. Seorang mukmin yang mulia senantiasa menghadirkan kebaikan-kebaikan saudaranya dalam pikirannya, sedangkan orang munafik yang hina senantiasa menghadirkan aib-aib saudaranya. Abdullah bin al-Mubarak rahimahullah berkata: "Seorang mukmin itu mencari uzur (alasan kebaikan), sedangkan orang munafik itu mencari-cari kesalahan/gelinciran." 

582. Adapun sikap da'i terhadap orang yang tidak dijadikan teman dan sahabat karena kefasikan dan kemaksiatannya, maka sikapnya adalah sikap seorang mukmin: ia tidak memusuhi/bertengkar dengan mereka, (dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata [yang mengandung] keselamatan) (QS. Al-Furqan: 63), melainkan ia tetap menasihati dan memberi peringatan kepada mereka. 

Namun, da'i terkadang terpaksa melakukan aksi boikot/mendiamkan (hajr) dan memutuskan hubungan jika kemaksiatan mereka menuntut hal tersebut; seperti jika mereka mengajak pada perbuatan bid'ah dalam agama, memecah belah barisan kaum muslimin, memperdaya kaum muslimin, berupaya menimbulkan bahaya bagi mereka, atau berusaha menzalimi dan berbuat aniaya. 

Dalam kondisi ini, setelah ditegakkannya uzur dan dikerahkannya seluruh kemampuan dalam menasihati mereka, jika mereka tetap tidak berhenti dari perbuatannya, da'i terpaksa memboikot, memutuskan hubungan, dan tidak berbicara dengan mereka sebagai bentuk celaan (zajr) atas kezaliman, tipu daya, permusuhan, dan bid'ah mereka. Tujuannya agar masyarakat menjauhi, mengenali, dan mewaspadai mereka. Bahkan da'i boleh tidak membalas salam jika mereka mengucapkan salam, sebagai bentuk penegasan celaan dan penampakan pengingkaran atas perbuatan mereka. 

Imam al-Ghazali rahimahullah menjelaskan alasan tidak wajibnya membalas salam kepada mereka—padahal menjawab salam hukum asalnya wajib—beliau berkata: "Menjawab salam sekalipun wajib, ia bisa gugur dengan adanya tujuan terkecil yang memuat maslahat, hingga gugur karena seseorang sedang berada di kamar mandi atau sedang buang hajat. Sedangkan tujuan memberikan efek jera (zajr) jauh lebih penting dari tujuan-tujuan ini, karena di dalamnya terdapat tindakan pencegahan dan membuat orang lari darinya." Hal senada juga disampaikan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah rahimahullah. 

Uzlah (Menyendiri) Bagi Da'i 

583. Apabila berbaur (mukhalathah) merupakan salah satu pengantar dakwah ilallah yang tidak bisa ditinggalkan oleh da'i, meskipun demikian, ia tetap membutuhkan porsi 'uzlah, kesendirian, dan berfokus pada jiwanya sendiri. Sebab sebagaimana dikatakan oleh Syaikhul Islam Ibn Taimiyyah: "Seorang hamba harus memiliki waktu-waktu khusus untuk menyendiri dengan dirinya dalam berdoa, berzikir, salat, bertafakur, mengoreksi diri (muhasabah), dan memperbaiki hatinya." 

Dalam 'uzlah ini ada dua hal yang perlu diperhatikan:   

Dilakukan pada waktu-waktu yang dianjurkan oleh syariat untuk jenis ibadah tertentu: Seperti iktikaf di bulan Ramadan, salat malam (qiyamullail), serta duduk di masjid menunggu salat. Melakukan ibadah berupa salat, zikir, dan doa pada waktu-waktu ini merupakan bentuk 'uzlah dan khalwah (kesendirian) yang disyariatkan yang sangat istimewa, dan meskipun singkat, ia memiliki pengaruh yang amat mendalam. 

Apabila da'i membutuhkan 'uzlah yang lebih dari jenis pertama: Seperti menyendiri di rumahnya selama beberapa hari karena ia merasa butuh kesendirian tersebut untuk istirahat, penyegaran (istijmam), mengoreksi diri (muhasabah), dan mengejar apa yang luput darinya. Maka hal ini tidak mengapa, dengan syarat tujuannya adalah untuk mempersiapkan dan memantapkan dirinya menuju aktivitas dakwah yang lebih besar lagi. Perumpamaannya dalam kondisi ini adalah seperti seorang mujahid yang berpindah sejenak dari medan pertempuran untuk mengasah pedangnya, memberi makan kudanya, memperbaiki tombaknya, atau mengobati lukanya, sedangkan hatinya tetap terikat pada jihad dan niatnya adalah kembali dalam waktu dekat. Maka ia berada dalam kondisi jihad pada kedua keadaan tersebut, dan amalan itu tergantung pada niatnya. Wallahu al-Musta'an. 

584. Di samping itu, ada 'uzlah bentuk lain bagi da'i, yaitu kehadiran pikirannya yang berpaling/menghilang dari orang-orang yang ada di sekitarnya, sementara jasadnya tetap berada bersama mereka. 'Uzlah jenis ini dibutuhkan oleh da'i setiap kali ia mendapati dirinya terpaksa berada di tengah-tengah orang-orang yang buruk, majelis ghibah, atau perbincangan batil yang tidak mungkin baginya untuk keluar darinya maupun mengubah alurnya yang buruk tersebut. Maka jiwanya pergi memisahkan diri ('uzlah pikiran/ruh), sedangkan jasadnya tetap bersama mereka. 

585. Terdapat pula 'uzlah jenis ketiga bagi da'i, yaitu meninggalkan orang-orang kafir dan berpaling dari mereka menuju kelompok lain, apabila tampak baginya bahwa mengerahkan usaha bersama mereka adalah hal yang sia-sia atau tidak membuahkan hasil, atau kemungkinan diterimanya dakwah saat itu sangat kecil, atau gangguan mereka sudah tidak tertahankan. Maka ia berpaling dari mereka menuju kelompok lain dan mengarahkan usahanya untuk mendakwahi kelompok baru tersebut. 

Hal ini karena tenaga dan waktu da'i itu terbatas; apabila ia tidak mendapati sambutan pada suatu kaum, ia berpaling ke kaum lain dan menyendiri ('uzlah) dari kaum yang pertama. Bahkan ia boleh menyendiri dari semuanya untuk sementara waktu. Hal ini mengambil iktibar dari firman Allah ﷻ yang mengisahkan Nabi Ibrahim 'alaihissalam: 

(Dan aku akan menjauhkan diri darimu dan dari apa yang kamu seru selain Allah) (QS. Maryam: 48). 

Serta firman Allah ﷻ yang mengisahkan Nabi Musa 'alaihissalam:

(Dan jika kamu tidak beriman kepadaku maka biarkanlah aku [palingkanlah dirimu dariku]) (QS. Ad-Dukhan: 21). 

Juga firman Allah ﷻ mengenai Ashabul Kahfi:

(Dan apabila kamu meninggalkan mereka dan apa yang mereka sembah selain Allah, maka carilah tempat berlindung ke dalam gua itu, niscaya Tuhanmu akan melimpahkan sebagian rahmat-Nya kepadamu dan menyediakan sesuatu yang berguna bagimu dalam urusanmu) (QS. Al-Kahf: 16). 

Wallahu Subhanahu wa Ta'ala A'lam.

[^341]: HR. Muslim; Riyadhus Shalihin karya An-Nawawi, hlm. 216. [^342]: Syamail ar-Rasul karya Ibn Katsir, hlm. 103–104. [^343]: Imta' al-Asma', hlm. 536–537. [^344]: Sirah Ibn Hisyam, hlm. 257–258; Imta' al-Asma', hlm. 537. [^345]: Ihya' 'Ulumiddin karya Al-Ghazali, Jilid 2, hlm. 149. [^346]: Majmu' Fatawa Syaikhil Islam Ibn Taimiyyah, Jilid 8, hlm. 216–218. [^347]: Majmu' Fatawa, Jilid 1, hlm. 637.  



Comments

Popular posts from this blog

Risalah Nizhamul Usrah

Risalah Al-Ma’tsurat (Al-Ma'tsurat wa Ad'iyah)

Kaidah Dakwah ke-1: Da’wah kepada Allah adalah jalan keselamatan di dunia dan akherat