IKHWANUL
MUSLIMIN DI BAWAH NAUNGAN PANJI AL-QUR'AN
Kepada para pemuda
Yang merinduk lahirnya kejayaan …
Kepada umat yang tengah
Kebingungan di persimpangna jalan…
Kepada para pewaris peradaban yang kaya raya,
Yang telah menggoreskan catatan membanggakan
Di lembar sejarah umat manusia…
Kepada setiap muslim
Yang yakin akan masa depan dirinya
Sebagai pemimpin dunia dan peraih kebahagiaan
Di kampung akhirat…
Kepada mereka semua kami
persembahkan risalah ini.
RISALAH
IMAM SYAHID HASAN AL-BANNA
Adalah sebuah risalah masa lalu yang penuh
kobaran semangat jihad, untuk generasi hari ini yang tengah bergejolak dan
dilanda kegelisahan…
Sebuah bekal hari ini yang sarat tuntutan,
Untuk masa depan yang penuh cahaya…
Wahai para pemuda,
Wahai mereka yang memiliki cita-cita luhur
Untuk membangun kehidupan…
Wahai kalian yang rindu akan kemenangan agama Allah…
Wahai semua yang turun ke medan,
Demi mempersembahkan nyawa di hadapan Tuhannya…
Disinilah petunjuk itu, di sinilah bimbingan...
Di sinilah hikmah itu, disinilah kebenaran…
Di sini kalian dapati keharuman pengorbanan
Dan kenikmatan jihad…
Bersegeralah bergabung dengan parede bisu…
Untuk bekerja di bawah panji penghulu para nabi…
Untuk menyatu dengan pasukan Ikhwanul Muslimin…
"Sehingga tidak ada lagi fitnah di muka bumi dan agama
seluruhnya milik Allah."
Ikhwanul
Muslimin
Segala puji bagi Allah, shalawat dan salam
semoga tetap tercurahkan kepada junjungan kita Nabi Muhammad, keluarga, dan
para sahabatnya.
Kami ucapkan salam Islam, salam dari sisi Allah
yang penuh berkah dan kebaikan,
"Assalaamu'Alaikum Warahmatullahi
Wabarakatuh."
Wahai Ikhwanul Muslimin!
Wahai umat manusia seluruhnya.
Suara jeritan ini; yang berkumandang dari relung tragedi
kemanusiaan yang getir dan memilukan; yang lahir dari rahim kegelapan zaman
ini, di arus kehidupan yang memancar dari teriakan prihatin seluruh alam; yang
dibawa oleh gelombang lembut menyelusup ke berbagai penjuru kehidupan; yang
dapat mematikan secara mengejutkan segala impian, janji-janji, dan fenomena
yang menipu serta penuh kepalsuan;
Mendorong kita untuk terjun dengan dakwah ini…
dakwah yang tenang, namun lebih gemuruh
dari tiupan angin topan yang menderu…
dakwah yang rendah hati, namun lebih perkasa
dari keangkuhan gunung yang menjulang…
dakwah yang terbatas, namun jangkauannya
lebih luas dari belahan bumi seluruhnya…
Ia sepi dari prilaku yang menipu, dan gemerlap yang penuh dusta.
Sebaliknya, ia dikemas oleh keagungan hakikat, keindahan wahyu, dan
pemeliharaan Allah.
Ia bersih dari berbagai kerakusan nafsu dan kepentuingan pribadi.
Oleh karenanya, ia mampu melahirkan putra-putra generasi yang percaya padanya
dan tulus bekerja untuknya; yang memandu tertegaknya bangunan di bawah naungan
dakwah yang pertama…
Wahai Ikhwanul Muslimin!
Wahai manusia seluruhnya.
Dangarlah suaranya yang bergemuruh, yang disambut oleh seruan para
da'i setelahnya sebagaimana teriakan dakwah sebelumnya;
"Wahai yang berselimut, bangun dan berilah peringatran. Dan
Tuhanmu maka agungkanlah."
Bersamaan dengan itu berkumandang pula firman-Nya,
"Maka sampaikanlah olehmu secara terang-terangan segala apa
yang diperintahkan (kepadamu) dan berpalinglah dari orang-orang yang
musyrik." (Al-Hijr: 94)
Dan wahyu senantiasa menyeru seluruh umat manusia dengan seruan,
"Katakanlah, 'Hai manusia sesungguhnya aku adalah utusan Allah
kepadamu semua, yaitu Allah yang mempunyai kerajaan langit dan bumi; Tidak ada
Tuhan selain Dia, Yang menghidupkan dan mematikan, 'maka berimanlah kepada
Allah dan kepada kalimat-kalimat-Nya (Kitab-kitab-Nya) dan ikutilah dia, supaya
kamu mendapat petunjuk," (Al-A'raf: 158)
Di mana posisi kita berhadapan pesan-pesan Islam ini?
Wahai Ikhwanul Muslimin!
Wahai manusia seluruhnya.
Sesungguhnya Allah swt. telah membangkitkan untukmu seorang
pemimpin, telah menggariskan bagimu aturan, telah menjelaskan kepadamu
hukum-hukum, menurunkan untukmu sebuah Kitab, menghalalkan yang halal dan
mengharamkan yang haram, membimbingmu menuju kebaikan dan kebahagiaan, serta
menunjukimu ke jalan yang lurus. Adakah kamu telah mengikuti pemimpin itu, kamu
hormati aturannya, kamu praktekkan hukum-hukumnya, dan kamu sakralkan Kitab
yang dibawanya? Sudahkah kamu halalkan yang ia halalkan dan kamu haramkan yang
ia haramkan?
Berterus teranglah menjawab pertanyaan tersebut, niscaya akan kamu
jumpai hakekat yang jelas dihadapanmu.
Seluruh aturan yang engkau jadikan pijakan dalam setiap urusan
hidupmu adalah aturan buatan manusia belaka; yang tidak ada hubungannya dengan
Islam; tidak digali dari sumber nilai Islam dan tidak pula disandarkan
kepadanya.
Undang-undang yang mengatur urusan dalam negerimu, peraturan yang
mengatur hubungan negaramu dengan negara lain (baik bilateral maupun
multilateral), undang-undang peradilan, undang-undang pertahanan keamanan dan
militer, sistem ekonomi (baik menyangkut ekonomi negera maupun personal),
sistem pendidikan, bahkan undang-undang perkawinan dan kerumahtanggaan serta
sistem perilaku personal, juga mentalitas umum para pejabat dan rakyat serta
berbagai fenomena kehidupan yang dilahirkannya, semua itu adalah sistem dan
undang-undang yang jauh dari nilai-nilai Islam.
Apa Lagi yang
Masih Tersisa
Lihatlah masjid-masjid itu, yang megah dan indah, dia dipenuhi oleh
orang-orang lemah dan renta, yang menunaikan rakaat shalatnya tanpa muatan ruh
dan khusyuan, kecuali sedikit dari padanya yang mendapat hidayah Allah.
Sedangkan hari-hari puasa mereka setiap tahun tidak lebih dari
sekedar saat-saat bermalasan dan berhari libur, serta saat untuk memanjakan
makan dan minum di malam harinya. Sedikit sekali dari mereka yang memperoleh
pembaharuan ruh iman dan penyucian hati dengan puasanya.
"Kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal sholeh,
dan amat sedikitlah mereka itu…" (Shaad: 24)
Lalu berbagai penampilan yang menipu seperti pakaian, kopyah,
tasbih dengan berbagai asesorisnya, jenggot yang menjuntai panjang, sorban yang
membalut sekujur badan, kata-kata agamis yang diucapkan…. Apakah hanya sebatas
itu hakekat Islam yang diinginkan Allah. Hanya sebatas itukah Islam yang
diturunkan sebagai rahmat yang agung dan anugrah yang besar bagi seluruh alam?
Apakah seperti ini hidayah yang dibawa oleh Muhammad saw., yang
dengannya hendak dikeluarkan manusia dari kegelapan menuju cahaya?
Itukah hakekat syari'at Al-Qur'an yang akan mengobati penyakit umat
manusia dan menyelesaikan persoalan mereka, yang telah meletakkan sistem nilai
-yang cermat dengan akarnya yang kokoh- untuk melakukan perbaikan?
Gelombang Taklid Kepada Barat
Wahai Ikhwanul Muslimin!
Wahai umat manusia seluruhnya.
Kita harus memahami bahwa sebuah gelombang peradaban yang siap
menghempaskan dan arus pemikiran yang siap melemparkan telah mengharu-biru akal
pikiran manusia, yang membuatnya lalai dan terperdaya, hingga jatuh tersunggkur
dalam kubangan kenikmatan semu.
Berbagai faham dan aliran bangkit dengan seruannya, beragam
filsafat pemikiran dan sisitem dimunculkan, berbagai bangunan peradaban
ditegakkan, semua ini bersatu dalam rangka menghadapi arus Islam yang telah
mengaliri jiwa putra-putranya.
Mereka bersatu untuk memperdayakan umat di tempat tingalnya
sendiri, mengepung mereka dari segala penjuru, merasuki negeri dan rumah-rumah
mereka, bahkan menguasai hati, nalar, dan perasaan mereka. Mereka menyiapkan
segala daya dan upaya yang dapat memperdaya umat dengan kekuatan dan
kekuasaannya, dengan suatu upaya yang belun pernah dilakukan sebelumnya.
Ia hancur luluhkan umat Islam hingga akar-akarnya, dan ia
pencundangi berbagai negeri yang dahulu pernah cemerlang di bawah panji Daulah
Islam. Dan ini semua memberi pengaruh yang amat nyata, sehingga lahirlah
generasi yang gersang dan papa, yang lebih akrab dengan nilai-nilai di luar
Islam daripada dengan miliknya sendiri.
Mereka lalu menempati posisi-posisi penting sebagai pengendali
urusan umat, mereka menduduki posisi terhormat dalam urusan pemikiran dan
politik, maupun moral dan agama. Bahkan banyak diantaranya yang menduduki
lembaga eksekutif. Lalu mereka mendorong umat untuk bekerja memenuhi apa yang
menjadi ambisi dan obsesinya, padahal dirinya tidak tahu persis apa yang
dimauinya dan apa pula yang menjadi orientasi hidupnya.
Akhirnya, berkumandanglah suara propagandis yang menyeru kepada
pemikiran toghut; jika kalian melepaskan sisi-sisa semangat Islam kalian,
kalian terima dengan lapang dada tawaran untuk merengkuh nikmat hidup ini
dengan segala harga, pola pikir dan Iafenomenanya, kalian lemparkan jauh-jauh
pola pikir kuno yang ada di kepala dan benak kalian dengan tulus hati, tidak
munafik dan menipu, maka hakikatnya kalian telah berprilaku sebagaimana
orang-orang barat namun mulut kalian tetap bersuara sebagaimana orang-orang
muslim.
Sesungguhnyalah kita mengetahui bahwa kita telah jauh dari hidayah
dan akar Islam.
Sebenarnya Islam tidak menolak untuk memetik kemanfaatan dan hikmah
dari mana pun datangnya, namun ia menolak tegas jika harus menyerupakan segala
sesuatunya dengan hal yang di luar Islam, atau melemparkan aqidah,
kaidah-kaidah hukum, serta pemikiran Islam, untuk kemudian membeo di belakang
masyarakat yang telah terperdaya oleh dunia dan terperangkap oleh tipu daya
syetan.
Sungguh , ilmu pengetahuan telah maju, keterampilan telah canggih,
pemikiran telah berkembang, harta berceceran dan dunia gemerlapan dan umat
manusia pun tenggelam dalam lautan kenikmatan.
Namun demikian, apakah ini semua mendatangkan kebahagian hakiki
bagi mereka?
Apakah itu semua menciptakan rasa aman pada hidup mereka?
Atau, apakah itu semua membawa jiwa mereka menuju ketenangan dan
kedamaian yang sejati?
Apakah setiap orang telah menikmati saat tidurnya?
Apakah air mata derita manusia benar-banar tiada lagi menetes?
Apakah kejahatan telah diperangi sehingga masyarakat telah aman
daripadanya?
Apakah berjuta fakir miskin telah benar-benar dapat mencukupi
kebutuhan perutnya yang dililit rasa lapar?
Apakah berbagai tempat hiburan dan kesenangan yang telah memenuhi
setiap tempat benar-benar telah menghibur mereka yang didera derita hidup
terus-menerus?
Apakah masyarkat telah benar-benar mencicipi hidangan ketenangan
dan kedamaian, dan telah aman dari perilaku orang-orang aniaya?
Wahai manusia, sedikitpun tidak mereka dapatkan semua itu.
Jika demikian, lalu apa keistimewaan peradaban ini dibanding dengan
peradaban yang lain?
Dan bukan itu saja.
Tidakkah kita melihat bahwa sistem
hukum, sistem pendidikan, dan akar filsafat mereka, bahkan paradigma
ilmu pengetahuan yang mereka bangun serta angka-angka yang mereka ciptakan
terdapat sesuatu yang paradoks antara satu bagian dengan bagian lainnya.
Dan tidakkah kita mengamati bahwa berbagai eksperimen yang telah
meminta korban yang besar dan waktu yang panjang berujung pada kegagalan yang
pahit, keputusasaan dan penderitaan?
URGENSI
KEBERADAAN KITA
Lantas apa urgensi keberadaan kita wahai Ikhwanul Muslimin?
Secara umum dapat kita katakan bahwa kita berhadapan dengan
gelombang materialisme, yang berupa kebangkitan sektor materi dan peradaban
kelezatan serta syahwat, yang mana ia telah memerosotkan moral bangsa-bangsa
Islam, menjauhkan mereka dari kepemimpinan Nabi saw. Dan hidayah Qur'an,
menghalangi dunia dari bimbingannya, menarik mundur peradabannya ke masa
ratusan tahun silam sehingga kita terbelenggu di negeri sendiri dan membiarkan
masyarakat bergulat dengan derita.
Kita tidak boleh tinggal diam di hadapan ini semua, namun harus
hadapi mereka ditempatnya dan siap bertempur di bumi mana ia bercokol, hingga
dunia seluruhnya menyuarakan dakwah atas nama Nabi saw. Dan menanamkan
keyakinan kepada semua bangsa terhadap nilai-nilai Islam.
Dengan demikian, terkembanglah payung Islam mengayomi seluruh bumi. Ketika itulah
impian setiap muslim terwujud. Tidak ada lagi fitnah dan agama seluruhnya hanya
milik Allah.
"Bagi Allah-lah urusan sebelum dan sesudah (mereka menang).
Dan di hari kemenangan itu bergembiralah orang-orang yang beriman karena
pertolongan Allah. Dia menolong siapa saja yang dikehendaki-Nya dan Dialah yang
Mahaperkasa lagi Maha Penyayang." (A-Ruum: 30)
Itulah urgensi keberadaan kita scara umum.
Adapun dalam tatanan praktis kita ingin menegakkan nilai-nilai
Islam di negeri Mesir terlebih dahulu, karena ia berada di barisan depan
diantara berbagai bangsa Islam dan masyarakatnya. Setelah itu baru ditegakkan
di negara-negara lainnya.
Menegakkan sistem perundangan dalam negeri, sebagai perwujudan
firman Allah,
"Dan hendaklah kamu memutuskan perkara di antara mereka
menurut apa yang diturunkan Allah, dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu
mereka. Dan berhati-hartilah kamu terhadap mereka supaya mereka tidak
memalingkan kamu dari sebagian apa yang diturunkan Allah kepadamu…"
(Al-Maidah: 49)
Menegakkan sistem perundangan yang mengatur hubungan negara dengan
berbagai bangsa di dunia, untuk mewujudkan firman Allah,
"Dan demikian pula Kami telah menjadikan kamu (umat Islam)
umat yang adil dan pilihan agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia
agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu…" (Al-Baqarah:
143)
Menegakkan hukum peradilan yang berpijak pada ayat Al-Qur;an,
"Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakikatnya) tidak beriman
hingga mereka menjadikan kami hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan,
kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap
putusan yang kamu berikan dan mereka menerima dengan sepenuhnya."
(An-Nisa: 65)
Menegakkan sistem perundangan pertahanan dan keamanan serta
militer, untuk merealisasi anjuran sikap siaga menghadapi perintah yang
tertuang dalam Qur'an,
"Berangkatlah kamu baik dalam keadaan merasa ringan ataupun
merasa berat, dan berjihadlah dengan harta dan dirimu di jalan Allah"
(At-Taubah: 41)
Menegakkan sistem ekonomi yang mandiri untuk mengatur kekayaan alam
harta benda, baik bagi negara maupun pribadi warganya. Hal ini berpijak pada
firman Allah,
"Dan janganlah kamu serahkan kepada orang-orang yang tidak
sempurna akalnya harta yang dijadikan Allah sebagai pokok kehidupan."
(An-Nisa:5 )
Menegakkan sistem pendidikan dan pengajaran dalam rangka
memberantas kebodohan, sesuai dengan pesan Ilahi dalam Qur'an,
"Bacalah dengan menyebut Nama Tuhanmu yang menciptakan."
(Al-Alaq: 1)
Menegakkan undang-undang keluarga dan kerumahtanggaan untuk
menciptakan suasana yang kondusif bagi pendidikan anak di rumah, baik putra
maupun putri. Hal ini sebagia realisasi firman Allah,
"Wahai orang-orang yang beriman jagalah diri dan keluargamu
dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu…" (At-Tahrim:
6)
Menegakkan sistem perundangan yang mengatur perilaku individu untuk
mewujudkan keberhasilan hidup yang dicita-citakan, sesuai dengan isyarat
Qur'an,
"Telah beruntung orang yang mensucikan dirinya." (Asy-Syams)
Menegakkan iklim positif secara umum untuk melindungi setiap
pribadi masyarakat, baik pejabat maupun rakyat, dengan berpijak pada
firman-Nya,
"Dan carilah pada apa yang
telah dianugrahkan Allah kepadamu (kebahagiaan) negeri akhirat, dan
janganlah kamu melupakan bagianmu dari kehidupan duniawi, dan berbuat baiklah
sebagaimana Allah telah berbuat baik kepadamu, dan janganlah kamu berbuat
kerusakan di muka bumi ini.." (Al-Qashash: 77)
Dengan tegaknya itu semua, kita menginginkan terwujudnya:
Pribadi muslim..
Rumah tangga muslim..
Masyarakat muslim..
Pemerintah muslim..
Dan sutu negara yang mengayomi negri-negeri Islam, menghimpun
berbagai keanekaragaman kaum muslimin, menyiapkan kejayaan masa depan mereka,
mengembalikan buminya yang hilang dan berjuang mendapatkan kembali tanah air
mereka yang terampas. Lalu ia panggul panji jihad dan bendera dakwah illah
hingga dunia seluruhnya damai di bawah naungan Islam.
BEKAL KAMI
Wahai sekalian manusia!
Inilah tujuan kami, dan
Inilah manhaj kami.
Lantas apa bekal kami untuk mewujudkan manhaj ini?
Bekal kami adalah bekal yang juga dimiliki para pendahulu kami. Dia
adalah senjata yang pernah dipakai untuk memerangi dunia oleh pemimpin dan
teladan kami; Muhammad Rasulullah saw. Dan para sahabatnya. Dengan kelangkaan
bilangan dan sedikitnya bekal namun ditopang oleh kesungguhan yang agung. Itu
pula senjata yang akan kami pergunakan untuk memerangi dunia ini kembali.
Mereka telah beriman dengan sedalam-dalamnya, sekuat-kuatnya,
sesuci-sucinya dan seabadi-abadinya iman.
Iman kepada Allah, pertolongan, dan dukungan-Nya.
"Jika Allah menolong kamu , maka tidak ada orang yang dapat
mengalahkan kamu…" (Ali Imran: 160)
Iman kepada panglimanya, beserta ketulusan hati, dan
kepemimpinannya,
"Sesungguhnya telah ada pada diri Rasulullah itu suri tauladan
yang baik bagimu…" (Al-Ahzab: 21)
Iman kepada sistem dengan keistimewaan dan keunggulannya.
"Sesungguhnya telah datang kepadamu cahaya dari Allah dan
kitab yang menerangkan. Dengan kitab itulah Allah menunjuki orang-orang yang
mengikuti keridhan-Nya ke jalan keselamatan…" (Al-Maidah: 16)
Iman kepada persaudaraan dengan hak dan kewajiban serta
kesuciannya.
"Sesungguhnya orang-orang mukmin itu bersaudara…"
(Al-Hujurat: 49)
Iman kepada balasan akhirat dengan keagungan dan kelipatannya.
"…Yang demikian itu adalah karena mereka tidak ditimpa
kehausan, kepayahan, dan kelaparan di jalan Allah, dan tidak pula menginjak
suatu tempat yang membangkitkan amarah orang-orang kafir, dan tidak menimpakan
sesuatu bencana kepada musuh, melainkan dituliskanlah bagi mereka dengan yang
demikian itu suatu amal shaleh. Sesungguhnya Allah tidak menyia-nyiakan pahala
orang-orang yang berbuat baik.: (At-Taibah: 120)
Iman kepada keberadaan diri mereka sendiri, yakni sebagai jamaah
yang dipilih oleh takdir untuk berperan menyelamatkan alam semesta ini, yang
telah mendapatkan keutamaan dengan peranannya ini dan jadilah mereka
sebaik-baik umat yang dilahirkan untuk manusia seluruhnya.
Mereka telah mendengar penggilan iman, lalu mereka pun beriman.
Kita berharap bahwa Allah swt. berkenan menanamkan rasa cinta kepada iman ini
dan menjadikannya sebagai hiasan di hati, sebagaimana ia telah menganugrahkan
hal yang sama kepada para pendahulu kita.
Iman Adalah
Bekal Utama Kami
Mereka telah mengetahui dengan pengetahuan yang sebenar-benarnya
dan sekuat-kuatnya bahwa dakwah mereka tidak akan memperoleh kemenangan kecuali
dengan jihad, kesungguhan, dan pengorbanan jiwa raga. Maka mereka pun
persembahkan jiwa dan raganya. Mereka berjihad dengan sebenar-benar jihad dan
menyambut seruan Dzat Yang Maha Rahman kepada mereka,
"Katakanlah, 'Jika bapak-bapak, anak-anak, saudara-saudara,
istri-istri, kaum keluargamu, harta kekayaan yang kamu usahakan, perniagaan
yang kamu khawatiri kerugiannya, dan rumah-rumah tempat tinggal yang kamu
sukai, adalah lebih kamu cintai daripada Allah dan Rasul-Nya dan berjihad di
jalan-Nya, maka tunggulah sampai Allah mendatangkan keputusan-Nya.."'
(At-taubah: 24)
Maka begitu mereka mendengar peringatan, mereka lari meninggalkan
segalanya dengan jiwa yang bersih dan kalbu. yang ridha. Mereka bersuka. cita
dengan janji setia yang telah mereka ikrarkan kepada Allah.
Salah satu dari mereka memeluk akrab kematian sambil bergumam, "...Menuju keharibaan Allah tanpa
bekal. "
Salah satu dari mereka mempersembahkan seluruh hartanya sembari
berkata, "Untuk keluarga saya sisakan Allah dan Rasul-Nya "
Satu lagi dari mereka bahkan bersenandung tatkala pedang musuh
telah menempel di lehernya,
Dan aku pun tiada peduli
tatkala terbunuh sebagi muslim
Dalam keadaan bagaimana jua
pangkuan Allah lah tempat robohku
Demikianlah, mereka adalah orang-orang yang gigih perjuangannya,
besar pengorbanannya, dan luas persembahannya. Demikian juga yang kita
inginkan.
Jihad Adalah
Bekal Kami juga
Setelah itu semua kami persembahkan, kami percaya sepenuhnya akan
pertolongan Allah, dan kami yakin atas dukungan-Nya.
"Sesungguhnya Allah pasti menolong orang yang menolong
(agama)-Nya. Sesungguhnya Allah Mahakuat lagi Mahaperkasa. Yaitu orang-orang
yang jika Kami teguhkan kedudukan mereka di muka bumi niscaya mereka mendirikan
shalat, menunaikan zakat, menyuruh berbuat yang ma'ruf dan mencegah perbuatan
yang mungkar, dan kepada Allah-lah kembali segala urusan."(Al-Hajj:40)
Antara Hayalan
dan Kenyataan
Orang-orang yang mendengar uraian ini akan berkata. bahwa itu
adalah hayalan dan impian belaka.
Bagaimana mungkin orang-orang yang tidak memiliki kekuatan apapun
kecuali iman dan semangat jihad dapat mengalahkan kekuatan raksasa yang
memiliki senjata beranekaragam?
Bagaimana mungkin mereka dapat menembus jantung pertahanan musuhnya
padahal ia berada di antara dua taring harimau ?
Banyak orang akan mengatakan ungkapan yang serupa ini. Yang
demikian itu bisa dimaklumi, karena mereka telah putus asa akan nasib dirinya
dan telah putus asa akan terjalinnya hubungan dengan Yang Mahakuat dan Maha
Menentukan.
Akan halnya kami, tidaklah demikian keadaannya. Kami tegaskan bahwa
ia adalah kenyataan yang kami yakini wujudnya dan tengah kami perjuangkan
tegaknya. Kami merenungi firman Allah swt.,
"Janganlah kamu berhati lemah dalam mengejar mereka (musuhmu).
Jika kamu menderita kesakitan, maka sesungguhnya merekapun menderita kesakitan
sebagaimana kamu menderitanya, sedangkan kamu berharap dari Allah apa yang
tidak mereka harapkan.." (An-Nisa: 104)
Sesungguhnya para pendahulu kami, yang telah membebaskan berbagai
wilayah bumi dan telah Allah swt. kokohkan kedudukannya, tidaklah besar
bilangan personilnya dan tidak pula melimpah bekal persiapannya, namun mereka
beriman dengan sungguh-sungguh dan berjihad.
Dan hari ini kami akan kalkulasi diri dengan penuh optimisme
sebagaimana Rasulullah saw. mengkalkulasi pada suatu hari, tatkala beliau
bersabda,
"Berilah Khubbaib kabar gembira akan munculnya kemenangan ini
sehingga seorang pengembara berjalan dari Adn ke Amman tidak merasa takut
kecuali kepada Allah, dan domba pun aman di hadapan serigala." Padahal
ketika itu mereka masih bersembunyi.
Sebagaimana suatu hari beliau menjanjikan kemenangan kepada Suraqah
bin Malik, mahkota salah seorang petinggi Kisra. Padahal beliau ketika itu
berhijrah dengan agamanya tanpa bekal sesuatu pun kecuali Allah dan sahabatnya
(Abu Bakar).
Dan sebagaimana beliau berteriak suatu hari tatkala menyaksikan
istana putih Romawi, padahal ketika itu ia dikepung pasukan musyrikin di
Madinah dengan tentaranya dari segala penjuru,
"...Dan tatkala tidak tetap lagi penglihatan (mu) dan hatimu
naik menyesal sampai ke tenggorokan.." (Al-Ahzab: 10)
Lalu Apa Lagi
Setelah Itu ?
Setelah itu semua, kita menyaksikan telinga zaman dengan khusyuknya
mendengarkan dakwah Rasulullah saw., lisan sejarah pun menggemakan suara
ayat-ayat suci Al-Qur'an, maka menyemburatlah mentari hidayah dari kalbu para
sahabat dan pengikutnya di setiap tempat, besinarlah cahayanya menerangi alam,
semerbaklah harum bunga kedamaian menghiasi dunia, dan manusia pun dapat
menikmati manisnya kebahagiaan lantaran keadilan hukum. Rakyat merasakan aman
sentausa bernaung di bawah payung generasi awal ini, yakni murid-murid Muhammad
saw., maka direbutlah kemudian istana Romawi, tunduk pula bersamanya kota-kota
di Persia.
Lalu bumi dipenuhi dengan bentangan ajarannya. Tunduklah ia untuk
menerima petunjuk yang menyelamatkan. Nafas kenabian mengalirinya berpadu
dengan wahyu Ilahi yang suci sehingga Rahmat Allah meliputinya. dari Segala
penjuru.
"Dan Allah menghalau orang-orang yang kafir itu yang keadaan
mereka penuh kejengkelan, (lagi) mereka tidak memperoleh keuntungan apapun. Dan
Allah menghindarkan orang-orang mukmin dari peperangan. Dan adalah Allah
Mahakuat lagi Mahaperkasa. Dan Ia menurunkan orang-orang Ahli Kitab (Bani
Quraidhah) yang membantu golongan-golongan yang bersekutu dari benteng-benteng
mereka, dan Dia memasukkan rasa takut ke dalam hati mereka. Sebahagian mereka
kamu bunuh dan sebahagian yang lain kamu tawan. Dan Dia mewariskan kepada kamu
tanah-tanah, rumah-rumah dan harta benda mereka, dan (begitu pula) tanah yang
belum kamu injak. Dan adalah Allah Mahakuasa terhadap segala sesuatu."
(Al-Ahzab: 26)
Wahai manusia, kami akan mempersiapkan diri dengan bekal ini, dan
kami akan memperoleh kemenangan sebagaimana yang diperoleh para pendahulu kami
di saat yang lalu. Tiada kemenangan kecuali dari sisi Allah Yang Perkasa lagi
Bijaksana. Dan Allah akan mewujudkan janji-janji-Nya kepada kami:
"Dan Kami hendak memberi karunia kepada orang-orang tertindas
di bumi itu dan hendak menjadikan mereka pemimpin dan menjadikan mereka
orang-orang yang mewarisi (bumi)." (AlQashash: 5)
"Maka bersabarlah kamu, sesungguhnya janji Allah adalah benar
dan sekali-kali janganlah orang-orang yang tidak meyakini (kebenaran ayat-ayat
Allah) itu menggelisahkan kamu." (Ar-Ruum 30)
Seandainya Kita
Memiliki Pemerintahan
Seandainya kita memiliki pemerintahan Islam yang sebenarnya yang
dilandasi kebenaran iman, yang mandiri pola pikir dan aplikasinya, yang
menghargai kebenaran ilmu dan melimpah ruahnya harta kekayaan yang dimiliki,
yang menghargai keagungan sistem nilai Islam yang diwarisi, dan yang percaya
bahwa ia merupakan obat bagi derita masyarakatnya dan petunjuk bagi manusia
seluruhnya, niscaya kita dapat menuntutnya untuk menegakkan dunia ini atas nama
Islam.
Kemudian kita mempersilahkan berbagai bangsa untuk melakukan Studi
dan observasi atasnya, kita tunjukkan bangunan umat kepada mereka dengan dakwah
yang terus menerus, dengan pembicaraan yang argumentatif serta pengiriman
duta-duta terbaiknya secara berkala, juga cara-cara lainnya. Dengan demikian
jadilah wilayah ini titik sentral di tengah berbagai bangsa, baik secara
politik, moralitas maupun aktivitas sosial lainnya. Ia pun dapat melakukan
pembaharuan terhadap dinamika masyarakat, memberi dorongan kepada mereka untuk
meraih kejayaan dan menggapai sinar terang di masa datang, dan menanamkan
semangat serta kesungguhan dalam bekerja.
Adalah sangat mengherankan, sebuah faham seperti Komunisme memiliki
negara yang melindunginya, yang mendakwahkan ajarannya, yang menegakkan
prinsip-prinsipnya, dan menggiring masyarakat menuju ke sana.
Demikian juga Fasisme dan Nazi. Keduanya memiliki bangsa yang
mensucikan ajarannya, berjuang untuk menegakkannya, menanamkan kebanggaan
kepada para pengikutnya, menundukkan seluruh ideologi bangsa-bangsa untuk
mengekor kepadanya. Dan lebih mengherankan lagi kita dapati berbagai ragam
ideologi sosial dan politik di dunia ini bersatu. untuk menjadi pendukung
setianya. Mereka perjuangkan tegaknya dengan jiwa, pikiran, pena, harta benda,
dan kesungguhan yang paripurna; hidup dan mati dipersembahkan untuknya.
Namun sebaliknya, kita tidak mendapatkan tegaknya suatu pemerintah
Islam yang bekerja untuk menegakkan kewajiban dakwah kepada Islam, yang
menghimpun berbagai sisi positif yang ada di seluruh aliran ideologi dan
membuang sisi negatifnya. Lalu ia persembahkan itu kepada seluruh bangsa
sebagai ideologi alternatif dunia yang memberi solusi yang benar dan jelas bagi
seluruh persoalan umat manusia.
Padahal syari'at Islam menetapkan bahwa dakwah adalah kewajiban
mutlak, wajib atas seluruh kaum muslimin, baik sebagai bangsa maupun sebagai
kelompok kecil, jauh sebelum semua ideologi tadi diciptakan dan sebelum
diketahui bahwa di sana ada sistem dakwahnya.
"Dan hendaklah ada diantara kamu segolongan umat yang menyeru
kepada kebajikan, menyuruh kepada yang ma'ruf dan mencegah dari yang munkar.
Merekalah orang-orang yang beruntung." (Ali Imran 104)
Akan tetapi, di mana gerangan para pemimpin negeri kita ini? mereka
semua telah dididik di sarang pendidikan asing, mereka telah tunduk kepada pola
pikirnya, mereka demikian antusias mengikuti jalan hidupnya, dan mereka
berlomba menjilat untuk mendapatkan keridhaannya. Tidaklah berlebihan kiranya
jika kami katakan bahwa gagasan-gagasan mandiri dalam mengurus berbagai
persoalan dan aktivitas, tidak lahir dari benak mereka sendiri apalagi lahir
dari sistem nilainya.
Sebenarnya telah kami tawarkan keinginan ini kepada banyak pemimpin
di Mesir. Namun sebagaimana biasa, mereka tidak menyambutnya dengan antusias
dan tidak memberi pengaruh sedikitpun pada aktivitas mereka.
Orang-orang yang jiwanya, rumah tangganya serta urusan hidupnya,
baik yang pribadi maupun sosial telah kehilangan ruh Islamnya, tentu. tidak
mampu mengalirkannya. kepada orang lain, tidak kuasa untuk menyerukan
nilai-nilai dakwah yang bertentangan dengan sasaran yang diseru.
Sebuah ungkapan mengatakan, "Orang yang tidak memiliki sesuatu
tidak dapat memberikannya."
Memang bukan itu urgensi keberadaan mereka, wahai Ikhwan. Suatu
eksperimen telah membuktikan bahwa mereka tidak berdaya sama sekali dalam
mengemban tugas ini. Oleh karenanya, ini menjadi tugas generasi baru.
Perbaikilah aktivitas dakwahmu kepada mereka, bersungguh-sungguhlah
dalam melakukan pembinaan, ajarilah mereka akan kemandirian jiwa dan hati,
kemandirian pemikiran dan penalaran, dan kemandirian kerja dan jihad. Penuhilah
jiwa mereka yang enerjik dengan keagungan Islam dan keindahan Qur'an, dan
gemblenglah mereka di bawah kibaran panji Muhammad saw. Niscaya tidak lama lagi
kalian akan menyaksikan munculnya seorang pemimpin Islam, yang siap berjuang
memerangi aib dirinya. dan siap menciptakan kebahagiaan bagi orang lain.
Karakter Pola
Pikir Kami
Wahai Ikhwanul Muslimin!
Wahai manusia seluruhnya.
Kami bukan partai politik, meskipun politik sebagai salah satu
pilar Islam adalah prinsip kami.
Kami bukan yayasan sosial dan perbaikan, meskipun kerja sosial dan
perbaikan adalah bagian dari maksud besar kami.
Kami bukan klub olah raga, meskipun olah raga dan olah rohani
menjadi salah satu perangkat terpenting kami.
Kami bukan kelompok-kelompok macam itu semua, karena itu semua
diciptakan untuk tujuan parsial dan terbatas, untuk masa yang terbatas pula.
Bahkan terkadang tidak dibuat kecuali sekedar menuruti perasaan sesaat; ingin
membuat organisasi, lalu dihias dengan berbagai slogan dan sebutan kelembagaan
yang muluk-muluk.
Namun wahai sekalian manusia, kami adalah pemikiran dan akidah,
hukum dan sistem, yang tidak dibatasi oleh tema, tidak diikat oleh jenis suku
bangsa, dan tidak berdiri berhadapan dengan batas geografis. Perjalanan kami
tidak pernah berhenti sehingga Allah swt. mewariskan bumi ini dengan segala
isinya kepada kami, karena ia adalah sistem milik Rabb, Penguasa alam semesta,
dan ajaran milik rasul-Nya yang terpercaya.
Bukan sombong, kami inilah, wahai sekalian manusia, pemegang
tongkat estafet panji Islam sesudahnya. Kami angkat benderanya tinggi-tinggi
sebagaimana para shahabat mengangkatnya, kami kibarkan dan kami sebar luaskan
ia sebagaimana mereka menyebar luaskannya, kami jaga Qur'annya sebagaimana
mereka menjaganya, dan kami diberi janji kemenangan sebagaimana mereka
diberinya. Kami inilah rahmat Allah untuk seluruh alam,
"Dan sungguh engkau pasti mengetahui beritanya beberapa saat
lagi."
Wahai ikhwanul Muslimin..
Itulah posisi kalian, janganlah kalian kecilkan arti dirimu, dengan
membanding-bandingkan diri dengan orang lain, janganlah kalian tempuh jalan
bukan Islam dalam dakwahmu, janganlah kalian ukur dakwahmu, yang cahayanya
diambil dari cahaya Allah dan sistemnya dari sistem yang dibawa Rasulullah,
dengan dakwah lain yang munculnya lantaran kebutuhan sesaat dan lalu sirna
ditelan masa dan berbagai peristiwa.
Kalian telah berdakwah dan telah pula berjihad. Dan kalian telah
menyaksikan buah dari kesungguhan kalian yang besar ini.
Dengarlah, suara dakwah menggema, menyeru kepada kepemimpinan
Rasulullah saw. dan keunggulan undang-undang Qur'an, menyeru kepada kebangkitan
untuk berkarya dan memurnikan tujuan hanya untuk Allah swt. semata.
Lihatlah, darah telah mengalir di jalan Allah dari para pemuda yang
suci dan mulia, dan lihatlah pula semangat untuk meraih syahadah (mati syahid)
di jalan Allah telah berkobar.
Ini semua adalah keberhasilan. Sebuah keberhasilan yang lebih besar
dari sekedar apa-apa yang kalian nantikan. Maka teruskan perjuanganmu,
berkaryalah secara nyata, Allah selalu bersamamu, sedangkan amalmu sekali-kah
tidaklah sia-sia.
Barang siapa bergabung bersama kami hari ini, ia telah beruntung
sebagai pendahulu. Dan barang siapa masih enggan bersama kami hati ini, padahal
ia seorang yang berhati ikhlas, ia akan bersama kami esok hati. Yang lebih
dahulu tentu lebih utama.
Sedangkan barangsiapa yang berpaling dari dakwah kami, baik karena
tidak punya perhatian, atau karena sombong, atau karena meremehkan, atau karena
tidak yakin dengan kemenangannya, maka hari-hari mendatang akan membuktikan
bahwa dirinya salah besar, dan Allah swt. akan melempar kebatilannya dengan
kebenaran kami lalu Dia hancurkan kebatilan itu dan lenyaplah akhirnya.
Marilah bersama kami, marilah bersama kami, wahai para aktifis
dakwah dan para mujahid yang ikhlas. Di sinilah jalan lurus itu, di sini pula
arah yang lempang, maka janganlah kau bagi-bagi kekuatan dan kesungguhanmu
hingga tercecer.
"Dan sesungguhnya, inilah jalan-Ku yang lurus, maka ikutilah
dia, dan janganlah kamu ikuti jalan-jalan (yang lain), karena jalan-jalan itu
mencerai-beraikan kamu dari jalan-Nya. Yang demikian itu diperintahkan oleh
Allah agar kamu bertaqwa," (Al-Anam: 153)
Hasan Al-Banna
No comments:
Post a Comment